Anda di halaman 1dari 12

SP ESIFIKASI TEKNIS

BAB I . PE RSYAR ATAN TEKNIS U M U M

1. 1. LINGKUP PE K ERJ AAN

1.1.1. Persyaratan Teknis Umum ini merupakan persyaratan dari segi teknis yang secara umum berlaku untuk pekerjaan pemavingan jalan dimana persyaratan

ini bisa diterapkan untuk pelaksanaan proyek di Kota Surabaya yang meliputi:

Pekerjaan Pendahuluan

Pekerjaan Jalan

Pekerjaan Lain – Lain

Dan item-item pekerjaan yang tercantum dalam dokumen kontrak serta bilamana diperlukan adanya addendum, yang harus dikerjakan oleh pemenang/ penyedia barang/ jasa yg ditunjuk.

1.1.2. Kecuali disebut secara khusus dalam dokumen-dokumen dimaksud berikut, termasuk lingkup pekerjaan yang ditugaskan akan tetapi tidak terbatas pada hal-hal sebagai berikut :

a. Pengadaan tenaga kerja.

b. Pengadaan bahan/material.

c. Pengadaan peralatan & alat Bantu sesuai dengan kebutuhan lingkup pekerjaan yang ditugaskan.

d. Koordinasi dengan Pemborong/Pekerja lain yang berhubungan dengan pekerjaan pada bagaian pekerjaan yang ditugaskan.

e. Pembuatan as build drawing (gambar terlaksana).

1.1.3. Persyaratan Teknis Umum ini menjadi satu kesatuan dengan persyaratan Teknis Pelaksanaan pekerjaan dan secara bersama-sama merupakan persyaratan dari segi teknis bagi seluruh pekerjaan sebagaimana dituangkan dalam satu atau lebih dari dokumen-dokumen berikut ini :

a. Gambar-gambar Pelelangan/ pelaksanaan.

b. Persyaratan teknis umum/Pelaksanaan pekerjaan/ bahan.

c. Rincian volume pekerjaan /rincian penawaran.

d. Dokumen-dokumen pelelangan/pelaksanaan yang lain.

1.1.4. Dalam hal dimana ada bagian dari persyaratan Teknis Umum ini, yang tidak dapat diterapkan pada bagian pekerjaan sebagaimana diungkapkan ayat 01.3. di atas. Maka bagian dari persyaratan Teknis Umum tersebut dengan sendirinya dianggap tidak berlaku.

1. 2.

REFERE NS I

1.2.1. Seluruh pekerjaan harus dilaksanakan dengan mengikuti dan memenuhi persyaratan -persyaratan teknis yang tertera dalam persyaratan Normalisasi Indonesia (NI), Standart Industri Indoesia (SII) dan peraturan-peraturan Nasional maupun peraturan – peraturan Nasional maupun peraturan –

peraturan setempat lainnya yang berlaku atau jenis-jenis pekerjaan yang bersangkutan antara lain :

¾ NI-2 (1971) PERATURAN BETON BERTULANG INDONESIA

¾ NI- (1983) PERATURAN PERENCANAAN BANGUNAN BAJA INDONESIA (SKBI. 1.3.55.1987)

¾ NI-3 (1970) PERATURAN UMUM UNTUK BAHAN BANGUNAN DI INDONESIA

¾ NI-5

¾ NI-8

¾ NI-10 BATA MERAH SEBAGAI BAHAN BANGUNAN

¾ STANDART INDUSTRI INDONESIA (SII)

¾ ASTM, JIS dan lainnya yang dianggap berhubungan dengan bagian-bagian

PERATURAN KONSTRUKSI KAYU INDONESIA

PERATURAN SEMEN PORTLAND INDONESIA

pekerjaan ini.

Untuk pekerjaan-pekerjaan yang belum termasuk dalam standart-standart

yang

diberlakukan standart-standart Internasional yang berlaku atau pekerjaan- pekerjaan tersebut atau setidak-tidaknya berlaku persyaratan-persyaratan Teknis dari Negara-negara asal bahan /pekerjaan yang bersangkutan dan dari produk yang ditentukan pabrik pembuatnya.

disebut diatas,maupun standart-standart Nasional lainnya, maka

1.2.2. Dalam hal dimana ada bagian pekerjaan yang persyaratan teknisnya tidak diatur dalam persyaratan teknis umum/ khususnya maupun salah satu dari ketentuan yang disebutkan dalam ayat 02.1. diatas, maka atas bagian pekerjaan tersebut Pemborong harus mengajukan salah satu dari persyaratan –persyaratan berikut ini guna disepakati oleh Direksi untuk dipakai sebagi patokan persyaratn teknis :

a. Standart/ normal/ kode/ pedoman yang bisa diterapkan pada bagian pekerjaan bersangkutan yang diterbitkan oleh Instansi/ Institusi/ Asosiasi

Profesi/Assosiasi Produsen/ Lembaga Pengujian atau badan badan lain yang berwenang/ berkepentingan atau badan-badan yang bersifat Internasional ataupun Nasional dari Negara lain,sejauh bahwa atau hal tersebut diperoleh persetujuan dari Direksi/Pengawas.

b. Brosur teknis dari produsen yang didukung oleh sertifikat dari lembaga pengujian yang diakui secara Nasional/ Internasional.

1. 3.

P E LAK SAN A AN

1.3.1. Rencana Pelaksanaan.

a. Dalam waktu 7 (tujuh) hari sejak ditanda tanganinya Surat Perintah Kerja

(SPK) oleh kedua belah pihak, Pemborong harus menyerahkan Rencana Kerja Kepada Direksi/ Pengawas.

b. Sebuah Network Plan mengenai seluruh kegiatan yang perlu dilakukan untuk melaksanakan pekerjaan ini dalam diagram mana dinyatakan pula urutan logis serta kaitan/ hubungan antara seluruh kegiatan tersebut.

c. Kegiatan-kegiatan pemborong untuk./selama masa pengadaan/ pembelian serta waktu pengiriman/pengangkutan dari :

1. Bahan, elemen, komponen dari pekerjaan maupun pekerjaan persiapan/ pembantu.

2. Peralatan dan perlengkapan untuk pekerjaan.

d. kegiatan-kegiatan pemborong untuk/ selama waktu fabrikasi pemasangan

dan pembangunan.

e. Pembuatan-pembuatan gambar-gambar kerja.

f. Permintaan persetujuan atau bahan serta gambar kerja maupun rencana kerja.

g. Harga borongan dari masing-masing kegiatan tersebut.

h. Jadwal untuk seluruh kegiatan tersebut.

i. Direksi/ Pengawas akan memeriksa rencana kerja pemborong dan memeberikan tanggapan atau saran itu dalam waktu 2 (dua ) minggu.

j. Pemborong harus memasukkan kembali perbaikan atau rencana kerja kalau Direksi / Pengawas meminta diadakannya perbaikan/ penyempurnaan atau rencana kerja tadi paling lambat 4 (empat) hari sebelum dimulainya waktu pelaksanaan.

k. Pemborong tidak dibenarkan memulai suatu pelaksanaan atau pekerjaan sebelum adanya suatu persetujuan dari Direksi/ Pengawas atau rencana kerja ini. Kecuali dapat dibuktikan bahwa Direksi/Pengawas telah melalaikan kewajibannya untuk memeriksa rencana kerja pemborong pada waktunya, maka kegagalan pemborong untuk memulai pekerjaan

sehubungan dengan belum adanya rencana kerja yang disetujui Direksi, sepenuhnya merupakan tanggung jawab dari pemborong yang bersangkutan.

l. Membuat rambu-rambu lalu lintas sementara untuk pengamanan pekerjaan.

m. Melakukan Survey, Pengukuran lapangan dan membuat gambar kerja (shop drawing).

n. Membuat dokumentasi foto pelaksana, rangkap 3 (tiga) mulai dari fisik pekerjaan 0%,50%,100%.

1.3.2. Ijin Pelaksanaan. Ijin pelaksanann paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum memulai pekerjaan tersebut, Pemborong diwajibkan untuk mengajukan ijin pelaksanaan yang disetujui sebagi pegangan pemborong untuk melaksanakan pada bagian pekerjaan tersebut.

1. 4. PE N YELE SAI AN D AN PENYER AHAN

1.4.1. Dokumen terlaksana (As Build Documents)

a. Pada penyelesaian dari setiap pekerjaan, Pemborong wajib menyusun Dokumen terlaksana yang terdiri dari:

1. Gambar-gambar terlaksana.

2. Persyaratan teknis terlaksana dari pekerjaan, sebagaimana yang telah

dilaksanakan.

b. Dikecualikan dari kewajiban diatas adalah Pemborong untuk pekerjaan :

1. Pekerjaan persiapan.

2. Supply bahan, perlengkapan/peralatan kerja.

c. Dokumen terlaksana bisa disusun dari :

1. Dokumen Pelaksanaan.

2. Gambar-gambar perubahan.

3. Perubahan persyaratan teknis.

4. Brosur teknis yang diberi tanda pengenal khusus berupa cap sesuai

petunjuk Direksi / Pengawas.

d. Dokumen terlaksana ini harus diperiksa dan disetujui oleh Direksi / Pengawas

BAB I I.

PE KER J AAN PER S IAPAN DAN L A PANGAN

2. 1. P E KE R JAAN PERSI APAN

2.1.1. DIREKSI KEET

a. Bangunan sementara. Sebelum pemborong memulai pelaksanaan pekerjaan ini dapat menyediakan dan mendirikan Direksi Keet berupa bangunan sementara yang berukuran minimal 3.00 x 9.00 m2, yang dilengkapi dengan toilet/ wc dan kamar mandi yang khusus dimanfaatkan oleh Direksi/ Pengawas selain dilengkapi dengan bak air, closet, maka harus pula dilengkapi dengan septictank & sumur peresapan.

b. Kelengkapan Direksi Keet. Sebagai kelengkapan direksi keet guna penyelesaian Administarsi dilapangan, maka sebelum pelaksanaan pekerjaan ini dimulai Pemborong diharapkan terlebih dahulu melengkapi peralatan – peralatan antara lain:

(satu) buah meja rapat (sederhana) ukuran 1,20 x 4,80 m 2 .

(dua belas) buah kursi duduk ruang rapat.

(satu)white board (1,20 x 2,40) dan peralatannya.

(satu) rak / almari buku (sederhana).

(satu) set kelengkapan PPPK (P3K).

2.1.2. KANTOR DAN GUDANG KONTRAKTOR Dalam pelaksanaan pekerjaan ini Kontraktor dapat membuat Kantor Kontraktor, barak-barak untuk pekerja atau gudang tempat penyimpanan bahan (Boukkeet), yang sebelumnya telah mendapat persetujuan dari pihak Direksi/Pengawas berkenaan dengan semua konstruksi atau penempatannya.semua Boukeet perlengkapan Pemborong dan sebagainya, pada waktu pekerjaan berakhir (serah terima kedua) harus dibongkar.

2.1.3. MENGADAKAN PENGUKURAN DAN PEMASANGAN BOUWPLANK

a. Pengukuran Tapak Kembali

1. Kontraktor diwajibkan mengadakan pengukuran dan penggambaran kembali lokasi pembangunan dengan dilengkapi keterangan-keterangan mengenai peil ketinggian tanah, letak pohon, letak batas-batas tanah dengan alat-alat yang sudah ditera kebenarannya.

2. Ketidakcocokan yang terjadi antara gambar dan keadaan lapangan yang sebenarnya harus segera dilaporkan kepada Direksi/Pengawas untuk dimintakan keputusannya.

jawabkan.

4. Kontraktor menyediakan Theodolite/ waterpas beserta petugas yang melayaninya untuk kepentingan pemeriksaan Pengawas/Direksi selama pelaksanaan proyek.

5. Pengukuran sudut siku dengan prisma atau barang secara azas segitiga Phytagoras hanya di-perkenankan untuk bagian-bagian kecil yang disetujui oleh Direksi.

6. Segala pekerjaan pengukuran dan persiapan termasuk tanggungan

Kontraktor.

b. Pengukuran dan titk Peil (0,00) Pemborong harus mengadakan pengukuran yang tepat berkenan dengan letak/kedudukan bangunan terhadap titik patok/pedoman yang telah ditentukan siku bangunan maupun datar (waterpas) dan tegak lurus bangunan harus ditentukan dengan memakai alat waterpas instrument/ Theodolite. Hal tersebut dilaksanakan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan siku. Untuk mendapatkan titik peil harap disesuaikan dengan notasi-notasi yang tercantum pada gambar rencana (Lay Out), dan apabila terjadi penyimpangan atau tidak sesuai antara kondisi lapangan dan gambar Lay Out, Pemborong harus melapor pada pengawas/Perencana.

2. 2.

P E KE R JAAN T AN A H

2.2.1. LINGKUP PEKERJAAN Yang dimaksud dengan pekerjaan tanah disini adalah semua kegiatan yang berkaitan dengan pematangan tanah, pengolahan tanah yang ada kaitannya dengan struktur bangunan antara lain pembersihan tanah, galian tanah, urugan tanah/perataan, ataupun pembuangan tanah.

2.2.2. PERSIAPAN PEKERJAAN TANAH

a. Bagian ini meliputi pembersihan perataan lapangan, pengecekan keadaan

countur, pengukuran di daerah-daerah dimana pekerjaan pembangunan akan dilaksanakan seperti ditunjukkan pada gamba-gambar dan sesuai dengan yang ditunjukkan oleh pengawas.

b. Pemborong bertanggung jawab untuk :

1. Penelitian yang menyeluruh atas gambargamnbar dan persyaratan– persyaratan kontrak ini dan kontrak lain yang berhubungan dengan proyek ini, disertai semua addendumnya.

2. Penelitian atas semua kondisi pekerjaan, memeriksa kondisi lapangan, serta semua fasilitas yang ada.

3. Melakukan semua pengukuran lapangan sehubungan dengan pekerjaan

ini dan mendapatkan ketentuan atas seluruh lingkup proyek seperti yang disyaratkan pada gamba-gambar dan persyaratan-persyaratan dan sebagaimana yang disetuji oleh pengawas.

c. Pemborong bertanggung jawab penuh untuk kesimpulan yang ditariknya dari informasi yang disampaikan kepadanya dan dari pemeriksaan informasi tentang pekerjaan tanah yang diperolehnya Pemborong diperbolehkan atas biaya sendiri melakukan sendiri pemeriksaan tambahan bilamana dianggapnya perlu untuk menentukan lebih lanjut kondisi dari lapangan guna

pembangunan yang dipersyaratkan di sini.

d. Sebelum memulai suatu pekerjaan galian/urugan, Pemborong harus yakin bahwa semua permukaan tanah yang ada maupun garis-garis transit yang

tertera dalam gambar rencana adalah benar. Jika pemborong tidak merasa

puas dengan ketelitian permukaan tanah, pemborong harus memberitahukan secara tertulis kepada pemberi tugas, jika tidak maka tuntutan mengenai

ketidak samaan permukaan tanah tidak akan dipertimbangkan.

2.2.3. PEKERJAAN GALIAN TANAH DAN PEMOTONGAN TANAH

a.

Lingkup pekerjaan. Pekerjaan urugan ini dilaksanakan sebagai urugan bangunan maupun sebagai urugan lubang-lubang pondasi atau urugan pada sisi luar pasangan

batu pada saluran tepi maupun saluran tengah.

b.

Persiapan Pekerjaan Urugan Pengurugan tidak boleh dilaksanakan sebelum pondasi atau bagian pekerjaan lainnya yang akan ditutup/diurug atau tersembunyi oleh urugan

baru sirtu diperiksa oleh Direksi/Pengawas.

c.

Ca ra Pengurukan :

1. Khusus untuk urugan peninggian tanah asli sebelum dilaksanakan

pengurugan awal seluruh permukaan tanah asal pada daerah yang

akan diurug harus dibersihkan dari kotoran atau puing-puing serta tanaman-tanaman yang ada, dan harus dibuang keluar lokasi proyek.

2. Pengurugan harus dilakukan lapis demi lapis dipadatkan dengan mesin pemadat compactor atau alat baby roller yang diijinkan oleh Direksi

Teknik.

3. Seluruh penimbunan harus dibawah pengawasan Direksi Teknik, dan sebelum melaksanakan urugan, Kontraktor harus minta persetujuan

terlebih dahulu tentang Bahan urugan yang akan dipergunakan serta

tidak diperkenankan melakukan pengurugan tanpa persetujuan Direksi

Teknik maupun Konsultan Pengawas.

d.

Bahan –bahan urugan

1. untuk bahan urugan kembali pada lubang pondasi atau pada saluran

dipakai urugan Sirtu / Tasirtu yang didatangkan dari luar lokasi

pekerjaan, dan TIDAK DIPERBOLEHKAN untuk mengurug menggunakan tanah bekas galian kecuali sudah dipersyaratkan sebelumnya.

2. Sedang urugan di bawah perkerasan jalan paving stone digunakan

urugan pasir yang dihampar dan dipadatkan sesuai dengan ketebalan yang diinginkan.

3. Bahan-bahan urugan harus tidak mengandung Lumpur dan bahan

organik, kadar lumpur tidak boleh terlampau tinggi sehingga bahan

urugan tersebut mudah untuk dipadatkan.

e.

Pengerasan Kepadatan Tanah Urugan Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan kepadatan dari lapisan urugan yang dipadatkan, Kontraktor harus melaksanakan penelitian /

melakukan pengujian dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Apabila rata-rata ketebalan urugan melebihi 20 cm maka kontraktor wajib mengadakan tes CBR / tes kepadatan.

2.

Sebelum diadakan pengetesan pemadatan Kontraktor diwajibkan mengajukan permohonan pengetesan paling lambat 24 jam sebelum pengetesan dilaksanakan kepada Direksi Pengawas.

3. Hasil pengetesan dianggap baik apabila dicapai dengan derajad kepadatan sesuai dengan ketentuan tersebut di atas yakni 90 % standart kompaksi per layer yang merupakan kepadatan maksimum hasil pengujian Laboratorium.

4. Bila terjadi kepadatan tidak memenuhi maka Kontraktor harus memperbaikinya sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Direksi /Konsultan Pengawas.

BAB I II. PE KERJAAN PAS ANGAN

3. 1. P E N JELASAN UM UM

3.1.1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahanbahan, peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan masing-masing pekerjaan

sehingga mendapatkan hasil yang baik dan sempurna.

3.1.2. Penggunaan masing – masing jenis pasangan dapat dilihat pada gambar rencana ataupun petunjuk/ perintah direksi/pengawas lapangan.

3.1.3. Pengendalian pekerjaan :

Persyaratan – persyaratan standar mengenai pekerjaan ini tertera pada :

PUBI - 1982

NI – 3 - 1970

NI – 10 - 1973

SII – 0021 - 1978

3. 2. P ASANG AN BATU B ATA

1.2.1.

Lingkup Pekerjaan. Pasangan batu bata dilaksanakan untuk dinding/ tembok gedung, pondasi ringan, saluran, bak – bak bunga, ataupun pasangan batu bata lainnya yang

ditunjuk pada gambar rencana.

1.2.2.

Bahan.

1.

Batu bata yang dikehendaki adalah batu bata lokal yang berkualitas baik yaitu dengan hasil pembakaran yang matang berukuran sama kira – kira 6 x 12 x 20 cm tidak boleh terdapat pecah–pecah ( melebihi 20% ) dan tidak diperkenankan memasang bata yang pernah dipakai.

2.

Semen dan pasir untuk pasangan batu bata ini harus sama dengan kualitas seperti yang disyaratkan untuk pekerjaan beton.

3.

Kecuali ditentukan lain semua pasangan bata dipasang dengan perekat dengan campuran 1PC : 4Ps dengan pencair air, pasangan rolak, pasangan untuk saluran dan tempat lain yang ditunjukkan dalam gambar.

1.2.3.

Pelaksanaan

pasangan.

2. Tentukan perbandingan campuran spesi dan tebal adukan yang diperlukan. Adukan dilaksanakan sesuai standar spesifikasi dari bahan yang digunakan sesuai dengan petunjuk perencana/ direksi.

3. Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus mengikuti semua petunjuk dalam gambar arsitektur terutama gambar detail dan gambar potongan mengenai ukuran tebal/ tinggi/ peil dan bentuk profilnya.

4. Pasangan batu bata harus dipasang tegak lurus, siku, rata dan tidak boleh terdapat retak – retak, dipasang dengan fungsi, ukuran ketebalan dan ketinggian yang ditentukan dalam gambar rencana.

5. Mencampur Perekat Perekat harus dicampur dalam alat pencampur yang telah disetujui atau dicampur dengan tangan pada permukaan yang keras, dilarang memakai perekat yang sudah mulai mengeras untuk dipakai lagi.

6. Sebelum dimulai pemasangan batu bata harus direndam lebih dahulu dengan air dan permukaan yang akan dipasang harus basah juga dan untuk semua sambungan harus dikorek paling sedikit 0.5 cm agar penyelesaian dinding/ plesteran dapat melekat dengan baik.

3. 3. P E KE R JAAN PLE STERAN

1.3.1

Lingkup pekerjaan Yang dimaksud dengan pekerjaan penyelesaian disini adalah seluruh pekerjaan

plesteran termasuk benangan baik untuk plesteran dinding pasangan bata maupun pasangan batu kali atau sebagaimana yang ditunjuk dengan notasi seperti yang tercantum pada gambar rencana.

1.3.2

Bahan

1.

Sebagai bahan semen, pasir dan air untuk plesteran ini sama dengan kualitas seperti yang disyaratkan untuk pekerjaan beton ataupun pekerjaan pasangan.

2.

Campuran untuk plesteran harus dipilih yang benar – benar bersih dan bebas dari segala macam kotoran. Pasir untuk plesteran harus bersih dan diayak dengan ayakan ukuran # 1.2 – 2.00 mm.

1.3.3

Pelaksanaan

1.

Pekerjaan plesteran dilaksanakan pada seluruh permukaan pasangan batu kali pada sisi dalam saluran secara menyeluruh atau pasangan lain yang ditunjuk pada gambar rencana untuk dilaksanakan plesteran.

2.

Pekerjaan plesteran dilaksanakan setelah pekerjaan atau selesai dilaksanakan, sebelum pekerjaan plesteran dilaksanakan seluruh permukaan yang akan diplester harus dibersihkan atau dikorek terlebih dahulu dan harus dibasahi dengan air sehingga betul – betul dapat merekat dengan kuat.

3.

Plesteran yang dimaksud disini menggunakan campuran 1PC : 4Ps untuk semua pekerjaan plesteran.

4.

Semua pekerjaan plesteran harus betul – betul halus dan tidak boleh retak – retak, hal ini dilaksanakan dengan acian Portland Cement ( PC ).

5.

Tebal plesteran yang dimaksud, kecuali bila dinyatakan lain adalah dengan ketebalan antara 1.5 – 2.0 cm.

3. 4. P E KE R JAAN SIAR SPE SI CAM PURAN SEMEN

3.4.1.

Uraian Pekerjaan ini terdiri dari produksi dan pemasangan siar spesi campuran semen untuk digunakan dalam pasangan batu, pekerjaan – pekerjaan drainase,

pekerjaan beton dan struktur lainnya yang diperlukan dalam spesifikasi ini.

3.4.2.

Syarat – Syarat Pemakaian Spesi campuran semen harus digunakan sesuai toleransi, batasan cuaca dan penjadwalan pekerjaan yang tepat terhadap bagian – bagian yang pokok.

3.4.3.

Bahan – Bahan

1.

Semen yang digunakan untuk campuran semen harus sesuai dengan persyaratan AASHTO M85 Type I, Semen Portland biasa akan dipakai kecuali dinyatakan lain dalam daftar penawaran atau diperintahkan dilapangan oleh direksi teknik.

2.

Agregat halus terdiri dari pasir alam bersih, bagian halus dari batu atau kerikil pecah dan harus mematuhi batas – batas yang disyaratkan oleh direksi teknik.

3.

Syarat – syarat kualitas untuk agregat halus diberikan oleh direksi teknik yang akan menerapkan syarat – syarat ini sampai seluas yang diperlukan untuk jenis khusus dan lokasi pekerjaan.

4.

Air yang digunakan untuk pencampuran adonan semen harus bersih dan bebas dari benda organik atau kotoran – kotoran lain yang merusak kualitas campuran.

3.4.4.

Pencampuran

1.

Agregat halus dan semen harus diukur dan dicampur kering dalam mixer (alat pencampuran) beton atau dengan tangan diatas dasar yang cocok sampai dihasilkan satu campuran yang warnanya merata. Kemudian dicampur air yang cukup untuk satu campuran yang baik dan pencampuran berlanjut selama 5-10 menit sampai didapatkan satu adonan dengan kekentalan yang diminta.

2.

Spesi campuran semen harus diproduksi dalam volume yang cukup untuk pemakaian segera dan tambahan dapat diberikan dalam jangka waktu 30 menit dari waktu pencampuran, bila diminta demikian untuk mempertahankan satu campuran yang mudah ditangani. Akan tetapi yang tidak digunakan dalam 45 menit sesudah pencampuran harus dibuang.

3.

Permukaan yang akan dipasang adonan harus dibersihkan dari setiap bahan lepas, lumpur atau benda – benda lain yang harus dibuang dan kemudian dibasahi dengan air sebelum spesi tersebut dipasang.

4.

Bilamana dipakai sebagai permukaan jadi (selesai) spesi campuran tersebut harus dipasang di atas permukaan yang basah dan bersih dalam ketebalan yang cukup untuk menyediakan satu lapisan pelindung permukaan setebal 1.5 cm dan harus dikulir sampai satu permukaan yang halus dan rata.

5.

Spesi campuran semen untuk pekerjaan siar atau merapikan permukaan pasangan batu kali pada drainase atau pekerjaan yang lainnya ini harus memakai campuran 1PC : 2Ps atau sesuai petunjuk direksi teknik.

BAB IV. BET ON PAVING S TONE BL OCK & K ANST I N

4. 1. UMUM D AN LINGKUP PEKE R J AAN

4.1.1. Lingkup kegiatan pekerjaan dapat berupa pekerjaan-pekerjaan perkerasan jalan,

parkir trotoar dan pekerjaan lainnya sebagaimana yang dimaksud pada gambar rencana.

4.1.2. Pekerjaan ini disamping pengadaan bahan, tenaga juga termasuk pengadaan / pemanfaatan peralatan yang dianggap lazim digunakan untuk pekerjaan ini.

4.1.3. Masing-masing bagian pekerjaan harus dilaksanakan sesuai dengan notasi- notasi yang tertera pada gambar rencana / detail, baik panjang maupun dimensi penampang kemiringan.

4.1.4. Produsen Paving Stone harus sudah memiliki Sert i fi kasi IS O.

4. 2. P E KE R JAAN JALAN PA VING ST ON E

4.2.1

Umum

1.

Perkerasan jalan ini dilaksanakan sesuai dengan luasan dan elevasi / ketinggian yang tertera pada gambar rencana, termasuk dalam pekerjaan ini adalah kerb –

kerb pembatas / kanstin.

2.

Kanstin yang dipakai untuk penahan / penutup paving stone berukuran 15X25X40 cm dan harus memenuhi mutu minimal K-175.

3.

Bila kedudukan permukaan tanah yang ada tidak sesuai dengan kedudukan yang ditentukan maka pemborong berkewajiban untuk menggali atau mengurug sesuai dengan ketinggian yang tercantum di gambar rencana.

4.

Struktur perkerasan disesuaikan dengan jenis bahan permukaan atasnya (lihat gambar rencana), sedang bahan masing–masing lapisan struktur dapat ditinjau pada ayat berikut.

4.2.2

Bahan – bahan

1.

Sub base dari bahan perkerasan pasir dan sirtu yang telah dilaksanakan pada tahap sebelumnya dengan kondisi sudah dipadatkan dengan baik.

2.

Lapisan atas :

a. B eton Pa vi ng Stone Block Beton paving block merupakan struktur perkerasan paling atas yang dipasang di atas lapisan pasir sebagai perata, urugan sirtu yang telah

dipadatkan di atas tanah dasar berfungsi sebagai lapis pondasi, sebagaimana telah ditentukan konstruksi ini dipakai untuk pekerjaan jalan. Pemasangan sisi vertical harus tegak lurus dengan permukan atas paving dan dapat saling mengunci satu sama lain dengan baik dan kokoh. Kualitas paving block harus setara dengan beton mutu K-350 sesuai dengan petunjuk Direksi Teknik dan telah diatur secara khusus dalam klausul yang lain, dengan tebal 6 cm atau 8 cm hasil produk pabrikan dengan menggunakan press mesin.

b. K ua t T ekan Kuat tekan rata–rata tidak boleh kurang dari 350 Kg/Cm2. (Jumlah benda uji yang tekanannya kurang dari 350 kg/cm2 tidak boleh melebihi dari 25%

total benda uji.) c. B ent uk Bahan yang dipakai adalah paving blok empat persegi panjang dengan dimensi 10 x 20 x tebal sesuai gambar, dengan ukuran sesuai dengan spesifikasi hasil pabrikan. Bahan yang digunakan untuk pengunci paving dan kanstin atau dengan bibir saluran adalah paving khusus buatan pabrik. d. Wa rna

Paving stone block empat persegi panjang yang dipakai, terdiri dari 2 ( dua ) macam warna dasar.

Wa rna abu- a bu, dipakai pada pekerjaan jalan secara umum dan menyeluruh. Warna abu-abu adalah warna asli hasil dari Job Mix Formula Paving Stone.

Wa rna M era h, dipakai untuk pekerjaan paving stone pada Streching (border) dan pada ornamen / hiasan tengah serta tempat-tempat lain yang ditentukan. Warna merah memakai ketentuan :

i. Full colour ( homogen ) di semua sisinya sesuai tebal paving stone.

ii. Warna merah menggunakan pigmen Iron Oxyde.

iii. Warna merah harus tahan terhadap perubahan cuaca dan tidak luntur.

iv. Warna merah khusus dipergunakan untuk pemasangan ruang luar ( out door ).

4.2.3

Pelaksanaan

1.

Untuk mendapatkan dasar paving blok yang memenuhi syarat kestabilan, permukaan tanah harus diurug dengan bahan sirtu dipadatkan dengan alat pemadat.

2.

Pemasangan concrete block paving dilaksanakan sesuai dengan pola yang tertera dalam gambar rencana. Permukaan perkerasan jika sudah selesai pemasangan concrete block paving harus rapi, rata dan sama susunannya, seluruh permukaan harus dapat mengalirkan air dengan sempurna.

3.

Pemotongan harus menggunakan mesin potong paving yang khusus, seperti yang disarankan pabrik yang bersangkutan.

4.2.4

Penyelesaian Tepi Perkerasan

1.

Sisi tepi perkerasan dipasang kanstin beton pracetak dengan bentuk sebagaimana telah tertera dalam gambar rencana atau ditentukan lain oleh Direksi Teknik dan mutu bahan yang setara dengan beton K-175, dengan uji kuat tekan 175 kg/cm2.

2.

Bukaan atau pelaluan air pada kanstin atau kerb harus dipasang sedemikian sehingga dapat meloloskan aliran air dari badan jalan atau tidak terjadi genangan pada badan jalan saat musim hujan.

4.2.5

Peralatan Peralatan yang dibutuhkan harus sudah disiapkan sebelum pemasangan paving block dimulai, peralatan tersebut adalah :

m2 dengan centrifurgar force kira –kira 1,6 – 2,0 ton

2. Alat pemotong paving (Paving Cutter)

3. Kayu dan papan panjang 3,00 m yang sudah diserut rata untuk jidar dan

sapu aspal.

4.2.6

Kontraktor harus mengadakan perbaikan kembali atas bagian–bagian yang

mengalami kerusakan.

4. 3. P engujian

Uji Tekan dan Keausan Paving mengacu pada tabel berikut :

Tabel 1. Sifat-sifat Fisika

Mutu

Kuat Tekan ( Mpa )

Ketahanan Aus ( mm/ Menit )

Rata-rata

Min.

Rata-rata

Min.

 

A 40

35

0,090

0,103

B 20

17,0

0,130

0,149

C 15

12,5

0,160

0,184

D 10

8,5

0,219

0,251

1. Dimensi :

tebal

= 6 / 8 cm

panjang

= 20 cm – 21 cm

lebar

= 10 cm – 11 cm

2. Tegangan hancur

= 350 kg / cm2

3. Keausan

4.

5. Teknik sampling

Berat Jenis

=

= segmen mutu A di atas

= 2250 Kg/m 3

1 buah paving

- Sampel sebelum dilakukan pelaksanaan

diuji dengan parameter kualitas.

- pada saat pelaksanaan dilakukan sampling terhadap

paving abu-abu yang sudah terpasang Æ setiap 500 m 2

diambil sampel sebanyak 30 buah paving abu-abu.

- Untuk setiap 500 m kanstin diambil 1 buah, jika volume kanstin kurang dari 500 m maka diambil sample 1 buah.

- Untuk Paving Merah ( Strecher ) yang sudah terpasang Æ

setiap 500 m 2 diambil sample sebanyak 10 buah paving

merah.

- Jika volume paving merah kurang dari 150 m 2 maka

diambil sample minimal 3 buah.

- Untuk setiap 500 m topi uskup diambil 3 buah, apabila volume topi uskup kurang dari 500 m maka diambil sample 3 buah.