Anda di halaman 1dari 30

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.

Ked

LAPORAN STATUS PASIEN BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARDINAH KOTA TEGAL Nama Mahasiswa NIM Asal Pembimbing : Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked : 030.07.001 : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti : Dr. H. R. Setyadi., SpA

I.

IDENTITAS Pasien A. Nama Pasien B. Agama C. Alamat rumah D. Usia E. Pendidikan Ayah Ibu Nama : Ny. PE
1

: By. QD : Islam : Jl. Jeruk Rt 07 Rw 01, Pekauman, : 48 hari :-

Nama Agama Alamat Pekerjaan

: Tn. S : Islam : Jl. Jeruk Rt 07 Rw 01, Pekauman, : Buruh bangunan

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Agama Alamat Pekerjaan

: Islam : Jl. Jeruk Rt 07 Rw 01, Pekauman, : Ibu rumah tangga

II.

RIWAYAT PENYAKIT Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis

A. Keluhan Utama Kejang

B. Keluhan Tambahan Demam

C. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan kejang 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien kejang 3 kali dengan durasi masing-masing kejang sekitar 1 menit. Menurut orang tua pasien sesaat sebelum kejang, pasien selalu menangis dan setelah kejang pasien akan tertidur. Sebelum pasien mulai kejang, pasien juga diceritakan mengalami demam tinggi, muntah-muntah dan mencret. Pasien kemudian dibawa ke RSUD Kardinah untuk mendapatkan pengobatan, pasien kemudian dirawat di bangsal Lavender. Menurut orang tua pasien, di bangsal pasien sempat kejang kembali sebanyak 1 kali. Kejang pasien diceritakan hanya di separuh badannya saja selama 1 menit. Setelah kejang pasien kembali tertidur.

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Pasien kemudian dipindahkan ke PICU untuk mendapatkan penanganan yang lebih intensif. Saat dirawat di PICU, pasien diceritakan kejang kembali 1 kali dengan durasi yang sama. Kejang juga diceritakan hanya setengah badan saja. Selain itu, selama perawatan di PICU, demam yang dialami pasien masih berlangsung, naik turun. Namun kejang hanya berulang 1 kali saja. Menurut orang tua pasien, saat dirawat di PICU, pasien jarang menangis, dan lebih sering tidur. Pasien kemudian dipindahkan kembali ke bangsal perawatan biasa (Melati), setelah 3 hari perawatan di PICU. Saat dipindahkan, kondisi pasien masih demam. Pasien menurut orang tuanya juga masih sering tertidur, namun pasien tetap lancar saat minum susu dan buang air besarnya juga lancar.

D. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tidak pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya. Pasien juga tidak pernah demam maupun kejang sebelumnya.

E. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada riwayat penyakit yang sama seperti yang dialami pasien pada riwayat keluarga ayah maupun ibu pasien. Tidak ada riwayat penyakit jantung bawaan, tidak ada riwayat hipertensi, tidak ada riwayat penyakit kencing manis, tidak ada riwayat alergi dan asthma pada keluarga.

F. Riwayat Sosial dan Ekonomi Ayah pasien bekerja sebagai buruh lepas, dengan penghasilan perbulan Rp750.000,-. Ayah pasien menanggung hidup pasien dan ibu pasien. Menurut ibu pasien, kebutuhan sehari-hari masih dapat dicukupi walau tetap ada kekurangan. Kesan : Kondisi social ekonomi kurang.

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

G. Riwayat Lingkungan

Status kepemilikan rumah

: milik orang tua ayah pasien

Pasien tinggal dalam sebuah rumah berukuran 6 x 11 meter yang dihuni 5 orang (pasien, kedua orang tua pasien dan kakek nenek pasien). Menurut orang tua pasien, kondisi rumah cukup baik dengan 3 kamar tidur yang masing-masing berjendela, 1 kamar mandi dan dapur yang juga sebagai ruang makan. Sinar matahari dan udara dapat masuk dengan bebas. Jarak sumur dan WC sekitar 3 meter. Air minum berasal dari PAM. Saluran pembuangan limbah berada di depan rumah, tidak tersumbat. Kesan : Kondisi lingkungan baik.

H. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Morbiditas Kehamilan Antenatal care G1P1A0 Kontrol ke bidan 1 bulan sekali Tempat kelahiran Penolong persalinan Cara persalinan Rumah Bersalin Dokter Sectio Caesarea dengan indikasi PEB Persalinan Masa gestasi Keadaan bayi 40 minggu Menangis spontan, BB lahir 3.500gram, PB lahir 47 cm.

Kesan

: riwayat kehamilan dan persalinan baik

I. Riwayat Makanan
4

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Usia (bulan) 0-2 2-4 4-6 6-8 10-12 12-24

ASI/PASI + -

Buah/Biskuit -

Bubur susu -

Nasi Tim -

Kesan

: Riwayat pemberian makanan sesuai usia

J. Riwayat Imunisasi VAKSIN BCG DPT/ DT POLIO CAMPAK HEPATITIS B DASAR (umur) 30 hari 30 hari 0 ULANGAN (umur) -

bulan Kesan : Pemberian imunisasi sesuai usia

K. Riwayat Keluarga Berencana Ibu pasien mengaku belum mengikuti program KB

L. Corak Reproduksi No Umur 1 48 hari Jenis Kelamin Perempuan + Hidup Lahir Mati Sakit Abotus Mati Keterangan

M. Silsilah Keluarga
5

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Ayah pasien adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, anak pertama laki-laki dan anak kedua perempuan. Ibu pasien adalah anak pertama dari 5 bersaudara, anak kedua perempuan, anak ketiga hingga kelima laki-laki

III.

PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik dilakukan di bangsal perawatan Melati, tanggal 17 Mei 2013 pukul 13.00WIB.

a. Keadaan Umum a. Data Antropometri i. Berat badan : 4.700 gram

ii. Panjang badan : 52 cm b. Tanda Vital i. Tekanan darah ii. Frekuensi nadi iii. Frekuensi nafas iv. Suhu tubuh b. Kepala Mesocephal, lingkar kepala 38 cm, ubun-ubun besar belum menutup, teraba datar, tidak tegang, cephal hematom (-), caput succadenum (-). : tidak diperiksa : 120 x/ menit : 36 x/ menit : 37,2o C

c. Rambut Warna hitam, penyebaran tidak merata, tidak mudah dicabut.

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

d. Mata Mata cekung (-/-), palpebra oedem (-/-), sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-), katarak kongenital (-/-), glaukoma kongenital (-/-)

e. Telinga Normotia, discharge (-/-)

f. Hidung Nafas cuping hidung (+/+), bentuk normal, sekret (-/-), septum deviasi (-)

g. Mulut Sianosis (-), trismus (-), stomatitis (-), bercak-bercak putih pada lidah dan mukosa (-), bibir kering (-), labioschizis (-), palatoschizis (-)

h. Leher Pendek, pergerakan baik, tumor(-), tanda trauma (-)

i. Thorax a. Jantung i. Inspeksi ii. Palpasi iii. Auskultasi : pulsasi ictus cordis tidak tampak : ictus cordis tidak teraba : Bunyi jantung I dan II regular, murmur (-),

irama gallop (-) iv. Perkusi : tidak dilakukan


7

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

b. Paru i. Inspeksi : pergerakan dinding thorax kanan dan kiri

simetris, retraksi (-/-) ii. Palpasi iii. Perkusi iv. Auskultasi : stem fremitus tidak dilakukan : tidak dilakukan : suara nafas vesikuler di seluruh lapang paru kiri

dan kanan, ronchi (-/-) j. Abdomen a. Inspeksi b. Auskultasi c. Palpasi : tampak datar dan simetris. : Bising usus (+) normal : supel, nyeri tekan (-) di keempat region abdomen,

nyeri lepas (-) di keempat region abdomen, hepar dan lien tidak teraba, turgor kulit baik. d. Perkusi (-). k. Genitalia Perempuan , Labia mayora sudah menutup labia minora : timpani di keempat kuadran abdomen, shifting dullness

l. Anorektal Anus (+), diaper rash (-)

m. Anggota Gerak Superior -/-/<2 detik Inferior -/-/<2 detik


8

Akral Dingin Akral Sianosis CRT

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Oedem

n. Tulang belakang Tidak ada spina bifida, tidak ada meningocele

IV.

