Anda di halaman 1dari 62

ANGKA DAN POLA KUMAN PADA DINDING, LANTAI DAN UDARA DI RUANG ICU RSUD Dr.

MOEWARDI SURAKARTA

SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Kedokteran

Diajukan Oleh: Mustika Oktarini J 500 090 043

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2013

MOTTO

Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalatmu Sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (Al-Baqarah: 153)

Apabila anda berbuat kebaikan kepada orang lain, maka anda telah berbuat baik terhadap diri sendiri ( Benyamin Franklin ) Pengalaman adalah guru yang terbaik

Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan, jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan tapi lihatlah sekitar anda dengan penuh kesadaran (James Thurber)

PERSEMBAHAN

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, skripsi ini saya persembahkan untuk :

Allah SWT, terima kasih atas kemudahan yang telah diberikan pada saya sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini, telah memberikan kelancaran dan banyak pelajaran dalam hidup, terima kasih telah memberikan beribu-ribu kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik lagi.

Ayahanda tercinta Mustakim dan Ibunda tersayang Masita, motivator terbesar dalam hidup saya yang senantiasa memberikan doa, cinta, kasih sayang dan semangat serta dukungan yang tiada henti.

Keluarga besar di Sumbawa yang telah memberikan doa serta dukungannya.

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ............................................................. ii PERNYATAAN ............................................................................................. iii MOTTO.......................................................................................................... iv PERSEMBAHAN ........................................................................................... v DAFTAR ISI .................................................................................................. vi DAFTAR TABEL .......................................................................................... viii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... ix KATA PENGANTAR .................................................................................... x ABSTRAK ..................................................................................................... xii ABSTRACT ................................................................................................... xiii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................... 3 C. Tujuan Penelitian ................................................................................ 3 D. Manfaat Penelitian............................................................................... 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Infeksi Nosokomial ............................................................................. 5 B. Angka dan Pola Kuman ....................................................................... 12 C. Kerangka Konsep ................................................................................ 13 D. Hipotesis ............................................................................................. 14 BAB III METODELOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian ................................................................................. 15 B. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................................. 15 C. Populasi Penelitian .............................................................................. 15

D. Sampel dan Teknik Sampling .............................................................. 15 E. Estimasi Besar Sampel ........................................................................ 16 F. Kriteria Restriksi ................................................................................. 16 G. Identifikasi Variabel Penelitian............................................................ 16 H. Definisi Operasional ............................................................................ 17 I. Instrumen Penelitian ............................................................................ 17 J. Cara Kerja ........................................................................................... 18 K. Bagan Cara Kerja ................................................................................ 22 L. Teknik dan Analisis Data .................................................................... 23 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ................................................................................... 24 B. Pembahasan ........................................................................................ 26 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ......................................................................................... 31 B. Saran ................................................................................................... 31 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 32 LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Sebaran Sampel Menurut Sumber Usapan dan Hari ................................... 24 Tabel 2. Angka dan Pola Kuman yang ditemukan di Dinding Ruang ICU RSUD dr. Moewardi .................................................................................................. 25 Tabel 3. Angka dan Pola Kuman yang ditemukan di Lantai Ruang ICU RSUD dr. Moewardi .................................................................................................. 25 Tabel 4. Angka dan Pola Kuman yang ditemukan di Udara Ruang ICU RSUD dr. Moewardi .................................................................................................. 26

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4

: Hasil Penelitian : Dokumentasi Hasil Penelitian : Surat Ijin Penelitian : Surat Selesai Penelitian

KATA PENGANTAR

Assalaamualaikum wr. wb. Syukur Alhamdulillah ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Angka dan Pola Kuman Pada Dinding, Lantai dan Udara di Ruang ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta, yang merupakan salah satu tugas untuk memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta. Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dari berbagai pihak yang telah membantu baik materiil maupun moril sehingga penyusunan Skripsi ini dapat terselesaikan. Ucapan terima kasih penulis tujukan kepada: 1. Prof. DR. dr. Bambang Soebagyo, Sp.A(K), selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2. dr. M. Shoim Dasuki, Mkes, selaku Wakil Dekan I kepala biro skripsi, yang telah memberikan bantuan dan dukungan hingga terselesainya skripsi ini. 3. Prof. Dr. dr. J. Priyambodo MS, SpMK(K), selaku dosen pembimbing utama yang telah memberi banyak masukan, saran, dan kritik hingga terselesainya skripsi ini. 4. dr. Anika Candrasari., selaku dosen pembimbing pendamping, yang telah memberi banyak masukan yang sangat bermanfaat hingga terselesainya skripsi ini. 5. dr. H. M. Amin Romas, DSMK, selaku dosen penguji yang telah memberikan bimbingan, arahan, saran, dan kritik hingga terselesainya skripsi ini. 6. Seluruh dosen dan staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas

Muhammadiyah Surakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan membangun kepada penulis.

7. Seluruh

karyawan

di

lingkungan

Fakultas

Kedokteran

Universitas

Muhammadiyah Surakarta atas bantuan, semangat, dan dorongannya selama berada di kampus tercinta 8. Direktur RSUD Dr. Moewardi yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian ini. 9. Bu Endah Kusumaningsih dan Bapak Sudirman beserta rekan-rekan sanitasi RSDM Surakarta yang telah banyak membantu selama penelitian ini berlangsung. 10. Semangat terbesar penulis yaitu orangtua penulis Bapak Mustakim dan Ibu Masita yang senantiasa memberikan kasih sayang, selalu mendoakan,memberi arahan, motivasi maupun semangat yang tiada hentinya. 11. Keluarga penulis khususnya Siska dan Fitri yang telah memberikan keceriaan setiap harinya. 12. Teman-teman terbaik penulis Asti, Afgrin, Tina, Indah, Melati, Yunita, Ririn, Nova, Agri, Ewit, Arpian, Clara, Utari. 13. Semua pihak yang tak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu sehingga penulis dapat menyelesaikan skiripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangankekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat dalam menambah ilmu pengetahuan bagi penulis dan bagi pembaca dalam mempelajari permasalahan dunia kedokteran. Amin. Wassalaamualaikum wr. wb. Surakarta, Januari 2013

Mustika Oktarini

ABSTRAK

Mustika Oktarini, J 5000 900 43. 2013. Angka dan Pola Kuman Pada Dinding, Lantai dan Udara di Ruang ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta Latar Belakang : Masalah infeksi nosokomial merupakan masalah besar disetiap rumah sakit. Hal ini semakin merisaukan karena infeksi nosokomial dapat meningkatkan angka morbiditas, angka mortalitas, kerugian finansial dan lama waktu perawatan di rumah sakit. Lingkungan rumah sakit selalu berkontak dengan manusia, dalam hal ini para petugas rumah sakit dan penderita dan berbagai cara baik kontak langsung atau tidak langsung dengan perantara udara atau vektor. Dinding, lantai dan udara berisiko atas terjadinya infeksi nosokomial pada pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka dan pola kuman yang terdapat pada dinding, lantai dan udara di ruangan ICU di RSUD Dr.Moewardi Surakarta. Metode: Jumlah sampel yang diambil sebanyak 5 sampel dinding, lantai dan udara yang dilakukan pada bulan November 2012. Pengambilan sampel dilakukan dengan kapas lidi steril yang diusapkan pada permukaan sampel kemudian di masukkan kedalam larutan ringer. Sampel yang positif dengan pertumbuhan kuman dilanjutkan dengan isolasi kuman pada media Mc. Conkey dan Agar darah. Selanjutnya dilakukan identifikasi kuman dari koloni untuk mengetahui jenis kuman. Hasil Penelitian: Dari penelitian ini ditemukan pertumbuhan kuman pada dinding sebesar 4,33%, lantai 15,18% dan udara 80,48%. Pola kuman yang ditemukan pada dinding dan lantai adalah Acinetobacter Baumanii, Staphylococcus sp dan Bacillus sp. Sedangkan pola kuman yang ditemukan pada sampel udara adalah Morexella Lacunata, Staphylococcus sp, Bacillus sp, Klebsiella Pneumoni, Pseudomonas Aerogenes dan E.coli. Kesimpulan: Berdasarkan data hasil penelitian angka kuman pada sampel dinding, lantai dan udara ruang ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta masih ada yang belum memenuhi syarat. Terdapat kemiripan pola kuman yang ditemukan pada sampel dinding, lantai dan udara di ruang ICU RSUD Dr.Moewardi Surakarta.

