BAB I PENDAHULUAN

Hutan alam dikenal sebagai suatu ekosistem yang stabil, dimana di dalamnya terjadi harmonisasi interaksi baik antar komponen biotik yang ada maupun antara komponen biotik dan abiotik. Dengan sendirinya, keberadaan komponen yang satu akan saling mempengaruhi keberadaan komponen yang lain. Keharmonisan proses ekologi yang demikian akan dengan cepat berubah ketika salah satu komponennya terganggu. Sejarah mencatat bahwa proses pengubahan hutan alam ke bentuk vegetasi lain oleh aktivitas manusia yang dimulai sejak ribuan tahun yang lalu merupakan sebuah contoh klasik tentang perubahan bentuk-bentuk ekosistem. Perubahan bentuk ekosistem ini meningkat dengan cepat sejak dekade tahun 1970an, ketika mulai diijinkannya penebangan pohon secara komersial, pelaksanaan program transmigrasi dan menjamurnya proyek-proyek hutan tanaman dan perkebunan. Sebagai akibat dari perubahan itu tidak mengherankan jika beberapa jenis sumberdaya biologinya mengalami kelangkaan, erosi genetika, karena tidak mengindahkan dan memperhatikan kaidah pelestariannya. Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budaya, pariwisata dan rekreasi. Oleh karena itu keberadaan Taman Nasional tidak bisa dipungkiri tidak saja sekadar memenuhi fungsi-fungsi tersebut di atas, akan tetapi juga sebuah kawasan yang menyimpan keanekaragaman hayati dan merupakan daerah tangkapan air. Gunung Salak merupakan kawasan yang masih menyimpan banyak misteri tentang kekayaan hayati beserta ragam pemanfaatannya. Sayangnya potensi ini telah banyak mengalami penyusutan seiring dengan laju kerusakan hutan yang diakibatkan berbagai kegiatan manusia atau bahkan berbagai kebijakan yang kurang mempertimbangkan kelestariannya. Untuk mengantisipasi kerusakan yang lebih parah, maka pada tahun 2003 kawasan Salak ditunjuk sebagai bagian dari kawasan taman nasional. Penjelajahan untuk mengungkap flora yang terdapat di kawasan Gunung Salak dianggap penting karena beberapa penelitian tentang flora fauna yang pernah dilakukan di kawasan hutan gunung Salak diantaranya, di daerah Awibengkok (Kartawinata et al.,1985), Cianten (Mirmanto, 1991) dan koridor antara G. Salak dan G. Halimun (Wiriadinata, 1997). Bahkan jauh sebelumnya, gunung Salak merupakan magnet bagi para ilmuwan botani, tercatat diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh seorang botanis berkebangsaan Swedia Claes Frederic Hornstedt (1758-1809), murid dari Thunberg, kemudian disusul Hornstedt pada tahun 1783, Reinwardt pada tahun 1817 (Steenis 2006). Sejauh ini data dan informasi yang dikumpulkan masih juga belum memadai jika dibandingkan dengan data dan informasi

1

yang terkumpul dari kawasan hutan gunung Halimun. Itulah sebabnya penelitian dirasa masih diperlukan untuk melengkapi data dan informasi flora dan fauna dari kawasan hutan gunung Salak. Penelitian mendasar dari aspek ekologi vegetasi, etnobotani, eksplorasi dan inventarisasi keanekaragaman jenis tumbuhan dan keterkaitannya dengan kondisi habitat diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya pengelolaan Taman Nasional Halimun Salak. Penelitian ekologi vegetasi dilakukan dengan menggunakan metode petak, sedangkan penelitian etnobotani dilaksanakan dengan menggali informasi dari masyarakat di sekitar lokasi penelitian. Untuk melengkapi data dan informasi keanekaragaman jenis tumbuhan dilakukan eksplorasi dan inventarisasi. Penelitian kali ini merupakan kegiatan bersama antara Pusat Penelitian Biologi LIPI dengan JICAGunung Halimun Salak National Park Management Project (GHSNPMP). Hasilnya diharapkan dapat disumbangkan dalam rangka membuat “guiden book” untuk menentukan arah dan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi Halimun – Salak yang melibatkan masyarakat.

TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan salah satu kawasan konservasi Indonesia yang berfungsi selain melindungi flora dan fauna unik yang ada di dalamnya juga mempungai fungsi lain yang tak kalah pentingnya yaitu sebagai pengatur tata air, pendidikan, penelitian, sumber plasma nutfah, pengembangan budidaya, rekreasi dan pariwisata. Dari pengertian tersebut tergambar bahwa betapa besar manfaat Taman Nasional sebagai pelayanan jasa. Awalnya kawasan ini merupakan Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) yang ditetapkan melalui SK Menhut No. SK 282/KptsII/Menhut/1992 tanggal 28 Februari 1992 dengan luas 40.000 hektar dan pada tanggal 23 Maret 1997 ditetapkan sebagai salah satu unit pelaksana teknis di Departemen Kehutanan. Seiring dengan tingginya proses degradasi hutan di Indonesia dan dengan adanya desakan parapihak yang peduli terhadap konservasi hutan, maka pada tahun 2003 kawasan hutan Gunung Salak, Gunung Endut, dan kawasan sekitarnya yang sebelumnya merupakan kawasan hutan produksi, hutan produksi terbatas dan hutan lindung yang dikelola oleh perum Perhutani selanjutnya dialih fungsikan menjadi kawasan konservasi melalui SK Menhut No. SK 175/Kpts-II/Menhut/2003 tanggal 10 Juni 2003 menjadi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dengan luas 113.357 ha. Kawasan TNGHS secara administratif

terletak di 2 (dua) propinsi yaitu Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten serta 3 kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Lebak. Kawasan TNGHS mempunyai ketinggian berkisar antara 500 – 2.211 mdpl. Topografinya

bergelombang, berbukit dan bergunung-gunung. Di sekitar kawasan TNGHS terdapat bukit memanjang mulai dari gunung Endut (di sebelah Barat) melintas gunung Kendeng (di kawasan Baduy) kemudian

2

perlahan menurun sampai ke gunung Honje dan semenanjung Ujung Kulon. Sedangkan di sebelah Timur berhubungan dengan gunung Gede Pangrango yang dipisahkan oleh sungai Citatih, sungai Cisadane dan jalan propinsi Ciawi – Sukabumi. Beberapa gunung yang ada di sebelah barat kawasan ini yaitu gunung Endut Barat (1.297 mdpl), gunung Pameungpeuk (1.455 mdpl), gunung Ciawitali (1.530 mdpl), gunung Kencana (1.831 mdpl), gunung Halimun Utara (1.929 mdpl), gunung Sanggabuana (1.920 mdpl), dan gunung Botol (1.850 mdpl). Sedangkan gunung-gunung yang terdapat di sebelah Timur Laut adalah gunung Kendeng Utara (1.377 mdpl), gunung Salak 1 (2.211 mdpl), gunung Salak 2 (2.180 mdpl), gunung Endut Timur (1.471 mdpl) dan gunung Sumbul (1.926 mdpl). Di bagian tenggara terdapat gunung kendeng Selatan (1.680 mdpl), gunung Panenjoan (1.350 mdpl), gunung Halimun Selatan (1.758 mdpl), Geologi kawasan TNGHS merupakan bagian dari deretan pegunungan Sumatra. Sebagian besar kawasan tersusun atas batuan vulkanik breksi, basaltik dan lava andesit dari periode Pleistosin dan beberapa strata dictic dari periode Prepleiosin (sekitar 10 – 20 juta tahun yang lalu). Berdasarkan peta tanah tinjau Jawa Barat, jenis tanah di daerah ini terdiri atas asosiasi andosol coklat dan regosol coklat, asosiasi latosol coklat dan latosol coklat kekuningan, latosol coklat kemerahan dan latosol coklat, asosiasi latosol coklat kemerahan dan laterit, komplek latosol coklat kemerahan dan lithosol, asosiasi latosol coklat dan regosol kelabu (LP Tanah, 1966). Bahkan Gunung Salak sampai saat ini masih berstatus gunung berapi strato type A dan tercatat terakhir meletus tahun 1938. Gunung Salak memiliki kawah yang masih aktif dan dikenal dengan nama Kawah Ratu. Menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson (1951) iklim di daerah kawasan TNGHS termasuk tipe A, dengan curah hujan tahunan sebesar 4.000 – 6.000 mm. Rata-rata curah hujan bulanan selalu > 100 mm, dengan bulan terkering (+ 200 mm) pada Juni sampai September dan terbasah (+ 550 mm) antara Oktober dan Maret, sehingga dapat digolongkan beriklim selalu basah (Kartawinata, 1975) dengan kelembaban udara rata-rata 88 %. Suhu rata-rata bulanan 31,5oC dengan suhu terendah 19,7oC dan suhu tertinggi 31,8oC. Vegetasi hutan di dalam kawasan TNGHS sangat bervariasi, baik berdasarkan ketinggian tempat maupun kondisi habitat setempat. Namun secara umum, berdasarkan permintakatan Steenis (1972) dapat dikelompokkan menjadi 3 mintakat, yaitu mintakat kaki pegunungan (collin), dengan ketinggian antara 500 dan 1000 m dpl, mintakat sub-pegunungan (1.000 - 1.500 m) dan mintakat pegunungan (1500 – 2400 mdpl). Sejauh ini data dan informasi flora dan fauna hutan gunung Halimun telah banyak diungkapkan melalui berbagai survei dan penelitian. Sayangnya hasilnya terserak dan tersebar di berbagai tempat dan besar kemungkinan belum terdokumentasi secara lengkap.

3

TNGHS merupakan salah satu Taman Nasional yang memiliki hutan pegunungan alami di Jawa yang sangat menarik. Kekayaan flora kawasan Gunung Halimun pernah dilakukan beberapa tahun lalu, diantaranya oleh Wiriadinata (1992). Ditinjau dari segi botani terutama taksonomi, kekayaan Flora Gn Salak sangat menarik karena merupakan salah satu ekotipe jenis-jenis tumbuhan yang pertama kali dipertelakan oleh Blume sekitar tahun 1825. Flora pegunungan yang masih tersisa umumnya berada pada ketinggian di atas sekitar 1500 -2000 m di atas permukaan laut, sedang bagian bawah umumnya telah berubah terbuka dan menjadi perladangan. Pengambilan kayu merupakan salah satu faktor yang cukup serius. Wilayah TNGHS terbagi ke dalam 26 kecamatan dan terdiri dari 106 desa. Jumlah penduduk di dalam dan sekitar kawasan lebih dari 250.000 jiwa. Pada umumnya masyarakat yang ada adalah

masyarakat Sunda yang terbagi menjadi masyarakat kasepuhan dan bukan kasepuhan.Masyarakat kasepuhan secara historis penyebarannya berada di kampung Urug, Citorek, Bayah, Ciptamulya, Cicarucub, Cisungsang, Sirnaresmi, Ciptagelar dan Cisitu. Masyarakat kasepuhan ini memiliki struktur kehidupan yang berbeda dengan masyarakat biasa. Bahasa yang umum digunakan adalah bahasa Sunda. Sedangkan agama pada umumnya adalah beragama Islam kecuali di beberapa wilayah kasepuhan masih menganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Kehidupan sehari-hari masyarakat di dalam dan sekitar TNGHS pada umumnya adalah di bidang pertanian seperti sawah, ladang, kebun, kebun talun dan talun. Beberapa ada juga yang berdagang baik di dalam masyarakatnya maupun keluar kampung dan desanya, bahkan ada yang keluar pulau Jawa. Pada masyarakat kasepuhan, pertanian dilakukan atas arahan pimpinannya baik tatacara tanam, jenis padi, maupun ritual ketika sebelum, saat menanam, hingga panen. Pesta panen dalam masyarakat kasepuhan terkenal dengan istilah Seren Taun yang sering dihadiri turis baik lokal maupun mancanegara karena keunikannya. Dalam hubungannya dengan hutan, masyarakat kasepuhan memiliki sistim yang bila dikaji memiliki kearifan tersendiri. Mereka memiliki konsep turun temurun untuk mengelompokkan hutan sesuai fungsinya yaitu leuweung titipan (hutan titipan), leuweung tutupan (hutan tutupan), leuweung sampalan (hutan bukaan). Interaksi mereka terhadap hutan sangat kuat. Mereka mengenal hampir 400 jenis tumbuhan dan satwa yang dipergunakan sehari-hari baik untuk bangunan, kayu bakar, makanan, obat-obatan maupun untuk keperluan ritual. Di salah satu bagian dari TNGHS, yakni sekitar Gunung Salak, telah hidup selama ratusan tahun masyarakat lokal. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya temuan arkeologis di sekitar Gunung Salak, seperti di kampung Cibalay, Bogor, terdapat situs arkeologis berupa punden berundak peninggalan masa lalu. Diantara jejak-jejak kehidupan masa lalu yang masih dapat kita saksikan adalah yang terdapat di desa Cibalai, Bogor, dan di desa Girijaya. Di desa Girijaya ini terdapat tiga buah batu megalitikum yang

4

Penjelajahan jalur Cimalati dan Pasir Reungit dilakukan oleh short-term expert dari JICA. tim Pusat Penelitian Biologi melakukan koleksi dan inventarisasi serta studi ekologi pada jalur Cangkuang yang dibagi menjadi 4 sub-jalur. Bagi para ilmuwanpun. Rute Cimalati dilakukan untuk mengetahui batas pegunungan rendah dan pegunungan atas. Pada daerah yang sama juga telah dilakukan inventarisasi dan eksplorasi tumbuhan. Tradisi tersebut didapat oleh masyarakat secara turun temurun. Tempat ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Gusti. Pemilihan tempat pembuatan petak dengan pertimbangan perbedaan ketinggian. jenis dominant. (3) daerah sekitar Pondok Bajuri. ilmuwan yang tercatat pernah melakukan penelitian diantaranya adalah seorang botanis berkebangsaan Swedia Claes Frederic Hornstedt (1758-1809).1). 5 . Setelah itu disusul oleh Reinwardt yang mendaki dan melakukan ekplorasi botani di gunung Salak pada tahun 1817 (Steenis 2006). 3 petak di sepanjang subjalur menuju Kawah Ratu. sedangkan jalur Cangkuang dilakukan bersama team gabungan short-term expert dari JICA dan tim dari Pusat Penelitian Biologi LIPI. Sebanyak 6 petak dibuat di sepanjang sub-jalur ke arah puncak Salak-1. Pasir Reungit dan Cangkuang (Gambar I.dianggap oleh masyarakat sebagai petilasan dari Eyang Santri. Lokasi Jelajah Daerah-daerah yang dijelajah meliputi 3 jalur. Dilain pihak. fisiognomi dan kondisi habitat. yaitu dengan mencatat ketinggian tempat (m dpl. jenis pohon menonjol disetiap titik pengamatan. (2) ke arah Kawah Ratu. Hasil interaksi tersebut membangun konstruksi pemikiran masyarakat tentang Gunung Salak. yaitu (1) ke arah puncak Salak-1. Masyarakat yang tinggal di sekitar gunung Salak masih memiliki kearifan tradisional dalam interaksinya dengan lingkungan. yaitu jalur/rute Cimalati. dan (4) daerah sekitar Pos Kancil (Gambar I.).1. sehingga Gunung ini memiliki makna tersendiri bagi masyarakat. Di setiap sub-jalur dibuat petak-petak pencuplikan data berukuran 30 x 30 m2. dan 1 petak di sekitar Pos Kancil. hal ini bukan karena posisinya sebagai Taman Nasional melainkan juga karena memiliki keterkaitan yang erat dengan budaya dan tradisi setempat. Gunung Salak adalah salah satu magnet yang ada di Jawa.100 m. sehingga pengungkapan vegetasi dilakukan secara fisiognomi pada setiap perubahan ketinggian 50 . tipe hutan. 2 petak disekitar pondok Bajuri. peta diperoleh dari image landsat 2004 dan IKONOS tahun 2004). Tim short-term expert dari JICA melakukan penjelajahan dalam waktu singkat. tokoh penyebar Islam dan juga pejuang dari Solo pada abad ke 19 yang menetap dan tinggal di desa ini. murid dari Thunberg. Dalam catatan sejarah. Hornstedt mengunjungi Gunung Salak pada tahun 1783.

Kedua tokoh ini oleh masyarakat dianggap sebagai penyebar agama Islam. Padepokan ini juga memiliki pengaruh di masyarakat. yakni Desa Cidahu. seperti hari kamis dan jum’at. yaitu makam dari Eyang Abu Shomad (Eyang Abu) dan makam Eyang Muhammad Santri (Eyang Santri). Desa Cidahu. penampilan wayang 6 .Rute Pasir Reungit 9 8 7 1 0 1 1 6 4 5 2 3 1 Rute Cangkuang 1 2 Rute Cimelati Gambar I. Kabupaten Sukabumi. lebih bernuansa agama. Walaupun bernuansa tradisi. terdapat pesantren al-Qodiriyah yang dipimpinan KH Romli dan berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat dan membentuk pemahaman yang ada di masyarakat. Peta jalur penelitian beserta petak-petak pencuplikan data vegetasi (1 s/d 12). Sedangkan desa Girijaya lebih pada pencarian dan penguatan akar tradisi Sunda. atau bulan Robiul awwal atau maulid dan bulan Muharram dalam sistem penanggalan Islam. puasa.1. Adapun untuk penelitian etnobotani dilaksanakan di dua desa. namun masyarakat yang tinggal di desa ini masih menjalankan ajaran normatif agama (Islam) seperti shalat. Kecamatan Cidahu. Kunjungan para peziarah makin ramai terutama pada hari-hari tertentu. dan zakat. Di desa ini juga terdapat dua makam yang dianggap keramat oleh masyarakat. Di desa ini terdapat Padepokan Girijaya pimpinan Abah Ru’yat. Pada bulan Maulid masyarakat ziarah bersama ke makan Eyang Abu sekaligus juga diisi dengan tradisi-tradisi Sunda. Kedua makam ini setiap harinya ramai dikunjungi oleh peziarah. Kedua desa ini dipilih dengan pertimbangan merupakan desa yang paling dekat dengan Gunung Salak dan memiliki tipikal yang berbeda. Tradisi dan kebudayaan klasik Sunda sering digelar di desa ini. Kabupaten Sukabumi. Kecamatan Cidahu. dan Desa Girijaya.

spesimen bukti. Sejumlah petak dengan ukuran 30m x 30m dibuat pada lokasi-lokasi dengan gradasi perubahan lingkungan seperti kondisi habitat dan ketinggian. Analisis vegetasi Kegiatan penelitian ini meliputi pencuplikan data vegetasi dengan menggunakan metode petak. Sedangkan di bulan Muharram. kegunaan dan data lingkungan lainnya dicatat di dalam buku koleksi. ataupun fisiognomi yang berbeda. Adapun cara kerja untuk masing-masing kegiatan penelitian adalah sebagai berikut: Inventarisasi dan eksplorasi tumbuhan Kegiatan ini dilakukan untuk melakukan koleksi secara umum seluruh jenis tumbuhan yang sedang berbunga dan berbuah untuk kemudian diambil contohnya dan dijadikan spesimen herbarium.Golek. Jenis-jenis tumbuhan yang tidak dapat dikoleksi untuk sementara akan dicatat dalam buku lapangan guna melengkapi data kekayaan jenis. yang selanjutnya dikirim ke Herbarium Bogoriense untuk diproses dan kemudian diidentifikasi. Keterpaduan penelitian dengan melibatkan berbagai bidang keilmuan ini diharapkan mampu untuk mengungkapkan keanekaragaman hayati di daerah penelitian. tanpa harus meninggalkan kaidah keilmuan di bidangnya masing-masing. habitus. tinggi. pH dan kelembaban tanah. yakni upacara selamatan dan ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan. kegunaan. habitat. Meskipun ada jenis-jenis tumbuhan yang tidak lengkap memiliki bunga atau buah. yang sekiranya menarik dan unik juga akan dikumpulkan sebagai koleksi atau spesimen acuan. Setiap contoh tumbuhan yang terkumpul akan dilengkapi dengan label gantung untuk mencatat nama dan nomor kolektor serta tanggal dan lokasi pengambilan. Informasi lain seperti nama lokal. Semua contoh tumbuhan yang terkumpul disimpan dalam lipatan-lipatan kertas koran. masyarakat menggelar upacara tradisi Seren taun. dan ritual ngramat yakni mendoakan hasil bumi. KEGIATAN di LAPANGAN Penjelajahan di Gunung Salak ini melibatkan para ahli dalam bidang taksonomi dan ekologi tumbuhan serta pakar etnobotani. jaipong. data iklim serta data lingkungan lainnya juga dikumpulkan. Jumlah dan interval antar petak ditentukan berdasarkan kondisi medan dan ketersediaan fasilitas pendukung. Selain itu data sekunder diantaranya data lokasi. Pengumpulan data pohon meliputi diameter. dan pengambilan contoh tanah untuk dianalisis kandungannya. dimasukkan ke dalam kantung plastik besar dan diawetkan dalam alkohol 70%. serta pengumpulan data lingkungan diantaranya posisi geografi. 7 .

kemerataan jenis dan dominasi jenis. Langkah ketiga adalah mencatat nama lokal setiap jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan membuat voucer specimen untuk diidentifikasi lebih lanjut di Herbarium Bogoriense supaya dapat diketahui nama ilmiah dari tumbuhan yang dimanfaatkan. cara penggunaan. Responden di setiap lokasi diambil 30% dari jumlah Kepala Keluarga. Dalam penelitian ini diamati pengetahuan lokal tentang pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan oleh masyarakat (corpus) serta pengaruh yang ditimbulkannya (praxis). pertama di dalam petak sementara yang dibuat oleh tim ekologi. Untuk kepentingan identifikasi. Petak ini berada pada ketinggian 1700 dpl dan di HM 18 (jarak 1800 meter dari persimpangan 8 . Penentuan jumlah responden dengan menggunakan metode "stratified random sampling". kekayaan jenis. kerapatan. maka dilakukan wawancara secara mendalam untuk mengetahui makna kultural dari tumbuhan tersebut. Proses pengumpulan data lapangan dalam penelitian ini menggunakan tiga langkah. nilai kegunaan dan nilai kepentingan budayanya. kegunaannya. dominansi. informan ditanyakan mengenai kegunaan berbagai tumbuhan yang ada di dalam petak secara open-ended. Setiap jenis sumber daya hayati yang berguna dicatat nama lokalnya dan diamati habitat.Data vegetasi yang terkumpul kemudian dianalisis menurut cara yang umum dilakukan dalam kajian ekologi hutan (Cox. mengikuti sebagian aktifitas sehari-hari penduduk dan pengamatan langsung di lapangan. Dengan parameter tersebut dilakukan analisis ordinansi dan analisis stratifikasi hutan untuk mengetahui lapisan kanopi hutan. Greigh-Smith. 1967. sehingga diperoleh parameter-parameter frekuensi. Penelitian etnobotani Penelitian etnobotani dengan menerapkan metode wawancara semi struktural dan "open ended" terhadap masyarakat setempat. 1964. bagian yang digunakan. Setelah kegunaan dari tumbuhan diketahui. Informan kunci adalah orang yang memiliki pengetahuan luas mengenai nama lokal tumbuhan dan manfaat atau kegunaan dari tumbuhan tersebut. Langkah kedua adalah dengan wawancara langsung dengan masyarakat di desa mengenai kegunaan berbagai tumbuhan. Selain itu dilakukan pula wawancara secara mendalam terhadap ahli lokal. Penelitian ini dilakukan di tiga lokasi. Muller-Dombois & Ellenberg. Setelah berada dalam petak. Penelitian etnoekologi dilakukan untuk mengetahui hubungan antara masyarakat dengan lingkungannya. Wawancara secara open-ended dan secara mendalam dengan informan merupakan teknik yang mendasar guna mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang kegunaan dari suatu jenis tumbuhan dan makna kulturalnya dalam kehidupan mereka. nilai penting. Pengungkapan pemanfaatan keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan gunung Salak terlebih dulu menentukan informan kunci dan informan biasa. indeks keanekaragaman. Langkah pertama adalah dengan mengajak informan ke petak ekologi yang dibuat. sumber daya hayati berguna tersebut diambil contohnya dan dibuat koleksinya guna mengetahui nama ilmiahnya. 1974).