PEMERIKSAAN LAIN Status Gizi

Status gizi pasien ini menurut kuva Z-score adalah: Bayi Perempuan usia 48 hari, berat badan real 4.700 gram Berat badan median = 4,0. SD Upp = 0,50 BB riel BB median = 4,7 4,0 = +1,4 SD Upp 0,50

Nilai Z score +1,4 maka gizi pasien dinyatakan normal

V.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

a) Laboratorium Darah Jenis Pemeriksaan CBC Leukosit 5.5 24.2 18.4 21.3 18.0
9

9 Mei 2013

10 Mei 2013

14 Mei 2013

16 Mei 2013

23 Mei 2013

24 Mei 2013

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Eritrosit Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit Diff Netrofil Limfosit Monosit Eosinofil Basofil LED LED 1 jam LED 2 jam Kimia Natrium Kalium Klorida

2.7 8.2 24.0 88.2 30.1 34.2 230

1.9 5.6 17.3 90.1 29.2 32.4 27

3.7 10.7 31.0 84.2 29.1 34.5 41

2.0 6.0 17.6 88.4 30.2 34.1 692

2.1 7.9 19.4 94.2 38.3 40.7 559

61.8 27.3 10.7 0 0.2

0 -

91 116

97 103

134.6 4.34 105.9

b) Laboratorium Faeces
10

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Jenis Pemeriksaan Faeces Rutin Makroskopis Konsistensi Warna Darah Mikroskopis Leukosit Eritrosit Silinder Yeast Amoeba Telur Cacing Karbohidrat Lemak Protein Bakteri

14 Mei 2013

20 Mei 2013

Lembek Kuning kemerahan +

Lembek Kuning -

+ +1 +

+ +

c) Laboratorium Cairan Serebrospinal Cairan serebrospinal menetes jernih setelah dilakukan punksi lumbal Jenis Pemeriksaan Microbiologi Jumlah sel 2000
11

Hasil tanggal 14 Mei 2013

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Pandy Nonne

+ -

VI.

PEMERIKSAAN RADIOLOGI CT Scan Kepala

Gambar Head CT Scan tanggal 11 Mei 2013

Kesan : Atrofi Cerebri

Rontgen Thorax

12

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Gambar Rontgen Thorax tanggal 15 Mei 2013 Kesan : Cord an Pulmo dalam batas normal

VII.

PERJALANAN PENYAKIT

180 160 140 120 100 80 60 40 20 0


M ei M ei M ei M ei M ei M ei M ei 22
22 23

18

20

S uhu

Na di

Grafik Suhu dan Nadi pada Pasien QD

Tabel Kejadian Kejang pada Pasien An QD 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 24


13

24

10

12

14

16

M ei

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Mei Mei Me Mei Mei Mei Mei Mei Mei Mei Mei Mei Mei Mei Mei Kejang + + + + + -

VIII.

DIAGNOSIS BANDING Meningitis TB Meningitis Viral Atrofi Cerebri Kejang demam kompleks

IX.

DIAGNOSIS KERJA

Meningitis Purulenta Diagnosis ditegakkan sesuai dengan hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan cairan serebrospinal setelah dilakukan pungksi lumbal.

X.

PENATALAKSANAAN

10 Mei 2013 Infus : D5 NS 18 tpm KaEN 1B 18 tpm Injeksi:

11 Mei 2013 Infus: KaEN 1B 18 tpm Injeksi: Cefotaxim 3 x 125 mg

12 Mei 2013 Infus: KaEN 1B 18 tpm Injeksi: Cefotaxim 3 x 125 mg


14

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Amoxan 3 x 500/3 mg

Gentamicin 2 x 10 ml

Gentamicin 2 x 10 ml Peroral Dilantin 2 x 10 mg B6 2 x 5 mg Sanmol 4 x 0,5 ml Depakene Syr 2 x 1 ml

