Anda di halaman 1dari 60

ANALISIS RESEP DOKTER

Copy resep: PT. ASURANSI KESEHATAN INDONESIA RSUD Dokter Tanggal : A : dr. B : 03/06/10

R/ Amoxycillin mg 500 tab No X S 3 dd 1 R/ Paracetamol mg 500 tab No X S 3 dd 1 R/ Dexamethason tab No X S 3 dd 1 R/ OBH syr No I S 3 dd C1 R/ Vit C tab No X S 3 dd 1 Nama : Ny. Sumiyati Umur : 30 tahun Alamat : Tegalarum Analisis Resep: 1. Identitas dokter: Dari resep yang telah diberikan, sudah benar. Di sana terdapat identitas nama dokter praktek yaitu dr.B. dan sudah terdapat alamat unit pelayanan kesehatan yaitu di RSUD A 2. Nama kota: Pada resep yang diberikan sudah terdapat nama kota yang dicetak dalam blanko resep dan juga sudah ditulis tanggal, 03/06/10. Ini diperlukan dalam pelayanan resep berkaitan dengan persyaratan dalam perundang undangan. Namun dalam penulisan tanggal disini belum lengkap, sebaiknya tahun dicantumkan dalam tanggal penulisan resep agar tidak tercampur dengan resepan tahun yang lain. 3. Superscriptio: Dalam resep yang diberikan, tampak penulisan sudah tepat, berada di sisi kiri atas. Karena obat yang diberikan lebih dari satu sehingga dituliskan R/ lagi. Dalam resep tersebut obat-obat yang diberikan adalah obat-obat generik. Jadi resep tersebut merupakan bentuk formula officinalis.

4. Inscriptio: a. Penulisan Nama Obat Pada resep yang diberikan penulisan nama obat pada resep tersebut sudah benar dan penulisan jelas. b. Spesifikasi Sediaan Jadi Pada resep yang diberikan dapat diketahui bentuk sediaan kelima jenis obat tersebut, yaitu tab yang berarti tablet dan syr yaitu sirup. Penulisan singkatan sediaan obat tersebut sudah sesuai dengan singkatan resmi Farmakope Indonesia atau Nomenklatur Internasional. c. Penulisan Satuan Berat, Volume dan Unit Dalam formula resep di atas, sudah dituliskan satuan volume, berat dan unit. d. Jumlah Jenis Obat/Sediaan Penulisan jumlah R/ sudah benar yaitu dengan mencantumkan R/ lagi apabila resep yang diberikan lebih dari 1 obat. Di sini cara pemakaian obat belum disertakan, misal a.c. (ante coenum= sebelum makan) atau p.c. (post cibum=sesudah makan). e. Satuan Biji (tablet, kapsul, botol) Penulisan jumlah obat yang diberikan sudah tepat dengan menggunakan angka romawi (X). f. Penggunaan Tulisan Singkatan Penulisan dosis pada resep yang diberikan tidak ada tanda titik untuk pemisah antara d (de) dengan d (die), seharusnya 3.d.d.1 g. Tanda Pemisah antara R/ Antara satu tanda R/ untuk satu jenis obat sudah dipisah dengan garis penutup dan paraf dokter. Di sini tanda tangan dokter tidak tertulis karena obat yang diresepkan bukan dari golongan narkotika maupun obat keras tertentu. 5. Subscriptio Penulisan jumlah obat yang diberikan sudah tepat karena menuliskan No. (nomero), dimana N ditulis dengan huruf besar dan tetapi setelah huruf o kurang tanda titik. Penulisan jumlah obat yang diberikan sudah tepat dengan menggunakan angka romawi X. Jadi penulisan yang benar adalah No.X. 6. Signatura Dalam resep yang diberikan sudah tertulis simbol S (signatura = tandailah), tetapi penulisan tanda S kurang jelas seperti tanda garis lengkung sedangkan untuk letak tanda S sudah tepat. 7. R/ pertama. Tertulis Amoxycillin mg 500 tab No X,artinya obat Amoxycillin 500 mg sebanyak 10 tablet. Di bawahnya tertulis aturan pakainya S 3 dd 1, signa ter de die uno artinya Pakailah obat Amoxycillin 500 mg, 3 kali sehari 1 tablet sekali minumnya. Amoxycillin adalah antibiotik yang stabil dalam suasana asam lambung, aktif terhadap organism Gram positif dan negatif. Dosis yang diberikan sudah tepat untuk dewasa, yaitu dosis sekali minum 1 tablet (500 mg) sedangkan dosis per

hari adalah 3 tablet (1500 mg). Di sini perlu ditandai atau dijelaskan kepada pasien bahwa untuk pemakaian Amoxycillin harus habis 10 tablet. 8. R/ kedua. Tertulis Paracetamol mg 500 tab No X, artinya obat Paracetamol 500 mg diminta sejumlah 10 tablet. Di bawahnya tertulis aturan pakainya S 3 dd 1, Signa ter de die uno artinya Pakailah obat Paracetamol 500 mg itu 3 kali sehari masingmasing 1 tablet sekali minumnya. Paracetamol adalah obat analgesik antipiretik yang diindikasikan untuk meringankan rasa sakit pada keadaan sakit kepala, sakit gigi, dan menurunkan demam. Dosis terukur tiap 1 tablet Paracetamol adalah 500 mg. Pemberian dosis untuk dewasa sudah tepat yaitu 3 kali 1 tablet sekali minum, sedangkan dosis per hari adalah 3 tablet atau setara dengan 1500 mg. 9. R/ ketiga. Tertulis Dexamethason tab No X, artinya obat Dexamethason diminta sejumlah 10 tablet. Di bawahnya tertulis aturan pakainya S 3 dd 1, Signa ter de die uno artinya Pakailah obat Dexamethason tablet 3 kali sehari 1 tablet sekali minumnya. Dexamethason merupakan glukokortikoid sintetik dengan aktivitas imunosupresan (antialergi) dan antiinflamasi, bekerja dengan menurunkan respon imun tubuh terhadap stimulasi rangsang dan menekan atau mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi serta menghambat akumulasi sel. Dosis terukur untuk tiap tablet adalah 0,5 mg. Dosis sekali minum 1 tablet (0,5 mg) dan dosis per hari adalah 3 tablet (1,5 mg). 10. R/ keempat. Tertulis OBH syr No I, artinya obat OBH sirup sejumlah 1 botol. Di bawahnya tertulis aturan pakainya S 3 dd C1, Signa ter di die cochlear uno artinya Minum OBH sirup 3 kali sehari 1 sendok makan. OBH sirup merupakan obat batuk yang mampu mengatasi batuk produktif yang disertai hidung tersumbat, alergi, demam dan sakit kepala yang menyertai flu. Dosis sekali minum adalah 1 sendok makan (15 cc) dan dosis per hari adalah 3 sendok makan (45 cc). 11. R/ kelima Tertulis Vit C tab No X, artinya vitamin C sejumlah X tablet. Di bawahnya tertulis aturan pakainya S 3 dd 1, Signa ter di die uno artinya minumlah vitamin C tablet 3 kali sehari 1 tablet. Vitamin C atau asam askorbat merupakan vitamin antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas sehingga berperan penting dalam menangkal berbagai penyakit. Dosis sekali minum adalah 1 tablet dan dosis per hari adalah 3 tablet. 12. Identitas pasien Meliputi nama, umur dan alamat yang umumnya tercetak dalam blanko resep (tulisan pro, umur dan alamat). Dalam penulisan identitas pasien sudah benar dengan ditulis nama pasien yaitu Ny. Sumiyati. Namun dalam resep ini tidak

dituliskan umur dan alamat pasien. Dimana seharusnya umur dan alamat juga dicantumkan dalam identitas pasien, karena alamat pasien berguna dalam memudahkan pihak apotek dalam penelusuran apabila terdapat kesalahan dalam pelayanan obat. Sedangkan umur berguna dalam membantu dalam perhitungan dosis pemberian obat yang tepat, terutama pada pasien anak dan lansia. 13. Diagnosis Penyakit dari Resep di atas Radang tenggorokan yang disertai batuk produktif.

LEMBAR KERJA TUGAS RESEP RESEP 1: drg. A SIP. No. 446/2502/419/3439/1-17 Jl. Nogopuro No. 1B Catur Tunggal Depok Sleman Telp. (0274) 692xxxx Yogyakarta, 19 Oktober 2012 R/ Amoxycillin tab 500 No. XV S 3 dd tab I R/ Asam Mefenamat tab mg 500 No.X S 3 dd tab I R/ Kalium Diclofenac tab mg 500 No.VI S prn tab I Pro : YA Umur : 35 tahun Alamat: 08773964xxxx ttd Skenario: - Ny. Yulia (pasien, 35 thn) datang kedokter dan memeriksakan giginya kemudian dicabut, terdapat luka namun tidak terlalu banyak - Beberapa hari kemudian setelah menggunakan obat, Ny. Yulia mengalami gangguan lambung. Karena pasien menganggap antibiotic harus diminum rutin sampai habis maka Ny. Yulia melanjutkan pemakaian obat, dan lambung Ny.Yulia semakin sakit. Sehingga Ny.Yulia konsultasi kepada apoteker.

1. ASSESMENT a. Menggali Riwayat Pasien No. Kriteria 1 Data Pasien

Keterangan

Nama : Ny. YA Umur : 35 tahun Jenis Kelamin : L / P Alamat : No. HP : 087739640169 BB/TB : - kg / - cm Pekerjaaan : Kondisi : Sakit gigi, setelah cabut gigi sedikit berdarah, setelah minum obat dari dokter muncul rasa tidak enak di lambung. Penyakit 2 yang Riwayat pernahPenyakit diderita : Keluhan sekarang : Sakit gigi dan nyeri di lambung. Data Laboratorium : Diagnosis dokter : Sakit gigi setelah gigi dicabut dan alergi obat. 3 Riwayat Amoxycillin Pengobatan Asam Mefenamat Kalium Diclofenac 4 Keadaan Khusus Nyeri lambung. Pasien

b. Skrining Resep 1) Administratif (Kelengkapan Resep) No. URAIAN Identitas dokter: Nama dokter SIP dokter Alamat dokter Nomor telepon Tempat dan tanggal resep PADA RESEP ADA TIDAK Inscription penulisan

1 2 3 4 5

7 8 9 10 11 12

Invocatio Tanda resep diawal penulisan resep (R/) Prescriptio/Ordonatio Nama Obat Kekuatan obat Jumlah obat Signatura Nama pasien Jenis kelamin Umur pasien

13 14 15 16

Barat badan Alamat pasien Aturan pakai obat Iter/tanda lain

Subscriptio 17 Tanda tangan/paraf dokter Kesimpulan: Resep tersebut lengkap / tidak lengkap. Resep tidak lengkap karena tidak mencantumkan informasi mengenai alamat pasien, dan berat badan pasien. Cara pengatasan Alamat dan berat badan pasien dapat ditanyakan langsung kepada pasien/keluarga pasien.

2) Kesesuaian Farmasetis No Kriteria 1 Bentuk sediaan 2 Stabilitas obat 3 Inkompatibiltas 4 Cara pemberian 5 Jumlah dan aturan pakai

Permasalahan -

Pengatasan Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai

3) Dosis
No. 1 2 Nama Obat Amoxycillin Asam Mefenamat Dosis Resep 3 x sehari 1 tablet (sediaan 500 mg) 3 x sehari 1 tablet (sediaan 500 mg) Dosis Literatur 250-500 mg setiap 8 jam atau 500-875 mg 2 kali sehari. (DIH, 2010: 99). 500 mg untuk dosis permulaan, kemudian 250 mg setiap 4 jam jika diperlukan, maksimum terapi 1 minggu. (DIH, 2010: 932). Dosis pertama (500 mg) dikenal dengan loading dose, tujuan pemberiannya adalah agar kadar obat dalam darah meningkat secara cepat, sehingga obat mencapai efek terapinya. Lalu, selanjutnya diberikan dosis sebesar 250 mg, dimana dosis ini dikenal sebagai maintenance dose, yang dimaksudkan agar dapat mempertahankan tingkat keefektifan obat dalam cairan tubuh setelah loading dose tercapai. Dosis permulaan 50 mg 3 kali sehari, dosis maksimum 150 mg/hari. (DIH, 2010: 439). Kesimpulan Sesuai Sesuai Rekomendasi -

Kalium Diclofenac

Jika perlu 1 tablet

Sesuai

4) Pertimbangan Klinis
No. 1 2 Kriteria Indikasi Kontraindikasi Permasalahan Pasien mengalami nyeri lambung setelah menggunakan obat, kemungkinan akibat alergi obat atau rekasi obat tidak diinginkan atau efek samping obat. Kemungkinan pasien alergi amoxicillin atau obat golongan NSAID. Kalium Diklofenak: Efek samping yang umum terjadi seperti nyeri/keram perut, sakit kepala, diare, nausea, tukak lambung, pusing, ruam, pruritus (Gangguan lambung) dan mengantuk. Asam Mefenamat: Pemberian (asam mefenamat) dapat memperburuk tukak lambung yang diderita oleh pasien (MIMS : 109). Reaksi obat yang merugikan (ADR/Adverse Drug Reaction) Kalium Diklofenak Hati-hati penggunaan pada penderita dekomposisi jantung atau hipertensi, karena diklofenak dapat menyebabkan retensi cairan dan edema; hati-hati penggunaan pada penderita gangguan fungsi ginjal, jantung, hati, penderita usia lanjut dan penderita dengan luka atau perdarahan pada saluran pencernaan; hindarkan penggunaan pada penderita porfiria hati; hatihati penggunaan selama kehamilan karena diklofenak dapat menembus plasenta; diklofenak tidak dianjurkan untuk ibu menyusui karena diklofenak diekskresikan melalui ASI. Pengatasan Ganti terapi atau tambahkan obat yang dapat mengatasi keluhan nyeri lambung atau obat yang dapat mengatasi efek samping obat. Tambahkan obat yang dapat mengatasi gangguan lambung atau ganti dengan terapi yang lain. Antibiotik amoksisilin dihentikan. Diminum bersama makan atau setelah makan, jangan berkendaraan / menjalankan mesin selama minum obat. Mengganti NSAID dengan paracetamol. Menambahkan terapi untuk mengatasi keluhan lambung yaitu Polysilene dan Spasmolitik Buscopan.