Oleh karena orang yang memiliki kompetensi di masyarakat yang tinggal di kawasan gunung Salak adalah orang-orang tua dan di-tua-kan oleh masyarakat. maka peneliti memilih mereka sebagai informan kunci. Selain itu peneliti juga mewawancarai anggota masyarakat kebanyakan baik yang tinggal di dua desa. Dalam penelitian perspektif masyarakat mengenai Gunung Salak. Informan kunci adalah orang yang memiliki pengetahuan luas tentang tradisi masyarakat. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan memiliki kesamaan persepsi sekaligus juga untuk konfirmasi data. Pada tanggal 20 Maret masyarakat di desa Giri Jaya menggelar ritual mauludan. Langkah kedua adalah dengan melakukan wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan para informan. seperti Kyai.atau sama dengan 4300 meter dari pos pertama pendakian dari arah Cidahu). maupun ajaran-ajaran normatif dari agama. serta Kuncen yang memiliki “kewajiban” menjaga suatu kawasan. Wawancara mendalam (indepth interview) dengan informan kunci merupakan teknik yang mendasar guna mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang perspektif masyarakat. dan tempat ketiga di desa Girijaya. Sedangkan penelitian yang dilakukan di desa. Langkah pertama adalah menentukan informan kunci dan informan biasa. Informan tersebut dapat membantu peneliti untuk memilih informan lain yang juga memiliki pengetahuan luas. wawancara juga dilakukan dengan para sesepuh atau orang yang di-tua-kan yang ada di wilayah Bogor. Selain dari informan kunci yang ada di Desa Cidahu dan Desa Girijaya. Guru. Dukun. 9 . terlebih dulu menentukan informan kunci dan informan biasa. Petak yang dibuat berukuran 30 X 30 meter. petuah dari leluhur. Langkah ketiga adalah dengan melakukan pengamatan terlibat (partisipatory observasion) dalam ritual keagamaan dan ritual tradisi yang dilakukan oleh mereka. proses pengumpulan data lapangan dengan tiga langkah. nilai kultural dan makna kehadiran gunung Salak dalam kehidupan mereka. yaitu desa Cidahu kecamatan Cidahu dan desa Girijaya di kecamatan Cidahu. kabupaten Sukabumi. Kedua dilakukan di desa Cidahu. satu ritual yang menggabungkan norma agama dan tradisi setempat.

maupun karena pelarian dari kehidupan masyarakat yang sudah tidak nyaman menurut anggapannya. Gunung misalnya. Menurut pak Asori salah satu sesepuh. sehingga ketika seseorang telah berhasil melewati hutan dengan selamat. terutama daerah Jawa dan Sunda memiliki cerita tersendiri. Bila kita merunut sejarah dan juga melacak cerita-cerita rakyat. menurut masyarakat. karena memiliki atmosfir yang teduh. Sedangkan hutan. tanpa kecuali. adalah bagian lamping atau tebing. seperti ranting yang jatuh untuk keperluan kayu bakar atau buah yang jatuh untuk konsumsi pribadi bukan untuk mengambil keuntungan ekonomi dari buah yang terdapat di hutan. baik melalui penebangan maupun perburuan. tempat persembunyian para penyamun. Larangan penebangan hutan yang dilakukan oleh masyarakat Girijaya pada masa lalu terkait dengan keselamatan kehidupan manusia.BAB II MENYELAMI PEMIKIRAN MASYARAKAT Setiap masyarakat. Di samping itu juga. maka hampir dapat dipastikan bahwa orang tersebut memiliki tingkat keberanian dan juga kesaktian yang tinggi di atas rata-rata orang kebanyakan. menjadikan pilihan bagi orang-orang yang hendak kontemplasi. sempat diyakini sebagai daerah turunnya para Batara yang hidup di Kahyangan ketika turun ke Bumi. dengan pertimbangan keselamatan kehidupan itulah maka para leluhur menganggap semua hutan pada dasarnya adalah leuweung tutupan. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman interaksi mereka terhadap kawasan gunung atau hutan. maka Gunung kemudian disakralkan oleh masyarakat. Pelarangan ini sifatnya mendasar. bagi masyarakat Indonesia. Selain itu. memiliki cara pandang tersendiri tentang keberadaan Gunung atau Hutan. Sebagai “landasan” para Batara di Bumi. Bagian dari hutan yang sangat dilarang keras untuk ditebang. Bagi mereka. baik untuk mendekatkan diri pada Pencipta. karena bila pohon yang terdapat dalam hutan habis 10 . atau bahkan individu. gunung atau hutan adalah tempat yang strategis. hutan dan apa yang terdapat di dalamnya adalah terlarang untuk diekploitasi. pada masa lalu lebih dikonotasikan sebagai tempat penempaan kesaktian dan keberanian seseorang. Pelarangan penebangan hutan merupakan wasiat dari para leluhur. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa gunung atau pun hutan. Ada anggapan di masyarakat bahwa hutan adalah tempat bersemayamnya roh-roh jahat. Hutan dan Masyarakat Girijaya Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat di desa Girijaya diketahui bahwa masyarakat menyebut hutan yang terdapat di Gunung Salak sebagai leuweung tutupan (hutan terlarang). hutan juga. Makin beragam kepentingan maka makin beragam juga persepsinya. menggembleng ilmu. persepsi juga terbentuk karena adanya “kepentingan”. namun karena kebutuhan manusia kemudian terdapat beberapa bagian dari hutan yang boleh dimanfaatkan. dan lain-lain.

Terdapatnya hutan di sekitar desanya merupakan anugerah dari Tuhan. dan itupun kalau tidak sampai merusak hutan. maka tidak saja dia melanggar amanah melainkan juga telah mengabaikan perannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. bahkan rumput sekalipun. seperti mengambil rumput untuk ternak atau ranting-ranting pohon yang jatuh. AA Lili. seperti shalat. Menurutnya. Sehingga pada dasarnya menjaga pelestarian hutan sama pentingnya dengan menjalankan kewajiban yang lain. mengambil apapun dari hutan hukum dasarnya adalah terlarang. Setelah dijelaskan maksud pembangunan resort dan asal dari kayu yang digunakan tidak dari Taman Nasional maka pembangunan dilanjutkan dan masyarakat sangat mendukung keberadaan Taman Nasional. karena itu dengan adanya hutan maka keberlangsungan kehidupan masyarakat akan terus terjamin. menurut AA Lili. Selain itu asal material bangunan berupa kayu juga diambil dari hutan. sapaan akrab KH Romli. Di gunung salak tidak saja tersimpan berbagai mitos atau legenda tentang asa-usul suatu daerah. Hutan dan Masyarakat Cidahu Bagi masyarakat desa Cidahu. apalagi yang ada di lamping-nya maka tidak saja persediaan air akan habis melainkan juga dapat menimbulkan bencana longsor. kata “Salak” yang menjadi nama dari Gunung Salak memiliki makna sendiri. Terdapat satu pendapat yang mengatakan kata Salak berasal dari 11 . hal ini dikarenakan hutan sudah ada yang mengelolanya. Mengambil manfaat dari hutan baru boleh dilakukan kalau sudah ada izin. hutan yang ada di Gunung Salak dianggap sebagai “amanah” atau kepercayaan dari Tuhan untuk diolah dan dijaga kelestariannya. Gunung dalam Persepsi Masyarakat Gunung Salak dengan hutan yang ada di dalamnya memiliki makna tersendiri bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan.ditebang. bukanlah seorang muslim yang baik apabila dia menjalankan kewajiban agama namun masih melakukan kerusakan di hutan. salah satu peran manusia adalah sebagai khalifah. Bagi KH Romli. melainkan juga tersimpan berbagai “tanda” bagi kehidupan. dimana pembangunan saat itu terhenti karena sesepuh dan masyarakat mencegah pembangunan yang menurut mereka merusak lahan hutan. Terdapat banyak teks dalam kitab suci ummat Islam yang berbicara tentang lingkungan dan tanggung jawab manusia untuk mengelolanya dengan bijak. Dengan merusak hutan. dan lain-lain. puasa. Bagi masyarakat. menegaskan bahwa menjaga amanah berupa hutan sama nilainya dengan menjaga dan mengamalkan ajaran agama. atau wakil dari Tuhan yang ada di bumi. Komitmen dan kesadaran sebagai khalifah yang bertugas untuk menjaga hutan ditunjukkan oleh masyarakat Cidahu ketika Balai Taman Nasional berencana membangun resort di kawasan Bumi Perkemahan Cangkuang.

Sedangkan pendapat ketiga mengatakan kata Salak memang berasal dari kata “Salak” dari buah salak. Gugung salak dijuluki juga Giri Dwi Munda Mandala. Bagi orang yang percaya pada pendapat yang pertama. Kekeramatan gunung Salak termaktub dalam pantun Bogor yang berjudul Paku Jajar Beukah Kembang. mereka akan yakin bahwa rahasia kehidupan yang disimpan Tuhan terdapat di Gunung Salak. Upacara tersebut sarat dengan muatan pesan untuk menjaga hubungan baik manusia dan alam. Bagi masyarakat yang berpegang pada tradisi dan masih terpengaruh oleh ajaran Hindu. Menurut Munandar (2007a) yang melakukan penelitian pada masyarakat ada di Sindang Barang. untuk itu mereka terus mencari dan berusaha menemukannya di Gunung Salak. kedua puncak yang terdapat di gunung Salak memiliki makna yang berbeda. Puncak Gajah ditafsirkan sebagai tempat bersemayamnya arwah raja-raja Sunda Kuno yang telah ngahyang.kata “siloka” yang berarti simbol dari sesuatu yang perlu diurai dan ditemukan rahasianya. muludan. Gambar II.dan rabu wekasan. Sedangkan bagi masyarakat yang percaya pada pendapat yang kedua. dan Dadap Malang Sisi Cimandiri. Pendapat ketiga percaya bahwa di puncak Salak terdapat buah salak raksasa yang terbuat dari emas. Pendapat yang lain mengatakan bahwa kata Salak berasal dari kata “Salaka” yang berarti asal-usul dari suatu masyarakat. Sedangkan puncak Keramat 12 . Ketiga perbedaan penafsiran tentang salak ini memiliki implikasi persepsi yang berbeda. Di gunung salak terdapat dua puncak yang bergerigi yang dinamakan Puncak Gajah dan Puncak Karamat. Di Girijaya.1. buah ini akan muncul dan memperlihatkan dirinya bagi orang-orang yang telah suci. Pembacaan Doa disertai bakar Kemenyan yang dilakukan pada acara Mauludan. walaupun sudah tersentuh dengan modernisasi namun unsur-unsur tradisionalnya masih kental terlihat. Pajajaran Seren Papan. mereka menganggap bahwa tidak hanya asal-usul kehidupan melainkan juga masyarakat Sunda ada di gunung Salak. Diantaranya adalah masih digelarnya upacara tradisi seren taun.

kawasan ini memang sejak dulu menyimpan misteri dan memiliki eksotisme sendiri. menjadi latar belakang yang khas bagi bentangan alam di sekitarnya (Wallace 2000). Sukabumi. Hal ini terjadi karena pola interaksi yang berbeda. Ketiga pilar itu berupa gunung. Dari hasil penelitian ini. Wallace. ha. yang giat menghidupkan tradisi Sunda). serta perbedaan lainnya. Agama dan Pelestarian Lingkungan Persepsi masyarakat tentang hutan dan Gunung Salak memunculkan tradisi atau prilaku yang berbeda dengan daerah lainnya. Anggapan ini juga menunjukkan proses islamisasi dan adanya “negosiasi” tradisi di masyarakat. di gunung Salak terdapat 12 tempat yang dihuni oleh Sang Hyang. masyarakat juga meyakini bahwa terdapat tiga pilar utama penopang kehidupan di daerah Sunda. iklim dan cuaca yang berbeda. serta Raja-raja kerajaan Sunda. namun memiliki tujuan yang sama. yaitu KH Hasan Basri yang bertugas menyebarkan agama Islam ke daerah Sunda seperti di Bogor. Oleh masyarakat. Puncak Salak juga dianggap sebagai temapt berkumpulnya ghaib-ghaib Suci. Gunung Salak. dan Gunung Pangrango. sebuah gunung berapi yang puncaknya terpotong dan bergerigi. Gunung Salak adalah simbol dari alif (huruf pertama dalam abjad Arab) yang berarti hubungan vertikal. Sedangkan bagi masyarakat Islam. Model kedua adalah dengan melalui 13 .ditafsirkan sebagai tempat persemayaman para Hyang. Daerah ini cukup tinggi sehingga terasa nyaman bagi orang yang tinggal di dataran rendah.R. Munculnya anggapan yang demikian dari masyarakat menunjukkan adanya akulturasi budaya dan juga sinkretisme dalam sistem religi mereka. lam. Pemandangan alam di sini sangat indah dan tanahnya subur. “Buitenzorg adalah tempat tinggal yang sangat menyenangkan. ia mengatakan. dan Cianjur. Walaupun terdapat perbedaan. Ketiga gunung ini sebagai perlambang dari huruf alif. yakni menjaga kelestarian hutan sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia. Selain itu. seperti apa yang disampaikan oleh seorang ilmuwan. seperti wali songo. Sedangkan Gunung Pangrango adalah simbol dari lam dan Gunung Gede simbol dari ha. Gunung Gede. terdapat dua “model” pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat. ketiga gunung tersebut ditafsirkan sebagai simbol dari ajaran kebaikan. di puncak keramat terdapat makam dari tokoh penyebar agama Islam yang berasal dari Cirebon. yaitu Gunung Salak. keragaman hayati yang dimiliki. Diantara nilai penting yang lain dari gunung Salak adalah adanya anggapan bahwa gunung Salak tersebut sebagai Paku Jagat atau Paku Tetenger bagi Pakuan Pajajaran (Munandar 2007). Bagi mereka melestarikan hutan merupakan satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh manusia. Pelabuhan Ratu. Terlepas dari anggapan masyarakat mengenai gunung Salak. Pertama adalah melakukannya dengan melalui pendekatan agama. A. dewata Sunda Kuno. Bahkan menurut abah Ru’yat (pemimpin Padepokan Girijaya. ketiga kata ini yang kalau dibaca menjadi satu kata ilah yang berarti Allah atau Tuhan.

Peran agama di desa ini dipengaruhi oleh kharisma yang dimiliki oleh sosok pemimpin pesantren sebagai informal leader. khilafh. Dalam melestarikan keberadaan keanekaragaman hayati yang terdapat di gunung Salak. dalam hal ini Islam. ia bersama dengan masyarakat desa Cidahu berkali-kali melakukan sweeping terhadap orang yang mengambil pohon dari hutan. dan konsep halal-haram. Namun walaupun memiliki kesamaan. alam adalah ciptaan Allah. Untuk dapat mengolah alam secara bijak. manusia terlebih dulu harus memiliki rasa keimanan yang kuat. menurut (Abdillah 2005) manusia memiliki derajat kesamaan dengan kehidupan makhluk yang lainnya. Hutan dan gunung itu jelas bukan milik kita dan sudah ada yang mengaturnya (pemerintah) maka rakyat tidak berhak mengambil apa yang ada dalam hutan. beliau melakukannya dengan pendekatan agama. Islam. Menurutnya. Bagi orang yang memiliki kesadaran keimanan dan ketaatan terhadap aturan agama. mereka menggiatkan tradisi lama yang memang pada dasarnya adalah suatu ajaran “normatif” pada manusia untuk berlaku arif terhadap alam. sebagai sebuah agama. ada juga santri yang tidak menetap. Dalam membahas Islam dan pelestarian Lingkungan. telah meresap menjadi tuntunan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Abdillah (2005) membahasnya melalui pembangunan teologi lingkungan (eco-theology). karena pada hakekatnya manusia dan lingkungan sama-sama berposisi sebagai karya cipta Ilahi yang tergabung dalam kesatuan ekosistem. Di samping itu. dan kita wajib mengolah dengan bijaksana dan melindunginya. Kesadaran keagamaan yang dimilikinya menjadikan pesantren yang diasuhnya cukup berperan dalam menjaga hutan tetap lestari.tradisi. terdapat beberapa teks yang menunjukkan tentang hubungan manusia dan alam. Agama. karena agama ini adalah agama yang dipeluk oleh semua penduduk desa Cidahu. sistim hukum al-Istishlah atau kemaslahatn umum. menebang pohon atau membunuh satu hewan pada hakekatnya membunuh banyak makhluk hidup. Dalam. Sedangkan Mangunjaya (2005) melihat persoalan Islam dan lingkungan dari aspek Tauhid. di samping karena dianggap memiliki derajat keilmuan agama yang lebih tinggi dari masyarakat kebanyakan juga karena beliau mengasuh santri yang menetap sebanyak kurang lebih 270 orang. Tanpa itu alam hanya akan di rusaknya. Dalam pandangannya. Keempat konsep ini menjadi landasan normatif peran agama dalam pelestarian lingkungan. banyak memiliki aturan dan anjuran untuk menjaga kelestarian lingkungan. hal ini dikarenakan banyak dari makhluk hidup yang hidupnya sangat tergantung pada pohon yang ditebang atau hewan yang dibunuh. ada konsep hima’ yakni 14 . apa yang bukan miliknya. maka orang tersebut tidak akan berani merusak dan mengambil. manusia diberi wewenang oleh Allah untuk mendayagunakan sumberdaya alam dalam batas-batas yang kewajaran ekologis (Abdillah 2005). al-Qur’an. Di desa ini terdapat satu pesantren dengan Kyai yang cukup berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Ketokoh-an yang dimilikinya. Dalam Islam. lalu kesadaran menjalankan agama dengan benar.

upacara muludan yang dilakukan setiap tanggal 12 bulan rabiul awwal dalam penanggalan Islam. Peletakan sesajen dan sedekah bumi merupakan bentuk penghargaan masyarakat terhadap adanya kehidupan selain di jagat manusia ini. Setiap upacara adat yang dilakukan selalu ada sedekah bumi yang dimaksudkan supaya manusia lebih menghargai bumi yang telah memberkan kehidupan bagi manusia. Terdapat berbagai macam bentuk tradisi dalam pelestarian lingkungan. 2007). Kedua. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Padepokan Girijaya yang tinggal di desa Girijaya. Ritual ini sebagai ungkapan rasa syukur atas pemberian Tuhan kepada manusia berupa hasil bumi. atau kawasan yang tidak produktif menjadi produktif merupakan anjuran syariah (Mangunjaya 2005). Sistem perlindungan kawasan seperti ini tercatat dalam sejarah pernah dilakukan oleh Nabi dan pemimpin setelahnya (Mangunjaya 2005.upaya melindungi spesies hidupan liar dengan menyediakan lahan untuk habitat asli mereka secara utuh. Ritual ngramat sebagai bagian dari tradisi muludan yang dilakukan oleh masyarakat desa Girijaya.2. yaitu masyarakat dengan corak tradisi maritim dan masyarakat dengan corak tradisi agraris. Selain itu juga ada ngancak (sesajen) yang diletakkan di empat manahab atau penjuru angin. Ritual tradisi dan Pelestarian Lingkungan Masyarakat Indonesia. Pertama adalah upacara seren taun yang dilakukan setiap tangal 10 muharrom setiap tahunnya. salah satunya adalah dengan ritual tradisi. Setiap corak tradisi memiliki upacara tradisi sebagai bentuk penghargaan dan upaya revitalisasi hubungan manusia dan alam. secara garis besar terbagi dalam dua corak tradisi. tanah. Setiap tahunnya mereka melakukan tiga upacara adat. Selain hima’ menurut Mangunjaya juga terdapat konsep ihya almawat atau menghidupkan lahan. Gambar II. 15 . Ketiga. adalah upacara rabu wekasan yang dilakukan pada hari rabu terakhir di bulan safar.

