Anda di halaman 1dari 11

UJIAN TENGAH SEMESTER

PENELITIAN PENDIDIKAN KIMIA

OLEH :

Nama Nim

: Syelli Ayu Friani : 06101010030

DOSEN PENGASUH :

1. Prof. Dr. H. Fuad Abd.Rachman, MPd 2. Dr. Hartono, MA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2012/2013

1. Judul Penelitian Pengaruh Pembelajaran Kooperetif Learning Model NHT terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang 2. Masalah Penelitian Menurut (Sugiyono, 2009) masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi. Antara teori dengan praktek, antara aturan dengan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan. Masalah penelitian pada hakikatnya adalah pertanyaan mengenai keterkaitan yang terdapat pada seperangkat peristiwa (variabel-variabel) dalam suatu bidang ilmu. Penelitian dilakukan untuk memperoleh jawabaan terhadap pertanyaan tersebut (Dantes, 2012). Pada penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif, perumusan masalah terbiasa dirumuskan dengan kalimat tanya, sedangkan penelitian kualitatif, perumusan masalah seringkali dirumuskan dalam bentuk pernyataan dan dapat juga dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. Masalah penelitian dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti dari pengalaman peneliti, deduksi yang dapat dibuat dari teori-teori yang berkaitan dalam bidangnya yang diketahui peneliti. Bisa juga dari bacaan mengenai hasil penelitian yang telah dilakukan orang bermanfaat untuk menemukan masalah-masalah yang disarankan untuk diteliti lebih lanjut. Secara ideal, masalah yang diteliti harus dapat memberikan konstribusi pada pengetahuan dalam bidang yang diteliti. Peneliti harus dapat menunjukka bahwa hasil penelitiannya mungkin akan dapat mengisi kekurangan hasil penelitian-penelitian terdahulu. Masalah yang dipilih sebaiknya merupakan masalah yang akan menimbulkan masalah baru yang perlu diteliti selanjutnya. Masalah yang baik juga harus dapat diteliti secara ilmiah, agar dapat diteliti masalah harus berkaitan dengan berhubungan antara dua variable atau lebih yang dapat didefinisikan dan diukur. Berdasarkan rasionalisasi diatas, penentuan masalah penelitian sangatlah penting. Jadi pada hakikatnya masalah penelitian itu adalah pertanyaan penelitian yang mendorongnya untuk mengadakan penelitian. Berdasarkan Judul penelitian Pengaruh Pembelajaran Kooperetif Learning Model NHT terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut : 1. Apakah ada pengaruh pembelajaran Numbered Head Together terhadap keaktifan belajar kimia siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang ?

2. Apakah ada pengaruh pembelajaran Numbered Head Together terhadap hasil belajar kimia siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang? 3. Tujuan dan Manfaat penelitian Keterkaitan antara judul, rumusan masalah, tujuan serta manfaat penelitian yaitu masing-masing dikaitkan oleh variabel - variable penelitian yaitu variable bebas dan variable terikatnya. Di dalam membuat judul, rumusan masalah, tujuan dan manfaat peneltian harus mengandung variabel variabel penelitian. Dimana variabel menurut Dr. Hartono, MA merupakan symbol atau konsep yang diasumsikan sebagai seperangkat nilai-nilai. Tujuan Penelitian berdasarkan judul penelitian Pengaruh Pembelajaran Kooperetif Learning Model NHT terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui adakah pengaruh pembelajaran Numbered Head Together terhadap keaktifan belajar kimia siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang 2. Untuk mengetahui adakah pengaruh pembelajaran Numbered Head Together

terhadap hasi belajar kimia siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang Manfaat Penelitian berdasarkan judul penelitian Pengaruh Pembelajaran Kooperetif Learning Model NHT terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang adalah sebagai berikut : 1. Bagi siswa yaitu sebagai salah satu metode pembelajaran alternatif yang dapat

