1

TUGAS PRAKTIKUM FARMAKOLOGI BLOK SARAF DAN PERILAKU “OBAT OTONOM”

Oleh :

Keyko Septiyanti Widodo 1102010143

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI 2011/2012

dll. Adrenergik Banyak obat dapat meningkakan pelepasan NE. Toksin tetanus mempunyai mekanisme keraja yang serupa. Banyak obat dapat mempengaruhi organ otonom. dengn akibat perangsangan berlebihan di reseptor muskarinik oleh Ach dan terjadinya perangsangan disusul blockade di reseptor nikotinik. Contoh obat adrenergik: guanetidin. Toksin botulinus n menghabat pelepasan Ach di semua saraf kolinergik sehingga dapat menyebabkan kematian akibat paralysis pernapasan perifer. . Cara Kerja Obat Otonom Terdapat beberapa kemungkinan pengaruh obat pada transmisi system kolinergik maupun adrenergik. salbutamol. klonidin. disusul dengan blokade pelepasan ini. tetapi obat otonom mempengaruhinya secara spesifik dan bekerja pada dosis kecil. Tergantung dari kecepatan dan lamanya pelepasan. Adrenergik Metiltirosin memblok sintesis NE.2 OBAT OTONOM Dasar Teori Obat-obat otonom yaitu obat yang bekerja pada berbagai bagian susunan saraf otonom. Sebaliknya metildopa. dan obat sejenisnya menyebabkan pelepasan NE yang relatif cepat dan singkat sehingga mengahasilkan efek simpatomimetik. toksin botolinus. efedrin . • Menyebabkan pelepasan transmitor Kolinergik Racun laba-laba Black window menyebabkan pelepasan Ach(eksositosis) yang berlebihan. Sebaliknya reser pin. dengan memblok transport aktif NE ke dalam vesikel menyebabkan pelepasan NE secara lambat dari dalam vesikel ke aksoplasma sehingga NE dipecah oleh MAO. seperti dopa sendiri didekarboksilasi dan dihidroksilasi menjadi a-metil NE. amfetamin. atropine. Contoh obat kolinergik: hemikolinium. yaitu : • Hambatan pada sintesis atau pelepasan transmitor Kolinergik Hemikolinium menghaambat ambilan kolin ke dalam ujung saraf dan dengan demikian mengurangi sintesis Ach. tetapui efek akibat hilangnya efek transmitor(karena tergeser transmitor dari reseptor) disebut antagonis atau bloker. amfetamin. Guanetidin dan bretilium juga mengganggu pelepasan dan penyimpanan NE. Tiramin. trimetafan. Akibatnya terjadi blokadd adreergik akibat pengosongan depot NE di ujung saraf. imipiramin. tiramin. pirenzepin. doxazosin. efek yang terlihat dapat berlawanan. • Hambatan destruktif transmitor Kolinergik Antikolinesterase merupakan kelompok besar yang menghanbat destruksi Ach karena menghambat AChE. penghambat dopa dekarboksilase. Obat yang hanya menduduki reseptor tanpa enimbulkan efek langsung. • Ikatan dengan reseptor Obat yang menduduki reseptor dan dapat menimbulkan efek yang mirip dengan efek transmitor disebut agonis. dll. mulai dari sel saraf sampai ke efektor. Toksin tersebut memblok secara ireversibel pelepasan Ach dari gelembung saraf di ujung akson dan merupakan salah satu toksin paling potenn yang dikenal orang.

