Anda di halaman 1dari 53

1

ACARA I PEMBUATAN LARUTAN STOK, MEDIA KULTUR, DAN STERILISASI ALAT

A . Pendahuluan 1 . Latar Belakang Dalam budidaya dengan teknik kultur jaringan, diperlukan media penanaman yang cocok untuk menumbuhkan bagian tanaman yang akan ditumbuhkan secara in vitro. Unsur utama yang ada dalam media kultur jaringan antara lain garam mineral, vitamin, dan hormon. Nutrien yang tersedia di media berguna untuk metabolisme, dan vitamin pada media dibutuhkan oleh organisme dalam jumlah sedikit untuk regulasi. ZPT atau hormon tumbuhan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Interaksi dan keseimbangan antara ZPT yang diberikan dalam media (eksogen) dan yang diproduksi oleh sel secara endogen menentukan arah perkembangan suatu kultur. Penambahan hormon tumbuhan atau zat pengatur tumbuh pada jaringan parenkim dapat mengembalikan jaringan ini menjadi meristematik kembali dan berkembang menjadi jaringan adventif tempat pucuk, tunas, akar maupun daun pada lokasi yang tidak semestinya. Proses ini dikenal dengan peristiwa dediferensiasi. Dediferensiasi ditandai dengan peningkatan aktivitas pembelahan, pembesaran sel, dan perkembangan jaringan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada botolbotol kultur, kemudian disterilisasi menggunakan autoklaf. Ada dua penggolongan media tumbuh: media padat dan media cair. Media padat pada umumnya berupa padatan gel, seperti agar, dimana nutrisi dicampurkan pada agar. Media cair adalah nutrisi yang dilarutkan di air. Media cair dapat bersifat tenang atau dalam kondisi selalu bergerak, tergantung kebutuhan. Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda komposisinya. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro. Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro, mikro dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. 2 . Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum acara I, pembuatan larutan stok, media kultur, dan sterilisasi alat antara lain : a. Mengetahui langkah-langkah dalam pembuatan larutan stok b. Mengetahui langkah-langkah dalam pembuatan media kultur jaringan c. Mengetahui prosedur sterilisasi alat-alat penanaman B . Tinjauan Pustaka Kultur in vitro merupakan suatu budidaya dalam botol. Salah satu kegiatan dalam kultur in vitro adalah kultur jaringan yaitu budidaya in vitro yang menggunakan jaringan sebagai bahan tanamnya. Media kultur merupakan salah satu komponen penting dalam penanaman sel dan metode kultur jaringan. Aplikasi yang sukses dalam prosedur kultur jaringan tanaman bergantung pada media kultur dengan komposisi yang tepat (Evans et al. 2003). Pelaksanaan teknik ini memerlukan berbagai prasyarat untuk mendukung kehidupan jaringan yang dibiakkan. Yang paling esensial adalah wadah dan media tumbuh yang steril. Media adalah tempat bagi jaringan untuk tumbuh dan mengambil nutrisi yang mendukung kehidupan jaringan. Media tumbuh menyediakan berbagai bahan yang diperlukan jaringan untuk hidup dan memperbanyak dirinya (Hendra 2007). Media kultur yang memenuhi syarat adalah media yang mengandung nutrien makro mikro dalam kadar dan perbandingan tertentu, serta sumber energi (umumnya menggunakan sukrosa), serta mengandung satu atau dua macam vitamin dan zat pengatur tumbuh. Salah satu media yang sering digunakan dalam kultur jaringan adalah media Murashige dan Skoog yang dikemukakan oleh Toshio Murashige pada tahun 1962. Media Murashige dan Skoog yang dikenal dengan nama MS mengandung 40 mM nitrogen dalam bentuk NO3 dan 29 mM dalam bentuk NH4+. Kandungan N ini, lima kali lebih tinggi dari N total yang terdapat pada media Miller, 15 kali lebih tinggi dari media tembakau Hildebrant, dan 19 kali lebih tinggi dari media white (Wetherell 2000). Konsep zat pengatur tumbuh (ZPT) diawali dengan konsep hormon. Hormon tanaman adalah senyawa-senyawa organik tanaman yang dalam

konsentrasi yang rendah (< 1 mM) mempengaruhi proses-proses fisiologi. Senyawa tersebut berperan merangsang dan meningkatkan pertumbuhan serta perkembangan sel, jaringan, dan organ tanaman menuju arah diferensiasi tertentu. Senyawa-senyawa lain yang memiliki karateristik yang sama dengan hormon, tetapi diproduksi secara eksogen, dikenal sebagai zat pengatur tumbuh (Zulkarnain 2009). Zat pengatur tumbuh diperlukan sebagai komponen media bagi pertumbuhan dan diferensiasi. Tanpa penambahan zat pengatur tumbuh dalam medium, pertumbuhan sangat terhambat bahkan mungkin tidak tumbuh sama sekali. Pembentukan organ-organ tanaman ditentukan oleh penggunaan zat pengatur tumbuh yang tepat (Hendaryanto et al. 2004). C . Metode Praktikum 1 . Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara I, Pembuatan Larutan Stok, Media Kultur, dan Sterilisasi Alat dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 4 April 2013 pukul 11.00 WIB, bertempat di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian UNS Surakarta. 2 . Alat a . Peralatan untuk penanaman eksplan, meliputi : Laminar Air Flow Cabinet (LAFC), lengkap dengan lampu bunsen yang berisi spirtus Petridish dan botol-botol kultur Peralatan diseksi, yaitu pinset besar/kecil, pisau pemes, gunting eksplan Petridish dan peralatan diseksi dibungkus dengan kertas, kemudian disterilisasi dengan autoklaf pada tekanan 1,5 kg/cm2 selama 45 menit. Setelah sterilisasi, alat-alat tersebut disimpan di dalam oven. b . Peralatan untuk pembuatan media : Timbangan analitik Botol-botol kultur Magnetik stirer Ph meter Gelas piala

Pipet Plastik pp 0.3 mm Karet gelang Kertas label 3 . Bahan a. Aquadest b. Larutan stok : hara makro dan mikro, vitamin, ZPT c. Agar-agar d. Gula e. NaOH 1 N dan HCl 1 N 4 . Cara Kerja a . Pembuatan Larutan Stok
1). Larutan stok media Menimbang bahan-bahan kimia yang telah dikalikan menjadi beberapa kali konsentrasi, misalnya untuk unsur hara makro dikalikan 20 dan unsur hara mikro dikalikan 100 kali konsentrasi Melarutkan bahan-bahan kimia tersebut ke dalam aquadest dengan volume tertentu, misalnya 500 ml Memasukkan masing-masing larutan ke dalanm botol dan menyimpannnya ke dalam refrigerator. 2). Larutan stok zat pengatur tumbuh Menghitung kebutuhan BAP 100 ppm sebanyak 300 ml adalah sebagai berikut : 100ppm = 100mg/l = 30 mg/0.3 l = 30 mg/300 ml Menghitung kebutuhan IBA 100 ppm sebanyak 100 ml adalah sebagai berikut : 100 ppm = 100 mg/l = 10 mg/ 0.1 l

= 10 mg/ 100 ml Melarutkan bahan dengan alkohol atau NaOH 1 N kemudian ditambah dengan aquadest sampai 300 ml untuk BAP dan 100 ml untuk IBA Memasukkan masing-masing larutan tersebut ke dalam botol dan menyimpannya ke dalam refrigerator.

b . Pembuatan Media Untuk membuat media 1 L dengan konsentrasi BAP 2 ppm, maka volume larutan stok yang diambil adalah : V1 M1 V1 100 ppm V1 = V2 M2 = 1000 ml 2 ppm = 20 ml/L

Untuk membuat media 1 L dengan konsentrasi IBA 0,5 ppm, maka volume larutan stok yang diambil adalah : V1 M1 V1 100 ppm V1 Keterangan V1 : volume larutan stok yang diambil M1 : dosis larutan stok yang tersedia V2 : volume media yang akan dibuat M2 : dosis media yang akan dibuat Menambah aquadest sampai 1000 ml Menambah gula sebanyak 30 gram Mengatur pH pada kisaran 5,8 6,3 dengan menambahkan beberapa tetes NaOH untuk menaikkan pH atau HCl untuk menurunkan pH. Pada saat pengukuran pH, larutan media diaduk dengan magnetik stirrer. Menambahkan agar-agar 8 gram kemudian di didihkan Menuangkan larutan media ke dalam botol-botol kultur kurang lebih 25 ml tiap botol Menutup botol berisi larutan media dengan plastik = V2 M2 = 1000 ml 0,5 ppm = 5 ml/L

Memasukkan botol-botol berisi media ke dalam autoklaf untuk proses sterilisasi pada tekanan 1,5 kg/cm2 selama 45 menit Menyimpan media pada rak penyimpan media, yang bertujuan untuk mengantisipasi ada tidaknya kontaminasi pada media sehingga dapat dicegah penggunaan media yang telah terkontaminasi pada saat penanaman. D . Hasil Pengamatan dan Pembahasan 1 . Hasil Pengamatan

Gambar 1.1 Prosedur Pembuatan Media

Gambar 1.2 Prosedur Pembuatan Media

Gambar 1.3 Hasil Pembuatan Media yang Diletakkan Dalam Botol Kultur 2 . Pembahasan Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan (Hendra 2007). Pertumbuhan tanaman in vitro sebagian besar dipengaruhi oleh komposisi media kultur. Komponen media yang utama dalam kultur jaringan tanaman yaitu garam, mineral dan gula sebagai sumber karbon dan air. Komponen lain merupakan tambahan organik, pengatur pertumbuhan, gell agar. Terdapat 13 komposisi media dalam kultur jaringan antara lain Murashige dan Skoog (MS), Linsmaier dan Skoog (LS), Woody Plant Medium (WPM), Knop, Knudson-C, Anderson dan lain-lain. Meskipun beberapa jumlah komposisi dirubah untuk langkah-langkah kultur jaringan dan spesies tanaman berbeda, media MS dengan cara memanaskannya dengan autoklaf