3 4 5

Interaksi Dupikasi/polifarmasi Alergi

Efek samping

c.

Karakteristik Obat

1) Amoxycillin Komposisi: Amoxycillin 500 mg. Indikasi: Infeksi saluran nafas, saluran genitor-urinaria, kulit dan jaringan lunak yang disebabkan organism gram positif dan negative yang peka terhadap obat ini. Dosis: Dewasa 250-500 mg tiap 8 jam. Pemberian Obat: Dapat diberikan bersama makan agar diabsorbsi lebih baik dan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada Gastro Intestinal. Kontra Indikasi: Hipersensitif pada penicillin. Infeksi mononucleosis. Peringatan: Hipersensitif terhadap sefalosporin, kerusakan ginjal, leukemia limfatik, superinfeksi. Efek Samping: Reaksi hipersensitif, Gangguan Gastro Intestinal. Interaksi Obat: Probenesid meningkatkan waktu paro amoxicillin dalam plasma. Dengan Alopurinol timbul ruam kulit. Kontrasepsi oral efektivitasnya diturunkan oleh amoxycllin. Kategori kehamilan: B 2) Asam Mefenamat Komposisi: Asam mefenamat 500 mg Indikasi: Dapat menghilangkan nyeri akut dan kronik, ringan sampai sedang sehubungan dengan sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer, termasuk nyeri karena trauma, nyeri sendi, nyeri otot trauma dan tulang punggung,, nyeri sehabis operasi, nyeri pada persalinan, reumatik, nyeri paha, demam. Dosis: Digunakan melalui mulut (per oral), sebaiknya sewaktu makan. Dewasa dan anak di atas 14 tahun:

Dosis awal yang dianjurkan 500 mg kemudian dilanjutkan 250 mg tiap 6 jam atau 500 mg 2 3 kali sehari. Anak < 6 bulan : 6,5 mg/kg BB/6 8 jam. Pemberian Obat: Berikan segera sesudah makan. Kontra Indikasi: Pada penderita tukak lambung, radang usus, gangguan ginjal, asma dan hipersensitif terhadap asam mefenamat. Pemakaian secara hati-hati pada penderita penyakit ginjal atau hati dan peradangan saluran cerna. Peringatan: Gagal ginjal, penderita asma yang sensitif terhadap AINS, renitis alergi, urtikaria, hamil, laktasi, anak < 14 tahun. Efek samping: Dapat terjadi gangguan saluran cerna, antara lain iritasi lambung, kolik usus, mual, muntah dan diare, rasa mengantuk, pusing, sakit kepala, penglihatan kabur, vertigo, dispepsia. Pada penggunaan terus-menerus dengan dosis 2000 mg atau lebih sehari dapat mengakibatkan agranulositosis dan anemia hemolitik. Interaksi Obat: Obat-obat antikoagulan oral seperti warfarin; mempertinggi efek kumarin; asetosal (aspirin) dan insulin. Kategori Kehamilan: C, D pada trimester 3 atau menjelang persalinan. Cara Penyimpanan: Simpan di tempat sejuk dan kering. (MIMS, 2012: 130). Mekanisme Kerja: Menghambat sintesis Prostaglandin melalui penurunan aktivitas enzim, siklooksigenase, yang menghasilkan penurunan prekursor pembentuk prostaglandin (Lacy, 2003, hal 868).

3) Kalium Diclofenac Komposisi: Diclofenac K 50 mg. Indikasi: Nyeri peradangan pasca trauma, inflamasi dan nyeri pasca operasi, sebagai terapi tambahan pada nyeri berat pada infeksi THT. Gejala nyeri pada kolumna vertebra, reumatik non artikuler.

Dosis: Dewasa awal 100-150 mg terbagi dalam 2-3 dosis, Kasus ringan dan anak > 14 tahun 75-100 mg/hari. Pemberian Obat: Berikan segera sesudah makan. Kontra Indikasi: Ulkus peptic. Peringatan: Riwayat penyakit Gastro Intestinal, ganggun fungsi hati, jantung, atau ginjal. Efek samping: Kadang-kadang gangguan Gastro Intestinal, sakit kepala, pusing, vertigo dan ruam. Interaksi Obat: Meningkatkan kadar litium, metotreksat dan digoksin dalam plasma. Dapat mengurangi efek deuretik. Kategori Kehamilan: B, D pada trimester 3 atau menjelang persalinan. (MIMS, 2012: 137). 4) Polysilane Komposisi: Per tablet polysilane Al(OH)3 200 mg, dimethicone 80 mg, Mg(OH)2 200 mg. Indikasi: Rasa terbakar khususnya pada hernia hiatal, pirosis, gastritis, kembung. Dosis: Dewasa 1-2 tablet/hari atau 1-2 sendok teh 3-4 kali/hari. Pemberian Obat: Dapat diberikan bersama makan. Peringatan: Kerusakan fungsi ginjal, penggunaan lama, dosis tinggi. Efek Samping: Deplesi fosfat.

Interaksi Obat: Absorbsi dihambat dengan furosemid, indometasin, tetrasiklin, digoksin, INH, antikolinergik. Kategori kehamilan: (MIMS, 2012: 18). 5) Buscopan Komposisi: Hyoscine-N-butylbromide. Indikasi: Gangguan spastic pada Gastro Intestinal, kandungan empedu, saluran kemih, dan saluran kelamin wanita. Dosis: Drag 1-2 drag 4 kali/hari. Maksimum 100 mg/hari. Pemberian Obat: Bersama makan atau tanpa makan. Kontra Indikasi: Miastenia gravis, megakolon. Peringatan: Glaukoma sudut sempit, penderita obstruksi saluran kemih dan usus kecil, takiaritmia. Efek Samping: Xerostomia, dishidrolis, takikardi, retensi urin, reaksi alergi, reaksi pada kulit, dispneu (pada pasien dengan riwayat asma bronchial atau alergi). Interaksi Obat: Meningkatkan efek antikolinergik dari antidepresan trisiklik, antihistamin, kuinidin, amantadin, dan disopiramid. Meningkatkan efek takikardi dari B-adrenergik. Antagonis dopamine menurunkan efek dalam saluran Gastro Intestinal. Kategori kehamilan: C. (MIMS, 2012: 21).

Kesimpulan skrining resep dan hasil analisis DRP (Drug Related Problem) serta Care Plan: Resep tidak lengkap secara administrasi, adanya efek samping terapi sehingga perlu ditambahkan terapi untuk mengatasi keluhan lambung yaitu Polysilene dan Buscopan.

Kemudian antibiotic amoksisilin dihentikan karena kemungkinan pasien alergi antibiotic tersebut. Lagipula perdarahan gigi sangat sedikit jadi antibiotic dapat dihentikan.

2. PENYERAHAN DAN PEMBERIAN INFORMASI OBAT/PIO, KOMUNIKASI INFORMASI EDUKASI/KIE, DAN KONSELING a. Informasikan mengenai nama obat, aturan pakai, kegunaan masing-masing obat, dan cara penyimpanan yang benar. b. Obat yang diberikan harus diminum secara teratur, agar terapi pengobatan yang diinginkan tercapai. c. Jika gejala sudah tidak dirasakan lagi, maka pengobatan dapat dihentikan. No. 1 Kriteria Informasi Nama Obat Isi Informasi Asam Mefenamat Kalium Diclofenac Polysilane Buscopan Asam Mefenamat: Untuk Nyeri dan inflamasi. Kalium Diclofenac: Inflamasi. Polysilane: Antasida untuk nyeri lambung dan kembung. Buscopan: Antispasmodik/kejang perut. Asam mefenamat: 3 x sehari 1 tablet bersama makan. Kalium diclofenac: 1 tablet jika perlu, maksimum 3 tablet sehari bersama makan Polisilane: 3 x sehari 1 tablet bersama makan Buscopan: 3 x sehari bersama makan atau tanpa makan Bersama makan atau segera setelah makan untuk meningkatkan absorpsi dan menghindari efek nyeri dilambung akibat efek samping obat. Diminum melalui mulut dengan segelas air putih. 3 x sehari artinya tiap 8 jam. 3 hari Nyeri lambung, mengantuk. Simpan tablet ditempat yang kering pada suhu kamar (25oC), terlindung dari cahaya matahari langsung. Aktivitas yang disarankan: Dianjurkan untuk makan makanan yang lunak. Menjaga kesehatan gigi dan mulut yakni menyikat gigi dengan benar minimal 2 kali sehari, dapat disempurnakan dengan moutwash setelah menyikat gigi. Aktivitas yang dihindari: Tidak berkendaraan/menjalankan mesin selama meminum obat, hindari makan makanan yang terlalu asam, pedas, panas, dingin.

Kegunaan obat/outcome terapi yang diharapkan Aturan pakai

Waktu minum obat

5 6 7 8 9

Cara pakai Durasi penggunaan obat Efek samping Penyimpanan Aktivitas yang disarankan/dihindari

3. MONITORING Hal-hal yang perlu monitoring: a. Kondisi pasien, gejala yang dirasakan pasien, semakin membaik atau tidak. b. Memeriksa kemungkinan terjadinya alergi dan efek samping. c. Kepatuhan pasien minum obat. 4. EVALUASI a. Keberhasilan terapi: pasien sembuh atau tidak, gejala atau keluhan hilang/tidak, pasien dapat beraktivitas seperti biasa. b. Ada/tidaknya gejala/keluhan dan penyakit lain yang timbul setelah/selama pengobatan.

LEMBAR KERJA TUGAS RESEP RESEP 2 (No resep JR-0014): dr. R Jl. Cocak Rawa No. 1 Telp. (0274) 7021499 Yogyakarta HP: 08193178xxxx Yogyakarta, 11 Oktober 2012 R/ Glimepirid I mg No. XXX S 10-0 R/ Metformin mg 500 No. LX S 2 dd tab 1 R/ Nerva plus 5000 No.XXX S 1 dd tab I Pro : Bp. S Umur : Alamat: -

ttd

1. ASSESMENT a. Menggali Riwayat Pasien Keterangan Nama : Bp. S Umur : Jenis Kelamin : L / P Alamat : No. HP : BB/TB : - kg / - cm Pekerjaaan : Kondisi : Diabetes Melitus Penyakit 2 yang Riwayat pernahPenyakit diderita : Diabetes Melitus Keluhan sekarang : Kadar gula darah tinggi. Data Laboratorium : Diagnosis dokter : DM tipe II 3 Riwayat Pengobatan 4 Keadaan Khusus Pasien b. Skrining Resep 1) Administratif (Kelengkapan Resep) No. URAIAN Identitas dokter: Nama dokter SIP dokter Alamat dokter Nomor telepon Tempat dan tanggal resep PADA RESEP ADA TIDAK Inscription penulisan No. Kriteria 1 Data Pasien

1 2 3 4 5

7 8 9 10 11 12 13

Invocatio Tanda resep diawal penulisan resep (R/) Prescriptio/Ordonatio Nama Obat Kekuatan obat Jumlah obat Signatura Nama pasien Jenis kelamin Umur pasien Barat badan

14 15 16

Alamat pasien Aturan pakai obat Iter/tanda lain

Subscriptio

17 Tanda tangan/paraf dokter Kesimpulan: Resep tersebut lengkap / tidak lengkap. Resep tidak lengkap karena tidak mencantumkan informasi mengenai SIP dokter, umur, berat badan, dan alamat pasien. Cara pengatasan SIP dokter dapat dikonfirmasi kepada dokter untuk memastikan keabsahan resep, SIP boleh tidak dicantumkan jika dokter bekerja diinstansi. Sementara data pasien seperti umur, berat badan dan alamat pasien dapat ditanyakan langsung kepada pasien/keluarga pasien.

2) Kesesuaian Farmasetis No Kriteria 1 Bentuk sediaan 2 Stabilitas obat 3 Inkompatibiltas 4 Cara pemberian 5 Jumlah dan aturan pakai

Permasalahan -

Pengatasan Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai

3) Dosis
No. 1 Nama Obat Glimepirid Dosis Resep 1 x sehari 1 tablet pagi hari (sediaan 1 mg) Dosis Literatur Dewasa Dosis awal 1-2 mg sekali sehari, diberikan bersama sarapan pagi, dosis pemeliharaan 1-4 mg sekali sehari, maksumum 8 mg sekali sehari. Jika respon tidak adekuat pada dosis maksimum maka terapi dapat dipertimbangkan kombinasi dengan metformin (DIH, 2010: 697). 250-500 mg tiap 8 jam, maksimal 3g/hari atau 850 mg tiap 12 jam. Anak > 17 tahun dan dewasa, dosis awal 500 mg 2 kali sehari atau 850 mg sekali sehari. (DIH, 2010: 955). 1 kaplet/hari. (MIMS, 2012: 291). Kesimpulan Sesuai Rekomendasi -

Metformin 500 mg

2 x sehari 1 tablet (sediaan 500 mg)

Sesuai

Nerva plus 5000

1 x sehari 1 tablet

Sesuai

4) Pertimbangan Klinis
No. 1 2 3 Kriteria Indikasi Permasalahan Terapi dengan glimepirid tunggal tidak adekuat Kontraindikasi Interaksi - Glimepirid + metformin Bila dikombinasikan keduanya memiliki efek potensiasi penurunan kadar gula darah sampai hipoglikemia dapat terjadi. Metformin dan vitamin B12 Terapi metformin jangka panjang, dapat menyebabkan gangguan absorpsi vitamin B12 dan asam folat di saluran cerna. Metformin dan antikoagulan Kemungkinan terjadinya interaksi antara metformin dan antikoagulan tertentu, Perlu hati-hati untuk orang-orang lanjut usia, infeksi serius dan dalam keadaan trauma. Dupikasi/polifarmasi Alergi Efek samping - Glimepirid Efek samping utama yang harus diwaspadai adalah hipoglikemia. Gambaran klinis hipoglikemik yang parah menyerupai stroke. Disamping itu dapat juga terjadi efek samping lain, berupa gangguan saluran cerna dan gangguan susunan syaraf pusat seperti: sakit kepala, pusing, lapar, tubuh lemas, lelah, mual, muntah, mengantuk, tidur terganggu, daya konsentrasi dan kewaspadaan menurun, depresi, bingung, gangguan bicara, gangguan penglihatan, tremor, gangguan syaraf sensoris, dan lainlain. Kemungkinan dapat pula terjadi gejala-gejala kounter-regulasi adrenergik, seperti berkeringat, kulit lembab, cemas, takhikardia, hipertensi, palpitasi, dan lainlain. Gejala hematologik termasuk leukopenia, trombositopenia, agranulosistosis dan anemia aplastik dapat terjadi walau jarang sekali. Golongan sulfonilurea cenderung meningkatkan berat badan. - Metformin Efek samping bersifat reversible pada saluran cerna termasuk anoreksia, gangguan perut, mual, muntah, rasa logam pada mulut dan diare. Dapat menyebabkan asidosis Pengatasan Diberikan tambahan terapi kombinasi glimepirid dan metformin. Pasien diinformasikan bagaimana mengatasi kondisi gejala hipoglikemi dengan mengemut permen, makan roti dll untuk mengembalikan glukosa tubuh. Perlu diperiksa kadar vitamin B12 dalam serumnya tiap tahun. Mungkin diperlukan penyesuaian dosis antikoagulan.

