Anda di halaman 1dari 39

BAB I PENDAHULUAN

Di antara penyakit degeneratif, diabetes adalah salah satu diantara penyakit tidak menular yang akan meningkat di masa datang. Diabetes sudah merupakan suatu ancaman utama bagi kesehatan umat manusia pada abad ke 21. Perserikatan Bangsa-Bangsa (WHO) membuat perkiraan bahwa pada tahun 2000 jumlah pengidab diabetes diatas usia 20 tahun berjumlah 150 juta orang dan dalam kurun waktu 25 tahun kemudian, pada tahun 2025, jumlah itu akan membengkak menjadi 300 juta orang1. Diabetes adalah salah satu penyakit yang paling sering diderita dan penyakit kronik yang serius di Indonesia saat ini. Setengah dari jumlah kasus Diabetes Mellitus (DM) tidak terdiagnosa karena pada umumnya diabetes tidak disertai gejala sampai terjadinya komplikasi. Prevalensi penyakit diabetes meningkat karena terjadi perubahan gaya hidup, kenaikan jumlah kalori yang dimakan, kurangnya aktifitas fisik dan meningkatnya jumlah populasi manusia usia lanjut2. Diabetes melitus merupakan penyakit menahun yang akan diderita seumur hidup. Dalam pengelolaan penyakit tersebut selain dokter, perawat, ahli gizi serta tenaga kesehatan lain, peran pasien dan keluarga menjadi sangat penting. Edukasi kepada pasien dan keluarganya guna memahami lebih jauh tentang perjalanan penyakit DM, pencegahan, penyulit DM, dan penatalaksanaannya akan sangat membantu meningkatkan keikutsertaan mereka dalam usaha memperbaiki hasil pengelolaan1. Menghadapi jumlah pasien diabetes melitus yang semakin meningkat, diperlukan peran semua tingkat pelayanan kesehatan. Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan tingkat primer perlu memiliki pengetahuan, ketrampilan dan ketersediaan sarana dan prasarana yang lebih baik sehingga mampu berperan dalam pelayanan pasien diabetes melitus secara komprehensif2.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Puskesmas Sebagai Pusat Pelayanan Kesehatan Primer Puskesmas adalah unit organisasi pelayanan kesehatan terdepan yang mempunyai misi sebagi pusat pengembangan pelayanan kesehatan, yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal di suatu wilayah kerja tertentu. Puskesmas sebagai bentuk nyata peran birokrasi dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat, khususnya dalam bidang kesehatan dan karena Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat3. Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama mempunyai tiga fungsi yaitu sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, memberdayakan masyarakat dan keluarga, dan memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan yang bersifat mutlak perlu, yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat serta mempunyai nilai strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Upaya pelayanan kesehatan tingkat pertama yang diselenggarakan Puskesmas bersifat holistik, komprehensif, terpadu dan berkesinambungan3,4. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama (primer) secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan (kontinyu) mencakup :

Pelayanan kesehatan perorangan Pelayanan kesehatan masyarakat. Melihat fungsi puskesmas yang sangat strategis sebagai penggerak pembangunan

kesehatan terdepan di tengah masyarakat, maka diperlukan kebijakan umum seperti dukungan dana, anggaran, sarana dan tenaga yang berkompeten, dari para penentu kebijakan berwenang yang dapat memberdayakan pelayanan puskesmas secara maksimal3,4. Pelayanan Kesehatan yang diberikan Puskesmas adalah pelayanan kesehatan menyeluruh yang meliputi pelayanan:

Promotif (peningkatan kesehatan) Preventif (upaya pencegahan) Kuratif (pengobatan) Rehabilitatif (pemulihan kesehatan) Pelayanan tersebut ditujukan kepada semua penduduk, tidak membedaan jenis kelamin

dan golongan umur3. B. Diabetes Melitus Tipe 2 a. Epidemiologi Secara epidemiologi diabetes seringkali tidak terdeteksi dan dikatakan onset atau mulainya terjadinya diabetes adalah 7 tahun sebelum diagnosis ditegakkan, sehingga morbiditas dan mortalitas dini terjadi pada kasus yang tidak terdeteksi dini. Penelitian lain menyatakan bahwa dengan adanya urbanisasi, populasi diabetes tipe 2 meningkat 5 10 kali lipat karena terjadi perubahan perilaku rural tradisional menjadi urban2. Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka insidens dan prevalensi DM tipe-2 di berbagai penjuru dunia. WHO memprediksi adanya peningkatan jumlah penyandang diabetes yang cukup besar untuk tahun-tahun mendatang. Untuk Indonesia, WHO memprediksi kenaikan jumlah pasien dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Laporan dari hasil penilitian di berbagai daerah di Indonesia yang dilakukan pada dekade 1980 menunjukkan sebaran prevalensi DM tipe-2 antara 0,8% di Tanah Toraja, sampai 6,1% yang didapatkan di Manado. Hasil penelitian pada era 2000 menunjukkan peningkatan prevalensi yang sangat tajam. Sebagai contoh penelitian di Jakarta (daerah urban) dari prevalensi DM 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993 dan kemudian menjadi 12,8% pada tahun 2001 di daerah suburban Jakarta1. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia (2003) diperkirakan penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun adalah sebesar 133 juta jiwa. Dengan prevalensi DM pada daerah urban sebesar 14,7% dan daerah rural sebesar 7,2%, maka diperkirakan pada tahun 2003 terdapat penyandang diabetes sejumlah 8,2 juta di daerah urban dan 5,5 juta di daerah rural. Selanjutnya, berdasarkan pola pertambahan penduduk, diperkirakan pada tahun 2030 nanti akan ada 194 juta penduduk yang berusia di atas 20 tahun dan dengan asumsi
3

prevalensi DM pada urban (14,7%) dan rural (7,2%) maka diperkirakan terdapat 12 juta penyandang diabetes di daerah urban dan 8,1 juta di daerah rural. Suatu jumlah yang sangat besar dan merupakan beban yang sangat berat untuk dapat ditangani sendiri oleh dokter spesialis/ subspesialis bahkan oleh semua tenaga kesehatan yang ada. Mengingat bahwa DM akan memberikan dampak terhadap kualitas sumber daya manusia dan peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar, semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah, seharusnya ikut serta dalam usaha penanggulangan DM, khususnya dalam upaya pencegahan1. b. Definisi Diabetes Melitus Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Sedangkan menurut WHO 1980 dikatakan bahwa diabetes melitus merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi yang merupakan akibat dari sejumlah faktor di mana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin1. Klasifikasi DM

