Anda di halaman 1dari 10

http://siibebekz.blogspot.com/2012/12/laporanpendahuluan-abortus-incomplet.

html Kamis, 06 Desember 2012


LAPORAn PENDAHULUAN ABORTUS INCOMPLET
LAPORAN PENDAHULUAN ABORTUS INKOMPLET

I.

DEFINISI Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu / buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal Hal : 145). Keguguran adalah dikeluarkannya hasil kontrasepsi sebelum mampu hidup di luar kandungan dengan berat badan kurang dari 1000 gram atau umur hamil kurang dari 28 minggu. (Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan Bidan, hal : 214) Abortus Inkomplet adalah janin kemungkinan sudah keluar bersamasama dengan plasenta pada abortus yang terjadi sebelum minggu ke-10, tetapi sesudah usia kehamilan 10 minggu, pengeluaran janin dan plasenta akan terpisah. Bila plasenta seluruhnya / sebagian tetap tinggal dalam uterus maka bisa menimbulkan perdarahan. (Obstetri Williams, Edisi 18, hal 581-582)

Abortus Inkomplit adalah perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kondisi servikalis. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, hal : 148) Abortus Inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal di dalam uterus. (Ilmu Kebidanan, hal : 307)

II.

ETIOLOGI 1. Faktor Pertumbuhan Hasil Konsepsi a. Faktor Kromosom Gangguan terjadi sejak semula pertemuan kromosom, termasuk

kromosom seks. b. Faktor lingkungan endometrium Endometrium yang belum siap untuk menerima implantasi hasil konsepsi. Gizi ibu kurang karena anemia / terlalu pendek jarak kehamilan. c. Pengaruh Luar Infeksi endometrium, endometrium tidak siap menerima hasil konsepsi. Hasil konsepsi terpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan pertumbuhan hasil konsepsi terganggu. 2. Kelainan Plasenta a. Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga plasenta tidak dapat berfungsi.

b.

Gangguan pembuluh darah plasenta, diantaranya pada diabetes melitus.

c.

Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah plasenta sehingga menimbulkan keguguran.

3. Penyakit Ibu a. Penyakit infeksi seperti pneumania, tipus abdominalis, malaria, sifilis. b. Anemia ibu melalu gangguan nutrisi pada perdarahan O2 menuju sirkulasi retroplasenta. c. Penyakit menahun ibu, seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati, penyakit diabetes melitus. 4. Kelainan yang terdapat dalam rahim misalnya mima uteri, retrofleksi uteri, serviks inkomplet 5. Kelainan Ovum 6. Kelainan Genetalia Ibu a. Anomali kongenital (hipoplasia uteri, uterus hikornis). b. Kelainan letak dari uterus seperti retrofleksi uteri fisata. c. Tidak sempurnanya persiapan uterus dalam menanti nidasi dari ovum yang sudah dibuahi seperti kurangnya progresteron / estrogen, endometritis, mioma submukosa. d. Uterus teregang terlalu cepat (kehamilan ganda, mola) e. Distensi uterus, misalnya karena terdorong oleh tumor pelvis.

7. Antagonis Rhesus

Pada antagonis rhesus, darah ibu yang melalui plasenta merusak darah fetus, sehingga terjadi anemia pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus. 8. Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi misal : sangat terkejut, obat-obat uterotonika, laparatomi. 9. Penyakit Bapak Misal : umur lanjut, penyakit kronis seperti TBC, anemi, malnutrisi, keracunan, sifilis.

III.

PATOFISIOLOGI Pada permulaan, terjadi perdarahan dalam desidua basalis, diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya. Kemudian sebagian / seluruh hasil konsepsi terlepas. Karena dianggap benda asing, maka uterus

berkontraksi untuk mengeluarkannya. Pada kehamilan di bawah 8 minggu, hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya, karena vili karealis belum menembus desidua terlalu dalam sedangkan pada kehamilan 8-14 minggu, telah masuk agak dalam, sehingga sebagian keluar dan sebagian lagi akan tertinggal, karena itu akan banyak terjadi perdarahan.

IV. -

TANDA-TANDA GEJALA ABORTUS INCOMPLET Amenorea, sakit perut dan mulas-mulas Perdarahan yang bisa sedikit / banyak dan biasanya berupa stalsel (darah beku)

Sudah ada keluar fetus / jaringan Pada abortus yang sudah lama terjadi / pada abortus provokatus yang dilakukan

Orang yang tidak ahli sering terjadi infeksi. Pada pemeriksaan dijumpai gambaran

Kanalis servikalis terbuka Dapat diraba jaringan dalam rahim atau dikanalis servikalis. Kanalis servikalis ditutup oleh perdarahan berlangsung terus. Dengan pemeriksaan sande perdarajan bertambah.

V.

PENATALAKSANAAN Bila ada tanda-tanda syok atau keadaan gawat karena kekurangan darah, dapat dipasang infus dan tranfusi darah untuk memulihkan keadaan umum. Keluarkan jaringan secepat mungkin dengan metode digital dan kuretase. Langsung pada umur hamil kurang dari 14 minggu. Dengan induksi pada umur hamil diatas 14 minggu.

Pengobatan Berikan uteretonika Antibiotika untuk menghindari infeksi.

VI.

