Anda di halaman 1dari 35

Kompleks Gunung Dieng. [Gunung tua yang sedang bergolak].

Posted on 30 Mei 2011 by Rovicky

8 Votes

Dataran tinggi Dieng lebih dikenal sebagai lokasi wisata ketimbang sebuah kompleks gunungapi tua dengan segala seluk beluknya. Secara geologi Dieng merupakan sebuah kompleks gunungapi tua yang berada di Jawa Tengah.Lokasi wisata ini sudah dikenal didalam maupun luar negeri. Berita tentang naiknya status Waspada (level 3) kompleks Gunung Dieng ini tentunya banyak mengundang pertanyaan. Apa sebenernya kompleks gunung Dieng ini. Menurut catatan VSI (Vulkanological Survey Indonesia) kompleks gunungapi ini dikenal dengan :

Nama : G. Dieng (Nama Lain : Gunung Parahu) Lokasi : Koordinati : 712 LS dan 10954 BT . Nama kota Dieng Kulon. Kota terdekat Banjar-negara (kota Kabupaten) Ketinggian : 2565 m. dpl. Tipe Gunungapi : Strato, dengan lapangan solfatara dan fumarola, serta banyak kawah (cone).

Wah, Dieng kan lokasi Wisata Pakdhe. Mosok bisa meletus ? Thole perlu dimengerti juga bahwa bahaya Gunungapi atau Vulkan itu selain letusannya juga kegiatan letusa freatik yang berupa keluarnya gas beracun seperti di Kompleks Gunungapi Dieng ini.

Bahaya gas beracun

Kawah Sinila yang pernah mengeluarkan gas beracun pada tahun 1979 Gunungapi Dieng memang berupa kompleks gunung api yang memiliki banyak kawah. Diantaranya nama kawahnya adalah : Timbang, Sikidang, Upas, Sileri, Condrodimuko, Sibanteng dan Telogo Terus. Yang membahayakan dari Gunung Dieng ini adalah hembusan gas beracun yang berupa CO2. Emisi gas yang dihasilkan oleh beberapa kawah sudah diketahui sejak lama (Bemmelen, 1949; Allard dkk., 1989). Pada tahun 1979, terjadi erupsi freatik pada kawah Sinila, menghasilkan gas-gas, hususnya CO2. Akumulasi gas CO2 yang cukup tinggi tersebut bergerak menuruni lereng dan lembah serta meliwati jalan perkampungan, menyebabkan terbunuhnya 142 penduduk yang tinggal disekitar daerah letusan tersebut. Sejarah Geologi Kawasan Gunung Dieng Kegiatan gunungapi pada komplek G.Dieng dari yang tua hingga yang termuda dapat dibagi dalam tiga episoda yang didasarkan pada umur relatif, sisa morfologi, tingkat erosi, hubungan stratigrafi dan tingkat pelapukan.

Peta kawah-kawah di Kompleks Gunung Dieng Formasi pra Kaldera, dindikasikan oleh kegiatan vulkanik dari Rogo Jembangan, Tlerep, Djimat dan vulkanik Prau. Produknya tersebar dibagian luar dari komplek Dieng. Formasi setelah Kaldera, diperlihatkan oleh aktivitas vulkanik yang berada didalam kaldera. Diantaranya, Bisma-Sidede, Seroja, Nagasari, Pangonan, Igir Binem dan Vulkanik Pager Kandang. Produknya berupa piroklastik jatuhan yang menyelimuti hampir seluruh daerah, dikenal juga sebagai endapan piroklastik daerah Dieng yang tak terpisahkan. Kegiatan saat ini ditandai oleh lava berkomposisi biotit andesit berasosiasi dengan jatuhan piroklastik. Aktivitas terahir ditandai oleh erupsi-erupsi preatik. Pakdhe, Biotit itu nama apa to ? Namanya lutju, tapi aku kan ngga tahu. Mbok sesekali dicritakan, Pakdhe Thole , Biotit, Hornblende, itu nama mineral. Kalau Andesit itu nama batuan. Ya wis nanti dongeng terpisah ya. Episoda pertama (Formasi Pra Kaldera) Produk piroklastika Rogojembangan (Djimat) menutupi daerah utara dan selatan komplek, kemungkinan terbentuk pada Kuarter bawah (Gunawan, 1968).

Kawah Tlerep yang terdapat pada batas timur memperlihat terbuka kearah selatan membentuk struktur dome berkomposisi hornblende andesit. Krater vulkanik Prau terletak kearah utara dari Tlerep.Setengah dari kawah bagian barat membentuk struktur kaldera. Prau vulkanik menghasilkan endapan piroklastik dan lava andesit basaltis. Episoda ke dua

Peta Bencana Sinila 1979 Beberapa aktivitas vulkanik berkembang didalam kaldera, diantaranya:

G. Bisma, yaitu kawah tua yang terpotong membuka kearah barat, dengan produknya berupa lava dan jatuhan piroklastik. G. Seroja memperlihatkan umur lebih muda dengan tingkat erosi selope yang kurang kuat dibandingkan G.Bisma. Produknya berupa lava berkomposisi andesitis dan endapan piroklastika. G.Nagasari, yaitu gunungapi composite, terdapat diantara Dieng-Batur dan berkembang dari utara ke selatan. G. Palangonan dan Mardada memiliki kawah yang berlokasi kearah timur dari Nagasari, masih memperlihatkan morfologi muda (bertekstur halus), serta menghasilkan lava dan endapan piroklastika. G. Pager Kandang (Sipandu) memiliki kawah pada bagian utara. Solfatara dan fumarola tersebar sepanjang bagian dalam dan luar kawah dengan suhu 74oC, serta batuan lava berkomposisi basaltis, yang tersingkap di dinding kawah. G. Sileri, merupakan kawah preatik yang memperlihatkan aktivitas hydrothermal berupa airpanas dan fumarola. Kawah ini telah aktif sejak dua ratus tahun terahir, menghasilkan piroklastika jatuhan. G. Igir Binem, adalah gunungapi strato yang memiliki dua kawah, disebut dengan telaga warna, yang tingkat aktivitas hidrothermalnya cukup kuat. Group G. Dringo-Paterangan terletak didalam daerah depresi Batur, terdiri dari kawah komposite, menghasilkan lava andesitis dan piroklastik jatuahan.

