Anda di halaman 1dari 51

Pendahuluan

Sistem endokrin adalah suatu sistem dalam tubuh yg berfungsi untuk pengaturan sel yg global dan berlangsung lama melalui penghantar informasi kimia (hormon) Hormon adalah senyawa yg secara fisiologis berkhasiat tinggi, terbentuk dalam organ/jaringan tertentu (kelenjar endokrin), dibebaskan langsung ke aliran darah dan jauh dari tempat terbentuknya, menimblkan pengaruh khusus pd organ yg dituju Yang termasuk organ pembentuk hormon adalah hipotalamus, hipofisis, tiroid, paratiroid, timus, pankreas, anak ginjal/adrenal, ovarium, dan testis.

Organ/kelenjar endokrin Hormon yang dihasilkan Hipotalamus Somatoliberin, melanoliberin, prolaktoliberin, tiroliberin, kortikoliberin, gonadoliberin, somatostatin, melanostatin, prolaktostatin, dll Tirotropin, kortikotropin, gonadotropin (FSH, LH, HCG), somatotropin, melanotropin, prolaktin, vasopresin, oksitosin L-tiroksin (T4), triiodtironin (T3), kalsitonin Parathormon Timosin, timopoietin, timulin, timostimulin Insulin, glukagon Glukokortikoid (kortisol), mineralokortikoid (aldosteron) Estrogen (estradiol, estron), dan gestagen (progesteron) Androgen (testosteron)

Hipofisis

Tiroid Paratiroid Timus Pankreas Anak ginjal/adrenal Ovarium Testis

KLASIFIKASI HORMON (berdasarkan struktur)


1. Hormon peptida/protein Contoh : hormon dari hipotalamus, hipofisis, paratiroid, timus, dan pankreas
2.

Hormon steroid Contoh : hormon korteks adrenal dan hormon kelamin/gonad

3. Hormon turunan asam amino tirosin Contoh : hormon dari medula adrenal dan hormon tiroid

MEKANISME KERJA HORMON (menurut Karlston) :


1.

Pengaktifan sistem adenilat siklase Kompleks hormon-reseptor akan menyebabkan pengaktifan adenilat siklase yang akan mengubah ATP menjadi 3,5-AMP, dimana peningkatan kadar 3,5-AMP akan menyebabkan pengaktifan sistem enzim lain seperti fosforilase atau lipase; atau menyebabkan peningkatan ketelapan membran thd molekul/senyawa tertentu. Induksi biosintesis enzim dan protein lain. Kompleks hormon-reseptor menyebabkan transkripsi suatu rangkaian DNA; messenger-RNA yang terbentuk kemudian mengatur sintesis enzim yang sesuai pada polisom

2.

1. Hipotalamus

Hipotalamus terdiri atas serabut saraf yang kaya myelin dan kurang myelin dekat hipofisis. Hipotalamus dan hipofisis bekerjasama membentuk satuan fungsi untuk pengaturan oleh hormon Di hipotalamus dibentuk hormon oligopeptida liberin (hormon pembebas) dan statin (hormon penghambat) yang akan mencapai hipofisis dan disini akan dibebaskan hormon yang berhubungan (liberin/statin) Hormon pembebas/liberin bekerja menstimulasi hipofisis untuk membentuk hormon yang bersesuaian. Misal somatoliberin menstimulasi hipofisis membentuk dan mengeluarkan hormon somatotropin. Hormon penghambat/statin bekerja menghambat hipofisis dalam membentuk hormon yang bersesuaian. Misal somatostatin bekerja menghambat hipofisis supaya berhenti memproduksi/membentuk somatotropin

Hormon hipotalamus somatoliberin melanoliberin

singkatan SRH, GH-RH MRH

Menstimulasi/menghambat (pd hipofisis) Somatotropin Melanotropin

prolaktoliberin tiroliberin
gonadoliberin somatostatin melanostatin

PRH TRH
FSH-RH/LHRH SIF MIF

Prolaktin Tirotropin
FSH/folitropin, LH/lutropin somatotropin melanotropin

Mekanisme feedback (umpan balik) pada poros hipotalamus-hipofisis : Feedback negatif Sekresi hormon adenohipofisis tidak hanya dikendalikan oleh hormon hipotalamus, melainkan juga oleh kadar hormon bersangkutan dalam darah. Misal bila kadar kortisol meningkat maka sekresi ACTH dari hipofisis dan kortikoliberin dari hipotalamus akan ditekan. Feedback positif Sebaliknya jika kadar kortisol menurun maka sekresi ACTH dan kortikoliberin akan ditingkatkan.