4 5 6

-. Diminum bersama atau segera setelah makan, jangan berkendaraan / menjalankan mesin selama minum obat, kontrol cek gula darah rutin.

laktat tetapi kematian akibat insiden ini lebih rendah 10 - 15 kali dari fenformin dan lebih rendah dari kasus hipoglikemia yang disebabkan oleh glibenklamid/sulfonilurea. Kasus asidosis laktat dapat dibati dengan natrium bikorbonat. Kasus individual dengan metformin adalah anemia megaloblastik, pneumonitis, vaskulitis. Reaksi obat yang - Glimepirid merugikan Selama pengobatan dengan glimepirid, (ADR/Adverse Drug kadar gula harus diperiksa secara periodik, Reaction) karena dapat terjadi hipoglikemia atau hiperglikemia khususnya pada awal-awal pengobatan atau bila penggunaan glimepirid yang tidak teratur, maka sebaiknya hindarilah aktivitas-aktivitas yang memerlukan perhatian khusus. Khasiat dan keamanan penggunaan pada anak-anak belum diketahui dengan pasti. Bila terdapat sensitivitas berupa peningkatan insulin yang berlebihan akibat glimepirid, sebaiknya pemberian glimepirid dihentikan. Untuk menghindari terjadinya hipoglikemia harus dipertimbangkan pengurangan dosis glimepirid yang dilakukan secara bertahap, Pemberian dosis sebaiknya disertai dengan perbaikan berat badan dan perbaikan pola makan. Lama pengobatan Pengobatan dengan glimepirid merupakan pengobatan jangka panjang. - Metformin Hati-hati penggunaan pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal. Tidak dianjurkan penggunaan pada kondisi dimana menyebabkan dehidrasi atau pada penderita yang baru sembuh dari infeksi serius atau taruma. Dianjurkan pemeriksaan berkala kadar B12 pada penggunaan jangka panjang. Oleh karena adanya kemungkinan terjadinya hipoglikemia pada penggunaan kombinasi dengan Sulfonilurea, kadar gula dalam darah harus dimonitor. Hati-hati pemberian pada pasien usia lanjut yang mempunyai gangguan fungsi ginjal. Dalam pengobatan kombinasi dengan sulfonilurea atau insulin, kadar gula darah harus diperiksa, mengingat kemungkinan timbulnya hipoglikimea. Keadaan yang memicu hipoksia dan akumulasi laktat dapat menyebabkan terjadinya asidosis laktat yang berbahaya, maka metformin tidak boleh diberikan pada penderita penyakin kardiovaskuler, gagal ginjal, gagal hati, dehidrasi dan peminum alkohol. Terapi metformin jangka panjang, dapat menyebabkan gangguan absorpsi vitamin B12 dan asam folat di saluran cerna, oleh karena itu perlu diperiksa kadar vitamin B12 dalam serumnya tiap tahun. Kemungkinan terjadinya interaksi antara metformin dan antikoagulan tertentu, dalam hal ini mungkin diperlukan penyesuaian dosis antikoagulan. Perlu hati-hati untuk orang-orang lanjut usia, infeksi serius dan dalam keadaan trauma.

Cek atau control kadar gula darah rutin. Selalu sedia permen atau roti untuk dikonsumsi ketika terjadi gejala hipoglikemi seperti keringat atau gemetar. Menghindari aktivitas-aktivitas berat yang memerlukan perhatian khusus. Perlu diperiksa kadar vitamin B12 dalam serumnya tiap tahun.

c.

Karakteristik Penyakit Diabetes mellitus tipe II. Definisi Diabetes melitus merupakan kondisi dimana terjadi penurunan kadar insulin dalam tubuh. Insulin adalah hormon yang dibentuk oleh pankreas, berfungsi untuk memecahkan gula darah dan mengubahnya menjadi energi. Bila tubuh tidak dapat memproduksi cukup insulin, maka kadar gula dalam darah akan meningkat. Diabetes mellitus adalah penyakit endokrin yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah diatas normal dan tingginya kadar gula dalam urin akibat terganggunya produksi hormon insulin oleh pankreas. Diabetes mellitus tipe II disebabkan kegagalan relatif sel beta dan resistensi insulin sehingga turunnya kemampuan insulin untuk merangsang glukosa dan untuk menghambat produksi glukosa dihati. Ada dua tipe diabetes melitus, yaitu : Tipe I, merupakan insulin dependent DM atau diabetes juvenil. Kondisi ini biasanya timbul pada usia muda dan membutuhkan injeksi insulin secara teratur. Tipe II, merupakan non insulin dependent DM atau timbul pada usia dewasa. Biasanya terjadi pada usia diatas 40 tahun dan dapat diobati dengan preparat lain, tidak tergantung pada injeksi insulin. Penyebabnya Penyebab DM yang pasti belum diketahui tetapi sebagian besar disebabkan oleh faktor herediter, gaya hidup, diet, infeksi pankreas dan gangguan yang bersifat autoimun. Gejala Pasien sering merasa haus atau lapar serta mempunyai nafsu makan yang besar. - Biasanya terjadi peningkatan urin atau poliuri. - Penurunan berat badan walaupun nafsu makan meningkat. Pasien sering merasa cepat lelah atau lemas yang mungkin disertai kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki. - Penglihatan menjadi kabur. Disertai infeksi kulit yang berulang, sering disertai dengan gatal pada daerah tubuh yang sensitif.

Komplikasi Diabetes sangat meningkatkan resiko akan penyakit jantung. Bila tidak atau kurang tepat diobati, lambat laun dapat menjadi gangguan neurovaskular serius yang sangat ditakuti, seperti retinopati, polineuropati, nefropati dan lain-lain (impotensi, infeksi stafilokok pada kulit dan keluhan claudicatio (OOP, 2003: 695). d. Karakteristik Obat 1) Glimepirid Komposisi: Glimepirid 1 mg.

Indikasi: DM tipe II (NIDDM) yang tidak dapat dikontrol secara adekuat dengan diet, olahraga dan penurunan berat badan saja. Dapat digunakan dalam kombinasi dengan metformin atau insulin. Dosis: 1-8 mg/hari. Dosis awal dan titrasi dosis 1 mg sekali/hari. Dosis harian dapat ditingkatkan dengan interval 1-2 minggu dan dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1 mg-2 mg 3 mg 4 mg- 6 mg dan pada kasus tertentu, 8 mg. Pemberian Obat: Dapat diberikan bersama makan agar diabsorbsi lebih baik dan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada Gastro Intestinal. Kontra Indikasi: DM tipe I (IDDM) ketoasidosis diabetikum, prekoma diabetes, gangguan ginjal berat dan gangguan fungsi hati. Hipersensitif terhadap sulfonylurea lain atau sulfonamide. Hamil, laktasi. Peringatan: Monitor kadar glukosa darah dan urin secara teratur. Berkurang atau menghilangnya gejala hipoglikemia misalnya pada pasien dengan neuropati otonomik atau yang menggunakan obat penyekat B, klonidin, reserpin, guanetidin, atau obat simpatolitik lain. Penggantian sementara menjadi terapi insulin pada situasi stress tertentu (misalnya trauma, pembedahan, dan demam yang disebabkan infeksi). Efek Samping: Hipoglikemia, gangguan sementara daya penglihatan, gangguan GI, gangguan fungsi hati. Jarang: trombopenia, leucopenia, dan anemia hemolitik; gatal, urtikaria, ruam kulit. Interaksi Obat: Efek meningkat jika digunakan bersama dengan insulin dan obat antidiabetes lain., ACE Inhibitor, alopurinol, steroid anabolic dan hormone seks pria, kloramfenikol, derivate kumarin, siklofosfamid, dst. Efek berkurang jika digunakan bersama dengan asetazolamid, barbiturate, kortikosteroid, diuretic, efinefrin, asam nikotinat (dosis tinggi), esterogen, progesterone, rifamfisin, dst. Penyekat-B menurunkan toleransi terhadap glukosa. Kategori kehamilan: C (MIMS, 2012: 280). 2) Metformin Indikasi: NIDDM yang gagal dikendalikan dengan diet dan sulfonilurea, terutama pada pasien yang gemuk.

Kontraindikasi: Gangguan fungsi ginjal atau hati, predisposisi asidosis laktat, gagal jantung, infeksi atau trauma berat, dehidrasi, alkoholisme, wanita hamil dan wanita menyusui. Efek samping: Mual, muntah, anoreksia dan diare yang selintas, asidosis laktat, gangguan penyerapan vit. B. 12. Dosis: 250-500 mg tiap 8 jam atau 850 mg tiap 12 mg bersama/sesudah makan, maksimal 3g/hari. Mekanisme kerja: Bekerja menghambat glukoneogenesis dan menigkatkan penggunaan glukosa di jaringan. Kelebihan dari golongan sulfonilurea adalah tidak menaikkan berat badan dan dapat menurunkan kadar insulin plasma (IONI : 269). 3) Nerva plus 5000 Komposisi: Per Nerva Plus Vit B1 100 mg, vit B6 200 mg, vit B12 200 mcg, folic acid 400 mcg. Per Nerva 5000 Vit B1 100 mg, vit B6 100 mg, vit B12 5000 mcg. Indikasi: Nerva plus Pengobatan defisiensi vit B1, B6, B12, dan asam folat. Nerva 5000 Pengobatan defisiensi vit B1, B6 dan B12. Dosis: 1 kaplet/hari. Pemberian Obat: Dapat diberikan bersama makanan jika timbul rasa tidak nyaman pada GI. Peringatan: Tidak dianjurkan untuk pasien yang sedang mendapat terapi ledova. Efek Samping: Penggunaan vit B6 dosis tinggi dan jangka panjang dapat menyebabkan sindrom neuropati. (MIMS, 2012: 291).

Kesimpulan skrining resep dan hasil analisis DRP (Drug Related Problem) serta Care Plan: Resep tidak lengkap secara administrasi, adanya efek samping dapat diatasi dengan meminum obat bersama makan agar diabsorbsi lebih baik dan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada Gastro Intestinal. Gejala hipoglikemi diatasi dengan mengemut roti atau permen dan cek kadar gula darah rutin serta control kadar B12 dan asam folat tiap tahun untuk penggunaan metformin jangka panjang.

2. PENYERAHAN DAN PEMBERIAN INFORMASI OBAT/PIO, KOMUNIKASI INFORMASI EDUKASI/KIE, DAN KONSELING a. Informasikan mengenai nama obat, aturan pakai, kegunaan masing-masing obat, dan cara penyimpanan yang benar. b. Obat yang diberikan harus diminum secara teratur, agar terapi pengobatan yang diinginkan tercapai. c. Konfirmasikan mengenai aturan pakai, kegunaan dari obat yang diberikan dan cara penyimpanan yang benar. - Metformin sebagai obat anti diabetes dengan aturan pakai 2x sehari 1 tablet dan glimepirid 1 kali sehari sebagai terapi tambahan untuk DM yang tidak dapat dikendalikan oleh obat dan diet dengan aturan pakai 2x sehari 1 tablet. Semua obat diminum bersama makanan. - Penyimpanan obat ditempat yang kering dan terhindar dari sinar matahari langsung. No. 1 Kriteria Informasi Nama Obat Isi Informasi Glimepirid Metformin Nerva plus 5000 Glimepirid dan metformin: Mengatasi diabetes/menurunkan kadar gula darah. Nerva plus 5000: Mengatasi Neurotropik (pegal, capek), serta mengatasi efek dari metformin yang mengganggu penyerapan vit B12. Glimepirid: 1 x sehari 1 tablet pada pagi hari bersama makan Metformin: 2 x sehari 1 tablet pagi dan sore bersama makan Nerva plus 5000: 1 x sehari 1 tablet pada pagi hari bersama makan Bersama makan atau segera setelah makan untuk meningkatkan absorpsi dan menghindari efek nyeri dilambung akibat efek samping obat. Diminum melalui mulut dengan segelas air putih. 3 x sehari artinya tiap 8 jam, 2 x sehari artinya tiap 12 jam. 30 hari Nyeri lambung, hipoglikemi berupa gemetar dan keringat berlebih. Bila gejala ini muncul maka dapat diatasi dengan asupan glukosa, misalnya permen atau makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi atau roti. Simpan tablet ditempat yang kering pada suhu kamar (25oC), terlindung dari cahaya matahari langsung. Aktivitas yang disarankan: Kurangi berat badan yang berlebihan. Menjaga berat badan ideal dan berolahraga ringan secara teratur, misalnya dimulai dengan jalan kaki atau lari pagi selama

