Anda di halaman 1dari 24

HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG LUKA DIABETIK DENGAN TINDAKAN PENCEGAHAN LUKA PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS KOTA

TAKENGON TAHUN 2011


BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Diabetes melitus (DM) atau penyakit gula merupakan salah satu dari 7 penyakit kronis yang ada didunia yaitu: kanker, jantung, AIDS, diabetes, TB, vector borne,dan hepatitis. Dikatakan penyakit gula karena memang jumlah atau konsentrasi glukosa atau gula didalam darah melebihi keadaan normal.(Soegondo ,2008). Menurut WHO tahun 2003, terdapat lebih dari 200 juta orang dengan diabetes didunia. Angka ini akan bertambah menjadi 333 orang di tahun 2025. Negara berkembang seperti Indonesia merupakan daerah yang paling banyak terkena pada abat ke 21. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita diabetes ke 4 terbanyak didunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Pada tahun 2000 di Indonesia terdapat 8,4 juta penderita diabetes dan diperkirakan akan mengalami peningkatan menjdi 21,3 juta penderita pada tahun 2030 (Soegondo dan Sukardji, 2008) Komplikasi diabetes bisa terjadi pada penderita DM antara lain komplikasi akut seperti kronik hipoglikemi, ketoasidosis untuk dm tipe I, koma hiperosmolar non ketotik untuk dm tipe II dan komplikasi kronik seperti makroangiopati mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darh jantung, pembuluh darah tepi dan pembuluh darah otak. Mikroangiopati mengenai pembuluh darah kecil-retinopati diabetik dan nefropati diabetik. Neoropati diabetik dan penderita rentan infeksi seperti tuberkulosis paru dan infeksi saluran kemih dan bahkan ulkus diabetikum. (Mansjoer,1999) Komplikasi penderita diabetes melitus sebagaimana tercatat dipoliklinik diabetes RSUD Dr. Suetoma Surabaya tahun 2005 adalah beragam, yang tertinggi

yakni menurunya fungsi sexsual 50% termasuk impotensi total yang menetap. Komplikasi saraf, seperti mengecilnya otot-otot kaki (atropi), mata tertutup sebelah, mulut tertarik (30,6%). Ada pula yang mengalami penyempitan pembuluh darah dimata (29,3%) dan menderita katarak (16, 3%), lalu mengidap TBC paru-paru (15%), tekanan darah tinggi atau hipertensi (12,8%) dan penyempitan pembuluh darah jantung atau penyakit jantung koroner (10%),stroke (4,2%), ganggren diabetik (3,5%). Dari penderita rata-rata 50% menyadari mereka menderita diabetes setelah memeriksakan ke dokter, hanya 30 % saja pasien diabetes melitus berobat secara teratur ( Walk, 2006). Pada penderita diabetes mellitus, insulin yang dihasilkan tidak memadai dikarenakan glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel sehingga terkumpul dalam darah, menyebabkan timbulnya gejala diabetes mellitus. Kecenderungan terkena diabetes mellitus tampaknya sering kali karena faktor keturunan. Keadaan-keadaan lain yang mendorong timbulnya penyakit ini adalah kehamilan, kegemukan, tekanan fisik atau emosi. Komplikasi yang muncul yaitu hipoglikemi dan hiperglikemi. Hiperglikemi terjadi karena paparan glukosa yang tinggi dan beredar dalam darah sehingga menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun dan terjadi banyak kerusakan pada banyak organ diantaranya : kulit akan terjadi dermatitis sampai infeksi hingga berakhir pada luka ulkus diabetik (Ivan Hoesada, dkk, 2005). Ulkus diabetik adalah luka yang merah kehitam-hitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh darah sedang atau besar pada bagian tungkai ( Askandar, 2000). Ulkus diabetik merupakan suatu penyakit yang

menakutkan karena merupakan komplikasi lanjut dari keadaan yang dialami oleh seorang penderita diabetes mellitus, mempunyai dampak negatif yang komplek terhadap kelangsungan kualitas hidup individu. Salah satu diantaranya adalah