Hormon hipotalamus yg digunakan dalam diagnostik : 1. Tiroliberin untuk diagnosis fungsi kelenjar tiroid 2. Gonadoliberin untuk diagnosis fungsi gonad

2. Hipofisis
Kelenjar hipofisis atau pituitari terbagi menjadi dua bagian yaitu hipofisis anterior dan hipofisis posterior Dalam kelenjar hipofisis anterior dibentuk hormon glandotropin dan hormon peptida efektor. Yang termasuk glandotropik adalah tirotropin, kortikotropin, dan gonadotropin (FSH dan LH). Sedangkan yg termasuk hormon efektor adalah somatotorpin, melanotropin, dan prolaktin Dalam kelenjar hipofisis posterior dibentuk hormon oksitosin dan vasopresin

2.1 Hipofisis anterior


A.

Tirotropin (TSH = Thyroidea Stimulating Hormone) Merupakan glikoprotein yang bekerja : Menstimulasi pertumbuhan, produksi, dan pembebasanhormon tiorid Merangsang pengambilan iodida dari darah ke kelenjar tiroid Menaikkan kemampuan memekatkan iodida dari kelenjar tiroid Mempercepat oksidasi iodida menjadi iodium dan perubahan diiodtirosin menjadi triiodtironin dan tiroksin Meningkatkan aktivitas enzim proteolitik yang membebaskan tiroksin, triiodtironin dari tireoglobulin Pembebasan tirotropin tergantung pada kadar hormon tiroid dalam darah. Jika kadar hormon tiroid rendah maka pembebasan tirotropin diperbesar, sebaliknya jika kadar hormon tiroid di darah tinggi maka pembebasan tirotropin diperkecil.

Tirotropin tidak memiliki arti terapeutik, hanya digunakan dalam diagnosis fungsi kelenjar tiroid. B. Somatotropin (hormon pertumbuhan=growth hormone atau STH=somatotropic hormone) Adalah hormon peptida yang bekerja menstimulasi pertumbuhan dengan menstimulasi sintesis protein (kerja anabolik) Indikasi : pertumbuhan kerdil akibat hipofisis (berguna jika lempeng epifisis belum tertutup) C. Melanotropin (MSH=melanocyt Stimulating hormone) Hormon ini menstimulasi penyebaran granul pigmen dalam kulit dan sebagian memproduksi melanin Pembebasan hormon ini diatur selain oleh MRH juga oleh faktor pembebas kortikoliberin, sehingga pada keadaan yg mennyebabkan kenaikan pembebasan kortikotropin, misalnya pada Morbus Addison, terjadi juga pigmentasi kulit

D. Kortikotropin (ACTH=adrenocorticotropic hormone) Kortikotropin adalah hormon peptida yang bekerja : menstimulasi produksi dan sekresi glukokortikoid dalam zona fasikulata kelenjar adrenal, menurunkan kandungan kolesterol dan asam askorbat korteks adrenal, Meningkatkan lipolisis melalui pengaktifan sistem adenilat siklase Penggunaan terapeutik ACTH kecil, banyak digunakan untuk diagnosis misalnya membedakan insufisiensi korteks adrenal akibat hipofisis atau bukan hipofisis

E. Gonadotropin Gonadotropin adalah hormon glikoprotein yang mengatur fungsi kelenjar kelamin/gonad wanita dan pria. Saat ini dikenal 3 gonadotropin (2 berasal dari hipofisis dan 1 dari plasenta) yaitu FSH, LH, dan HCG

