Anda di halaman 1dari 16

HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK TINGGI TERHADAP PENURUNAN KADAR HEMOGLOBIN SAAT MENSTRUASI DAN KEJADIAN DYSMENORRHEA PADA WANITA

PELATIH SENAM AEROBIK Lituhayu Berlian Putri1, Zulkhah Noor2 Jurusan Kedokteran Umum Program Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Intisari Kesadaran masyarakat akan hidup sehat sudah semakin tinggi. Olahraga menjadi tren tersendiri di kalangan masyarakat kita. Masyarakat telah menyadari efek positif yang dihasilkan dari olahraga yang teratur. Olahraga untuk kesehatan tersebut memerlukan takaran yang pas, sebab telah dipahami bahwa tidak setiap olahraga akan memberikan efek yang positif. Olahraga senam aerobik adalah jenis olahraga rekreasi, dan bukan olahraga kompetisi atau prestasi, maka frekuensi yang terbaik adalah dilakukan paling banyak 5 kali seminggu dan tidak 7 kali seminggu. Tubuh membutuhkan pemulihan setelah berolahraga, sehingga dengan melakukan olahraga secara berselang hari maka akan cukup memberi kesempatan pada tubuh untuk memulihkan diri. Olahraga dengan intensitas tinggi dikhawatirkan berpengaruh terhadap siklus menstruasi dan kesehatan reproduksinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan penurunan kadar hemoglobin saat menstruasi, kejadian nyeri dysmenorrhea serta keteraturan siklus menstruasi pada wanita pelatih senam intensitas rendah dan tinggi. Subyek penelitian ini adalah 40 wanita pelatih senam aerobik yang memenuhi kriteria subyek. Subyek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan frekuensi melatih senam per minggu yaitu intensitas rendah (aktifitas melatih kurang atau sama dengan 7 kali per minggu) dan intensitas tinggi (aktifitas melatih lebih dari 7 kali per minggu). Penelitian ini menggunakan alat berupa kuisioner dan pengukur hemoglobin Sahli. Setelah didapatkan data masing-masing variabel, kemudian dilakukan uji statistik dengan uji T-test dan Chi Square. Prosentase keteraturan siklus menstruasi pada pelatih intensitas rendah yang teratur sebanyak 85,00% dan pada pelatih intensitas tinggi sebanyak 70,00%. Prosentase kejadian dysmenorhea pada pelatih intensitas rendah sebanyak 35,00% dan pada pelatih intensitas tinggi sebanyak 45,00%. Prosentase penurunan kadar hemoglobin pada pelatih intensitas rendah sebanyak 0,71 0,51 gram/dl dan pada pelatih intensitas tinggi sebanyak 0,79 0,47
gram/dl.

Kesimpulan pada penelitian ini adalah tidak didapatkan perbedaan secara signifikan mengenai keteraturan siklus menstruasi (p = 0,256), frekuensi kejadian dysmenorrhea (p = 0,519) dan penurunan kadar hemoglobin saat menstruasi (p = 0,761) antara pelatih intensitas rendah dan intensitas tinggi. Kata kunci : aerobik, pelatih wanita, nyeri menstruasi, hemoglobin.
1. 2. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dosen Pembimbing Karya Tulis Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Latar Belakang

Kesadaran masyarakat akan hidup sehat sudah semakin tinggi. Olahraga menjadi tren tersendiri di kalangan masyarakat kita. Masyarakat telah menyadari efek positif yang dihasilkan dari olahraga yang teratur. Olahraga untuk kesehatan tersebut memerlukan takaran yang pas, sebab telah dipahami bahwa tidak setiap olahraga akan memberikan efek yang positif. Olahraga senam aerobik adalah jenis olahraga rekreasi, dan bukan olahraga kompetisi atau prestasi, maka frekuensi yang terbaik adalah dilakukan paling banyak 5 kali seminggu dan tidak 7 kali seminggu. Tubuh membutuhkan pemulihan setelah berolahraga, sehingga dengan melakukan olahraga secara berselang hari maka akan cukup memberi kesempatan pada tubuh untuk memulihkan diri. Olahraga dengan intensitas tinggi dikhawatirkan berpengaruh terhadap siklus menstruasi dan kesehatan reproduksinya. Menurut para ahli, permasalahan yang saat ini timbul di antara komunitas atlet dunia, khususnya atlet wanita, adalah munculnya Trias Atlet. Trias atlet adalah kondisi klinis dari atlet yang ditandai dengan munculnya gejala antara lain ketersediaan energi yang rendah (kelemahan dengan atau tanpa gangguan makan), osteoporosis prematur, dan disfungsi menstruasi. Keadaan Trias Atlet ini dapat berkembang menjadi keadaan yang fatal bagi para atlet wanita. (Hobart, et al., 2000). Temuan lapangan yang lain mengenai gangguan fungsi tubuh akibat olahraga yang sering ditemui antara lain gangguan menstruasi yaitu dysmenorrhea dan perubahan kadar hemoglobin pada saat menstruasi. Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa olahraga mempunyai hubungan dengan penurunan gejala dysmenorrhea (Golomb, et al., 1998 cit. Levebvre, et al., 2005). Kadar hemoglobin pada wanita pelatih senam aerobik dapat dibedakan

