Anda di halaman 1dari 5

Permasalahan : 1. Apakah diagnosa pada pasien ini sudah tepat? 2. Apakah penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat?

3. Kemungkinan etiologi SJS pada pasien ini? 4. Kenapa bias terjadi anemia pada pasien ini? 5. Bagaimana hubungan leucopenia dengan SJS pada pasien ini? 6. Komplikasi yang mungkin terjadi pada pasien ini?

Diskusi 1. Apakah diagnosa pada pasien ini sudah tepat? Diagnosis SSJ biasanya tidak terlalu sulit mengingat terdapat trias kelainan, dan dapat didapatkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik sedangkan pemeriksaan laboratoriumnya tidak khas. Pada sindrom ini terlihat adanya trias kelainan berupa: Kulit: berupa eritema, papul, vesikel, atau bula secara simetris pada hampir seluruh tubuh. Vesikel dan bula kemudian memecah sehingga terjadi erosi yang luas. Di samping itu dapat juga terjadi purpura. Selaput lendir orifisium: membran mukosa, membran hidung, mulut, anorektal, daerah vulvovaginal, dan meatus uretra. Vesikel dan bula yang pecah menjadi erosi dan ekskoriasi dan krusta kehitaman. Juga dapat membentuk pseudomembran. Kelainan yang tampak di bibir adalah krusta berwarna hitam yang tebal (krusta hemoragik). Kelainan dapat juga menyerang saluran pencernaan bagian atas (faring dan esofagus) dan saluran nafas atas.

Mata: konjungtivitas kataralis, blefarokonjungtivitis, iritis, iridosiklitis, kelopak mata edema, dan sulit dibuka, pada kasus berat terjadi erosi dan perforasi kornea yang dapat menyebabkan kebutaan.. Pada pasien ini didapatkan kelainan pada kulit berupa eritema, papul, vesikel yang sebagian besar sudah menjadi erosi pada hamper seluruh tubuh, pada mukosa mulut mulut dan daerah vulvovaginal juga dijumpai kelainan yang serupa sampai pasien mengeluh sulit untuk buang air kecil karena merasa sakit. Pasien mata pasien juga dijumpai kelainan konjungtivitis kataralis yang menyebabkan pasien sulit membuka matanya. Tidak didapatkannya tanda nikolsky juga merupakan salah satu tanda yang dapat mendukung tegaknya diagnose SJS. Pada pemeriksaan penunjang menunjukkan beberapa kelaian yang tidak khas yang dapat berhubungan ataupun tidak secara langsung maupun tidak langsung seperti anemia dan leucopenia. Beberapa hal yang dapat menyingkirkan diagnosa bandingnya yaitu NET antara lain : Untuk menyingkirkan diagnosis bandingnya dapat dilihat dalam tabel : Tabel. Perbedaan antara SJS dengan NET. SJS Keadaan Umum Kesadaran Tanda nikolsky Epidermolisis Nekrosis epidermis Prognosis Ringan-berat Kompos mentis (-) (-) (-) Lebih baik NET Berat Sering menurun (+) (+) (+) Lebih buruk

Dari uraian diatas dapat dikatakan diagnosa pada pasien ini sudah tepat yaitu Steven Johnson Syndrome.

2. Apakah penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat? Prinsip penatalaksanaan pasien SJS sebelum rumah sakit sama dengan

penatalaksanaan pasien luka bakar, dengan pencegahan infeksi. Penatalaksanaan pasien SJS pada instalasi gawat darurat meliputi menegakkan diagnosis dan pemberian penatalaksanaanawal yang terfokus pada ABC, perawatan lesi, dan penanganan nyeri. penatalaksanaanawal bersifat suportif dan simtomatik, antara lain mengatasi lesi kulit seperti luka bakar,mukosa oral diberi kumur cuci mulut, kulit mengelupas dikompres dengan salin. Serta anestesi topikal untuk mengurangi nyeri. Selain itu, agen pencetus atau dicurigai pencetus sesegera mungkin dihentikan

3. Kemungkinan etiologi SJS pada pasien ini? Penyebab utama SJS ialah alergi obat, lebih dari 50%. Sebagian kecil karena infeksi, vaksinasi, penyakit graft-versus-host, neoplasma, dan radiasi. Beberapa obat tersering yang dapat menyebabkan terjadinya SJS ialah analgetik/antipiretik (45%), karbamazepin (20%) dan jamu (13,3%). Sebagian besar jamu yang dibubuhi obat. Kausa yang lain dapat berupa amoxicillin, kotrimoksasol, dilantin, klorokuin, seftriakson, dan adiktif. Pada pasien ini penyebab yang paling mungkin yaitu analgetik/antipiretik. Karena sebelumnya pasien mengeluh sakit kepala dan kemudian berobat setelahnya pasien kemungkinan diberi analgetik/antipiretik. Beberapa hari setelahnya pasien langsung mengeluh kulit kemerahan pada seluruh badan dan kemudian menjadi melepuh. Pasien mempunyai riwayat epilepsy, dan sudah 2 tahun rutin mengonsumsi obat anti kejang, dan tidak pernah timbul keadaan seperti yang pasien rasakan saat ini, sehingga kemungkinan penyebab obat anti kejang dapat disingkirkan. Kemungkinan infeksi juga dapat disingkirkan karena pasien tidak pernah mengeluh demam sebelumnya, riwayat minum jamu pun disangkal oleh pasien.

4. Kenapa bisa terjadi anemia pada pasien ini? Anemia bisa terjadi pada pasien yang menderita SJS, terutama pada kasus yang berat yang sudah terjadi perdarahan, pada kasus ini nilai Hb pasien yang rendah didapatkan ketika pertama kali pasien datang berobat. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa anemia yang terjadi pada pasien bukan merupaka akibat komplikasi SJS. Tetapi bias disebabkan oleh kausa lain yang belum dapat ditegakkan pada pasien ini.

5. Bagaimana hubungan leucopenia dengan SJS pada pasien ini? Pada pasien SJS dapat terjadi infeksi sekunder yang disebabkan kondisi kulit pasien yang tidak sempurna sehingga memudahkan terjadinya infeksi pada pasien ini. Salah satu tanda yang dapat dijumpai jika terjadinya infeksi adalah kenaikan kadar leukosit yang tidak spesifik. Pada kasus infeksi yang berat dapat terjadi leucopenia karena kegagalan sistem imun untuk mentolerir proses infeksi yang terjadi. Pada pasien ini kemungkinan sudah terjadi infeksi sekunder yang berat sehingga kadar leukositnya dapat berkurang secara signifikan. Hal ini dapat mengindikasikan prognosis yang buruk pada pasien. 6. Komplikasi yang mungkin terjadi pada pasien ini? Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada pasien SJS antara lain : a. Mata : ulserasi kornea, uveitis anterior, panophtalmitis, kebutaan b. Gastroenterology : striktur esophagus c. Genitourinary : Renal tubular nekrosis, gagal ginjal d. Kulit : pembentukan skar, infeksi sekunder e. Syok hipovolemia

Pada pasien ini dapat terjadi beberapa komplikasi yang disebutkan diatas apabila penanganan pada pasien tidak tepat dan efektif. Infeksi sekunder merupakan komplikasi yang sudah terjadi pada pasien ini berdasarkan keluhan dan pemeriksaan yang telah dilakukan terhadap pasien.