Anda di halaman 1dari 20

NAMA : MONICA JULIANI NPM : 14211601 KELAS : 2EA27

BAB IV TINJAUAN SEKILAS KONDISI POLITIK PASCA ORDE BARU (ERA REFORMASI)

Tugas Pendidikan Kewarganegaraan Bpk. Sri Waluyo


pg. 1

Mata Kuliah : Pendidikan Kewarganegaraan Dosen : Bapak Sri Waluyo

Topik Karya Ilmiah TINJAUAN SEKILAS KONDISI POLITIK PASCA ORDE BARU (ERA REFORMASI)

Kelas : 2EA27

Tanggal Upload Tulisan : 31 Mei 2013

Penyusun
NPM 14211601 Nama Lengkap Monica Juliani Tanda Tangan

Program Sarjana Ekonomi Manajemen UNIVERSITAS GUNADARMA

pg. 2

KATA PENGANTAR
Segala rasa hormat dan puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat, rahmat dan karunianya saya dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul TINJAUAN SEKILAS KONDISI POLITIK PASCA ORDE BARU (ERA REFORMASI) dengan baik dan lancar. Saya sangat berharap karya ilmiah ini bisa bermanfaat bagi banyak orang yang telah membaca karya ilmiah yang saya buat ini. Sebab dengan begitu kita bisa mengerti dan mendalami tentang kondisi politik pasca orde baru. Dalam karya ilmiah ini juga menggambarkan tentang pengembangan politik dan masih banyak lagi yang lainnya, yang saya bahas dalam karya ilmiah yang saya buat ini. Saya sangat menyadari bahwa karya ilmiah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan . Oleh karna itu, saya mengharapkan saran juga kritik demi peningkatan karya ilmiah ini. Dan saya berharap karya ilmiah ini berdampak positif bagi para pembaca. Adapun dalam penulisan karya ilmiah ini ada kekurangan baik dalam segi apapun, saya mohon maaf karena manusia tak luput dari kesalahan. Karena kesempurnaan hayalah milik Tuhan Yang Maha Esa.

Jakarta, 23 Mei 2013

Monica Juliani

pg. 3

DAFTAR ISI
PENYUSUN .......................................................................................................... KATA PENGANTAR .................................................................................. 2 3 4 5

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ABSTRAKSI .......................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG .................................................................................. 1.2 RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH .............................................. 1.3 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN .............................................. 1.4 METODE PENULISAN .................................................................................. BAB II METODE PENULISAN 2.1 WAKTU dan TEMPAT PENULISAN .......................................................... 2.2 METODE PENULISAN .................................................................................. 2.3 LANGKAH LANGKAH PENULISAN .......................................................... BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Pembangunan Politik Pasca Orde Baru (Reformasi) .................................. 3.2 Program Pembangunan Politik .......................................................... BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Politik Sekarang ( Era Reformasi ) .............................................. 4.2 Etika Politik Era Reformasi ...................................................................... BAB V PENUTUP 5.1 KESIMPULAN .............................................................................................. 5.2 SARAN .......................................................................................................... 5.3 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