Kegunaan obat/outcome terapi yang diharapkan

Aturan pakai

Waktu minum obat

5 6 7

Cara pakai Durasi penggunaan obat Efek samping

8 9

Penyimpanan Aktivitas yang disarankan/dihindari

30 menit sehari. Perbanyak konsumsi makanan yang banyak mengandung serat, seperti sayuran dan sereal. Minum banyak air putih minimal 2 liter/hari. Kontrol kesehatan secara teratur terutama jika terdapat luka atau infeksi yang tidak sembuh-sembuh. Kontrol gula darah atau urin secarfa rutin, periksa tekanan darah secara berkala dan pertahankan tekanan darah dalam batas normal. Bila lupa minum; jika teringat kembali dalam waktu < 2 jam maka langsung minum obat, tetapi jika sudah hampir waktu minum obat selanjutnya maka tinggalkan saja obat yang tadi lupa diminum dan jangan mendouble. Beritahukan gejala hipoglikemia pada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda hipoglikemia dan cara mengatasinya. Selalu sedia asupan glukosa, misalnya permen atau makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi atau roti. Tanda-tanda hipoglikemia : lemas, berkeringat, pusing, gemetar. Segera atasi dengan minum segelas teh manis atau minuman yang manis. Hipoglikemia ini sangat berbahaya karena pasien bisa shock dan meninggal maka harus segera diatasi. Segeralah kedokter jika timbul radang pangkal tenggorok, demam, ruam kulit, radang mulut, diare, air seni berwarna kehitaman. Aktivitas yang dihindari: Konsumsi gula, garam, tinggi lemak dan yang banyak mengandung kolesterol /LDL(seperti: daging merah, produk susu, kuning telur, mentega, saus salad, dan makanan pencuci mulut berlemak lainnya) dibatasi (kontrol pola makan), olahraga, tidak berkendaraan/menjalankan mesin selama meminum obat, cek kadar gula darah rutin, control kadar B12 dalam tubuh tiap tahun. Jangan mengurangi jadwal makan atau menunda waktu makan karena hal ini akan menyebabkan fluktuasi (ketidakstabilan) kadar gula darah. Makanan/minuman yang dihindari : makanan asupan gula seperti ice cream, kue yang banyak mengandung

gula, alkohol. Informasi pasien: Jangan konsumsi obat lain tanpa seizin dokter atau apoteker. Obat hanya berperan sebagai pengendali diabetes, bukan penyembuh. Obat hanya faktor pendukung dalam pengelolaan diabetes, faktor utamanya adalah pengendalian diet (pola makan) dan olah raga. Konsumsi obat sesuai dosis dan aturan pakai yang diberikan dokter. Monitor kadar glukosa darah sebagaimana yang dianjurkan oleh dokter. Jika Anda merasakan gejala-gejala hipoglikemia (pusing, lemas, gemetar, pandangan berkunang-kunang, pitam (pandangan menjadi gelap), keluar keringat dingin, detak jantung meningkat, segera hubungi dokter. Jika Anda sudah pernah mengalami hipoglikemia, selalu bawa sekantung kecil gula jika Anda bepergian. Segera makan gula begitu Anda mendapat serangan hipoglikemia. Penderita diabetes harus menyeimbangkan penggunaan insulin, pemasukan karbohidrat, dan perlu berolahraga secukupnya. Pasien dengan minimal satu kali kejadian hipoglikemia berat harus disarankan untuk menjaga kontrol glikemik agar kejadian hipoglikemia dapat dicegah, setidaknya dalam beberapa minggu berikutnya. Gejala hipoglikemia akan menghilang dalam beberapa menit setelah penderita mengkonsumsi gula (dalam bentuk permen atau tablet glukosa) maupun minum jus buah, air gula atau segelas susu.

3. MONITORING Hal-hal yang perlu monitoring: Kadar glukosa darah/plasma melalui tes gula darah di laboratorium (normal < 200mg/dL). Kadar HbA 1c tiap 3 bulan (normal < 7 %). Monitoring kadar serum transaminase tiap 3 bulan dalam tahun pertama terapi. Kontrol TD dan BB pasien. Evaluasi profilaksis kadar B12 serum tiap tahun pada penggunana metformin jangka panjang. Monitor kadar gula darah pada terapi kombinasi Biguanida (Metformin) dengan Sulfonil Urea (Glimepirid). Monitoring gangguan fungsi hati dan ginjal karena penggunaan Sulfonilurea. Kepatuhan pasien minum obat. Kontrol gangren/luka jika ada. Efek samping obat yang mungkin timbul seperti mual, muntah, batuk kering (penggunaan captopril), radang pangkal tenggorok, demam, ruam kulit, radang mulut, diare, air seni berwarna kehitaman dan hipotensi.

a. b. c. d. e. f. g. h. i. j.

4. EVALUASI a. Keberhasilan terapi: pasien sembuh atau tidak, gejala atau keluhan berkurang, hilang/tidak, pasien dapat beraktivitas seperti biasa. b. Ada/tidaknya gejala/keluhan dan penyakit lain yang timbul setelah/selama pengobatan (keluhan berkurang/tidak). c. Jika ada peningkatan transaminase, kurangi dosis atau hentikan terapi, terutama jika peningkatan tetap terjadi. d. Jika kadar gula darah tidak terkontrol sampai dosis maksimal, pasien sebaiknya diberi insulin dengan dosis individual (untuk DM tipe II : 0,7-2,5 unit/kg BB/hr).

LEMBAR KERJA TUGAS RESEP 3) Dosis


No. 1 Nama Obat Glimepirid Dosis Resep 1 x sehari 1 tablet pagi hari (sediaan 1 mg) Dosis Literatur Dewasa Dosis awal 1-2 mg sekali sehari, diberikan bersama sarapan pagi, dosis pemeliharaan 1-4 mg sekali sehari, maksumum 8 mg sekali sehari. Jika respon tidak adekuat pada dosis maksimum maka terapi dapat dipertimbangkan kombinasi dengan metformin (DIH, 2010: 697). 250-500 mg tiap 8 jam, maksimal 3g/hari atau 850 mg tiap 12 jam. Anak > 17 tahun dan dewasa, dosis awal 500 mg 2 kali sehari atau 850 mg sekali sehari. (DIH, 2010: 955). 1 kaplet/hari. (MIMS, 2012: 291). Kesimpulan Sesuai Rekomendasi -

Metformin 500 mg

2 x sehari 1 tablet (sediaan 500 mg)

Sesuai

Nerva plus 5000

1 x sehari 1 tablet

Sesuai

1. ASSESMENT a. Menggali Riwayat Pasien Keterangan Nama : Tn. R Umur : 29 tahun Jenis Kelamin : L / P Alamat : Kentungan km 6,5 No. HP : BB/TB : - kg / - cm Pekerjaaan : Kondisi : Hipertensi dan nyeri lambung. Penyakit 2 yang Riwayat pernahPenyakit diderita : Hipertensi & nyeri lambung Keluhan sekarang : Tekanan darat tinggi & nyeri lambung. Data Laboratorium : Diagnosis dokter : Hipertensi dan maag. 3 Riwayat Pengobatan 4 Keadaan Khusus Pasien b. Skrining Resep 1) Administratif (Kelengkapan Resep) No. URAIAN Identitas dokter: Nama dokter SIP dokter Alamat dokter Nomor telepon Tempat dan tanggal resep PADA RESEP ADA TIDAK Inscription penulisan No. Kriteria 1 Data Pasien

1 2 3 4 5

7 8 9 10 11 12 13

Invocatio Tanda resep diawal penulisan resep (R/) Prescriptio/Ordonatio Nama Obat Kekuatan obat Jumlah obat Signatura Nama pasien Jenis kelamin Umur pasien Barat badan

14 15 16

Alamat pasien Aturan pakai obat Iter/tanda lain

Subscriptio

17 Tanda tangan/paraf dokter Kesimpulan: Resep tersebut lengkap / tidak lengkap. Resep tidak lengkap karena tidak mencantumkan informasi mengenai SIP dokter, nomor telepon dokter, kekuatan obat, dan berat badan pasien. Cara pengatasan SIP dokter dan nomor telepon dokter dapat dikonfirmasi kepada dokter untuk memastikan keabsahan resep, SIP boleh tidak dicantumkan jika dokter bekerja diinstansi. Kekuatan sediaan dapat dikonfirmasi kedokter atau dipilih kekuatan yang terkecil. Sementara data pasien seperti berat badan pasien dapat ditanyakan langsung kepada pasien/keluarga pasien. 2) Kesesuaian Farmasetis No Kriteria 1 Bentuk sediaan 2 Stabilitas obat 3 Inkompatibiltas 4 Cara pemberian 5 Jumlah dan aturan pakai

Permasalahan -

Pengatasan Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai

3) Dosis
No. 1 Nama Obat Nifedipin tab Dosis Resep 2 x sehari 1 tablet Dosis Literatur Dewasa Dosis awal 30 mg sekali sehari sebagai sustain release, 10 mg 3 kali sehari sebagai kapsul. Dosis lazim 10-30 mg 3 kali/hari sebagai kapsul atau 30-60 mg sekali sehari sebagai SR Dosis maksimum 120-180 mg/hari Meningkatkan SR pada interval 7-14 hari. (DIH, 2010: 1065). Tab/susp 1-2 tab atau 5-10 mL, diberikan 1 jam sesudah tiap kali makan dan menjelang tidur malam. Tab forte/susp forte: diperlukan antasida yang lebih kuat dan antiflatulen. Kasus berat berikan tiap 2 jam. (MIMS, 2012: 9). Dewasa 150 mg 2x/hari, maintenance 150 mg 1x/hari. (DIH, 2010: 1296). 1 kaplet 3x/hari. Maksimal 4 kaplet/hari. (MIMS, 2012: 143). Kesimpulan Under dose Rekomendasi 3 x sehari 1 tablet

Platacid forte syr

3 x sehari 10 mL

Sesuai

Ranitidin tab

2 x sehari 1 tablet 3 x sehari 1 tablet

Sesuai

Neurosanbe plus tab

Sesuai

4) Pertimbangan Klinis
No. 1 2 3 Kriteria Indikasi Kontraindikasi Interaksi Permasalahan Antasida dapat menurunkan efektivitas dari ranitidin. Ranitidin meningkatkan bioavaibilitas Nifedipin. Pengatasan dimakan 1 jam

Ranitidin antasida.

sebelum

Beri jarak penggunaan ranitidin dan nifedipin.

4 5 6

Dupikasi/polifarmasi Alergi Efek samping Reaksi obat yang merugikan (ADR/Adverse Drug Reaction)

Hipotensi, konstipasi, diare. -

Pemakaian dianjurkan.

-. obat sesuai -

dosis

yang

c. 1)

Karakteristik Penyakit Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu kondisi yang semakin banyak terjadi belakangan ini, dan lebih sering dialami oleh kaum pria. Hipertensi terjadi bila aliran darah didalam pembuluh darah menimbulkan tekanan terlalu besar terhadap dinding pembuluh darah. Hasil atau nilai pengukuran tekanan darah terdiri dari 2 nilai: nilai yang lebih tinggi disebut sebagai tekanan darah sistolik, dan nilai yang lebih rendah disebut tekanan darah diastolik. Tekanan darah normal yaitu 120 (sistolik) / 80 (diastolik) mmHg, tetapi nilai ini bervariasi untuk masing-masing orang. Sebagian besar (90%) kasus hipertensi tidak diketahui penyebabnya, tetapi ada beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan resiko seseorang untuk mengalami hipertensi, antara lain: usia, keturunan, jenis kelamin, kebiasaan merokok,

2)

konsumsi alkohol, obesitas (kegemukan), stres, penyakit ginjal, gangguan adrenal, penyakit jantung bawaan, obat-obat tertentu, preeklamsia, konsumsi makanan yang mengandung garam, dan gaya hidup yang kurang aktif. (MIMS, 2012: A98). Maag Ulkus merupakan istilah umum yang mengacu pada kerusakan kulit lapisan permukaan dari usus atau mulut, tetapi biasanya digunakan untuk ulkus pada saluran cerna. Derajat keasaman yang berlebihan (hiperasiditas) atau adanya mikroorganisme seperti Helicobacter pylori biasanya menjadi penyebab terjadinya ulkus pada saluran cerna. Helicobacter pylori adalah penyebab terbanyak infeksi saluran cerna. Bakteri ini tumbuh subur pada lapisan mukosa yang melindungi dinding saluran cerna. Faktor-faktor seperti merokok dan stress, jadwal makan tidak teratur, cara diet yang salah, konsumsi alkohol berlebihan, dan beberapa obat-obatan juga mempengaruhi terjadinya ulkus. Orang yang menggunakan obat antiinflamasi nonsteroid (AINS) dalam jangka lama, terutama mereka yang mengidap arthritis, akan mengalami ulkus (tukak) lambung. Ulkus peptikum dapat mengenai pria, wanita, dan anak-anak. Gejala-gejala ulkus antara lain : rasa perih di ulu hati atau nyeri ketika lapar, mual, nyeri hilang beberapa menit setelah perut diisi makanan atau antasida, nyeri berulang, biasanya berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa bulan, berat badan turun. Kebanyakan ulkus yang banyak sembuh sendiri tanpa diobati. Tetapi gejala ulkus dapat kambuh kembali dan memburuk jika factor penyebabnya tidak diatasi dan akhirnya beresiko terjadi komplikasi seperti perdarahan dan perforasi lambung. Ulkus peptikum, gaster atau duodenum kronik juga dapat menyebabkan terjadinya jaringan parut, yang selanjutnya dapat menghalangi jalannya makanan, sehingga mengakibatkan muntah dan berat badan menurun. Definisi Sakit ulu hati (maag) adalah suatu gangguan yang tidak begitu serius. Penyebabnya ialah kelebihan asam lambung yang mengalir keatas ke kerongkongan (esofagus), karena otot lingkar (sfingter) antara kerongkongan dan lambung tidak bekerja dengan baik lagi. Hal ini diakibatkan oleh antara lain hiatus hernia dan tekanan tinggi dalam perut. Misalnya karena kehamilan, terlalu gemuk, lambung terus-menerus penuh dengan makanan atau gas, batuk atau sembelit kronis, dan pakaian yang terlalu ketat. Begitupula dengan asam lambung yang berlebihan karena banyak merokok atau terlalu banyak makan. Gejala Gejala-gejalanya berupa nyeri seperti terbakar pada kerongkongan yang dirasakan di belakang tulang dada, terutama jika 1 jam setelah makan (terlalu banyak) dan bila membungkuk atau baring. Selalu terasa nyeri yang menusuk di bagian lambung, mual dan muntah-muntah. Adakalanya keluhan ini berkurang sesudah makan, tetapi kadang-kadang justru menghebat. Seringkali penderita terbangun dari tidur karena perasaan pedih dan adanya sedikit asam dalam mulut. Lazimnya serangan berlangsung 0,5 jam sampai lebih dari 1 jam. Bila tidak diobati dengan tepat, dinding kerongkongan yang berlainan dengan dinding lambung yang tidak tahan asam akan dirusak mukosanya. Dengan demikian terjadilah radang dinding kerongkongan yang lebih serius (Swamedikasi: 94). Pengobatan Lazimnya dilakukan dengan sejumlah obat yang hanya bekerja simptomatis, yakni meringankan gejala-gejalanya dengan jalan menurunkan keasaman isi lambung (antasida, H2bloker, penghambat pompa-proton, antikolinergik) (OOP: 249).

