Anda di halaman 1dari 12

Sindrom Turner

Rismeiniar Yuniar Pattisina / 102009117 Email : rizmeipussycat@yahoo.com / CN: 085737533326 Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara 6 Jakarta Barat

PENDAHULUAN

Semua orang menginginkan memiliki keturunan yang sempurna, baik jasmani maupun rohani. Cacat atau tidaknya seorang anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kelainan kromosom. Kelainan kromosom selain terjadi karena bawaan, juga dapat terjadi karena nondisjunction saat ibu membentuk sel telur, sehingga hilangnya sebuah kromosom kelamin selama mitosis setelah zigot XX atau XY terbentuk, seperti sindrom Turner atau malah terjadi trisomi atau penambahan kromosom. Sindrom Turner dinamai oleh Henry Turner, seorang endokrinologi Oklahoma, yang digambarkan pada tahun 1938. Di Eropa, ini sering disebut sindrom turner Ullrich atau bahkan Ullrich Turner Sindrom Bonnevie yang mengakui bahwa kasus-kasus sebelumnya juga telah dijelaskan oleh dokter Eropa. Sindrom Turner terjadi pada 1 dari setiap 2.500 anak perempuan, sindrom memanifestasikan dirinya dalam beberapa cara. Ada kelainan fisik karakteristik, seperti perawakan pendek, pembengkakan, dada lebar, garis rambut rendah, rendah-set telinga, dan leher berselaput. Anak perempuan dengan sindrom Turner biasanya mengalami disfungsi gonad (ovarium tidak bekerja), yang mengakibatkan amenore (tidak adanya siklus menstruasi) dan kemandulan.

PEMBAHASAN

Anamnesis Untuk kasus sindrom Turner ini jika dihadapkan dengan pasien anak-anak maka dapat dilakukan aloanamnesis. Anamnesis dilakukan dengan bertanya: Identitas pasien yaitu nama, tempat tanggal lahir, alamat, umur, suku, agama, pendidikan, dan pekerjaan, serta keadaan sosial ekonomi dan lingkungan tempat tinggalnya. Menanyakan keluhan utama Riwayat penyakit sekarang Riwayat penyakit dahulu Riwayat penyakit keluarga Keadaan anak tersebut dulu saat dilahirkan dan perkembangannya Penyelidikan pada kemungkinan penderita kelainan genetik dimulai dengan riwayat keluarga.1 Langkah pertama untuk memperoleh informasi tertentu propositus atau kasus indeks (misalnya orang yang menderita secara klinis sehingga menarik perhatian keluarga) dan pada tiap-tiap keluarga tingkat pertama (misalnya orang tua, saudara kandung, dan keturunan dari propositus. Keterangan ini meliputi nama panggilan, nama keluarga, tanggal lahir atau usia kini, usia waktu meninggal, penyebab kematian, dan nama atau penjelasan tentang penyakit atau cacat apa pun. Langkah kedua adalah menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menyelidiki keluarga akan adanya penyakit atau cacat. (1) Adakah keluarga yang menderita trait yang diketahui ditentukan secara genetik? Tujuan pertnyaan ini adalah untuk memastikan adanya penyakit herediter dalam keluarga walaupun penderita tertentu tidak terserang. (2) Adakah keluarga yang mengalami penyakit luar biasa, atau mempunyai keluarga yang meninggal akibat keadaan yang langka? Tujuan pertayaan ini adalah untuk mengidentifikasikan keadaan yang ditentukan secara genetik walaupun tidak diketahui oleh pemberi informasi. (3) Adakah konsanguinitas dalam keluarga? Penyelidikan ini harus dilakukan langsung. Di samping itu, harus menanyakan nama kelurga yang terdapat dalam keluarga pasangan suami dan istri. Perkawinan dalam keluarga dapatmenjadi sumber sindrom resesif autosom yang langka, dan kadang-kadang terdapat dalam keluarga yang tidak diketahui oleh propositus. (4) Apakah asal etnik
2

keluarga? Orang yang berasal dari etnik tertentu, misalnya kulit hitam, Yahudi, dan Yunani, mempunyai kemungkinan yang tinggi penyakit genetik tertentu.