6 8 8 8

9 9 9

10 12

14 16

19 20 20

pg. 4

ABSTRAKSI
Pasca runtuhnya rezim politik Orde Baru-nya Suharto yang otoriter di tahun 1998. Indonesia, kemudian memasuki masa Reformasi, yang lantas disebut juga Orde Reformasi. Orde Reformasi dicirikan dengan terjadinya apa yang oleh ODonnell dan Schmitter disebutnya fase liberalisasi politik. Fase ini secara teoritis sebagai fase transisi dari otoritarianisme entah menuju kemana. Apa yang disebut liberalisasi adalah proses pendefinisian ulang dan perluasan hak-hak. Liberalisasi merupakan proses mengefektifkan hak-hak yang melindungi individu dan kelompok-kelompok sosial dari tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh negara. Liberalisasi politik awal pasca Orde Baru ditandai antara lain terjadinya redefinisi hak-hak politik rakyat. Ketika Orde Baru tumbang, setiap kalangan menuntut kembali hak-hak politiknya yang selama bertahun-tahun dikerangkeng oleh negara. Konsekuensi dari liberalisasi politik ditandai dengan terjadinya ledakan partisipasi politik. Ledakan ini terjadi dalam bentuk yang beragam. Pada tataran akar rumput (grass root), ledakan partisipasi politik banyak mengambil bentuk huru-hara, kekerasan massa, amuk massa, atau praktek penjarahan kolektif. Sementara ledakan partisipasi politik di kalangan elit politik ditandai dengan maraknya pendirian partai politik. Sebagai perwujudan dari ledakan partisipasi politik itu, para elit politik berlomba-lomba mendirikan kembali partai politik, sehingga jumlah partai politik banyak. Klimaks dari pendirian partai politik adalah diselenggarakannya pemilu di tahun 1999. Inilah pemilu pertama pasca Orde Baru dan pemilu kedua setelah pemilu 1955, yang oleh para pengamat asing disebut sebagai pemilu paling bersih.

pg. 5

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era pemerintahan Soekarno. Orde Baru hadir dengan semangat "koreksi total" atas penyimpangan yang dilakukan oleh Soekarno pada masa Orde Lama. Orde Baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. Dalam jangka waktu

tersebut, ekonomi Indonesia berkembang pesat meskipun hal ini terjadi bersamaan dengan praktik korupsi yang merajalela di negara ini. Selain itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin melebar. Masa Jabatan Presiden Suharto. Pada 1968, MPR secara resmi melantik Soeharto untuk masa jabatan 5 tahun sebagai presiden, dan dia kemudian dilantik kembali secara berturut-turut pada

tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Politik Presiden Soeharto memulai "Orde Baru" dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir masa jabatannya. Salah satu kebijakan pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan Indonesia menjadi anggota PBB lagi. Indonesia pada tanggal 19 September 1966 mengumumkan bahwa Indonesia "bermaksud untuk melanjutkan kerjasama dengan PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan PBB", dan menjadi anggota PBB kembali pada tanggal 28 September 1966, tepat 16 tahun setelah Indonesia diterima pertama kalinya. Pada tahap awal, Soeharto menarik garis yang sangat tegas. Orde Lama atau Orde Baru. Pengucilan politik - di Eropa Timur sering disebut lustrasi - dilakukan terhadap orang-orang yang terkait denganPartai Komunis Indonesia. Sanksi kriminal dilakukan dengan

menggelar Mahkamah Militer Luar Biasauntuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto sebagai pemberontak. Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat "dibuang" ke Pulau Buru.

pg. 6

Sanksi nonkriminal diberlakukan dengan pengucilan politik melalui pembuatan aturan administratif. Instrumen penelitian khusus diterapkan untuk menyeleksi kekuatan lama ikut dalam gerbong Orde Baru. KTP ditandai ET (eks tapol). Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer namun dengan nasihat dari ahli ekonomi didikan Barat. DPR dan MPR tidak berfungsi secara efektif. Anggotanya bahkan seringkali dipilih dari kalangan militer, khususnya mereka yang dekat dengan Cendana. Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pusat. Pembagian PAD juga kurang adil karena 70% dari PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor kepada Jakarta, sehingga melebarkan jurang pembangunan antara pusat dan daerah. Soeharto siap dengan konsep pembangunan yang diadopsi dari seminar Seskoad II 1966 dan konsep akselerasi pembangunan II yang diusung Ali Moertopo. Soeharto merestrukturisasi politik dan ekonomi dengan dwitujuan, bisa tercapainya stabilitas politik pada satu sisi dan pertumbuhan ekonomi di pihak lain. Dengan ditopang kekuatan Golkar, TNI, dan lembaga pemikir serta dukungan kapital internasional, Soeharto mampu menciptakan sistem politik dengan tingkat kestabilan politik yang tinggi. Eksploitasi sumber daya Selama masa pemerintahannya, kebijakan-kebijakan ini, dan pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar namun tidak merata di Indonesia. Contohnya, jumlah orang yang kelaparan dikurangi dengan besar pada tahun 1970-an dan 1980-an.

pg. 7

1.2 RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH


Rumusan masalah: 1. Bagaimanakah pembangunan politik pasca orde baru (reformasi) ? 2. Jelaskanlah program pembangunan politik tersebut ! 3. Bagaimanakah keadaan politik sekarang ( era reformasi ) ? 4. Seperti apakah etika politik era reformasi ?