amputasi apabila luka atau gangren tersebut mengancam jiwa seseorang. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan diabetes mellitus dan ulkus diabetik yaitu : pengaturan makan yang baik, tidak boleh makan gula atau makanan bergula, mengkonsumsi makanan dengan kadar tinggi protein misalnya: daging tanpa lemak, telur, ikan, sayur hijau dan harus menjauhi makanan dengan kandungan tinggi karbohidrat serta melakukan latihan fisik (olah raga secara teratur) Nurhasan (2002). Melihat tendensi kekerapan diabetes secara global yang terutama disebabkan oleh peningkatan kemakmuran suatu populasi, maka dengan demikian dapat dimengerti bila dalam kurun waktu 1 atau 2 dekade yang akan datang kekerapan diabetes melitus di Indonesia akan meningkat dengan dramatis. Diabetes merupakan penyakit yang jangka panjang maka komplikasi diabetes melitus dapat menyerang seluruh anggota tubuh. Tindakan pengendalian diabetes sangat diperlukan khususnya dengan mengusahakan tingkat gulah darah sedekat mungkin normal dan mencegah ulkus yang terjadi pada penderita, sebagai usaha pencegahan yang terbaik terhadap kemungkinan berkembangnya komlikasi dalam jangka panjang (Sustrani, Alam. Hadi Broto,2005). Usaha untuk menjaga agar gula darah tetap mendekati normal dan mencegah terjadinya ulkus, tergantung dari motivasi serta pengetahuan penderita mengenali penyakitnya. Pengetahuan seseorang erat kaitannya dengan prilaku yang akan diambilnya, karena dengan pengetahuan tersebut penderita memiliki alasan dan landasan untuk menentukan suatu pilihan. (Notoadmojo,2010). Menurut Karyoso (1999) bahwa dengan pengetahuan manusia dapat mengembangkan apa yang diketahui dan dapat mengatasi kebutuhan kelangsungan hidup, sehingga akan mempengaruhi seseorang dalam berperilaku. Terbentuk suatu perilaku baru terutama pada orang dewasa dimulai pada domain kognitif dalam arti

subyek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau obyek diluarnya, sehingga menimbulkan pengetahuan baru dan akan terbentuk dalam sikap maupun tindakan. Pentingnya penderita diabetes melitus mengetahui cara mencegah komplikasi yakni pertama guna mencegah munculnya komplikasi diabetes. Penderita diabetes juga harus rajin merawat dan memeriksakan kaki,guna menghindari terjadinya kaki diabetik dan kecacatan yang mungkin akan muncul. Kedua peningkatan pengetahuan penderita mengenai cara mencegah komplikasi juga dapat meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes sehingga penderita dapat menikmati hidup seperti orang normal pada umumnya yang tidak menderita diabetes melitus, serta penderita tidak perlu mengeluarkan uang secara berlebihan untuk pengobatan yang sebenarnya tidak diperlukan(Maulana,2008). Berdasarkan hasil laporan profil puskesmas Kota Takengon yang terletak di sebelah barat Polres Aceh Tengah pada bulan Oktober tahun 2010 didapatkan jumlah Penderita diabetes Melitus di Puskesmas Kota Takengon sebanyak 35 penderita. Sedangkan hasil observasi yang dilakukan peneliti saat berada di puskesmas ditemukan penderita diabetes mellitus cenderung tidak memperdulikan luka yang terjadi pada penderita, dan berdasarkan data puskesmas ada 3 orang yang sudah diamputasi. Peneliti juga melihat luka yang dialami penderita diabetes mellitus kebanyakan terdapat di kaki. Dari data diatas, dapat dikatakan bahwa masalah penyakit diabetes melitus masih masalah kesehatan yang harus diperhatikan dilingkungan masyarakat. Melihat data diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian di wilayah kerja puskesmas kota Takengon dengan judul Hubungan pengetahuan tentang luka diabetik dengan tindakan pencegahan luka pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Kota Takengon 2011.

1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas, permasalahan dalam penelitian ini adalah : adakah hubungan pengetahuan tentang luka diabetik dengan tindakan pencegahan luka pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Kota Takengon Tahun 2011. 1.3. Tujuan Penelitian Mengetahui hubungan pengetahuan tentang luka diabetik dengan tindakan pencegahan luka pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Kota Takengon

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Bagi penderita Untuk meningkatkan pengetahuan penderita diabetes melitus dalam pencegahan luka diabetik di Puskesmas Kota Takengon. 1.4.2. Bagi Tenaga Kesehatan (Puskesmas) Sebagai masukan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan Pendidikan kesehatan tentang pencegahan luka pada penderita diabetes melitus agar tidak terjadi ulkus dan mengakibatkan ganggren dan pengelolahan diet diabetes melitus, olah raga, penyuluhan agar tidak terjadi komplikasi berlanjut. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep pengetahuan 2.1.1 Defenisi Pengetahuan Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tau dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaanwhat (Notoadmojo,2010) Apabila pengetahuan itu mempunyai sasaran tertentu mempunyai metode atau pendekatan untuk mengkaji objek sehingga memperoleh hasil yang dapat disusun,

sistematis dan diakui secara universal. Maka terbentuklah ilmu atau lebih sering disebut ilmu pengetahuan. 2.1.2 Tingkat pengetahuan Menurut Notoadmodjo tingkat pengetahuan manusia dibagi menjadi 6 tingkatan yaitu: 1. Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. 2. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar. Orang yang lebih paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadapa objek yang dipelajari. 3. Aplikasi (Appication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartiakan aplikasi atau penggunaan hukum-hkum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. 4. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

2.1.3

Faktor-Faktor Mempengaruhi Pengetahuan Menurut Notoatmojo (2007) ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu :

1. Pendidikan. Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seeorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Namun perlu ditekankan bahwa seorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh

di pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non formal. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu obyek juga mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif. Kedua aspek inilah yang akhirnya akan menentukan sikap seseorang terhadap obyek tertentu. Semakin banyak aspek positif dari obyek yang diketahui, akan menumbuhkan sikap makin positif terhadap obyek tersebut.

2. Mass media / informasi. Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga

menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan kepercayan orang. Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut. 3. Sosial budaya dan ekonomi. Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang. 4. Lingkungan.

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu. 5. Pengalaman. Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan pengetahuan dan keterampilan professional serta pengalaman belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah nyata dalam bidang kerjanya. 6. Usia. Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca. Kemampuan intelektual, pemecahan masalah, dan kemampuan verbal dilaporkan hampir tidak ada penurunan pada usia ini. Ada dua sikap tradisional mengenai jalannya perkembangan selama hidup : Semakin tua semakin bijaksana, semakin banyak informasi yang dijumpai dan semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga menambah pengetahuannya.Tidak dapat mengajarkan

kepandaian baru kepada orang yang sudah tua karena mengalami kemunduran baik fisik maupun mental. Dapat diperkirakan bahwa IQ akan menurun sejalan dengan bertambahnya usia, khususnya pada beberapa kemampuan yang lain seperti misalnya kosa kata dan pengetahuan umum. Beberapa teori berpendapat ternyata IQ seseorang akan menurun cukup cepat sejalan dengan bertambahnya usia. 2.2 Luka Diabetic 2.2.1 Pengertian luka Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan, dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang. Luka diabetik adalah luka yang terjadi pada pasien dengan diabetik yang melibatkan gangguan pada saraf periferal dan autonomik(Suriadi ,2004 ) 2.2.2 Etiologi 1. Diabetik neuropati (kerusakan saraf) Komponensaraf yang terlibat adalah saraf sensori dan autonomik dan sistem pergerakan. Kerusakan pada saraf sensori akan menyebabkan klien akan kehilangan sensasi nyeri dapat sebagian atau keseluruhan pada kaki yang terlibat. 2. Peripheral vascular diseases Pada peripheral vascular diseases ini dapat terjadi karena arteriosisklerosid dan aterosklerosis. Pada arteriosklerosis adalah menurunnya elastisitas dinding arteri. Pada aterosklerosis adanya akumulasi laques pada dinding arteri dapat berupa kolestrol, lemak, sel-sel otot halus, monosit, pagosit dan kalsium. 2.2.3 Pathofisiologi Skema 2.1 Diabetes Melitus Penyakit pembuluh Neuropati otonom Neuropati perifer

Darah tepi (PVD) Keringat Sumbatan Aliran Oksigen,nutrisi Antibiotika Kulit kering Pecah Luka sulit Sembuh Aliran darah Resorpsi tulang kerusakan sendi kerusakan kaki tumpuan berat baru Infeksi Sindrom jari biru Ganggren Ganggren mayor Amputasi Ulkus Indra Raba Kehilangan rasa sakit trauma kehilangan bantalan lemak gerak Atropi

Sumber : Boulton AJ.(2002) dengan modifikasi.

Penyakit neuropati dan vaskular adalah faktor utama yang mengkontrubusi terjadinya luka. Masalah luka yang terjadi pada pasien dengan diabetik terkait dengan adanya pengaruh pada saraf yang terdapat pada kaki dan biasanya dikenal sebagai neuropati perifer. Pada pasien dengan diabetik sering kali mengalami gangguan pada sirkulasi. Gangguan sirkulasi ini adalah yang berhubungan dengan peripheral vascular diseases. Efek sirkulasi inilah yang menyebabkan kerusakan pada saraf. Hal ini terkait dengan diabetik neuropati yang berdampak pada sistem saraf autonomi, yang mengontrol fungsi otot-otot halus, kelenjar dan organ viseral. Dengan adanya gangguan pada saraf autonomi pengaruhnya adalah terjadi perubahan tonus otot yang menyebabkan abnormalnya aliran darah.

Dengan demikian kebutuhan akan nutrisi dan oksigen maupun pemberian antibiotik tidak mencukupi atau tidakdapat mencapai jaringan perifer, dan atau kebutuhan metobolisme pada lokasi tersebut. Efek pada autonomi neuropati ini kan menimbulkan kulit menjadi kering, anhidrosis; yang memudahkan kulit menjadi rusak dan luka yang sukar sembuh, dan dapat menimbulkan infeksi dan mengkontibusi untuk terjadinya ganggren. Dampak lain adalah karena adanya neuropati perifer yang mempengaruhi pada saraf sensori dan sistem motor yang menyebabkan hilang sensasi rasa nyeri, tekanan dan perubahan tempratur. 2.2.4 Manifestasi klinik 1. 2. Umumnya pada daerah plantar kaki Kelainan bentuk pada kaki; deformitas kaki

3. Berjalan yang kurang seimbang 4. Adanya fisura dan kering pada kulit 5. Pembentukan kalus pada area yang tertekan 6. Tekanan nadi pada area kaki kemungkinan normal 7. ABI (Ankel branchial index) normal 8. Luka biasanya dalam dan berlubang 9. Sekeliling kulit; dapat terjadi selulitis. 10. Hilang atau berkurangnya sensasi nyeri 11. 12. 13. 14. Xerosis (keringnya kulit kronik) Hyperkeratosis pada sekeliling luka dan anhidrosis Eksudat yang tidak begitu banyak Biasanya luka tampak merah

2.2.5 Tindakan yang dapat dilakukan penderita diabetes

Menurut Soegondo dan Sukardji (2008) Dalam kehidupan sehari hari terdapat banyak makanan yang dapat meningkatkan glukosa darah. Seberapa banyak makanan dapat meningkatkan glukosa darah sangat tergantung pada macam makanan, cara memasaknya, jumlah yang dimakan, kapan dimakan dan bersama makan apa makan tersebut dimakan. Untuk dapat mengetahui bagaimana makanan yang dimakan mempengaruhi konsentrasi glukosa darah dapat dilakukan dengan cara memeriksa glukosa darah setelah makan. Latihan atau kegiatan jasmani akan menurunkan konsentrasi glukosa darah dengan jalan menggunakan sebagian glukosa dalam darah yang dibakar sebagai energi. Demikian pula dapat membantu otot menggunakan insulin dengan baik, oleh karena glukosa akandiambil lebih banyak dalam darah. Dengan melakukan latihan seperti jalan kaki 30 menit setiap hari, berat badan akan turun. Penurunan berat badan hanya sebanyak 10 % untuk sebagian orang akan membantu mengembalikan glukosanya menjadi normal. Apabila dengan makan sehatdan latihan jasmani tidak menghasilkan penurunan glukosa darah seperti yang diinginkan, mungkin diperlukan obat untuk mengurangi konsentrasi glukosa tersebut. Obat anti diabetes adalah obat yang dapat menurunkan konsentrasi glukosa darah. Pada keadaan tertentu apabila makan sehat, kegiatan jasmani dan obat diabetes masih tidak dapat menurunkan glukosa darah mungkin akan diperlukan suntikan insulin dapat diberikan baik tanpa tablet anti diabetes atau dengan tables secara bersama-sama. Untuk mengetahui apakah penanganan diabetes akan dapat berhasil dengan baik, dapat dilakukan 2 hal yaitu : 1. Memantau glukosa darah secara mandiri.

