Anda di halaman 1dari 6

METODE PENAMBANGAN BATUBARA Dalam BATUBARA DAN GAMBUT Oleh Ir. Sukandarumidi,MSc., Ph.

D Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Metode penambang batubara sangat tergantung pada : Keadaan geologi daerah antara lain sifat lapisan batuan penutup, batuan lantai batubara dan struktur geologi. Keadaan lapisan batubaradan bentuk deposit. Pada dasarnya dikenal dua cara penambangan batubara yaitu : Cara tambang dalam, dilakukan pertama-tama dengan jalan membuat lubang persiapan baik berupa lubang sumuran ataupun berupa lubang mendatar atau menurun menuju k e lapisan batubara yang akan ditambang. Selanjutnya dibuat lubang bukaan pada la pisan batubaranya sendiri. Cara penambangnnya dapat dilakukan : a. Secara manual, yaitu menggunakan banyak alat yang memakai kekuatan tenaga manusia. b. Secara mekanis, yaitu mempergunakan alat sederhana sampai menggunakan sistem elektronis dengan pengendalian jarak jauh. Cara tambang terbuka, dilakukan pertama-tama dengan mengupas tanah penutup. Pada saat ini metode penambangan mana yang akan digunakan dipilih dan kemungkinan me ndapatkan peralatan tidak mengalami masalah. Peralatan yang ada sekarang dapat d imodifikasikan sehingga berfungsi ganda . Perlu diketahui pula bahwa berbagai je nis batubara memerlukan jenis dan peralatan yang berbeda pula. Mesin-mesin tamba ng modern sudah dapat digunakan untuk pekaerjaan kegiatan penambangan dengan jan gkauan kerja yang lebih luas dan mampu melaksanakan berbagai macam pekerjaan tan pa perlu dilakukan perubahan atau modifikasi yang besar. Pemilihan metode penambangan batubara baik yang akan ditambang secara tambang da lam ataupun tambang terbuka. 1. METODE PENAMBANGAN SECARA TAMBANG DALAM Pada penambangan batubara dengan metode penambangan dalam yang peting adalah bag aimana mempertahankan lubang buka seaman mungkin agar terhindar dari kemungkinan : Keruntuhan atap batuan Ambruknya dinding lubang (rib spalling) Penggelembungan lantai lapisan batubara (floor heave) Kejadian tersebut diatas disebabkan oleh terlepasnya energi yang tersimpan secar a alamiah dalam endapan batubara. Energi yang terpendam tersebut merupakan akiba t terjadinya perubahan atau deformasi bentuk endapan batubara selama berlangsung nya pembentukan deposit tersebut. Pelepasan energi tersebut disebabkan oleh adan ya perubahan keseimbangan tegangan yang terdapat pada massa batuan akibat dilaku kannya kegiatan pembuatan lubang-lubang bukaan tambang. Disamping itu kegagalan yang disebabkan batuan dan batubara itu tidak mempunyai daya penyanggaa di sampi ng faktor-faktor alami dari keadaan geologi endapan batubara tersebut. Penambangan batubara secara tambang dalam kenyatannnya sangat ditentukan oleh ca ra mengusahakan agar lubang bukaan dapat dipertahankan selama mungkin pada saat berlangsungnya penambangan batubara dengan biaya rendah atau seekonomis mungkin. Untuk mencapai keinginan tersebut maka pada pembuatan lubang bukaan selalu diusa hankan agar : Kemampuan penyangga dari atap lapisan Kekuatan lantai lapisan batubara Kemampuan daya dukung pilar penyangga. Namun apabila cara manfaat sifat alamiah tersebut sulit untuk dicapai, maka bebe rapa cara penyanggan buatan telah diciptakan oleh ahli tambang. Metode penambangan secara tambang dalam pada garis besarnya dapat dibedakan yait

u : a. Room and Pillar atau disebut Bord and Pillar b. Longwall Kedua metode tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri terutam a pada keadaan endapan batubara yang dihadapi di samping faktor lainnya yang per lu diperhatikan dalam pemilihan metode penambangan tersebut. a. Metode Room and Pillar Cara penambangan ini mengandalkan endapan batubara yang tidak diambil sebagai pe nyangga dan endapan batubara yang diambil sebagai room. Pada metode ini penamban gan batubara sudah dilakukan sejak pada saat pembuatan lubang maju. Selanjutnya lubang maju tersebut dibesarkan menjadi ruangan ruangan dengan meninggalkan batuba ra sebagai tiang penyagga. Besar bentuk dan ruangan sebagai akibat pengambilan b atubaranya harus diusahakan agar penyangga yang dipakai cukup memadai kuat mempe rtahankan ruangan tersebut tetap aman sampai saatnya dilakukan pengambilan penya ngga yang sebenarnya yaitu tiang penyangga batubara (coal pillar). Metode ini me mpunyai keterbatasan-keterbatasan dalam besaran jumlah batubara yang dapat diamb il dari suatu cadangan batubara karena tidak semua tiang penyangga batubara dapa t diambil secara ekonomis maupun teknik. Dari seluruh total cadangan terukur batubara yang dapat diambil dengan cara pena mbangan metode Room and Pillar ini paling besar lebih kurang 30-40% saja. Hal in i disebabkan banyak batubara tertinggal sebagi tiang-tiang pengaman yang tidak d apat diambil. (Gambar Sketsa sistem penambangan dengan cara Room and Pillar.) b. Metode Longwall Ada dua cara penambangan dengan menggunakan metode Longwall yaitu : Cara maju (advancing) Cara mundur (retreating) Pada penambangan dengan metode advancing Longwall terlebih dahulu dibuat lubang maju yang nantinya akan berfungsi sebagi lubang utama (main gate) dan lubang pen giring (tail gate), dibuat bersamaan pada pengambilan batubara dari lubang buka tersebut. Kedua lubang bukaan tersebut digunakan sebagai saluran udara yang diperlukan unt uk menyediakan udara bersih pada lubang bukaannya di samping untuk keperluan tra nsportasi batubaranya dan keperluan penyediaan material untuk lubang bukannya. Metode ini akan memberikan hasil lebih cepat karena tidak memerlukan waktu menun ggu lubang yang diperlukan yaitu lubang utama dan lubang pengiring. Pada metode retreating Longwall merupakan kebalikan dari metode advancing longw all karena pengambilan batubara belum dapat dilakukan sebelum selesai dibuat sua tu panel yang akan memberikan batasan lapisan batubara yang akan diekstraksi (di ambil) Pemilihan salah satu metode tersebut harus memperhatikan keadaan dan kondisi ala mi yang diremukan pada endapan batubara itu sendiri agar nantinya tidak menghada pi kesulitan-kesulitan selama dilakukan ekstraksi yang pada akhirnya tentu bertu juan mencari biaya serendah mungkin. (gambar .Skema sistem penambangna Longwall ) Selain kedua metode tersebut terdapat pula beberapa variasi metode penambangan y ang dapat diterapkan. Hal ini tergantung pada macam dan jenis serta ketebalan la pisan disamping kemiringan lapisan batubara yang perlu juga diperhatikan. Peralatan yang digunakan pada penambangan tambang dalam dapat dibagi dalam dua k ategori yaitu : Peralatan untuk pekerjaan persiapan Peralatan untuk pengambilan batubara. Pada saat ini kemampuan peralatan tambang dalam sudah demikian maju sehingga sel uruih kegiatan pekerjaan fisik yang dilakukan oleh manusia, praktis sudah dapat digantikan oleh mesin atau alat batu mekanis. 2. METODE PENAMBANGAN SECARA TAMBANG TERBUKA Kelebihan dari tambang terbuka dibandingkan dengan tambang dalam adalah : Relatif lebih aman Relatif lebih sederhana Mudah pengawasannya

Pada saat ini sebagian besar penambangan batubara dilakukan dengan metode tamban g terbuka, lebih-lebih setelah digunakannya alat-alat besar yang mempunyai kapas itas muat dan angkut yang besar untuk membuang lapisan penutup batubara menjadi lebih murah dan menekan biaya ekstraksi batubara. Selain itu prosentase batubara yang diambil jauh lebih besar dibandingkan dengan batubara yang dapat diekstraksi dengan cara tambang dalam. Penambangan batubara dengan metode tambang terbuka saat ini diperoleh 85% dari total mineable reserv e, sedang dengan metode tambang dalam paling besar hanya 50% saja. Walaupun demikian penambangan secara tambang terbuka mempunyai keterbatasan yait u : Dengan peralatan yang ada pada saat sekarang ini keterbatasan kedalaman lapisan batubara yang dapat ditambang. Pertimbangan ekonomi antara biaya pembuangan batuan penutup dengan biaya pengambilan batubara. Beberapa tipe tambang terbuka : Tipe penambangan batubara dengan metode tambang terbuka tergantung pada letak da n kemiringan serta banyaknya lapisan batubara dalan satu cadangan. Disamping itu metode tambang terbuka dapat dibedakan juga dari cara pemakain alat dan mesin y ang digunakan dalam penambangan. Beberapa tipe penambangan batubara dengan metode tambang terbuka adalah : a. Contour Mining Tipe penambangan ini pada umumnya dilakukan pada endapan batubara yang terdapat di pegunungan atau perbukitan. Penambangan batubara dimulai pada suatu singkapan lapisan batubara dipermukaan atau crop line dan selanjutnya mengikuti garis kon tur sekeliling bukit atau pegunungan tersebut. Lapisan batuan penutup batubara dibuang kearah lereng bukit dan selanjutnya bat uan yang telah tersingkap diambil dan diangkut. Kegiatan penambangan berikutnya dimulai lagi seperti tersebut diatas pada lapisan batubara yang lain sampai pada suatu ketebalan lapisan penutup batubara yang menentukan batas limit ekonominy a atau sampai batas maksimum ke dalaman dimana peralatan tambang tersebut dapat bekerja. Batas ekonomi ini ditentukan oleh beberapa variabel antara lain : Ketebalan lapisan batubara Kualitas Pemasaran Sifat dan keadaan lapisan batuan penutup Kemampuan peralatan yang digunakan Persyaratan reklamasi (gambar tambang terbuka tipe Contour Mining .) Peralatan yang digunakan untuk cara penambangan ini pada umumnya memakai peralat an yang mempunyai mobilitas tinggi atau dikenal sebagai mobil equipment. Alat-alat besar seperti : Sebagai alat muat : Wheel Loader Track Loader Face Shovel Backhoe Sebagai alat angkut jarak jauh : Off Highway Dump Truck Sebagai alat angkut jarak dekat : Scraper Alat-alat tersebut dipergunakan untuk pekerjaan pembuangan lapisan penutup batub ara sedangkan untuk pengambilan batubaranya dapat digunakan alat yang sama atau yang lebih kecil tergantung tingkat produksinya. Kapasitas alat angkut berupa Of f Highway Dump Truck antara 18 ton sampai 170 ton. Mengingat batuan penutupnya sangat keras maka digunakan sistem peledakan ( Blast ing system), dengan menggunakan beberapa unit alat bor drill blasthole Machine y ang mempunyai kemampuan bor berdiameter sampai 6 inches, sedangkan bahan peledak nya digunakan Ammonium Nitrate dan Solar ANFO. b. Open Pit Mining Open Pit Mining adalah penambangan secara terbuka dalam pengertian umum. Apabila hal ini diterapkan pada endapan batubara dilakukan dengan jalan membuang lapisa n batuan penutup sehingga lapisan batubaranya tersingkap dan selanjutnya siap un tuk diekstraksi. Peralatan yang dipakai pada penambangan secara open pit dapat b

ermacam-macam tergantung pada jenis dan keadaan batuan penutup yang akan dibuang . Dalam pemilihan peralatan perlu dipertimbangkan :

Kemiringan lapisan batubara Pada lapisan dengan kemiringan cukup tajam, pembuangan lapisan penutup dapat men ggunakan alat muat baik berupa face shovel, front end loader atau alat muat yang lainnya. Masa operasi tambang Penambangan tipe open pit biasanya dilakukan pada endapan batubara yang mempunya i lapisan tebal atau dalam dan dilakukan dengan menggunakan beberapa bench. Pera latan yang digunakan untuk pembuang lapisan penutup batubara dibedakan sebagai b erikut: 1. Peralatan yang bersifat mobil antara lain Truck Shovel, Front end loader , Bulldozer, Scrapper. 2. Peralatan yang bersifat bekerja secara kontinu membuang lapisan penutup tanpa dibantu alat angkut antara lain : a. Dragline Baik yang dengan scrawler maupun walking dragline. Alat ini mengeruk dan langsun g membuang sendiri. Kapasitasnya bervariasi mulai dari yang kecil kurang dari 5 m dan jarak buang lebih dari 75 m. b. Face Shovel Ada dua tipe yaitu : 1. Stripping Shovel Mempunyai kapasitas mangkok (bucket) yang besar dan jangkauan yang panjang digun akan sebagai alat pembuangan lapisan penutup batubara tanpa perlu bantuan alat a ngkut yang lain. Pada umumnya kapasitas mangkok berukuran lebih besar dari 20 m , dengan jangkauan buang lebih dari 25 m. 2. Loading Shovel Yang dipergunakan sebagai alat muat yang umunya kapasitas isi mangkok dan panjan g jangkauan lebih pendek. c. Bucket Wheel Excavator Adalah alat penggali dan pengangkut sekaligus. Alat ini dapat bekerja sendiri at au dibantu alat lain berupa belt conveyor dan dapat dibantu dengan alat yang din amakan belt transfer, dan selanjutnya pada ujung belt conveyor dipasang alat yan g dinamakan belt spreader yang digunakan untuk menyebarkan hasil galian batuan p enutup ketempat pembuangan dumping disposal area. c. Stripping Mining Tipe penambangan terbuka yang diterapkan pada endapan batubara yang lapisannya d atar dekat permukaan tanah. Alat yang digunakan dapat berupa alat yang sifatnya mobil atau alat penggalian yang dapat membuang sendiri. Penambangan batubara khu susnya di Kalimantan akan dimulai dengan cara tambang terbuka yang memakai alat kerja bersifat mobil.

TEKNIK PENAMBANGAN LAPISAN BATUBARA TIPIS Penyebaran batubara tidak selalu diiringi oleh kualitas dan ketebalan yang mengg embirakan, karena sering dijumpai kualitas batubara di suatu daerah cukup tinggi sementara ketebalannya kurang dari 1 m atau sebaliknya. Ketebalan lapisan batubara berhubungan erat dengan teknik penggaliannya yang su dah barang tentu diarahkan pada efisiensi sistem penambangan yang secara ekonomi layak diterapkan. Sampai saat ini untuk menggali lapisan batubara dengan keteba lan kurang dari 1 m, baik pada tambang bawah tanah maupun terbuka, terbentur pad a masalah pemilihan sistem penambangan yang ekonomis. Misalnya pada sistem longw all, alat pemotong batubara (shearer) paling kecil yang diproduksi mempunyai ket

inggian 0,81 m, tentu alat ini tidak dapat digunakan menambang lapisan batubara yang lebih tipis dari 0,81 m. pada penambangan terbuka, lapisan penutup yang teb al umumnya menjadi kendala untuk menambang lapisan batubara yang tipis, bila dit injau dari aspek ekonomi. Tetapi kendala pemilihan alat penggali lapisan batubar a tipis telah dapat diatasi berkat kemajuan teknologi untuk merancang suatu alat pembajak batubara (plow) yang dapat digunakan untuk mengekstrak lapisan batubar a dengan ketebalan 0,46 m. Masalah yang timbul kemudian adalah bagaimana memanfa tkan alat bajak ini pada suatu sistem penambangan batubara tipis. Cara penambangan batubara tipis yang sedang beroperasi saat ini secara ekonomi s ulit dapat diterima, tetapi cara tersebut terus dilakukan karena setiap pemerint ahan mempunyai kebijakan berbeda dalam mengelola sumberdaya alam yang strategis yang dimilikinya. Ada beberapa sistem penambangan lapisan batubara tipis yaitu : a. Sistem Tarik Kabel-Rantai Sistem penambangan ini telah diterapkan di Korea untuk mengekstrak lapisan batub ara dengan ketebalan antara 0,3 0,5 m dengan kemiringan 45 . Tahap persiapan pen ambangannya , bagian yang penting yang harus dibuat disamping komponen lain adal ah pilar-pilar berdimensi 15.2 x 30,5 m diantara dua raise yaitu pilar-pilar ba tubara yang akan dipotong menggunakan gesekan rantau penggali. Pilar-pilar ini juga berfungsi sebagai penyangga sementara pada saat salah satu pilar sedang dipotong. Disamping itu harus dirancang pula dua corong di bagian b awah pilar untuk menampung serpihan batubara. Rantai pemotong batubara disambung dengan kabel yang dihubungkan ke mesin pengge rak yang dapat menjalankan rantai pemotong tersebut maju mundur. Mesin penggerak diletakkan pada level atas, sedangkan pada level bawah tersedia kendaraan penam pung serpihan batubara hasil pemotongan. Penggalian dimulai dari bagian bawah pi lar bergerak ke atas sehingga serpihan batubara mengalir karena gravitasi menuju dua buah corongan yang dapat menampung serpihan batubara tersebut dan siap dimu atkan secara periodik kedalam kendaraan penampung.Diameter nominal rantai pemoto ng berkisar antara 100 sampai 200 mm yang sangat efektif digunakan untuk menggal i lapisan batubara dengan ketebalan 0,5 meter. b. Sistem Backfilling Konsep sistem backfilling dipersiapkan untuk lapisan batubara tipis yang relatif datar, untuk itu harus dipersiapkan suatu sistem pengangkutan yang sesuai denga n ketebalan lapisan batubaranya. Teknik penggalian dan penyanggaan yang akan diterapkan mengacu pada sistem longw all, yaitu suatu sistem dengan proses penambangan dan pengangkutan bergerak maju dan meninggalkan runtuhan lapisan atap diatap dibelakang penyangga. Dengan memp ertimbangkan tipisnya lapisan batubara dan penyangga yang harus dapat bergerak m aju, maka sistem penyangga bertekan udara diharapkan sebagai jawaban yang tepat. Dasar konsep ini menggunakan seoptimal muingkin teknik pengontrolan jarak jauh, baik terhadap mobilitas penyangga maupun penggalian, sehingga tidak diperlukan personil yang bekerja di dalam tambang. c. Sistem Roof-Fall Tolerant Seperti halnya sistem backfilling, sistem roof-fall tolerant juga merupakan kons ep yang sasaran utamanya tidak memerlukan adanya karyawan yang bekerja didalam t ambang. Bahkan dalam sistem ini dirancang tidak memerlukan penyangga sama sekali . Konsep sistem Roof-fall tolerant dibuat atas dasar hipotesis sisipan tipis, ya itu akan terbentuknya rongga dibelakang alat pemotong secara bertahap dan runtuh an atap terjadi pada toleransi jarak yang cukup aman. Adanya toleransi jarak runtuhan tersebut merupakan keuntungan karena alat potong dan alat angkut tidak akan terjepit oleh runtuhan atap. Konsep sisipan tipis in i meliputi seluruh perangkat penambangan yang diperlukan antara lain rantai pem otong yang panjang dan bergerak memutar (looping) serta sistem pengangkutnya. Pe nggalian batubara bergerak dari satu arah sampai jarak tertentu, kemudian berbal ik ke arah yang berlawanan, begitu seterusnya sampai lapisan batubaranya habis.