membantu siswa meningkatkan keaktifan dan hasil belajar kimia siswa. 2. Bagi guru yaitu dapat menjadi alternatif untuk memilih suatu metode pembelajaran, agar memperoleh peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa. 3. Bagi peneliti yaitu dapat menjadi bahan rujukan untuk tindakan penelitian lebih lanjut di masa yang akan datang dan sebagai pengaplikasian teori-teori yang dipelajari selama ini. 4. Tinjauan Pustaka Setiap penelitian harus memiliki tinjauan pustaka, karena tinjauan pustaka merupakan pertanggung jawaban ilmiah tentang pustaka. Di dalam tinjauan pustaka diawali dengan pembahasan teori tentang variabel-variabel penelitian. Lalu terdapat hasil penelitian yang relavan dengan judul peneliti, di dalam tinjauan pustaka juga terdapat kerangka berpikir peneliti, kemudian peneliti dapat merumuskan hipotesis penelitiannya sebagai acuan dalam melakukan penelitian. Oleh karena itu setiap penelitian harus memiliki tinjauan pustaka.

Tinjauan Pustaka berdasarkan Judul Penelitian Pengaruh Pembelajaran Kooperetif Learning Model NHT terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang adalah sebagai berikut : Tinjauan Pustaka Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perencanaan pengajaran dan bagi para guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran (Sagala, 2004) Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran kelompok yang memiliki aturan-aturan tertentu. Prinsip dasar pembelajaran kooperatif adalah siswa membentuk kelompik kecil dan saling mengajar sesamanya untuk mencapai tujuan bersama. Dalam pembelajaran kooperatif siswa pandai mengajar siswa yang kurang pandai tanpa merasa dirugikan. Siswa kurang pandai dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan karena banyak teman yang membantu dan memotivasinya. Siswa yang sebelumnya terbiasa bersikap pasif setelah menggunakan pembelajaran kooperatif akan terpaksa berpartisipasi secara aktif agar bisa diterima oleh anggota kelompoknya (Priyanto, 2007). Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah sehingga sumber belajra bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar, tetapi juga sesame siswa (Nurhadi dan Senduk, 2003) dalam (Wena, 2012). Menurut (Lie, 2002) pembelajaran kooperatif adalah system pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesame siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur, dan dalam system ini guru bertindak sebagai fasilitator. Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan pembelajaran kooperatif adalah system pembelajaran yang berusaha memanfaatkan teman sejawat ( siswa lain ) sebagai sumber belajar. Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa model seperti STAD (Student Teams Achievement Division), Model jigsaw, model NHT ( Numbered Head Together ) dan lainnya. Pada penelitian ini akan digunakan model NHT ( Numbered Head Together ). Numbered Head Together (NHT) merupakan suatu pendekatan yang dikembangkan oleh Kagen (1993) di dalam (Ibrahim, 2000) untuk melibatkan banyak siswa dalam

memperoleh materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran. (Winkel, 1997) menyatakan pengertian belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas. Menurut (Irwanto, 1997) belajar adalah suatu proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu dan terjadi dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan (Hasan, 1994) menyatakan bahwa belajar adalah kegiatan yang bersifat mental atau psikis dan terjadi saat ada interaksi aktif dengan lingkungan sehingga dhasilkan perubahan tingkah laku, ketrampilan dan sikap. Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha perubahan tingkah laku yang melibatkan jiwa dan raga sehingga menghasilkan perubahan dalam pengetahuan nilai dan sikap yang dilakukan oleh seorang individu yang selanjutnya dinamakan hasil belajar. Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Kingsley (Sudjana, 2001) membagi tiga macam hasil belajar, yaitu : (a) keterampilan dan kebiasaan; (b) pengetahuan dan pengertian; (c) sikap dan cita-cita yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah. Belajar yang berhasil harus melalui berbagai macam aktifitas, baik aktifitas fisik maupun psikis. Aktifitas fisik adalah siswa giat aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain maupun bekerja, ia tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Siswa yang memiliki aktifitas psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyakbanyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pembelajaran. Keaktifan siswa dalam kegiatan belajar tidak lain adalah untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Mereka aktif membangun pemahaman atas persoalan atau segala sesuatu yang mereka hadapi dalam proses pembelajaran. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia aktif berarti giat (bekerja, berusaha). Rousseau dalam (Sardiman, 2007) menyatakan bahwa setiap orang yang belajar harus aktif sendiri, tanpa ada aktifitas proses pembelajaran tidak akan terjadi. Thorndike mengemukakan keaktifan belajar siswa dalam belajar dengan hukum law of exercisenya menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-latihan dan Mc Keachie menyatakan berkenaan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu

merupakan manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu (Dimyati & Mudjiono, 2006). Segala pengetahuan harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri, dengan bekerja sendiri dengan fasilitas yang diciptakan sendiri , baik secara rohani maupun teknik. (Sudjana, 2001) mengatakan bahwa keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, terlibat dalam pemecahan masalah, bertanya kepada siswa lain atau kepada guru jika tidak memahami persoalan yang dihadapinya. Selain itu, keaktifan siswa ditandai pula dengan berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah, melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru, menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang sejenis, kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperoleh dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapi. Dapat disimpulkan bahwa keaktifan siswa dalam belajar merupakan segala perbuatan yang bersifat fisik dan non fisik siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar yang optimal sehingga dapat menciptakan suasana kelas menjadi kondusif. Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Hal ini didukung oleh hasil penelitian terdahulu seperti penelitian yang dilakukan oleh M. Atim pada MANI Gresik menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw menyebabkan siswa : (1) lebih suka bertanya kepada team dibandingkan kepada guru karena lebih mudah memahami materi pelajaran, (2) lebih menyenangkan (Priyanto, 2007). Penelitian (Priyanto, 2007) dengan judul Keefektifan Pembelajaran Kooperatif Model Jigwae pada Pembelajaran Kimia Siswa Kelas X Madrasah Aliyah Darut Taqwa, Malang, menyimpulkan sebagai berikut. (1) Siswa kelas X memiliki persepsi sangat baik terhadap pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. (2) Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw secara signifikan memberikan prestasi belajar yang lebih baik daripada strategi ceramah pada siswa yang mondok di pesantren. (3) Tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang mondok dengan hasil belajar siswa yang tidak mondok dalam menggunakan pembelajaran kooperatif model jigsaw. Penelitian (Warjianto, 2010) yang berjudul Metode Numbered Heads Together (NHT) disertai Media Puzzle Untuk Meningkatkan Partisipasi Siswa Terhadap Materi Biologi Smp Kelas Vii, Surakarta. Menyimpulkan bahwa Penerapan Numbered Heads Together disertai media puzzle dapat meningkatkan meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Partisipasi siswa terlihat lebih menyeluruh. Peningkatan partisipasi siswa

terlihat dari peningkatan persentase partisipasi siswa pada prasiklus sebesar 68,5%, selanjutnya meningkat pada siklus I menjadi 76,8%, dan pada siklus II meningkat menjadi 82,5%. Dari berbagai pernyataan diatas, peneliti membuat hipotesis bahwa Terdapat Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Model NHT Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang.

5. Hipotesis Penelitian Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dan harus diuji kebenarannya. Hipotesis merupakan suatu pernyataan sederhana mengenai suatu harapan peneliti tentang hubungan antar variabel daoam masalah. Setelah hipotesis tersusun, peneliti mengujinya melalui penelitian. Oleh karena itu, hipotesis disajikan hanya sebagai suatu pemecahan masalah yang sementara, dengan pengertian bahwa penelitian yang dilaksanakan tersebut dapat berakibat penolakan atau penerimaan hipotesis yang disajikan. Pentingnya merumuskan hipotesis karena hipotesis memberikan keterangan tentative mengenai fenomena tertentu dan memudahkan penambahan pengetahuan peneliti dalam bidang yang akan diteliti. Agar dapat memperoleh pengetahuan yang terandalkan tentang masalah pendidikan, kita harus senantiasa mempelajari hubungan antara fakta satu dengan yang lainnya. Hipotesis menyatakan hubungan yang dapat diuji (testable) melalui penelitian. Pertanyaan tidak dapat diuji secara langsung. Penelitian memang dimulai dengan pertanyaan, tetapi hanya hubungan variabel-variabel yang dapat diuji atau peneliti hanya menguji hipotesis (yang rumusannya) berupa pernyataan. Hipotesis memberikan arah penelitian. Hipotesi adalah pernyataan khusus yang dirumuskan berdasarkan kerangka berpikir di dalam tinjauan pustaka. Atau dengan kata lain, hipotesis memberitahukan kepada peneliti apa yang harus dikerjakan. Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penelitian. Akan lebih mudah bagi peneliti apabila ia membuat kesimpulan dari setiap hipotesis secara terpisah. Oleh karena itu, hipotesis penelitian penting untuk dirumuskan. Berdasarkan Judul penelitian Pengaruh Pembelajaran Kooperetif Learning Model NHT terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang Hipotesis penelitiannya adalah sebagai berikut :

