Anda di halaman 1dari 8

BAB IV PEMBAHASAN

Asuhan keperawatan pada klien Nn. L. A dengan Dengue Hemmoragie Fever yang dirawat di ruang Anggrek RSUD. A. Wahab Sjahranie Samarinda menggunakan proses keperawatan yang meliputi pengkajian , diagnosa keperawatan, rencana tindakan, tindakan keperawatan, evaluasi dan dokumentasi. Menurut Doenges (2000), proses keperawatan adalah faktor penting dalam aspek-aspek pemeliharaan, rehabilitatif dan preventif perawatan kesehatan. Untuk sampai hal ini, proses keperawatan telah mengidentifikasikan proses pemecahan masalah.

A. Pengkajian Menurut Suriadi (2001), data subjektif pada klien dengan Dengue Hemmoragie Fever yang paling sering ditemukan adalah mual, muntah, sakit kepala, nafsu makan menurun, nyeri ulu hati, nyeri oto-otot dan tulang, sedang data data objektif yang sering ditemukan adalah demam tinggi 38 0C-400C, terlihat bintik kemerahan pada kulit, epistaksis, melena, perdarahan pada gusi, pembesaran hepar, oedem palpebra, nadi lemah/cepat, hipotensi, pengisian kapiler lebih dari dua detik, sianosis di sekitar mulut, kesadaran menurun sampai stupor bahkan koma.

Adapun pengkajian yang didapatkan langsun pada klien Nn. L. A adalah kesadaran compos mentis, TD 110/0 mmHg, Pols 80 kali/menit, suhu tubuh 360C, Respirasi 20 kali/menit. Klien mengatakan nafsu makannya menurun terlihat dari porsi yang disajikan hanya dimakan porsi saja dan selama sakit berat badan turun 2 kg. Klien mengatakan semalam tidak dapat tidur dengan nyenyak karena menggigil, suhu tubuh jam 02:00 wita 40 0C, klien sering menguap, wajah tampak lelah dan mata sayu. Klien mengatakan terkadang terasa nyeri pada daerah ulu hati saat pengkajian terdapat nyeri tekan pada regio epigastrika dan klien sedang mengeluh nyeri. Klien mengeluh badannya terasa lemah dan lemas saat bergerak dan berjalan, saat pengkajian klien lemah dan berbaring lama. Klien selalu bertanya tentang pengobatan penyakitnya. Infus terpasang pada hari ketiga di vena radius daerah extremitas kiri atas dengan cairan infus RL dan kecepatan tetesan 28 tetes/menit, daerah pemasangan infus dalam keadaan bersih dan kering. Untuk pengkajian pada teori banyak yang tidak ditemukan penulis dalam pengkajian langsung pada klien Nn. L. A antara lain tidak ditemukan adanya epistaksis, melena, muntah, nyeri otot-otot dan tulang, perdarahan gusi, pembesaran hepar, oedem palpebra, nadi lemah/cepat, hipotensi, sianosis dan penurunan kesadaran ini disebabkan karena klien Nn. L. A hanya di diagnosa media dengan Dengue Hemmoragie Fever Grade I, karena tanda dan gejala tersebut hanya terdapat pada Dengue Hemmoragie Fever Grade II, III dan IV sedangkan untuk peningkatan suhu tubuh tidak penulis temukan lagi karena klien sudah menjalani perawatan hari ketiga. Sedangkan data yang ditemukan

76

pada klien Nn. L. A yang sama dengan teori adalah nyeri ulu hati dan nafsu makan menurun ini disebabkan karena klien di diagnosa medis dengan Dengue Hemmoragie Fever Grade I yang mana masih merupakan gejala klinis dan saat dikaji klien telah menjalani perawatan hari ketiga sehingga pada peningkatan suhu tubuh tidak ditemukan lagi.

B. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada klien dengan Dengue Hemmoragie Fever menurut Suriadi (2001) antara lain resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan in take dan out put cairan inadekuat, gangguan rasa nyaman (panas) berhubungan dengan infeksi sistemik dengue, perubahan pola makan berhubung dengan anoreksia, perubahan pola istirahat (tidur) berhubungan dengan hospitalisasi, resiko terjadinya diare berhubungan dengan proses inflamasi, iritasi dan mal absorbsi usus, resiko terjadi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive, kurang pengetahuan klien dan keluarga (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah satu interpretasi informasi. Sedangkan diagnosa yang diangkat pada klien Nn. L. A adalah resiko terjadinya kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan in take dan out put cairan inadekuat, gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat, gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan peningkatan asam lambung, perubahan pola

77

istirahat (tidur) berhubungan dengan gangguan sirkulasi, intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik, resiko terjadinya infeksi nosokomial berhubungan dengan adanya tindakan invasive (terpasang infus) dan kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatannya berhubungan dengan kurangnya informasi. Berdasarkan teori diatas (Suriadi :2001) pada klien dengan Dengue Hemmoragie Fever ditemukan ada tujuh diagnosa keperawatan sedangkan penulis juga menemukan tujuh diagnosa keperawatan dari hasil pengkajian yang penulis lakukan langsung pada klien Nn. L. A dengan Dengue Hemmoragie Fever dan dari ketujuh diagnosa yang penulis temukan hanya enam diagnosa yang sesuai dengan teori tersebut yaitu resiko terjadi kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan intake dan out put inadekuat, gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat, perubahan pola istirahat (tidur) berhubungan dengan peningkatan RAS, risiko terjadi infeksi nosokomial berhubungan dengan tindakan invasive (terpasang infus) dan kurang pengetahuan klien dan keluarga tentang proses penyakit dan pengobatan Dengue Hemmoragie Fever. Penulis menegakkan ketujuh diagnosa tersebut karena data-data yang menunjang untuk ditegakkannya diagnosa tersebut ditemukan antara lain trombosit terakhir 162.000 per mm3 penurunan nafsu makan, porsi yang disajikan tidak dihabiskan, adanya mual, adanya nyeri pada ulu hati, adanya nyeri tekan pada regio epigastrika, penurunan berat badan selama sakit (2 kg), klien mengeluh tidak dapat tidur dengan nyenyak, wajah

78

klien tampak lelah, mata sayu, klien mengeluh ngantuk, klien sering menguap, infus terpasang pada hari ketiga dan terpasang pada vena radius di extremitas kiri atas dan klien selalu bertanya tentang pengobatan yang dijalaninya. Penulis tidak menegakkan diagnosa gangguan rasa nyaman (panas) karena pada hasil pengkajian pada klien Nn. L. A tidak ditemukan data-data yang menunjang untuk ditegakkannya diagnosa tersebut selain itu juga karena klien telah menjalani hari ketiga perawatan sehingga masalah tersebut telah teratasi pada hari perawatan ketiga, hal ini dapat dilihat dari hasil pengkajian bahwa tanda vital dalam batas normal, turgor kulit kembali dengan cepat, mukosa bibir lembab, mata tidak cekung dan tidak adanya peningkatan suhu tubuh. Untuk diagnosa yang diangkat/ditegakkan oleh penulis merupakan masalah yang belum teratasi karena klien masih dalam perawatan dan pengobatan, dilihat dari pengkajian dilakukan pada tanggal 07 Agustus 2003 sedangkan klien masuk pada tanggal 05 Agustus 2003.

C. Perencanaan Perencanaan yang dilakukan pada masing-masing diagnosa mengacu pada buku Rencana Asuhan Keperawatan (Doenges, 1999) dan buku Standar Praktek Keperawatan (Tucker, 1998). Pada dasarnya rencana tindakan keperawatan dibuat dalam asuhan keperawatan yang sesuai dengan masalah dan kondisi klien serta disesuaikan dengan kepustakaan yang membahas tentang asuhan keperawatan pada klien

79

Nn. L. A dengan Dengue Hemmoragie Fever. Adapun pengurangan rencana tindakan disesuaikan dengan lingkungan, sumber daya dan fasilitas yang tersedia. Perencanaan dibuat untuk tercapainya kekurangan volume cairan tidak terjadi, pemenuhan kebutuhan nutrisi, kebutuhan rasa nyaman (nyeri) teratasi, kebutuhan istirahat (tidur) terpenuhi, aktivitas dapat di toleransi, infeksi tidak terjadi dan pengetahuan klien meningkat tentang penyakit dan pengobatan Demam berdarah.