(Murashige dan Skoog, 1962) dan LS (Linsmaier dan Skoog, 1965) paling banyak digunakan dalam kultur jaringan tanaman (Prakash et al. 2004). Media yang digunakan pada praktikum ini adalah media MS (Murashige and Skoog) yang dimodifikasi dengan penambahan ZPT BAP 2 ppm. Media dapat dibuat sesuai dengan prosedur kerja pembuatan media dan dapat digunakan untuk kegiatan penanaman eksplan. Komposisi media yang digunakan pada praktikum ini antara lain air distilata (aquadest) / air bebas ion sebagai pelarut atau solven, unsur hara makro dan mikro, gula (sukrosa) sebagai sumber energi, vitamin, asam amino, dan ZPT (BAP 100 ppm sebanyak 300 ml, IBA 100 ppm sebanyak 100 ml). Media kultur yang memenuhi syarat adalah media yang mengandung nutrien makro mikro dalam kadar dan perbandingan tertentu, serta sumber energi (umumnya menggunakan sukrosa), serta mengandung satu atau dua macam vitamin dan zat pengatur tumbuh. ZPT atau hormon tumbuhan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Interaksi dan keseimbangan antara ZPT yang diberikan dalam media (eksogen) dan yang diproduksi oleh sel secara endogen menentukan arah perkembangan suatu kultur. Sebelum membuat media, terlebih dahulu dilakukan pembuatan larutan stok. Larutan stok dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengambilan bahanbahan kimia khususnya yang dibutuhkan dalam jumlah kecil. Larutan stok disimpan di dalam lemari pendingin agar tidak mudah rusak dan mencegah terdegradasinya bahan-bahan kimia oleh mikroba penyebab kontaminasi. Setiap unsur yang terkandung dalam media mempunyai fungsi bagi metabolisme tanaman atau proses kultur jaringan. Media yang digunakan untuk kultur sel dalam bentuk larutan nutrisi, padat dan cair. Media MS sebagai media fundamental yang mengandung nutrisi makro anorganik, nutrisi mikro anorganik, nutrisi Fe, vitamin, organik dan zat pengatur pertumbuhan tanaman (phytohormon). Komposisi nutrisi makro anorganik mempunyai fungsi, khususnya untuk metabolisme tanaman. Komposisi tersebut mengandung protein, karbohidrat, asam nukleat, lipid dan lain-lain.

Vitamin yang digunakan dalam media MS hanya thiamine (vitamin B1). Komponen ini diperlukan untuk metabolisme karbohidrat dan biosintesis dari asam amino. Vitamin telah terbukti sebagai komponen yang penting dalam kultur jaringan tanaman. Vitamin lain yaitu seperti vitamin C dan vitamin E hanya digunakan jika diperlukan untuk pertumbuhan eksplan maksimum. Unsur organik dalam media MS seperti sukrosa atau gula lain menambahkan ke dalam media untuk menyediakan CO2. Sebelum media dipanaskan harus diperiksa pH nya terlebih dahulu. Media sangat baik pada pH 5,8 jika pH kurang dari 5 media agar akan terlalu lemah, tetapi jika pH di atas 7 media agar terlalu padat dan tidak bisa penanaman eksplan dengan baik. Faktor penting adalah pH yang harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu fungsi membran sel dan pH dari sitoplasma. Pengaturan pH selain memperhatikan kepentingan fisiologi sel, juga harus mempertimbangkan faktor-faktor kelarutan dari garam-garam penyusun media, pengambilan (uptake) dari zat pengatur tumbuh dan garam-garam lain, serta efisiensi pembekuan agar. E . Kesimpulan dan Saran 1 . Kesimpulan Kesimpulan yang bisa diambil dari praktikum acara I, Pembuatan Larutan Stok, Media Kultur, dan Sterilisasi Alat ini antara lain : a. Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. b. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. c. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. d. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. e. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf

10

2 . Saran Saran untuk praktikum acara I ini adalah agar waktu praktikum diperpanjang agar pemahaman tentang pembuatan media kultur serta sterilisasinya lebih mendalam. Selain itu fasilitas di ruang kultur lebih dilengkapi demi kelancaran praktikum.

11

DAFTAR PUSTAKA Ali, G., F. Hadi, Z. Ali, M. Tariq, and M. A. Khan. 2007. Callus Induction and in vitro Complete Plant Regeneration of Different Cultivars ot Tobacco (Nicotiana tabacum L.) on Media of Different Hormonal Concentration. Biotechnology. Vol 6(4): 561-566 Fitriani, A. 2003. Kandungan Ajmalisin pada Kultur Kalus Catharanthus roseus (L.) G. Don Setelah Dielisitasi Homogenat Jamur Pythium aphanidermatum Edson Fitzp. Makalah Pengantar Falsafah Sains (PPS702). Program Pasca Sarjana / S3. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Biro Pusat Statistika. 2002. Statistika Indonesia. Jakarta. Indonesia. Gunawan, L.W. 2000. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Laboratorium Kultur Jaringan. Pusat Antar Universitas (PAU) Bioteknologi. IPB. Bogor. P. 304. Nugroho, A dan Sugito. 2004. Pedoman Pelaksanaan Teknik Kultur Jaringan. Jakarta: Penebar Swadaya. Jakarta Priyono, D. Suhandi, dan Matsaleh. 2000. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh IAA dan 2IP pada Kultur Jaringan Bakal Buah Pisang. Jurnal Hortikultura. 10 (3) : 183 . 190. Pasqua, Gabriella. 2002. Effects of the Culture Medium pH and Ion Uptake in In Vitro Vegetative Organogenesis in Thin Cell Layers of Tobacco. Plant Science 162 (2002) 947_/955 Sunarjono, H. 2002. Budidaya Pisang dengan Bibit Kultur Jaringan. Penebar Swadaya. Jakarta

12

ACARA II KULTUR JARINGAN SANSIVERA

A . Pendahuluan 1 . Latar Belakang Sansivera merupakan tanaman hias daerah tropis yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan masyarakat Indonesia. Bahkan, tanaman yang diketahui mampu menyerap racun ini pun banyak dijumpai di pinggir jalan raya. Namun, sejak awal abad ke-19, tanaman ini pun mulai naik pamornya. Sansevieria dianggap sebagai komoditas tanaman hias yang penting di dunia. Bentuk dan corak daunnya yang indah dan sangat beragam ternyata mampu memikat hati para penggemar tanaman hias. Untuk mendapatkan sansevieria yang indah dan memukau, tentu tidak terlepas dari teknik perawatan yang tepat. Sifatnya yang bandel dan tahan terhadap kondisi tumbuh seperti apa pun, membuat sansevieria sangat mudah dirawat. Untuk memperbanyak bibit sansivera dalam jumlah besar dan dengan waktu yang singkat maka perlu dilakukan budidaya sansivera dengan teknik kultur jaringan secara in vitro. Perbanyakan tanaman Sanseviera pada umumnya dilakukan secara vegetatif. Sansevieria dapat diperbanyak menggunakan stek, pemisahan anakan, teknik cabut pucuk, dan kultur jaringan. 2 . Tujuan Praktikum Tujuan praktikum acara II kultur jaringan sansivera antara lain : a. Mengetahui teknik kultur jaringan sansivera b. Mengetahui pengaruh BAP terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan sansivera B . Tinjauan Pustaka Pada sansievera metode kultur jaringan lebih sering diterapkan untuk membiakkan jenis yang menghasilkan anakan seperti jenis S. 12lastic12ve12 dan jenis yang langka. Eksplan diambil dari nmata tunas pucuk rimpang atau pucuk daun sepanjang 1 cm. sebelum ditanam eksplan disterilisasi terlebih dahulu untuk menghindari kontaminasi (Pramono 2008).

13

Perbanyakan tanaman Sanseviera pada umumnya dilakukan secara vegetatif. Sansevieria dapat diperbanyak menggunakan stek, pemisahan anakan, teknik cabut pucuk, dan kultur jaringan. Teknik perbanyakan tanaman Sansevieria secara vegetatif yang sering dilakukan antara lain perbanyakan dengan stek daun dan pemisahan anakan, pada umumnya tunas akan terbentuk dan tubuh setelah akar terbentuk dengan baik (Purwanto 2006). Stek daun Sansevieria trifaciata Laurentii yang dipotong mendatar pada bagian tengah dan ujung daun menghasilkan tunas, jumlah daun, tinggi tanaman, serta lebar daun yang lebih baik dibandingkan bahan stek daun Sansevieria trifaciata Laurentii setengah bagian daun. Bentuk potongan pangkal stek dibuat miring, karena dengan permukaan irisan yang miring akan memiliki permukaan irisan yang lebih luas dibandingkan permukaan irisan yang dipotong datar. Permukaan irisan yang lebih luas akan menghasilkan jumlah akar yang lebih banyak, selain itu akan menghasilkan satu akar yang besar diujung stek, karena pada ujung stek terjadi akumulasi zat tumbuh (Lestari 2007). Media tanam merupakan komponen penting dalam budidaya tanaman hias sebagai tempat tanaman tumbuh, berakar dan berkembang. Pemilihan media tanam harus sesuai tujuannya, sebagai media semai dan perbanyakan atau sebagai tempat tumbuh sampai produksi. Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman, biasanya jenis media tanam disesuaikan dengan habitat asal tanaman yang akan dibudidayakan. Tanaman hias pada umumnya memerlukan media yang gembur, porous, subur, mengadung bahan organik, bebas dari organisme pengganggu tanaman, dan memiliki aerasi serta drainase yang baik (Wuryaningsih 2008). Sansevieria membutuhkan media tanam yang sama dengan jenis tanaman sukulen lainnya. Tanaman sukulen pada umumnya tidak menyukai media yang basah atau mengandung banyak air. Tanaman sukulen akan mudah terserang penyakit dan jamur terutama pada media yang lembab, maka dibutuhkan media yang bersifat porous dan tidak terlalu lembab sesuai dengan habitat aslinya daerah tropis kering dan mempunyai iklim gurun yang panas (Acquaah 2002).