1.3 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN


Adapun tujuan penulis mengangkat topik tentang sistem politik Indonesia era Reformasi (Pasca Orde Baru) ini yaitu untuk memberikan informasi pada pembaca keadaan sistem politik Indonesia pada saat . Namun ini juga sebagai pemahaman tentang sistem pollitik Indonesia dan kinerjanya yang sangat penting untuk menumbuhkan dan meningkat kan kepedulian serta partisipasi aktif mereka, sehingga sistem politik Indonesia bisa melayani kepentingan public secara substansial dan maksimal. Selain itu, karya ilmiah ini saya susun untuk tujuan melengkapi tugas mata kuliah pendidikan kewarganegaraan.

1.4 METODE PENULISAN


Penulis mencari data dan artikel dari beberapa buku dan dari internet yang berhubungan dengan penulisan karya ilmiah dan yang berkaitan dengan tinjauan sekilas kondisi politik pasca orde baru ( era reformasi ).

pg. 8

BAB II METODE PENULISAN


2.1 WAKTU DAN TEMPAT PENULISAN
JAKARTA, Mei 2013

2.2 METODE PENULISAN


Penulis mencari data dan artikel dari beberapa buku dan dari internet yang berhubungan dengan penulisan karya ilmiah dan yang berkaitan dengan tinjauan sekilas kondisi politik pasca orde baru ( era reformasi ).

2.3 LANGKAH LANGKAH PENULISAN


Cover, Lembar Penyusun, Kata Pengantar, Daftar Isi, Abstraksi, BAB I Pendahuluan (Latar Belakang, Rumusan dan Batasan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, penulisan) , BAB II Metode Penulisan ( Waktu Langkah Penulisan ) , dan Tempat Penulisan, metode Metode

Penulisan, Langkah

BAB III Landasan

Teori, BAB IV

Pembahasan, BAB V Penutup ( Kesimpulan, Saran, Daftar Pustaka).

pg. 9

BAB III LANDASAN TEORI


3.1 PEMBANGUNAN (REFORMASI)
Dalam perjalanan kemerdekaan bangsa Indonesia setelah lebih dari 65 tahun, Indonesia banyak mengalami berbagai macam metode sistem pemerintahan. Mulai dari RIS, Sistem

POLITIK

PASCA

ORDE

BARU

Parlementer hingga Sistem demokrasi terpimpin. Perubahan sistem pemerintahan adalah sebuah kewajaran pada masa awal kemerdekaan Indonesia dimana bangsa kita masih mencari sistem pemerintahan yang baik dan tepat untuk diterapkan. Kemudian pada masa orde baru, pembangunan politik lebih mengarah kepada pelanggengan kekuasaan atau hegemoni1dari pihak penguasa. Hal tersebut ditandai dengan adanya fusi partai2 yang diterapkan pada Pemilu tahun 1977. Dimana Soeharto yang waktu itu menjabat sebagai Presiden dapat mengurangi ancaman maupun tekanan dari pihak partai lain selain dari Golkar yang menghalanginya untuk terus menjadi Presiden. Hal ini terbukti dengan sejarah masa pemerintahannya yang mencapai selama 32 tahun. Akhirnya pada krisis moneter yang dirasakan Indonesia sejak tahun 1993, munculah sebuah wacana tentang suksesi3 yang dilontarkan oleh Amien Rais untuk menggulingkan rezim Soeharto. Puncaknya adalah pada Mei 1998, yaitu adanya tuntutan untuk reformasi dan turunnya Soeharto dari kursi kepemimpinan beserta kroninya yang dianggap telah membuat Indonesia mencapai puncak krisis yang paling parah4. Sampai pada akhirnya Soeharto mengundurkan diri karena desakan dari parlemen dan mundurnya beberapa menteri dari kabinet waktu itu. Setelah turunnya Soeharto, kembali tumbuh masalah baru. Presiden berikutnya yaitu B.J Habibie mengumumkan untuk membuka kran demokrasi selebar-lebarnya yang artinya masyarakat Indonesia bebas untuk melakukan apapun dalam halnya berbicara, bertindak dan melakukan kreativitas yang menunjang untuk dirinya sendiri, masyarakat serta bangsa dan negara. Setelah adanya pembukaan kran demokrasi yang luas seperti ini, masyarakat Timor Leste seakan mendapatkan kebebasan untuk memerdekakan tanah mereka yang selama ini hanya dimanfaatkan oleh Soeharto dalam masa orde baru. Hal ini dikarenakan pada masa orde baru tidak melakukan pembangunan apapun di tanah Timor Leste setelah hasil kekayaan mereka dimanfaatkan oleh pusat sehingga memunculkan rasa ketidakadilan masyarakat Timor Leste.
pg. 10

