Anda di halaman 1dari 28

MODUL 4 SKENARIO 4 : KECEMASAN NY MASTITI Nyonya Mastiti, 28 tahun, merasa sangat cemas karena menemukan ada benjolan di payudara

sebelah kanan tiga hari yang lalu, benjolan itu dirasakan nyeri. Sejak satu hari yang lalu ia merasa demam. Ny Mastiti saat ini sedang menyusui anaknya yang berumur satu bulan, karena itu ia berobat ke klinik KIA. Dokter yang memeriksa menanyakan apakah selama kehamilan ia sudah belajar mengenai perawatan payudara selama hamil dan laktasi. Dari anamnesis diketahui bahwa Ny. Mastiti mempunyai keluhan lain yaitu keluarnya cairan putih kekuningan dan kadang kadang berbau dari kemaluannya. Dari pemeriksaan Dokter menemukan tanda abses payudara dan dari pemeriksaan inspekulo terlihat serviks hiperemis dengan sekret purulen. Untuk memastikan diagnosisnya, Ny. Mastiti dirujuk ke RS untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Nyonya Mastiti bertanya pada dokter apakah ia masih boleh memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. Disamping itu ia juga menanyakan apakah penyakitnya ini juga berhubungan dengan proses melahirkan dan apakah ia bisa hamil lagi. Bagaimana anda menjelaskan apa yang terjadi pada Ny Mastiti?

LANGKAH I TERMINOLOGI 1. Pemeriksaan inspekulo: pemeriksaan menggunakan spekulum,dengan cara memasukan spekulum ke dalam vagina wanita yang bertujuan untuk melihat adanya keabnormalan pada vagina,serviks,serta forniks vagina. 2. Abses: rongga patologis yang berisi pus. 3. Serviks hiperemis: serviksnya berwarna merah gelap. 4. Sekret purulen:keluarnya cairan berupa nanah.

LANGKAH II IDENTIFIKASI MASALAH


1. 2. 3. 4. 5. 6.

Apa saja diagnosis banding benjolan payudara? Apa penyebab terjadinya benjolan pada payudara Ny.Mastiti? Mengapa benjolannya tersa nyeri? Mengapa Ny.Mastiti merasa demam? Kenapa demamnya baru terasa 1 hari yang lalu? Apakah demam yang dirasakan berkaitan dengan kondisi keabnormalan 1

7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19.

payudaranya? Bagaimana hubungan adanya benjolan dengan menyusui anaknya? Apakah berbahaya dengan adanya benjolan payudara untuk menyusui anaknya? Bagaiman cara merawat payidara selama hamil dan laktasi? Apa tujuan dokter menanyakan apakah sudah belajar mengenai perawatan payudara selama hamil dan laktasi? Apa yang menyebabkan keluarnya cairan putih kekuningan dan kadang berbau dari kemaluan Ny.Mastiti? Apa kemungkinan penyakit yang diderita Ny.Mastiti dan apakah penyakitnya menular? Apa diagnosa dari hasil pemeriksaan dokter? Apa penyebab abses payudara dan tanda-tandanya? Bagaiman cara mengobati penyakit yang diderita Ny.Mastiti? Apa penanganan lebih lanjut dari abses dan sekret purulen? Apa pemeriksaan di RS untuk mendapatkan diagnosa pasti? Apa boleh Ny.Mastiti memberikan ASI eksklusif pada anaknya? Apakah penyakitNy.Mastiti berhubungan dengan melahirkan dan apakah Ny.Mastiti bisa hamil lagi? LANGKAH III ANALISIS MASALAH

1.

-infeksi:mastitis -tumor jinak: fibroadenoma -tumor ganas: ca mamme -saluran susu tersumbat -kista payudara -mastitis -->obstruksi-->kuman-->luka pada puting-->benjolan. -penggunaan bra yang ketat -teknik menyusui tidak benar Karena bengkak menekan saraf sekitar Memperkuat diagnosis terjadinya infeksi, karena kuman penyebab infeksi mengeluaekan pirogen yang memicu demam. Karena sebelumnya masih merupakan masa inkubasi Ya, sesuai dengan jawaban pada pertanyaan nomor 4. 2

2.

3. 4.

5. 6.

7. 8.

dilihat dari cara menyusu-->kurang benar-->stasis-->obstruksi-->benjolan. -mastitis: masih boleh menyusu -abses: tidak boleh,tapi ASI tetap dikeluarkan saat menyusui -jangan memakai bra yang ketat -sebelum dan setelah menyusui payudara dibersihkan -benarkan posisi saat menyusui saat hamil -pijat untuk melancarkan sirkulasi Karena kebersihan berhubungan dengan infeksi, karena luka dan lecet akan menjadi port de entree bagi mikroorganisme penyebab infeksi. -infeksi: respon tubuh -cairan nifas dna infeksi -tanda gonore -servisitis -gonore -abses payudara -PID--> kelanjutan gonore Payudara:Mastitisabses payudara. Serviks hiperemis dan sekret purulen: Gonore

9.

10.

11.

12.

13.

14.

penyebab abses-->kelanjutan mastitis yang tidak ditangani dengan benar. Tandatanda abses yakni peradangan, bengkak, nyeri dan eritem disekitarnya disertai demam. mastitis--> -kloksasilin 500mg tiap 6 jam selama 10 hari -sangga payudara -kompres dingin -bila diperlukan berikan parasetamol 500mg/oral tiap 4 jam gonore--> serfimiksin 400mg, seftriakson 250mg IM, siproflosaksin 500 mg oral pus-->periksa di lab 3

15.

16.

17.

abses-->aspirasi-->pemeriksaan sitologi serviks--> vaginal swab, pembiakan boleh, namun jika sudah menjadi abses tidak boleh. Tetap keluarkan ASI dengan di pompa.

18.

-melahirkan merupakan salah satu faktor predisposisi penyakit yang diderita Ny.Mastiti karena pada masa itu sangat rentan terkena infeksi -bisa hamil lagi atau tidak tergantung penanganan dan sejauh mana organ reproduksi mengalami kerusakan akibat penyakit tersebut.
19.

LANGKAH IV SKEMA
Trauma Parasit Bakteri Virus Penyebab Non-seksual Jalan masuk Seksual Gonore Darah,sal.cerna

Payudara

Infeksi saat kehamilan,nifas dan laktasi Diagnosis

Sistem reproduksi

PID

Mastitis

Tatalaksana

LANGKAH V TUJUAN PEMBELAJARAN


1. 2. 3. 4.

Infeksi pada payudara selama kehamilan,nifas dan laktasi Infeksi menular seksual selama kehamilan,nifas dan laktasi. Infeksi menular non-seksual selama kehamilan,nifas dan laktasi. Trauma akibat infeksi tidak menular

LANGKAH VI MENGUMPULKAN INFORMASI Mahasiswa melakukan pencarian materi di buku teks, literature yang terkomputerisasi, menggunakan internet, konsultasi pakar dan lainnya yang dapat membantu untuk memperoleh informasi. LANGKAH VII PEMBAHASAN TUJUAN PEMBELAJARAN

1.Infeksi pada payudara


Saluran ASI Tersumbat dan Mastitis (Radang Kelenjar Susu) Mastitis disebabkan karena infeksi (hampir selalu karena bakteri daripada jenis kuman lainnya) yang biasanya terjadi pada ibu menyusui. Namun dapat pula terjadi pada wanita mana saja, bahkan saat ia tidak sedang menyusui, bahkan juga dapat terjadi pada bayi baru lahir, dengan jenis kelamin apapun. Tidak ada yang tahu secara pasti mengapa beberapa wanita mengalami mastitis sedang yang lainnya tidak. Bakteri dapat masuk ke payudara melalui retakan atau lecet pada puting, tetapi wanita yang putingnya tidak lecet juga dapat mengalami mastitis, dan banyak juga wanita yang putingnya retak atau lecet malah tidak mengalaminya. Mastitis berbeda dengan saluran tersumbat, karena saluran tersumbat bukanlah infeksi, sehingga tidak perlu diobati dengan antibiotik. Pada saluran tersumbat, ibu merasakan sakit, bengkak dan pengumpulan massa di payudara. Kulit yang menutupi saluran tersumbat biasanya berwarna merah, tapi tidak semerah pada mastitis. Tidak seperti mastitis, saluran tersumbat tidak selalu diikuti dengan demam, walaupun bisa saja demam terjadi. Mastitis biasanya lebih sakit daripada saluran tersumbat, tapi keduanya bisa terasa cukup sakit. Karena itu, tidak mudah membedakan antara mastitis ringan dan saluran tersumbat yang parah. Ada kemungkinan juga saluran tersumbat berkembang menjadi mastitis, sehingga menjadi lebih rumit. Bagaimanapun, tanpa adanya benjolan dalam payudara, berarti tidak ada mastitis ataupun saluran tersumbat. Di Perancis, para dokter mengenali sesuatu yang mereka sebut lymphangite yaitu ketika ibu merasakan sakit, kulit yang merah terbakar, bersamaan dengan demam, namun tidak ada benjolan yang sakit di payudara. Kelihatannya, banyak yang tidak percaya lymphangite ini memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Saya pernah melihat beberapa kasus yang sesuai dengan gambaran ini, dan kenyataannya masalah tersebut hilang tanpa ibu meminum antibiotik. Tapi kemudian, seringkali mastitis yang sangat bengkak juga bisa hilang tanpa ibu meminum antibiotik. Seperti hampir semua masalah menyusui, pelekatan yang buruk, dan dengan demikian pengosongan payudara menjadi kurang baik, membuat ibu mengalami saluran tersumbat 5

