Anda di halaman 1dari 29

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pada era informasi seperti sekarang ini, perkembangan teknologi Penginderaan Jauh dan SIG semakin pesat. Perkembangan tersebut ditandai oleh perkembangan sensor (kamera, scanner, hingga hiperspektral).Pengelolaan dan penanganan data, maupun keragaman aplikasinya (Hartono, 2004). Salah satu aplikasi dari penginderaan jauh dalah pada bidang ilmu fotogrametri.Fotogrametri ialah ilmu, seni dan teknologi untuk memperoleh ukuran terpercaya dari foto udara (Kiefer, 1993). Fotogrametri dapat didefinisikan sebagai suatu seni, pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh data dan informasi tentang suatu objek serta keadaan disekitarnya melalui suatu proses pencatatan, pengukuran dan interpretasi bayangan fotografis (hasil pemotretan). Kegiatan fotogrametri berupa pengukuran dan pembuatan peta berdasarkan foto udara. Karena yang diukur berupa obyek-obyek yang tergambar pada foto udara.Perlu pula pengenalan atas obyek-obyek tersebut. Alat pengukuran dan pengenalan obyek, pengukuranlah yang menjadi tujuan utama (Sutanto, 1983). Salah satu bagian dari pekerjaan fotogrametri adalah interpretasi foto udara. Oleh karena itu dengan adanya praktikum tentang interpretasi foto udara dan pembuatan peta tutupan lahan kali ini diharapkan mahasiswa Program Studi Teknik Geomatika mampu melakukan interpretasi foto udara dengan menggunakan prinsip-prinsip interpretasi yang benar serta dilanjutkan dengan pembuatan peta tutupan lahan. Adapun prinsip yang digunakan dalam interpretasi foto terdiri dari 7 (tujuh) kunci interpretasi yang meliputi : bentuk, ukuran, pola, rona, bayangan, tekstur, dan lokasi. Dengan beracuan pada 7 (tujuh) kunci tersebut maka kita dapat mengidentifikasi dengan jelas objek yang sebenarnya. 1.2 Maksud dan Tujuan Praktikum Maksud dan tujuan Praktikum Fotogrametri Modul #2 kali ini, yaitu: 1. Mampu memahami konsep identifikasi foto udara, 2. Mengenal dasar atau materi produk pemotretan dan kualitas foto udara, 3. Membaca foto udara dan mengenal obyek pada posisi tegak serta informasi tepi pada foto, 4. Membuat stereogram.
FOTOGRAMETRI Page

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

BAB II DASAR TEORI


2.1 Persepsi Kedalaman Dalam keadaan sehari-hari kita mengukur kedalaman atau menduga suatu jarak dari tempat kita adalah melalui pandangan normal dari penglihatan kita. Persepsi kedalaman merupakan fungsi dari sudut paralaktik = sudut perpotongan sumbu optik mata kiri dan kanan manakala kedua mata terfokus pada suatu titik/ obyek.

Gambar 2.1 Persepsi Kedalaman dBA = dB dA dimana : dA = f (a) dan dB = f (b). Jarak terdekat persepsi kedalaman stereoskopik untuk rata-rata orang dewasa kira-kira 25 cm, dengan basis sekitar 66 m maka sudut paralaktik maksimum adalah = 2 tan-1 (3.3/25) = 15 Persepsi kedalaman stereoskopik maksimum kira-kira 50 meter. Persepsi kedalaman stereoskopik merupakan fungsi sudut paralaktik (). Metoda persepsi kedalaman atau jarak dapat dibagi dua , yaitu : 1. 2. Secara stereoskopis, atau Secara Monoskopis

Seseorang yang mempunyai penglihatan yang normal, yaitu orang yang dapat melihat dengan kedua belah matanya bersama-sama dikatakan juga mempunyai penglihatan binokuler. Dengan pengamatan jarak atau kedalamannya melalui penglihatan
FOTOGRAMETRI Page

