Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Transplantasi ginjal adalah pengambilan ginjal dari tubuh seseorang kemudian dicangkokkan ke dalam tubuh orang lain yang mengalami gangguan fungsi ginjal yang berat dan permanen. Saat ini, transplantasi ginjal merupakan terapi pilihan pada gagal ginjal kronik stadium akhir yang mampu memberikan kualitas hidup menjadi normal kembali. Transplanlatasi ginjal telah banyak dilaksanakan di seluruh dunia, sejumlah lebih dari 20.000 orang tiap tahun. Di Singapura telah dilakukan lebih dari 842 transplantasi ginjal dengan total donor cadaver 588 dan 282 donor hidup. Di Indonesia sejak tahun 1977 hingga sekarang baru mampu mengerjakan sekitar 300 lebih transplantasi. Hal ini disebabkan karena Indonesia masih menerapkan sistem donor hidup. Di Bali, selama enambelas tahun terakhir 46 pasien ( 35 orang laki-laki dan 11 orang perempuan ) penyakit ginjal stadium akhir menjalani transplantasi ginjal, sebagian besar diantaranya dikerjakan di luar negeri dengan menggunakan donor cadaver. Pada dasarnya tujuan utama transplantasi ginjal adalah untuk

meningkatkan kualitas hidup dan harapan hidup bagi penderita gagal ginjal. Kelangsungan hidup pasien-pasien transplantasi ginjal ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya adalah skrining penderita, persiapan pratransplantasi, pendekatan bedah yang diambil pada waktu transplantasi dan penatalaksanaan penderita paska transplantasi termasuk penggunaan obat-obat imunosupresif. Banyak komplikasi yang bisa terjadi pada pasien setelah transplantasi. Pasien dengan transplantasi ginjal dirawat di tempat terpisah dari pasien lain karena rentan terhadap infeksi. Jumlah pengunjung harus dibatasi, di beberapa pusat transplantasi ginjal, bunga dan buah tidak diijinkan karena bisa menjadi tempat bersarangnya bakteri. Masa rawat inap di rumah sakit tergantung pada seberapa baik ginjal telah bekerja dan terjadinya komplikasi. Dialisis mungkin diperlukan untuk beberapa hari atau minggu sampai ginjal berfungsi cukup untuk

menjaga tubuh dalam keseimbangan kimia yang baik. Rata-rata tinggal adalah 2-4 minggu tetapi dapat 2-3 bulan. Beberapa pasien dipulangkan lebih awal karena risiko infeksi di rumah sakit. Mereka perlu kembali tiap hari sebagai pasien rawat jalan selama 2-3 bulan. Perawat berperan sangat penting dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat mengancam kesehatan dan dalam menciptakan lingkungan tepat untuk pasien. Pendidikan kesehatan yang efektif dan dukungan yang disediakan merupakan agenda utama yang harus disiapkan. Caring merupakan salah satu atribut yang harus dimiliki oleh seorang perawat. Melalui perilaku caring perawat asuhan keperawatan akan terlaksana dengan baik. Pada makalah ini akan diuraikan caring yang harus diterapkan pada pasien setelah transplantasi ginjal. 1.2 Tujuan Makalah bertujuan untuk membahas tindakan caring yang harus dilakukan perawat pada pasien setalah transplantasi ginjal.

BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 Fokus Perawat Setelah Pasien Melakukan Transplantasi Ginjal 1. Immunosuppressive Medication Perawat harus memahami bahwa ginjal yang ditransplantasi merupakan benda asing yang dimasukkan kedalam tubuh si penerima, maka ada kemungkinan terjadi reaksi tubuh untuk menolak benda asing tersebut. Untuk mencegah terjadinya reaksi penolakan, pasien perlu mengonsumsi obat-obat antirejeksi atau imunosupresan setelah menjalani transplantasi ginjal. Obat-obat imunosupresan bekerja dengan jalan menekan sistem imun tubuh sehingga mengurangi risiko terjadinya reaksi penolakan tubuh terhadap ginjal cangkokan. Beberapa agen imunosupresive paling sering digunakan untuk post transplantasi Ginjal adalah : Ciclosporin dan tacrolimus Menghambat transkripsi Gen Interleukin-2 dan sitokin lainnya yang berperan penting dalam proses penolakan. Sitokin adalah molekul yang diproduksi oleh sel tubuh. Corticosteroid seperti prednisolone atau methylprednisolon,

menurunkan mobilitas lymposit, jumlah dan potensi pagosit melaui tindakan / aktivitas sitokin, sel T dan sel B Azathioprine adalah sebuah agen sitotoksik. Sebagai inhibitor DNA dan menghambat replikasi gen, sehingga mengganggu perkembangan

replikasi untuk aktivasi sel B dan sel T Mycophenolate mofetil acts sebagai enzim inhibitor untuk sintesis denovo purine, jalur ini terlibat dalam mensisntesis DNA dan menghambat leukosist. Penghambatan proliferasi sel B dan sel T adalah tindakan dari Azathioprine. Data menunjukkan bahwa 64% pasien tidak menggunakan obat imunosupresive dikarenakan efek samping obat tersebut. Efek samping dapat berupa tremor, meningkatkan berat badan serta menumbuhkan rambut diwajah,

serta menimbulkan jerawat. Efek lain cenderung lebih rahasia dan tersembunyi padahal potensial sangat berbahaya, termasuk resiko infeksi, maligna, keracunan nepron, dyslipidaemia, hipertensi dan Diabetes Mellitus. Untuk mengurangi efek samping yang tidak diinginkan dan mencegah terjadinya komplikasi pengobatan seperti resiko infeksi dan gastritis. Dari sebagian resep yang dituliskan beberapa bulan pertama setelah transplantasi, ditambahkan obat-obatan untuk melengkapi pengobatan pasien seperti: Ranitidin untuk mengantisipasi resiko peptic ulcer ketika penggunaan kortikosteroid dosis tinggi, dikonsumsi selama 3-6 bulan. Co-trimoxazole untuk mengantispasi resiko pneumonia, dikonsumsi selama 3-6 bulan. Amphotericin or nystatin untuk mengantisipasi kandidiasis oral, dikonsumsi 3-6 bulan. Isoniazid dan pyridoxine untuk pasien dengan riwayat TB paru, dikonsumsi selama 12 bulan. Bukan suatu hal yang mengejutkan bahwa penerima transplantasi harus mengkonsumsi banyak obat-obatan yang kadang membingungkan buat pasien. Ketidakcocokan ginjal tidak selalu terprediksi adakalanya terjadi ketidakcocokan akibat dari pasien yang tidak mengkonsumsi obat secara teratur. Dari data yang didapatkan bahwa 70% pasien yang mendapatkan pengobatan yang diminum satu kali sehari dengan sesuai, tetapi 20% ada yang mendapatkan pengobatan dengan dosis 4 kali sehari. Banyak hal yang menyebabkan pasien tidak patuh dalam mengkonsumsi obat-obatan yaitu karena menurunnya kemampuan fisik seperti kesulitan menelan, kurang nya pengetahuan, keterbatasan bahasa. Oleh karena itu perawat harus peka terhadap kondisi yang dihadapi pasien sehingga dapat membuat rencana asuhan keperawatan yang tepat sehingga pengobatan dapat berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.

2. Predicting non-concordance (Memprediksi ketidakcocokan ginjal) Dari pengkajian awal sebelum transplantasi dilakukan, seharusnya sudah didapatkan gambaran kelompok yang beresiko tinggi terjadi ketidakcocokan ginjal. Yang juga harus dijadikan pertimbangan adalah : Signs of previous non-concordance. Ketika terjadi ketidakcocokan dengan terapi dialisis tidak selalu berhubungan dengan ketidakcocokan

transplantasi ginjal, ini sangat penting untuk diketahui. Attendance at appointments. Adalah sangat berhubungan antara kecocokan medikasi dengan ketepatan pasien dalam menepati janji. Pasien yang

tidak selalu menepati janji dalam pengobatan harus menjadi perhatian penting karena beresiko untuk terjadi ketidakcocokan. Age of the patient. Beda usia pasti berbeda juga bentuk tingkah laku nya. Anak-anak cenderung kurang memahami dan tidak peduli, ketika remaja dan orang dewasa mengalami harga diri rendah karena berjuang membangun body image dan estetika yang terganngu akibat efek samping pengobatan. Data yang didapatkan usia 14-21tahun terjadi ketidakcocokan sebanyak 40-660% (Bunzel, 2000). Sementara orang tua lebih beresiko terjadi ketidakcocokan dikarenakan dementia yang dialaminya. 3. Strategi Koping Keberhasilan transplantasi merupakan tanggung jawab tim kesehatan, pasien dan bekerjasama dengan keluarganya. Menjelaskan kepada keluarga bahwa keuntungan dari transplantasi adalah meminimalkan pengeluaran dan bisa sehat secara ekonomi. Hal tersebut memotivasi pasien dan keluarganya untuk melakukan koping adaptif karena jika transplantasi ginjal berhasil, pasien dan keluarga juga diuntungkan secara ekonomi. 4. Edukasi dan Support Mempersiapkan perawat spesialis mempunyai peran yang sangat penting untuk memimpin dan memberikan edukasi dan dukungan pada pasien selama proses transplantasi dilakukan. Idealnya edukasi dimulai pada fase pengkajian pre

transplantasi, sebelum mendaftra untuk mencari donor organ atau persiapan untuk transplantasi dengan living donor. Adapun hal-hal yang harus dilakukan perawat adalah: Mendorong untuk mandiri untuk mengelola obat mereka sehingga mereka terbiasa dengan regimen pengobatan mereka. Dan pasien juga harus empelajari semua nama-nama obat mereka. Memberikan alat bantu visual seperti kartu obat yang sederhana untuk mengilustrasikan mana obat yang mau diambil dan kapan? Memberikan penjelasan intruksi pengobatan dan pemakain obat. Menjadikan informasi terdahulu menjadi patokan atau acuan. Dan mengoptimalkan kembali pemahaman akan concept informasi yang dianggap kurang memadai Menjelaskan aturan terhadap pasien rawat jalan: dengan lingkungan yang ideal, keahlian dalam mendeskripsikan/mendefinisikan, dengan didikan terus-menerus dapat menjadi dukungan dan arahan terhadap para pasien beserta keluarga pasien. Memfasilitasi untuk bergabung dengan group sebaya yang mempunyai pengalaman yang sama sehingga dapat saling bertukar pengalaman dan saling mendukung, seperti asosiasi/ perkumpulan pasien yang melakukan transplantasi ginjal. Melibatkan para apoteker beristegrasi dalam setiap kegiatan transplantasi dan harus terlibat juga di setiap kegiatan pra-transplantasi karena mereka dapat memberikan saran terkait dengan alternative pengobatan. Begitu juga dalam hal pemberian/pemilihan obat, para apoteker juga memberikan penjelasan yang akurat terhadap pasien yang kurang mampu (miskin). Memberikan informasi pasien juga apabila ada penangan baru atau tindak lanjut akan transplantasinya. Pasien juga harus memahami penjelasan dan aturan-aturan selama proses pengobatan dan mengikuti rawat jalan yang telah ditentukan. Sistem edukasi dan support harus konsisten dilakukan oleh tim klinik dan unit rujukan sehingga semua pasien dapat merasakan keuntungan yang sama.

5. Pre-assesment and Post-Transplant Surveillance (Pengkajian Awal yang Dilakukan untuk Mengawasi Pasien Post-Transplantasi) Pemantauan jangka panjang pada pasien setelah transplantasi ginjal adalah bagian yang paling penting. Pada periode awal pasien setelah transplantasi wajib kontrol secara teratur ke rumah sakit untuk rawat jalan. Frekuensi untuk kontrol ke rumah sakit pada fase post-operasi adalah bervariasi mulai dari dua kali seminggu sampai setiiap hari kontrol di minggu pertama, hingga nanti nya lebih berselang ketika graft function menjadi lebih stabil dan sampai terapi imunosuppressive sudah berjalan dengan baik. Tujuan nya adalah fungsi transplantasi menjadi optimal dan meminimalkan keracunan obat dan kelebihan immunisuppression dan resiko penyakit kardiovaskuler. Perawat spesialis dalam transplantasi dan referral nefrologi center

mempunyai cara kerja yang unik dan ketat dengan pasien penerima transplantasi untuk memonitor setiap tingkatan titrasi obat-obatan yang digunakan dalam terapi imunosuppressive, memeriksa setiap potensial efek samping yang ditimbulkan dan mengobservasi setiap interaksi antara obat-obatan yang digunakan yang

merugikan tubuh pasien. Pengaturan rawat jalan setelah transplantasi melibatkan pasien dan profesional healthcare dalam seluruh kebutuhan primer, sekunder dan tersier merawat untuk memastikan efektifnya komunikasi dan managemen pengobatan pada pasien. Dengan dukungan rekan medis, perawat bertanggung jawab mem follow up setelah transplantasi dan memberikan ruang terbaik dan membina hubungan dengan pasien. Pasien lebih sering terbuka kepada perawat ketika mereka lupa dengan dosis pengobatan atau merasa terbebani dengan banyak nya jumlah tablet obat yang harus mereka makan. Selanjutnya peran perawat adalah untuk meyakinkan pasien bahwa perawat mengerti perasaan mereka dan berusaha membantu mengatasi rasa takut dan masalah yang mereka hadapi. Perawat harus selalu berkomunikasi dengan petugas medis untuk melihat alternatif dosis pengobatan yang diresepkan untuk meminimalkan efek samping. Disini hubungan terapetik antara perawat dan

pasien sangat penting. Tanpa hubungan dengan tim health care pasien rentan untuk berhenti makan obat tanpa mengetahui efek yang ditimbulkan nya. Selama konsultasi di klinik perawat mengkaji bagaimana koping pasien dengan medikasi yang diberikan baik melalui diskusi atau menggunakan alat ukur seperti kuisioner, memberikan waktu yang spesifik. Ketidaksesuaian ginjal dapat terabaikan jika pasien tidak mengikuti kesepakatan untuk rawat jalan di klinik karena monitoring yang tidak teratur atau tidak terlaksana. a. Mengatasi deliberate non-concordance (ketidakcocokan yang sudah diprediksi) Pada kasus deliberate non-concordance, akan lebih efektif perawat merujuk kepada konselor untuk mendiskusikan hal tersebut. Pengkajian awal sebelum transplantasi untuk mengidentifikasi kemungkinan faktor presdisposisi untuk mendapatkan referensi yang mendukung dalam mengambil tindakan yang tepat. Memahami pola-pola yang memiliki sedikit kemungkinan ketidakcocokan di segala kelompok usia membantu profesional healthcare untuk meminitor pasien mereka lebih dekat dan menerapkan langkah-langkah sesuai dengan yang mereka butuhkan. b. Strategi untuk mengatasi unintentional non-concordance (ketidakcocokan yang tidak diprediksi) Salah satu strategi yang dapat diimplementasikan untuk mengatasi ketidakcocokan yang tidak diprediksi yang dihasilkan dari kelupaan dan disorganisasi. Tindakan terbaik mengarahkan untuk meminimalkan jumlah medikasi, frekuensi dosis, dan waktu administrasi dimana memungkinkan pasien untuk mengambil obat pada waktu dan hari yang sama. Boks tablet diberi label nama hari dalam seminggu pasien dapat menyimpan obat-obatan nya di tempat yang sama dan untuk melihat jika mereka lupa atau melewatkan salah satu obat nya. Pengingat yang sederhana seperti membuat alarm dan pengingat di telepon seluler, catatan kecil akan sangat membantu. Sebuah sirkuit mikroelektronik

tertanam di tutup botol tablet pasien yang merupakan tanda/register hari dan tanggal ketika botol dibuka, itu merupakan saran komersial yang dikembangkan untuk memonitor kesesuaian. Dengan asumsi obat diambil pertama kali ketika botol obat dibuka. Pasien yang terlibat disetiap langkah-langkah pengobatan secara penuh menginformasikan bahwa cara ini berhasil. Jika masalah

dikarenakan kesulitan menelan obat-obatan dapat di informasikan bahwa obatobatan juga tersedia dalam bentuk cairan. Pengawasan post-operative adalah sangat penting untuk memastikan keberhasilan jangka panjang sehingga transplantasi berfungsi tetapi juga meminimalkan resiko terkait yang menyebabkan kematian seperti hipertensi, malignancy dan kardiovaskular. Adakala nya pasien rawat jalan datang ke klinik dikaji hal yang spesifik, yang merupakan invertigasi rutin. Seperti format di jurnal (lihat di box1 jurnal dilampiran). c. Tekanan darah Pasien post transplantasi ginjal dianggap hipertensi jika Tekanan darah lebih besar dari 140/90 mmHg. Hipertensi adalah hal yang biasa terjadi pada pasien transplantasi ginjal dengan prevalensi 60-80%. Setengah dari pasien dengan functional renal graft baik mengalami hipertensi (baker, 2004). Faktor yang berkonstribusi meliputi : umur penerima dan donor ginjal, body mass index (BMI), kosumsi garam, stenosis transplantasi arteri renal, dan obat-obatan immunosuppressive. Kejadian hipertensi lebih tinggi pada pendonor ginjal dari yang telah meninggal dibandingkan pendonor yang masih hidup (kassiske, 2004). Nepropaty alegraft kronik penyebab tersering hipertensi setelah

transplantasi (baker, 2004). Agen immunisupresan seperti kortikosteroid dan calcineurin inhibitors, juga menyebabkan hipertensi setelah transplantasi dan insiden nya meningkat dari 20%- 60-90% sesudah era ciclosporin (baker, 2004). Untuk itu diminimalkan memberikan calcineurin inhibitor dan kartikosteroid, monitoring tekanan darah teratur selama 24 jam dan merubah gaya hidup seperti merokok, mengurangi berat badan, mengurangi konsumsi garam, hanya

mengkonsumsi sesuatu yng dianggap bermanfaat. Perawat mempunyai peran penting dalam memberikan informasi, saran dan dukungan adalah kuncinya. d. Malignancy Prevalensi terjadi tumor pada penerima transplantasi sekitar 20-30% dari semuanya (Sweny, 2004). Yang paling sering terjadi adalah post-transplant lymphoproliferative disease (PTLD) dan karsinoma sel squamous. Terapi Immunosuppressive dan faktor lingkungan seperti paparan sinar UV

meningkatkan resiko berkembangnya maligna (Sweny, 2004). Pengawasan secara teratur menggunakan pendekatan kolektif untuk mendapat riwayat, pemeriksaan fisik, dan mengobservasi tanda-tanda yang terlihat sebagai upaya pencegahan. Pada PLTD pengawasan nya direkomendasikan setiap 3 bulan sejak tahun pertama transplantasi sampe tahun tahun berikutnya (Sweny, 2004). Peran perawat adalah mendorong kesadaran pribadi dan untuk

memberikan informasi tentang metode pencegahan primer seperti menghindari sinar matahari secara langsung dengan cara memakai pakaian yang memprotektif sinar matahari dan sunscreen. Dibanyak pusat transplantasi menyediakan akses untuk ke dematologis sesuai dengan minat pasien. Yang berguna untuk mendeteksi awal terjadinya kanker kulit dan pengobatannya. Dari banyak kasus malignancy, immunsuppressive dikurangi , dan ada beberapa obat tersebut yang berinteraksi dengan agent cytotoxic yang dihentikan. e. Cardiovascular disease Accelerated cardiovascular diseases (CVD) adalah penyebab terbesar kematian pada pasien transplantasi ginjal. Terjadi peningkatan 10 kali lipat kematian karena CVD (european jurnal, 2000). Namun resiko relatif kematian pada CVD di dialisi ginjal lebih besar dari populasi transplantasi (Meier-Kriesche et ll 2004). Banyak faktor penyebab CVD hampir sama dengan populasi pada umumnya seperti merokok, obesitas, gender, lifestyle. Yang dapat dilakukan perawat adalah mempengaruhi pasien dan menyadarkan agar memodifikasi gaya hidup dan mengukur apa saja yang bisa diimplementasikan untuk mengurangi faktor resiko.

f. Kontrasepsi dan kehamilan Kesuburan dan kehamilan dipengaruhi secara significant pada pria dan wanita dengan gagal ginjal stadium akhir yang tergantung dari dialisis dan pembuahan perempuan sangat sulit terjadi (Hou, 2007). Transplantasi bisa dengan cepat mengembalikan fertilitas dan fungsi reproduksi dengan siklus ovulasi dimulai satu atau dua bulan setelah functional graft membaik (Hou, 2003). Penerima transplantasi ginjal oleh karena itu butuh saran tentang kontrasepsi yang cocok yang direncanakan dari rumah sakit untuk menghindari kehamilan yang tidak direncanakan. Perawat transplantasi merupakan orang yang paling tepat memberikan konseling awal dan menegaskan kembali ketika pasien sudah rawat jalan. Kehamilan biasanya akan berhasil dan harus mempertimbangkan manajemen pengobatan rutin jangka panjang penerima transplantasi. Ada sekitar 14.000 anak dilahirkan dari perempuan penerima transplantasi ginjal, dengan angka kehidupan sekitar 90% kehamilan harus ditangani oleh obsetric yang berpengalaman, neonatal dan nephrologi care (Lipkin, 2008). Perubahan fisiologi pada ibu hamil juga berpengaruh pada allograft ginjal, plasma volume dan cardiac output meningkat 40-50% dengan 30% peningkatan sel darah merah. Ginjal yang ditransplantasi juga merespon kehamilan sama dengan ginjal normal dengan peningkatan 50% GFR dan peningkatan aliran darah renal 80%. Kehamilan mempertimbangkan keamanan dan kestabilan perempuan dan fungsi ginjalsudah baik, tetapi pasien disarankan untuk menunggu 2 tahun sesudah tranplantasi sebelum hamil (fisher, 2005). Keterbatasan data mengenai kontrasepsi yang digunakan pada penerima transplantasi. Kontrasepsi yang ideal dan aman dan efektif meminimalkan interaksi dengan pengobatan adalah dengan metode barrier untuk laki-laki

(kondom) tetapi metode ini sering inadekuat karena tingkat kegagalannya tinggi sehingga dapat menyebabkan kehamilan bagi penerima transplantasi perempuan. Progesteron Mini pil menjadi metode alternatif, namun progesteron dapat meningkatkan ciclosporin dan tingkat tacrolimus jadi keduanya harus dimonitor, tetapi metode ini diketahui efektif. Spermicides meningkatkan resiko infeksi

urinary pada perempuan. Sementara IUD (Intra Uterine Devices) fungsinya kan berkurang karena immunosuppression. g. Menyusui. The british national formulary (2008) menyatakan bahwa obat-obatan yang diberikan kepada ibu kemungkinan berefek kepada bayi, namun informasi yang tersedia tentang itu sangat terbatas. Namun demikian, data menunjukkan perpindahan prednisolon, azathioprine, ciclosporin dan tacrolimus sangat rendah melalui ASI(Briggs et all, 2005).

BAB 3 KESIMPULAN

Perawat berperan penting dalam keberhasilan transplantasi ginjal, yaitu untuk membantu pasien dan keluarganya memahami proses transplantasi dan kemungkinan ketidakcocokan ginjal. Edukasi dan support yang diberikan perawat berpengaruh untuk meningkatkan kualitas hidup pasien setalah transplantasi ginjal. Untuk lebih efektifnya, peran perawat dimulai dari klinik pada fase persiapan, sebelum transplantasi dilakukan dan berlanjut mengawasi setelah pasien kembali kerumah dan kontrol untuk rawat jalan bahkan sepanjang hidupnya. Keterikatan antara pasien, keluarganya dan tim kesehatan sangat penting untuk meningkatkan keberhasilan transplantasi dan meningkatkan kualitas hidup pada setiap penerima transplantasi.

DAFTAR PUSTAKA

McPake D, Burnapp L .(2009). Caring for patients after kidney transplantation. Nursing Standard. 23,19, 49-57 Magee CC, Pascual M. (2004). Update in renal transplantation. Arch Intern Med;164:1373-88. Markum HMS. (2006) Perkembangan transplantasi ginjal di indonesia. Majalah PAPDI 2006;6:25-30. Sjabani HM, Asdie HAH, Bayupurnama P. (1996). Selintas tentang transplantasi ginjal. Yogyakarta: Yayasan transplantasi Organ Yogyakarta, 1- 27. Thye WK.(1998). Renal transplantation. Clinical nephrology. Singapore: Singapore University Press;316-37.