D. Pelaksanaan Keliat, mendefinisikan implementasi yaitu pelaksanaan perencanaan keperawatan oleh perawat dan klien. Dalam tindakan keperawatan dapat dilakukan independen, dependen dan interdependen. Tindakan keperawatan seyogyanya diberikan sesuai rencana asuhan keperawatan dengan

mengutamakan kepentingan klien dan kode etik profesi. Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan di lapangan, tidak ditemukan hambatan yang berarti, sebagian besar intervensi (rencana tindakan) dapat terlaksana dengan melibatkan klien dan keluarganya. Klien bersikap lebih terbuka, kooperatif dan mudah diajak kerjasama, mudah menerima penjelasan dan saran, klien berpartisipasi aktif dalam tindakan keperawatan serta adanya tanggapan yang baik dari dokter dan perawat yang bertugas di ruang Anggrek terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan yang penulis lakukan.

80

Didalam pelaksanaan asuhan keperawatan, ditemukan faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan asuhan keperawatan di ruang Anggrek RSUD. A. Wahab Sjahranie Samarinda. a. Faktor-faktor pendukung 1). Dukung dari perawat ruang Anggrek pada dilaksanakannya asuhan keperawatan. 2). Klien dan keluarga kooperatif dalam memberikan informasi dan kesempatan untuk dilakukannya pengkajian dan pelaksanaan asuhan keperawatan. 3). Selain itu diperoleh pula kesempatan untuk kolaborasi dengan tim medis dalam tindakan yang telah dan yang akan dilakukan terhadap klien Nn. L. A. b. Faktor-faktor penghambat 1). Keterbatasan alat dan lingkungan pendukung dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. 2). Pendokumentasian asuhan keperawatan pada status yang belum lengkap dan sempurna.

E. Evaluasi Untuk menilai tingkat keberhasilan dari asuhan keperawatan, dilakukan evaluasi tindakan keperawatan dan evaluasi tujuan jangka panjang dengan menggunakan metode SOAP

81

Adapun evaluasi yang berhasil dicapai sesuai dengan tujuan asuhan keperawatan yang diberikan adalah diagnosa keperawatan I, dibuktikan dengan tanda-tanda dehidrasi tidak ditemukan dan infus masih terpasang, diagnosa keperawatan II, dibuktikan dengan klien mengatakan nafsu makannya meningkat, klien dapat menghabiskan porsi yang disajikan dan berat badan tetap (tidak menurun). Diagnosa keperawatan III, dibuktikan dengan klien tidak mengeluh nyeri ulu hati lagi, nyeri tekan pada regio epigastrika tidak ditemukan lagi dan skala nyeri 0. Diagnosa keperawatan IV, dibuktikan dengan klien mengatakan semalam dapat tidur dengan nyenyak dan klien merasa sekarang dirinya sudah sehat dan keadaan umum klien baik. Diagnosa keperawatan V, dibuktikan

dengan klien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya keluhan, suhu tubuh tidak meningkat dan klien berjalan-jalan di sekitar ruangan. Diagnosa keperawatan VI, dibuktikan dengan tidak ditemukannya tanda-tanda infeksi di sekitar pemasangan infus, tetesan infus lancar dan luka infus dalam keadaan bersih dan kering. Diagnosa keperawatan VII, dibuktikan dengan klien mampu mengulang semua penjelasan yang telah diberikan oleh perawat dan klien menyatakan sudah mengerti dan paham.

82