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

binokuler tersebut disebut juga pandangan stereoskopis. Sedangkan pandangan monokuler adalah suatu penglihatan yang menggunakan hanya sebuah mata saja dan cara pendugaan/pengamatan jarak atau kedalamannya disebut secara monoskopis. Seorang yang dapat melihat secara stereoskopis sudah tentu dapat melihat secara monoskopis dengan menutup salah satu matanya. Cara Monoskopis untuk mengamati suatu kedalaman atau jarak hanyalah suatu cara yang kasar saja. Dengan penglihatan stereoskopis kekasaran dalam pengamatan di atas dapat dieliminir. 2.1.1 Pengertian Pandangan 3 Dimensi Bila gambar 3 dimensi dilihat secara stereoskopis menunjukkan bahwa dua gambar digabungkan oleh otak untuk menghasilkan persepsi kedalaman 3 dimensi. Menurut Passer dan Smith (2004), salah satu aspek yang menarik dari persepsi visual adalah kemampuan kita untuk persepsi kedalaman. Retina menerima informasi hanya dalam dua dimensi; panjang dan lebar. Namun, otak mentranslasi isyarat-isyarat tersebut menjadi persepsi tiga dimensi. Persepsi tiga dimensi ini menggunakan monocular depth cues, yang menggunakan hanya satu mata; dan binocular depth cues, yang menggunakan kedua mata. Kesan 3D didapatkan informasi dari kedua mata yg memiliki paralax (beda sudut pandang). Maka membuat foto 3D juga mudah, yaitu dengan meniru cara pandang dari mata manusia. Dengan menggunakan sepasang kamera yg identik, akan mendapatkan 2 gambar yg kelihatan sama, tetapi memiliki informasi sudut padang yg berbeda. Pembuatan foto (pengambilan foto) 3D akan mengikuti cara pandang dari mata, yaitu mengambil 2 gambar yg diambil bersamaan dengan beda paralax. Serangkaian foto udara akan nampak menjadi tampilan tiga dimensi dalam proses pengamatan stereoskopis jika : 1. Foto udara tersebut memiliki tampalan 2. Gambar dari foto udara tersebut memiliki sudut pengambilan yang berbeda dalam satu jalur terbang yang sama. 3. Foto yang diamati hendaklah memiliki skala yang sama. Untuk melihat benda benda 3D, tiap mata harus melihat sebuah gambar yang berbeda. Ini dilakukan didunia nyata dengan mata yang memberi tempat dan ruang yang terpisah, jadi setiap mata memiliki pandangannya sendiri yang berbeda. Kemudian otak menempatkan dua gambar tersebut untuk membentuk gambar 3D yang memiliki ukuran.
FOTOGRAMETRI Page

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Cara kerja kamera adalah sederhana. Setiap lensa dapat dibelokkan secara bebas melalui kabel atau tanpa kawat, jadi ketika monitor mempertunjukkan titik tengah pada gambar untuk lensa mata kanan, dan mata kiri ditutup, dan ketika monitor menunjukkan titik tengah untuk gambar mata kiri dan mata kanan ditutup. Perubahan ini terjadi bolak balik dengan sangat cepat sekitar 60 kali per detik yang jika dilakukan dengan benar maka akan memberikan efek 3D pada layer monitor. 2.1.2 Sudut Paralactic Paralaks sering didefinisikan sebagai "pergerakan yang tampak" dari sebuah obyek terhadap latar belakang yang jauh akibat pergeseran perspektif sebagaimana dapat dilihat pada gambar 2.2. Ketika dilihat dari titik pandang A, obyek tampak berada di depan kotak biru. Ketika titik pandang diubah ke titik pandang B, obyek tampak bergerak ke depan kotak merah. Fenomena ini biasa dimanfaatkan dalam astronomi untuk menentukan jarak benda-benda langit.

Gambar 2.2 Contoh Sederhana Paralaks Pada penglihatan binokuler, jika kedua mata difokuskan pada suatu titik, maka sumbu optis dari kedua mata tersebut berpotongan pada titik tersebut dan membentuk suatu sudut yang disebu sudut paralaktis. Untuk suatu obyek yang dekat dengan mata akan mempunyai sudut paralaktis yang besar dibandingkan dengan obyek yang letaknya lebih jauh. Dalam pengamatan fotogrametri, paralak mempunyai makna yang sangat fundamental, yakni dalam proses pembentukkan model stereoskopik dan penentuan beda tinggi. Paralak dapat diartikan sebagai pergeseran posisi dari suatu objek terhadap suatu referensi oleh karena perbedaan posisi pengamatan [Wolf, 1974].
FOTOGRAMETRI Page

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Dalam restitusi foto, paralaks dapat pula dijelaskan dari rekontruksi berkas sinar. Pada suatu pemotretan udara, objek titik A di permukaan tanh dapat dipotret dari dua posisi kamera, sebut saja titik a pada foto kiri dan titik a pada foto kanan. Kedua titik mempunyai posisi relatif yang berbeda pada masing-masing foto. Pada proses restitusi pasangan sinar dari titik pada foto kiri dan kanan direkonstruksi dengan cara memproyeksikannya pada suatu bidang datar. Pada rekonstruksi biasanya kedua sinar akan diproyeksikan pada bidang proyeksi di dua titik yang berbeda. Perbedaan posisi titik ini disebut sebagai paralaks atau paralaks stereoskopik. Komponen ke arah sumbu x disebut sebagai paralaks x (Px) dan paralaks sumbu Y disebut sebagai paralaks Y (Py).