d. Karakteristik Obat 1) Nifedipin Komposisi: Nifedipin 10 mg. Indikasi: Angina pectoris stabil, varian dan tidak stabil, infark jantung, hipertensi atau fenomena Raynaud. Dosis: Angina pectoris stabil, varian dan tidak stabil, infark jantung Dosis awal 1 tab 3x/hari, dapat ditingkatkan menjadi 9-12 tab/hari pada angina. Hipertensi atau fenomena Rauynaud dapat ditingkatkan sampai dengan 2 tab 3x/hari. Pemberian Obat: Dapat diberikan dengan atau tanpa makan. Hindari jus grapefruit. Kontra Indikasi: Hamil. Peringatan: Hipotensi berat, penderita lemah jantung. Efek Samping: Pusing, kemerahan pada muka, sakit kepala, hipotensi, edema perifer. Hepatitis, ruam, kram otot, sindrom nefrotik, psikosis akut, hyperplasia gingival. Interaksi Obat: Meningkatkan efek antihipertensi B-Blocker, meningkatkan bioavaibilitas dengan simetidin, ranitidine. Kategori Kehamilan: C (MIMS, 2012: 50).

2) Plantacid Forte Syr Komposisi: Per tab forte/5 mL susp forte: Mg(OH)2 400 mg, Al(OH)3 400 mg, simethicon 100 mg. Indikasi: Mengurangi gejala kelebihan asam lambung, tukak lambung, tukak deudenum. Dosis: Tab/susp 1-2 tab atau 5-10 mL, diberikan 1 jam sesudah tiap kali makan dan menjelang tidur malam.

Tab forte/susp forte: diperlukan antasida yang lebih kuat dan antiflatulen. Kasus berat berikan tiap 2 jam. Pemberian Obat: Berikan dalam perut kosong, 1 jam sesudah makan atau 1 jam sebelum makan dan menjelang tidur malam. Peringatan: Insufisiensi ginjal. Efek Samping: Konstipasi dan diare. Interaksi Obat: Mengganggu absorbs tertasiklin, simetidin. Kategori Kehamilan: (MIMS, 2012: 9). 3) Ranitidin Komposisi : Ranitidin tablet 150 mg, 300 mg. Indikasi : Tukak lambung dan tukak duodenum, refluks esofagitis, dispepsia episodik kronis, tukak akibat AINS, tukak duodenum karena H. Pylori, sindrom Zollinger-Ellison, kondisi lain dimana pengurangan asam lambung akan bermanfaat. Peringatan : Gangguan ginjal dan hati (kurangi dosis); kehamilan dan menyusui; injeksi intravena lebih baik dihindari (infus lebih baik), terutama pada dosis tinggi (kadang-kadang dapat menyebabkan aritmia); gangguan kardiovaskular; hindarkan pada porfiria (IONI : 17). Kontraindikasi : Hipersensitivitas. Hati-hati pemberian pada wanita hamil dan menyusui. Efek samping : Sakit kepala, reaksi alergi, mual, muntah, pusing, lesu, diare, konstipasi. Dosis : Oral 150 mg 2 kali sehari (pagi dan malam) atau 300 mg sebelum tidur malam (tukak lambung dan tukak duodenum). Pemberian Obat: Dapat diberikan bersama atau tanpa makan.

Interaksi obat : Waktu protrombin bisa dipengaruhi bila diberikan bersama antikoagulan. Antasid menurunkan efektivitasnya, sehingga bila diberikan bersama harus terlebih dahulu dimakan 1 jam sebelum antasid. Mekanisme kerja : Menghambat kerja histamin untuk menghasilkan asam lambung dengan menduduki reseptor H2 pada sel parietal lambung (Peresepan Obat : 235). 3) Neurosanbe Plus Komposisi: Metampyron 500 mg, vit B1 50 mg, vit B6 100 mg, vit B12 100 mcg. Indikasi: Neuritis dan neuralgia, trauma nyeri berat pada penyakit degeneratif kolumna vertebra. Dosis: 1 kaplet 3x/hari. Maksimal 4 kaplet/hari. Pemberian Obat: Dapat diberikan bersama makanan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada GI. Kontra Indikasi: Tekanan darah sistolik < 100 mmHg. Peringatan: Jangan digunakan pada nyeri otot akibat flu atau reumatik. Gangguan hematologi, gangguan fungsi hati atau ginjal.

Efek Samping: Reaksi hipersensitivitas, agranulositosis. (MIMS, 2012: 143). Kesimpulan skrining resep dan hasil analisis DRP (Drug Related Problem) serta Care Plan: Resep tidak lengkap secara administrasi, kekurangan dapat dikonfirmasi kepada dokter maupun pasien. Adanya efek samping hipotensi, konstipasi, diare dapat diatasi dengan meminum obat sesuai dosis yang dianjurkan. Nifedipin under doses diatasi dengan meningkatkan frekuensi penggunaan menjadi 3 x sehari 1 tablet. Interaksi antasida dapat menurunkan efektivitas dari ranitidin dan ranitidin meningkatkan bioavaibilitas nifedipin dapat diatasi dengan meminum ranitidin diminm 1 jam sebelum antasida dan beri jarak penggunaan ranitidin dan nifedipin.

2.

PENYERAHAN DAN PEMBERIAN INFORMASI OBAT/PIO, KOMUNIKASI INFORMASI EDUKASI/KIE, DAN KONSELING a. Informasikan mengenai nama obat, aturan pakai, kegunaan masing-masing obat, dan cara penyimpanan yang benar. b. Obat yang diberikan harus diminum secara teratur, agar terapi pengobatan yang diinginkan tercapai. c. Konfirmasikan mengenai aturan pakai, kegunaan dari obat yang diberikan dan cara penyimpanan yang benar. No. Kriteria Informasi Isi Informasi 1 Nama Obat Nifedipin Plantacid forte Ranitidin Neurosanbe plus 2 Kegunaan obat/outcome Nifedipin: mengatasi darah tinggi terapi yang diharapkan Plantacid forte: Mengurangi gejala kelebihan asam lambung, tukak lambung, tukak deudenum. Ranitidin: Mengatasi tukak lambung, mengurangi asam lambung. Neurosanbe plus: Mengatasi Nyeri, pegal-pegal. 3 Aturan pakai Nifedipin: 3 x sehari 1 tablet, dapat diberikan dengan atau tanpa makan. Hindari jus grapefruit. Plantacid: 3 x sehari 10 mL, berikan dalam perut kosong, 1 jam sesudah makan atau 1 jam sebelum makan dan menjelang tidur malam. Ranitidin: 2 x sehari 1 tablet, dapat diberikan bersama atau tanpa makan. Neurosanbe plus: 3 x sehari 1 kaplet, dapat diberikan dengan atau tanpa makan. 4 Waktu minum obat Nifedipin: dapat diberikan dengan atau tanpa makan. Plantacid: berikan dalam perut kosong, 1 jam sesudah makan atau 1 jam sebelum makan dan menjelang tidur malam. Ranitidin: dapat diberikan bersama atau tanpa makan. Neurosanbe plus: dapat diberikan dengan atau tanpa makan. 5 Cara pakai Diminum melalui mulut dengan segelas air putih. 3 x sehari artinya tiap 8 jam, 2 x sehari artinya tiap 12 jam. 6 Durasi penggunaan obat 30 hari 7 Efek samping Hipotensi, konstipasi, diare dapat diatasi dengan meminum obat sesuai dosis yang dianjurkan. Efek samping lain anemia, mual, muntah. 8 Penyimpanan Simpan tablet ditempat yang kering pada suhu kamar (25oC), terlindung dari cahaya matahari langsung. 9 Aktivitas yang Aktivitas yang disarankan: disarankan/dihindari Pertahankan gaya hidup sehat dengan berolahraga secara teratur, diet rendah garam dan rendah lemak.

Belajar untuk releks dan mengendalikan stres. Kontrol berat badan. Periksa tekanan darah teratur Meminum obat sesuai dosis yang dianjurkan. Minum air putih. Jika lambung terasa perih, minumlah air untuk mengurangi rasa perih tersebut. Bila lupa minum antasida maka segeralah minum jika mengingatnya. Jika sudah mendekati waktu minum obat berikutnya, hilangkan saja dan kembali pada jadwal semula. Jangan minum obat tersebut 2 dosis sekaligus. Bila keluhan sudah sembuh, penggunaan masing-masing obat dapat dihentikan. Makan dalam porsi sedang (tidak banyak). Makan yang lunak. Makan makanan yang kaya buah dan sayur, namun hindari sayur dan buah yang bersifat asam (misalnya jeruk, lemon, grapefruit,nanas, tomat). Aktivitas yang dihindari: Jika merokok, berhenti merokok. Hindari minum alkohol. Gaya hidup tidak sehat, stress. Hindari makanan yang mengiritasi seperti pedas, asam, dan yang digreng, berlemak, kopi/kafein, minuman berkarbonasi, Jangan berbaring setelah makan untuk mencegah refluk (aliran balik) asam lambung. Hindari penggunaan obat NSAID. Konseling cara penggunaan obat Jadwal minum obat Nama Obat Nifedifin Plantacid Waktu minum obat Pagi Siang Siang Sore Malam Malam (7.00) (13.00) (14.00) (19.00) (20.00) (21.00)

Pagi (05.00)

Pagi (6.00)

forte Ranitidin Neurisanbe plus

Keterangan: Nifedifin: 3 x/hari 1 tablet, bersama makan. Plantacid: 3 x/hari 10 mL, perut kosong (1 jam sebelum makan). Ranitidin: 2 x/hari 1 tablet, perut kosong/tanpa makan (1 jam sebelum antasida). Neurosanbe plus: 3 x/hari 1 kaplet, bersama makan.

3. MONITORING Hal-hal yang perlu monitoring: a. Pantau perkembangan pasien apakah asam lambung masih meningkat atau sudah mulai menurun. b. Kepatuhan pasien minum obat. c. Kemungkinan timbulnya efek samping seperti anemia, mual, muntah. 4. EVALUASI a. Keberhasilan terapi: pasien sembuh atau tidak, gejala atau keluhan berkurang, hilang/tidak, pasien dapat beraktivitas seperti biasa. b. Ada/tidaknya gejala/keluhan dan penyakit lain yang timbul setelah/selama pengobatan (keluhan berkurang/tidak).

Sumber Literatur : Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, CV. Sagung Seto, Jakarta. Anonim, 2004, Kepmenkes RI No. 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, DEPKES RI. Anonim. 2012. http://apotik.medicastore.com/index.php Anonim. 2012. Http://www.MIMS.com Anonim. 2012, Kimia Farma. Http://www.kimiafarmaapotek.com. Handoko dan Suharto. Insulin, Glukagon dan Antidiabetik Oral. Dalam: Farmakologi dan Terapi edisi 4, 2004. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Interaksi Obat. http://reference.medscape.com/drug-interactionchecker Lacy Charles F., Armstrong Lora L., Goldman Morton P., Lance Leonard L. 2010, Drug Information Handbook, 18th Edition, Amerika: Lexi Comp Inc. Syamsuni, H. A. 2006, Ilmu Resep, Cetakan I, Jakarta: EGC. Tim Editor, 2007, MIMS Edisi Bahasa Indonesia, Vol. 8, Jakarta: Depkes RI, hal: 346, 372. Tim Penyusun, 2008, ISO Farmakoterapi, Cetakan I, Jakarta: PT. ISFI Penerbitan. Tjay T.H, R. Kirana, 2002, Obat-Obat Penting, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta. Tjay,T.H. & Kirana R, 2003, Obat Obat Penting, Cetakan III, Edisi V, Jakarta: PT. Gramedia.

DOSIS OBAT

Definisi Dosis obat Dosis obat yaitu jumlah obat yg diberikan kepada penderita dalam satuan berat (gram, miligram, mikrogram) atau satuan isi (mililiter, liter) atau unit-unit lainnya (unit internasianal). Kecuali dinyatakan lain, dosis obat yaitu sejumlah obat yang memberikan efek terapeutik pada penderita dewasa (isebut juga dosis lazim atau dosis terapeutik). Bila dosis obat yang diberikan melebihi dosis terapetik dinyatakan sebagai dosis toksik, dosis toksik yang dapat menimbulkan kematian disebut dosis letal. Dosis maksimum yaitu dosis tertinggi yang relatif masih aman diberikan kepada penderita.