KOMPLIKASI ABORTUS

1. Perdarahan Dapat terjadi sedikit dalam waktu panjang. Dapat terjadi mendadak banyak, sehingga menimbulkan syok.

2. Infeksi Pada penanganan yang tidak legeartis. Keguguran tidak lengkap

3. Degenerasi ganas

Keguguran dapat menjadi kario karsinoma sekitar 15% sampai 20%. Gejala korio karsinoma adalah terdapat perdarahan berlangsung lama, terjadi pembesaran / perlunakan rahim, terdapat melastase ke vagina / lainnya.

4. Penyulit saat melakukan kuretase Dapat terjadi perforasi dengan gejala : Kuret terasa tembus Penderita kesakitan Penderita syok Dapat terjadi perdarahan dalam perut dan infeksi dalam abdomen

INTERVENSI Dx/Mslh/Kebt Tanggal: jam :

Dx : G.......P....... dengan abortus Incomplete Tujuan : ibu dapat melalui keadaannya dengan baik tanpa ada komplikasi dan tidak terjadi infeksi Kriteria Hasil : - KU ibu baik Kesadaran komposmentis TTV : TD S N Rr Intervensi 1. Pantau TTV R/ :adanya perubahan (tidak sesuai normal) TTV dapat mengindikasikan adanya abnormali - Tidak mengalami syok - Tidak ada jaringan yang tertinggal

: 110/70 - 120/80 mmHg : 36,5-37,5C : 80-100 x/menit :16 24 x/menit

2.

Lakukan pemeriksaan pervaginam tentang pengeluarannya yang meliputi jumlah, bentuk, warna, bau R/ :dengan mengetahui pengeluaran pervaginan dapat diketahui jenis stadium abortus

3. Instruksikan untuk istirahat (baring) R/ : perdarahan dapat berkurang dengan reduksi aktivitas 4. Minta persetujuan klien untuk tindakan kuretase setelah diberi penjelasan R/ : tindakan kuretase untuk mengambil sisa-sisa hasil konsepsi yang masih tertinggal dalam kavum uteri. 5. Kolaborasi dengan dokter untuk. Pemberian obat-obatan Pelaksanaan kuretase R/ : mendapatkan penanganan yang lebih tepat. 6. Lakukan pemeriksaan Hb R/ : Mengetahui pasien mengalami anemis/dan sebagai dasar untuk melakukan intervensi selanjutnya. Masalah : 1. Cemas Tujuan : masalah teratasi dan ibu mengerti tentang penyebab terjadinya kecemasan Kriteria Hasil : ibu lebih tenang dan tidak cemas lagi Intervensi 1. Berikan motivasi dan dukungan serta perhatian dengan melibatkan keluarga

R/ : Dengan dukungan dan motivasi maka ibu akan selalu merasa diperhatikan dan timbul keyakinan kuat untuk sembuh. 2. Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan dan mengalurkan emosi R/ : Pengungkapan perasaan, bisa meringankan beban pikiran, juga membantu pasien dalam menerima kenyataan. 3. Beri penjelasan tentang tindakan-tindakan perawatan apa saja yang akan dilakukan pada ibu, termasuk koretase R/: Dengan informasi yang jelas tentang tindakan perawatan dan manfaatnya, ibu dapat kooperatif dan menerima tindakan perawatan yang dilakukan padanya.

2. Nyeri Tujuan : masalah teratasi dan ibu mengerti penyebab dari nyeri Kriteria Hasil : ibu tidak nyeri lagi dan ibu merasa tenang Intervensi 1. Kaji stress psikologis klien dan respon emosional terhadap kejadian. R/ : Cemas dapat memperberat nyeri 2. Berikan lingkungan tenang dan aktifitas yang menyenangkan. R/: Lingkungan tenang dapat menurunkan tingkat cemas, aktifitas dapat mengalihkan perhatian ibu dari nyeri

Kebutuhan : a. HE tentang personal Hygiene Tujuan : kebutuhan mengenai informasi personal hygiene terpenuhi Kriteria Hasil : KU ibu baik - Kesadaran : composmentis

Ibu tidak terjadi iritasi atau infeksi pada alat genetalianya Ibu merasa lebih nyaman Intervensi

1.

Berikan informasi dan manfaat tentang kebersihan diri terutama genetalia dan manfaatnya. (ganti celana dalam, pembalut) R/ : Kebersihan daerah genetalia sangat penting daerah genetalia eksterna yang kotor dapat menyebabkan infeksi dan dapat menjalar ke atas (genetalia interna)

2. Berikan informasi dan manfaat tentang kebersihan diri (mandi, gosok gigi, ganti pakaian) R/: Tubuh yang bersih (bebas dari kotoran) akan membuat tubuh selalu sehat

b. HE tentang gizi Tujuan : kebutuhan informasi tentang kebutuhan gizi terpenuhi Kriteria Hasil : - KU ibu baik - Ibu tidak anemis

Kesadaran : composmentis - kebutuhan gizi ibu terpenuhi Intervensi

1. Beri penjelasan pada ibu tentang fungsi makanan dan manfaatnya bagi tubuh R/: Makanan sangat diperlukan tubuh untuk energi dalam beraktifitas, menggantikan sel yang rusak. 2. Anjurkan pada ibu untuk memakan segala jenis makanan dan tidak tarak R/: Memilih-milih jenis makanan tertentu / tarak dapat menyebabkan tubuh kekurangan zat gizi /mual nutrisi.

3. Berikan informasi pada ibu tentang bahan-bahan makanan yang bergizi R/: Ibu dapat memanfaatkan bahan-bahan makanan yang tersedia di sekitarnya dan tidak harus mahal.