yaitu masyarakat membawa dongdang/nampan yang berisi hasil bumi ke padepokan untuk dimakan secara bersama-sama. menunjukkan bahwa ritual bisa menjadi pedoman dari perilaku budaya suatu masyarakat. sedangkan air selain campuran untuk kebutuhan hidup seperti minum dan mandi juga untuk ditaburkan pada sawah mereka. Kemudian ada ngramat. upacara yang dilakukan oleh masyarakat Girijaya. dalam penguburannya disertai mantra-mantra untuk keselamatan dan kesejahteraan. ritual seperti itu adalah bagian dari pola budaya yang dapat menjadi penuntun prilaku manusia. Sebagai tradisi. Dalam ngramat ini selain sebagian dari hasil bumi juga masyarakat membawa air. dengan harapan hasil panen yang telah dan akan diperoleh mendapatkan berkah. Menurut Geertz (1966) dengan melakukan pendekatan kebudayaan dari model bagi. Rangkaian yang terdapat pada upacara seren taun yang dilakukan oleh masyarakat Padepokan Girijaya terdiri dari. yaitu aneka makanan dikumpulkan dalam satu tempat kemudian di kubur.Terdapat rangkaian upacara dalam setiap pelaksanaan upacara tradisi. yaitu pembacaan mantera-mantera dan juga tawasulan pada para leluhur. ruwatan bumi. 16 . Biasanya makanan yang telah di kramat dibawa pulang kembali. wali. Kemudian sedekah bumi. Sebagai bagian dari sistem religi. hal ini dilakukan sebagai bentuk syukur manusia atas apa yang telah diberikan bumi. mengandung muatan pesan simbolik tentang keakraban hubungan manusia dan alam.

beberapa pohon besar 17 . Pohon yang umum dan banyak tumbuh di sini didominasi oleh Schima wallichii (puspa). Mallotus. Ini terjadi karena tidak semua bagian dari kawasan ini bisa dijelajahi.BAB III KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN Sebagai negara yang dikenal dengan julukan mega-biodiversitas country. menyebabkan populasi alami menurun dan mengalami erosi yang sangat mengkawatirkan. Jenis ini termasuk dalam daftar CITES appendiks 2. Dilokasi ini dapat dilihat daerah hutan yang terganggu dari Javana Spa mulai dari ketinggian 1400 m. Symplocos fasciculate dan lain-lain. dan beberapa diantaranya disajikan pada Gambar III. mahkota bunga putih dan benangsari kuning tampak sangat menyolok. Vegetasi pada tepian hutan nampak terbuka. Jenis tumbuhan yang menarik untuk dikemukakan pada tepi hutan yang terbuka antara lain adalah Cyathea contaminans (paku tiang) yang banyak dijumpai dan juga dipelihara di Kebun Javana Spa. Salah satu jenis yang masuk dalam RDB yaitu Pinanga javana dijumpai disepanjang sungai. Flora di jalur Cangkuang dan TNGHS Resort Cidahu Hasil pengamatan yang telah dilakukan disuguhkan untuk memberikan gambaran Kekayaan flora resort Cidahu ini. yang perawakannya berupa pohon besar dengan kanopi berupa kerucut. dibagian selatan gunung Salak. daun tunggal berupa elips. Castanopsis argentea. Untuk membuktikan bahwa di Gunung Salak terdapat keanekaragaman yang tinggi maka dilakukan jelajah terhadap kawasan ini dan mencatat flora yang terdapat di dalamnya. Paku ini sebenarnya telah masuk dalam status perlu dilindungi karena bagian bawah batangnya yang merupakan kumpulan akar berwarna hitam banyak diambil untuk media anggrek dan media tanaman hias lainnya serta diperdagangkan ke luar negeri. 1. Hasil pengamatan dan pengumpulan specimen herbarium di kawasan ini tercatat sekitar 100 jenis (Lampiran 5). flora yang tercatat atau pun yang dibuat herbariumnya adalah flora yang dilewati ketika jelajah dilakukan. Tentunya. bagian bawah banyak ditumbuhi oleh Chlomolaena odoratum (kirinyu). rapat. maka hampir dapat dipastikan bahwa setiap wilayah atau kawasan di Indonesia memiliki keanekaragaman yang antar satu dengan lainnya berbeda. Kekayaan flora alami pada tepi hutan nampak lebih banyak dihuni oleh jenis pendatang seperti Agathis dammara dan Calliandra calothyrsus. 3. Sangat mungkin terjadi bahwa tingkat keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan ini jauh lebih tinggi dari apa yang telah di hasilkan. Yang dimaksud flora disini adalah jenis tumbuhan yang dijumpai mulai dari perbatasan wilayah Perum Perhutani dan Kebun Javana Spa serta hutan melalui jalur setapak. yang didominasi oleh jenis pionir Macaranga. 2. Weinmannia blumei. Ficus. Schima wallichii dijumpai dengan tinggi pohon 5-10 m. Quercus lineata. Pohon tersebut dapat dijumpai sepanjang jalan hingga bagian tepi kawah Ratu.

bunga berupa terompet dan buah berupa gelendong ukuran kepalan tangan tumbuh tegak. Dijumpai juga beberapa pohon Weinmania blumei. Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di kawasan gunung Salak 18 . Caryota rumphiana yang merupakan pohon palm soliter.yang sedang berbuah. daun muda berwarna merah kecoklatan. dengan daun majemuknya dan daun penumpu yang besar. Pohon Albizia lophanta dengan daun halusnya yang tersusun menyirip terdapat di beberapa tempat terbuka. mudah dikenal karena bentuk daunnya yang menyirip. tumbuh pada tempat terbuka ditepi hutan. Pada bagian kiri jalan setapak dijumpai satu pohon Fagraea blumei yang mempunyai kanopi memayung. buahnya berduri dan biji berwarna coklat. Gambar III. Castanopsis tungurut banyak dijumpai di kanan kiri jalan. 1.

Cinnamomum sintok. B. Jenis yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai tanaman hias karena mempunyai bunga berupa terompet warna merah sangat mencolok dan mudah dikembangkan melalui stek batang adalah Aeschynanthus radicans. Dijumpai bambu merambat Dinochloa scandens dan 2 jenis rubus yaitu Rubus moluccanus dan Rubus chrysophyllus merupakan tumbuhan berduri dengan mahkota bunga putih dan buah majemuk berwarna merah. Tumbuhan bawah lantai hutan cukup rapat terdiri dari berbagai jenis tumbuhan antara lain Melastoma malabatricum.Tumbuhan liana yang dapat dijumpai disini antara lain Smilax macrocarpa (canar). Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di kawasan gunung Salak Flora sekitar camp Bajuri Jenis pohon yang paling banyak dijumpai di daerah ini adalah Schima wallichii (puspa). Castanopsis 19 .. Begonia multangula. Clidemia hirta. Etlingera coccinea. robusta dan B. Glochidion arboretum. Psychotria. sedang berbuah mirip anggur dan buah tersebut dapat dimakan walaupun rasanya asam dan segar. 2. dengan daun berhadapan. Argostemma montana dan Elatostema sp. sedangkan jenis-jenis lainnya adalah Vernonia arborea. kemudian dijumpai satu jenis Uncaria sp. Gambar III. muricata. sangat umum dan mudah dikenal. A. mempunyai kait untuk memanjat. Impatiens platypetala.horsfieldii dan Agalmyla parasitica.

M. Frecynetia javanica yang sedang berbunga dengan daun pelindung berwarna merah keunguan. Geophila repens. Argostemma montanum. Pada daerah ini dapat juga dijumpai Nepenthes gymnamphora yang populasinya sudah menurun. Eurya acuminata dan lantai dasar banyak dijumpai Etlingera coccinea. Leea indica Burm. Begonia multangula.) Benn.acuminatissima. Rhododendron javanicum (Bl. Symplocos fasciculata. Saurauia nodiflora dan Mallotus rhizinoides. Lasianthus viridis. Ginotroches axilaris. TNGHS 20 .f Tarena sp. Datura metel Rhodamnia cinerea Ficus deltoidea Jack Gambar III.3. kemudian Medinilla speciosa yang juga sangat menarik dan berpotensi sebagai tanaman hias. Aeschynanthus radicans dan Agalmyla parasitica dengan bunga merah berupa corong yang mencolok. Jenis tumbuhan liana yang nampak menonjol diantaranya adalah Uncaria. Omalanthus populneus Zoll. Pada bagian bawah dapat dijumpai Melastoma malabatricum. Ardisia sanginolenta DC Arthrophyllum javanicum Pavetta Montana Reinw. Dysoxylum densiflorum. Ex Bl. Ardisia crispa Lasianthus laevigatus Bl. Beberapa jenis tumbuhan di kawasan hutan gunung Salak. & Mor. trachyphyllum. Plectocomia elongata (bubuai).

200 m banyak dijumpai jenis-jenis pioneer seperti Macropanax dispermus. paku tiang Cyathea contaminans dan Musa acuminata (pisang).. 4. Gambar III. Medinilla speciosa dan beberapa tumbuhan paku. Hornstedtia pininga dan Melastoma sp. Aralia dasyphylla.Flora di jalur Pasir Reungit dan sekitar kawah Ratu Pada ketinggian 1. Mallotus paniculatus dan Ficus padana dengan ketinggian pohon sekitar 10m. Strobilanthes. Jenis dominan di daerah ini yaitu Schima wallichii (puspa) yang berupa pohon tegak dengan tinggi sekitar 25 m. Schima wallichii. Vegetasi disekitar kawah ratu. yaitu sekitar fumarol tercium bau belerang yang kuat dan tidak ditemukan adanya tumbuhan yang tumbuh. mempunyai daun berupa pedang memita. Dan pada ketinggian 1. Pada ketinggian 1.360 m. Jenis liana yang banyak adalah Polygonum sp. dengan kulit batang berwarna gelap karena pengaruh uap belerang. Dissochaeta. diameter batang diatas 50 cm. dan beberapa jenis yang dijumpai 21 . Hedychium roxburghii.250m. buah mencapai panjang 50 cm. 4. Smilax ceylanica. Beberapa jenis diantaranya disajikan pada Gambar III. Ficus deltoidea. Pada bagian lantai hutan dijumpai Schefflera spp. dijumpai jenis-jenis primer diantaranya Altingia excelsa. berdiameter sekitar 15 cm. Tumbuhan lain yang melimpah adalah Pandanus nitidus. Castanopsis javanica.

5). Pada ketinggian 1700 m. 22 . Jenis pohon dominan Schima wallichii dan Lithocarpus beralih ke Podocarpus pada ketinggian 1800 m. pada ketinggian antara 1. Prunus arborea yang tumbuh sebagai jenis dominan atau pohon mencuat. Gambar III.100 dan 1. 5. Castanopsis javanica. pada bagian tepi dijumpai banyak tumbuh Begonia multangula yang sangat melimpah. Helipad dan beberapa jenis rumput dan paku-pakuan di sekitarnya Flora di jalur Cimalati Pada jalur Cimalati. Ficus padana dan tumbuhan pendatang dari luar yang merupakan invasive species seperti Piper aduncum dan Calliandra calothyrsus. dan pada ketinggian 1400 m banyak tumbuhan epifit.Dibagian lebih bawah yaitu disekitar helipad vegetasi nampak terbuka (Gambar III.400 m dpl banyak dijumpai pohon jenis Schima wallichii. dijumpai juga Centela asiatica. Plantago major dan pada bagian lereng yang masih berhutan nampak Cyathea contaminans. genus Vaccinium dan Rhododendron mulai terlihat sebagai vegetasi lapisan bawah. Lithocarpus sundaicus. Jenis tumbuhan yang dijumpai sekitar jalur Cimalati disajikan dalam Lampiran 1.

tetapi ketinggian tempat menjadi faktor penghambat untuk kehidupan tumbuhan dan hewan liar. Hutan tanaman Hutan sekunder Lahan garapan Daerah terbuka Struktur Tinggi (20-40 m) dan komplek Tinggi (20-40 m) tetapi sederhana Semak Rendah (5-10 m) tetapi komplek Kebun campuran. Tabel IV. persawahan atau ladang. Rendah (1-5 m) dan sawah. perkebunan teh. Kategori fisiognomi dan penutupan lahan Fisiognomi Penutupan lahan Hutan Pegunungan atas Hutan primer Pegunungan bawah Hutan tanaman Perkebunan. Hutan primer.1). padang rumput. ladang sederhana Daerah terbuka. dan dengan memetakannya ke dalam suatu wilayah. struktur dan diversitas tumbuhannya komplek.1. Hutan sekunder merupakan hutan yang ditumbuhi semak dengan struktur hutan yang komplek. dengan kriteria berdasarkan pada ketinggian pohon dan keadaan struktur hutan. hutan ini antara lain adalah hutan Agatis. Pembagian kategori disesuaikan dengan kondisi wilayah dan tujuannya. sehingga pembagiannya perlu dibedakan untuk pengelolaan kawasan Taman Nasional. bangunan Hutan Tanaman disekitar Gunung Salak merupakan tegakan dengan struktur sederhana tetapi pepohonannya tinggi. untuk tujuan penelitian di gunung Salak kali ini ditentukan 6 kategori (Tabel V. ketinggian pohon tidak terlalu tinggi tetapi mempunyai jumlah jenis yang banyak.BAB IV FISIOGNOMI KAWASAN GUNUNG SALAK DAN DAERAH KORIDOR Fisiognomi dapat diartikan sebagai kenampakan luar dari suatu vegetasi. Meskipun pembagian secara fisiognomi. serta dikatagorikan juga daerah yang tidak terdapat vegetasi yaitu daerah fumarol. sehingga dikatagorikan tersendiri. Dalam pembagian fisiognomi pada table diatas. Selanjutnya peta fisiognomi tersebut dapat digunakan untuk mengelola komunitas lokal dengan memadukan pengetahuan di habitat alam pada setiap kategori dan lingkungannya. Altingia excelsa dan kebun karet. ada daerah yang digunakan untuk aktivitas manusia seperti kebun teh. dapat memberikan gambaran umum tentang kondisi lingkungan alami wilayah tersebut. Hutan primer di gunung Salak digolongkan pada hutan tropis pegunungan yang dibagi menjadi hutan pegunungan bawah dan penungan atas tergantung pada ketinggiannya. hutan pegunungan atas dan bawah tidak berbeda. 23 . merupakan hutan dengan pepohonan yang tinggi.

Jenis-jenis utama pada tipe vegetasi ini antara lain Schima wallichii (Theaceae).825 m dpl) Hutan pegunungan bawah Hutan pegunungan bawah (Gambar IV. 11 dan IV. Hutan pegunungan atas Hutan pegunungan atas pada umumnya merupakan hutan primer dan hanya ditemukan disekitar puncak gunung Salak. anggrek. dengan ketinggian di atas 1. dapat ditentukan adanya beberapa tipe vegetasi secara fisiognomi. 12. nampak mendominasi lapisan kanopi atas dengan tinggi lebih dari 20 m (Gambar IV. Adapun peta penutupan lahan dan peta fisiognomi kawasan gunung Salak dapat dilihat pada Gambar IV. Rododendron dan Vaccinium yang hidup di batang pohon.. Pengamatan yang dilakukan pada jalur Cimalati pada ketinggian 1825 m dpl.800 m dpl. Tegakan hutan umumnya berkanopi rapat dengan tinggi 30-40 m.1). Adapun jenis-jenis yang terdapat pada hutan pegunungan atas terdapat pada Tabel IV.Berdasarkan hasil penelitian di tiga jalur (Cimalati. serta peruntukan lain. Gambar IV. neriifolius. Di daerah ini banyak epipit seperti paku-pakuan. 2a. 1. Berikut ini adalah tipe-tipe vegetasi dan peruntukan lain yang diperoleh dari pengamatan secara fisiognomi. 2) di gunung Salak yang terdapat dalam kawasan taman nasional merupakan hutan primer yang tersebar pada ketinggian di bawah 1. yang terdiri atas jenis-jenis Podocarpus imbricatus dan P.800 m dpl. 2b. Hutan Pegunungan atas Jalur Cimalati (1. dijumpai suku Podocarpaceae. dengan beberapa pohon mencuat yang mencapai ketinggian hampir 50 m. Pasir Reungit dan Cangkuang) serta di daerah kawasan koridor dan tempat lain. 24 .

Hutan yang meluas kearah Barat tersebar di antara gunung Berbakti dan Javana Spa. Akan tetapi pada hutan tanaman Altingia excelsa yang sudah tua tinggi pohon dapat mencapai 40 m. Jenis-jenis lainnya secara lengkap disajikan dalam Tabel IV. Hutan pegunungan bawah (Jalur Cimalati (1. tetapi menjadi menyempit tak teratur karena adanya hutan sekunder yang berpusat di kawasan perusahaan listrik serta tidak berlanjut ke arah koridor pada bagian yang semakin kearah Barat. Pinus merkusii dijumpai dibagian batas tepi kawasan taman nasional. Kanopi hutan nampak sudah rapat ketika pepohonan (Altingia excelsa) mencapai tinggi di atas 5 m. Altingia excelsa. Lithocarpus elegans (Fagaceae). Hutan tanaman Hutan tanaman seperti Agatis sp.Castanopsis javanica. Gambar IV. seperti yang terlihat di gunung Bunder salah satu jalan masuk ke dalam kawasan taman nasional (Gambar IV. 2b.500 m dpl) Hutan berkategori hutan pegunungan bawah meluas kearah lereng Selatan dan Timur gunung Salak. 2. Polyosma ilicifolia (Saxifagraceae) dan Prunus arborea (Rosaceae). 25 . yang umumnya berumur sama dengan struktur hutan yang sederhana. Engelhardia spicata (Juglandaceae)..3). Acer laurinum (Aceraceae). 2a. Altingia excelsa (Hamamelidaceae).

3. 26 . Hutan tanaman (Rasamala (Altingia excelsa) di Gn. 5). karena saat ini hutan sekundernya mencakup areal yang luas.Gambar IV. sehingga memungkinkan hutan sekunder akan mencapai pemulihan menjadi hutan primer jika gangguan tidak terjadi lagi. Beberapa pohon jenis Weinmannia blumei (Theaseae) dengan tinggi 20-30 m nampak tersebar di beberapa tempat. tipe hutan ini termasuk dalam kriteria semak. Hal ini menunjukkan adanya proses pemulihan atau suksesi. serta secara alami yaitu letusan gunung. Dengan demikian proses pemulihan hutan sekunder menjadi hutan primer merupakan suatu hal yang perlu diwujudkan dalam rangka menyelamatkan habitat satwa liar. Komponen penyusun tipe hutan ini tidak saja jenis pioner tetapi juga terdapat beberapa jenis primer dalam fase suksesi seperti Castanopsis argentea and Lithocarpus elegans (Fagaceae). dan terdiri atas jenis-jenis pioner yang dijumpai di jalur Cangkuang maupun Pasir Reungit (Gambar IV. dan Ficus deltoidea (Moraceae) merupakan komponen utama hutan sekunder. 3. terutama sekitar daerah belerang di gunung Salak. 4). Mallotus paniculatus (Euphorbiaceae). Jenis-jenis pioneer seperti Macropanax dispermus (Araliaceae). dan tersebar sekitar bagian utara gunung Salak dan termasuk di dalamnya kawasan koridor. Bunder) Hutan sekunder Hutan sekunder umumnya dengan tinggi pohon rata-rata hanya mencapai 5-10 m. Hal ini perlu mendapat perhatian dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan pada masa datang. Dalam peta penutupan lahan. Kerusakan hutan dapat terjadi karena dua hal yaitu karena aktivitas manusia seperti pengaruh penggunaan lahan dimasa lalu dan illegal logging. Jenis-jenis lain yang tercatat dalam tipe vegetasi ini disajikan pada Tabel IV. 4. Symplocos fasciculata (Symplocaceae).

700 m dpl. begitu juga pada lereng utara gunung Salak pada ketinggian 1. 8). Hutan sekunder (Daerah koridor) Lahan garapan Dalam peta penutupan lahan. Kondisi semacam ini meluas sampai hutan pegunungan bawah. hutan campuran.600-1. 5. ladang. karena itu setiap perubahan di daerah tersebut perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh.Gambar IV. Kategori fisiognomi ini mencakup daerah yang cukup luas di daerah koridor. perkebunan teh. sawah dan padang rumput digabungkan ke dalam 1 tipe fisiognomi yaitu dengan struktur rendah dan sederhana (Gambar IV. Hutan sekunder (Jalur Cang Kuang 1300m dpl) Gambar IV. 4. 6. 27 . 7.

7. Lahan garapan Sisi Utara koridor (Kebun teh) Gambar IV. Lahan garapan Sisi Selatan Koridor (Ladang) Daerah terbuka Kategori fisiogomi ini ditandai dengan tidak adanya tumbuhan atau vegetasi yang dapat tumbuh. 6. Kedua lokasi tersebut mencakup areal yang cukup luas. 28 . ini termasuk “fumarole” di lereng Barat gunung Salak dan lokasi bangunan pembangkit tenaga listrik di lereng bagian Barat gunung Salak (Gambar IV. 8. 9.Gambar IV. Lahan garapan Daerah koridor (Sawah) Gambar IV. 10).