Faktor-faktor yang mempengaruhi dosis 1. Umur Umur pasien merupakan suatu pertimbangan yang penting untuk menentukan dosis obat, khususnya anak-anak dan orang lanjut usia (>65 tahun). Anak-anak Anak-anak bukan dewasa kecil dimana adanya perbedaan dalam kemampuan farmakokinetik dan farmakodinamik obat, sehingga harus diperhitungkan dosis obat yang diberikan. Factorfaktor yang harus diperhatikan : total body water, protein plasma, fungsi ginjal dan hati. Sebagai contoh chloramfenikol dimetabolisme oleh enzim glukoronidase yang ada di hati dimana pada bayi enzim tersebut belum lengkap sehingga timbul akumulasi khloramfenikol menimbulkan grey sindrom Usia lanjut Pada orang usia lanjut kebanyakan fungsi fisiologisnya mulai berkurang seperti proses metaboliknya lebih lambat, laju filtrasi glomerulus berkurang, kepekaan/respon reseptor

(factor farmakodinamik) terhadap obat berubah, kesalahan minum obat lebih kurang 60 % karena penglihatan, pendengaran telah berkurang dan pelupa, efek samping obat 2-3 kali lebih banyak dari dewasa, maka dosis obat perlu diturunkan. 2. Berat badan Pasien obesitas mempunyai akumulasi jaringan lemak yang lebih besar, dimana jaringan lemak mempunyai proporsi air yang lebih kecil dibandingkan dengan jaringan otot. Jadi pasien obese mempunyai proporsi cairan tubuh terhadap berat badan yang lebih kecil daripada pasien dengan berat badan normal, sehingga mempengaruhi volume distribusi obat.. 3. Jenis kelamin Wanita dianggap lebih sensitive terhadap pengaruh obat dibandingkan pria. Pemberian obat pada wanita hamil juga harus mempertimbangkan terdistribusinya obat ke janin seperti pada obat-obat anestesi, antibiotic, barbiturate, narkotik, dan sebagainya yang dapat menyebabkan kematian janin atau kerusakan kongenital 4. Status patologi Kondisi patologi seperti pasien dengan fungsi ginjal & hati yang rusak/ terganggu akan menyebabkan proses metabolisme obat yang tidak sempurna. Sebagai contoh pemberian tetrasiklin pada keadaan ginjal/hati rusak akan menyebabkan terakumulasinya tetrasiklin dan terjadi kerusakan hati. Maka harus dipertimbangkan dosis obat yang lebih rendah dan frekuensi obat diperpanjang 5. Toleransi Efek toleransi obat yaitu obat yang dosisnya harus diperbesar untuk menjaga respon terapi tertentu. Toleransi ini biasanya terjadi pada pemakaian obat-obatan seperti antihistamin, barbiturate & anagetik narkotik 6. Bentuk sediaan dan cara pemakaian

Dosis obat dapat berbeda-beda tergantung pada bentuk sediaan yang digunakan dan cara pemakaian. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kecepatan dan luasnya absorpsi obat. Seperti bentuk sediaan tablet memerlukan proses desintegrasi dan disolusi lebih dahulu sebelum diabsorpsi sehingga dosisnya lebih besar dibandingkan bentuk sediaan larutan. Cara pemberian obat juga akan mempengaruhi proses farmakokinetik. 7. Waktu pemakaian Waktu ketika obat itu dipakai kadang-kadang mempengaruhi dosisnya. Hal ini terutama pada pemberian obat melalui oral dalam hubungannya dengan kemampuan absorpsi obat oleh saluran cerna dengan adanya makanan. Ada beberapa obat yang efektif bila dipakai sebelum makan atau sesudah makan. Untuk obat-obat yang mengiritasi lambung & saluran cerna lebih baik dipakai segera sesudah makan.

8. Pemakaian bersama obat lain (interaksi obat) Obat-obat yang diberikan secara bersamaan akan terjadi interaksi obat secara fisika dan kimiawi yang dapat berupa efek yang diinginkan atau efek yang menganggu. Missal interaksi tetrasiklin dengan logam-logam kalsium, magnesium & aluminium (logam ini terdapat pada antasida atau produk susu keju), pemakaian secara bersamaan harus dihindari atau dengan cara mengatur jadwal pemberian, karena tetrasiklin membentuk kompleks dengan logam tersebut yang sukar diabsorpsi oleh saluran cerna

Rumus perhitungan dosis anak 1. Menurut perbandingan umur orang dws a. Rumus Young : untuk anak kurang dari 8 tahun Da = n n + 12 x Dd

b. Rumus Dilling : utk anak lebih dari 8 tahun Da = n 20 c. Rumus fried : untuk bayi (0-12 bln) Da = m 150 x Dd x Dd

2. Menurut perbandingan berat badan orang dewasa (70 kg) : Rumus Clark Da = W anak W dewasa x Dd atau Da = 70 W x Dd

3. Menurut perbandingan luas permukaan tubuh orang dewasa (1,73 m2) Rumus Crawford-Terry-Rourke : Da = LPT anak x Dd

LPT dewasa

Menghitung dosis individual anak

1. Sesuai dengan berat badan anak dalam kg 2. Sesuai dengan LPT anak dalam m2 (LPT anak dapat diperhitungkan dari tinggi dan berat badan anak menurut rumus Du Bois atau dapat dilihat dari nomogram DuBois

Contoh resep dan perhitungan dosis anak R/ Codein HCl Ephedrin HCl Prednison Sach lactis 5 mg 10 mg 2 mg qs

m.f pulv.dtd.No X S.t.d.d pulvI pc Pro : Reza (12 thn)

Diketahui DM dewasa utk Codein HCl DM dewasa utk Ephedrin HCl Rumus perhitungan dosis anak > 10 th

: 0,06 g (1 x pakai) dan 0,3 g (1hari) : 0,05 g (1 x pakai) dan 0,15 g (1hari) : n /20 x DM

maka DM anak 12 th utk codein HCl , 1x pakai :12/20 x 0,06 = 0,036 g 1 hari : 12/20 x 0,3 = 0,18g

ephedrine HCl, 1x pakai : 12/20 x 0,05 = 0,03 g 1 hari : 12/20 x 0,15 = 0,09 g

pada resep, dosis Codein HCl 1x pakai = 5 mg = 0,005 g 1 hari = 3x5mg = 15 mg = 0,015 g maka persentase DM 1x pakai : 0,005/ 0,036 x 100 % = 13,88 % 1 hari : 0,015 /0,18 x 100 % = 8,33 %

berarti dosis codein tdk melewati DM (< 100 %) dari resep, dosis ephedrin HCl 1x pakai = 10 mg = 0,01 g 1 hari = 3x10mg = 30 mg = 0,03 g maka persentase DM 1x pakai : 0,01/ 0,03 x 100 % = 33,33 % 1 hari : 0,03 /0,09 x 100 % = 33,33 %

berarti dosis ephedrin tdk melewati DM (< 100 %)

Contoh perhitungan dosis maksimum untuk obat minum R/ Paracetamol Coffein m.f elixir S.3.d.d CthI 0,125 g/dosis 0,2 60

Pro : Anto (10 thn)

Cara I: Jumlah sendok = 60 ml / 5 ml = 12 sendok teh Dosis per sendok coffein = 200 mg / 12 sendok = 16,67 mg / sendok DM Coffein dws = 0,5 g (1xpakai) dan 1,5 g (1 hari) DM Cofeein utk anak 10 thn : 1xp : 10/20 x 0,5 g = 0,25 g = 250 mg 1 h : 10/20 x 1,5 g = 0,75 g = 750 mg maka persentase DM :1xp = 16,67 mg / 250 mg x 100 % = 6,67 % 1 h = 3 x 16,67 mg / 750 mg x 100 % = 6,67 %

Cara II : Dosis 1x p coffein : 5 ml / 60 ml x 0,2 g = 0,017 g Dosis 1 hari coffein: 3 x 5 ml / 60 ml x 0,2 g = 0,05 g DM Cofeein utk anak 10 thn : 1xp : 10/20 x 0,5 g = 0,25 g 1 h : 10/20 x 1,5 g = 0,75 g maka persentase DM :1xp = 0,017 g / 0,25 g x 100 % = 6,67 % 1 h = 0,05 g / 0,75 g x 100 % = 6,67 %

Kesimpulan 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi dosis yaitu umur, berat badan, jenis kelamin, status patologi, cara pemakaian, bentuk sediaan dan interaksi obat. 2. Dosis untuk anak-anak harus diperhitungkan sesuai dengan berat badan atau luas permukaan tubuh

Evaluasi

Hitunglah dosis maksimum pada resep-resep dibawah ini : 1. R/ Paracetamol Coffein CTM 0,2 0,05 0,002

m.f. pulv d.t.d no.X S.t.d.d.pulvI Pro : Dian ( 8 tahun)

2. R/

Atropin sulfas Extrac Belladonae Lactosa

0,5 mg 15 mg qs

m.f pulv. da in cap d.t.d no.X S.t.d.d CapI Pro : Tn. Anton

3. R/ Diphenhydramin HCl 1,5 mg/ 5 ml Ammonium chloride 0,25 Natrii citras Sir. Simpl m.f elixir S.3.d.d CI Pro : Tiara (6 thn) 100 0,1 10 %

Dosis Pemberian Obat Penurun Demam Anak

Masih banyak orang tua yang bingung dalam memberi obat penurun demam pada anaknya, bingung mungkin karena kurang paham tentang dosisnya. Sehingga masih ada yang memberikan obat penurun demam bukan berdasarkan berat badan, melainkan berdasarkan usia anak. Tentu akan sulit jika anaknya masih bayi di bawah usia 1 tahun, karena jarang ditemui obat untuk bayi yang mencantumkan dosis berdasarkan usia. Adapun obat penurun demam yang paling populer adalah parasetamol. Mungkin namanya bisa berbeda-beda, sesuai dengan merk dagangnya, tetapi sebenarnya kandungannya hampir sama, yaitu parasetamol (nama generik). Selain itu, sediaannya pun bisa bermacam-macam. Ada yang berupa tablet, sirup, obat tetes atau bahkan dalam bentuk tablet dan cairan yang dimasukkan ke lubang anus atau rektal (suppositoria). Semuanya sudah jelas mencantumkan takaran dan dosis yang terkadang memang membingungkan dalam hal pemakaiannya. Sebenarnya, dosis pemberian obat yang paling akurat adalah ditetapkan berdasarkan volume permukaan tubuh. Tetapi karena pasti akan kesulitan dalam menghitungnya, maka disederhanakan dengan mengacu kepada berat badan (BB). Namun dalam prakteknya terkadang juga membingungkan karena dirasa kurang praktis, sehingga di berbagai kemasan dituliskan petunjuknya berdasarkan usia anak, misalnya 6 bulan, 12 bulan, dan sebagainya. Yang harus diperhatikan oleh semua orang tua adalah bahwa perhitungan dosis obat bukan berdasarkan usia, karena usia sama sekali tidak mewakili volume atau luas permukaan tubuh seseorang, apalagi bayi. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa berat badan bayi dan anak terkadang tidak sama dengan usianya. Adanya perbedaan ukuran berat badan tersebut namun diperlakukan sama sesuai usianya, dikhawatirkan terjadi efek samping yang berbahaya bagi bayi dan anak. Karena perlu diingat juga bahwa parasetamol tetaplah obat, sedangkan obat adalah racun, hanya akan berfungsi sebagai obat jika dosis pemakaiannya diperhatikan dengan baik. Sebuah tutorial sederhana saya coba susun untuk menghitung berapa takaran obat yang harus diberikan pada anak kita jika terserang demam. Saya usahakan dibuat sepraktis mungkin agar mudah dipahami dan dipraktekkan di rumah Anda. Silahkan gunakan kalkulator jika ditemukan angka yang sulit atau Anda agak kesulitan menghitungnya, tapi percayalah, jika Anda sudah terbiasa seiring perkembangan anak, rumus tersebut akan mudah diikuti. Sebelumnya perlu diketahui pula bahwa otak sebenarnya sudah mengeset kapan demam akan turun, karena seperti yang saya jelaskan pada artikel sebelumnya, demam merupakan mekanisme tubuh untuk melawan infeksi bakteri atau virus. Sehingga jika tubuh berhasil melawan infeksi tersebut, demam akan turun dengan sendirinya. Sedangkan fungsi obat penurun demam seperti parasetamol adalah untuk menenangkan anak dan menjaga agar panas tubuh tidak terlalu tinggi sehingga tidak membahayakan otak. Oke, kembali ke topik Untuk diketahui terlebih dahulu bahwa dosis parasetamol untuk sekali pemberian adalah 10-15 miligram per kilogram berat badan (mg/kg BB).