dan mastitis. Saluran tersumbat Saluran tersumbat hampir selalu dapat terselesaikan tanpa pengobatan khusus antara 24 hingga 48 jam setelah terjadi. Selama sumbatan itu masih ada, bayi mungkin saja rewel ketika menyusu di payudara tersebut karena aliran ASI akan lebih lambat dari biasanya. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya tekanan dari benjolan yang menekan saluran lain. Saluran tersumbat dapat diatasi lebih cepat jika : 1. Teruskan menyusui pada payudara yang sakit, dan kosongkan payudara dengan lebih baik. Hal ini dapat dilakukan dengan : o Sedapat mungkin melakukan pelekatan yang baik (lihat lembar informasi Ketika Melekat/When Lacthing juga video klip bagaimana melekatkan bayi pada situs nbci.ca) o Menggunakan tekanan pada payudara untuk menjaga ASI tetap mengalir (lihat lampiran informasi Penekanan Payudara/Breast Compression dan video klip bagaimana melekatkan bayi pada situs nbci.ca). Letakkan tangan di sekitar saluran yang tersumbat dan jika tidak terlalu sakit, tekan saat bayi sedang menyusui. o Susui bayi dengan posisi sedemikian rupa sehingga dagu bayi mengarah pada saluran yang tersumbat. Jadi, bila saluran tersumbat ada pada bagian luar bawah payudara (arah jam 7), maka menyusui bayi dengan posisi football dapat sangat membantu. 2. Hangatkan area yang terinfeksi. Anda bisa melakukan ini dengan bantalan penghangat atau botol berisi air panas, tetapi hati-hati untuk tidak membakar kulit dengan menempelkan yang terlalu panas untuk waktu yang terlalu lama. 3. Coba untuk beristrirahat. Tentu saja, dengan kehadiran seorang bayi baru tidaklah mudah untuk beristirahat. Cobalah untuk tidur. Bawa bayi bersama Anda ke tempat tidur dan susui dia di sana. Lepuh atau blister (gelembung) Kadang-kadang, namun tidak selalu, saluran tersumbat diikuti dengan lepuh atau gelembung pada ujung puting. Warna putih datar pada puting bukan lepuh atau blister. Bila tidak ada rasa sakit pada gumpalan yang ada di payudara, hal ini menimbulkan kerancuan untuk menyebut lepuh atau blister pada puting sebagai saluran yang tersumbat. Lepuh atau blister, biasanya, terasa sakit dan merupakan salah satu penyebab rasa sakit pada puting yang terjadi setelah beberapa hari pertama. Beberapa ibu mengalami blister pada hari-hari pertama menyusui karena pelekatan yang buruk. Tidak ada seorangpun yang tahu mengapa seorang ibu tiba-tiba mengalami lepuh atau blister beberapa minggu setelah kelahiran bayinya. Blister seringkali timbul tanpa ibu memiliki saluran yang tersumbat. Bila blister terasa sangat menyakitkan (biasanya seperti itu), akan membantu untuk membukanya, karena ini dapat membuat Anda terbebas dari rasa sakit. Anda dapat membukanya sendiri, namun lakukan hal ini hanya sekali saja. Bagaimanapun, bila Anda merasa perlu untuk mengulang prosesnya, atau bila Anda tidak dapat melakukannya 6

sendiri, yang terbaik adalah temui dokter Anda atau datang ke klinik kami.

Bakar jarum jahit atau pin, biarkan sampai dingin, dan tusukkan pada blister. Jangan menggali di sekitarnya; cukup angkat bagian atas atau sisi blister. Coba untuk menekan di bawah blister; Anda mungkin dapat mengeluarkan isi seperti pasta gigi melalui kulit blister yang sekarang terbuka. Jika Anda mengalami saluran tersumbat bersamaan dengan blister, hal ini mungkin dapat mengakibatkan sumbatan terbuka. Menyusui bayi pada payudara yang sakit juga dapat melepaskan sumbatan pada payudara.

Setelah Anda menusuk lepuh atau blister, mulai gunakan salep puting serbaguna setiap habis menyusui kira-kira selama seminggu. Alasannya adalah untuk menghindari infeksi dan juga untuk mengurangi resiko kembalinya lepuh atau blister. Lihat lembar informasi mengenai Salep Puting Serbaguna (All Purpose Nipple Oinment). Anda memerlukan resep untuk mendapatkan salep ini. Ultrasonografi (USG) untuk saluran tersumbat Kebanyakan saluran tersumbat akan hilang dalam 48 jam. Bila saluran tersumbat belum hilang dalam 48 jam atau lebih, terapi USG seringkali berhasil. Kebanyakan klinik fisioterapi atau pengobatan untuk olahraga sekitar dapat melakukannya untuk Anda. Bagaimanapun, sangat sedikit yang menyadari kegunaan USG ini untuk menyembuhkan saluran yang tersumbat. Terapis USG yang sudah berpengalaman dengan teknik ini akan lebih berhasil. Beberapa ibu telah mencoba menggunakan ujung datar pada sikat gigi elektronik untuk menghasilkan terapi serupa USG. Dan sepertinya memberikan hasil yang cukup baik. Bila dua terapi pada dua hari berturut-turut tidak membantu menyelesaikan masalah tersumbatnya saluran, tidak perlu mendapatkan perawatan lagi. Saluran tersumbat Anda harus diperiksa dengan dokter Anda atau di klinik kami. Walaupun begitu, biasanya masalah ini hanya membutuhkan satu macam terapi penyembuhan. USG juga dapat menghindari terulangnya kembali saluran tersumbat yang biasanya terjadi di bagian yang sama pada payudara. Dosis USG adalah 2 watt/cm selama lima menit pada area yang terkena, sehari sekali untuk sampai dua terapi. Lesitin adalah suplemen makanan yang sepertinya dapat membantu beberapa ibu untuk menghindari saluran tersumbat. Karena lesitin dapat menurunkan kekentalan dari ASI dengan meningkatkan persentase asam lemak tak jenuh ganda pada ASI. Lesitin aman untuk dikonsumsi, relatif murah, dan dapat bekerja setidaknya pada beberapa ibu. Dosisnya adalah 1200 mg empat kali setiap hari. Mastitis Bila Anda mulai mendapati gejala-gejala mastitis (gumpalan yang terasa sakit di payudara, kulit kemerahan dan sakit pada payudara, demam) cobalah untuk beristirahat. Tidur dan bawa bayi Anda bersama Anda sehingga Anda tetap dapat terus menyusui sementara tetap di tempat tidur. Istirahat adalah pertolongan yang baik untuk melawan 7

infeksi. Tetap teruskan menyusui pada bagian yang sakit. Seharusnya bisa sembuh tanpa harus menyusui di payudara yang lain. Tentu saja, bila terasa amat sakit sehingga Anda tidak dapat menyusui pada payudara yang sakit, tetap lanjutkan menyusui pada payudara yang lain, setelah rasa sakitnya berkurang, baru susui bayi pada payudara yang terkena mastitis. Terkadang saat Anda memerah ASI, Anda tidak akan merasa terlalu sakit, tapi tidak selalu, jadi bila memang memungkinkan, lanjutkan menyusui pada area yang terkena mastitis. Ibu dan bayi saling berbagi kuman. Panas membantu melawan infeksi. Mengosongkan payudara juga dapat membantu. Gunakan botol berisi air panas atau bantalan pemanas tetapi hati-hati agar tidak membakar kulit. Demam dapat membantu melawan infeksi. Orang dewasa biasanya merasa sangat tidak nyaman ketika mereka sedang demam dan Anda akan berusaha untuk menurunkan demam karena alasan ini. Tapi Anda tidak perlu menurunkan demam karena demam memang seharusnya ada. Demam tidak membuat ASI menjadi buruk! Kentang (diambil dari Bridget Lynch, RM, Komunitas Bidan di Toronto). Dalam 24 jam pertama ketika gejala-gejala mulai tampak, meletakkan irisan kentang mentah pada payudara dapat meringankan rasa sakit, pembengkakan, dan kemerahan akibat mastitis.

Potong tipis memanjang 6 sampai 8 kentang mentah yang sudah dicuci. Letakkan pada mangkuk besar berisi air dengan suhu ruang dan diamkan selama 15 sampai 20 menit. Letakkan irisan kentang basah pada area yang terkena mastitis dan diamkan selama 15 sampai 20 menit. Buang kentang setelah 15 atau 20 menit, dan ambil kentang yang baru dari dalam mangkuk. Ulangi proses ini dua kali lagi sampai anda meletakkan irisan kentang tiga kali dalam satu jam. Beri jeda selama 20 sampai 30 menit, kemudian ulangi prosedur di atas.

Mastitis dan Antibiotik Umumnya, lebih baik untuk menghindari antibiotik karena mastitis dapat sembuh dengan sendirinya dan antibiotik dapat mengakibatkan Anda mengalami infeksi Candida (jamur) pada puting dan/atau payudara. Pendekatan yang kami lakukan adalah sebagai berikut : Jika Anda telah memiliki gejala konsisten mastitis selama kurang dari 24 jam, kami akan memberikan resep untuk antibiotik, tetapi menyarankan Anda menunggu sebelum mulai minum obat. 8

Bila dalam 8 hingga 12 jam, gejala Anda memburuk (lebih sakit, kemerahan pada kulit meluas atau gumpalan yang terasa sakit semakin membesar), mulai gunakan antibiotik. Bila dalam 24 jam berikutnya, gejala Anda tidak memburuk, tapi juga tidak membaik, gunakan antibiotik. Bila dalam 24 jam berikutnya, gejala Anda berkurang, maka hampir selalu mastitis tersebut akan terus berkurang dan menghilang tanpa perlu menggunakan antibiotik. Dalam kasus ini, gejala akan terus berkurang dan akan hilang dalam 2 sampai 7 hari ke depan. Demam akan hilang dalam 24 jam, sakit akan lenyap dalam 24 sampai 72 jam dan gumpalan pada payudara akan menghilang dalam 5 hingga 7 hari ke depan. Biasanya gumpalan perlu waktu lebih dari 7 hari untuk benar-benar hilang, tapi selama ukurannya semakin kecil, ini adalah hal yang bagus.