14

ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) menstimulasi pertumbuhan dengan member isyarat kepada sel target untuk membelah atau memanjang, beberapa ZPT menghambat pertumbuhan dengan cara menghambat pembelahan atau pemanjangan sel. Sebagian besar molekul ZPT dapat mempengaruhi metabolism dan perkembangan sel-sel tumbuhan. ZPT digunakan secara luas di dunia pertanian dengan berbagai tujuan diantaranya penundaan atau peningkatan peluruhan daun atau pentil buah, pengendalian ukuran organ dan lain-lain (Harjadi 2009). C . Metode Praktikum 1 . Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara II kultur jaringan sansivera dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 18 April 2013 pukul 11.00 WIB, bertempat di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian UNS Surakarta. 2 . Alat a. LAFC (Laminar Air Flow Cabinet) lengkap dengan lampu bunsen b. Petridish dan botol-botol kultur c. Peralatan diseksi yaitu pinset besar/kecil dan pisau pemes 3 . Bahan a. Eksplan daun sansivera b. Media kultur c. Alkohol 70 % d. Aquadest steril e. Spirtus f. Chlorox (Sunclin) 4 . Cara Kerja a. Persiapan eksplan b. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) Merendam eksplan dalam larutan Dithane M-45, 3 mg/l selama 12 jam, dilanjutkan dengan chlorox 5,25 % (sunclin 100 %) selama 3 menit Membilas eksplan dengan aquadest steril c. Penanaman eksplan

15

Membuka plastik penutup botol media kultur Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Setelah digunakan, pinset harus selalu dibakar di atas api. Selama penanaman, mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi d. Pemeliharaan Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur Lingkungan di luar botol harus dijaga suhu, kelembaban dan cahayanya Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi e. Pengamatan selama 5 minggu, yang diamati : Saat muncul akar, tunas, daun, dan kalus (HST), diamati setiap hari Jumlah akar, tunas, dan daun, diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus), dilakukan pada akhir pengamatan Persentase keberhasilan, dilakukan pada akhir pengamatan D . Hasil Pengamatan dan Pembahasan 1 . Hasil Pengamatan Tabel 2.1 Pengaruh BAP Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Eksplan Sansivera
Eksplan Tanggal Akar Saat Muncul (HST) Tunas Daun Kalus Akar Jumlah Tunas Daun Keterangan Penanaman Sansivera 18 April 2013 25 April 2013 2 Mei 2013 Kontaminasi oleh jamur / cendawan stagnasi eksplan

Sumber : Laporan Sementara

16

Penanaman eksplan hari pertama

Eksplan mengalami stagnasi

Kontaminasi Oleh Jamur

Gambar 2.1 Kultur Jaringan Sansivera 2 . Pembahasan Tanaman Sansivera termasuk tanaman yang bersifat sukulen, karena secara morfologi Sansivera dicirikan dengan daun yang tebal dan memiliki kandungan air yang tinggi. Sansivera dapat tumbuh pada rentang suhu yang luas dan dapat bertahan hidup di daerah panas seperti gurun, pertumbuhan optimal dicapai pada siang hari dengan temperatur 24-290C dan pada malam hari 18210C. Sansivera dapat beradaptasi pada ruangan dengan suhu dan kelembaban yang rendah seperti pada ruangan berpendingin (Air Conditioner). Sansivera dapat tumbuh dengan baik pada kondisi pencahayaan penuh maupun pencahayaan yang kurang, namun Sansivera lebih menyenangi kondisi sinar matahari langsung untuk pertumbuhannya. Perbanyakan tanaman Sansivera pada umumnya dilakukan secara vegetatif. Sansivera dapat diperbanyak

menggunakan stek, pemisahan anakan, teknik cabut pucuk, dan kultur jaringan (Pramono 2008). BAP merupakan senyawa kelompok sitokinin yang memacu pembelahan sel sehingga mampu memacu pembentukan kalus atau massa sel. Kalus yang terbentuk dapat dipacu untuk berdiferensiasi menjadi tunas dengan

menambahkan kandungan IBA pada media. Pengaruh BAP pada eksplan lebih dominan karena kandungan di dalam media lebih besar daripada IBA sehingga terbentuklah kalus pada eksplan.

17

Keadaan eksplan pada 7 hari setelah penanaman, mengalami pembusukan, eksplan berwarna kecoklatan (browning), kemudian pada minggu ke dua tanggal 2 Mei 2013, eksplan akhirnya terkontaminasi oleh cendawan atau jamur. Penyebab eksplan mengalami pembusukan karena jaringan sel daun pada daerah meristem mati, sehingga sel pada daun sansivera tidak dapat tumbuh, jaringan sel yang mati ini penyebabnya adalah perendaman dalam chlorox 5,25 % yang terlalu lama, dan proses pemotongan eksplan pada bagian yang terkena larutan kurang steril. Sehingga kesimpulannya kultur jaringan pada bagian daun sansivera gagal. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur invitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies, bahkan varietas, atau tanaman asal eksplan tersebut. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan, seperti kebutuhan nutrisi, zat pengatur tumbuh, dan lingkungan kultur. Oleh karena itu, komposisi media, zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. Perbedaan komposisi media, komposisi zat pengatur tumbuh dan jenis media yang digunakan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan regenerasi eksplan yang dikulturkan. Tanaman umumnya tumbuh pada lingkungan dengan suhu yang tidak sama setiap saat, misalnya pada siang dan malam hari tanaman mengalami kondisi dengan perbedaan suhu yang cukup besar. Keadaan demikian bisa dilakukan dalam kultur invitro dengan mengatur suhu siang dan malam di ruang kultur, namun laboratorium kultur jaringan selama ini mengatur suhu ruang kultur yang konstant baik pada siang maupun malam hari. Umumnya temperatur yang digunakan dalam kultur in vitro lebih tinggi dari kondisi suhu invivo. Tujuannya adalah untuk mempercepat pertumbuhan dan morfogenesis eksplan.

18

Kelembaban relatif dalam botol kultur dengan mulut botol yang ditutup umumnya cukup tinggi, yaitu berkisar antara 80-99%. Jika mulut botol ditutup agak longgar maka kelembaban relatif dalam botol kultur dapat lebih rendah dari 80%. Sedangkan kelembaban relatif di ruang kultur umumnya adalah sekitar 70%. Jika kelembaban relatif ruang kultur berada dibawah 70% maka akan mengakibatkan media dalam botol kultur (yang tidak tertutup rapat) akan cepat menguap dan kering sehingga eksplan dan plantlet yang dikulturkan akan cepat kehabisan media. Namun kelembaban udara dalam botol kultur yang terlalu tinggi menyebabkan tanaman tumbuh abnormal yaitu daun lemah, mudah patah, tanaman kecil-kecil namun terlampau sukulen. Kondisi tanaman demikian disebut vitrifikasi atau hiperhidrocity. Kuantitas dan kualitas cahaya, yaitu intensitas, lama penyinaran dan panjang gelombang cahaya mempengaruhi pertumbuhan eksplan dalam kultur invitro. Pertumbuhan dan morfogenesis dalam mikropropagasi sangat dipengaruhi oleh keadaan jaringan tanaman yang digunakan sebagai eksplan. Selain faktor genetis eksplan yang telah disebutkan di atas, kondisi eksplan yang mempengaruhi keberhasilan teknik mikropropagasi adalah jenis eksplan, ukuran, umur dan fase fisiologis jaringan yang digunakan sebagai eksplan. Agar penanaman berhasil sebaiknya perendaman dalam larutan steril jangan terlalu lama agar jaringan sel eksplan tidak mati dan pemotongan eksplan dilakukan secara steril. Serta kelembaban pada botol kultur tetap terjaga. Pada saat penanaman, sebaiknya bahan tanaman ditanam dalam keadaan berdiri bukan rebah. Hal ini untuk memudahkan penyerapan nutrisi yang ada di dalam media. Apabila penanaman dilakukan dalam keadaan rebah, bagian daun yang mengadakan kontak dengan media merupakan daun yang tidak mengalami pelukaan sehingga nutrisi dari media akan sulit masuk ke dalam jaringan eksplan. Kesterilan praktikan juga dijaga agar proses kultur secara in vitro berhasil dan tidak terkontaminasi. E . Kesimpulan dan Saran 1 . Kesimpulan

19

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan praktikum acara II Kultur Jaringan Sansivera, maka dapat diambil kesimpulan antara lain : a. Eksplan pada 7 hari setelah penanaman, mengalami pembusukan, eksplan berwarna kecoklatan (browning) b. Eksplan akhirnya terkontaminasi oleh cendawan atau jamur, pada minggu ke-2 setelah penanaman c. Penyebab eksplan mengalami pembusukan karena perendaman dalam chlorox 5,25 % yang terlalu lama, sehingga jaringan sel mati d. Agar penanaman berhasil sebaiknya perendaman dalam larutan steril jangan terlalu lama agar jaringan sel eksplan tidak mati e. Pada saat penanaman, sebaiknya bahan tanaman ditanam dalam keadaan berdiri untuk memudahkan penyerapan nutrisi yang ada di dalam media 2 . Saran Saran untuk praktikum acara II ini adalah agar waktu praktikum diperpanjang agar pemahaman tentang proses kultur jaringan sansivera serta sterilisasinya lebih mendalam. Selain itu fasilitas di ruang kultur lebih dilengkapi demi kelancaran praktikum.

20

DAFTAR PUSTAKA

Purnamaningsih, R. 2006. Induksi Kalus dan Optimasi Regenerasi Empat Varietas Padi melalui Kultur In Vitro. Jurnal AgroBiogen 2(2):74-80. Pramono, S. 2008. Pesona Sansievera. PT agro Media Pustaka. Jakarta. Wetherel, D.F. 2008. Propagasi Tanaman Secara In Vitro. Avery Publishing Group Inc. New Jersey. Salisbury, F. B and C. W. Ross. 2002. Plant Physiology. CBS Publisher & Distributors: New Delhi 26(2):215-260 Widyastuti, N dan Donowati Tjokrokusumo. 2007. Peranan Beberapa Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Tanaman Pada Kultur In Vitro. http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=8&ch=jsti&id=221. Diakses pada tanggal 4 Agustus 2010. Yusnita. 2003. Kultur Jaringan cara memperbanyak tanaman secara efisien. AgroMedia Pustaka: Jakarta Wattimena, G.A; L. W. Gunawan; N. A. Mattjik; Endang. S; N. M. A. Wiendi dan Andri. E. 1992. Bioteknologi Tanaman. Penerjemah Ahmad Sukarti Abidin. Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB: Bogor.