Hambatan proses ini oleh kokain dan impiramin mendasari peningkatan respon terhadap perangsangan simpatis oleh obat tersebut.  Amfetamin.  Onset lebih lambat. masa kerja lebih lama.α2.  Menimbulkan efek adrenergik melalui pelepasan NE( nor epinefrin) yang tersimpan dalam ujung saraf adrenergik. .waktu singkat à Takifilaksis. dan efedrin.  Pemberian terus menerus. obat ini memperkuat epinefrin endogen tetapi tidak langsung mempengaruhi reseptor pasca sinaptik.β1 dan β2. isoprenalin. dll  Kerja langsung à Katekolamin  Adrenalin (epinefrin).3 Adrenergik Ambilan kembali NE setelah pelepasannya di ujung saraf merupakan mekanisme utama penghentian transmisi adrenergic. mis efedrin. Obat yang meniru efek perangsangan saraf simpatis. Klasifikasi Obat Otonom 1. fenilefrin dll)  Efek yang ditimbulkan mirip perangsangan saraf adrenergik  Kebanyakan obat adrenergik bekerja scr langsung pada reseptor adrenergik  Reseptor simpatis yang berperan : α1. Adrenergik ( Simpatomimetik) Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf simpatis.  Kerja tidak langsung  Adrenergik bekerja tidak langsung menyebabkan pelepasan norepinefrin dari ujung pre sinaptik.

sekresi ludah. dll o memperlambat sirkulasi darah dan mengurangi kegiatan jantung. sekresi kel ludah. bronkokonstriksi.  Obat yang meniru efek bila saraf simpatis ditekan atau melawan efek adrenergik.  Efek samping kolinergik : mual. Obat Ganglion Efek obat golongan ini merangsang atau menghambat penerusan impuls ganglion. Ipratropium bromida  Efek sentral terhadap SSP à Merangsang pada dosis kecil Mendepresi pada dosis toksik  Efek farmakodinamik : Mengurangi sekresi saluran nafas. anti spasmodik.dll  Indikasi: Intoksikasi insektisida organofosfat Asma Bronkial dll 5. keringat dan air mata. myastenia gravis. getah lambung. Kolinergik (Parasimpatomimetik)  Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf parasimpatis. cth pilokarpin.  Anti kolinergik yang bekerja pada reseptor muskarinik  Atropin. muntah.  Obat yang meniru perangsangan dari saraf parasimpatis. diare. Penghambat Kolinergik( Parasimpatolitik)  Efek obat golongan ini menghambat timbulnya efek akibat aktivitas saraf parasimpatis. mis propanolol. Pentolinium. dll. bradikardi. Obat penghambat ganglion Heksametonium (C6). Penghambat saraf adrenergik 3. atonia 4. fisostigmin  Efek yang ditimbulkan : o stimulasi aktivitas sal cerna. Obat perangsang ganglion Nikotin b. . Penghambat Adrenergik (Simpatolitik)  Efek obat golongan ini menghambat timbulnya efek akibat aktivitas saraf simpatis. Terdiri dari : a. Antagonis adrenoseptor β(β . dll  Klasifikasi berdasarkan tempat kerjanya terdiri dari : Antagonis adrenoseptor α( αBloker).4 2. meningkatkan sekresi dahak o kontraksi otot mata dengan miosis.Bloker).  Penggunaan : glaukoma. air mata. vasodilatasi dan penurunan tekanan darah o memperlambat pernafasan dengan menciutkan saluran nafas. menurunkan TIO dan memperlancar keluarnya air mata o Kontraksi kandung kemih dan ureter.

2007) Tujuan Setelah praktikum mahasiswa dapat: 1. RR dan produksi saliva pada keadaan basal. Menjelaskan system saraf otonom 2. Pengukuran produksi saliva dengan menggunakan gelas ukur yang didalamnya sudah terisi air 20 ml terlebih dahulu. Menjelaskan efek farmakodinamik obat otonom 3. Menjelaskan dasar kerja obat yang digunakan pada praktikum ini. kemudian OP diminta berbaring. I. EFEK OBAT OTONOM PADA MANUSIA Alat dan bahan: • Metronom • Gelas ukur • Stop watch • Tensi meter • Stetoskop • Permen karet • Air 20 ml • Obat : Efedrin 25 mg. Propanolol 10 mg. 2. denyut nadi. OP diberikan permen karet setelah rasa manis permen karet hilang. Periksalah TD. Atropin 0. 5.5 mg. antikolinergik. Sulistis Gan et al. Menggolongkan obat otonom yang digunakan dalam praktikum ini ke dalam obat kolinergik. Evelyn C. Propanolol 10mg). Cara kerja : 1.adrenergik dan anti adrenergik. Setelah itu OP diminta berlari ditempat mengikuti irama metronom selama 2 menit. denyut nadi dan RR. 4. Setelah berlari di tempat OP berbaring dan diukur TD.5 mg. Pemeriksaan dengan menggunakan uji tersamar ganda dengan 4 orang OP. saliva dikumpulkan selama 5 menit. Atropin 0. 3.5 (Pearce. Efedrin 25mg. Gunawan. . 4. OP diminta meminum obat yang sudah disamarkan dengan segelas air putih (Plasebo. 1995.