Gambar 1. Pedigree

Pemeriksaan Fisik Inspeksi : melihat konsisi langsung pasien Perawakan pendek (tinggi < 150 cm) pada usia dewasa merupakan temuan utama pada semua gadis penderita Sindrom Turner. Web neck : leher pendek dan pada pangkalnya seperti bersayap. Kulit pada leher Sindrom Turner sangat kendur sehingga mudah ditarik/ bergelambir. Kubitus valgum : deformitas dari siku dimana siku berdeviasi menjauhi garis tengah tubuh sewaktu diekstensikan. Palpasi : meraba bagian tubuh pasien Sindrom Turner, yakni pada bagian lehernya kulit sangat kendur sehingga mudah ditarik. Tinggi dan berat badan
3

Ukurlah tinggi badan pasien dalam posisi berdiri. Tafsirkan tinggi dan berat badan relatif terhadap riwayat keluarga dan riwayat berat badan masa lampau. Target height / mid parental height : Laki laki = {TB ayah + (TB Ibu + 13 )} x Perempuan = {TB Ibu + (TB ayah 13 )} x Prakiraan tinggi dewasa (potensi tinggi genetik) dapat dihitung dari midparental height dengan rumus Potensi tinggi genetik = mid parental height 8,5 cm (Potensi tinggi genetik adalah rentang nilai tinggi badan akhir seseorang akibat dari kedua orang tua biologis) Distribusi lemak, otot dan jaringan ikat Wanita normal mempunyai pusat gaya berat di daerah pinggul dan relatif mempunyai lebih banyak lemak daripada otot. Otot lebih dominan pada pria, dengan masa terbesar yang berpusat di sekitar bahu. Kematangan Seksual Perkembangan seksual wanita mencerminkan efek androgen dan estrogen. Perkembangan seksual pria hanya mencerminkan efek androgen saja. Gangguan perkembangan beberapa ciri tertentu mencerminkan kekurangan atau

ketidakefektifan rangsangan masing-masing hormon. Jumlah hormon abnormal atau produksi hormon pada waktu yang abnormal juga dapat berefek pada tinggi badan melalui efeknya pada epifisis tulang. Perhatikanlah efek estrogen dan peranan dalam perkembangan sifat-sifat tersebut; puting susu, areola, kelenjar mammae, labia minora, vulva, vagina, uterus dan ovarium.

Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pemeriksaan kadar gonadotrophin plasma, terutama hormon perangsang folikel (FSH) sangat meningkat di atas kadar kontrol sesuai umur selama masa bayi, pada usia sekitar 2-3 tahun terjadi penurunan progresif pada kadarnya sampai kadar ini mencapai titik terendah pada usia 6-8 tahun, pada usia 10-11 tahun, kadar ini meningkat sampai kadar dewasa kastrasi.2 Selain itu juga dapat dilakukan
4

pemeriksaan hormon LH (Luteinizing hormon). Hasil LH akan meningkat dari normal pada sindrom Turner.

Analisis kromosom Analisis kromosom atau karyotyping adalah tes untuk memeriksa kromosom dalam sampel sel, yang dapat membantu mengidentifikasi masalah genetik sebagai penyebab gangguan atau penyakit. Tes ini dapat berupa hitung jumlah kromosom dan mencari perubahan struktural kromosom.2 Tes ini dapat dilakukan pada hamper jaringan apapun, seperti : cairan ketuban, darah, sumsum tulang. Sampel tersebut akan diperiksa dibawah mikrosop untuk memerika bentuk, ukuran, dan jumlah kromosom. Penderita dengan sindrom Turner menunjukan tiga memiliki 45,X kariotipe: sebanyak 57%

,sekitar 14% kelainan structural kromosom X, dan 29%

menunjukkan bersifat mosaik. Hibridisasi in situ fluorescent (FISH) FISH adalah menggunakan teknologi DNA probeneon berlabel untuk mendeteksi atau mengkonfirmasi kelainan gen atau kromosom yang umumnya di luar resolusi sitogenetik konvensional.2 Ketika indeks mitosis rendah,atau persiapan Sitogenetika suboptimal, diagnosis akurat sering tidak tercapai denganmenggunakan teknik banding . Dalam situasi tertentu FISH dapat berguna karena metodologi FISH memungkinkan deteksi target tertentu yang menyebar tidak hanya dimetafase. Hal ini membuat FISH menjadi alat yang kuat, cepat, dan sensitif terhadap kelainan kromosom.

USG (Ultrasonografi) USG dapat dilakukan pada ovarium dan ginjal. Dimana pada ovarium tampak bergaris pada 90% penderita, hal ini terjadi karena ovarium mengalami degenerasi dan menghilang. Serta pada 1/3 penderita sindrom Turner memiliki defek pada ginjal, ginjal berbentuk seperti sepatu kuda.