Folitropin (FSH=follicle stimulating hormone) Pada wanita bekerja menstimulasi pematangan folikel dan bersama lutropin menstimulasi biosintesis estrogen. Pada pria merangsang pembentukan sperma Lutropin (LH=luteinizing hormone) Bersama dengan folitropin pada wanita menyebabkan terjadinya produksi estrogen, ovulasi, dan pembentukan badan kekuningan (corpus luteum) shg disebut luteinizing hormone. Pada pria hormon ini menyebabkan terjadinya sintesis androgen dan pembebasan testosteron dari sel antara Leydig. Koriongonadotropin (HCG=human chorionic gonadotropin) HCG dibentuk selama kehamilan dalam villi korion plasenta. HCG yang digunakan untuk tujuan terapeutik diperoleh dari urin wanita hamil atau wanita menopause Indikasi gonadotropin : kriptokhismus, hipogenitalismus, amenore primer dan sekunder

F. Prolaktin (laktotropin, LTH=Luteotropic hormone) Prolaktin adalah hormon peptida yang bekerja menstimulasi produksi air susu dalam kelenjar buah dada. Bromokriptin (suatu inhibitor prolaktin) bekerja menghambat pembebasan prolaktin dengan menstimulasi reseptor dopamin hipofisis. Senyawa ini digunakan untuk menekan laktasi, menyapih, galaktorea, amenorea, dan kemandulan akibat prolatin, serta prolaktinoma

2.2 Hipofisis posterior


Pada hipofisis posterior dibentuk hormon oksitosin dan vasopresin
A.

Oksitosin Oksitosin mrpk senyawa yg menyebabkan kontraksi uterus dengan stimulasi secara langsung thd otot uterus. Pada dosis fisiologis oksitosin menimbulkan kontraksi uterus secara ritmis Digunakan untuk : membantu memulai proses malhirkan pada pecah ketuban sebelum waktunya, keluar plasenta sebelum waktunya, preeklampsia, eklampsia; selama proses melahirkan pada kelemahan kontraksi; untuk kontraksi uterus setelah operasi Caesar;

periode setelah melahirkan untuk mengeluarkan plasenta, mengurangi hilangnya darah dan untuk profilaksis dan mengatasi toni uterus Dosis : 0,25-10 SI i.m atau infus tetes secara i.v Efek samping : takhikardia, keluhan seperti angina pektoris

B. Vasopresin (ADH=Antidiuretic hormone, Adiuretin) Bekerja menstimulasi pemekatan urin dalam ginjal dengan meningkatkan reabsorpsi air Selain itu ADH juga menstimulasi sintesis faktor VIII pembeku darah, dan pada dosis tinggi menyebabkan kontraksi seluruh otot polos Indikasi : diabetes insipidus, perdarahan varises esophagus, atoni usus setelah operasi

3. Kelenjar tiroid
Kelenjar tiroid menghasilkan dua hormon yang mempengaruhi metabolisme yaitu L-tiroksin (levotiroksin=T4) dan triiodtironin (liotironin=T3), serta kalsitonin A. Hormon tiroid (T3 dan T4) Kedua hormon tiroid berasal dari asam amino tirosin dan iod, dimana biosintesisnya terjadi dalam folikel kelenjar tiroid Folikel dlm kelenjar tiroid memiliki kemampuan memekatkan iodida (iodinasi) dan mengoksidasi menjadi unsur iod (iodisasi). Hormon tiroid disimpan dlm bentuk tireoglobulin yg terikat dgn protein, jika hormon dibutuhkan maka dilepaskan dari tireoglobulin dgn pnguraian protelitik

Indikasi : Substitusi pd semua jenis hipofungsi kelenjar tiroid spt gangguan sintesis hormon tiroid akibat genetik, pada tiroiditis, atau setelah tiroidektomi Struma eutireotik (untuk menekan kerja tirotropin) serta pasca operasi gondok Hipertireosis (digunakan bersama tireostatik untuk menghindari pembentukan gondok) Dosis : secara individual, dosis rata-rata tiroksin 0,1-0,2 mg; triiodtironin 0,02-0,06 mg Perlu diperhatikan bahwa pada sediaan yg mgd tiroksin, kerja mkasimum tercapai setelah kira-kira 10 hari dan bertahan 3-4 minggu shg ada bahaya akumulasi Efek samping : sepanjang dosis yg diberikan tepat, tdk tjd efek samping. Dosis berlebih menyebabkan timbulnya gejala hipertireosis Kontraindikasi : angina pektoris, infark miokardium, miokarditis, insufisiensi jantung, takhikardia