Kata Kunci: Infeksi Nosokomial, Angka dan Pola Kuman, Dinding, Lantai dan Udara

ABSTRACT Mustika Oktarini, J 5000 900 43. 2013. Bacteria Numbers and Patterns on the Walls, Floor and the Air in ICU Room at Regional General Hospital Dr. Moewardi Surakarta. Background: The problem of nosocomial infection is a major problem in every hospital. This is even more troubling because of nosocomial infections can increase morbidity, mortality, and financial loss long hospitalization. The hospital environment is always contact with humans, in this case the hospital staff and patients and the various ways either direct contact or indirect contact with air or intermediary vector. The walls, floors and air at risk for the occurrence of nosocomial infection in patients. Objective: This study aims to find out bacteria number and patterns found on the walls, floor and the air in the ICU room at Regional General Hospital Dr.Moewardi Surakarta. Methods: The number of samples taken by 5 samples walls, floors and air was conducted in November 2012. Sampling was done with a sterile cotton stick rubbed on the surface of the sample was then entered into the ringer solution. Samples is positive with growth of bacteria to continued in isolation Mc. Conkey media and blood Agar media. Further identification of bacteria colonies to know what kind of bacteria. Results: This study found bacteria growing on the wall of 4.33%, 15.18% floor and 80.48% air. Bacteria are found on the walls and floors were Acinetobacter baumannii, Staphylococcus sp and Bacillus sp. While the pattern of bacteria that are found in the air samples are Morexella Lacunata, Staphylococcus sp, Bacillus sp, Klebsiella Pneumonia, Pseudomonas aerogenes and E. coli. Conclusion: Based on the research data on the number of bacteria samples walls, floors and air ICU room Regional General Hospital dr. Moewardi Surakarta still have not qualified. There is a pattern similarity bacteria that are found in the sample walls, the floors and the air in the ICU room Regional General Hospital Dr.Moewardi Surakarta.

Keywords : Nosocomial Infections, Numbers and Bacteria Patterns, Walls, Floors and Air

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit merupakan bagian integral organisasi pelayanan medik yang bertugas memberikan layanan kesehatan baik kuratif maupun preventif kepada masyarakat sekitar beserta lingkungannya. Kegiatan tersebut menimbulkan dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah meningkatkannya derajat kesehatan masyarakat, sedangkan dampak negatifnya adalah agen penyakit yang dibawa oleh penderita dari luar ke rumah sakit atau pengunjung yang berstatus karier. Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit, seperti udara, air, lantai makanan dan benda-benda peralatan medik (Wichaksana, 2000). Selain itu rumah sakit juga sebagai institusi pelayanan medis yang akan memberikan pelayanan medis untuk semua jenis penyakit termasuk penyakit infeksi. Di Indonesia kasus penyakit ini cukup mendominasi karena frekuensinya yang masih tinggi. Dengan demikian, rumah sakit yang memiliki tenaga professional dan fasilitas medis yang cukup diharapkan mampu mendiagnosis, mengobati serta merawat penderita penyakit infeksi, dengan faktor penyebab mikroba patogen yang beraneka ragam, baik dalam bentuk bakteri, virus, jamur, maupun protozoa (Darmadi, 2008). Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Salah satu jenis infeksi adalah infeksi nosokomial. Infeksi ini menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di seluruh dunia (WHO, 2002). Infeksi nosokomial itu sendiri dapat diartikan sebagai infeksi yang diperoleh seseorang selama di rumah sakit (Zulkarnaen, 1999). Masalah infeksi nosokomial saat ini makin banyak mendapat perhatian para ahli, karena di samping dapat meningkatkan morbilitas maupun mortalitas, juga menambah biaya perawatan dan obat-obatan, waktu dan tenaga yang pada akhirnya akan membebani pemerintah/rumah sakit, personil rumah sakit maupun

penderita dan keluarganya. Hal ini jelas bertentangan dengan kebijaksanaan pembangunan bidang kesehatan yang justru menekankan peningkatan efisiensi pelayanan kesehatan (Depkes,1989 ). Infeksi nosokomial dapat terjadi karena lingkungan rumah sakit yang kurang bersih. Sumber kuman penyakit banyak terdapat di linkungan rumah sakit (Sinaga, 2004). Organisme ini dapat berasal dari sesama penderita, staf rumah sakit maupun pengunjung (Black, 2002). Dirumah sakit berkumpul orang sakit membawa kuman dan merupakan sumber infeksi yang potensial bagi orang lain. Lingkungan rumah sakit selalu berkontak dengan manusia, dalam hal ini para petugas rumah sakit dan penderita dan berbagai cara baik kontak langsung atau tidak langsung dengan perantara udara atau vector (Janas, 1992). Lantai dan dinding berisiko atas terjadinya infeksi nosokomial pada pasien (Anonim, 2004). Di Amerika serikat ada sekitar 20.000 kematian setiap tahun akibat infeksi nosokomial dan menghabiskan biaya lebih dari 4,5 milyar dollar pertahun (Smeltzer, 2001). Sedangkan di Asia Tenggara infeksi nosokomial sebanyak 10 %. Data kejadian infeksi nosokomial Malaysia 12,7 %, Taiwan 13,8 % (Marwoto, 2007). Di Indonesia kejadian infeksi nosokomial pada jenis / tipe rumah sakit sangat beragam. Penelitian yang dilakukan oleh Depkes RI pada tahun 2004 diperoleh data proporsi kejadian infeksi nosokomial di rumah sakit pemerintah dengan jumlah pasien 1.527 orang dari jumlah pasien beresiko 160.417 (55,1%), sedangkan untuk rumah sakit swasta dengan jumlah pasien 991 pasien dari jumlah pasien beresiko 130.047 (35,7%). Untuk rumah sakit ABRI dengan jumlah pasien 254 pasien dari jumlah pasien beresiko 1.672 (9,1%) (Depkes RI, 2004). Dalam upaya menanggulangi kejadian infeksi nosokomial, tinjauan epidemiologi terhadap masalah pencemaran dan infeksi nosokomial perlu dilakukan karena pada dasarnya kejadian infeksi nosokomial melibatkan unsur

manusia, lingkungan dan mikroba yang satu sama lain saling terkait (Depkes, 1990). Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi adalah rumah sakit milik pemerintah Provinsi Jawa tengah yang terletak di kota Surakarta dan merupakan rumah sakit pendidikan tipe A oleh karena rumah sakit Dr. Moewardi menjadi rumah sakit pendidikan (teaching hospital) bagi calon dokter, dan juga sebagai lahan praktek bagi mahasiswa program keperawatan, S1, DIII, dari berbagai instansi pendidikan. Dijadikan RSUD Dr. Moewardi sebagai rumah sakit

pendidikan sudah seyogyanya tenaga kesehatan RSUD Dr. Moewardi menjadi suri tauladan bagi mahasiswanya dalam hal tindakan maupun penanganan

kepada klien haruslah dengan prosedur tetap yang telah disesuaikan oleh kriteria yang telah ditetapkan oleh Depkes (Sri Hanun & Supratman, 2008). Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, juga mengingat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi sebagai salah satu rumah sakit pendidikan di Jawa Tengah yang menjadi suri tauladan dalam hal tindakan maupun penanganan kepada pasien maka penulis ingin coba meneliti tentang angka kuman dan pola kuman di ruang ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

B. Rumusan Masalah Bagaimanakah angka dan pola kuman pada dinding, lantai dan udara di ruang ICU RSUD Dr.Moewardi Surakarta?

C. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui angka dan pola kuman pada dinding, lantai dan udara di ruang ICU RSUD Dr.Moewardi Surakarta .

D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah: 1. Manfaat Teoritis a. Dengan adanya penelitian ini dapat memberi gambaran mengenai derajat pencemaran kuman di ruang ICU RSUD.Dr.Moewardi Surakarta. b. Sebagai tamabahan pengetahuan di bidang penelitian khususnya tentang kuman . 2. Manfaat Praktis a. Dapat memberikan informasi tentang sumber infeksi nosokomial yang terdapat pada dinding dan lantai rumah sakit khususnya di ruang ICU. b. Merupakan suatu pengalaman berharga bagi peneliti dalam memperluas wawasan keilmuan, khususnya tentang kuman sebagai salah satu faktor yang dapat menyebabkan penyakit infeksi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Infeksi Nosokomial 1.

Definisi Infeksi Nosokomial Infeksi Nosokomial (IN) adalah infeksi yang terjadi atau didapat di rumah sakit dan merupakan infeksi yang sangat khas, karena hanya terjadi di rumah sakit. Insiden infeksi ini dilaporkan telah mencapai 45%, khususnya yang terjadi di ICU (Intensive Care Unit), dan ini tergantung pada besarnya rumah sakit dan besarnya departemen klinik. Sumber infeksi nosokomial dapat dibedakan menjadi tiga. Pertama, penderita itu sendiri (self infection), yaitu infeksi nosokomial berasal dari penderita itu sendiri (flora endogen) yang berpindah dari satu jaringan ke jaringan lain. Kedua, infeksi silang (cross infection), dimana infeksi nosokomial terjadi akibat penularan dari penderita/orang lain di rumah sakit baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan ketiga, infeksi lingkungan (environmental infection), dimana infeksi disebabkan oleh kuman yang didapat dari bahan/benda di lingkungan rumah sakit (Darmadi, 2008).

2. Batasan

Menurut Zulkarnaen 1999, infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat di rumah sakit, terjadi sesudah 72 jam perawatan pada pasien rawat inap yang di rawat lebih lama dari masa inkubasi suatu penyakit. Infeksi nosokomial bukan merupakan sisa infeksi sebelumnya. Jadi harus di buktikan dulu apakah sebelumnya telah terdapat infeksi yang berbeda dengan kuman yang ada di rumah sakit tersebut ( Gunadi, 1999). 3. Epidemiologi Menurut Pelczar, 1998, faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu penyakit infeksi, termasuk infeksi nosokomial ialah:

1) Sumber mikroorganisme, infeksi nosokomial dapat berasal secara endogen dan eksogen. Infeksi eksogen dapat disebabkan karena mikroorganisme dari lingkungan. Sedangkan infeksi endogen disebabkan karena kuman oportunistik yang secara normal berada dalam tubuh penderita (Black, 2002). Sumber mikroorganisme ini dapat berasal dari benda, substansi, aliran udara maupun serangga. 2) Rute penyebaran, rumah sakit merupakan tempat berkumpulnya pasien yang menderita infeksi yang sudah maupun yang belum terdiagnosis. Penularan infeksi dapat terjadi melalui silang (infection cross) dari suatu pasien kepada pasien lainnya (Zulkarnaen, 1999). 3) Inang yang rentan terhadap infeksi, pasien yang dirawat di rumah sakit adalah orang yang sedang bermaslah dengan kesehatan dan pada umumnya daya tahan tubuhnya sedang menurun sehingga sangat rentan terhadap infeksi (Sinaga, 2004) 4. Etiologi 1) Bakteri Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat. Keberadaan bakteri disini sangat penting dalam melindungi tubuh dari datangnya bakteri patogen. Tetapi pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut mempunyai toleransi yang rendah terhadap mikroorganisme. Contohnya Escherichia coli paling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi saluran kemih. Bakteri patogen lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi baik secara sporadik maupun endemik. Contohnya : a) Anaerobik gram-positif, Clostridium yang dapat menyebabkan gangrene.

b) Bakteri gram-positif, Staphylococcus aureus yang menjadi parasit di kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru, tulang, jantung dan infeksi pembuluh darah serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika. c) Bakteri gram negatif, Enterobacteriacae, Klebsiella, contohnya Enterobacter.

Escherichia

coli,

Proteus,

Pseudomonas sering sekali ditemukan di air dan penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran pencernaan dan pasien yang dirawat. Bakteri gram negatif ini bertanggung jawab sekitar setengah dari semua infeksi di rumah sakit. d) Serratia marcescens, dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas jahitan, paru, dan peritoneum. 2) Virus Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai macam virus, termasuk virus hepatitis B dan C dengan media penularan dari transfusi, dialisis, suntikan dan endoskopi. Respiratory syncytial virus (RSV), rotavirus, dan enteroviruses yang ditularkan dari kontak tangan ke mulut atau melalui rute faecal-oral. Hepatitis dan HIV ditularkan melalui pemakaian jarum suntik, dan transfusi darah. Rute penularan untuk virus sama seperti

mikroorganisme lainnya. Infeksi gastrointestinal, infeksi traktus respiratorius, penyakit kulit dan dari darah. Virus lain yang sering menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus, Ebola, influenza virus, herpes simplex virus, dan varicella-zoster virus, juga dapat ditularkan. 3) Parasit dan Jamur Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat menular dengan mudah ke orang dewasa maupun anak-anak. Banyak jamur dan parasit dapat timbul selama pemberian obat antibiotika bakteri dan

obat immunosupresan, contohnya infeksi dari Candida albicans, Aspergillus spp, Cryptococcus neoformans, Cryptosporidium (Ducel, G. et al., 2002). 5. Manifestasi Klinis dari Infeksi Nosokomial 1) Infeksi saluran kemih Infeksi saluran kemih (UTI), yang dikenal sebagai penggunaan kateter urin terkait UTI (CAUTIs) merupakan kejadian tersering, sekitar 40% dari infeksi nosokomial, 80% infeksinya dihubungkan dengan penggunaan kateter urin. Infeksi ini secara signifikan tidak hanya disebabkan oleh tingginya insiden dan biaya secara ekonomi, tetapi juga karena beratnya gejala sisa yang dapat dihasilkan. Walaupun tidak terlalu berbahaya, tetapi dapat menyebabkan terjadinya bakteremia dan mengakibatkan kematian. Organisme yang bisa menginfeksi biasanya E.Coli, Klebsiella, Proteus, Pseudomonas, atau Enterococcus. Infeksi yang terjadi lebih awal lebih disebabkan oleh mikroorganisme endogen (dua per tiga dari kasus) , sedangkan infeksi yang terjadi setelah beberapa waktu yang lama biasanya karena mikroorganisme eksogen. Penyebabnya karena kontaminasi tangan atau sarung tangan ketika pemasangan kateter, atau air yang digunakan untuk membersihkan balon kateter. Dapat juga karena sterilisasi dan teknik aseptik yang gagal. Untuk pencegahan, alat yang digunakan harus di sterilkan terlebih dahulu. Dipastikan bahwa alat-alat tersebut steril dan tidak terkontaminasi oleh alat-alat yang tidak steril (Darmadi, 2008). 2) Pneumonia Nosokomial Pneumonia nosokomial atau hospital acquired pneumonia (HAP) adalah pneumonia yang didapat di rumah sakit menduduki peringkat ke-2 sebagai infeksi nosokomial di Amerika Serikat, hal ini berhubungan dengan peningkatan angka kesakitan, kematian dan