Dexamethason 3 x Peroral amp Cefotaxim 3 x 125 mg Gentamicin 2 x 10 mg Peroral: Sanmol drop 4 x 0,5 ml Luminal 3 x 5 mg Dilantin 10 mg 2 x 1 B6 5 mg 2 x 1 Diet ASI 13 Mei 2013 Infus: KaEN 1B 18 tpm Injeksi: Cefotaxim 3 x 125 mg Gentamicin 2 x 10 mg Peroral Dilantin 2 x 10 mg B6 2 x 5 mg Sanmol 4 x 0,5 ml Depakene Syr 2 x 1 ml 14 Mei 2013 Infus: KaEN 1B 18 tpm Injeksi: Cefotaxim 3 x 125 mg Gentamicin 2 x 10 mg Peroral Dilantin 2 x 10 mg B6 2 x 5 mg Sanmol 4 x 0,5 ml Depakene Syr 2 x 1 ml Extra Stesolid 5 mg k/p Dilantin 2 x 10 mg B6 2 x 5 mg Sanmol 4 x 0,5 ml Depakene Syr 2 x 1 ml

15 Mei 2013 Infus: KaEN 1B & KCl 8 ml 20 tpm Injeksi: Cefotaxim 3 x 250 mg Dexamethason amp PRC 60-75 ml dalam 4 jam Peroral Dilantin 2 x 10 mg B6 2 x 5 mg
15

3x1/3

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Sanmol 4 x 0,5 ml Depakene Syr 2 x 1 ml 16 Mei 2013 Infus: 17 Mei 2013 Infus: 18 Mei 2013 Infus:

KaEN 1B dan KCl 8 ml KaEN 1B & KCl 8 ml 20 KaEN 1B & KCl 8 ml 20 20 tpm Injeksi: Cefotaxim 3 x 125 mg Dexamethason amp Inhalasi NaCl 3% 3 x 2 cc Peroral Dilantin 2 x 10 mg B6 2 x 5 mg Sanmol 4 x 0,5 ml Depakene Syr 2 x 1 ml 19 Mei 2013 Infus: tpm Injeksi: Cefotaxim 3 x 125 mg tpm Injeksi: Cefotaxim 3 x 125 mg 3x1/3

3x1/3 Dexamethason amp Inhalasi NaCl 3% 3 x 2 cc Peroral Dilantin 2 x 10 mg B6 2 x 5 mg Sanmol 4 x 0,5 ml

3x1/3 Dexamethason amp Inhalasi NaCl 3% 3 x 2 cc Peroral Dilantin 2 x 10 mg B6 2 x 5 mg Sanmol 4 x 0,5 ml

Depakene Syr 2 x 1 ml 20 Mei 2013 Infus:

Depakene Syr 2 x 1 ml 21 Mei 2013 Infus:

KaEN 1B & KCl 8 ml 20 KaEN 1B & KCl 8 ml 20 KaEN 1B & KCl 8 ml 20 tpm Injeksi: Cefotaxim 3 x 125 mg Dexamethason tpm Injeksi: Cefotaxim 3 x 125 mg tpm Injeksi: Cefotaxim 3 x 125 mg 3x1/3
16

3x1/3 Dexamethason

3x1/3 Dexamethason

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

amp Inhalasi NaCl 3% 3 x 2 cc Peroral Dilantin 2 x 10 mg B6 2 x 5 mg Sanmol 4 x 0,5 ml Depakene Syr 2 x 1 ml 22 Mei 2013 Infus:

amp Inhalasi NaCl 3% 3 x 2 cc Peroral Dilantin 2 x 10 mg B6 2 x 5 mg Sanmol 4 x 0,5 ml Depakene Syr 2 x 1 ml 23 Mei 2013 Infus:

amp Inhalasi NaCl 3% 3 x 2 cc Peroral Dilantin 2 x 10 mg B6 2 x 5 mg Sanmol 4 x 0,5 ml Depakene Syr 2 x 1 ml 24 Mei 2013 Infus:

KaEN 1B & KCl 8 ml 20 KaEN 1B & KCl 8 ml 20 KaEN 1B & KCl 8 ml 20 tpm Injeksi: Cefotaxim 3 x 125 mg Dexamethason amp Inhalasi NaCl 3% 3 x 2 cc Peroral Dilantin 2 x 10 mg B6 2 x 5 mg Sanmol 4 x 0,5 ml Depakene Syr 2 x 1 ml tpm Injeksi: Cefotaxim 3 x 125 mg tpm Injeksi: Cefotaxim 3 x 125 mg 3x1/3

3x1/3 Dexamethason amp Inhalasi NaCl 3% 3 x 2 cc Peroral Dilantin 2 x 10 mg B6 2 x 5 mg Sanmol 4 x 0,5 ml

3x1/3 Dexamethason amp Inhalasi NaCl 3% 3 x 2 cc Peroral Dilantin 2 x 10 mg B6 2 x 5 mg Sanmol 4 x 0,5 ml

Depakene Syr 2 x 1 ml

Depakene Syr 2 x 1 ml

17

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

XI.