B. Kalsitonin Kalsitonin adalah hormon peptida yang dibentuk di sel parafolikular. Yang digunakan secara klinis adalah Lachskalsitonin sintetik yg bekerja lebih kuat dan lebih lama dari kalsitonin manusia Pada kondisi fisiologis kalsitonin mengantagonis sebagian kerja parathormon dgn menghambat pembebasan ion kalsium dan fosfat dari tulang dgn itu menstimulasi pembentukan tulang. hormon ini menurunkan kadar ion kalsium dalam darah Indikasi : Pada penyakit akibat naiknya penguraian tulang shg terjadi hiperkalsemia seperti hiperparatiroidismus primer, hiperkalsemia idiopatik, morbus Padget, atau tumor ganas dgn metastasis tulang. Keracunan vitamin D, pankreatitis akut, morbus Sudeck, osteoporosis Dosis : umumnya 100-200 IU setiap minggu s.c atau i.m dalam, pada pankreatitis akut 300 IU perhari dgn pengawasan kadar kalsium darah

Efek samping : jarang, dpt tjd nausea dan flush sementara,dan reaksi alergi lokal Penurunan kadar kalsium darah berlebih harus dihindari karena akan memicu hiperparatiroidsmus sekunder C. Tireostatika Tirostatika bekerja menghambat pembentukan dan pembebasan hormon tiroid sehingga dpt digunakan untuk mengatasi hiperfungsi kelenjar tiroid Menurut mekanisme kerjanya tireostatika dibagi menjadi : Ion iodida dan ion kalium iodida (menghambat pembebasan hormon tiroid) Ion perklorat (mencegah pengambilan iuodida ke dalam kelenjar tiroid) Tiourasil dan turunan merkaptoimidazol (mencegah perubahan iodida menjadi iod shg mencegah pembentukan iod mjd prazat hormon tiroid). Contoh : PTU (propiltiourasil), metiltiourasil, tiamazol, karbamazol Radioiod (131 I) (merusak jaringan kelenjar tiroid melalui penyinaran beta dan gamma)

4. Kelenjar paratiroid

Kelenjar paratiroid mrpk kelenjar sebsar biji kedelai yg terletak di sisi belakang kelenjar tiroid dgn bobot kira-kira 150 mg Parathormon adalah hormon polipeptida yg dihasilkan kelenjar paratiroid. Parathormon bekerja pada pengaturan kesetimbangan kalsim dan fosfat shg kadar kalsiumplasma tetap 2,5 mmol/L dan kadar fosfat 1 mmol/L Pengatur sekresi parathormon adalah kadar ion kalsium plasma Arti terapeutik parathormon kecil. Sebagai polipeptida, jika digunakan parathormon harus diberikan scr parenteral dgn dosis 20-40 unit USP setiap 12 jam

Kerja parathormon : Pada ginjal : menghambat reabsorpsi fosfat pd tubulus proksimal dan meningkatkan pengambilan kembali kalsium dan magnesium pd tubulus distal, menstimulasi hidroksilasi 25-hidroksikolekalsiferol menjadi 1,25 dihidroksi-kolekalsiferol yg mprk bentuk aktif vit D3 Pada tulang : menstimulasi aktivitas osteoklas dan pembentukan osteoklas serta osteoblast yg baru Pada usus : meningkatkan absorpsi ion kalsium dan ion fosfat terutama secara tak langsung mll peningkatan pembentukan 1,25-dihidroksikolekalsiferol Secara keseluruhan parathormon bekerja meningkatkan kadar ion kalsium plasma dan menurunkan kadar ion fosfat plasma

5. Timus

Timus mrpk organ pipih, panjang, terletak dalam mdiatinum diatas kantung jantung, di belakang tulang dada, di depan vena kava. Berat organ ini pd bayi adalah 12 g, pada usia 2-3 thn kira-kira 35 g. Berta kelenjar tetap sampai pubertas kemudian terjadi involusi menyeluruh menjadi suatu badan lemak Timus menghasilkan hormon peptida yaitu timosin, timopoietin, timulin, dan timostimulin yang sangat berguna dalam pertahanan tubuh terutama pematangan sel limfosit T Indikasi : penyakit autoimun terutama disebbakan berkurangnya jumlah limfosit T atau terbatasnya kemampuan fungsi limfosit-T