Penyebab ini yang akhirnya mengakibatkan rakyat Timor Leste menginginkan untuk lepas dari NKRI. B.J Habibie selaku kepala negara saat itu mengadakan jajak pendapat untuk kebaikan kedua belah pihak. Timor Leste akhirnya lepas dari pangkuan ibu pertiwi. Hal diatas sedikit banyak mempengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia tentang arti demokrasi yang diterapkan di Indonesia. Kejadian lepasnya Timor Leste dari NKRI menunjukkan bahwa rapuhnya sistem demokrasi yang dibangun oleh Indonesia saat itu. Pembangunan nilai demokrasi yang seharusnya diawali dari pemerintahan saat itu guna menjaga dan mensosialisasikan nilai demokrasi sebenarnya tidak menggunakannya dengan benar. Sampai pada akhirnya berganti Presiden hingga saat ini. Kebebasan berdemokrasi dan politik5 membuat Indonesia terjebak dalam sebuah sistem demokrasi kebablasan6 artinya masyarakat Indonesia saat ini menjalankan demokrasi yang tidak dibatasi dalam peraturan dan perundang undangan. Meskipun ada beberapa UU yang mengatur soal itu, banyaknya penyimpangan yang mengatasnamakan demokrasi seolah mengalahkan UU yang dibuat. Demokrasi yang terlalu bebas ini juga menjadikan masalah baru bagi masyarakat yang taraf hidupnya rendah. Kebebasan berdemokrasi justru membuat rakyat miskin makin kekurangan karena tidak mempunyai kesempatan yang sama dalam berdemokrasi selayaknya masyarakat kalangan elit. Adanya kesenjangan sosial yang cukup jauh ini, menyebabkan timbulnya beberapa macam akibat seperti vandalism7, keberpihakan negara terhadap elit8 sampai yang terparah adalah pemotongan hak hak yang seharusnya diberikan kepada masyarakat miskin9. Timbulnya vandalisme dalam berdemokrasi tidak lain dan tidak bukan adalah karena ketidakmerataan pembangunan pemerintah yang berdampak pada kondisi psikologis masyarakat dan menimbulkan dampak iri terhadap masyarakat yang merasakan pembangunan. Begitu juga dengan keberpihakan negara pada kaum elit yang seakan menekan rakyat miskin guna memenuhi kepentingan elit semata seperti kasus penggusuran yang diperuntukkan membangun perumahan dan gedung gedung tinggi yang dikuasai oleh para elit. Kebijakan subsidi10 juga menjadi sebuah masalah baru. Adanya pemotongan dana subsidi dari pemerintah daerah juga merupakan contoh buruk demokrasi yang dikembangkan Indonesia saat ini. Ketika ini terjadi dan sudah banyak diekspos oleh media, pemerintah hanya diam seribu bahasa. Tidak ada penindakan dan langkah konkrit dari pemerintah untuk menangani hal ini.

pg. 11

3.2 PROGRAM PEMBANGUNAN POLITIK


Fasilitasi Penyelenggaraan Pendidikan Politik Rakyat dan Pengembangan Sistem Politik Program ini bertujuan menfasilitasi penyelenggaraan pendidikan politik rakyat dan pengembangan Sistem politik yang dapat meningkatkan kesadaran serta pemahaman masyarakat terhadap hak dan kewajiban politiknya dalam berbagai segi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kegiatan Program Pembangunan 1. Fasilitasi bagi partai politik dan organisasi kemasyarakatan untuk melakukan sosialisasi dan pembinaan kader-kadernya. 2. Fasilitasi pendidikan politik dan pengembangan budaya politik. 3. Fasilitasi terhadap pembenahan secara sistematik kelembagaan, tata kerja, personil, dan proses yang terjadi baik di tingkat suprastruktur politik maupun di tingkat infrastruktur politik; 4. Pengembangan pemerintahan yang bersih dan berwibawa melalui penegakan hukum secara adil dan konsisten sebagai cermin pengembangan etika politik dan budaya politik yang positif konstruktif.

Peningkatan Peran Lembaga Legislatif Program ini bertujuan untuk meningkatkan peran lembaga legislatif sebagai institusi politik yang mampu menjabarkan aspirasi rakyat, terciptanya mekanisme kontrol yang efektif, mendorong proses demokratisasi serta menciptakan iklim yang mendukung terwujudnya sikap keterbukaan dan tanggungjawab. Program ini meliputi kegiatan: Peningkatan peran lembaga legislatif secara proporsional dan lebih peka, inovatif, aspiratif terhadap keinginan masyarakat; Peningkatan peran lembaga legislatif dalam menjalankan fungsi kontrol.

Fasilitasi/Dukungan Penyelenggaraan Pemilu 2004 dan Sosialisasi Sistem Pemilu Program ini bertujuan untuk mendukung peningkatan Penyelenggaraan pemilihan umum dengan memberikan peran yang lebih efektif kepada organisasi peserta pemilihan umum, baik dalam

pg. 12

perencanaan. Pelaksanaan maupun pengawasan di daerah, serta sosialisasi sistem Pemilu yang telah disepakati kepada masyarakat. Program ini meliputi kegiatan: Penyelenggaraan pemilihan umum yang lebih berkualitas dengan prinsip jujur , adil, langsung, umum, bebas, dan rahasia; Peningkatan sarana dan prasarana pemilihan umum yang representatif; Peningkatan infrastruktur komunikasi dalam mendukung kualitas Penyelenggaraan pemilihan umum.

pg. 13

BAB IV PEMBAHASAN
4.1 KEADAAN POLITIK SEKARANG ( ERA REFORMASI )
Keadaan Dewasa Ini Meskipun sekarang demokrasi telah dibuka secara luas sejalan dengan bergulirnya proses reformasi, namun perkembangan demokrasi belum terarah secara baik dan aspirasi masyarakat belum terserap secara maksimal. Distorsi atas aspirasi, kepentingan, dan kekuasaan rakyat masih sangat terasa dalam kehidupan politik, baik dari elit politik, penyelenggara pemerintah, maupun kelompok-kelompok kepentingan. Di lain pihak, institusi pemerintah tidak jarang berada pada posisi tidak berdaya menghadapi kebebasan yang terkadang melebihi batas kepatutan, sebab walaupun kebebasan yang berlebihan tersebut bersifat kontekstual dan polanya tidak melembaga, cenderung mengarah pola tindakan anarkis. Demikian pula dengan potensi kemajemukan masyarakat Jawa Tengah yang didalammya mengandung benih konflik sosial dan sara. Kasus-kasus pemilihan pimpinan daerah sampai pemilihan Kepala Desa memunculkan pertengkaran warga diberbagai daerah menjadi ancaman bagi keutuhan persatuan serta kesatuan masyarakat. Kondisi ini merupakan tantangan yang perlu mendapat perhatian dan ditindaklanjuti dengan cepat, tepat serta menyentuh substansi permasalahannya. Tumbuh dan berkembangnya partai politik dan organisasi massa yang berorientasi penonjolan agama, etnis dan kecemburuan sosial merupakan tantangan pula untuk mewujudkan sistem politik yang stabil transparan dan demokratis. Banyaknya kasus yang lebih mengedepankan kepentingan politik daripada penegakan supremasi hukum dan penghargaan atas hak asasi manusia serta persatuan dan kesatuan bangsa, merupakan contoh betapa kerasnya usaha yang harus diperjuangkan dalam mempercepat proses penegakkan demokrasi yang benar. Oleh karena itu diperlukan karakter budaya politik dan tingkat pendidikan politik yang representatif dapat menjadi faktor penting terwujudnya kehidupan demokrasi yang bermartabat.