Tulislah hasil pemeriksaan efek dari tiap otonom dan plasebo pada keempat. Hasil Percobaan dan Analisa Observasi Basal Post exercise Menit ke-20 Menit ke-40 Menit ke-60 Post exercise Tekanan darah 110/70 160/70 130/70 130/80 120/80 135/70 HR 70 90 84 72 68 Tabel 4. Pada menit ke 40. RR dan produksi saliva dengan keadaan OP tetap berbaring. Efedrin juga meningkatkan pelepasan NE juga bekerja langsung pd α dan β. Hasil Observasi OP 1 RR Saliva 20 11 ml 16 16 20 8 ml 7 ml 6 ml Dari hasil pengamatan. Pada menit ke 20 setelah meminum obat. Setelah berlari ditempat. 7. Mekanisme utama efek efedrin terhadap kardiovaskular adalah dengan meningkatkan kontraktilitas otot jantung (inotropik positif) dengan aktivasi reseptor β1 serta mempercepat kecepatan denyut jantung (kronotropik positif). 8. denyut nadi. RR dan produksi saliva dengan keadaan OP tetap berbaring. . Berbeda dengan Epinefrin. RR dan produksi saliva dengan keadaan OP tetap berbaring. Maka disimpulkan yang bekerja adalah sistem simpatis. Efedrin memiliki efek pada organ yakni: • Sistem Kardiovaskular Efek kardiovaskular efedrin menyerupai efek epinefrin tetapi berlangsung kira-kira 10 kali lebih lama. Jadi obat yang diberikan adalah efedrin (adrenegik umum). Berbeda dengan Epinefrin. hitung kembali TD. denyut nadi. sedangkan aliran darah koroner. Respiratory rate sempat menurun dan menjadi normal dikeadaan basal kembail dimenit ke-60. Dengan adanya antagonis reseptor β maka efek efedrin terhadap kardiovaskular adalah dengan stimulasi reseptor α. Heart rate bertambah tetapi makin menurun dengan bertambahnya menit. periksalah TD dan denyut nadi. terlihat adanya peningkatan tekanan sistolik darah. 10. meski tidak diikuti oleh peningkatan diastolik dan meskipun ada peningkatan di menit ke-40. Aliran darah ginjal dan viseral berkurang. Peningkatan tekanan darah ini sebagian disebabkan oleh vasokonstriksi. tetapi terutama oleh stimulasi jantung yang meningkatkan kekuatan kontraksi jantung dan curah jantung. dan biasanya juga tekanan diastolik. Denyut jantung mungkin tidak berubah akibat refleks kompensasi vagal terhadap kenaikan tekanan darah. 9.6 6. Tekanan sistolik meningkat. Setelah itu OP diminta berlari ditempat mengikuti irama metronom selama 2 menit dengan keadaan manset sudah terpasang. Pada menit ke 60. penurunan tekanan darah pada dosis rendah tidak nyata pada efedrin. sehingga tekanan nadi membesar. hitung kembali TD. denyut nadi. totak dan otot rangka meningkat. Efek kardiovaskular tersebut pada reseptor α menyebabkan vasokonstriksi arteri dan vena di perifer. ukur TD. penurunan tekanan darah pada dosis rendah tidak nyata pada efedrin.