menjadi dua kelompok yaitu kelompok dengan kadar hemoglobin rendah dan kelompok dengan kadar hemoglobin normal. Penyebab dari kelompok dengan kadar hemoglobin rendah antara lain adalah mengenai intake nutrisi. Ketidakseimbangan intake nutrisi dengan aktifitas dapat menurunkan kadar hemoglobin seseorang. Rendahnya kadar hemoglobin ini dapat disebabkan oleh empat hal yaitu kurangnya asupan Fe dalam diet yang kemudian dapat bermanifestasi sebagai anemia defisiensi besi, meningkatnya kebutuhan tubuh akan Fe dikarenakan aktifitas yang tinggi akan menstimulasi peningkatan produksi sel darah merah yang memerlukan Fe, hilangnya darah dari tubuh yang kemudian akan menyebabkan hilangnya Fe dari dalam tubuh melalui cedera atau menstruasi dan yang terakhir karena terjadinya kekurangan konsumsi protein sebagai bahan dasar dalam pembuatan hemoglobin dalam tubuh. Nutrisi dalam asupan sehari-hari pada seorang instruktur aerobik juga dapat mempengaruhi ketersediaan energi yang dimiliki oleh instruktur tersebut. Apabila aktifitas melatih yang tinggi tidak disertai dengan intake yang sesuai maka akan menghasilkan kekurangan energi yang membuat kelemahan pada instruktur tersebut (Quinn, 2007). Rumusan masalah yang akan diteliti adalah apakah ada hubungan antara frekuensi aktifitas tinggi dari para instruktur aerobik terhadap gangguan menstruasi, berapa banyak wanita pelatih senam aerobik yang mempunyai gangguan menstruasi baik berupa keteraturan siklus, dysmenorrhea, serta perubahan kadar hemoglobin karena menstruasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji perbedaan kejadian dysmenorrhea, perbedaan siklus menstruasi, dan penurunan kadar hemoglobin karena

menstruasi antara wanita pelatih senam aerobik yang mempunyai aktifitas senam yang tinggi dan rendah . Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi wanita dengan aktifitas tinggi, terutama pada pelatih senam aerobik. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menjaga kualitas hidup pelatih senam aerobik dan menghindarkan wanita pelatih senam aerobik dari akibat-akibat yang tidak diinginkan. Ruang lingkup subyek adalah wanita usia subur yang aktif mengajar senam aerobik di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Ruang lingkup lokasi di sanggar senam di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian tentang siklus menstruasi, dysmenorrhea, dan penurunan kadar hemoglobin pada wanita yng berolahraga dan wanita yang tidak berolahraga yang pernah dilakukan oleh peneliti terdahulu telah banyak dilakukan. Namun penelitian tentang siklus menstruasi, dysmenorrhea, dan penurunan kadar hemoglobin pada wanita pelatih senam aerobik sepanjang pengetahuan peneliti belum pernah dilakukan. Alat dan Bahan Penelitian ini adalah penelitian observasional yang bersifat cross sectional study. Populasi adalah instruktur senam aerobik wanita yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sampel dalam penelitian ini adalah wanita pelatih senam aerobik sebanyak 40 orang dalam usia produktif antara 20 40 tahun yang ditentukan secara random dengan mempertimbangkan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah wanita usia subur antara 20 40 tahun, telah menjadi instruktur minimal selama 1 tahun, dan asupan nutrisi baik. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini

adalah sampel yang memakai alat kontrasepsi KB. Hal ini dikarenakan penggunaan alat kontrasepsi tertentu dapat menyebabkan perubahan siklus menstruasi dan perdarahan menstruasi. Sampel penelitian dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan frekuensi melatih senam yang dilakukan selama satu minggu yaitu kelompok aktifitas rendah (pelatih aerobik dengan aktifitas melatih kurang atau sama dengan 7 kali per minggu) dan kelompok aktifitas tinggi (pelatih aerobik dengan aktifitas melatih lebih dari 7 kali per minggu). Penelitian dilaksanakan bila telah diperoleh persetujuan setelah penjelasan atau informed consent sebagai tanda kesanggupan dan kebersediaan dari calon subyek penelitian untuk mengikuti penelitian ini. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu : frekuensi melatih per minggu. Variabel dependen dalam penelitian ini yaitu kejadian dysmenorrhea, keteraturan siklus menstruasi, dan penurunan kadar hemoglobin saat menstruasi. Sedangkan variabel yang dikendalikan antara lain jenis kelamin, usia, kontrasepsi, dan nutrisi. Latihan Aerobik adalah latihan senam aerobik yang dilakukan oleh pelatih senam wanita selama 60 menit dengan gerakan dan tahap tertentu. Frekuensi melatih per minggu adalah menunjukkan jumlah latihan per minggu yang dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intensitas rendah (dengan frekuensi latihan kurang atau sama dengan tujuh kali per minggu) dan intensitas tinggi (dengan frekuensi latihan lebih dari tujuh kali per minggu). Intensitas makan adalah menunjukkan asupan gizi dari subyek yang dinilai dari frekuensi asupan dengan menu 4 sehat. Penurunan Kadar hemoglobin adalah penurunan kadar hemoglobin subyek dalam gram per desiliter (g/dl)

yang diukur berdasarkan selisih pengukuran pada saat sebelum menstruasi dan saat puncak menstruasi. Pengukuran menggunakan metode Sahli. Kejadian dysmenorrhea adalah menunjukkan ada tidaknya nyeri yang bersifat tajam, spasme yang siklik atau menetap, dan biasanya terpusat pada daerah suprapubik. Nyeri dapat tersebar sampai ke bagian punggung kaki dan punggung bagian bawah, muncul beberapa jam setelah menstruasi mulai dan mencapai puncak pada saat aliran darah meningkat selama hari pertama atau kedua menstruasi Siklus menstruasi, yang teratur adalah siklus yang normal dengan ratarata panjang siklus adalah 28 hari. Sedangkan siklus yang tidak teratur adalah dimana siklus menstruasi lebih dari 45 hari atau tidak terjadi menstruasi selama 3 6 bulan atau lebih pada orang yang telah mengalami siklus menstruasi. Pada penelitian ini akan digunakan alat dan bahan yaitu alat tulis, surat Persetujuan untuk dijadikan probandus (informed consent), alat pengukuran Hemoglobin Sahli, kuesioner, kalender kegiatan sebagai catatan data penelitian. Jenis data pada penelitian ini berdasarkan pada sumber perolehannya adalah dari data primer. Data primer yang dikumpulkan meliputi data identitas, frekuensi melatih (rendah dan tinggi), asupan gizi (untuk menilai nutrisi subyek), riwayat kontrasepsi (agar dapat menilai siklus menstruasi dan penurunan kadar hemoglobin), dan riwayat menstruasi (untuk menilai siklus menstruasi dan kejadian dysmenorrhea serta derajat nyeri menstruasi tersebut). Pada penelitian ini data mengenai data identitas, frekuensi melatih, dysmenorrhea, asupan gizi, riwayat kontrasepsi, dan riwayat menstruasi akan diambil dengan teknik komunikasi tak langsung, yaitu dengan membagikan

