Anda di halaman 1dari 14

Paradigma-Paradigma Akuntansi Oke, kesempatan kali ini saya coba membahas mengenai paradigma-paradigma yang pernah ada dan

berlaku di cabang ilmu akuntansi hingga sekarang ini.. salah satu aktor yang membuat/mengagas paradigma itu adalah burrell dan morgan (1979) berikut merupakan penjelasan secara singkat.: Berikut merupakan penjelasan bagan di atas mengenai beberapa paradigm yang telah dibangun oleh Burrell dan Morgan 1. Functionalist Paradigm (Objective-Regulation) Paradigma ini merupakan paradigma yang dominan pada studi organisasi. Paradigma ini menyediakan penjelasan yang rasional tentang masalah kemanusiaan. Pada dasarnya paradigma ini bersifat pragmatis dan mengakar kepada konsep positivisme. Hubunganhubungan yang ada bersifat konkret dan bisa diidentifikasi, dipelajari, dan diukur melalui media ilmiah. Paradigma ini dipengaruhi oleh idealis dan marxis. 2. Interpretive Paradigm (Subjective-Regulation) Paradigma ini menjelaskan tentang kestabilan perilaku dalam pandangan seseorang individual. Paradigma ini memfokuskan pada pemahaman mengenai dunia yang diciptakan secara subjektif apa adanya serta prosesnya. Filosofer seperti Kant membentuk dasar dari paradigm ini, sementara Weber, Husserlm dan Schutz melanjutkan ideology ini 3. Radical Humanist (Subjective-Radical Change) Pada pandangan paradigm ini, kesadaran seseorang didominasi oleh struktur ideologinya, cara pandang hidupnya dan interaksinya dengan lingkungan. Hal ini akan mengarahkan hubungan kognitif antara dirinya dan kesadaran sebenarnya, sehingga mencegah pemenuhan kepuasan pada manusia. Para pendukung teori ini memfokuskan pada pembentukan batasan

sosial yang mengikat potensial. Filosofer yang mendukung teori ini antara lain Kant, Hegel dan Marx. Paradigma ini dapat dipandang sebagai paradigma yang anti organisasi 4. Radical Structuralist (Subjective-Radical Change) Paradigma ini mempercayai bahwa perubahan radikal dibentuk pada sifat struktur sosial. Masyarakat kontemporer dapat dikarakteristikan dengan konflik fundamental yang akan menghasilkan perubahan radikal melalui krisis politik dan ekonomi. Paradigma ini berdasarkan pada Marx, yang diikuti oleh Engles, Lenin, dan Bukharin. Paradigma ini memiliki sedikit perhatian di Amerika diluar teori konflik. Namun pendapat Burrell dan Morgan serta Gioia dan Pitre dikritisi oleh Chua (1986) dan Sarankos (1998) yang membagi paradigma penelitian menjadi 3 bagian, yakni: 1. Paradigma positivis.

Secara ringkas, positivisme adalah pendekatan yang diadopsi dari ilmu alam yang menekankan pada kombinasi antara angka dan logika deduktif dan penggunaan alat-alat kuantitatif dalam menginterpretasikan suatu fenomena secara objektif. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa legitimasi sebuah ilmu dan penelitian berasal dari penggunaan data-data yang terukur secara tepat, yang diperoleh melalui survai/kuisioner dan dikombinasikan dengan statistik dan pengujian hipotesis yang bebas nilai/objektif (Neuman 2003). Dengan cara itu, suatu fenomena dapat dianalisis untuk kemudian ditemukan hubungan di antara variabel-variabel yang terlibat di dalamnya. Hubungan tersebut adalah hubungan korelasi atau hubungan sebab akibat. Bagi positivisme, ilmu sosial dan ilmu alam menggunakan suatu dasar logika ilmu yang sama, sehingga seluruh aktivitas ilmiah pada kedua bidang ilmu tersebut harus menggunakan metode yang sama dalam mempelajari dan mencari jawaban serta mengembangkan teori. Dunia nyata berisi hal-hal yang bersifat berulang-ulang dalam aturan maupun urutan tertentu

sehingga dapat dicari hukum sebab akibatnya. Dengan demikian, teori dalam pemahaman ini terbentuk dari seperangkat hukum universal yang berlaku. Sedangkan tujuan penelitian adalah untuk menemukan hukum-hukum tersebut. Dalam pendekatan ini, seorang peneliti memulai dengan sebuah hubungan sebab akibat umum yang diperoleh dari teori umum. Kemudian, menggunakan idenya untuk memperbaiki penjelasan tentang hubungan tersebut dalam konteks yang lebih khusus. 2. Paradigma interpretif

Pendekatan interpretif berasal dari filsafat Jerman yang menitikberatkan pada peranan bahasa, interpretasi dan pemahaman di dalam ilmu sosial. Pendekatan ini memfokuskan pada sifat subjektif dari sosial world dan berusaha memahaminya dari kerangka berpikir objek yang sedang dipelajarinya. Jadi fokusnya pada arti individu dan persepsi manusia pada realitas bukan pada realitas independen yang berada di luar mereka (Ghozali dan Chariri, 2007). Manusia secara terus menerus menciptakan realitas sosial mereka dalam rangka berinteraksi dengan yang lain (Schutz, 1967 dalam Ghozali dan Chariri, 2007). Tujuan pendekatan interpretif tidak lain adalah menganalisis realita sosial semacam ini dan bagaimana realita sosial itu terbentuk (Ghozali dan Chariri, 2007). Untuk memahami sebuah lingkungan sosial yang spesifik, peneliti harus menyelami pengalaman subjektif para pelakunya. Penelitian interpretif tidak menempatkan objektivitas sebagai hal terpenting, melainkan mengakui bahwa demi memperoleh pemahaman mendalam, maka subjektivitas para pelaku harus digali sedalam mungkin hal ini memungkinkan terjadinya trade off antara objektivitas dan kedalaman temuan penelitian (Efferin et al., 2004). 3. Paradigma critical

Menurut Neuman (2003), pendekatan critical lebih bertujuan untuk memperjuangkan ide peneliti agar membawa perubahan substansial pada masyarakat. Penelitian bukan lagi menghasilkan karya tulis ilmiah yang netral/tidak memihak dan bersifat apolitis, namun lebih bersifat alat untuk mengubah institusi sosial, cara berpikir, dan perilaku masyarakat ke arah yang diyakini lebih baik. Karena itu, dalam pendekatan ini pemahaman yang mendalam tentang Suatu fenomena berdasarkan fakta lapangan perlu dilengkapi dengan analisis dan pendapat yang berdasarkan keadaan pribadi peneliti, asalkan didukung argumentasi yang memadai. Secara ringkas, pendekatan critical didefinisikan sebagai proses pencarian jawaban yang melampaui penampakan di permukaan saja yang seringkali didominasi oleh ilusi, dalam rangka menolong masyarakat untuk mengubah kondisi mereka dan membangun dunianya agar lebih baik (Neuman, 2003:81). Sehingga 2 paradigma yang dibangun oleh Burrell dan Morgan serta Gioia dan Pitre yaitu Paradigma Radical Humanist dan Radical Structuralist menjadi satu. Hal ini dimungkinkan munculnya paradigm baru yang merupakan gabungan antara kedua paradigm tersebut. Dalam hal ini pendapat penulis didukung oleh Chua maupun Sarankos yang mewadahi kedua paradigma tersebut dalam satu wadah yaitu Paradigma Kritis (The Critical Paradigma). Penulis menggabungkan antara paradigm Radical Humanist dan Radical Structuralist menjadi satu karena menurut pendapat penulis kedua paradigm tersebut sebenarnya memiliki kesamaan ide. Paradigma ini mirip dengan Radical Humanist namun structuralist lebih bersifat makro yaitu pada kelas-kelas (kelompok) yang ada dalam masyarakat atau struktur industri. Kelas-kelas tersebut menimbulkan dominasi satu kelompok tertentu (yang lebih tinggi, seperti pengusaha) terhadap kelompok lainnya (yang lebih rendah, misalnya buruh).

PARADIGMA DALAM RISET AKUTANSI Dalam suatu riset Chariri dan Ghozali (2001) menuliskan bahwa pendekatan klasikal lebih menitikberatkan pada mekiran normative yang mengalami kejayaannya pada tahun 1960-an. Pada tahun 1970-an terjadi pergeseran pendekatan dalam riset akuntansi. Alasan yang mendasari pergeseran ini adalah bahwa pendekatan normative yang telah berjaya selama satu decade tidak dapat menghasilkan teori akuntansi yang siap digunakan dalam praktik sehari-hari. Alasan kedua yang mendasari usaha pemahaman akuntasi secara empiris secara mendalam adalah adanya gerakan dari masyarakat peneliti akuntansi yang menitifberatkan pada pendekatan ekonomi dan perilaku perkembangan ekonomi keuangan, terutama munculnya hipotesis pasar efisien (efficient market hypothesis) dan teori keagenan (agency theory), yang menciptakan suasana baru bagi riset empiris manajemen dan akuntansi. Chicago mengembangkan apa yang disebut dengan teori akuntansi positif (positive accounting theory) yang menjelaskan akuntansi itu ada, apa itu akuntansi, mengapa akuntanmelakukan apa yang mereka lakukan. Dan apa fenomena itub terhadap manusia dan penggunaan sumber daya. Filosofi Paradigma Metodologi Riset Suatu pengetahuan (knowledge) dibangun berdasarkan asumsi-asumsi filosofis tertentu. Menurut Burrel dan Morgan (1979), asumsi asumsi tersebut adalah ontology (ontology), epistemology (epismology), hakikat manusia (human nature), dan metodology (methodology). Ontology berhubungan dengan hakikat atau sifat atau realitas atau objek yang akan yang akan diinvestigasi. Epismologi berhubungan dengan sifat dari ilmu pengetahuan, bentuk dari ilmu pengetahuan tersebut, dan bagaimana mendaptkan serta menyebarkannya. Epistemology ini memberikan perhatian bagaimana cara untuk menyerap ilmu pengetahuan dan mengkomunikasikannya. Pendekatan subjektivisme memberikan penekanan bahwa pengetahuan bersifat sangat subjektif dan spiritual atau transcendental, yang didasarkan

pada pengalaman dan padangan manusia. Hal ini sangat berbeda dengan pendekatan objektivisme yang berpandangan bahwa pengetahuan itu berada dalam bentuk yang tidak berwujud, (Burrel Dan Morgan: 1979). Asumsi mengenai sifat manusia merujuk pada hubungan antara manusia dengan lingkunganya. Burrel dan Morgan memandang bahwa filsafat ilmu harus mampu melihat keterkaitan antara kehidupan manusia dengan lingkungannya . Pendekatan voluntarisme memberikan penekanan pada esensi bahwa manusia berada didunia ini untuk memecahkan fenomena social sebagai mahkluk yang memiliki kehendak dan pilihan bebas . manusia pada sisi ini dilihat sebagai pencipta dengan mempunyai perspektif untuk menciptkan fenomena social dengan daya kreativitasnya (Sukoharsono 2000) sebaliknya, pendekatan determinsme memandang bahwa manusia dan akktivitasnya ditentukan oleh situasi atau lingkungan tempat dia berada. Asumsi-asumsi tersebut memiliki pengaruh terhadap metedologi yang digunakan. Metedologi dipahami sebagai suatu cara menentukan teknik yang tepat untuk memperoleh pengetahuan. Pendekatan ideografik yang mempunyai unnsur utama subjektivisme menjadfi landasan pandangan bahwa seseorang akan dapat memahami dunia social dan fenomena yang diinvestigasi, apabila ia dapat memperolehnya atas dasar pengetahuan pihak pertama. Sebaliknya, pendekatan nomotetik m,empunyai system baku dalam melakukan penyelidikan yang biasanya disebut dengan system protocol dan teknik. Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, burrel dan morgan (1979) mengelompokkan pengetahuan dalam tiga paradigm yaitu paradigm fungsionalis, paradigm interpretif , paradigma structural radikal, paradigm posmodernisme. a. Paradigma fungsionalis. Paradigma fungsionallis juga sering disebut juga dengan fungsional structural atau kontinjensi rasional (rational contigensy). Paradigm ini merupakan paradigma yang umum

dan bahkan sangat dominan digunakan dalam riset akuntansi dibandingkan dengan paradigm yang lain, sehngga disebutjuga paradigm utuma (mainstream paradikm). Secara ontology, paradigm umum ini sanagat dipengaruhi oleh realitas fisik yang menganggap realitas objektif berada bebas dan terpisa di luar diri manusia. Realitas diukur, dianalisis, dan digambar secara objektif. Konsekuensinya adalah adanya jarak antar objek dan subjek. Dalam kaitannya dengan akuntansi manajemen dan system pengendalian, Macintosh (1994) mengatakan bahwa fungsionalis mengasumsikan suatu sistem social dalam organisasi yang meliputi fenomena empiris dan kongkret, yang keberadaannya bebas dari manajer dan karyawan yang bekerja di dalamnya. Pemahaman tentag realitas akan memengaruhi bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan yang benar. Secara epistemology, akuntansi utama melihat realitas sebagai realitas materi yang mempunyai suatu keyakinan bahwa ilmu pengetahuan akuntansi dapat dibangun dengan rasio dan dunia empiris. Berdaarkan keyakinan tersebut, peneliti akuntansi utama sangat yakin bahwa satu-satunya metode yang dapat digunakan untuk membangun ilmu pengetahuan akuntansi adalah metode ilmiah. Suatu penjelasan dikatakan ilmiah apabila memenuhi 3 komponen, yaitu : 1 2 Memasukkan satu atau lebih prinsip-prinsip atau hukum umum. Mengandung prakomdisi yang biasanya diwujudkan dalam bentuk pernyataanpernyataan hasil opserpasi. 3 Memilik satu pernyataan yang menggambarkan sesuatu yang di jelaskan.

Di dalam filsafat, pengujian empiris dinyatakan dalam dua cara (Chua :1986) yaitu :

Dalam aliran positivis ada teori dan seperangkat pernyataan hasil observasi independen yang digunakan untuk membenarkan atau memverifikasi kebenaran teori (pendekatan hypothetiico-deductive)

Dalam pandangan Popperin, karena pernyataan hasil observasi merupakan teori yang dependen dan dapat dipalsukan, maka teori-teori ilmiah tidak dapat dibuktikan kebenarannya tetapi memungkinkan untuk ditolak Metodologi yang riset yang digunakan oleh para fungsionalis mengikuti metodologi

yang digunakan dalamilmu alam .penganut aliran ini melakukan deskripsi atas variabel, membangun dan menyatakan hipotesis,mengunpulkan data kuantitatif,dan melakukan analisis statistika (Macintosh,1994).Beberapa riset empiris dalam akuntansi keperilakuan yang menggunakan pendekatan paragdigma fungsionalis ini (menggunakan pengumpulan data survey atau kuesioner dan analisis statistika) yang dijelaskan oleh Dillard dan Becker dengan masalah risetnya antara lain adalah:Govinrarajan dan Gupta (1985) yang menemukan hubungan antara system pengendalian dan strategi unit bisnis strategis dengan kinerja; Beberapa kelemahan metodologi paradigma funsionalis dalam riset akuntansi ,terutama akuntansi keperilakuan,mulai dirasakan oleh peneliti akuntansi lainnya.mereka mulai mempertanyakan apakah pandangan ontology realitas fisik dalah tepat untuk memahami fenomena social ?Capra dan iwan(1998) menyatakan bahwa : 1 mengadopsi paradigma ala Descartes dan metode-metode ala Newton (yang sangat mekanistis).meskipun demikian, kerangka ala Descartes sering kali tidak sesuai untuk fenomena-fenomena yang mereka gambarkan dan akibatnya modelmodel mereka semakin tidak realistis. 2 Ekonomi termasuk akuntansi ini ditandai dengan pendekatan reduksionis dan terpecah-pecah,para ahli ekonomi termasukakuntansi biasanya gagal mengetahui

bahwa ekonomi,termasuk akuntansi,hanyalah salah satu aspekdari suatu keseluruhan susunan ekologis dan social,suatu system hidup yang berdiri atas manusia dalam interaksinya yang terus-menerus. Sedangkan wahyudi (1999)menyatakan bahwa pemikiran akuntansi utama tidak memberikan perhatian pada perdebatan filosofi antara pemikiran Popper,masalah lain yang timbul daripemikiran akuntansi utama tidak memberikan pada perbedaan filosofi antara pemikiran popper, lakatos, khun, dan Feyerbend. Masalah lain yang timbul dari pemikiran akuntansi utama adalah pertanyaan dari peneliti akuntansi tentang relevansi filosofi ilmu pengetahuan alam, sebagai dasar metodologi riset akuntansi yang seharusnya lebih banyak mendekati ilmu social. Kelemahan mertode utama tersebut, menyebabkan pemikiran akuntansi mulai mencari metode metode lain atau metode alternative yang dapat secara tepat digunakan oleh akuntansi dalam memecahkan masalah masalah social.

b. Paradigma Interpretif Paradigm ini juga disebut dengan interaksional subjektif (mancintosh, 1994). Menurut Chua (1986). Pendekatan alternative ini berasal dari filsuf jerman yang menitikberatkan pada peranan bahasa, interprestasi, dan poemahaman dalam ilmu social. Sedangkan menurut Burrel dan morgan, paradigma ini menggunakkan cara pandang yang nominalis yang melihat realitas social sebagai sesuatu yang hanya merupakan tabel, nama, atau konsep yang digunakan untruk membangun realitas, dan bukanlah sesuatu yang nyata, melainkan hanyalah penanam atas sesuatu yang diciptakan oleh manusia atau merupakan produk manusia itu sendiri. Dengan demikian, realitas social merupakan sesuatu yang beradadalam diri manusia itu sendiri, sehingga bersifat subjektif bukan objektif sebagimana yang dipahami oleh paradigma fungsionalis. Pendekatan ini memmfokuskan pada sifat subjektif dunia social dan

berusaha untuk memahami kerangka berpikir objek yang sedang dipelajarinya. Fakusnya ada pada diri individu dan persepsi manusia terhadap realitas, independen di luar mereka. Bagi paradigm interpretif ini, ilmu pengetahuan tidak digunakan untuk menjelaskan dan memprediksi, namun untuk memahami (triyuwono, 2000). Berkaitan dengan system pengedalian dan akuntansi manajemen, menurut macintoosh (1994), terdapat dua perbedaan antara paradigma fungsional dengan interpretif. Perbedaan pertama adalah bahwa paradigma interpretif memusatkan perhatian tidak hanya pada bagaimana membuat perusahan berjalan dengan baik, tetapi juga bagaimana menghasilkan pemahaman yang luas dan mendalam mengenai bagaimana manajer dan karyawan dalam organisasi memahami akuntansi, berpikir tentang akunttansi, serta berinteraksi dan menggunakan akuntansi. Perbedaan kedua adalah bahwa para interaksionis tidak percaya pada keberadaan realitas organisasi yang tunggal dan konkret, melainkan pada situasi yang ditafsirkan organisasi organisasi dengan caranya masing masin. Paradigma interpretif memasukkan aliran etnometodelogi dan interaksionisme simbolis fenomenologis. Yang didasarkan pada aliran sosiologis, hermenetis, dan fenomenoloogis. Tujuan pendekatan interpretif ini adalah untuk menganalis realitas social dan bagaimana realitas social tersebut terbentuk . Terdapat dua aliran riset dengan pendekatan interpretif ini (dillard dan Becker), yairtu : 1 Tradisional, yang menekankan pada penggunaan studi kasus, wawancara lapangan, dan analisasi historis. 2 Metode Fuocauldian, yang menganut teori social dan Michael Foucault sebagai pengganti konsep tradisional histooris yang disebut dengan ahistorical atau antiquarian (Sukoharsono, 1998). Tahap aliran ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian posmodernisme .

c.

Paradigma Strukturalisme radikal Aliran alternative lainnya adalah structural radikal yang mempunyai kesamaan dengan fungsionalis ,yang mengasumsikan bahwa system sosial mempunyai keberadaan ontologism yang konkrit dan nyata.Pendekatan ini memfokuskan pada konflik mendasar sebagai dasar dari produk hubungan kelas dan struktur pengendalian,serta memperlakukan dunia sosial sebagai objek eksternal dan memiliki hubungan terpisah dari manusia tertentu.

d.

Paradigma Humanis radikal Riset-riset akan diklasifikasikan dalam paradigm humanis radikal jika didasarkan pada teori kritis dari Frankfrut School dan Hebermas.Pendekatan kritis Hebermas melihat objek studi sebagai suatu interaksi soaial yang disebut dengan dunia kehidupan,yang diartikan sebagaiinteraksi berdasarkan pada kepentingan kebutuhan yang melekat pada diri manusia dan membantu untuk pencapaian saling memahami.Interaksi sosial dalam kehidupan dapat dibagi menjadi kelompok yaitu: 1 Interaksi yang mengikuti kebutuhan sosial alami misalnya, kebutuhan akan system informasi manajemen . 2 Interaksi yang dipengaruhi oleh mekanisme system,misalnya ,pemilihan system yang akan dipakai atau konsultan mana yang diminta untuk merancang system bukan merupakan interaksi soaial yang alami karena sudah mempertimbangkan berbagai kepentingan. Macintosh menyatakan bahwa humanis radiakal memiliki visi praktik akuntansi manajemen dan system pengendalian yang berorientasi pada orang ,yang mengutamakan

idealism humanistic dan nilai-nilai yang dibandingakan dengan tujuan organisasi. Argumentasi teoritis dalam paradigm humanis radiakal dikemukakan oleh Laughlin (1987), yang menyajikan suatu diakusi dari aplikasi teori kritis Habermas dalam riset akuntansi .Laughlin menujukan bagaimana teori kritis Habermas akan sangat berguna dalam meneliti saling berkaitan (interrelation ship) antara teknologi akuntansi dengan asal mula sosialnya. Sedangakan riset akuntansi yang menggunakan pendekatan ini antara lain adalah: broadbeent et al.(1991)yang menujukkan penggunaan kerangka Habermas sian dalam menganalis aplikasi akuntansi pada industry pelayanan kesetan AS. Mereka menemukan bahwa ,walaupun akuntansi tidak diterima secara penuh sebagai teknologi manajemen dalam sector pelayanan kesetan, namun akuntansi mempengaruhi tindakan dengan cara membrikan arti atau makna dalam suatu dilema moral disekitar alokasi sumber daya pelayanan kesehatan.

e.

Paradigma posmodenisme Posmodernisme menyajikan suatu wacana sosial yang sedang muncul yang meletakan dirinya diluar paradigm modern . sehingga tidak tepat bila wacana ini dimasukkan kedalan skema paradigm yang telah dibahas sebelumnya. Bahkan dapat dikatakan bahwa paradigm posmodernisme ini merupakan op[osisi dari paradigm modern. Tujuan metode arkeologis ini adalah untuk menetapkan serangkaian diskusi, yaitu sistim wacana,dan untuk menentukan suatu rangkaian dari awal sampai akhir bagi pemikiran Foucaul. Wacana global universal yang dibentuk oleh paradigma modern merupakan bentuk logosentrisme yang memiliki kuasa yang dapat menciptakan kegagalan dalam kehidupan manusian,serta menyebabkan timbulnya rasisme,diskriminasi,pengangguran dan stagnasi. Dengan metode genealogis Foucaul melakukan kritik terhadap pengetahuan yang tertindas oleh pengetahuan yang sedang berkuasa. Kegagalan ini merupakan konsekuensi logis dari

ketidak mampuan modernismeuntuk melihat manusia secara utuh. Hal ini tercermin dalam kleilmuannya yang cenderung logosentrisme. Menurut tryuwono (1997) cirri utama dari logoosentrisme : 1 Pola piker posisi biner(dualistic dikotomis) yang

hirearki,seperti,esensi,ekstensi,bahasa badan,makna-bentuk,dan sebagainya 2

lisan-tulisan,konsep

metafora,jiwa-

Aspek keilmuan. Ilmu-ilmu positif produk modernisme banyak menekankan pada asepk praktis dan fungsi, dan sebaliknya sebaliknaya melecehkan aspek nilai (etika). Hal ini dari pernyataan ilmu-ilmu positif yang mengklaim bahwa ilmu pengetahuan harus netral dan bebas dari nilai.

Aspek praktis ,yaitu bentuk standard an praktik akuntansi yang mengklaim bahwa praktik akuntansi harus secara universal atau internasional. Klaim ini diwujudkan dengan adanya gerakan yang disebut dengan harmonosasi akuntansi. Bagi pemikir Fucault,wacana global dan universal tersebut memiliki hubungan timbal-balik antara kuasa dan pengetahuan. Fucault beranggapan bahwa kuasa tidak hanya terpusat dan terkosentersi pada para

penguasa yang sedang berkuasa dalam organisasi-organisasi formal, tetapi juga pada semua aspek kehidupan mayarakat,termasuk ilmu pengetahuan posmodernisme versi fucault terutama diartikulasikan dalam bentuk kekuasaan pengetahuan yang secara jelas mengatakan bahwa terdapat hubungan timbal- balik antara kuasa dan pengetahuan. Dillard dan Becker membahas mengenai beberapa arguemntasi teoritis dan beberapa riset akuntansi yang didasarkan pada teori Fucault , di antaranya adalah Hopwood (1987) yang mengembangkan suatu arkeologi system akuntansi dengan suatu pemahaman yang lebih baik tentang proses perubahan akuntansi. Hasilnya menyarankan bahwa arkeologi

Fucaultdian dapat menghasilkan berbagai macam faktor sosial yang direpleksikan dalam perubahan akuntansi.. loft (1986) menggunakan metode genealogi Fucault dalam menginnvestigasi hubungan antara praktik akuntansi biaya dengan sosialnya di Inggris, antara tahun 1914 sampai 1925. Analisnya mengindikasikan bahwa akuntansi merupakan suatu aktivitas sosial yang secara fundamental dan tidak dapat digambarkan makananya hanya dari perspektif teknik. Daftar Pustaka Burrell, G dan G. Morgan, 1979, Sociological Paradigms and Organisational Analysis : Elements of The Sociology of Corporate Life. Heinemann Educational Books, London Chua, Wai Fong. 1986. Radical Developments in Accounting Thought. The accounting review. Vol. LXL Oktober 1986 Creswell, John,W. 2007. Qualitative Inquiry & Research Design Choosing Among Five Approaches. Sage Publication. New Dehli Neumen, W. L., 2003, Sosial Research Method: Qualitative and Quantitative Approaches, Boston, MA: Allyn and Bacon Sarantakos, S . 1998, Sosial research, 2nd Ed., South Melbourne: Macmillan Education Australia.