Hasil observasi Larutan Pilokarpin 1% Lebar pupil sebelum ditetes pilokarpin 1% Lebar pupil setelah ditetes pilokarpin 1% 15 mm 8 mm . 2. karena obat yang diteteskan dalam saccus conjunctivalis dapat memeberi efek setempat yang nyata tanpa menunjukan efek sistemik. 4. Lihatlah reaksi pupil tersebut terhadap sinar. Bronkodilatasi terjadi dalam 15-60 menit setelah pemberian oral dan bertahan selama 2-4 jam. II. 3. efedrin dapat menimbulkan relaksasi otot polos. Pilihlah seekor kelinci putih dan taruhlah di atas meja. namun dengan melihat indikator lain. Perhatikanlah lebar pupil sebelum dan sesudah dikenai sinar yang terang. Amati apakah refleks konsensual seperti yang terjadi pada manusia juga terjadi pada kelinci. REAKSI PUPIL TERHADAP OBAT OTONOM Pupil merupakan organ yang yang baik dalam menunjukan efek lokal dari suatu obat. Rangsanglah kelinci dan catatlah lebar pupil dalam keadaan eksitasi. Meskipun dalam percobaan tidak terjadi perubahan pada RR. Perlakukanlah hewan secara baik. kita bisa menyimpulkan yang dipakai adalah efedrin Otot Polos Melalui reseptor α dan β. Ambil pilokarpin 1% dan teteskan pada bola mata kanan. sekarang teteskan larutan 1% pada mata yang sama. observasi pupil setiap satu menit dan ulangi penetesan setelah 5 menit jika perlu untuk menghasilkan midriasis. hal ini dimungkinkan oleh adanya faktor fisiologis atau kesalahan percobaan yang tidak bisa dinilai secara detil. Bronkorelaksasi oleh efedrin lebih lemah tetapi berlangsung lebih lama daripada oleh Epinefrin. • • Saluran Napas Merelaksasi otot bronkus melalui reseptor β2. Ukur lebar pupil dengan penggaris milimeter. Setelah terjadi miosis. sehingga memungkinkan adanya penurunan sekresi saliva.7 Lama kerja terhadap efek tekanan darah bertahan sampai 1 jam pada pemberian parenteral dan dapat bertahan selama 4 jam pada pemberian secara oral. Perhatikanlah pupil sesudah satu menit dan ulangi jika diameter pupil belum berubah setelah 5 menit. Bahan dan Obat • penggaris • lampu senter • larutan pilokarpin 1% • larutan atropin sulfat 1% Cara Kerja 1. Periksalah hewan dalam keadaan penerangan yang cukup dan tetap.

• Atropin dan pilokarpin merupakan obat-obat yang memiliki efek antagonisme. 2. dalam hal ini antagonis kompetitif. untuk dapat melihat antagonis obat. • Pada pengujian refleks cahaya mata kelinci. 2002).5 mm Pembahasan 1. Hal ini berkaitan dengan pengaruh rute pemberian (tetes mata) dan dosis obat yang diberikan. Kesimpulan • Pemberian pilokarpin secara tetes mata pada kelinci menghasilkan efek miosis (mengecilnya diameter pupil mata) yang dapat dilihat secara visual dan dapat diukur serta peningkatan refleks mata terhadap cahaya yang ditandai dengan kecepatan mata berkedip.8 Larutan Atropin 1% Lebar pupil setelah ditetes pilokarpin 1% Lebar pupil setelah ditetes atropin 1% Lebar pupil saat disinar 8 mm 10 mm 9. yaitu reseptor muskarinik. Pilokarpin • Pada percobaan. yang ditandai dengan perlambatan kedipan mata (walaupun secara teori harusnya tidak ada refleks cahaya). Mekanisme kerjanya ialah atropin merupakan antagonis yang bekerja pada organ yang sama (reseptor yang sama) dengan pilokarpin. • Pemberian atropin secara tetes mata pada kelinci menghasilkan efek midriasis (membesarnya diameter pupil mata) yang dapat dilihat secara visual dan dapat diukur serta penurunan refleks mata terhadap cahaya. yaitu mengecilnya diameter pupil mata hewan percobaan (kelinci). mata dan saliva. hal ini sesuai dengan teori bahwa pilokarpin menimbulkan miosis dan menyebabkan peningkatan kepekaan mata terhadap cahaya. karena kerja pilokarpin sebagai obat golongan agonis muskarinik (agonis kolinergik yang sifatnya menyerupai asetilkolin). diperoleh hasil bahwa setelah pemberian pilokarpin. sedangkan konsentrasi-konsentrasi antagonis yang tinggi akan mencegah respons secara keseluruhan. segera terjadi efek yang berlawanan dengan pilokarpin. Hal ini adalah sesuai dengan teori. • Obat golongan kolinergik seperti pilokarpin dapat menimbulkan penurunan kontraksi otot siliaris mata sehingga menimbulkan efek miosis dengan cepat. yaitu terjadi efek midriasis (dilatasi pupil mata) sehingga diameter pupil mata kelinci yang mengecil kembali membesar. serta merangsang sekresi kelenjar yang terikat pada kelenjar keringat. Dalam suatu konsentrasi agonis tertentu. Sebaliknya konsentrasi agonis yang lebih tinggi. dapat mengatasi efek dari pemberian konsentrasi antagonis secara keseluruhan. (Tan. peningkatan konsentrasi antagonis kompetitif secara progresif menghambat respon dari agonis. obat yang pertama diberikan pada mata kelinci adalah pilokarpin. Atropin menduduki reseptor tetapi tidak menimbulkan aktivitas intrinsik. yang dapat menurunkan kontraksi otot siliaris dan tekanan intraokuler bola mata. • Berdasarkan percobaan didapat hasil bahwa pemberian tetes mata pilokarpin sebanyak 1 tetes menghasilkan efek miosis. Antagonis kompetitif memiliki sifat . yang dibantu oleh afinitas atropin-reseptor yang lebih kuat. Atropin bekerja dengan cara menginhibisi pilokarpin dari menduduki reseptor. Atropin • Pemberian tetes mata atropin dengan jumlah yang sama pada kelinci. refleks mata kelinci terhadap cahaya menjadi lebih cepat daripada respon normal (kelinci berkedip dengan cepat). yaitu Emax untuk agonis tetap sama pada setiap konsentrasi antagonis tertentu.

Apa yang dimaksud dengan reflex konsensual? 2. singkatnya asimilasi Atropin Atropin merupakan obat antikolinergik/parasimpatolitik. o Efek sistemiknya dapat menyebabkan efek nikotinik terutama menyebabkan rangsangan terhadap kelenjar keringat. Pilokarpin • Mekanisme kerja : o Sebagai miotikum. Saran • Sebaiknya pemberian obat lebih memperhitungkan dosis dan faktor kesalahan pemberian. Jelaskan indikasi dan kontraindikasi pilokarpin dan atropine! Jawaban: 1. Jelaskan efek lokal pilokarpin dan atropin pada pupil dan mekanisme kerjanya! 4. 3. agonis tersebut dapat kembali menduduki reseptor. karena melepaskan Asetilkolin di ujung-ujung neuron. yaitu senyawa parasimpatomimetik kerja langsung yang menyebabkan kontraksi sfinkter iris dan otot siliari. Menjawab Pertanyaan Pertanyaan: 1. Ikatan ester adalah esensial dalam ikatan yang efektif antara antikolinergik dengan reseptor asetilkolin. o Larutan tetes mata lebih dipilih ketika penurunan akut tekanan okular dan/ atau efek miotik yang intensif dibutuhkan seperti dalam penanganan darurat glaucoma . dengan mengusahakan jarak pengukuran yang hampir sama untuk setiap pengukuran. • Sebaiknya pengukuran dilakukan dengan tingkat ketelitian yang lebih tinggi. air mata dan ludah. 2. yang terjadi karena pupil sisi yang lain disoroti sinar lampu. Obat ini berikatan secara blokade kompetitif dengan asetilkolin dan mencegah aktivasi reseptor. Pilokarpin merupakan pilihan miotik yang pertama karena memberikan kontrol IOP yang bagus dengan efek samping yang relatif sedikit. dimana tugas utama SP adalah mengumpulkan energi dari makanan dan menghambat penggunaannya. yaitu adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi susunan parasimpatis (SP).9 reversibel sehingga apabila dosis dari agonis dapat ditingkatkan. Juga digunakan pada perawatan glaukoma noninflamatori sekunder. Pilokarpin Pilokarpin merupakan obat kolinergik/parasimpatikomimetika. Refleks konsensual atau refleks cahaya tak langsung adalah miosis pada pupil yang tidak disinari. o Mengurangi tekanan pada glaukoma sudut terbuka melawan efek sikloplegik.Antikolinergik adalah ester dari asam aromatik dikombinasikan dengan basa organik. Penurunan IOP dapat mencegah kerusakan saraf mata. sehingga respon farmakologis lebih mudah diamati. Penyinaran terhadap pupil sesisi akan menimbulkan miosis pada pupil kedua sisi. menghasilkan kontriksi pupil dan spasmus akomodasi. Efek selular dari asetilkolin yang diperantarai melalui second messenger seperti cyclic guanosine monophosphate (cGMP) dicegah. Reseptor jaringan bervariasi sensitivitasnya terhadap blockade. Miotik digunakan secara topikal pada mata untuk menurunkan tekanan intraokuler (IOP) pada perawatan glaukoma sudut terbuka primer. Jelaskan sistem saraf yang dipengaruhi oleh pilokarpin dan atropin! 3.

keracunan organofosfat • Kontraindikasi : Glaukoma sudut tertutup. kolitis ulserativa. Pada pasien dengan glaucoma . mata menjadi bereaksi terhadap cahaya dan sikloplegia (ketidakmapuan memfokus untuk penglihatan dekat). ileus paralitikum. o Memberi efek miotik untuk mengatasi midriasis yang disebabkan oleh atropin. MENJAWAB KASUS I Seorang gadis 12 tahun datang ke dokter dengan radang tenggorokan dan demam. III. radang akut segmen mata depan. atoni (tidak adanya ketegangan atau kekuatan otot) saluran pencernaan. ditemukan kondisi . Atropin menyekat reseptor muskarinik baik di sentral maupun di saraf tepi. o Menurunkan tekanan intraokular dan memberi efek miosis intensif sebelum pembedahan pada penanganan darurat glaukoma sudut terbuka. Pilokarpin • Indikasi: o Glaucoma sudut terbuka kronik. beberapa untuk glaucoma sekunder. • Efek lokal : Atropin menyekat semua aktivitas kolinergik pada mata sehingga menimbulkan midriasis (dilatasi pupil). dan penglihatan akan terpaku pada jarak tertentu sehingga sulit untuk memfokus suatu objek. radang uvea. Sekitar 5 menit kemudian. radang uvea akut. prosedur pemeriksaan refraksi. Dokter mendiagnosa sebagai faringitis akut yang disebabkan oleh Streptococcus beta-hemolyticus grup A. hernia hiatal. • Kontraindikasi: Radang iris akut. asma. tekanan intraokular akan meninggi dan membahayakan 4. penggunaan pasca bedah sudut tertutup tidak dianjurkan Atropin • Indikasi: Radang iris.10 sudut terbuka sebelum pembedahan. Kerja obat ini secara umum berlangsung sekitar 4 jam kecuali bila diteteskan ke dalam mata maka kerjanya akan berhari-hari. untuk reduksi tekanan okular dan perlindungan lensa mata sebelum goniotomy atau iridectomy atau untuk meringankan/ mengurangi efek midriatik dari agen-agen simpatomimetik. dimana obat ini terikat secara kompetitif sehingga mencegah asetilkolin terikat pada tempatnya di reseptor muskarinik.Pada mata akan terjadi spasmo akomodasi. miastenia gravis. penyakit hati dan ginjal yang serius. obstruksi/sumbatan saluran pencernaan dan saluran kemih. • Efek lokal: Kegunaan topikal pada kornea dapat menimbulkan miosis dengan cepat dan kontraksi otot siliaris. o Siklopedia pasca bedah atau prosedur pemeriksaan mata tertentu. Atropin • Mekanisme Kerja : Memiliki aktivitas kuat terhadap reseptor muskarinik. Ia diberikan injeksi Penisilin.

Pertanyaan : 1. Bagaimana mekanisme kerja epinefrin? 3. Epinefrin bekerja pada reseptor adrenergik α (α1 dan α) dan β (β1 dan β 2). • α1. • α2. mengurangi sekresi bronkus dan kongesti mukosa α1 SSP • Epinefrin menstimulasi reseptor α2 di SSP menyebabkan sedasi dan menurunkan simpatik outflow sehingga terjadi vasodilatasi perifer dan penurunan tekanan darah. FKUI . 4. • Suhu badan sedikit meningkat akibat vasokontriksi di kulit Pernapasan • Bronkodilatasi/ merelaksasikan otot bronkus (reseptor beta-2) • Antagonis fisiologis untuk mengurangi sesak dan dapat menghambat pengeluaran mediator inflamasi sel mast melalui reseptor β2 . kulit dingin. Proses metabolik • Menstimulasi glikogenolisis di sel hati dan otot rangka • Efek kalorigenik. tekanan darah turun sampai 70/20 mm Hg. memperkuat daya dan frekuensi kontraksi jantung • β2. Efek pemberian epinefrin yaitu : Kardiovaskular • Vasokontriksi pembuluh darah • Peningkatan aliran darah koroner. disatu pohak epinefrin cenderung menurunkan aliran darah koroner karena kompresi akibat peningkatan kontraksi otot. Karena epinefrin bekerja sangat cepat sebagai vasokonstriktor (pembuluh darah) dan bronkodilator (paru-paru) dibandingkan adrenergik lain. takikardia. Jakarta. Epinefrin akan menghilangkan sesak nafas akibat bronkokonstriksi dan meningkatkan denyut dan curah jantung dimana pada keadaan syok didapati penurunana frekuensi nadi.menghambat pelepasan noreadrenalin pada saraf-saraf adrenergik dengan efek menurunkan tekanan darah. dimana epinefrin meningkatkan pemakaian O2 sampai 30%. bronkodilatasi dan stimulasi metabolisme glikogen dan lemak 3. (2007). Apa sebabnya epinefrin merupakan obat terpilih untuk reaksi anafilaktik? 4. • Memperkuat kontraksi jantung dan mempercepat relaksasi relaksasi • Meningkatkan denyut jantung dan curah jantung. efek ini disebabkan oleh peningkatan katabolisme lemak. Sulistis Gan et all. Jelaskan efek pemberian pada kasus di atas! 2. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. DAFTAR PUSTAKA Gunawan .11 respiratory distress dan adanya wheezing. 2. Terangkan apa yang terjadi bila epinefrin diberikan pada syok hipovolemik? Jawaban : 1. Dokter kemudian mendiagnosa sebagai reaksi anafilaktik terhadap penisilin lalu memberikan injeksi epinefrin SC.mengaktivasi organ efektor seperti otot polos (vasokontriksi) dan sel-sel kelenjar dengan efek bertambahnya sekresi saliva dan keringat. • β1. serta peningkatan tekanan sistolik.

Jakarta : Gramedia Pustaka Umum.. Hoan. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. 2002. & Kirana R. Jakarta: Gramedia .12 Pearce. Tjay. Evelyn C. Tan. Obat-Obat Penting Edisi Kelima Cetakan Kedua. (2002).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful