Anda di halaman 1dari 25

Isomerisme Fasial-meridional (Isomerisme fac-mer)

Isomerisme ini hanya terjadi pada senyawa-senyawa atau ion-ion kompleks yang terbentuk oktahdral yang memiliki 3 ligan yang sama dan 3 ligan yang lain yang sama pula seperti pada contoh di bawah. Pada isomer fac-3 ligan yang sama terletak pada segitiga sama sisi yang merupakan muka dari oktahedral, sedangkan pada isomer mer-3 ligan yang sama terletak pada segitiga sama kaki.

Senyawa kompeleks atau ion kompleks dapat mengalami gejala isomerisme. Isomerisme tersebut dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu isomerisme struktural, isomerisme ruang atau stereoisomerisme dan isomerisme optik. Isomerisme struktural meliputi isomerisme tautan, isomerisme koordinasi, isomerisme ionisasi dan isomerisme solvat. Isomerisme ruang meliputi isomerisme geometrik, isomerisme facialmeridonal dan isomerisme lateral-diagonal. Isomerisme optik terjadi jika suatu ion atau senyawa kompleks tidak dapat mengadakan penindih tepatan dengan bayangan cerminnya. Disamping ketiga kategori isomerisme tersebut dikenal juga isomerisme polimerisasi. Isomerisme ini dapat dianggap bukan sebagai isomerisme sebenarnya karena antara satu isomer dengan isomer yang lain hanya sama rumus empiriknya tetapi berbeda massa molekulnya.

ISOMERISME SENYAWA KOORDINASI

Written By Musrin Salila on Kamis, 08 April 2010 | 09.36


ISOMERISME SENYAWA KOORDINASI

I.

PENDAHULUAN

A. Deskripsi Singkat

Bab ini akan membahas tentang isomerisme senyawa koordinasi ditinjau dari pengelompokkan isomer yakni isomerisasi struktural, isomerisasi ruang dan isomerisme optik.

B.

Relevansi Bab ini terkait erat dengan materi pada bab I yakni ligan dan tatanama

senyawa koordinasi. Pemahaman mahasiswa terhadap bab ini akan memudahkan mereka dalam mempelajari Teori Ikatan Valensi yang akan dibahas pada bab selanjutnya.

C. Kompetensi Dasar Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa dapat: 1. 2. Menjelaskan isomer yang termasuk pada isomerisme struktural. Memberikan contoh-contoh isomer yang termasuk pada isomerisme struktural.

3. 4. 5. 6. 7. 8.

Menjelaskan isomer yang termasuk pada isomerisme ruang. Memberikan contoh-contoh isomer yang termasuk pada isomerisme ruang. Menjelaskan isomerisme optik. Memberikan contoh-contoh isomerisme optik. Menjelaskan isomerisme polimerisasi. Memberikan contoh-contoh isomerisme polimerisasi.

II. PENYAJIAN

A. Uraian Materi Isomerisasi senyawa koordinasi dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu isomerisasi struktural, isomerisasi ruang dan isomerisme optik. 1. Isomerisme Struktural Senyawa-senyawa koordinasi yang menunjukan gejala isomerisme struktural adalah memiliki rumus kimia sama akan tetapi strukturnya berbeda. Gejala isomerisme yang termasuk isomerisme struktural adalah isomerisme tautan, isomerisme koordinasi, isomerisme ionisasi dan isomerisme solvat.

