Anda di halaman 1dari 12

PENGUKURAN HEMATOLOGI HEWAN

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Muhimatul Umami : B1J009017 : II :5 : Yudi Novianto

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2010

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Tabel : Pengukuran Hematologi Hewan Kelompok 1 2 3 4 5 6 Perhitungan: Diketahui: E1= 59 ; E2= 67 ; E3= 64 ; E4= 81 ; E5= 107 L1= 70 ; L2= 46 ; L3= 112 ; L4= 65 Leukosit = 400 (L1+ L2 + L3+ L4) = 400 (70 + 46 + 112+ 65) = 400 x 293 = 117.200 sel/mm3 Hewan uji Ikan Mencit Ayam Kadar Hb (gr/dl) 6,5 5,8 3 11 6,2 6,8 Eritrosit (sel/mm3) 148.000 260.800 234.375 319.200 117.200 117.200 Leukosit (sel/mm3) 2,125 x 10 4,97 x 106 2,425 x 106 4,02 x 106 1,89 x 106 1,89 x 106
6

Angka haematokrit (%) 22,5 23 27 48 30,1 30,4

Eritrosit = 5000 (E1+ E2 + E3 + E4 + E5) = 5000 (59 + 67 + 64 + 81 + 107) = 5000 x 378 = 1.890.000 sel/mm3

B. Pembahasan

Plasma darah adalah adalah cairan yang komplek yang berada dalam keadaan keseimbangan dinamik dengan cairan tubuh lain. Darah merupakan jaringan pengikat yang umumnya mempunyai komposisi plasma darah dan selsel darah. Darah manusia dan darah hewan terdiri atas suatu komponen cair yaitu plasma dan berbagai bentuk yang dibawa dalam plasma, antara lain sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping-keping darah. Plasma terdiri atas 90% air, 7-8% protein yang dapat larut, 1% elektrolit, dan sisanya 1-2% berbagai zat yang lain (Ville, 1988). Sel dan plasma darah memiliki peran fisiologis sangat penting. Pemeriksaan hematologi merupakan faktor penting dalam diagnosis, prognosis, dan terapi suatu penyakit. Pengukuran hematologi hewan meliputi penghitungan angka hematokrit, pengukuran kadar Hb, penghitungan jumlah total eritrosit, dan penghitungan jumlah total leukosit. Pengukuran hematologi juga dapat digunakan sebagai indikator dari pencemaran alam pada lingkungan akuatik (Maheswaran,et al. 2008). Berdasarkan hasil praktikum diperoleh data pada rombongan II yaitu jumlah eritrosit untuk ikan adalah sebesar 2,125 x 10 6 dan 4,97 x 106 sel/mm3 dan jumlah eritrosit untuk mencit adalah sebesar 2,425 x 10 6 dan 4,02 x 106 sel/mm3 serta jumlah eritrosit untuk ayam adalah sebesar 1,89 x 106 sel/mm3. Jumlah sel eritrosit pada tiap-tiap spesies adalah berbeda satu sama lain (Legler, 1997). Jumlah eritrosit pada ikan adalah 50.000-3.000.000 sel/mm3 sedangkan pada ayam betina adalah 2,72 juta sel/mm 3 dan pada ayam jantan adalah 3,23 juta sel/mm3. Sedangkan pada mamalia betina 3,9-5,6 juta sel/mm 3 dan pada mamalia jantan 4,5-6,5 juta sel/mm 3 (Hoffbrand, 1987). Jumlah eritrosit adalah paling banyak jika dibandingkan dengan unsur-unsur sel darah lainnya. Eritrosit ikan berbentuk oval dan memiliki ukuran diameter sekitar 7-26 m. Jumlah eritrosit dan leukosit juga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya umur, kondisi lingkungan, dan musim. Besarnya jumlah leukosit selalu dipengaruhi oleh jumlah eritrosit, dimana jumlah leukosit selalu lebih rendah daripada jumlah eritosit (Bevelander dan Judith, 1988). Berdasarkan hasil praktikum diperoleh jumlah leukosit untuk ikan adalah sebesar 148.000 dan 260.800 sel/mm3 dan jumlah leukosit untuk mencit adalah sebesar 234.375 dan 319.200 sel/mm3, serta jumlah leukosit untuk ayam adalah sebesar 117.200 sel/mm3. Jumlah leukosit pada ayam berkisar antara 16.000-40.000 sel/mm3 sedangkan pada sel darah ikan 20.000-150.000 sel/mm3. Jumlah leukosit pada mamalia adalah 4-11 ribu

sel/mm3 (Hoffbrand, 1987) . Hasil pengamatan yang diperoleh ada yang sesuai dengan pustaka dan ada yang tidak sesuai. Hal ini disebabkan oleh perbedaan umur, ukuran, dan jenis kelamin masing-masing spesies. Ikan yang aktif eritrositnya lebih kecil dari ikan yang tidak aktif, ukuran yang kecil memungkinkan jumlah eritrosit yang lebih banyak (Hadikastowo, 1982). Eritrosit merupakan tipe sel darah yang jumlahnya paling banyak dalam darah. Sebagian besar vertebrata mempunyai eritrosit berbentuk lonjong dan berinti kecuali pada mammalia (Guyton, 1976). Menurut Junqueira (1982), eritrosit mammalia tidak mempunyai inti dan pada manusia bebentuk cakram bikonkaf dengan garis tengah 7,2 mikrometer. Bentuk ini menyebabkan eritrosit mempunyai permukaan yang luas sehingga mempermudah pertukaran gas. Eritrosit berbentuk elips, pipih dan bernukleus yang berisi pigmen-pigmen pernafasan yang berwarna kuning sampai merah yang disebut haemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen sampai jaringan (Frandson, 1992). Eritrosit pada bangsa burung (aves) dan bangsa ikan (pisces) memiliki bentuk elips dan berinti. Fungsi eritrosit yang utama adalah untuk mengangkut oksigen. Eritrosit mengandung hemoglobin dan membawa O2 dari paru-paru ke jaringan. Biasanya ikan dengan eritrosit lebih banyak akan memiliki eritrosit yang lebih kecil (Dukes,1995). Jumlah eritrosit sangat bervariasi antara individu yang satu dengan yang lainnya. Jumlah sel darah merah (eritrosit) paling banyak dibandingkan dengan unsur sel-sel darah yang lain. Hal ini disebabkan jumlah eritrosit dalam keadaan normal adalah tetap dan baru disintesis secepat kerusakan sel tersebut. Jumlah eritrosit diperbanyak apabila terjadi perubahan dan atau pada waktu berada di daerah tinggi dengan tujuan menormalkan pengangkutan O2 ke jaringan (Sugiri, 1988). Jumlah eritrosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi harian, dan keadaan stress. Banyaknya jumlah eritrosit juga disebabkan oleh ukuran sel darah itu sendiri. Dallman dan Brown (1987) menyatakan bahwa, hewan yang memiliki sel darah kecil, jumlahnya banyak. Sebaliknya yang ukurannya lebih besar akan mempunyai jumlah yang lebih sedikit. Jumlah sel darah merah yang banyak, juga menunjukkan besarnya aktivitas hewan tersebut. Hewan yang aktif bergerak atau beraktivitas akan memiliki eritrosit dalam jumlah yang banyak pula, karena hewan yang aktif akan mengkonsumsi banyak oksigen, dimana eritrosit sendiri mempunyai fungsi sebagai transport oksigen dalam darah.

Leukosit berbeda dengan eritrosit, hal ini dikarenakan adanya nukleus yang memiliki kemampuan gerak independen. Jumlah leukosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, aktivitas dan kondisi lingkungan sedangkan jumlah eritrosit dalam darah dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, variasi harian, ketinggian tempat dan tekanan emosional. Jumlah leukosit jauh lebih kecil dibawah eritrosit dan bervariasi tergantung dari spesies atau jenis hewannya. Penurunan jumlah leukosit dapat terjadi karena infeksi usus, keracunan bakteri, septicoemia, kehamilan, dan partus. Hewan yang terinfeksi akan mempunyai jumlah leukosit yang banyak, karena leukosit berfungsi melindungi tubuh dari infeksi (Sutrisno, 1981). Leukosit ikan lele dumbo terdiri dari monosit, limfosit, dan neutrofil. Menurut Bastiawan dkk (2001) monosit berfungsi sebagai fagosit terhadap benda-benda asing yang berperan sebagai agen penyakit. Limfosit berfungsi sebagai penghasil antibodi untuk kekebalan tubuh dari gangguan penyakit. Neutrofil berperan dalam respon kekebalan terhadap serangan organisme patogen dan mempunyai sifat fagositik. Neutrofil dalam darah akan meningkat bila terjadi infeksi dan berperan sebagai pertahanan pertama dalam tubuh (Dellman dan Brown, 1989 dalam Bastiawan dkk., 2001). Berikut ini tabel parameter hematologis ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) yang dibudidayakan di desa Mangkubumen Boyolali. Parameter hematologis Eritrosit (x106 sel/mm3) Leukosit (x106 sel/mm3) Hemoglobin (Hb/100 ml) Hematokrit (%) Sehat (normal)* 3,18 20 150 12 14 30,845,5 Klm 1 1,46 651,18 7,93 23,30 Klm 2 2,42 731,13 7,84 Klm 3 14 669,32 6,46 Klm 4 1,89 741,76 6,78 Klm 5 1,54 701,76 6,48

22,30 22,80 19,70 19,30 * sumber: Bastwain, dkk. (2001)

Kimball (1988) menyatakan bahwa, sel darah putih berperan dalam melawan infeksi, untuk melaksanakan fungsinya dalam menanggapi suatu zat kimia umpan, leukosit akan keluar melalui dinding kapiler di area terjadinya kerusakan jaringan. Apabila telah bebas dalam jaringan, mereka akan mulai dengan fagositosis. Leukosit berperan penting dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap organ-organ asing. Sedangkan apabila tersuspensi dalam sirkulasi darah mereka berbentuk steris, tetapi mampu bersifat amoboid. Melalui proses diapedesis leukosit dapat meninggalkan kapiler dengan

menerobos antara sel-sel endotel dan menembus ke dalam jaringan ikat (Janqueira, 1982). Nilai hematokrit atau volume cell packed adalah suatu istilah yang artinya presentase berdasarkan volume dari darah, yang terdiri dari sel-sel darah merah. Nilai hematokrit standar adalah sekitar 45%, namun nilai ini dapat berbeda-beda tergantung species. Nilai hematokrit biasanya dianggap sama manfaatnya dengan hitungan sel darah merah total (Frandson, 1998). Mengukur kadar hematokrit darah hewan uji digunakan tabung mikrohematokrit yang berupa pipa kapiler berlapiskan EDTA (Ethylen Diamin Tetra Acetic Acid) yang berfungsi sebagai bahan anti pembekuan darah. Jumlah eritrosit dalam darah tidak selalu tetap. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah eritrosit dalam darah antara lain obat-obatan, sel darah merah dapat dilisiskan oleh obatobatan tertentu dan infeksi, tekanan osmotik, sel eritrosit mengkerut dalam larutan yang mempunyai tekanan osmotik yang lebih tinggi dari tekanan osmotik plasma, faktor keturunan, hemoglobin dipengaruhi oleh orang tua. Sedangkan jumlah leukosit dalam darah sering dipengaruhi oleh infeksi, apabila bakteri dan zat asing menyerang tubuh sumsum tulang belakang akan langsung menghasilkan leukosit (Ganong, 1983). Menurut Sutrisno (1991), ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap jumlah eritrosit, diantaranya : 1. Umur, semakin tua umur maka jumlah eritrosit semakin menurun. 2. Jenis kelamin (individu jantan memiliki jumlah eritrosit lebih besar dari pada betina) 3. Emosi (dalam keadaan emosional, terjadilah kenaikan jumlah eritrosit). 4. Status makanan. 5. Pregnancy atau bunting dan menstruasi yang menyebabkan terjadinya penurunan jumlah eritrosit. 6. Bread atau Bangsa. 7. Ketinggian tempat. 8. Iklim. Jumlah leukosit dalam darah dapat berubah apabila terjadi infeksi dalam tubuh individu. Dalam keadaan patologis, jumlah leukosit dapat lebih besar dari keadaan normal, dengan demikian dapat diketahui bahwa kondisi kesehatan berpengaruh terhadap jumlah leukosit yang ada dalam darah (Salakij et al., 2008). Menurut Bastiawan et al, (2001) apabila ikan terkena penyakit atau nafsu makannya menurun, maka nilai hematokrit darahnya menjadi tidak normal, jika