Bila Anda telah mengalami gejala konsisten mastitis lebih dari 24 jam dan gejala tersebut tidak membaik, Anda harus segera mulai mengkonsumsi antibiotik. Bila Anda akan mulai mengkonsumsi antibiotik, Anda harus menggunakan antibiotik yang benar. Amoxicillin, penicillin sederhana dan beberapa antibiotik lainnya yang sering digunakan untuk mengobati mastitis, tidak membunuh bakteri yang hampir selalu menyebabkan mastitis (Staphylococcus aureus). Beberapa antibiotik yang membunuh Staphylococcus aureus meliputi: cephalexin (pilihan biasa kami), cloxacillin, dicloxacillin, flucloxacillin, amoxicillin dikombinasikan dengan asam clavulinic, clindamycin dan ciprofloxacin. Antibiotik yang dapat digunakan oleh masyarakat yang methicillin-resistant Staphylococcus aureus (CA-MRSA): cotrimoxazole dan tetracycline. Semua antibiotik tersebut dapat digunakan saat ibu menyusui dan tidak perlu menghentikan proses menyusui. Anda tidak harus menghentikan menyusui bila Anda terinfeksi MRSA! Bagaimanapun, menyusui dapat menurunkan resiko bayi terkena infeksi. Obat untuk rasa nyeri/demam (ibuprofen, acetaminophen, dan lainnya) dapat membantu Anda mengatasi rasa sakit ini. Jumlah yang masuk ke dalam ASI, seperti juga halnya dengan obat lain, adalah sangat kecil. Acetaminophen mungkin kurang berguna dibandingkan dengan obat lainnya (seperti ibuprofen) yang memiliki efek anti-inflamasi. Abses Payudara Operasi bukan lagi pilihan pengobatan terhadap abses payudara. Kami telah mendapatkan hasil yang lebih baik dengan USG untuk menemukan abses dan memasukkan kateter ke dalamnya dan mengeringkannya. Ibu yang menggunakan prosedur ini tidak perlu berhenti menyusui bahkan pada area yang terinfeksi, dan dapat menyelesaikan proses penyembuhan dalam seminggu. Prosedur ini dilakukan dengan intervensi radiolog, bukan seorang ahli bedah.

2.Infeksi menular seksual


9

Infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, jamur. Penularannya melalui hubungan seksual Selama masa kehamilan, perempuan mengalami beberapa perubahan yang nantinya akan beresiko terjadinya infeksi. Perubahan itu berupa : 1. Perubahan imunologik Selama hamil terjadi supresi imunokompetensi ibu yang akan meningkat sesuai dengan uusia kehamilan . contoh : kondiloma akuminata dan herpes genital lebih sering dijumpai wanita hamil daripada wanita tidak hamil 2. Perubahan anatomic Dinding vagina menjadi hipertrofi dan penuh darah. Serta serviks juga mengalami hipertrofi dan semakin luas daerah epitel kolumnar pada ektroserviks yang terpajan mikroorganisme yang akan mengakibatkan mudahnya terpajan infeksi . Beberapa penilitian menyebutkan, serviks menghasilkan mucus pada saat hamil yang berfungsi sebagai penghalang masuknya Mikroorganisme . namun penelitian itu beum terlalu valid. 3. Perubahan flora microbial servikovaginal Saat hamil spesies anaerob dalam vagina berkurang. Prevalensi dan kuantitas laktobasilus meningkat. Dikarenakan Ph vagina, kandungan glikogen dan vaskularisasi genital bagian bawah Dampak infeksi menular seksual pada perempuan hamil Tergantung pada : - Organism penyebab Lamanya infeksi Usia kehamilan saat terinfeksi

Hasil konsepsi yang tidak sehat dikarenakan infeksi menular seksual, akan mengakibatkan: - Kematian janin (sbortus spontan atau lahir mati) BBLR (premature, restriksi pertumbuhan janin dalam rahim) Infeksi congenital dan perinatal (kebutaan, pneumonia neonates, retardasi mental)

A. GONORE Semua infeksi yang disebabkan oleh Neisseria Gonorrhoeae. Gambaran klinik dan perjalanan penyakit perempuan berbeda dengan pria, Karen anatomi dan fisiologinya berbeda 10

Keluhanyang paling sering adalah bertambahnya duh tubuh genital, disuria kadang kadang poliuria, perdarahan antara masa haid, menoragia Daerah yang sering terinfeksi adalah serviks yang akan menyebabkan serviks hipereis, erosi dan mengeluarkan secret purulen Diagnosis - Menemukan N. Gonorrhoeae sebagai penyebab. Ditemukan dapat berupa mikroskopik dan kultur Pengobatan - Tanpa komplikasi dengan pemberian dosis tunggal Sefiksim 400 mg per oral Seftriakson 250 mg per intramuscular Siprofloksasi 50 mg per oral Infeksi ini sering ditemukan pada trimester pertama sebelum korion berfusi dengan desidua dan mengisi kvum uteri Pada ophtalmia neonatorum yang ditransmisikan selama proses persalinan Pemberian : seftriakson 50-100mg / kgBB intramuscular. Dengan dosis Max 125 mg/kgBB B. SIFILIS Merupakan infeksi sistemik oleh treponema palidum yang mengenai seluruh tubuh. Seperti kulit, mukosa, jantung dan system saraf pusat. Ditularkan melalui kontak seksual pada masa kehamilan Ada beberapa pembagian sifilis : Sifilis primer Berupa tukak, timbul didaerah genital eksterna dalam 3 minggu setelah kontak. Pada perempuan terletak pada labia mayora, labia minora atau serviks. Lesi awal tidak nyeri. Permukaan nekrosis dan ulserasi yang berjumlah 1 atau banyak dengan tepi meninggi, teraba keras, batas tegas. Lesi sekunder Ditandai dengan demam, nyeri kepala, limfadenopati generalisata Sifilis laten Ditandai gejala klinik yang mengindikasikan organism ini masih tetap ada di dalam tubuh. Fase ini berlangsung bertahun-tahun. 11

Diagnose pada kehamilan : - Menemukan T.Pallidum dalam specimen dengan menggunakan mikroskop lapangan pandang gelap Tes non treponemal (reagen) Untuk melacak IgG dan IgM terhadap lipin yang ada di permukaan sel treponema Tata laksana Bagi alergi penisilin dan tidak hamil Doksisiklin per oral x 100 mg (30 hari) Tetrasiklin per oral 4x50mg/hari (30 hari)

Bagi alergi penisilin dan hamil Penisilin dengan cara desentisasi Eritromisin per oral 4 x 500 mg per hari (30 hari)

Untuk semua bayi yang baru lahir dari ibu yang seropositif Benzatin penislin 50.000 IU/kg dosis tunggal intramuscular

C. HERPES GENITAL 1. Primer Tanpa didahului oleh pajanan infeksi VHS1 / VHS2 2. Non primer. Dapat berupa : a. Episode penyakit yang terjadi pada seseorang dengan riwayat pajanan VHS 1/VHS2 b. Reaktivasi dari infeksi genital asimtomatik c. Infeksi genital pada seseorang dengan orobialis Gejala - Diawali dengan rasa terbakar, gatal di daerah lesi Demam dan nyeri otot 12

Vesikel berkelompok dan dasar eritem yang mudah pecah dan menimbulkan erosi multiple Kelenjar getah bening membesar dan nyeri

Transmisi - Melalui kontak seksual dengan pasangan yang telah terinfeksi Secara vertical dari ibu ke janin yang dikandungnya 70 % ini feksi pada neonates terjadi pada persalinan pervaginam . bayi berkontak langsung melalui jalan lahir dengan duh vagina ibu yang terinfeksi Saat janin dikandungan. Secara asendens dari serviks atau vulva atau transplasenta. Janin yang resiko tinggi, sehingga timbul lesi pada kehamilan.

Diagnosis - Vesikel berkelompok dengan dasar eritema Riwayat gejala berulang Uji Tzank di laboratorium Deteksi virus dengan kultur ELISA untuk menentukan adanya antigen atau antibody di VHS dalam serum oenderita Tes IgM tidak dapat dipakai pada saat terjadi perlepasam virus

Tatalaksana - Terapi supresif siklovir pada minggu 4 terakhir kehamilan dapat mencegah rekunsi Herpes genital saat partus Seksio sesar pada semua perempuan hamil ang Herpes genital lesi primer saat menjelang kelhairan Dosis asiklovir Asiklovir per oral 5 x 700 mg/hari (7 hari) Lesi berat intervena 3-5 mg/kgBB (7-10 hari) Infeksi rekuren Asiklovir 5 x 200 mg/hari (5hari) Valasiklovir 2x500 mg/hari Pada neonates 13

10 mg /kg BB intravena (tiap 8 jam ) selama 10 -12 hari

D. KONDILOMA AKUMINATA DIsebabkan oleh papiloma virus. Lesi dapat berproliferasi selama kehamilan dan sering mengalami regresi spontan setelah persalinan. Jarang ditransmisikan pada neonates, tetapi terdapat laporan adanya papiloma tosis laring dan respiratorik pada bayi dan anak. Rute transmisi bias berupa transplaseta, perinatal, ataupun postnatal.