1. Ada pengaruh positif Pembelajaran Kooperetif Learning Model NHT terhadap Keaktifan Belajar Kimia Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang 2. Ada pengaruh positif Pembelajaran Kooperetif Learning Model NHT terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang 6. Variabel Penelitian Variabel penelitian harus ada di dalam setiap penelitian karena variabel merupakan suatu symbol atau konsep yang diasumsikan sebagai seperangkat nilai-nilai tentang apa yang akan di teliti oleh peneliti. Oleh karena itu, setiap penelitian harus mempunyai variabel penelitian. Banyaknya variabel penelitian tergantung dari jenis penelitiannya. Berdasarkan Judul penelitian Pengaruh Pembelajaran Kooperetif Learning Model NHT terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang variabel penelitiannya adalah sebagai berikut : Variabel bebas : Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Learning Model NHT

Variabel terikat : Keaktifan dan hasil belajar kimia siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang 7. Populasi dan Sampel Setiap populasi harus ada sampel. Populasi menurut (Dantes, 2012) adalah sejumlah kasus yang memenuhi seperangkat kriteria tertentu, yang ditentukan peneliti. Kasus-kasus bisa berbentuk peristiwa, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Sedangkan sampel itu sendiri adalah elemen pada populasi yang dijadikan sebagai perwakilan dari populasi. Oleh karena itu setiap populasi harus ada sampel. Sampel harus representative maksudnya apa yang ditemukan dalam sampel (yang didapatkan berdasarkan teknik tertentu) juga harus ditemukan nantinya di dalam populasi. Pada populasi yang tidak homogen sempurna, besarnya sampel mempengaruhi representative sampel, karena semakin besar jumlah sampel makin besar peluang sampel mengikuti ciri-ciri dan distribusi populasinya. Sedangkan pada populasi yang homogen sempurna, besarnya jumlah sampel tidak berpengaruh pada tingkat representative sampel. Populasi dan sampel berdasarkan Judul penelitian Pengaruh Pembelajaran Kooperetif Learning Model NHT terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang adalah : 1. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 10 Palembang, yang terdiri dari kelas XI IPA 1, kelas XI IPA 2, kelas XI IPA 3, kelas XI IPA 4 masing-masing kelas terdiri dari 40 orang.

2. Sampel yang diambil dari populasi menggunakan teknik kluster random sampling sederhana yaitu penarikan sampel berdasarkan pada kelompok-kelompok sebagai anggota populasi secara sederhana, yaitu dengan randomisasi kelompok. Asumsi yang dianut bahwa masing-masing kelompok relative homogen. Pada penelitian ini sampel berupa kelas eksperimen dan kelas control, dimana kelas eksperimen adalah kelas XI IPA 2, sedangkan kelas control adalah kelas XI IPA 3. 8. Instrumen Penelitian Setiap penelitian memerlukan instrumen karena prinsip meneliti adalah melakukan pengukuran, dan dalam mengukur harus ada alat ukur yang baik. Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengukur fenomena-fenomena alam maupun sosial yang diamati. Instrumen harus valid dan reliabel, karena ketepatan hasil pengujian dalam penelitian sangat tergantung dari instrumen penelitiannya. Reliabel berarti hasil pengukuran konsisten dari waktu ke waktu. Valid berarti instrumen secara akurat mengukur objek yang harus diukur. Instrumen yang valid (sahih) berarti instrumen tersebut mampu mengukur mengenai apa yang akan diukur. Sedangkan instrumen yang memenuhi persyaratan reliabilitas (handal), artinya instrumen tersebut menghasilkan ukuran yang konsisten walaupun instrumen tersebut digunakan untuk mengukur berkali-kali. Berdasarkan Judul penelitian Pengaruh Pembelajaran Kooperetif Learning Model NHT terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Palembang, instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar observasi untuk melihat keaktifan siswa. Lembar observasi yang digunakan disini berupa lembar catatan anekdok, yaitu suatu format berisi daftar nama siswa. Pada bagian kanan setiap nama disediakan ruang bagi guru untuk membuat catatan aktivitas siswa yang bersangkutan. Dan instrument rubric penilaian untuk melihat hasil belajar kimia siswa. Rubrik penilaian disini berupa lembar soal-soal berisi materi kimia yang akan digunakan dalam penelitian. 9. Teknik pengolahan dan analisis data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data yang dapat menjawab pertanyaan penelitian yang telah ditetapkan, yaitu hasil belajar kimia siswa berupa produk yang merupakan hasil dari pelaksanaan tindakan dan keaktifan belajar kimia siswa yang