nilai hematokrit rendah maka jumlah eritrositpun rendah. Ikan yang terkena penyakit atau nafsu makannya menurun, maka nilai hematokrit darahnya menjadi tidak normal, jika nilai hematokrit rendah maka jumlah eritrositpun rendah (Bastiawan et al,2001). Hemoglobin adalah senyawa organik yang kompleks yang terdiri dari empat pigmen porfirin merah, masing-masing mengandung atom Fe ditambah globulin yang merupakan protein globuler yang terdiri atas empat asam amino. Kadar hemoglobin dan kadar glukosa setiap species berbeda-beda, hal ini bergantung pada kebutuhan metabolisme species itu sendiri. Hemoglobin bergabung dengan oksigen paru-paru disebut oksihemoglobin (Hoffbrand dan Pettit, 1987). Kadar hemoglobin dalam darah ikan berdasarkan pengukuran adalah 6,5 dan 5,8 gr/dl, kadar hemoglobin dalam darah mencit berdasarkan pengukuran adalah 3 dan 11 gr/dl, sedangkan kadar hemoglobin dalam darah ayam berdasarkan pengukuran adalah 6,2 dan 6,8 gr/dl. Hemoglobin tidak hanya menentukan bentuk eritrosit, tapi juga menentukan osmolaritas eritrosit. Hemoglobin mampu mengikat oksigen secara maksimal setelah darah kembali dari paru-paru dan disebut oksihemoglobin. Setelah oksigen dilepas untuk metabolisme jaringan tubuh, hemoglobin kembali dalam keadaan reduksi (Delmann dan Brown, 1987). Hemoglobin berfungsi mengikat oksigen yang kemudian akan digunakan untuk proses katabolisme sehingga dihasilkan energi. Kemampuan mengikat oksigen dalam darah tergantung pada jumlah hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah. Bastiawan et al., (2001) menyatakan bahwa rendahnya kadar Hb menyebabkan laju metabolisme menurun dan energi yang dihasilkan menjadi rendah. Hal ini membuat ikan menjadi lemah dan tidak memiliki nafsu makan serta terlihat diam di dasar atau menggantung di bawah permukaan air (Intan.et al, 2007). Metode pengukuran eritrosit, leukosit, dan kadar Hb. Cara menghitung eritrosit, dan leukosit sama, kecuali larutan yang digunakan. Pengukuran eritrosit digunakan larutan Hayem, untuk pengenceran eritrosit. Sedangkan untuk mengencerkan leukosit dengan menggunakan larutan Turk. Sebelum darah digunakan untuk percobaan, darah ditambah dengan larutan EDTA agar darah tidak mudah menggumpal. Pengukuran kadar Hb digunakan pengencer HCl atau akuades, besarnya kadar Hb dapat diukur dengan membandingkan larutan darah yang digunakan dengan larutan yang ada pada Haemometer

