Anda di halaman 1dari 5

Disusun Oleh : Nessia Dyah Anggraini S.Ked NRP.

1110221012 FK UPN VETERAN JAKARTA

Pembimbing : Letkol. CKM. dr. A.B Lubis Sp.An

KEPANITERAAN BAG ANASTESI PERIODE 26 DESEMBER- 29 JANUARI 2012 RS TK.II MOH RIDWAN MAUREKSA KESDAM JAYA

PETIDIN
Petidin merupakan golongan opioid sintetik. Opioid adalah semua zat baik sintetik maupun natural yang dapat berikatan dengan reseptor morfin. Petidin dikenal juga dikenal sebagai Meperidin atau Demerol yang secara kimia adalah etil-1-metil-4-fenilpiperidin-4karboksilat. FARMAKODINAMIK Petidin bekerja terutama sebagai agonis reseptor . Susunan Saraf Pusat Menimbulkan efek seperti morfin berupa analgesia, sedasi, euforia, depresi nafas dan efek sentral lain. 1. Analgesia Efek mulai timbul setelah 15 menit pemberian oral dan mencapai puncaknya selama 2 jam. Efek analgesi lebih cepat jika diberikan secara subkutan atau IM. Karena bioavailabilitas oral 40-60%, maka efektivitas sebagai analgesik per oral setengahnya daripada jika diberikan secara parenteral. 2. 3. Sedasi, euforia dan eksitasi Saluran nafas Dalam dosis ekuianalgesik menimbulkan depresi nafas sama kuat dengan morfin dan mencapai puncaknya dalam 1 jam setelah suntikan IM. Selain itu menurunkan kepekaan pusat nafas terhadap CO2 dan mempengaruhi pusat yang mengatur irama nafas dalam pons. Petidin menurunkan volume tidal tapi frekuensi nafas kurang dipengaruhi. Depresi napas dapat diatasi dengan nalokson atau antagonis opioid lainnya. 4. Efek neural lainnya Menimbulkan mual, muntah dan pusing karena merangsang CTZ.

Sistem Kardiovaskular Pada pasien yang berbaring tidak mempengeruhi CVS, tidak menghambat miokard dan tidak merubah gambaran EKG.

Otot Polos Efek spasmogenik yang ditimbulakan terhadap lambung dan usus halus lebih ringan dibandingkan dengan morfir. Dapat menimbulkan spasme saluran empedu, mengurangi peristaltik ureter, dll.

FARMAKOKINETIK Absorpsi Distribusi : Baik, namun pada pemberian secara IM kecepatan absorpsi tidak teratur. : melewati plasenta, air susu ibu dan di CSS. Ikatan dengan protein plasma sebesar 60-80%. Metabolisme : Sebagian besar melalui hati dengan cara dihidrolisis menjadi asam petidin atau asam norpetidin dan demetilasi menjadi norpetidin. Ekskresi : melalui urine namun jarang sekali ditemukan dalam bentuk utuh.

INDIKASI Sebagai obat untuk penghilang nyeri atau analgesia. Biasa digunakan untuk analgesia obstetrik atau obat praanastetik. EFEK SAMPING Pusing, berkeringat, euforia, mulut kering, mual, muntah, perasaan lemah, gangguan penglihatan, palpitasi, disforia, sinkop atau sedasi. KONTRA INDIKASI Pasien dengan gangguan hati, ginjal dan orang tua dosisnya harus dikurangi karena adanya perubahan disposisi obat.

INTOKSIKASI Jika kelebihan dosis (overdosage) menimbulkan gejala berupa depresi nafas, midriasis, bradikardia, edema pulmonal, tremor kronik, eksitasi SSP dan kejang. DOSIS IM IV SC : 1-2 mg/kgBB yang diulang tiap 3-4 jam : 0,2-0,5 mg/kgBB : Petidin SC tidak dianjurkan karena menimbulkan iritasi.

Spinal: 1-2 mg/kgBB

DAFTAR PUSTAKA

1.

Latief Said, dkk. Petunjuk Praktis Anastesiologi Edisi Kedua. Jakarta: Bagian Anastesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2001.

2.

Tim Departemen Farmakologi FKUI. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Gaya Baru; 2007.

3.

MIMS.

Pethidine

Full

Prescribing

Information.

2012.

Diunduh

dari

http://www.mims.com/USA/drug/info/pethidine/?q=pethidine hydrochloride&type=full pada tanggal 8 Januari pukul 21.04 WIB.