Agar mudah memahaminya, saya akan langsung berikan dalam bentuk studi kasus ya. Misalnya anak Anda bernama Andi berumur 2 tahun dengan berat badan 10 kg. Ingat, yang kita perhatikan adalah berat badannya ya. Berdasarkan dosis parasetamol di atas, maka dapat dihitung kebutuhan dosis parasetamol untuk Andi adalah : dosis terendah : 10 (kg BB) x 10 (mg/kg BB) = 100 mg dosis tertinggi : 10 (kg BB) x 15 (mg/kg BB) = 150 mg. Berarti, Andi membutuhkan parasetamol antara 100-150 mg sekali minum. Sekarang kita bicara masalah sediaan parasetamol yang dimiliki. Mungkin Anda ada yang memiliki parasetamol dengan berbagai merk dagang, silahkan dibaca di bagian komposisi obat pada kemasannya. Untuk sediaan sirup umumnya tertulis setiap 5 ml mengandung 120 mg Parasetamol. Disini saya sarankan untuk diberikan obat jenis sirup atau obat tetes (drop) karena selain praktis, juga lebih mudah menghitungnya dibandingkan tablet atau puyer. Selanjutnya ikuti rumus berikut ini :

A=(X:Y)xB
dengan ketentuan : A = Takaran parasetamol yang akan diberikan (dalam ml) B = Jumlah takaran tiap kandungan parasetamol yang tertera pada komposisi (dalam ml) X = Kebutuhan parasetamol berdasarkan berat badan anak (dalam mg) Y = Kandungan parasetamol dalam tiap jumlah takaran (dalam mg) Dari studi kasusnya Andi di atas, kita bisa masukkan ke dalam rumus : Untuk takaran terendah yang dapat diberikan = (100 : 120) x 5 = 4,17 ml (dibulatkan menjadi 4,2 ml) Untuk takaran tertinggi yang dapat diberikan = (150 : 120) x 5 = 6,25 ml Berarti kita dapat memberikan takaran parasetamol untuk Andi minimal 4,2 ml atau maksimal 6,25 ml sekali pemberian. Dalam hal ini mungkin kita akan kesulitan lagi menentukan dosis tepatnya. Bisa saja kita menggunakan sendok takar yang tersedia dalam kemasan sirup, namun untuk memberikan sesuai dosis minimal atau maksimal tentu akan sulit, karena biasanya yang tersedia adalah sendok takar ukuran 2,5 ml dan 5 ml. Anda dapat memberikan parasetamol dengan takaran di antara angka minimal dan maksimal tersebut (4,2-6,25 ml), misalnya 5 ml sesuai sendok takar yang tersedia. Namun jika Anda kurang yakin, Anda dapat menggunakan spuit atau tabung suntik ukuran 3 ml atau 5 ml. Caranya, ambil cairan parasetamol dari botol dengan spuit hingga angka yang

diinginkan, misalnya Anda tetapkan takaran parasetamol yang akan diberikan dengan dosis minimal yaitu 4,2 ml. Maka parasetamol dapat diambil 2 kali dan langsung dimasukkan ke mulut si anak agar dosis tidak berkurang. Cara memasukkan ke dalam mulut adalah ke arah lidah atau mulut bawah, dan biarkan si anak menelan sendiri obatnya. Jangan lupa berikan air putih setelahnya, boleh juga langsung diberikan ASI jika masih menyusui. ASI tidak menetralisir kandungan parasetamol yang diberikan. Tetapi jangan langsung diberikan susu formula, karena dapat menetralisir kandungan parasetamol. Jika panas anak kembali naik, parasetamol dapat diberikan kembali paling cepat 4-6 jam setelah pemberian sebelumnya dengan maksimal pemberian 5 kali selama 24 jam.

Berapa Dosis Paracetamol Untuk Anak?

Sakit panas atau demam sering menjangkiti anak. Entah karena flu biasa, ISPA atau DB. Pada kasus sakit DB, demam bisa berhari-hari. Celakanya butuh 3 hari demam untuk memastikan sakit DB. Yang sulit dibedakan antara sakit flu biasa dengan ISPA karena gejala awalnya mirip, hanya dokter yang bisa memastikan. Firli 5 th, teman sekelas Afi dikiranya sakit flu biasa, 2-3 hari sakit dan diberi obat flu. Masuk sekolah lagi, sakit 2-3 hari lagi dan akhirnya opname di RS Santo Yusuf sejak sabtu lalu. Demam yang tinggi menimbulkan rasa pusing pada anak, anak tidak bisa tidur dan terus berkeluh kesah. Untuk meredakan panas dan memberikan kenyamanan anak sebelum mendapat perawatan dokter, dapat digunakan paracetamol. Gunakan paracetamol sirup untuk anak/balita jangan balita. Parasetamol tablet malah bisa bikin bayi/balita tersedak dan meninggal. Harga parasetamol sirup murah sekitar 17 ribuan untuk parasetamol 120 mg ukuran 60 ml. Tapi agar parasetamol efektif harus tepat dosis-nya. Dosis parasetamol untuk anak tidak berdasarkan umur tapi berdasarkan berat. Biasanya dosis untuk bayi/balita adalah 15 mg per kg berat badan. Dan TIDAK BOLEH lebih dari 90 mg per kg berat badan. Bayi dengan berat 10 kg maka butuh dosis : (10 kg) x (15 mg/kg) = 150 mg Jika digunakan sirup parasetamol 120 mg, artinya ada 120 mg per 5 ml maka dibutuhkan : (150 mg) x (5 ml/120 mg) = 25/4 ml = 6,25 ml Jika digunakan sendok takar 5 ml berarti 1 sendok takar ditambah 1/4 sendok takar. Parasetamol tidak boleh diberikan lebih dari 4 kali sehari. Jarak pemberian obat parasetamol minimal 4 jam. Tidak boleh kurang dari 4 jam.

Tabel: Berat Badan Normal Berdasarkan Panjang Badan Dan Jenis Kelamin Panjang Badan (cm) Berat Badan Laki-Laki (Kg) Berat Badan Perempuan (Kg) 49,0 55,0 3,1 4,3 3,3 4,3 55,5 60,0 4,3 5,7 4,4 5,5 60,5 65, 0 5,8 7,1 5,7 7,0 65,5 70,0 7,1 8,5 7,0 8,4 70,5 75,0 8,7 9, 8 8,5 9,6 Tabel Berat Badan Normal Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin Umur BB Laki-laki BB Perempuan 0 2500gram 2500 gram 1 3,5 3,5 2 4,2 4,0 3 5,2 5,0 4 6,2 6,0 5 7,2 7,0 6 8,2 8,0 7 9,2 8,4 8 9,4 8,6 9 9,6 8,8 10 9,8 9,0 11 10 kg 9,2 kg 12 10,2 kg 9,5 kg Sumber : Supariasa (2002)

sebagai orang tua khususnya ibu pasti sangat menginginkan bayinya sehat dan montok. tapi hati-hati bila terlalu gemuk maka tidak sehat juga terhadap bayi anda, tapi terlalu kurus pun tidak baik untuk bayi anda, kemungkinan bayi anda sakit atau bahkan kekurangan gizi. lalu bagaiman menghitung berat badan ideal anak anda. Dalam hal ini anda bisa menggunakan rumus menghitung berat badan ideal bayi anda Rumus yang dipergunakan adalah : Cara menggunakannya dicontoh sebagai berikut : Contoh pertama : anak balita usia 14 bulan, sebelum usia balita ini dimasukan rumus terlebih dahulu usia 14 bulan diuraikan menjadi tahun dan bulan yaitu 1 tahun 2 bulan dimana 1 tahun adalah 12 bulan. Karena n adalah usia dalam tahun dan bulan maka 1 tahun 2 bulan ditulis dengan 1,2 ( dibaca 1 tahun 2 bulan). Selanjutnya baru dimasukan kedalam rumus yaitu = (2 x 1,2) + 8 = 2,4 + 8 = 10,4 Jadi hasilnya Berat Badan Ideal untuk anak balita usia 14 bulan adalah 10,4 kg. contoh pertama diatas sangat praktis, tapi hati-hati, agak sedikit rumit seperti contoh kedua dibawah ini Contoh kedua: Anak balita usia 2 tahun 10 bulan, seperti diatas ini ditulis dengan n=2,10 dan

selanjutnya dikali dengan 2 (sebagaimana rumus 2n) jadi hasilnya adalah 4,20. Hasil ini jangan langsung ditambah dengan 8, karena 4,20 diartikan 4 tahun 20 bulan, 20 bulan artinya 1 tahun 8 bulan, jadi 4,20 berubah menjadi 5,8, baru kemudian ditambah dengan 8 maka Berat badan Idealnya adalah 13,8 kg. Sekian Rumus Menghitung Berat Badan ideal Bayi anda Selamat mencoba dan dapatkan berat badan bayi ideal anda.

Tifus (Typhus) pada Bayi Penatalaksanaan :

Bed rest total (tirah baring absolut) sampai minimal 7 hari bebas panas atau selama 14 hari, lalu mobilisasi secara bertahap -> duduk -> berdiri -> jalan pada 7 hari bebas panas Diet tetap makan nasi, tinggi kalori dan protein (rendah serat) -> lihat Buku Ajar Penyakit Dalam jilid 1, edisi 3 cetakan ke 7, halaman 439, PAPDI, tahun 2004 Medikamentosa: 1. Antipiretik (Parasetamol setiap 4-6 jam) 2. Roborantia (Becom-C, dll) 3. Antibiotika: Kloramfenikol, Thiamfenikol : 4500 mg, jika sampai 7 hari panas tidak turun (obat diganti) Amoksilin/ampisilin : 1 gr/6 jam selama fase demam. Bila demam turun -> 750 mg/6 jam sampai 7 hari bebas panas Kotrimoksasol : 2 X 960 mg Selama 14 hari atau sampai 7 hari bebas panas. Jika terjadi leukopeni (obat diganti) Golongan sefalospurin generasi III (mahal) Golongan quinolon (bila ada MDR

Catatan: Kortikosterroid: khusus untuk penderita yang sangat toksik (panas tinggi tidak turun-turun, kesadaran menurun dan gelisah/sepsis):

Hari ke 1: Kortison 3 X 100 mg im atau Prednison 3 X 10 mg oral Hari ke 2: Kortison 2 X 100 mg im atau Prednison 2 X 10 mg Hari ke 3: Kortison 3 X 50 mg im atau Prednison 3 X 5 mg oral Hari ke 4: Kortison 2 X 50 mg im atau Prednison 2 X 5 mg Hari ke 5: Kortison 1 X 50 mg im atau Prednison 1 X 5 mg oral

Pada Anak :

Klorampenikol : 50-100 mg/kg BB/dibagi dalam 4 dosis sampai 3 bebas panas / minimal 14 hari. Pada bayi < 2 minggu : 25 mg/kg BB/hari dalam 4 dosis. Bila dalam 4 hari panas tidak turun obat dapat diganti dengan antibiotika lain (lihat di bawah)

Kotrimoksasol : 8-20 mg/kg BB/hari dalam 2 dosis sampai 5 hari bebas panas / minimal 10 Bila terjadi ikterus dan hepatomegali : selain Kloramfenikol diterapi dengan Ampisilin 100 mg/ kg BB/hari selama 14 hari dibagi dalam 4 dosis Bila dengan upaya-upaya tersebut panas tidak turun juga, rujuk ke RSUD

Perhatian :

Jangan mudah memberi golongan quinolon, bila dengan obat lain bisa diatasi (baca ulasan penulis dalam: Booming Cyprofloxacin) Jangan mudah memberi Kloramfenikol bagi kasus demam yang belum pasti Demam Tifoid, mengingat komplikasi Agranulositotis Tidak semua demam dengan leukopeni adalah Demam Tifoid Demam < 7 hari tanpa leukositosis pada umumnya adalah infeksi virus, jangan beri kloramfenikol

Rumus Perhitungan Berat Badan Ideal Anak Balita


Posted on December 21, 2010 by KB - TK ANAK CERIA BANJARBARU

Cara praktis mendeteksi Gizi Buruk bisa dengan menghitung berat badan ideal anak balita, ada rumus praktisnya. Berikut ini tulisan pedoman praktis untuk menentukan berat badan ideal yang sering pergunakan dalam kegiatan-kegiatan pelayanan gizi dan kesehatan. Berat Badan Ideal Orang Dewasa Anda mungkin sudah tahu cara menentukan Berat Badan Ideal orang dewasa, yaitu dengan menggunakan rumus : Berat Badan Ideal = Tinggi Badan 100. Atau lebih jelasnya dengan rumus sebagai berikut

misalnya Tinggi Badan (TB) 160 cm maka di dapat adalah berat badan normal 60 kg, dimana idealnya berada diantara 54 Kg sampai dengan 66 kg. Di bawah 54 kg atau dibawah 10% dikatakan kekurangan Berat Badan dan diatas 66 kg atau diatas 10% dikatakan kelebihan Berat Badan. Selanjutnya untuk membandingkannya dengan berat badan aktual (real) anda yang biasa diistilahkan dengan Berat Badan Realatif (BBR) yaitu BB Aktual dibagi dengan BBI dikali 100 %. Hasilnya bisa menunjukkan Anda kekurangan (nilai BBI < 90 %) atau anda kelebihan BB (nilai BBI >110%). Rumus ini adalah rumus standar yang kadang hasilnya sebelum dijadikan pedoman kepada induvidu terlebih dahalu disesuaikan dengan jenis kelamin, massa otot, suku bangsa dan

penyesuaian lain. Tetapi anda harus tahu rumus ini tidak berlaku untuk anak balita. Rumus diatas hanya berlaku untuk induvidu yang berusia diatas 15 tahun keatas. Disamping menentukan berat badan ideal untuk orang dewasa seperti diatas, Keadaan berat badan orang dewasa atau status gizi orang dewasa bisa juga menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) keluaran Depkes RI yaitu dengan menggunakan rumus

Dimana BB= berat badan (kg) TB = tinggi badan dikuadratkan (TB x TB) dalam meter Inteprestasi Status gizi berdasarkan IMT adalah

Kurus tingkat Berat jika nilai IMT <17.0 Kurus tingkat Ringan Jika nilai IMT berada diantara 17.0- 18.4 Normal jika nilai IMT berada diantara 18,5 25.0 Gemuk tingkat Ringan Jika IMT berada 25,1 -27.0 Gemuk tingkat berat jika nilai IMT berada >27

Berat Badan Ideal Balita (0-5 tahun) Sementara itu rumus yang dipergunakan untuk anak balita ( bisa juga digunakan sampai dengan usia 10 tahun) adalah

Cara menggunakannya dicontoh sebagai berikut : Contoh pertama : anak balita usia 14 bulan, sebelum usia balita ini dimasukan rumus terlebih dahulu usia 14 bulan diuraikan menjadi tahun dan bulan yaitu 1 tahun 2 bulan dimana 1 tahun adalah 12 bulan. Karena n adalah usia dalam tahun dan bulan maka 1 tahun 2 bulan ditulis dengan 1,2 ( dibaca 1 tahun 2 bulan). Selanjutnya baru dimasukan kedalam rumus yaitu = (2 x 1,2) + 8 = 2,4 + 8 = 10,4 Jadi hasilnya Berat Badan Ideal untuk anak balita usia 14 bulan adalah 10,4 kg. contoh pertama diatas sangat praktis, tapi hati-hati, agak sedikit rumit seperti contoh kedua dibawah ini

Contoh kedua: Anak balita usia 2 tahun 10 bulan, seperti diatas ini ditulis dengan n=2,10 dan selanjutnya dikali dengan 2 (sebagaimana rumus 2n) jadi hasilnya adalah 4,20. Hasil ini jangan langsung ditambah dengan 8, karena 4,20 diartikan 4 tahun 20 bulan, 20 bulan artinya 1 tahun 8 bulan, jadi 4,20 berubah menjadi 5,8, baru kemudian ditambah dengan 8 maka Berat badan Idealnya adalah 13,8 kg. Untuk Berat badan ideal bayi usia 1-12 bulan dapat menggunakan rumus sebagai berikut: 1. Untuk usia 1-6 bulan dapat menggunakan rumus :

BBL(gr) +(usia x 600 gram)


2. Untuk usia 7-12 bulan dapat menggunakan rumus

a. BBL (gr) + (usia x 500 gram ) b. (usia/2) +3


dimana : BBL adalah Berat Badan Lahir Usia dinyatakan dalam bulan Intepretasi Berat Badan Ideal Anak Balita. Sebagaimana halnya dengan intepretasi Berat Badan Ideal Orang dewasa (usia 15 tahun keatas) adalah +10 % BBI ini juga dapat berlaku untuk BBI anak balita. Dimulai dari kisaran normalnya yaitu rumus diatas = (2n +8 ) + 10% (2n+8). Yaitu antara 9.6 -11.44. Orang tua perlu hati-hati bila presentase Berat Badan Real telah berada dibawah atau diatas 20 % dapat dikatakan bahwa anak balita tersebut mempunyai keadaan gizi yang tidak seimbang, Bila berada diatas 20 % anak balita bisa dikatakan kegemukan dan bila berada di bawah 20 % bisa dikatakan kurang gizi dan bisa berlanjut ke Keadaan gizi buruk untuk balita/anak dan busung lapar untuk orang dewasa.