Diagnosis Diagnosis klinik sudah cukup. Walaupun pemeriksaan serotip hPv tersedia, tapi tidak terlalu diperlukan

Tata laksana -terapi dapat dipertimbangkan, terutama pada pasien asimptomatik, Karen lesi bias rapuh selama kehamilan atau mengganggu proses persalinan. - krioterapi dan trikloroasetik selama kehamilan -kauterisasi karena area genital sangat vascular selama kehamilan dan perdarahan berlebihan dapat terjadi pada elektrokauterisasi .

3.Infeksi menular non-seksual


A.Toxoplasmosis Suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa yang tergolong dalam coccidia. Sebagai haspes definitif parasit ini adalah kucing, sedangkan manusia sebagai hospes perantara. Siklus haspes Toxoplasmosis gondii terdiri dari dua fase, yaitu fase reproduktif ( aseksual dan seksual ) dalam hospes definitif dan fase proliferasi. Pada hospes perantara perkembangan parasit dalam usus kucing menghasilkan ookista yang di keluarkan bersama dengan tinja kucing. Ookista menjadi matang dan infektif dalam waktu 3-5 hari di tanah. Ookista yang matang dapat hidup setahun didalam tanah yang lembab dan panas, yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Seekor kucing dapat menghasilkan ookista 10 juta sehari selama 2 minggu. Cara Penularan Bila Ookista yang matang tertelan tikus, burung, babi, kambing dan manusia ( hospes perantara) maka hasps perantara akan terinfeksi. Manusia dapat terinfeksi parasit ini bila memakan daging yang kurang matang atau sayuran yang mengandung okista atau dapat pula pada anak-anak yang suka bermain di tanah serta ibu-ibu yang 14

gemar berkebun dan petani yang tangannya dapat tertempel ookista dari tanah. Hal ini dapat juga terjadi pada orang yang senang menggendong-gendong kucing sebagai hewan kesayangan, karena tangan mereka dapat tertempel ookista dari bulu kucing. Setelah ookista atau kista jaringan ditelan manusia, nasib parasit akan ditentukan oleh keadaan kekebalan tubuh penderita : - Apabila keadaan kekebalan tubuh baik, maka parasit didalam sel yang berbentuk bradyzoite akan mati. Parasit dan sel tubuh yang mati ini akan menimbulkan reaksi radang menahun ringan seperti berkumpulnya sel limfosit dan makrofag. - Pada individu yang tidak mempunyai kekebalan tubuh atau kekebalan tubuhnya sangat rendah maka parasit yang ada didalam sel tersebut akan berkembang dengan cepat sehingga sel akan rusak. Dalam hal seperti ini akan banyak ditemukan kerusakan sel dengan parasit disekitarnya dan reaksi radang. Pada keadaan seperti ini, timbul gejala klinis. - Apabila keadaan kekebalan tubuh ada, tetapi tidak cukup untuk mematikan, bradyzoite akan tetap berada didalam sel berupa kista yang tidak menimbulkan reaksi jaringan. Keadaan ini bisa berlangsung lama. Bila suatu saat keadaan yang laten ini dapat berubah menjadi infeksi yang akut. Gejala Klinis Manusia yang menderita Toxoplasmosis akut pada umumnya tidak merasakan sakit yang menarik perhatiannya sehingga tidak terdeteksi. Gejala klinis yang muncul mirip dengan gejala klinis penyakit infeksi pada umumnya, yaitu : -Demam -Pembesaran kelenjar limfa dileher bagian belakang tanpa rasa sakit -Sakit kepala -Rasa sakit di otot -Lesu / lemas Gejala ini biasanya sembuh secara spontan ( Frenkle 1990 ). Strickland (1991) melaporkan 89% penderita toxoplasma akut mengalami gejala klinis berupa demam, 84% sakit kepala dan pembesaran kelenjar limfa, 60% sakit di otot, 54% leher kaku dan tidak nafsu makan, 20% dengan bercak- bercak merah dikulit, 24% sakit disendi dan 11% dengan radang hati. Toxoplasmosis akut dan reinfeksi pada wanita hamil dapat menyebabkan penularan secara pasif bayi yang dikandung. Besarnya angka penularan pada bayi tergantung pada usia kehamilan. Angka penularan sebesar 1% terjadi bila wanita hamil menderita toxoplasmosis sebelum terjadi pembuahan, 12% bila usia kehamilan 6 - 16 minggu dan 20% bila usia kehamilan 16 – 28 minggu sampai saat dilahirkan. Bayi yang dikandung oleh wanita hamil di usia kehamilan trimester I mampu terinfeksi sebesar 25%, sedangkan di usia kehamilan trimester III sebesar 65%. Infeksi pada kehamilan sangat awal dapat menyebabkan abortus dan bayi meninggal dalam kandungan. Infeksi pada kehamilan trimester I dapat menyebabkan kelainan bawaan yang berat pada bayi, karena pada saat itu sedang berlangsung proses pertumbuhan alat-alat tubuh. Kelainan bawaan yang terjadi dapat berupa Hidrosefalus, Mikrosefalus, perkapuran otak, gangguan syaraf seperti kejang-kejang, gangguan reflek, retandasi mental, gangguan pengelihatan yang dapat menyebabkan kebutaan dan radang hati ( Frenkle – 1990, Kierzenbaum – 1994 ). Pada toxoplasmosis kronis dapat terjadi gejala klinis berupa Korioretinitis yang dapat menyebabkan gangguan pengelihatan, sakit kepala, Ensefalitis, bahkan lumpuh sebagian badan ( Soemarsono, 1990). Pengobatan 15

Apabila setelah pemeriksaan darah tenyata positif (+) terinfeksi TORCH, maka pengobatan sebagai berikut : . Ada dua jenis pengobatan : - Pengobatan sampai tuntas, yaitu selama 3-6 bulan. Apabila dalam waktu 3 bulan pengobatan dinyatakan kandungan TORCH dalam darah telah negatif, maka dapat segera programkan kehamilan, tetapi bila hasilnya belum negatif maka lanjutkan pengobatan 3 (tiga) bulan selanjutnya. - Perawatan Kehamilan ( 0-9 bulan ), selama kehamilan harus selalu minum obat secara teratur yang berfungsi melindungi janin dari virus dan parasit juga menetralisir darah. Cara Pencegahan Prinsip pencegahan yang dilakukan agar tidak terkena toxoplasmosis adalah dengan memutus rantai penularan sehingga ookista infektif maupun kista tidak masuk ke dalam tubuh manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, diantaranya adalah : - Mencuci tangan menggunakan air dan sabun sebelum makan dan setelah memegang daging mentah. - Tempat pembuangan tinja kucing harus selalu bersih dan dikosongkan setiap hari. Pekerjaan ini jangan di lakukan oleh wanita hamil. - Orang yang senang berkebun sebaiknya memakai sarung tangan, tangan di cuci dengan air dan sabun agar tidak terkontaminasi dengan ookista infektif. - Mencuci sayuran mentah dan buah – buahan segar dengan bersih sebelum di makan. - Memasak jaringan hewan mamalia dengan sempurna. Kista akan rusak pada suhu diatas 50 C. - Wanita hamil harus menghindarkan diri dari kotoran kucing, tanah dan jaringan mentah. - Wanita yang akan hamil dan yang sudah hamil sebaiknya di periksa darahnya untuk mengetahui adanya toxoplasmosis. Bila di ketahui terkena toxoplasmosis, harus segera di obati agar tidak terjadi penularan secara pasif. B.RUBELLA Definisi Rubella (German measles) merupakan suatu penyakit virus yang umum pada anak dan dewasa muda, yang ditandai oleh suatu masa prodromal yang pendek, pembesaran kelenjar getah bening servikal, suboksipital dan postaurikular, disertai erupsi yang berlangsung 2-3 hari. Pada anak yang lebih besar dan orang dewasa sekali-kali terdapat infeksi berat disertai kelainan sendi dan purpura. Kelainan prenatal akibat rubela pada kehamilan muda dilaporkan pertama kali oleh Gregg di Australia pada tahun 1941. Rubela pada kehamilan muda dapat mengakibatkan abortus, bayi lahir mati, dan menimbulkan kelainan kongenital yang berat pada janin. Sindrom rubela kongenital merupakan penyakit yang sangat menular, mengenai banyak organ dalam tubuh dengan gejala klinis yang luas. Hingga saat ini penyakit rubela masih merupakan masalah dan terus diusahakan eliminasinya. Rubella menjadi penting karena penyakit ini dapat menimbulkan kecacatan pada janin. Sindroma rubella congenital (Congenital Rubella Syndrome, CRS) terjadi pada 90% bayi yang dilahirkan oleh wanita yang terinfeksi rubella selama trimester pertama kehamilan; risiko kecacatan congenital ini menurun hingga kira-kira 10-20% pada 16

