Anda di halaman 1dari 8

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 25 /PJ/2012 TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-23/PJ/2012 TENTANG TATA CARA PENETAPAN SECARA JABATAN ATAS JUMLAH BIAYA YANG DIKELUARKAN DAN/ATAU YANG DIBAYARKAN UNTUK MEMBANGUN BANGUNAN DALAM RANGKA KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Menirnbang: bahwa untuk lebih memberikan kepastian hukum dalam rangka penetapan secara jabatan Pajak Pertambahan Nilai terutang atas kegiatan membangun sendiri dan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6 dan Pasal 11 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 163/PMK.03/2012 tentang Batasan dan Tata Cara Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai atas Kegiatan Membangun Sendiri, perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tentang Perubahan atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-23 / PJ/ 2012 tentang Tata Cara Penetapan Secara Jabatan atas Jumlah Biaya yang Dikeluarkan dan/ atau yang Dibayarkan Untuk Membangun Bangunan dalam Rangka Kegiatan Membangun Sendiri; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999); 2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3264) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UndangUndang Nomor 42 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5069); 3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 163/PMK.03/2012 tentang Batasan dan Tata Cara Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai atas Kegiatan Membangun Sendiri; 4. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER 23/ PJ/ 2012 Tentang Tata Cara Penetapan Secara Jabatan Atas Jumlah Biaya Yang Dikeluarkan Dan/ Atau Yang Dibayarkan Untuk Membangun
Bangunan Dalam Rangka Kegiatan Membangun Sendiri; 7
,

MEMUTUSKAN...

-2-

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-23/ PJ / 2012 TENTANG TATA CARA PENETAPAN SECARA JABATAN ATAS JUMLAH BIAYA YANG DIKELUARKAN DAN/ ATAU YANG DIBAYARKAN UNTUK MEMBANGUN BANGUNAN DALAM RANGKA KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI. Pasal I Mengubah ketentuan Pasal 2 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-23/PJ/2012 Tentang Tata Cara Penetapan Secara Jabatan Atas Jumlah Biaya Yang Dikeluarkan Dan/ Atau Yang Dibayarkan Untuk Membangun Bangunan Dalam Rangka Kegiatan Membangun Sendiri, sehingga keseluruhan Pasal 2 berbunyi sebagai berikut: Pasal 2 (1) Dalam hal orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri tidak atau kurang menyetorkan ke Kas Negara Pajak Pertambahan Nilai terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, Direktorat Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar berdasarkan hasil pemeriksaan atau verifikasi. (2) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan atau verifikasi, orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri tidak memberikan data atau bukti pendukung biaya yang dikeluarkan dan/ atau yang dibayarkan untuk membangun bangunan, maka jumlah biaya yang dikeluarkan dan/ atau yang dibayarkan untuk membangun bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ditetapkan secara jabatan berdasarkan nilai terendah dari data Harga Satuan Bangunan Gedung Negara (HSBGN) masing-masing daerah sesuai Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/ PRT/ M/2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara dan perubahannya. Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan atau verifikasi, orang (3) pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri memberikan data atau bukti pendukung biaya yang dikeluarkan dan/ atau yang dibayarkan untuk membangun bangunan, namun tidak benar atau tidak lengkap, sehingga: a. jumlah biaya yang dikeluarkan dan/ atau yang dibayarkan untuk membangun bangunan lebih rendah dari nilai terendah data Harga Satuan Bangunan Gedung Negara (HSBGN), maka penetapan secara jabatan dihitung berdasarkan data nilai terendah data Harga Satuan Bangunan Gedung Negara (HSBGN) tersebut; atau b. jumlah biaya yang dikeluarkan dan/ atau yang dibayarkan untuk membangun bangunan lebih tinggi dari nilai terendah data Harga Satuan Bangunan Gedung Negara (HSBGN), maka penetapan secara jabatan dihitung berdasarkan data atau bukti pendukung biaya yang dikeluarkan dan/ atau yang dibayarkan untuk membangun bangunan. (4) Penetapan...

-3(4) Penetapan secara jabatan berdasarkan nilai terendah dari data Harga Satuan Bangunan Gedung Negara (HSBGN) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) huruf a mengacu pada Pedoman Penggunaan Harga Satuan Bangunan Gedung Negara (HSBGN) Dalam Rangka Penetapan Secara Jabatan Jumlah Biaya yang Dikeluarkan dan/ atau yang Dibayarkan untuk Membangun Bangunan yang Digunakan untuk Menghitung Kewajiban Pajak Pertambahan Nilai atas Kegiatan Membangun Sendiri sebagaimana terdapat dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini. Pasal II Pada saat Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku, Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-27 / PJ/ 2010 Tentang Tata Cara Pengisian Surat Setoran Pajak, Pelaporan, dan Pengawasan Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai atas Kegiatan Membangun Sendiri dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal III Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada saat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 163 / PMK.03/ 2012 tentang Batasan dan Tata Cara Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai atas Kegiatan Membangun Sendiri diberlakukan.

Ditetapkan di Jakarta ada tanggal 22 November 2012 TUR JENDERAL PAJAK,

5411111981121001

LAMPI RAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER/PJ/2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-23/PJ/ 2012 TENTANG TATA CARA PENETAPAN SECARA JABATAN ATAS JUMLAH BIAYA YANG DIKELUARKAN DAN/ ATAU YANG DIBAYARKAN UNTUK MEMBANGUN BANGUNAN DALAM RANGKA KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI

25

PEDOMAN PENGGUNAAN HARGA SATUAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA (HSBGN) DALAM RANGKA PENETAPAN SECARA JABATAN JUMLAH BIAYA YANG DIKELUARKAN DAN/ATAU YANG DIBAYARKAN UNTUK MEMBANGUN BANGUNAN YANG DIGUNAKAN UNTUK MENGHITUNG KEWAJIBAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI A. PEDOMAN UMUM 1. Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai atas Kegiatan Membangun Sendiri (DPP PPN KMS) dihitung dengan cara mengalikan angka 20% (dua puluh persen) dengan jumlah biaya yang dikeluarkan dan/atau yang dibayarkan untuk membangun bangunan, menggunakan formula perhitungan sebagai berikut: DPP PPN KMS = 20% x Jumlah biaya yang dikeluarkan dan/atau yang dibayarkan untuk membangun bangunan

2. Nilai Terendah Harga Satuan Tertinggi Berdasarkan Klasifikasi Bangunan Gedung Negara adalah nilai sesuai tabel yang tercantum dalam Daftar Harga Satuan Tertinggi berdasarkan klasifikasi Bangunan Gedung Negara, mengacu pada kolom harga satuan yang memiliki harga per m2 terendah di antara harga per m 2 semua tipe dan klasifikasi bangunan yang tercantum di HSBGN. 3. Dalam hal data HSBGN belum diterbitkan oleh Pihak yang berwenang untuk periode/ tahun didirikannya bangunan, maka data HSBGN yang digunakan adalah data HSBGN periode/tahun sebelumnya yang telah tersedia. 4. Dalam hal data HSBGN di suatu kota/kabupaten belum tersedia, maka digunakan data HSBGN yang berlaku di kota/kabupaten terdekat dengan kota/kabupaten tempat didirikannya bangunan. 5. Luas Bangunan Keseluruhan adalah jumlah luas lantai bangunan termasuk teras, balkon dan bangunan tambahan lainnya. 6. Koefisien Jumlah Lantai bangunan adalah faktor pengali sesuai dengan tabel berdasarkan variasi jumlah lantai bangunan. 7. Jumlah biaya yang dikeluarkan dan/atau yang dibayarkan untuk membangun bangunan yang digunakan sebagai DPP PPN KMS dihitung dengan cara mengalikan nilai terendah Harga Satuan Bangunan Gedung Negara berikut Koefisien Jumlah Lantai Bangunan dengan luas bangunan keseluruhan objek PPN KMS, menggunakan formula perhitungan sebagai berikut: x Koefisien x Luas biaya = Nilai Jumlah Bangunan Terendah yang dikeluarkan Keseluruhan Harga Satuan yang dan/ atau Tertinggi dibayarkan untuk Berdasarkan membangun Klasifikasi bangunan Bangunan Gedung Negara MENENTUKAN...

-2B. MENENTUKAN HARGA TERENDAH DARI DATA HARGA SATUAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA (HSBGN) CONTOH Diketahui Data Harga Satuan Bangunan Gedung Negara (HSBGN) di Kabupaten A, Propinsi BB untuk Tahun Anggaran 2013 adalah sebagai berikut:
HARGA GEDUNG PER M 2 GEDUNG TIDAK BERTINGKAT KLASIFIKASI KLASIFIKASI BANGUNAN BANGUNAN TIDAK SEDERHANA SEDERHANA (4) (3) Rp3.339.000,00 Rp4.676.000,00 RUMAH NEGARA TIPE B

GEDUNG BERTINGKAT

KLASIFIKASI BANGUNAN SEDERHANA (1) Rp4.553.000,00

KLASIFIKASI BANGUNAN TIDAK SEDERHANA (2) Rp6.374.000,00

TIPE A

TIPE C

(5)

(6) Rp3.805.000,00

(7) Rp3.004.000,00

Rp3.805.000,00

Penentuan harga terendah dari data HSBGN tersebut diatas adalah sebagai berikut:
HARUA (..ibllUINU 1-'1'_,t< 1V1'

GEDUNG BERTINGKAT KLASIFIKASI KLASIFIKASI BANGUNAN BANGUNAN TIDAK SEDERHANA SEDERHANA (2) (1) Rp4.553.000,00 Rp6,374.000,00

GEDUNG TIDAK BERTINGKAT KLASIFIKASI KLASIFIKASI BANGUNAN BANGUNAN TIDAK SEDERHANA SEDERHANA (4) (3) Rp3.339.000,00 Rp4.676.000,00

RUMAH NEGARA
TIPE A TIPE B

TIPE C

(5) Rp3.805.000,00

(6) Rp3.805,000,00

(7 )
Rp3.004.000,00

Maka harga bangunan per m 2 terendah dari data HSBGN untuk semua jenis bangunan (rumah tinggal, gedung bertingkat, gedung tidak bertingkat, dan bangunan lainnya) yang didirikan di wilayah Kabupaten A, Propinsi BB ditentukan sebesar Rp.3.004.000,00

9.

C. FORMULA...

-3-

C. FORMULA PERHITUNGAN UNTUK BANGUNAN BERDASARKAN JUMLAH LANTAI

TABEL KOEFISIEN PERHITUNGAN HARGA PER M 2 TERHADPJUML NTIBAGU


No Jumlah Lantai Bangunan Koefisien untuk Perhitungan Harga Per
m2

Formula Perhitungan Harga Per m2

1 2 3 4 5 6 7 8

Bangunan 1 Lantai Bangunan 2 Lantai Bangunan 3 Lantai Bangunan 4 Lantai Bangunan 5 Lantai Bangunan 6 Lantai Bangunan 7 Lantai Bangunan 8 Lantai atau lebih

1,000 1,090 1,120 1,135 1,162 1,197 1,236 1,265

Nilai Terendah HSBGN x 1,000 x luas bangunan Nilai Terendah HSBGN x 1,090 x luas bangunan Nilai Terendah HSBGN x 1,120 x luas bangunan Nilai Terendah HSBGN x 1,135 x luas bangunan Nilai Terendah HSBGN x 1,162 x luas bangunan Nilai Terendah HSBGN x 1,197 x luas bangunan Nilai Terendah HSBGN x 1,236 x luas bangunan Nilai Terendah HSBGN x 1,265 x luas bangunan

D. CONTOH...

-4D. CONTOH PENGGUNAAN HARGA SATUAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA (HSBGN) SEBAGAI DASAR PENETAPAN SECARA JABATAN ATAS JUMLAH BIAYA YANG DIKELUARKAN DAN/ATAU YANG DIBAYARKAN UNTUK MEMBANGUN BANGUNAN CONTOH 1 HARGA SATUAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA (HSBGN) A KABUPATEN BB PROPINSI 2013 TAHUN ANGGARAN
: : :

1-1A.Kukk UnIJUINU

nrr,

redc.

GEDUNG BERTINGKAT KLASIFIKASI KLASIFIKASI BANGUNAN BANGUNAN TIDAK SEDERHANA SEDERHANA (2) (1) Rp4.553.000,00
Kpb.,5/4"),00

GEDUNG TIDAK BERTINGKAT KLASIFIKASI KLASIFIKASI BANGUNAN BANGUNAN TIDAK SEDERHANA SEDERHANA (4) (3) .3.000,00
Dn i d A7A

TIPE A

RUMAH NEGARA TIPE B

TIPE C

(5) PrIA R05.000.00

(6) Rp3.805.000,00

(7)
Rp3.004.000,00

nnn nn

Berdasarkan identifikasi Objek PPN KMS diketahui: : Kabupaten A, Propinsi BB a. Alamat Objek PPN KMS : Februari 2013 b. Saat dimulai bangunan : Desember 2013 c. Saat selesai dibangun : 1 (satu) lantai d. Jumlah lantai struktur e. Jumlah lantai basement 240 m2 f. Luas lantai struktur :Hunia g. Fungsi bangunan Berdasarkan ketentuan Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, maka harga per m2 yang dipergunakan adalah Rp 3.004.000,00 Mengingat jumlah lantai bangunan tersebut adalah 1 (satu) lantai, maka koefisien yang digunakan adalah 1,000 Sehingga perhitungan secara jabatan biaya yang dikeluarkan dan/atau dibayarkan untuk membangun bangunan atas objek tersebut di atas adalah sebagai berikut: = Rp. 3.004.000,00 x 1,000 x 240m 2 = Rp. 720.960.000,00

CONTOH 2...

-5CONTOH 2 HARGA SATUAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA (HSBGN) :A KABUPATEN : BB PROPINSI : 2014 TAHUN ANGGARAN
HARGA GEDUNG PER M2

GEDUNG BERTINGKAT KLASIFIKASI KLASIFIKASI BANGUNAN BANGUNAN TIDAK SEDERHANA SEDERHANA


(1
)

GEDUNG TIDAK BERTINGKAT KLASIFIKASI KLASIFIKASI BANGUNAN BANGUNAN TIDAK SEDERHANA SEDERHANA
(3)

TIPE A

RUMAH NEGARA TIPE B

TIPE C

(2) Rn6 692 700 00

(4)
Rp4.909.800,00

(5)
Rp3.995.250,00

(6)

(7 )

p,sa 7Rn hsn nn

RD3.505.950 00

Rp3.995.250,00

Rp3.154.200,00

Berdasarkan identifikasi Objek PPN KMS diketahui: : Kabupaten A, Propinsi BB a. Alamat Objek PPN KMS : Maret 2013 b. Saat dimulai bangunan : Februari 2014 c. Saat selesai dibangun : 3 (tiga) lantai d. Jumlah lantai struktur e. Jumlah lantai basement 500 m 2 f. Luas lantai struktur : Usaha g. Fungsi bangunan Berdasarkan ketentuan Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, maka harga per m2 yang dipergunakan adalah Rp 3.154.200,00 Mengingat jumlah lantai bangunan tersebut adalah 3 (tiga) lantai, maka koefisien yang digunakan adalah 1,120 Sehingga perhitungan secara jabatan biaya yang dikeluarkan dan/atau dibayarkan untuk membangun bangunan atas objek tersebut di atas adalah sebagai berikut: = Rp. 3.154.200,00 x 1,120 x 500 m 2 = Rp. 1.766.352.000,00

KTUR JENDERAL PAJAK,

RAHMANY C4 5411111981121001