6. Pankreas

Pankreas mgd pulau Langerhans yg menghasilkan insulin (sel beta), dan glukagon (sel alfa). Insulin da glukagon terlibat dalam pengaturan kadar gula darah Insulin mrpk hormon penting untuk kehidupan. Hormon ii mempengaruhi baik metabolisme karbohidrat maupun metabolsime protein dan lemak Kerja insulin : Menaikkan pengambilan glukosa ke dalam sel-sel sebagian besar jaringan Menaikkan penguraian glukosa secara oksidatif Menaikkan pembentukan glikogen dalam hati dan juga dalam otot dan mencegah penguraian glikogen Menstimulasi pembentukan protein dan lemak dari glukosa.

Mekanisme kerja insulin pd tingkat molekul belemu diketahui sepenuhnya, tetapi setelah berinteraksi dgn reseptornya maka transport membran glukosa, asam amino, dan ion kalium diperbesar dan aktivitas enzim intrasel berubah serta kandungan cAMP sel menurun Indikasi : diabetes mellitus tipe I dan II, diabetes kehamilan (GDM) Efek samping : hipoglikemia, reaksi alergi, lipodistrofi

7. Kelenjar adrenal

Dalam korteks adrenal, dari prazat kolesterol akan dibentuk : Glukokortikoid dalam zona fasikulata yg terutama mempengaruhi metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein Mineralokortikoid dalam zona glomerulosa yg terutama empengaruhi metabolisme mineral Androgen dalam jumlah kecil dalam zona retikularis Progesteron sebg tahap antara pd sintesis glukokortikoid, mineralokortikoid, dan androgen Hormon korteks adrenal memungkinkan organisme bereaksi thd stress dalam dan luar dan menjaga homeostasis (keseimbangan biologi yg tetap) dgn mempengaruhi metabolsime karbohidrat, lemak dan protein serta keseimbangan elektrolit dan air. Kerusakan korteks adrenal yg tidak ditangani menyebabkan kematian dalam waktu singkat

A. Glukokortikoid

Glukokortikoid terpenting secara fisiologis adalah kortisol (=hidrokortison). Contoh lain (glukokortikoid sintetis) : prednison, prednisolon, triamsinolon, metilprednisolon, deksametason, betametason Kerja glukokortikoid scr fisiologis mrpk efek kortisol, yaitu : Menstimulasi glukoneogenesis protein dgn peningkatan penguraian protein (kerja katabolik) Dgn demikian meningkatkan kadar gula darah dan pembentukan glikogen dlm hati (kerja diabetogenik) Menurunkan nilai ambang ginjal thd glukosa Pada anak-anak menghambat pertumbuhan (pada dosis tinggi)

Menghambat proses peradangan tak tgt pd proses terjadinya (kerja antiflogistik) Menekan pembentukan fibroblas serta sintesis kolagen (kerja antiproliferatif) Menghambat proses peradangan tak tgt pd proses terjadinya (kerja antiflogistik) Menekan pembentukan fibroblas serta sintesis kolagen (kerja antiproliferatif) Menurunkan fungsi jaringan limfe, shg menyebabkan limfopenia, dan mengecilnya limfosit (kerja imunosupresif) Menurunkan jumlah granulosit eosinofil dan meningkatkan jumlah trombosit dalam darah Menggeser mundur sekresi ACTH dan gonadotropin dari adenohipofisis dan menghambat fungsi kelenjar gonad Menekan kemampuan terangsang otak dan menurunkan nilai ambang kejang

Memiliki kerja psikotropik, euphoria, akan tetapi kadang menyebabkan depresi Mempengaruhi pengaturan elektrolit dan air dlm ukuran yg kecil dari mineralokortikoid. Natrium ditahan, kalium dieliminasi lebih banyak, menghambat absorpsi kalium dalam usus dan reabsorpsi di ginjal (kerja antagonis vit D) Indikasi : Reumatik (khususnya pada demam reumatik akut dgn karditis, artritis reumatoid, dan poliartritis secara kolagenosis)