PROGNOSIS Ad Vitam Ad Functionam Ad sanationam : Dubia : Dubia : Dubia

TINJAUAN PUSTAKA

MENINGITIS PURULENTA

Meningitis adalah inflamasi pada membran yang menutupi organ sistem saraf pusat, yang biasanya dikenal dengan meningens (radang pada arachnoid dan piamater). Meningitis biasanya disebabkan oleh infeksi tetapi bahan kimiawi yang mengiritasi apabila disuntik atau dimauskan ke dalam ruang subaraknoid juga bisa menimbulkan peradangan pada lapisan pembungkus otak meninges. Meningitis yang disebabkan oleh infeksi ini diklasifikasikan kepada akut piogenik (biasanya disebabkan oleh bakteri), aseptik meningitis (biasanya karena viral) dan meningitis kronik (tuberculous, spirochetal, atau cryptococcal). Klasifikasi ini dibuat berdasarkan karakteristik dari eksudat pada pemeriksaan LCS dan evolusi klinis daripada penyakit tersebut. Meningitis dapat berkembang sebagai respon dari berbagai kasus, seperti agen infeksi, trauma, kanker, atau penyalahgunaan obat. Agen infeksi dapat berupa bakteri, virus, ricketsia, protozoa, dan jamur. Meningitis adalah penyakit serius karena letaknya dekat otak dan tulang belakang, sehingga dapat menyebabkan kerusakan kendali gerak, pikiran bahkan kematian. Perjalanan penyakit meningitis dapat terjadi secara akut dan kronis.(2)

I.

ANATOMI DAN FISIOLOGI


18

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Meninges terdiri daripada tiga jaringan ikat membran yang terletak di bagian luar organ sistem saraf pusat. Fungsi dari lapisan selaput otak ini adalah: 1. Melapisi dan memberikan proteksi kepada struktur organ sistem saraf pusat (otak dan medula spinalis). 2. Memberikan proteksi pembuluh darah yang terdapat di otak dan menutupi sinus venosus. 3. Mengandungi likour serebrospinalis 4. Membentuk partisi/ bagian bagian dari otak.(3) Struktur meninges dari luar adalah, dura mater, araknoid mater, dan pia mater.

Gambar 1 (dipetik dari kepustakaan 3 ) Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu : a. Piamater Yang menyelipkan dirinya ke dalam celah pada otak dan sumsum tulang belakang dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat akan menyediakan darah untuk strukturstruktur ini.
19

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

b. Arachnoid Merupakan selaput halus yang memisahkan piameter dan duramater. c. Duramater Merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat.(4)

II.

ETIOLOGI

Kebanyakan kasus meningitis disebabkan oleh mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur, atau parasit yang menyebar dalam darah ke cairan otak. Penyebab infeksi ini dapat diklasifikasikan atas : 1. Meningitis bakteri: a. Pneumococcus b. Meningococcus c. Haemophilus influenza d. Staphylococcus e. Escherichia coli f. Salmonella g. Mycobacterium tuberculosis

Age Group neonatus

Causes Group B Streptococci, Escherichia coli, Listeria

monocytogenes Bayi Neisseria meningitidis, Haemophilus influenzae,

Streptococcus pneumonia Anak anak N. meningitidis, S. pneumonia


20

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Dewasa

S. pneumoniae, N. meningitidis, Mycobacteria (dipetik dari kepustakaan 5)

2. Virus : a. Enterovirus b. Mumps c. Herpes virus d. Arbovirus e. Kasus yang sangat jarang: LMCV (lymphocytic choriomeningitis virus) 3. Jamur : a. Cryptococcus neoformans b. Coccidioides immitris c. Candida (jarang) d. Histoplasma (terutama pada kasus immunocompromise) Meningitis juga bisa berlaku pada kasus non infeksi terutama pada kasus seperti AIDS, kanker, diabetes, trauma fisik atau oleh kerna obat obatan yang bisa menurunkan sistem imunitas tubuh. (5)

III.