biaya perawatan di rumah sakit. Pneumonia nosokomial terjadi 5-10 kasus per 1000 pasien yang masuk ke rumah sakit dan menjadi lebih tinggi 6-20x pada pasien yang memakai alat bantu napas mekanis. Angka kematian pada pneumonia nosokomial 20-50%. Angka kematian ini meningkat pada pneumonia yang disebabkan

Pseudomonas aeruginosa atau yang mengalami bakteremia sekunder (Porzecanski I, Bowton DL, 2006). Pneumonia nosokomial (HAP) adalah pneumonia yang terjadi setelah pasien 48 jam dirawat di rumah sakit dan disingkirkan semua infeksi yang terjadi sebelum masuk rumah sakit. Sedangkan Ventilator associated pneumonia (VAP) adalah pneumonia yang terjadi lebih dari 48 jam setelah pemasangan intubasi endotrakeal (Barbara J, 2005). Patogen penyebab pneumonia nosokomial berbeda dengan pneumonia komuniti. Pneumonia nosokomial dapat disebabkan oleh kuman bukan multi drug resistance (MDR) misalnya S.pneumoniae, H. Influenzae, Methicillin Sensitive Staphylococcus aureus (MSSA) dan kuman MDR misalnya Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Acinetobacter sp dan Gram positif seperti Methicillin Resistance Staphylococcus aureus (MRSA). Pneumonia nosokomial yang disebabkan jamur, kuman anaerob dan virus jarang terjadi. Dari kelompok virus dapat disebabkan oleh cytomegalo virus, influenza virus, adeno virus, para influenza virus, enterovirus dan corona virus (Michael et al, 2009). 6. Sumber Penularan Penularan adalah perjalanan kuman patogen dari sumber infeksi ke

hospes. Ada 4 jalan yang dapat di tempuh yaitu dengan kontak langsung, alat, udara dan vector. (Suharto, 1994). Infeksi nosokomial bisa terjadi secara endogen maupun eksogen. Infeksi eksogen di sebabkan oleh

organisme yang masuk ke pasien dari lingkungan. Organisme tersebut bias berasal dari pasien lain, tenaga kesehatan, pengunjung dan juga bisa masuk melalui serangga yang berasal dari tempat kotor (toilet, tempat sampah) ke pasien. Infeksi endogen disebabkan kuman oportunis yang berasal dari mikroflora normal pasien sendiri. Kuman oportunis seringkali menyebabkan infeksi jika pasien memiliki resistensi yang rendah ataupun jika flora normal yang bersaing dengan kuman patogen telah dieliminasi oleh antibiotik yang diminum pasien (Black, 2002). Pemeliharaan kebersihan dan kehigienisan rumah sakit memang harus dilakukan ekstra ketat (Sinaga, 2004). Lingkup cakupan sanitasi rumah sakit salah satunya dari aspek kerumahtanggan seperti kebersihan dinding dan lantai (Musadad, 1993). 7. Cara Penularan Infeksi Nosokomial Penularan infeksi nosokomial dapat dibedakan menjadi beberapa cara, yaitu: 1) Penularan secara kontak Penularan ini dapat terjadi baik secara kontak langsung, kontak tidak langsung, dan droplet. Kontak langsung terjadi bila sumber infeksi berhubungan langsung dengan penjamu, misalnya person to person pada penularan infeksi hepatitis A virus secara fecal oral. Sedangkan kontak tidak langsung, terjadi apabila penularan membutuhkan objek perantara (biasanya benda mati). Hal ini terjadi karena benda mati tersebut telah terkontaminasi oleh sumber infeksi, misalnya kontaminasi peralatan medis oleh mikroorganisme. 2) Penularan melalui common vehicle Penularan ini melalui benda mati yang telah terkontaminasi oleh kuman dan dapat menyebabkan penyakit pada lebih dari satu

penjamu. Adapun jenis-jenis common vehicle adalah darah/produk darah, cairan intra vena, obat-obatan dan sebagainya. 3) Penularan melalui udara dan inhalasi Penularan ini terjadi bila mikroorganisme mempunyai ukuran yang sangat kecil sehingga dapat mengenai penjamu dalam jarak yang cukup jauh dan melalui saluran pernafasan. Misalnya,

mikroorganisme yang terdapat dalam sel-sel kulit terlepas akan membentuk debu yang dapat menyebar jauh (Staphylococcus) dan Tuberculosis. 4) Penularan dengan perantara vektor Penularan ini dapat terjadi secara eksternal maupun internal. Disebut penularan secara eksternal bila hanya terjadi pemindahan secara mekanis dari mikroorganisme yang menempel pada tubuh vektor, misalnya Shigella dan Salmonella oleh lalat. Penularan secara internal bila mikroorganisme masuk ke dalam tubuh vektor dan dapat terjadi perubahan biologik, misalnya parasit malaria dalam nyamuk atau tidak mengalami perubahan biologik, misalnya yersenia pestis pada ginjal (flea) (Syndman D, 2007).

B. Angka dan Pola Kuman 1. Angka Kuman Jumlah inokulum bakteri merupakan faktor yang berperan dalam terjadinya infeksi (Setiawan, 2003). Standar kebersihan lantai dengan menggunakan khodac plate dikatakan baik bila koloni yang tumbuh kurang 25 koloni. Jumlah koloni yang tumbuh kurang dari 5 koloni dapat dipertimbangkan untuk suatu ruang oerasi steril (Hadiwidjaja, 2001). Sedangkan menurut Permenkes 2004 tingkat kebersihan lantai dan dinding distandarkan adalah 0-5 koloni/cm untuk ruang operasi, sedangkan 5-10 koloni/cm untuk ruang perawatan. Sedangkan untuk kuman udara di ruang ICU distandarkan 200 koloni/cm3. 2. Pola Kuman Bakteri nosokomial merupakan kuman yang hidup bebas di lingkungan rumah sakit (Anonim, 2004). Pola kuman yang merupakan ancaman infeksi tentu saja bergantung pada keadaan lingkungan (Reksodiputro, 1993). Pola kuman yang menyebar di rumah sakit itu bisa membuat pasien maupun masyarakat terinfeksi. Penyebab infeksi dalah bakteri, virus, ataupun jamur. Bakteri yang paling banyak ditemukan di rumah sakit adalah Kleibsiella sp, Pseudomonas sp, Staphylococcus sp, E.coli dan Streptococcus sp . Bakteri nosokomial pada umumnya merupakan gram negative kategori ganas yang menulari penghuni rumah sakit (Anonim, 2004). Di beberapa fasilitas rumah sakit seperti fasilitas Intensif Care Unit (ICU), NICU, dan ICCU memiliki pola kuman yang berbeda termasuk kepekaan terhadap antibiotik. Apabila setiap rumah sakit sudah mengetahui pola kuman yang beredar maka manajemen rumah sakit bisa menetukan kebijakan penggunaan antibiotik secara rasional (Anonim, 2004).