Reaksi alergi (misal asma bronkial, udem quincke, hay fever, gigitan serangga, urtikaria, syok anafilaktik) Penyakit darah (misal anemia hemolitik, purpura trombopenik) Penyakit hati (misal bentuk-bentuk hepatitis tertentu Penyakit paru (misal emfisema obstruktif, morbus Boeck) Penyakit pembuluh darah (misal panarteritis nodosa) Penyakit saluran cerna (misal morbus Crohn) Penyakit sstem saraf (misal kejang BNS) Penyakit mata (misal kreatitis alergik, konjungtivitis) Penyakit kulit (misal ekzema, psoriasis, eritema nodosum, eritema penyinaran) Tumor ganas, terutama tumor sistemik (leukemia, limfogranulomatosis, limfosarkoma) Udem otak Kondisi-kondisis syok berat

Pada penyakit infeksi bakteri glukokortikoid hnya boleh digunakan bersama antibiotik atau khemoterapeutik. Glukokortikoid bekerja mencegah reaksi-rekasi mesenkhimal akibat infeksi y tidak diinginkan seperti pembentukan eksudat Kriteria pemakaian diperhatikan, yaitu : Pada setiap penyakit dan setiap pasien dosis ditentukan individual Dosis tunggal atau bbrp hari glukokortikoid biasanya tdk menimbulkan efek samping berbahay, bahkan pd dosis tinggi sekalipun Jika mungkin sebaiknya dilakukan terapi bergantiganti dgn glukokortikoid Pada pengehntian terapi jangka panjang, dosis harus dikurangi perlahan-lahan untuk mecegah bahaya kompikasi akibat atrofi kortkes adrenal

B. Mineralokortikoid

Mineralokortikoid yang berarti adalah aldosteron, selain itu ada kortekson (prazat aldosteron). Aldosteron berperan dalam pengaturan elektrolit dan air dengan meningktakan reabsorpsi ion natrium dan pembebasan ion kalium dan hidrogen Makna terapeutik mineralokortikoid kecil dibandingkan glukokortikoid Aldosteron digunakan secara parenteral pada insufisiensi korteks adrenal

8. Kelenjar gonad

Ovarium adalah organ tempat pembentukan dan pematangan sel telur (ovum) dari folikel, serta tempat pembentukan hormon kelamin wanita. Dalam sel epitel folikel (sel teka interna) dibentuk estrogen, dan dalam corpus luteum (badan kekuningan) dibentuk progesteron Testis merupakan tempat pembentukan sperma dan hormon kelamin pria (androgen). Hormon kelamin pria fisiologis yg dibentuk dalam sel interstisial Leydig adalah testosteron. Dalam organ efektor (misal prostat dan vesika seminalis) hormon diubah menjadi bentuk aktifnya yaitu 5-dihidrotestosteron.

8.1 Ovarium

Dalam siklus menstruasi terlibat hipotalamus, hipofisis, ovarium dan uterus. Hipotalamus membebaskan gonadoliberin utk mengatur pembebasan gonadotropin dari adenohipofisis. Pada hari ke-3 s.d 14 dari siklus menstruasi, satu folikel mengalami pematangan dibawah pengaruh FSH dan LH. Sel epitel folikel dirangsang utk membentuk dan membebaskan estrogen Pada hari ke-13 s.d 16, folikel yg matang pecah dan tjd ovulasi. Telur/ovum bergerak menyusuri tuba Falopi hingga mencapai uterus. Folikel yg pecah diubah mjd corpus luteum yg memproduksi progesteron

Selama pematangan folikel, mukosa uterus (endometrium) juga berubah karakteristiknya. Pada fase proliferasi terjadi regenerasi mukosa uterus sampai terjadi ovulasi dibawah pengaruh estrogen. Pada fase sekresi dibawah pengaruh progesteron, mukosa uterus siap diimplantasi oleh sel telur yg dibuahi (fertilisasi). Jika tidak terjadi fertilisasi maka pada hari ke-28 (akhir siklus), corpus luteum menghentikan aktivitasnya shg kadar progesteron menurun tajam, akibatnya terjadi pengeluaran/perusakan mukosa uterus (menstruasi)