dikumpulkan ketika pelaksanaan tindakan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan studi dokumen. Data keaktifan siswa dalam belajar kimia diambil dengan teknik observasi, instrument yang digunakan berupa lembar observasi, disini yang dinilai adalah proses. Teknik analisis berdasarkan beberapa komponen yang diobservasi, dilakukan analisis deskriptif kualitatif. Data hasil belajar kimia siswa diambil dengan teknik studi dokumen, instrument yang digunakan berupa lembar soal-soal, disini yang dinilai adalah kognitifnya. Teknik analisis berdasarkan penilaian kertas kerja dari lembar soal tadi, dan ditentukan dengan PAP.

10. Apa yang dimaksud dengan generalisasi hasil penelitian? Apakah penelitian anda di atas perlu generalisasi? Apakah hasil penelitian anda di atas berlaku untuk SMA lain yang di kota Palembang? Jelaskan! Generalisasi merupakan proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum. Misalkan penelitian dilakukan di satu kelas di SMA Negeri 10 Palembang, apabila hasil penelitian yang didapat sesuai dengan harapan peneliti (H0 ditolak berarti H1 diterima) maka apabila diuji kembali dengan sampel yang lebih luas atau umum hasil yang didapat sama maka metode yang digunakan dalam penelitian ini dapat dikatakan telah tergeneralisasi. Sehingga generalisasi ini perlu dilakukan untuk

mengetahui kevalidan dan reabilitasnya. Hasil penelitian yang saya lakukan berlaku untuk SMA lain yang ada di Palembang, karena adanya penggunaan instrument dalam generalisasi digunakan untuk mengukur serta mendapatkan ketepatan dan menghindari kekeliruan. Penelitian saya dapat di observasi atas fakta fakta hasil penelitiannya dan di rumuskan dengan memperhatikan kondisi yang bervariasi misalnya waktu tempat dan keadaan khususnya lainya. Sehingga dapat di publikasikan untuk memungkinkan adanya pengujian kembali, kritik dan pegetesan atas generalisasi yang di buat.

Daftar Pustaka
Dantes, N. (2012). Metode Penelitian. Yogyakarta: ANDI. Dimyati, & Mudjiono. (2006). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Hasan, C. (1994). Dimensi-Dimensi Psikologi Pendidikan. Surabaya: Al- Ikhlas. Ibrahim, M. d. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press. Irwanto. (1997). Psikologi Umum. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Lie, A. (2002). Cooperative Learning . Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Priyanto. (2007). Keefektifan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw pada Pembelajaran Kimia Siswa Kelas X Madrasah Aliyah Darut Taqwa. Malang: Tesis S2 PPS UM. Sagala, s. ( 2004). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta. Sardiman. (2007). Interaksi dan Motivasi belajar mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Sudjana, N. (2001). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sugiyono. (2009). Metode penelitian pendidikan (pendekatan kualitatif, kuantitatif, R&D) . Bandung: Alfabeta. Warjianto, F. (2010). METODE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DISERTAI MEDIA PUZZLE UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI SISWA TERHADAP MATERI BIOLOGI SMP KELAS VII. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Wena, M. (2012). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara. Winkel, W. (1997). Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.