Episoda ketiga

Peta Geologi Dieng yang dibuat oleh Pak Sukhyar (1994), kini Kepala Badan Geologi. Aktivitas gunungapi pada episoda ini, menghasilkan lava andesit biotit, jatuhan piroklastik dan aktivitas hydrothermal. Wah Pakdhe kok bahasanya tehnis banget sih ? Thole ini tulisan diambil dari VSI, ya mesti agak tehnis. Kajian geologi itu kan kajian ilmiah. Jangan alergi dengan kajian ilmiah. Justru ilmu itu yang menyelamatkan manusia dari bahaya bencana alam. Sejarah Letusan Dieng Sejak tahun 1600, kegiatan G.api Dieng tidak memperlihatkan adanya letusan magmatik, tetapi lebih didominasi oleh aktivitas letusan freatik atau hydrothermal, sebagaimana diperlihatkan oleh beberapa aktivitas yang telah diperlihatkan dalam sejarah letusan.
Tahun 1450 Nama Gunung/Kawah Pakuwojo Aktivitas Produk letusan Letusan/korban Letusan Abu/Pasir ? normal Letusan Abu/Pasir ? normal Peningkatan Lumpur kawah kegiatan Letusan ? normal Pembentukan Uap belerang celah Letusan Lumpur dan Normal batu Letusan Uap dan normal Lumpur,5 orang meninggal

1825/1826 Pakuwojo 1883 1884 1895 1928 1939 Kw.Sikidang/Banteng Kw.Sikidang Siglagak Batur ? Batur

1944

Kw.Sileri

1964 1965

1979 1990s

Gempabumi Lumpur/59 dan letusan meninggal,38 luka-luka, 55 orang hilang Kw.Sileri Letusan lumpur normal Kw.Condrodimuko/Telaga Hembusan Uap air Dringo fumarola, dominan lumpur (?) Kw.Sinila Hembusan Gas CO2, CO gas racun ?, CH4,Korban 149 meninggal Kw. Dieng Kulon Letusan lumpur freatik

Karakter Letusan : Dominan letusan freatik dan gas (terutama CO2)(Sumber VSI)

Kawah di Gunung Dieng Erupsi freatik cukup sering terjadi di dataran tinggi Dieng, hal ini diperlihatkan oleh jumlah kawah yang terbentuk, yaitu 70 buah dibagian timur dan tengah komplek, serta 30 buah dibagian barat sector Batur. Sedikitnya 10 erupsi freatik telah terjadi dalam kurun waktu 200 tahun terahir.Letusan freatik inilah yang merupakan bentuk bahaya dari kompleks Gunung Dieng. Menurut VSI erupsi freatik komplek Dieng dapat dibagi dalam dua katagori: 1. Erupsi tampa adanya tanda-tanda (precursor) dari seismisity, yaitu hasil dari proses self sealing dari solfatar aktif (erupsi hydro thermal). 2. Erupsi yang diawali oleh gempabumi lokal atau regional, atau oleh adanya retakan dimana tidak adanya indikasi panasbumi dipermukaan. Erupsi dari tipe ini umum terjadi di daerah Graben Batur, sebagaimana diperlihatkan oleh erupsi freatik dari vulkanik Dieng pada Pebruari 1979. Aktivitas erupsi di komplek Dieng termasuk dalam katagori kedua.

Aktifitas Gunung Dieng Mei 2011 (Kawah Timbang). Gunung Dieng saat ini dalam status waspada. Terutama pada daerah Kawah Timbang. Sudah dimulai evakuasi warga oleh PMI. Berdasarkan data terakhir pada pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dieng, terjadi peningkatan kandungan gas CO2 pada pukul 11.17 WIB, Sabtu 28 Mei 2011, sebanyak 0,86 persen volume. Sedangkan batas aman kandungan CO2 hanya 0,5 persen volume. Whadduh Pakdhe, aku belum banyak tahu tentang Dieng kok sudah bergolak ya ? Itulah thole, jangan buru-buru malas membaca tulisan tehnis. Pengetahuan sejarah masa lalu gunung ini akan memerikan bekal ilmu dalam menyelamatkan diri dan mitigasi gunungapi Bagaimana munculnya gas beracun ini ? Tunggu dongengan selanjutnya

Kandungan Gas di Pemukiman Sekitar Kawah Timbang Diperiksa


Sabtu, 16 Maret 2013 10:56 wib

Tim dari BBTKL PPM Yogyakarta memeriksa kandungan gas (foto: Elis Novit/Sindo TV)

BANJARNEGARA - Meningkatnya aktivitas Kawah Timbang Pegunungan Dieng yang berada di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegera, Jawa Tengah sejak beberapa hari terakhir, membuat semua pihak waspada. Pagi tadi, tim dari Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Yogyakarta melakukan pemeriksaan kandungan gas di area pemukiman warga di Dusun Simbar dan Desa Sumberejo yang jaraknya sekira dua kilo meter dari bibir kawah. Sebanyak tujuh orang tim ahli yang diturunkan, memeriksa kandungan CO2, CO dan kelembaban udara yang ada di lokasi pemukiman. Tim juga mengambil sampel udara di sekitar Kawah Timbang untuk diteliti. Pengujian dilakukan untuk mendeteksi secara dini bila adanya kandungan gas berbahaya di lokasi pemukiman, kata KA Instatalasi Kejadian Luar Biasa BBTKL PPM Yogyakarta, Mingnova Sutopo di lokasi, Sabtu (16/3/2013). Dia melanjutkan, hasil pemeriksaan baru bisa diketahui dua hari mendatang, setelah dilakukan uji laboratorium. Hasilnya tidak bisa diketahui sekarang, pungkasnya. Seperti diberitakan, Kawah Timbang yang merupakan salah satu kawah yang ada di area Gunung Dieng, mengeluarkan konsentrasi CO2 di atas ambang batas normal, yang apa bila dihirup dapat membahayakan keselamatan manusia. Radius 500 meter dari kawah pun ditetapkan sebagai area berbahaya oleh tim vulkanologi. Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegera, juga sudah menyiapkan jalur evakuasi di sekitar kawah menuju Desa Sumberejo. Kemudian, posko darurat bencana dan dapur umum juga didirikan.

Ini dilakukan untuk mengantisipasi bila sewaktu-sewaktu aktivitas kawah kian mengkhawatirkan dan mengancam keselamatan warga. Namun, berdasarkan pengamatan pemantau gunung api yang kini berstatus Waspada itu, semburan gas beracun tidak mengarah ke pemukiman, melainkan ke selatan menuju Kali Sat dengan jarak luncur sekira 100 meter.

Berita Selengkapnya Klik di Sini


(Elis Novit/Sindo TV/ris)

Berita Terkait : Gunung Dieng


Formatted: Font: (Default) Arial, 10.5 pt, Font color: Black

Status Kawah Timbang Turun Jadi Waspada Aman, Pengungsi Gunung Dieng di Batang Dipulangkan Kawah Timbang Tunjukkan Perubahan Aktivitas Pengungsi Dieng Bertambah, BPBD Kesulitan Penuhi Konsumsi PVMBG: Krisis Gempa Dieng Belum Berakhir 160 Kali Gempa Guncang Pegunungan Dieng hingga Pagi Tadi Aliran Gas Beracun, Jalur Banjarnegara-Wonosobo Sempat Ditutup Guncangan Gempa Kawah Timbang Dirasakan hingga 40 Km Getaran Gempa Kawah Timbang Dirasakan hingga Batang, Warga Mengungsi 1.000 Warga di Kawah Timbang Mengungsi