minggu ke-16 dan lebih jarang terjadi bila ibu terkena infeksi pada usia kehamilan 20 minggu. Infeksi janin pada usia lebih muda mempunyai risiko kematian di dalam rahim, abortus spontan dan kecacatan congenital dari sistem organ tubuh utama. Cacat yang terjadi bisa satu atau kombinasi dari jenis kecacatan berikut seperti tuli, katarak, mikroftalmia, glaucoma congenital, mikrosefali, meningoensefalitis, keterbelakangan mental, patent ductus arteriosus, defek septum atrium atau ventrikel jantung, purpura, hepatosplenomegali, icterus dan penyakit tulang radiolusen. Penyakit CRS yang sedang dan berat biasanya sudah dapat diketahui ketika bayi baru lahir; sedangkan kasus ringan yang mengganggu organ jantung atau tuli sebagian, bisa saja tidak terdeteksi beberapa bulan bahkan hingga beberapa tahun setelah bayi baru lahir. Diabetes mellitus dengan ketergantungan insulin diketahui sebagai manifestasi lambat dari CRS. Malformasi congenital dan bahkan kematian janin bisa terjadi pada ibu yang menderita rubella tanpa gejala. Epidemiologi Penyakit ini terdistribusi secara luas di dunia. Epidemik terjadi dengan interval 5-7 tahun (6-9 tahun), paling sering timbul pada musim semi dan terutama mengenai anak serta dewasa muda. Pada manusia virus ditularkan secara oral droplet dan melalui plasenta pada infeksi kongenital. Sebelum ada vaksinasi, angka kejadian paling tinggi terdapat pada anak usia 5-14 tahun. Dewasa ini kebanyakan kasus terjadi pada remaja dan dewasa muda. Kelainan pada fetus mencapai 30% akibat infeksi rubela pada ibu hamil selama minggu pertama kehamilan. Risiko kelainan pada fetus tertinggi (50-60%) terjadi pada bulan pertama dan menurun menjadi 4-5% pada bulan keempat kehamilan ibu. Survei di Inggris (1970-1974) menunjukkan insidens infeksi fetus sebesar 53% dengan rubela klinis dan hanya 19% yang subklinis. Sekitar 85% bayi yang terinfeksi rubela kongenital mengalami defek. Etiologi Rubella disebabkan oleh suatu RNA virus, genus Rubivirus, famili Togaviridae. Virus dapat diisolasi dari biakan jaringan penderita. Secara fisiko-kimiawi virus ini sama dengan anggota virus lain dari famili tersebut, tetapi virus rubela secara serologik berbeda. Pada waktu terdapat gejala klinis virus ditemukan pada sekret nasofaring, darah, feses dan urin. Virus rubela tidak mempunyai pejamu golongan intervetebrata dan manusia merupakan satu-satunya pejamu golongan vertebrata. Cara Penularannya melalui kontak dengan sekret nasofaring dari orang terinfeksi. Infeksi terjadi melalui droplet atau kontak langsung dengan penderita. Pada lingkungan tertutup seperti di asrama calon prajurit, semua orang yang rentan dan terpajan bisa terinfeksi. Bayi dengan CRS mengandung virus pada sekret nasofaring dan urin mereka dalam jumlah besar, sehingga menjadi sumber infeksi. Penyebab rubella atau campak Jerman adalah virus rubella. Meski virus penyebabnya berbeda, namun rubella dan campak (rubeola) mempunyai beberapa persamaan. Rubella dan campak merupakan infeksi yang menyebabkan kemerahan pada kulit pada penderitanya. Perbedaannya, rubella atau campak Jerman tidak terlalu menular dibandingkan campak yang cepat sekali penularannya. Penularan rubella dari penderitanya ke orang lain terjadi melalui percikan ludah ketika batuk, bersin dan udara yang terkontaminasi. Virus ini cepat menular, penularan dapat terjadi sepekan (1 minggu) sebelum timbul bintikbintik merah pada kulit si penderita, sampai lebih kurang sepekan setelah bintik tersebut menghilang. 17

Namun bila seseorang tertular, gejala penyakit tidak langsung tampak. Gejala baru timbul kira-kira 14 21 hari kemudian. Selain itu, campak lebih lama proses penyembuhannya sementara rubella hanya 3 hari, karena itu pula rubella sering disebut campak 3 hari. Patogenesis Penularan terjadi melalui droplet, dari nasofaring atau rute pernafasan. Selanjutnya virus rubela memasuki aliran darah. Namun terjadinya erupsi di kulit belum diketahui patogenesisnya. Viremia mencapai puncaknya tepat sebelum timbul erupsi di kulit. Di nasofaring virus tetap ada sampai 6 hari setelah timbulnya erupsi dan kadang-kadang lebih lama. Selain dari darah dan sekret nasofaring, virus rubela telah diisolasi dari kelenjar getah bening, urin, cairan serebrospinal, ASI, cairan sinovial dan paru. Penularan dapat terjadi biasanya dari 7 hari sebelum hingga 5 hari sesudah timbulnya erupsi. Daya tular tertinggi terjadi pada akhir masa inkubasi, kemudian menurun dengan cepat, dan berlangsung hingga menghilangnya erupsi. Manifestasi Klinis Masa inkubasi Masa inkubasi berkisar 14 21 hari. Dalam beberapa laporan lain waktu inkubasi minimum 12 hari dan maksimum 17 sampai 21 hari. Masa prodromal Pada anak biasanya erupsi timbul tanpa keluhan sebelumnya; jarang disertai gejala dan tanda masa prodromal. Namun pada remaja dan dewasa muda masa prodromal berlangsung 1-5 hari dan terdiri dari demam ringan, sakit kepala, nyeri tenggorok, kemerahan pada konjungtiva, rinitis, batuk dan limfadenopati. Gejala ini segera menghilang pada waktu erupsi timbul. Gejala dan tanda prodromal biasanya mendahului 1-5 hari erupsi di kulit. Pada beberapa penderita dewasa gejala dan tanda tersebut dapat menetap lebih lama dan bersifat lebih berat. Pada 20% penderita selama masa prodromal atau hari pertama erupsi timbul suatu enantema, tanda Forschheimer, yaitu makula atau petekiia pada palatum molle. Pembesaran kelenjar limfe bisa timbul 5-7 hari sebelum timbul eksantema, khas mengenai kelenjar suboksipital, postaurikular dan servikal dan disertai nyeri tekan. Masa eksantema Seperti pada rubeola, eksantema mulai retro-aurikular atau pada muka dan dengan cepat meluas secara kraniokaudal ke bagian lain dari tubuh. Mula-mula berupa makula yang berbatas tegas dan kadang-kadang dengan cepat meluas dan menyatu, memberikan bentuk morbiliform. Pada hari kedua eksantem di muka menghilang, diikuti hari ke-3 di tubuh dan hari ke-4 di anggota gerak. Pada 40% kasus infeksi rubela terjadi tanpa eksantema. Meskipun sangat jarang, dapat terjadi deskuamasi posteksantematik. Limfadenopati merupakan suatu gejala klinis yang penting pada rubela. Biasanya pembengkakan kelenjar getah bening itu berlangsung selama 5-8 hari. Pada penyakit rubela yang tidak mengalami penyulit sebagian besar penderita sudah dapat bekerja seperti biasa pada hari ke-3. sebagian kecil penderita masih terganggu dengan nyeri kepala, sakit mata, rasa gatal selama 7-10 hari Diagnosis Banding Penyakit yang memberikan gejala klinis dan eksantema yang menyerupai rubela adalah : a.Penyakit virus : campak, roseola infantum, eritema mononukleosis infeksiosa dan Pityriasis rosea b.Penyakit bakteri : scarlet fever (Skarlatina). c.Erupsi obat : ampisilin, penisilin, asam salisilat, barbiturat, INH, fenotiazin dan 18

diuretik tiazid. Bercak erupsi rubela yang berkonfluensi sulit dibedakan dari morbili, kecuali bila ditemukan bercak koplik yang karakteristik untuk morbili. Erupsi rubela cepat menghilang sedangkan erupsi morbili menetap lebih lama. Bila terjadi kemerahan difus dan tampak bercak-bercak berwarna lebih gelap diatasnya, perlu dibedakan dari scarlet fever. Tidak seperti scarlet fever, pada rubela daerah perioral terkena. Erupsi pada infeksi mononukleosis dapat menyerupai rubela derajat berat, namun penyakit itu dimulai dengan difteroid atau Plaut-Vincent-like tonsilitis, demam lebih tinggi, pembesaran kelenjar getah bening umum serta pembesaran hepar dan limpa. Pada sifilis stadium dua ditemukan juga eksantema yang menyerupai rubela, disertai pembesaran kelenjar getah bening umum, kadang-kadang perlu pemeriksaan serologik untuk sifilis. Erupsi obat menyerupai rubela yang dapat disertai pembesaran kelenjar getah bening disebabkan terutama oleh senyawa hidantoin. Pada kasus yang meragukan dapat dilakukan pemeriksaan hemogram dan serologik. Diagnosis Diagnosis klinis sering kali sukar dibuat untuk seorang penderita oleh karena tidak ada tanda atau gejala yang patognomik untuk rubela. Seperti dengan penyakit eksantema lainnya, diagnosis dapat dibuat dengan anamnesis yang cermat. Rubela merupakan penyakit yang epidemik sehingga bila diselidiki dengan cermat, dapat ditemukan kasus kontak atau kasus lain di dalam lingkungan penderita.sifat demam dapat membantu dalam menegakkan diagnosis, oleh karena demam pada rubela jarang sekali di atas 38,5C. Pada infeksi tipikal, makula merah muda yang menyatu menjadi eritema difus pada muka dan badan serta artralgia pada tangan penderita dewasa merupakan petunjuk diagnosis rubela. Perubahan hematologik hanya sedikit membantu penegakan diagnosis. Peningkatan sel plasma 5-20% merupakan tanda yang khas. Kadang-kadang terdapat leukopenia pada awal penyakit yang dengan segera segera diikuti limfositosis relatif. Sering terjadi penurunan ringan jumlah trombosit. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan serologik yaitu adanya peningkatan titer anibodi 4 kali pada hemaglutination inhibition test (HAIR) atau ditemukannya antibodi Ig M yang spesifik untuk rubela. Titer antibodi mulai meningkat 24-48 jam setelah permulaan erupsi dan mencapai puncaknya pada hari ke 6-12. selain pada infeksi primer, antibodi Ig M spesifik rubela dapat ditemukan pula pada reinfeksi. Dalam hal ini adanya antibodi Ig M spesifik rubela harus di interpretasi dengan hatihati. Suatu penelitian telah menunjukkan bahwa telah tejadi reaktivitas spesifik terhadapp rubela dari sera yang dikoleksi, setelah kena infeksi virus lain. Membedakan rubella dengan campak (q.v.), demam scarlet (lihat infeksi Streptokokus) dan penyakit ruam lainnya (misalnya infeksi eritema dan eksantema subitum) perlu dilakukan karena gejalanya sangat mirip. Ruam makuler dan makulopapuler juga terjadi pada sekitar 1-5% penderita dengan infeksi mononucleosis (terutama jika diberikan ampisilin), juga pada infeksi dengan enterovirus tertentu dan sesudah mendapat obat tertentu. Diangosa klinis rubella kadang tidak akurat. Konfirmasi laboratorium hanya bisa dipercaya untuk infeksi akut. Infeksi rubella dapat dipastikan dengan adanya peningkatan signifikan titer antibodi fase akut dan konvalesens dengan tes ELISA, HAI, pasif HA atau tes LA, atau dengan adanya IgM spesifik rubella yang mengindikasikan infeksi rubella sedang terjadi. Sera sebaiknya dikumpulkan secepat mungkin (dalam kurun waktu 7-10 hari) sesudah 19

onset penyakit dan pengambilan berikutnya setidaknya 7-14 hari (lebih baik 2-3 minggu) kemudian. Virus bisa diisolasi dari faring 1 minggu sebelum dan hingga 2 minggu sesudah timbul ruam. Virus bisa ditemukan dari contoh darah, urin dan tinja. Namun isolasi virus adalah prosedur panjang yang membutuhkan waktu sekitar 10-14 hari. Diagnosa dari CRS pada bayi baru lahir dipastikan dengan ditemukan adanya antibodi IgM spesifik pada spesimen tunggal, dengan titer antibodi spesifik terhadap rubella diluar waktu yang diperkirakan titer antibodi maternal IgG masih ada, atau melalui isolasi virus yang mungkin berkembang biak pada tenggorokan dan urin paling tidak selama 1 tahun. Virus juga bisa dideteksi dari katarak kongenital hingga bayi berumur 3 tahun Komplikasi Komplikasi relatif tidak lazim pada anak. Neuritis dan artritis kadang-kadang terjadi. Resistensi terhadap infeksi bakteri sekunder tidak berubah. Ensefalitis serupa dengan ensefalitis yang ditemukan pada rubeola yang terjadi pada sekitar 1/6.000 kasus. Kebanyakan anak-anak mengalami penyembuhan total. Anak laki-laki atau pria dewasa kadang mengalami nyeri pada testis (buah zakar) yang bersifat sementara. Sepertiga wanita mengalami nyeri sendi atau artritis. Pada wanita hamil, campak jerman bisa menyebabkan keguguran, kematian bayi dalan kandungan ataupun keguguran. Kadang terjadi infeksi telinga (otitis media). Pengobatan Jika tidak terjadi komplikasi bakteri, pengobatan adalah simtomatis. Adamantanamin hidrokhlorida (amantadin) telah dilaporkan efektif in vitro dalam menghambat stadium awal infeksi rubella pada sel yang dibiakkan. Upaya untuk mengobati anak yang sedang menderita rubela kongenital dengan obat ini tidak berhasil. Karena amantadin tidak dianjurkan pada wanita hamil, penggunaannya amat terbatas. Interferon dan isoprinosin telah digunakan dengan hasil yang terbatas. Pencegahan Pada orang yang rentan, proteksi pasif dari atau pelemahan penyakit dapat diberikan secara bervariasi dengan injeksi intramuskuler globulin imun serum (GIS) yang diberikan dengan dosis besar (0,25 0,50 mL/kg atau 0,12-0,20 mL/lb) dalam 7-8 hari pasca pemajanan. Efektivitas globulin imun tidak dapat diramalkan. Tampaknya tergantung pada kadar antibodi produk yang digunakan dan pada faktor yang belum diketahui. Manfaat GIS telah dipertanyakan karena pada beberapa keadaan ruam dicegah dan manifestasi klinis tidak ada atau minimal walaupun virus hidup dapat diperagakan dalam darah. Bentuk pencegahan ini tidak terindikasI, kecuali pada wanita hamil nonimun. Sejak tahun 1979 vaksin virus hidup RA 27/3 (fibroblas paru embrional manusia deretan WI-38) telah digunakan hanya pada imunisasi aktif terhadap rubella di Amerika Serikat. Vaksin RA 27/3 mempunyai banyak manfaat melebihi vaksin rubela lain yang dahulu digunakan karena ia menghasilkan antibodi nasofaring dan berbagai variasi antibodi serum, memberikan proteksi yang lebih baik terhadap reinfeksi, dan sangat lebih menyerupai proteksi yang diberikan oleh infeksi alamiah. Vaksin sensitif terhadap panas dan cahaya; karenanya vaksin harus disimpan dalam lemari es pada suhu 4 dan digunakan sesegera vaksin ini dilarutkan kembali. Vaksin diberikan sebagai satu injeksi subkutan. Antibodi berkembang pada sekitar 98% dari mereka yang divaksinasi. Walaupun mungkin virus menetap, terutama pada nasofaring, dan pelepasan terjadi dari 18-25 hari sesudah vaksinasi, penularan nampaknya tidak merupakan masalah. Lama persistensi antibodi rubela pasca vaksinasi dengan RA 27/3 tidak tentu tetapi 20

mungkin seumur hidup. Cara-cara pencegahan adalah paling penting untuk perlindungan janin. Vaksinasi ini terutama penting sehingga wanita mempunyai imunitas terhadap rubela sebelum mencapai usia subur, dengan penularan penyakit alamiah atau dengan imunisasi aktif. Status imun dapat dievaluasi dengan uji serologis yang tepat. Program vaksinasi rubela di Amerika Serikat mengharuskan untuk imunisasi semua laki-laki dan wanita umur 12 dan 15 bulan serta pubertas dan wanita pasca pubertas tidak hamil. Imunisasi adalah efektif pada umur 12 bulan tetapi mungkin tertunda sampai 15 bulan dan diberikan sebagai vaksin campak-parotitis-rubela (measlesmumps-rubela /MMR). Imunisasi rubela harus diberikan pada wanita pasca pubertas yang kemungkinan rentan pada setiap kunjungan perawatan kesehatan. Untuk wanita yang mengatakan bahwa mereka mungkin hamil imunisasi harus ditunda. Uji kehamilan tidak secara rutin diperlukan, tetapi harus diberikan nasehat mengenai sebaiknya menghindari kehamilan selama 3 bulan sesudah imunisasi. Kebijakan imunisasi sekarang telah berhasil memecahkan siklus epidemi rubela yang basa di Amerika Serikat dan menurunkan insiden sindrom rubella kongenital yang dilaporkanpada hanya 20 kasus pada tahun 1994. Namun imunisasi ini tidak mengakibatkan penurunan persentase wanita usia subur yang rentan terhadap rubella. Semua orang rentan terhadap infeksi virus rubella setelah kekebalan pasif yang didapat melalui plasenta dari ibu hilang. Imunitas aktif didapat melalui infeksi alami atau setelah mendapat imunisasi; kekebalan yang didapat biasanya permanent sesudah infeksi alami dan sesudah imunisasi diperkirakan kekebalan juga akan berlangsung lama, bisa seumur hidup, namun hal ini tergantung juga pada tingkat endemisitas. Di AS, sekitar 10% dari penduduk tetap rentan. Bayi yang lahir dari ibu yang imun biasanya terlindungi selama 6-9 bulan,tergantung dari kadar antibodi ibu yang didapat secara pasif melalui plasenta. Prognosis Prognosis rubella anak adalah baik; sedang prognosis rubela kongenital bervariasi menurut keparahan infeksi. Hanya sekitar 30% bayi dengan ensefalitis tampak terbebas dari defisit neuromotor, termasuk sindrom autistik. C. CYTOMEGALOVIRUS Pendahuluan Dilaporkan di negara maju bahwa infeksi kongenital karena CMV merupakan 0,3-0,5% dari kelahiran hidup dan 1-2% di negara berkembang. Lebih dari 10-15% infeksi kongenital pada anak baru lahir jelas gejalanya. Tetapi ada juga yang baru tampak gejalanya pada masa pertumbuhan dengan memperlihatkan gangguan; neurologis, mental, ketulian dan visual. Masalah yang timbul di Indonesia, sejauh mana kemampuan laboratorium untuk menegakkan diagnosis dan seberapa jauh kemajuan pengelolaan kasus infeksi kongental CMV terutama dalam pengobatan dan pencegahannya. Gejala pada ibu : Umumnya (>90%) infeksi CMV pada ibu hamil asimpomatik, tidak terdeteksi secara klinis. Gejala yang timbul tidak spesifik; demam, lesu, sakit kepala, sakit otot dan nyeri tenggorok. Transmisi dari ibu ke janin dapat terjadi selama kehamilan, infeksi pada kehamilan sebelum 16 minggu dapat mengakibatkan kelainan kongenital berat. 21

