Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN HDR DI RSJ GHRASIA, YOGYAKARTA

Disusun Oleh : MARYUDELA AFRIDA 32-103-08-1-2012

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS ANGKATAN XX PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2013

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN HDR

I.

KONSEP DASAR A. Pengertian Harga diri rendah adalah perilaku negatif terhadap diri dan kemampuan, yang diekspresikan secara langsung maupun tak langsung. (Scultz dan Videback, 1998). B. Etiologi Sistem konsep diri negatif C. Tanda Dan Gejala Ada 10 cara individu mengekspresikan secara langsung harga diri rendah (Stuart dan Sundeen, 1995) 1. 2. 3. 4. Mengejek dan mengkritik diri sendiri Merendahkan atau mengurangi martabat diri sendiri Rasa bersalah atau khawatir Manisfestasi fisik : tekanan darah tinggi, psikosomatik, dan penyalahgunaan zat. 5. 6. 7. 8. 9. Menunda dan ragu dalam mengambil keputusan Gangguan berhubungan, menarik diri dari kehidupan sosial Menarik diri dari realitas Merusak diri Merusak atau melukai orang lain

10. Kebencian dan penolakan terhadap diri sendiri D. Mekanisme Sebab Akibat Sebab 1.

Gangguan citra tubuh. Pengertian Gangguan citra tubuh merupakan perubahan persepsi tentang tubuh

yang diakibatkan oleh perubahan ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan makna dan objek yang sering kontak dengan tubuh, klien biasanya tidak dapat menerima kondisinya, merasa kurang sempurna kemudian akan timbul harga diri rendah

Tanda dan Gejala - Menolak melihat, menyentuh bagian tubuh yang berubah. - Menolak penjelasan perubahan tubuh. - Persepsi negative terhadap perubahan tubuh. - Mengungkapkan keputusasaan. - Mengungkapkan ketakutan.

2.

Ideal diri tidak realistic

Pengertian: Ideal diri yang terlalu tinggi sukar dicapai dan tidak

realitas, ideal diri yang suram dan tidak jelas, cenderung menuntut. Kegagalan kegagalan yang dialami dan fantasi yang terlalu tinggi yang tidak dapat dicapai membuat frustasi dan timbul harga diri rendah.
Tanda dan gejala

- Merasa diri tak berharga - Perasaan tidak mampu - Rasa bersalah - Ketegangan peran yang dirasakan - Pandangan hidup yang pesimis - Penolakan terhadap kemampuan personal atau ketidakmampuan untuk mendapatkan penghargaan yang positif Akibat Isolasi sosial : menarik diri Pengertian: Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain. Selain itu menari diri merupakan suatu tindakan melepaskan diri baik perhatian maupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung (isolasi diri) (Stuart dan Sundeen, 1995). Tanda dan Gejala - Apatis - Ekspresi wajah sedih - Afek tumpul

- Menghindar dari orang lain - Klien tampak memisahkan diri dengan orang lain - Komunikasi kurang - Kontak mata kurang - Berdiam diri - Kurang mobilitas - Gangguan pola tidur (Tidur berlebihan/ kurang tidur) - Mengambil posisi tidur seperti janin - Kemunduran kesehatan fisik - Kurang memperhatikan keperawatan diri II. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI 1. Menarik diri Data Obyektif : Apatis, ekspresi sedih, efek tumpul. Komunikasi kurang atau tidak ada. Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk. Berdiam diri dikamar/ tempat terpisah ; klien kurang mobilisasi. Menolak berhubungan dengan orang lain. Tidak melakukan kegiatan sehari- hari.

Data Subyektif KLien mengatakan lebih suka sendiri daripada berhubungan dengan orang lain.

2. Harga diri rendah. Data Obyektif : Perasaan malu terhadap diri sendiri. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik diri). Merendahkan martabat. Gangguan hubungan social, menarik diri, lebih suka sendiri.

Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan) Menciderai diri akibat harga diri rendah serta tatapan yang suram.

Data Subyektif Klien mengatakan : saya tidak bisa, tidak mampu, bodoh, tidak tahu apa-apa. Klien megungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri

3. Gangguan citra tubuh Data Obyektif : Menolak melihat, menyentuh bagian tubuh yang berubah. Menolak penjelasan perubahan tubuh. Persepsi negative terhadap perubahan tubuh. Mengungkapkan keputusasaan. Mengungkapkan ketakutan.

Data Subyektif Klien mengatakan malu terhadap dirinya sendiri.

III. POHON MASALAH Isolasi sosial : menarik diri akibat

Gangguan konsep diri : harga diri rendah

core problem

Gangguan citra tubuh

penyebab (Keliat, 1998)

IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh.

V.

FOKUS INTERVENSI Diagnosa Keperawatan : Isolasi sosial : menarik diri b.d gangguan konsep diri : harga diri rendah a Tujuan Umum Klien dapat mencegah terjadinya isolasi sosial : menarik diri, dalam kehidupan sehari-hari. b Tujuan Khusus 1. Klien dapat membina berhubungan saling percaya Kriteria evaluasi : Ekspresi wajah bersahabat Menunjukkan rasa senang Ada kontak mata Mau berjabat tangan dan menyebut nama Mau menjawab salam Klien mau duduk berdampingan dengan perawat Mau mengutarakan masalah yang dihadapi

Intervensi : Bina hubungan salign percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik a. Sapa klien dengan ramah baik dengan verbal maupun non verbal b. c. Perkenalkan diri dengan sopan Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien d. e. Jelaskan tujuan pertemuan Jujur dan menepati janji

f. g.

Tunjukkan sikap menerima klien apa adanya Beri perhatian kepada kllien dan perhatika kebutuhan dasar klien

Rasionalisasi : hubungan saling percaya merupakan dasar untuk hubungan interaksi selanjutnya.

2.

Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki. Kriteria Evaluasi : Daftar kemampuan yang dimiliki klien di RS, rumah, sekolah dan tempat kerja. Daftar positif keluarga klien Daftar positif lingkungan klien Intervensi : Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien, buat daftarnya. Setiap bertemu klien dihindarkan dari memberi penilaian negatif Utamakan memberi pujian yang realistik pada kemampuan dan aspek positif klien Rasionalisasi : Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti menilai realitas, kontrol diri atau integritas ego diperlukan sebagai dasar asuhan keperawatannya. Reinforcemen positif akan meningkatkan harga diri klien Pujian yang realistik tidak menyebabkan klien melakukan kegiatan hanya karena ingin mendapatkan pujian.

3.

Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan Kriteria evaluasi : Klien menilai kemampuan yang dapat digunakan di rumah sakit Klien menilai kemampuan yang dapat digunakan dirumah

Intervensi Keperawatan : Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih digunakan selama sakit Diskusikan kemampuan yang dapt dilanjutkan pengguanaan di rumah sakit

Berikan pujian Rasionalisasi : Diskusikan pada klien tentang kemampuan yang dimiliki adalah prasarat untuk berubah

Pengertia tentang kemampuan yang dimiliki diri memotivasi untuk tetap mempertahankan penggunaannya.

4.

Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Kriteria Evaluasi : Klien memiliki kemampuan yang akan dilatih Klien mencoba Susun jadwal harian Intervensi Keperawatan : Minta klien untuk memilih satu kegiatan yang mau dilakukan di rumah sakit. Bantu klien melakukannya jika perlu beri contoh. Beri pujian atas keberhasilan klien. Diskusikan jadwal kegiatan haria atas kegiatan yang telah dilatih. Catatan : ulangi untuk kemampuan lain sampai semuanya selesai Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan, buat jadwal. Kegiatan mandiri Kegiatan dengan bantuan sebagian Kegiatan yang membutuhkan bantuan total

Tingkatkan kegiatan yang disukai sesuai dengan kondisi klien Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan. Rasionalisasi :

Klien adalah individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri

Klien perlu bertindak secara realistis dalam kehidupannya. Contoh peran yang dilihat klien akan memotovasi klien untuk melaksanakan kegiatan.

5.

Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuanya. Kriteria Evaluasi : Klien melakukan kegiatan yang telah dilatih (mandiri, dengan bantuan atau tergantung) Klien mampu melakukan beberapa kegiatan mandiri Intervensi Keperawatan : Beri kesempatan pada untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan. Beri pujian atas keberhasilan klien Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah Rasionalisasi : Reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri kllien Memberikan kesempatan kepada klien untuk tetap melakukan kegiatan yang biasa dilakukan

6.

Kllien dapt memanfaatkan sistem pendukung yang ada Kriteria Evaluasi : Keluarga dapat memberi dukungan dan pujian Keluarga memahami jadwal kegiatan harian klien Intervensi Keperawatan : Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien denga harga diri rendah. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah. Jelaskan cara pelaksanaan jadwal kegiatan klien di rumah Anjurkan memberi pujian pada klien setiap berhasil Rasionalisasi :

Mendorong keluarga akan sangat berpengaruh dalam mempercepat proses penyembuhan klien

Meningkatkan peran serta keluarga dalam merawat klien di rumah

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Jual. (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC, Jakarta. Stuart dan Sundeen. (1995). Buku Saku Diagnosa Keperawatan Jiwa. Edisi 3. EGC. Jakarta. Keliat, Budi Anna. (1998). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. EGC. Jakarta. Stuart, GW and Laraia (2005). Principles and practice of psychiatric nursing, 8ed. Elsevier Mosby, Philadelphia Shives, R (2008). Basic concept of psychiatric and Mental Health Nursing, Mosby, St Louis