Diagnosis Banding Sindrom Noonan (NS) adalah kondisi relatif umum genetik bawaan yang mempengaruhi baik laki-laki maupun perempuan. Gadis penderita sindrom Noonan menunjukkan
5

anomali tertentu yang juga terjadi pada gadis dengan sindrom 45,X Turner, namun mereka memiliki kromosom 46,XX normal.3-5 Diperkirakan sindrom Noonan dapat terjadi 1 dari 1000 kelahiran. Mutasi dapat diwariskan dari orang tua yang membawa gen cacat (autosomal dominan), atau bisa berkembang karena mutasi baru pada anak-anak yang tidak mempunyai kecenderungan genetik untuk penyakit ini. Anak-anak yang memiliki satu orang tua dengan sindrom noonan memiliki peluang 50% mengalami gangguan ini. Fenotipnya berbeda dengan sindrom Turner dalam beberapa hal. Kelainan yang paling lazim adalah perawakan pendek, selaput leher (webbing neck), pektus karinatum atau pektus eksavatum, kubitus valgum, penyakit jantung kongenital, langit-langit mulut melengkung tinggi, dan wajah yang khas. Retardasi mental sering ada. Defek jantung yang paling sering adalah stenosis katup pulmonal atau defek sekat atrium. Maturasi seksual normal biasanya terjadi tetapi rata-rata terlambat 2 tahun. Kegagalan ovarium prematur terjadi pada salah satu gadis belasan tahun.

Diagnosis Kerja Sindrom Turner atau Sindrom Ullrich (disgenesis gonad), ditandai dengan hipogonadisme primer pada fenotipe perempuan.3-6 Hal ini terjadi akibat monosomi parsial atau total lengan pendek kromosom X. Pada sekitar 57 % pasien, kromosom X hilang sehingga terbentuk kariotipe 45,X. pasien ini mengidap penyakit paling parah. Didiagnosis saat lahir atau pada masa anak-anak. Ini adalah kelainan kromosom di mana semua atau bagian dari salah satu kromosom seks tidak ada (manusia tidak terpengaruh memiliki 46 kromosom, dimana 2 adalah kromosom seks). Khas perempuan memiliki 2 kromosom X, tapi dalam sindrom Turner, salah satu kromosom seks hilang atau memiliki kelainan lainnya. Dalam beberapa kasus, kromosom hilang hadir dalam beberapa sel tetapi tidak yang lain, suatu kondisi yang disebut sebagai mosaicism atau 'Turner mosaicism'. Sindrom Turner ini ditemukan sekira-kiranya 1 dari setiap 2500 kelahiran bayi perempuan. Sumber lain menyatakan bahwa 1 dari setiap 5000 kelahiran bayi perempuan. Bagi wanita yang normal, mereka memiliki sepasang kromosom X pada pasangan yang ke-23, tapi untuk wanita yang mewarisi sindrom Turner, mereka hanya memiliki satu kromosom X pada pasangan yang ke 23, tetapi kromosom ini mampu berfungsi sepenuhnya seperti wanita yang normal. Dalam tes yang lebih jarang dijumpai, kedua X
6

kromosom ikut pada pasangan ke 23 tetapi tidak normal. Bagi kariotype wanita yang normal dilabel 46,XX; individual dengan sindrom Turner adalah 45,X0. Dalam sindrom Turner, ciri-ciri seksual wanita hadir tetapi kurang berkembang.

Gambar 2. Kariotype sindrom Turner 45,X

Diagnosis kerja pada sindrom Turner pada usia remaja dan dewasa merupakan hasil dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang yang memperlihatkan manifestasi klinik, berupa: Saat pubertas, karateristik seks sekunder tidak berkembang. Genitalia tetap seperti bayi, perkembangan payudara kurang memadai, dan rambut pubis sedikit. Status mental pasien biasanya normal, tetapi dapat ditemukan kekurangan ringan pada pengolahan informasi visual-spasial nonverbal. Ciri yang utama untuk dapat menegakkan diagnosis yakni pada pasien dewasa denga tubuh pendek (tinggi jarang melebihi 150 cm). Amenorea : sindrom Turner adalah penyebab tunggal terpenting amenorea primer. Hal ini dikarenakan pasien ini tidak memiliki ovarium karena mengalami degenarasi. Sindom Turner menyebabkan kemandulan. Pada pemeriksaan kariotype atau analisis kromosom menunjukan hasil 45,X. Normalnya pada wanita 46,XX. Pada beberapa pasien 50% terjadi autoantibodi terhadap kelenjar tiroid, dan separunya dari pasien tersebut mengalami gejala klinis hipotiroidisme. Pada sebagian kecil pasien dapat terjadi : intoleransi glukosa, obesitas, dan resistensi insulin
7

Webbed neck (kulit di antara leher dan bahunya menyatu, seperti selaput) Lymphedema (pembengkakan) dari tangan dan kaki Garis rambut yang pendek pada leher bagian belakangnya Luas dada (dada perisai) dan luas-spasi puting, low-sat ears Peningkatan berat badan, obesitas Coarctation aorta, Horseshoe ginjal Visual gangguan sklera, kornea, glaukoma, dll Infeksi telinga dan gangguan pendengaran Gejala lain mungkin termasuk rahang bawah kecil (micrognathia), cubitus valgus (berbalik-out siku), kuku terbalik lembut, lipatan palmar dan kelopak mata terkulai. Kurang umum adalah tahi lalat berpigmen, gangguan pendengaran, dan langit-langit tinggi-arch (rahang sempit). Sindrom Turner memanifestasikan dirinya berbeda di setiap wanita dipengaruhi oleh kondisi, dan tidak ada dua individu akan berbagi gejala yang sama.

Gambar 3. Manifestasi klinik sindrom Turner

Patogenesis Faktor risiko sindrom Turner tidak dikenal. Nondisjunctions meningkat dengan usia ibu, seperti untuk sindrom Down, tapi efek yang tidak jelas untuk sindrom Turner. Sindrom Turner terjadi karena kelainan kromosom yang berkaitan dengan jumlah (aneuploidi).3-6 Penyebab utama aneuploidi adalah nondisjunction (kelainan pemisahan kromosom) saat meiosis atau setelah pembuahan sewaktu mitosis. Nondisjunction dapat mengenai autosomal atau kromosom seks. Nondisjunction saat meiosis menghasilkan gamet-gamet haploid yang memiliki kelainan komplemen kromosom. Jika sepasang kromosom seks gagal untuk memisahkan selama pembentukan telur atau sperma, hal ini disebut sebagai nondisjunction. Ketika abnormal telur menyatu dengan sperma yang normal untuk membentuk embrio, embrio yang mungkin akan berakhir dengan kehilangan satu daru kromosom seks (X bukan XX). Sebagai embrio tumbuh dan sel-sel membagi, setiap sel dari tubuh bayi akan kehilangan salah satu dari kromosom X. Kelainan ini tidak diwarisi dari orang tua yang terkena karena wanita dengan sindrom Turner biasanya steril dan tidak bisa punya anak. Pada sekitar 20% dari kasus-kasus sindrom Turner, salah satu kromosom X yang abnormal. Mungkin berbentuk seperti cincin, atau kehilangan beberapa bahan genetik. Sekitar 30% anak dengan kelainan hanya hilang kromosom X dalam beberapa sel mereka. pola kromosom campuran ini dikenal sebagai pola Mosaicsm.

Gadis, 14 tahun

SINDROM TURNER

defek pada kromosom X (karena nondisjunction atau delesi lengan pendek Xp)

Kehilangan aksi gen SHOX (Short Stature Homebox)

Kehilangan aksi gen pengatur perkembangan dan fungsi ovarium

Disgenesisepifisis

Disgenesis gonad

Ovarium tidak berkembang Kehilangan aksi gen SHOX (Short Stature Homebox)

Estrogen tidak diproduksi

Abnormalitas pada respon pertumbuhan tulang (tdk sempurnanya faktor transkripsi oleh sel-sel granulosa yang diekspresikan pada osteoblas

Tdk terjadi penggabungan awal dari epifisis dengan batang tulang panjang

Aktivitas osteoblastik menurun

Menghambat perkembangan jaringan ikat stroma payudara, pertumbuhan sistem duktus yang luas, dan deposit lemak

Amenorheae primer

Pertumbuhan tulang terlambat

Sel teka folikel tidak berkembang dan menghasilkan prekursor hormon androgen

Short Stature

Keterlambatan perkembangan ciri kelamin sekunder

Menghambat pertumbuhan rambut aksila dan pubis

Gambar 4. Patogenesis sindrom Turner

10

Penatalaksanaan Karena penyakit ini adalah penyakit genetik yang melibatkan kromosom, sindrom Turner tidak bisa disembuhkan. Yang dilakukan hanya mengurangi simptom.2 Data menunjukkan bahwa pengobatan dengan hormon pertumbuhan manusia rekombinan saja atau bersama dengan steroid anabolik meningkatkan kecepatan tinggi badan. Banyak gadis dapat mencapai ketinggian 150 cm atau lebih dengan memulai pengobatan dini. Terapi penggantian dengan estrogen terindikasi, namun ada sedikit kesepakatan mengenai usia optimal memulai pengobatan. kesiapan psikologis penderita untuk mendapatkan terapi harus dipertimbangkan. Dahulu, ada kecenderungan untuk menunda terapi penggantian dengan estrogen untuk mencapai tinggi badan maksimal. Pertumbuhan membaik yang dicapai oleh gadis yang diobati dengan hormon pertumuhan memungkinkan memulai penggantian estrogen pada usia 1213 tahun. Premarin, 0,3-0,625 mg yang diberikan setiap hari selama 3-6 bulan, biasanya efektif untuk menginduksi pubertas. Estrogen kemudian diputar (diminum pada hari 1-23), dan Provera, suatu progestin, ditambahkan (diminum pada hari ke 10-23) dengan dosis 5-10 mg per hari. Pada sisa bulan kalender, selama waktu tersebut tidak diberikan pengobatan, pendarahan penarikan (withdrawal) biasanya terjadi. sediaan estrogen lain dan regimen pengobatan sekarang juga digunakan. Analisis kromosom prenatal pada usia ibu yang sudah lanjut telah menyingkap frekuensi 45,X/46,XX yaitu 10 kali lebih tinggi daripada ketika didiagnosis pascanatal. Kebanyakan penderita ini tidak memiliki manifestasi klinis sindrom Turner, dan kada gonadotropin normal. Menyadari fenotip ringan ini penting dalam memberikan nasehat penderita. Pemberian konseling atau nasihat genetik adalah suatu upaya pemberian saran terhadap orangtua atau keluarga penderita kelainan bawaan yang diduga mempunyai faktor penyebab herediter, tentang apa dan bagaimana kelainan yang dihadapi ini, bagaimana pola penurunannya, serta bagaimana tindakan penatalaksanaanya, bagaimana prognosisnya dan upaya melaksanakan

pencegahan ataupun menghentikannya.

11

PENUTUP

Sindrom Turner terjadi pada 1 dari setiap 2.500 anak perempuan, sindrom memanifestasikan dirinya dalam beberapa cara. Ada kelainan fisik karakteristik, seperti perawakan pendek, pembengkakan, dada lebar, garis rambut rendah, rendah-set telinga, dan leher berselaput. Anak perempuan dengan sindrom Turner biasanya mengalami disfungsi gonad (ovarium tidak bekerja), yang mengakibatkan amenore (tidak adanya siklus menstruasi) dan kemandulan. Turner terjadi karena kelainan kromosom yang berkaitan dengan jumlah (aneuploidi). Penyebab utama aneuploidi adalah nondisjunction (kelainan pemisahan kromosom) saat meiosis atau setelah pembuahan sewaktu mitosis. Dukungan psikososial terhadap gadis-gadis ini merupakan komponen penting pada penanganan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Goldstein JL, Brown MS. Genetik dan penyakit. Dalam: Asdie AH. Harrison: Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Edisi 16. Volume 1. Jakarta: EGC;2005.h.388. 2. Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM, editor. Ilmu kesehatan anak Nelson: sindrom turner. Edisi 16. Volume 3. Jakarta: EGC;2004.h.1992-4. 3. Harmsen R, Gallucci BB. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Dalam: Price SA, Wilson LM, penyunting. Hereditas, lingkungan, dan penyakit. Edisi 6. Vol 1. Jakarta: EGC; 2005. h. 9-40. 4. Robbins, Cotran. Dasar patologis penyakit. Edisi 7. Jakarta: EGC; 2008. h. 99130. 5. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap III LC, Hauth JC, Wenstrom KD. Obstetri williams: genetika. Edisi 21. Volume 2. Jakarta: EGC;2005.h.1052-53. 6. Effendi SH, Indrasanto E. Kelainan kongenital. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku ajar neonatologi. Edisi 1. Jakarta: Badan Penerbit IDAI;2008.h.63-9.

12