(Bastiawan et al., 2001). Pemeriksaan hematologi biasanya dipakai darah vena yang dicampur dengan antikoagulan, agar bahan darah tersebut tidak menggumpal. Antikoagulan yang sering dipakai antara lain garam EDTA seperti tripotassium EDTA (K3EDTA). Beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa penggunaan garam EDTA yang berbeda dan atau konsentrasinya yang berbeda dapat menyebabkan perbedaan kuantitas maupun kualitas hasil pemeriksaan. Lamanya penundaan pemeriksaan juga dapat memberikan hasil yang berbeda untuk parameter tertentu (Aulia, 1998). Menurut Frandson (1992) angka haematokrit adalah angka yang menunjukkan jumlah persentase plasma dan sel-sel darah dalam darah. Untuk mengukur kadar haematokrit darah hewan uji, digunakan tabung mikrohaematokrit yang berupa pipa kapiler berlapiskan EDTA yang berfungsi sebagai bahan anti pembekuan darah. Hematokrit adalah istilah yang menunjukkan besarnya volume sel-sel eritrosit seluruhnya di dalam 100 mm 3 darah dan dinyatakan dalam %. Nilai hematokrit pada ikan tergantung pada kekeruhan sel darah dan kapasitas mengikat O 2. Berdasakan percobaan dapat diperoleh angka hematokrit pada ikan sebesar 22,5% dan 23%, pada mencit sebesar 27% dan 48%, sedangkan pada ayam 30,1% dan 30,4%. Nilai hematokrit standar adalah sekitar 45%, namun nilai ini dapat berbeda-beda tergantung spesies. Menurut Evans (1998), angka hematrokit ikan menunjukan 30% dan pada mamalia jantan 40,75-50,3% sedangkan mamalia betina 36,144,3%. Angka hematrokit ayam adalah dari angka hematrokit mamalia. Ada beberapa angka hematrokit yang tidak sesuai dengan pustaka, kemungkinan hal ini disebabkan oleh terlalu banyaknya larutan heparin/EDTA. EDTA (Ethylen Diamin Tetra Acetic Acid) berfungsi sebagai antikoagulan atau zat yang menyebabkan daerah tidak membeku (Hoffbrand dan Pettit, 1987). Kondisi fisiologis ikan, mencit dan ayam menentukan jumlah eritrosit dan leukosit. Jumlah eritrosit dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kondisi tubuh, keadaan stress, umur, varian harian dan jenis kelamin (Schmidt and Nielsen, 1990). Banyak sedikitnya leukosit sangat berpengaruh pada pertahanan tubuh. Kadar leukosit yang rendah menyebabkan daya tahan tubuh rendah sehingga rentan terhadap penyakit. Keadaan patologis juga sangat mempengaruhi jumlah leukosit (Villee et. al.,1988). Menurut Sutrisno (1981), darah memiliki fungsi antara lain : 1. Mengangkut zat-zat makanan dari saluran pencernaan ke dalam jaringan.

2. Mengangkut oksigen (O2) dari paru-paru ke jaringan dan mengangkut karbondioksida (CO2) dari jaringan ke paru-paru. 3. Mengangkut metabolis dari jaringan ke alat sekresi. 4. Mengangkut hormone dari kelenjar endokrin ke organ target. 5. Memelihara keseimbangan air dalam tubuh. 6. Mempertahankan suhu tubuh karena panas jenisnya yang tinggi. 7. Memelihara pH jaringan dan cairan tubuh. 8. Membantu pertahanan tubuh terhadap bermacam-macam penyakit. Haematologi digunakan untuk mendeteksi perubahan fisiologis yang mengikuti kondisi-kondisi tekanan berbeda. Pengukuran haematologi hewan meliputi pengukuran kadar hemoglobin, penghitungan total eritrosit, penghitungan total leukosit, dan pengukuran angka hematokrit. Penurunan nilai hematologi akan menyebabkan eritropoiesis, haemosintesis dan disfungsi osmoregulasi serta menyebabkan peningkatan pemecahan eritrosit pada organ hematopoetik. Pengamatan komponen darah dapat memberikan informasi mengenai kesehatan tubuh suatu organisme, misalnya dengan menghitung kadar eritrosit, leukosit darah, glukosa darah, hemoglobin dan hematokrit. Larutan-larutan yang digunakan yaitu larutan turk sebagai pengencer leukosit, larutan hayem sebagai pengencer eritrosit, dan EDTA (Ethylen Diamin Tetra Acetic Acid) berfungsi sebagai antikoagulan atau zat yang menyebabkan darah tidak membeku (Hoffbrand dan Pettit, 1987).

KESIMPULAN Berdasarkan hasil kesimpulan bahwa: 1. Kadar hemoglobin, jumlah dan bentuk sel darah hewan berbeda-beda. Eritrosit pada mammalia tidak berinti dan berbentuk bulat, sedangkan pada dan pembahasan sebelumnya dapat diambil

burung dan ikan eritrosit berbentuk elips dan berwarna merah muda, serta sel leukosit mengandung sebuah nukleus dan organel-organel sel. 2. Jumlah eritrosit darah ikan yang dipraktikumkan adalah sebesar 2,125 x 106 dan 4,97 x 106 sel/mm3, jumlah leukositnya adalah sebesar 148.000 dan 260.800 sel/mm3, kadar hemoglobinnya sebesar 6,5 dan 5,8 gr/dl, sedangkan angka hematokritnya sebesar 22,5% dan 23%. 3. Jumlah eritrosit darah mencit yang dipraktikumkan adalah sebesar 2,425 x 106 dan 4,02 x 106 sel/mm3, jumlah leukositnya sebesar 234.375 dan 319.200 sel/mm3, kadar hemoglobinnya sebesar 3 dan 11 gr/dl, sedangkan angka hematokritnya 27% dan 48%. 4. Jumlah eritrosit darah ayam yang dipraktikumkan adalah sebesar 1,89 x 106 sel/mm3. jumlah leukositnya sebesar 117.200 sel/mm3, kadar hemoglobinnya sebesar 6,2 dan 6,8 gr/dl. 30,4%. 5. Jumlah eritrosit dan leukosit dipengaruhi oleh kondisi fisiologis seperti kondisi tubuh, keadaan stress, umur, varian harian dan jenis kelamin. Angka hematokrit bergantung terhadap keadaan fisiologis seperti jenis kelamin dan umur individu. Sedangkan kadar hemoglobin pada setiap species berbedabeda tergantung pada kebutuhan metabolisme spesies itu sendiri. sedangkan angka hematokritnya 30,1% dan

DAFTAR REFERENSI Aulia, diana. 1998. Pengaruh Lamanya Penyimpanan Darah dengan Antikoagulan Tripotassium Ethylene Diamine Tetraacetic Acid (K3Edta) dalam Tabung Vacuette terhadap Beberapa Parameter Hematologi. Perpustakaan pusat UI.Jakarta. Bastiawan, D, Taukhid, M. Alifudin, dan T. S. Dermawati. 1995. Perubahan Hematologi dan Jaringan Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) yang diinfeksi Cendawan Aphanomyces sp. Jurnal Penelitian Perikanan

Indonesia. 106-115. Bevelander, Gerrit and Judith A, Remaley. 1988. Dasar-dasar Histologi. Erlangga, Jakarta. Dallman, D.M. and Brown, E.M. 1987. Text Book of Vaterinary Histology. Lea and Fabige, New York. Dukes, H. 1995. The Physiology of Domestic Animal. Comstock Publishing Associated, New York. Evans, P. H. 1998. The Physiology of Fishes 2nd Edition. CRC Press. USA. Frandson, R. D. 1998. Anatomy and physiology of Farm Animals. Lea and Febiger, Philadelphia. Ganong, F. W. 1983. Fisiologi Kedokteran. ECG penerbit buku kedokteran, Jakarta. Guyton, A. C. 1976. Text Book of Medical Physiology. W. B. Saunders Company Philadelphia, London. Hadikastowo. 1982. Zoologi Umum. Alumni, Bandung. Hoffbrand dan Pettit, A. V. dan J. E. Pettit. 1987. Haematologi. Penerbit EGC, Jakarta. Intan. E.A, Noor, S.H, Budiharjo, Agung. 2007. Penggunaan Metode Hematologi dan Pengamatan Endoparasit Darah untuk Penetapan Kesehatan Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) di Kolam Budidaya Desa Mangkubumen Boyolali. Volume 8, Nomor 1. Januari 2007 Halaman: 34-38. Junqueira, D. 1982. Histologi Dasar. EGC, Jakarta. Kimball, J. W. 1988. Biologi. Erlangga, Jakarta. Lagler, K.F. 1977. Ichtiology 2nd Edition. Jhon Willey and Sons, New York Maheswaran. R, et al. 2008. Haematologi Studies of Fresh Water Fish, Clarias batrachus (L.) Exposed to Mercuric Chloride. Vol : 2, No:1. 49-54. Salakij, C., K. Prihirunkit, N. A Narkkong, S. Apibal and D. Tongthainun. 2008. Hematology, Cytochemistry and Ultrastructure of Blood Cells in Clouded Leopard (Neofelis nebulosa). http://www.medwelljournal.org. Diakses tanggal 14 Oktober 2010. Schmidt, W. and Nelson, B. 1990. Animal Physiology. Harper Collins Publisher, New York. Sugiri, N. 1988. Zoologi umum. Erlangga, Jakarta. Sutrisno. 1981. Fisiologi Hewan. Fakultas Peternakan UNSOED, Purwokerto.

Ville, C. A. W. F. Walker and R. D Bornes. 1988. Zoologi Umum Jilid I. Erlangga, Jakarta.