21

ACARA III KULTUR JARINGAN NANAS

A . Pendahuluan 1 . Latar Belakang Tanaman nanas berasal dari Amerika tropis, yakni Brazil, Argentina, dan Peru. Pada saat ini, nanas telah tersebar ke seluruh dunia, terutama di sekitar khatulistiwa antara 30 LU dan 30 LS. Kultivar ini merupakan standarisasi nanas untuk processing dan perdagangan buah segar, karena bentuknya yang silinder, bermata dangkal (shallow eyes), daging buah berwarna kuning, rasanya tidak terlalu asam, dan memiliki hasil produksi yang tinggi. Pilihan lokal biasanya dikenal dengan nama asalnya, seperti Serawak di Malaysia, Champaka yang merupakan asli dari India, namun banyak hidup di Hawaii. Kelemahan kultivar ini yaitu rentan terhadap kutu putih dan nematode. tanaman nanas menghendaki dataran rendah hingga dataran tinggi 1.200 mdpl. Tanaman ini tidak tahan terhadap salju, tetapi tahan sekali terhadap kekeringan. Namun, tanaman nanas lebih senang terhadap tanah subur, daerah beriklim basah dengan curah hujan 1.000-2.500 mm per tahun. Tanaman nanas tahan terhadap tanah asam yang mempunyai pH 3-5, tetapi paling baik adalah pH tanah antara 5-6,5. Oleh karena itu, tanaman nanas bagus pula dikembangkan di lahan gambut. Tanaman nanas dapat tumbuh di lahan terbuka, tetapi dapat pula tumbuh subur di tempat yang ternaungi pohon besar. Namun, di tempat terbuka yang mendapat sinar matahari terik, buahnya sering hangus. Tanaman masih mampu berbuah di daerah beriklim kering (4-6 bulan kering), asalkan kedalaman air tanah antara 50-150cm. Hal ini disebabkan akarnya yang dangkal, tetapi tanaman mampu menyimpan air. Kultur jaringan merupakan metode untuk menghasilkan plantlet nenas yang bebas penyakit, seragam, dengan jumlah yang besar dan dalam waktu singkat. Penerapan teknologi kultur jaringan di banyak negara berkembang, masih menemui kendala yang disebabkan oleh tingginya biaya yang diperlukan untuk penerapan teknologi tersebut.

22

2 . Tujuan Praktikum Tujuan praktikum acara III kultur jaringan nanas antara lain : a. Mengetahui teknik kultur jaringan nanas b. Mengetahui pengaruh BAP terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan nanas B . Tinjauan Pustaka Kultur jaringan merupakan metode untuk menghasilkan plantlet nenas yang bebas penyakit, seragam, dengan jumlah yang besar dan dalam waktu singkat. Penerapan teknologi kultur jaringan di banyak negara berkembang, masih menemui kendala yang disebabkan oleh tingginya biaya yang diperlukan untuk penerapan teknologi tersebut (Khan et al. 2004). Buah nanas unggulan Indonesia adalah nanas bogor yang termasuk ke dalam kultivar Queen. Keunggulan ini dikarenakan nanas bogor memiliki rasa yang manis sekali, lebih renyah, rendah serat (seratnya halus) dan aromanya lebih harum dibandingkan nanas lainnya, sehingga dianjurkan oleh Departemen Pertanian untuk dibudidayakan di Indonesia sebagai konsumsi segar. Keunggulan lainnya nanas bogor (jenis Queen) lebih tahan dari serangan penyakit. Selain untuk konsumsi segar kebutuhan produksi nanas semakin meningkat karena nanas merupakan bahan baku industri buah kalengan dan olahan. Ketua PKBT menjelaskan, permintaan nanas di pasar dunia rata-rata mencapai 5.000.000 ton tiap tahunnya, permintaan nanas yang tinggi ini tentunya berkaitan dengan penyediaan bibit (Mulyati 2008). Bahan tanam untuk produksi benih nenas varietas baru yang

dikembangkan, tersedia hanya dalam jumlah yang terbatas, padahal produksi nenas dalam skala komersial membutuhkan bahan tanam 29,000 hingga 86,000 tanaman per hektar. Kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi dengan metode perbanyakan konvensional, karena membutuhkan waktu yang lama dan jumlah bahan tanam yang dihasilkan juga sedikit (Hepton 2003). Salah satu permasalahan dalam budidaya nanas di Indonesia adalah belum adanya produsen bibit yang dapat menyediakan bibit nanas yang bermutu dan menjamin keseragaman dalam jumlah yang banyak dan waktu yang relatif

23

singkat. Hal ini karena teknik perbanyakan tradisional dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman seperti crown (mahkota buah), slip, shoot (tunas samping) dan sucker (anakan) memerlukan waktu lama, jumlah bibit yang dihasilkan sedikit dan tidak seragam. Untuk mengatasi permasalahan ini maka salah satu alternatifnya adalah dengan cara mikropropagasi yang merupakan suatu bentuk aplikasi teknik kultur jaringan yang bertujuan untuk perbanyakan tanaman. Dengan menggunakan cara ini dapat dihasilkan bibit yang seragam dan tahan hama, dapat memenuhi kebutuhan bibit dalam skala besar dengan waktu relatif singkat, dan produksi bibit ini tidak mengenal musim (Zulkarnain 2009). Pemberian sitokinin diharapkan dapat memicu pertumbuhan tunas pada plantlet, sehingga perbanyakan plantlet nenas secara vegetatif dapat

dilaksanakan lebih awal, bahkan sebelum plantlet tumbuh menjadi tanaman dewasa. Pengaruh sitokinin terhadap pertumbuhan vegetatif plantlet nenas juga dipelajari melalui pengamatan terhadap variabel pertumbuhan vegetatif, sehingga kelayakan metode yang digunakan dalam penelitian ini dapat dipertimbangkan untuk penelitian selanjutnya (Ramadhani et al. 2013). Untuk mengoptimalkan pertumbuhan kultur in-vitro dapat dirangsang dengan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT). Dalam kultur in-vitro, dua golongan zat pengatur tumbuh yang sangat penting adalah sitokinin dan auksin yang bekerja secara sinergis. Auksin memiliki fungsi penting yaitu merangsang pemanjangan sel dan sitokinin berfungsi dalam pengontrolan pembelahan sel (Irwanto 2001). C . Metode Praktikum 1 . Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara III kultur jaringan nanas dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 11 April 2013 pukul 11.00 WIB, bertempat di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian UNS Surakarta. 2 . Alat a. LAFC (Laminar Air Flow Cabinet) lengkap dengan lampu bunsen b. Petridish dan botol-botol kultur c. Peralatan diseksi yaitu pinset besar/kecil dan pisau pemes 3 . Bahan

24

a. Eksplan nanas b. Media kultur c. Alkohol 70 % d. Aquadest steril e. Spirtus f. Chlorox (Sunclin) 4 . Cara Kerja a. Persiapan eksplan b. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) Merendam eksplan dalam larutan Dithane M-45, 3 mg/l selama 12 jam, dilanjutkan dengan chlorox 5,25 % (sunclin 100 %) selama 3 menit Membilas eksplan dengan aquadest steril c. Penanaman eksplan Membuka plastik penutup botol media kultur Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Setelah digunakan, pinset harus selalu dibakar di atas api. Selama penanaman, mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi d. Pemeliharaan Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur Lingkungan di luar botol harus dijaga suhu, kelembaban dan cahayanya Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi e. Pengamatan selama 5 minggu, yang diamati : Saat muncul akar, tunas, daun, dan kalus (HST), diamati setiap hari Jumlah akar, tunas, dan daun, diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus), dilakukan pada akhir pengamatan Persentase keberhasilan, dilakukan pada akhir pengamatan

25

D . Hasil Pengamatan dan Pembahasan 1 . Hasil Pengamatan Tabel 3.1 Pengaruh BAP Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Eksplan Nanas
Eksplan Tanggal Akar Saat Muncul (HST) Tunas Daun Kalus Akar Jumlah Tunas Daun Keterangan Penanaman Nanas 11 April 2013 18 April 2013 Kontaminasi oleh jamur / cendawan eksplan

Sumber : Laporan Sementara

Penanaman eksplan

Kontaminasi jamur hari ke-7

Gambar 3.1 Kultur Jaringan Nanas 2 . Pembahasan Tanaman nanas berasal dari Amerika tropis, yakni Brazil, Argentina, dan Peru. Kelemahan kultivar ini yaitu rentan terhadap kutu putih dan nematode. tanaman nanas menghendaki dataran rendah hingga dataran tinggi 1.200 mdpl. Tanaman ini tidak tahan terhadap salju, tetapi tahan sekali terhadap kekeringan. Namun, tanaman nanas lebih senang terhadap tanah subur, daerah beriklim basah dengan curah hujan 1.000-2.500 mm per tahun (Campbell 2009).

26

Tanaman nanas tahan terhadap tanah asam yang mempunyai pH 3-5, tetapi paling baik adalah pH tanah antara 5-6,5. Oleh karena itu, tanaman nanas bagus pula dikembangkan di lahan gambut. Tanaman nanas dapat tumbuh di lahan terbuka, tetapi dapat pula tumbuh subur di tempat yang ternaungi pohon besar. Namun, di tempat terbuka yang mendapat sinar matahari terik, buahnya sering hangus. Tanaman masih mampu berbuah di daerah beriklim kering (4-6 bulan kering), asalkan kedalaman air tanah antara 50-150cm. Hal ini disebabkan akarnya yang dangkal, tetapi tanaman mampu menyimpan air. Keadaan eksplan pada 7 hari setelah penanaman, mengalami kontaminasi, eksplan terkontaminasi oleh jamur atau cendawan. Penyebab eksplan mengalami kontaminasi karena kontaminasi internal pada eksplan sebab proses pemotongan eksplan kurang steril. Sehingga kesimpulannya kultur jaringan nanas gagal. BAP merupakan senyawa kelompok sitokinin yang memacu pembelahan sel sehingga mampu memacu pembentukan kalus atau massa sel. Kalus yang terbentuk dapat dipacu untuk berdiferensiasi menjadi tunas dengan

menambahkan kandungan IBA pada media. Pengaruh BAP pada eksplan lebih dominan karena kandungan di dalam media lebih besar daripada IBA sehingga terbentuklah kalus pada eksplan. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur invitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Perbedaan komposisi media, komposisi zat pengatur tumbuh dan jenis media yang digunakan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan regenerasi eksplan yang dikulturkan. Faktor yang mendukung keberhasilan persentase tumbuh eksplan dari media MS yang digunakan sudah mengandung komposisi yang lengkap untuk pertumbuhan eksplan. pemberian hormon dengan beberapa konsentrasi pada media MS memberikan persentase tumbuh eksplan yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, karena media mengandung vitamin, dan unsur hara makro, mikro sehingga cukup untuk memacu pertumbuhan eksplan. Agar penanaman berhasil sebaiknya perendaman dalam larutan steril jangan terlalu lama agar jaringan sel eksplan tidak mati dan pemotongan eksplan

27

dilakukan secara steril. Kontaminasi eksplan paling sulit diatasi, walaupun sterilisasi telah dilakukan dengan berbagai cara, namun kontaminasi tetap saja terjadi. Dalam hal ini dikarenakan pada eksplan telah terjadi kontaminasi internal, perlu dilakukan treatment pada tanaman yang akan dijadikan sebagai sumber eksplan dengan mencuci eksplan pada larutan fungisida dan bakterisida. Untuk menanggulangi kontaminasi setelah eksplan dikulturkan maka dilakukan pemeliharaan secara teratur dengan melakukan penyemprotan spirtus ataupun alkohol pada permukaan botol kultur dua hari sekali. E . Kesimpulan dan Saran 1 . Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan pada praktikum acara kultur jaringan nanas ini, maka dapat diambil kesimpulan antara lain : a. Mikropropagasi merupakan suatu bentuk aplikasi teknik kultur jaringan yang bertujuan untuk perbanyakan tanaman b. Keadaan eksplan pada 7 hari setelah penanaman, mengalami kontaminasi, eksplan terkontaminasi oleh jamur atau cendawan c. Penyebab eksplan mengalami kontaminasi karena kontaminasi internal pada eksplan sebab proses pemotongan eksplan kurang steril d. Penanggulangan eksplan yang terkontaminasi dengan cara treatment pada tanaman yang akan dijadikan sebagai sumber eksplan dengan mencuci eksplan pada larutan fungisida dan bakterisida. 2 . Saran Saran untuk praktikum acara III ini adalah agar waktu praktikum diperpanjang agar pemahaman tentang proses kultur jaringan nanas serta sterilisasinya lebih mendalam. Selain itu fasilitas di ruang kultur lebih dilengkapi demi kelancaran praktikum.