C. Kerangka Konsep
Dinding, lantai dan udara ruang ICU

Kuman

Kontaminasi: Debu Pengnjung RS Pasien Hewan

anaerob

aerob

apatogen

patogen

apatogen

patogen

Pasien

pasien

Infeksi nosokomial

Infeksi nosokomial

Penularan langsung: droplet nuclei Penularan tidak langsung: 1. Vehicle borne 2. Vector borne 3. Food borne 4. Water borne

= Diteliti

D. Hipotesis Ditemukannya angka kuman dan pola kuman pada dinding, lantai dan udara di ruang ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian Jenis penelitan ini adalah penelitian deskriptif yaitu untuk melihat angka kuman dan pola kuman pada dinding, lantai dan udara di ruang ICU RSUD Dr.Moewardi Surakarta.

B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta bagian Instalasi Sanitasi dan Laboraratorium mikrobiologi pada bulan NovemberDesember 2012.

C. Populasi Penelitian Yang dimaksud dengan populasi dalam penelitian adalah sejumlah besar subjek yang memiliki karakter tertentu. Populasi penelitian ini dapat dibagi lagi menjadi dua, yakni (1) populasi target (target population) dan (2) populasi terjangkau (accessible population) atau populasi sumber (source population). Adapaun populasi target dalam penelitian ini yaitu dinding, lantai dan udara di ruang ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta (Sastroasmoro, 2006).

D. Sampel dan Teknik Sampling Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik random sampling. Random sampling adalah suatu teknik pemilihan yang memungkinkan tiap subjek dalam populasi mendapat kemungkinan yang sama untuk terpilih (Notoatmodjo, 2010). Pengambilan sampel sebanyak 5 titik masing-masing pada dinding, lantai dan udara di ruang ICU RSUD Dr.Moewardi Surakarta.

E. Estimasi Besar Sampel Untuk menentukan sampel size yang menggambarkan keseluruhan obyek belum ada ketentuan yang pasti karena ukuran sampel tidak dapat di generalisasi (Sutrisna, 2010). Untuk itu pada penelitian ini penulis menggunakan masingmasing 5 sampel setiap sampel penelitian.

F. Kriteria Restriksi a. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah: Dinding, lantai dalam ruangan ICU Dinding dan lantai berbahan keramik

b. Kriteria eksklusi Dinding dan lantai yang jauh dari bed pasien Tinggi dinding tidak lebih dari 1,5 meter

G. Identifikasi Variabel Penelitian 1. Variabel terikat : angka dan pola kuman 2. Variable bebas : dinding, lantai dan udara di ruang ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta 3. Variabel terganggu: a. Terkendali: Cara kerja penelitian Teknik pemeriksaan

b. Tak terkendali Jumlah pengunjung rumah sakit, manusia yang terinfeksi/membawa kuman. Cara desinfeksi pada dinding dan lantai.

H. Definisi Operasional 1. Angka kuman pada dinding, lantai dan udara Adalah jumlah kuman yang di dapat pada apusan dinding dan lantai di hitung berdasarkan jumlah koloni dengan satuan CFU/cm, serta udara di hitung berdasarkan jumlah koloni dengan satuan CFU/cm. 2. Pola kuman Adalah jenis kuman yang diperoleh pada sampel yang di ambil dari apusan dinding, lantai dan udara setelah di lakukan identifikasi.

I. Instrumen Penelitian a. Alat 1. Kapas lidi steril 2. Pipet steril 3. Lampu Bunsen 4. Incubator suhu 35C 5. Rak tabung 6. Pompa hisap berskala (La MOtte BD Pump) 7. Midget impinger 8. Kabel rol 9. Cawan petri 10. Quebec colony counter 11. Vitek b. Bahan 1. Medio isolasi mc. Conkey 2. Media agar darah 3. Larutan ringer 4. PCA ( plate count agar)

J. Cara Kerja 1. Untuk Sampel Usap Dinding dan Lantai 1) Pengambilan sampel a) Ambil sampel usap dinding dan lantai menggunakan kapas lidi steril yang sebelumnya telah dicelupkan dalam larutan ringer steril. b) Kemudian masukkan lidi tersebut kedalam ringer. Semua pekerjaan dilakukan secara aseptis. c) Sampel dari usap dinding maupun lantai diberi kode pengambilan dan dimasukkan ke dalam box pendingin. 2) Pemeriksaan sampel a) Siapkan cawan petri sebanyak 5 buah, masing-masing diberi contoh uji, label nama sampel, tanggal pengujian, dan volume contoh uji (tingkat pengenceran). b) Contoh uji usap dinding dan lantai yang telah diambil dikocok memutar. Selanjutnya diambil 3ml dan diinokulasikan ke dalam 2 cawan petri steril masing-masing 1ml dilakukan secara aseptis (pengenceran 10), 1ml dimasukkan ke tabung yang berisi 9ml larutan buffer phospat dan campur (pengenceran 101). c) Tuangkan medium agar (PCA) ke dalam 5 cawan petri sebanyak 15-20 ml yaitu 4 cawan petri berisi contoh uji dari usap dinding dan lantai dan 1 cawan petri sebagai control, goyangkan memutar sehingga contoh uji dan medium akan bercampur merata. d) Diamkan cawan petri yang berisi contoh uji dan control pada suhu ruangan sehingga medium membeku kemudian diinkubasikan ke dalam incubator pada suhu 35C selama 1x24 jam dengan posisi cawan petri terbalik. e) Amati dan catat pertumbuhan coloni serta hitung angka kuman. f) Perhitungan jumlah kuman.

Jumlah kuman (CFU/cm2) swab dinding dan lantai


( a-d ) . 10 + ( b-d ) . 10 2

X kol =

JK =

VxX L

Keterangan : JK : Jumlah Kuman X kol : rata-rata jumlah koloni / ml V : volume buffer phosphate dalam botol steril (ml) L : luas permukaan usap (cm2) a b d : jumlah koloni pengenceran 100 : jumlah koloni pengenceran 101 : jumlah koloni dalam control

2. Untuk sampel udara 1) Pengambilan sampel a) Disiapkan midger impinger steril yang berisi larutan ringer sebanyak 10 mL kemudian dihubungkan dengan pipa hisap ( La Motte BD Pump) b) Pompa hisap dihidupkan dengan cara menekan saklar pada posisi ON, di samping itu flow meter diatur sesuai dengan skala yang diingkan yaitu 2 liter/menit selam 30 menit. c) Setelah waktu penghisapan selesai, pompa hisap dimatikan dengan cara menekan saklar pada posisi OFF. d) Midget impinger dilepaskan dari pompa penghisap dan ditutup kembali dengan kapas steril.