2. Melakukan pemeriksaan secara rutin. 2.2.6 Deteksi Dini Dan Pencegahan Komplikasi Kaki Diabetik Menurut Em Yunir ( 2007) Bagi penyandang diabetes melitus, masalah kaki merupakan salah satu komplikasi yangpaling ditakuti,karena dapat menyebabkan ganggren dan amputasi kaki umumnya didahului adanya ulkus (tukak,luka). Masalah kaki diabetik menjadi lebih menonjol dampak ekonomis yang sangat besar, baik terhadap pasien, keluarga maupun pemerintah. Pasien dengan kaki diabetik sering kali membutuhkan perawatan yang lama, biaya yang tidak sedikit serta reiko amputasi yang cukup besar.Pengenalan terhadap faktor faktor resiko dan pengenalan kelainan dini pada kaki diabetik akan sangt bermanfaat terhadap usaha pencegahan atau menurunkan kejadian kaki diabetik. 2.2.6.1 Identifikasi Faktor Risiko Mengenal faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan timbulnya ulkus pada kaki diabetik, merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk upaya pencegahan. Salah satu faktor risiko yang sangat berperan adalah lama menyandang diabetes melitus, yang juga berperan atas timbulnya berbagai komplikasi kronis seperti : mata, jantung, ginjal, saluran pencernaan, organ genital dan lain-lain. 2.2.6.2 Faktor-Faktor Risiko Ulkus Dan Amputasi Kaki Diabetik : 1. Gangguan saraf 2. Kelainan bentuk kaki 3. Peningkatan tekanan/beban pada kaki 4. Kelainan tulang-tulang kaki 5. Gangguan pembuluh darah 6. Riwayat luka pada kaki 7. Kelainan pertumbuhan kuku

8. Tingkat pendidikan dan lingkungan sosial 9. Pemakaian sepatu yang tidak sesuai. Jika telah terjadi komplikasi saraf, maka pengobatan yang dilakukan adalah mengontrol kadar GD semaksimal mungkin untuk memperlambat perburukan. 2.2.6.3 Gejala Saraf Yang Sering Dikeluhkan adalah : 1. Rasa nyari pada kaki seperti rasa terbakar 2. Tidak berasa 3. Rasa tebal pada kaki 4. Perasan panas atau dingin 5. Penurunan ambang rasa saki-mati rasa, terhadap rasa suhu, rasa gentar. 6. Produksi keringat yang menurun, kulit yang kering dan pecah-pecah. 7. Kaki terasa lebih hangat. 2.2.6.4 Gangguan Pembuluh Darah Penyempitan pembuluh darah sering dijumpai pada penyandang diabetes melitus. Hal ini disebabkan proses pengerasan pada dinding pembuluh darah, penyempitan lumen pembuluh darah ataupun sumbatan pembuluh darah, yang semuanya akan menimbulkan gangguan aliran darah. Selain tingginya kadar GD, tekanan darah tinggi, kolestrol tinggi dan merokok merupakan faktor-faktor risiko lain yang dapat menyebabkan timbulnya penyumbatan pembuluh darah. Oleh karena itu, selain mengontrol kadar GD seoptimal mungkin, pengendalian tekanan darah, kadar kolesterol dan menghentikan rokok merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh penyandang diabetes melitus. Gejala-gejala gangguan aliran darah yang sering dijumpai antara lain: nyeri saat beristirahat, terutama pada malam hari, ujung-ujung jari yang menghitam, luka yang tidak sembuh-sembuh. Sedangkan tanda-tanda yang terlihat adalah :

