Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Beranjak dari dasar-dasar pemikiran tersebut diatas maka penulis melakukan penelitian pada daerah pegunungan atau bisa dikatakan kompleks gunung api di dataran tinggi Dieng, Provinsi Jawa Tengah.

Namun demikian, keberhasilan berupa kelancaran dan kesuksesan ini tak terlepas dari petunjuk serta rahmat dari Allah SWT, dimana karena pertolonganNYA lah sehingga penelitian ini dapat sampai pada tahap akhir yaitu penyusunan laporan, maka dari itu penulis mengucapkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya, Semoga RahmatNYA Selalu tercurah kepada umat manusia, Amin.

Selain dari pada itu, tak lupa pula penulis panjatkan salawat dan salam kepada junjungan kita Rasulullah SAW, karena beliaulah seorang insan yang dengan susah payah tanpa kenal lelah untuk mengajak serta menuntun manusia dari Alam gelap gulita ke Alam terang Benderang.

Terakhir penulis secara khusus mengucapkan rasa hormat serta terima kasih yang sedalam dalamnya kepada Kedua orang tua yang telah susah payah melahirkan dan membesarkan penulis sampai saat sekarang dengan tak kenal lelah dengan penuh keikhlasan serta Para sahabat dan teman-teman akrab yang tak hentihentinya memberikan bantuan baik moral maupun material, rasa terima kasih serta hormatku kuhaturkan secara khusus kepada Ayahandaku Tercinta Almarhum Drs. Untung Parman M,M., Serta ibunda yang sangat kusayangi Nurmiati Iring Spd, SD. Serta kawan-kawan dan sahabat yang sangat berperan secara penuh dalam memberi bantuan dengan bentuk apapun sehingga selesailah pembuatan makalah ilmiah ini, sekali lagi secara khusus saya ucapkan terima kasih yang sedalam dalamnya, semoga rahmat Allah SWT terus menerus tercurah tanpa putus sedikitpun kepada kalian semua, Amin.

Bandung, 3 Mei 2013

Penulis,

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah

Persoalan-persoalan ketenagakerjaan di Indonesia merupakan masalah nasional yang memang sangat kompleks. Namun masalah pengupahan menjadi masalah utama yang tidak pernah ada habisnya. Selama ini pemerintah memandang masalah ketenagakerjaan hanya pada bagaimana menangani masalah surpus labour ataupun masalah angkatan kerja yang semakin membludak namun kesempatan kerja yang tersedia sangatlah terbatas. Sehingga hal-hal yang berkaitan dengan perlindungan, dan perbaikan kesejahteraan buruh ditinggalkan begitu saja. Termasuk masalah pengupahan yang masih jauh dari concern pemerintah, hal ini dapat dilihat dari kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah belum mampu menampung dan menyelesaikan masalah pengupahan yang dihadapi buruh.

Isu upah memang merupakan isu panas sejak dulu. Hari ini, penentuan upah di daerah ( Kabupaten/Kota) adalah medan perang paling nyata bagi para buruh. Upah jelas lebih merupakan isu eksistensial bagi buruh, yang sungguh nyata dan sungguh penting. Setiap tahunnya tuntutan-tuntutan dan aspirasi buruh selalu diteriakkan lewat media perjuangan mereka yaitu melalui serikat-serikat pekerja/buruh yang mewakili kepentingan mereka. Perbaikan kesejahteraan buruh menjadi tuntutan utama para buruh yang menginginkan adanya perubahan kehidupan yang lebih layak demi kelangsungan hidup mereka. Hal ini akan menjadi masalah yang komleks jika dikaitkan dengan tingkat kebutuhan buruh yang tidak sesuai dengan tingkat upah yang mereka terima. Tingkat kebutuhan yang semakin meningkat dan mahal harus dipenuhi dengan upah yang rendah.

Di Indonesia sendiri masalah upah masih menjadi masalah yang membutuhkan perhatian lebih dalam penyelesaiannya, mengingat masalah upah merupakan

masalah teratas yang terjadi dalam ketenagakerjaan. Pengupahan menjadi masalah utama dalam ketenagakerjaan tidak lain karena disebabkan masih rendahnya tingkat upah di Indonesia. Penelitian TURC (Trade Union Rights Centre) menyebutkan pada 1997 upah minimum buruh mampu membeli 350 kg beras (dengan harga beras Rp700 rupiah per kilogram pada tahun itu), sedangkan upah minimum buruh 2008 hanya mampu untuk membeli beras sebanyak 160 kilogram beras (dengan asumsi harga beras Rp 5.000 per kg di tahun ini). Ini bermakna upah riil buruh berkurang hampir 50 %. Penelitian INDOC juga menyatakan upah buruh Indonesia kini sangat rendah, hanya berkisar 5% sampai 6% dari biaya produksi. Data yang diperoleh dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi menyatakan upah buruh hanya menghabiskan 25 persen dari total komponen pengeluaran perusahaan, yang 60 persen adalah biaya produksi, 15 persen lain uang siluman yang terus-menerus dilakukan oknum aparat pemerintah.

I.2 Dasar Pemikiran

Penulis dalam menuangkan tulisan ini adalah berdasar pada hal-hal pokok yang dijadikan acuan sebagai berikut :

1. UU No. 3/1992 meliputi JKK, JK, JHT, JPK. Yaitu Setiap pekerja wajib mendapatkan perlindungan melalui program Jamsostek 2. berdasarkan Uundang Undang Repoblik indonesia Nomor 13 tahun 2003 3. , berdasarkan Peraturan Menakertrans No. 24 tahun 2006 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Jamsostek bagi Tenaga Kerja yang Melakukan pekerjaan di Luar Hubungan Kerja (TKLHK)

BAB II PERSOALAN PERSOALAN EKONOMI, SOSIAL POLITIK DAN BUDAYA

II.1 Persoalan Ekonomi Subsisdi untuk Bahan Bakar Minyak, listrik dan jaminan sosial sebagai penunjang kehidupan masyarakat dari tahun ke tahun semakin bertambah, hal tersebut membuat anggaran pendapatan dan belanja negara sebagian akan terpakai untuk subsidi tersebut, maka akan menimbulkan Tingkat pendapatan nasional yang sebenarnya lebih rendah daripada tingkat pendapatan nasional potensial, serta Berkurangnya kegiatan ekonomi pemerintah karena pajak yang harus dibayar oleh masyarakat menurun akibat turunnya pendapatan masyarakat, sehingga kegiatan pembangunan pun akan terus menurun.

Deangan banyaknya pengangguran yang notabenenya adalah masyarakat yang dapat digunakan sebagai pekerja namun tidak bekerja menimbulkan beberapa dampak, salah satunya adalah berkurangnya pendapatan negara karena sebagian masyarakatnya tidak bekerja.

II.2 Persoalan Sosial Politik Persoalan sosial sangat lah rentang akan kurang produktifnya masyarakat dalam hal mata pencaharian, Hal tersebut sangat lah rasional mengingat pada kondisi-kondisi tersebut tingkat mental maupun kejiwaan seseorang akan rentang dan berpotensi mengarah pada hal-hal negatif, yang dimana nantinya persoalan-persoalan sosial tersebut akan smakin membuat kondisi kenegaraan semakin buruk, karena akan berhadapan dengan tingkat ekonomi menurun, tingkat kesehatan serta angka kejahatan

bertambah,

Menimbulkan

kekacauan

sosial

dan

politik,

seperti

demonstrasi dan perebutan kekuasaan.

Intinya, Karena orang yang menanggur tidak mendapatkan penghasilan, maka mereka akan menjadi miskin. Karena itu, seseorang dapat melakukan apa saja untuk mendapatkan kebutuhannya, seperti mencuri, merampok, pungutan liar, penipuan dan lain-lain.

II.3 Persoalan Budaya Pada Dasarnya tingkat kekacauan pada suatu negara secara umum berawal dari tingkat terpenuhi atau tidaknya individu, kebutuhan pokok masyarakat ataupun

Masalah pengangguran yang paling utama adalah meningkatnya angka kemiskinan. Orang yang menganggur tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika angka pengangguran semakin meningkat, tentu angka kemiskinan pun akan meningkat, karena sebagian dari masyarakat suatu negara ada yang mengenggur, maka hal tersebut memicu persoalan- persoalan budaya seperti : Tingkat kemakmuran yang dapat dinikmati masyarakat lebih rendah daripada tingkat kemakmuran yang mungkin dicapainya. Kepada seseorang, pengangguran dapat menyebabkan kehilangan kepercayaan diri dan menimbulkan perselisihan dalam keluarga. Berkemangnya komunitas pemabuk, penjudi, dan memicu konflik antar individu maupun masyarakat Tidak ada rasa aman, nyaman dan tenrtam pada suatu wilayah. Mengurangi kesehatan masyarakat karena tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan yang bergizi dan membeli obat apabila sakit.

BAB III JENIS JENIS PEKERJA FORMAL DAN INFORMAL

Tenaga kerja merupakan penduduk yang berada dalam usia kerja. Menurut UU No. 13 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Secara garis besar penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Penduduk tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut telah memasuki usia kerja. Batas usia kerja yang berlaku di Indonesia adalah berumur 15 tahun 64 tahun. Menurut pengertian ini, setiap orang yang mampu bekerja disebut sebagai tenaga kerja. Ada banyak pendapat mengenai usia dari para tenaga kerja ini, ada yang menyebutkan di atas 17 tahun ada pula yang menyebutkan di atas 20 tahun, bahkan ada yang menyebutkan di atas 7 tahun karena anak-anak jalanan sudah termasuk tenaga kerja.

Status pekerjaan adalah jenis kedudukan seseorang dalam melakukan pekerjaan di suatu unit usaha/kegiatan. Mulai tahun 2001 status pekerjaan dibedakan menjadi 7 kategori yaitu:

a. Berusaha sendiri, adalah bekerja atau berusaha dengan menanggung resiko secara ekonomis, yaitu dengan tidak kembalinya ongkos produksi yang telah dikeluarkan dalam rangka usahanya tersebut, serta tidak menggunakan pekerja dibayar, termasuk yang sifat pekerjaannya memerlukan teknologi atau keahlian khusus.

b. Berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tak dibayar, adalah bekerja atau berusaha atas resiko sendiri, dan menggunakan buruh/pekerja tidak tetap.

c. Berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar, adalah berusaha atas resiko sendiri dan mempekerjakan paling sedikit satu orang buruh/pekerja tetap yang dibayar. d. Buruh/Karyawan/Pegawai, adalah seseorang yang bekerja pada orang lain atau instansi/kantor/perusahaan secara tetap dengan menerima upah/gaji baik berupa uang maupun barang. Buruh yang tidak mempunyai majikan tetap, tidak digolongkan sebagai buruh/karyawan, tetapi sebagai pekerja bebas. Seseorang dianggap memiliki majikan tetap jika memiliki 1 (satu) majikan (orang/rumah tangga) yang sama dalam sebulan terakhir, khusus pada sektor bangunan batasannya tiga bulan. Apabila majikannya instansi/lembaga, boleh lebih dari satu. e. Pekerja bebas di pertanian, adalah seseorang yang bekerja pada orang lain/majikan/institusi yang tidak tetap (lebih dari satu majikan dalam sebulan terakhir) di usaha pertanian baik berupa usaha rumah tangga maupun bukan usaha rumah tangga atas dasar balas jasa dengan menerima upah atau imbalan baik berupa uang maupun barang, dan baik dengan system pembayaran harian maupun borongan. Usaha pertanian meliputi: pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan dan perburuan, termasuk juga jasa pertanian. f. Pekerja bebas di non pertanian adalah seseorang yang bekerja pada orang lain/majikan/institusi yang tidak tetap (lebih dari 1 majikan dalam sebulan terakhir), di usaha non pertanian dengan menerima upah atau imbalan baik berupa uang maupun barang dan baik dengan sistem pembayaran harian maupun borongan.

Usaha non pertanian meliputi: usaha di sektor pertambangan, industri, listrik, gas dan air, sektor konstruksi/bangunan, sektor perdagangan, sektor angkutan, pergudangan dan komunikasi, sektor keuangan, asuransi, usaha persewaan bangunan, tanah dan jasa perusahaan, sektor jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan.

g. Pekerja tak dibayar adalah seseorang yang bekerja membantu orang lain yang berusaha dengan tidak mendapat upah/gaji, naik berupa uang maupun barang. Pekerja tak dibayar tersebut dapat terdiri dari:

1. Anggota rumah tangga dari orang yang dibantunya, seperti istri/anak yang membantu suaminya/ayahnya bekerja di sawah.

2. Bukan anggota rumah tangga tatapi keluarga dari orang yang dibantunya, seperti famili yang membantu melayani penjualan di warung.

3. Bukan anggota rumah tangga dan bukan keluarga dari orang yang membantu menganyam topi pada industru rumah tangga tetangganya.

Tiga macam status pekerjaan yaitu berusaha sendiri tanpa dibantu orang lain, berusaha dengan dibantu anggota rumah tangga/buruh tidak tetap, pekerja keluarga, sering dipakai sebagai proksi pekerja sektor informal. Sedangkan dua status pekerjaan yang lain, yaitu buruh/karyawan, berusaha dengan buruh tetap, dianggap sebagai proksi pekerja sektor formal.

Pengelompokkan definisi formal dan informal menurut Hendri Saparini dan M. Chatib Basri dari Universitas Indonesia menyebutkan bahwa ciri-ciri tenaga kerja sektor informal adalah sebagai berikut.

a. Tenaga kerja bekerja pada segala jenis pekerjaan tanpa ada perlindungan negara dan atas usaha tersebut tidak dikenakan pajak.

b. Pekerja tidak menghasilkan pendapatan yang tetap,

c. Tempat bekerja tidak terdapat keamanan kerja (job security)

d. Tempat bekerja tidak ada status permanen atas pekerjaan tersebut dan unit usaha atau lembaga yang tidak berbadan hukum.

Sedangkan ciri-ciri kegiatan informal adalah mudah masuk, artinya setiap orang dapat kapan saja masuk ke jenis usaha informal ini, bersandar pada sumber daya lokal, biasanya usaha milik keluarga, operasi skala kecil, padat karya, keterampilan diperoleh dari luar sistem formal sekolah dan tidak diatur dan pasar yang kompetitif. Contoh dari jenis kegiatan sektor informal antara lain pedagang kaki lima (PKL), becak, penata parkir, pengamen dan anak jalanan, pedagang pasar, buruh tani dan lainnya.

Disisi lain, pekerja manajerial (white collar) yang merepresentasikan pekerja sektor formal terdiri dari tenaga professional, teknisi dan sejenisnya, tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan, tenaga tata usaha dan sejenisnya, tenaga usaha penjualan, tenaga usaha jasa. Pada beberapa tahun terakhir tercermin adanya kecenderungan penurunan peran pekerja pekerja informal (blue collar) dan sedikit peningkatan pekerja pekerja formal (white collar). Ini merupakan sinyal kemajuan perekonomian dan juga kemajuan pendidikan karena pekerja white collar secara umum membutuhkan tingkat pendidikan yang memadai.

BAB IV TENAGA KERJA LUAR HUBUNGAN KERJA

Pengertian Tenaga Kerja yang melakukan pekerjaan di Luar Hubungan Kerja (LHK) adalah orang yang berusaha sendiri yang pada umumnya bekerja pada usaha-usaha ekonomi informal.

Tujuan

Memberikan perlindungan jaminan sosial bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di luar hubungan kerja pada saat tenaga kerja tersebut kehilangan sebagian atau seluruh penghasilannya sebagai akibat terjadinya risiko-risiko antara lain kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua dan meninggal dunia.

Memperluas cakupan kepesertaan program jaminan sosial tenaga kerja

Jenis Program & Manfaat (sesuai PP 14/1993):

Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), terdiri dari biaya pengangkutan tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja, biaya perawatan medis, biaya rehabilitasi, penggantian upah Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB), santunan cacat tetap sebagian, santunan cacat total tetap, santunan kematian (sesuai label), biaya pemakaman, santunan berkala bagi yang meninggal dunia dan cacat total tetap

Jaminan Kematian (JK), terdiri dari biaya pemakaman dan santunan berkala

Jaminan Hari Tua (JHT), terdiri dari keseluruhan iuran yang telah disetor, beserta hasil pengembangannya

Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK), terdiri dari rawat jalan tingkat pertama meliputi: pemeriksaan dan pengobatan dokter umum dan dokter gigi, pemeriksaan diberikan dalam bentuk tindakan medis sederhana; rawat inap; pertolongan persalinan; penunjang diagnostic berupa pemeriksaan laboratorium, radiologi, EEG dsb; pelayanan khusus berupa penggantian biaya prothese, orthose dan kacamata; dan pelayanan gawat darurat

Kepesertaan

Sukarela Usia maksimal 55 tahun Dapat mengikuti program Jamsostek secara bertahap dengan memilih program sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta

Dapat mendaftar sendiri langsung ke PT Jamsostek (Persero) atau mendaftar melalui wadah/kelompok yang telah melakukan Ikatan Kerjasama (IKS) dengan PT Jamsostek (Persero)

Iuran Iuran TK LHK ditetapkan berdasarkan nilai nominal tertentu berdasarkan upah sekurang-kurangnya setara dengan Upah Minimum Provinsi/Kabupaten/Kota

Besaran Iuran No Program 1. 2. 3. 4. Jaminan Kecelakaan Kerja Jaminan Hari Tua Jaminan Kematian Jaminan Pemeliharaan Kesehatan 3% (Lajang) Ket: Iuran ditanggung sepenuhnya oleh peserta Persentase 1% 2% (Minimal) 0.3% 6% (Keluarga)

Cara Pembayaran

Setiap bulan atau setiap tiga bulan dibayar di depan Dibayarkan langsung oleh peserta sendiri atau melalui Penanggung Jawab Wadah/Kelompok secara lunas

Pembayaran iuran melalui Wadah/Kelompok dibayarkan pada tanggal 10 bulan berjalan disetorkan ke Wadah/Kelompok, dan tanggal 13 bulan berjalan Wadah/Kelompok setor ke PT Jamsostek (Pesero)

Pembayaran iuran secara langsung oleh Peserta baik secara bulanan maupun secara tiga bulanan dan disetor paling lambat tanggal 15 bulan berjalan

Dalam

hal

peserta

menunggak

iuran,

masih

diberikan grace

periode selama 1 (satu) bulan untuk mendapatkan hak jaminan program yang diikuti

Peserta yang telah kehilangan hak jaminan dapat memperoleh haknya kembali jika peserta kembali membayar iuran termasuk satu bulan iuran yang tertunggak dalam masa grace periode

BAB V KESIMPULAN

Pada dasarnya Pemerintah pun telah menyadari akan Sangat pentingnya suatu pengawasan maupun pembinaan masyarakat yang termasuk dalam kategori Tenaga Kerja Luar Hubungan Kerja (TKLHK), diamana hal tersebut bertujuan untuk mengangkat taraf hidup masyarakat khususnya dibidang ekonomi, yang nantinya akan berpengaruh positif pada kehidupan ekonomi suatu negara.

Namun program pemerintah dalam menaikkan taraf hidup rakyatnya tidak dapat berjalan secara baik sesuai tujuan jika tidak disertai dengan sebuah dukungan berupa antisipatif terhadap keadaan-keadaan ataupun kondisi sosial seperti kesehatan, dana pensiun, maupun tunjangan kematian pada para tenaga kerja khususnya tenaga kerja luar hubungan kerja/ tenaga kerja non formal.

Berdasarkan pemikiran diatas maka pemerintah melalui keputusan menteri yaitu Per 24/MEN/VI/2006, merumuskan program yang dilaksanakan oleh PT. Jamsostek berupa pengorganisasian Pembinaan dan Penyelenggaraan Program jamsostek pada masyarakat yang masuk dalam kategori Tenaga Kerja Luar hubungan Kerja agar supaya kepastian mata pencaharian serta jaminan hidup mereka semakin jelas, maka dari itu diharapkan program tersebut dapat terlaksana dengan baik sehinnga menjadikan suatu masyarakat yang adil, makmur, dan terjamin hidupnya.