1

TUGAS PRAKTIKUM FARMAKOLOGI BLOK SARAF DAN PERILAKU “OBAT OTONOM”

Oleh :

Keyko Septiyanti Widodo 1102010143

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI 2011/2012

disusul dengan blokade pelepasan ini. • Hambatan destruktif transmitor Kolinergik Antikolinesterase merupakan kelompok besar yang menghanbat destruksi Ach karena menghambat AChE. dll. Akibatnya terjadi blokadd adreergik akibat pengosongan depot NE di ujung saraf. atropine. Contoh obat adrenergik: guanetidin.2 OBAT OTONOM Dasar Teori Obat-obat otonom yaitu obat yang bekerja pada berbagai bagian susunan saraf otonom. klonidin. tetapui efek akibat hilangnya efek transmitor(karena tergeser transmitor dari reseptor) disebut antagonis atau bloker. efek yang terlihat dapat berlawanan. Obat yang hanya menduduki reseptor tanpa enimbulkan efek langsung. dan obat sejenisnya menyebabkan pelepasan NE yang relatif cepat dan singkat sehingga mengahasilkan efek simpatomimetik. Guanetidin dan bretilium juga mengganggu pelepasan dan penyimpanan NE. seperti dopa sendiri didekarboksilasi dan dihidroksilasi menjadi a-metil NE. tiramin. toksin botolinus. yaitu : • Hambatan pada sintesis atau pelepasan transmitor Kolinergik Hemikolinium menghaambat ambilan kolin ke dalam ujung saraf dan dengan demikian mengurangi sintesis Ach. Adrenergik Banyak obat dapat meningkakan pelepasan NE. amfetamin. Toksin tersebut memblok secara ireversibel pelepasan Ach dari gelembung saraf di ujung akson dan merupakan salah satu toksin paling potenn yang dikenal orang. Sebaliknya metildopa. .dll. Contoh obat kolinergik: hemikolinium. salbutamol. Tergantung dari kecepatan dan lamanya pelepasan. Adrenergik Metiltirosin memblok sintesis NE. • Menyebabkan pelepasan transmitor Kolinergik Racun laba-laba Black window menyebabkan pelepasan Ach(eksositosis) yang berlebihan. tetapi obat otonom mempengaruhinya secara spesifik dan bekerja pada dosis kecil. efedrin . trimetafan. penghambat dopa dekarboksilase. Tiramin. dengn akibat perangsangan berlebihan di reseptor muskarinik oleh Ach dan terjadinya perangsangan disusul blockade di reseptor nikotinik. mulai dari sel saraf sampai ke efektor. dengan memblok transport aktif NE ke dalam vesikel menyebabkan pelepasan NE secara lambat dari dalam vesikel ke aksoplasma sehingga NE dipecah oleh MAO. • Ikatan dengan reseptor Obat yang menduduki reseptor dan dapat menimbulkan efek yang mirip dengan efek transmitor disebut agonis. doxazosin. imipiramin. Toksin tetanus mempunyai mekanisme keraja yang serupa. Banyak obat dapat mempengaruhi organ otonom. Toksin botulinus n menghabat pelepasan Ach di semua saraf kolinergik sehingga dapat menyebabkan kematian akibat paralysis pernapasan perifer. pirenzepin. amfetamin. Sebaliknya reser pin. Cara Kerja Obat Otonom Terdapat beberapa kemungkinan pengaruh obat pada transmisi system kolinergik maupun adrenergik.

dll  Kerja langsung à Katekolamin  Adrenalin (epinefrin). Obat yang meniru efek perangsangan saraf simpatis.waktu singkat à Takifilaksis.  Onset lebih lambat.  Pemberian terus menerus. Klasifikasi Obat Otonom 1.  Menimbulkan efek adrenergik melalui pelepasan NE( nor epinefrin) yang tersimpan dalam ujung saraf adrenergik. Hambatan proses ini oleh kokain dan impiramin mendasari peningkatan respon terhadap perangsangan simpatis oleh obat tersebut. isoprenalin. Adrenergik ( Simpatomimetik) Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf simpatis. obat ini memperkuat epinefrin endogen tetapi tidak langsung mempengaruhi reseptor pasca sinaptik.3 Adrenergik Ambilan kembali NE setelah pelepasannya di ujung saraf merupakan mekanisme utama penghentian transmisi adrenergic. .  Kerja tidak langsung  Adrenergik bekerja tidak langsung menyebabkan pelepasan norepinefrin dari ujung pre sinaptik.  Amfetamin.α2. mis efedrin. dan efedrin. fenilefrin dll)  Efek yang ditimbulkan mirip perangsangan saraf adrenergik  Kebanyakan obat adrenergik bekerja scr langsung pada reseptor adrenergik  Reseptor simpatis yang berperan : α1. masa kerja lebih lama.β1 dan β2.

vasodilatasi dan penurunan tekanan darah o memperlambat pernafasan dengan menciutkan saluran nafas. meningkatkan sekresi dahak o kontraksi otot mata dengan miosis.  Efek samping kolinergik : mual. dll. keringat dan air mata. . Pentolinium.  Obat yang meniru efek bila saraf simpatis ditekan atau melawan efek adrenergik. bradikardi.  Obat yang meniru perangsangan dari saraf parasimpatis. sekresi ludah. muntah. Penghambat Adrenergik (Simpatolitik)  Efek obat golongan ini menghambat timbulnya efek akibat aktivitas saraf simpatis. mis propanolol.  Anti kolinergik yang bekerja pada reseptor muskarinik  Atropin. sekresi kel ludah. myastenia gravis. Kolinergik (Parasimpatomimetik)  Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf parasimpatis. dll o memperlambat sirkulasi darah dan mengurangi kegiatan jantung. dll  Klasifikasi berdasarkan tempat kerjanya terdiri dari : Antagonis adrenoseptor α( αBloker). Obat perangsang ganglion Nikotin b.  Penggunaan : glaukoma. Penghambat saraf adrenergik 3. Antagonis adrenoseptor β(β . menurunkan TIO dan memperlancar keluarnya air mata o Kontraksi kandung kemih dan ureter. bronkokonstriksi. Obat Ganglion Efek obat golongan ini merangsang atau menghambat penerusan impuls ganglion.4 2. cth pilokarpin. getah lambung. air mata. diare.Bloker). Penghambat Kolinergik( Parasimpatolitik)  Efek obat golongan ini menghambat timbulnya efek akibat aktivitas saraf parasimpatis. atonia 4. Terdiri dari : a. Ipratropium bromida  Efek sentral terhadap SSP à Merangsang pada dosis kecil Mendepresi pada dosis toksik  Efek farmakodinamik : Mengurangi sekresi saluran nafas. anti spasmodik. fisostigmin  Efek yang ditimbulkan : o stimulasi aktivitas sal cerna.dll  Indikasi: Intoksikasi insektisida organofosfat Asma Bronkial dll 5. Obat penghambat ganglion Heksametonium (C6).

Efedrin 25mg.5 mg. denyut nadi dan RR. 3. 1995. OP diminta meminum obat yang sudah disamarkan dengan segelas air putih (Plasebo. Pengukuran produksi saliva dengan menggunakan gelas ukur yang didalamnya sudah terisi air 20 ml terlebih dahulu. antikolinergik.5 mg. kemudian OP diminta berbaring. Gunawan. 2007) Tujuan Setelah praktikum mahasiswa dapat: 1. I. Menjelaskan dasar kerja obat yang digunakan pada praktikum ini. EFEK OBAT OTONOM PADA MANUSIA Alat dan bahan: • Metronom • Gelas ukur • Stop watch • Tensi meter • Stetoskop • Permen karet • Air 20 ml • Obat : Efedrin 25 mg. saliva dikumpulkan selama 5 menit. Cara kerja : 1. RR dan produksi saliva pada keadaan basal. Periksalah TD. Setelah itu OP diminta berlari ditempat mengikuti irama metronom selama 2 menit. OP diberikan permen karet setelah rasa manis permen karet hilang.5 (Pearce. Propanolol 10 mg.adrenergik dan anti adrenergik. Atropin 0. Setelah berlari di tempat OP berbaring dan diukur TD. Menjelaskan system saraf otonom 2. . 5. Propanolol 10mg). 4. Pemeriksaan dengan menggunakan uji tersamar ganda dengan 4 orang OP. 2. 4. Menjelaskan efek farmakodinamik obat otonom 3. Atropin 0. denyut nadi. Sulistis Gan et al. Menggolongkan obat otonom yang digunakan dalam praktikum ini ke dalam obat kolinergik. Evelyn C.

Pada menit ke 40. Hasil Percobaan dan Analisa Observasi Basal Post exercise Menit ke-20 Menit ke-40 Menit ke-60 Post exercise Tekanan darah 110/70 160/70 130/70 130/80 120/80 135/70 HR 70 90 84 72 68 Tabel 4. denyut nadi. Aliran darah ginjal dan viseral berkurang. terlihat adanya peningkatan tekanan sistolik darah. Pada menit ke 60. Denyut jantung mungkin tidak berubah akibat refleks kompensasi vagal terhadap kenaikan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah ini sebagian disebabkan oleh vasokonstriksi. Heart rate bertambah tetapi makin menurun dengan bertambahnya menit. hitung kembali TD. Setelah itu OP diminta berlari ditempat mengikuti irama metronom selama 2 menit dengan keadaan manset sudah terpasang. tetapi terutama oleh stimulasi jantung yang meningkatkan kekuatan kontraksi jantung dan curah jantung. 10. Setelah berlari ditempat. ukur TD.6 6. Mekanisme utama efek efedrin terhadap kardiovaskular adalah dengan meningkatkan kontraktilitas otot jantung (inotropik positif) dengan aktivasi reseptor β1 serta mempercepat kecepatan denyut jantung (kronotropik positif). Efedrin memiliki efek pada organ yakni: • Sistem Kardiovaskular Efek kardiovaskular efedrin menyerupai efek epinefrin tetapi berlangsung kira-kira 10 kali lebih lama. RR dan produksi saliva dengan keadaan OP tetap berbaring. Jadi obat yang diberikan adalah efedrin (adrenegik umum). totak dan otot rangka meningkat. Berbeda dengan Epinefrin. Tulislah hasil pemeriksaan efek dari tiap otonom dan plasebo pada keempat. denyut nadi. 8. hitung kembali TD. RR dan produksi saliva dengan keadaan OP tetap berbaring. sehingga tekanan nadi membesar. Hasil Observasi OP 1 RR Saliva 20 11 ml 16 16 20 8 ml 7 ml 6 ml Dari hasil pengamatan. Respiratory rate sempat menurun dan menjadi normal dikeadaan basal kembail dimenit ke-60. Dengan adanya antagonis reseptor β maka efek efedrin terhadap kardiovaskular adalah dengan stimulasi reseptor α. sedangkan aliran darah koroner. 9. Pada menit ke 20 setelah meminum obat. 7. . dan biasanya juga tekanan diastolik. Efek kardiovaskular tersebut pada reseptor α menyebabkan vasokonstriksi arteri dan vena di perifer. meski tidak diikuti oleh peningkatan diastolik dan meskipun ada peningkatan di menit ke-40. Efedrin juga meningkatkan pelepasan NE juga bekerja langsung pd α dan β. periksalah TD dan denyut nadi. Berbeda dengan Epinefrin. penurunan tekanan darah pada dosis rendah tidak nyata pada efedrin. RR dan produksi saliva dengan keadaan OP tetap berbaring. Maka disimpulkan yang bekerja adalah sistem simpatis. Tekanan sistolik meningkat. denyut nadi. penurunan tekanan darah pada dosis rendah tidak nyata pada efedrin.

• • Saluran Napas Merelaksasi otot bronkus melalui reseptor β2. Periksalah hewan dalam keadaan penerangan yang cukup dan tetap. Perhatikanlah lebar pupil sebelum dan sesudah dikenai sinar yang terang. II. Bronkodilatasi terjadi dalam 15-60 menit setelah pemberian oral dan bertahan selama 2-4 jam. Bronkorelaksasi oleh efedrin lebih lemah tetapi berlangsung lebih lama daripada oleh Epinefrin.7 Lama kerja terhadap efek tekanan darah bertahan sampai 1 jam pada pemberian parenteral dan dapat bertahan selama 4 jam pada pemberian secara oral. efedrin dapat menimbulkan relaksasi otot polos. Ukur lebar pupil dengan penggaris milimeter. Perlakukanlah hewan secara baik. Lihatlah reaksi pupil tersebut terhadap sinar. observasi pupil setiap satu menit dan ulangi penetesan setelah 5 menit jika perlu untuk menghasilkan midriasis. REAKSI PUPIL TERHADAP OBAT OTONOM Pupil merupakan organ yang yang baik dalam menunjukan efek lokal dari suatu obat. Perhatikanlah pupil sesudah satu menit dan ulangi jika diameter pupil belum berubah setelah 5 menit. Setelah terjadi miosis. Meskipun dalam percobaan tidak terjadi perubahan pada RR. Hasil observasi Larutan Pilokarpin 1% Lebar pupil sebelum ditetes pilokarpin 1% Lebar pupil setelah ditetes pilokarpin 1% 15 mm 8 mm . Pilihlah seekor kelinci putih dan taruhlah di atas meja. namun dengan melihat indikator lain. Bahan dan Obat • penggaris • lampu senter • larutan pilokarpin 1% • larutan atropin sulfat 1% Cara Kerja 1. karena obat yang diteteskan dalam saccus conjunctivalis dapat memeberi efek setempat yang nyata tanpa menunjukan efek sistemik. Rangsanglah kelinci dan catatlah lebar pupil dalam keadaan eksitasi. kita bisa menyimpulkan yang dipakai adalah efedrin Otot Polos Melalui reseptor α dan β. sekarang teteskan larutan 1% pada mata yang sama. sehingga memungkinkan adanya penurunan sekresi saliva. Ambil pilokarpin 1% dan teteskan pada bola mata kanan. 3. 2. Amati apakah refleks konsensual seperti yang terjadi pada manusia juga terjadi pada kelinci. 4. hal ini dimungkinkan oleh adanya faktor fisiologis atau kesalahan percobaan yang tidak bisa dinilai secara detil.

yaitu terjadi efek midriasis (dilatasi pupil mata) sehingga diameter pupil mata kelinci yang mengecil kembali membesar.8 Larutan Atropin 1% Lebar pupil setelah ditetes pilokarpin 1% Lebar pupil setelah ditetes atropin 1% Lebar pupil saat disinar 8 mm 10 mm 9. • Pemberian atropin secara tetes mata pada kelinci menghasilkan efek midriasis (membesarnya diameter pupil mata) yang dapat dilihat secara visual dan dapat diukur serta penurunan refleks mata terhadap cahaya. yang ditandai dengan perlambatan kedipan mata (walaupun secara teori harusnya tidak ada refleks cahaya). • Pada pengujian refleks cahaya mata kelinci. Atropin bekerja dengan cara menginhibisi pilokarpin dari menduduki reseptor. yang dibantu oleh afinitas atropin-reseptor yang lebih kuat. Mekanisme kerjanya ialah atropin merupakan antagonis yang bekerja pada organ yang sama (reseptor yang sama) dengan pilokarpin. serta merangsang sekresi kelenjar yang terikat pada kelenjar keringat. peningkatan konsentrasi antagonis kompetitif secara progresif menghambat respon dari agonis. segera terjadi efek yang berlawanan dengan pilokarpin. mata dan saliva. dapat mengatasi efek dari pemberian konsentrasi antagonis secara keseluruhan. Hal ini adalah sesuai dengan teori. Dalam suatu konsentrasi agonis tertentu. yaitu mengecilnya diameter pupil mata hewan percobaan (kelinci). obat yang pertama diberikan pada mata kelinci adalah pilokarpin. yaitu reseptor muskarinik. dalam hal ini antagonis kompetitif. Pilokarpin • Pada percobaan. sedangkan konsentrasi-konsentrasi antagonis yang tinggi akan mencegah respons secara keseluruhan. untuk dapat melihat antagonis obat. Atropin menduduki reseptor tetapi tidak menimbulkan aktivitas intrinsik. • Berdasarkan percobaan didapat hasil bahwa pemberian tetes mata pilokarpin sebanyak 1 tetes menghasilkan efek miosis. diperoleh hasil bahwa setelah pemberian pilokarpin. Hal ini berkaitan dengan pengaruh rute pemberian (tetes mata) dan dosis obat yang diberikan. 2. yaitu Emax untuk agonis tetap sama pada setiap konsentrasi antagonis tertentu. hal ini sesuai dengan teori bahwa pilokarpin menimbulkan miosis dan menyebabkan peningkatan kepekaan mata terhadap cahaya. yang dapat menurunkan kontraksi otot siliaris dan tekanan intraokuler bola mata. • Obat golongan kolinergik seperti pilokarpin dapat menimbulkan penurunan kontraksi otot siliaris mata sehingga menimbulkan efek miosis dengan cepat. (Tan. Sebaliknya konsentrasi agonis yang lebih tinggi. karena kerja pilokarpin sebagai obat golongan agonis muskarinik (agonis kolinergik yang sifatnya menyerupai asetilkolin). Atropin • Pemberian tetes mata atropin dengan jumlah yang sama pada kelinci. Antagonis kompetitif memiliki sifat . refleks mata kelinci terhadap cahaya menjadi lebih cepat daripada respon normal (kelinci berkedip dengan cepat).5 mm Pembahasan 1. 2002). • Atropin dan pilokarpin merupakan obat-obat yang memiliki efek antagonisme. Kesimpulan • Pemberian pilokarpin secara tetes mata pada kelinci menghasilkan efek miosis (mengecilnya diameter pupil mata) yang dapat dilihat secara visual dan dapat diukur serta peningkatan refleks mata terhadap cahaya yang ditandai dengan kecepatan mata berkedip.

9 reversibel sehingga apabila dosis dari agonis dapat ditingkatkan. karena melepaskan Asetilkolin di ujung-ujung neuron. Menjawab Pertanyaan Pertanyaan: 1. Refleks konsensual atau refleks cahaya tak langsung adalah miosis pada pupil yang tidak disinari. Jelaskan efek lokal pilokarpin dan atropin pada pupil dan mekanisme kerjanya! 4. Apa yang dimaksud dengan reflex konsensual? 2. Saran • Sebaiknya pemberian obat lebih memperhitungkan dosis dan faktor kesalahan pemberian.Antikolinergik adalah ester dari asam aromatik dikombinasikan dengan basa organik. dengan mengusahakan jarak pengukuran yang hampir sama untuk setiap pengukuran. yaitu adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi susunan parasimpatis (SP). Pilokarpin Pilokarpin merupakan obat kolinergik/parasimpatikomimetika. o Efek sistemiknya dapat menyebabkan efek nikotinik terutama menyebabkan rangsangan terhadap kelenjar keringat. singkatnya asimilasi Atropin Atropin merupakan obat antikolinergik/parasimpatolitik. 2. Ikatan ester adalah esensial dalam ikatan yang efektif antara antikolinergik dengan reseptor asetilkolin. dimana tugas utama SP adalah mengumpulkan energi dari makanan dan menghambat penggunaannya. Reseptor jaringan bervariasi sensitivitasnya terhadap blockade. Efek selular dari asetilkolin yang diperantarai melalui second messenger seperti cyclic guanosine monophosphate (cGMP) dicegah. Pilokarpin • Mekanisme kerja : o Sebagai miotikum. Pilokarpin merupakan pilihan miotik yang pertama karena memberikan kontrol IOP yang bagus dengan efek samping yang relatif sedikit. Juga digunakan pada perawatan glaukoma noninflamatori sekunder. Penyinaran terhadap pupil sesisi akan menimbulkan miosis pada pupil kedua sisi. yang terjadi karena pupil sisi yang lain disoroti sinar lampu. o Mengurangi tekanan pada glaukoma sudut terbuka melawan efek sikloplegik. o Larutan tetes mata lebih dipilih ketika penurunan akut tekanan okular dan/ atau efek miotik yang intensif dibutuhkan seperti dalam penanganan darurat glaucoma . Obat ini berikatan secara blokade kompetitif dengan asetilkolin dan mencegah aktivasi reseptor. Miotik digunakan secara topikal pada mata untuk menurunkan tekanan intraokuler (IOP) pada perawatan glaukoma sudut terbuka primer. Jelaskan sistem saraf yang dipengaruhi oleh pilokarpin dan atropin! 3. agonis tersebut dapat kembali menduduki reseptor. yaitu senyawa parasimpatomimetik kerja langsung yang menyebabkan kontraksi sfinkter iris dan otot siliari. menghasilkan kontriksi pupil dan spasmus akomodasi. Penurunan IOP dapat mencegah kerusakan saraf mata. 3. Jelaskan indikasi dan kontraindikasi pilokarpin dan atropine! Jawaban: 1. • Sebaiknya pengukuran dilakukan dengan tingkat ketelitian yang lebih tinggi. air mata dan ludah. sehingga respon farmakologis lebih mudah diamati.

prosedur pemeriksaan refraksi. o Menurunkan tekanan intraokular dan memberi efek miosis intensif sebelum pembedahan pada penanganan darurat glaukoma sudut terbuka. Sekitar 5 menit kemudian. ileus paralitikum. Dokter mendiagnosa sebagai faringitis akut yang disebabkan oleh Streptococcus beta-hemolyticus grup A. MENJAWAB KASUS I Seorang gadis 12 tahun datang ke dokter dengan radang tenggorokan dan demam. dimana obat ini terikat secara kompetitif sehingga mencegah asetilkolin terikat pada tempatnya di reseptor muskarinik. radang uvea akut. asma. penyakit hati dan ginjal yang serius. beberapa untuk glaucoma sekunder. III. Ia diberikan injeksi Penisilin.Pada mata akan terjadi spasmo akomodasi. radang uvea. • Kontraindikasi: Radang iris akut. Pilokarpin • Indikasi: o Glaucoma sudut terbuka kronik. miastenia gravis. Atropin menyekat reseptor muskarinik baik di sentral maupun di saraf tepi. • Efek lokal: Kegunaan topikal pada kornea dapat menimbulkan miosis dengan cepat dan kontraksi otot siliaris. radang akut segmen mata depan. penggunaan pasca bedah sudut tertutup tidak dianjurkan Atropin • Indikasi: Radang iris. untuk reduksi tekanan okular dan perlindungan lensa mata sebelum goniotomy atau iridectomy atau untuk meringankan/ mengurangi efek midriatik dari agen-agen simpatomimetik. atoni (tidak adanya ketegangan atau kekuatan otot) saluran pencernaan. ditemukan kondisi . keracunan organofosfat • Kontraindikasi : Glaukoma sudut tertutup. Pada pasien dengan glaucoma . tekanan intraokular akan meninggi dan membahayakan 4. mata menjadi bereaksi terhadap cahaya dan sikloplegia (ketidakmapuan memfokus untuk penglihatan dekat). o Siklopedia pasca bedah atau prosedur pemeriksaan mata tertentu. Kerja obat ini secara umum berlangsung sekitar 4 jam kecuali bila diteteskan ke dalam mata maka kerjanya akan berhari-hari. dan penglihatan akan terpaku pada jarak tertentu sehingga sulit untuk memfokus suatu objek.10 sudut terbuka sebelum pembedahan. hernia hiatal. obstruksi/sumbatan saluran pencernaan dan saluran kemih. • Efek lokal : Atropin menyekat semua aktivitas kolinergik pada mata sehingga menimbulkan midriasis (dilatasi pupil). Atropin • Mekanisme Kerja : Memiliki aktivitas kuat terhadap reseptor muskarinik. o Memberi efek miotik untuk mengatasi midriasis yang disebabkan oleh atropin. kolitis ulserativa.

• α1.11 respiratory distress dan adanya wheezing. Jelaskan efek pemberian pada kasus di atas! 2. Jakarta. disatu pohak epinefrin cenderung menurunkan aliran darah koroner karena kompresi akibat peningkatan kontraksi otot. serta peningkatan tekanan sistolik. Sulistis Gan et all. Terangkan apa yang terjadi bila epinefrin diberikan pada syok hipovolemik? Jawaban : 1.mengaktivasi organ efektor seperti otot polos (vasokontriksi) dan sel-sel kelenjar dengan efek bertambahnya sekresi saliva dan keringat. Proses metabolik • Menstimulasi glikogenolisis di sel hati dan otot rangka • Efek kalorigenik. 2. dimana epinefrin meningkatkan pemakaian O2 sampai 30%. • α2. Apa sebabnya epinefrin merupakan obat terpilih untuk reaksi anafilaktik? 4. memperkuat daya dan frekuensi kontraksi jantung • β2. 4. takikardia.menghambat pelepasan noreadrenalin pada saraf-saraf adrenergik dengan efek menurunkan tekanan darah. • Suhu badan sedikit meningkat akibat vasokontriksi di kulit Pernapasan • Bronkodilatasi/ merelaksasikan otot bronkus (reseptor beta-2) • Antagonis fisiologis untuk mengurangi sesak dan dapat menghambat pengeluaran mediator inflamasi sel mast melalui reseptor β2 . FKUI . DAFTAR PUSTAKA Gunawan . Dokter kemudian mendiagnosa sebagai reaksi anafilaktik terhadap penisilin lalu memberikan injeksi epinefrin SC. Efek pemberian epinefrin yaitu : Kardiovaskular • Vasokontriksi pembuluh darah • Peningkatan aliran darah koroner. (2007). mengurangi sekresi bronkus dan kongesti mukosa α1 SSP • Epinefrin menstimulasi reseptor α2 di SSP menyebabkan sedasi dan menurunkan simpatik outflow sehingga terjadi vasodilatasi perifer dan penurunan tekanan darah. tekanan darah turun sampai 70/20 mm Hg. efek ini disebabkan oleh peningkatan katabolisme lemak. Bagaimana mekanisme kerja epinefrin? 3. Pertanyaan : 1. kulit dingin. Karena epinefrin bekerja sangat cepat sebagai vasokonstriktor (pembuluh darah) dan bronkodilator (paru-paru) dibandingkan adrenergik lain. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. • β1. Epinefrin akan menghilangkan sesak nafas akibat bronkokonstriksi dan meningkatkan denyut dan curah jantung dimana pada keadaan syok didapati penurunana frekuensi nadi. Epinefrin bekerja pada reseptor adrenergik α (α1 dan α) dan β (β1 dan β 2). bronkodilatasi dan stimulasi metabolisme glikogen dan lemak 3. • Memperkuat kontraksi jantung dan mempercepat relaksasi relaksasi • Meningkatkan denyut jantung dan curah jantung.

Tjay. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis.. Jakarta: Gramedia . Hoan. Tan. 2002.12 Pearce. Evelyn C. Obat-Obat Penting Edisi Kelima Cetakan Kedua. Jakarta : Gramedia Pustaka Umum. & Kirana R. (2002).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful