Anda di halaman 1dari 5

PSIKOTIK

SKIZOFRENIA
DEFINISI Skizofrenia adalah gangguan psikotik berat. Gangguan psikotik merupakan gangguan psikologis berat yang ditandai dengan halusinasi dan kehilangan kontak dengan realitas. Skizofrenia menyebabkan gangguan yang khas dalam persepsi (halusinasi), berpikir (delusi), pembicaraan, emosi dan perilaku. Afek penderita tampak tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted). Secara kuantitatif, kesadaran masih jernih (clear consciousness) dan kemampuan intelektual biasanya masih terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat saja berkembang di kemudian hari.

GEJALA KLINIS Gejala Positif 1. Delusi 2. Halusinasi 3. Gejala disorganisasi bentuk dan isi pikiran 4. Disorganisasi dalam pembicaraan 5. Agitasi Gejala Negatif 1. Afek tumpul (blunted effect) 2. Menarik diri secara emosional maupun sosial 3. Sulit berpikr abstrak 4. Pikiran yang stereotype 5. Spontanitas berkurang 6. Alogia Defisiensi dalam jumlah atau isi

pembicaraan. Bila ditanya, pasien menjawab dengan jawaban pendek- pendek saja. 7. Avolisi Kehilangan minat untuk melakukan kegiatan, bahkan fungsi- fungsi dasar seharihari seperti makan, mandi dll. 8. Anhedonia Tiada perasaan senang. Pasien

skizofrenia tidak perduli terhadap kegiatan yang menyenangkan, termasuk makan,

interaksi sosial dan hubungan seksual.

KLASIFIKASI PPDGJ III 1. Skizofrenia paranoid 2. Skizofrenia hebrefenik 3. Skizofrenia katatonik 4. Skizofrenia tak tergolongkan 5. Post schizophrenic depression 6. Skizofrenia residual 7. Simple schizophrenia 8. Other schizophrenia DSM IV- TR 1. Skizofrenia paranoid 2. Skizofrenia hebrefenik 3. Skizofrenia katatonik 4. Skizofrenia tak tergolongkan 5. Skizofrenia residual

KRITERIA DIAGNOSTIK Pada skizofrenia harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan aspek perilaku pribadi. Perubahan itu berupa hilangnya minat, hidup tidak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri, penarikan diri secara sosial. Berdasarkan PPDGJ-III, kriteria untuk menegakkan diagnosis skizofrenia adalah apabila ditemukan satu gejala utama (a-d) secara jelas , atau dua dari gejala tambahan (f-h) apabila gejala utama kurang jelas. Gejala sudah berlangsung lebih dari 1 bulan dan pasien dalam keadaan kompos mentis. a. Terdapat gangguan isi pikiran, yakni pikiran yang bergema dan berulang- ulang (thought echo), penanaman pikiran (thought insertion) , penarikan pikiran (thought withdrawal), dan siar pikiran (thought broadcasting). b. Keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataannya atau tidak cocok dengan inteligensi dan latar belakang kebudayaannya meskipun sudah dibuktikan hal itu mustahil. Keyakinan tentang dirinya yang dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar (delusion of control). Waham yang lain dapat berupa waham tentang dirinya yang dipengaruhi oleh suatu kekuatan tetentu dari luar (delusion of influence), waham tentang dirinya yang tidak berdaya dan pasrah pada kekuatan tertentu dari luar (delusion of passivity), dapat pula berupa delusional perception suatu pengalaman inderawi yang tak

wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat. Tentang dirinya, hal ini dimaksudkan bahwasanya secara jelas hal tersebut merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tindakan atau penginderaan khusus. c. Halusinasi auditori. Dapat berupa suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien. Terkadang mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh. d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan ma-khluk asing dari dunia lain). e. Halusinasi yang menetap dari pancaindera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus-menerus. f. Arus pikiran yang terputus (blocking) atau yang mengalami sisipan, yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme. g. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas lilin, negativisme, mutisme, dan stupor. h. Gejala-gejala negatif, seperti sikap yang sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial. Tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika.

KRITERIA DIAGNOSTIK UNTUK SUBTIPE SKIZOFRENIA 1. Skizofrenia Paranoid

Gejala utama: halusinasi/waham menonjol seperti mengancam pasien/memberi perintah tanpa bentuk verbal berupa bunyi peluit, mendengung atau bunyi tawa. Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pem-bicaraan,gejala katatonik relative tidak nyata/tidak menonjol.

Gejala tambahan: epilepsi dan psikosis yang diinduksi oleh obat-obatan.

Pedoman diagnostik : memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia ditambah gangguan utama.

2. Skizofrenia Hebefrenik

Gejala utama : - Perilaku tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan, manerisme, menyendiri, hampa tujuan atau perasaan. - Afek dangkal dan tidak wajar, perasaan puas, senyum sendiri, tinggi hati ungkapan kata yang diulang dan disertai oleh cekikikan. - Proses pikir mengalami disorganisasi, pembicaraan tidak menentu serta inkoheren

Gejala tambahan : - Gangguan afektif, dorongan kehendak, dan proses pikir menonjol. - Halusinasi dan waham ada tapi tidak menonjol. - Adanya preokupasi dangkal yang bersifat dibuat-buat terutama yang bersifat abstrak

Pedoman diagnostik: pertama kali diberikan pada usia remaja/dewasa muda (biasa usia 15-25 tahun). 3. Skizofrenia Katatonik

Gejala utama : - Memiliki gambaran klinis stupor, gaduh-gelisah, menampilkan posisi tubuh tertentu dan mempertahankannya negatifisme, rigiditas, fleksibilitas cerea (waxy flexibility) serta command automatism (kepatuhan secara otomatis terhadap perintah) dan pengulangan kata serta kalimat. - Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolik atau alkohol dan obat-obatan serta dapat terjadi pada gangguan afektif.

Pedoman Diagnostik : memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia dan terdapat 1/lebih dari gangguan utama. Pada pasien yang tidak komunikatif, diagnosis skizofrenia harus ditunda sampai diperoleh bukti yang memadai tentang gejala lain. 4. Skizofrenia Tak Terinci Pedoman diagnostik: memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia. Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid dan katatonik. Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual/depresi pasca skizofrenia 5. Depresi Pasca Skizofrenia Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia diagnosis menjadi episode depresi Pedoman Diagnostik: pasien memenuhi kriteria skizofrenia selama 12 bulan terakhir ini. Beberapa gejala skizofren tetap ada tetapi tidak lagi mendominasi gambaran klinisnya.

Gejala gejala depresi menonjol dan mengganggu, memenuhi paling sedikit criteria episode depresif dalam kuru waktu paling sedikit 2 minggu 6. Skizofrenia Residual Pedoman diagnostik - Gejala negative dari skizofrenia yang menonjol, misalnya: perlambatan

psikomotorik dan aktifitas menurun. - Ada riwayat episode psikotik yang jelas dimasa lampau. - Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu 1 tahun dimana intensitas dan frekuensi telah sangat berkurang . - Tidak terdapat demensia /gangguan otak organik lain. 7. Skizofrenia Simpleks Gejala utama : kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan sub tipe skizofrenia lainnya Pedoman diagnostik : Diagnosisnya tergantung pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan progresif dari gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat halusinasi, waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik. Disertai perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna, kehilangan minat yang mencolok , tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup dan menarik diri secara sosial.