1. Kaki yang pucat saat diangkat keatas. 2. Luka pada kaki atau jari-jari. 3. Kulit kering dan bersisik. 4. Otot kaki yang mengecil. 5. Bulu-bulu rambut yang menipis 2.2.6.5 Perubahan Bentuk Kaki Kelainan mekanik sangat berperan terhadap terjadinya ulkus. Perlukaan akan mudah terjadi pada kaki yang sudah mengalami kelainan bentuk, seperti tulang menonjol, jari yang bengkok, mata ikan, tekanan atau beban yang tertumpu pada kaki diseratai oleh adanya gesekan yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup akan menyebabkan kerusakan jaringan. Terdapat dua faktor yang mempengaruhi timbulnya pada kaki diabetik, yaitu gaya gesekan dan gaya tekanan. Gaya gesekan timbul akibat sentuhan dua permukaan benda, dalam hal ini antara permukaan kulit kaki dengan permukaan sepatu saat berjalan, sedangkan gaya gaya tekanan akibat berat badan. Semakin besar brat badan semakin besar tekanan yang ditimbulkan. Jika beban ini terjadi pada bagian tertentu dari kaki yang menonjol , seperti kalus atau tulang jari kaki atau bentuk kaki yang miring, maka akan terjadi perlukaan atau robeknya kulit kaki. Bila tidak dikelola dengan baik akan mengalami infeksi dan meluas. Perubahan struktur dan bentuk kaki terjadi akibat otot-otot kecil pada kaki dan diantara jari-jari kaki menjadi mengecil dan melemah, akibat kerusakan sistem saraf perifer. Beberapa kelainan yang sering dijumpai antara lain : 1. Jari bengkok. 2. Penonjolan tulang metatarsal kearah plantar.

3. Gerak sendi menjadi kaku. 4. Kulit mudah luka akibat gesekan dengan alas kaki. 5. Sendi menjadi kurang stabil Tekanan dan gesekan yang dialami terus menerus oleh kaki suatu saat akan mengalami kerusakan jaringan yang pada awalnya berupa lesi pra-ulkus; seperti perdarahan didalam kalus, kulit yang melepuh, lecet dan lain-lain. Jika hal ini terus berlangsung, akibat tidak disadari oleh pasien, maka ulkus menjadi lebih dalam dan meluas. Jika kemudian mengalami infeksi ulkus ini dapat berkembang sampai akhirnya menjadi ganggren yang selanjutnya perlu diamputasi. 2.2.7 Program Pencegahan Berdasarkan penelitian, upaya pencegahan kaki diabetik oleh penyandang diabetes melitus dapat menurunkan risiko terjadinya luka dan amputasi pada kaki sebesar 44-85% kasus diabetes melitus. Beberapa upaya yang sangat disarankan ialah : 1. Pemeriksaan kaki secara berkala 2. Identifikasi faktor-faktor risiko 3. Edukasi pada pasien, keluarga dan petugas kesehatan 4. Gunakan alas kaki yang sesuai. 5. Atasi kelainan kaki yang ada sebelum timbul luka 6. Penanganan luka segera. a. Edukasi Edukasi yang dilakukan secara teratur dan terprogram sangat berperan pada upaya pencegahan kaki diabetik. Penyuluhan tidak hanya ditujukan untuk pasien saja, tetapi juga harus dilakukan terhadap keluarga dan petugas kesehatan yang berhubungan langsung dengan pasien.