28 Mei 2011

Kandungan CO2 Dieng Lebihi Batas Aman


BANJARNEGARA- Gunung Dieng di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, statusnya kini masih waspada. Kemarin terjadi peningkatan kandungan gas CO2 di Kawah Timbang, Desa Sumberejo, Kecamatan Batur. Rata-rata gas CO2 yang keluar dari kawah sudah melebihi batas aman. Berdasarkan data pada pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dieng, peningkatan

kandungan gas CO2 terjadi pada pukul 11.17, sebanyak 0,86 persen volume. Sedangkan batas aman kandungan CO2 hanya 0,5 persen volume. Untuk intensitas gempa vulkanik, hingga pukul 17.00, baru terjadi 13 kali gempa dengan skala kecil. Kandungan gas CO2 pada sore hari juga berangsur menurun pada kisaran 0,11-0,13 persen volume seperti satu hari sebelumnya. Intensitas gempa vulkanik ini, menurut Kepala Pos PGA Dieng Tunut Pujiarjo, menunjukkan penurunan dibandingkan dengan beberapa hari sebelumnya. Satu hari sebelumnya tercatat terjadi 24 kali gempa. Dalam seminggu terakhir, intensitas gempa vulkanik paling tinggi terjadi pada Rabu (25/5) lalu, yakni 81 kali. Namun tidak seluruh gempa yang terjadi bisa dirasakan oleh masyarakat karena skala kecil. Kawah Timbang masih kami pantau. Saat ini statusnya masih tetap waspada, ujar dia. Papan Peringatan Kabag Kesra Pemkab Banjarnegara Dwi Suryanto mengatakan, pihaknya sudah memasang papan peringatan di sekitar lokasi kawah. Selain itu, pemkab juga sudah menyiapkan jalur evakuasi bagi warga di sekitar lokasi kawah bila terjadi sesuatu, seperti semburan gas. Untuk memudahkan proses evakuasi, rencananya jalan dari Kawah Timbang menuju permukiman terdekat yang saat ini masih berupa batuan akan diperbaiki. Mobil ambulans dan truk pengangkut sudah disiagakan 24 jam di kantor kecamatan dan puskesmas, ujar Dwi. Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Sarwo Pramono ketika meninjau Kawah Timbang bersama timnya, meminta kepada Pemkab Banjarnegara, Batang, dan Wonosobo untuk menyikapi serius terhadap peningkatan status Gunung Dieng ini. Paling tidak, pemkab harus bisa memberi rasa aman kepada warga yang terancam peningkatan aktivitas kawah, terangnya. Kepala Desa Sumberejo, Kecamatan Batur, Ibrahim mengatakan, warga yang biasa beraktivitas di sekitar Kawah Timbang sudah diminta untuk tidak berlama-lama di sekitar kawah. Ia menginstruksikan warga agar begitu melihat asap putih keluar dari kawah, segera pergi. Begitu pula jika turun kabut mendadak, warga sudah kami minta untuk turun dan menjauh dari kawah, terangnya. Saat ini, radius 500 meter sekitar kawah ditetapkan sebagai kawasan berbahaya. Ketentuan tersebut dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 23 Mei pukul 14.00. Tingkat konsentrasi gas CO2 terus berkembang secara fluktuatif hingga saat ini. Sampai sekarang status waspada masih diberlakukan. Peningkatan konsentrasi gas terjadi pasca-gempa 22 Mei malam dengan kekuatan 3,6 skala Richter (SR). Gempa susulan terjadi pada tanggal 25 Mei dengan kekuatan 2,8 SR. Secara pasti kami belum bisa memprediksi kapan status waspada akan dicabut, tambah Tunut Pujiarjo. Dia menjelaskan, sampai saat ini belum ada laporan mengenai korban jiwa akibat gas beracun. Daerah terdekat kawah yakni Dusun Simbar, Desa Sumberejo, Kecamatan Batur, telah mengenal sifat Kawah Timbang. Keluarnya gas beracun dari kawah sudah terjadi sejak lama. Warga telah mengetahui kapan gas beracun tersebut keluar. Biasanya gas beracun keluar pada malam hari, mulai dari maghrib sampai matahari terbit. Namun demikian tetap harus waspada, ujarnya. Dijelaskan, selain Kawah Timbang, terdapat lokasi yang mengeluarkan gas beracun yakni Kalisat di Dusun Krajan Sumberejo dan kawasan proyek Dieng Jaya. Ketiga tempat itu merupakan satu jalur struktur tanah. Namun kadar gas beracunnya rendah, tegasnya. Sementara itu, Kadus Simbar, Suharso (44), mengatakan, warga yang terdiri atas 145 KK telah diimbau untuk waspada. Namun, warga terpaksa menerobos kawasan terlarang yang ditetapkan. Pasalnya, lokasi kawah berdekatan dengan jalan menuju lahan pertanian kentang. Mau bagaimana lagi, tiap hari aktivitas warga dikebun ngurus kentang, tuturnya. Pada tahun 1979, Kawah Timbang pernah mengelurkan gas beracun dan mengakibatkan 149 jiwa melayang. Musibah tersebut menimpa warga Desa Kepucukan, namun sekarang desa

tersebut telah dihapus dan menjadi kawasan terlarang bagi pemukiman. Semoga jumlah gas yang keluar cepat menurun sehingga warga kembali tenang dalam melakukan aktivitas, harapnya. (J3,har-43)

Waspada Dieng, Kadar CO2 Masih Tinggi


Penulis : Ahmad Arif | Selasa, 12 Maret 2013 | 19:24 WIB Dibaca: 700 Komentar: 0

Share:

Kompas TVDieng

TERKAIT:

Volume Gas CO2 Meningkat, Status Dieng Waspada Kawah Timbang Waspada, Kawasan Wisata Dieng Aman Aktivitas Warga Sekitar Kawah Timbang Masih Normal Dieng Waspada, Awas Gas Beracun!

JAKARTA, KOMPAS.com - Kawah Timbang di Dieng, Jawa Tengah masih terus menyemburkan gas beracun dengan kadar di ambang batas. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi telah meningkatkan status Dieng sejak Senin (11/3) malam dari Normal menjadi Waspada dan masyarakat diminta tidak berada di sekitar Kawah Timbang hingga radius 500 meter. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono, Selasa (12/3/2013) mengatakan, pengukuran gas pada pagi ini pukul 06.00-06.20 WIB, pada jarak 100 meter dari kawah menunjukkan kadar gas CO2=0,2 persen volume, H2S = 2 ppm. Sedangkan pada jarah 50 meter dari kawah, menunjukkan kadar CO2 = 2,8 persen volume dan H2S = 2,7 ppm. Uap air berawarna putih tipis terlihat mengalir sejauh 70 meter arah selatan dan gas belerang tercium tajam. "Rerumputan yang terlanda gas mengering," katanya. Sedangkan pengukuran pada pukul 12.30-13.50 WIB sejarak pada jarak 100 meter dari kawah meunjukkan kadar CO2 dan H2S = 0 dan pada jarak 50 meter dari kawah menunjukkan CO2=0,14% volume dan H2S=0. "Pengukuran sore ini tidak dilakukan karena cuaca hujan, namun secara visual pada pukul16.50 WIB terlihat aliran uap air meluncur sekitar 300 m dari pusat semburan gas ke Selatan," katanya.