e) Midger impinger yang berisi larutan ringer dan telah bercampur dengan udara di beri kode pengambilan dan di masukkan ke dalam box pendingin. 2) Pemeriksaan Sampel Udara a) Disiapkan 4 cawan petri masing-masing diberi nomer uji. b) Sampel udara dalam midget impinger dikocong memutar,

selanjutnya diambil 3 mL dan diinokulasikan ke dalam 3 cawan petri sebanyak masing-masing 1 mL. c) Tuangkan medium agar ke dalam 4 cawan petri masing-masing sebanyak 15-20 mL, 3 cawan petri berisi sampel 1 cawan petri sebagai control. d) Diamkan hingga membeku kemudian diinkubasikan selama 2x24 jam dengan posisi cawan petri terbalik. e) Amati dan catat pertumbuhan coloni serta hitung angka kuman. f) Perhitungan jumlah kuman. Jumlah kuman udara (CFU/cm)
( a-b ) + ( b-d ) + (c-d) 3

X kol =

JK =

V x X x 1000 Qxt

Keterangan : JK : Jumlah Kuman X kol : rata-rata jumlah koloni / ml V : volume buffer phosphate dalam botol steril (ml) Q : debit udara pada skala T : lama waktu sampling

3. Identifikasi Kuman Sampel yang terdapat pertumbuhan kuman di isolasi. Kuman gram positif di tanam pada media isolasi Agar Darah. Sedangkan kuman gram negatif di tanam pada media Mc.Conkey. Kedua media tersebut diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37C dan untuk uji biokimia di lakukan dengan alat vitek.

K. Bagan Cara Kerja


Dinding dan Lantai ruang ICU Udara Ruang ICU

Ambil sampel dengan kapas lidi steril

Ambil sampel dengan Midget Impinger

Larutan Ringer PCA (plate count agar) Inkubasi 37C, 24 jam

Tidak ada pertumbuhan Kuman

Ada pertumbuhan Kuman

Tidak ada kuman Hitung koloni Media isolasi (agar darah) Media isolasi (Mc. Conkey)

Uji Biokimiawi ( alat Vitek)

Jenis kuman

L. Teknik dan Analisis Data Data dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif dengan melihat pertumbuhan kuman pada sampel dinding, lantai dan udara di ruang ICU.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Pada penelitian ini, sampel berjumlah 15 yang di ambil dari usap dinding 5, usap lantai 5 dan udara ruang 5 di ruang ICU. Sampel diambil pada bulan November 2012. Untuk pemeriksaan sampelnya dilakukan di laboratorium sanitasi dan Laboratorium Mikrobiologi RSUD Dr. Moewardi Surakarta Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel-tabel berikut: Tabel 1. Sebaran sampel menurut sumber usapan dan hari Lokasi
dinding hari ke1 2 3 4 5 jumlah 1 4 8 2 3 18 % 0,24 0,96 1,92 0,48 0,72 4,33 0 0 0 278 56 334 udara % 0 0 0 66,98 13,49 80,48 8 13 0 19 23 63 lantai % 1,92 3,13 0 4,57 5,54 15,18 9 17 8 299 82 415 total % 2,16 4,09 1,82 72,04 19,75 100

Dari 15 sampel yang teliti yang masing-masing diambil dari 5 sampel dinding, 5 sampel lantai dan 5 sampel udara selama 5 hari terdapat angka kuman dengan jumlah 18 koloni (4,33%) dari usap dinding, 344 koloni (80,48%) dari udara dan 63 koloni (15,18 %) dari usap lantai.

Tabel 2. Angka dan pola kuman di dinding Ruang ICU RSUD Dr. Moewardi

Hari 1 Jumlah (CFU/Cm) Pola kuman 1


Staphylococcus coagulan +

2 4
Bacillus Sp

3 8
Acinetobacter Baumanii Staphylococcus coagulan -

4 2
Acinetobacter Baumanii Staphylococcus coagulan -

5 3
Acinetobacter Baumanii Staphylococcus coagulan -

total kuman 18 kuman

Dari tabel 2 dapat diketahui angka kuman yang ditemukan pada dinding adalah sebanyak 18 koloni dengan sampel 5 titik yang diambil selama 5 hari dan koloni kuman terbanyak yang ditemukan yaitu pada hari ketiga. Untuk pola kumannya setelah dilakukan identifikasi pada sampel hari pertama ditemukan kuman Staphylococcus coagulan (+), sampel hari kedua Bacillus Sp, sampel hari ketiga Acinetobacter Baumanii dan Staphylococcus coagulan (-), sampel hari keempat Acinetobacter Baumanii dan Staphylococcus coagulan (-), dan sampel hari kelima Acinetobacter Baumanii dan Staphylococcus coagulan (-). Tabel 3. Angka dan pola kuman di lantai ruang ICU RSUD Dr. Moewardi
hari 1 Jumlah (CFU/cm) Pola Kuman 8 2 13
Morexella Lacunata Staphylococcus coagulan Staphylococcus coagulan +
total kuman 63 kuman

3 0

4 19
Klebsiella pneumoni Staphylococcus coagulan E.Coli

5 23
Pseudomonas Aerogenes Staphylococcus coagulan Bacillus Sp

Bacillus sp Staphylococcus coagulan +

Dari tabel 3 angka kuman yang ditemukan pada lantai sebanyak 5 sampel yang diambil pada 5 hari sejumlah 63 koloni CFU/cm dan yang terbanyak ditemukan pada sampel hari kelima sejumlah 23 koloni CFU/cm. Untuk pola kuman yang ditemukan pada lantai adalah Bacillus sp, Staphylococcus coagulan (+), Morexella Lacunata, Staphyloccus coagulan (-), Klebsiella pneumoni, E.coli, dan Pseudomonas Aerogenes. Tabel 4. Angka dan pola kuman di udara Ruang ICU RSUD Dr. Moewardi
Hari 1 jumlah (CFU/cm) 2 0 3 0 4 278 Acinetobacter Baumanii Staphylococcus coagulan 5 56 Acinetobacter Baumanii Staphylococcus coagulan total kuman 334 kuman

Pola Kuman

Dari tabel 4 dapat dlihat angka kuman yang paling banyakditemukan di udara terdapat disampel keempat sejumlah 278 koloni CFU/cm dan pola kuman yang ditemukan pada udara adalah Acinetobacter Baumanii dan Stapylococcus coagulan (-).

B. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kuman dan pola kuman pada dinding, lantai dan udara di ruang ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Dengan mengetahui angka kuman dan pola kuman pada dinding, lantai maupun udara di ruangan ICU kita dapat memperoleh informasi mengenai kejadian infeksi nosokomial yang mungkin ditularkan melalui ruangan, sebab lingkungan fisik yang tercemar dapat berperan sebagai sumber infeksi nosokomial (Janas, 1992). Pada tabel 1 dapat diinformasikan mengenai jumlah kuman yang di dapat pada sampel dinding, lantai dan udara yang di ambil selama 5 hari. Dinding, lantai dan udara merupakan komponen yang saling berhubungan dalam suatu ruangan. Untuk perhitungan jumlah angka kuman pada dinding dan lantai setiap sampel yaitu dengan cara mengalikan koloni rata-rata yang didapat dari koloni setiap pengenceran dengan volume ringer yang di gunakan kemudian di bagi 900. Untuk jumlah rata-rata didapat dari hasil kuman setiap

pengenceran. Untuk volume ringer yang di gunakan sebesar 100 ml sedangkan 900 itu merupakan luas sampel dinding dan lantai yang diusap, sehingga di dapat jumlah angka kuman per cm. Sedangkan untuk jumlah angka kuman di udara didapat dengan mengalikan jumlah koloni rata-rata dengan volume ringer dalam impinger kemudian dikalikan 1000 dan di bagi debit udara dikali waktu. Dari perhitungan angka kuman pada sampel usap dinding yang diambil diruang ICU (tabel 2). Didapatkan total jumlah kuman yang diambil dari lima titik sampel yaitu 18 CFU/cm. Meskipun dari semua sampel terdapat pertumbuhan kuman namun sampel belum dianggap positif. Sampel yang dianggap positif apabila melampaui jumlah koloni kuman yang yang diperbolehkan berada dalam tingkat kebersihan dinding. Menurut Kemenkes tahun 2004 dimana batas normal untuk angka kuman pada dinding untuk ruang perawatan termasuk ruang ICU 5-10 CFU/cm. Pada penelitian ini dari

lima sampel yang diambil selama lima hari didapatkan semua sampel negatif karena masih dalam batas normal yang diperbolehkan. Hal ini bisa disebabkan karena pengambilan sampel yang di ambil dari usap dinding di ruang ICU pada daerah yang jauh dari pasien maupun pada daerah yang jarang di jangkau oleh petugas rumah sakit. Faktor inilah yang dapat mengurangi kemungkinan terpaparnya kuman pada dinding di ruangan ICU. Berdasarkan hasil perhitungan angka kuman pada sampel usap lantai di ruang ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta didapatkan angka kuman lantai yang didapat dari lima titik saat pengambilan yaitu berjumlah 63 CFU/cm ( tabel 3). Penelitian yang dilakukan Nasrul dkk tahun 2008 tentang analisis angka kuman lantai ruang perawatan penyakit dalam tidak menular dan ruang isolasi penyakit menular di RSUD Undatu Palu diperoleh hasil 1187 koloni/cm setelah dibersihkan. Hal ini menunjukkan tingginya angka kuman lantai dapat disebabkan oleh berbagai faktor misalnya penggunaan dosis desinfektan yang tidak sesuai, cara pemakaian desinfektan yang tidak baik dan pengepelan lantai yang seharusnya setiap saat belum dilaksanakan secara maksimal oleh petugas. Selain itu tingginya angka kuman lantai dapat juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain misalnya pasien, pengunjung, hewan maupun serangga serta udara. Tabel 4 menunjukkan pertumbuhan kuman pada sampel yang diambil di udara ruang ICU. Dari lima sampel yang diambil tiga diantara tidak terdapat pertumbuhan kuman. Namun dua sampel diantara terdapat pertumbuhan kuman dimana satu sampel dianggap positif karena melewati batas yang diperbolehkan. Hal ini bisa disebabkan karena prosedur yang dilakukan pada saat pengambilan sampel kurang benar dan dapat juga dipengaruhi oleh kepadatan ruangan atau jumlah orang yang ada dalam ruangan yang dapat berpengaruh pada jumlah bakteri udara, karena penyebaran penyakit dalam ruangan yang padat penghuninya akan lebih cepat jika dibandingkan dengan ruangan yang jarang penghuninya. Hal ini juga sesuai dengan penelitian

Yuliani dkk. (1998) dimana jumlah orang dalam ruangan mempengaruhi jumlah bakteri udara dalam ruangan. Dalam Buku Komponen Sanitasi Rumah Sakit Untuk Institusi Pendidikan Tenaga Sanitasi, Keadaan udara sangat mempengaruhi dalam terjadinya infeksi nosokomial misalnya kelembaban udara, suhu dan pergerakan udara. Hal ini sesuai dengan penelitian Yuliani dkk (1998) dimana suhu dan kelembaban mempengaruhi angka kuman dalam udara. Infeksi nosokomial disebarkan melalui udara perlu dipantau terus- menerus. Oleh karena itu perlu adanya upaya pencegahan terjadinya penularan infeksi nosokomial kepada orang sehat baik petugas maupun pengunjung. Salah satu upaya pengendalian yang dapat dilakukan untuk memperkecil infeksi nosokomial adalah dengan memelihara kualitas lingkungan meliputi faktor fisik ruangan (suhu, kelembaban, pencahayaan) dan konstruksi bangunan (ventilasi, langit-langit, dinding, lantai, pintu). Semua upaya tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas udara dalam ruangan yang berada dalam rumah sakit (Depkes RI, 1996) Adapun pola kuman yang ditemukan pada sampel dinding, lantai dan udara hampir sama. Dari sampel dinding dan lantai pola kuman yang ditemukan adalah Acinetobacter Baumanii, Staphylococcus sp dan Bacillus sp. Sedangkan pola kuman yang ditemukan pada sampel udara adalah Morexella Lacunata, Staphylococcus sp, Bacillus sp, Klebsiella Pneumoni, Pseudomonas Aerogenes dan E.coli. Hasil penelitian di salah satu rumah sakit di Sumatra utara pada tahun 2003 menyebutkan bahwa infeksi nosokomial yang terjadi di rumah sakit disebabkan oleh jenis-jenis bakteri yang terdapat di udara yaitu

Micobacterium tuberculosa, Staphylococcus aureus, S. epidermidis serta bakteri dari Gram negatif lainnya. Diperoleh data juga bahwa kuman penyebab infeksi nosokomial yang paling sering adalah Proteus sp, Escherichia coli,S. aureus, serta Pseudomonas.

Tingkat

pencemaran udara dalam ruangan oleh mikroorganisme

dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti laju ventilasi, kepadatan penghuni, suhu serta kelembaban. Kurangnya ventilasi meyebabkan dampak pertukaran udara yang tidak memenuhi syarat dan dapat menyebabkan suburnya pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menyebabkan gangguan terhadap gangguan kesehatan. Menurut Depkes RI (1996) semakin padat penghuni ruang perawatan, akan semakin tinggi resiko terjadinya infeksi. Pasien selain dapat berperan sebagai penyebar mikroorganisme berbahaya (penyakit menular), juga kemungkinan mudah terinfeksi oleh mikroorganisme, terutama pada pasien yang kondisi tubuhnya sudah lemah. Nyoman Suhendra, et. al tahun 1991 mengatakan suhu yang tinggi menyebabkan kelembaban yang tinggi dan dapat menyebabkan pertumbuhan kuman patogen juga meningkat. Kelembaban ruangan dapat berpengaruh terhadap mikroorganisme yang ada di lantai,dinding maupun udara tetapi mikroorganisme tersebut dapat hidup dan berkembang tidak hanya tergantung kepada kelembaban ruangan saja, tetapi lebih membutuhkan unsur-unsur yang lain. Usaha yang dilakukan untuk mengurangi kelembaban ruangan dapat dilakukan dengan cara membatasi jumlah pengunjung dan jumlah penunggu pasien, ventilasi 15% dari luas lantai karena kelancaran sirkulasi udara akan mempengaruhi kelembaban. Lingkungan rumah sakit yang kurang baik akan memungkinkan terjadinya penularan penyakit yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat di lingkungan rumah sakit tersebut. Oleh karena itu pelayanan sanitasi rumah sakit perlu diselenggarakan dalam rangka menciptakan lingkungan yang bersih sehinggda dapat mendukung usaha penyembuhan penderita dan dapat mencegah terjadinya penularan infeksi nosokomial di lingkunga rumah sakit.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Total angka kuman yang ditemukan pada sampel dinding dan lantai ruang ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta masih belum memnuhi syarat. 2. Angka kuman yang ditemukan di udara ruang ICU yaitu satu dari lima sampel yang tidak memenuhi syarat. 3. Pola kuman yang ditemukan pada sampel dinding ICU yaitu Staphylococcus coagulan (+), Bacillus Sp, Acinetobacter Baumanii dan Staphylococcus coagulan (-). 4. Pola kuman yang ditemukan lantai ruang ICU yaitu Bacillus sp, Staphylococcus coagulan (+), Morexella Lacunata, staphyloccus coagulan (-), Klebsiella pneumoni, E.coli, dan Pseudomonas Aerogenes. 5. Pola kuman yang ditemukan pada udara ruang ICU yaitu Acinetobacter
Baumanii dan Staphylococcus coagulan (-).

6. Terdapat kemiripan pola kuman yang ditemukan pada dinding, lantai, dan udara di ruang ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

B. Saran Angka kuman dan pola kuman yang ditemukan pada dinding, lantai maupun udara di ruang ICU bisa saja memiliki keterkaitan dengan manifestasi infeksi nosokomial di RSUD Dr. Moewardi Surakarta sehingga disarankan: 1. Agar diperhatikan teknik sterilisasi dinding maupun lantai di ruang ICU RSUD Dr. Moeardi Surakarta. 2. Menguji efektivitas desinfektan pada dinding dan lantai ruangan. 3. Perlu diadakan penelitian selanjutnya tentang infeksi nosokomial di RSUD Dr. Moewardi Surakarta khusnya di ruang ICU.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim., 2004. Infeksi Nosokomial di Indonesia 5% http://www.mediaindonesia.com 29 september 2012 Barbara J. Gruendemann, Billie Fernsebner., 2005. Buku Ajar: Keperawatan Perioperatif; (Comprehensive Perioperative Nursing); Volume 1 Prinsip. Jakarta: EGC. 287-289 Black, JG., 2002. Microbiology: Principles and Exploration. New Jersey: Printice Hall Darmadi., 2008. Infeksi Nosokomial: Problematika dan Pengendaliannya. Jakarta: Salemba Medika Darmadi., 2008. Infeksi nosokomial : Problematika dan Pengendaliannya. Jakarta: Salemba Medika. 123-126. Dep Kes RI., 1990. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Pentaloka Survvailans Epidemiologi Bagi Para Kepala Dinas Kesehatan Dati II Depkes RI., 2004. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. Jakata Ducel, G. et al., 2002. Prevention of hospital-acquired infections, A practical guide. 2nd edition. World Health Organization. Department of Communicable disease, Surveillance and Response Hadiwidjaja, D, B, dkk., 2001. Evaluasi Daya Desinfeksi Air HOP (High Oxidation Potential) Jawetz, E, J. melnick, et al., 2005. Jakarta: EGC Jawetz, melnick & Adelberg Mikrobiologi Kedokteran. Karsinah, et al, Staf Pengajar Mikrobiologi FK UI., 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Binarupa Aksara

Marwoto Agus, dkk,. 2007. Analisis Kinerja Perawat dalam Pengendalian Infeksi Nosokomial di Ruang IRNA 1 RSUP. Dr. Sardjito. Yogyakarta Menteri Kesehatan RI. no. 220/Men.Kes/Per/IX/1976 tertanggal 6 September 1976 Michael F. Ksycki, DO, Nicholas Namias, MD, MBA., 2009. Hospital Acquired Pneumonia: Pathophysiology, Diagnosis, and Treatment. 439-461 Notoatmodjo.S, 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat (Prinsip-Prinsip Dasar). Jakarta: Rineka Cipta hal. 152. Notoatmodjo S., 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta pp126-27. Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial RS Dr Kariadi. 2004. Pedoman Pengendalian Infeksi nosokomial Edisi III. Semarang: Badan Penerbit Universitas ponorogo Porzecanski I, Bowton DL., 2006. Diagnosis and Treatment of VentilatorAssociated Pneumonia. Chest 130;597-604 Reksodiputro, A, Haryanto., 1993. Total Protected Environtmen untuk Mencegah Infeksi Nosokomial di Ruang Transplantasi Sumsum Tulang RSCM/FKUI. Cermin Dunia Kedokteran Sastroasmoro,S.,Ismael, S .2006. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: CV Sagung Seto Sinaga, Ernawati., 2003. Infeksi Nosokomial dan Staphylococcus epidermidis. http://www.republika.co.id 29 september 2012 Suharto, Utji, R., 1994. Infeksi Nosokomial. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi. Jakarta: Bina Rupa Aksara Syndman D., 2007. Nosocomial or Iatrogenic Infection. Massachusetts : Tufts OpenCourseWare

Trilla, A., 2005. Epidemiology of nosocomial infections in adult intensive care units. Barcelona, Spain: Infection Control Program, Infectious Diseases Unit, Hospital Clinic, University of Barcelona. Available from: http://www.springerlink.com/content/j08704314868gp76/ Usman Chatib Warsa,. 1987. Aspek Mikrobiologi Infeksi Nosokomial. Maj Infonnasi Kesehatan No. 19 Weinstein, R. A., 1998. Nosocomial Infection Update. Chicago, Illinois, USA: Cook County Hospital & Rush Medical College. Available from: http://www.cdc.gov/ncidod/eid/vol4no3/weinstein.htm WHO 2002. Prevention of hospital-acquired infections: A practical guide 2nd edition. http://www.who.int/csr/resources/publications/drugresist/en/whocd scsreph200212.pdf 22 Mei 2012 Wichaksana, Aryawan., 2000. Rekam Medis dan Kinerja Rumah Sakit. Cermin Dunia Kedokteran No. 129. Jakarta Zulkarnaen, Iskandar., 1999. Infeksi Nosokomial dalam Tim Penulis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia

Lampiran 1. Hasil Penelitian Angka dan Pola kuman yang di temukan pada dinding, lantai dan udara di ruang ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta 1. Sampel Dinding No 1 2 3 4 5 Lokasi ICU ICU ICU ICU ICU Jumlah koloni 1 4 8 2 3 Batas syarat Identifikasi (CFU/cm) 5-10 Staphylococcus coagulan + 5-10 5-10 5-10 5-10 Bacillus Sp Acinetobacter Bumanii Staphylococcus coagulan Acinetobacter Bumanii Staphylococcus coagulan Acinetobacter Bumanii Staphylococcus coagulan

2. Sampel Lantai No 1 Lokasi ICU Jumlah koloni 8 Batas syarat Identifikasi (CFU/cm) 5-10 Staphylococcus coagulan + Bacillus Sp 5-10 Morexella Lacunata Staphylococcus coagulan Staphylococcus coagulan + Klebsiella Pneumoni E.coli Staphylococcus coagulan Pseudomonas Aerogenes Bacillus Sp Staphylococcus coagulan

ICU

13

3 4

ICU ICU

0 19

5-10 5-10

ICU

23

5-10

3. Sampel Udara No 1 2 3 4 5 Lokasi ICU ICU ICU ICU ICU Jumlah koloni 0 0 0 278 56 Batas syarat (CFU/cm) 200 200 200 200 200 Identifikasi Acinetobacter Bumanii Staphylococcus coagulan Acinetobacter Bumanii Staphylococcus coagulan

Lampiran 2

Dokumentasi Hasil Penelitian

Gambar 1. Pengambilan Sampel Usap Dinding Ruang ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta

Gambar 2 . Pengambilan Sampel Usap Lantai Ruang ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta

Gambar 3. Pengambilan Sampel Udara Ruang ICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta

Gambar 4. Penanaman Sampel Dinding dan Lantai dan Sampel Udara ke Medium Agar ( PCA)

Gambar 5. Koloni kuman yang ditemukan pada sampel usap dinding, lantai dan sampel udara

Gambar 6. Media Isolasi Agar Darah dan Mc.Conkey