Lithocarpus sundaicus (Bl. 10.Br. G lochidion rubrum Bl. Calliandra callothyrsus M eissn. M allotus paniculatus (Lam k) M uell. Lithocarpus daphnoides (Bl.) Rehd. Sym plocos cochinchinensis (Lour. 2a.C.Arg. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cimalati O ut of NP NationalPark Area Species Fam ily M yrtaceae Cunoniaceae M oraceae M oraceae Lauraceae Euphorbiaceae Sym plocaceae Sym plocaceae Fagaceae Euphorbiaceae Laulaceae Loganiaceae Rubiaceae Fagaceae Lauraceae M elastom ataceae Euphorbiaceae Proteaceae Celastraceae Piperaceae Fabaceae Cyatheaceae Pandanaceae Araucariaceae J-Fam ily フトモモ科 クノニア科 クワ科 クワ科 クスノキ科 トウダイグサ科 ハイノキ科 ハイノキ科 ブナ科 トウダイグサ科 クスノキ科 マチン科 アカネ科 ブナ科 クスノキ科 ノボタン科 トウダイグサ科 ヤマモガシ科 ニシキギ科 コショ ウ科 マメ科 ヘゴ科 タコノキ科 ナンヨウスギ科 plt plt plt df nf df nf nf nd nf nf nf wp5 wp15 wp17 wp19 wp20 wp21 wp22 wp23 wp24 wp32 wp33 nf wp34 nf wp35 nf wp36 Syzygium sp. Cyathea contam inans (W all. Antidesm a tetrandrum Bl.Gambar IV. Agathis dam m ara (Lam b.) M oore Sym plocos fasciculata Zoll. 9.ex Bl.C am us Beilschm iedia m adang (Bl.ex Bl.) R. 890 1025 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1520 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 1615 1705 1825 Figure: G PS W P Num ber / Altitude [m ] p l t :Pl a n t a t i o n  a r e a d f :Forest disturbed by hum an activity nd:Forest disturbed in natural.G ap n f :Naturalforest 29 . Ficus fulva Reinw. Perrotteia alpestris Bl. Pternandra azurea (Bl.ex W all. M acaranga triloba (Reinw.) Copel.) Burck.) Korth.) L.Arg.ex Bl. Daerah terbuka (Pembangkit tenaga listrik) Tabel IV.) A. W einm annia blum ei Planch. Helicia robusta (Roxb. Urophyllum arboreum (Reinw.) Bl. Ficus fistulosa Reinw.) M uell. Pandanus furcatus Roxb.Rich. Daerah terbuka (“Fumarole”) Gambar IV. Fagraea elliptica Roxb.) Loes Piper aduncum L. Litsea resinosa Bl.

G . Eurya acum inata DC. Castanopsis argentea (Bl. Castanopsis javanica (Bl.ex Soepadm o Payena leerii (T.) Hatus. Platea excelsa Bl. 1615 ○ ○ ○ ○ 1705 ○ ○ 1825 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 30 . M elicope latifolia (DC.) DC.) K. M astixia pentandra Bl.) G ilg. Rhododendron sp. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cimalati.& B.ex Bl. Psychotria robusta Bl. Podocarpus neriifolius D.) Kosterm .Don Astronia spectabilis Bl. Vaccinium bancanum M iq. G ynotroches axillaris Bl. Prunus arborea (Bl. Parkia interm edia Hassk.Tabel IV.& B.) DC. Elaeocarpus sphaericus (G aertn. O ut of NP NationalPark Area Species Fam ily Podocarpaceae Podocarpaceae M elastom ataceae Ericaceae Thym elaeaceae Rhizophoraceae Rubiaceae Ericaceae Cornaceae Laulaceae O leaceae Rubiaceae Actinidiaceae Theaceae Icacinaceae Fagaceae Lauraceae Rosaceae Aceraceae M agnoliaceae Elaeocarpaceae Fagaceae Sapotaceae M yrtaceae Ericaceae Rutaceae Juglandaceae Saxifragaceae Laulaceae Fabaceae Rutaceae Rosaceae Fagaceae Loganiaceae J-Fam ily マキ科 マキ科 ノボタン科 ツツジ科 ジンチョ ウゲ科 ヒルギ科 アカネ科 ツツジ科 ミ ズキ科 クスノキ科 モクセイ科 アカネ科 マタタビ科 ツバキ科 クロタキカズラ科 ブナ科 クスノキ科 バラ科 カエデ科 モクレン科 ホルト ノキ科 ブナ科 アカテツ科 フトモモ科 ツツジ科 ミ カン科 クルミ 科 ユキノシタ科 クスノキ科 マメ科 ミ カン科 バラ科 ブナ科 マチン科 plt plt plt df nf df nf nf nd wp5 - nf nf nf nf wp34 nf wp35 nf wp36 wp15 wp17 wp19 wp20 wp21 wp22 wp23 wp24 wp32 wp33 890 1025 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1520 Podocarpus im bricatus Bl. Schim a wallichii (DC.) Knobl.) Kurz.Schum . Acronychia laurifolia Bl.) Kalkm an Acer laurinum Hassk. M anglietia glauca Bl.Hartley Prunus javanica (T. Syzygium rostratum (Bl. Litsea noronhae Bl. Neolitsea cassia (L. Lindera bibracteata (Bl.) T. O lea javanica (Bl.f. Saurauia bracteosa DC.) Boerl. Vaccinium sp. Daphne com posita (L.) DC.) Korth. Lasianthus laevigatus Bl. Engelhardia spicata Lesch. 2b. Polyosm a ilicifolia Bl. Lithocarpus elegans (Bl.) M iq.

& D e V ri ese 1101 1150 1200 1247 1302 1360 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ Fi gure:G PS W P Num ber / Al ti tude [m ] p l t :P l a n t a t i o n   a r e a vi ty d f :Forest di sturbed by hum an acti n f :Naturalforest fm :Near Fum arol e 31 . )DC . ) T. 3. ) H atus. G esneri aceae イワタバコ科 A gal m yla parasi ti ca (Lam k) O . Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 A ntidesm a tetrandrum B l . C yatheaceae ヘゴ科 C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . Acti ni di aceae マタタビ科 Saurauia bracteosa D C .ex B l . Lauraceae クスノ キ科 Persea ri m osa (B l . M oraceae クワ科 Fi cus padana B urm . f. ) C opel . M aratti aceae ナンヨウスギ科 A gi opteri s evecta H offm . クスノ キ科 Li tsea cubeba (Lour. Rutaceae ミ カン科 M el i cope l ati fol i a (D C . M el astom ataceae ノ ボタン科 M edi ni l l a speci osa Rei nw .Tabel IV.A rg. El aeocarpaceae ホルト ノ キ科 El aeocarpus sti pul ari s B l. C yatheaceae ヘゴ科 C yathea contam i nans (W al l . M el astom ataceae M yrsi naceae ヤブコウジ科 Rapanea hassel tii (B l . ノ ボタン科 M el astom a syl vaticum B l . )O . Saxi fragaceae ユキノ シタ科 Pol yosm a i li ci fol i a Bl . クワ科 Fi cus del toi dea Jack ト ウダイグサ科 Gl ochidi on rubrum B l . ex B l . Ham am el i daceae マンサク科 Al ti ngi a excel sa N orona Fagaceae ブナ科 C astanopsi sj avani ca (B l . K. ) Rehd. Aral i aceae ウコギ科 M acropanax di sperm us (B l . C unoni aceae クノ ニア科 W ei nm anni a bl um ei Pl anch. G . ブナ科 Li thocarpus el egans (B l . Rhi zophoraceae ヒルギ科 G ynotroches axi l l ari s Bl . Fagaceae ブナ科 Li thocarpus sundai cus (B l .H artl ey Sym pl ocaceae ハイノ キ科 Sym plocos fasci cul ata Zoll . ) Pers. Pal m ae ヤシ科 Pl ectocom i a el ongata M art. )DC . Pi naceae マツ科 Pi nus m erkusi i Jungh. ) M ez Theaceae ツバキ科 Schi m a wal l i chi i (D C . K.ex Scheff. Fagaceae ブナ科 C astanopsi s argentea (B l.ex Soepadm o Fagaceae Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 M al l otus pani cul atus (Lam k) M uell . ) Kosterm . Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Pasir Reungit O ut of NP Nati onalPark Area Speci es Fam i l y M el astom ataceae M oraceae Euphorbi aceae Laul aceae J-Fam i l y plt W P25 df df df nf nf fm wp26 wp27 wp28 wp29 wp30 wp31 1045 ノ ボタン科 A stronia spectabi li s B l. ) Korth.

Sym pl ocos fasci cul ata Zol l . K. M usa acum i nata C ol l a P andanus furcatus R oxb. M acaranga tri l oba (R ei nw . ) L. )M i q. f.ex M art. Q uercus l i neata B l . )Ni el sen Pi nanga j avana B l . A cer l auri num H assk. ) C hoi sy W ei nm anni a bl um ei P l anch. C hrom ol aena odorata (L.R obi nson Etl i ngera cocci nea (B l . M usaceae Pandanaceae A cti ni di aceae Sym pl ocaceae Euphorbi aceae Euphorbi aceae Euphorbi aceae Fabaceae A recaceae C om posi tae Zi ngi beraceae M oraceae A qui fol i aceae A raucari aceae A ral i aceae 1221 1250 1304 1358 1382 1403 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ Fi gure: G PS W P N um ber / A l ti tude [m ] O pn: O pen area d f : Forest di sturbed by hum an acti vi ty 32 .ex B l . I l ex cym osa B l . Fi cus padana B urm . A rdi si a ful i gi nosa B l . M . )O . ) S. ) Korth. ) M uel l . )R. P arasari anthes fal catari a (L.A rg. Gl ochi di on arborescens M acaranga rhi zi noi des (B l . 4.ex B l . C astanopsi s tungurrut (B l . C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . A rthrophyl l um di versi fol i um B l . C astanopsi s argentea (B l . Sauraui a bracteosa D C . P ol yosm a i l i ci fol i a Bl .A rg. Schi m a w al l i chi i (D C .Tabel IV. D ysoxyl um densi fl orum (B l . )DC . Fi cus fi stul osa R ei nw . Eurya acum i nata D C . M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . G ynotroches axi l l ari s O m al anthus popul neus (G ei sel ) P ax Sl oanea si gun (B l ) K.Schum . )DC .A rg.C . ) M uel l . M acropanax di sperm us (B l . A gathi s dam m ara (Lam b. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cangkuang Speci es Fam i l y M el astom ataceae Fagaceae Fagaceae M el i aceae Saxi fragaceae M yrsi naceae C yatheaceae A ral i aceae Theaceae A ceraceae Fagaceae R hi zophoraceae Euphorbi aceae El aeocarpaceae Sym pl ocaceae C unoni aceae A recaceae M oraceae Theaceae Euphorbi aceae J-Fam i l y ノ ボタ ン科 ブナ科 ブナ科 センダン科 ユキノ シタ 科 ヤブコウジ科 ヘゴ科 ウコギ科 ツバキ科 カエデ科 ブナ科 ヒ ルギ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ハイノ キ科 クノ ニア科 ヤシ科 クワ科 ツバキ科 ト ウダイグサ科 バショ ウ科 タ コノ キ科 マタ タ ビ科 ハイノ キ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 マメ 科 ヤシ科 キク科 ショ ウガ科 クワ科 モチノ キ科 ナンヨ ウスギ科 ウコギ科 N ati onalP ark A rea opn opn df df df df w p39 w p40 w p41 w p42 w p43 w p44 A stroni a spectabi l i s Bl .Ki ng & H .R i ch.Sakai& N agam . C aryota rum phi ana B l . Sym pl ocos odorati ssi m a (B l .

Peta penutupan lahan kawasan G.Gb. Salak 33 . Salak Gb. 11. IV. IV. 12. Peta fisiognomi kawasan G.

D= 40-50 %. kemerataan jenis dan dominasi jenis. yang terdiri atas 44 marga dan 26 suku (Lampiran 3). Pencuplikan data vegetasi hanya dilakukan pada 1 dari 3 jalur pengamatan. ditandai dengan banyaknya jenis dengan frekuensi < 25 % (Gambar V. Komposisi floristik Dalam 12 petak pencuplikan data tercatat sebanyak 59 jenis pohon dengan diameter batang > 5 cm. sehingga diperoleh parameter-parameter frekuensi. Dengan demikian diharapkan hasil ini dapat dipakai sebagai data dasar untuk penelitian lebih lanjut. Namun demikian tingkat heterogenetitas secara umum tercatat cukup tinggi. Persebaran kelas frekuensi jenis dalam 12 petak pencuplikan data (A= 0-20 %. kerapatan. C= 30-40 %. kekayaan jenis. dominansi. indeks keanekaragaman. E= 50-60 %) 34 . B= 20-30 %.BAB V ANALISIS VEGETASI Studi ekologi hutan dilakukan dengan menggunakan metoda baku.1. Namun demikian dalam sekala kecil sudah terlihat adanya pengelompokan vegetasi berdasarkan ketinggian tempat maupun kondisi medan.1). 50 40 Ju m lah jen is (% ) 30 20 10 0 A B C Kelas frekuensi (%) D E Gambar V. dimana data vegetasi yang terkumpul kemudian dianalisis menurut cara yang umum dilakukan dalam kajian ekologi hutan. Parameter tersebut selanjutnya dilakukan analisis ordinansi dan stratifikasi hutan untuk mengetahui lapisan kanopi hutan. Ini relatif sangat rendah dibandingkan dengan dengan kekayaan jenis yang diperkirakan terdapat di kawasan gunung Salak. sehingga hasil yang diperoleh belum dapat menggambarkan kondisi hutan gunung Salak secara lengkap.

07 51.5) ditentukan jenis-jenis pohon yang paling utama di daerah penelitian (Tabel V.33 21. Dilain pihak 19 jenis lainnya dengan NPR yang rendah dan hanya terdapat pada 1 petak pencuplikan data.54 0.28 12.1.52 K 108 192 100 78 75 48 19 25 50 47 65 22 39 128 996 JJ 4 2 4 6 2 3 7 5 3 1 2 1 3 16.11 1.46 10.73 25. jumlah jenis (JJ) dan nilai penting suku (NPS) suku-suku pohon yang tercatat di daerah penelitian.95 17. Eurya acuminata dan Dysoxylum densiflorum yang tersebar cukup merata. Rendahnya luas bidang dasar menunjukkan bahwa banyak diantara pohon yang tercacah berukuran kecil (Gambar V. 35 . Theaceae dan Lauraceae merupakan suku-suku tumbuhan yang paling utama di daerah penelitian (Tabel V. kerapatan (K= individu/ha).86 2. jumlah individu dan luas bidang dasar yang relatif tertinggi.93 1. Jenis-jenis tersebut paling tidak tercatat sebagai jenis dominan di satu petak pencuplikan data.00 NPS 53.26 1.36 1.98 26. Cyatheaceae. yang merupakan salah satu ciri khas hutan pegunungan.58 0.53 0.22 11.1). Ardisia javanica. yaitu terdapat di semua petak pencuplikan data. Tabel V.00 Berdasarkan nilai penting rata-rata jenis pohon (NPR > 7.28 10. Struktur hutan Kerapatan pohon secara umum tercatat tidak terlalu tinggi dan dengan luas bidang dasar yang rendah pula. Suku-suku tersebut dengan jumlah jenis.48 14.20 300.00 59. 2).48 0.74 0. Dari 26 suku yang tercatat.68 15. Fagaceae.82 15.90 25. Tingginya nilai penting jenis Cyathea contaminans terutama karena persebarannya yang luas.83 1.52 m2/ha.Hanya beberapa jenis diantaranya Cyathea contaminans. Dengan kata lain bahwa di setiap tempat dapat dijumpai adanya jenis Cyathea contaminans.58 14.08 ha (12 petak) hanya tercacah sebanyak 996 individu pohon (diameter > 5 cm). Luas bidang dasar (LBD= m2/ha).05 1. Dalam petak dengan luas luas total 1.2). dengan total luas bidang dasar 26. Suku Fagaceae Cyatheaceae Theaceae Lauraceae Meliaceae Rutaceae Moraceae Euphorbiaceae Myrtaceae Saxifagraceae Myrsinaceae Melastomataceae Rubiaceae Suku-Suku Lain (13) Jumlah LBD 9.28 2.

8 13.8 4.8 300 4.1 12.0 17.1 34.2 300 11.0 13.0 20.7 300 154.1 10.3 3.9 42.3 24.3 16. Nilai penting jenis-jenis rata-rata (NPR) pohon dan di setiap petak pencuplikan data Jenis / Petak Cyathea contaminans Lithocarpus sundaicus Castanopsis javanica Dysoxylum densiflorum Polyosma illicifolia Ardisia javanica Astronia spectabilis Eurya acuminata Acronichya laurifolia Symplocos fasciculata Syzygium fascigiatum Schima wallichii Cinamomum sintoc Jenis-jenis lain (45) Jumlah P1 18.5 5.7 132.5 P5 51. sebagian besar (81.8 9.1 3.9 22.4 46.6 24.7 58.6 16.8 76.8 300 104.9 4.7 15.1 8.8 % diantaranya yang mencapai ukuran > 60 cm.0 24.6 29. Acronychia laurifolia dan Polyosma illicifolia (Tabel V.1 21.4 13.8 3.9 22.9 300 80.0 300 78. diikuti oleh Astronia spectabilis.5 9.5 73.1 9.9 43.5 85. Namun demikian dominasi jenis-jenis tersebut nampak bervariasi di masing-masing petak. 36 .0 P4 27. Tiga pohon terbesar (diameter > 100 cm) yang tercuplik hanya diwakili oleh 1 jenis yaitu Castanopsis javanica.5 41.4 62.5 6.1 68.7 23.0 24.2 P9 38.8 P11 32.0 111.8 24.0 3. Schima wallichii dan Dysoxylum densiflorum.3 9.5 12.0 21.1 18.4 22.0 300 103.6 4.6 13.9 3.9 P6 37.1 300 116.3 7.6 22.9 4.7 61.0 11.9 52. 3).7 22.6 300 25.7 3.5 7.4 25.5 30. Gynotroches axillaries dan Lithocarpus sundaicus.8 300 88.9 11.5 9.9 43.7 48.1 7. dapat dikatakan bahwa daerah penelitian didominasi oleh Castanopsis javanica dan Lithocarpus sundaicus.1 22.6 3.2 6. Berdasarkan nilai luas bidang dasar relatif.0 29.5 22.6 51.1 12.8 9.8 15.0 43.6 23.5 6.8 98.6 5.2 9.0 29.7 16.0 3.6 P7 27.7 13.9 3. 2.0 7.9 42.0 5.7 31.1 35.4 %) berukuran kecil (diameter < 20 cm) dan hanya sekitar 1. dan beberapa pohon lain yang berukuran cukup besar (diameter 80-100 cm) diwakili oleh jenis-jenis Lithocarpus spicatus.6 31.0 28.5 300 6.0 10.1 P2 16.4 28.7 300 14.8 9.9 46.4 5.8 15.3 P12 14.0 9.9 300 Dari seluruh individu yang tercacah.2 P8 69.8 P3 34.5 21. yang menunjukkan adanya persebaran yang khas dari masing-masing jenis.2 10.9 P10 52.2 68.9 6.Tabel V.3 NPR 35.

60 50 Jumlah individu (%) 40 30 20 10 0 < 10 < 20 < 30 < 40 < 50 < 60 < 70 < 80 > 80 Kelas diameter (cm)
Gambar V. 2. Persebaran diameter pohon yang tercacah dalam 12 petak pencuplikan data.

Tabel V. 3. Jenis-jenis dominant yang tercacah di daerah penelitian. Jenis Castanopsis javanica Lithocarpus sundaicus Astronia spectabilis Schima wallichii Dysoxylum densiflorum Acronichya laurifolia Polyosma illicifolia Jenis-jenis lain Jumlah P1 42.1 P2 P3 10.9 P4 P5 33.7 P6 P7 P8 P9 7.7 9.9 20.7 P10 P11 P12 DR

0.5 61.7

20.4 14.7 8.3 10.4 13.2 14.8 30.4 4.6 1.8 4.3 0.3 2.5 5.5 7.1 5.6 5.0 4.9 4.4

0.5 27.4 14.3 18.2 13.0 23.0 12.2 4.1 12.6 13.0 28.0 15.1 5.7 1.8 8.3 26.6 0.4 21.0 10.5 9.6 3.5 17.2 2.2 0.3 7.9 13.2

3.0 5.9

13.7 18.1

0.4 12.4 0.9 2.4

32.4 33.0 41.1 45.7 37.1 41.6 100 100 100 100 100 100

9.1 72.3 86.4 34.9 51.6 57.6 45.2 100 100 100 100 100 100 100

37

Pola komunitas Hasil analisis ordinasi menunjukkan adanya pengelompokan petak menjadi 4 kelompok (Gambar V. 3), yaitu: Kelompok 1: terdiri atas petak-petak 1, 2, 3, 4 dan 5; kelompok 2: terdiri atas petak-petak 6, 7, 10 dan 11; kelompok 3: terdiri atas petak 8 dan 9; dan kelompok 4: petak 12. Nampak bahwa petak 12 terpisah dari yang lain karena terdapat pada kondisi habitat dan ketinggian yang sangat berbeda.

0.5

9 12 8

Axis-2

1
0

2 5 3

7 10 6 11
-0.5 -1 0 Axis-1

4

1

Gambar V. 3. Pengelompokan petak-petak pencuplikan data berdasarkan analisis ordinasi (PCA) dengan parameter nilai dominansi jenis.

Kelompok 1 terdapat pada jalur ke arah puncak Salak-1, dengan ketinggian antara 1400 dan 1700 m dpl. Secara keseluruhan dalam kelompok ini dapat ditentukan sebagai komunitas Castanopsis – Polyosma dengan jenis-jenis dominan Castanopsis javanica, Polyosma illicifolia, Lithocarpus sundaicus, Astronia spectabilis, Acronichya laurifolia dan Schima wallichii. Kondisi hutan dari komunitas ini disajikan dalam Gambar V. 4. Kelompok 2 terdapat pada daerah sekitar Pondok Bajuri ke arah Puncak Salak-1, Kawah Ratu dan Cangkuang; pada ketinggian antara 1300 dan 1400 m dpl. Komunitas dalam kelompok-2 ini dapat ditentukan sebagai komunitas Castanopsis – Lithocarpus, dengan Castanopsis javanica, Lithocarpus sundaicus, Dysoxylum densiflorum, Schima wallichii, Astronia spectabilis dan Lithocarpus spicatus merupakan jenis-jenis dominan. Gambar V. 5. menunjukkan kondisi hutan dari komunitas ini.

38

Gambar V. 4. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Castanopsis – Polyosma

Gambar V. 5. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Castanopsis – Lithocarpus

39

Gambar V. 6. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Eurya - Ficus

Kelompok-3 terdapat pada daerah jalur ke arah Kawah Ratu pada ketinggian antara 1.400 dan 1.450 m dpl. Kelompok-3 ini dapat ditentukan sebagai komunitas Eurya – Ficus (Gambar V. 6); dengan jenisjenis dominan diantaranya Eurya acuminate, Ficus padana, Evodia latifolia, Casearia velutina, Lithocarpus sundaicus dan Vernonia arborea. Kelompok-4 terdapat di daerah sekitar Pos Kancil pada ketinggian 1209 m dpl. Komunitas di daerah ini nampak berbeda dengan komunitas lainnya, yang kemungkinan karena perbedaan ketinggian ataupun pengaruh gangguan. Komunitas di daerah ini ditentukan sebagai komunitas Symplocos – Castanopsis, dengan Castanopsis javanica, Symplocos fasciculate, Glochidion rubrum, Ilex cymosa dan Lithocarpus sundaicus merupakan jenis-jenis dominan. Berdasarkan pengelompokan tersebut diatas dapat dikatakan ketinggian tempat merupakan faktor utama, meskipun lokasi (posisi geografi) juga ikut berperan. Struktur hutan diantara 3 komunitas tersebut nampak bervariasi, yang terlihat dari persebaran horisontal dan persebaran vertikal. Gambar V.7., menunjukkan adanya perbedaan stratifikasi hutan diantara ke 3 komunitas tersebut. Komunitas Castanopsis – Polyosma menunjukkan lapisan yang menerus dengan tinggi total pohon mencapai > 35 m. Pohon-pohon tertinggi dalam komunitas ini antara lain Schima wallichii, Castanopsis javanica dan Lithocarpus sundaicus. Begitu pula komunitas Castanopsis – Lithocarpus menunjukkan lapisan kanopi yang cukup menerus, tetapi dengan tinggi pohon kurang dari 30 m. Castanopsis javanica, Gynotroches axillaris, Astronea spectabilis dan Lithocarpus sundaicus tercatat

40

Dilain pihak komunitas Eurya – Ficus pohon-pohon tertinggi hanya mencapai 19. Persebaran diameter pohon pada setiap tipe komunitas 41 . Symplocos fasciculata.sebagai jenis-jenis tertinggi dalam komunitas ini. Castanopsis javanica dan Polyosma illicifolia. dengan lapisan kanopi yang tidak menerus. 40 Komunitas Castanopsis-Polyosma 20 Komunitas Castanopsis-Lithocarpus 20 Komunitas Eurya-Ficus 30 Tinggi total (m) 15 20 10 10 10 5 0 0 10 20 30 0 0 10 Tinggi cabang (m) 20 0 0 5 10 15 Gambar V. 8. Stratifikasi hutan dalam komunitas ini. yang menunjukkan banyaknya rumpang (daerah terbuka). 7.5 m yang terdiri atas jenis-jenis Ilex cymosa. Stratifikasi hutan pada setiap tipe komunitas 80 Kom-Castanopsis-Polyosma Kom-Castanopsis-Lithocarpus 60 Jumlah pohon (%) Kom-Eurya-Ficus 40 20 0 < 20 < 30 < 40 < 50 < 60 < 70 < 80 < 90 > 100 Kelas diameter (cm) Gambar V.

sedangkan pada komunitas Eurya-Ficus tercatat kurang dari 2 %. Di lain pihak dua komunitas lainnya. karena pencuplikan data yang relatif sangat terbatas. khususnya komunitas Castanopsis-Polyosma. Berdasarkan hasil tersebut di atas dapat dikatakan bahwa komunitas Eurya-Ficus masih dalam fase suksesi setelah mengalami gangguan. Namun demikian diharapkan hasil yang telah terkumpul dapat dipakai sebagai acuan penelitian lebih lanjut. sudah menuju ke arah fase klimaks ditandai dengan persebaran vertikal dan horisontal yang nampak menerus. Pada komunitas Castanopsis-Polyosma dan komunitas Castanopsis-Lithocarpus tercatat bahwa pohon dengan diameter > 50 cm mencapai lebih dari 5 % dari pohon yang tercacah. Akan tetapi hasil ini kemungkinan belum menunjukkan kondisi hutan kawasan gunung Salak secara menyeluruh. 8).Perbedaan fase diantara ke 3 komunitas tersebut juga terlihat dari perbedaan ukuran diameter pohon (Gambar V. 42 .

Kegunaan tumbuhan dalam petak 40. Sedangkan tumbuhan bawah dan merambat dimanfaatkan sebagai obat.00 20.00 10.00 35. dan kayu bakar (Gambar VI. Berdasarkan hasil wawancara terhadap masyarakat desa Cidahu dan desa Girijaya. pakan ternak.00 5.00 Persentase 25.BAB VI PEMANFAATAN TUMBUHAN Berdasarkan wawancara yang dilakukan di dalam petak. Seperti kulit batang dari kiteja (Neolitsea javanica) yang dimanfaatkan sebagai pengganti obat nyamuk. paling banyak digunakan sebagai bahan bangunan. Sedangkan di desa Cidahu dan desa Girijaya. diketahui terdapat penambahan 44 jenis yang tidak terdapat dalam petak. Jenis-jenis tersebut terbagi dalam 30 family dari tumbuhan yang diketahui kegunaannya sebagai obat tradisional (Tabel VI. kerajinan (furniture).1). diketahui bahwa pengetahuan masyarakat mengenai tumbuhan yang terdapat di dalam petak. atau pakan ternak. pengetahuan mereka tentang tumbuhan yang dimanfaatkan tidak jauh berbeda.00 30. makanan.1).2).00 0. diketahui bahwa mereka mengenal 36 jenis dan 28 famili dari tumbuhan yang dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat (Tabel VI.00 15. Berdasarkan grafik di bawah dapat dilihat bahwa pemanfaatan yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat terhadap sumberdaya alam yang terdapat di dalam petak adalah sebagai bahan bangunan.1.00 Kerajinan Obat Bahan Bangunan Makanan Pakan Ternak Kayu bakar Alat tradisional Jenis kegunaan Gambar V. Berdasarkan wawancara. hal ini dikarenakan tumbuhan yang terdapat di dalam petak didominasi oleh pohon. teknologi tradisional. terdapat juga pohon yang dimanfaatkan untuk keperluan lainnya. Persentase pemanfatan jenis tumbuhan yang terdapat di dalam plot. saat dikonfirmasi mengenai nama tumbuhan yang terdapat dalam petak. makanan. Namun demikian. 43 .

).) Dc.).). Bila ingin menghilangkan pegal linu. Daun harendong bulu dapat juga digunakan sebagai penghilang rasa pahit dalam makanan yang direbus. ada satu jenis tumbuhan yang memiliki ragam pemanfaatan. masyarakat melakukannya dengan berbagai cara: (1) langsung dimakan untuk keadaan darurat. Pengetahuan pemanfaatan tumbuhan di desa Cidahu dan Girijaya tidak terpusat pada satu tokoh. tergantung pada tujuan pemanfaatan godogan tersebut. (2) pemanfaatan tersendiri yang tidak memiliki manfaat lain. diketahui bahwa masyarakat mengenal dan memanfaatkan tumbuhan dengan berbagai macam cara pemanfaatannya. daunnya dapat juga digunakan sebagai obat sakit gigi dengan cara daunnya diperes kemudian air yang keluar dari perasan diteteskan pada gigi yang sakit. daun klewih (Artocarpus comunnis). Dalam pemanfaatannya. Perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Cidahu dan Girijaya terkait dengan akses informasi yang lebih terbuka. menambah tenaga dan nafsu makan. melainkan menyebar pada individu-individu. penggunaannya dengan direbus secara bersama-sama. Dalam pemanfaatan tumbuhan untuk jamu godogan. Masyarakat memiliki beragam cara pemanfaatan. Hal ini karena pengetahuan tersebut yang ada tidak saja berasal dari pewarisan melainkan juga dari adanya interaksi dengan masyarakat lain. iwung koneng (Bambusa vulgaris). Areuy (Ficania cordata) yang digunakan sebagai kerajinan tangan. kumis kucing (Orthosiphon aristatus (Bl) Miq). seperti Kicantung bila akar dan buahnya direbus diyakini sebagai obat kuat bagi laki-laki. ada yang digunakan sebagai bagian dari campuran jamu atau dimanfaatkan secara tersendiri. Kirinyuh (Clibadium surinamense) yang digunakan sebagai obat cacar atau luka di telinga. kembang puspa (Schima 44 . atau yang hanya memiliki satu jenis pemanfaatan.Berdasarkan wawancara yang dilakukan di desa Cidahu dan Girijaya. masyarakat mengenal berbagai macam komposisi godogan. serta ada juga ada juga yang dimanfaatkan sebagai tindakan darurat. seperti Harendong bulu (Clidermia hirta) selain digunakan sebagai campuran dalam godogan.). daun sembung (Blumea balsamifera (L. masyarakat mengenal berbagai macam kegunaan dari satu jenis tumbuhan. harendong (Melastoma malabatrichum). seperti Begonia robusta yang digunakan sebagai pertolongan pertama bagi orang yang keracunan (terasa pusing) akibat menghisap uap belerang terlalu banyak. (3) satu jenis tumbuhan yang dapat digunakan dengan berbagai macam cara.). Jumlah jenis tumbuhan yang diketahui dan dimanfaatkan oleh masyarakat Cidahu dan Girijaya sebagai obat-obatan tradisional lebih banyak dari pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Kasepuhan yang hanya mengetahui 40 jenis tumbuhan (Harada 2006). Namun umumnya. meniran (Phyllanthus niruri L. maka komposisi jenis godogan yang sering dilakukan oleh masyarakat adalah cecenet (Physalis minima L. untuk gelang. Berbeda dengan masyarakat Kasepuhan yang masih “terpusat” pada satu tokoh. kulit jirak (Symplocos fasciculata Zoll. akar eurih (Imperata cylindrica Pers.

) dan akar tekokak (Solanum torvum Swartz. Sedangkan untuk penyakit liver (koneng) ramuan yang dibuat adalah rebusan daun alpukat dan daun sukun. papan. Diantara jenis pohon yang memiliki pemanfaatan selain jenis-jenis diatas adalah Saninten (Castanopsis argentea). Ramuan ini diyakini dapat digunakan sebagai obat kuat. ruyung atau batangnya dapat juga digunakan sebagai tiang bangunan pondok di sawah atau kebun. batangnya berkualitas terbaik untuk dibuat bahan bangunan Selain itu jirak (Simplocos psticulata). kiurat. dan daun alpukat (Persea americana). dan sintok (Cinnamomum sintok) kulitnya dimanfaatkan sebagai bahan campuran jamu godogan. Untuk mengobati kencing kurang lancar dan darah tinggi maka komposisi tumbuhannya adalah jumput bau (Ageratum conyzoides). namun bukan pada pemanfaatannya. Seperti pakis (Cyatea contansminan). Beberapa contoh tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar taman nasional disajikan pada Gambar VI. Masyarakat tidak berani menggunakan daun dari pakis ini sebagai alas tidur ketika berada di hutan. masyarakat umumnya mengenal pemanfaatannya sebagai bahan bangunan. cecenet (Physalis minima). maka ramuan jenis tumbuhan yang digunakan adalah akar bambu.). Bila ingin menciptakan obat kuat.wallichii (DC) Korth. (4) satu jenis tumbuhan yang memiliki berbagai macam pemanfaatan. sehingga dengan menjadikan daun pakis sebagai alas ada keyakinan manusia menyerahkan dirinya sebagai korban harimau. kulit sintok (Cinnamomum sintoc Bl. jukut bau. 45 . seperti. atau kusen.). dan pinang. yang memiliki ragam pemanfaatan. 2. merupakan jenis pohon besar yang banyak manfaatnya. karena menurut anggapan masyarakat pada masa lalu harimau bila menyimpan makanannya ditutupi dengan daun ini. Bila hendak mengobati sakit disekitar lutut. Untuk pohon-pohon besar. bahan furniture. maka ramuan yang dibuat adalah jukut bau (Ageratum conyzoides). daun dari pakis ini memiliki mitos tersendiri. batang lapuk digunakan sebagai media tanaman hias. daunnya dapat juga sebagai sayuran.

Kipait (Paspalum conjugatum) sebagai obat luka Tempuyung (Sonchus arvensis) sebagai obat ginjal Kumis kucing (Orthosiphon aristatus) sebagai obat sakit kencing batu dan ginjal Cente (Lantana camara) sebagai obat bisul atau bengkak Sntrong (Erectitus valerianifolia) sebagai obat darah tinggi dan penawar racun Antanan (Centella asiatica) sebagai obat kesemutan Takokak (Solanum torvum) Sebagai obat kuat dan darah tinggi. 2. 46 . lalapan Plantago major Sebagai obat batu ginjal dan obat kuat Harendong (Melastoma malabatrichum) sebagai obat sakit perut Gambar VI. Beberapa jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat di desa Cidahu dan desa Girijaya.

balok. Tiang bangunan Buat kayu bakar. Myrsinaceae Rubiaceae Blechnaceae Arecaceae Fabaceae Fagaceae Lauraceae 11 12 13 14 15 16 17 18 Harendong bulu Pakis benyeur Kiwates Kisampang Kigember Tandang tanah Kitiwu Tenung Clidemia hirta (L. alat tradisional. Bahan Bangunan. Zingiberaceae Agnifoliaceae Lauraceae Fagaceae Magnoliaceae Asteraceae Lauraceae 25 Karemi Omalanthus populneus (Geisl) pax. Cinnamomum sintoc Bl. Blechnum orientale L. kusen Bahan bangunan. Helicia robusta (Roxb. No.) R. Suku Rutaceae Rutaceae Myrsinaceae Kegunaan Bahan bangunan Furniture. Manglietia glauca Bl. bahan bangunan 4 5 6 7 8 9 10 Kikeyep Ramu kuya Pakis buah Rotan lilin Kimerak Jara anak Sintok Ardisia lurida Bl. Bahan bangunan Kayu bakar. kusen. Calamus javanica Bl. Tumbuhan Bermanfaat yang terdapat di dalam Petak Penelitian. kayunya buat bahan bangunan. Ilex cymosa Blume Lindera bibracteata (Nees) Boerl. Ex Wall Melastomataceae Athyriaceae Theaceae Rutaceae Moraceae Pandanaceae Rhizophoraceae Proteaceae 19 19 20 21 22 23 24 Pining Kisaoh Kibeusi Pasang Manglit Areuy Kiteja Horntedtia pininga (Bl. Ex DC. Bahan kerajinan (gelang) Kulit kayu buat bahan obat nyamuk. airnya diminum untuk obat kuat. Buat anyaman.) D. airnya diminum buat obat diare/radang lambung. balok Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Buat tali. airnya diminum obat sakit pinggang/obat kuat. Don Diplazium esculenta Sw.) DC. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Eurya acuminata DC. Argostema montanum Bl.) Val. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Akar direbus. Kayu bakar.) Miq Ardisia crispa (Thunb) DC. Getahnya diminum buat obat diare.Tabel V. Lithocarpus sp. Sebagai obat Daun muda dimakan buat obat diare. furniture. furniture. papan. Freycinetia angustifolia Bl. Ficus sp. Acronychia pedunculata (L.Br. Evodia latifolia Dc. Mikania cordata Neolitsea javanica Bl. Calliandra calothyrsus Meissn Castanopsis javanica (Bl. kusen Kulit batang direbus. 1 2 3 Nama Lokal Kirujug Karag Kiajag Jenis Acronychia laurifolia Bl. Bahan bangunan. 1. Gynotroches axillaris Bl. Euphorbiaceae 47 . dan kulitnya ditumbuk. Bahan Bangunan (kusen) Kulit batang digerus lalu campur dengan minyak kelapa buat obat koreng Furniture. Bahan Bangunan (kusen) Buat pakan ternak Daun muda buat lalap.

Ham Weinmannia blumei Planch Theaceae Smilacaceae Symplocaceae Myrtaceae 35 36 Hamirung Peris Asteraceae Cunnoniaceae Furniture Bahan bangunan Kayu buat bahan bangunan dan furniture.& Perry Vernonia arborea Buch. air dalam batang buat obat. Cangkoreh Dinochloa scandens Familia Melastomataceae Poaceae 3. buat menghitamkan dan menyuburkan rambut. Syzygium lineatum (Dc. Buah masak di juss lalu di minum buat obat darah tinggi. Pacar Impatiens platypetala Lindl. Poliosma ilicifolia Bl. Psidium guajava L. kusen Buah buat bahan manisan. Daun muda di gerus ditempelkan pada dahi buat obat demam / kompres. No. airnya di minum. buat obat darah tinggi dan sakit pinggang. airnya di minum buat obat diabet. Cecenet Physalis minima L. Schefflera lucida (Bl. buat obat darah tinggi. Mahoni 6. bunganya sebagai hiasan Bahan bangunan. Nama Lokal Jenis 1. buah yang masak jambu merah buat obat demam berdarah. Salam 7. Batangnya di potong. Symplocos fasciculata Zoll. perasan airnya di minum buat obat diare. airnya di minum buat obat darah tinggi. Seluruh bagian tanaman direbus.) Hassk. Urang aring Eclipta alba (L.) Frodin Icacinaceae Saxifragaceae Rosaceae Rosaceae Araliaceae 31 32 33 34 Puspa Canar Jirak Kisireum Schima Wallichii (DC) Korth. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Cangkudu 8. Smilax zeylanica L. Alpukat 5. daun digerus lalu ditempelkan pada tempat yang luka. Prunus arborea (Bl. furniture. Harendong Melastoma malabatrichum 2.26 27 28 29 30 Kibonteng Kihujan Kawoyang Kawoyang Ramu giling Platea latifolia Bl. daun di gerus. Prunus arborea (Bl. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Bahan Bangunan Bahan bangunan.) Kalkm. Daun di rebus. Daun di rebus. Solanaceae Kegunaan Daun muda di makan untuk obat sakit perut. airnya diminum. 48 . 2. Asteraceae 10. Jambu batu Persea americana Swietenia mahagoni Syzygium polyantha Morinda citrifolia L.) Kalkm. Kayu bakar.) Merr. Daun di rebus. asam urat. Obat luka. Lauraceae Meliaceae Myrtaceae Rubiaceae Myrtaceae 9. Tabel V. Daun di gerus di pakai keramas. airnya diteteskan pada mata buat obat trachum / rabun. dan furniture Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Balsaminaceae 4. Tumbuhan Bermanfaat yang Diketahui Masyarakat sebagai Obat.

Ceiba pentandra (L. Verbenaceae Bombacaceae 24. daun digerus lalu ditempelkan kebagian yang luka. airnya diminum buat obat batu ginjal. Obat luka/bisul. Jotang 19. airnya diminum untuk obat sakit pinggang. Tempuyung Sonchus arvensis L. Daunnya di rebus. daun diremas digosokkan/dibalurkan keperut untuk obat masuk angin. airnya diminum buat obat kuat. Asteraceae Asteraceae Malvaceae Solanaceae 21. Tangkur 12. seluruh bagian tanaman direbus. Eurih 27. Poaceae 26. airnya diperas lalu diminum buat obat tajam/berak darah. airnya diminum untuk obat kuat. akar direbus. airnya diminum buat obat pegal- 13. airnya diminum obat diare Akar dan daun direbus. daun dikeringkan lalu digodog airnya. Cente 23. Daun dan batangnya direbus. Meniran Phyllanthus niruri L. Asteraceae 22.11. Poaceae Asteraceae Umbi akar di rebus. Daun dan batang di rebus airnya diminum buat obat darah tinggi daun direbus. airnya di minum buat obat nafsu makan dan obat perawatan sehabis melahirkan. Randu Lantana camara L. Obat bisul/bengkak. daun digerus lalu ditempelkan pada bagian yang luka.) Gaerth. Sintrong 18. Daun digerus. airnya diminum buat obat memperlancar peredaran darah daun dilalap buat obat darah tinggi dan penawar racun. daun digerus ditempelkan di uluhati / dada obat sesak napas. 16. daun digerus ditempel kebagian yang sakit. Rane Imperata cylindrica Pers. diminum buat obat setelah melahirkan Seluruh bagian tanaman direbus. Sidagori Sida rhombifolia L. Obat luka. Kikumat Polygala paniculata Polygalaceae 25. airnya diminum buat obat sakit kencing. buah dilalap buat obat darah tinggi. Takokak Erechtites valerianifolia Spilanthes iabadicensis Triumfetta rhomboidea Solanum torvum Swartz. Pungpurutan 20. Sembung Lopatherum gracile Blumea balsamifera (L.) Dc. Kipait Paspalum conjugatum Berg. Daun di rebus. Selaginella plana Poaceae Selaginellaceae 28. Harega Bidens biternata Asteraceae 15. Asteraceae 14. seluruh bagian tanaman direbus airnya diminum buat obat pegalpegal. Kumis kucing Orthosiphon grandiflorus Bold. daun di gerus ditempelkan pada yang luka buat obat luka. jika airnya di saring lalu diminum buat obat mah. daun digerus kemudian ditempelkan pada tempat yang sakit. Obat luka. Labiatae Malvaceae 17. Jukut bau Ageratum conyzoides L. Euphorbiaceae 49 .