Isomerisme Tautan (Lingkage Isomerism)

Ligan-ligan yang memiliki atom-atom donor yang berbeda seperti ligan SCN dan NO2- dapat berikatan dengan ion pusat melalui atom donor yang berbeda. Ligan SCN- dapat berikatan dengan ion pusat melalui atom S atau atom N, sedangkan ligan NO2- melalui atom N atau O. Senyawa-senyawa kompleks yang menujukan gejala isomerisme tautan akan memiliki ligan yang sama akan tetapi ikatan antara ion pusat dan ligan adalah melalui atom donor yang berbeda. Senyawa kompleks [Co(NH3)4(ONO)]Cl2 yang berwarna merah merupakan pasangan isomerisme tautan dari [Co(NH 3)4(NO2)]Cl2 yang berwarna kuning. Ion-ion kompleks kedua senyawa tersebut adalah:

Ion pentaaminanitritokobalt(III) atau atau Ion pentaaminanitritokobalt(2+)

Ion pentaaminanitrokobalt(III)

Ion pentaaminanitrokobalt(2+)

Gejala isomerisme tautan telah dikenal sejak jamannya Jorgensen dan Werner. Isomerisme Koordinasi

Gejala

isomerisme

koordinasi

hanya

terjadi

pada

senyawa-senyawa

kompleks yang terdiri dari kation dan anion kompleks. Isomerisme ini terjadi apabila ligan-ligan yang terikat pada satu ion pusat dapat dipertukarkan dengan ligan-ligan yang terikat pada ion pusat yang lain.

Contoh: [Co(NH3)6][Cr(CN)6] dan [Cr(NH3)6][Co(CN)6] [Co(NH3)6][PtCl4] dan [Pt(NH3)4][CoCl4]

Isomerisme Ionisasi Gejala isomerisme ini hanya terjadi pada senyawa kompeleks ionik. Senyawa kompleks ionik menunjukan gejala isomerisme ioisasi apabila terjadi pertukaran antara dua macam ion dengan muatan yang sama atau berbeda. Pada pertukaran tersebut anion bukan ligan berubah menjadi ligan, sebaliknya anion yang merupakan ligan berubah menjadi anion bukan ligan sehingga diperoleh ion-ion kompleks yang sama atau berbeda muatannya. Contoh: [Co(NH3)5Br]SO4 dengan [Co(NH3)5OSO3]Br Pada kedua kompleks tersebut bilangan oksidasi ion pusat adalah sama yaitu +3, kompleks pertama kation kompleksnya adalah [Co(NH 3)5Br]2+, sedangkan pada kompleks kedua kation kompleksnya adalah [Co(NH 3)5(OSO3)]+. Dua kompleks tersebut dapat larut dalam air dan anion-anion bukan ligan yang ada dapat dikenali dengan menambahkan pereaksi-pereaksi tertentu. Kompleks pertama dapat dikenali, berdasarkan terjadinya warna putih yang timbul pada penambahan larutan barium nitrat.

[Co(NH3)5Br]SO4(aq) + Ba(NO3)(aq) Ba2SO4putih [Co(NH3)5(OSO3)]Br(aq) + Ba(NO3)2(aq)

[Co(NH 3)5Br](NO3)2(aq) +

Kompleks kedua dapat dikenali berdasarkan terjadinya warna kuning pucat pada penambahan larutan perak nitrat. [Co(NH3)5(OSO3)]Br(aq) + AgNo3(aq) [Co(NH3)5(OSO3)]NO3(aq) + AgBr(aq)

Kuning pucat [Co(NH3)5 Br] SO4 (aq) + Ag(NO3)(aq) Contoh lain dari pasangan isomer ionisasi adalah senyawa kompleks [Pt(NH3)4]Cl2]Br2 dan [Pt(NH3)4Br2]Cl2

Isomerisme Solvat Isomerisme ini terjadi akibat adanya pertukaran antara ligan netral dengan anion bukan ligan dan sebaliknya seperti pada senyawa-senyawa. [Cr(H2O)6]Cl3.[Co(H2O)5Cl]Cl2.H2O, dan [Co(H2O)4Cl2]Cl.2H2O Pada senyawa tersebut H 2O yang semula terikat pada ion Cr 3+ digantikan oleh anion bukan ligan Cl-. Molekul air yang digantikan berubah fungsinya dari ligan menjadi air hidrat atau air kristal. Nama dari senyawa-senyawa tersebut adalah:

[Cr(H2O)6]Cl3

heksaakuakromium(III) klorida atau

heksaakuakromium(3+) klorida [Cr(H2O)5Cl]Cl2.H2O pentaakuadiklorokromium(III) klorida monohidrat atau pentaakuadiklorokromium(2+) klorida monohidrat [Cr(H2O)4Cl2]Cl.2H2O tetraakuadiklorokromium(III) klorida dihidrat atau tetraakuadiklorokromium(1+) klorida dihidrat

2.