c. Diagnosis Diabetes Melitus1 Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria. Guna penentuan diagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Penggunaan bahan darah utuh (whole blood), vena ataupun kapiler tetap dapat dipergunakan dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan oleh WHO. Sedangkan untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler1,5. Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. Kecurigaan adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM seperti tersebut di bawah ini: Keluhan klasik DM berupa : poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Keluhan lain dapat berupa : lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita1. Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara. Pertama, jika keluhan klasik ditemukan, maka pemeriksaan glukosa plasma sewaktu >200 mg/dL sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. Kedua, dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa yang lebih mudah dilakukan, mudah diterima oleh pasien serta murah, sehingga pemeriksaan ini dianjurkan untuk diagnosis DM. Ketiga dengan TTGO. Meskipun TTGO dengan beban 75 g glukosa lebih sensitif dan spesifik dibanding dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa, namun memiliki keterbatasan tersendiri. TTGO sulit untuk dilakukan berulang-ulang dan dalam praktek sangat jarang dilakukan1,5. Kriteria diagnosis DM untuk dewasa tidak hamil, dapat dilihat dibawah ini.

Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, maka dapat digolongkan ke dalam kelompok TGT atau GDPT tergantung dari hasil yang diperoleh1. TGT : Diagnosis TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO didapatkan glukosa plasma 2 jam setelah beban antara 140 199 mg/dL (7.8-11.0 mmol/L). GDPT : Diagnosis GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan glukosa plasma puasa didapatkan antara 100 125 mg/dL (5.6 6.9 mmol/L). Cara pelaksanaan TTGO (WHO, 1994)1: 3 (tiga) hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan sehari-hari (dengan karbohidrat yang cukup) dan tetap melakukan kegiatan jasmani seperti biasa berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan, minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan diperiksa kadar glukosa darah puasa diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa), atau 1,75 gram/kgBB (anak-anak), dilarutkan dalam air 250 mL dan diminum dalam waktu 5 menit berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan glukosa selesai diperiksa kadar glukosa darah 2 (dua) jam sesudah beban glukosa selama proses pemeriksaan subyek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok Pemeriksaan Penyaring Pemeriksaan penyaring ditujukan pada mereka yang mempunyai risiko DM namun tidak menunjukkan adanya gejala DM1. Pemeriksaan penyaring bertujuan untuk menemukan pasien dengan DM, TGT maupun GDPT, sehingga dapat ditangani lebih dini secara tepat. Pasien dengan TGT dan GDPT juga disebut sebagai intoleransi glukosa, merupakan tahapan sementara menuju DM. Kedua keadaan tersebut merupakan faktor risiko untuk terjadinya DM dan penyakit kardiovaskular di kemudian hari1. Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan melalui pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu atau kadar glukosa darah puasa. Apabila pada pemeriksaan penyaring ditemukan

hasil positif, maka perlu dilakukan konfirmasi dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa atau dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO) standar1.

BAGAN DIAGNOSIS DIABETES MELITUS

d. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tujuan penatalaksanaan diabetes melitus secara umum adalah meningkatnya kualitas hidup penyandang diabetes (PERKENI, 2006)1. Tujuan penatalaksanaan diabetes melitus dibagi menjadi dua yaitu (PERKENI, 2006): 1. Jangka pendek, hilangnya keluhan dan tanda diabetes melitus, mempertahankan rasa nyaman dan tercapainya target pengendalian glukosa darah. 2. Jangka panjang, tercegah dan terhambatnya progresifitas penyulit mikroangiopati, makroangiopati, dan neuropati. Empat pilar penatalaksanaan DM1,6: 1. Edukasi 2. Terapi gizi medis 3. Latihan jasmani 4. Intervensi farmakologis Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani selama beberapa waktu (2-4 minggu). Apabila kadar glukosa darah belum mencapai sasaran, dilakukan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin. Pada keadaan tertentu, OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi, sesuai indikasi. Dalam keadaan dekompensasi metabolik berat, misalnya ketoasidosis, stres berat, berat badan yang menurun dengan cepat, adanya ketonuria, insulin dapat segera diberikan. Pengetahuan tentang pemantauan mandiri, tanda dan gejala hipoglikemia dan cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien, sedangkan pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri, setelah mendapat pelatihan khusus1,6. o Edukasi Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku telah terbentuk dengan mapan. Pemberdayaan penyandang diabetes memerlukan partisipasi aktif pasien, keluarga dan masyarakat. Tim kesehatan mendampingi pasien dalam menuju perubahan perilaku. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya peningkatan motivasi1,6.

o Terapi Gizi Medis Merupakan salah satu terapi non farmakologis yang sangat direkomendasikan bagi penyandang diabetes (diabetisi). Terapi gizi medis ini pada prinsipnya adalah melakukan pengaturan pola makan yang didasarkan pada status gizi diabetisi dan melakukan modifikasi diet berdasarkan kebutuhan individual. Terapi Gizi Medis (TGM) merupakan bagian dari penatalaksanaan diabetes secara total. Kunci keberhasilan TGM adalah keterlibatan secara menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain dan pasien itu sendiri). Setiap penyandang diabetes sebaiknya mendapat TGM sesuai dengan kebutuhannya guna mencapai sasaran terapi. Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. Pada penyandang diabetes perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin1,6. o Latihan Jasmani Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu) selama kurang lebih 30 menit, sifatnya sesuai CRIPE (Continuous, Rhithmical, Interval, Progressive training). Sedapat mungkin mencapai zona sasaran 75-85 % denyut nadi maksimal (220/umur), disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit penyerta. Sebagai contoh olahraga ringan adalah berjalan kaki biasa selama 30 menit, olahraga sedang adalah berjalan selama 20 menit dan olahraga berat misalnya joging1,6.