kuesioner. Tujuan pokok pemberian kuesioner adalah memperoleh hasil relevan dengan tujuan penelitian memperoleh informasi dengan realitas dan validitas setinggi mungkin. Kuesioner dibagikan kepada wanita pelatih senam aerobik di sanggar-sanggar senam. Kadar Hemoglobin akan diukur pada saat sebelum menstruasi dan pada saat puncak menstruasi. Pengukuran kadar Hemoglobin menggunakan metode pengukuran hemoglobin Sahli. Validitas cara pengukuran ditingkatkan dengan penerapan prosedur pengukuran yang cermat, teliti, dan benar. Kadar Hemoglobin diukur dengan benar, menggunakan satu ukuran yang sesuai dengan standar. Alat yang digunakan adalah alat yang masih baru untuk menghindari adanya perubahan warna pada tabung indikator alat Hemoglobin Sahli. Analisa data untuk mengetahui tingkat signifikansi perbedaan rerata penurunan kadar hemoglobin antara kelompok wanita dengan aktifitas tinggi dan aktifitas rendah pada penelitian ini adalah Uji T. Analisa data untuk mengetahui tingkat signifikansi perbedaan kejadian dysmenorrhea dan siklus menstruasi antara kelompok wanita dengan aktifitas tinggi dan aktifitas rendah pada penelitian ini adalah uji Chi Square. Keduanya menggunakan Paket Program SPSS dengan tingkat signifikansi 5% (p<0,05). Hasil dan Pembahasan Responden pada penelitian ini adalah wanita pelatih senam aerobik yang melatih pada Sanggar Senam Kartika Dewi, Dewi, Sartika di wilayah Kota Yogyakarta, Segar, Nabila, Janu Putra, Bugar, Cahya Kumala di wilayah Sleman. Seluruhnya berada di cakupan Daerah

Istimewa Yogyakarta dan telah memenuhi kriteria subyek. Penelitian ini dilakukan bulan Juli 2007- September 2007 dan November 2008 - Januari 2009. Pengambilan data dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada 48 responden yang melatih aerobik di Sanggar-sanggar senam di Daerah Istimewa Yogyakarta dan melakukan pengukuran Hemoglobin menggunakan metode pengukuran Hemoglobin Sahli. Kuesioner keseluruhan berisi 14 pertanyaan, berupa pertanyaan untuk mengetahui frekuensi melatih (sebanyak 2 pertanyaan), asupan gizi (sebanyak 2 pertanyaan), riwayat alat kontrasepsi (sebanyak 5 pertanyaan), serta riwayat menstruasi (sebanyak 5 pertanyaan). Data yang diperoleh kemudian diseleksi untuk mendapat data yang sesuai dengan kriteria penelitian dan didapatkan 40 responden yang memenuhi kriteria sebagai subyek penelitian. Hasil kuesioner pada penelitian kali ini menunjukkan usia responden termuda yang diambil adalah 23 tahun dan yang tertua adalah 40 tahun, frekuensi latihan dalam seminggu dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok intensitas rendah (7 kali per minggu) dan

kelompok intensitas tinggi (>7 kali per minggu) dengan durasi setiap latihan selama 1 jam. Lama responden menjadi pelatih senam aerobik pada hasil kuesioner ini rata-rata 6-7 tahun dan seluruh responden memiliki asupan gizi yang baik. Berikut hasil yang diperoleh pada penelitian ini: Dari 40 sample yang didapatkan kemudian diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Intensitas Rendah dengan aktifitas melatih kurang atau sama dengan 7 kali per minggu dan kelompok Intensitas Tinggi dengan aktifitas melatih lebih dari 7 kali per minggu.

Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas Melatih Intensitas Intensitas Rendah Intensitas Tinggi Total Jumlah 20 20 40 Persen 50 % 50 % 100 %

Berikut ini disampaikan distribusi responden berdasarkan usia, dengan kriteria usia responden yang diambil sebagai sample adalah 20-40 tahun. Pada tabel dijelaskan distribusi

lama melatih responden, dengan kriteria lama melatih yang diambil sebagai responden adalah minimal melatih selama 1 tahun. Tabel 2. Distribusi Responden berdasarkan Usia dan Lama Melatih .
Karakteristik Usia 20-30 31-40 Total Lama Melatih 1 5 tahun 6 10 tahun 11 15 tahun Total Intensitas Rendah N % 10 56,00 10 45,00 20 13 3 4 20 57,00 30,00 57,00 100 Intensitas Tinggi N % 8 44,00 12 55,00 20 10 7 3 20 43,00 70,00 43,00 100 Total 18 (45 %) 22 (55 %) 40 (100 %) 23 (58 %) 10 (25 %) 7 (18 %) 40 (100%)

Siklus Menstruasi Responden yang dibedakan menjadi kelompok intensitas rendah dan intensitas tinggi didata mengenai keteraturan siklus, yaitu siklus menstruasi teratur dan tidak teratur. Tabel 3. Frekuensi keteraturan Siklus Menstruasi
Siklus Intensitas

Teratur N 17 14 31 % 85.00 70.00

Intensitas Rendah Intensitas Tinggi Total


p = 0,256

Tidak teratur N % 3 15.00 6 30.00 9

Total 20 (100%) 20 (100%) 40 (100%)

Grafik 1. Frekuensi Siklus Menstruasi Pada Pelatih Senam Intensitas Rendah dan Intensitas Tinggi.

Tabel 3 dan Grafik 1 diatas menunjukkan bahwa wanita pelatih senam aerobik intensitas rendah dengan siklus menstruasi teratur sebanyak 17 responden (85,00%), dan yang tidak teratur sebanyak 3 responden (15,00%). Sedangkan pelatih senam intensitas tinggi dengan siklus menstruasi teratur sebanyak 14 responden (70,00%), dan yang tidak teratur sebanyak 6 responden (30,00%). Uji Chi Square dilakukan untuk menunjukkan ada tidaknya perbedaan rata-rata yang signifikan dinyatakan dengan angka pada Asymp. Sig. (2-sided). Hasil nilai uji Chi Square diperoleh 0,256 > 0,05, dengan tingkat kepercayaan 95%, = 0,05 . Maka tidak didapatkan adanya perbedaan yang signifikan pada keteraturan siklus menstruasi antara wanita pelatih senam aerobik dengan intensitas rendah dan intensitas tinggi. Dysmenorrhea Responden yang dibedakan menjadi kelompok intensitas rendah dan intensitas tinggi didata mengenai nyeri dysmenorrhea pada saat menstruasi. Tabel 4. Frekuensi Derajat Dysmenorrhea
Dysmenorrhea Intensitas

Intensitas Rendah Intensitas Tinggi Total


p = 0,519

Nyeri Dysmenorrhea N % 7 35,00 9 45,00 16

Tidak Nyeri Dysmenorrhea N % 13 65,00 11 55,00 24

Total 20 (100%) 20 (100%) 40 (100%)

Grafik 2. Frekuensi Kejadian Dysmenorrhea Pada Pelatih Senam Intensitas Rendah dan Intensitas Tinggi.

Tabel 4 dan Grafik 2 diatas memperlihatkan bahwa wanita pelatih senam aerobik intensitas rendah yang mengalami nyeri dysmenorrhea sebanyak 7 responden (35,00%), dan yang tidak mengalami nyeri dysmenorrhea sebanyak 13 responden (65,00%). Sedangkan wanita pelatih senam aerobik intensitas tinggi yang mengalami nyeri dysmenorrhea sebanyak 9 responden (45,00%), dan yang tidak mengalami nyeri dysmenorrhea sebanyak 11 responden (55,00%). Uji Chi Square dilakukan untuk menunjukkan ada tidaknya perbedaan rata-rata yang signifikan dinyatakan dengan angka pada Asymp. Sig. (2-sided). Hasil nilai uji Chi Square diperoleh 0,519 > 0,05, dengan tingkat kepercayaan 95%, = 0,05 . Maka tidak didapatkan adanya perbedaan rata-rata yang signifikan pada terjadinya nyeri dysmenorrhea antara wanita pelatih senam aerobik dengan intensitas rendah dan intensitas tinggi. Perubahan Kadar Hemoglobin Perubahan Kadar hemoglobin diukur pada saat sebelum menstruasi dan sesudah menstruasi. Pada penelitian didapatkan rata-rata penurunan kadar Hemoglobin yang lebih besar pada wanita pelatih aerobik dengan intensitas tinggi. Tabel 5. Frekuensi Penurunan Kadar Hemoglobin
Kadar Hemoglobin (g/dl) Sebelum Menstruasi Sesudah Menstruasi 13,36 1,35 12,65 1,46 13,01 1,87 12,22 1,98 Penurunan 0,71 0,51 0,79 0,47

Intensitas Rendah Intensitas Tinggi p = 0,761

Tabel 5 diatas memperlihatkan bahwa wanita pelatih senam aerobik intensitas rendah memiliki kadar rata-rata Hemoglobin sebelum menstruasi sebanyak 13,36 g/dl dan sesudah menstruasi sebanyak 12,65 g/dl, serta mengalami penurunan rata-rata Hemoglobin sebanyak 0,71 g/dl. Sedangkan pada wanita pelatih senam aerobik intensitas tinggi memiliki kadar rata-rata Hemoglobin sebelum menstruasi sebanyak 13,01 g/dl dan sesudah menstruasi sebanyak 12,22 g/dl, serta mengalami penurunan rata-rata Hemoglobin sebanyak 0,79 g/dl. Uji T Test dilakukan untuk menunjukkan ada tidaknya perbedaan rata-rata yang signifikan dinyatakan dengan angka pada Sig. Hasil nilai uji ttest diperoleh 0,761 > 0,05, dengan tingkat kepercayaan 95%, = 0,05 . Maka tidak didapatkan adanya perbedaan rata-rata yang signifikan pada penurunan kadar hemoglobin antara wanita pelatih senam aerobik dengan intensitas rendah dan intensitas tinggi. B. Pembahasan Hasil penelitian tentang keteraturan siklus menstruasi menunjukkan hasil bahwa wanita pelatih senam aerobik intensitas rendah dengan siklus menstruasi teratur sebanyak 17 responden (85,00%), dan yang tidak teratur sebanyak 3 responden (15,00%). Sedangkan pelatih senam intensitas tinggi dengan siklus menstruasi teratur sebanyak 14 responden (70,00%), dan yang tidak teratur sebanyak 6 responden (30,00%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa siklus menstruasi yang terjadi pada wanita pelatih senam aerobik intensitas rendah lebih teratur dibandingkan dengan wanita pelatih senam aerobik intensitas tinggi. Namun demikian berdasarkan uji Chi Square dengan tingkat kepercayaan 95% didapatkan nilai probabilitas tabel (0,256)

dari nilai (0,05) dan p> , maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan siklus menstruasi yang signifikan antara wanita pelatih senam aerobik intensitas tinggi (lebih dari 7 kali per minggu) dengan wanita pelatih senam aerobik dengan intensitas rendah (<7 kali per minggu). Pada wanita pelatih aerobik baik intensitas rendah maupun intensitas tinggi, ketidakteraturan siklus menstruasi tidak muncul dikarenakan suplai nutrisi yang baik sesuai dengan kebutuhan energi saat latihan bahkan ditunjang dengan suplemen, keadaan mental yang baik, berat badan ideal, dan para pelatih memulai beraktifitas tinggi ketika berada pada kelompok umur yang produktif. Atlet-atlet yang melakukan olahraga secara intensif dapat mengalami ketidakteraturan menstruasi (Hall, 1985). Atlet dapat menderita amenorrhea sekunder, hal ini diduga karena adanya kelainan pada hypothalamus dan menghasilkan keadaan hipoestrogen. Penelitian yang menyinggung mengenai masalah amenorrhea pada atlet wanita telah dilakukan. Studi menunjukkan bahwa tekanan mental (stress), turunnya berat badan, anorexia nervosa, kegemukan, pelatihan atletik yang berat, dan umur saat latihan merupakan faktorfaktor yang berkontribusi dalam penyakit amenorrhea ini (Sasiene, 1983). Ketidakteraturan siklus dapat disebabkan karena pada pelatih intensitas tinggi yang terforsir melakukan olahraga maka sekresi GnRHnya oleh hipotalamus akan menurun (Lynch & Waters, 1991). Terjadinya gangguan pada aksis hypothalamus-hipofisis-ovarium akan menyebabkan penekanan sekresi pulsetil GnRH dari hypothalamus. Pada keadaan normal, GnRH disekresikan secara pulsetil oleh hypothalamus setiap 60 90 menit. Karena terjadi penekanan sekresi GnRH maka sekresi LH dan FSH oleh hipofisis menjadi berkurang. Hal tersebut akan

membatasi stimulasi ke ovarium dan produksi estradiol. Karena stimulasi ke ovarium berkurang maka terjadi supresi siklus menstruasi yang menyebabkan fase folikuler memanjang dan hilangnya puncak LH (ovulasi) pada tengah siklus menstruasi. Pada remaja prapubertas yang belum mengalami menarche, keadaan LH yang rendah dapat memicu terlambatnya menarche dan terjadi amenorrhea primer. Terdapat beberapa teori yang mengemukakan mengapa terjadi gangguan pada aksis hypothalamus-hipofisisovarium. Teori yang pertama mengungkapkan bahwa terjadi kekurangan energi pada atlet wanita, dikarenakan energi yang dipakai untuk beraktifitas olahraga lebih besar dari sumber energi yang didapat dari makanan. Keadaan kekurangan energi adalah factor primer yang mempengaruhi pulsetilitas GnRH. Kekurangan energi tersebut akan berpengaruh pada simpanan lemak tubuh. Teori ini disebut Teori Komposisi Tubuh dimana menarche muncul pada wanita apabila lemak tubuhnya meningkat sebanyak 17% dari berat badan, sedangkan gangguan fungsi menstruasi muncul ketika lemak tubuh menurun hingga 22% dari berat badan (Frisch & McArthur, 1974). Namun hipotesis ini hanya berdasarkan korelasi dan bukan berdasarkan fakta eksperimen (Schnider & Wade, 1997). Pada kenyataannya dalam eksperimen ditemukan bahwa komposisi tubuh tidak berbeda secara signifikan pada atlet wanita yang eumenorrhea dan amenorrhea (Loucks & Horvath, 1984). Pada penelitian yang dilakukan oleh Loucks, 2000, menyatakan bahwa pada penelitian yang dilakukan untuk mengetahui penyebab disfungsi menstruasi pada wanita didapatkan bahwa olahraga dengan restriksi kalori akan menyebabkan supresi LH, sedangkan apabila olahraga saja maka tidak menyebabkan supresi LH.

Penelitian terakhir menunjukkan bahwa hormone leptin, suatu protein yang diproduksi oleh gen obesitas (ob) yang diskresikan oleh adipose, dan merupakan regulator independen tingkat metabolism (Zhang et al., 1994), adalah suatu mediator signifikan dalam fungsi reproduksi. Kadar Leptin berfluktuasi sebagai respon dari jumlah simpanan lemak tubuh dan ketersediaan energi. Secara prositif, leptin berkorelasi dengan BMI manusia (Macut et al., 1998) dan leptin akan menunjukkan kadar yang rendah pada orang yang berpuasa (Maffei et al., 1995). Sebagai tambahan, ritme diurnal dari konsentrasi leptin menjadi rendah sebagai respon dari asupan yang rendah energy (Warren, 2000). Beberapa studi menunjukkan bahwa tikus yang tidak memiliki bentuk aktif leptin dalam tubuhnya cenderung menjadi amenorrhea dan infertile (Legradi et al., 1997). Studi lain menunjukkan bahwa leptin diketahui dalam kadar rendah dan kronik pada wanita yang tidak mengalami menstruasi (Kopp et al., 1997). Kadar leptin yang rendah juga ditemukan pada wanita amenorrhea yang mengontrol lemak tubuh dan pola diurnal tidak muncul (Laughlin & Yen , 1997). Lebih-lebih, reseptor leptin telah ditemukan berada di neuron hypothalamus yang terlibat dalam kontrol pulsetilitas GnRH (Cheung et al., 1997). Dengan demikian, leptin adalah factor penting yang terlibat di dalam penyampaian sinyal ketersediaan energi ke aksis hypothalamus-hipofisis-ovarium. Sehingga dapat disimpulkan gangguan menstruasi yang terjadi pada atlet wanita akan muncul apabila terjadi kekurangan asupan berenergi sehingga menyebabkan rendahnya deposit leptin yang dapat menyebabkan terganggunya pulsetilitas GnRH dan pada akhirnya akan menyebabkan gangguan siklus menstruasi.

Kejadian dysmenorrhea pada penelitian menunjukkan bahwa wanita pelatih senam aerobik intensitas rendah yang mengalami nyeri dysmenorrhea sebanyak 7 responden (35,00%), dan yang tidak mengalami nyeri dysmenorrhea sebanyak 13 responden (65,00%). Sedangkan wanita pelatih senam aerobik intensitas tinggi yang mengalami nyeri dysmenorrhea sebanyak 9 responden (45,00%), dan yang tidak mengalami nyeri dysmenorrhea sebanyak 11 responden (55,00%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa pelatih aerobik intensitas rendah yang mengalami dysmenorrhea lebih sedikit dibandingkan dengan pelatih aerobik intensitas tinggi. Namun demikian berdasarkan uji Chi Square dengan tingkat kepercayaan 95% didapatkan nilai probabilitas tabel (0,519) dari nilai (0,05) dan p> , maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kejadian dysmenorrhea yang signifikan antara wanita pelatih senam aerobik intensitas tinggi (lebih dari 7 kali per minggu) dengan wanita pelatih senam aerobik dengan intensitas rendah (<7 kali per minggu). Mekanisme timbulnya nyeri pada dysmenorrhea ditujukan karena meningkatnya aktifitas prostaglandin. Olahraga akan merangsang produksi endorphin yang akan menekan produksi prostaglandin sehingga akan berefek vasodilatasi (Subakir, 1991). Endorphin sendiri yaitu sistem analgesia alami yang diproduksi di dalam tubuh sehingga dapat menekan nyeri dysmenorrhea yang dialami pada masa menstruasi. Hipotesa yang lain mengenai olahraga yaitu olahraga dapat menghambat sintesis prostaglandin E2 dan menstimulasi produksi prostaglandin F2 (alpha) (Slattery,2006). Berdasarkan penelitian yang lain didapatkan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada derajat dysmenorrhea antara atlet wanita bole

volley dan wanita non atlet. Nyeri berat pada atlet 0%, sedang pada non atlet nyeri berat sebesar 3,34%. Namun demikian, dari penelitian tersebut didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara kejadian dysmennorrhea pada kelompok atlet dan non atlet. Kejadian dysmenorrhea pada atlet sebesar 56,66%, sedang pada non atlet sebesar 80,00%. (Kusumowardhani, 2002). Penelitian lain dilakukan oleh Abbaspour, et al., 2005 mengenai efek olahraga pada dysmenorrhea primer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek olahraga pada dysmenorrhea primer yang diteliti di remaja perempuan. Jenis penelitian ini adalah Randomized Clinical Trial. Sample yang digunakan sebanyak 150 orang yang kemudian dibagi menjadi kelompok yang berolahraga dan kelompok yang tidak berolahraga. Seluruh sampel diamati selama empat siklus menstruasi. Selama dua siklus pertama tidak diberi perlakuan, setelah dua siklus kelompok olahraga akan melakukan olahraga, kemudian diamati lagi selama dua siklus mentruasi. Dari penelitian didapatkan hasil bahwa pada kelompok olahraga, derajat dysmenorrhea menurun dari intensitas 8.59 pada awal penelitian, menjadi 4.63 pada siklus menstruasi ketiga dan turun lagi menjadi 2.84 pada siklus menstruasi keempat. Rata-rata durasi nyeri menurun dari 7.15 jam pada awal penelitian menjadi 4.22 jam pada siklus menstruasi ketiga dan turun menjadi 2.23 jam pada pengamatan di siklus keempat. Sehingga dari penelitianpenelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa olahraga dapat menurunkan derajat dysmenorrhea, namun peningkatan intensitas tidak berpengaruh secara signifikan pada kejadian dysmenorrhea. Hasil penelitian mengenai penurunan kadar haemoglobin memperlihatkan bahwa wanita pelatih senam aerobik intensitas rendah memiliki

kadar rata-rata Hemoglobin sebelum menstruasi sebanyak 13,36 g/dl dan sesudah menstruasi sebanyak 12,65 g/dl, serta mengalami penurunan rata-rata Hemoglobin sebanyak 0,71 g/dl. Sedangkan pada wanita pelatih senam aerobik intensitas tinggi memiliki kadar rata-rata Hemoglobin sebelum menstruasi sebanyak 13,01 g/dl dan sesudah menstruasi sebanyak 12,22 g/dl, serta mengalami penurunan rata-rata Hemoglobin sebanyak 0,79 g/dl. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penurunan hemoglobin pada wanita pelatih intensitas rendah lebih tinggi daripada wanita pelatih intensitas tinggi. Namun berdasarkan uji T Test dengan tingkat kepercayaan 95% didapatkan nilai probabilitas tabel (0,761) dari nilai (0,05) dan p> , maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan penurunan kadar hemoglobin yang signifikan antara wanita pelatih senam aerobik intensitas tinggi (lebih dari 7 kali per minggu) dengan wanita pelatih senam aerobik dengan intensitas rendah (<7 kali per minggu). Beberapa hal yang menjadi penyebab hasil yang didapat tidak bermakna antara lain diet wanita pelatih senam aerobik sudah mencukupi sesuai dengan kebutuhan energi pada saat latihan, dan pada masa menstruasi diet wanita pelatih senam aerobik didukung dengan beberapa suplemen penambah darah sehingga dapat meningkatkan kadar besi dalam darah dan menurunkan angka penurunan kadar Hemoglobin. Ketidakseimbangan intake nutrisi dengan aktifitas dapat menurunkan kadar hemoglobin seseorang. Rendahnya kadar hemoglobin pada atlet dapat disebabkan oleh empat hal, yang pertama adalah kurangnya asupan Fe dalam diet yang kemudian dapat bermanifestasi sebagai anemia defisiensi besi. Kedua adalah meningkatnya kebutuhan tubuh akan Fe, hal ini dikarenakan aktifitas yang tinggi akan menstimulasi peningkatan produksi

sel darah merah yang memerlukan Fe. Ketiga adalah hilangnya darah dari tubuh yang kemudian akan menyebabkan hilangnya Fe dari dalam tubuh melalui cedera atau menstruasi. Keempat adalah terjadinya kekurangan konsumsi protein sebagai bahan dasar dalam pembuatan hemoglobin dalam tubuh. Nutrisi dalam asupan sehari-hari pada seorang instruktur aerobik juga dapat mempengaruhi ketersediaan energi yang dimiliki oleh instruktur tersebut. Apabila aktifitas melatih yang tinggi tidak disertai dengan intake yang sesuai maka akan menghasilkan kekurangan energi yang membuat kelemahan pada instruktur tersebut (Quinn, 2007). Defisiensi besi telah menjadi permasalahan umum bagi atlet yang tidak mengimbangi aktifitas tingginya dengan intake nutrisi yang cukup. Sehingga disarankan pada atlet yang beraktifitas tinggi untuk mengatur diet untuk menghindari defisiensi besi selama latihan olahraga (Weaver & Rajaram, 1992). Purdue University melakukan studi pada 3 kelompok mahasiswi yang melakukan olahraga 2 sampai 3 kali per minggu. Kelompok pertama diberikan suplemen besi, kelompok kedua menerima placebo, sedangkan kelompok ketiga menerima suplemen berupa diet daging merah. Setelah penelitian selama 6 bulan didapatkan bahwa kadar haemoglobin pada kelompok yang menerima placebo lebih rendah dibandingkan kelompok yang menerima suplemen besi dan daging merah. Manifestasi anemia yang timbul pada kelompok yang menerima plasebo diketahui akibat keadaan awal dimana kadar haemoglobin sudah rendah. Peneliti menyimpulkan bahwa penurunan kadar haemoglobin karena olahraga dapat disebabkan karena olahraga berat dapat menyebabkan hemolisis karena tekanan fisik dari olahraga tersebut dan pada wanita keadaan itu diperparah dengan

hadirnya menstruasi (Weaver & Rajaram, 1992). Dari penelitian yang dilakukan oleh Sharon et al., 1997, didapatkan bahwa latihan olahraga ketahanan intensitas sedang selama 12 minggu yang dilakukan pada wanita usia 23 sampai 43 tahun yang sebelumnya inaktif dengan diet sehat yang teratur, menunjukkan bahwa olahraga tidak mempengaruhi status besi pada wanita. Penurunan nilai serum Fe, saturasi transferrin, dan haptoglobin tidak berbeda secara signifikan apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Dari penelitian didapatkan penurunan serum ferritin pada kelompok berolahraga yaitu 41,28 14,22 g/L hingga 27,41 9,74 g/L sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan penurunan 47,55 15,87 g/L hingga 31,56 10,57 g/L. Pada analisis dengan p=.59 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok yang berolahraga dan yang tidak berolahraga. Namun penurunan ferritin yang terjadi baik pada kelompok yang berolahraga maupun kelompok kontrol tidak berpengaruh secara signifikan terhadap konsentrasi haemoglobin dan hematokrit, karena penurunan haemoglobin dan hematokrit karena besi biasanya tidak timbul sampai simpanan besi hilang dimana konsentrasi serum ferritin mencapai <12 g/L. Pada cabang olahraga yang berbeda seperti berlari ringan dan bersepeda, tidak didapatkan adanya perbedaan penurunan kadar yang signifikan. 4. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan wanita pelatih senam aerobik intensitas rendah dan wanita pelatih senam aerobik intensitas tinggi

mengenai siklus menstruasi, kejadian dismenorrhea, dan penurunan kadar hemoglobin saat menstruasi pada wanita pelatih seman aerobik dapat disimpulkan bahwa : a. Tidak didapatkan perbedaan keteraturan siklus menstruasi antara pelatih senam intensitas rendah dan tinggi yang signifikan (p = 0,256). b. Tidak didapatkan perbedaan kejadian nyeri dysmenorrhea antara pelatih senam intensitas rendah dan tinggi yang signifikan (p = 0,519). c. Tidak didapatkan perbedaan penurunan kadar hemoglobin antara pelatih senam intensitas rendah dan tinggi yang signifikan (p = 0,761). B. Saran Saran-saran yang dapat disampaikan penulis berkaitan dengan penelitian ini adalah, perlunya diadakan penelitian lebih lanjut yang lebih akurat dengan: a. Menambah jumlah subyek penelitian. b. Melakukan penelitian yang sama pada olahragawan dari cabang olahraga yang lain. c. Menggunakan metode pengukuran kadar hemoglobin yang lebih baik untuk meminimalisir ketidakakuratan hasil pengukuran. Ucapan Terima Kasih Kepada DIKTI Program Penelitian Kajian Wanita dengan pembimbing Dra. Yoni Astuti, M.Kes. dan drh Zulkhah Noor, M.Kes.

DAFTAR PUSTAKA A.D.A.M., Inc. 2004. Menstruation: Severe Cramps (Dysmenorrhea). Diakses 8 April 2008 dari http://adam.about.com/reports/00010 0_7.htm. Abbaspour Z. MSc, Rostami M. MSc, Najjar Sh. MSc. 2005. The Effect of Exercise on Primary Dysmenorrhea. J Res Health Sci, Vol 6, No 1, pp. 26-31. Alonso C, Coe CL. Disruptions of social relationships accentuate the association between emotional distress and menstrual pain in young women. Health Psychol 2001;20(6):4116. Andersch B, Milsom I. An epidemiologic study of young women with dysmenorrhea. Am J Obstet Gynecol 1982;144(6):65560. Antara, I. N. B. 2007. Penugasan Blok Keterampilan Belajar dan Teknologi Informasi: Anemia. Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia. Diakses 1 Mei 2008 dari http://fkuii.org/tikidownload_wiki_a ttachment.php?attId=1039&page=I %20Nyoman%20Budi%20Antara. Cheung CC, Thornton JE, Kuijper JL, Weigle DS, Clifton DK & Steiner RA 1997 Leptin is a metabolic gate for the onset of puberty in the female rat. Endocrinology 138 855858. Clement K, Vaisse C, Lahlou N, Cabrol S, Pelloux V, Cassuto D, Gourmelen M & Dina C 1998 A mutation in the human leptin receptor gene causes obesity and pituitary dysfunction. Nature 392 398401 Coco, Andrew S. Primary dysmenorrhea American Family Physician. Leawood: Aug 1999. Vol. 60, Iss. 2; pg. 489