Isomerisasi Ruang Senyawa-senyawa kompleks yang menunjukan gejala isomerisme ruang

disamping memiliki rumus kimia yang sama, jenis-jenis ikatan antara ion pusat dan ligan-ligan yang ada juga sama, akan tetapi susunan dalam ruang dari ligan-ligan yang ada adalah berbeda. Isomerisme ruang meliputi isomerisme geometrik, isomerisme facial meridional dan isomerisme lateral-diagonal. Isomerisme Geometri (Isomerisme cis-trans) Isomerisme geometrik disebut juga isomerisme cis-trans dan banyak dijumpai pada senyawa-senyawa atau ion-ion kompleks yang berbentuk bujur sangkar atau oktahedral seperti diberikan pada contoh-contoh dibawah.

Isomerisme Fasial-meridional (Isomerisme fac-mer)

Isomerisme ini hanya terjadi pada senyawa-senyawa atau ion-ion kompleks yang terbentuk oktahdral yang memiliki 3 ligan yang sama dan 3 ligan yang lain yang sama pula seperti pada contoh di bawah.

Pada isomer fac-3 ligan yang sama terletak pada segitiga sama sisi yang merupakan muka dari oktahedral, sedangkan pada isomer mer-3 ligan yang sama terletak pada segitiga sama kaki.

Isomerisme Later-Diagonal (Isomerisme lat-diag) Contoh senyawa kompleks yang menujukan gejala isomerisme gejala isomerisme lateral diagonal adalah senyawa kompleks dibawah ini.

Isomer lateral 3. Isomerisme Optik

Isomer Diagonal

Gejala isomerisme optik timbul apabila suatu senyawa atau ion kompleks tidak dapat mengadakan penindih tepatan (superimposition) dengan bayangan cerminnya. Isomerisme ini dapat terjadi pada senyawa atau ion kompleks yang berbentuk oktahedral, trigonal bipiramidal, bujursangkar dan tetrahedral. Pada senyawa kompleks oktahedral isomerisme optik hanya muncul pada isomer cis- seperti pada ion cis-diakuadiaminadibromokromium(III).

Ion cis-diakuadiaminadibromokromium(III) Dari dua pasang isomer cis- yang ada bentuk satu disebut isomer d (dextro) dan yang lain disebut isomer I (Ievo). Penentuan bentuk d dan I tersebut hanya dapat dilakukan berdasarkan eksperimen dengan menggunakan metode polarimeter. Gejala isomerisme optik juga timbul pada senyawa kompleks trigonal bipiramidal terdistorsi seperti pada senyawa dibawah ini.

Cis-dikarbonilklorometildifenilfosfina(5-siklopentadienil)renium(I)

Gejala isomerisme optik juga timbul pada senyawa kompleks berbentuk bujur sangkar apabila semua atom-atom yang ada terletak dalam satu bidang datar seperti pada ion-ion berikut.

Hal ini disebabkan karena adanya bidang cermin vertikal atau horisontal yang melalui atom-atom yang ada. Gejala isomerisme optik baru terjadi apabila atom-atom yang ada tidak terletak pada satu bidang datar seperti pada contoh dibawah.

Bila atom pusatnya Pt nama kompleksnya adalah (1,2-difenil-1,2-diaminoetana)(1,1dimetil-1,2-diaminoetana)platina. Pada senyawa kompleks yang berbentuk tetrahedral gejala isomerisme optik baru terjadi apabila atom atau ion pusat yang ada mengikat empat ligan yang berbeda. Senyawa kompleks semacam ini sampai sekarang belum berhasil

disintesis. Senyawa

kompleks berikut.