Daun dan akar digerus. sarinya sebagai obat sariawan Direbus seluruh bagian sebagai obat kesemutan 31. Asteraceae 35. airnya diminum buat obat batu ginjal. Zingiberaceae 32. Smith Zingiberaceae 39. Umbi akar digerus. diminum pada pagi hari ketika baru bangun tidur. Euphorbiaceae Cucurbitaceae Oxalidaceae Costus speciousus (Koen. Seluruh bagian tanaman direbus. Suji Pleomele angustifolia Liliaceae 33.E. umbi akar diparut/digerus lalu ditempelkan ketempat yang luka. airnya diminum buat obat batu ginjal dan obat kuat. Oxalis corniculata L. Momordica charantiaca L. Centella asiatica Begoniaceae Lauraceae Fabaceae Apiaceae 50 . 29. daun direbus. Pacing Sauropus androgynus (L.) J. Gedang gandul Staurogyne elongata Carica papaya Acanthaceae Caritaceae 41 Begonia 42 Limo 43 Daun Saga 44 Antanam Begonia robusta Litsea cubeba (Lour) Pers Abrus precatorius L. Keji beling 30. airnya diminum obat pegal-pegal/sakit pinggang. airnya diminum obat tambah darah dan diabet. airnya diminum untuk obat kanker dan diabet. Obat eksim. Ki urat Sericocalyx crispus Plantago mayor L. airnya diperas kemudian diminum buat obat nafsu makan. Reunde 40. airnya diperas lalu diminum obat panas dalam/muntah darah. Tapak dara Catharanthus roseus Apocynaceae 34. Tapak liman Elephantopus scaber L. Daun digerus. Acanthaceae Plantaginaceae Daun direbus. Paria 37. Daun muda dan buah dimakan buat obat sariawan. lalu dibiarkan sampai satu malam.) Merr. Sebagai obar rematik Batangnya sebagai obat keracunan belerang Batang kayunya yang harus sebagai penolak ular Daun dikunyah. Katuk 36. Lampuyang Zingiber aromatica Val. Daun disayur buat memperbanyak ASI (Air Susu Ibu) Buah disayur untuk obat diabet dan darah tinggi.pegal. Direbus bersama adas dan pulosari. Calincing 38. kemudian dicampur dengan air. Seluruh bagian tanaman direbus.

tempat-tempat yang ada di Gunung Salak di asosiasikan dengan mitos Hindu. terutama gunung Salak adalah tempat istimewa. 51 . menghilangkan kearifan lokal dan tujuan dari keberadaan Taman Nasional tidak akan tercapai. Bagi masyarakat yang masih berpegang teguh pada tradisi. dan mitos yang ada di masyarakat membaur menjadi satu. ketidakterpisahkan masyarakat dengan tumbuhan yang ada di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak patut menjadi pertimbangan kebijakan pengelolaan Taman Nasional. namun ada juga yang berpendapat bahwa tempat ini merupakan petilasan dari Sanghyang Guru Resi (Kakek dari Guru Minda dalam dongeng Lutung Kasarung). Bagi masyarakat desa Girijaya. bermanfaat bagi masyarakat untuk mengobati penyakit. Seperti di petilasan Eyang santri.BAB VII PENUTUP Pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan tumbuhan menunjukkan adanya saling keterkaitan yang erat antara masyarakat dan lingkungan. proses islamisasi dan akulturasi budaya Islam dan Hindu-Budha. seperti tentang Dewa-dewa atau juga tokoh-tokoh dalam legenda Hindu. Di samping pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan. Dengan demikian. masyarakat desa Cidahu dan desa Girijaya yang tinggal di kaki gunung Salak mempunyai inisitif yang berbeda dalam menjaga kelestarian gunung Salak. harapan. Gunung salak memiliki nilai penting bagi masyarakat Sunda secara umum dan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung Salak. sejarah. Sedangkan bagi kelompok yang lain. Di samping itu. sebagian besar masyarakat menganggap tempat ini sebagai tempat bersemedinya Eyang Santri. Dalam tumbuhan terkandung mitos tentang masa lalu kehidupan masyarakat. gunung Salak tidak saja sebagai daerah tangkapan air yang menyimpan dan menyediakan kebutuhan masyarakat akan air bersih melainkan juga di gunung Salak tersimpan sejarah. Gunung Salak juga menjadi saksi atas proses yang ada di masyarakat. dan ketergantungan akan kehidupan. Gunung Salak hanya dimaknai sebagai “titipan” dari Tuhan yang harus dirawat dengan baik. Perebutan dan negosisi kelompok yang ada di masyarakat juga ditunjukkan dari tafsiran mereka tentang suatu tempat peninggalan sejarah. berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan dan kearifan dalam memanfaatkan keanekaragaman yang terdapat di gunung Salak. Tanpa mempertimbangkan hal tersebut. Tumbuhan. juga memiliki nilai-nilai kultural. disamping bernilai secara ekonomis. Sedangkan bagi masyarakat Islam namun masih kuat tradisi “Sunda”nya tempat-tempat yang diasosiasikan dengan legenda Hindu diganti dengan sosok atau pun juga tokoh penyebar agama Islam di wilayah itu. Di tempat ini legenda. gunung. Hal ini dilihat dari versi dan “perebutan” mitos yang ada di Gunung Salak. Bagi masyarakat.

atas diperkenankannya mengadakan penelitian di Kawasan T. Ucapan terimakasih kepada seluruh staff JICA dan Staff TNG Halimun – Salak yang memberikan banyak informasi tentang kondisi Gn Salak. Ucapan terimakasih ini juga kami sampaikan kepada Bapak dan Ibu yang mendukung dan membantu kami memberikan informasi tentang pemanfaatan flora dan informasi lainnya tentang Gn. sehingga perlu adanya studi ekologi lebih lanjut di beberapa lokasi terutama rute Cimalati dan Rute Pasir Reungit untuk melengkapi data. Wardi. Bpk Agus. dapat digunakan sebagai buffer zone antara habitat yang essensial dan daerah luar. Salak di Desa Giri Jaya dan Desa Cidahu. tanpa mereka tidak lengkaplah buku ini. Pembuatan plot permanen untuk monitoring berkurang dan hilangnya keanekaragaman hayati juga diperlukan untuk mengetahui pengaruh pemanasan global. Ucapan Terimakasih Survey flora gunung Salak ini adalah atas dukungan dan kerjasama antara JICA. 52 . Bpk. Kepala T. Madani dan Bpk. memberikan dukungan dan kerjasama selama berlangsungnya survey ini. TNG Halimun – Salak project dengan Pusat Penelitian Biologi – LIPI. Bpk. Undang. Perlu upaya yang lebih serius untuk mendorong inisitif pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat dengan mengupayakan kesejahteraan bagi mereka. Bpk Iwan. (2) Kawasan hutan pegunungan atas (>1800 dpl) yang tidak terlalu luas di gunung Salak mempunyai vegetasi yang sangat spesifik sehingga keberadaan kawasan ini menjadi sangat penting bagi T. Endang.Perbedaan ini menambah keragaman tradisi masyarakat.P. (4) Hutan tanaman. Aden Muhidin. dan Bpk. Pembagian ini antara lain: (1) Kawasan hutan pegunungan bawah dan atas merupakan hutan primer dan harus dipertahankan untuk menjadi area inti sebagai preservasi hewan dan tumbuhan liar. Gunung Halimun-Salak. N. Informasi di buku ini masih kurang dari sempurna. setiap kawasan memiliki peranan yang cukup berarti sehingga masing-masing perlu dipertahankan atau dilestarikan. Bpk. Anhar yang mendukung terlaksananya proyek kerjasama ini. Nurdin atas kerjasamanya selama survey dilapangan. Saran Dari hasil survey diperoleh beberapa catatan penting yang dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan TN selanjutnya. Ismirza.Gunung HalimunSalak. Bpk. Dimana pembagian kawasan ini sangat penting. N. Terimakasih juga kami ucapkan kepada Bpk. Emad yang mendampingi selama dilapangan serta tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Ika S. Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Kepala Pusat dan Kepala Bidang Botani di Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Gunung Halimun-Salak.N. Bpk. (3) Kawasan hutan pegunungan rendah berfungsi sebagai habitat hidupan liar seperti leopard dan gibbon. Bpk Hamzah dan Bpk. Bpk Tatang. karena waktu penjelajahan relatif singkat.

33-41.. The ecological zone of Indonesia. Cox.G. Jakarta: Paramadina. Anonim. Mengenal 21 Taman Naional Model di Indonesia. Iskandar. 2007.Bibliografi Abdillah. Dalam: Witjaksono. E. K. Harada. LIPI. Anthropological Approaches to the Study of Religion... P.W. 2005. Pelestarian Daerah Mandala dan Keanekaragaman Hayati oleh Orang Badui. Adimiharja. LIPI. Leuweung Titipan: Hutan Keramat Warga Kasepuhan di Gunung Halimun. Makalah dalam Lokakarya. F. 53 . Geertz. Puslitbang Biologi-LIPI. Anonim. Komite Nasional MAB Indonesia.. Batavia. Jakarta: Sub Direktorat Informasi Konservasi Alam. Dalam Michael Banton. Yayasan Obor Indonesia. London.. G. Gunung Halimun-Salak National Park Management Project. K. Henny Warsilah. Bogor: JICA. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Fl. Jakarta. Anonim.. 1963-68. Anonim. E. Quantitative Plant Ecology. Mirmanto & S. S. Kartawinata. Kodiran. Salak. Mirmanto. Komite Nasional MAB Indonesia. Taman Nasional Gunung Halimun-Salak: Menyingkap Kabut Gunung HalimunSalak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. K. 2006. 2007... Vancouver. August 1975. 1975.. Java (3 vols) . Komite Nasional MAB Indonesia. Iowa. 1967. Butterworths. Bogor: Dephut dan JICA.M. Bogor. Mangunjaya. Taman Nasional Gunung Halimun-Salak: Menyingkap Kabut Gunung HalimunSalak. C. F. Unpublished report. 2005. 2007. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak Periode 20072026. 1964. Jawa Barat. 2006. Prosiding Seminar Hasil Litbang SDH. Prawiroatmodo.M. Anwar Ibrahim.A. & Bakhuizen vd Brink Jr. Etika Jawa. hal. 1996. Makalah dalam Lokakarya. 1985. C. M. Jakarta: LIPI Press. Keramat Alami dan Kontribusi Islam dalam Konservasi Alam. Makalah dalam Lokakarya. 15 Mei 1991.C. K. London: Tavistock. Greigh-Smith. J. Structure and composition of montane rain forest in Awibengkok area. Paper presented in the Symposium of Pasific Ecosystem. Mulyati Rahayu. Mangunjaya. Bogor: Backer. RM Marwoto & EK Supardiyono (eds). Laboratory Manual of General Ecology.. Riswan. Noord. 13th Pasific Science Congress. M. 2007. Imron.. Dede Wardiat. Kartawinata. 1991. M. Tumbuhan Obat Taman Nasional Gunung Halimun. Konservasi Alam dalam Islam. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Crown. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. 2001. 2007. Ari Wahyono. LIPI. Struktur dan komposisi hutan DAS Cisadane hulu. Agama Ramah Lingkungan: Perspektif Al-Qur’an. Departemen Kehutanan dan JICA. 2007.. 1966. Religion as a Cultural System.. Indonesia.. Gerakan Sosial untuk Konservasi Daerah Resapan Air di Kawasan Daerah Aliran Sungai Cisadane di JABOPUNJUR. Second Edition.

S. Aims and Methods of Vegetation Ecology. Situs Sindang Barang Bukti Kegitan Keagamaan Masyarakat Kerajaan Sunda (Abad ke-13-15 M): Laporan Penelitian awal.. Wiriadinata. Situs Keramat Alami sebagai Alternatif Pengakuan Hak-Hak Masyarakat Adat: Kasus Kasepuhan Cibedug. Flora Pegunungan Jawa. The Inventory of Ntural Resources in Gunung Halimun National Park. Nasution dan Mahyuddin Mendim. Schmidt & JHA Ferguson. Rais. Mohammad Fathi Royyani.42. 1997. dan Asep Sadeli. LIPI-PHPAJICA. S... Makalah dalam Lokakarya. Munandar. Jakarta. II. Ellenberg. Rainfall types based on wet and dry period ratios for Indonesia with WesternNew Guinea. Resosudarmo. Jakarta: Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.G. Puslit-Biologi LIPI. 54 . I. A.G. Munandar. Hal. Kepariwisataan dan Kebudayaan Kota Bogor. dan Carol J Pierce Colfer (Peny). H. (Diterjemahkan oleh A. Vol. Pemukiman Kuna di Bogor: Tinjauan Berdasarkan Data Tertulis dan Tinggalam Arkeologis. Bogor: Puslit-Biologi LIPI. 2000. Steenis. Yogaswara. H. Djawatan Meteorologi dan Geofisic. Kementrian Perhubungan. Floristic study of Gunung Halimun National Park. van. C.. Bandung: Remaja Rosda Karya. Research and Conservation of Biodiversity in Indonesia. Steenis.G. 2007a.Muller-Dombois. In: M. 1972. Bogor: Padepokan Giri Sunda Pura. New York. H. 7-13. Bogor. H. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2007.P. 2007.J van. Yoneda. Makalah dalam Seminar Kesejarahan Kota Bogor 6 September 2007.A. A.. Verhandelingen. Dinas Informasi. Mountain Flora of Java.. Vera Budi Lestari. Hutan. Wallace. Propinsi Jawa Barat. LIPI. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. A. Menjelajah Nusantara: Ekspedisi Alfred Russel Wallace Abad ke-19. C.A.. Laporan Perjalanan. Banten. Penelitian ke Cagar Biosfer Cibodas. 2007. dan Perumusan Kebijakan di Indonesia. Dkk. Brill.). 2003. Ke mana Harus Melangkah: Masyarakat. Komite Nasional MAB Indonesia. 1974.A. John Wiley.J.G. D & H.. No. 2007b. Kawasan Konservasi Indonesia. Simbolon & J. 1951. Sugardjito (eds.R. 2006.

55 .

S chi m a w al l i chi i (D C . C yathea contam i nans (W al l . C al l i andra cal l othyrsus M ei ssn. )D C . C astanopsi s argentea (B l . )Bl .ex B l . A gathi s dam m ara (Lam b. S chi m a w al l i chi i (D C . ) Kal km an S chi m a w al l i chi i (D C . ) Korth. B ei l schm i edi a m adang (B l . H el i ci a robusta (R oxb. C al l i andra cal l othyrsus M ei ssn. ) Korth.R i ch.I sm ai l . ) Korth. P andanus furcatus R oxb. Fagraea el l i pti ca R oxb. ) Korth. P errottei a al pestri s Bl . ) C opel . S ma l l Pi oneer other 890 960 1025 15 1058 5 5 5 7 10 sturbed 17 1111 N aturaldi 4 20 19 P ri m ary sturbed 20 1209 N aturaldi 20 m ary 21 1252 P ri 25-30 m ary 22 1301 P ri 25-30 A gathi s dam m ara (Lam b. U rophyl l um arboreum (R ei nw . ) R ehd.Lampiran 1.C am us S chi m a w al l i chi i (D C . ) L.I w an M em bI C om m ent WP Al t Forest type Pl antati on Pl antati on Pl antati on Pl antati on Forest H i ght S peci es Fam i l y A raucari aceae A raucari aceae Fabaceae Fabaceae Theaceae C yatheaceae P andanaceae C el astraceae Pi peraceae P roteaceae Fagaceae Theaceae Fagaceae Euphorbi aceae C unoni aceae R osaceae Theaceae M el astom ataceae Lauraceae Logani aceae Fagaceae Theaceae Lauraceae Fagaceae R ubi aceae Fagaceae J-Fam i l y ナンヨ ウスギ科 ナンヨ ウスギ科 マメ 科 マメ 科 ツバキ科 ヘゴ科 タ コ ノ キ科 ニシキギ科 コ ショ ウ科 ヤマモガシ科 ブナ科 ツバキ科 ブナ科 ト ウダイグサ科 クノ ニア科 バラ科 ツバキ科 ノ ボタ ン科 クスノ キ科 マチン科 ブナ科 ツバキ科 クスノ キ科 ブナ科 アカネ科 ブナ科 Em erg.C . ) A . ) L. 11 chi kaw a. ) Kosterm . ) B urck. ) Korth. P runus arborea (B l . Li thocarpus sundai cus (B l . C astanopsi sj avani ca (B l . ) Loes Pi per aduncum L. )R. C astanopsi sj avani ca (B l . Li thocarpus daphnoi des (B l . N eol i tsea cassi a (L.ex W al l . P ternandra azurea (B l . W ei nm anni a bl um ei P l anch. D om i n. B r. )D C .R i ch. Land data of Gunung Salak (Cimalati route) G nung S al ak vegetati on Ci m al ati R oute D ate 2008/3/6.C . )D C . ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 56 . Gl ochi di on rubrum B l .

Pl atea excel sa B l . ) M oore M angl i eti a gl auca B l . )D C . ) R ehd. ) M uel l .ex B l . 20-25 A cronychi al auri fol i a Bl . M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y バラ科 ツバキ科 ○ ブナ科 クロタ キカズラ科 クスノ キ科 ミ カン科 ト ウダイグサ科 ツバキ科 ○ ト ウダイグサ科 ○ ハイノ キ科 モクレン科 ユキノ シタ 科 マチン科 ハイノ キ科 ○ クワ科 ○ クワ科 ○ クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ミ カン科 ○ ブナ科 ツバキ科 クノ ニア科 フト モモ科 ブナ科 ミ カン科 ツバキ科 ○ 23 sturbed 1354 N aturaldi m ary 1404 P ri 24 32 m ary 1450 P ri   P runus arborea (B l . Fi cus fi stul osa R ei nw .Lampiran 1. S ym pl ocos fasci cul ata Zol l .A rg. ) Kal km an S chi m a w al l i chi i (D C . W ei nm anni a bl um ei P l anch. S yzygi um sp. Li thocarpus sundai cus (B l . Eurya acum i nata D C . P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . Fi cus ful va R ei nw . M acaranga tri l oba (R ei nw . 57 . Li tsea resi nosa B l . ) Korth. ) Korth. Eurya acum i nata D C . A cronychi al auri fol i a Bl . S ym pl ocos cochi nchi nensi s (Lour. C astanopsi s argentea (B l .ex B l . D om i n. ) Korth. C astanopsi sj avani ca (B l . 35-40 S chi m a w al l i chi i (D C . 20-25 S chi m a w al l i chi i (D C . A cronychi al auri fol i a Bl . ) Korth. )D C . S chi m a w al l i chi i (D C . A nti desm a tetrandrum B l .A rg. (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y R osaceae Theaceae Fagaceae I caci naceae Laul aceae R utaceae Euphorbi aceae Theaceae Euphorbi aceae S ym pl ocaceae M agnol i aceae S axi fragaceae Logani aceae S ym pl ocaceae M oraceae M oraceae Lauraceae Theaceae R utaceae Fagaceae Theaceae C unoni aceae M yrtaceae Fagaceae R utaceae Theaceae Em erg.

Laul aceae Li ndera bi bracteata (B l .ex B l . Li thocarpus el egans (B l . Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l .D on P odocarpaceae P odocarpus i m bri catus B l . ) T.& B . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . ) K. ) Kal km an R utaceae M el i cope l ati fol i a (D C .ex B l . G . R utaceae A cronychi al auri fol i a Bl .Lampiran 1. )M i q. ) B oerl . ) H atus. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . aeocarpaceae El aeocarpus sphaeri cus (G aertn. ) Kurz. R osaceae P runus arborea (B l .S chum . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y バラ科 ユキノ シタ 科 ○ クロタ キカズラ科 バラ科 ミ カン科 ブナ科 ツバキ科 ○ ○ ユキノ シタ 科 ○ カエデ科 ○ クスノ キ科 マメ 科 クルミ 科 ○ ブナ科 ○ クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ○ ミ カン科 ノ ボタ ン科 ユキノ シタ 科 フト モモ科 ブナ科 ○ クルミ 科 ○ ホルト ノ キ科 マキ科 ○ マキ科 ○ クスノ キ科 ○ アカテツ科 33 m ary 1520 P ri 25-35 34 m ary 1615 P ri 25-30 58 . Fabaceae P arki ai nterm edi a H assk.H artl ey Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . S apotaceae P ayena l eeri i (T. A ceraceae A cer l auri num H assk.ex S oepadm oFagaceae Jugl andaceae Engel hardi a spi cata Lesch. Lauraceae N eol i tsea cassi a (L. El P odocarpaceae P odocarpus neri i fol i us D . I caci naceae Pl atea excel sa B l . ) Korth. ) Korth. Lauraceae N eol i tsea cassi a (L. ) Kosterm . M yrtaceae S yzygi um rostratum (B l . )D C . ) Kosterm . Em erg. )D C . M el astom ataceae A stroni a spectabi l i s Bl . )D C . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y R osaceae P runus j avani ca (T. S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . D om i n.& B . S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . Jugl andaceae Engel hardi a spi cata Lesch.