28

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A., J.B., Reece, L.G., Mitchell. 2009. Biologi. Erlangga. Jakarta. Hepton, A. 2003. Cultural system. p. 109-142. In Bartholomew, D.P., R.E. Paull, K.G. Rohrbach (Eds.). The Pineapple: Botany, Production and Uses. CABI Publishing. New York. Irwanto. 2001. Pengaruh Hormon IBA (Indole Butyric Acid) Terhadap Persen Jadi Stek Pucuk Meranti Putih (Shorea montigena). http://www.irwantoshut.com Diakses pada tanggal 22 April 2013. Khan, S., A. Nasib, B.A. Saeed. 2004. Employment of in vitro technology for large scale multiplication of pineapples (Ananas comosos). Pak. J. Bot. 36(3): 611615. Mulyati, G.G.R. 2008. Studi pertumbuhan vegetatif tanaman nanas (Ananas comosus L. Merr) kultivar Queen hasil kultur in vitro. Skripsi. Departemen Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. 41 hal. Ramadhani, Rustriningsih. 2013. Induksi Kalus dan Optimasi Regenerasi Empat Varietas Padi melalui Kultur In Vitro. Jurnal AgroBiogen 2(2):74-80 Zulkarnain, D., A. 2009. Teknik Pemberian Benzil Amino Purin untuk Memacu Pertumbuhan Kalus dan Tunas pada Kotiledon Melon (Cucumis melo L.). Buletin Teknik pertanian, 14 (2): 50-53.

29

ACARA IV KULTUR JARINGAN MAWAR

A . Pendahuluan 1 . Latar Belakang Mawar (Rosa hybrida L.) dijuluki ratu segala bunga karena keindahannya, keanggunannya, dan keharumannya. Tanaman hias ini memiliki nilai ekonomi tinggi, diminati konsumen, dan dapat dibudidayakan secara komersial dan terencana sesuai dengan permintaan pasar. Tanaman ini biasa diperbanyak dengan stek atau cutting sehingga tanaman baru mempunyai sifat genetik sama dengan induknya. Perlakuan penyetekan pada tanaman mawar hanya mampu menghasilkan sedikit tanaman baru dan apabila induk tanaman mawar dipotong secara terus-menerus sebagai bahan stek maka tanaman induk tersebut akan rusak. Berdasarkan kegunaannya, mawar dikelompokkan ke dalam mawar bunga potong, mawar taman, mawar tabur, dan mawar bahan kosmetik. Kultur jaringan sebagai salah satu metode perbanyakan tanaman dapat dipilih untuk mengatasi permasalahana diatas. Pada kultur jaringan tidak menutup kemungkinan ditambahkannya suatu zat pengatur tumbuh untuk mempercepat regenerasi dan pertumbuhan dari jaraingan tanaman sehingga tanaman baru yang dihasilkan dalam waktu singkat dan berjumlah banyak. Perbanyakan tanaman dengan kultur jaringan dapat menghasilkan benih dalam jumlah banyak dalam waktu singkat, seragam, dan bebas penyakit. 2 . Tujuan Praktikum Tujuan dari praktikum acara IV Kultur Jaringan Mawar antara lain : a. Mengetahui teknik kultur jaringan mawar b. Mengetahui pengaruh BAP terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan mawar B . Tinjauan Pustaka Mawar merupakan tanaman semak berkayu dengan duri pada batang. Daun mawar adalah daun majemuk yang terdiri dari 3, 5, 7 helai daun. Tulang daun meyirip dengan tepi daun bergerigi. Kelopak bunga mawar terdiri dari lima

30

helai atau kelipatannya. Dalam satu tangkai bunga potong akan tumbuh 1 6 kuncup bunga, tetapi tidak semuanya dibiarkan tumbuh. Hal ini agar bunga yang diperoleh berukuran besar dan mempunyai kelas ukuran yang baik. Tangkai bunga mawar potong biasanya akan dipotong sekitar 75 cm mendekati dasar tangkai agar dapat memenuhi kriteria pasar (Mattjik 2010). Keberhasilan teknik kultur jaringan dipengaruhi antara lain oleh jenis eksplan, yaitu bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan untuk inisiasi suatu kultur, dan komposisi media yang digunakan. Pada dasarnya, semua tanaman dapat diregenerasikan menjadi tanaman sempurna bila ditumbuhkan pada media yang sesuai. Salah satu komponen media yang menentukan keberhasilan kultur jaringan adalah jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang digunakan. Sitokinin digunakan untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas aksilar atau merangsang pertumbuhan tunas adventif (Yusnita 2004). Mawar (Rosa hybrida L.) biasa diperbanyak secara vegetatif, sedangkan secara generatif hanya ditujukan untuk pemuliaan. Perbanyakan mawar bunga potong umumnya diperbanyak secara okulasi, okulasi mata tunas atau okulasi mata berkayu. Okulasi mata tunas dilakukan pada saat kulit batang bawah mudah dikelupas. Pada saat tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium tersebut sedang dalam keadaan aktif. Perbanyakan generatif dengan

menggunakan benih yang berasal dari buah. Biji mawar disemai di media persemaian dan akan berkecambah pada umur empat minggu setelah semai. Setelah berumur 22 bulan, bibit mawar dipindahkan ke kebun tempat penanaman permanen (Purbiati 2004). Dalam budidaya in vitro (kultur jaringan), menginduksi kalus merupakan salah satu langkah penting, setelah itu diusahakan agar terjadi diferensiasi akar dan tunas. Proses terjadinya kalus sampai diferensiasi berbedabeda, tergantung pada bagian tanaman yang dipakai sebagai eksplan, metode budidaya in vitro, juga zatzat tanaman yang di bubuhkan pada media dasar. Untuk mendapatkan kalus penggunaan eksplan dari daun umumnya lebih menguntungkan dari pada eksplan batang. Masalah yang perlu diantipasi adalah generasi kalus menjadi planlet. Untuk mendapatkan kalus, zat pengatur tumbuh yang biasa digunakan

31

adalah 2,4D dari golongan auksin dan BAP dari golongan sitokinin (Ibrahim et al. 2004). Semua jaringan tanaman terdapat hormon ABA yang dapat dipisahkan secara kromatografi. Senyawa tersebut merupakan inhibitor Bkompleks. Senyawa ini mempengaruhi proses pertumbuhan, dormansi dan absisi. Beberapa peneliti akhirnya menemukan senyawa yang sama yaitu asam absisat (ABA) (Wattimena 2002). C . Metode Praktikum 1 . Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara IV kultur jaringan mawar dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 11 April 2013 pukul 11.00 WIB, bertempat di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian UNS Surakarta. 2 . Alat a. LAFC (Laminar Air Flow Cabinet) lengkap dengan lampu bunsen b. Petridish dan botol-botol kultur c. Peralatan diseksi yaitu pinset besar/kecil dan pisau pemes 3 . Bahan a. Eksplan : pucuk batang pohon mawar b. Media kultur c. Alkohol 70 % d. Aquadest steril e. Spirtus f. Chlorox (Sunclin) 4 . Cara Kerja a. Persiapan eksplan b. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) Merendam eksplan dalam larutan Dithane M-45, 3 mg/l selama 12 jam, dilanjutkan dengan chlorox 5,25 % (sunclin 100 %) selama 3 menit Membilas eksplan dengan aquadest steril c. Penanaman eksplan Membuka plastik penutup botol media kultur

32

Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Setelah digunakan, pinset harus selalu dibakar di atas api. Selama penanaman, mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi d. Pemeliharaan Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur Lingkungan di luar botol harus dijaga suhu, kelembaban dan cahayanya Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi e. Pengamatan selama 5 minggu, yang diamati : Saat muncul akar, tunas, daun, dan kalus (HST), diamati setiap hari Jumlah akar, tunas, dan daun, diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus), dilakukan pada akhir pengamatan Persentase keberhasilan, dilakukan pada akhir pengamatan D . Hasil Pengamatan dan Pembahasan 1 . Hasil Pengamatan Tabel 4.1 Pengaruh BAP Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Eksplan Mawar
Eksplan Tanggal Akar Saat Muncul (HST) Tunas Daun Kalus Akar Jumlah Tunas Daun Keterangan Penanaman Mawar 11 April 2013 18 April 2013 Kontaminasi oleh jamur / cendawan eksplan

Sumber : Laporan Sementara

33

Penanaman eksplan

Eksplan terkontaminasi jamur

Gambar 4.1 Kultur Jaringan Mawar 2 . Pembahasan Mawar merupakan tanaman semak berkayu dengan duri pada batang. Daun mawar adalah daun majemuk yang terdiri dari 3, 5, 7 helai daun. Tulang daun meyirip dengan tepi daun bergerigi. Kelopak bunga mawar terdiri dari lima helai atau kelipatannya. Dalam satu tangkai bunga potong akan tumbuh 1 6 kuncup bunga, tetapi tidak semuanya dibiarkan tumbuh (Santika 2006). Mawar (Rosa hybrida L.) biasa diperbanyak secara vegetatif, sedangkan secara generatif hanya ditujukan untuk pemuliaan. Perbanyakan mawar bunga potong umumnya diperbanyak secara okulasi, okulasi mata tunas atau okulasi mata berkayu. Okulasi mata tunas dilakukan pada saat kulit batang bawah mudah dikelupas. Pada saat tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium tersebut sedang dalam keadaan aktif. Perbanyakan generatif dengan

menggunakan benih yang berasal dari buah (Komar et al. 2005). Keadaan eksplan pada 7 hari setelah penanaman, mengalami kontaminasi, eksplan terkontaminasi oleh jamur atau cendawan. Penyebab eksplan mengalami kontaminasi karena kontaminasi internal pada eksplan sebab proses pemotongan eksplan kurang steril. Sehingga kesimpulannya kultur jaringan mawar tidak berhasil. BAP merupakan senyawa kelompok sitokinin yang memacu pembelahan sel sehingga mampu memacu pembentukan kalus atau massa sel. Kalus yang terbentuk dapat dipacu untuk berdiferensiasi menjadi tunas dengan

34

menambahkan kandungan IBA pada media. Pengaruh BAP pada eksplan lebih dominan karena kandungan di dalam media lebih besar daripada IBA sehingga terbentuklah kalus pada eksplan. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur invitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Perbedaan komposisi media, komposisi zat pengatur tumbuh dan jenis media yang digunakan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan regenerasi eksplan yang dikulturkan. Faktor yang mendukung keberhasilan persentase tumbuh eksplan dari media MS yang digunakan sudah mengandung komposisi yang lengkap untuk pertumbuhan eksplan. pemberian hormon dengan beberapa konsentrasi pada media MS memberikan persentase tumbuh eksplan yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, karena media mengandung vitamin, dan unsur hara makro, mikro sehingga cukup untuk memacu pertumbuhan eksplan. Agar penanaman berhasil sebaiknya perendaman dalam larutan steril jangan terlalu lama agar jaringan sel eksplan tidak mati dan pemotongan eksplan dilakukan secara steril. Kontaminasi eksplan paling sulit diatasi, walaupun sterilisasi telah dilakukan dengan berbagai cara, namun kontaminasi tetap saja terjadi. Dalam hal ini dikarenakan pada eksplan telah terjadi kontaminasi internal, perlu dilakukan treatment pada tanaman yang akan dijadikan sebagai sumber eksplan dengan mencuci eksplan pada larutan fungisida dan bakterisida. Untuk menanggulangi kontaminasi setelah eksplan dikulturkan maka dilakukan pemeliharaan secara teratur dengan melakukan penyemprotan spirtus ataupun alkohol pada permukaan botol kultur dua hari sekali. E . Kesimpulan dan Saran 1 . Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan praktikum acara IV, maka dapat diambil kesimpulan antara lain : a. Dalam budidaya in vitro (kultur jaringan), menginduksi kalus merupakan salah satu langkah penting, setelah itu diusahakan agar terjadi diferensiasi akar dan tunas

35

b. Keadaan eksplan pada 7 hari setelah penanaman, mengalami kontaminasi, eksplan terkontaminasi oleh jamur atau cendawan c. Penyebab eksplan mengalami kontaminasi karena kontaminasi internal pada eksplan sebab proses pemotongan eksplan kurang steril d. Agar penanaman berhasil sebaiknya pemotongan eksplan dilakukan secara steril e. Penanggulangan eksplan yang terkontaminasi dengan cara treatment pada tanaman yang akan dijadikan sebagai sumber eksplan dengan mencuci eksplan pada larutan fungisida dan bakterisida. 2 . Saran Saran untuk praktikum acara IV ini adalah agar waktu praktikum diperpanjang agar pemahaman tentang proses kultur jaringan mawar serta sterilisasinya lebih mendalam. Selain itu fasilitas di ruang kultur lebih dilengkapi demi kelancaran praktikum.

36

DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim,M.S.D., N. Nova K., Nurliani B. 2004. Studi Pendahuluan : Induksi Kalus Embriogenik Dari Eksplan Daun Echinaceae purpurea.Buletin TRO Vol. XV No. 2, 2004 Komar, D. dan K. Effendi. 2005. Agroekonomi mawar. hlm. 55-60. Dalam Mawar. Balai Penelitian Tanaman Hias, Jakarta. Mattjik. 2010. Investment Study of Indonesia Flower and Ornamental Plant Sector. BCI and Nehem, Jakarta 56(3) : 345-350. Purbiati, P.D. 2004. Kultur Jaringan: Teknik perbanyakan tanaman secara modern. Penebar Swadaya, Jakarta. 53 hlm. Santika, A. 2006. Arah dan strategi penelitian tanaman hias untuk menunjang sistem usaha pertanian berwawasan agribisnis. Wattimena, L.W.2002. Teknik Kultur Jaringan. Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Pusat Antar Universitas, Institut Pertanian Bogor. Yusnita. 2004. Kultur Jaringan: Cara memperbanyak tanaman secara efisien. Agromedia Pustaka, Jakarta. 105 hlm.

37

ACARA V KULTUR JARINGAN WORTEL

A . Pendahuluan 1 . Latar Belakang Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan jenis sayuran umbi yang biasanya berwarna jingga atau putih dengan tekstur serupa kayu. Bagian yang dapat dimakan dari wortel adalah bagian umbi atau akarnya. Batang bunga tumbuh setinggi sekitar 1 m, dengan bunga berwarna putih.Tanaman wortel berupa rumput dan menyimpan cadangan makanannya di dalam umbi. Mempunyai batang pendek, basah, berakar tunggang, sekumpulan tangkai daun yang keluar dari ujung umbi bagian atas yang bentuk dan fungsinya berubah menjadi umbi bulat dan memanjang. Umbi berwarna kuning kemerah-merahan, berkulit tipis, dan jika dimakan mentah terasa renyah dan agak manis. Wortel tumbuh di daerah pegunungan yang memiliki suhu udara dingin dan lembab, kurang lebih pada ketinggian 1200 ineter di atas permukaan laut. Tumbuhan wortel mernbutuhkan sinar matahari dan dapat turnbuh pada sernua musim. Menurut para botanis, wortel (Daucus carota) dapat dibedakan atas beberapa jenis, di antaranya: Wortel (Daucus carota, Linn.). Jenis imperator, yakni wortel yang memiliki umbi akar berukuran panjang dengan ujung meruncing dan rasanya kurang manis. Perbanyakan secara kultur in vitro pada wortel dilakukan untuk memperbanyak tanaman dan juga sebagai bahan pelatihan kultur jaringan karena perlakuan sterilisasi dan penanaman relatif lebih mudah. 2 . Tujuan Praktikum Tujuan praktikum acara V kultur jaringan wortel antara lain : a. Mengetahui teknik kultur jaringan wortel b. Mengetahui pengaruh BAP terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan wortel B . Tinjauan Pustaka

38

Tanaman wortel diperbanyak dengan bijinya. Biji untuk penanaman ini dikenal dengan istilah benih. Benih wortel berwarna cokelat, ukurannya keci, berbulu dan saling melekat satu sama lain. Setiap 1 gr benih terdapat 200 biji. Benih wortel dapat diperoleh dengan cara membeli di kios atau toko-toko pertanian. Kebutuhan benih wortel untuk setiap hektarnya sekitar 1,5 kg-3 kg (Ali et al. 2003). Zat pengatur tumbuh dari golongan auksin berperan antara lain dalam pembentukan kalus, morfogenesis akar dan tunas serta embriogenesis. Pemilihan konsentrasi dan jenis auksin ditentukan antara lain oleh tipe pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang dikehendaki. Penggunaan auksin dengan daya aktivitas kuat (antara lain 2,4-D, NAA atau dikombinasikan dengan sitokinin dengan konsentrasi rendah) umumnya digunakan untuk induksi kalus embriogenik. Selain itu, jenis dan konsentrasi hormon, jenis asam amino serta rasio auksin dan sitokinin sangat menentukan dalam menginduksi pembentukan kalus ( Purnamaningsih 2006). Tujuan utama dari propagasi secara in-vitro tahap ini adalah pembuatan kultur dari eksplan yang bebas mikroorganisme serta inisiasi pertumbuhan baru. Tahap ini mengusahakan kultur yang aseptik atau aksenik. Aseptik berarti bebas dari mikroorganisme, sedangkan aksenik berarti bebas dari mikroorganisme yang tidak diinginkan. Dalam tahap ini juga diharapkan bahwa eksplan yang dikulturkan akan menginisiasi pertumbuhan baru, sehingga akan memungkinkan dilakukannya pemilihan bagian tanaman yang tumbuhnya paling kuat,untuk perbanyakan (multiplikasi) pada kultur tahap selanjutnya (Wetherell 2008). Untuk mendapakan kultur yang bebas dari kontaminasi, eksplan harus disterilisasi. Sterilisasi merupakan upaya untuk menghilangkan kontaminan mikroorganisme yang menempel di permukaan eksplan. beberapa bahan kimia yang dapat digunakan untuk mensterilkan permukaan eksplan adalah NaOCl, CaOCl2, etanol, dan HgCl2. Kesesuaian bagian tanaman untuk dijadikan eksplan, dipengaruhi oleh banyak faktor. Tanaman yang memiliki hubungan kekerabatan dekat pun, belum tentu menunjukkan respon in-vitro yang sama (Yusnita 2004).

39

Penggunaan eksplan yang tepat merupakan hal penting yang juga harus diperhatikan pada tahap ini. Umur fisiologis dan ontogenetik tanaman induk, serta ukuran eksplan bagian tanaman yang digunakan sebagai eksplan, merupakan faktor penting dalam tahap ini. Bagi kebanyakan tanaman, eksplan yang sering digunakan adalah tunas pucuk (tunas apikal) atau mata tunas lateral pada potongan batang berbuku (Dodds et al. 2003). C . Metode Praktikum 1 . Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara V kultur jaringan wortel dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 18 April 2013 pukul 11.00 WIB, bertempat di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian UNS Surakarta. 2 . Alat a. LAFC (Laminar Air Flow Cabinet) lengkap dengan lampu bunsen b. Petridish dan botol-botol kultur c. Peralatan diseksi yaitu pinset besar/kecil dan pisau pemes 3 . Bahan a. Eksplan : pucuk batang pohon wortel b. Media kultur c. Alkohol 70 % d. Aquadest steril e. Spirtus f. Chlorox (Sunclin) 4 . Cara Kerja a. Persiapan eksplan b. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) Merendam eksplan dalam larutan Dithane M-45, 3 mg/l selama 12 jam, dilanjutkan dengan chlorox 5,25 % (sunclin 100 %) selama 3 menit Membilas eksplan dengan aquadest steril c. Penanaman eksplan Membuka plastik penutup botol media kultur

40

Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Setelah digunakan, pinset harus selalu dibakar di atas api. Selama penanaman, mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi d. Pemeliharaan Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur Lingkungan di luar botol harus dijaga suhu, kelembaban dan cahayanya Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi e. Pengamatan selama 5 minggu, yang diamati : Saat muncul akar, tunas, daun, dan kalus (HST), diamati setiap hari Jumlah akar, tunas, dan daun, diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus), dilakukan pada akhir pengamatan Persentase keberhasilan, dilakukan pada akhir pengamatan D . Hasil Pengamatan dan Pembahasan 1 . Hasil Pengamatan Tabel 5.1 Pengaruh BAP Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Eksplan Wortel
Eksplan Tanggal Akar Saat Muncul (HST) Tunas Daun Kalus Akar Jumlah Tunas Daun Keterangan Penanaman 18 April 2013 eksplan

Wortel

25 April 2013 2 Mei 2013

stagnasi

Kontaminasi oleh jamur / cendawan

Sumber : Laporan Sementara

41

Penanaman eksplan hari pertama

Eksplan mengalami stagnasi (hari ke-7)

Eksplan terkontaminasi jamur (hari ke-14)

Gambar 5.1 Kultur Jaringan Wortel 2 . Pembahasan Tanaman wortel diperbanyak dengan bijinya. Biji untuk penanaman ini dikenal dengan istilah benih. Benih wortel berwarna cokelat, ukurannya keci, berbulu dan saling melekat satu sama lain. Setiap 1 gr benih terdapat 200 biji. Benih wortel dapat diperoleh dengan cara membeli di kios atau toko-toko pertanian. Kebutuhan benih wortel untuk setiap hektarnya sekitar 1,5 kg-3 kg. BAP merupakan senyawa kelompok sitokinin yang memacu pembelahan sel sehingga mampu memacu pembentukan kalus atau massa sel. Kalus yang terbentuk dapat dipacu untuk berdiferensiasi menjadi tunas dengan

menambahkan kandungan IBA pada media. Pengaruh BAP pada eksplan lebih dominan karena kandungan di dalam media lebih besar daripada IBA sehingga terbentuklah kalus pada eksplan. Untuk mendapakan kultur yang bebas dari kontaminasi, eksplan harus disterilisasi. Sterilisasi merupakan upaya untuk menghilangkan kontaminan mikroorganisme yang menempel di permukaan eksplan. beberapa bahan kimia yang dapat digunakan untuk mensterilkan permukaan eksplan adalah NaOCl, CaOCl2, etanol, dan HgCl2. Kesesuaian bagian tanaman untuk dijadikan eksplan, dipengaruhi oleh banyak faktor. Tanaman yang memiliki hubungan kekerabatan dekat pun, belum tentu menunjukkan respon in-vitro yang sama (Yusnita 2004).

42

Keadaan eksplan pada 7 hari setelah penanaman, mengalami pembusukan, eksplan berwarna kecoklatan (browning), kemudian pada minggu ke dua tanggal 2 Mei 2013, eksplan akhirnya terkontaminasi oleh cendawan atau jamur. Penyebab eksplan mengalami pembusukan karena jaringan sel umbi pada daerah meristem mati, sehingga eksplan wortel tidak dapat tumbuh, jaringan sel yang mati ini penyebabnya adalah perendaman dalam chlorox 5,25 % yang terlalu lama, dan proses pemotongan eksplan pada bagian yang terkena larutan kurang steril. Sehingga kesimpulannya kultur jaringan pada bagian dekat kambium umbi wortel gagal. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur invitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies, bahkan varietas, atau tanaman asal eksplan tersebut. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan, seperti kebutuhan nutrisi, zat pengatur tumbuh, dan lingkungan kultur. Oleh karena itu, komposisi media, zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. Perbedaan komposisi media, komposisi zat pengatur tumbuh dan jenis media yang digunakan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan regenerasi eksplan yang dikulturkan. Tanaman umumnya tumbuh pada lingkungan dengan suhu yang tidak sama setiap saat, misalnya pada siang dan malam hari tanaman mengalami kondisi dengan perbedaan suhu yang cukup besar. Keadaan demikian bisa dilakukan dalam kultur in vitro dengan mengatur suhu siang dan malam di ruang kultur, namun laboratorium kultur jaringan selama ini mengatur suhu ruang kultur yang konstant baik pada siang maupun malam hari. Umumnya temperatur yang digunakan dalam kultur in vitro lebih tinggi dari kondisi suhu invivo. Tujuannya adalah untuk mempercepat pertumbuhan dan morfogenesis eksplan.

43

Kelembaban relatif dalam botol kultur dengan mulut botol yang ditutup umumnya cukup tinggi, yaitu berkisar antara 80-99 %. Namun kelembaban udara dalam botol kultur yang terlalu tinggi menyebabkan tanaman tumbuh abnormal yaitu daun lemah, mudah patah, tanaman kecil-kecil namun terlampau sukulen. Kondisi tanaman demikian disebut vitrifikasi atau hiperhidrocity. Kuantitas dan kualitas cahaya, yaitu intensitas, lama penyinaran dan panjang gelombang cahaya mempengaruhi pertumbuhan eksplan dalam kultur in vitro. Selain faktor genetis eksplan yang telah disebutkan di atas, kondisi eksplan yang mempengaruhi keberhasilan teknik mikropropagasi adalah jenis eksplan, ukuran, umur dan fase fisiologis jaringan yang digunakan sebagai eksplan. Agar penanaman berhasil sebaiknya perendaman dalam larutan steril jangan terlalu lama agar jaringan sel eksplan tidak mati dan pemotongan eksplan dilakukan secara steril. Serta kelembaban pada botol kultur tetap terjaga. Pada saat penanaman, sebaiknya bahan tanaman ditanam dalam keadaan berdiri bukan rebah. Hal ini untuk memudahkan penyerapan nutrisi yang ada di dalam media. Apabila penanaman dilakukan dalam keadaan rebah, bagian daun yang mengadakan kontak dengan media merupakan daun yang tidak mengalami pelukaan sehingga nutrisi dari media akan sulit masuk ke dalam jaringan eksplan. Kesterilan praktikan juga dijaga agar proses kultur secara in vitro berhasil dan tidak terkontaminasi. E . Kesimpulan dan Saran 1 . Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan praktikum acara V Kultur Jaringan Wortel, maka dapat diambil kesimpulan antara lain : a. Eksplan pada 7 hari setelah penanaman, mengalami pembusukan, eksplan berwarna kecoklatan (browning) b. Eksplan akhirnya terkontaminasi oleh cendawan atau jamur, pada minggu ke-2 setelah penanaman c. Penyebab eksplan mengalami pembusukan karena perendaman dalam chlorox 5,25 % yang terlalu lama, sehingga jaringan sel mati

44

d. Agar penanaman berhasil sebaiknya perendaman dalam larutan steril jangan terlalu lama agar jaringan sel eksplan tidak mati e. Pada saat penanaman, sebaiknya bahan tanaman ditanam dalam keadaan berdiri untuk memudahkan penyerapan nutrisi yang ada di dalam media 2 . Saran Saran untuk praktikum acara V ini adalah agar waktu praktikum diperpanjang agar pemahaman tentang proses kultur jaringan wortel serta sterilisasinya lebih mendalam. Selain itu fasilitas di ruang kultur lebih dilengkapi demi kelancaran praktikum.

45

DAFTAR PUSTAKA

Ali, NBV., Estu R., Hendro S. 2003. Investment Study of Indonesia Flower and Ornamental Plant Sector. BCI and Nehem, Jakarta 56(3) : 345-350. Dodds, Mathew. 2003. Kontaminasi Dalam Kultur Jaringan. http://eshaflora.com. Diakses pada tanggal 22 April 2013. Purnamaningsih, R. 2006. Induksi Kalus dan Optimasi Regenerasi Empat Varietas Padi melalui Kultur In Vitro. Jurnal AgroBiogen 2(2):74-80. Wetherel, D.F. 2008. Propagasi Tanaman Secara In Vitro. Avery Publishing Group Inc. New Jersey Yusnita. 2004. Kultur Jaringan: Cara memperbanyak tanaman secara efisien. Agromedia Pustaka, Jakarta. 105 hlm.

46

ACARA VI SUB KULTUR

A . Pendahuluan 1 . Latar Belakang Anggrek merupakan salah satu tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan relatif stabil. Tanaman ini memiliki pasar tersendiri di dalam maupun luar negeri, kebanyakan yang memiliki tanaman anggrek adalah masyarakat menengah ke atas, atau pada kalangan hobiis anggrek. Tanaman ini memiliki bunga yang bervariasi dan daya tahan bunga yang relatif lama jika dibandingkan dengan tanaman bunga lain. Harga anggrek yang mahal disebabkan oleh beberapa faktor, seperti relatif sulitnya dalam merawat tanaman ini dan juga metode perbanyakannya yang dilakukan secara in vitro, pilihan untuk mengembangbiakkan anggrek secara in vitro ini dikarenakan apabila dilakukan dengan cara konvensional(anakan misalnya), maka hanya sangat sedikit anggrek yang didapatkan. Sehingga teknik kultur jaringan diperlukan di sini. Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Sedangkan tahapan-tahapan dari kultur jaringan itu sendiri dimulai dari pemilihan dan penyiapan tanaman induk sumber eksplan, inisiasi kultur, multifikasi dan perbanyakan propagul, pemanjangan tunas dan pertumbuhan akar dan aklimatisasi. Pada saat tahapan-tahapan tersebut berlangsung terutama pada tahapan multifikasi dan elongasi media untuk

47

eksplan harus diganti, pergantian dari media lama ke media baru disebut dengan subkultur. 2 . Tujuan Praktikum Tujuan praktikum acara sub kultur ini adalah mengetahui teknik sub kultur untuk eksplan anggrek yang tersedia. B . Tinjauan Pustaka Tanaman anggrek (Orchidaceae) meliputi 25.000-30.000 spesies

merupakan 10% dari jumlah tanaman berbunga di dunia. Anggrek memiliki nilai ekonomis yang tinggi bila dibandingkan dengan tanaman hias lainnya, baik untuk bunga potong maupun untuk bunga pot. Iklim tropis Indonesia selain cocok untuk hidup anggrek juga sangat potensial untuk menghasilkan anggrek alam yang bermutu (Gunawan 2002). Salah satu jenis anggrek yang banyak diminati oleh masyarakat dan mempunyai nilai ekonomis tinggi adalah Phalaenopsis amabilis BL atau dikenal dengan nama Anggrek bulan. Anggrek bulan termasuk anggrek epifit, akarnya menempel pada batang atau dahan tanaman lain. Pada akar ini terdapat jaringan velamen yang berongga berfungsi memudahkan akar menyerap air hujan yang jatuh pada pohon inang. Pertumbuhan anggrek bulan termasuk dalam pola pertumbuhan monopodial yaitu meninggi pada satu titik tumbuh dan hanya terdiri dari satu batang utama. Batangnya sangat pendek hampir tidak nampak, daun berbentuk ellips memanjang, dan bagian ujung agak melebar (Katuuk 2000). Bunga tersusun dalam rangkaian berbentuk tandan, bercabang dan pada tiap tandan terdapat maksimal 25 kuntum. Buah anggrek bulan merupakan buah lantera atau capsular yang memiliki 6 rusuk. Dalam satu buah anggrek terdapat ratusan bahkan jutaan biji (Iswanto 2001). Dalam pengembangan tanaman anggrek, hal yang tidak kalah pentingnya adalah pengadaan bibit. Bibit yang dipakai untuk perbanyakan tanaman anggrek dapat diperoleh secara vegetatif dan generatif. Perbanyakan secara vegetatif dinilai
kurang efektif, jumlah anakan yang dihasilkan sangat terbatas. Pada perbanyakan secara generatif, masalah utama yang dihadapi adalah lamanya waktu yang

48

diperlukan biji untuk berkecambah. Hal ini dikarenakan ukuran biji anggrek yang sangat kecil dan tidak mempunyai endosperm sebagai cadangan makanan pada awal perkecambahan biji (Murniati et al. 2002).

Perbanyakan anggrek dapat dilakukan secara generatif maupun vegetatif. Secara generatif, perbanyakan dilakukan melalui proses perkecambahan biji anggrek secara in vitro yang diawali dengan penanaman biji dengan cara penaburan biji pada media padat atau cair. Biji tersebut dapat ditumbuhkan langsung menjadi planlet. Secara vegetatif perbanyakan dapat dilakukan menggunakan bagian somatis tanaman melalui subkultur yang ditanam dalam media tanam sehingga tumbuh menjadi PLB (protocorm like bodies) dan kemudian diregenerasikan menjadi planlet. Hal tersebut dapat dilakukan melalui modifikasi media baik hormon maupun nutrisi (Salisbury 2003). C . Metode Praktikum 1 . Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara VI sub kultur anggrek dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 25 April 2013 pukul 11.00 WIB, bertempat di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian UNS Surakarta. 2 . Alat a. LAFC (Laminar Air Flow Cabinet) lengkap dengan lampu bunsen b. Petridish dan botol-botol kultur c. Peralatan diseksi yaitu pinset besar/kecil dan scalpel 3 . Bahan a. Eksplan : anggrek b. Media kultur c. Alkohol 70 % d. Aquadest steril e. Spirtus 4 . Cara Kerja a. Penanaman eksplan Membuka plastik penutup botol media kultur

49

Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Setelah digunakan, pinset harus selalu dibakar di atas api. Selama penanaman, mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi b. Pemeliharaan Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur Lingkungan di luar botol harus dijaga suhu, kelembaban dan cahayanya Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi c. Pengamatan selama 5 minggu, yang diamati : Saat muncul akar, tunas, daun, dan kalus (HST), diamati setiap hari Jumlah akar, tunas, dan daun, diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus), dilakukan pada akhir pengamatan D . Hasil Pengamatan dan Pembahasan 1 . Hasil Pengamatan Tabel 6.1 Pengaruh BAP Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Eksplan Pada Sub Kultur Anggrek
Eksplan Tanggal Akar Saat Muncul (HST) Tunas Daun Kalus Akar Jumlah Tunas Daun Keterangan Penanaman 25 April eksplan pada sub kultur anggrek 2 Mei 2013 Kontaminasi oleh jamur / cendawan

Anggrek

2013

Sumber : Laporan Sementara

50

Penanaman eksplan

Kontaminasi subkultur oleh jamur

Gambar 6.1 Sub Kultur Anggrek 2 . Pembahasan Tanaman anggrek (Orchidaceae) meliputi 25.000-30.000 spesies

merupakan 10% dari jumlah tanaman berbunga di dunia. Anggrek memiliki nilai ekonomis yang tinggi bila dibandingkan dengan tanaman hias lainnya, baik untuk bunga potong maupun untuk bunga pot. Iklim tropis Indonesia selain cocok untuk hidup anggrek juga sangat potensial untuk menghasilkan anggrek alam yang bermutu (Gunawan 2002). Anggrek merupakan salah satu tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan relatif stabil. Tanaman ini memiliki pasar tersendiri di dalam maupun luar negeri, kebanyakan yang memiliki tanaman anggrek adalah masyarakat menengah ke atas, atau pada kalangan hobiis anggrek. Tanaman ini memiliki bunga yang bervariasi dan daya tahan bunga yang relatif lama jika dibandingkan dengan tanaman bunga lain. Harga anggrek yang mahal disebabkan oleh beberapa faktor, seperti relatif sulitnya dalam merawat tanaman ini dan juga metode perbanyakannya yang dilakukan secara in vitro, pilihan untuk mengembangbiakkan anggrek secara in vitro ini dikarenakan apabila dilakukan dengan cara konvensional(anakan misalnya), maka hanya sangat sedikit anggrek yang didapatkan. Sehingga teknik kultur jaringan diperlukan di sini. Subkultur adalah proses dimana jaringan atau eksplan yang pertama membagi, kemudian ditransfer ke medium segar atau medium yang baru. Pada

51

eksplan perlu dilakukan subkultur karena unsur hara dalammedia sudah banyak berkurang, nutrisi dalam media menguap karena kering, akibatnya media mengandung garam dan gula tinggi, pertumbuhan tanaman sudah memenuhi botol atau tabung sehingga berdesakan, sudah saatnya dipindah untuk diperbanyak atau diakarkan, terjadi pencoklatan pada media sehingga bila dibiarkan akan mematikan jaringan, eksplan memerlukan komposisi media baru untuk membentuk organ atau struktur baru, dan media berubah, menjadi cair karena penurunan pH oleh tanaman. Penanaman eksplan dilakukan pada tanggal 25 April 2013, kemudian pengamatan dilakukan pada hari ke-7 dan pada hari itu keadaan eksplan sudah terkontaminasi jamur. Penyebab dari kontaminasi jamur adalah teknik pemotongan dan penanaman eksplan untuk subkultur anggrek yang kurang steril. Sehingga subkultur anggrek tidak berhasil dilakukan. BAP merupakan senyawa kelompok sitokinin yang memacu pembelahan sel sehingga mampu memacu pembentukan kalus atau massa sel. Kalus yang terbentuk dapat dipacu untuk berdiferensiasi menjadi tunas dengan

menambahkan kandungan IBA pada media. Pengaruh BAP pada eksplan lebih dominan karena kandungan di dalam media lebih besar daripada IBA sehingga terbentuklah kalus pada eksplan. Pemberian sitokinin diharapkan dapat memicu pertumbuhan tunas pada plantlet, sehingga perbanyakan plantlet nenas secara vegetatif dapat

dilaksanakan lebih awal, bahkan sebelum plantlet tumbuh menjadi tanaman dewasa. Pengaruh sitokinin terhadap pertumbuhan vegetatif plantlet nenas juga dipelajari melalui pengamatan terhadap variabel pertumbuhan vegetatif, sehingga kelayakan metode yang digunakan dalam penelitian ini dapat dipertimbangkan untuk penelitian selanjutnya. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur invitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Perbedaan komposisi media, komposisi zat pengatur tumbuh dan jenis media yang digunakan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan regenerasi eksplan yang dikulturkan. Faktor yang mendukung keberhasilan persentase

52

tumbuh eksplan dari media MS yang digunakan sudah mengandung komposisi yang lengkap untuk pertumbuhan eksplan. pemberian hormon dengan beberapa konsentrasi pada media MS memberikan persentase tumbuh eksplan yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, karena media mengandung vitamin, dan unsur hara makro, mikro sehingga cukup untuk memacu pertumbuhan eksplan. Agar penanaman eksplan pada subkultur berhasil dengan memperhatikan teknik pemotongan dan penanaman eksplan pada media yang baru agar kesterilannya tetap terjaga. Penanaman eksplan anggrek untuk subkultur ditanam pada media yang baru dengan posisi rebah. E . Kesimpulan dan Saran 1 . Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan pada praktikum acara VI subkultur anggrek, maka dapat diambil kesimpulan antara lain : a. Subkultur adalah proses dimana jaringan atau eksplan yang pertama membagi, kemudian ditransfer ke medium segar atau medium yang baru b. Pada hari ke-7 keadaan eksplan sudah terkontaminasi jamur c. Penyebab dari kontaminasi jamur adalah teknik pemotongan dan penanaman eksplan untuk subkultur anggrek yang kurang steril d. Agar penanaman eksplan pada subkultur berhasil dengan memperhatikan teknik pemotongan dan penanaman eksplan pada media yang baru agar kesterilannya tetap terjaga 2 . Saran Saran untuk praktikum acara VI ini adalah agar waktu praktikum diperpanjang agar pemahaman tentang proses subkultur anggrek serta sterilisasinya lebih mendalam. Selain itu fasilitas di ruang kultur lebih dilengkapi demi kelancaran praktikum.

53

DAFTAR PUSTAKA

George, L.W. 1995. Teknik Kultur In Vitro dalam Holtikultura. Penebar Swadaya. Jakarta Gunawan, L.W. 2002. Budidaya Anggrek. Penebar Swadaya. Jakarta Iswanto, H. 2001. Anggrek Phalaenopsis. Agro Media Pustaka. Jakarta Katuuk, J.R.P. 2000. Aplikasi Mikropropagasi Anggrek Macan (Grammatohyllum sciptum) Dengan Menggunakan Air Kelapa. Jurnal Penelitian IKIP Manado.1a (iv):290-298 Murniati dan E. Zuhry. 2002. Peranan Giberelin Terhadap Perkecambahan Benih Kopi Robusta tanpa Kulit. Jurnal Sagu,. Vol 1(1):1-5 Salisbury, F.B. dan Ross. 2003. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Terjemahan oleh Lukman dan Sumaryono. ITB. Bandung