Seandainya dapat disintesis akan menunjukan gejala isomerisme optik.

4.

Isomerisme Polimerisasi

Disamping

isomerisme-isomerisme

yang

telah

diuarikan di atas dikenal pula isomerisme polimerisasi. Isomerisme ini pada dasarnya bukanlah isomerisme yang sebenarnya karena terjadi antara senyawasenyawa kompleks yang memiliki rumus empirik yang sama tetapi berbeda massa molekulnya, misalnya senyawa kompleks [Pt(NH 3)2Cl2], [Pt(NH3)4][PtCl4], [Pt(NH3)4] [Pt(NH3)Cl3]2, dan [Pt(NH3)3Cl]2[PtCl4]. Rumus empirik senyawa tersebut adalah H6Cl2N2Pt. Isomerisme polimerisasi dapat disebabkan karena senyawa kompleks yang ada memiliki ion pusat yang sama seperti pada contoh berikut:

Ion kompleks pertama memiliki dua ion pusat sedangkan ion kompleks kedua memiliki empat ion pusat. Rumus empirik kedua ion kompleks tersebut adalah H21Co2N6O3.

Catatan

Dalam penulisan rumus empirik urutan penulisan adalah atom C, atom H kemudian diikuti dengan atom-atom lain secara alfabetik.

B. Soal-Soal Latihan

1. Gambarkan struktur dari senyawa atau ion kompleks berikut. Gambarkan pula pasangan stereoisomernya.
a. b. c. d. 2. ion Cis-diklorotetrasianokromat(III) mer-triaminatriklorokobalt(III) trans-diklorobis(trimetilfosfina)palladium(III) fac-triakuatrinitrokobalt(III)

Tunjukkan isomerisme yang mungkin terjadi pada senyawa atau ion kompleks berikut: a. b. c. [Pt(NH3)2Cl2 [Ru(NH3)3I3] [Cu(NO2)6]4d. e. f. [CO(NH3)6][Cr(CN)6] [Cr(NH3)5 Br]SO4 [Co(en)2Cl2]+

3.

Gambarkan seluruh isomer struktural dari ion kompleks berikut: a. b. c. [Ru(NH3)5(NO2)]+ [Ag(SCN)(SbPh3)3] [CO(NCS)4]2-

C. Petunjuk Jawaban Soal-Soal Latihan

Untuk menjawab soal-soal pada Latihan 6, lihat kembali uraian tentang isomerisme tautan, isomerisme koordinasi, isomerisme ionisasi, isomerisme solvat,

isomerisme

cis-trans,

isomerisme

lateral-diagonal,

isomerisme

fac-mer,

dan

isomerisme optik.

D. Rangkuman
Senyawa kompeleks atau ion kompleks dapat mengalami gejala isomerisme. Isomerisme tersebut dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu isomerisme struktural, isomerisme ruang atau stereoisomerisme dan isomerisme optik. Isomerisme struktural meliputi isomerisme tautan, isomerisme koordinasi, isomerisme ionisasi dan isomerisme solvat. Isomerisme ruang meliputi isomerisme geometrik, isomerisme facialmeridonal dan isomerisme lateral-diagonal. Isomerisme optik terjadi jika suatu ion atau senyawa kompleks tidak dapat mengadakan penindih tepatan dengan bayangan cerminnya. Disamping ketiga kategori isomerisme tersebut dikenal juga isomerisme polimerisasi. Isomerisme ini dapat dianggap bukan sebagai isomerisme sebenarnya karena antara satu isomer dengan isomer yang lain hanya sama rumus empiriknya tetapi berbeda massa molekulnya.

III.

PENUTUP

A. Tes Formatif
1. Ion kompleks atau senyawa kompleks yang dapat menunjukkan gejala isomerisme tautan adalah:
a. [Ag(SCN)(SbPh3)3] c. [Co(NH3)4Cl2]+

b. [AgI(SbPh3)3]

d. [Ni(H2O)6]SO4

2. Ion kompleks atau senyawa kompleks yang dapat menunjukkan gejala isomerisme koordinasi adalah:
a. [Pt(NH3)Cl2] b. [Cr(NH3)6][Co(O2CO)3] c. [Co(NH3)4Br2]+ d. [Rh(en)2(NH3)2]2(SO4)3

3. Ion kompleks atau senyawa kompleks yang dapat menunjukkan gejala isomerisme ionisasi adalah:
a. [AgCl(Ph3)3] b. [Rh(H2O)6 Cl3] c. [Co(NH3)5I]SO4 d. K4[Fe(CN)6]

4. Ion kompleks atau senyawa kompleks yang dapat menunjukkan gejala isomerisme solvat adalah:
a. [Fe(CN)6]3b. [Cu(NH3)4]SO4 c. [Pt(en)2][PtCl4] d. [Co(H2O)4Cl2]Cl.H2O

5. Ion kompleks atau senyawa kompleks yang dapat menunjukkan gejala isomerisme geometrik adalah:
a. [Pt(NH3)2Br2] b. [Rh(H2O)5Cl]2+ c. [Co(NCS)4]2d. [AuCl4]-

6. Ion kompleks atau senyawa kompleks yang dapat menunjukkan gejala isomerisme fasialmeridional adalah:
a. [Cr(H2O)2Cl2]+ b. [Co(NH3)4Br2]+ c. [Cr(en)3]3+ d. [Pt(NH3)3Cl3]+

7. Ion kompleks atau senyawa kompleks yang dapat menunjukkan gejala isomerisme lateraldiagonal adalah:
a. [Pt(NH3)3Cl3](NO3) b. [Pt(CO)2Br2(5-C5H5)] c. [Rh(en)2(NH3)2]3+ d. [Pt(en)2ClBr]2+

8. Ion kompleks atau senyawa kompleks yang dapat menunjukkan gejala isomerisme optik adalah:
a. [Co(en)3]3+ b. [PtCl2Br2]2c. [Co(NH3)6]Cl3 d. [AgCl(PPh3)3]

9. Ion kompleks atau senyawa kompleks yang dapat menunjukkan gejala isomerisme geometrik dan isomerisme optik adalah:
a. [Co(en)3]3+ b. [Co(en)2Cl2]+ c. [Cu(NO2)6]4d. [Pt(NH3)2Cl2]

10. Jumlah isomer terbanyak dapat diperoleh dari ion atau senyawa kompleks:
a. [Cr(NH3)6]3+ b. [Cr(en)3]+ c. [Co(NH3)4Cl2]+ d. [CuCl(PPh3)3]

B.

Umpan Balik dan Tindak Lanjut Untuk mengetahui tingkat keberhasilan anda dalam menjawab soal-soal yang

ada, bandingkan hasil jawaban anda dengan kunci jawaban dibagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian gunakan rumus dibawah untuk mengetahui tingkat penguasaan anda terhadap materi ini. rumus:

Tingkat penguasaan = Jumlah jawaban yang benar x 100% Jumlah soal tes formatif Arti tingkat penguasaan yang anda capai: 90% - 100% = baik sekali 80% - 90% = baik 70% - 80% = sedang < 69% = kurang jika anda mencapai tingkat penguasaan 80% ke atas. Anda dapat malanjutkan ke kegiatan belajar selanjutnya. Tetapi jika tingkat penguasaan anda masih dibawah 80% sebaiknya anda mengulang Kegiatan Belajar ini dengan sungguh-sungguh, terutama bagian yang belum anda kuasai.

C. Kunci Jawaban
1. [Ag(SCN)(SbPh3)3] memiliki pasangan isomer tautan yaitu [Ag(NCS)(SbPh 3)3] Jawaban: a. 2. Isomerisme koordinasi hanya terjadi bila senyawa kompleks terdiri atas kation kompleks dan anion kompleks. Jawaban: b. 3. Isomerisme ionisasi hanya terjadi pada senyawa kompleks yang memiliki kation atau anion kompleks dan tidak terjadi pada senyawa kompleks netral. Jawaban: c.