Materi edukasi yang harus disampaikan kepada penyandang diabetes melitus dan keluarga antara lain : 1. Lakukan pemeriksaan kaki setiap hari. Jika pasien tidak dapat melakukannya, harus ada seseorang yang melakukannya. 2. 3. Cuci kaki setiap hari secara teratur dan langsung dikeringkan, sampai sela-sela jari. Selalu gunakan alas kaki saat berjalan, baik saat didalam maupun diluar rumah, gunakan kaus kaki yang menyerap keringat jika memakai sepatu. 4. Jika menggunakan air hangat untuk mandi atau mencuci kaki, tempratur air tidak boleh dari 37oC, gunakan termometer untuk mengukur temperatur air. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Jangan gunakan bahan-bahan kimia untuk menghilangkan kalus. Periksa bagian dalm sepatu setiap akan dipakai. Jika ada gangguan pada penglihatan, sebaiknya jangan nmemotong kuku sendiri. Gunakan pelembab atau krim untuk kulit kaki yang kering kecuali pada sela jari. Hindari menggunakan krim yang mengandung alkohol. Ganti kaos kaki setiap hari,guanakan kaos kaki dengan lipatan menghadap keluar atau pilih kaos kaki yang tanpa lipatan. b. Memilih alas kaki Penggunaan alas kaki yang tidak cocok atau tidak sesuai dengan bentuk kaki, merupakan salah satu faktor penting sebagai penyebab timbulnya ulkus diabetik. Penyandang diabetes melitus yang belum mengalami neuropati, gangguan vaskular ataupun kelainan biomekanik pada, kaki, dapat memilih sepatu sesuai dengan selera, dengan memperhatikan beberapa pedoman. Beberapa pedoman dimaksud ialah : 1. Sepatu tidak boleh terlalu sempit atau terlalu longgar. 2. Pilih sepatu yang lebih panjang sekitar 1-2 cm dari panjang telapak kaki.

3.

Lebar sepatu harus sama dengan lebar kaki yang diukur dari sendi matatarsalphalangeal.

4.

Mencoba sepatu baru sebaiknya pada posisi berdiri dan dilakuakan pada sore hari; cobalah sepatu pada kedua kaki.

5. Jangan memilih bentuk sepatu yang runcing pada bagian depan. 6. Untuk wanita hindari pemakaian sepatu dengan hak tinggi. 7. Jika sudah terdapat tanda-tanda kelaianan pada kaki, seperti terdapatnya penonjolan tulang sebaiknya pasien disarankan untuk konsultasi pada seorang ahli pembuat sepatu pada unit rehabilitas medik rumah sakit terdekat. 2.3 Kerangka Konsep Berdasarkan hasil study kepustakaan, maka kerangka konsep penelitian mengenai hubungan pengetahuan tentang luka dengan pencegahan luka pada penderita Diabetes Mellitus di Wilayah Puskesmas Kota Takengon 2010. Variabel Independen Pengetahuan Tentang Luka Diabetik Variabel Dependen

Tindakan Pencegahan Luka DM

2.4

Hipotesa Penelitian

Ha : ada hubungan antara pengetahuan tentang luka diabetik dengan tindakan pencegahan luka pada penderita diabetes mellitus.

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis penelitian. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian analitik dengan rancangan penelitian cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan pengetahuan tentang luka diabetik dengan tindakan pencegahan luka pada penderia Diabetes Melitus di Puskesmas Kota Tangkengon Tahun 2011. 3.2 Lokasi dan waktu penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Puskesmas Kota Takengon. 3.2.2 Waktu penelitian Penelitian dilakukan mulai bulan 18 April 18 Mei 2011. 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Populasi adalah semua penderita diabetes melitus yang belum mengalami komplikasi ganggren yang datang berobat di Puskesmas Kota Takengon, sebanyak 35 orang. 3.3.2 Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah penderita Diabetes Melitus yang belum mengalami komplikasi ganggren dimana pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Accidental sampling yaitu dengan mengambil responden yang kebetulan datang berobat di Puskesmas Kota Takengon yang berjumlah 25 orang. 3.4 Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang telah disusun oleh peneliti dengan acuan kepustakaan yang terdiri dari beberapa pertanyaan sedangkan data sekunder diperoleh dari hasil pemeriksaan kadar gula darah sewaktu yang terakhir diPuskesmas Kota Takengon. 3.5 Definisi Operasinal Variabel No 1. Defenisi Alat Operasional Ukur Pengetahuan Hal yang perlu dipahami olehKuesioner Variabel Tentang diabetik lukapenderita diabetes melitus tentang luka diabetes meliputi: Pengertian luka, Faktor-faktor resiko ulkus 2. Tindakan Pencegahan Luka dan program pencegahan. Upaya-upaya yang dilakukan olehKuesioner penderita diabetes melitus untuk menghindari risiko terjadinya luka. Ordinal Kurang Baik Buruk Skala Hasil Ukur Ukur Ordinal Baik Cukup

3.6 Aspek Pengukuran 3.6.1 Pengetahuan Tentang Luka Untuk mengukur pengetahuan penderita diabetes melitus tentang luka yang mencakup pengertian luka diabetes melitus, deteksi dini dan pencegahan komplikasi kaki diabetik dengan menggunakan 15 pertanyaan dengan alternatif jawaban benar diberi nilai 2 dan jawaban salah diberi nilai 1 , maka skor jawaban tertinggi adalah 30 dan skor jawaban terendah adalah 15. 1. Untuk kategori pengetahuan tentang luka diabetes melitus digunakan dengan rumus Sudjana (2002) : P = Rentang BK Ket : P = Panjang kelas

Rentang BK P = 30-15 3 P = 15 3 P =5

= Skor tertinggi dikurang skor terendah = Banyak Kelas

Pengetahuan Penderita DM tentang luka Diabetes Mellitus dikategorikan dengan : Baik Cukup Kurang : 26 - 30 : 21 - 25 : 15 20

3.6.2 Pencegahan Luka Pada Penderita Diabetes Melitus. Untuk tindakan pencegahan yang dilakukan penderita diabetes melitus, peneliti membuat 11 pertanyaan. Bila penderita diabetes melitus selalu melakukan tindakan pencegahan DM diberi nilai 3, kadang-kadan nilai 2 dan tidak pernah nilai 1 sehingga total nilai tertinggi dari seluruh jawaban 33 sedangkan nilai terendah 10 maka dapat dikategorikan sebagai berikut : Panjang Kelas (P) = Rentang Banyak kelas Ket : P Rentang BK = Panjang kelas = Skor tertinggi dikurang skor terendah = Banyak Kelas

= 33-11 2

= 22 2

= 11

Upaya Pencegaha luka Diabetes Mellitus dikategorikan dengan : Baik Buruk : 23-33 : 11-22

3.7 Tehnik Analisa Data Analisa data dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (1) Analisa Univariat Untuk mengukur pengetahuan tentang luka diabetes melitus dengan tindakan pencegahan luka pada penderita Diabetes mellitus dengan menggunakan analisa distribusi frekuensi. (2) Analisa Bivariat Analisa bivariat diperlukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang luka diabetes melitus dengan tindakan pencegahan luka pada penderita diabetes melitus dengan menggunakan uji chi square dengan Alpa 0,05 dengan tingkat kepercayaan 95 % selanjutnya akan disajikan dalam tabel frekwensi dan dalam bentuk laporan.

DAFTAR PUSTAKA
Alimul, H.A, (2003). Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika. Boulton AJ. The Diabetik Foot. Blackweel Publising, (2002). Diperoleh dari : http://docs.google.com/viewer? a=v&q=cache:JL7OD2YyE0cJ:eprints.undip.ac.id/18866/1/Rini_Tri_Hastuti.pdf. (Diakses pada 6 Desember 2010)

Dep. Kes. RI. Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan yang serius. http://www.depkes.go.id/index.php.( Diakses pada 6 Desember 2010). Maulana Mirza, (2008). Mengenal Diabetes Melitus. Jogjakarta : Katahati .Notoatmodjo, S, (2007). Konsep Prilaku dan Prilaku kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Notoatmodjo, S, (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Soegondo Sidartawan dan Sukardji kartini, (2008). Diabetes Melitus Kencing Manis Sakit Gula. Jakarta: FKUI. Sudjana F, (1992). Metode Statistika, Tarsito. Bandung. Suryadi, (2004). Perawatan Luka Edisi I. Jakarta : Sagung Seto. Sustrani, Hadibroto Alam, (2005). Diabetes. Jakarta : Gramedia Pustaka. Walk, Ahni Dr, (2006). Global Diabetes. Jakarta : PBPDI. Yunir Em, (2007), Hidup Sehat Dengan Diabetes. Jakarta : FKUI.