Gambar 2.3 Komponen Paralax X dan Y 2.1.3 Stereoskop Cermin dan Saku Stereoskop ialah suatu alat yang digunakan untuk dapat melihat sepasang gambar/foto secara stereoskopis. Untuk dapat melihat sepasang foto yang saling overlap secara streoskopis tanpa bantuan perlengkapan optis, sangat dirasakan sekali kesulitannya. Hal ini disebabkan karena : 1. 2. Melihat sepasang foto dari jarak yang dekat akan menyebabkan ketegangan pada otot-oto mata. Mata difokuskan pada jarak yang sangat pendek 15 cm dari foto yang terletak diatas meja, sedangkan pada saat itu otak kita mengamati atau melihat sudut paralaktis dengan tujuan dapat membentuk stereo model pada suatu jarak atau kedalaman.
FOTOGRAMETRI Page

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Keadaaan yang demikian sangat mengacaukan pandangan stereoskop. Ada 2 jenis stereoskop, yaitu : 1. Stereoskop Saku atau Stereoskop Lensa Stereoskop lensa atau stereoskop saku adalah yang paling sering digunakan karena harganya murah, mudah dibawa, cara kerja dan pemeliharaannya sederhana. Sebagian besar stereoskop lensa mempunyai spesifikasi yang sama yaitu : (1) sistem lensa yang fokusnya tertentu yaitu dengan pasangan stereo pada suatu fokus, disesuaikan terhadap jarak pupil mata, (2) jarak lensa dapat dilipat serta dan, (3) dapat

dimasukkan ke dalam saku sehingga ia sering disebut stereoskop saku. Keterbatasan utama stereoskop lensa ini adalah foto udara yang diamati harus diletakkan sangat berdekatan agar letaknya di bawah lensa saling menutupi di bawah stereoskop. Karena itu, maka pengamat tidak dapat mengamati seluruh daerah stereoskopik pada foto udara 240 mm tanpa mengangkat salah satu foto udara tersebut. Berikut ini karakteristik stereoskop saku: 1. Lebih murah daripada stereoskp cermin 2. Cukup kecil hingga dapat dimasukkan kedalam saku 3. Terdiri dari susunan lensa convex yang sederhana 4. Mempunyai faktor perbesaran yang cukup besar 5. Mudah dibawa ke lapangan 6. Daerah yang dpat dilihat secara stereoskopis sangat terbatas

foto kiri

foto kanan

Gambar 2.4 Stereoskop Saku atau Stereoskop Lensa 2. Stereoskop Cermin

FOTOGRAMETRI Page

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Stereoskop cermin dirancang untuk pengamatan stereoskopik bagi pasangan foto stereo berukuran baku yang daerah pertampalannya luas yaitu 60 % atau lebih. Jarak stereonya, jarak antara satu objek yang teragambar pada pasangan foto stereo bila foto stereo itu dipasang di bawah pengamatan stereoskopik, dibuat jauh lebih besar dari jarak pupil mata, yaitu pada umumnya sejauh 25 cm sehingga dapat dihindarkan kendala tumpang tindih yang sering dialami pada pengamatan citra dengan menggunakan stereoskop lensa. Stereoskop tipe ini keterbatasannya karena ukurannya terlalu besar tidak mudah untuk dibawa dan harganya lebih mahal daripada stereoskop lensa biasa. Stereokop Cermin merupakan jenis baku yang banyak digunakan dalam interpretasi citra. Ia terdiri dari sepasang lensa, sepasang prisma atau cermin dan dengan binokuler dan batang paralaks atau stereometer. sepasang cermin yang dipasang pada empat kaki. Stereoskop cermin ini dilengkapi Binokuler digunakan untuk pengamatan foto udara dengan perujudan yang diperbesar, baik skala tegak maupun skala mendatarnya. Berikut ini karakteristik stereoskop cermin: 1. Lebih besar dari stereoskop saku, 2. Daerah yang dapat dilihat secara stereoskop lebih luas jika dibandingkan dengan menggunakan stereoskop lensa, 3. Karena bentuknya agak besar maka agak lebih sukar dibawa ke lapangan.

FOTOGRAMETRI Page

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

lensa cermin cermin

foto kiri Gambar 2.5 Stereoskop Cermin 2.2 Interpretasi Foto Udara

foto kanan

Interpretasi foto udara merupakan kegiatan menganalisa citra foto udara dengan maksud untuk mengidentifikasi dan menilai objek pada citra tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip interpretasi. Interpretasi foto merupakan salah satu dari macam pekerjaan fotogrametri yang ada sekarang ini. Interpretasi foto termasuk didalamnya kegiatankegiatan pengenalan dan identifikasi suatu objek. Dengan kata lain interpretasi foto merupakan kegiatan yang mempelajari bayangan foto secara sistematis untuk tujuan identifikasi atau penafsiran objek. Interpretasi foto biasanya meliputi penentuan lokasi relatif dan luas bentangan. Interpretasi akan dilakukan berdasarkan kajian dari objek-objek yang tampak pada foto udara. Keberhasilan dalam interpretasi foto udara akan bervariasi sesuai dengan latihan dan pengalaman penafsir, kondisi objek yang diinterpretasi, dan kualitas foto yang digunakan. Penafsiran foto udara banyak digunakan oleh berbagai disiplin ilmu dalam memperoleh informasi yang digunakan. Aplikasi fotogrametri sangat bermanfaat diberbagai bidang Untuk memperoleh jenis-jenis informasi spasial diatas dilakukan dengan teknik interpretasi foto/citra,sedang referensi geografinya diperoleh dengan cara fotogrametri. Interpretasi foto/citra dapat dilakukan dengan cara konvensional atau dengan bantuan komputer.Salah satu alat yang dapat digunakan dalam interpretasi konvensional adalah stereoskop dan alat pengamatan paralaks yakni paralaks bar.
FOTOGRAMETRI Page

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Didalam menginterpretasikan suatu foto udara diperlukan pertimbangan pada karakteristik dasar citra foto udara.Dan dapat dilakukan dengan dua cara yakni cara visual atau manual dan pendekatan digital.Keduanya mempunyai prinsip yang hampir sama. Pada cara digital hal yang diupayakan antara lain agar interpretasi lebih pasti dengan memperlakukan data secara kuantitatif. Pendekatan secara digital mendasarkan pada nilai spektral perpixel dimana tingkat abstraksinya lebih rendah dibandingkan dengan cara manual. 2.3 Kunci Interpretasi Citra Dalam melakukan interpretasi suatu objek atau fenomena digunakan sejumlah kunci dasar interpretasi atau elemen dasar interpretasi. Dengan karakteristik dasar citra foto dapat membantu serta membedakan penafsiran objek objek yang tampak pada foto udara. Berikut tujuh karakteristik dasar citra foto yaitu : 1. Bentuk Bentuk berkaitan dengan bentuk umum, konfigurasi atau kerangka suatu objek individual. Bentuk agaknya merupakan faktor tunggal yang paling penting dalam pengenalan objek pada citra foto. 2. Ukuran Ukuran objek pada foto akan bervariasi sesuai denagn skala foto. Objek dapat disalahtafsirkan apabila ukurannya tidak dinilai dengan cermat. 3. Pola Pola berkaitan susunan keruangan objek. Pengulangan bentuk umum tertentu atau keterkaitan merupakan karakteristik banyak objek, baik alamiah maupun buatan manusia, dan membentuk pola objek yang dapat membantu penafsir foto dalam mengenalinya. 4. Rona Rona mencerminkan warna atau tingkat kegelapan gambar pada foto.ini berkaitan dengan pantulan sinar oleh objek. 5. Bayangan Bayangan penting bagi penafsir foto karena bentuk atau kerangka bayangan menghasilkan suatu profil pandangan objek yang dapat membantu dalam interpretasi,

FOTOGRAMETRI Page

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

tetapi objek dalam bayangan memantulkan sinar sedikit dan sukar untuk dikenali pada foto, yang bersifat menyulitkan dalam interpretasi. 6. Tekstur Tekstur ialah frekuensi perubahan rona dalam citra foto. Tekstur dihasilkan oleh susunan satuan kenampakan yang mungkin terlalu kecil untuk dikenali secara individual dengan jelas pada foto. Tekstur merupakan hasil bentuk, ukuran, pola, bayangan dan rona individual. Apabila skala foto diperkecil maka tekstur suatu objek menjadi semakin halus dan bahkan tidak tampak. 7. Lokasi Lokasi objek dalam hubungannya dengan kenampakan lain sangat bermanfaat dalam identifikasi.

FOTOGRAMETRI Page

10

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

BAB III PELAKSANAAN


3.1 Pengenalan Alat Stereoskop Stereoskop ialah suatu alat yang digunakan untuk dapat melihat sepasang gambar/foto secara stereoskopis. Untuk dapat melihat sepasang foto yang saling overlap secara streoskopis tanpa bantuan perlengkapan optis, sangat dirasakan sekali kesulitannya. Hal ini disebabkan karena : a. Melihat sepasang foto dari jarak yang dekat akan menyebabkan ketegangan pada otot-otot mata. b. Mata difokuskan pada jarak yang sangat pendek 15 cm dari foto yang terletak diatas meja, sedangkan pada saat itu otak kita mengamati atau melihat sudut paralaktis dengan tujuan dapat membentuk stereo model pada suatu jarak atau kedalaman. Keadaaan yang demikian sangat mengacaukan pandangan stereoskop. Karena kesukarankesukaran itulah diperlukan suatu stereoskop untuk membantu kita dalam pengamatan.

Daerah ini terpotret Daerah daerah ini mengalami dua kali pemotertan dari dua posisi pemotretan yang berlainan 3.2 Interpretasi Obyek Dalam melakukan interpretasi objek ada beberapa pedoman yang dapat digunakan untuk mengenal benda/obyek yang diamati: dua kali

FOTOGRAMETRI Page

11

2012 1. Bentuk

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Ini merupakan hal yang harus dipehatikan karena dapat langsung membedakan yang diamati .Misalnya : jalan raya, lapangan terbang, dsb 2. Ukuran Disini ukuran relatif dan absolute merupakan hal-hal yang penting. Jalan raya dapat dibedakan dengan jalan desa atau pemukiman pribadi (individual) dapat dibedakan dengan apartement yang harus diperhatikan adalah faktor skala. 3. Tone ( derajat kehitaman) Benda-benda dengan perbedaan warna mempunyai pantulan cahaya yang berbeda kualitasnya, dengan demikian akan terprotet dalam tone yang berbeda pula. Misalnya : tanah liat, pada foto akan mempunyai tone yangberbeda dengan pasir 4. Pattern (susunan) Disini ditunjukkan susunan/jaringan yang selalu terdapat pada kondisi umumnya. Misalnya : susunan/jaringan yang ditemukan pada alur sungai akan berbeda dengan susunan patahan pada jenis-jenis batuan. 5. Bayangan Bayangan sangat membantu dalam menginterpretasikan sesuatu, misalnya jembatan gantung akan mempunyai bayangan yang lain dengan jembatan beton. Oleh karena itu, untuk keperluan interpretasi dan pemetaan, pemotretan udara selalu diusahakan pagi atau sore hari dengan harapan akan timbulnya bayangan dari setiap benda yang dipotret. 6. Lokasi Topografis Jelas bahwa lokasi topografis memberikan kondisi yang berbeda untuk setiap benda yang ada disekitarnya. Misalnya : arah aliran sungai akan segera diketahui jika diketahui ketinggian dari suatu arca. Disamping itu terdapa juga jenis-jenis tanaman tertentu yang tumbuh pada ketinggian tertentu. 7. Tekstur Tekstur seperti juga ukuran dari suatu benda, tapi erat sekali hubungannya dengan skala. Misalnya : tekstur dari padang rumput yang berbeda dengan tekstur dari padang jagung.

FOTOGRAMETRI Page

12

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

3.2.1 Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada praktikum interpretasi foto udara ini adalah : 1. Stereoskop Cermin Sokkisha 2. Stereoskop Saku 3. Fotocopy foto udara 4. Foto udara daerah Akaike, Kyusu Jepang skala 1 : 8000 5. Foto udara daerah Netherlands skala 1 : 10000 6. Foto udara daerah Suriname skala 1 : 20000 7. Foto udara daerah Pasifik skala 1 : 20000 8. Formulir praktikum 9. Alat tulis 3.2.2 Langkah Kerja Adapun langkah kerja praktikum interpretasi foto udara ini adalah : 1. Menyiapkan alat dan bahan, 2. Membuka stereoskop lensa dan menyiapkannya di atas meja, 3. Meletakkan sepasang foto udara yang akan diinterpretasi di bawah stereoskop saku, 4. Membuka stereoskop cermin dan menyiapkannya di atas meja, 5. Meletakkan sepasang foto udara yang akan diinterpretasi di bawah stereoskop cermin, 6. Melakukan orientasi foto udara dengan menggerak-gerakkan foto udara sampai mendapatkan model 3D dari foto, 7. Menginterpretasikan foto udara tersebut sehingga mendapatkan hasil identifikasi obyek dan mencatat hasil interpretasi obyek foto udara tersebut pada formulir praktikum fotogrametri, 8. Mengulangi kegiatan no. 2-5 dengan pasangan foto yang berbeda dan yang telah ditentukan. 3.2.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Hari/tanggal Pukul Tempat : Senin, 16 April 2012 : 08.00 10.40 BBWI : Meja utama lantai 2 Gedung Teknik Geomatika ITS

FOTOGRAMETRI Page

13

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

3.3 Pembuatan Stereogram Stereogram adalah gabungan pertampalan dua lembar foto udara yang berurutan dan diorientasikan sedemikian rupa sehingga dapat dilihat secara langsung membentuk model dengan sebuah stereoskop saku. 3.3.1 Alat dan Bahan 1. Alat tulis (pensil,pulpen & kertas) 2. Stereoskop saku 3. Dua lembar fotocopy foto udara daerah ITS (B1 & B4) 4. Lem 5. Guntig 6. Cellotape 7. Penggaris 3.3.2 Langkah Kerja 1. Meletakkan sepasang foto udara (fotocopy) di atas meja, 2. Mengambil stereoskop saku dan meletakkan di atas foto udara tersebut, 3. Mengorientasikan hingga mendapatkan model 3D. Mereketkan dengan dengan cello-tape hingga tidak dapat digerakkan lagi, 4. Melipat salah satu foto dengan batas kira-kira sesuai dengan garis pertampalan atau titik utamanya kemudian menampalkan kedua foto udara tersebut, 5. Melihat kembali dengan seksama melalui stereoskop saku dan beri tanda batas kiri dan batas kanan penglihatan, 6. Mengambil sampling beberapa obyek di daerah pertampalan tersebut sehingga seluruh daerah model benar-benar dalam penglihatan 3D, 7. Merekatkan pertampalan antar kedua foto udara dan gunting pinggir/sisi kedua foto udara itu sesuai batas penglihatan kiri dan kanan, 8. Merapikan guntingan tadi dan merekatkan pada kertas HVS A4 siap untuk dibuat sebagai lampiran pada laporan akhir praktikum ini. 3.3.2 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Hari/tanggal Pukul Tempat : Senin, 16 April 2012 : 08.00 10.40 BBWI : Meja utama lantai 2 Gedung Teknik Geomatika ITS

FOTOGRAMETRI Page

14

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

BAB IV ANALISA DAN HASIL


4.1 Cara Kerja Stereoskop Proses pembentukan bayangan 3 dimensi pada steroskop cermin hanya bisa dilakukan pada sepasang foto yang saling bertampalan. Jalannya sinar pada pembentukan bayangan dapat dijelaskan pada gambar berikut :

Gambar 4.1 Jalannya Sinar pada Pembentukan Bayangan pada Stereoskop Cermin Pemantulan cahaya dari titik b1 dan b2 diteruskan oleh cermin samping dan cermin mata ke mata sehingga mata melihat bayangan pada cermin mata. Oleh karena cermin bayangan datar dan bersifat maya, maka bayangan titik b1 dan b2 bertemu di titik B karena keduanya terbentuk dibelakang cermin mata oleh perpanjangan sinar pantul. Hal yang sama terjadi pada bayangan titik a1 dan a2 di titik A. Dari gambar terlihat bayangan titik B terlihat lebih dekat ke pengamat dibandingan bayangan di titik A. Adanya perbedaan jarak bayangan tersebut membuat otak mempersepsikan bahwa titik A dan B tidak terletak di bidang datar. 4.2 Hasil Interpretasi Obyek Dari praktikum Fotogrametri tersebut digunakan 4 buah foto udara dengan informasi tepi sebagai berikut :

FOTOGRAMETRI Page

15

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

1.

Latihan 3 No. 1 Daerah Skala Instansi pembuat : Akaike, Kyusu, Japan : 1:8000 : PPFK - ITB BAKOSURTANAL

Gambar 4.2 Foto Stereo Daerah Akaike, Kyusu, Japan 1. Identifikasi detail/objek :
Tabel 4.1 Interpretasi Akaike, Kyusu, Jepang

Objek Kenampakan Obyek Linier A Kotak Teratur Halus Kelabu-hitam-hitam B Tidak teratur Memanjang Lineair C Teratur 16

Unsur Interpretasi Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Rona dan warna Bentuk Ukuran tekstur Bentuk

Hasil Interpretasi

Sawah

Sungai

Jalan Raya

FOTOGRAMETRI Page

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Memanjang Seragam Kelabu-hitam-hitam D Tidak teratur Lebih luas dari rawa Halus Teratur E Halus

Ukuran Tekstur Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Bentuk Tekstur Pinggiran Danau Danau

Diantara pemukiman dan laut Site Kelabu-Hitam Teratur F Lebih kecil dari perkebunan Halus dan Seragam Terletak diantara pemukiman Kelabu-Hitam G Teratur Lebih luas dari bangunan Halus Kelabu-putih Agak teratur H Kotak Teratur Seragam Lineair J Putih-kelabu-putih Teratur Panjang Lineair Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Asosiasi Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Pola Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Perempatan Kota Perkotaan Lereng Bukit

Terletak diantara kawasan Asosiasi


FOTOGRAMETRI Page

17

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

permukinan/perumahan Putih-kelabu-putih K Teratur Panjang Lineair Kelabu-putih-kelabu Teratur L Berpetak-petak Bayangannya tinggi Diantara pemukiman/perumahan Kelabu-hitam O Tidak teratur Tidak seragam dan kasar Lebih luas dari perkebunan Kelabu-hitam Rimbun, teratur P Lebih kecil dari hutan Kasar dan seragam Terletak diantara pemukiman Kelabu-putih-kelabu Teratur Berpetak-petak R Bayangannya tinggi Diantara pemukiman Terletak daerah S pada kumpulan Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Asosiasi Rona dan warna Bentuk Tekstur Ukuran Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Asosiasi Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur asosiasi Site Rona dan warna Bentuk 18 Sawah Pabrik/ industri Daerah Perkebunan Hutan Gedung-gedung Jalan ke Puncak

Kelabu-Hitam Teratur

FOTOGRAMETRI Page

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Lebih kecil dari perkebunan Halus dan Seragam Terletak diantara pemukiman

Ukuran Tekstur Asosiasi

1. Adakah hal-hal khusus dari objek yang terdapat pada A ? Jawab : objek yang terdapat pada A mempunyai warna linear, dan ukuran teratur . 2. Pada L objek apa yang terdapat di bawah jembatan ? Jawab : objek yang terdapat di bawah jembatan adalah pemukiman. 3. Apa perbedaan utama antara persilangan pada M dan N? Jawab : pada M , persilangan jalan di bawah Jembatan. Pada N, persilangan jalan langsung berpotongan. 2. Latihan 3 No. 2 Daerah Skala Instansi pembuat : Netherlands : 1:10000 : -

Gambar 4.3 Foto Stereo Daerah Netherlands

1. Identifikasi detail/objek:
Tabel 4.2 Interpretasi Netherlands

Objek Kenampakan Obyek A Kelabu-hitam-hitam Tidak teratur Memanjang Lineair


FOTOGRAMETRI Page

Unsur Interpretasi Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur

Hasil Interpretasi Sungai

19

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Teratur B Memanjang Seragam Putih-kelabu-putih Teratur C Pada jalur rel kereta api Tidak begitu panjang Lineair Kelabu-hitam Teratur D

Bentuk Ukuran Tekstur Rona dan warna Bentuk Site Ukuran Tekstur Rona dan warna Bentuk Jembatan jalan Jalan Rel Kereta Api

Memanjang dan lebih tinggi Ukuran dari sekitarnya Lineair Kasar Kelabu-hitam Teratur Bayangan tekstur Rona dan warna Bentuk

Memanjang dan lebih tinggi Ukuran dari sekitarnya Lineair Kasar Putih-kelabu-putih Bayangan Tekstur Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur

Jembatan Rel ( jembatan layang )

Teratur Panjang Lineair

Jalan sawah

tengah

Kelabu-putih-kelabu Teratur Berpetak-petak Bayangannya tinggi

Gedung

FOTOGRAMETRI Page

20

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Diantara pemukiman Terletak daerah pada kumpulan

Asosiasi Site Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Sawah

Kelabu-Hitam Teratur H Lebih kecil dari perkebunan Halus dan Seragam Terletak pemukiman Kelabu-hitam-hitam Tidak teratur J diantara

Asosiasi Rona dan warna Bentuk Anak sungai

Memanjang, lebih kecil dari Ukuran sungai Lineair Kelabu-hitam Rimbun, teratur tekstur Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur diantara asosiasi Rona dan warna Bentuk Ukuran

Lebih kecil dari hutan Kasar dan seragam Terletak pemukiman

Lahan

Kelabu-putih-kelabu Teratur L Berpetak-petak

Pemukiman

Bayangannya seragam Tekstur dengan daerah sekitar Kelabu-Hitam M Teratur Lebih luas dari bangunan Halus N Kelabu-hitam Rimbun, teratur
FOTOGRAMETRI Page

Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Rona dan warna Bentuk Pepohonan Jalan

21

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Lebih kecil dari hutan Kasar dan seragam Terletak pemukiman Kelabu-hitam Rimbun, teratur O Lebih kecil dari hutan Kasar dan seragam Terletak pemukiman Hitam-kelabu diantara diantara

Ukuran Tekstur Asosiasi Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur asosiasi Rona dan warna Vegetasi

Bayangan gelap berbentuk Shadow khusus P Halus Terletak pada gedung atau pemukiman. Kelabu-hitam-hitam R Tidak teratur Lebih luas dari rawa Halus Tekstur sekitar pusat Site Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Danau Kecil Gedung

2 .Kunci interpretasi apa saja yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi objek A dan J? Jawab: Warna, tone ( derajat kehitaman), ukuran, bentuk 3. Apakah kunci interpretasi bayangan berguna dalam melakukan interpretasi pada pasangan foto stereo ini? Jelaskan jawaban saudara! Jawab:Benar , karena bayangan untuk mengenali jenis suatu objek dari foto khususnya sekitar titik utama, kadang perlu bantuan bayangan spesifik dari objek tersebut. 3. Latihan 3 No. 3
FOTOGRAMETRI Page

22

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Daerah Skala Instansi pembuat

: Suriname : 1: 20000 : -

Gambar 4.4 Foto Stereo Daerah Suriname 1. Identifikasi detail/objek :


Tabel 4.3 Interpretasi Suriname

Objek A

Kenampakan Objek Putih-kelabu-putih Memanjang Panjang Linear Putih-kelabu-putih Teratur Panjang Linear Kelabu-hitam-hitam Tidak teratur Memanjang, kecil Lineair Kelabu-hitam Tidak teratur Tidak seragam dan kasar Lebih luas dari perkebunan Kelabu-hitam Rimbun, teratur Lebih kecil dari hutan Kasar dan seragam 23

Unsur interpretasi Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Rona dan warna Bentuk Tekstur Ukuran Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur

Hasil Interpretasi Sungai besar

Jalan

Anak Sungai

Hutan

Hutan

FOTOGRAMETRI Page

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Terletak F

diantara

Asosiasi pemukiman Kelabu-hitam-hitam Rona dan warna Tidak teratur Bentuk Kotak tak teratur Ukuran Lineair Tekstur Putih-kelabu-putih Rona dan warna Teratur Bentuk Panjang Ukuran Lineair Tekstur Kelabu-hitam-hitam Rona dan warna Tidak teratur Bentuk Lebih luas dari rawa Ukuran Halus Tekstur Putih-kelabu-putih Rona dan warna Teratur Bentuk Panjang Ukuran Lineair Tekstur 2. Dimana letak daerah pemukiman ? Jawab : Letak daerah pemukiman di K 3.

pemukiman Kelabu-Hitam Teratur Lebih kecil dari perkebunan Halus dan Seragam Terletak diantara

Asosiasi Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Sawah

Lahan Terbuka

Hutan

Danau

Pemukiman

Apakah daerah hutan (bagian bawah foto) memperlihatkan suatu karakteristik tertentu? Jika ya karakteristik apa ? Jawab : iya, karakteristiknya yaitu memiliki tekstur yang rapat , setiap pohon memiliki bayangan , memiliki ketinggian yang berbeda, pengukuran yang relatif luas.

4. Latihan 3 No. 4 Daerah Skala Instansi : Pasifik II : 1:20000 pembuat : PPFK - ITB

BAKOSURTANAL

FOTOGRAMETRI Page

24

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Gambar 4.5 Foto Stereo Daerah Pasifik II 1. Identifikasi detail/objek pada:


Tabel 4.4 Interpretasi Pasifik II

Objek

Kenampakan Obyek Pada Unsur Foto Udara Kelabu-hitam-hitam Udara

Interpretasi

Foto Hasil Interpretasi

Rona dan warna Bentuk Ukuran tekstur Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur asosiasi Site Rona dan warna Bentuk Pola Tekstur Pesisir pantai Bangunan Sungai

Tidak teratur Memanjang Lineair Kelabu-putih-kelabu Teratur Berpetak-petak

Bayangannya tinggi Diantara pemukiman Terletak daerah Putih-kelabu-putih Lebih teratur dari pinggiran sungai pada kumpulan

Seperti garis kurva linier Halus Berasosiasi disekitarnya dengan pantai

Asosiasi Rona dan warna Jalan raya

Putih-kelabu-putih 25

FOTOGRAMETRI Page

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Teratur Panjang Lineair Kelabu-Hitam E Teratur Lebih luas dari bangunan Halus Putih-kelabu-putih F Lebih teratur dari sungai Lebih luas dari sungai Halus Hitam-kelabu-hitam Memiliki beda tinggi tak G teratur Berasosiasi dengan lerenglereng yang terjal

Bentuk Ukuran Tekstur Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Rona dan warna Ukuran Vegetasi di Asosiasi Pantai Landasan udara

sekitarnya. Kelabu-hitam-hitam H Tidak teratur Lebih luas dari rawa Halus Kelabu-hitam K Tidak teratur Tidak seragam dan kasar Lebih luas dari perkebunan Rona dan warna Bentuk Ukuran Tekstur Rona dan warna Bentuk Tekstur Ukuran Hutan Lahan Terbuka

2.

Detail/objek mana saja menurut anda yang harus dipetakan pada skala 1:100000 dan mana saja yang dapat dipetakan dalam skala 1:10000. Jelaskan !

FOTOGRAMETRI Page

26

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

Jawab : yang dipetakan dalam skala 1 : 100000 yaitu laut, batas antara pantai dengan hutan, hutan dan yang dipetakan dalam skala 1 : 10000 yaitu pemukiman , jalan, 3. ladang, lahan kosong

Berikan gambaran tentang daerah di sekitar J! Jawab : Daerah lereng bukit yang ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan besar (hutan)

FOTOGRAMETRI Page

27

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis maka dapat ditarik kesimpulan dari hasil praktikum interpretasi foto udara, yaitu 1. Orientasi foto udara sangatlah penting untuk dilakukan jika akan melakukan interpretasi udara 2. Objek-objek pada foto 1, 2, 3, dan 4 dapat diinterpretsikan berdasarkan prinsip 7 kunci interpretasi, yaitu bentuk, rona , warna, tekstur, pola, bayangan, lokasi, dan lokasi. 3. Ketepatan dalam interpretasi foto udara akan bervariasi sesuai dengan kemampuan dan asumsi penafsir, keadaan obyek yang diamati, dan kualitas foto yang digunakan. 4. Dalam menetukan stereogram dengan stereoskop saku ataupun cermin harusnya dilakukan dengan teliti dengan menghilangkan factor-faktor koreksi paralaks dan factor rotasi. 5. Identifikasi obyek yang kurang tepat akan mempengaruhi hasil interpretasi. 5.2 Saran Dari praktikum modul #2 terdapat beberapa kekurangan sehingga diperlukan adanya beberapa saran untuk perbaikan selanjutnya. Berikut saran untuk praktikum modul #2: 1. Sebelum praktikum dimulai, sebaiknya mempelajari lebih dalam terlebih dulu modul praktikum dan materi fotogrametri terkait, 2. Diperlukan banyak latihan dan pengalaman dalam interpretasi foto, sehingga mudah dan cepat dalam identifikasi obyek serta hasilnya akurat 3. Setelah melakukan praktikum dan laporan, alangkah lebih baik jika obyek-obyek yang telah diidentifikasi dijelaskan oleh Dosen, sehingga dapat melakukan koreksi dan lebih mengetahui sifat obyek pada foto udara 4. Mengetahui lebih dahulu batas kemampuan mata untuk mengidentifikasi foto udara.

FOTOGRAMETRI Page

28

2012

PEMBUATAN STEREOGRAM DAN IDENTIFIKASI OBYEK

DAFTAR PUSTAKA
Hariyanto, Dr.-Ing. Ir. Teguh, MSc. 2003. Photogrametri I (GD- 1508). Surabaya: ITS Hartono, DEA DESS. 2004. Aplikasi Penginderaan Jauh dan SIG di Bidang Pendidikan.Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Kiefer dab Lillisand. 1993. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Santoso, Dr. Ir. Bobby,MSc. 2001. GD-355 Pengantar fotogrameri. Bandung: ITB. Sutanto. 1994. Penginderaan Jauh Jilid 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. _______.2008.Petunjuk Praktikum Fotogrametri I. Surabaya: ITS

FOTOGRAMETRI Page

29