4.

Isomerisme solfat hanya terjadi pada senyawa kompleks yang mengandung air hidrat atau molekul pelarut lainnya. Jawaban: d.

5.

[Pt(NH3)3Br2] dapat berada dalam bentuk cis atau trans. Jawaban: a.

6.

[Pt(NH3)3Cl3]+ dapat berada dalam bentuk fasial atau meridional karena berbentuk octahedral. Jawaban: d.

7. 8.

Jawaban b lihat keterangan pada uraian materi [Co(en)3]3+ berbentuk octahedral dan bayangan cerminnya tidak dapat mengadakan penindihtepatan dengan ion yang dicerminkan. Keduanya merupakan pasangan isomer optik. Jawaban: a.

9.

[Co(en)2Cl2]+ dapat berada dalam bentuk cis atau trans. Bentuk cis memiliki pasangan isomer optik. Jawaban: b.

10. [Co(NH3)4Cl2]+ memiliki tiga isomer, sebuah isomer trans dan dua buah isomer cis. Jawaban: c.

DAFTAR PUSTAKA
Brady, J. E., Russell, J. W., and Holum, J. R. 2000. Chemistry Matter and Its Change,3rdEd. New York: Jhon Wiley & Sons, Inc.

Companion, A. L. 1964. Chemical Bonding. New York: McGraw-Hill Book Company.

Cotton,

F. A. and Wilkinson, G. 1980. Advanced Inorganic Comprehensive Text, 4th Ed. New York: Jhon Wiley & Sons.

Chemistry,

DeKock, R. L. and Gray, H. B. 1980. Chemical Structure and Bonding. Menlo Park: The Benjamin/Cummings Publishing Company.

Douglas, B. E., Mc Daniel, D. H., and Alexander, J.J. 1983. Problems for Inorganic Chemistry. New York: Jhon Wiley & Sons, Inc.

Effendi. 1998. Kimia Koordinasi. Malang: FMIPA IKIP Malang

Effendi. 2003. Teori VSEPR dan Kepolaran Molekul. Malang: Bayu Media Publishing.

Huheey, J. E., Keiter, E. A., R. L. 1993. Inorganic Chemistry, Principles of Structure and Reactivity, 4th Ed. New York: Harper Collins College Publisher.

Sugiyarto, K.H. 2000. Kimia Anorganik, Dasar-Dasar Kimia Anorganik. Yogyakarta: FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

SENERAI

Isomerisme struktural

isomer yang dimiliki oleh suatu senyawa yang rumus kimianya sama akan tetapi strukturnya berbeda.

Isomerisme tautan

isomer yang dimiliki oleh suatu senyawa yang memiliki ligan yang sama akan tetapi ikatan antara ion pusat dan ligan adalah melalui atom donor yang berbeda.

Isomerisme koordinasi

isomer yang dimiliki oleh suatu senyawa yang terjadi jika ligan-ligan yang terikat pada satu ion pusat dapat dipertukarkan dengan ligan-ligan yang terikat pada ion pusat yang lain.

Isomerisme ioisasi

isomer yang dimiliki oleh suatu senyawa yang terjadi karena adanya pertukaran antara dua macam ion dengan muatan yang sama atau berbeda.

Isomerisme solvat

isomer yang dimiliki oleh suatu senyawa yang terjadi akibat adanya pertukaran antara ligan netral dengan anion bukan ligan dan sebaliknya.

Isomerisme polimerisasi

isomer yang dimiliki oleh suatu senyawa yang terjadi antara senyawa-senyawa kompleks yang memiliki rumus empirik yang sama tetapi berbeda massa molekulnya.

Isomerisme optik

isomer yang dimiliki oleh suatu senyawa yang timbul apabila suatu senyawa atau ion kompleks

tidak

dapat

mengadakan

penindih

tepatan

(superimposition) dengan bayangan cerminnya.