Prenatal diagnosis : Infeksi Cytomegalovirus pada janin masih merupakan masalah yang belum jelas penaganannya, kultur virus dan pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) dari sediaan cairan amnion atau darah janin merupakan cara diagnosis yang sedang dikembangkan Pemeriksaan cairan amnion sebaiknya dilakukan pada 21-23 minggu kehamilan. Sampai saat ini diagnosis CMV masih mengandalkan kepada tehnik pemeriksaan laboratorium serologi, serokonversi aviditas anti-CMV antibodi, zat ini masih dapat ditemukan sampai 20 minggu setelah terjadinya infeksi. Diagnosis CMV pada wanita hamil : Wanita dengan seropositif CMV sebelum kehamilan. Dilaporkan bahwa hanya 1,2 % sero-positif akan menyebabkan transmisi ke janin sedangkan yang sero-negatif sebelum kehamilan transmisi terjadi lebih besar (12,9%). Hal ini mengakibatkan dugaan bahwa peningkatan imunitas ibu sebelum hamil, dapat melindungi janin dari kelainan kongenital CMV sebesar 90%. Artinya imunitas spesifik ibu yang telah mengalami infeksi CMV lebih tinggi daripada ibu yang baru terinfeksi selama hamil. Dari hasil survey didapat bahwa, 50-70% wanita hamil dengan sero-positif sebelum hamil, transmisi infeksi terhadap janin (infeksi vertikal) hanya 1%, virulensinya lebih rendah dibanding wanita sero-negatif. Apakah perlu pemeriksaan rutin serologi CMV? Pemeriksaan serologi CMV tidak perlu dilakukan secara rutin, pemeriksaan hanya dilakukan bila ada tanda-tanda bahwa janin mengalami kelainan, misalnya ada dugaan kelainan pada pemeriksaan antenatal, riwayat kehamilan sebelumnya, riwayat kehamilan sekarang dan dugaan dari hasil pemeriksaan rutin. Adanya antibodi IgG CMV menyatakan bahwa pernah terjadi infeksi CMV, Kadar IgG akan tampak dalam darah 7-14 hari setelah terjadinya infeksi. Gambaran serologi ini akan menetap. IgG CMV mungkin meningkat kadarnya pada keadaan imunitas menurun seperti pada kasus transplantasi organ, AIDS. IgM akan tampak pada hari ke 3-4 setelah gejala timbul, IgM akan tetap berada dalam sirkulasi ibu sampai beberapa bulan. Infeksi kongenital dapat di diagnosis dengan menemukan IgM janin di dalam darah tali pusat (kordosentesis) atau cairan tuban (amniosentesis). Infeksi CMV dari ibu ke janin : Cytomegalovirus ditransmisikan dari ibu ke janin atau anak baru lahir melalui 3 jalan; 1) plasenta, 2) jalan lahir dan 3) ASI. Infeksi CMV perinatal umumnya terjadi karena kontak di jalan lahir dan ASI, sedangkan infeksi vertikal lebih sedikit. IgG CMV positif menyatakan pernah terjadi infeksi, IgM CMV menyatakan sedang terinfeksi. Untuk mengetahui lebih jauh kapan waktu terjadinya infeksi dapat diperkuat dengan pemeriksaan Aviditas antibodi IgG. Bila aviditas terhadap IgG rendah kemungkinan ada infeksi baru, sedang aviditas tinggi menyatakan bahwa infeksi baru tidak ada. Pemeriksaan ini penting dilakukan pada trimester pertama kehamilan, bila didapat aviditas rendah, maka pemeriksaan PCR perlu dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut akan kemungkinan adanya infeksi baru. Pemeriksaan pada wanita sero-negatif : Wanita dengan sero-negatif sejak 6 bulan sebelum kehamilan, mempunyai kemungkinan dapat terserang infeksi primer CMV. Infeksi primer peripartum mempunyai prognosis buruk. Untuk mengurangi risiko terinfeksi diajurkan untuk menjaga kebersihan dirinya (hidup higienis) dengan cara menjauhkan diri dari zat atau cairan organic; urine, ludah, 22

darah, air mata, semen, ASI dan sering mencuci tangan. Di negara maju, pemeriksaan immunoglobulin spesifik CMV (IgG) dilakukan 2 kali, pada kehamilan bulan ke 2 dan ke 4. Hasil pemeriksaan IgG CMV dapat dipakai sebagai sarana diagnosis walaupun reaksi silang dengan keluarga herpes lainnya mungkin terjadi ( HSV1, HSV2, Varicella-zoster virus dan Epstein-Barr virus). Pada ibu hamil yang keadaan serologisnya tidak diketahui sebelumnya , maka diagnosis CMV menjadi kompleks. Dinegara maju pemeriksaan serologis dan virologis sering dilakukan, malahan tes serologis termasuk tes rutin antenatal. Manifestasi klinik infeksi kongenital CMV: Gejala klinik infeksi CMV pada bayi baru lahir jarang ditemukan. Dari hasil pemeriksaan virologis, CMV hanya didapat 5-10% dari seluruh kasus infeksi kongenital CMV. Kasus infeksi kongenital CMV hanya 30-40% saja yang disertai persalinan prematur. Dari semua yang prematur setengahnya disertai Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT). 10% dari janin yang menunjukkan tanda-tanda infeksi kongenital mati dalam dua minggu pertama. Diagnosis infeksi kongenital CMV : Infeksi kongenital CMV ditegakkan bila didapat virus dari hasil isolasi cairan atau jaringan yang diperiksa. Waktu pemeriksaan virologi ini tidak lebih dari 3 minggu pertama kelahiran (kultur urine atau saliva). Pemeriksaan serologis (IgG atau IgM) kurang sensitif dan tidak dipakai untuk menegakkan diagnosis. Pengelolaan kelainan kongenital/neonatal infeksi CMV : Belum ada obat yang dapat menyembuhkan infeksi CMV. Penyakit infeksi virus CMV, seperti juga penyakit virus lainnya adalah penyakit self limited disease. Pengobatan ditujukan kepada perbaikan nutrisi, respirasi dan hemostasis. Pengobatan anti virus masih belum jelas hasilnya. Dicoba cara pemberian zat immunoglobulin in utero. Bagi ibu yang mengalami gangguan imunitas dikembangkan obat; ganciclovir, cidofovir, formivirsen, foscarnet (virustatic). Pemberian vaksin merupakan harapan dimasa datang. Pemberian Ganciclovir pada dewasa: dosis induksi 5 mg/kg dua kali sehari, intra vena selama 2 minggu, dipertahankan dengan dosis 5 mg/kg/hari. Pemberian oral untuk mempertahankan dosis dalam sirkulasi darah adalah 1 gram 3 kali sehari, perlu diperhatikan efek samping yaitu gangguaan fungsi ginjal. Pemberian Ganciclovir 12mg/kg/hr pada bayi dapat mengurangi progresivitas ketulian dalam 2 tahun pertama kehidupannya. Pencegahan : Belum didapatkan obat yang baik untuk mencegah terjadinya infeksi CMV pada ibu dan janin yang dikandungnya. Dapat diusahakan : 1. Memberikan penerangan cara hidup yang higienis, menjauhi kontak dengan cairan yang dikeluarkan oleh penderita CMV : urine, saliva, semen dlsb. 2. Bagi ibu, terutama yang melahirkan bayi prematur untuk berhati-hati dalam memberikan ASI. Bayi prematur imunitasnya masih rendah. ASI yang mengandung virus CMV, didinginkan sampai 20oC selama beberapa hari dapat menghilangkan virus. Cara lain pasteurisasi cepat. 3. Hati-hati pada transfusi, darah harus dari donor sero-negatif. 23

4. Vaksinasi mempunyai harapan dimasa datang Bagaimana di Indonesia ? Masalah diagnosis infeksi CMV pada ibu hamil dan janin yang dikandungnya masih kontroversial menunggu hasil penelitian lebih lanjut. Diagnosis serologis untuk infeksi kongenital CMV belum dipakai sebagai sarana pemeriksaan antenatal rutin. Walaupun di negara maju dilaporkan bahwa angka kejadian, 3 dari 1000 bayi baru lahir terkontak CMV. Adapun alasan yang umum adalah : 1. Biaya pemeriksaan yang relatif mahal 2. Pemeriksaan laboratorium serologis rutin masih belum sempurna, ada kemungkinan positif palsu dan belum dapat memastikan adanya infeksi vertikal. 3. Pengobatan belum memuaskan, masih dalam penelitian-penelitian awal. D.HERPES Herpes Genitalis Herpes genetalis menyerang daerah sekitar kelamin. Penyebabnya adalah virus Herpes Simpleks yakni jenis Herpesvirus Hominis tipe II. Penularannya melalui hubungan seksual. Masa inkubasinya 4 7 hari. Virus ini dapat menembus plasenta dan menginfeksi janin yang dapat mengakibatkan rusaknya organ janin terutama system saraf dan penlihatan hingga kematian. Pada wanita gejala itu sulit terdeteksi karena letaknya tersembunyi. Herpes genitalis pada wanita biasanya menyerang bagian labia majora, labia minora, klitoris, malah acap kali leher rahim (serviks). Gejala awal penyakit ini berupa keadaan mati rasa atau gatal pada alat kelamin, rasa panas atau rasa terbakar saat buang air kecil dan terkadang mengeluarkan nanah dari kemaluan. Ibu juga merasa sakit kepala, demam, sakit pada otot dan pembengkakkan kelenjar pada paha. Setelah 10 hari kemudian muncul gelembung atau lepuhan-lepuhan pada kulit yang bergerombol dengan ukuran sama besar. Vesikel ( gelombang ) yang berisi cairan ini mudah pecah sehingga menimbulkan luka yang melebar. Bahkan ada kalanya kelenjar getah bening di sekitarnya membesar dan terasa nyeri bila diraba. Berbeda dengan penyakit kelamin lainnya seperti gonore atau sifilis yang dapat disembuhkan dengan antibiotik. Herpes genitalis bersifat laten, mampu bersembunyi pada sel-sel saraf dekat tulang belakang dan akan kambuh kembali jika penderita mengalami gangguan emosional, kurang tidur dan pola makannya buruk atau terserang infeksi saluran penafasan bagian atas (ISPA) serta melakukan hubungan seksual pada masa haid. Janin dapat terinfeksi virus herpes dengan beberapa cara: Rusaknya ketuban yang membungkus bayi karena suatu hal. Pada saat persalinan bayi bisa menelan atau mengirup cairan pada jalan lahir, dan bakteri atau virus bisa masuk ke dalam tubuhnya. Ibu yang terjangkit virus herpes disarankan melahirkan lewat operasi Caesar.

