Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS PROGRAM UKGS SISWA SEKOLAH DASAR PUSKESMAS SUMBERSARI KABUPATEN JEMBER (Disusun untuk memenuhi tugas mata

kuliah Perencanaan dan Evaluasi P2KM)

Oleh : AFIF HAMDALAH, S.KM NIM. 101141048

UNIVERSITAS AIRLANGGA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT SURABAYA 2013

Pelaksanaan UKGS Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember

Pembangunan Kesehatan diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat seutuhnya termasuk di dalamnya adalah pelayanan kesehatan gigi dan mulut khususnya pada fasilitas pelayanan kesehatan dasar yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Perlu diketahui bahwa di Indonesia program UKGS telah dilaksanakan sejak tahun 1951, tetapi dampak program UKGS terhadap status kesehatan gigi murid sekolah dasar hingga saat ini belum memuaskan. Dan di lapangan ada permasalahan kejenuhan dan pesimis atas program UKGS dari tenaga kesehatan dan pihak sekolah. Sebagai wujud tindak lanjut dari upaya perbaikan yang akan dilakukan. Pemerintah Kabupaten Jember yakni Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, mewajibkan Puskesmas dimasing-masing kecamatan melakukan kunjungan ke tiap-tiap sekolah sebanyak dua kali dalam setahun. Namun hal ini tidak diimbangi dengan adanya SOP yang dukeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Pemerintah Kabupaten Jember hanya menerapkan aturan kunjungan puskesmas ke sekolah serta memberikan media promosi berupa flipchard yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Beberapa puskesmas ada yang menjalankan sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Kemenkes RI namuan ada juga yang tidak menjalankan dikarenakan tidak adanya aturan atau SOP yang jelas yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Salah satu puskesmas yang menjalankan kegiatan UKGS sesuai dengan peraturan yang seharusnya adalah Puskesmas Sumbersari.

Program UKGS Puskesmas Sumbersari memiliki jadwal rutin yang dilaksanakan setiap saat. Adapun jumlah SD yang harus dikunjungi oleh petugas UKGS dalam melaksanakan program UKGS adalah sebanyak 28 Sekolah Dasar (SD) dan 15 Taman Kanak-kanak (TK) yang berada diwilayah puskesmas Sumbersari. Dapat dilihat pada grafik 1.1 jumlah siswa sekolah dasar yang perlu perawatan di Puskesmas Sumbersari

Puskesmas Sumbersari
300 250 200 150 100 50 0 Puskesmas Sumbersari

Grafik 1.1 Jumlah Siswa Sekolah Dasar yang Perlu Perawatan

Pada grafik 1.1 dapat dilihat bahwa jumlah siswa yang perlu perawatan ratarata disetiap bulannya dengan jumlah lebih dari seratus anak, terkadang terjadi lonjakan yang sangat tinggi dalam periode waktu satu bulan saja. Puskesmas Sumbersari melakukan kegiatan berupa kunjungan dua kali dalam setahuan dengan kegiatan cara menyikat gigi yang dilakukan oleh petugas UKGS dengan menggunakan phantom gigi, serta terkadang melakukan

penyuluhan dengan menggunakan flipchard. Selain itu dilakukan kegiatan sikat gigi bersama dan pemeriksaan gigi siswa sekolah dsar oleh petugas kesehatan. Pada pemeriksaan gigi siswa sekolah dasar banyak hal yang dilakukan oleh petugas kesehatan puskesmas sumbersari, seperti jika menemukan masalah kesehatan gigi makan akan dilakuakn tindakan langsung oleh petugas kesehatan, namuan jika masalah kesehatan gigi dan mulutnya tergolong parah maka pihak petugas akan memberikan surat rujukan untuk orang tua agar orang tua dapat membawa anaknya ke rumah sakit atau petugas kesehatan gigi lainnya. Pada kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas Sumbersari ditiap sekolah kadang masih mengalami kendala seperti masih kurangnya dukungan pihak sekolah pada kegiatan penyuluhan dengan alasan waktu belajar siswa yang tersita, atau penyuluhan sudah pernah dilakukan. Serta kurangnya dukungan keluarga, karena ketika anak telah diberikan surat rujukan ke petugas kesehatan, terkadang orangtua atau keluarga tidak membawa anaknya ke petugas kesehatan sehingga pada kunjungan berikutnya gigi anak yang bermasalah belum diobati bahkan kadang semakin parah.