PATOFISIOLOGI

Mikroorganisma menginvasi ke jaringan selaput otak hanya apabila telah memasuki ruang subaraknoid. Biasanya, bakteri atau agen yang menginvasi ini tersebar ke bagian otak melewati pembuluh darah setelah berlakunya proses kolonisasi akibat infeksi di traktus respiratorius bagian atas. Selain dari adanya invasi bakteri, virus, jamur maupun protozoa, point dentry masuknya kuman juga bisa melalui trauma tajam, prosedur operasi, dan abses
21

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

otak yang pecah, penyebab lainnya adalah adanya rhinorhea, otorhea pada fraktur basis cranii yang memungkinkan kontaknya cairan cerebrospinal dengan lingkungan luar.(6)

Agen penyebab Invasi ke susunan saraf pusat melalui aliran darah Bermigrasi ke lapisan subarachnoid Respon inflamasi di piamater, arachnoid, cairan cerebrospinal, dan ventrikuler Eksudat menyebar di seluruh saraf cranial dan saraf spinal Kerusakan neurologist (dipetik dari kepustakaan 6)

IV.

MANIFESTASI KLINIK

Keluhan pertama biasanya nyeri kepala. Rasa ini dapat menjalar ke tengkuk dan punggung. Tengkuk menjadi kaku. Kaku kuduk disebabkan oleh mengejangnya otot-otot ekstensor tengkuk. Bila hebat, terjadi opistotonus, yaitu tengkuk kaku dalam sikap kepala tertengadah dan punggung dalam sikap hiperekstensi. Kesadaran menurun.tanda Kernigs dan Brudzinsky positif.

22

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Gejala meningitis tidak selalu sama, tergantung dari usia si penderita serta virus apa yang menyebabkannya. Gejala yang paling umum adalah demam yang tinggi, sakit kepala, pilek, mual, muntah, kejang. Setelah itu biasanya penderita merasa sangat lelah, leher terasa pegal dan kaku, gangguan kesadaran serta penglihatan menjadi kurang jelas. Gejala pada bayi yang terkena meningitis, biasanya menjadi sangat rewel, muncul bercak pada kulit, tangisan lebih keras dan nadanya tinggi, demam ringan, badan terasa kaku, dan terjadi gangguan kesadaran seperti tangannya membuat gerakan tidak beraturan.(4) Gejala meningitis meliputi : Gejala infeksi akut Panas Nafsu makan tidak ada Anak lesu Gejala kenaikan tekanan intracranial Kesadaran menurun Kejang-kejang Ubun-ubun besar menonjol Gejala rangsangan meningeal
23

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

kaku kuduk Kernig Brudzinky I dan II positif (4)

V.

DIAGNOSIS

Diagnosis kerja ke arah meningitis dapat dipikirkan apabila menemukan gejala dan tandatanda klinis meningitis. Gejala dan tanda dari infeksi akut, peningkatan tekanan intrakranial dan rangsang meningeal perlu diperhatikan. Untuk mengkonfirmasi diagnosis meningitis dilakukan tes laboratorium berupa tes darah dan cairan sumsum tulang belakang. (4) Pemeriksaan Rangsangan Meningeal a. Pemeriksaan Kaku Kuduk Pasien berbaring terlentang dan dilakukan pergerakan pasif berupa fleksi dan rotasi kepala. Tanda kaku kuduk positif (+) bila didapatkan kekakuan dan tahanan pada pergerakan fleksi kepala disertai rasa nyeri dan spasme otot. Dagu tidak dapat disentuhkan ke dada dan juga didapatkan tahanan pada hiperekstensi dan rotasi kepala. b. Pemeriksaan Tanda Kernig Pasien berbaring terlentang, tangan diangkat dan dilakukan fleksi pada sendi panggul kemudian ekstensi tungkai bawah pada sendi lutut sejauh mengkin tanpa rasa nyeri. Tanda Kernig positif (+) bila ekstensi sendi lutut tidak mencapai sudut 135 (kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna) disertai spasme otot paha biasanya diikuti rasa nyeri. c. Pemeriksaan Tanda Brudzinski I ( Brudzinski Leher) Pasien berbaring terlentang dan pemeriksa meletakkan tangan kirinya dibawah kepala dan tangan kanan diatas dada pasien kemudian dilakukan fleksi kepala dengan cepat kearah dada sejauh mungkin. Tanda Brudzinski I positif (+) bilapada pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada leher. d. Pemeriksaan Tanda Brudzinski II ( Brudzinski Kontra Lateral Tungkai)
24

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Pasien berbaring terlentang dan dilakukan fleksi pasif paha pada sendi panggul (seperti pada pemeriksaan Kernig). Tanda Brudzinski II positif (+) bila pada pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada sendi panggul dan lutut kontralateral.(7) Pemeriksaan Penunjang Meningitis a. Pemeriksaan Pungsi Lumbal Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa jumlah sel dan protein cairan cerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya peningkatan tekanan intrakranial. Pada Meningitis Serosa terdapat tekanan yang bervariasi, cairan jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein normal, kultur (-). Pada Meningitis Purulenta terdapat tekanan meningkat, cairan keruh, jumlah sel darah putih dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur (+) beberapa jenis bakteri. b. Pemeriksaan darah Dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, Laju Endap Darah (LED), kadar glukosa, kadar ureum, elektrolit dan kultur. Pada Meningitis Serosa didapatkan peningkatan leukosit saja. Disamping itu, pada Meningitis Tuberkulosa didapatkan juga peningkatan LED. Pada Meningitis Purulenta didapatkan peningkatan leukosit.(7)

c. Pemeriksaan Radiologis

Pada Meningitis Serosa dilakukan foto dada, foto kepala, bila mungkin dilakukan CT Scan. Pada Meningitis Purulenta dilakukan foto kepala (periksa mastoid, sinus paranasal, gigi geligi) dan foto dada.(7)

VI.

TIPE MENINGITIS

Tipe meningitis yang sering menyerang pada anak adalah:


25

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

I.

Viral meningitis Termasuk penyakit ringan. Gejalanya mirip dengan sakit flu biasa, dan umumnya si penderita dapat sembuh sendiri. Frekuensi viral meningitis biasanya meningkat di musim panas karena pada saat itu orang lebih sering terpapar agen pengantar virus. Banyak virus yang bisa menyebabkan viral meningitis. Antara lain virus herpes dan virus penyebab flu perut.

II.

Bacterial meningitis Disebabkan oleh bakteri tertentu dan merupakan penyakit yang serius. Salah satu bakterinya adalah meningococcal bacteria. Gejalanya seperti timbul bercak kemerahan dan kecoklatan pada kulit. Bercak ini akan berkembang menjadi memar yang mengurangi suplai darah ke organ-organ lain dalam tubuh dapat berakibat fatal dan menyebabkan kematian.

III.

Meningitis Tuberkulosis Generalisata Gejala : demam, mudah kesal, obstipasi, muntah- muntah, ditemukan tanda-tanda perangsangan meningen seperti kaku kuduk, suhu badan naik turun, nadi sangat labil/lambat, hipertensi umum, abdomen tampak mencekung, gangguan saraf otak. Penyebab : kuman mikobakterium tuberkulosa varian hominis. Diagnosis : Meningitis Tuberkulosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan cairan otak, darah, radiologi, test tuberkulin.

Selain dari tipe-tpe meningitis yang dibahas di atas, terdapat juga tipe meningitis yang disebabkan oleh jamur seperti meningitis Kriptikokus. (4)

PERBANDINGAN GAMBARAN LCS ANTARA MENINGITIS PURULENTA, TB, VIRAL, DAN JAMUR

26

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

PURULENTA

TUBERKULOSA Bila

VIRUS

JAMUR Kultur

Tekanan >180 mm H20

didiamkan : dan

Pemeriksaan Biakan

terbentuk pelikula Mikroskopis kuman TBC

mikroskopik cairan otak Pemeriksaan serum

bakteri negatif

serologik cairan otak Jernih

Warna

Keruh purulen

sampaiJernih atau xantokrom

Jernih

Sel

Leukosit meningkat 95 % PMN

Meningkat, <500/mm3,Meningkat MN dominan 10-1000/mm3

antara10 -500 sel/mm3 dengan dominasi limfosit

Protein

Meningkat, mg%

>75meningkat

Normal

sedikitMeningkat

meningkat <700menurun Normal

Klorida

Menurun, mg%

Glukosa

Menurun, <40 mgmenurun %, atau < 40 % gula darah

Normal

Menurun, sekitar 15-35 mg

VII.

PENATALAKSANAAN.

Jika berdasarkan pemeriksaan penderita didiagnosa sebagai meningitis, maka pemberian antibiotik secara Infus (intravenous) adalah langkah yang baik untuk menjamin kesembuhan serta mengurang atau menghindari resiko komplikasi. Antibiotik yang diberikan kepada penderita tergantung dari jenis bakteri yang ditemukan.(8) Farmakologis o Obat anti inflamasi : Meningitis tuberkulosa :
27

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Isoniazid 10 20 mg/kg/24 jam oral, 2 kali sehari maksimal 500 gr selama 1 tahun. Rifamfisin 10 15 mg/kg/ 24 jam oral, 1 kali sehari selama 1 tahun. Streptomisin sulfat 20 40 mg/kg/24 jam sampai 1 minggu, 1 2 kali sehari, selama 3 bulan.

Meningitis bacterial, umur < 2 bulan : Sefalosporin generasi ke 3 ampisilina 150 200 mg (400 gr)/kg/24 jam IV, 4 6 kali sehari. Koloramfenikol 50 mg/kg/24 jam IV 4 kali sehari.

Meningitis bacterial, umur > 2 bulan : Ampisilina 150-200 mg (400 mg)/kg/24 jam IV 4-6 kali sehari. Sefalosforin generasi ke 3.(9)

o Pengobatan simtomatis : Kejang Diazepam IV : 0.2 0.5 mg/kg/dosis, atau rectal 0.4 0.6/mg/kg/dosis kemudian klien dilanjutkan dengan. Fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3 kali sehari.

Penurun panas : Antipiretika : parasetamol atau salisilat 10 mg/kg/dosis. Kompres demam.

o Pengobatan suportif : Pencegahan Langkah dalam mencegah meningitis antara lain: Cuci tangan anda secara benar untuk menghindari terkena penyebab infeksi. Tetap sehat. Jaga sistem imun anda berfungsi dengan baik dengan cukup istirahat, olahraga teratur dan makan makanan sehat dan bergizi.
28

Cairan intravena. Oksigenasi, usahakan agar konsitrasi O2 berkisar antara 30 50%.(9)

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

Tutup mulut dan hidung anda ketika bersin atau batuk. Jika anda sedang hamil, berhati-hatilah dengan apa yang anda konsumsi.(10)

VIII. KOMPLIKASI IX. cairan subdural. Hidrosefalus. Sembab otak Abses otak Renjatan septic. Pneumonia (karena aspirasi) Koagulasi intravaskuler menyeluruh.(9)

PROGNOSIS

Penderita meningitis dapat sembuh, baik sembuh dengan cacat motorik atau mental atau meninggal tergantung : umur penderita. Jenis kuman penyebab Berat ringan infeksi Lama sakit sebelum mendapat pengobatan. Kepekaan kuman terhadap antibiotic yang diberikan Penanganan penyakit.(9)

29

Adhyanovic Hadi Pradipta., S.Ked

DAFTAR PUSTAKA 1. Chapter 64 : the central nervous sytem II infection. Dalam : Chandrasoma P. and Taylor C. R. Concise pathology. Edisi III. Mc Graw Hills 1998. 2. Infection of the nervous sytem. Dalam ; Abbas k. dan Mitchell F.Robin basic pathology .Edisi ke *. Saunders. 2007. Hal 874. 3. Meninges. Dalam ; Marieb E.dan Hoehn. K. Human anatomy and physiology. Edisi VII. Pearson education.2007 4. Israr Y.A. 2008, Meningitis URL : http://yayankhar.co.nr/pdf 5. Anonim 6. Bachur 7. Anonim. R.G 2009. 2009. 2011. Chapter Causes Pediatric 2: of meningitis URL and : meningitis eencephalitis http://respiratory URL: URL: .usu. http://www.cdc.gov/meningitis/about/causes html. http://emedicine.medscape.com/article meningitisn ac.id/bitstream/pdf 8. Sodikin. 2010. Penyakit meningitis URL : http://obatpropolis.com/penyakit meningitis
9. Anonim 2009.Meningitis URL : http://forbetterhealth.files.wordpress.com/pdf

10. Anonim 2010.meningitis. URL: http://patofisiologi.wordpress.com

30