Strategi Kebijakan untuk mengatasi permasalahan dan tantangan era reformasi Pada kondisi pasca Orde baru seperti yang dipaparkan diatas, perlu ditetapkan suatu

strategi kebijakan pembangunan politik yang sebagai berikut: 1. Fasilitasi penyelenggaraan pendidikan politik secara intensif dan komprehensif;
pg. 14

2. Peningkatan partisipasi politik masyarakat, dengan meningkatkan keikutsertaan rakyat dalam proses penentuan keputusan dan kebijakan daerah; 3. Peningkatan peran dan fungsi lembaga legislatif, sehingga lebih mampu melaksanakan kegiatan sesuai dengan fungsinya; 4. Mendukung pelaksanaan/ penyelenggaraan Pemilu yang lebih demokratis, jujur dan adil dalam rangka penegakkan kedaulatan rakyat di segala aspek kehidupan

bermasyarakat,berbangsa dan bernegara. Adapun maksud penerapan strategi itu dengan Sasaran Tujuan pembangunan politik adalah menciptakan stabilitas politik yang kondusif bagi terselenggaranya pembangunan di segala bidang, dengan menciptakan kehidupan politik yang dinamis dan mampu

mengakomodasikan setiap perubahan kepentingan serta aspirasi rakyat dan perkembangan lingkungan strategis regional maupun nasional.

Sasaran Pembangunan Politik Pengejawantahan dari tercapainya strategi diatas adalah untuk memastikan sasaran

pembangunan politik sebagai berikut: 1. Terwujudnya partisipasi dan kesadaran masyarakat yang lebih baik dalam proses proses politik dengan berlandaskan etika dan moral yang menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran serta keadilan; 2. Terwujudnya kemandirian partai politik dalam memperjuangkan aspirasi rakyat; 3. Terwujudnya kehidupan kepartaian yang saling menghormati keberagaman aspirasi partai politik: 4. Meningkatnya efektivitas peran lembaga legislatif sehingga lebih mampu melaksanakan kegiatan sesuai dengan fungsinya; 5. Terselenggaranya kehidupan politik yang demokratis dalam rangka perwujudan kedaulatan rakyat.

pg. 15

4.2 ETIKA POLITIK ERA REFORMASI


Salah satu hasil pemikiran Kongres Umat Islam (KUI) adalah harapan bahwa presiden Indonesia mendatang adalah seorang pria. Tampaknya, itu harus dicegah menjadi realitas ataupun dorongan untuk menjadi suatu prasyarat, yang sangat tidak relevan dengan Pancasila dan UUD 1945. Pemikiran itu berbahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Orang harus memahami dulu hakikat bernegara di negara ini sebelum berbicara mengenai presiden. Kita mestinya memahami bagaimana hierarki negara, agama, dan warga negara. Sebab sudah jelas apa makna di balik pernyataan itu. Tidak hanya sekadar menjegal seseorang, tapi telah berupaya memaksakan kepentingan kelompok tertentu. Ketika dunia sudah demikian mengglobal, ketika harkat martabat manusia sudah diterima secara internasional karena memang sifatnya yang universal, kita di sini masih sibuk berkutat memperjuangkannya, malah dengan adanya pemikiran yang cenderung diskriminatif itu. Oleh karena itu dibuatlah kebijakan kebijakan Otonomi Daerah, yaitu: - Kebijakan Otonomi Daerah Era Reformasi Dalam era reformasi, pemerintah telah mengeluarkan dua kebijakan tentang otonomi daerah, yaitu : 1. UU No.22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah dan UU No.25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. 2. UU No.32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dan UU No.33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. UU yang merupakan revisi atas UU yang disebut pertama. Dalam perkembangannya, kebijakan otonomi daerah melalui UU No. 22 tahun 1999 dinilai, baik dari segi kebijakan maupun segi implementasinya, terdapat sejumlah kelemahan Oleh karena itulah kebijakan tersebut mengalami revisi yang akhirnya menghasilkan UU No.32 tahun 2004. - Desentralisasi dan Otonomi Daerah Dari semua definisi yang ada, secara garis besar ada dua definisi tentang desentralisasi, yaitu definisi dari segi perspektif administratif dan defenisi perspektif politik. Disini desentralisasi sesunggguhnya kata lain dari dekosentrasi.