Nilai konsentrasi gas CO2 ini, jauh melampaui ambang batas aman bagi kesehatan manusia. Batas aman berdasarkan standar internasional, seperti disebutkan Baxter (2000), Faivre-Pierret and Le Guern (1983) dan NIOSH (1981) adalah di bawah 0,5 persen. Peningkatan aktivitas Gunung Dieng juga terbaca dari terekamnya enam kali gempa vulkanik dalam sepanjang Selasa, sejak pukul 00.00-17.00 WIB. "Saat kondisi normal, gempa vulkanik dalam per bulan di Dieng maksimum 10 kali," katanya. Selain kawah Timbang, di Dieng juga terdapat delapan kawah lainnya, seperti Kawah Sikidang, Sinila, dan Candradimuka. Hingga saat ini, hanya Kawah Timbang yang menunjukkan peningkatan aktivitas. Pada 1979 kawah Sinila menyemburkan gas karbon dioksida yang menewaskan 149 penduduk.
Editor :

Robert Adhi Ksp

Dataran Tinggi Dieng Mitigasi Bencana dengan Pemetaan


Jurnal Nasional | Jum'at, 12 Apr 2013 Timur Arif Riyadi Dengan pemetaan bisa diketahui risiko dan antisipasi bila bencana datang. Steve Saputra (stevies@jurnas.com) UPAYA penanganan dan mitigasi terhadap bencana gas beracun di dataran tinggi Dieng Banjarnegara Jawa Tengah sebenarnya sudah dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sejak awal tahun 2000 silam. Dengan membentuk tim kecil, PVMBG melakukan penelitian terkait sebaran gas beracun jenis Karbondioksida (CO2) selama 7 tahun berturut-turut atau hingga tahun 2007. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kemudian menyusun hasil penelitian tersebut dalam bentuk Peta Sebaran Gas Beracun CO2 di Kompleks Vulkanik Dieng. Lembaga

ini merilisnya sekitar akhir Mei tahun 2011 bersamaan dengan peningkatan aktivitas vulkanik Kawah Timbang. Banyak fakta menarik dalam Peta Sebaran Gas CO2 ini. Seperti yang dikutip dari situs http://geospasial.bnpb.go.id/2011/05/31/peta-sebaran-gas-co2-di-kompleks-vulkanik-dieng/ peta tersebut banyak mengulas hasil penelitian dan fakta di Dataran Tinggi Dieng sebagai produk dari pembentukan kaldera. Sebagian besar wilayah permukiman atau kawasan di Dieng memiliki potensi risiko paparan gas CO2, namun dengan tingkat dan kadar yang berbeda-beda. Menurut Kepala Pos Pengamatan Gunung Berapi Dieng Tunut Pujiharjo, perbedaan ini ditentukan oleh faktor lokasi erupsi, topografi, arah mata angin serta jarak masing-masing wilayah dengan sumber hembusan gas beracun. "Kecenderungannya, gas CO2 mengalir sesuai dengan arah tiupan angin dan selalu mencari tempat yang lebih rendah. Ada kemungkinan di mana konsentrasinya dapat terurai apabila terkena sinar terik matahari. Hanya terurai ya, bukan berarti hilang atau menguap seluruhnya," kata Tunut Pujiharjo. Dalam Peta Sebaran Gas CO2, sejumlah wilayah permukiman di Desa Sumberejo dan Pekasiran sebagai wilayah permukiman terdekat dengan Kawah Timbang dan Sinila cukup berpotensi terpapar CO2. Kadar tentu berbeda-beda. Mulai dari kadar 0,03 persen volume hingga di atas 25 persen volume. Sedangkan ambang batas amannya hanya 0,5 persen volume. Demikian juga dengan kawasan di sekeliling Kawah Sikidang yang mencakup Desa Sikunang, Parikesit, Dieng Kulon dan Karang Tengah. Meski di bawah ambang batas aman, sebagian besar kawasan berpotensi terkena aliran gas CO2 berkisar 0,03 hingga 0,49 persen volume. Hanya beberapa lokasi saja yang berpotensi terkena paparan gas di atas 0,50 hingga 25 persen volume meliputi sisi tenggara Telaga Pengilon, selatan Sikunang, dan timur Buntu. Yang cukup mengejutkan adalah Peta Sebaran Gas Beracun CO2 di Kompleks Vulkanik Dieng turut menyebutkan sejumlah kawasan yang dalam sejarahnya telah mengeluarkan gas beracun dan masih kerap berlangsung hingga kini. Wilayah itu mencakup sebagian Desa Sumberejo, Kawah Timbang, Kepucukan, Jimat, dan Buntu. Di dalam kawasan-kawasan ini telah terbentuk manifestasi vulkanik (berupa kawah, fumarola, mata air, kolam lumpur) ataupun retakan tanah yang berpotensi menghembuskan gas CO2 dengan kadar di atas 25 persen volume. "PVMBG memang telah merekomendasikan larangan bagi masyarakat sekitar Kawah Timbang menggali tanah. Dikhawatirkan gas beracun dari bawah tanah menghembus keluar dari lubang galian tersebut," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, Tursiman. Selain Timbang, Kawah Lainnya Aman Penanggungjawab Gunung Api Jateng-Jatim PVMBG, Umar Rosadhi menjelaskan, peta tersebut hanya memaparkan potensi pelepasan gas beracun jenis CO2 di setiap wilayah atau kawasan Dieng. Artinya, tidak semua wilayah yang mendapatkan titik berwarna akan melepaskan aliran gas CO2 secara permanen sepanjang tahun. Dalam hal ini, pihak PVMBG merujuk pada faktor pemicu pelepasan gas CO2 di Dieng. Sesuai dengan tipikalnya, erupsi Freatik Dieng terbagi menjadi dua. Yakni erupsi yang terjadi tanpa gempa serta erupsi yang didahului dengan gempa sehingga terbentuk rekahan tanah. Namun dari 18 letusan besar sejak tahun 1937, erupsi Freatik Dieng selalu didahului dengan aktivitas kegempaan. "Saat ini aktivitas kegempaan hanya terpusat di Kawah Timbang, sehingga pelepasan gas beracun dalam konsentrasi tinggi hanya terjadi di sana," kata Umar Rosadhi.

Untuk mendukung pernyataan ini, PVMBG telah memeriksa 15 wilayah Dieng yang terpetakan memiliki potensi pelepasan gas CO2 di atas 25 persen volume (titik merah). Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui dampak meningkatkan aktivitas Kawah Timbang terhadap kawah lainnya. Kawah Sileri yang beberapa hari lalu mengalami kegempaan juga turut dipantau. Hasilnya, volume air kawah berkurang serta suara gemuruh terdengar lemah. Suhu air kawah 54,6 derajat celsius. Sedangkan kadar gas yang terdeteksi hanya berjenis hidrogen sulfida sebesar 2 ppm. Ini mengindikasikan Sileri tidak terpengaruh dengan aktivitas Kawah Timbang. "Dari hasil pengukuran, kami menyimpulkan hanya Kawah Timbang yang saat ini berbahaya. Sedangkan 14 kawah lainnya dinyatakan aman serta tidak terpengaruh kegempaan Kawah Timbang," ujarnya.