o Intervensi Farmakologis1 Intervensi farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani. Obat Hipogilkemik Oral (OHO) Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 4 golongan: 1. pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue): sulfonilurea dan glinid a. Sulfonilurea Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas, dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang, namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. Untuk menghindari hipoglikemia berkepanjangan pada berbagai keadaaan seperti orang tua, gangguan faal ginjal dan hati, kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular, tidak dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang1. b. Glinid Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea, dengan penekanan pada meningkatkan sekresi insulin fase pertama. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu: Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat fenilalanin). Obat ini diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati1.
10

2. penambah sensitivitas terhadap insulin: tiazolidindion a. Tiazolidindion Tiazolidindion (rosiglitazon dan pioglitazon) berikatan pada Peroxisome Proliferator Activated Receptor Gamma (PPAR-), suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer. Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung klas I-IV karena dapat memperberat edema/retensi cairan dan juga pada gangguan faal hati. Pada pasien yang menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala1. 3. Penghambat glukoneogenesis: Metformin Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis), di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer. Terutama dipakai (metformin) pada penyandang gemuk. penghambat Metformin

glukoneogenesis

diabetes

dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin > 1,5 mg/dL) dan hati, serta pasien-pasien dengan kecenderungan hipoksemia (misalnya penyakit serebro- vaskular, sepsis, renjatan, gagal jantung). Metformin dapat memberikan efek samping mual. Untuk mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah makan1. 4. Penghambat absorpsi glukosa: penghambat glukosidase alfa. Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus, sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. Acarbose tidak menimbulkan efek samping hipoglikemia. Efek samping yang paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens1. Cara Pemberian OHO: OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara bertahap sesuai respons kadar glukosa darah, dapat diberikan sampai dosis hampir maksimal1.
11

Sulfonilurea generasi I & II : 15 30 menit sebelum makan Glimepirid : sebelum/sesaat sebelum makan Repaglinid, Nateglinid : sesaat/ sebelum makan Metformin : sebelum /pada saat / sesudah makan Penghambat glukosidase (Acarbose) : bersama makansuapan pertama Tiazolidindion : tidak bergantung pada jadwal makan. Algoritma pengobatan DM tipe 2 tanpa disertai dekompensasi

12

MEKANISME KERJA DAN EFEK SAMPING UTAMA OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL

13

OBAT HIPOGLIKEMIA ORAL. SUMBER : PERKENI, 2006

14

Penilaian Hasil Terapi Dalam praktek sehari-hari, hasil pengobatan DM tipe 2 harus dipantau secara terencana dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan jasmani dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah1: Pemeriksaan kadar glukosa darah Tujuan pemeriksaan glukosa darah: o Untuk mengetahui apakah sasaran terapi telah tercapai o Untuk melakukan penyesuaian dosis obat, bila belum tercapai sasaran terapi Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan glukosa 2 jam posprandial secara berkala sesuai dengan kebutuhan. Kalau karena salah satu hal terpaksa hanya dapat diperiksa 1 kali dianjurkan pemeriksaan 2 jam posprandial1. Pemeriksaan A1C Tes hemoglobin terglikosilasi, yang disebut juga sebagai glikohemoglobin, atau hemoglobin glikosilasi disingkat sebagai A1C, merupakan cara yang digunakan untuk menilai efek perubahan terapi 8-12 minggu sebelumnya. Tes ini tidak dapat digunakan untuk menilai hasil pengobatan jangka pendek. Pemeriksaan A1C dianjurkan dilakukan minimal 2 kali dalam setahun1. Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) Untuk memantau kadar glukosa darah dapat dipakai darah kapiler. Saat ini banyak dipasarkan alat pengukur kadar glukosa darah cara reagen kering yang umumnya sederhana dan mudah dipakai. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah memakai alat-alat tersebut dapat dipercaya sejauh kalibrasi dilakukan dengan baik dan cara pemeriksaan dilakukan sesuai dengan cara standar yang dianjurkan. Secara berkala, hasil pemantauan dengan cara reagen kering perlu dibandingkan dengan cara konvensional. PGDM dianjurkan bagi pasien dengan pengobatan insulin atau pemicu sekresi insulin. Waktu pemeriksaan PGDM bervariasi, tergantung pada terapi. Waktu yang dianjurkan adalah, pada saat sebelum makan, 2 jam setelah makan (menilai
15

ekskursi maksimal glukosa), menjelang waktu tidur (untuk menilai risiko hipoglikemia), dan di antara siklus tidur (untuk menilai adanya hipoglikemia nokturnal yang kadang tanpa gejala)1. Prosedur PGDM

Kriteria Pengendalian DM Untuk dapat mencegah terjadinya komplikasi kronik, diperlukan pengendalian DM yang baik yang merupakan sasaran terapi. Diabetes terkendali baik, apabila kadar glukosa darah mencapai kadar yang diharapkan serta kadar lipid dan A1C juga mencapai kadar yang diharapkan. Demikian pula status gizi dan tekanan darah1. Kriteria Pengendalian Diabetes Melitus. Sumber : PERKENI, 2006.

16

C. PERAN PUSKESMAS DALAM MENANGANI KASUS DIABETES MELITUS Pelayanan Kesehatan yang diberikan Puskesmas adalah pelayanan kesehatan menyeluruh yang meliputi pelayanan3: Promotif (peningkatan kesehatan) Preventif (upaya pencegahan) Kuratif (pengobatan) Rehabilitatif (pemulihan kesehatan)

Dalam pelayanan kesehatan untuk penanganan kasus diabetes melitus maka harus meliputi: promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif. a. Promotif Promosi perilaku sehat merupakan faktor penting pada kegiatan pelayanan kesehatan. Untuk mendapatkan hasil pengelolaan diabetes yang optimal dibutuhkan perubahan perilaku. Perlu dilakukan edukasi bagi pasien dan keluarga untuk pengetahuan dan peningkatan motivasi. Hal tersebut dapat terlaksana dengan baik melalui dukungan tim penyuluh yang terdiri dari dokter, ahli diet, perawat, dan tenaga kesehatan lain. Perilaku sehat bagi penyandang diabetes1,6 Tujuan perubahan perilaku adalah agar penyandang diabetes dapat menjalani pola hidup sehat. Perilaku yang diharapkan adalah: Mengikuti pola makan sehat Meningkatkan kegiatan jasmani Menggunakan obat diabetes dan obat-obat pada keadaan khusus secara aman, teratur Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) dan memanfaatkan data yang ada Melakukan perawatan kaki secara berkala Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan sakit akut dengan tepat

17

Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana, dan mau bergabung dengan kelompok penyandang diabetes serta mengajak keluarga untuk mengerti pengelolaan penyandang diabetes.

Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada

Edukasi perubahan perilaku (oleh Tim Edukator Diabetes)1,6 Dalam menjalankan tugasnya, tenaga kesehatan memerlukan landasan empati, yaitu kemampuan memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Prinsip yang perlu diperhatikan pada proses edukasi diabetes adalah1,6: Memberikan dukungan dan nasehat yang positif serta hindari terjadinya kecemasan Memberikan informasi secara bertahap, dimulai dengan hal-hal yang sederhana Lakukan pendekatan untuk mengatasi masalah dengan melakukan simulasi Diskusikan program pengobatan secara terbuka, perhatikan keinginan pasien. Berikan penjelasan secara sederhana dan lengkap tentang program pengobatan yang diperlukan oleh pasien dan diskusikan hasil pemeriksaan laboratorium Lakukan kompromi dan negosiasi agar tujuan pengobatan dapat diterima Berikan motivasi dengan memberikan penghargaan Libatkan keluarga/ pendamping dalam proses edukasi Perhatikan kondisi jasmani dan psikologis serta tingkat pendidikan pasien dan keluarganya Gunakan alat bantu audio visual

Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang sangat penting dari pengelolaan DM secara holistik1,6. Materi edukasi terdiri dari materi edukasi tingkat awal dan materi edukasi tingkat lanjutan. Edukasi yang diberikan kepada pasien meliputi pemahaman tentang:

18

Materi edukasi pada tingkat awal adalah1,6: Perjalanan penyakit DM Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM Penyulit DM dan risikonya Intervensi farmakologis dan non-farmakologis serta target perawatan Interaksi antara asupan makanan, aktivitas fisik, dan obat hipoglikemik oral atau insulin serta obat-obatan lain Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil glukosa darah atau urin mandiri (hanya jika pemantauan glukosa darah mandiri tidak tersedia) Mengatasi sementara keadaan gawat darurat seperti rasa sakit, atau hipoglikemia Pentingnya latihan jasmani yang teratur Masalah khusus yang dihadapi (contoh: hiperglikemia pada kehamilan) Pentingnya perawatan kaki Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan.

Materi edukasi pada tingkat lanjut adalah 1,6: Mengenal dan mencegah penyulit akut DM Pengetahuan mengenai penyulit menahun DM Penatalaksanaan DM selama menderita penyakit lain Makan di luar rumah Rencana untuk kegiatan khusus Hasil penelitian dan pengetahuan masa kini dan teknologi mutakhir Pemeliharaan/Perawatan kaki

19

b. Preventif (pencegahan) a) Pencegahan Primer Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada kelompok yang memiliki faktor risiko, yakni mereka yang belum terkena, tetapi berpotensi untuk mendapat DM dan kelompok intoleransi glukosa1,6. Pencegahan ini merupakan suatu cara yang sangat sulit karena yang menjadi sasarannya adalah orang-orang yang belum sakit artinya mereka masih sehat sehingga cakupannya menjadi sangat luas1,6. Yang bertanggung jawab dalam hal ini bukan hanya profesi tetapi semua pihak, untuk mempromosikan pola hidup sehat dan menghindari pola hidup beresiko, seperti : kampanye makanan sehat dengan pola tradisional yang mengandung lemak rendah atau pola makan seimbang, menjaga berat badan agar tidak gemuk dengan olah raga secara teratur. Cara tersebut merupakan alternatif terbaik dan harus sudah ditanamkan pada anak-anak sekolah sejak taman kanak-kanak. Hal ini merupakan salah satu upaya pencegahan primer yang sangat murah dan efektif1,6. Faktor risiko diabetes1,6 Faktor risiko diabetes sama dengan faktor risiko untuk intoleransi glukosa yaitu : Faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi : Ras dan etnik Riwayat keluarga dengan diabetes (anak penyandang diabetes) Umur. Risiko untuk menderita intoleransi glukosa meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Usia > 45 tahun harus dilakukan pemeriksaan DM.
20

Riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi > 4000 gram atau riwayat pernah menderita DM gestasional (DMG). Riwayat lahir dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5 kg. Bayi yang lahir dengan BB rendah mempunyai risiko yang lebih tinggi dibanding dengan bayi lahir dengan BB normal.

Faktor risiko yang bisa dimodifikasi; Berat badan lebih (IMT > 23 kg/m2). Kurangnya aktivitas fisik. Hipertensi (> 140/90 mmHg). Dislipidemia (HDL < 35 mg/dL dan atau trigliserida > 250 mg/dL) Diet tak sehat (unhealthy diet). Diet dengan tinggi gula dan rendah serat akan meningkatkan risiko menderita prediabetes dan DM tipe-2.

Intoleransi Glukosa1,6 Intoleransi glukosa merupakan suatu keadaan yang mendahului timbulnya diabetes. Angka kejadian intoleransi glukosa dilaporkan terus mengalami peningkatan1,6. Istilah ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 2002 oleh Department of Health and Human Services (DHHS) dan The American Diabetes Association (ADA). Sebelumnya istilah untuk menggambarkan keadaan intoleransi glukosa adalah TGT dan GDPT. Setiap tahun 4-9% orang dengan intoleransi glukosa akan menjadi diabetes1,6. Intoleransi glukosa mempunyai risiko timbulnya gangguan kardiovaskular sebesar satu setengah kali lebih tinggi dibandingkan orang normal1,6. Diagnosis intoleransi glukosa ditegakkan dengan pemeriksaan TTGO setelah puasa 8 jam. Diagnosis intoleransi glukosa ditegakkan apabila hasil tes glukosa darah menunjukkan salah satu dari tersebut di bawah ini :

21

Glukosa darah puasa antara 100 125 mg/dL Glukosa darah 2 jam setelah muatan glukosa ( TTGO ) antara 140-199 mg/dL.

Pada pasien dengan intoleransi glukosa anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan ditujukan untuk mencari faktor risiko yang dapat dimodifikasi1,6. Materi pencegahan primer1,6 Penyuluhan ditujukan kepada: Kelompok masyarakat yang mempunyai risiko tinggi dan intoleransi glukosa. Materi penyuluhan meliputi antara lain: 1. Program penurunan berat badan. Pada seseorang yang mempunyai risiko diabetes dan mempunyai berat badan lebih, penurunan berat badan merupakan cara utama untuk menurunkan risiko terkena DM tipe-2 atau intoleransi glukosa. Beberapa penelitian menunjukkan penurunan berat badan 5-10% dapat mencegah atau memperlambat munculnya DM tipe-21,6. 2. Diet sehat. Dianjurkan diberikan pada setiap orang yang mempunyai risiko. Jumlah asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan ideal. Karbohidrat kompleks merupakan pilihan dan diberikan secara terbagi dan seimbang sehingga tidak menimbulkan puncak (peak) glukosa darah yang tinggi setelah makan. Mengandung sedikit lemak jenuh, dan tinggi serat larut1,6.

Kebutuhan zat gizi 1.Protein Hanya sedikit data ilmiah untuk membuat rekomendasi yang kuat tentang asupan protein orang dengan diabetes. Menurut konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia kebutuhan protein untuk orang dengan diabetes adalah 10 15% energi. Perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8 g/kg perhari
22

atau 10% dari kebutuhan energi dengan timbulnya nefropati pada orang dewasa dan 65% hendaknya bernilai biologi tinggi1,6. 2. Lemak Asupan lemak dianjurkan < 10% energi dari lemak jenuh dan tidak lebih 10% energi dari lemak tidak jenuh ganda, sedangkan selebihnya yaitu 60 70% total energi dari lemak tidak jenuh tunggal (MUFA) dan karbohidrat. Distribusi energi dari lemak dan karbohidrat dapat berbeda-beda setiap individu berdasarkan pengkajian gizi dan tujuan pengobatan. Anjuran persentase energi dari lemak tergantung dari hasil pemeriksaan glukosa, lipid, dan berat badan yang diinginkan1,6. Pemberian MUFA pada diet diabetisi dapat memperbaiki kadar glukosa darah, menurunkan kadar trigliserid, kolesterol total, kolesterol VLDL, dan meningkatkan HDL. Sedangkan PUFA dapat melindungi jantung,

menurunkan kadar trigliserida, memperbaiki agregasi trombosit. PUFA mengandung asam lemak omega 3 yang dapat menurunkan sintesis VLDL di dalam hati dan meningkatkan aktivitas enzim lipoprotein lipase yang dapat menurunkan kadar VLDL di jaringan perifer, sehingga dapat menurunkan kadar LDL1,6. 3. Karbohidrat dan Pemanis Rekomendasi tahun 1994 lebih menfokuskan pada jumlah total karbohidrat dari pada jenisnya. Rekomendasi untuk sukrosa lebih liberal, menilai kembali fruktosa dan lebih konservatif untuk serat. Buah dan susu sudah terbukti mempunyai respon glikemik menyerupai roti, nasi dan kentang. Walaupun berbagai tepung-tepungan mempunyai respon glikemik yang berbeda, prioritas hendaknya lebih pada jumlah total karbohidrat yang dikonsumsi dari pada sumber karbohidrat. Anjuran konsumsi karbohidrat untuk orang dengan diabetes di Indonesia adalah 60 70% energi1,6.

23

5. Sukrosa Bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan sukrosa sebagai bagian dari perencanaan makan tidak memperburuk kontrol glukosa darah pada individu dengan diabetes tipe 1 dan 2. Sukrosa dan makanan yang mengandung sukrosa harus diperhitungkan sebagai pengganti karbohidrat makanan lain dan tidak hanya dengan menambahkannya pada perencanaan makan. Dalam melakukan substitusi ini kandungan zat gizi dari makanan-makanan manis yang pekat dan kandungan zat gizi makanan yang mengandung sukrosa harus dipertimbangkan, demikian juga adanya zat gizi-zat gizi lain pada makanan tersebut seperti lemak yang sering dimakan bersama sukrosa. Mengkonsumsi makanan yang bervariasi memberikan lebih banyak zat gizi dari pada makanan dengan sukrosa sebagai satu-satunya zat gizi1,6. 6. Pemanis a. Fruktosa menaikkan glukosa plasma lebih kecil dari pada sukrosa dan kebanyakannya karbohidrat jenis tepung-tepungan. Dalam hal ini fruktosa dapat memberikan keuntungan sebagai bahan pemanis/ pada diet diabetes. Namun demikian, karena pengaruh penggunaan dalam jumlah besar (20% energi) yang potensial merugikan pada kolesterol dan LDL, Fruktosa tidak seluruhnya menguntungkan sebagai bahan pemanis untuk orang dengan diabetes. Penderita dislipidemia hendaknya menghindari mengkonsumsi fruktosa dalam jumlah besar, namun tidak ada alasan untuk menghindari makanan seperti buah dan sayuran yang mengaNdung fruktosa alami ataupun konsumsi sejumlah sedang makanan yang mengandung pemanis fruktosa1,6. b. Sorbitol mannitol dan xylitol adalah gula alkohol biasa (polyols) yang menghasilkan respon glikemik lebih rendah dari pada sukrosa dan karbohidrat lain. Penggunaan pemanis tersebut secara berlebihan dapat mempunyai pengaruh laxatif1,6. c. Sakarin, aspartam, acesulfame, sukralosa adalah pemanis non kalori yang dapat diterima sebagai pemanis pada semua penderita DM1,6.
24

7. Serat Rekomendasi asupan serat untuk orang dengan diabetes sama dengan untuk orang yang tidak diabetes. Dianjurkan mengkonsumsi 25 50 gr serat makanan dari berbagai sumber bahan makanan1,6. 8. Natrium Anjuran asupan untuk orang dengan diabetes sama dengan penduduk biasa yaitu tidak lebih dari 3000 mg, sedangkan bagi yang menderita hipertensi ringan sampai sedang, dianjurkan 2400 mg natrium perhari1,6. 3. Latihan jasmani. Latihan jasmani teratur dapat memperbaiki kendali glukosa darah,

mempertahankan atau menurunkan berat badan, serta dapat meningkatkan kadar kolesterol-HDL1,6. Latihan jasmani yang dianjurkan: dikerjakan sedikitnya selama 150 menit/minggu dengan latihan aerobik sedang (mencapai 50-70% denyut jantung maksimal), atau 90

menit/minggu dengan latihan aerobik berat (mencapai denyut jantung >70% maksimal).
1,6

Latihan

jasmani

dibagi

menjadi

3-4

aktivitas/minggu . 4. Menghentikan merokok. Merokok merupakan salah satu risiko timbulnya gangguan kardiovaskular. Meski merokok tidak berkaitan langsung dengan timbulnya intoleransi glukosa, tetapi merokok dapat memperberat komplikasi kardiovaskular dari intoleransi glukosa dan DM tipe-21,6.

25

Algoritma pencegahan DM tipe 2

b) Pencegahan sekunder Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya penyulit pada pasien yang telah menderita DM. Dilakukan dengan pemberian pengobatan yang cukup dan tindakan deteksi dini penyulit sejak awal pengelolaan penyakit DM. Dalam upaya pencegahan sekunder program penyuluhan memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani program pengobatan dan dalam menuju perilaku sehat. Pada pencegahan sekunder penyuluhan tentang perilaku terhadap sehat seperti pada pencegahan primer harus dilaksanakan ditambah dengan peningkatan pelayanan kesehatan primer di pusat-pusat pelayanan kesehatan, disamping itu juga diperlukan penyuluhan kepada pasien dan keluarganya tentang berbagai hal mengenai penatalaksanaan dan pencegahan komplikasi. Penyuluhan untuk pencegahan sekunder ditujukan terutama pada pasien baru. Penyuluhan dilakukan sejak pertemuan pertama dan perlu selalu diulang pada setiap kesempatan pertemuan berikutnya1,6.

26

c) Pencegahan tersier Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang diabetes yang telah mengalami penyulit dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut. Upaya rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini mungkin, sebelum kecacatan menetap. Sebagai contoh aspirin dosis rendah (80-325 mg/hari) dapat diberikan secara rutin bagi penyandang diabetes yang sudah mempunyai penyulit makroangiopati. Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan1,6. Upaya mencegah komplikasi dan kecacatan yang diakibatkannya terdiri dari 3 tahap, antara lain : 1. Mencegah timbulnya komplikasi. 2. Mencegah berlanjutnya komplikasi untuk tidak terjadi kegagalan organ. 3. Mencegah terjadinya kecacatan oleh karena kegagalan organ atau jaringan. Dalam upaya ini diperlukan kerja sama yang baik antara pasien dan dokter ataupun antara dokter ahli diabetes dengan dokter-dokter yang terkait dengan komplikasinya. Dalam hal ini peran penyuluhan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi pasien untuk mengendalikan diabetesnya1,6. c. Kuratif (pengobatan) Ditujukan kepada pasien yang sudah menderita DM. Penatalaksanaan secara kuratif tetap berpegangan pada 4 pilar penatalaksanaan yaitu: Edukasi, terapi gizi medis, latihan jasmani, dan intervensi farmakologis1,6. d. Rehabilitatif. Dalam hal ini meningkatkan fungsi yang ada pada pasien DM jika sudah timbul kecacatan1,6.

27

BAB III ILUSTRASI KASUS

A. IDENTITAS PASIEN Nama : Ny.M

Jenis Kelamin : Perempuan Usia Alamat Pekerjaan Status : 58 tahun : Cimesir : Ibu Rumah tangga : Menikah

Agama : Islam B. ILUSTRASI KASUS ANAMNESIS Keluhan Utama Pasien datang dengan keluhan kesemutan pada kedua kaki sejak 2 minggu yang lalu. Keluhan Tambahan Konsultasi hasil laboratorium gula darah yang meningkat yaitu 285 mg/dl Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan kesemutan pada kedua kaki sejak 2 minggu yang lalu. Kesemutan dirasakan hilang timbul. Pasien mengatakan sudah menderita sakit gula sejak tahun tahun 2009. Saat itu pasien terdapat bisul paha kanan yang lama untuk sembuh kemudian pasien datang ke klinik swasta dan disarankan untuk mengecek gula darah. Hasil gula darah saat itu pasien mengatakan dilakukan pemeriksaan gula darah di klinik tersebut sebanyak dua kali. Pemeriksaan pertama hasil gula darah saat datang 360 mg/dl dan pemeriksaan berikutnya 325 mg/dl. Pasien menyangkal adanya riwayat frekuensi buang air kecil yang sering, tidak sering merasa haus dan lapar, tidak sering merasa lemas, tidak terdapat gangguan penglihatan, tidak ada riwayat gatal-gatal pada tubuh, tidak ada riwayat luka yang lama sembuh, tidak ada mual dan muntah, tidak ada sesak, tidak ada nyeri dada, tidak ada demam, dan tidak ada riwayat batuk yang berkepanjangan.
28

Riwayat buang air besar (BAB) pasien normal, sedangkan pada riwayat buang air kecil (BAK), pasien mengaku terkadang bangun pada malam hari untuk buang air kecil. Frekuensi BAK 3 kali dari malam hingga subuh, saat BAK pengeluaran urin lancar, tidak terputus-putus, tidak nyeri, warna urin normal, tidak ada darah. Selama ini pasien kontrol penyakit gula ke klinik swasta tiap obat gula habis. saat datang pasien tidak minum obat selama 1 bulan. Riwayat Penyakit Dahulu Hipertensi disangkal Riwayat penyakit jantung disangkal Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada riwayat diabetes mellitus mapun hipertensi pada kedua orang tua pasien. Riwayat Kebiasaan Pasien juga mengaku selama ini pola makannya sedikit namun sering. Pasien menyangkal adanya riwayat kebiasaan merokok dan minum alkohol. Namun

PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Keadaan Umum Tinggi Badan Berat Badan BMI Tanda Vital Tekanan Darah Nadi Pernafasan Suhu Kulit warna putih, tidak pucat, tidak ada ikterik, tidak ada sianosis kelembaban normal, suhu raba normal (hangat)
29

: Tampak sakit ringan : Compos Mentis : Baik : 154 cm : 59 Kg : 59/(1,54)2 = 19, 16 normoweight( N : 18 22, 9)

: 130/90 mmHg : 80x/menit : 20x/menit : 36,5 C

Kepala Bentuk

turgor baik, tidak ada atrofi kulit

: normocephali : warna hitam, distribusi merata.

Rambut Wajah

Simetris, tidak ada sianosis Mata Telinga Bentuk normotia, simetris, serumen ( - / - ) Mulut Leher - KGB tidak teraba - Tidak ada pulsasi abnormal - JVP 5-2 cmH2O Paru Inspeksi : Bentuk simetris statis dan dinamis, gerak nafas simetris, tipe abdomino-thorakal, retraksi sela iga (-), dilatasi vena (-), spider nevi (-) Palpasi Perkusi Auskultasi : Vocal fremitus simetris, massa (-) : Hipersonor di seluruh lapang paru : Suara nafas vesikuler, ronki - / -, wheezing - / 30

oedem palpebra - / Sklera ikterik ( - / - ) , Konjungtiva anemis ( - / - ) Pupil bulat isokor + / + Refleks cahaya langsung + / + Refleks cahaya tidak langsung + / +

bibir tidak kering dan tidak sianosis gusi dan mukosa berwarna merah muda lidah bersih, oral candidiasis (-) uvula ditengah dan simetris

Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : ictus cordis tidak terlihat : ictus cordis teraba pada ICS V linea midclavicularis kiri : batas jantung kanan setinggi ics III-IV-V linea sternalis kanan batas jantung kiri setinggi ics V medial linea midklavikularis kiri batas jantung atas setinggi ics III linea sternalis kiri : bunyi jantung I dan II reguler, Murmur (-), Gallop (-)

Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi

: datar, smiling umbilicus (-), dilatasi vena (-) : supel, defense muscular (-), massa (-), nyeri tekan (-), hepatosplenomegali (-)

Perkusi Auskultasi Ekstremitas Atas

: timpani, shifting dullness (-), nyeri ketuk (-) : bising usus (+) normal, bruit (-)

akral hangat, tidak ada oedem, simetris, tidak ada nyeri

pergerakan aktif maupun pasif, tidak ada tanda-tanda peradangan. Bawah : akral hangat, tidak tampak oedem, tidak tampak sianosis, sensibilitas normal pada kedua kaki, pulsasi arteri dorsalis pedis teraba kuat dan sama di kedua kaki, CRT (capillary refilling time) kurang dari 2 detik. PEMERIKSAAN PENUNJANG Dilakukan pemeriksaan gula darah saat pasien datang ke puskesmas yaitu 285 mg/dl. DIAGNOSIS Diabetes Melitus tipe 2 Prehipertensi PENATALAKSANAAN Metformin 3x 500mg Captopril 2x12,5mg
31

C.

DATA KUNJUNGAN RUMAH I. IDENTITAS KELUARGA a. Nama kepala keluarga b. Alamat rumah : Ny.M : Cimesir

c. Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah

No.

Nama

Kedudukan dalam keluarga

L/ p L L

Umur (th) 62 58

Pendidikan

Pekerjaan

Ket.

1. 2. .

Tn.S Ny.M

Kepala keluarga Istri

SMP SMP

Buruh Tani Pasien

d. Bentuk Keluarga : inti e. Genogram

32

II.

KEADAAN RUMAH a. Gambar denah bangunan rumah

b. Jenis Lantai : keramik c. Jenis Atap : Genteng dan eternit d. Jenis dinding : tembok cat e. Dapat membaca tulisan/huruf di dalam rumah tanpa bantuan sinar lampu listrik : Ya untuk di siang hari f. Perbandingan luas jendela/lantai di ruang tidur : > 20%

Perbandingan luas jendela/lantai di ruang keluarga : > 20% g. Deskripsi mengenai keadaan rumah: Rumah pasien terletak di perumahan yang tidak terlalu padat penduduk, terletak di pinggir jalan besar. Pencahayaan rumah cukup baik, sinar matahari pada siang hari dapat memasuki rumah. Sanitasi rumah cukup baik, memiliki jamban atau WC sendiri. III. PEMENUHAN KEBUTUHAN KELUARGA a. Kebutuhan Ekonomi : suami pasien bekerja sebagai buruh tani dna pembuat batu bata dengan pendapatan 500.000 per duabulan. Pasienseorang ibu rumah tangga.
33

Namun pasien dan suami tiap bulan mendapatkan uang pemberian dari anak yang didapat usaha rental play station dan warung 700.000. b. Kebutuhan Pendidikan : cucu dari pasien, masih dapat meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. c. Kebutuhan Spiritual : pasien keluarga yang cukup religious. Keluarga aktif dalam kegiatan keagamaan. Pasien aktif dalam kegiatan pengajian yang diadakan di lingkungan rumah. d. Kebutuhan Kesehatan : keluarga pasien biasa berobat ke klinik dokter swasta dan puskesmas. IV. GAYA HIDUP KELUARGA a. Kebiasaan Makan Dalam Keluarga a. Sumber : masak sendiri b. Jenis Makanan : bervariasi c. Jumlah : cukup b. Kebiasaan Berolah Raga : tidak ada c. Kebiasaan Minum Alkohol : tidak ada d. Kebiasaan Merokok : tidak ada yang merokok. V. LINGKUNGAN HIDUP KELUARGA a. Lingkungan Perumahan Keluarga 1. Jenis Perumahan : permanen 2. Higeine Lingkungan Rumah : baik 3. Keamanan Lingkungan Perumahan : aman 4. Paparan zat/partikel yang mungkin terjadi di lingkungan rumah : debu jalanan b. Lingkungan Sosial Keluarga 1. Keluarga menjadi anggota perkumpulan sosial di lingkungannya 2. Kedudukan keluarga di tengah lingkungan sosialnya dipandang sewajarnya. c. Deskripsi mengenai Lingkungan Hidup Keluarga Pasien masih aktif dan mandiri dalam melakukan semua aktivitasnya, tidak ada luka ataupun cacat. Pasien seorang ibu rumah tangga yang cukup aktif di lingkungan
34

rumahnya. Setiap ada kegiatan di lingkungan rumahnya seperti pengajian pasien masih dapat mengikutinya. Untuk keperluan makan dan minum pasien biasanya dapat dari suami dan anak-anak pasien. Untuk berobat pasien diantar oleh menantu perempuannya. Lingkungan rumah pasien cukup bersih. VI. DIAGNOSIS HOLISTIK Diagnosis Psikologis/ personal Pasien sudah tahu mengenai penyakit yang dialaminya, begitu juga dengan keluarga. Pasien menerima penyakit yang diderita dan bersikap tawakal. Setiap bulan pasien selalu kontrol ke puskesmas atau klinik swasta. Diagnosis Klinis Diabetes Melitus tipe 2 Diagnosis Sosial Aspek risiko internal Keluarga memiliki partisipasi yang cukup baik dalam pengobatan pasien. Namun resiko yang ditakutkan kecenderungan pasien untuk tidak berobat jika sudah merasa baikan. Kurangnya pasien dan keluarga mengenai penyakit diabetes melitus, penatalaksanaan dan komplikasi yang dapat timbul. Aspek risiko eksternal Pasien terkadang untuk keluar rumah menuju warung tidak menggunakan alas kaki. Pasien juga jarang melakukan olahraga. Diagnosis Psikososial Pasien masih aktif dalam menjalani kegiatan di masyarakat. Pasien mandiri dalam melakukan semua aktivitas. Pasien sebagai seorang ibu rumah tangga yang giat bekerja seperti membereskan rumah, memasak, dan kadang bermain bersama cucu.

35

BAB IV PERENCANAAN PEMECAHAN MASALAH DAN INTERVENSI

Setelah diketahui latar belakang, masalah dan tinjauan teoritis, maka pada bagian ini penulis akan menguraikan tentang masalah-masalah pada pasien diabetes melitus tipe 2, pemecahan berdasarkan masalah serta rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. NO MASALAH STRATEGI PEMECAHAN MASALAH Memberikan informasi mengenai penyakit dan terapi nonfarmakologis diabetes melitus tipe 2. RENCANA KEGIATAN

MAN (Manusia) a. Kurangnya pengetahuan pasien mengenai penyakit dan terapi nonfarmakologis diabetes melitus tipe 2

Penyuluhan mengenai penyakit dan terapi nonfarmakologis diabetes melitus tipe 2. Membuat kesepakatan untuk bertemu dan berdiskusi mengenai penyakit pasien. Pelatihan tenaga kesehatan untuk dijadikan edukator diabetes. Pendataaan pasien diabetes melitus untuk pengajuan dana untuk menunjang penatalaksanaan diabetes melitus. Pengajuan obat Anti Diabetik Oral yang harus ada di Puskesmas
36

b. Petugas kurang mengikutsertkan pihak keluarga

Petugas meminta kepada pasien untuk didampingi keluarga pada saat berobat. Peningkatan kualitas SDM sebagai edukator diabetes.

c. Tidak adanya tenaga terampil sebagai edukator diabetes. 2.

MONEY (Dana) a. dibutuhkannya sumber dana Mengajukan dana ke untuk menunjang penatalaksanaan dinas kesehatan untuk diabetes melitus. menunjang penatalaksanaan diabetes melitus.

3.

MATERIAL a. Pengadaan obat Anti Diabetik Oral tidak lengkap.

Pengadaan obat Anti Diabetik Oral yang harus ada di Puskesmas.

4.

METHOD (Metode) a. Dibutuhkan pemeriksaan penyaring untuk menjaring pasien diabetes serta pasien resiko tinggi. b. Kurangnya upaya pencegahan primer, sekunder, dan tersier, dan dalam penanganan kasus diabetes.

Melakukan pemeriksaan penyaring dan pengelompokan pasien resiko tinggi. Memberikan informasi mengenai pentingnya pencegahan primer, sekunder, dan tersier, dalam penanganan kasus diabetes.

Pengajuan pemeriksaan penyaring dan penilaian pasien resiko tinggi Penyuluhan mengenai pencegahan primer, sekunder, dan tersier, dalam penanganan kasus diabetes oleh tenaga kesehatan terlatih. Memberikan usul agar diberikan tempat dan sarana khusus untuk melayani pasien diabetes melitus.

5.

MACHINE (Mesin) a. Tidak adanya sarana khusus untuk melayani pasien diabetes melitus secara komprehensif

Memberikan sarana khusus untuk melayani pasien diabetes melitus secara komprehensif

37

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Penyakit Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang mengalami peningkatan terus menerus dari tahun ke tahun. Efek kronik dari penyakit DM juga menjadi perhatian yang serius selain dari segi epidemologi. Penyakit diabetes mellitus perlu mendapat perhatian dan penanganan yang baik oleh tenaga kesehatan. Penanganan diabetes melitus secara komprehensif oleh tenaga medis yang belum memadai dalam pencegahan primer, sekunder, dan tersier, dan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat primer belum memadai dan merata. Dalam rangka mengantisipasi ledakan jumlah pasien diabetes dan meningkatnya komplikasi diabetes, upaya pencegahan, baik primer,sekunder dan tersier adalah yang paling baik. B. Saran. 1. Melakukan promosi perilaku sehat kepada masyarakat luas. 2. Melakukan penyuluhan terutama kepada kelompok resiko tinggi. 3. Dibutuhkan tenaga terampil seperti penyuluh diabetes atau tim edukator diabetes dalam penanganan diabetes melitus. 4. Melakukan pengelompokan kelompok resiko tinggi agar pencegahan terhadap diabetes melitus dapat dilakukan secara maksimal. 5. Dibutuhkan sarana dan prasarana dalam melakukan pelayanan kesehatan yang komprehensif dalam menangani pasien diabetes melitus.

38

DAFTAR PUSTAKA

1. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006. 2. Suyono, Slamet. Diabetes Melitus di Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III, Ed.IV. 2006. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia . 3. Penyelenggaraan Puskesmas di Era Desentralisasi. Depkes RI. 2001. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. 4. http://model-puskesmas-era-desentralisasi.html, diunduh tanggal 16 Maret 2012 5. Gustaviani, Reno. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III, Ed.IV. 2006. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 6. Yunir, Em. Suharko Soebardi. Terapi Non Farmakologis pada Diabetes Melitus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III, Ed.IV. 2006. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

39