A. Estrogen

Hormon estrogen terpenting yg diproduksi sel epitel folikel adalah estradiol. Disamping itu dibentuk pula estron. Estrogen fisiologis hanya berkhasiat scr parenteral shg dikembangkan turunan estradiol yang bekerja lama dan berkhasiat scr oral. Contoh etinil estradiol, metil eter estradiol (mestranol), dll. Kerja estrogen : Meningkatkan pertumbuha organ kelamin wanita dan menentukan ciri kelamin sekunder Pada pubertas berfungsi dalam penutupan lempeng epifisis dlm tulang shg tjd penghentian pertumbuhan Mempengaruhi pembentukan mukosa uterus dan pembentukan kelenjar endometrium dlm fase proliferasi Mmlk kerja anabolik ringan dan memperbesar penyimpanan lemak di bawah kulit Menurunkan produksi sebum oleh kelenjar sebaseum

Meningkatkan adsorpsi dan penyimpanan kalsium dalam tulang Memperkecil resistensi pembuluh perifer, pada dosis tinggi menyebabkan retensi NaCl dan air

Indikasi : Keluhan klimakterium dan gejala rontoknya rambut Hipoplasia uterus dan gejala yg menyertainya (misal dismenora) Amenorea primer dan sekundr, untuk mengatur siklus diberikan bersama progesteron Kolpitis dan kraurosis vulva akibat kekurangan estrogen Menghambat dan menekan laktasi
Dosis : diberikan scr individual dan bergantung indikasi Efek samping : Meningkatkan resiko tromboemboli Atrofi ovarium pada penggunaan jangka panjang Tegang pd buah dada, kenaikan berat badan, mual, retensi natrium dengan pembentukan udem serta hiperpigmentasi kulit

B. Gestagen/progesteron

Kerja progesteron : Menstimulasi pertumbuhan otot uterus dan alveoli dalam kelenjar mamae Pada mukosa uterus menyebabkan perubahan fase proliferasi ke fase sekresi Menurunkan pembentukan lendir/mukus srviks uterus dan meningkatkan viskositas mukus servik Menghambat pembebasan LH dari hipofisis sehingga menghambat ovulasi Indikasi/penggunaan : Untuk prevensi abortus karena kekurangan progesteron Dalam pil kontrasepsi (bersama estrogen), juga sebagai zat tunggal dalam pil mini, implantasi dan suntikan untuk menekan ovulasi dan menstruasi

Pada gangguan haid akibat defisiensi progesteron dan pada PMS (premenstrual syndrome) Pada klimakterium sebagai terapi tambahan bersama estrogen Pada endometriosis yg mengakibatkan kemandulan Pada kanker endometrium/mamae tersebar yg tak dapat dibedah Efek samping : Efek virilisasi pada (janin) wanita bila digunakan dlm jangka waktu lama dgn dosis tinggi, khususnya derivat testosteron akibat kerja androgen, disamping terjadi retensio air dan garam Efek sentral, pada dosis tinggi semua steroid menekan SSP dan dapat menimbulkan rasa kantuk, kelesuan, dan depresi Gangguan hati, khususnya dapat terjadi penyumbatan saluran empedu (kolestasis)

C. Testosteron

Efek androgen (testosteron) diantaranya : Merangsang perkembangan ciri kelamin sekunder (kerja androgen) Meningkatkan libido Menentukan cara tingkah laku psikis pria Menghambat produksi sperma akibat penurunan pembebasan gonadotropin Meningkatkan pembentukan protein (kerja anabolik) Menstimulasi penghentian pertumbuhan tulang dalam pubertas Pada wanita pengobatan yang lama dengan testosteron menyebabkan maskulinisasi

Indikasi : Pada pria androgen diindikasikan untuk terapi substitusi pada semua jenis defisiensi androgen, spt hipogonadisme primer atau setelah kastrasi; impotensia coeundi dan ejaculatio praecox yang bukan disebabkan oleh pengaruh psikis; impotensi karena oligospermia Pada wanita untuk mengatasi keluhan klimakterium, karsinoma alat kelamin dan buah dada. Dosis : disesuaikan dengan indikasi, contoh : testosteron propionat 240 mg i.m tiap 2-4 minggu Efek samping : Maskulinisasi pada wanita atau atrofi kelenjar gonad, Kadang-kadang terjadi ikterus kolestatik, Retensi ion natrium, kalium, klorida, fosfat dan air.