20 P odocarpus i m bri catus B l . Li tsea noronhae B l . D om i n. Lasi anthus l aevi gatus B l . V acci ni um sp. ) Knobl . S chi m a w al l i chi i (D C .D on A stroni a spectabi l i s Bl . D aphne com posi ta (L. 59 . )G i l g. Pl atea excel sa B l . ) Korth. M asti xi a pentandra B l . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y Fagaceae Eri caceae Eri caceae I caci naceae P odocarpaceae Theaceae M el astom ataceae A ceraceae R osaceae Ol eaceae M agnol i aceae Laul aceae A cti ni di aceae R ubi aceae P odocarpaceae P odocarpaceae M el astom ataceae Theaceae Fagaceae I caci naceae C ornaceae R hi zophoraceae Eri caceae Lauraceae Thym el aeaceae R ubi aceae Eri caceae Em erg. S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y ブナ科 ツツジ科 ○ ツツジ科 ○ クロタ キカズラ科 ○ マキ科 ○ ツバキ科 ○ ノ ボタ ン科 カエデ科 バラ科 モクセイ科 ○ モクレン科 ○ クスノ キ科 ○ マタ タ ビ科 ○ アカネ科 ○ マキ科 ○ マキ科 ○ ノ ボタ ン科 ツバキ科 ○ ブナ科 クロタ キカズラ科 ミ ズキ科 ヒ ルギ科 ツツジ科 ○ クスノ キ科 ○ ジンチョ ウゲ科 ○ アカネ科 ○ ツツジ科 ○ 35 m ary 1705 P ri 36 m ary 1825 P ri C astanopsi sj avani ca (B l . R hododendron sp. M angl i eti a gl auca B l . P odocarpus neri i fol i us D . P sychotri a robusta B l . G ynotroches axi l l ari s Bl . P odocarpus i m bri catus B l . P runus arborea (B l . f. ) Kal km an Ol ea j avani ca (B l . S auraui a bracteosa D C . )D C . R hododendron sp. S chi m a w al l i chi i (D C . V acci ni um bancanum M i q. ) Korth. )D C . ) Kosterm .Lampiran 1. A stroni a spectabi l i s Bl . N eol i tsea cassi a (L. 20-30 P l atea excel sa B l . C astanopsi sj avani ca (B l . A cer l auri num H assk.

) Kosterm . ) H atus. ex B l .I sm ai l . Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . El aeocarpaceae El aeocarpus sti pul ari s Bl . R hi zophoraceae G ynotroches axi l l ari s Bl . Land data of Gunung Salak (Pasir reungit route) G nung S al ak vegetati on P asi r reungi t R oute 2008/3/7 D ate chi kaw a.A rg. Fagaceae C astanopsi s argentea (B l .Lampiran 2. P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art. M el astom ataceae M edi ni l l a speci osa R ei nw .& D e V ri ese N aturaldi sturbed 10-15 Li thocarpus sundai cus (B l . P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art.ex S oepadm o Fagaceae Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . ) R ehd.ex B l . D om i n. )O . G esneri aceae A gal m yl a parasi ti ca (Lam k) O . ) Korth. K. Em erg. M oraceae Fi cus padana B urm .ex B l .I w an M em b I C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Pl antati on 5-10 P i nus m erkusi i Jungh. P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art.A rg. ) C opel . Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y マツ科 ブナ科 ○ クノ ニア科 ツバキ科 ○ ウコ ギ科 ○ ○ ト ウダイグサ科 ○ ホルト ノ キ科 ヤシ科 ヘゴ科 R D B ヘゴ科 ユキノ シタ 科 ○ ブナ科 ツバキ科 ヤシ科 ブナ科 ブナ科 ノ ボタ ン科 イワタ バコ 科 ナンヨ ウスギ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ヒ ルギ科 ブナ科 ヤシ科 クスノ キ科 マタ タ ビ科 クワ科 25 26 sturbed 27 1150 N aturaldi 15 sturbed 28 1200 N aturaldi 10-15 60 . Fam i l y Pi naceae Fagaceae C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. )D C . )D C . Li thocarpus el egans (B l . Fagaceae C astanopsi s argentea (B l . Euphorbi aceae A nti desm a tetrandrum B l . C yatheaceae C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . ) Korth. S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . K. C yatheaceae C yathea contam i nans (W al l . A cti ni di aceae S auraui a bracteosa D C . )D C . M aratti aceae A gi opteri s evecta H offm .ex B l . A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l . Lauraceae P ersea ri m osa (B l . f.

Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . S ym pl ocaceae S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . ) Korth. ) H atus. K. ) T. A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . )D C . D om i n. Li thocarpus el egans (B l .Lampiran 2. (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type P ri m ary forest Forest H i ght S peci es Fam i l y H am am el i daceae Al ti ngi a excel sa N orona Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . M el astom ataceae A stroni a spectabi l i s Bl . Euphorbi aceae Gl ochi di on rubrum B l . ) M ez Laul aceae Li tsea cubeba (Lour. ) Korth. )O . M oraceae Fi cus padana B urm . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . G . M oraceae Fi cus del toi dea Jack Em erg.H artl ey A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l .ex S oepadm o Fagaceae Euphorbi aceae A nti desm a tetrandrum B l . R utaceae M el i cope l ati fol i a (D C . 61 . K. ) Korth. H am am el i daceae Al ti ngi a excel sa N orona M yrsi naceae R apanea hassel ti i (B l . f.ex S cheff. )O . ) P ers. S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y マンサク科 ○ ツバキ科 ○ ブナ科 ト ウダイグサ科 ウコ ギ科 クワ科 ブナ科 ブナ科 ○ ト ウダイグサ科 ミ カン科 ウコ ギ科 ハイノ キ科 ○ ツバキ科 ○ マンサク科 ヤブコ ウジ科 クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ノ ボタ ン科 クワ科 ○ ○ ボタ ン科 M el astom ataceae ノ ○ ○ 29 1250 20 m ary 30 1300 P ri 20-25 sturbed 31 1360 N atruraldi 10-15 M el astom a syl vati cum B l . )D C . Fagaceae C astanopsi s argentea (B l .

Euphorbi aceae A recaceae C unoni aceae S axi fragaceae Theaceae ナンヨ ウスギ科 ツバキ科 クノ ニア科 ウコ ギ科 ツバキ科 クノ ニア科 クワ科 ツバキ科 モチノ キ科 ト ウダイグサ科 ショ ウガ科 バショ ウ科 キク科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 クノ ニア科 クワ科 ツバキ科 マメ 科 ト ウダイグサ科 ヤシ科 クノ ニア科 ユキノ シタ 科 ツバキ科 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ RDB ○ ○ ○ 62 . C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch.R obi nsonC om posi Euphorbi aceae M acaranga rhi zi noi des (B l . C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch.I sm ai l .I w an C om m ent WP Al t Forest type N P G ate Javana S pa G rassl and Forest H i ght S peci es Fam i l y J-Fam i l y Em erg. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . Theaceae Eurya acum i nata D C .A rg. C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. M . A qui fol i aceae Fi cus padana B urm .C . ) Korth.A rg.R i ch. ) S . ) L. M oraceae Fi cus fi stul osa R ei nw . Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . f. S ma l l Pi oneer other 37 38 39 1127 1165 1221 40 and 1250 G rassl 41 sturbed 1304 N aturaldi A raucari aceae 15-20 A gathi s dam m ara (Lam b. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . ) M uel l . M usaceae M usa acum i nata C ol l a tae C hrom ol aena odorata (L. f. Theaceae Eurya acum i nata D C . )Ni el sen 42 sturbed 1358 N atyraldi Gl ochi di on arborescens Pi nanga j avana B l .Ki ng & H .ex B l . P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . Zi ngi beraceae Etl i ngera cocci nea (B l . Euphorbi aceae M acaranga tri l oba (R ei nw .S akai& N agam .ex B l . W ei nm anni a bl um ei P l anch. M oraceae Fi cus padana B urm . Land data of Gunung Salak (Cang Kaung route) G nung S al ak vegetati on C ang Kuang R oute 2008/3/12 D ate M em bI chi kaw a. Eurya acum i nata D C . D om i n. )R. Fabaceae P arasari anthes fal catari a (L. ) M uel l . A ral i aceae A rthrophyl l um di versi fol i um B l .Lampiran 3. ) Korth.A rg.

) C hoi sy O m al anthus popul neus (G ei sel ) P ax A cer l auri num H assk. S auraui a bracteosa D C . ) Korth. A rdi si a ful i gi nosa B l . C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y S ym pl ocaceae M el astom ataceae M oraceae A cti ni di aceae A recaceae Euphorbi aceae Em erg. A stroni a spectabi l i s Bl .ex B l . Q uercus l i neata B l . )M i q.ex B l . 63 . S ma l l Pi oneer J-Fam i l y ハイノ キ科 ノ ボタ ン科 クワ科 ○ マタ タ ビ科 ヤシ科 ト ウダイグサ科 バショ ウ科 M usaceae P andanaceae タ コ ノ キ科 Fagaceae ブナ科 ○ Fagaceae ブナ科 Fagaceae ブナ科 ○ M el astom ataceae ノ ボタ ン科 Theaceae ツバキ科 R hi zophoraceae ヒ ルギ科 M el i aceae センダン科 ○ S ym pl ocaceae ハイノ キ科 ○ Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 A ceraceae カエデ科 El aeocarpaceae ト ウダイグサ科 Fagaceae ブナ科 ○ Fagaceae ブナ科 ○ S axi fragaceae ユキノ シタ 科 M el astom ataceae ノ ボタ ン科 M el i aceae センダン科 ○ A ral i aceae ウコ ギ科 ○ M yrsi naceae ヤブコ ウジ科 ○ C yatheaceae ヘゴ科 other 43 m ary 1382 P ri 44 sturve 1403 N aturaldi S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . 30-35 C astanopsi s argentea (B l . M acropanax di sperm us (B l . M acaranga tri l oba (R ei nw . ) M uel l . G ynotroches axi l l ari s D ysoxyl um densi fl orum (B l . C aryota rum phi ana B l . K. S chi m a w al l i chi i (D C . )D C . S ym pl ocos odorati ssi m a (B l . D om i n. Sl oanea si gun (B l ) K. C astanopsi s argentea (B l . M usa acum i nata C ol l a P andanus furcatus R oxb. C astanopsi s tungurrut (B l . )D C .A rg. )O . )M i q. 20-25 Q uercus l i neata B l . P ol yosm a i l i ci fol i a Bl .Lampiran 3. A stroni a spectabi l i s Bl . D ysoxyl um densi fl orum (B l .S chum . Fi cus fi stul osa R ei nw . A stroni a spectabi l i s Bl . )D C .ex M art.

9 19. 6 25. 7 acc * * * * P asi r reungi t Al t D ate 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 C ang K uang Al t D ate 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 acc: ti me 9: 57 10: 26 10: 46 11: 34 12: 07 12: 55 WP 25 26 27 28 29 30 1045 1101 1150 1200 1247 1302 D 6 6 6 6 6 6 Lat M 41 41 42 42 42 42 S 6. 3 25. 9 48. 1 55. 8 11. 3 D 106 106 106 106 106 106 Lon M 41 41 41 42 42 42 S acc 34. 5 40. Since the satellite condition. 6 57. 6 43. 1 40. 2 25. 9 1. 2 16. 1 27. 1 42 54. 2 20. 7 30. 1 32. 4 35. Altitude data of WP 32-35 were measured by barometer. 8 0. 9 50. 3 1 13. 8 45. 8 42 48. 64 . 8 42 29 42 23. 3 45 43. 9 53. 7 49. 5 39. 4 20. 7 30. 1 55 50. 6 7. 6 39.Lampiran 4. 4 17. 8 42 35. 2 47. 6 Lat D M 6 6 6 6 6 6 6 6 44 44 44 44 44 44 43 43 S 46. The location of ground survey point Ci m al ati Al t D ate 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 ti me 9: 53 10: 35 10: 46 11: 09 11: 23 11: 38 12: 00 12: 52 13: 11 9: 23 9: 53 10: 29 11: 09 12: 08 WP 5 15 17 19 20 21 22 23 24 32 33 34 35 36 890 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1519 1615 1705 1825 D 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 Lat M 44 44 44 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 S 33. 5 The accuracy of GPS data were usually 10 15m. 5 57. 8 D 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 Lon M 45 45 45 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 S 26 9 3. 2 10. 1 35. 7 D 106 106 106 106 106 106 106 106 ti me 8: 27 9: 02 9: 20 9: 31 9: 45 10: 03 10: 25 11: 38 WP 37 38 39 40 41 42 43 44 1127 1165 1221 1250 1304 1358 1382 1403 Lon M S acc 42 52. 9 42 30. 1 24. 5 42 40. 6 47.

Orophea hexandra Bl. Mangifera foetida Lour.K Strobilanthes blumei Bremek Strobilanthes cernua Bl. Goniothalamus macrophyllus (Bl. Gendarussa vulgaris Nees Hemigraohis javana Pseudoranthenum acuminatissimum (Miq. Alangium chinense (Lour. 2) Tim JICA dan tim Puslit Biologi. Mangifera indica L.) Bl. Acer laurinum Hassk.) R. Buchanania arborescens (Bl.) King Polyalthia subcordata (Bl. Strobilanthes repanda Bl. Cyathula prostrata (L. & H. Centela asiatica (L.) Rehder Alangium javanicum Alangium rotundifolium (Hassk. Polyalthia lateriflora (Bl.) O. Saurauia reinwardtiana Bl.Lampiran 5.& Thoms.f. Achyranthes aspera L. Wiriadinata (19).Br. E. Cordyline fructicosa (L. Chev. Saurauia cauliflora DC Saurauia nudiflora DC Saurauia pendula Bl.) Radlk. Alstonia spectabilis Alyxia reinwardtii Bl.: 1) Mirmanto. Straurogyne bibracteata Bl. 4) SUKU ACANTHACEAE Species Agrostema boragineum Dflugossa filiformis (Bl. Semecarpus heterophylla Bl. Straurogyne elongata (Bl.) A. Sericocalyx crispus (L.) Hook. Halimun1 + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Salak2 + Plot3 Dimanfaatkan4 + + + ACERACEAE ACTINIDACEAE + + AGAVACEAE ALANGIACEAE AMARANTHACEAE ANACARDIACEAE ANNONACEAE APIACEAE APOCYNACEAE + + 65 .) Bl.) Bloem. Ket.) Bremek.) Urb. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat di kawasan gunung Halimun dan gunung Salak. Gluta renghas L. 3) Plot gunung Salak.) Bl. Saurauia bracteosa DC. Alstonia scholaris (L.) Bremek. Strobilanthes paniculata (Nees) Miq.

Macropanax concinnus Miq. Anthurium andreanum Linden Arisaema filiformis Bl. & Mor. Caryota mitis Lour. Alocasia longiloba Miq. Kopsia arborea Melodinus orientalis Bl. Schefflera fascigiata (Miq. Schefflera aromatica (Bl. Calamus heteroides Bl. Ait) Vent.) Schott.) Frodin Trevesia sundaica Miq. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 66 .f Homalomena pendula Pothos sp.) Seem. Voacanga grandiflora Willubeia apiculata Ilex cymosa Bl. Homalomena cordata Schott. Licuala spinosa Thun.C.K. Scindapsus hederaceus (Zoll. Schefflera lucida (Bl. Caladium bicolor (W. & Mor.) Miq. Raphidophora korthalsii Schott. Calamus reinwardtii Bl.) Zoll.) L.) Wendl. Arum sp. Polyscias nodosa (Bl. Daemonorops melanochaetes Bl.) Miq.) O. Rich Calamus adspersus Bl. Homalomena humilis (Jack) Hook. Calamus rhomboideuss Bl. Typonium sp.) Back. Calamus javensis Bl. Calamus ciliaris Bl. Scindapsus pictus Hassk. Tylophora villosa Bl. Arthrophyllum diversifolium Bl. Anadenrum microstachyum (Miq. Macropanax dispermum (Bl. Agathis dammara (Lamb.) Harms. Nenga pumila (Mart.APOCYNACEAE AQUIFOLIACEAE ARACEAE ARALIACEAE ARAUCARIACEAE ARECACEAE Chilocarpus suaveolens Bl. Caryota rumphiana Bl. Raphidophora montana (Bl. Schismatoglottis calyptrata (Roxb.

) Hassk. Moore Eclipta alba (L. Begonia longifolia Bl. Blumea lacera (Burm.) Steud. Erechtites valerianifolia Erigeron sumatrensis Retz. Chromolaena odorata (L.M.ARECACEAE ARISTOLOCHIACEAE ASCLEPIADACEAE ASTERACEAE Pinanga coronata Bl. Sphaeranthus indicus L.) R. Impatien walleriana Hook.) D. King & H. Elephantopus scaber L. Robinson Clibadium surinamense L. Spilanthes acmella Spilanthes iabadicensis + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + ATHYRIACEAE BALANOPHORACEAE BALSAMINACEAE BEGONIACEAE Vernonia arborea Buch-Ham Diplazium bantamense Diplazium cordifolium Balanophora globosa Jungh.f. Begonia bracteata Jack Begonia isoptera Dryand.ex Bl Aristolochia sp. Begonia multangula Bl. Impatien javensis (Bl. Impatien platypetala Lindl. Bidens biternata Blumea balsamifera (L. Impatien chonoceras Hassk.) Decne Discidia rumularifolia Discidia truncata Decne Hoya Hoya macrophylla Bl.B. + + + + + + + + + + + + + + 67 .C. Hoya multiflora Bl.K. Discidia punctata (Bl. Eupatorium triplinerve Vahl Mikania micranta Sonchus arvensis L. Ageratum conyzoides L.) D. ex Mart) Bl. Pinanga javana Bl. Plectocomia elongata Mart.C.) S.f. Crossocephalum crepidioides (Bth. Eupatorium inulifolium H. Eupatorium odoratum Eupatorium riparium Reg.

Zehneria indica CUNNONIACEAE Weinmania blumei Planch. Garcinia sp.) Swat Trichosantes ovigera Bl.Begonia muricata BEGONIACEAE BLECHNACEAE BOMBACACEAE BURMANIACEAE BURSERACEAE CAMPANULACEAE CAPPARACEAE CAPRIFOLIACEAE Begonia robusta Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 68 .f. Capparis cantoniensis Lour. Mastixia trichotoma Bl. Blechnum orientale L. CUCURBITACEAE Sechium edule (Jacq. Trichosantes quinquangulata A. Viburnum sambucinum Bl. Commelina paludosa Bl Forrestia mollissima (Bl. Viburnum coriaceum Bl. Nyssia javana (Bl. Neesia altisima (Bl. Canarium denticulatum Lobelia angulata Forst. Trichosantes tricuspidata Lour. Viburnum lutescens Bl.) Loes. Burmania lutescens Becc.) Kds. Mastixia pentandra Bl.f. CELASTRACEAE CHLORANTACEAE CLUSIACEAE Euonymus javanicus Bl. Chloranthus elatior R.Br. Garcinia diodica Bl.) Bl.) Hall.f. Pollia hasskarlii Rolla Rao CONVOLVULACEAE CORNACEAE Ipomoea aquatica Forsk Merremia umbellata (L. ex Link Sarcandra glabra Calophyllum soulattri Garcinia celebica L. COMBRETACEAE COMMELINACEAE Terminalia microcarpa Decne Commelina diffusa Burm. Trichosantes villosa Bl.Gray Trichosantes sumatrana Cogn. Perrottetia alpestris (Bl.) Wang.

Elaeocarpus stipularis Bl. Hypolytrum humile (Steud. Aporusa frutescens Aporusa sphaeridophora Merr.) Copel. EUPHORBIACEAE Antidesma minus Bl. Schum.) K.) Benn. Dipterocarpus hasseltii Diospyros buxifolia Elaeagnus latifolia L.) Kurz. Fimbristylis sp. Scleria laevis Retz. Scleria melanostema Scleria pubescens Scleria pubescens DAPHNIPHYLLACEAE DILLENIACEAE DIOSCOREACEAE Daphniphyllum glaucescens Bl. Elaeocarpus ascronodia Master Elaeocarpus oxypyren K. Blumeodendron tokbrai (Bl.) M.) Burck.CYATHEACEAE Cyathea contaminans (Wall. Antidesma tetandrum Bl. & B. Elaeocarpus sphaericus (Gaertn. Elaeocarpus petiolatus (Jack) Wall.Schum DIPTEROCARPACEAE EBENACEAE ELAEAGNACEAE ELAEOCARPACEAE + ERICACEAE Rhododendron javanicum (Bl. Antidesma montanum Bl. Hypolytrum nemorum (Vahl) Spreng. Cyathea junghuhniana (Kuntze) Copel. Breynia microphylla (T.) K. Kylinga monocephala Rottb.A. Dillenia javanica Tetracera indica Dioscorea alata L. Cyathea rachiborskii + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + CYPERACEAE Carex baccan Nees Cyperus kyllinga Endl. Rhododendron malayanum Jack Rhododendron sp. Sloanea sigun (Bl. & V. Gahnia javanica Zoll ex Mor. Dioscorea numularia Lmk. + + 69 .