pg. 16

Dekosentrasi adalah pengalihan beberapa kewenangan atas tanggung jawab administrasi dalam suatu kementrian atau jawatan. Disini tidak ada transfer kewenangan yang nyata, bawahan hanya menjalankan kewenangan atas nama atasannya dan bertanggung jawab kepada atasannya. Dalam bahasa UU otonomi daerah, dekosentrasi adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Ada beberapa alasan kenapa UU No. 22 tahun 1999 lahir. Hal ini lahir karena daerah menuntut kebebasan di era keterbukaan politik, juga karena pemerintah pusat ingin mengatasi masalah disintegrasi yang melanda Indonesia.Ada beberapa ciri yang menonjol dari UU ini, yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) Demokrasi dan demokratisasi. Mendekatkan pemerintah dengan rakyat. Sistim otonomi luas dan nyata. Tidak menggunakan sistim otonomi yang bertingkat. Penyelenggaraan tugas pemerintah di daerah dibiayai oleh anggaran belanja dan pendapatan negara (APBN). Apabila dikaji secara seksama, tampak jelas bahwa pemerintah daerah dalam melaksanakan kebijakan otonomi masih setengah hati. Pemerintah tidak rela dalam memberikan otonomi yang luas kepada daerah. Hal ini terlihat jelas dalam pasal 7 (1) UU No. 22 tahun 1999, yang menyatakan bahwa: kewenangan daerah mencangkup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanaan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta kewenangan bidang lain. - Kebijakan Otonomi Daerah Menurut UU No. 32 Tahun 2004 UU no. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, baik dari segi kebijakan maupun dari aspek implementasi, terdapat sejumlah kelemahan-kelemahan. Dari sisi kebijakan yang sebagaimana diuraikan sebelumya, mengandung sisi-sisi kelemahan sehingga memunculkan dampak negatif dalam implementasi otonomi daerah. Adapun kelemahan-kelemahan itu antara lain : Aspek kelembagaan pemerintah daerah yang menempatkan posisi DPRD yang terlalu dominan. Akuntabilitas DPRD kepada publik. Penyediaan layanan dasar yang belum memadai.
pg. 17

Munculnya raja-raja kecil didaerah. Terjadi primodialisme dalam pengangkatan kepala daerah maupun jajaran birokrasi. Terjadi konflik dalam perebutan sumber daya daerah. Karena kelemahan-kelemahan tersebut memunculkan desakan untuk merevisi UU No. 22

tahun 1999. Materi UU No. 32 tahun 2004 yang bertujuan menggantikan UU No.22 tahun 1999 selain memuat soal pilkada, juga memuat materi tentang pemerintahan daerah, atau orang kerap menyebutnya otonomi daerah. Perbedaan paling mendasar dari kedua UU tersebut terlihat dari kewenangannya. Apabila dalam UU no.22/1999 pemerintah daerah memiliki kewenangan bagi semua urusan pemerintah kecuali yang menjadi urusan pemerintah pusat, kini pada UU No.32/2004 hal itu tidak terdapat lagi.

pg. 18

BAB V PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Selama pasca orde baru, kehidupan politik di tandai dengan ketidakpastian di tingakat massa, dan konflik politik yang tinggi di tingkat elit. Oleh karena itu, proses sosialisasi politik merupakan sesuatu yang tegarap secara baik dan teroganisir. Hal ini di sebabkan karena elit-elit politik dan elit-elit strategis terjebak dalam proses adu kekuatan yang melibatakan massa. Kasus Pamswakarasa merupakan contoh bagaimana proses sosialisasa politik kurang. Pada akhirnya, masa yang sebelumnya mengalami pelemahan daya beli akibat krisis ekonomi pada tahun 1997 akhir, terlibat dalam blok-blok konflik yang diciptakan para elit, tanpa mereka mengetahui secara nyata maupun laten, akan maksud politik yang ada di dalamnya. Kasus terpenting dari hal ini adalah terjadinya berbagai bentrokan Mahasiswa dengan massa dan aparat. Kasus Trisakti dan Semanggi, setidaknya dapat dianggap sebagai refrensentasi kan lemahnya sosialisasi pada pasca orde baru. Meskipun tidaklah selalu mudah untuk memberikan penilaian terhadap apakah suatu perubahan yang terjadi merupakan suatu silent revolution ataukah suatu reformasi, tetapi mungki saja penilaian Nordholt diatas benar atau setidaknya mengandung kebenaran. Revolusi, seperti kemukakan oleh Huntington, melibatkan perubahan nilai-nilai, struktur social, lembaga-lebaga politik, kebijakan-kebijakan pemerintah dan kepemimpinan social politik dalam tempo yang begitu cepat, menyeluruh dan penuh kekerasan. Semakin uth semua perubahan ini berlangsung maka semakin total revolusi yang mengikutinya. Sementara itu, Reformai merujuk pada perubahan-perubahan yang terbatas dalam hal cakupan dan dalam laju kepemimpinan, kebijakan, dan pranata-pranata politik. Ia mengadung perubahan perubahan yang mengarah pada persamaan politik, social dan ekonomi yang lebi merata, termasu perluasan peran serta politik dalam masyrakat dan Negara. Perubahan moderat dalam arah yang bertentangan lebih tepat disebut sebagai konsolidasi di bandingkan dengan sebagai suatu reformasi.

Meskipun proses bekerjanya sistem politik bisa dimulai dengan melihat proses sosialisasi politik. Dalam pengertian sosiologi, sosialisasi merupakan proses bagaimana anak-anak berkenalan dengan nilai yang dianut masyarakat serta bagaimana mereka peranan-peranan yang

pg. 19

akan mereka lakukan bila mereka telah dewasa. Materi yang di tananmkan dengan sendirinya nilia-nilai actual, nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat serta nilai-nilai yang ideal

5.2 SARAN
Adapun saran yang dapat saya sampaikan setelah membuat karya ilmiah ini adalah: 1. Maju mundurnya suatu Negara tergantung bagaimana jiwa kepemimpinan pemimpinnya. Kita harus semakin bijak memilih mana pemimpin mana yg memiliki jiwa kepemimpinan dan memiliki wawasan baik serta memiliki moral yang baik pulak. 2. Siapa pun pemimpin nya pasti memiliki sisi negative dan positive ,memiliki pro dan kontra,nah sekarang bagaimana kita memilih mana hal yang benar dan yang salah.

5.3 DAFTAR PUSTAKA


1. Gaffar, Afan (1999). Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta : Pustaka pelajar. 2. Chusnanto, Masri.dkk (2007). Politik dan Kebebasan. Sarwono kusumaatmadja (Ed). Jakarta : Koekoesan. 3. Chrisnandi, Yuddi ( 2008 ). Beyond Parlemen. Jakarta : Ind Hill Co. 4. Kian Gie, Kwik (1995). Analisis Ekonomi Politik Indonesia. Jakarta : Gramedia. 5. Keadaan Politik Sekarang dalam era reformasi, www.jawatengah.go.id 6. Kebijakan Otonomi Daerah Era Reformasi, http://jurnal-politik.co.cc. 7. Chusnanto, Masri.dkk. (2007). Politik dan Kemiskinan. Sarwono kusumaatmadja (Ed). Jakarta : Koekoesan. 8. Najib, Supan.dkk (1998). Suara Amien Rais Suara Rakyat. Jakarta : Gema Insani Press.

pg. 20

Anda mungkin juga menyukai