Sebenarnya untuk mengukur Berat Badan Normal anak balita sudah ditentukan secara internasional yaitu dengan menggunakan standar WHO-NCHS atau juga bisa dengan melihat Kartu Menuju Sehat (KMS) tumbuh kembang balita, seperti terlihat pada gambar disamping, setiap anak mempunyai pola pertumbuhan dan perkembangan berat badan ideal (baik), yang penting adalah bertambah umur bertambah berat badan dan pola terlihat jelas, tidak tiba-tiba naik berat badan bulan ini, bulan berikutnya turun lagi kemudian naik lagi. Cara diatas menentukan BBI anak balita hanya cara praktis yang bisa langsung digunakan tampa harus melihat pedoman seperti pada standar WHO-NCHS atau juga kartu menuju sehat yang biasa dilihat di posyandu. Cara Praktis untuk mendeteksi Gizi Buruk Jadi ketika anak balita diwilayah kerja ada yang tidak datang untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan Berat Badannya. Petugas hanya mempunyai data umur anak dan hasil timbangan Berat Badan bulan-bulan sebelumnya. Masukanlah umur balita tersebut kedalam rumus diatas, hasilnya pada bulan tersebut anak balita telah mempunyai data Berat Badan Idealnya. Selanjutnya tanyakan pada ibu-ibu balita yang datang atau bandingkan dengan ciriciri keadaan anak balita normal seumurnya dengan kisaran berat badan idealnya yang datang di posyandu, jika keadaanya sampai dibawah 30% Berat idealnya. Anda Harus cepat bertindak, Jika tidak Anda akan menemukan balita tersebut gizi kurang dan memungkinkan atau berlanjut kepada gizi buruk. Demikian, salah satu cara sederhana upaya untuk menemukan dan menurunkan kasus gizi buruk pada anak dan busung lapar pada orang dewasa, semoga bermanfaat.

Cara Menghitung Berat Badan


Posted by Obat Penurun Berat Badan

Biasanya orang yang ingin mengetahui berat badan dan tinggi badan pastinya dengan cara di timbang. Kini ada cara agar anda bisa menggitung berat badan berdasarkan tinggi badan, cara ini juga berlaku pada segala usia mulai dari bayi sampai orang dewasa. Apakah anda termasuk orang yang memiliki berat badan ideal atau kelebihan berat badan dan atau berat badan yang kurang??? Berikut adalah cara menghitung berat badan ideal : 1. Menghitung berat badan bayi kisaran usia ( 0 12 bulan ), rumusnya : Berat badan ideal = (usia (bln) : 2 ) + 4 Contoh : Usia seorang bayi adalah 10 bulan, maka berat badan bayi adalah 9 kg

Berat badan = 10 : 2 + 4 = 9 kg. Berarti bayi anda memiliki berat badan yang cukup besar dan dikatakan gemuk. 2. menghitung berat badan untuk anak kisaran usia (1-10 tahun) Berat badan ideal = (umur (thn) x 2 ) + 8 Contoh : Anak anda berusia 8 tahun , maka berat badan bayi adalah 24 kg Berat badan = 8 x 2 + 8 = 24 kg. Berarti berat badan anak anda dikatakan cukup atau sedang ( ideal ) 3. Menghitung berat badan Remaja dan dewasa Berat badan ideal = ( Tinggi badan ( cm )- 100 ) x 90 % Contoh : Anda memiliki tinggi badan 160 cm, berapakah berat badan anda ? jawaban : Berat badan ideal = ( tinggi badan ( cm ) 100 ) x 90 % = (160 -100 ) x 90 % = 6 x 0,9 = 54 kg berdasarakan hasil diatas berarti anda memiliki berat badan kecil hanya 54 kg idealnya adalah 55-57 kg 4. Tinggi badan berdasarkan Tinggi Lutut ( TL ) Tinggi badan Pria = 6,50 + (1,38 + TL) (0,08 x U) Tinggi badan Wanita = 89,68 + (1,53 x TL) (0,17 x U) 5. Tinggi badan berdasarkan Rentang Lengan (RL) Tinggi badan Pria = 118,24 + (0,28 x RL) 0,07 x U) Tinggi badan Wanita = 63,18 + (0,63 x RL) 0,17 x U) Ket : U = Umur (tahun) Sekarang anda bisa menghitung berat badan anda ataupun anak and sendiri. Untuk berat badan normal dapat diketahui dengan cara menambahatau mengurangi 10 % dari Berat badan ideal. Dengan rumus sebagai berikut :

Berat badan normal = ( 10 % ) dari berat badan ideal sampai dengan ( + 10 % ) dari berat badan ideal. Jadi, Berat badan normal sebenarnya merupakan range, tidak dapat dipatok pada angka tertentu.

Menghitung Berat Badan Bayi


Para orang tua, terutama kaum ibu sangat senang melihat bayi yang terlihat imut, montok. Biasanya yang menjadi sasaran di "jewer" adalah pipi sang bayi, karena kemontokan bayi di samping badan selalu terlihat pada bagian pipi. Seorang ibu akan merasa bangga/senang dengan bayi yang montok, sehingga selalu diusahakan memberikan makanan/minuman yang dapat mempermontok bayi. Anak/bayi gemuk, montok dapat memberi indikasi bahwa anak tersebut sehat karena asupan makan/minum yang terjaga plus gizi yang baik. Namun gemuk yang terlalu atau kegemukan tentu akan memberi indikasi lain. Terlalu gemuk yang menuju ke obesitas, dapat membahayakan kesehatan. Oleh karena itu para orang tua harus waspada dan harus mengetahui berapa ukuran berat badan ideal (BBI) bayi atau anak kecil. Menghitung BBI selalu dikaitkan dengan usia dan tinggi/panjang badan, namun tidak seperti pada usia remaja & dewasa, maka bagi bayi dan anak kecil panjang badan tersebut dapat dihitung secara umum menggunakan bilangan konstan sesuai dengan usia bayi dan anak tersebut. BBI BAYI (USIA 0-12 bulan) : RUMUS BBI = (umur (bln) / 2 ) + 4 Misal : 1) Usia bayi 2 bln, maka BBI = (2/2) + 4 = 5 kg 2) Usia bayi 3 bln, maka BBI = (3/2) + 4 = 5,5 kg 3) Usia bayi 4 bln, maka BBI = (4/2) + 4 = 6 kg 4) Usia bayi 5 bln, maka BBI = (5/2) + 4 = 6,5 kg Terlihat bahwa BBI berbanding lurus dengan usia, dimana tiap bulan pertumbuhan/pertambahan berat yang ideal bagi bayi adalah sebesar 0,5 kg. Bagaimana menjaga BBI bayi dan asupan makan/minumnya? Seorang ibu yang masih menyusui anaknya harus dapat menjaga asupan makan/minumnya yang mengandung nutrisi, gizi, zat & mineral yang bermanfaat bagi bayinya (Lihat JUS Bagi Ibu Hamil dan Menyusui). Penggunaan rumus perhitungan ini hanya dapat digunakan sampai usia bayi/anak mencapai 12 bln. Di atas 12 bulan dimana pada umumnya anak sudah berjalan & aktivitasnya sudah lebih banyak dari bayi maka digunakan rumus penghitungan yang lain. BBI ANAK (USIA 1-10 tahun) : RUMUS BBI = (umur (thn) x 2 ) + 8 Misal : 1) Usia anak 1,0 thn, maka BBI = ( 1,0 x 2 ) + 8 = 10 kg 2) Usia anak 1,5 thn, maka BBI = ( 1,5 x 2 ) + 8 = 11 kg 3) Usia anak 2,0 thn, maka BBI = ( 2,0 x 2 ) + 8 = 12 kg 4) Usia anak 2,5 thn, maka BBI = ( 2,5 x 2 ) + 8 = 13 kg Terlihat bahwa BBI seorang anak yang sehat setiap tahun akan bertambah sebesar 2 kg.

Lebih dari itu menjadi gemuk/montok dan kurang dari itu terlihat kurus. Pada usia remaja (di atas 10 thn) rumus tsb tidak sesuai lagi karena aktivitas remaja & dewasa sudah lebih meningkat lagi.

http://s4bur41.blogspot.com/2009/02/cara-menghitung-berat-badan-ideal-dan.html Pada postingan kali ini kami bawakan artikel tentang rumus menghitung berat badan ideal. Ada 2 metode yang kami bawakan. Perhitungan konvensional dan melalui Body Mass Index (index massa tubuh). 1. Perhitungan Berat Ideal Konvensional Jika Anda telah selesai menghitungnya, maka yang Anda peroleh adalah berat badan ideal yang seharusnya Anda miliki. Tapi jangan takut jika berat badan Anda tidak masuk hitungan ideal -karena hasil hitungan rumus ini adalah angka tertentu- sebab range berat badan normal yang dimiliki setiap orang adalah plus/minus 10% berat idealnya. 1. Berat Badan Ideal (BBI) bayi (anak 0-12 bulan) BBI = (umur (bln) / 2 ) + 4 2. BBI untuk anak (1-10 tahun) BBI = (umur (thn) x 2 ) + 8 3. Remaja dan dewasa BBI = (TB - 100) - (TB - 100) x 10% atau BBI = (TB - 100) x 90% [Ket:] TB = Tinggi badan (cm) Wah, kalo data TB tidak diketahui bagaimana? Misalnya pada pasien ascites atau eudeme anasarka, kan susah tuh.. ga mungkin pake berat badan aktual (selain juga bisa konversi -30% dari BB aktual),, atau pada pasien pasca bedah, ga mungkin kita ukur tingginya.. so, Konversi dong dari nilai antropomentri Tinggi lutut atau rentang lengan. TB berdasarkan Tinggi Lutut (TL) TB Pria = 6,50 + (1,38 + TL) - (0,08 x U) TB Wanita = 89,68 + (1,53 x TL) - (0,17 x U) TB berdasarkan Rentang Lengan (RL) TB Pria = 118,24 + (0,28 x RL) - 0,07 x U) TB Wanita = 63,18 + (0,63 x RL) - 0,17 x U) [ket:] U = Umur (tahun) 2. Berat Ideal versi Rumus BMI Ingin menghitung BMI (Body Mass Index) Anda? BMI adalah suatu rumus kesehatan, di mana berat badan (BB) seseorang (kg) dibagi dengan tinggi badan (TB) pangkat dua (m2).

BMI = (BB) / (TB) * (TB) Misalnya: BB = 45 kg dan TB = 165 cm, maka BMI = (45) / (1.65) * (1.65) = 16.5 Apakah Anda termasuk kurus, normal, atau overwight? Lihat patokan di bawah ini: BMI < 18.5 = berat badan kurang (underweight) BMI 18.5 - 24 = normal BMI 25 - 29 = kelebihan berat badan (overweight) BMI >30 = obesitas Ini tabel BMI-nya

warna biru kurang berat warna hijau sehat warna kuning kelebihan berat warna oranye obesitas
Contoh:

R/ amoksisilin 100mg s. lact q.s. m.f. pulv. dtd. no. XXI S 3dd pulv I p.c s. lact q.s. artinya ditambahkan s. lactis secukupnya. m.f. pulv. dtd. No. XXI buat dan campurlah dalam bentuk pulveres (puyer), masing2 dengan dosis diatas sebanyak 21 buah.

Kalo obatnya lebih dari 1 (misalkan acetosal ama luminal ama codein), ketiga obat itu ditulis terpisah2 (dibikin 3 baris), abis itu baru tulis s.lact q.s kalo perlu

An. Puri, 18bln, BB 12kg, dibawa ke dokter krn demam tinggi sejak 2 hari lalu. Berikan antibiotik dan antipiretik per oral dlm bentuk puyer Amoksisilin, dosis anak 25-50 mg/kg BB/hari, 3x sehari, selama 7 hari, minum sesudah makan, puyer masukan ke dalam kapsul Parasetamol, dosis anak 10-15 mg/kg BB/kali, 3x sehari, selama 3 hari, minum sesudah makan bila demam

Pertama untuk antibiotiknya (amoksisilin) kita itung dulu dosis yg diperluin Dosis 25-50 mg/kg BB/ hari krn anaknya 12kg 300 600 mg / hari (kita ambilnya yg kecil aja 300mg/hari) Karena itu per hari, jadinya per kali minum 100mg Butuh 21 buah krn minum 3x sehari selama 7 hari

Untuk antipiretiknya (parasetamol) Dosis 10-15mg/kg BB/kali 120 180mg/kali Yg ini udah per kali minum, jd ga usa repot2 lg Butuh 9 buah krn 3x sehari selama 3 hari