Bridelia minutiflora Hook. Glochidion sericeum (Bl.f. ex Bl.A.) M.) M. Glochidion philippicum Glochidion rubrum Glochidion rubrum Bl. Phyllanthus niruri L.0 Roxb.) Hassk. Croton laevifolius Bl. Pithecellobium ellipticum (Bl. Macaranga rhizinoides Macaranga rhizinoides (Bl.EUPHORBIACEAE Bridelia glauca Bl. f. Claoxylon polot (Burm.A.) Merr. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + FABACEAE Abrus precatorius L. Macaranga triloba (Reinw. Claoxylon glabrifolium Miq. Sauropus androgynus (L.) Fosberg Archidendron clypearia (Jack) Niels. Arg. Phyllanthus urinaria L. 70 .) Merr. Archidendron fagifolium Calliandra calothyrsus Meissn Calliandra tetragona Dalbergia tamarindifolia Erythrina orientalis Milletia dehiscens Milletia sericea Mimosa pigra Mimosa pudica Parasarianthes falcataria (L.) MA Macaranga tanarius (L. Mallotus paniculatus (Lamk) Muell.) Hook. Glochidion molle Bl. Pimeleodendron pavorioides Sapium seliferum (L. Ostodes panniculata Bl. & Mor.f. Albizia falcataria (L.) Nielsen Parkia intermedia Hassk. Glochidion arborescens Bl. Omalanthus populneus Zoll.

Cyrtandra picta Bl.) A.D.Br. ex Soepadmo Lithocarpus spicatus Lithocarpus sundaicus (Bl. Pangium edule Reinw. Sphatolobus ferruginensis Bth. ex Hk. Cyrtandra pendula Bl. Didymocarpus asperifolia (Bl. Cyrtandra sulcata Bl. Quercus gemelliflora Bl.) DC. FERNS FLACOURTIACEAE Oleandra pistilaris Pteridium aquilinum Casearia tuberculata Bl. Aesynanthus horsfieldii R.) A. Quercus lineata Quercus pyriformiv Steen.) Bakh. Casearia velutina Flacourtia rukam Zoll.) DC Castanopsis javanica (Bl. Lithocarpus teijsmanii (Bl.K. GNETACEAE HAMAMELIDACEAE HYPERICACEAE Gnetum cuspidatum Altingia excelsa Noronha Cratoxylum sumatranum 71 . Castanopsis tungurrut (Bl. Cyrtandra rostrata Bl.f. Didymocarpus zollingeri (Clarke) O. Lithocarpus daphnoides (Bl. Cyrtandra coccinea Cyrtandra glabra Cyrtandra oblongifolia Bth.) Rehd.) Rehd.K. Aesynanthus radicans Jack Agalmyla parasitica (Lamk) O. & Mor. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + FAGACEAE Castanopsis acuminatissima (Bl.C. Castanopsis argentea (Bl. Cyrtandra sandei De Vr. Camus Lithocarpus elegans (Bl.) DC.) Hatus.FABACEAE Pterocarpus indicus Willd. Sphatolobus littoralis Hassk. GENTIANACEAE GESNERIACEAE Gentiana quadrifaria Bl.

) O. + + + + + + + + + + + IRIDACEAE JUGLANDACEAE LAMIACEAE Trimeza martinicensis (L.) Herb. Litsea diversifolia Bl. Cinnanomum sintoc Bl. Litsea grandis Litsea javanica Bl.) Boerl. Litsea mappacea (Bl. Litsea resinosa Bl. Leea indica Burm. ex Kurz Pleomele angustifolia 72 . LECYTHIDACEAE LEEACEAE LILIACEAE Planchonia valida (Bl. Neolitsea trilivervia (Bl.) Bl. Orthosiphon grandiflorus Bold.) Pers.) Herb.) Kosterm. Platea latifolia Bl. Neolitsea cassia (L.) Merr.K. Lindera bibracteata (Nees) Boerl.) Boerf.) Kosterm. Molineria latifolia Herb. Engelhardia spicata Lesch. Litsea tuberculata (Bl. Litsea noronhae Bl. Litsea ferruginea Bl. Anisomeles indica (L. Litsea elliptica Bl. Molineria capitulata (Lour. Platea excelsa Bl. Stemonurus secundiflorus Bl. Gomphandra javanica (Bl. Dianella javanica (Bl. Litsea accendens Litsea cubeba (Lour.) Merr Nothaphoebe coriacea Persea rimosa (Bl. Plectranthus galeatus Scutellaria discolor + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + LAURACEAE Beilschmiedia madang (Bl.) Val.f Leea rubra Bl. Disporum cantoniense (Lour.) Kth. Litsea tomentosa Bl. ex Bl.HYPOXIDACEAE ICACINACEAE Curculigo orchimoides Gaertn.) Bl.

Clidemia hirta D. Medinella laurifolia Bl. Dissochaeta reticulata Bl. Triumfetta rhomboidea Urena lobata MARANTHACEAE Donax cannaeformis (G.f. Memecylon oleaefolium Bl.K.Forst. Manglietia glauca Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MAGNOLIACEAE Magnolia candolii Bl.ex Bl. Melastoma normale D. Geniostoma arborescens (Reinw. Memecylon myrsinoides Bl. Medinella sp.) Bl.) O.) K. Michelia montana Bl. MELASTOMATACEAE Astronia spectabilis Bl.Schum. Don Melastoma polyanthum Melastoma sylvaticum Bl. Marumia muscosa Bl. Fagraea elliptica Roxb.LILIACEAE LOBELIACEAE LOGANIACEAE Pleomele elliptica Lobelia sp. Creochiton bibracteata (Bl. Don Melastoma malabathricum L. Omphalopus fallax (Jack) Naud. Marantha arundinacea Tuss. Medinella exima Bl. Medinilla speciosa Reinw. Fagraea fragrans Bl. Dissochaeta gracillis (Jack) Bakh. 73 . Fagraea lanceolata Bl. Dissochaeta leprosula (Bl. Agiopteris evecta Hoffm. MALPHIGIACEAE MALVACEAE Hiptage benghalensis (L. Don.) Bl. Memecylon excelsum Bl. Pachycentria sp. Melastoma affine D.) Kurz Sida acuta Sida rhombifolia L.

Ficus lepicarpa Bl. Ex Bl. Dysoxylum alliaceum Bl. ex Bl. Ficus fulva Reinw. Ficus pisocarpa Ficus ribes Reinw.f.) Spreng. Ficus globosa Bl. ex Trec.f. Rhodamnia sp.f.MELASTOMATACEAE Pternandra azurea (Bl.) Merr.) Spreng. Melia azedarach Sandoricum koetjapi (Burm. Toona sureni (Bl. Artocarpus integra Ficus alba Reinw.) Merr. Ficus sagitata Vahl. Ex Bl. discolor MONIMIACEAE MORACEAE Kibara coriacea Artocarpus elasticus Reinw. Stephania corymbosa (Bl.) Merr. Ficus grosullarioides Ficus involucrata Bl. Ficus sinuata Thunb. Ficus padana Burm. ex Bl. Ficus fulva Reinw. Stephania japonica var. Ficus fistulosa Reinw.) Burck. Dysoxylum excelsum Bl. Ficus ampelas Ficus aspericula Ficus deltoidea Jack Ficus elastica Nois ex Bl. Stephania capitata (Bl. Artocarpus gemeziana Wall. Ficus montana Burm.) Miq. Sonerilla heterophylla Jack + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MELIACEAE Aglaia sp. + + + + MENISPERMACEAE Fibraurea chloroleuca Perycampylus cauliflora (Miers) Diels Perycampylus glaucus (Lam. Dysoxylum densiflorum (Bl. ex Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 74 .

Poikilospermum suaveolens (Bl. Syzygium syzygioides (Miq. Myrsine hasseltii Bl.C. Knema laurina (Bl.&V. Horsfieldia irya Knema cinerea (Poir) Warb.) Warb. Myristica guatteriifolia DC Ardisia crispa (Thunb) DC.) Merr & Perry Syzygium gracilis (Korth.C. Maesa latifolia (Bl.& G. Maesa ramentacea Wall.Vill.) Merr. Syzygium rostratum (Bl. ex Scheff Rapanea hasseltii (Bl.) D.) Amrh. Syzygium suringarianum (K.) D.) D. Ardisia odotophylla Ardisia pendula Mez Ardisia sanguinolenta DC Labisia pumila (Bl. & Perry Decaspermum fruticosum J.) D. Ardisia fuliginosa Bl.) Warb.) Amsh.) Amsh. Musa acuminata Colla Musa salaccensis Zoll. Horsfieldia glabra (Bl.C. Ardisia javanica Ardisia laevigata Bl. Syzygium sp.Forst Eugenia densiflora (Bl. ex Scheff.) Merr & Perry Syzygium polyanthum Syzygium racemosum (Bl. Tristania sp. Myrsine avensis (Bl. + NEPENTHACEAE Nepenthes gymnophora Reinw.C.) F.) Duthie Eugenia fascigiata Eugenia pycnantum Syzygium antisepticum (Bl. ex Nees 75 . Syzygium lineatum (Bl.) Mez + + + + + + + + + + + + + MYRSINACEAE + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MYRTACEAE Cleistocalyx operculata Merr.MORACEAE MUSACEAE MYRISTICACEAE Ficus variegata Bl.R.

f. Bulbophyllum macranthum Bulbophyllum obtusipetalum Bulbophyllum odoratum Bulbophyllum ovalifolium Bulbophyllum pahudii Bulbophyllum petiolatum Bulbophyllum scotifolium Bulbophyllum stelis Bulbophyllum unguiculatum Bulbophyllum violaceum Bulbophyllum xylocarpi Calanthe abbreviata 76 . Bulbophyllum elongatum Bulbophyllum flavescens Bulbophyllum flavidiflorum Bulbophyllum lobbii Lindl.S Bulbophyllum aliifolium Bulbophyllum cernuum (Bl.) Knobl.J.J. Appendicula reflexa Arundina graminifolia Bulbophyllum Bulbophyllum absonditum J.) Lindl.OLEACEAE Chionanthus montanus Bl. Agrostophyllum bicuspidatum Agrostophyllum denbergii Agrostophyllum laxum J.Sm. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + ONAGRACEAE ORCHIDACEAE Ludwigia linifolia Vahl. Chionanthus ramiflorus Jasminum multiflorum (Burm. Apostasia nuda Appendicula alba Appendicula buxifolia Appendicula congenera Appendicula cornata Appendicula cristata Appendicula pendula Appendicula ramosa Bl. Olea javanica (Bl.) Andr.

) O.K.J. Cryptostylis arachnites Cymbidium ensifolium Cymbidium lancifolium Hook. Coelogyne fuliginosa Coelogyne longifolia Lindl.) Lindl.) Pfitz.) Lindl. Coelogyne miniata Coelogyne simplex Coelogyne speciosa Corybas pictus (Bl. Cymbidium pubescens Lindl.) Lindl. Dendrobium aloifolium Dendrobium crumenatum Dendrobium excavatum Dendrobium hymenophyllum Lindl. Dendrochilum brachyotum Dendrochilum cornutum Bl. Ceratostylis capitata Ceratostylis subulata Chelonistele sulphurea (Bl.ORCHIDACEAE Calanthe orchimoides Ceratochilus biglandulosus Bl. Dendrochilum exalatum Dendrochilum pallideflavens Dilochia wallichii Lindl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 77 . Dendrobium spathilingue Dendrobium tenellum (Bl. Dipodium scandens Disperis javanica Eria biflora Eria erecta (Bl. Dendrobium lobulatum Dendrobium mutabile Dendrobium pandaneti Dendrobium paniferum Dendrobium reflexitepalum J. Dendrobium tetraede Dendrochilum aurantiacum Bl.S. Eria flavescens (Bl.

) Lindl. Phaius tankervillae (W.) Lindl.) Bl.) Lindl.S.J. Liparis compressa Liparis gibbosa Liparis pallida (Bl.ORCHIDACEAE Eria junghunii Eria lobata Eria oblitterata Eria robusta Eria tenuiflora Erythrodes brevicalcar Eulophia nuda Lindl. Ait.) Lindl. Oberonia imbricata Oberonia microphylla Oberonia similis Octarrhena parvula Phaius flavus (Bl. Lecanorchis javanica Lecanorchis multiflora Lepidogyne longifolia Liparis bilobulata J. Podochilus muricatus Podochilus serpyllifolius (Bl. Pholidota imbricata Pholidota pallida Plocoglottis javanica Bl. Malaxis koordersii Malaxis ridleyi Micropera callosa Microsaccus affinis Nephelaphyllum pulchrum Nephelaphyllum tenuiflorum Bl. Pholidota globosa (Bl. Podochilus tenuis Polystachya concreta + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 78 . Liparis rheedii Macodes petola (Bl.) Bl. Flickingeria fimbricata Goodyera reticulata (B.) Lindl.

ex Park. Pandanus nitidus Pandanus tectorius Soland. PINACEAE PIPERACEAE Pinus merkusii Jungh. Freycinetia insignis Bl. & De Vriese Peperomia laevifolia (Bl. Freycinetia javanica Bl.ORCHIDACEAE Pteroceras compressum Pteroceras fraternum Renanthera matutina Robiquetia spathulata Saccolobium rantii Saccolobium sigmoideum Sarcostoma javanica Schoenorchis juncifolia Bl.J. Oxalis corniculata L. Piper nigrescens Piper retrofaractum 79 . Passiflora foetida L. Peperomia tetraphylla (Forst.S. Passiflora quadrangularis L. Piper caninum Bl.J. Freycinetia angustifolia Bl. Piper aduncum L. Freycinetia sp. Spiranthes sinensis Tainia elongata J. Pandanus furcatus Roxb. ex Arn.f. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + OXALIDACEAE PANDANACEAE PASSIFLORACEAE Passiflora edulis Sims.) Hook.S.) Miq. Trichotosia ferox Trichotosia pauciflora Vanda tricolor Lindl. Thrixspermum anceps Thrixspermum conigerum Thrixspermum pensile Thrixspermum purpurascens Thrixspermum squarrosum J. Spathoglottis aurea Spathoglottis plicata Bl.

Pogonatherum paniceum (LamHack.ex Schult. ex Heyne Digitaria sanguinalis Scov.) R.) de Laub. Axonophus compressus Bambusa vulgaris Schrad. Paspalum longifolium Roxb. Plantago mayor L.f.) Zoll. 80 . Lopathorium gracile Oplismenus compositus Paspalum conjugatum Berg. ex Nees) O. Podocarpus imbricatus Bl. Gigantochloa apus (Bl.) O.f.Don Prumnopytis amara (Bl.) Widjaja Gigantochloa robusta Kurz Imperata cylindrica var major C.) Stapf. ex Miq. Helicia robusta (Roxb. Polygala venenosa Juss. Dinochloa scandens (Bl.) de Laub Polygala paniculata L.Br.) Bl.) Gaertn.PITTOSPORACEAE PLANTAGINACEAE POACEAE Pittosporum moluccanum (Lmk. Podocarpus neriifolius D.K.Br. Hubb. ex Poir Xanthophyllum excelsum POLYGALACEAE POLYGONACEAE PROTEACEAE Polygonum chinensis L. Eleusine indica (L.E.) Back.) Miq. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + PODOCARPACEAE Dacrycarpus imbricatus (Bl. & M. ex Wendl. Pittosporum ramiflorum (Z. Isachne alben Isachne pangerangensis Z. ex Wall Helicia roxbughii (R. Dendrocalamus asper (Schult.) Kurz Gigantochloa atroviolacea Widjaja Gigantochloa hasskarliana (Kurz) Backer ex Heyne Gigantochloa pseudoarundinacea (Steud. Thysanolaena maxima (Roxb.K.k) Schizostachyum blumei Nees Schizostachyum brachycladum Kurz Schizostachyum ireten Steudel Setaria palmifolia (Willd.&M.

Lasianthus oculuscati Bl.) Reinw. Rubus rosaefolius J. ex DC Argostemma montanum Bl. Lasianthus reticulatus Bl. Lasianthus laevigatus Bl. Lasianthus purpureus Bl.Br. Maesopsis enemii Ziziphus javanensis Bl. ex DC. Pygeum latifolium Miq. Lasianthus inodorus Bl. Neocauclea clycina (Bartl. Lasianthus rhinocerotis Bl.) Miq. Rubus elongatus Smith Rubus mollucanus L. Nertera granadense 81 . Lasianthus lucidus Bl.E. ex Korth. Thalictrum javanicum Bl. Mycetia cauliflora Mycetia javanica (Bl. Gynotroches axillaris Bl. & B. Prunus arborea (Bl. Diodia ocymifolia Bremek Geophila repens Hedyotis rigida Hypobathrum frutescens Bl. ex DC Borreria laevis (Lamk) Griseb.) Bl. Maschalocorymbus corymbosus (Bl.) Brem.) Kalkm. ex DC Argostemma uniflorum Bl.) Mrr. Muell. Smith + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + RHIZOPHORACEAE ROSACEAE RUBIACEAE Argostemma borragineum Bl.) Merr. Musaenda frondosa L. Prunus javanica (T.) Kalkm. Lasianthus stercorarius Bl.PROTEACEAE RANUNCULACEAE RHAMNACEAE Helicia serrata (R. Neonauclea obtusa (Bl. Ixora javanica Ixora salisifolia Lasianthus constrictus Wight. Prunus gricea (C.

G. ) Korth Urophyllum corymbosum Urophyllum glabrum Wall. Uncaria gambir Roxb.) Jacobs Pometia pinnata forma tomentosa SAPOTACEAE Payena leerii (T. & B.) T. Psychotria montana Bl. Euodia latifolia DC Melicope latifolia (DC. Pometia pinnata forma glabra (Bl.RUBIACEAE Ophiorrhiza junghunii Pavetta indica L. Mischocarpus sundaicus Bl. Timonius seriaceus (Desf. Randia schoemannii (T. Timonius timon (Spreng) Merr.) Bl. Otophora alata Bl. Sch. Hartley Ruta oppositifolia SABIACEAE SAPINDACEAE Meliosma lanceolata Bl. Saprosoma arboretum Bl. Tarenna fragrans (Bl. Nephelium juglandifolium Bl. Uncaria glabrata (Bl.) DC Uncaria pedicelata Urophyllum arboreum (Reinw. Psychotria sarmentosa Bl. Lepisanthes tetraphylla Mischocarpus frutescens Bl. Pavetta montana Reinw. Psychotria curviflora Wall. Acronychia pedunculata (L. & B. ex Bl. Psychotria robusta Bl.) Kurz.) K.) K. Planchonella nitida 82 . f.) Bakh Randia wallichii Hook.) Miq Euodia glabra (Bl. Arytera Sp. & V. Wendlandia glabrata DC + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + RUTACEAE Acronychia laurifolia Bl.ex Bl.

Smilax macrocarpa Bl.f. Eurya glabra (Bl. Ternstroemia lanceolata Thea lanceolata (Bl. Ternstroemia japonica (Thun. Polyosma integrifolia Bl.) Korth.) Piere THYMELAEACEAE ULMACEAE Daphne composita (L.) Korth. Schima wallichii (DC. Turpinia sphaerocarpa Hassk.) Chaisy THEACEAE Eurya acuminata DC. Pyrenaria serrata Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + SOLANACEAE Lysianthes laevis Lysianthes lysimachioides Physalis minima L.) Airy Shaw Celtis timorensis Span.) Engl. Gordonia excelsa (Bl. Symplocos odoratissima (Bl. Gironniera subaequalis Planch. Torenia asiatica + + + + + + + + SELAGINELLACEAE SMILACACEAE Selaginella plana Smilax leucophylla Bl.) S. Solanum verbascifolium Bl.) Thun. Elattostema sinuatum (Bl. Trema orientalis (L.) Bl. STAPHYLIACEAE Turpinia montana (Bl. Lindernia sp. Moore Symplocos fasciculata Zoll.) Bl.) Hassk.) Kurz. Picria felterrae Lour.SAXIFAGRACEAE SCROPHULARIACEAE Polyosma illicifolia Bl. Commersonia bartramina Sterculia coccinea Jack Sterculia subpeltata STEMONACEAE STERCULIACEAE SYMPLOCACEAE Symplocos cochichinensis (Lour. URTICACEAE Elattostema nigrescens Miq. Smilax zeylanica L. Stemona javanica (Kth. 83 . Laplacea integerrima Miq. Gonystyllus macrophyllus (Miq.) Gilg.

ZINGIBERACEAE Achasma foetus Val.URTICACEAE Laportea stimulans (L. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + VACCINIACEAE Vaccinium bancanum Miq. Vaccinium lucidum (Bl.) Gaud. Vaccinium varingiaefolium (Bl. Tetrastigma lanceolarium (Roxb.) Bl. Tetrastigma papilissum (Bl. Procris pedunculata (Forst. Ampelocissus thyrsiflora Cissus discolor Bl. Pipturus sp. ex Maton Amomum pseudopoetens Val. Callicarpa longifolia Lamk. Ex Miq.) Swartz Alpinia javana Bl.) Wedd. Sakai & Nagam. Ex Wall. Pilea angulata (Bl.G. Brachychilum horsfieldii (R. Amomum compactum Soland.) Planch. Etlingera punicea (RSm.M.f. Peters. Smith Etlingera coccinea (Bl.Br. Tetrastigma glabratum (Bl. Vaccinium laurifolium (Bl. Costus speciousus (Koen.) O. Pilea melastomoides (Poir. Alpinia robusta Alpinia scabra Bl. Vaccinium sp. Etlingera solaris Globba marantina L. Cayratia japonica Clerodendrum laevifolium VERBENACEAE VITACEAE Lantana camara L.) Miq.E.) J. Pterisanthes cissoides Bl.) Planch. Procris frutescens Bl. f. Vitex trifoliata L.) R.) Planch.oxb.) Gagn. Cayratia geniculata (Bl. 84 . Villebrunea rubescens Bl. Alpinia galanga (L.) Bl.) Miq..) Miq.) S.

) Horan.ZINGIBERACEAE Globba pendula Hedichyum conorarium Hornstedtia paludoa (Bl. Hornstedtia pininga (Bl.) Val. Zingiber aromatica Val. Nicolaia solaris (Bl. + + + + + + + + + 85 .) Val.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful