Anda di halaman 1dari 9

DEMAM TINGGI PASCA MELAHIRKAN SETELAH PEMBERIAN OBAT MISOPROSTOL SECARA SUBLINGUAL

J DUROCHER, J BYNUM, W LEON, G BARRERA, B WINIKOFF

Tujuan : untuk menyelidiki pemicu pada naikanya suhu tubuh > 40 C pada beberapa wanita yang diberikan (PPH). Rancangan : analisis post-hoc Setting ; tingkat tersier rumah sakit di Quito, Ekuador. Populasi : sekelompok terdiri dari 8 wanita yang mengalami deman diatas 40 C setelah perawatan dengan misoprostol sublingual ( 800 mikrogram) untuk PPH. Metode : efeks samping telah didokumentasikan untuk sebanyak 163 wanita Ekuador yang diberikan obat misoprostol minum untuk merawat PPH mereka. Suhu tubuh wanita itu lalu diukur, dan jika mereka mengalami demam , > 40 C, pengukuran dilakukan tiap jam hingga demam menurun. Trend suhu juga dianalisis, dan mekanisme fisiologi yang muncul yang mana misoprostol itu menghasilkan demam tinggi juga ikut diselidiki. Ukuran pencapaian hasil . Kemunculan, durasi, suhu puncak, dan perawatan yang diberikan untuk kasus dengan demam tinggi. Hasil. Sebanyak lima puluh delapan dari 163 wanita (35,6%) yang dirawat dengan misoprostol menglami demam > 40 C. Demam tinggi mengikuti pola yang dapat diprediksi, sering dimulai dengan mengigil dalam waktu 20 menit awal perawatan. Suhu tubuh memuncak 1-2 jam setelah pemberian obat, dan secara bertahap menurun dalam 3 jam. Demam itu bersifat menetap dan tidak mengarah pada rawat inap lebih lanjut. Karakteristik dasar yang dibandingkan dengan wanita lainnya yang mengembangkan dan yang tidak mengembangkan demam tinggi, kecuali untuk PPH yang dialami sebelumnya dan waktu pelepasan tali pusat.
o o o o

Kesimpulan . Suatu tingkatan tinggi tak terduga dari naiknya suhu tubuh > 40
o

C telah dilaporkan di

misoprostol,

sebuah

analog

E1

Ekuador dengan pemberian misoprostol. Masih belum jelas apakah suhu > 40 oC terjadi dengan frekuensi lebih besar di Ekuador daripada di populasi study lainnya dengan menggunakan regimen perawatan yang mirip untuk lebih PPH. lanjut Penelitian mungkin study mampu farmikogenetik

prostaglandin, untuk pendarahan pasca melahirkan

menerangkan pada perbedaan dalam respon individu terhadap misoprostol. Kata-kata kunci . demam, hiperpyrexia, misoprostol, pendarahan pasca melahirkan (PPH). Pendahuluan Selama puluhan tahun, pada peneliti telah menyelidiki agen farmakologi yang paling efektif, aman ,dan bergerak cepat untuk menangani pendarahan pasca melahirkan primer yang atonik (PPH), suatu penyebab umum dari pendarahan tinggi setelah melahirkan anak. Misoprostol, suatu turunan E1 prostaglandin, telah diselidiki sebagai altenatif terhadap uterotonik parenteral konvensional yang mana PPH merupakan sumber utama bagi uterotonik yang efektif ( yaitu oksitosin) . Misoprostol merupakan alternatif menarik karena dari potensi uterotoniknya, pemberian oral dan stabilitas pada suhu ruang. Meningkatnya suhu tubuh diatas 40oC , telah meningkatkan pendekatan ini. Efek samping paling umum diasosiasikan dengan pemberian pasca melahirkan dari misoprostol ialah demam dan pyrexia. Penelitian menunjukan tingkatan demam dan menggigil nampaknya berhubungan, dan tergantung pada dosis dan rute. Tingkatan tinggi demam dan naiknya suhu tubuh diasosiasikan dengan rute oral dan sublingual dari pemberian itu, yang mencapai konsentrasi plasma maksimum lebih perhatian mengenai keselamatan

tinggi lebih cepat daripada pemberian vaginal atau rektal. Satu trail yang membandingkan bahwa dosis 600 oral mikrogram oral versus 600 mikrogram rektal pada misoprostol menyatakan berpengaruh dalam tingkatan lebih tinggi demam secara signifikan ( dengan 76 versus 4 pesen) dan deman (9 versus 1 pesen). Juga, tingkatan dilaporkan dari demam dan mengigil berbeda besar dalam laporan itu. Misalnya, tingkatan mengigil dan demam yang mengikuti dosis oral profilaktik 600 mikrogram misoprostol berkisar dari 18 hingga 71 persen dan dari 1 hingga 38 persen , berturut-turut. Sebuah review kepustakaan menunjukkan bahwa ekfek samping ini tidaklah parah dan juga jarang. , yang muncul dalam 12 jam atau kurang . Pada beberapa penelitian perawatan dan pencegahan PPH, misoprostol telah diasosiasikan dengan demam tinggi > 40 C. Satu kasus yang memerlukan perhatian masyarakat medis ialah komplikasi jarang
o o

misoprostol sublingual sebagai perawatan pertama untuk PPH melaporkan suatu tingkatan deman yang lebih tinggi dari dugaan diatas 40 oC dalam satu dari sembilan lokasi (36 persen) sedangkan tingkatan lebih rendah tercatat dalam delapan lokasi lainnya, berkisar dari 0 hingga 9 persen. Dalam semua laporan berbasis rumah sakit ini, naiknya suhu itu tidak berakibat Laporan lebih lanjut > dalam 40
o

kompolikasi C mengikuti

kesehatan lainnya. deman misoprostol untuk PPH telah digambarkan pada kejadian terpisah sebagai kasus hipertermia dan beberapa pyrexia atau hiperpyrexia. Dua istilah ini digunakan untuk menggambarkan demam tinggi yang berpengaruh sangat berbeda pada mekanisme biologis. Hasil hiperpyrexia muncul dari perubahan kenaikan dalam pusat pengaturan hipothalamik, yang memicu tubuh untuk menjaga dan mengeluarkan panas untuk mencapai titik batas baru . Kebalikanya, hipertermia terjadi ketika suhu meningkat dalam hilangnya mengigil perubahan dan dalam pusat pengaturan tidak hipotalamik. : ukuran konservasi panas ( yaitu mencari tempat hangat) terpengaruh, dan kenaikan suhu terjadi dalam cara yang tidak teratur, membuatnya sungguh berbahaya. Hipertermia suhu jarang dibandingkan dengan hyperpyrexia, juga, apapun yang memicu naiknya suhu dan pada beberapa wanita setelah pemberian misoprostol masih belum jelas. Tulisan ini menampilan review dari deman tinggi, > 40 oC, yang terjadi pada rumah sakit di Quito, Ekudor, setelah pemberian misoprostol sublingual 800 mikrogram untuk perawatan PPH. Sebuah analisis mendetail dari trend suhu deman tinggi yang terjadi pada ketinggian tempat itu ( 2800 m) diikuti dengan pembahasan akan mekanisme fisiologis yang mungkin yang mana pemberikan misoprostol pasca melahirkan menghasilkan demam itu. Metode Dua trial klinis dari besar telah dilakukan sublingual ( untuk 800 mengevaluasi penerimaan kecukupan, misoprostol keselamatan,dan

ini

tapi

yang

dianggap

membahayakan, yang melibatkan laporan suhu puncak dari 41,9 C setelah pemberian misoprostol oral 800 mikrogram secara profilaktik. Kasus lainnya deman tinggi yang tercatat dalam laporan itu melibatkan lima dari 9198 kasus dari trial klinis berbasis rumah sakit yang besar pada pencegahan PPH, yang dosis oral profilaktik ialah berupa misoprostol 600 mikrogram. Empat kasus dari 1026 kasus telah dilaporkan oleh Ng dan teman teman setelah menguji regimen yang sama. Sebuah trial perawatan PPH di Afrika Selatan melaporkan tiga wanita ( diluar dari 114) dengan suhu diatas 40 oC setelah pemberian misoprostol 1000 mikrogram ( 200 mikrogram secara oral + 400 mikrogram secara sublingual = 400 mirkogram secara rektal). Nampaknya tidak ada laporan lainnya pada demam tinggi yang mengikuti pemberian misoprostol secara rekstal untuk PPH. Di Pakistan, sebuah kasus tunggal dari deman tinggi 9 dari 290 mengikuti perawatan tinggi dengan dosis sublingual 600 mikrogram telah dilaporkan. Yang terbaru, dua penelitian multicenter yang menguji suatu regimen 800 mikrogram dari

mikrogram ) pada perawatan pertama PPH diantara wanita yang mengalami irisan pada uterine untuk pemberian secara vaginal. Rute sublingual itu dikenali memiliki potensi terbesar untuk perawatan PPH karena pengaruhnya yang cepat, durasi pengaruh jangka panjang,dan bioavailabilits tertinggi, dibandingkan dengan rute pemberian misoprostol lainnya. Penelitian ini membandingkan misoprostol dengan oksitosin dengan menggunakan rancangan penelitian non-inferioritas terkendali dengan placebo. Dalam total,, sebanyak 1787 wanita telah dirawat dengan salah satu dari dua regimen ; 800 mikrogram dari misoprostol sublingual ( n= 895) ditambah satu ampul larutan garam atau 40 iu dari ositosin intravena (IV) ositosin (n=892) ditambah tablet placebo yang menggabungkan misoprostol. Penyediaan dan wanita memakai topeng saat pemberian pengobatan. Kehilangan darah pasca melahirkan , perubahan dalam tingkatan hemoglobin baik sebelum dan setelah melahirkan, dan kekuatan intervensi tambahan terhadap perawatan penelitian awal ini telah didokumentasikan untuk menilai kecukupan dari tiap terapi uterotonik. Median kehilangan darah pada waktu pemberian PPH ialah 700 ml, dan endapan aktif telah dikendalikan dalam 20 menit dengan perawatan penelitian awal saja untuk sebanyak sembilan dari sepuluh wanita yang dirawat dengan misoprostol rumah sakit dari Burkina faso, Ekuador, Messir, Turki,dan Vietnam berperan serta dalam riset klinis dari Agustus 2005 hingga Januari 2008. Penemuan study dan rancangan trial ini telah dilaporkan secara terpisah. Study ini merupakana analisis post hoc dari profile efek samping dan efek sekunder yang dapat diterima yang diasosikan dengan perawatan misoprostol. Data lalu dikumpulkan pada efeksamping ibu yang terdeteksi oleh penyedia atau dilaporkan oleh wanita itu dalam 20 menit pertama dari pemberian parah) dari perawatan efek . Penerima yang obat lalu dan mengihitung keparahan ( sedang, menengah atau samping tercatat, melampirkan perawatan apapun yang diberikan untuk

mengelolanya.

Efek

samping

yang

memerlukan

perawatan dikelompokan sesuai dengan protokol klinis masing masing rumah sakit. Jika demam dialami oleh wanita atau oleh pemberi obat, maka suhu tubuh lalu diukur dengan termometer standar yang digunakan dalam tiap pusat kesehatan itu. Pada 3 jam pasca melahirkan, penyedia memeriksa status kesehatan wanita itu dan mencatat bila ada efek samping yang dialami sejak pemeriksaan terakhir. Berdasarkan keputusan dari rumah sakit, pemberi mewawancarai wanita mengenai penerimaan efek samping setelah pemberian pengobatan. Penyelidik pada semua lokasi diberitahu akan adanya efek samping yang tidak terduga atau berlebihan , dan apapun pengaruh yang merugikan pada lokasi lainya. Suatu dewan keselamatan dan penean mereview data independen dari telah didirikan untuk laporan kejadian merugikan,

memberikan nasehat mengenai pengelolaan resiko, dan mereview analisis interim untuk menjamin berlanjutnya validitas ilmiah dan kekuatan dari study itu . pengawasan teratur dan penentuan dari staf penyelidik yang melanjutkan durasi trail itu. Protokol study itu telah diterima oleh dewan review internasional barat (WIRB) begitu juga semua komite etik lokal terkait. Dengan laporan pertama akan suhu tubuh > 40 C , pemberi lalu dilatih pada bagaimana untuk mengenali, Praktek termasuk menerapkan asetaminopfen mengukur melepaskan kompress oral dan dan untuk mengelola mengurangi dari dingin, demam. demam pasien, detail manajemen
o

selimut

memberikan

memastikan

diasosiasikan dengan efek samping ini di Ekuador, dimana laporan deman tinggi ialah yang paling sering, dengan pemberi diminta untuk melengkapi suatu formulir study tambahan untuk mendokumentasikan kemunculan, durasi, suhu puncak, dan perawatan dari kasus dengan demam tinggi .ketika demam telah diselidiki, pada pemberi tiap mengukuran jam suhu tubuh dengan wanita,dan meneruskan untuk mengukur suhunya selang maksimum

menggunakan

termometer

oral,

hingga
0

demam

umum terjadi oleh peningkatan tajam dalam suhu dalam 1 jam pemberian obat, puncak suhu dalam 1-2 jam setelah permberian obat, dan penurunan bertahap dalam suhu terjadi dalam masa 3 jam . Suhu rata rata yang masih tetap diatas 40 oC selama kurang dari 2 jam , dan terukur dibawah 38,0 oC sekitar 6 jam setelah menerima misoprostol (gambar 1). Trend suhu badan untuk demam ringan / menengah mengikuti pola yang mirip ,tapi dengan suhu puncak lebih rendah (data tidak ditampilkan). Wanita diberikan dengan secara demam tinggi dirawat dengan asetaminofen oral, kompres dingin, dan aspirin yang intravena. Praktek perawatan sungguh mirip bagi wanita dengan demam ringan hingga menengah, meksipun kemunculan gejala demam ringan / menengah tidak memerlukan pemberiian aspirin IV. Sebuah analisis kemunculan gejala ini menujukkan bahwa kasus demam ringan hingga menengah yang dirawat hanya dengan asetaminofen oral atau kompresn dingin ( data tidak ditampilkan). Tabel 1. Tingkatan menggiigil, demam ,dan suhu badan > 40
o

menurun ( terukur dibawah 38,0 C). Termometer timpanik dan oral digital juga digunakan untuk membandingkan hasil dengan temometer merkuri oral. Formulir study tambahan ini dimasukkan dalam database terpisah, digabungkan dengan data Ekuador dari trial yang besar itu ,dan dianalisa menggunakan paket software statistik ilmu sosial V.13. (SPSS, chicago, IL, USA). Statistik deskriptif dihitung untuk efek samping ibu dan keparahannya. Sutu kenaikan suhu tubuh mengukur > 40 C atau 38 39,9
o o

C telah dikelompokkan sebagai deman

ringan / menengah , berturut-turut. Perbandingan antar wanita Ekuador dengan dan tanpa demam tinggi telah dilakukan menggunakan uji chi-square dan uji tepat Fisher. Analisis subgroup dilakukan untuk membangun konsitensi kecukupan dan keamanan bagi berbagai subgrup atau subgrup bersiko. Tingkatan demam tinggi di Ekuador lalu dibandikan dengan tingkatan laporan dari lokasi lainnya. Resiko relatif (RR) dan selang kepercayaan dihitung sesuai keperluan. Hasil Sebanyak total 89 wanita yang menerima misoprostol sublingual 800 mikrogram untuk perawatan PPH prime. Efek samping paling sering terjadi setelah pemberian obat misoprotol ialah mengigil ( 42,6 ; 381/890 dan demam (34,1 ; 30/89) .laporan akan menggigil, demam, dan suhu > 40 C diantar wanita yang menerima misoprostol berbeda lintas lokasi. (tabel 1). Pa rumah sakit di Ekuador , sebanyak 3,6 ( 8/163) dari wanita yang menerima misoprostol mengalami deman > 40 oC , dibandingkan dengan tingkatan laporan lainnya yang berkisar dari 0 hingga 9, pada delapan rumah sakit lainnya. Tidak ditemukan laporan akan efek samping yang dihasilkan dalam bentuk rawat inap rumah sakit lebih lama,dan semua wanita dengan demam tinggi itu telah mengalami penyembuhan
o 0

berdasarkan

tempat

setelah

pemberian misoprostol untuk perawatan PPH. Gambar 1. Rata rata konsentrasi plasma misoprostol setelah pemberian misoprostol sublingual ( 800 mikrogram) dan rata rata suhu dari 8 kasus deman tinggi sepanjang waktu.

penuh.

\trend

suhu

badan

juga

Tabel 1. Tingkatan menggigil, demam ,dansuhu badan > 40 oC berdassrkan tempat setelah pemberian misoprostol untuk perawatan PPH.

didokumenti sebanyak 8 kasus dari demam tinggi ( > 40 C ) di Quito, Ekuador. Demam tinggi secara

mual, dan diare, jarang dilaporkan ,dan tingkatannya itu tidak berberda berdasakan tingkatan demamnya. Delirium atau sensorium perubahan (seprti disorientasi, kebingungan, berkuranngya pandangan ganda atau kabur) gangguan bicara, kekacauan otot, ketegangan saraf, atau halusinasi) telah dilaporkan pada delapan wanita ( 8/8) dengan demam tinggi versus tiga wanita (3/93) yang mengalami demam rringan hinga deman menengah ( RR 4,28; 9 ci 1,181,0). Karakteristik dasar dibandingkan denganan wanita Ekuador yang tidak dan yang mengembangan demam tinggi ,kecuali untuk PPH sebelumnya dan pemutusan tali pusat (tabel 2). Pencapaian hasil diasosiasikan uterotonik dengan , kehilangan untuk darah pasca melahirkan di Ekuador (yaitu kecukupan terapi Gambar 1. Rerata konsentrasi plasma misoprostol setelah pemberian misoprostol sublingual ( 800 mikrogram) dan rerata suhu dari 8 kasus demam tinggi sepanjang waktu. Di Ekuador, hampir semua peserta 9 92,65 ; 11/163) menerima 800 mikrogram misoprostol secara sublingual telah mengalami kenaikan suhu badan ( > 38 oC ). Menggigil biasanya mengikuti demam, tanpa memandang pada suhu puncak (89,6; 146/163) menggigil parah ( didefinisikan sebagai getaran hebat tak terkendali yang membuatnya sulit untuk mengartikulaikan atau mengendalikan pergerakan tubuhya) ialah yang paling sering dilapokan diantara wanita dengan suhu > 40 oC ( 27,6;16/8) dibandingkan dengan mereka yang tanpanya ( 2,9; 3/10; RR 9,66; 9 CI 2,94-31,8). Menggigil menengah digambarkan sebagai menghasilkan getaran kuat yang tidak mempengaruhi ucapan atau gerakan mobilitas. Demam tinggi sering diawali oleh mengiggil menengah atau hebat dalam 20 menit pertama dari pemberian misoprostol ( 41,4 (24/8) versus 13,3 dari wanita yang tidak mengembangkan demam tinggi (14/10) ; RR 3,10 ; 9 CI 1,74 - ,20. Efek samping yang diketahui lainya dari misoprostol ,seperti muntah, awal waktu mengendalikan pendarahan aktif, dan total kehilangan darah) tidak berbeda antar wanita dengan demam tinggi dan yang tanpa demam, yang menunjukkan konsistensi pada pencapaian hasil subgrup. Kekuatan intervensi tambahan (termasuk tranfusi darah, penyelidikan dibawah anestesi dan pemberian obat uterotonik tambahan) ternyata mirip pada wanita dengan demam dan yang tanpa demam. Diantara wanita yang diberikan uterotonik tambahan( n = 12) , misoprostol rektal ( 200 mikrogram) diberikan untuk satu wanita dalam grup demam tinggi itu (1/40), dan yang pada wanita dalam grup demam tidak tinggi , yang menerima 800 mikrogram (1/8). Sebanyak 48,3 wanita (28/8) yang mengembangkan demam tinggi telah diberikan elektrolik cair IV. Setelah kenaikan suhu, dibandingkan dengan sebanyak 3,2 wanita 937/100 tanpa demam tinggi ( p = 0,0720). Wanita yang mengembangkan demam tinggi nampaknya melaporkan dalam kondisi baik saat keluar rumah sakit sebagaimana halnya mereka yang tidak mengalami demam tinggi. Tabel 2. Karakteristik populasi wanita Ekuador berdasarkan kejadian tingkatandemam tinggi yang mengikuti perawatan dengan misoprostol

ringan / menengeh untuk melaporkan demam itu sendiri sebagai tak dapat ditoleransi . (RR 1,0; 9 CI 0,97 2,320. Pembahasan Hasil penelitian ini memperkuat bahwa wanita yang menerima misoprostol pasca melahirkan ada dalam resiko mengalami menggigil dan demam. Seperti penelitians ebelumnya pengaruh itu nampaknya berhubungan, kuat , terbatas pada perorangan ,dan tidak berakibat dalam komplikasi kesehatan tambahan . juga, yang mengejutkan ialah tingkatan tak terduga dari demam tinggi di Ekuador seperti dibandingkan dengan lokasi study lainnya,dengan lebih dari sepertiga wanita dri dirawat dengan misoprostol yang menebangkan suhu > 40 oC. Sebuah perbandingan tingktan keserluhan mengigil dan demam antara lokasi menunjukan bahwa respon termoregulatoris terhadap misoprotol Secara rata-rata , wanita yang keluar dari rumah sakit di Ekuador mencapai 27.4 ( + 9,9) jam setelah pemberian, dengan ketergantungan kejadian demam ( p = 0,749). Wawancara keluar talah dilakukan segera bagi wanita yang akan keluar rumah sakit. Diantara wanita itu yang mengalami demam > 40 oC , sebanyak sepetiga darinya (18/8) tidak melaporkan mengalami efek samping buruk ini; bahkan , juga tidak ada pemberi yang melaporkan delirium/ sensorium berubah atau mati rasa yang diakui oleh wanita itu selama wawancara keluar rumah sakit. Bahkan,sebanyak 0,9 ( /108) dan 44,0 ( 44/100) dari wanita yang mengkonfirmasi laporan pemberi obat telah melaporkan mengalami mengigil dan demam selama wawancara keluar mereka tak yang dapat mengelompokkan mereka sebagai diantara wanita Ekuador tercatat berbeda dari wanita dirawat di lokasi lainnya (tabel 1). Berdasarkan pada penelitin ini, dokumensi lengkap dari karaktersitik demam, terutama demam yang terukur > 40 oC , telah dianggap langka. trend suhu itu yang tercatat dalam study kami menunjukkan deman terpengaruh misoprostol diikuti dengan pola terduga, dan demam tinggi ialah seringkali dimulai dengan menggigil menengah hingga parah dalam 20 menit pertama dari pemberian obat misoprostol. Kebalikan dengan gangguan yang fatal , tidak teratur, tidak terkendali dalam suhu diasosiasikan dengan hipertermia, demam tinggi di Ekuador menunjukan suatu pola yang berbeda, pola yang konsisten, ; suhu memuncak hingga sekitar 1, jam setelah pemberian misoprostol oral ,dan menurun kemudian. Seperti ditunjukkan di gambar 1, pola kenaikansuhu meniru konsentrasi plasma darah misoprostol yang mengikuti pemberiian sublingual. Sebanyak 30-60 lag waktu antara puncak dalam konsenrsi plasma dan suhu mungkin diatribusikan dengan waktu yang diperlukan untuk tanda sinyal febril yang diterima dan diolah dalam hipotalamus, seperti juga untuk proses fisiologi diasosisikan dengan demam untuk menaikkan suhu

ditoleransi. Wanita yang mengalami demam tinggi juga melaporkan menggigil sebagai tidak dapat ditoleransi, dibandingkan dengan wanita yang tidak mengembangkan demam tinggi (RR 1.; 9 ci 1,042,18). Yang menariknya, wanita yang mengembangkan demam tinggi juga nampaknya tidak mirip dengan wanita yang mengalami demam

tubuh. Data ini menunjukkan bahwa kenaikan suhu diasosisikan dengan penggunaan misoprostol bersifat tergantung pada konsentrasi plasma, dan menjelaskan mengapa demam tergantung pada dosis dan rute pemberian obatnya. Kenaikan suhu diasosisikan dengan misoprotol nampaknya sesuai dengan perubahan dalam titik pengaturan hipotalamik dan tidak sebagai kasus hipertermia, tapi lebih sebagai kasus pyrexia. Juga, tepatnya pada prostaglandi E-seies (pGE) yang terlibat dalam mekanisme demam endogen dan prostaglandin E2 (pGE2) tentunya juga dikenal sebagai meditor utama untuk induksi demam melalui interaksi dengan reseptor ep3. Meskipun, belum terbukti bahwa progtaglandin E1 (PGE1) , yang mana misoprotol bersifat analog, bertindak berbeda dari PGE2. Kenyatannya, bentuk yang aktif secara biologi dari misoprostol, yaitu asam misoprostol, telah menunjukkan berikatan dengan reseptor ep3. Dengan mempertimbangkan pembuktian ini, kami menyusun teori bahwa dalam bis hadirnya PGE kasus endogen demam, dalam dengan misoprostol kerangka ameniru

prostaglandin pada wanita hamil. Meksipun, penelitin pra-klinis menunjukkan produksi kebalikaknya, antipiretik bahwa dan kehamilan secara alami menekan demam karena meningkatnya berkuranngya Tingkatan endogen pembentukan yang pyrogen mengikuti endogen. perawatan

demam

misoprostol dalam wanita pasca melahirkan , tidak Nampak melebihi tingkatkan pada wanita yang diberikan dosis sama . Selain hubungan tidak tentu antara prostaglandin, gerakan tubuh, dan demam, nampaknya masih belum diketahui bahwa prostaglandin endogen berperan dalam prose fisiologis yang terlibat dalam bekerja dan melahirkan. Prostaglandin dihasilkan oleh jaringan intrauterine pemisahan tidak dan tali terlibat pusar, dalam dan membentukan unterine. pelepasan membrane, pembesaran servik, kotraksi myometrial, involusi dengan Kenyatannya, mengigil pasca melahirkan bersifat umum, dan dikaitkan prostaglandin saat menyapih. Dalam penelitian ini, demam tinggi lebih umum dintara wanira Ekuador yang mengalami pelepasan tali placenta cepat (table 2). Karena prostaglandin endogen terlibat dalam pemisahan plasenta, maka melimbahnya kadar prostaglandin endogen dan eksogen juga mungkin akan meningkatkan resiko mengigil dan demam pada wanita Ekuador. Yang menarik, ukuran tali pusat secara umum lebih besar pada kelompok populasi dengan lokasi tempat yang tinggi / high latitude ( suatu respon perkembangan terhadap lingkungan yang hypooksigen), dan seharusnya dipertimbangkan lebih lanjut oleh peneliti yang memepelajri proses fisologis ini. Beberapa peneliti telah mengajurkan diikuti bahwa dengan meningkatnya tingkat demam

pemikiran

termoregulatoris

mengubah titik suhu hipotalamus menjadi naik dan memicu kenaikan suhu itu. Penelitian farmakologhi lebih lanjut nampaknya diperlukan untuk menvalidasi hipotesis ini. Juga , yang lebih penting lagi, demam ini telah dapat dikelola dengan baik oleh perawat setempat dengan praktek perawatan local dalam kompetensi klinis dari pemberi obat itu. Demam yang mengikuti suatu perkiraan itu (gambar 10 ,dan masih belum jelas jika praktek perawatan itu berpengaruh pada resolusi demam. Karena antipiretik bekerja dengan endogen, nampaknya dihasilkan eksogen. Beberapa peneliti telah menunjukan bahwa tingkatan kenaikan demam mengikuti pemberian misoprostol pasca melahirkan mungkin berakibat dari turunya keadaan kenaikan suhu yang diinduksi oleh mengimbitasi maka dari konsisten paparan produksi efek dengan terhadap prostaglandin pengobatan yang prostaglandin demam kuranngya

pemberian misprostol pasca melahirkan mungkin berakibat dari rendahnya kemampuan prostaglantin dalam mengatur kenaikan suhu pada wanita hamil. Meksipun, penelitian pra-klinis menunjukkan kebalikanya, yaitu kehamilan secara alami menekan demam karena meningkatnya produksi aintipiretik endogen dan bekurangnya pembentukan pyrogen

endogen.

Tingkatan

deman

yang

mengikuti

rumah sakit yang berperan serta dalam protocol yang sama. Karena kemunculan gejala demam yang menengah / parah dan demam tinggi setelah pemberian misopostol untuk PPH terdeteksi jelas oleh pemberi obat dalam satu jam pertama pasca pemberian, kami tidak meyakini bahwa perbedaan dalam laporan demam tinggi antar rumah sakit itu diatribusikan dengan perbedaan variasi dalam durasi rawat inap di rumah sakit itu. Kemudian, dengan mengikuti laporan pertama akan suhu tubuh yang naik di Quito, terutama di lokasi lainnyan hal ini telah diperingatkan Kunjungan mengenai kemungkinan teratur pada efek lokasi itu. ini pengawas

pemberian misoprostol pada wanita pasca melahirkan dalam keadaan itu, tidak Nampak melebihi tingkatan pada wanit ayang diberikan dosi s sama seperti diatas dalam gestasi mereka. Selain hubungan tidak pasti antar prostaglandin, gestsi dan demam, masih belum diketahui bahwa prostaglandin melahirkan. membrane Kenyatannya, nampaknya dengan endogen berperan yang penting dihasilkan servik, pasca mungkin dalam oleh proses fisiologis yang terlibat dalam bekerja dan Prostaglandin itu, jaringan intrauterine dan terlibat dalam lepasnya pembesaran menggigil tidak umum,dan kontraksi melahirnya berkaitan saat pada myometrial, pemisahan placenta, dan involusi uterin.

mengakui bahwa kemunculan mengigil, demam dan suhu > 40 oC masih tetap konsisten ada semu lokasi selama study ini. Usaha untuk meminta perhatian team study terhadap kemungkinan efek ini tidak berhasil meningkatkan laporan demam tinggi. Masih belum jelas mengapa wanita di Quito menunjukkan tingkatan tinggi tanpa karakteristik dari demam yang mengikuti pemberian misoprostol pasca melahirkan. Kemudian, dengan mengikuti laporran demam tinggi, team study di Ekuador mereview kedua praktek klinis mereka dan karakteristik pasien yang mungkin berperan terhadap meningkatnya emam tinggi. Pola atau asosiasi dengan pengobatan lainnya yang diambil dan /atau kondisi kesehatan lainyya masih diselidiki, dan belum ada yang ditemukan. Pada saat penyelesaian study, lengan pemberi obat tidak menggunakan penutup, yang menunjukkan bahwa demam tinggi hanya terjadi pada wanit yang dirawat dengan misoprostol ; tidak ada kasus dengan demam tinggi didokumentasikandalam kelompok oksitosin di lokai study lainnya. Kejadian demam tinggi juga ditemukan tersebar merata terhadap study ini, dan tidak berkelompok pada kerangka wanita tertentu, yang mungkin mengindikasikan masalah infeksi dalam tenaga medis atau tenaga bidan, atau dengan pelengkap study lainnya. Dengan demam tinggi itu hanya terjadi diantara wanita yang dirawat dengan misoprostol, bersifat jangka pendek, dan tidak dirawat dengan

pelepasan

prostaglandin

pemisahan. Dalam study ini, tingkatan demam yang tinggi lebih umum pada wanita Ekuador yang mengalami pelepsaan placenta cepat (table 2). Karena baik prostaglandin endogen endogen terlibat dalam mungkin pemisahan placenta, maka banjirnya prostaglandin maupun eksogen meningkatkan resiko mengigil dan demam pada wanita Ekuador. Yang menarik, ukuran placenta sungguh secara umum lebih besar dalam populasi daratan tinggi ( suatu respon perkembangan terhadap lingkungan hipooksigen), dan seharusnya dimasukkan dalam penelitian lebih lanjut oleh para penelitia yang mempelajari proses fisiologi ini. Beberapa study PPh menguji regimen sublingual atau oral yang secara sitematis mengukur suhu tubuh pada selang waktu ditentukansebelumnya setelah penggunaan pasca melahirkan. Beberapa study mendokumentasikan kemunculan demam bedasarkan pada pengukuran suhu rutin hanya setelah demam dilaporkan oleh wanita atau terdeteksi oleh pemberi obat. Metode ini memberikan hasil dalam pelaporan demam dari study sebelumnya, sepeti juga dalam lokasi study yang dibahas dalam tulisan ini. Tingkatan pasca melahirkan yang diawasi ini juga mengarah ke berbagai tingkatan atau pelaporan demam lintas

antibiotik,

infeksi

dianggap

bukan

sebagai

ynag berbeda mungkin meminimalkan kemunculan kejadian itu. Saat ini, masih belum ada data yang memdukung rute pemberian obat lainny atau dosis rendah misoprostol sebagai perawatan utama bagi PPH. Selanjutnya, kami tidak mengetahui jika perawatan itu mempengaruhi kekuatan demam yang diinduksi oleh misoprostol: terutama demam yang ditampilkan di dalam tulisan ini mengikuti pola terduga yang bersifat independen dari jenis pengelolaannya. Bahkan, pemberi obat haruslah diberitahu apa yang harus diharapkan mengenai kenaikan suhu tubuh, mengigil dan efek samping lainya yang mengikuti pemberian obat misoprostol pasca melahirkan, dan seharusnya diberitahu untuk menerima perawatan dan ukuran penelitian tersebut. Hingga hubungan definitive/jelas antara perbedaan variasi genetic atau variasi lingkungan dan respon obat dapat dibangun, mak perntanyaan mengapa beberapa wanita mengembangkan suhu tubuh tinggi dan mengapa begitu banyak demam tinggi terjadi di ekudor, akan tetap belum terjawab. Penelitian dapat pengembangan farmakogenetik mungkin

penyebabnya. Factor lingkungan seperti elevasi tinggi dataran Quito begitu juga factor genetic juga harus dipelajari lebih lanjut sehingga suatu variasi demam genetic endogen yang yang mendukung misoprostol, yaitu analog PGE1, untuk mengktivasi mekasnime umumnya dipicu oleh PGE2. Jik hal ini sebagai kasus maka tingkatan tinggi demam pada wanita Ekuador mungkin menampilkan alela varian frekuensi tinggi dalam populasi homogey ini. Peran potensial ketinggian tempat pada kejadian demam juga masih spekulatif. Kenyatannya, tidak ada laporan utnuk mencatat demam tinggi yang terjadi setelah pemberian misoprostol dalam puerperium di wialayah elevasi tinggi. Factor lingkungan lainnya seperti suhu ruang di Quito tidak diduga berperan pada tingkatan demam tinggi. Karena elevasi dataran dan jaraknya dengan garis ekuator, maka Quito memiliki iklim dingin yang cukup konstan dingin, dengan suhu tahunan rata-rata 19 oC (66oF). Yang lebih penting lagi, populasi peserta di Quito sungguh homogen, sehingga, kejadian, perawatan, dan penyebab demam tinggi yang ditampilkan dalam tulisan ini mungkin memiliki generalisasi yang

menerangkan lebih jauh pada hipotesis ini. Keterangan kepentingan Kami menyatakan bahwa kami tidak mengalami pertentangan kepentingan /conflict of interest. Keterangan persetujuan etika Protocol penelitian ini telah disetujui oleh dewan review institusi Barat (WIEB) begitu juga oleh semua komite etika setempat terkait. Selesai

terbatas pada populasi lainnya. Terpisah dari lokasi study yang dibahas di dalam tulisan ini, masih belum diketahui Meskipun mengenai apakah terdapat kejdian populasi banyak demam lainnnya juga akan tersisa Ekuador, mengalami tingkatan demam yang sama. pertanyaan tinggi di

penemuan kami sesuai dengan pengalaman dan riset sebelumnya yang menunjukkan efek samping yang mengikuti pemberian obat misoprostol tidak sebagai mengancam kehidupan. Demam nampaknya umum ditemukan ketika misoprostol diberikan untuk serangkaian indikasi kesehatan. Trend suhu yang didokumentasikan daam penelitian ini memberian kepastian bagi dokter bahwa demam yang dipengruhi oleh misoprostol (tanpa memandang seberapa tinggi puncak demam itu ) ialah bersifat sementara /transitory. Dosis rendah atau rute pemberian obat