Cooper, K.H. 1982. The New Aerobics. United States of America: A Bantam Book. DeCherney, A. H. Nathan, L. Goodwin, Murphy. Laufer, N. 2007. Current Diagnosis and Treatment Obstetrics and Gynecology. 10th ed. McGrawHill. Dickerson, Lori M. Mazyck, P.J. Hunter, M.H. Premenstrual Syndrome. American Family Physician; Apr 15, 2003; 67, 8; ProQuest Science Journals pg. 1743 Frisch RE & McArthur JW 1974 Menstrual cycles: fatness as a determinant of minimum weight for height necessary for their maintenance or onset. Science 185 949951. Guyton,A.C., and Hall, J. E. 2000. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC. Harlow SD, Park M. A longitudinal study of risk factors for the occurrence, duration and severity of menstrual cramps in a cohort of college women. Br J Obstet Gynaecol 1996;103:1134-42 [Published erratum in Br J Obstet Gynaecol 1997;104:386]. Hobart, Julie A. and Douglas R. Smucker. 2000. The Female Athlete Triad. The American Academy of Family Physicians. Diakses 10 April 2008 dari http://www.aafp.org/afp/20000601/3 357.html Irawan, M. Anwari. 2007. Nutrisi, Energi & Performa Olahraga Sports Science and Performance Lab. Jamieson DJ, Steege JE. The prevalence of dysmenorrhea, dyspareunia, pelvic pain, and irritable bowel syndrome in primary care practices. [Abstract] Obstet Gynecol 1996;87:55-8.

Junizar, G., Sulianingsih. Widya, D.K. 2001. Pengobatan Dismenore Secara Akupunktur Cermin Dunia Kedokteran. Diakses 9 April 2008 dari http://www.kalbe.co.id/files/cdk/file s/16_PengobatanDismenorescrAkup untur.pdf/16_PengobatanDismenore scrAkupuntur.html Kritz-Silverstein D, Wingard DL, Garland FC. The association of behavior and lifestyle factors with menstrual symptoms. [Abstract] J Womens Health Gend Based Med 1999;8(9):118593. Kusmana, D. 1997. Olahraga Bagi Kesehatan Jantung. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kusumowardhani, W. 2006. Perbedaan Abnormalitas Menstruasi Pada Atlet Wanita Dengan Wanita Non Atlet. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Lefebvre G, Pinsonneault O, Antao V, Black A, Burnett M, Feldman K, Lea R, Robert M. 2005. Primary Dysmenorrhea Consensus Guideline. SOGC Clinical Practice Guideline. Diakses 11 April 2008 dari http://www.sogc.org/guidelines/publ ic/169E-CPG-December2005.pdf Legradi G, Emerson CH, Ahima RS, Flier JS & Lechan RM 1997 Leptin prevents fasting-induced suppression of prothyrotropinreleasing hormone messenger ribonucleic acid in neurons of the hypothalamic paraventricular nucleus. Endocrinology 138 25692576. Loucks AB & Horvath SM 1984 Exerciseinduced stress responses of amenorrheic and eumenorrheic runners. Journal of Clinical

Endocrinology and Metabolism 59 11091120. Lynch, J.M. & Waters, D.U. 1991 The Female Athlete. Clinical Sport Medicine by Grana, W.A. & Kalenak, A., Philadelphia. Macut D, Micic D, Pralong FP, Bischof P & Campana A 1998 Is there a role for leptin in human reproduction? Gynecological Endocrinology 12 321326. Maffei M, Halaas J, Ravussin E, Pratley RE, Lee GH, Zhang Y, Fei H, Kim S, Lallone R & Ranganathan S 1995 Leptin levels in human and rodent: measurement of plasma leptin and ob RNA in obese and weightreduced subjects. Nature Medicine 1 11551161. Metheny W, Smith R. The relationship among exercise, stress and primary dysmenorrhea. [Abstract] J Behav Med 1989;12(6):56986. Muhajir. 2002. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Jilid 3. Jakarta: Erlangga. Okparasta, A. 2008. Tinjauan Pustaka: Dismenore Diakses pada 9 April 2008 dari http://fkunsri.wordpress.com/2008/0 2/06/dismenore-part-1/ Petterson F, Fries H & Nillius SJ 1973 Epidemiology of secondary amenorrhea: incidence and prevalence rates. American Journal of Obstetrics and Gynecology 7 80 86. Quinn, E. 2004. Athletes and Iron Deficiency. Diakses 8 April 2008 dari http://sportsmedicine.about.com/cs/n utrition/a/012604.htm Sahara, S. 2002. Senam Dasar. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Sasiene, G.H. 1983. Secondary Amenorrhea among Female Athletes. Current Understandings.

[Abstract] Journal of Physical Education, Recreation & Dance, v54 n6 p61-63 Jun 1983. Schneider JE & Wade GN 1997 Letter to the editor. American Journal of Physiology 273 (Endocrinology and Metabolism 36) E231E232. Sharon P Bourque; Russell R Pate; J David Branch. 1997. Twelve weeks of endurance exercise training does not affect iron status measures in women. ProQuest Science Journals pg. 1116. Slattery ML. Physical activity and colorectal cancer. In: McTiernan A, editor. Cancer prevention and management through exercise and weight control. Boca Raton (FL): CRC Press, Taylor & Francis Group; 2006. pp. 7590. Suara Pembaruan Minggu, 4 Agustus 2002. Diakses dari http://www.mailarchive.com/dokter@itb.ac.id/msg08 532.html Subakir, S.B. 1991 Masalah Ginekologik pada Atlet Wanita. Majalah Kedokteran Indonesia, Volume: 41, no.6, Juni 1991, FKUI Jakarta. Sukamti, E.R. 2005. Diktat Dasar-dasar Latihan Aerobic Gymnastics. Jogjakarta: Pendidikan Kepelatihan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogayakarta. Thompson, Sharon H. 2007. Characteristics of the Female Athlete Triad in Collegiate CrossCountry Runners. Journal of American College Health, VOL. 56, NO. 2. Warren MP 1980 The effects of exercise on pubertal progression and reproductive function in girls. Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism 51 11501157 Weaver, Connie M. Rajaram, Sujatha. Exercise and Iron Status1. The

Journal of Nutrition; Mar 1992; 122, 3S; ProQuest Science Journals pg. 782. Wilmore, J. H., and D.L. Costill. 1994. Physiology of sport and exercise. Champaign, Illinois: Human Kinetics. Zhang Y, Proenca R, Maffei M, Barone M, Leopold L & Friedman JM 1994 Positional cloning of the mouse obese gene and its human homologue. Nature 372 425432.