Indo. J. Chem., 2005, 5 (1), 11 - 14 Hanik Humaida 11 A STUDY ON CARBON ISOTOPE OF CO2 AND CH4 IN WESTERN DIENG PLATEU BY GAS CHROMATOGRAPHY- ISOTOPE RATIO MASS SPECTROMETER (GC-IRMS) Kajian Isotop Karbon CO2 dan CH4 di Wilayah Barat Pegunungan Dieng dengan Gas Chromatography-Isotope Ratio Mass Spectrometer (GC-IRMS) Hanik Humaida Directorate of Volcanology and Geological Hazard Mitigation Jl. Cendana 15 Yogyakarta

Received 27 October 2004; Accepted 3 January 2005 ABSTRACT The carbon isotope can be used to evaluate volcanism phenomenon of volcano. The study of carbon isotope of CO2 and CH4 was carried out in western Dieng Plateau by mass-spectrometer. Before analysis, sampel was separated by gas chromatography using a Porapak-Q column and a FID (Flame Ionization Detector) detector. The gas was oxidized by copper oxide at 850 o C before being ionized in massspectrometer for isotope analysis. The CO2 content in Candradimuka crater (4.10 O /OO), indicated that the gas may be as volcanic gas. The other CO2 from Sumber and western Gua Jimat, had isotope value of -10.05 and -12.07 O /OO, respectively, indicating contamination from crustal and subduction material. The carbon isotope of CH4 gas from Pancasan village was -63.42 O /OO, that may be categorized as biogenic gas. Keywords: isotope, CO2, CH4, Dieng. PENDAHULUAN Isotop stabil mempunyai peranan penting dalam penyelidikan gas. Konsentrasi isotop stabil menunjukkan karakteristik sifat dan menunjukkan indikasi jenis dan asal gas. Penyelidikan tentang isotop stabil ini dimulai 20 tahun yang lalu dan berkembang sangat penting dalam geokimia gas

[1]. Perbandingan isotop stabil 13 C/ 12 C secara langsung menunjukkan berat dari konsentrasi isotop tersebut, biasanya dilaporkan dengan menggunakan notasi , yaitu per mil deviasi dari suatu standar [2]. (R sampel - R standar) = x 1000 (ppt) R standar dengan R adalah ratio isotop dari elemen. Salah satu persyaratan awal untuk pengukuran yang akurat adalah keberadaan isotop standar yang telah diketahui. Standard referensi yang biasa dipakai adalah skala PDB (Peedeee Belemnite) [2]. Nilai isotop dari gas digunakan untuk menentukan asal kedalaman suatu gas vulkanik dan magma. Isotop karbon dalam fumarol juga dapat digunakan untuk menentukan kedalaman sumber-sumber material magmatik yang volatil, serta dapat digunakan untuk menentukan tipe suatu gas, seperti gas yang berasal dari organik material, metamorfose batuan karbonat marmer dan dari

mantel atau magma [3]. Gas terlarut dalam magma berasal dari kedalaman suatu sumber yang bervariasi yaitu mantle, crust dan subducted material [4]. Sumbersumber tersebut mempunyai komposisi, jenis serta jumlah senyawa volatil yang berbeda, tergantung pada tectonical dan geological setting gunung api. Komposisi gas yang keluar dari magma pada fumarol suhu tinggi akan bervariasi, untuk mengetahui asal kedalaman gas vulkanik, dapat digunakan baik komposisi kimia maupun isotop dari mayor dan minor gas yang ada. Isotop stabil dari karbon CO2 ( 13 C CO2) maupun sulfur SO2 ( 34 S SO2) dapat digunakan untuk menentukan kedalaman sumber-sumber magma volatil. Komposisi isotop 13 C dari CO2 diukur pada gas-gas yang dikeluarkan oleh lempeng divergen dan hot spot gunung api yang mengindikasikan berasal dari mantel dengan nilai 13 C dari CO2 sekitar 4,0 2,5

O /OO. Untuk subduction yang berhubungan dengan gas menunjukkan nilai bervariasi 12 2,5 O /OO mengindikasikan kontaminasi oleh crustal dan subducted material [3]. Pegunungan Dieng mempunyai banyak sumber gas CO2 dengan konsentrasi yang tinggi, Indo. J. Chem., 2005, 5 (1), 11 - 14 Hanik Humaida 12 khususnya di wilayah barat, sumber gas tersebut terletak pada jalur sesar. Gambaran wilayah pegunungan Dieng ini disajikan pada Gambar 1 [5]. Untuk mengindikasikan asal gas tersebut perlu dilakukan kajian nilai isotop, maka pada tulisan ini dibahas asal usul gas berdasarkan konsentrasi isotop karbonnya. METODE PENELITIAN Pengamatan lapangan dan Sampling Penyelidikan yang dilakukan meliputi pengamatan lapangan, yang mencakup penentuan lokasi serta penyelidikan kimia. Penyelidikan kimia di lapangan meliputi pengamatan visual pada lokasi maupun pengukuran parameter kimia, yaitu

pengukuran suhu, serta pengambilan sampel gas. Komposisi kimia sampel yang diambil dianalisis di laboratorium. Pengambilan sampel gas mofet, solfatara/fumarola dilakukan dengan menggunakan teknik tabung vakum [6]. Tabung divakumkan hingga tekanan minus 1000 mbar. Tabung yang sudah vakum tersebut, dibawa ke lapangan dan dihubungkan dengan pipa silika pada titik sampling fumarola/solfatara, sedangkan sampling pada mofet tabung vakum tersebut dihubungkan dengan pipa silikon yang terdapat pada pipa besi yang di dalamnya terdapat pipa polietilen. Pipa tersebut dimasukkan ke dalam tanah sedalam kira-kira 1 (satu) meter. Kemudian dilakukan pengecekan kebocoran, setelah rangkaian yakin tidak ada yang bocor, tabung vakum dibuka sedikit demi sedikit supaya gas masuk ke dalam tabung (Gambar 2). Setelah tabung penuh dengan sampel, ditutup dan rangkaian dilepas. Sampel disimpan ke dalam tempat tabung yang aman untuk dibawa ke laboratorium. Analisis Sampel Spektrometer massa yang digunakan adalah Optima-Micromass yang dikombinasikan dengan Gas Chromatography (GC) sebagai sistem pemisahan sampel secara on-line. Gas CO2 dan

CH4 (serta gas hidrokarbon lainnya) dipisahkan di dalam GC dengan menggunakan kolom Porapak-Q, detektor FID dan He sebagai gas pembawa. Kemudian gas yang sudah terpisah masuk ke dalam suatu furnace oksidasi yaitu Copper Oxide (CuO) pada suhu 850 o C. Gas hasil oksidasi sampel diperangkap dalam sistem pendingin nitrogen cair (70 o C). Kemudian gas CO2 yang sudah terpisahkan dari air dalam sistem pendingin tersebut masuk ke dalam sistem spektrometer massa. Skema peralatan disajikan pada Gambar 3. Gambar 1 Peta daerah penelitian di Pegunungan Dieng Propinsi Jawa Tengah, Indonesia Indo. J. Chem., 2005, 5 (1), 11 - 14 Hanik Humaida 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Pengambilan sampel untuk analisis isotop karbon gas dari mofet dan solfatara-fumarola dilakukan di Dieng bagian barat yakni Sumber, Gua Jimat, Kawah Condrodimuka dan Pancasan (Gambar 1). Pengambilan gas di area ini merupakan jalur utama gas di wilayah barat Dieng, dimana terdapat rekahan yang terbentuk akibat aktivitas

yang menyebabkan korban gas racun pada kasus Sinila tahun 1979, sedangkan titik yang ada di Pancasan diambil karena di daerah tersebut terdapat sumber gas metana [5,7]. Analisis isotop dari sampel gas digunakan dengan mass spektrometri. Gas dari mofet, solfatara-fumarola isotop karbon yang dianalisis berasal dari CO2, di dalam gas ini tidak terdeksi keberadaan CH4. Isotop karbon yang berasal dari Pancasan berasal dari CH4. Sebenarnya gas ini mengandung komposisi gas CO2, namun tidak terdeteksi dalam mass-spektrometri karena diduga konsentrasinya terlalu kecil. Sebelum isotop karbon dianalisis, gas dipisahkan dengan GC menggunakan kolom Porapak-Q, detektor FID dan He sebagai gas pembawa. Setelah dipisahkan gas masuk ke dalam furnace oksida untuk di oksidasi menjadi gas CO2, sesuai reaksi sebagai berikut: o T = 850 C

Gas CO2 yang terbentuk masuk secara kontinyu ke dalam mass-spektrometer yang kemudian terionkan menjadi isotopnya dalam ion source yang kemudian dianalilisis. H2O ditangkap dan ditahan dengan menggunakan nitrogen cair (N2

trapping). Hasil dari penyelidikan isotop tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Data tersebut menunjukkan adanya nilai isotop 13 C gas CO2 yang mencolok antara isotop yang berasal dari mofet (gas dari sumber dan gas dari sebelah selatan gua Jimat) dan yang berasal dari solfatara (gas dari kawah Condrodimuka). Nilai isotop gas tersebut menunjukkan bahwa gas Candradimuka merupakan gas vulkanik. Fenomena ini berdasarkan pada isotop mantel yang mempunyai nilai 13 C dari CO2 berkisar 4,7 2 O /OO. Selain itu ditinjau dari komposisi kimia gas Kawah Candradimuka yang mengandung klorida (Cl) mengindikasikan bahwa gas tersebut berasal dari magmatik dalam yang bersifat andesit [2].

Gambar 2 Skema sampling gas untuk analisis isotop gas Gambar 3 Skema analisis isotop gas dengan Gas ChromatographyIsotope Ratio Mass Spectrometer (GC_IRMS)

Botol Fused Titaniu Sambun Adaptor Indo. J. Chem., 2005, 5 (1), 11 - 14 Hanik Humaida 14 Tabel 1 Hasil analisis isotop gas dari wilayah barat pegunungan Dieng Lokasi Posisi geografi LS BT Ketinggian (m) Jenis gas 13 C CO2 ) O /OO) Sumber gas di desa Sumber 07.12.819 109.50.266 1598 CO2 - 10,05 Sumber gas di selatan gunung Jimat 07.11.895 109.51.654 1772 CO2 -12,07 Solfatara Candradimuka 07.11.323 109.51.200 1920 CO2 -4,10 Desa Pancasan 07.14.239 109.49.074 1367 CH4 -63,42 Aktivitas vulkanik dapat dilihat secara visual yaitu adanya hembusan gas solfatara dan air kawah yang bersuhu tinggi dan terdapat bualan-bualan gas dari dalam. Dilihat dari struktur geologi, kawah ini merupakan titik potong dari tiga sesar.

Berdasarkan nilai isotop dari Sumber dan selatan Gua Jimat kemungkinan gas subduction, dimana kisaran merupakan nilai isotop antara 10,05 dan 12,07 O /OO yang mengindikasikan gas jenis ini terkontaminasi oleh crustal dan subducted material. Fenomena ini berdasar nilai isotop subduction yang berhubungan dengan gas menunjukkan nilai yang bervariasi 12 2 O /OO. Apabila ditinjau dari isotop 13 C pada CO2, gas yang berasal dari kawah Candradimuka berasal dari vulkanik sedangkan gas yang berasal dari Sumber dan selatan gua Jimat kemungkinan berasal dari crustal dan subduction, yang mengindikasikan proses pembentukan gunung api. Area pegunungan di Sumber dan selatan gua Jimat kemungkinan terbentuk lebih dahulu akibat efek subduction crustal. Setelah efek subduction tersebut tidak ada, magma mencari titik lemah dan muncul ke permukaan membentuk area kawah Candradimuka. Komposisi isotop dari metana berubah sesuai dengan tingkat kematangan bahan organik. Secara

umum komposisi isotop gas dapat digunakan untuk mengestimasikan kematangan sumber. Gas alam terbentuk dalam suatu lingkungan yang bervariasi. Asal mula proses pembentukan gas dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu respirasi bakteri (biogenic gas) dan alterasi termal dari cairan atau padatan prekursor organik (thermogenic gas) [4]. Biogenic gas berasal dari suatu bagian yang tidak matang suatu mineralisasi anaerobik melalui media secara bakterial dari bahan organik suatu sedimen. Apabila dilihat dari isotop metana (C1) yang berasal dari desa Pancasan, dengan nilai -63,42 O /OO, maka gas tersebut dapat dikategorikan jenis gas biogenik dimana kisaran kandungan isotop metana untuk jenis ini antara 60 dan 75 O /OO. Dilihat dari struktur geologi, area ini berada di lereng utara gunung Serandil, dimana aktivitas vulkanisma pada area ini belum pernah diketahui dan juga tidak diketahui keberadaan suatu sesar, walau area ini terletak di Dieng bagian barat. Namun demikian bila ditinjau dari kandungan isotop metana maka area ini kemungkinan merupakan gunung api tua di wilayah barat, dimana endapan bahan organik suatu sedimen mengalami suatu perubahan secara

bakterial anaerobik. Untuk membuktikan adanya fenomena-fenomena tersebut masih diperlukan kajian yang lebih mendalam di area ini dari berbagai sudut penyelidikan. KESIMPULAN 1. Gas dari kawah Candradimuka merupakan gas vulkanik sedangkan gas dari Sumber dan gua Jimat merupakan gas suatu subduction dimana gas tersebut mempunyai nilai isotop sebesar 10.05 dan -12.07 O /OO yang mengindikasikan kontaminasi oleh crustal dan subducted material. 2. Isotop karbon gas metana yang berasal dari desa Pancasan dapat dikategorikan jenis gas biogenik, dimana isotop metananya berkisar antara 60 dan 75 O /OO. Namun demikian dari isotop yang diketahui masih perlu kajian yang lebih mendalam dari berbagai bidang untuk mempelajari fenomena yang terjadi di Pegunungan Dieng. DAFTAR PUSTAKA 1. Jones, G.W. and Rymer, H., 2000, Hazard of Volcanic Gases, Encyclopedia of Volcanoes,

Florida. 2. Mattery, D.P., 1997, Gas Source Mass Spectrometry: Isotopic Composition of Lighter Elements. In Modern Analytical Geochemistry, England. 3. Delmelle, P. and Stix, J., 2000, Volcanic Gases, Encyclopedia of Volcanoes, Florida. 4. Matsuo, 1960, J. Earth Act Nagoya, 8, 222245. 5. Fauzi A., 1987, Mineralogi and Fluid Composition at Dieng Geothermal Field, Indonesia, Research School of Earth Science, Victoria University of Wellington. 6. Kazahaya K, Shinohara H, and Saito G, 2002, , Earth Planets Space, 54, 327-335. 7. Miller C.D, Sukhyar R., Santosa, and Hamidi S., 1982, Eruptive History of the Dieng Mountains Region, Central Java, and Potential Hazards from Future Eruptions, Project Report Indonesian Investigation.

Dieng
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Dataran Tinggi Dieng terdiri dari dua atau lebih gunung berapi serta banyak kawah dan puncak kecil lainnya.

Dieng adalah kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 1520 C di siang hari dan 10 C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0 C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian. Secara administrasi, Dieng merupakan wilayah Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng ("Dieng Wetan"),Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Wilayah ini merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.
Daftar isi
[sembunyikan]

1 Etimologi 2 Geologi

2.1 Kawah-kawah

o o

2.1.1 Kawah Sibanteng 2.1.2 Kawah Sikidang 2.1.3 Kawah Sileri 2.1.4 Kawah Sinila 2.1.5 Kawah Timbang

2.2 Puncak-puncak 2.3 Danau vulkanik

3 Obyek wisata

4 Pertanian 5 Lapangan geotermal 6 Catatan kaki 7 Pranala luar

[sunting]Etimologi
Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata Bahasa Kawi: "di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa). Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam.[1][2] Teori lain menyatakan, nama Dieng berasal dari bahasa Sunda ("di hyang") karena diperkirakan pada masa pra-Medang (sekitar abad ke-7 Masehi) daerah itu berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh.

[sunting]Geologi
Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger. Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gununggunung di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979. Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah longsor dan banjir. Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan. Secara biologi, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik ("suka panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi.

[sunting]Kawah-kawah
Kawah aktif di Dieng merupakan kepundan bagi aktivitas vulkanik di bawah dataran tinggi. Pemantauan aktivitas dilakukan oleh PVMBG melalui Pos Pengamatan Dieng di Kecamatan Karangtengah. Berikut adalah kawah-kawah aktif yang dipantau:

Candradimuka Sibanteng Siglagah Sikendang, berpotensi gas beracun Sikidang Sileri Sinila, berpotensi gas beracun

Timbang, berpotensi gas beracun

[sunting]Kawah Sibanteng
Sibanteng terletak di Desa Dieng Kulon. Kawah ini pernah meletus freatik pada bulan Januari 2009 (15/1)[3], menyebabkan kawasan wisata Dieng harus ditutup beberapa hari untuk mengantisipasi terjadinya bencana keracunan gas. Letusan lumpurnya terdengar hingga 2km, merusak hutan milik Perhutani di sekitarnya, dan menyebabkan longsor yang membendung Kali Putih, anak Sungai Serayu. Kawah Sibanteng pernah pula meletus pada bulan Juli 2003.

[sunting]Kawah Sikidang
Sikidang adalah kawah di DTD yang paling populer dikunjungi wisatawan karena paling mudah dicapai. Kawah ini terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas. Dari karakter inilah namanya berasal karena penduduk setempat melihatnya berpindah-pindah seperti kijang (kidang dalam bahasa Jawa).

[sunting]Kawah Sileri
Sileri adalah kawah yang paling aktif dan pernah meletus beberapa kali (berdasarkan catatan : tahun 1944, 1964, 1984, Juli 2003, dan September 2009). Pada aktivitas freatik terakhir (26 September 2009) muncul tiga celah kawah baru disertai dengan pancaran material setinggi 200 meter. [4]

[sunting]Kawah Sinila
Sinila terletak diantara Desa Batur, Desa Sumberejo, dan Desa Pekasiran, Kecamatan Batur. Kawah Sinila pernah meletus pada pagi hari tahun 1979, [5] tepatnya 20 Februari 1979. Gempa yang ditimbulkan membuat warga berlarian ke luar rumah, namun mereka terperangkap gas racun yang keluar dari Kawah Timbang akibat terpicu letusan Sinila. [6] Sejumlah warga (149 jiwa) dan ternak tewas keracunan gas karbondioksida yang terlepas dan menyebar ke wilayah pemukiman.

[sunting]Kawah Timbang
Timbang adalah kawah yang terletak di dekat Sinila dan beraktivitas sedang. Meskipun kurang aktif, kawah ini merupakan sumber gas CO2 berkonsentrasi tinggi yang memakan ratusan korban pada tahun 1979. Kawah ini terakhir tercatat mengalami kenaikan aktivitas pada bulan Mei 2011 dengan menyemburkan asap putih setinggi 20 meter, mengeluarkan CO 2 dalam konsentrasi melebihi ambang aman (1.000 ppm, konsentrasi normal di udara mendekati 400 ppm) dan memunculkan gempa vulkanik [7]. Pada tanggal 31 Mei 2011 pagi, kawah ini kembali melepaskan gas CO 2 hingga mencapai 1% v/v (100.000 ppm) disertai dengan gempa tremor. Akibatnya semua aktivitas dalam radius 1 km dilarang dan warga Dusun Simbar dan Dusun Serang diungsikan [8].

[sunting]Puncak-puncak
Gunung Prahu (2.565 m) Gunung Pakuwaja (2.395 m)

Gunung Sikunir (2.263 m), tempat wisata, dekat Sembungan

[sunting]Danau

vulkanik

Telaga Warna, obyek wisata dengan tempat persemadian di dekatnya Telaga Cebong, dekat desa wisata Sembungan Telaga Merdada Telaga Pengilon Telaga Dringo Telaga Nila

[sunting]Obyek

wisata

Kompleks Candi Arjuna, Dieng

Sesajian di Candi Parikesit di tahun 1880-an (gambar dari majalah Eigen Haard)

Beberapa peninggalan budaya dan alam telah dijadikan sebagai obyek wisata dan dikelola bersama oleh dua kabupaten, yaitu Banjarnegara dan Wonosobo. Berikut beberapa obyek wisata di Dieng.

Telaga: Telaga Warna, sebuah telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung, Telaga Pengilon, yang letaknya bersebelahan persis dengan Telaga Warna, uniknya warna air di telaga ini bening seperti tidak tercampur belerang. Keunikan lain adalah yang membatasi Telaga Warna dengan Telaga Pengilon hanyalah rerumputan yang terbentuk seperti rawa kecil. Telaga Merdada, adalah merupakan yang terbesar di antara teelaga yang ada di Dataran Tinggi

Dieng. Airnya yang tidak pernah surut dijadikan sebagai pengairan untuk ladang pertanian. Bahkan Telaga ini juga digunakan para pemancing untuk menyalurkan hobi atau juga wisatawan yang sekedar berkeliling dengan perahu kecil yang disewakan oleh penduduk setempat.

Kawah: Sikidang, Sileri, Sinila (meletus dan mengeluarkan gas beracun pada tahun 1979 dengan korban 149 jiwa), Kawah Candradimuka.

Kompleks candi-candi Hindu yang dibangun pada abad ke-7, antara lain: Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, Candi Setyaki, Gangsiran Aswatama, dan Candi Dwarawati.

Gua: Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur. Terletak di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon, sering digunakan sebagai tempat olah spiritual.

Sumur Jalatunda di tahun 1937

Sumur Jalatunda. Dieng Volcanic Theater, teater untuk melihat film tentang kegunungapian di Dieng. Museum Dieng Kailasa, menyimpan artefak dan memberikan informasi tentang alam (geologi, florafauna), masyarakat Dieng (keseharian, pertanian, kepercayaan, kesenian) serta warisan arkeologi dari Dieng. Memiliki teater untuk melihat film (saat ini tentang arkeologi Dieng), panggung terbuka di atas atap museum, serta restoran.

Mata air Sungai Serayu, sering disebut dengan Tuk Bima Lukar (Tuk = mata air).

[sunting]Pertanian
Kawasan Dieng merupakan penghasil sayuran dataran tinggi untuk wilayah Jawa Tengah. Kentang adalah komoditi utama. Selain itu, wortel, kubis, dan berbagai bawang-bawangan dihasilkan dari kawasan ini. Selain sayuran, Dieng juga merupakan sentra penghasil pepaya gunung (carica) dan jamur. Namun demikian, akibat aktivitas pertanian yang pesat kawasan hutan di puncak-puncak pegunungan hampir habis dikonversi menjadi lahan pertanaman sayur.

[sunting]Lapangan

geotermal

Kawasan Dieng masih aktif secara geologi dan banyak memiliki sumber-sumber energi hidrotermal. Ada tiga lapangan hidrotermal utama, yaitu Pakuwaja, Sileri, dan Sikidang. Di ketiganya

terdapat fumarola (kawah uap) aktif, kolam lumpur, dan lapangan uap. Mata air panas ditemukan, misalnya, di Bitingan, Siglagah, Pulosari, dan Jojogan, dengan suhu rata-rata mulai dari 25C (Jojogan) sampai 58C (Siglagah)[9]. Kawasan Sikidang telah mulai dimanfaatkan sebagai sumber energi hidrotermal.

[sunting]Catatan

kaki

1. 2. 3. 4. 5.

^ Central Java hand book (2 ed.). Indonesia: Provincial Government of Central Java. 1983. ^ (Indonesia) "DIENG PLATEAU - Kecantikan Ajaib di Pulau" (HTML). Diakses 2012-07-01. ^ G. Dieng alert level II, Waspada. PVMBG 15-01-2009 ^ Kawah Sileri Lontarkan Lumpur Panas Sejauh 200 Meter. Kompas 27 September 2009. ^ Sudarman. Menyaksikan Bencana Sinila lewat Film. Suara Merdeka daring edisi 16-07-2005. Diakses 30-01-2009.

6. 7. 8.

^ G. Dieng alert level II, Waspada. PVMBG 15-01-2009 ^ Kawah Timbang Dieng Keluarkan Gas Beracun Pikiran Rakyat Online. Edisi Rabu, 25/05/2011. ^ Liliek Dharmawan. Gas Beracun Kawah Timbang Meningkat 10 Kali Lipat, Dua Dusun Dikosongkan. Media Indonesia daring. Edisi 31 Mei 2011.

9.

^ Dieng Geothermal Field. Artikel di Geothermal Indonesia (blog). Rilis 7 Mei 2009

OLEH PUSAT DATA, INFORMASI DAN HUMAS 28 March 2013 08:15

Kepala PVMBG Badan Geologi telah melaporkan kepada Kepala BNPB terkait dengan kenaikan status Gunungapi Dieng menjadi Siaga (level III) dari Waspada (level II) terhitung pada Rabu (27/3/2013) pukul 23.30 Wib. Peningkatan status G. Dieng terkait dengan terjadinya peningkatan aktivitas G. Dieng dimana pada 27/3/2013 pukul 12:00-18:00 WIB terjadi kegempaan 3 kali gempa vulkanik dalam, 1 kali gempa hemnisan. Pada pukul 18:00-22:31 WIB terjadi peningkatan kegempaan yang sangat mencolok yaitu 48 kali Gempa Vulkanik. Dengan adanya krisis kegempaan ini, maka status dinaikkan dari Waspada ke Siaga. Selama 26 s/d 27 Maret 2013, pkl 18.00-06.00 WIB secara visual: cuaca cerah, angin tenang, uap air disertai gas beracun putih tebal meluncur sejauh sekitar 50-500 m dari Kawah Timbang ke arah Selatan (Kali Sat), belerang tercium lemah pada jarak 1000 m dari Kawah Timbang ke barat dan tercium tajam 1000 m ke selatan. Pengukuran konsentrasi gas pada zona aman, kembali ke sekitar 550 m di Jalan Kepucukan arah Selatan dari Kawah Timbang pada pukul 05.57-06.40 WIB, hasilnya sebagai berikut: titik I.C02 0 %volume H2S 0 ppm titik II.C02 0,3 %volume, H2S 29 ppm, titik III.C02 0,6 %volume H2S 61 ppm titik IV.CO2 0,7 % volume, H2S 79 ppm, titik V.CO2 0,8 % volume, H2S 95 ppm, titik VI.CO2 0,4 % volume, H2S 39 ppm. titik VII CO2 0 % volume, H2S 6 ppm. Dalam kondisi Siaga Dieng, direkomendasikan agar tidak ada aktivitas masyarakat dalam radius 1 km dari Kawah Timbang. Terkait dengan hal tersebut Kepala BNPB telah memerintahkan Kepala Pelaksana BPBD Jawa Tengah dan BPBD Banjarnegara untuk mengambil langkah antisipasi. Sosialisasi kepada masyarakat ditingkatkan dan masyarakat dihimbau tetap tenang. Tim Reaksi Cepat BNPB malam ini menuju Banjarnegara untuk berkoordinasi dengan BPBD melakukan upaya yang diperlukan. Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data Informasi dan Humas