ANALISIS PROGRAM UKGS SISWA SEKOLAH DASAR PUSKESMAS SUMBERSARI KABUPATEN JEMBER

STEP 1 NEED ASSESSMENT Need Assessment dalam evaluasi program ini menggunakan teori PRECEDE. pada teori ini ada beberapa faktor yang dapat dilihat untuk menilai suatu masalah kesehatan yang terjadi antara lain health program, pada health program terdapat dua aspek yang saling berhubungan ataupun mempengaruhi antara lain educational strategis dan policy regulation organization, untuk sementara ini belum ada kebijakan khusus berupa standar operasional prosedur (SOP) dalam melakukan pencegahan masalah kesehatan gigi dan mulut di Kabupaten Jember. Masih rendahnya strategi pendidikan dalam memeberikan pengetahuan tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut, karena sangat sedikit mata pelajaran yang membahas tentang kesehatan gigi. Faktor predisposing antara lain karakteristik dari individu itu sendiri, pada kasus karies gigi, kebanyakan dialami oleh anak yang duduk dikelas 1 sampai dengan kelas 3 sekolah dasar, tingkat pengetahuan siswa yang rata-rata masih belum tinggi mengenai cara menyikat gigi dan kapan waktu menyikat gigi yang benar. Reinforcing merupakan faktor penguat dari permasalahan kesehatan gigi dan mulut yaitu kurangnya dukungan dari pihak sekolah karena keterbatasan waktu yang diberikan sekolah untuk pelaksanaan kegiatan UKGS, dukungan dari pihak keluargapun masih kurang dilihat dari ditemukannya siswa yang harus dirujuk ke tenaga kesehatan namun orang tua tidak membawa anaknya ke tenaga

kesehatan. Media promosi kesehatan yang masih kurang menjadi salah satu kendala, hal ini disampaikan langsung oleh kepala bidang usaha kesehatan gigi sekolah (UKGS) bagan kesehatan keluarga Dinas Kesehatan Jember yang menyatakan bahwa media untuk promosi kesehatan masih sangat terbatas. Tenaga kesehatan disetiap kecamatan yang tidak memadai juga menjadi kendala dalam permasalahan kesehatan gigi dan mulut. Selain itu ada faktor Enabling yang merupakan pemungkin, kurangnya program pencegahan yang dilakukan oleh petugas kesehatan, dikarenakan petugas lebih banyak melakukan pemeriksaan gigi dan pengobatan jika menemukan siswa yang sakit gigi. Pemanfaatan dokter muda dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Jember kadang bisa membantu dalam pelaksanaan UKGS, namun juga pihak puskesmas harus bergerak sendiri jika tidak ada mahasiswa yang melakukan pengabdian ke masyarakat hal ini menunjukkan bahwa masih terbatasnya tenaga kesehatan yang ada disetiap kecamatan. Fasilitas yang digunakan oleh petugas UKGS hanya sebatas flipchard dan phantom gigi sehingga keterbatasan media ini membuat anak jenuh menerima pesan yang disampaikan oleh penyuluh yakni petugas UKGS maupun pihak puskesmas itu sendiri. Tidak ada aturan yang tegas dalam pelaksanaan kegiatan UKGS, pihak dinas kesehatan hanya mewajibkan tiap puskesmas menjalankan kunjungan ke sekolah wilayah sasaran dua kali dalam setahun, tanpa SOP yang jelas. Faktor-faktor predisposing, reinforsing dan enabling mengakibatkan munculkan behaviour pada individu dan environment. Faktor perilaku berupa kebiasaan anak yang menggosok gigi tidak dengan cara yang benar dan waktu

menggosok gigi yang salah. Faktor lingkungan berupa akses ke pelayanan kesehatan, bebrapa kegiatan UKGS dilakuakan kadang menumukan anak yang harus dirujuk untuk melakukan perawatan dan pengobatan gigi terkadang dari keluarga tidak melakukan anjuran dari petugas untuk melakukan pengobatan pada anaknya tersebut. Kurangnya pendekatan petugas kesehatan kepada pihak sekolah dalam menangani masalah kurangnya dukungan sekolah dalam pelaksanakan kegiatan UKGS.

STEP 2 MATRIKS Tidak ada matriks yang disusun berdasarkan faktor internal dan eksternal yang berkaitan dengan masih rendahnya tingkat kesehatan gigi siswa sekolah dasar. Penyusunan matriks ini berkaitan dengan tujuan perubahan yang ingin dicapai melalui program. . Dengan penyusunan matriks akan terlihat faktor-faktor pendukung dan penghalang program, sehingga akan dapat disusun strategi guna memperkuat faktor pendukung dan mengatasi faktor penghalang baik yang berasal dari internal sekolah dasar maupun yang berasal dari eksternal. Strategi tersebut dilandaskan pada teori-teori perubahan perilaku yang ada. Dengan penggunaan teori tersebut diharapkan intervensi akan bisa tepat sasaran.

STEP 3 PEMILIHAN TEORI Karena ketetapan yang ditetapkan bersifat top-down dan tidak ada matriks yang disusun sebelumnya maka tidak dilakukan pemilihan strategi yang dilandaskan pada teori perubahan perilaku. Padahal pemilihan teori ini merupakan

tahap yang penting dimana melalui pemilihan teori akan dapat disusun strategi yang tepat (metode dan media yang akan digunakan) untuk mencapai tujuan perubahan yang seharusnya tercantum pada matriks.

STEP 4 PRODUKSI MATERI DAN MEDIA Media yang digunakan dalam kegiatan UKGS yang ada yaitu phantom gigi dan flip chard. Sampai sekarang belum ada pengembangan media yang dilakukan, pelaksana kegiatan hanya menggunakan media yang sudah ada. Seharusnya perlu dilakukan analisis pasar untuk menentukan media yang bagaimana yang sebaiknya digunakan untuk memberikan pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut siswa sekolah dasar. Seharusnya perlu dibuat sebuah media yang benar-benar bisa digunakan untuk menanamkan pengetahuan yang baik serta sikap yang baik untuk siswa sekolah dsar mengenai kesehatan gigi dan mulut, sehingga nantinya siswa sekolah dasar bisa melakukan praktik yang benar cara menyikat gigi serta memahami kapan waktu yang tepat untuk menggosok gigi.

STEP 5 RENCANA IMPLEMENTASI UKGS merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak puskesmas kecamatan diwlayah kerja mereka masing-masing. Kegiatan biasanya dilakukan dengan melakukan pemeriksaan gigi, demonstrasi sikat gigi dengan menggunakan phantom gigi serta sikat gigi bersama siswa sekolah dasar. Kegiatan penyuluhan

terkadang juga dilaksanakan dengan menggunakan media lembar balik atau flipchard. Sampai bulan November 2012 di Kabupaten Jember masih belum adanya SOP yang mengatur tentang pelaksanaan kegiatan UKGS siswa sekolah dasar. Pemerintah dinas kesehatan hanya menjadwalkan setiap sekolah harus dikunjungi oleh pihak puskesmas sebanyak dua kali dalam setahun. Laporan yang harus diberikan oleh puskesmas adalah, puskesmas telah melakukan kunjungan sebanyak dua kali dalam setahun di satu sekolah. Puskesmas Sumbersari memberlakukan jadwal yaitu melakukan kenjungan ke tiap-tiap sekolah dengan jangka waktu enam bulan satu kali kunjungan. Petugas UKGS Puskesmas Sumbersari melakukan kegiatan pemeriksaan gigi siswa, demonstrasi menyikat gigi, sikat gigi bersama, dan penyuluhan dengan menggunakan flipchard. Kegiatan ini telah dilakukan oleh pihak puskesmas Sumbersari ditiap tahunnya, sehingga rekapituasi data di puskesmas Sumbersari tergolong cukup lengkap dibandingkan dengan kecamatan lain. Kendala yang dialami oleh kegiatan ini adalah tidak adanya SOP yang jelas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember sehingga tidak adanya ketetapan bagaimana kegiatan yang seharusnya dilaksanakan oleh puskesmas dan kurangnya dukungan dari pihak sekolah dalam melaksanakan kegiatan UKGS yang mengakibatkan kinerja pihak puskesmas tidak bisa optimal dilakukan di sekolah.

STEP 6 RENCANA EVALUASI Evaluasi program yang dilakukan oleh pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Jember dan Puskesmas Sumbersari selama ini adalah : a. Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Jember hanya menerima laporan dari pihak puskesmas bahwa puskesmas telah melakukan kunjungan sebanyak dua kali dalam setahun b. Pihak puskesmasmelakukan evaluasi dari angka kesakitan yang muncul setiap laporannya (satu kali dalam enam bulan) dan melakukan tindakan terhadap masalah yang terjadi yaitu berupa rujukan untuk siswa jika ditemukan siswa sekolah dasar yang sakit, atau tindakan langsung yang dilakukan oleh doketr gigi pada saat kegiatan UKGS dilakukan Seharusnya evaluasi juga dapat dilakukan melalui: a. Pembentukan SOP, dengan adanya SOP yang jelas maka proses pelaksanaan UKGS akan lebih tertata lagi. Karena sudah ada alur apa yang seharusnya dilakukan oleh pihak puskesmas dalam melakukan kunjungan serta kapan waktu yang tepat untuk dilakuakannya pelaksanaan kegiatan UKGS disekolah. b. Pengetahuan dan sikap, evaluasi pengetahuan dan sikap perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan siswa mengenai kesehatan gigi dan mulut serta bagaimana sikap mereka mengenai menjaga kesehatan gigi dan mulut, sehingga nantinya diharpakan akan memunculkan praktik yang benar tentang cara menggosok gigi serta kapan waktu yang tepat untuk menggosok gigi.

c. Evaluasi media, media yang digunakan adalah flipchard dan phantom gigi. Perlu dilakukan evaluasi apakah media tersebut benar-benar evektif dalam pelaksanaan kegiatan UKGS pada siswa sekolah dasar atau tidak. Apakah media yang digunakan telah sesuai dengn kebutuhan siswa di daerah tersebut atau tidak. Perlu dilakukan pengembangan media agar bisa menentukan media yang benar-benar sesuai dengan karakteristik siswa sekolah yang ada di kecamatan Sumbersari.