24

Bayi juga dapat terinfeksi virus melalui plasenta yang memasok nutrisi dan oksigen baginya selama di dalam kandungan. Herpes Gestationis Penyakit herpes gestationis hanya menyerang wanita yang hamil muda. Gejala yang menjadi cirri penyakit ini adalah munculnya gelembung pada kaki dan perut. Sekalipun tergolong herpes namun penyakit ini tidak mengakibatkan kecacatan pada janin. Herpes gestationis dapat diobati dengan memberikan obat yang mengandung kortikosteroid. Pemberian obat jenis ini harus dalam pengawasan dokter karena dapat menyebabkan keguguran pada janin. Umumnya gelembung air pada kulit di sekitar kaki dan perut akan hilang dengan sendirinya setelah ibu melahirkan. Meskipun demikian, ibu yang pernah mengidap penyakit herpes jenis ini sebaiknya melakukan pemeriksaan apabila menginginkan kehamilan lagi sebab seperti herpes lainnya, Herpes Gestationis pun bersifat laten dan suka kambuh. Herpes Simpleks Penularan herpes simpleks terjadi melalui kontak langsung dengan kulit yang melempuh atau melalui cairan yang keluar dari kulit yang melepuh atau melalui kontak seksual pada orang dewasa. HSV 1 juga bisa ditularkan melalui kontak sosial pada masa anak-anak. Prevelansi HSV 2 lebih tinggi pada kelompok HIV positif dan mereka yang melakukan hubungan seks tanpa kondom. Virus herpes simpleks terdiri dari 2 jenis, yaitu herpes simplex 1 (HSV-1) dan herpes simplex virus 2 (HSV 2). HSV1 umumnya menyerang kulit dan selaput lendir mukosa di mata, mulut, hidung dan telinga sedangkan HSV2 biasanya menyerang kulit dan selaput lendir pada alat kelamin dan perianal. Pada kulit HSV1 membentuk verikel-verikel kecil sedangkan HSV2 membentuk verikel-verikel besar, tebal dan terpusat. Gejala klinis HSV1 mirip gejala flu yang disertai bisul atau borok yang timbul di sekitar mulut. Sedangkan HSV2 merupakan penyebab utama herpes genitalis, berupa lepuhlepuh pada kelamin yang terasa menyakitkan. Obat anti virus acylovir dalam kondisi tertentu dapat membantu meringankan rasa sakit. Untuk wanita hamil yang terjangkit HSV2 harus ditangani secara serius karena virus ini dapat menembus plasenta dan dapat menimbulkan kerusakan pada organ janin hingga menyebabkan kematian. Herpes Zoster Penderita penyakit herpes zoster akan merasakan sakit yang hebat sebab virus ini selalu menginfeksi sejumlah jaringan saraf. Seperti herpes lainnya, gejala awalnya berupa gelembung-gelembung kecil berisi cairan bening yang muncul secara tiba-tiba di sekitar punggung, dada, leher atau wajah. 25

Virus penyebab Herpes Zoster sama dengan virus penyebab cacar air, yaitu virus varicella-zoster. Oleh sebab itu penyakit ini sering disebut sebagai stadium ke dua dari cacar air, sekalipun ketika kanak-kanak pernah terjangkit tak menutup kemungkinan terjangkit kembali ketika dewasa.

Cara menanggulangi virus herpes Sampai saat ini obat pembasmi virus herpes belum diketemukan namun pemberian obat semacam acyclovir ( biasanya digunakan untuk mengobati cacar air) bagi penderita herpes sangat membantu mengurangi rasa sakit yang ditimbulkannya. Obat ini dapat mengurangi pembentukan lepuhan akibat gelembung-gelembung berair dan mempercepat penyembuhan lepuhan dan mengurangi penyebaran ke bagian tubuh lainnya. Pencegahan secara khusus untuk penyakit herpes adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh seorang ibu hamil sampai saat kelahiran tiba dengan cara mengkonsumsi makanan bergisi lengkap, menerapkan pola hidup bersih dan beristirahat dengan cukup.

4.Trauma Akibat Infeksi Tidak Menular


1. Prolapsus Genitalis Prolapsus genitalis merupakan kejadian turunnya organ genitalia karena kelemahan otot-otot atau fasia yang menyokongnya. Frekuensi kejadian 5,4%-6,4% 1.1 Prolapsus Vagina Etiologi : kelemahan di depan dan atau di belakang vagina menyebabkan turunnya kandung kemih atau usus. Sehingga dinding vagina menonjol ke lumen vagina. Patologi : terjadi inversion pada vagina atas karena kelemahan ligament endopelvik dan eversio pada vagina bawah karena kelemahan diafragma pelvis dan urogenital. Bentuk-bentuk : 1. Sistokel; 2. Uretrokel; 3. Rektokel; 4. Enterokel; 5. Kolpokel pasca histerektomi Tata laksana : dilakukan indikasi dengan adanya keluhan. Pada sistokel dilakukan kolporafi anterior. Rektokel dilakukan kolpoperineoplastik. Enterokel dilakukan kolpoperinoplastik sama seperti rektokel.

1.2 Prolapsus Uteri Definisi : turunnya uterus dari tempatnya yang normal akibat kelemahan otot dan fasia atau ligament yang menyangga melalui fasia genitalis. 26

Etiopatogenesis : 1. Kelemahan ligament endopelvik dan otot atau fasia dasar panggul karena : a. Terlalu sering melahirkan b. Perasat Crede c. Kelainan bawaan 2. Tekanan intra abdomen yang tinggi : a. Asites b. Tumor pelvic c. Kostipasi kronik Predisposisi : wanita tua (terjadi penurunan estrogen); pekerja berat; obesitas Klasifikasi : 1. Descendus uteri : uterus mengalami penurunan, serviks masih dalam vagina 2. Prolapsus uteri tingkat 1 sampai introitus vagina 3. Prolapsus uteri tingkat 2 4. Prolapsus uteri tingkat 3 : uterus turun, serviks yang paling rendah : sebagian uterus keluar vagina : seluruh uterus berada diluar vagina

Gejala klinik : 1. Perasaan mengganjal pada vagina 2. Nyeri pada panggul yang berkurang bila berbaring 3. Pada sistokel, sering miksi, tidak dapat menahan miksi dan perasaan kandung kemih tidak dapat dikosongkan. 4. Pada rektokel timbul obstipasi, bila ditekan pada rektokel barulah timbul defekasi. 5. Prolapsus uteri bisa menimbulkan ulkus dekuitus akibat gesekan. Komplikasi : 1. Kreatinisasi mukosa vagina dan portio uteri 2. Dekubitus 3. Hipertrofi serviks uteri dan elongasio colli 4. Gangguan miksi dan stress incontinence 5. Infeksi traktus urinarius 27

6. Infertilitas 7. Persalinan sulit 8. Hemoroid Tata laksana : preventif dan kuratif. Kuratif dibagi menjadi non-operatif melalui terapi fisik dan operatif guna memperbaiki posisi anatomi Fistula Urinae Etiologi : 1. Persalinan; terjadi tindakan invasive dan operatif 2. tekanan kepala janin terlalu lama pada jaringan jalan lahir di Os.pubis dan simpisis yang mnegakibatkan iskemia dan nekrosis di jalan lahir; berakhir pada timbul fistula beberapa hari setelah partus lama 3. trauma ginekologi lain gejala klinik : jaringan disekitar fistula menjadi kaku akibat nekrosis dan infeksi; serta pada fistula yang besar dapat menonjol ke luar seperti balon diagnosis : melakukan anamnesis dan pemeriksaan ginekologi dengan speculum, dapat menetapkan jenis dan tempat fistula yang berukuran besar; pemeriksaan dengan metilen blue tata laksana : fistula kecil dapat sembuh sendiri; operasi melalui vagina (transvaginal) untuk kasus fistula vesikovaginalis.

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham,F.Gary.Leveno.dkk.2010. Williams Obstetrics 23rd edition. Jakarta:EGC. Djuanda,Adhi.2009.Ilmu penyakit kulit dan kelamin.Jakarta:FKUI Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta:EGC. Hakshusodo,Suwardji.2002.Infeksi TORCH:patogenesis,infeksi maternal-kongenital

dan pengobatannya, Yogyakarta:UGM. Prawirohardjo,Sarwono.2007.Ilmu Kandungan.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Robbins S., Kumar V.2003. Buku Ajar Patologi I Edisi 2. Jakarta:EGC

28