BAB I PENDAHULUAN

Hutan alam dikenal sebagai suatu ekosistem yang stabil, dimana di dalamnya terjadi harmonisasi interaksi baik antar komponen biotik yang ada maupun antara komponen biotik dan abiotik. Dengan sendirinya, keberadaan komponen yang satu akan saling mempengaruhi keberadaan komponen yang lain. Keharmonisan proses ekologi yang demikian akan dengan cepat berubah ketika salah satu komponennya terganggu. Sejarah mencatat bahwa proses pengubahan hutan alam ke bentuk vegetasi lain oleh aktivitas manusia yang dimulai sejak ribuan tahun yang lalu merupakan sebuah contoh klasik tentang perubahan bentuk-bentuk ekosistem. Perubahan bentuk ekosistem ini meningkat dengan cepat sejak dekade tahun 1970an, ketika mulai diijinkannya penebangan pohon secara komersial, pelaksanaan program transmigrasi dan menjamurnya proyek-proyek hutan tanaman dan perkebunan. Sebagai akibat dari perubahan itu tidak mengherankan jika beberapa jenis sumberdaya biologinya mengalami kelangkaan, erosi genetika, karena tidak mengindahkan dan memperhatikan kaidah pelestariannya. Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budaya, pariwisata dan rekreasi. Oleh karena itu keberadaan Taman Nasional tidak bisa dipungkiri tidak saja sekadar memenuhi fungsi-fungsi tersebut di atas, akan tetapi juga sebuah kawasan yang menyimpan keanekaragaman hayati dan merupakan daerah tangkapan air. Gunung Salak merupakan kawasan yang masih menyimpan banyak misteri tentang kekayaan hayati beserta ragam pemanfaatannya. Sayangnya potensi ini telah banyak mengalami penyusutan seiring dengan laju kerusakan hutan yang diakibatkan berbagai kegiatan manusia atau bahkan berbagai kebijakan yang kurang mempertimbangkan kelestariannya. Untuk mengantisipasi kerusakan yang lebih parah, maka pada tahun 2003 kawasan Salak ditunjuk sebagai bagian dari kawasan taman nasional. Penjelajahan untuk mengungkap flora yang terdapat di kawasan Gunung Salak dianggap penting karena beberapa penelitian tentang flora fauna yang pernah dilakukan di kawasan hutan gunung Salak diantaranya, di daerah Awibengkok (Kartawinata et al.,1985), Cianten (Mirmanto, 1991) dan koridor antara G. Salak dan G. Halimun (Wiriadinata, 1997). Bahkan jauh sebelumnya, gunung Salak merupakan magnet bagi para ilmuwan botani, tercatat diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh seorang botanis berkebangsaan Swedia Claes Frederic Hornstedt (1758-1809), murid dari Thunberg, kemudian disusul Hornstedt pada tahun 1783, Reinwardt pada tahun 1817 (Steenis 2006). Sejauh ini data dan informasi yang dikumpulkan masih juga belum memadai jika dibandingkan dengan data dan informasi

1

yang terkumpul dari kawasan hutan gunung Halimun. Itulah sebabnya penelitian dirasa masih diperlukan untuk melengkapi data dan informasi flora dan fauna dari kawasan hutan gunung Salak. Penelitian mendasar dari aspek ekologi vegetasi, etnobotani, eksplorasi dan inventarisasi keanekaragaman jenis tumbuhan dan keterkaitannya dengan kondisi habitat diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya pengelolaan Taman Nasional Halimun Salak. Penelitian ekologi vegetasi dilakukan dengan menggunakan metode petak, sedangkan penelitian etnobotani dilaksanakan dengan menggali informasi dari masyarakat di sekitar lokasi penelitian. Untuk melengkapi data dan informasi keanekaragaman jenis tumbuhan dilakukan eksplorasi dan inventarisasi. Penelitian kali ini merupakan kegiatan bersama antara Pusat Penelitian Biologi LIPI dengan JICAGunung Halimun Salak National Park Management Project (GHSNPMP). Hasilnya diharapkan dapat disumbangkan dalam rangka membuat “guiden book” untuk menentukan arah dan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi Halimun – Salak yang melibatkan masyarakat.

TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan salah satu kawasan konservasi Indonesia yang berfungsi selain melindungi flora dan fauna unik yang ada di dalamnya juga mempungai fungsi lain yang tak kalah pentingnya yaitu sebagai pengatur tata air, pendidikan, penelitian, sumber plasma nutfah, pengembangan budidaya, rekreasi dan pariwisata. Dari pengertian tersebut tergambar bahwa betapa besar manfaat Taman Nasional sebagai pelayanan jasa. Awalnya kawasan ini merupakan Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) yang ditetapkan melalui SK Menhut No. SK 282/KptsII/Menhut/1992 tanggal 28 Februari 1992 dengan luas 40.000 hektar dan pada tanggal 23 Maret 1997 ditetapkan sebagai salah satu unit pelaksana teknis di Departemen Kehutanan. Seiring dengan tingginya proses degradasi hutan di Indonesia dan dengan adanya desakan parapihak yang peduli terhadap konservasi hutan, maka pada tahun 2003 kawasan hutan Gunung Salak, Gunung Endut, dan kawasan sekitarnya yang sebelumnya merupakan kawasan hutan produksi, hutan produksi terbatas dan hutan lindung yang dikelola oleh perum Perhutani selanjutnya dialih fungsikan menjadi kawasan konservasi melalui SK Menhut No. SK 175/Kpts-II/Menhut/2003 tanggal 10 Juni 2003 menjadi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dengan luas 113.357 ha. Kawasan TNGHS secara administratif

terletak di 2 (dua) propinsi yaitu Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten serta 3 kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Lebak. Kawasan TNGHS mempunyai ketinggian berkisar antara 500 – 2.211 mdpl. Topografinya

bergelombang, berbukit dan bergunung-gunung. Di sekitar kawasan TNGHS terdapat bukit memanjang mulai dari gunung Endut (di sebelah Barat) melintas gunung Kendeng (di kawasan Baduy) kemudian

2

perlahan menurun sampai ke gunung Honje dan semenanjung Ujung Kulon. Sedangkan di sebelah Timur berhubungan dengan gunung Gede Pangrango yang dipisahkan oleh sungai Citatih, sungai Cisadane dan jalan propinsi Ciawi – Sukabumi. Beberapa gunung yang ada di sebelah barat kawasan ini yaitu gunung Endut Barat (1.297 mdpl), gunung Pameungpeuk (1.455 mdpl), gunung Ciawitali (1.530 mdpl), gunung Kencana (1.831 mdpl), gunung Halimun Utara (1.929 mdpl), gunung Sanggabuana (1.920 mdpl), dan gunung Botol (1.850 mdpl). Sedangkan gunung-gunung yang terdapat di sebelah Timur Laut adalah gunung Kendeng Utara (1.377 mdpl), gunung Salak 1 (2.211 mdpl), gunung Salak 2 (2.180 mdpl), gunung Endut Timur (1.471 mdpl) dan gunung Sumbul (1.926 mdpl). Di bagian tenggara terdapat gunung kendeng Selatan (1.680 mdpl), gunung Panenjoan (1.350 mdpl), gunung Halimun Selatan (1.758 mdpl), Geologi kawasan TNGHS merupakan bagian dari deretan pegunungan Sumatra. Sebagian besar kawasan tersusun atas batuan vulkanik breksi, basaltik dan lava andesit dari periode Pleistosin dan beberapa strata dictic dari periode Prepleiosin (sekitar 10 – 20 juta tahun yang lalu). Berdasarkan peta tanah tinjau Jawa Barat, jenis tanah di daerah ini terdiri atas asosiasi andosol coklat dan regosol coklat, asosiasi latosol coklat dan latosol coklat kekuningan, latosol coklat kemerahan dan latosol coklat, asosiasi latosol coklat kemerahan dan laterit, komplek latosol coklat kemerahan dan lithosol, asosiasi latosol coklat dan regosol kelabu (LP Tanah, 1966). Bahkan Gunung Salak sampai saat ini masih berstatus gunung berapi strato type A dan tercatat terakhir meletus tahun 1938. Gunung Salak memiliki kawah yang masih aktif dan dikenal dengan nama Kawah Ratu. Menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson (1951) iklim di daerah kawasan TNGHS termasuk tipe A, dengan curah hujan tahunan sebesar 4.000 – 6.000 mm. Rata-rata curah hujan bulanan selalu > 100 mm, dengan bulan terkering (+ 200 mm) pada Juni sampai September dan terbasah (+ 550 mm) antara Oktober dan Maret, sehingga dapat digolongkan beriklim selalu basah (Kartawinata, 1975) dengan kelembaban udara rata-rata 88 %. Suhu rata-rata bulanan 31,5oC dengan suhu terendah 19,7oC dan suhu tertinggi 31,8oC. Vegetasi hutan di dalam kawasan TNGHS sangat bervariasi, baik berdasarkan ketinggian tempat maupun kondisi habitat setempat. Namun secara umum, berdasarkan permintakatan Steenis (1972) dapat dikelompokkan menjadi 3 mintakat, yaitu mintakat kaki pegunungan (collin), dengan ketinggian antara 500 dan 1000 m dpl, mintakat sub-pegunungan (1.000 - 1.500 m) dan mintakat pegunungan (1500 – 2400 mdpl). Sejauh ini data dan informasi flora dan fauna hutan gunung Halimun telah banyak diungkapkan melalui berbagai survei dan penelitian. Sayangnya hasilnya terserak dan tersebar di berbagai tempat dan besar kemungkinan belum terdokumentasi secara lengkap.

3

TNGHS merupakan salah satu Taman Nasional yang memiliki hutan pegunungan alami di Jawa yang sangat menarik. Kekayaan flora kawasan Gunung Halimun pernah dilakukan beberapa tahun lalu, diantaranya oleh Wiriadinata (1992). Ditinjau dari segi botani terutama taksonomi, kekayaan Flora Gn Salak sangat menarik karena merupakan salah satu ekotipe jenis-jenis tumbuhan yang pertama kali dipertelakan oleh Blume sekitar tahun 1825. Flora pegunungan yang masih tersisa umumnya berada pada ketinggian di atas sekitar 1500 -2000 m di atas permukaan laut, sedang bagian bawah umumnya telah berubah terbuka dan menjadi perladangan. Pengambilan kayu merupakan salah satu faktor yang cukup serius. Wilayah TNGHS terbagi ke dalam 26 kecamatan dan terdiri dari 106 desa. Jumlah penduduk di dalam dan sekitar kawasan lebih dari 250.000 jiwa. Pada umumnya masyarakat yang ada adalah

masyarakat Sunda yang terbagi menjadi masyarakat kasepuhan dan bukan kasepuhan.Masyarakat kasepuhan secara historis penyebarannya berada di kampung Urug, Citorek, Bayah, Ciptamulya, Cicarucub, Cisungsang, Sirnaresmi, Ciptagelar dan Cisitu. Masyarakat kasepuhan ini memiliki struktur kehidupan yang berbeda dengan masyarakat biasa. Bahasa yang umum digunakan adalah bahasa Sunda. Sedangkan agama pada umumnya adalah beragama Islam kecuali di beberapa wilayah kasepuhan masih menganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Kehidupan sehari-hari masyarakat di dalam dan sekitar TNGHS pada umumnya adalah di bidang pertanian seperti sawah, ladang, kebun, kebun talun dan talun. Beberapa ada juga yang berdagang baik di dalam masyarakatnya maupun keluar kampung dan desanya, bahkan ada yang keluar pulau Jawa. Pada masyarakat kasepuhan, pertanian dilakukan atas arahan pimpinannya baik tatacara tanam, jenis padi, maupun ritual ketika sebelum, saat menanam, hingga panen. Pesta panen dalam masyarakat kasepuhan terkenal dengan istilah Seren Taun yang sering dihadiri turis baik lokal maupun mancanegara karena keunikannya. Dalam hubungannya dengan hutan, masyarakat kasepuhan memiliki sistim yang bila dikaji memiliki kearifan tersendiri. Mereka memiliki konsep turun temurun untuk mengelompokkan hutan sesuai fungsinya yaitu leuweung titipan (hutan titipan), leuweung tutupan (hutan tutupan), leuweung sampalan (hutan bukaan). Interaksi mereka terhadap hutan sangat kuat. Mereka mengenal hampir 400 jenis tumbuhan dan satwa yang dipergunakan sehari-hari baik untuk bangunan, kayu bakar, makanan, obat-obatan maupun untuk keperluan ritual. Di salah satu bagian dari TNGHS, yakni sekitar Gunung Salak, telah hidup selama ratusan tahun masyarakat lokal. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya temuan arkeologis di sekitar Gunung Salak, seperti di kampung Cibalay, Bogor, terdapat situs arkeologis berupa punden berundak peninggalan masa lalu. Diantara jejak-jejak kehidupan masa lalu yang masih dapat kita saksikan adalah yang terdapat di desa Cibalai, Bogor, dan di desa Girijaya. Di desa Girijaya ini terdapat tiga buah batu megalitikum yang

4

Hasil interaksi tersebut membangun konstruksi pemikiran masyarakat tentang Gunung Salak. yaitu jalur/rute Cimalati.100 m. Dilain pihak. sehingga pengungkapan vegetasi dilakukan secara fisiognomi pada setiap perubahan ketinggian 50 . jenis pohon menonjol disetiap titik pengamatan. sehingga Gunung ini memiliki makna tersendiri bagi masyarakat. sedangkan jalur Cangkuang dilakukan bersama team gabungan short-term expert dari JICA dan tim dari Pusat Penelitian Biologi LIPI. yaitu dengan mencatat ketinggian tempat (m dpl. dan 1 petak di sekitar Pos Kancil. Rute Cimalati dilakukan untuk mengetahui batas pegunungan rendah dan pegunungan atas. Pemilihan tempat pembuatan petak dengan pertimbangan perbedaan ketinggian.1. tim Pusat Penelitian Biologi melakukan koleksi dan inventarisasi serta studi ekologi pada jalur Cangkuang yang dibagi menjadi 4 sub-jalur. Gunung Salak adalah salah satu magnet yang ada di Jawa. Setelah itu disusul oleh Reinwardt yang mendaki dan melakukan ekplorasi botani di gunung Salak pada tahun 1817 (Steenis 2006). Tradisi tersebut didapat oleh masyarakat secara turun temurun. Dalam catatan sejarah. Pada daerah yang sama juga telah dilakukan inventarisasi dan eksplorasi tumbuhan. Bagi para ilmuwanpun. Sebanyak 6 petak dibuat di sepanjang sub-jalur ke arah puncak Salak-1. yaitu (1) ke arah puncak Salak-1. jenis dominant. Masyarakat yang tinggal di sekitar gunung Salak masih memiliki kearifan tradisional dalam interaksinya dengan lingkungan. murid dari Thunberg. 5 . Pasir Reungit dan Cangkuang (Gambar I. Penjelajahan jalur Cimalati dan Pasir Reungit dilakukan oleh short-term expert dari JICA. fisiognomi dan kondisi habitat. Hornstedt mengunjungi Gunung Salak pada tahun 1783. tipe hutan.1). tokoh penyebar Islam dan juga pejuang dari Solo pada abad ke 19 yang menetap dan tinggal di desa ini. 3 petak di sepanjang subjalur menuju Kawah Ratu. Lokasi Jelajah Daerah-daerah yang dijelajah meliputi 3 jalur. Tim short-term expert dari JICA melakukan penjelajahan dalam waktu singkat.).dianggap oleh masyarakat sebagai petilasan dari Eyang Santri. Di setiap sub-jalur dibuat petak-petak pencuplikan data berukuran 30 x 30 m2. peta diperoleh dari image landsat 2004 dan IKONOS tahun 2004). dan (4) daerah sekitar Pos Kancil (Gambar I. 2 petak disekitar pondok Bajuri. (2) ke arah Kawah Ratu. (3) daerah sekitar Pondok Bajuri. hal ini bukan karena posisinya sebagai Taman Nasional melainkan juga karena memiliki keterkaitan yang erat dengan budaya dan tradisi setempat. ilmuwan yang tercatat pernah melakukan penelitian diantaranya adalah seorang botanis berkebangsaan Swedia Claes Frederic Hornstedt (1758-1809). Tempat ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Gusti.

namun masyarakat yang tinggal di desa ini masih menjalankan ajaran normatif agama (Islam) seperti shalat. Tradisi dan kebudayaan klasik Sunda sering digelar di desa ini. penampilan wayang 6 . yakni Desa Cidahu. seperti hari kamis dan jum’at. Padepokan ini juga memiliki pengaruh di masyarakat. Kedua tokoh ini oleh masyarakat dianggap sebagai penyebar agama Islam. Desa Cidahu. Kabupaten Sukabumi. puasa. yaitu makam dari Eyang Abu Shomad (Eyang Abu) dan makam Eyang Muhammad Santri (Eyang Santri). Walaupun bernuansa tradisi. Sedangkan desa Girijaya lebih pada pencarian dan penguatan akar tradisi Sunda. lebih bernuansa agama. atau bulan Robiul awwal atau maulid dan bulan Muharram dalam sistem penanggalan Islam. dan Desa Girijaya.Rute Pasir Reungit 9 8 7 1 0 1 1 6 4 5 2 3 1 Rute Cangkuang 1 2 Rute Cimelati Gambar I. dan zakat. Di desa ini terdapat Padepokan Girijaya pimpinan Abah Ru’yat. Kecamatan Cidahu. Kecamatan Cidahu. Di desa ini juga terdapat dua makam yang dianggap keramat oleh masyarakat. Kunjungan para peziarah makin ramai terutama pada hari-hari tertentu. Peta jalur penelitian beserta petak-petak pencuplikan data vegetasi (1 s/d 12). Kedua makam ini setiap harinya ramai dikunjungi oleh peziarah. Adapun untuk penelitian etnobotani dilaksanakan di dua desa.1. Pada bulan Maulid masyarakat ziarah bersama ke makan Eyang Abu sekaligus juga diisi dengan tradisi-tradisi Sunda. Kedua desa ini dipilih dengan pertimbangan merupakan desa yang paling dekat dengan Gunung Salak dan memiliki tipikal yang berbeda. terdapat pesantren al-Qodiriyah yang dipimpinan KH Romli dan berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat dan membentuk pemahaman yang ada di masyarakat. Kabupaten Sukabumi.

dan pengambilan contoh tanah untuk dianalisis kandungannya. Analisis vegetasi Kegiatan penelitian ini meliputi pencuplikan data vegetasi dengan menggunakan metode petak. kegunaan dan data lingkungan lainnya dicatat di dalam buku koleksi. Pengumpulan data pohon meliputi diameter. habitat. serta pengumpulan data lingkungan diantaranya posisi geografi. yakni upacara selamatan dan ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan. Sedangkan di bulan Muharram. Adapun cara kerja untuk masing-masing kegiatan penelitian adalah sebagai berikut: Inventarisasi dan eksplorasi tumbuhan Kegiatan ini dilakukan untuk melakukan koleksi secara umum seluruh jenis tumbuhan yang sedang berbunga dan berbuah untuk kemudian diambil contohnya dan dijadikan spesimen herbarium. Meskipun ada jenis-jenis tumbuhan yang tidak lengkap memiliki bunga atau buah. data iklim serta data lingkungan lainnya juga dikumpulkan.Golek. spesimen bukti. dimasukkan ke dalam kantung plastik besar dan diawetkan dalam alkohol 70%. Semua contoh tumbuhan yang terkumpul disimpan dalam lipatan-lipatan kertas koran. Informasi lain seperti nama lokal. Sejumlah petak dengan ukuran 30m x 30m dibuat pada lokasi-lokasi dengan gradasi perubahan lingkungan seperti kondisi habitat dan ketinggian. dan ritual ngramat yakni mendoakan hasil bumi. habitus. Keterpaduan penelitian dengan melibatkan berbagai bidang keilmuan ini diharapkan mampu untuk mengungkapkan keanekaragaman hayati di daerah penelitian. Selain itu data sekunder diantaranya data lokasi. tinggi. Setiap contoh tumbuhan yang terkumpul akan dilengkapi dengan label gantung untuk mencatat nama dan nomor kolektor serta tanggal dan lokasi pengambilan. Jumlah dan interval antar petak ditentukan berdasarkan kondisi medan dan ketersediaan fasilitas pendukung. yang selanjutnya dikirim ke Herbarium Bogoriense untuk diproses dan kemudian diidentifikasi. KEGIATAN di LAPANGAN Penjelajahan di Gunung Salak ini melibatkan para ahli dalam bidang taksonomi dan ekologi tumbuhan serta pakar etnobotani. masyarakat menggelar upacara tradisi Seren taun. ataupun fisiognomi yang berbeda. kegunaan. Jenis-jenis tumbuhan yang tidak dapat dikoleksi untuk sementara akan dicatat dalam buku lapangan guna melengkapi data kekayaan jenis. 7 . pH dan kelembaban tanah. yang sekiranya menarik dan unik juga akan dikumpulkan sebagai koleksi atau spesimen acuan. jaipong. tanpa harus meninggalkan kaidah keilmuan di bidangnya masing-masing.

maka dilakukan wawancara secara mendalam untuk mengetahui makna kultural dari tumbuhan tersebut. indeks keanekaragaman. Langkah kedua adalah dengan wawancara langsung dengan masyarakat di desa mengenai kegunaan berbagai tumbuhan. kegunaannya. Greigh-Smith. Setelah kegunaan dari tumbuhan diketahui. mengikuti sebagian aktifitas sehari-hari penduduk dan pengamatan langsung di lapangan. Langkah ketiga adalah mencatat nama lokal setiap jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan membuat voucer specimen untuk diidentifikasi lebih lanjut di Herbarium Bogoriense supaya dapat diketahui nama ilmiah dari tumbuhan yang dimanfaatkan. Penelitian ini dilakukan di tiga lokasi. Muller-Dombois & Ellenberg. Wawancara secara open-ended dan secara mendalam dengan informan merupakan teknik yang mendasar guna mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang kegunaan dari suatu jenis tumbuhan dan makna kulturalnya dalam kehidupan mereka. sumber daya hayati berguna tersebut diambil contohnya dan dibuat koleksinya guna mengetahui nama ilmiahnya. 1974).Data vegetasi yang terkumpul kemudian dianalisis menurut cara yang umum dilakukan dalam kajian ekologi hutan (Cox. kekayaan jenis. Dengan parameter tersebut dilakukan analisis ordinansi dan analisis stratifikasi hutan untuk mengetahui lapisan kanopi hutan. sehingga diperoleh parameter-parameter frekuensi. Setiap jenis sumber daya hayati yang berguna dicatat nama lokalnya dan diamati habitat. 1967. pertama di dalam petak sementara yang dibuat oleh tim ekologi. Penelitian etnobotani Penelitian etnobotani dengan menerapkan metode wawancara semi struktural dan "open ended" terhadap masyarakat setempat. cara penggunaan. Dalam penelitian ini diamati pengetahuan lokal tentang pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan oleh masyarakat (corpus) serta pengaruh yang ditimbulkannya (praxis). nilai kegunaan dan nilai kepentingan budayanya. Selain itu dilakukan pula wawancara secara mendalam terhadap ahli lokal. Proses pengumpulan data lapangan dalam penelitian ini menggunakan tiga langkah. kemerataan jenis dan dominasi jenis. Informan kunci adalah orang yang memiliki pengetahuan luas mengenai nama lokal tumbuhan dan manfaat atau kegunaan dari tumbuhan tersebut. dominansi. 1964. Petak ini berada pada ketinggian 1700 dpl dan di HM 18 (jarak 1800 meter dari persimpangan 8 . informan ditanyakan mengenai kegunaan berbagai tumbuhan yang ada di dalam petak secara open-ended. kerapatan. Langkah pertama adalah dengan mengajak informan ke petak ekologi yang dibuat. Setelah berada dalam petak. Penelitian etnoekologi dilakukan untuk mengetahui hubungan antara masyarakat dengan lingkungannya. Untuk kepentingan identifikasi. Responden di setiap lokasi diambil 30% dari jumlah Kepala Keluarga. Penentuan jumlah responden dengan menggunakan metode "stratified random sampling". nilai penting. bagian yang digunakan. Pengungkapan pemanfaatan keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan gunung Salak terlebih dulu menentukan informan kunci dan informan biasa.

Hal ini dilakukan dengan pertimbangan memiliki kesamaan persepsi sekaligus juga untuk konfirmasi data. Kedua dilakukan di desa Cidahu. Informan tersebut dapat membantu peneliti untuk memilih informan lain yang juga memiliki pengetahuan luas. wawancara juga dilakukan dengan para sesepuh atau orang yang di-tua-kan yang ada di wilayah Bogor. yaitu desa Cidahu kecamatan Cidahu dan desa Girijaya di kecamatan Cidahu. Langkah kedua adalah dengan melakukan wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan para informan. kabupaten Sukabumi. Dukun. seperti Kyai. Pada tanggal 20 Maret masyarakat di desa Giri Jaya menggelar ritual mauludan. Oleh karena orang yang memiliki kompetensi di masyarakat yang tinggal di kawasan gunung Salak adalah orang-orang tua dan di-tua-kan oleh masyarakat. Wawancara mendalam (indepth interview) dengan informan kunci merupakan teknik yang mendasar guna mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang perspektif masyarakat. Selain dari informan kunci yang ada di Desa Cidahu dan Desa Girijaya. Dalam penelitian perspektif masyarakat mengenai Gunung Salak. proses pengumpulan data lapangan dengan tiga langkah. nilai kultural dan makna kehadiran gunung Salak dalam kehidupan mereka. Sedangkan penelitian yang dilakukan di desa. serta Kuncen yang memiliki “kewajiban” menjaga suatu kawasan. Langkah pertama adalah menentukan informan kunci dan informan biasa. 9 . Petak yang dibuat berukuran 30 X 30 meter. Guru. Informan kunci adalah orang yang memiliki pengetahuan luas tentang tradisi masyarakat. dan tempat ketiga di desa Girijaya.atau sama dengan 4300 meter dari pos pertama pendakian dari arah Cidahu). Selain itu peneliti juga mewawancarai anggota masyarakat kebanyakan baik yang tinggal di dua desa. maupun ajaran-ajaran normatif dari agama. petuah dari leluhur. Langkah ketiga adalah dengan melakukan pengamatan terlibat (partisipatory observasion) dalam ritual keagamaan dan ritual tradisi yang dilakukan oleh mereka. terlebih dulu menentukan informan kunci dan informan biasa. maka peneliti memilih mereka sebagai informan kunci. satu ritual yang menggabungkan norma agama dan tradisi setempat.

Sedangkan hutan. atau bahkan individu. maka hampir dapat dipastikan bahwa orang tersebut memiliki tingkat keberanian dan juga kesaktian yang tinggi di atas rata-rata orang kebanyakan. terutama daerah Jawa dan Sunda memiliki cerita tersendiri. Selain itu. hutan juga. persepsi juga terbentuk karena adanya “kepentingan”. tanpa kecuali. Larangan penebangan hutan yang dilakukan oleh masyarakat Girijaya pada masa lalu terkait dengan keselamatan kehidupan manusia. gunung atau hutan adalah tempat yang strategis. maupun karena pelarian dari kehidupan masyarakat yang sudah tidak nyaman menurut anggapannya. karena bila pohon yang terdapat dalam hutan habis 10 . Bagian dari hutan yang sangat dilarang keras untuk ditebang.BAB II MENYELAMI PEMIKIRAN MASYARAKAT Setiap masyarakat. Pelarangan ini sifatnya mendasar. namun karena kebutuhan manusia kemudian terdapat beberapa bagian dari hutan yang boleh dimanfaatkan. menjadikan pilihan bagi orang-orang yang hendak kontemplasi. baik untuk mendekatkan diri pada Pencipta. bagi masyarakat Indonesia. dengan pertimbangan keselamatan kehidupan itulah maka para leluhur menganggap semua hutan pada dasarnya adalah leuweung tutupan. Bila kita merunut sejarah dan juga melacak cerita-cerita rakyat. Ada anggapan di masyarakat bahwa hutan adalah tempat bersemayamnya roh-roh jahat. seperti ranting yang jatuh untuk keperluan kayu bakar atau buah yang jatuh untuk konsumsi pribadi bukan untuk mengambil keuntungan ekonomi dari buah yang terdapat di hutan. tempat persembunyian para penyamun. Sebagai “landasan” para Batara di Bumi. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman interaksi mereka terhadap kawasan gunung atau hutan. menggembleng ilmu. Di samping itu juga. sempat diyakini sebagai daerah turunnya para Batara yang hidup di Kahyangan ketika turun ke Bumi. menurut masyarakat. sehingga ketika seseorang telah berhasil melewati hutan dengan selamat. Bagi mereka. dan lain-lain. karena memiliki atmosfir yang teduh. Pelarangan penebangan hutan merupakan wasiat dari para leluhur. Makin beragam kepentingan maka makin beragam juga persepsinya. hutan dan apa yang terdapat di dalamnya adalah terlarang untuk diekploitasi. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa gunung atau pun hutan. pada masa lalu lebih dikonotasikan sebagai tempat penempaan kesaktian dan keberanian seseorang. Gunung misalnya. Hutan dan Masyarakat Girijaya Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat di desa Girijaya diketahui bahwa masyarakat menyebut hutan yang terdapat di Gunung Salak sebagai leuweung tutupan (hutan terlarang). Menurut pak Asori salah satu sesepuh. maka Gunung kemudian disakralkan oleh masyarakat. memiliki cara pandang tersendiri tentang keberadaan Gunung atau Hutan. baik melalui penebangan maupun perburuan. adalah bagian lamping atau tebing.

karena itu dengan adanya hutan maka keberlangsungan kehidupan masyarakat akan terus terjamin.ditebang. Komitmen dan kesadaran sebagai khalifah yang bertugas untuk menjaga hutan ditunjukkan oleh masyarakat Cidahu ketika Balai Taman Nasional berencana membangun resort di kawasan Bumi Perkemahan Cangkuang. dimana pembangunan saat itu terhenti karena sesepuh dan masyarakat mencegah pembangunan yang menurut mereka merusak lahan hutan. Menurutnya. sapaan akrab KH Romli. puasa. Selain itu asal material bangunan berupa kayu juga diambil dari hutan. atau wakil dari Tuhan yang ada di bumi. Mengambil manfaat dari hutan baru boleh dilakukan kalau sudah ada izin. dan itupun kalau tidak sampai merusak hutan. menegaskan bahwa menjaga amanah berupa hutan sama nilainya dengan menjaga dan mengamalkan ajaran agama. Bagi masyarakat. seperti mengambil rumput untuk ternak atau ranting-ranting pohon yang jatuh. bukanlah seorang muslim yang baik apabila dia menjalankan kewajiban agama namun masih melakukan kerusakan di hutan. Bagi KH Romli. Dengan merusak hutan. Gunung dalam Persepsi Masyarakat Gunung Salak dengan hutan yang ada di dalamnya memiliki makna tersendiri bagi masyarakat. hal ini dikarenakan hutan sudah ada yang mengelolanya. Di gunung salak tidak saja tersimpan berbagai mitos atau legenda tentang asa-usul suatu daerah. seperti shalat. melainkan juga tersimpan berbagai “tanda” bagi kehidupan. apalagi yang ada di lamping-nya maka tidak saja persediaan air akan habis melainkan juga dapat menimbulkan bencana longsor. kata “Salak” yang menjadi nama dari Gunung Salak memiliki makna sendiri. menurut AA Lili. Setelah dijelaskan maksud pembangunan resort dan asal dari kayu yang digunakan tidak dari Taman Nasional maka pembangunan dilanjutkan dan masyarakat sangat mendukung keberadaan Taman Nasional. Sehingga pada dasarnya menjaga pelestarian hutan sama pentingnya dengan menjalankan kewajiban yang lain. bahkan rumput sekalipun. Terdapatnya hutan di sekitar desanya merupakan anugerah dari Tuhan. AA Lili. Terdapat banyak teks dalam kitab suci ummat Islam yang berbicara tentang lingkungan dan tanggung jawab manusia untuk mengelolanya dengan bijak. Hal ini dikarenakan. salah satu peran manusia adalah sebagai khalifah. Hutan dan Masyarakat Cidahu Bagi masyarakat desa Cidahu. dan lain-lain. maka tidak saja dia melanggar amanah melainkan juga telah mengabaikan perannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. hutan yang ada di Gunung Salak dianggap sebagai “amanah” atau kepercayaan dari Tuhan untuk diolah dan dijaga kelestariannya. Terdapat satu pendapat yang mengatakan kata Salak berasal dari 11 . mengambil apapun dari hutan hukum dasarnya adalah terlarang.

Gugung salak dijuluki juga Giri Dwi Munda Mandala. Diantaranya adalah masih digelarnya upacara tradisi seren taun. Pendapat ketiga percaya bahwa di puncak Salak terdapat buah salak raksasa yang terbuat dari emas. Sedangkan bagi masyarakat yang percaya pada pendapat yang kedua. kedua puncak yang terdapat di gunung Salak memiliki makna yang berbeda. Ketiga perbedaan penafsiran tentang salak ini memiliki implikasi persepsi yang berbeda. dan Dadap Malang Sisi Cimandiri. Sedangkan puncak Keramat 12 . Gambar II. Pendapat yang lain mengatakan bahwa kata Salak berasal dari kata “Salaka” yang berarti asal-usul dari suatu masyarakat. Kekeramatan gunung Salak termaktub dalam pantun Bogor yang berjudul Paku Jajar Beukah Kembang. Bagi orang yang percaya pada pendapat yang pertama. mereka menganggap bahwa tidak hanya asal-usul kehidupan melainkan juga masyarakat Sunda ada di gunung Salak. Upacara tersebut sarat dengan muatan pesan untuk menjaga hubungan baik manusia dan alam. Di gunung salak terdapat dua puncak yang bergerigi yang dinamakan Puncak Gajah dan Puncak Karamat.1. Di Girijaya.dan rabu wekasan. Pajajaran Seren Papan. Bagi masyarakat yang berpegang pada tradisi dan masih terpengaruh oleh ajaran Hindu. mereka akan yakin bahwa rahasia kehidupan yang disimpan Tuhan terdapat di Gunung Salak. Pembacaan Doa disertai bakar Kemenyan yang dilakukan pada acara Mauludan. muludan. Sedangkan pendapat ketiga mengatakan kata Salak memang berasal dari kata “Salak” dari buah salak. buah ini akan muncul dan memperlihatkan dirinya bagi orang-orang yang telah suci. Menurut Munandar (2007a) yang melakukan penelitian pada masyarakat ada di Sindang Barang. Puncak Gajah ditafsirkan sebagai tempat bersemayamnya arwah raja-raja Sunda Kuno yang telah ngahyang.kata “siloka” yang berarti simbol dari sesuatu yang perlu diurai dan ditemukan rahasianya. untuk itu mereka terus mencari dan berusaha menemukannya di Gunung Salak. walaupun sudah tersentuh dengan modernisasi namun unsur-unsur tradisionalnya masih kental terlihat.

Sedangkan Gunung Pangrango adalah simbol dari lam dan Gunung Gede simbol dari ha. dan Cianjur. iklim dan cuaca yang berbeda. A. namun memiliki tujuan yang sama. Wallace. Hal ini terjadi karena pola interaksi yang berbeda. Pelabuhan Ratu. yang giat menghidupkan tradisi Sunda). Agama dan Pelestarian Lingkungan Persepsi masyarakat tentang hutan dan Gunung Salak memunculkan tradisi atau prilaku yang berbeda dengan daerah lainnya. Diantara nilai penting yang lain dari gunung Salak adalah adanya anggapan bahwa gunung Salak tersebut sebagai Paku Jagat atau Paku Tetenger bagi Pakuan Pajajaran (Munandar 2007). Puncak Salak juga dianggap sebagai temapt berkumpulnya ghaib-ghaib Suci. yaitu KH Hasan Basri yang bertugas menyebarkan agama Islam ke daerah Sunda seperti di Bogor. Sedangkan bagi masyarakat Islam. terdapat dua “model” pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat. menjadi latar belakang yang khas bagi bentangan alam di sekitarnya (Wallace 2000). Munculnya anggapan yang demikian dari masyarakat menunjukkan adanya akulturasi budaya dan juga sinkretisme dalam sistem religi mereka. Sukabumi. Dari hasil penelitian ini. Ketiga pilar itu berupa gunung. dewata Sunda Kuno. Pemandangan alam di sini sangat indah dan tanahnya subur. ha. Gunung Salak. di gunung Salak terdapat 12 tempat yang dihuni oleh Sang Hyang. “Buitenzorg adalah tempat tinggal yang sangat menyenangkan. ketiga kata ini yang kalau dibaca menjadi satu kata ilah yang berarti Allah atau Tuhan. keragaman hayati yang dimiliki. kawasan ini memang sejak dulu menyimpan misteri dan memiliki eksotisme sendiri. sebuah gunung berapi yang puncaknya terpotong dan bergerigi. Oleh masyarakat. Terlepas dari anggapan masyarakat mengenai gunung Salak. Daerah ini cukup tinggi sehingga terasa nyaman bagi orang yang tinggal di dataran rendah. Selain itu. Anggapan ini juga menunjukkan proses islamisasi dan adanya “negosiasi” tradisi di masyarakat. Bagi mereka melestarikan hutan merupakan satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh manusia. yakni menjaga kelestarian hutan sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia. ia mengatakan. dan Gunung Pangrango.ditafsirkan sebagai tempat persemayaman para Hyang. Walaupun terdapat perbedaan. serta Raja-raja kerajaan Sunda. Model kedua adalah dengan melalui 13 . Gunung Gede. Pertama adalah melakukannya dengan melalui pendekatan agama. di puncak keramat terdapat makam dari tokoh penyebar agama Islam yang berasal dari Cirebon.R. serta perbedaan lainnya. ketiga gunung tersebut ditafsirkan sebagai simbol dari ajaran kebaikan. Bahkan menurut abah Ru’yat (pemimpin Padepokan Girijaya. seperti wali songo. lam. seperti apa yang disampaikan oleh seorang ilmuwan. masyarakat juga meyakini bahwa terdapat tiga pilar utama penopang kehidupan di daerah Sunda. Gunung Salak adalah simbol dari alif (huruf pertama dalam abjad Arab) yang berarti hubungan vertikal. yaitu Gunung Salak. Ketiga gunung ini sebagai perlambang dari huruf alif.

Islam. beliau melakukannya dengan pendekatan agama. dalam hal ini Islam. ada konsep hima’ yakni 14 . menebang pohon atau membunuh satu hewan pada hakekatnya membunuh banyak makhluk hidup. maka orang tersebut tidak akan berani merusak dan mengambil.tradisi. al-Qur’an. Abdillah (2005) membahasnya melalui pembangunan teologi lingkungan (eco-theology). alam adalah ciptaan Allah. Dalam pandangannya. manusia diberi wewenang oleh Allah untuk mendayagunakan sumberdaya alam dalam batas-batas yang kewajaran ekologis (Abdillah 2005). Kesadaran keagamaan yang dimilikinya menjadikan pesantren yang diasuhnya cukup berperan dalam menjaga hutan tetap lestari. Agama. khilafh. apa yang bukan miliknya. hal ini dikarenakan banyak dari makhluk hidup yang hidupnya sangat tergantung pada pohon yang ditebang atau hewan yang dibunuh. manusia terlebih dulu harus memiliki rasa keimanan yang kuat. Di desa ini terdapat satu pesantren dengan Kyai yang cukup berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Ketokoh-an yang dimilikinya. karena agama ini adalah agama yang dipeluk oleh semua penduduk desa Cidahu. dan kita wajib mengolah dengan bijaksana dan melindunginya. sistim hukum al-Istishlah atau kemaslahatn umum. Tanpa itu alam hanya akan di rusaknya. terdapat beberapa teks yang menunjukkan tentang hubungan manusia dan alam. menurut (Abdillah 2005) manusia memiliki derajat kesamaan dengan kehidupan makhluk yang lainnya. Dalam. lalu kesadaran menjalankan agama dengan benar. Dalam melestarikan keberadaan keanekaragaman hayati yang terdapat di gunung Salak. Namun walaupun memiliki kesamaan. ia bersama dengan masyarakat desa Cidahu berkali-kali melakukan sweeping terhadap orang yang mengambil pohon dari hutan. banyak memiliki aturan dan anjuran untuk menjaga kelestarian lingkungan. Keempat konsep ini menjadi landasan normatif peran agama dalam pelestarian lingkungan. mereka menggiatkan tradisi lama yang memang pada dasarnya adalah suatu ajaran “normatif” pada manusia untuk berlaku arif terhadap alam. dan konsep halal-haram. Di samping itu. sebagai sebuah agama. Untuk dapat mengolah alam secara bijak. Dalam Islam. Hutan dan gunung itu jelas bukan milik kita dan sudah ada yang mengaturnya (pemerintah) maka rakyat tidak berhak mengambil apa yang ada dalam hutan. di samping karena dianggap memiliki derajat keilmuan agama yang lebih tinggi dari masyarakat kebanyakan juga karena beliau mengasuh santri yang menetap sebanyak kurang lebih 270 orang. Menurutnya. telah meresap menjadi tuntunan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. ada juga santri yang tidak menetap. Peran agama di desa ini dipengaruhi oleh kharisma yang dimiliki oleh sosok pemimpin pesantren sebagai informal leader. Dalam membahas Islam dan pelestarian Lingkungan. Bagi orang yang memiliki kesadaran keimanan dan ketaatan terhadap aturan agama. Sedangkan Mangunjaya (2005) melihat persoalan Islam dan lingkungan dari aspek Tauhid. karena pada hakekatnya manusia dan lingkungan sama-sama berposisi sebagai karya cipta Ilahi yang tergabung dalam kesatuan ekosistem.

Ritual tradisi dan Pelestarian Lingkungan Masyarakat Indonesia. adalah upacara rabu wekasan yang dilakukan pada hari rabu terakhir di bulan safar. 2007).2. Terdapat berbagai macam bentuk tradisi dalam pelestarian lingkungan. Setiap upacara adat yang dilakukan selalu ada sedekah bumi yang dimaksudkan supaya manusia lebih menghargai bumi yang telah memberkan kehidupan bagi manusia. yaitu masyarakat dengan corak tradisi maritim dan masyarakat dengan corak tradisi agraris. Gambar II. secara garis besar terbagi dalam dua corak tradisi. Selain hima’ menurut Mangunjaya juga terdapat konsep ihya almawat atau menghidupkan lahan. Ketiga. Peletakan sesajen dan sedekah bumi merupakan bentuk penghargaan masyarakat terhadap adanya kehidupan selain di jagat manusia ini. Kedua. tanah. 15 . Sistem perlindungan kawasan seperti ini tercatat dalam sejarah pernah dilakukan oleh Nabi dan pemimpin setelahnya (Mangunjaya 2005. Ritual ngramat sebagai bagian dari tradisi muludan yang dilakukan oleh masyarakat desa Girijaya. Setiap tahunnya mereka melakukan tiga upacara adat. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Padepokan Girijaya yang tinggal di desa Girijaya. Ritual ini sebagai ungkapan rasa syukur atas pemberian Tuhan kepada manusia berupa hasil bumi. Pertama adalah upacara seren taun yang dilakukan setiap tangal 10 muharrom setiap tahunnya. Setiap corak tradisi memiliki upacara tradisi sebagai bentuk penghargaan dan upaya revitalisasi hubungan manusia dan alam. Selain itu juga ada ngancak (sesajen) yang diletakkan di empat manahab atau penjuru angin. atau kawasan yang tidak produktif menjadi produktif merupakan anjuran syariah (Mangunjaya 2005). upacara muludan yang dilakukan setiap tanggal 12 bulan rabiul awwal dalam penanggalan Islam. salah satunya adalah dengan ritual tradisi.upaya melindungi spesies hidupan liar dengan menyediakan lahan untuk habitat asli mereka secara utuh.

yaitu masyarakat membawa dongdang/nampan yang berisi hasil bumi ke padepokan untuk dimakan secara bersama-sama. Sebagai bagian dari sistem religi. dalam penguburannya disertai mantra-mantra untuk keselamatan dan kesejahteraan. sedangkan air selain campuran untuk kebutuhan hidup seperti minum dan mandi juga untuk ditaburkan pada sawah mereka. menunjukkan bahwa ritual bisa menjadi pedoman dari perilaku budaya suatu masyarakat. dengan harapan hasil panen yang telah dan akan diperoleh mendapatkan berkah. Rangkaian yang terdapat pada upacara seren taun yang dilakukan oleh masyarakat Padepokan Girijaya terdiri dari.Terdapat rangkaian upacara dalam setiap pelaksanaan upacara tradisi. yaitu pembacaan mantera-mantera dan juga tawasulan pada para leluhur. upacara yang dilakukan oleh masyarakat Girijaya. mengandung muatan pesan simbolik tentang keakraban hubungan manusia dan alam. hal ini dilakukan sebagai bentuk syukur manusia atas apa yang telah diberikan bumi. Kemudian sedekah bumi. ruwatan bumi. Biasanya makanan yang telah di kramat dibawa pulang kembali. Kemudian ada ngramat. Sebagai tradisi. Dalam ngramat ini selain sebagian dari hasil bumi juga masyarakat membawa air. yaitu aneka makanan dikumpulkan dalam satu tempat kemudian di kubur. ritual seperti itu adalah bagian dari pola budaya yang dapat menjadi penuntun prilaku manusia. wali. 16 . Menurut Geertz (1966) dengan melakukan pendekatan kebudayaan dari model bagi.

Paku ini sebenarnya telah masuk dalam status perlu dilindungi karena bagian bawah batangnya yang merupakan kumpulan akar berwarna hitam banyak diambil untuk media anggrek dan media tanaman hias lainnya serta diperdagangkan ke luar negeri. Ficus. 1. Schima wallichii dijumpai dengan tinggi pohon 5-10 m. Yang dimaksud flora disini adalah jenis tumbuhan yang dijumpai mulai dari perbatasan wilayah Perum Perhutani dan Kebun Javana Spa serta hutan melalui jalur setapak. 3. Dilokasi ini dapat dilihat daerah hutan yang terganggu dari Javana Spa mulai dari ketinggian 1400 m. yang perawakannya berupa pohon besar dengan kanopi berupa kerucut. dibagian selatan gunung Salak. mahkota bunga putih dan benangsari kuning tampak sangat menyolok. Castanopsis argentea. maka hampir dapat dipastikan bahwa setiap wilayah atau kawasan di Indonesia memiliki keanekaragaman yang antar satu dengan lainnya berbeda. Flora di jalur Cangkuang dan TNGHS Resort Cidahu Hasil pengamatan yang telah dilakukan disuguhkan untuk memberikan gambaran Kekayaan flora resort Cidahu ini. Mallotus. Tentunya. Ini terjadi karena tidak semua bagian dari kawasan ini bisa dijelajahi. Vegetasi pada tepian hutan nampak terbuka. Salah satu jenis yang masuk dalam RDB yaitu Pinanga javana dijumpai disepanjang sungai. Pohon yang umum dan banyak tumbuh di sini didominasi oleh Schima wallichii (puspa).BAB III KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN Sebagai negara yang dikenal dengan julukan mega-biodiversitas country. Untuk membuktikan bahwa di Gunung Salak terdapat keanekaragaman yang tinggi maka dilakukan jelajah terhadap kawasan ini dan mencatat flora yang terdapat di dalamnya. daun tunggal berupa elips. bagian bawah banyak ditumbuhi oleh Chlomolaena odoratum (kirinyu). yang didominasi oleh jenis pionir Macaranga. Sangat mungkin terjadi bahwa tingkat keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan ini jauh lebih tinggi dari apa yang telah di hasilkan. Jenis tumbuhan yang menarik untuk dikemukakan pada tepi hutan yang terbuka antara lain adalah Cyathea contaminans (paku tiang) yang banyak dijumpai dan juga dipelihara di Kebun Javana Spa. Quercus lineata. Symplocos fasciculate dan lain-lain. beberapa pohon besar 17 . Pohon tersebut dapat dijumpai sepanjang jalan hingga bagian tepi kawah Ratu. rapat. dan beberapa diantaranya disajikan pada Gambar III. Jenis ini termasuk dalam daftar CITES appendiks 2. Weinmannia blumei. Hasil pengamatan dan pengumpulan specimen herbarium di kawasan ini tercatat sekitar 100 jenis (Lampiran 5). flora yang tercatat atau pun yang dibuat herbariumnya adalah flora yang dilewati ketika jelajah dilakukan. Kekayaan flora alami pada tepi hutan nampak lebih banyak dihuni oleh jenis pendatang seperti Agathis dammara dan Calliandra calothyrsus. 2. menyebabkan populasi alami menurun dan mengalami erosi yang sangat mengkawatirkan.

Castanopsis tungurut banyak dijumpai di kanan kiri jalan. buahnya berduri dan biji berwarna coklat. dengan daun majemuknya dan daun penumpu yang besar. tumbuh pada tempat terbuka ditepi hutan. Caryota rumphiana yang merupakan pohon palm soliter. mudah dikenal karena bentuk daunnya yang menyirip. bunga berupa terompet dan buah berupa gelendong ukuran kepalan tangan tumbuh tegak. daun muda berwarna merah kecoklatan. Gambar III. Pada bagian kiri jalan setapak dijumpai satu pohon Fagraea blumei yang mempunyai kanopi memayung. Pohon Albizia lophanta dengan daun halusnya yang tersusun menyirip terdapat di beberapa tempat terbuka. Dijumpai juga beberapa pohon Weinmania blumei. Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di kawasan gunung Salak 18 . 1.yang sedang berbuah.

dengan daun berhadapan. Cinnamomum sintok. Glochidion arboretum. A. Impatiens platypetala. sedangkan jenis-jenis lainnya adalah Vernonia arborea. muricata.Tumbuhan liana yang dapat dijumpai disini antara lain Smilax macrocarpa (canar). 2. Argostemma montana dan Elatostema sp. Etlingera coccinea. Begonia multangula. Jenis yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai tanaman hias karena mempunyai bunga berupa terompet warna merah sangat mencolok dan mudah dikembangkan melalui stek batang adalah Aeschynanthus radicans. Dijumpai bambu merambat Dinochloa scandens dan 2 jenis rubus yaitu Rubus moluccanus dan Rubus chrysophyllus merupakan tumbuhan berduri dengan mahkota bunga putih dan buah majemuk berwarna merah. Tumbuhan bawah lantai hutan cukup rapat terdiri dari berbagai jenis tumbuhan antara lain Melastoma malabatricum. Gambar III. Psychotria. kemudian dijumpai satu jenis Uncaria sp. mempunyai kait untuk memanjat.. Clidemia hirta.horsfieldii dan Agalmyla parasitica. Castanopsis 19 . sangat umum dan mudah dikenal. B. Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di kawasan gunung Salak Flora sekitar camp Bajuri Jenis pohon yang paling banyak dijumpai di daerah ini adalah Schima wallichii (puspa). sedang berbuah mirip anggur dan buah tersebut dapat dimakan walaupun rasanya asam dan segar. robusta dan B.

Plectocomia elongata (bubuai). Ardisia crispa Lasianthus laevigatus Bl. Geophila repens. Leea indica Burm.) Benn. Pada daerah ini dapat juga dijumpai Nepenthes gymnamphora yang populasinya sudah menurun.acuminatissima. Aeschynanthus radicans dan Agalmyla parasitica dengan bunga merah berupa corong yang mencolok. Frecynetia javanica yang sedang berbunga dengan daun pelindung berwarna merah keunguan. Omalanthus populneus Zoll. Beberapa jenis tumbuhan di kawasan hutan gunung Salak. Pada bagian bawah dapat dijumpai Melastoma malabatricum. M. kemudian Medinilla speciosa yang juga sangat menarik dan berpotensi sebagai tanaman hias. Saurauia nodiflora dan Mallotus rhizinoides. Jenis tumbuhan liana yang nampak menonjol diantaranya adalah Uncaria. Lasianthus viridis. Eurya acuminata dan lantai dasar banyak dijumpai Etlingera coccinea. Dysoxylum densiflorum. & Mor. Ardisia sanginolenta DC Arthrophyllum javanicum Pavetta Montana Reinw. trachyphyllum. Ginotroches axilaris. Ex Bl. Argostemma montanum. Datura metel Rhodamnia cinerea Ficus deltoidea Jack Gambar III. Begonia multangula. Symplocos fasciculata.3. TNGHS 20 . Rhododendron javanicum (Bl.f Tarena sp.

Pada ketinggian 1. buah mencapai panjang 50 cm. 4. dijumpai jenis-jenis primer diantaranya Altingia excelsa. dengan kulit batang berwarna gelap karena pengaruh uap belerang. Jenis dominan di daerah ini yaitu Schima wallichii (puspa) yang berupa pohon tegak dengan tinggi sekitar 25 m. Vegetasi disekitar kawah ratu.200 m banyak dijumpai jenis-jenis pioneer seperti Macropanax dispermus. Castanopsis javanica. Ficus deltoidea. Hornstedtia pininga dan Melastoma sp. Schima wallichii. mempunyai daun berupa pedang memita.250m. Tumbuhan lain yang melimpah adalah Pandanus nitidus. Medinilla speciosa dan beberapa tumbuhan paku. Aralia dasyphylla. Beberapa jenis diantaranya disajikan pada Gambar III.Flora di jalur Pasir Reungit dan sekitar kawah Ratu Pada ketinggian 1. 4. Mallotus paniculatus dan Ficus padana dengan ketinggian pohon sekitar 10m. Strobilanthes. yaitu sekitar fumarol tercium bau belerang yang kuat dan tidak ditemukan adanya tumbuhan yang tumbuh. Gambar III.360 m. Jenis liana yang banyak adalah Polygonum sp. Dissochaeta. Dan pada ketinggian 1. dan beberapa jenis yang dijumpai 21 . Smilax ceylanica. Pada bagian lantai hutan dijumpai Schefflera spp. paku tiang Cyathea contaminans dan Musa acuminata (pisang). berdiameter sekitar 15 cm. diameter batang diatas 50 cm.. Hedychium roxburghii.

Helipad dan beberapa jenis rumput dan paku-pakuan di sekitarnya Flora di jalur Cimalati Pada jalur Cimalati.100 dan 1. dan pada ketinggian 1400 m banyak tumbuhan epifit. pada bagian tepi dijumpai banyak tumbuh Begonia multangula yang sangat melimpah. 5.Dibagian lebih bawah yaitu disekitar helipad vegetasi nampak terbuka (Gambar III. dijumpai juga Centela asiatica. 22 . genus Vaccinium dan Rhododendron mulai terlihat sebagai vegetasi lapisan bawah. Lithocarpus sundaicus. Castanopsis javanica. Jenis pohon dominan Schima wallichii dan Lithocarpus beralih ke Podocarpus pada ketinggian 1800 m. Gambar III.400 m dpl banyak dijumpai pohon jenis Schima wallichii. Ficus padana dan tumbuhan pendatang dari luar yang merupakan invasive species seperti Piper aduncum dan Calliandra calothyrsus. pada ketinggian antara 1. Jenis tumbuhan yang dijumpai sekitar jalur Cimalati disajikan dalam Lampiran 1. Pada ketinggian 1700 m. Plantago major dan pada bagian lereng yang masih berhutan nampak Cyathea contaminans. 5). Prunus arborea yang tumbuh sebagai jenis dominan atau pohon mencuat.

Selanjutnya peta fisiognomi tersebut dapat digunakan untuk mengelola komunitas lokal dengan memadukan pengetahuan di habitat alam pada setiap kategori dan lingkungannya. ketinggian pohon tidak terlalu tinggi tetapi mempunyai jumlah jenis yang banyak. hutan pegunungan atas dan bawah tidak berbeda. tetapi ketinggian tempat menjadi faktor penghambat untuk kehidupan tumbuhan dan hewan liar. Hutan primer di gunung Salak digolongkan pada hutan tropis pegunungan yang dibagi menjadi hutan pegunungan bawah dan penungan atas tergantung pada ketinggiannya. dengan kriteria berdasarkan pada ketinggian pohon dan keadaan struktur hutan. hutan ini antara lain adalah hutan Agatis. Dalam pembagian fisiognomi pada table diatas. dan dengan memetakannya ke dalam suatu wilayah. Rendah (1-5 m) dan sawah. sehingga pembagiannya perlu dibedakan untuk pengelolaan kawasan Taman Nasional. untuk tujuan penelitian di gunung Salak kali ini ditentukan 6 kategori (Tabel V.1). ladang sederhana Daerah terbuka. Altingia excelsa dan kebun karet.BAB IV FISIOGNOMI KAWASAN GUNUNG SALAK DAN DAERAH KORIDOR Fisiognomi dapat diartikan sebagai kenampakan luar dari suatu vegetasi. Hutan tanaman Hutan sekunder Lahan garapan Daerah terbuka Struktur Tinggi (20-40 m) dan komplek Tinggi (20-40 m) tetapi sederhana Semak Rendah (5-10 m) tetapi komplek Kebun campuran. Pembagian kategori disesuaikan dengan kondisi wilayah dan tujuannya. serta dikatagorikan juga daerah yang tidak terdapat vegetasi yaitu daerah fumarol. persawahan atau ladang. bangunan Hutan Tanaman disekitar Gunung Salak merupakan tegakan dengan struktur sederhana tetapi pepohonannya tinggi. struktur dan diversitas tumbuhannya komplek. Tabel IV. sehingga dikatagorikan tersendiri. dapat memberikan gambaran umum tentang kondisi lingkungan alami wilayah tersebut. perkebunan teh. Meskipun pembagian secara fisiognomi. merupakan hutan dengan pepohonan yang tinggi.1. Hutan primer. 23 . padang rumput. Kategori fisiognomi dan penutupan lahan Fisiognomi Penutupan lahan Hutan Pegunungan atas Hutan primer Pegunungan bawah Hutan tanaman Perkebunan. Hutan sekunder merupakan hutan yang ditumbuhi semak dengan struktur hutan yang komplek. ada daerah yang digunakan untuk aktivitas manusia seperti kebun teh.

Jenis-jenis utama pada tipe vegetasi ini antara lain Schima wallichii (Theaceae). anggrek. Gambar IV. Rododendron dan Vaccinium yang hidup di batang pohon.1). Hutan Pegunungan atas Jalur Cimalati (1. Pasir Reungit dan Cangkuang) serta di daerah kawasan koridor dan tempat lain. Adapun jenis-jenis yang terdapat pada hutan pegunungan atas terdapat pada Tabel IV.Berdasarkan hasil penelitian di tiga jalur (Cimalati. Berikut ini adalah tipe-tipe vegetasi dan peruntukan lain yang diperoleh dari pengamatan secara fisiognomi. 2) di gunung Salak yang terdapat dalam kawasan taman nasional merupakan hutan primer yang tersebar pada ketinggian di bawah 1. serta peruntukan lain. Tegakan hutan umumnya berkanopi rapat dengan tinggi 30-40 m. 24 . dengan beberapa pohon mencuat yang mencapai ketinggian hampir 50 m. 1. Hutan pegunungan atas Hutan pegunungan atas pada umumnya merupakan hutan primer dan hanya ditemukan disekitar puncak gunung Salak. nampak mendominasi lapisan kanopi atas dengan tinggi lebih dari 20 m (Gambar IV. Pengamatan yang dilakukan pada jalur Cimalati pada ketinggian 1825 m dpl. 12. 11 dan IV. yang terdiri atas jenis-jenis Podocarpus imbricatus dan P. Adapun peta penutupan lahan dan peta fisiognomi kawasan gunung Salak dapat dilihat pada Gambar IV. Di daerah ini banyak epipit seperti paku-pakuan. 2b. dijumpai suku Podocarpaceae.. neriifolius. dapat ditentukan adanya beberapa tipe vegetasi secara fisiognomi. 2a.825 m dpl) Hutan pegunungan bawah Hutan pegunungan bawah (Gambar IV. dengan ketinggian di atas 1.800 m dpl.800 m dpl.

yang umumnya berumur sama dengan struktur hutan yang sederhana. Lithocarpus elegans (Fagaceae). Altingia excelsa. 2a. 2. Hutan tanaman Hutan tanaman seperti Agatis sp. Altingia excelsa (Hamamelidaceae). Akan tetapi pada hutan tanaman Altingia excelsa yang sudah tua tinggi pohon dapat mencapai 40 m. Jenis-jenis lainnya secara lengkap disajikan dalam Tabel IV. Acer laurinum (Aceraceae). Hutan pegunungan bawah (Jalur Cimalati (1.500 m dpl) Hutan berkategori hutan pegunungan bawah meluas kearah lereng Selatan dan Timur gunung Salak. Engelhardia spicata (Juglandaceae). tetapi menjadi menyempit tak teratur karena adanya hutan sekunder yang berpusat di kawasan perusahaan listrik serta tidak berlanjut ke arah koridor pada bagian yang semakin kearah Barat.3). Gambar IV.Castanopsis javanica. Hutan yang meluas kearah Barat tersebar di antara gunung Berbakti dan Javana Spa. Polyosma ilicifolia (Saxifagraceae) dan Prunus arborea (Rosaceae). 2b. seperti yang terlihat di gunung Bunder salah satu jalan masuk ke dalam kawasan taman nasional (Gambar IV. 25 . Kanopi hutan nampak sudah rapat ketika pepohonan (Altingia excelsa) mencapai tinggi di atas 5 m. Pinus merkusii dijumpai dibagian batas tepi kawasan taman nasional..

terutama sekitar daerah belerang di gunung Salak. Komponen penyusun tipe hutan ini tidak saja jenis pioner tetapi juga terdapat beberapa jenis primer dalam fase suksesi seperti Castanopsis argentea and Lithocarpus elegans (Fagaceae). 4). Dalam peta penutupan lahan. dan terdiri atas jenis-jenis pioner yang dijumpai di jalur Cangkuang maupun Pasir Reungit (Gambar IV. 5). tipe hutan ini termasuk dalam kriteria semak. Symplocos fasciculata (Symplocaceae). 3. Dengan demikian proses pemulihan hutan sekunder menjadi hutan primer merupakan suatu hal yang perlu diwujudkan dalam rangka menyelamatkan habitat satwa liar. dan Ficus deltoidea (Moraceae) merupakan komponen utama hutan sekunder. 26 . serta secara alami yaitu letusan gunung. sehingga memungkinkan hutan sekunder akan mencapai pemulihan menjadi hutan primer jika gangguan tidak terjadi lagi. Hal ini perlu mendapat perhatian dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan pada masa datang. dan tersebar sekitar bagian utara gunung Salak dan termasuk di dalamnya kawasan koridor. Jenis-jenis pioneer seperti Macropanax dispermus (Araliaceae). Kerusakan hutan dapat terjadi karena dua hal yaitu karena aktivitas manusia seperti pengaruh penggunaan lahan dimasa lalu dan illegal logging. Mallotus paniculatus (Euphorbiaceae).Gambar IV. Hutan tanaman (Rasamala (Altingia excelsa) di Gn. Jenis-jenis lain yang tercatat dalam tipe vegetasi ini disajikan pada Tabel IV. Bunder) Hutan sekunder Hutan sekunder umumnya dengan tinggi pohon rata-rata hanya mencapai 5-10 m. karena saat ini hutan sekundernya mencakup areal yang luas. 3. 4. Hal ini menunjukkan adanya proses pemulihan atau suksesi. Beberapa pohon jenis Weinmannia blumei (Theaseae) dengan tinggi 20-30 m nampak tersebar di beberapa tempat.

6. hutan campuran. 4. 27 . begitu juga pada lereng utara gunung Salak pada ketinggian 1. sawah dan padang rumput digabungkan ke dalam 1 tipe fisiognomi yaitu dengan struktur rendah dan sederhana (Gambar IV. Kondisi semacam ini meluas sampai hutan pegunungan bawah. Hutan sekunder (Jalur Cang Kuang 1300m dpl) Gambar IV. 8).Gambar IV.600-1. karena itu setiap perubahan di daerah tersebut perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Hutan sekunder (Daerah koridor) Lahan garapan Dalam peta penutupan lahan. ladang.700 m dpl. 7. Kategori fisiognomi ini mencakup daerah yang cukup luas di daerah koridor. 5. perkebunan teh.

Lahan garapan Sisi Utara koridor (Kebun teh) Gambar IV. 8.Gambar IV. Kedua lokasi tersebut mencakup areal yang cukup luas. Lahan garapan Sisi Selatan Koridor (Ladang) Daerah terbuka Kategori fisiogomi ini ditandai dengan tidak adanya tumbuhan atau vegetasi yang dapat tumbuh. Lahan garapan Daerah koridor (Sawah) Gambar IV. 7. 10). 28 . 9. 6. ini termasuk “fumarole” di lereng Barat gunung Salak dan lokasi bangunan pembangkit tenaga listrik di lereng bagian Barat gunung Salak (Gambar IV.

Ficus fulva Reinw.) Copel. Litsea resinosa Bl. Urophyllum arboreum (Reinw. 2a.Arg. Helicia robusta (Roxb.) Korth. Pternandra azurea (Bl. M allotus paniculatus (Lam k) M uell. Pandanus furcatus Roxb.ex Bl.ex W all.Gambar IV. Lithocarpus daphnoides (Bl. 9.) Rehd.) M oore Sym plocos fasciculata Zoll. Daerah terbuka (“Fumarole”) Gambar IV. W einm annia blum ei Planch.Arg. Cyathea contam inans (W all. 10. M acaranga triloba (Reinw.) R.G ap n f :Naturalforest 29 .) Loes Piper aduncum L. Perrotteia alpestris Bl.C am us Beilschm iedia m adang (Bl.) Bl. Daerah terbuka (Pembangkit tenaga listrik) Tabel IV.Rich. 890 1025 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1520 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 1615 1705 1825 Figure: G PS W P Num ber / Altitude [m ] p l t :Pl a n t a t i o n  a r e a d f :Forest disturbed by hum an activity nd:Forest disturbed in natural. Antidesm a tetrandrum Bl. Lithocarpus sundaicus (Bl.Br.) L.ex Bl. Agathis dam m ara (Lam b. Fagraea elliptica Roxb.ex Bl. Sym plocos cochinchinensis (Lour. Ficus fistulosa Reinw.) A.) M uell. G lochidion rubrum Bl.) Burck. Calliandra callothyrsus M eissn. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cimalati O ut of NP NationalPark Area Species Fam ily M yrtaceae Cunoniaceae M oraceae M oraceae Lauraceae Euphorbiaceae Sym plocaceae Sym plocaceae Fagaceae Euphorbiaceae Laulaceae Loganiaceae Rubiaceae Fagaceae Lauraceae M elastom ataceae Euphorbiaceae Proteaceae Celastraceae Piperaceae Fabaceae Cyatheaceae Pandanaceae Araucariaceae J-Fam ily フトモモ科 クノニア科 クワ科 クワ科 クスノキ科 トウダイグサ科 ハイノキ科 ハイノキ科 ブナ科 トウダイグサ科 クスノキ科 マチン科 アカネ科 ブナ科 クスノキ科 ノボタン科 トウダイグサ科 ヤマモガシ科 ニシキギ科 コショ ウ科 マメ科 ヘゴ科 タコノキ科 ナンヨウスギ科 plt plt plt df nf df nf nf nd nf nf nf wp5 wp15 wp17 wp19 wp20 wp21 wp22 wp23 wp24 wp32 wp33 nf wp34 nf wp35 nf wp36 Syzygium sp.C.

Eurya acum inata DC. Parkia interm edia Hassk. Psychotria robusta Bl.) DC.f. Rhododendron sp. Vaccinium sp.Tabel IV.) M iq.Hartley Prunus javanica (T.) G ilg.) Kalkm an Acer laurinum Hassk. Lasianthus laevigatus Bl.) Kosterm .) T. Castanopsis argentea (Bl.) Korth. Polyosm a ilicifolia Bl. Neolitsea cassia (L. O lea javanica (Bl. Elaeocarpus sphaericus (G aertn.) Kurz.ex Bl.G . Prunus arborea (Bl. M astixia pentandra Bl.Don Astronia spectabilis Bl.) Knobl. Schim a wallichii (DC.) Hatus. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cimalati. Lindera bibracteata (Bl. M elicope latifolia (DC. Saurauia bracteosa DC.ex Soepadm o Payena leerii (T.) Boerl. Litsea noronhae Bl. Castanopsis javanica (Bl.) DC.Schum .& B. G ynotroches axillaris Bl.) DC. Lithocarpus elegans (Bl. Syzygium rostratum (Bl. M anglietia glauca Bl. Podocarpus neriifolius D. Platea excelsa Bl.& B.) K. Vaccinium bancanum M iq. O ut of NP NationalPark Area Species Fam ily Podocarpaceae Podocarpaceae M elastom ataceae Ericaceae Thym elaeaceae Rhizophoraceae Rubiaceae Ericaceae Cornaceae Laulaceae O leaceae Rubiaceae Actinidiaceae Theaceae Icacinaceae Fagaceae Lauraceae Rosaceae Aceraceae M agnoliaceae Elaeocarpaceae Fagaceae Sapotaceae M yrtaceae Ericaceae Rutaceae Juglandaceae Saxifragaceae Laulaceae Fabaceae Rutaceae Rosaceae Fagaceae Loganiaceae J-Fam ily マキ科 マキ科 ノボタン科 ツツジ科 ジンチョ ウゲ科 ヒルギ科 アカネ科 ツツジ科 ミ ズキ科 クスノキ科 モクセイ科 アカネ科 マタタビ科 ツバキ科 クロタキカズラ科 ブナ科 クスノキ科 バラ科 カエデ科 モクレン科 ホルト ノキ科 ブナ科 アカテツ科 フトモモ科 ツツジ科 ミ カン科 クルミ 科 ユキノシタ科 クスノキ科 マメ科 ミ カン科 バラ科 ブナ科 マチン科 plt plt plt df nf df nf nf nd wp5 - nf nf nf nf wp34 nf wp35 nf wp36 wp15 wp17 wp19 wp20 wp21 wp22 wp23 wp24 wp32 wp33 890 1025 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1520 Podocarpus im bricatus Bl. 2b. 1615 ○ ○ ○ ○ 1705 ○ ○ 1825 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 30 . Engelhardia spicata Lesch. Acronychia laurifolia Bl. Daphne com posita (L.

Aral i aceae ウコギ科 M acropanax di sperm us (B l . M el astom ataceae M yrsi naceae ヤブコウジ科 Rapanea hassel tii (B l . ) H atus. M el astom ataceae ノ ボタン科 M edi ni l l a speci osa Rei nw . ブナ科 Li thocarpus el egans (B l .ex Soepadm o Fagaceae Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 M al l otus pani cul atus (Lam k) M uell . )DC . Ham am el i daceae マンサク科 Al ti ngi a excel sa N orona Fagaceae ブナ科 C astanopsi sj avani ca (B l . ) C opel . C unoni aceae クノ ニア科 W ei nm anni a bl um ei Pl anch. )DC . クスノ キ科 Li tsea cubeba (Lour.Tabel IV. Rhi zophoraceae ヒルギ科 G ynotroches axi l l ari s Bl . ) Kosterm . C yatheaceae ヘゴ科 C yathea contam i nans (W al l . Saxi fragaceae ユキノ シタ科 Pol yosm a i li ci fol i a Bl . C yatheaceae ヘゴ科 C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . El aeocarpaceae ホルト ノ キ科 El aeocarpus sti pul ari s B l. Fagaceae ブナ科 C astanopsi s argentea (B l. Fagaceae ブナ科 Li thocarpus sundai cus (B l . Acti ni di aceae マタタビ科 Saurauia bracteosa D C . Rutaceae ミ カン科 M el i cope l ati fol i a (D C . G . Pi naceae マツ科 Pi nus m erkusi i Jungh. )O . ノ ボタン科 M el astom a syl vaticum B l .ex Scheff.H artl ey Sym pl ocaceae ハイノ キ科 Sym plocos fasci cul ata Zoll . Pal m ae ヤシ科 Pl ectocom i a el ongata M art. K. M aratti aceae ナンヨウスギ科 A gi opteri s evecta H offm . ) Korth. ) M ez Theaceae ツバキ科 Schi m a wal l i chi i (D C . クワ科 Fi cus del toi dea Jack ト ウダイグサ科 Gl ochidi on rubrum B l . K. ) T. M oraceae クワ科 Fi cus padana B urm .& D e V ri ese 1101 1150 1200 1247 1302 1360 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ Fi gure:G PS W P Num ber / Al ti tude [m ] p l t :P l a n t a t i o n   a r e a vi ty d f :Forest di sturbed by hum an acti n f :Naturalforest fm :Near Fum arol e 31 . f. ) Rehd. Lauraceae クスノ キ科 Persea ri m osa (B l . Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Pasir Reungit O ut of NP Nati onalPark Area Speci es Fam i l y M el astom ataceae M oraceae Euphorbi aceae Laul aceae J-Fam i l y plt W P25 df df df nf nf fm wp26 wp27 wp28 wp29 wp30 wp31 1045 ノ ボタン科 A stronia spectabi li s B l. G esneri aceae イワタバコ科 A gal m yla parasi ti ca (Lam k) O . ) Pers.A rg. ex B l . 3. Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 A ntidesm a tetrandrum B l .ex B l .

C astanopsi s tungurrut (B l . 4. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cangkuang Speci es Fam i l y M el astom ataceae Fagaceae Fagaceae M el i aceae Saxi fragaceae M yrsi naceae C yatheaceae A ral i aceae Theaceae A ceraceae Fagaceae R hi zophoraceae Euphorbi aceae El aeocarpaceae Sym pl ocaceae C unoni aceae A recaceae M oraceae Theaceae Euphorbi aceae J-Fam i l y ノ ボタ ン科 ブナ科 ブナ科 センダン科 ユキノ シタ 科 ヤブコウジ科 ヘゴ科 ウコギ科 ツバキ科 カエデ科 ブナ科 ヒ ルギ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ハイノ キ科 クノ ニア科 ヤシ科 クワ科 ツバキ科 ト ウダイグサ科 バショ ウ科 タ コノ キ科 マタ タ ビ科 ハイノ キ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 マメ 科 ヤシ科 キク科 ショ ウガ科 クワ科 モチノ キ科 ナンヨ ウスギ科 ウコギ科 N ati onalP ark A rea opn opn df df df df w p39 w p40 w p41 w p42 w p43 w p44 A stroni a spectabi l i s Bl . Fi cus padana B urm . ) M uel l . Schi m a w al l i chi i (D C . )R. Sym pl ocos fasci cul ata Zol l . ) C hoi sy W ei nm anni a bl um ei P l anch.Ki ng & H . Sym pl ocos odorati ssi m a (B l . I l ex cym osa B l .Schum . A rthrophyl l um di versi fol i um B l . Fi cus fi stul osa R ei nw . f. C aryota rum phi ana B l . K. P arasari anthes fal catari a (L. M acropanax di sperm us (B l . A gathi s dam m ara (Lam b. ) Korth. Gl ochi di on arborescens M acaranga rhi zi noi des (B l . M usaceae Pandanaceae A cti ni di aceae Sym pl ocaceae Euphorbi aceae Euphorbi aceae Euphorbi aceae Fabaceae A recaceae C om posi tae Zi ngi beraceae M oraceae A qui fol i aceae A raucari aceae A ral i aceae 1221 1250 1304 1358 1382 1403 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ Fi gure: G PS W P N um ber / A l ti tude [m ] O pn: O pen area d f : Forest di sturbed by hum an acti vi ty 32 .A rg. C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . M usa acum i nata C ol l a P andanus furcatus R oxb. )M i q. M . )DC .Tabel IV. ) M uel l . D ysoxyl um densi fl orum (B l .A rg.ex B l .Sakai& N agam .A rg. M acaranga tri l oba (R ei nw . C hrom ol aena odorata (L. C astanopsi s argentea (B l . Eurya acum i nata D C . A rdi si a ful i gi nosa B l . )O .R i ch. Q uercus l i neata B l .C . )Ni el sen Pi nanga j avana B l . Sauraui a bracteosa D C . M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . ) S. )DC . ) L. A cer l auri num H assk.ex M art. P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . G ynotroches axi l l ari s O m al anthus popul neus (G ei sel ) P ax Sl oanea si gun (B l ) K.ex B l .R obi nson Etl i ngera cocci nea (B l .

Salak Gb. IV. Peta fisiognomi kawasan G. IV. 11. Peta penutupan lahan kawasan G. 12.Gb. Salak 33 .

50 40 Ju m lah jen is (% ) 30 20 10 0 A B C Kelas frekuensi (%) D E Gambar V. Pencuplikan data vegetasi hanya dilakukan pada 1 dari 3 jalur pengamatan. yang terdiri atas 44 marga dan 26 suku (Lampiran 3).1). indeks keanekaragaman. kemerataan jenis dan dominasi jenis. Ini relatif sangat rendah dibandingkan dengan dengan kekayaan jenis yang diperkirakan terdapat di kawasan gunung Salak. sehingga diperoleh parameter-parameter frekuensi. Komposisi floristik Dalam 12 petak pencuplikan data tercatat sebanyak 59 jenis pohon dengan diameter batang > 5 cm. Parameter tersebut selanjutnya dilakukan analisis ordinansi dan stratifikasi hutan untuk mengetahui lapisan kanopi hutan. Namun demikian tingkat heterogenetitas secara umum tercatat cukup tinggi. C= 30-40 %. kekayaan jenis. dominansi. E= 50-60 %) 34 . D= 40-50 %. Namun demikian dalam sekala kecil sudah terlihat adanya pengelompokan vegetasi berdasarkan ketinggian tempat maupun kondisi medan. B= 20-30 %.BAB V ANALISIS VEGETASI Studi ekologi hutan dilakukan dengan menggunakan metoda baku. sehingga hasil yang diperoleh belum dapat menggambarkan kondisi hutan gunung Salak secara lengkap. dimana data vegetasi yang terkumpul kemudian dianalisis menurut cara yang umum dilakukan dalam kajian ekologi hutan. kerapatan. Dengan demikian diharapkan hasil ini dapat dipakai sebagai data dasar untuk penelitian lebih lanjut. ditandai dengan banyaknya jenis dengan frekuensi < 25 % (Gambar V. Persebaran kelas frekuensi jenis dalam 12 petak pencuplikan data (A= 0-20 %.1.

58 14. Tingginya nilai penting jenis Cyathea contaminans terutama karena persebarannya yang luas. 2).Hanya beberapa jenis diantaranya Cyathea contaminans.82 15.98 26.48 0. Theaceae dan Lauraceae merupakan suku-suku tumbuhan yang paling utama di daerah penelitian (Tabel V.11 1. Luas bidang dasar (LBD= m2/ha).54 0.28 10.22 11. jumlah jenis (JJ) dan nilai penting suku (NPS) suku-suku pohon yang tercatat di daerah penelitian.07 51. dengan total luas bidang dasar 26.73 25.58 0.95 17.00 Berdasarkan nilai penting rata-rata jenis pohon (NPR > 7. Suku-suku tersebut dengan jumlah jenis.26 1.52 m2/ha. Struktur hutan Kerapatan pohon secara umum tercatat tidak terlalu tinggi dan dengan luas bidang dasar yang rendah pula. yang merupakan salah satu ciri khas hutan pegunungan. Dalam petak dengan luas luas total 1.46 10. jumlah individu dan luas bidang dasar yang relatif tertinggi.05 1. yaitu terdapat di semua petak pencuplikan data. Dari 26 suku yang tercatat. Fagaceae. Jenis-jenis tersebut paling tidak tercatat sebagai jenis dominan di satu petak pencuplikan data. Dilain pihak 19 jenis lainnya dengan NPR yang rendah dan hanya terdapat pada 1 petak pencuplikan data.20 300.90 25.52 K 108 192 100 78 75 48 19 25 50 47 65 22 39 128 996 JJ 4 2 4 6 2 3 7 5 3 1 2 1 3 16.93 1.83 1. Dengan kata lain bahwa di setiap tempat dapat dijumpai adanya jenis Cyathea contaminans. Ardisia javanica.86 2.74 0.00 NPS 53.48 14.53 0.68 15.08 ha (12 petak) hanya tercacah sebanyak 996 individu pohon (diameter > 5 cm).36 1.28 12. kerapatan (K= individu/ha).28 2. Suku Fagaceae Cyatheaceae Theaceae Lauraceae Meliaceae Rutaceae Moraceae Euphorbiaceae Myrtaceae Saxifagraceae Myrsinaceae Melastomataceae Rubiaceae Suku-Suku Lain (13) Jumlah LBD 9. Cyatheaceae.33 21.00 59. Tabel V.5) ditentukan jenis-jenis pohon yang paling utama di daerah penelitian (Tabel V.2).1). Eurya acuminata dan Dysoxylum densiflorum yang tersebar cukup merata. 35 .1. Rendahnya luas bidang dasar menunjukkan bahwa banyak diantara pohon yang tercacah berukuran kecil (Gambar V.

Namun demikian dominasi jenis-jenis tersebut nampak bervariasi di masing-masing petak.7 16.4 %) berukuran kecil (diameter < 20 cm) dan hanya sekitar 1.9 P10 52.5 73. 3). dapat dikatakan bahwa daerah penelitian didominasi oleh Castanopsis javanica dan Lithocarpus sundaicus.0 24.1 12.6 23.0 24.8 15.8 9.7 132. Tiga pohon terbesar (diameter > 100 cm) yang tercuplik hanya diwakili oleh 1 jenis yaitu Castanopsis javanica.6 31.2 6.1 34.3 16.6 3. diikuti oleh Astronia spectabilis.1 68.5 85.4 46.0 21.9 4.0 17.5 P5 51.0 P4 27.4 5.7 48.1 18.3 P12 14.5 9.8 % diantaranya yang mencapai ukuran > 60 cm.5 6.6 13.1 300 116.5 12.1 22. dan beberapa pohon lain yang berukuran cukup besar (diameter 80-100 cm) diwakili oleh jenis-jenis Lithocarpus spicatus.0 20. sebagian besar (81.7 300 154. 36 .9 43.3 24.8 300 104.9 42.1 10.8 4.1 9.3 9.7 15.6 4.5 6.0 13.9 22.0 11.4 28.9 11.9 3.1 12.9 42.8 15.Tabel V.2 10.7 58.9 46.6 24.6 300 25.0 29.0 43.2 9.6 29.8 300 88.9 52.4 22.3 NPR 35.5 41.0 5.9 P6 37.7 23.5 22. Gynotroches axillaries dan Lithocarpus sundaicus.6 P7 27.9 6.0 111.8 76.9 300 Dari seluruh individu yang tercacah.5 21. 2.4 62.8 P11 32.0 7.8 24.1 21.0 28.9 43.7 61.7 13.4 25.1 7.5 9.5 30.5 5.1 P2 16.1 3.6 5.8 9.7 31.5 300 6.6 16.0 29.0 10.3 7.8 9.6 51.2 300 11.2 P8 69.0 300 78.8 300 4.9 300 80.1 8.9 3.2 68.0 3. yang menunjukkan adanya persebaran yang khas dari masing-masing jenis.9 4.0 300 103.7 3.0 9.9 22.8 98. Acronychia laurifolia dan Polyosma illicifolia (Tabel V.0 3.8 3.1 35. Schima wallichii dan Dysoxylum densiflorum.6 22.7 22.5 7.8 P3 34. Berdasarkan nilai luas bidang dasar relatif.8 13.7 300 14.3 3.4 13. Nilai penting jenis-jenis rata-rata (NPR) pohon dan di setiap petak pencuplikan data Jenis / Petak Cyathea contaminans Lithocarpus sundaicus Castanopsis javanica Dysoxylum densiflorum Polyosma illicifolia Ardisia javanica Astronia spectabilis Eurya acuminata Acronichya laurifolia Symplocos fasciculata Syzygium fascigiatum Schima wallichii Cinamomum sintoc Jenis-jenis lain (45) Jumlah P1 18.2 P9 38.

60 50 Jumlah individu (%) 40 30 20 10 0 < 10 < 20 < 30 < 40 < 50 < 60 < 70 < 80 > 80 Kelas diameter (cm)
Gambar V. 2. Persebaran diameter pohon yang tercacah dalam 12 petak pencuplikan data.

Tabel V. 3. Jenis-jenis dominant yang tercacah di daerah penelitian. Jenis Castanopsis javanica Lithocarpus sundaicus Astronia spectabilis Schima wallichii Dysoxylum densiflorum Acronichya laurifolia Polyosma illicifolia Jenis-jenis lain Jumlah P1 42.1 P2 P3 10.9 P4 P5 33.7 P6 P7 P8 P9 7.7 9.9 20.7 P10 P11 P12 DR

0.5 61.7

20.4 14.7 8.3 10.4 13.2 14.8 30.4 4.6 1.8 4.3 0.3 2.5 5.5 7.1 5.6 5.0 4.9 4.4

0.5 27.4 14.3 18.2 13.0 23.0 12.2 4.1 12.6 13.0 28.0 15.1 5.7 1.8 8.3 26.6 0.4 21.0 10.5 9.6 3.5 17.2 2.2 0.3 7.9 13.2

3.0 5.9

13.7 18.1

0.4 12.4 0.9 2.4

32.4 33.0 41.1 45.7 37.1 41.6 100 100 100 100 100 100

9.1 72.3 86.4 34.9 51.6 57.6 45.2 100 100 100 100 100 100 100

37

Pola komunitas Hasil analisis ordinasi menunjukkan adanya pengelompokan petak menjadi 4 kelompok (Gambar V. 3), yaitu: Kelompok 1: terdiri atas petak-petak 1, 2, 3, 4 dan 5; kelompok 2: terdiri atas petak-petak 6, 7, 10 dan 11; kelompok 3: terdiri atas petak 8 dan 9; dan kelompok 4: petak 12. Nampak bahwa petak 12 terpisah dari yang lain karena terdapat pada kondisi habitat dan ketinggian yang sangat berbeda.

0.5

9 12 8

Axis-2

1
0

2 5 3

7 10 6 11
-0.5 -1 0 Axis-1

4

1

Gambar V. 3. Pengelompokan petak-petak pencuplikan data berdasarkan analisis ordinasi (PCA) dengan parameter nilai dominansi jenis.

Kelompok 1 terdapat pada jalur ke arah puncak Salak-1, dengan ketinggian antara 1400 dan 1700 m dpl. Secara keseluruhan dalam kelompok ini dapat ditentukan sebagai komunitas Castanopsis – Polyosma dengan jenis-jenis dominan Castanopsis javanica, Polyosma illicifolia, Lithocarpus sundaicus, Astronia spectabilis, Acronichya laurifolia dan Schima wallichii. Kondisi hutan dari komunitas ini disajikan dalam Gambar V. 4. Kelompok 2 terdapat pada daerah sekitar Pondok Bajuri ke arah Puncak Salak-1, Kawah Ratu dan Cangkuang; pada ketinggian antara 1300 dan 1400 m dpl. Komunitas dalam kelompok-2 ini dapat ditentukan sebagai komunitas Castanopsis – Lithocarpus, dengan Castanopsis javanica, Lithocarpus sundaicus, Dysoxylum densiflorum, Schima wallichii, Astronia spectabilis dan Lithocarpus spicatus merupakan jenis-jenis dominan. Gambar V. 5. menunjukkan kondisi hutan dari komunitas ini.

38

Gambar V. 4. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Castanopsis – Polyosma

Gambar V. 5. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Castanopsis – Lithocarpus

39

Gambar V. 6. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Eurya - Ficus

Kelompok-3 terdapat pada daerah jalur ke arah Kawah Ratu pada ketinggian antara 1.400 dan 1.450 m dpl. Kelompok-3 ini dapat ditentukan sebagai komunitas Eurya – Ficus (Gambar V. 6); dengan jenisjenis dominan diantaranya Eurya acuminate, Ficus padana, Evodia latifolia, Casearia velutina, Lithocarpus sundaicus dan Vernonia arborea. Kelompok-4 terdapat di daerah sekitar Pos Kancil pada ketinggian 1209 m dpl. Komunitas di daerah ini nampak berbeda dengan komunitas lainnya, yang kemungkinan karena perbedaan ketinggian ataupun pengaruh gangguan. Komunitas di daerah ini ditentukan sebagai komunitas Symplocos – Castanopsis, dengan Castanopsis javanica, Symplocos fasciculate, Glochidion rubrum, Ilex cymosa dan Lithocarpus sundaicus merupakan jenis-jenis dominan. Berdasarkan pengelompokan tersebut diatas dapat dikatakan ketinggian tempat merupakan faktor utama, meskipun lokasi (posisi geografi) juga ikut berperan. Struktur hutan diantara 3 komunitas tersebut nampak bervariasi, yang terlihat dari persebaran horisontal dan persebaran vertikal. Gambar V.7., menunjukkan adanya perbedaan stratifikasi hutan diantara ke 3 komunitas tersebut. Komunitas Castanopsis – Polyosma menunjukkan lapisan yang menerus dengan tinggi total pohon mencapai > 35 m. Pohon-pohon tertinggi dalam komunitas ini antara lain Schima wallichii, Castanopsis javanica dan Lithocarpus sundaicus. Begitu pula komunitas Castanopsis – Lithocarpus menunjukkan lapisan kanopi yang cukup menerus, tetapi dengan tinggi pohon kurang dari 30 m. Castanopsis javanica, Gynotroches axillaris, Astronea spectabilis dan Lithocarpus sundaicus tercatat

40

dengan lapisan kanopi yang tidak menerus. Stratifikasi hutan pada setiap tipe komunitas 80 Kom-Castanopsis-Polyosma Kom-Castanopsis-Lithocarpus 60 Jumlah pohon (%) Kom-Eurya-Ficus 40 20 0 < 20 < 30 < 40 < 50 < 60 < 70 < 80 < 90 > 100 Kelas diameter (cm) Gambar V. 8. Dilain pihak komunitas Eurya – Ficus pohon-pohon tertinggi hanya mencapai 19. 40 Komunitas Castanopsis-Polyosma 20 Komunitas Castanopsis-Lithocarpus 20 Komunitas Eurya-Ficus 30 Tinggi total (m) 15 20 10 10 10 5 0 0 10 20 30 0 0 10 Tinggi cabang (m) 20 0 0 5 10 15 Gambar V. Stratifikasi hutan dalam komunitas ini. 7. Symplocos fasciculata.sebagai jenis-jenis tertinggi dalam komunitas ini. Castanopsis javanica dan Polyosma illicifolia. Persebaran diameter pohon pada setiap tipe komunitas 41 . yang menunjukkan banyaknya rumpang (daerah terbuka).5 m yang terdiri atas jenis-jenis Ilex cymosa.

8). Berdasarkan hasil tersebut di atas dapat dikatakan bahwa komunitas Eurya-Ficus masih dalam fase suksesi setelah mengalami gangguan. Di lain pihak dua komunitas lainnya.Perbedaan fase diantara ke 3 komunitas tersebut juga terlihat dari perbedaan ukuran diameter pohon (Gambar V. Pada komunitas Castanopsis-Polyosma dan komunitas Castanopsis-Lithocarpus tercatat bahwa pohon dengan diameter > 50 cm mencapai lebih dari 5 % dari pohon yang tercacah. sudah menuju ke arah fase klimaks ditandai dengan persebaran vertikal dan horisontal yang nampak menerus. khususnya komunitas Castanopsis-Polyosma. karena pencuplikan data yang relatif sangat terbatas. 42 . Namun demikian diharapkan hasil yang telah terkumpul dapat dipakai sebagai acuan penelitian lebih lanjut. Akan tetapi hasil ini kemungkinan belum menunjukkan kondisi hutan kawasan gunung Salak secara menyeluruh. sedangkan pada komunitas Eurya-Ficus tercatat kurang dari 2 %.

Sedangkan tumbuhan bawah dan merambat dimanfaatkan sebagai obat. makanan.00 10.1).00 Kerajinan Obat Bahan Bangunan Makanan Pakan Ternak Kayu bakar Alat tradisional Jenis kegunaan Gambar V.00 30.BAB VI PEMANFAATAN TUMBUHAN Berdasarkan wawancara yang dilakukan di dalam petak. Persentase pemanfatan jenis tumbuhan yang terdapat di dalam plot. makanan. pengetahuan mereka tentang tumbuhan yang dimanfaatkan tidak jauh berbeda. 43 . Berdasarkan hasil wawancara terhadap masyarakat desa Cidahu dan desa Girijaya. atau pakan ternak.1). Sedangkan di desa Cidahu dan desa Girijaya.00 Persentase 25. Berdasarkan grafik di bawah dapat dilihat bahwa pemanfaatan yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat terhadap sumberdaya alam yang terdapat di dalam petak adalah sebagai bahan bangunan. paling banyak digunakan sebagai bahan bangunan. Kegunaan tumbuhan dalam petak 40.1. Namun demikian. Berdasarkan wawancara.00 35. saat dikonfirmasi mengenai nama tumbuhan yang terdapat dalam petak. kerajinan (furniture). pakan ternak. teknologi tradisional. hal ini dikarenakan tumbuhan yang terdapat di dalam petak didominasi oleh pohon.00 0. terdapat juga pohon yang dimanfaatkan untuk keperluan lainnya. diketahui terdapat penambahan 44 jenis yang tidak terdapat dalam petak.2). Jenis-jenis tersebut terbagi dalam 30 family dari tumbuhan yang diketahui kegunaannya sebagai obat tradisional (Tabel VI. diketahui bahwa pengetahuan masyarakat mengenai tumbuhan yang terdapat di dalam petak.00 5.00 20. diketahui bahwa mereka mengenal 36 jenis dan 28 famili dari tumbuhan yang dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat (Tabel VI. dan kayu bakar (Gambar VI.00 15. Seperti kulit batang dari kiteja (Neolitsea javanica) yang dimanfaatkan sebagai pengganti obat nyamuk.

Daun harendong bulu dapat juga digunakan sebagai penghilang rasa pahit dalam makanan yang direbus. kumis kucing (Orthosiphon aristatus (Bl) Miq). daunnya dapat juga digunakan sebagai obat sakit gigi dengan cara daunnya diperes kemudian air yang keluar dari perasan diteteskan pada gigi yang sakit. ada satu jenis tumbuhan yang memiliki ragam pemanfaatan.). iwung koneng (Bambusa vulgaris). atau yang hanya memiliki satu jenis pemanfaatan. menambah tenaga dan nafsu makan. akar eurih (Imperata cylindrica Pers. Dalam pemanfaatannya. serta ada juga ada juga yang dimanfaatkan sebagai tindakan darurat. Namun umumnya. Kirinyuh (Clibadium surinamense) yang digunakan sebagai obat cacar atau luka di telinga. Masyarakat memiliki beragam cara pemanfaatan. melainkan menyebar pada individu-individu. Areuy (Ficania cordata) yang digunakan sebagai kerajinan tangan.). penggunaannya dengan direbus secara bersama-sama. harendong (Melastoma malabatrichum). masyarakat mengenal berbagai macam kegunaan dari satu jenis tumbuhan.).) Dc. maka komposisi jenis godogan yang sering dilakukan oleh masyarakat adalah cecenet (Physalis minima L. daun klewih (Artocarpus comunnis). diketahui bahwa masyarakat mengenal dan memanfaatkan tumbuhan dengan berbagai macam cara pemanfaatannya. Hal ini karena pengetahuan tersebut yang ada tidak saja berasal dari pewarisan melainkan juga dari adanya interaksi dengan masyarakat lain. Jumlah jenis tumbuhan yang diketahui dan dimanfaatkan oleh masyarakat Cidahu dan Girijaya sebagai obat-obatan tradisional lebih banyak dari pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Kasepuhan yang hanya mengetahui 40 jenis tumbuhan (Harada 2006). Dalam pemanfaatan tumbuhan untuk jamu godogan. Perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Cidahu dan Girijaya terkait dengan akses informasi yang lebih terbuka. masyarakat melakukannya dengan berbagai cara: (1) langsung dimakan untuk keadaan darurat. meniran (Phyllanthus niruri L. (3) satu jenis tumbuhan yang dapat digunakan dengan berbagai macam cara. Bila ingin menghilangkan pegal linu.). daun sembung (Blumea balsamifera (L. masyarakat mengenal berbagai macam komposisi godogan. seperti Harendong bulu (Clidermia hirta) selain digunakan sebagai campuran dalam godogan. tergantung pada tujuan pemanfaatan godogan tersebut. untuk gelang. Pengetahuan pemanfaatan tumbuhan di desa Cidahu dan Girijaya tidak terpusat pada satu tokoh. seperti Begonia robusta yang digunakan sebagai pertolongan pertama bagi orang yang keracunan (terasa pusing) akibat menghisap uap belerang terlalu banyak. seperti Kicantung bila akar dan buahnya direbus diyakini sebagai obat kuat bagi laki-laki.Berdasarkan wawancara yang dilakukan di desa Cidahu dan Girijaya. ada yang digunakan sebagai bagian dari campuran jamu atau dimanfaatkan secara tersendiri.). kembang puspa (Schima 44 . (2) pemanfaatan tersendiri yang tidak memiliki manfaat lain. kulit jirak (Symplocos fasciculata Zoll. Berbeda dengan masyarakat Kasepuhan yang masih “terpusat” pada satu tokoh.

yang memiliki ragam pemanfaatan. dan pinang. dan daun alpukat (Persea americana). daunnya dapat juga sebagai sayuran. batangnya berkualitas terbaik untuk dibuat bahan bangunan Selain itu jirak (Simplocos psticulata).) dan akar tekokak (Solanum torvum Swartz. ruyung atau batangnya dapat juga digunakan sebagai tiang bangunan pondok di sawah atau kebun. kiurat. (4) satu jenis tumbuhan yang memiliki berbagai macam pemanfaatan. sehingga dengan menjadikan daun pakis sebagai alas ada keyakinan manusia menyerahkan dirinya sebagai korban harimau. Untuk pohon-pohon besar. Untuk mengobati kencing kurang lancar dan darah tinggi maka komposisi tumbuhannya adalah jumput bau (Ageratum conyzoides). batang lapuk digunakan sebagai media tanaman hias. papan. maka ramuan yang dibuat adalah jukut bau (Ageratum conyzoides).). kulit sintok (Cinnamomum sintoc Bl. Bila ingin menciptakan obat kuat. cecenet (Physalis minima). dan sintok (Cinnamomum sintok) kulitnya dimanfaatkan sebagai bahan campuran jamu godogan. 2.). namun bukan pada pemanfaatannya. atau kusen. masyarakat umumnya mengenal pemanfaatannya sebagai bahan bangunan. jukut bau. Seperti pakis (Cyatea contansminan). Beberapa contoh tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar taman nasional disajikan pada Gambar VI. daun dari pakis ini memiliki mitos tersendiri. seperti. Sedangkan untuk penyakit liver (koneng) ramuan yang dibuat adalah rebusan daun alpukat dan daun sukun. Diantara jenis pohon yang memiliki pemanfaatan selain jenis-jenis diatas adalah Saninten (Castanopsis argentea). Ramuan ini diyakini dapat digunakan sebagai obat kuat. 45 . maka ramuan jenis tumbuhan yang digunakan adalah akar bambu. bahan furniture. merupakan jenis pohon besar yang banyak manfaatnya. karena menurut anggapan masyarakat pada masa lalu harimau bila menyimpan makanannya ditutupi dengan daun ini. Masyarakat tidak berani menggunakan daun dari pakis ini sebagai alas tidur ketika berada di hutan.wallichii (DC) Korth. Bila hendak mengobati sakit disekitar lutut.

46 . 2. lalapan Plantago major Sebagai obat batu ginjal dan obat kuat Harendong (Melastoma malabatrichum) sebagai obat sakit perut Gambar VI.Kipait (Paspalum conjugatum) sebagai obat luka Tempuyung (Sonchus arvensis) sebagai obat ginjal Kumis kucing (Orthosiphon aristatus) sebagai obat sakit kencing batu dan ginjal Cente (Lantana camara) sebagai obat bisul atau bengkak Sntrong (Erectitus valerianifolia) sebagai obat darah tinggi dan penawar racun Antanan (Centella asiatica) sebagai obat kesemutan Takokak (Solanum torvum) Sebagai obat kuat dan darah tinggi. Beberapa jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat di desa Cidahu dan desa Girijaya.

Evodia latifolia Dc. Tumbuhan Bermanfaat yang terdapat di dalam Petak Penelitian. Ex Wall Melastomataceae Athyriaceae Theaceae Rutaceae Moraceae Pandanaceae Rhizophoraceae Proteaceae 19 19 20 21 22 23 24 Pining Kisaoh Kibeusi Pasang Manglit Areuy Kiteja Horntedtia pininga (Bl. Sebagai obat Daun muda dimakan buat obat diare. dan kulitnya ditumbuk. Mikania cordata Neolitsea javanica Bl. Calliandra calothyrsus Meissn Castanopsis javanica (Bl. Buat tali. Getahnya diminum buat obat diare. balok Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Bahan bangunan Kayu bakar.Tabel V. Buat anyaman. Bahan Bangunan (kusen) Kulit batang digerus lalu campur dengan minyak kelapa buat obat koreng Furniture. airnya diminum obat sakit pinggang/obat kuat. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. airnya diminum buat obat diare/radang lambung. Kayu bakar. bahan bangunan 4 5 6 7 8 9 10 Kikeyep Ramu kuya Pakis buah Rotan lilin Kimerak Jara anak Sintok Ardisia lurida Bl. Myrsinaceae Rubiaceae Blechnaceae Arecaceae Fabaceae Fagaceae Lauraceae 11 12 13 14 15 16 17 18 Harendong bulu Pakis benyeur Kiwates Kisampang Kigember Tandang tanah Kitiwu Tenung Clidemia hirta (L. Tiang bangunan Buat kayu bakar. Zingiberaceae Agnifoliaceae Lauraceae Fagaceae Magnoliaceae Asteraceae Lauraceae 25 Karemi Omalanthus populneus (Geisl) pax. kayunya buat bahan bangunan. kusen Kulit batang direbus. Bahan kerajinan (gelang) Kulit kayu buat bahan obat nyamuk. Bahan Bangunan. Cinnamomum sintoc Bl. balok. furniture. No. Lithocarpus sp. kusen.) Val. Ficus sp. Akar direbus. 1. Calamus javanica Bl. Ilex cymosa Blume Lindera bibracteata (Nees) Boerl. Bahan Bangunan (kusen) Buat pakan ternak Daun muda buat lalap.) D. Don Diplazium esculenta Sw. Ex DC. alat tradisional. Eurya acuminata DC. papan. airnya diminum untuk obat kuat. furniture. kusen Bahan bangunan. Euphorbiaceae 47 .) R.) Miq Ardisia crispa (Thunb) DC. Freycinetia angustifolia Bl. Manglietia glauca Bl. Acronychia pedunculata (L. Gynotroches axillaris Bl.) DC.Br. Suku Rutaceae Rutaceae Myrsinaceae Kegunaan Bahan bangunan Furniture. Bahan bangunan. Blechnum orientale L. Helicia robusta (Roxb. 1 2 3 Nama Lokal Kirujug Karag Kiajag Jenis Acronychia laurifolia Bl. Argostema montanum Bl. Kayu buat bahan bangunan dan furniture.

Daun di rebus.) Kalkm. airnya di minum buat obat darah tinggi. airnya diteteskan pada mata buat obat trachum / rabun. Cangkudu 8.) Hassk. Prunus arborea (Bl. Batangnya di potong. Prunus arborea (Bl. Nama Lokal Jenis 1. 48 . Seluruh bagian tanaman direbus. Cangkoreh Dinochloa scandens Familia Melastomataceae Poaceae 3. Buah masak di juss lalu di minum buat obat darah tinggi. buat menghitamkan dan menyuburkan rambut. Salam 7. kusen Buah buat bahan manisan. Cecenet Physalis minima L. dan furniture Kayu buat bahan bangunan dan furniture. air dalam batang buat obat. Symplocos fasciculata Zoll. daun di gerus. Daun muda di gerus ditempelkan pada dahi buat obat demam / kompres.) Merr. Psidium guajava L. Daun di gerus di pakai keramas. airnya diminum.) Kalkm. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Lauraceae Meliaceae Myrtaceae Rubiaceae Myrtaceae 9. 2. Balsaminaceae 4. Schefflera lucida (Bl. Daun di rebus. Obat luka. Solanaceae Kegunaan Daun muda di makan untuk obat sakit perut. Asteraceae 10. buah yang masak jambu merah buat obat demam berdarah. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Alpukat 5. daun digerus lalu ditempelkan pada tempat yang luka. No. Syzygium lineatum (Dc.) Frodin Icacinaceae Saxifragaceae Rosaceae Rosaceae Araliaceae 31 32 33 34 Puspa Canar Jirak Kisireum Schima Wallichii (DC) Korth. Poliosma ilicifolia Bl. airnya di minum. Pacar Impatiens platypetala Lindl.26 27 28 29 30 Kibonteng Kihujan Kawoyang Kawoyang Ramu giling Platea latifolia Bl. airnya di minum buat obat diabet.Ham Weinmannia blumei Planch Theaceae Smilacaceae Symplocaceae Myrtaceae 35 36 Hamirung Peris Asteraceae Cunnoniaceae Furniture Bahan bangunan Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Harendong Melastoma malabatrichum 2. asam urat. Bahan Bangunan Bahan bangunan. Kayu bakar. buat obat darah tinggi dan sakit pinggang. Tumbuhan Bermanfaat yang Diketahui Masyarakat sebagai Obat. Daun di rebus. perasan airnya di minum buat obat diare. buat obat darah tinggi. Tabel V. Jambu batu Persea americana Swietenia mahagoni Syzygium polyantha Morinda citrifolia L.& Perry Vernonia arborea Buch. bunganya sebagai hiasan Bahan bangunan. Mahoni 6. Smilax zeylanica L. Urang aring Eclipta alba (L. furniture.

Harega Bidens biternata Asteraceae 15. Eurih 27. Obat luka. Daun dan batang di rebus airnya diminum buat obat darah tinggi daun direbus. Rane Imperata cylindrica Pers. airnya diminum buat obat memperlancar peredaran darah daun dilalap buat obat darah tinggi dan penawar racun. airnya diminum obat diare Akar dan daun direbus. Kikumat Polygala paniculata Polygalaceae 25. airnya diminum buat obat pegal- 13.11. jika airnya di saring lalu diminum buat obat mah. airnya diminum buat obat kuat. airnya di minum buat obat nafsu makan dan obat perawatan sehabis melahirkan. Daun di rebus. Sembung Lopatherum gracile Blumea balsamifera (L. airnya diminum buat obat batu ginjal. Jotang 19. Tangkur 12. airnya diminum buat obat sakit kencing. buah dilalap buat obat darah tinggi. Obat luka/bisul. 16. Labiatae Malvaceae 17. Sidagori Sida rhombifolia L. Obat luka. Daun dan batangnya direbus. airnya diminum untuk obat kuat. daun digerus lalu ditempelkan pada bagian yang luka. Asteraceae 22. Ceiba pentandra (L. Kipait Paspalum conjugatum Berg. daun digerus ditempelkan di uluhati / dada obat sesak napas. Daunnya di rebus. airnya diperas lalu diminum buat obat tajam/berak darah. daun di gerus ditempelkan pada yang luka buat obat luka. seluruh bagian tanaman direbus. Sintrong 18. Randu Lantana camara L. Jukut bau Ageratum conyzoides L. Cente 23. airnya diminum untuk obat sakit pinggang. seluruh bagian tanaman direbus airnya diminum buat obat pegalpegal. Daun digerus. Meniran Phyllanthus niruri L. daun digerus lalu ditempelkan kebagian yang luka. diminum buat obat setelah melahirkan Seluruh bagian tanaman direbus. Kumis kucing Orthosiphon grandiflorus Bold. Obat bisul/bengkak. daun digerus ditempel kebagian yang sakit. Poaceae 26. Takokak Erechtites valerianifolia Spilanthes iabadicensis Triumfetta rhomboidea Solanum torvum Swartz. daun diremas digosokkan/dibalurkan keperut untuk obat masuk angin. akar direbus. Pungpurutan 20. Verbenaceae Bombacaceae 24. Euphorbiaceae 49 .) Gaerth. Asteraceae 14. daun dikeringkan lalu digodog airnya. Asteraceae Asteraceae Malvaceae Solanaceae 21. Tempuyung Sonchus arvensis L.) Dc. daun digerus kemudian ditempelkan pada tempat yang sakit. Selaginella plana Poaceae Selaginellaceae 28. Poaceae Asteraceae Umbi akar di rebus.

Reunde 40.) Merr. daun direbus. Lampuyang Zingiber aromatica Val. Momordica charantiaca L. Obat eksim. Daun digerus. diminum pada pagi hari ketika baru bangun tidur. Euphorbiaceae Cucurbitaceae Oxalidaceae Costus speciousus (Koen. Pacing Sauropus androgynus (L. Keji beling 30. sarinya sebagai obat sariawan Direbus seluruh bagian sebagai obat kesemutan 31. Oxalis corniculata L. Centella asiatica Begoniaceae Lauraceae Fabaceae Apiaceae 50 . Seluruh bagian tanaman direbus. airnya diminum obat pegal-pegal/sakit pinggang. Daun muda dan buah dimakan buat obat sariawan.) J. Paria 37. Direbus bersama adas dan pulosari. Seluruh bagian tanaman direbus. Tapak liman Elephantopus scaber L. Daun dan akar digerus. Ki urat Sericocalyx crispus Plantago mayor L. kemudian dicampur dengan air. lalu dibiarkan sampai satu malam. Tapak dara Catharanthus roseus Apocynaceae 34. airnya diminum untuk obat kanker dan diabet. Asteraceae 35. Zingiberaceae 32. Daun disayur buat memperbanyak ASI (Air Susu Ibu) Buah disayur untuk obat diabet dan darah tinggi. airnya diperas kemudian diminum buat obat nafsu makan.pegal. airnya diperas lalu diminum obat panas dalam/muntah darah. Katuk 36. airnya diminum obat tambah darah dan diabet. Smith Zingiberaceae 39. Gedang gandul Staurogyne elongata Carica papaya Acanthaceae Caritaceae 41 Begonia 42 Limo 43 Daun Saga 44 Antanam Begonia robusta Litsea cubeba (Lour) Pers Abrus precatorius L. Suji Pleomele angustifolia Liliaceae 33. Acanthaceae Plantaginaceae Daun direbus.E. airnya diminum buat obat batu ginjal dan obat kuat. Sebagai obar rematik Batangnya sebagai obat keracunan belerang Batang kayunya yang harus sebagai penolak ular Daun dikunyah. Umbi akar digerus. umbi akar diparut/digerus lalu ditempelkan ketempat yang luka. 29. airnya diminum buat obat batu ginjal. Calincing 38.

Perebutan dan negosisi kelompok yang ada di masyarakat juga ditunjukkan dari tafsiran mereka tentang suatu tempat peninggalan sejarah. menghilangkan kearifan lokal dan tujuan dari keberadaan Taman Nasional tidak akan tercapai. sebagian besar masyarakat menganggap tempat ini sebagai tempat bersemedinya Eyang Santri. ketidakterpisahkan masyarakat dengan tumbuhan yang ada di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak patut menjadi pertimbangan kebijakan pengelolaan Taman Nasional. Sedangkan bagi masyarakat Islam namun masih kuat tradisi “Sunda”nya tempat-tempat yang diasosiasikan dengan legenda Hindu diganti dengan sosok atau pun juga tokoh penyebar agama Islam di wilayah itu. terutama gunung Salak adalah tempat istimewa. dan ketergantungan akan kehidupan. Dalam tumbuhan terkandung mitos tentang masa lalu kehidupan masyarakat. seperti tentang Dewa-dewa atau juga tokoh-tokoh dalam legenda Hindu. gunung Salak tidak saja sebagai daerah tangkapan air yang menyimpan dan menyediakan kebutuhan masyarakat akan air bersih melainkan juga di gunung Salak tersimpan sejarah. Bagi masyarakat. Di samping itu. Seperti di petilasan Eyang santri. berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan dan kearifan dalam memanfaatkan keanekaragaman yang terdapat di gunung Salak. 51 .BAB VII PENUTUP Pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan tumbuhan menunjukkan adanya saling keterkaitan yang erat antara masyarakat dan lingkungan. Hal ini dilihat dari versi dan “perebutan” mitos yang ada di Gunung Salak. bermanfaat bagi masyarakat untuk mengobati penyakit. harapan. gunung. tempat-tempat yang ada di Gunung Salak di asosiasikan dengan mitos Hindu. Gunung Salak hanya dimaknai sebagai “titipan” dari Tuhan yang harus dirawat dengan baik. disamping bernilai secara ekonomis. Bagi masyarakat yang masih berpegang teguh pada tradisi. juga memiliki nilai-nilai kultural. Tanpa mempertimbangkan hal tersebut. Dengan demikian. Sedangkan bagi kelompok yang lain. Tumbuhan. masyarakat desa Cidahu dan desa Girijaya yang tinggal di kaki gunung Salak mempunyai inisitif yang berbeda dalam menjaga kelestarian gunung Salak. dan mitos yang ada di masyarakat membaur menjadi satu. namun ada juga yang berpendapat bahwa tempat ini merupakan petilasan dari Sanghyang Guru Resi (Kakek dari Guru Minda dalam dongeng Lutung Kasarung). Di tempat ini legenda. Bagi masyarakat desa Girijaya. Gunung Salak juga menjadi saksi atas proses yang ada di masyarakat. sejarah. Di samping pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan. proses islamisasi dan akulturasi budaya Islam dan Hindu-Budha. Gunung salak memiliki nilai penting bagi masyarakat Sunda secara umum dan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung Salak.

setiap kawasan memiliki peranan yang cukup berarti sehingga masing-masing perlu dipertahankan atau dilestarikan. Wardi. atas diperkenankannya mengadakan penelitian di Kawasan T. N.Gunung HalimunSalak. Ucapan terimakasih kepada seluruh staff JICA dan Staff TNG Halimun – Salak yang memberikan banyak informasi tentang kondisi Gn Salak. Bpk Hamzah dan Bpk.Perbedaan ini menambah keragaman tradisi masyarakat. Bpk Iwan. Dimana pembagian kawasan ini sangat penting. Bpk. Bpk. (4) Hutan tanaman. Endang. Informasi di buku ini masih kurang dari sempurna. Saran Dari hasil survey diperoleh beberapa catatan penting yang dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan TN selanjutnya. Perlu upaya yang lebih serius untuk mendorong inisitif pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat dengan mengupayakan kesejahteraan bagi mereka. Anhar yang mendukung terlaksananya proyek kerjasama ini. Kepala T. Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Kepala Pusat dan Kepala Bidang Botani di Pusat Penelitian Biologi-LIPI. memberikan dukungan dan kerjasama selama berlangsungnya survey ini. Madani dan Bpk. karena waktu penjelajahan relatif singkat. Aden Muhidin. Terimakasih juga kami ucapkan kepada Bpk. Undang. sehingga perlu adanya studi ekologi lebih lanjut di beberapa lokasi terutama rute Cimalati dan Rute Pasir Reungit untuk melengkapi data. Ucapan Terimakasih Survey flora gunung Salak ini adalah atas dukungan dan kerjasama antara JICA. TNG Halimun – Salak project dengan Pusat Penelitian Biologi – LIPI. Bpk.P. tanpa mereka tidak lengkaplah buku ini. dapat digunakan sebagai buffer zone antara habitat yang essensial dan daerah luar. dan Bpk. Ismirza. Gunung Halimun-Salak.N. (2) Kawasan hutan pegunungan atas (>1800 dpl) yang tidak terlalu luas di gunung Salak mempunyai vegetasi yang sangat spesifik sehingga keberadaan kawasan ini menjadi sangat penting bagi T. Salak di Desa Giri Jaya dan Desa Cidahu. Ucapan terimakasih ini juga kami sampaikan kepada Bapak dan Ibu yang mendukung dan membantu kami memberikan informasi tentang pemanfaatan flora dan informasi lainnya tentang Gn. Pembagian ini antara lain: (1) Kawasan hutan pegunungan bawah dan atas merupakan hutan primer dan harus dipertahankan untuk menjadi area inti sebagai preservasi hewan dan tumbuhan liar. Bpk. 52 . Nurdin atas kerjasamanya selama survey dilapangan. N. Bpk. Bpk Tatang. Bpk Agus. Emad yang mendampingi selama dilapangan serta tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Ika S. (3) Kawasan hutan pegunungan rendah berfungsi sebagai habitat hidupan liar seperti leopard dan gibbon. Pembuatan plot permanen untuk monitoring berkurang dan hilangnya keanekaragaman hayati juga diperlukan untuk mengetahui pengaruh pemanasan global. Gunung Halimun-Salak.

London: Tavistock. 2006. London.M. Makalah dalam Lokakarya. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Gunung Halimun-Salak National Park Management Project.. Mangunjaya. Anonim. 2007. Harada. Yayasan Obor Indonesia.. 1975. 2007. C. F. Komite Nasional MAB Indonesia. Gerakan Sosial untuk Konservasi Daerah Resapan Air di Kawasan Daerah Aliran Sungai Cisadane di JABOPUNJUR. 33-41. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Adimiharja. Prawiroatmodo. 1996. hal. Etika Jawa.. 15 Mei 1991.Bibliografi Abdillah. Jawa Barat.. Komite Nasional MAB Indonesia. K. 2007. Komite Nasional MAB Indonesia. LIPI. Henny Warsilah. Kartawinata. 2007. Agama Ramah Lingkungan: Perspektif Al-Qur’an. LIPI. 1963-68. Jakarta: LIPI Press... E. Crown.. 1985. Religion as a Cultural System. J. Anthropological Approaches to the Study of Religion. Greigh-Smith. Jakarta. Riswan. Mangunjaya. Pelestarian Daerah Mandala dan Keanekaragaman Hayati oleh Orang Badui. Java (3 vols) . S. Leuweung Titipan: Hutan Keramat Warga Kasepuhan di Gunung Halimun. Mulyati Rahayu. C. Cox. 2001. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak Periode 20072026. Anonim. Taman Nasional Gunung Halimun-Salak: Menyingkap Kabut Gunung HalimunSalak. Puslitbang Biologi-LIPI.. Prosiding Seminar Hasil Litbang SDH.. Batavia. Geertz. M.C. The ecological zone of Indonesia.. K.W. Tumbuhan Obat Taman Nasional Gunung Halimun. Bogor: Backer. Makalah dalam Lokakarya. 2007. G. P.. Dalam Michael Banton. Laboratory Manual of General Ecology. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. 53 . Jakarta: Paramadina. Bogor. M. 1991. Kartawinata.. Salak. 1966. Anwar Ibrahim. Keramat Alami dan Kontribusi Islam dalam Konservasi Alam. Second Edition. Ari Wahyono. Noord. 1967. 1964. 2005. 2007.. Konservasi Alam dalam Islam. & Bakhuizen vd Brink Jr. Anonim. 2006.A. Kodiran. Jakarta: Sub Direktorat Informasi Konservasi Alam. Mirmanto & S. Quantitative Plant Ecology. Dalam: Witjaksono. RM Marwoto & EK Supardiyono (eds). E. Vancouver.. 2005.M. Makalah dalam Lokakarya. LIPI. Bogor: Dephut dan JICA. Mengenal 21 Taman Naional Model di Indonesia. Mirmanto. Iowa. Unpublished report. Struktur dan komposisi hutan DAS Cisadane hulu. Bogor: JICA. August 1975. Departemen Kehutanan dan JICA. Paper presented in the Symposium of Pasific Ecosystem. Imron. Dede Wardiat. M. Taman Nasional Gunung Halimun-Salak: Menyingkap Kabut Gunung HalimunSalak. Indonesia. 13th Pasific Science Congress.G. Fl. Butterworths. K. F. Iskandar. Anonim. Structure and composition of montane rain forest in Awibengkok area. K.

Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.J. Hal. Wiriadinata. Vera Budi Lestari. No. A.G. John Wiley. In: M. Puslit-Biologi LIPI. Munandar. Makalah dalam Seminar Kesejarahan Kota Bogor 6 September 2007. Propinsi Jawa Barat.G. 2007b.P. van. Steenis. D & H. I.R.J van. Flora Pegunungan Jawa. Penelitian ke Cagar Biosfer Cibodas. Sugardjito (eds. S. Munandar.. H.. Dkk. Verhandelingen. Djawatan Meteorologi dan Geofisic.S.A. C.. Pemukiman Kuna di Bogor: Tinjauan Berdasarkan Data Tertulis dan Tinggalam Arkeologis.. Brill. Bogor. LIPI-PHPAJICA. 1951. 1972. 1974. dan Asep Sadeli. 1997. 2003. Bandung: Remaja Rosda Karya. H. C. Rainfall types based on wet and dry period ratios for Indonesia with WesternNew Guinea. Kawasan Konservasi Indonesia. New York. 54 . Simbolon & J.. (Diterjemahkan oleh A.G.. Banten. 7-13. Komite Nasional MAB Indonesia. Yogaswara. Resosudarmo. 2007a.. Kementrian Perhubungan. Steenis. Research and Conservation of Biodiversity in Indonesia. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Bogor: Puslit-Biologi LIPI.Muller-Dombois. II. Mountain Flora of Java. Nasution dan Mahyuddin Mendim. Vol. 2007. Mohammad Fathi Royyani. Laporan Perjalanan. Situs Keramat Alami sebagai Alternatif Pengakuan Hak-Hak Masyarakat Adat: Kasus Kasepuhan Cibedug. Kepariwisataan dan Kebudayaan Kota Bogor. A. 2000. Jakarta. 2007. Schmidt & JHA Ferguson. Ke mana Harus Melangkah: Masyarakat. Dinas Informasi. Ellenberg. Aims and Methods of Vegetation Ecology. Bogor: Padepokan Giri Sunda Pura. LIPI. Makalah dalam Lokakarya. H. 2007. dan Perumusan Kebijakan di Indonesia. Situs Sindang Barang Bukti Kegitan Keagamaan Masyarakat Kerajaan Sunda (Abad ke-13-15 M): Laporan Penelitian awal. The Inventory of Ntural Resources in Gunung Halimun National Park.. Hutan. Menjelajah Nusantara: Ekspedisi Alfred Russel Wallace Abad ke-19. Floristic study of Gunung Halimun National Park.42. Wallace. 2006. H. dan Carol J Pierce Colfer (Peny).A. Yoneda.G. Rais. A.A. Jakarta: Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.).

55 .

R i ch. ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 56 . )R. H el i ci a robusta (R oxb.ex W al l . P andanus furcatus R oxb. )Bl .C . ) A . W ei nm anni a bl um ei P l anch. ) Kosterm .R i ch. C yathea contam i nans (W al l . ) L. N eol i tsea cassi a (L. Li thocarpus sundai cus (B l . Land data of Gunung Salak (Cimalati route) G nung S al ak vegetati on Ci m al ati R oute D ate 2008/3/6. Li thocarpus daphnoi des (B l .C am us S chi m a w al l i chi i (D C . 11 chi kaw a. )D C . ) Loes Pi per aduncum L. ) R ehd. ) Korth. ) L. ) Korth. C al l i andra cal l othyrsus M ei ssn. ) Korth. Gl ochi di on rubrum B l . S ma l l Pi oneer other 890 960 1025 15 1058 5 5 5 7 10 sturbed 17 1111 N aturaldi 4 20 19 P ri m ary sturbed 20 1209 N aturaldi 20 m ary 21 1252 P ri 25-30 m ary 22 1301 P ri 25-30 A gathi s dam m ara (Lam b. P errottei a al pestri s Bl . C al l i andra cal l othyrsus M ei ssn. U rophyl l um arboreum (R ei nw . D om i n. A gathi s dam m ara (Lam b.I w an M em bI C om m ent WP Al t Forest type Pl antati on Pl antati on Pl antati on Pl antati on Forest H i ght S peci es Fam i l y A raucari aceae A raucari aceae Fabaceae Fabaceae Theaceae C yatheaceae P andanaceae C el astraceae Pi peraceae P roteaceae Fagaceae Theaceae Fagaceae Euphorbi aceae C unoni aceae R osaceae Theaceae M el astom ataceae Lauraceae Logani aceae Fagaceae Theaceae Lauraceae Fagaceae R ubi aceae Fagaceae J-Fam i l y ナンヨ ウスギ科 ナンヨ ウスギ科 マメ 科 マメ 科 ツバキ科 ヘゴ科 タ コ ノ キ科 ニシキギ科 コ ショ ウ科 ヤマモガシ科 ブナ科 ツバキ科 ブナ科 ト ウダイグサ科 クノ ニア科 バラ科 ツバキ科 ノ ボタ ン科 クスノ キ科 マチン科 ブナ科 ツバキ科 クスノ キ科 ブナ科 アカネ科 ブナ科 Em erg. P ternandra azurea (B l . C astanopsi sj avani ca (B l . C astanopsi sj avani ca (B l . S chi m a w al l i chi i (D C . ) Korth. ) Kal km an S chi m a w al l i chi i (D C .ex B l . ) C opel . Fagraea el l i pti ca R oxb. P runus arborea (B l . ) B urck. B ei l schm i edi a m adang (B l . C astanopsi s argentea (B l .Lampiran 1. )D C . B r. ) Korth.I sm ai l . )D C . S chi m a w al l i chi i (D C .C .

Li tsea resi nosa B l .ex B l . ) M oore M angl i eti a gl auca B l . 20-25 A cronychi al auri fol i a Bl . Eurya acum i nata D C . D om i n. W ei nm anni a bl um ei P l anch. C astanopsi s argentea (B l . C astanopsi sj avani ca (B l . A cronychi al auri fol i a Bl . ) M uel l . S yzygi um sp. 57 . 35-40 S chi m a w al l i chi i (D C . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y R osaceae Theaceae Fagaceae I caci naceae Laul aceae R utaceae Euphorbi aceae Theaceae Euphorbi aceae S ym pl ocaceae M agnol i aceae S axi fragaceae Logani aceae S ym pl ocaceae M oraceae M oraceae Lauraceae Theaceae R utaceae Fagaceae Theaceae C unoni aceae M yrtaceae Fagaceae R utaceae Theaceae Em erg. )D C . S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . S chi m a w al l i chi i (D C .A rg. M acaranga tri l oba (R ei nw . A cronychi al auri fol i a Bl . Fi cus fi stul osa R ei nw . M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . )D C . S ym pl ocos cochi nchi nensi s (Lour. ) Kal km an S chi m a w al l i chi i (D C . A nti desm a tetrandrum B l .Lampiran 1. ) Korth.A rg. ) Korth. S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y バラ科 ツバキ科 ○ ブナ科 クロタ キカズラ科 クスノ キ科 ミ カン科 ト ウダイグサ科 ツバキ科 ○ ト ウダイグサ科 ○ ハイノ キ科 モクレン科 ユキノ シタ 科 マチン科 ハイノ キ科 ○ クワ科 ○ クワ科 ○ クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ミ カン科 ○ ブナ科 ツバキ科 クノ ニア科 フト モモ科 ブナ科 ミ カン科 ツバキ科 ○ 23 sturbed 1354 N aturaldi m ary 1404 P ri 24 32 m ary 1450 P ri   P runus arborea (B l . 20-25 S chi m a w al l i chi i (D C . ) Korth. ) Korth. Fi cus ful va R ei nw . Eurya acum i nata D C . Li thocarpus sundai cus (B l . Pl atea excel sa B l . ) R ehd. P ol yosm a i l i ci fol i a Bl .ex B l .

) Kurz. S apotaceae P ayena l eeri i (T. I caci naceae Pl atea excel sa B l . )D C .& B . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y バラ科 ユキノ シタ 科 ○ クロタ キカズラ科 バラ科 ミ カン科 ブナ科 ツバキ科 ○ ○ ユキノ シタ 科 ○ カエデ科 ○ クスノ キ科 マメ 科 クルミ 科 ○ ブナ科 ○ クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ○ ミ カン科 ノ ボタ ン科 ユキノ シタ 科 フト モモ科 ブナ科 ○ クルミ 科 ○ ホルト ノ キ科 マキ科 ○ マキ科 ○ クスノ キ科 ○ アカテツ科 33 m ary 1520 P ri 25-35 34 m ary 1615 P ri 25-30 58 . S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl .ex B l . Lauraceae N eol i tsea cassi a (L. G . Fabaceae P arki ai nterm edi a H assk. Jugl andaceae Engel hardi a spi cata Lesch. )D C . S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . ) Kosterm . Lauraceae N eol i tsea cassi a (L. ) T. )M i q. D om i n. Laul aceae Li ndera bi bracteata (B l .ex S oepadm oFagaceae Jugl andaceae Engel hardi a spi cata Lesch. M el astom ataceae A stroni a spectabi l i s Bl . Em erg.D on P odocarpaceae P odocarpus i m bri catus B l . ) Korth. M yrtaceae S yzygi um rostratum (B l . Li thocarpus el egans (B l . A ceraceae A cer l auri num H assk. ) Kal km an R utaceae M el i cope l ati fol i a (D C .& B .H artl ey Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . El P odocarpaceae P odocarpus neri i fol i us D . R utaceae A cronychi al auri fol i a Bl . ) K.S chum . ) B oerl . Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . aeocarpaceae El aeocarpus sphaeri cus (G aertn. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . )D C . ) Kosterm . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y R osaceae P runus j avani ca (T.Lampiran 1. R osaceae P runus arborea (B l . ) H atus. ) Korth.ex B l .

) Kal km an Ol ea j avani ca (B l . P runus arborea (B l . R hododendron sp. A cer l auri num H assk. V acci ni um sp. N eol i tsea cassi a (L. S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y ブナ科 ツツジ科 ○ ツツジ科 ○ クロタ キカズラ科 ○ マキ科 ○ ツバキ科 ○ ノ ボタ ン科 カエデ科 バラ科 モクセイ科 ○ モクレン科 ○ クスノ キ科 ○ マタ タ ビ科 ○ アカネ科 ○ マキ科 ○ マキ科 ○ ノ ボタ ン科 ツバキ科 ○ ブナ科 クロタ キカズラ科 ミ ズキ科 ヒ ルギ科 ツツジ科 ○ クスノ キ科 ○ ジンチョ ウゲ科 ○ アカネ科 ○ ツツジ科 ○ 35 m ary 1705 P ri 36 m ary 1825 P ri C astanopsi sj avani ca (B l . V acci ni um bancanum M i q. D om i n. P odocarpus i m bri catus B l . S chi m a w al l i chi i (D C . Pl atea excel sa B l . C astanopsi sj avani ca (B l . D aphne com posi ta (L. )G i l g. 20-30 P l atea excel sa B l . ) Kosterm . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y Fagaceae Eri caceae Eri caceae I caci naceae P odocarpaceae Theaceae M el astom ataceae A ceraceae R osaceae Ol eaceae M agnol i aceae Laul aceae A cti ni di aceae R ubi aceae P odocarpaceae P odocarpaceae M el astom ataceae Theaceae Fagaceae I caci naceae C ornaceae R hi zophoraceae Eri caceae Lauraceae Thym el aeaceae R ubi aceae Eri caceae Em erg. P odocarpus neri i fol i us D . f.Lampiran 1. Lasi anthus l aevi gatus B l . )D C . R hododendron sp. 59 .D on A stroni a spectabi l i s Bl . M asti xi a pentandra B l . ) Knobl . S auraui a bracteosa D C . A stroni a spectabi l i s Bl . )D C . 20 P odocarpus i m bri catus B l . S chi m a w al l i chi i (D C . M angl i eti a gl auca B l . Li tsea noronhae B l . ) Korth. G ynotroches axi l l ari s Bl . P sychotri a robusta B l . ) Korth.

) R ehd. Lauraceae P ersea ri m osa (B l . C yatheaceae C yathea contam i nans (W al l . Em erg. D om i n. Li thocarpus el egans (B l . C yatheaceae C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . K.ex B l . ) Korth. )D C .Lampiran 2.ex S oepadm o Fagaceae Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . R hi zophoraceae G ynotroches axi l l ari s Bl . M oraceae Fi cus padana B urm . ex B l . Fam i l y Pi naceae Fagaceae C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. )O . P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art. Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . Euphorbi aceae A nti desm a tetrandrum B l . Fagaceae C astanopsi s argentea (B l . f. A cti ni di aceae S auraui a bracteosa D C . A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l .ex B l . )D C . G esneri aceae A gal m yl a parasi ti ca (Lam k) O .A rg.& D e V ri ese N aturaldi sturbed 10-15 Li thocarpus sundai cus (B l . M aratti aceae A gi opteri s evecta H offm . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . ) Kosterm .A rg.I sm ai l . ) H atus. Fagaceae C astanopsi s argentea (B l . ) C opel . El aeocarpaceae El aeocarpus sti pul ari s Bl . P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art. Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . Land data of Gunung Salak (Pasir reungit route) G nung S al ak vegetati on P asi r reungi t R oute 2008/3/7 D ate chi kaw a. Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l .ex B l . K. ) Korth. P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art. M el astom ataceae M edi ni l l a speci osa R ei nw . S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . )D C .I w an M em b I C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Pl antati on 5-10 P i nus m erkusi i Jungh. S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y マツ科 ブナ科 ○ クノ ニア科 ツバキ科 ○ ウコ ギ科 ○ ○ ト ウダイグサ科 ○ ホルト ノ キ科 ヤシ科 ヘゴ科 R D B ヘゴ科 ユキノ シタ 科 ○ ブナ科 ツバキ科 ヤシ科 ブナ科 ブナ科 ノ ボタ ン科 イワタ バコ 科 ナンヨ ウスギ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ヒ ルギ科 ブナ科 ヤシ科 クスノ キ科 マタ タ ビ科 クワ科 25 26 sturbed 27 1150 N aturaldi 15 sturbed 28 1200 N aturaldi 10-15 60 .

R utaceae M el i cope l ati fol i a (D C . K.H artl ey A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l .ex S cheff. f.ex S oepadm o Fagaceae Euphorbi aceae A nti desm a tetrandrum B l . ) Korth. )D C . Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . Li thocarpus el egans (B l . A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l . H am am el i daceae Al ti ngi a excel sa N orona M yrsi naceae R apanea hassel ti i (B l . D om i n.Lampiran 2. S ym pl ocaceae S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . )O . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . Fagaceae C astanopsi s argentea (B l . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type P ri m ary forest Forest H i ght S peci es Fam i l y H am am el i daceae Al ti ngi a excel sa N orona Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . ) P ers. M oraceae Fi cus padana B urm . K. ) T. G . )O . ) Korth. 61 . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y マンサク科 ○ ツバキ科 ○ ブナ科 ト ウダイグサ科 ウコ ギ科 クワ科 ブナ科 ブナ科 ○ ト ウダイグサ科 ミ カン科 ウコ ギ科 ハイノ キ科 ○ ツバキ科 ○ マンサク科 ヤブコ ウジ科 クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ノ ボタ ン科 クワ科 ○ ○ ボタ ン科 M el astom ataceae ノ ○ ○ 29 1250 20 m ary 30 1300 P ri 20-25 sturbed 31 1360 N atruraldi 10-15 M el astom a syl vati cum B l . ) H atus. M oraceae Fi cus del toi dea Jack Em erg. )D C . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . M el astom ataceae A stroni a spectabi l i s Bl . ) Korth. ) M ez Laul aceae Li tsea cubeba (Lour. Euphorbi aceae Gl ochi di on rubrum B l .

)Ni el sen 42 sturbed 1358 N atyraldi Gl ochi di on arborescens Pi nanga j avana B l .ex B l .ex B l . P ol yosm a i l i ci fol i a Bl .R obi nsonC om posi Euphorbi aceae M acaranga rhi zi noi des (B l . D om i n. C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. A ral i aceae A rthrophyl l um di versi fol i um B l . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . M oraceae Fi cus padana B urm . Theaceae Eurya acum i nata D C . f.A rg.I sm ai l . Eurya acum i nata D C . Fabaceae P arasari anthes fal catari a (L. ) S . Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . A qui fol i aceae Fi cus padana B urm . f. )R.C . W ei nm anni a bl um ei P l anch. ) Korth.S akai& N agam . Euphorbi aceae M acaranga tri l oba (R ei nw .Lampiran 3. M oraceae Fi cus fi stul osa R ei nw . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C .Ki ng & H .R i ch. Land data of Gunung Salak (Cang Kaung route) G nung S al ak vegetati on C ang Kuang R oute 2008/3/12 D ate M em bI chi kaw a. Euphorbi aceae A recaceae C unoni aceae S axi fragaceae Theaceae ナンヨ ウスギ科 ツバキ科 クノ ニア科 ウコ ギ科 ツバキ科 クノ ニア科 クワ科 ツバキ科 モチノ キ科 ト ウダイグサ科 ショ ウガ科 バショ ウ科 キク科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 クノ ニア科 クワ科 ツバキ科 マメ 科 ト ウダイグサ科 ヤシ科 クノ ニア科 ユキノ シタ 科 ツバキ科 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ RDB ○ ○ ○ 62 . Theaceae Eurya acum i nata D C .A rg. ) L. ) Korth. M usaceae M usa acum i nata C ol l a tae C hrom ol aena odorata (L. Zi ngi beraceae Etl i ngera cocci nea (B l .I w an C om m ent WP Al t Forest type N P G ate Javana S pa G rassl and Forest H i ght S peci es Fam i l y J-Fam i l y Em erg. C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. M .A rg. S ma l l Pi oneer other 37 38 39 1127 1165 1221 40 and 1250 G rassl 41 sturbed 1304 N aturaldi A raucari aceae 15-20 A gathi s dam m ara (Lam b. C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. ) M uel l . ) M uel l .

30-35 C astanopsi s argentea (B l . S chi m a w al l i chi i (D C .ex B l . ) C hoi sy O m al anthus popul neus (G ei sel ) P ax A cer l auri num H assk. Fi cus fi stul osa R ei nw . C astanopsi s argentea (B l .ex B l . )M i q. )D C . S ym pl ocos odorati ssi m a (B l . ) M uel l .Lampiran 3. ) Korth. A stroni a spectabi l i s Bl . 63 . M acaranga tri l oba (R ei nw . G ynotroches axi l l ari s D ysoxyl um densi fl orum (B l . C aryota rum phi ana B l . 20-25 Q uercus l i neata B l . A rdi si a ful i gi nosa B l . P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . Sl oanea si gun (B l ) K. C astanopsi s tungurrut (B l .S chum . C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . A stroni a spectabi l i s Bl .A rg. )O . A stroni a spectabi l i s Bl .ex M art. S ma l l Pi oneer J-Fam i l y ハイノ キ科 ノ ボタ ン科 クワ科 ○ マタ タ ビ科 ヤシ科 ト ウダイグサ科 バショ ウ科 M usaceae P andanaceae タ コ ノ キ科 Fagaceae ブナ科 ○ Fagaceae ブナ科 Fagaceae ブナ科 ○ M el astom ataceae ノ ボタ ン科 Theaceae ツバキ科 R hi zophoraceae ヒ ルギ科 M el i aceae センダン科 ○ S ym pl ocaceae ハイノ キ科 ○ Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 A ceraceae カエデ科 El aeocarpaceae ト ウダイグサ科 Fagaceae ブナ科 ○ Fagaceae ブナ科 ○ S axi fragaceae ユキノ シタ 科 M el astom ataceae ノ ボタ ン科 M el i aceae センダン科 ○ A ral i aceae ウコ ギ科 ○ M yrsi naceae ヤブコ ウジ科 ○ C yatheaceae ヘゴ科 other 43 m ary 1382 P ri 44 sturve 1403 N aturaldi S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . D ysoxyl um densi fl orum (B l . )M i q. M usa acum i nata C ol l a P andanus furcatus R oxb. )D C . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y S ym pl ocaceae M el astom ataceae M oraceae A cti ni di aceae A recaceae Euphorbi aceae Em erg. M acropanax di sperm us (B l . K. Q uercus l i neata B l . S auraui a bracteosa D C . D om i n. )D C .

5 57. 2 16. 6 47. 7 D 106 106 106 106 106 106 106 106 ti me 8: 27 9: 02 9: 20 9: 31 9: 45 10: 03 10: 25 11: 38 WP 37 38 39 40 41 42 43 44 1127 1165 1221 1250 1304 1358 1382 1403 Lon M S acc 42 52. 3 D 106 106 106 106 106 106 Lon M 41 41 41 42 42 42 S acc 34. 7 49. 2 25. 3 45 43. 5 40. 9 19. 8 42 35. 3 1 13. 1 55 50. 2 47. 1 40. 8 11. 3 25. 7 acc * * * * P asi r reungi t Al t D ate 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 C ang K uang Al t D ate 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 acc: ti me 9: 57 10: 26 10: 46 11: 34 12: 07 12: 55 WP 25 26 27 28 29 30 1045 1101 1150 1200 1247 1302 D 6 6 6 6 6 6 Lat M 41 41 42 42 42 42 S 6. 8 42 48. The location of ground survey point Ci m al ati Al t D ate 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 ti me 9: 53 10: 35 10: 46 11: 09 11: 23 11: 38 12: 00 12: 52 13: 11 9: 23 9: 53 10: 29 11: 09 12: 08 WP 5 15 17 19 20 21 22 23 24 32 33 34 35 36 890 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1519 1615 1705 1825 D 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 Lat M 44 44 44 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 S 33. 1 55. 8 45. 9 53. 5 42 40. 2 10. 6 Lat D M 6 6 6 6 6 6 6 6 44 44 44 44 44 44 43 43 S 46. 6 39. 4 20. 1 35.Lampiran 4. 6 25. 1 27. 6 7. 9 50. 5 The accuracy of GPS data were usually 10 15m. 4 17. 1 24. 5 39. 1 32. 64 . 8 42 29 42 23. Since the satellite condition. 8 D 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 Lon M 45 45 45 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 S 26 9 3. 9 1. 6 57. Altitude data of WP 32-35 were measured by barometer. 6 43. 4 35. 7 30. 2 20. 7 30. 9 48. 1 42 54. 8 0. 9 42 30.

Strobilanthes repanda Bl. Gendarussa vulgaris Nees Hemigraohis javana Pseudoranthenum acuminatissimum (Miq.) King Polyalthia subcordata (Bl. Semecarpus heterophylla Bl. 2) Tim JICA dan tim Puslit Biologi. Mangifera indica L. Cyathula prostrata (L. E. Straurogyne elongata (Bl.) O. Chev.& Thoms.: 1) Mirmanto. Sericocalyx crispus (L. Saurauia bracteosa DC.) Hook. Gluta renghas L.) Bl. Mangifera foetida Lour. Halimun1 + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Salak2 + Plot3 Dimanfaatkan4 + + + ACERACEAE ACTINIDACEAE + + AGAVACEAE ALANGIACEAE AMARANTHACEAE ANACARDIACEAE ANNONACEAE APIACEAE APOCYNACEAE + + 65 .Lampiran 5. Alstonia spectabilis Alyxia reinwardtii Bl.) Rehder Alangium javanicum Alangium rotundifolium (Hassk. 3) Plot gunung Salak. Buchanania arborescens (Bl.) Bremek. Strobilanthes paniculata (Nees) Miq. Acer laurinum Hassk.) Urb. Wiriadinata (19). Daftar jenis tumbuhan yang tercatat di kawasan gunung Halimun dan gunung Salak. 4) SUKU ACANTHACEAE Species Agrostema boragineum Dflugossa filiformis (Bl. & H. Polyalthia lateriflora (Bl.) Radlk.) Bremek.) A. Goniothalamus macrophyllus (Bl. Alstonia scholaris (L.K Strobilanthes blumei Bremek Strobilanthes cernua Bl. Straurogyne bibracteata Bl.) Bl.f.) Bloem. Orophea hexandra Bl. Alangium chinense (Lour. Centela asiatica (L.Br.) R. Saurauia cauliflora DC Saurauia nudiflora DC Saurauia pendula Bl.) Bl. Cordyline fructicosa (L. Ket. Achyranthes aspera L. Saurauia reinwardtiana Bl.

Calamus reinwardtii Bl. Scindapsus hederaceus (Zoll. Typonium sp. Nenga pumila (Mart. Scindapsus pictus Hassk. Raphidophora montana (Bl. Schefflera aromatica (Bl. Ait) Vent. Kopsia arborea Melodinus orientalis Bl. Calamus rhomboideuss Bl. Alocasia longiloba Miq. Schefflera lucida (Bl.) Wendl.) Frodin Trevesia sundaica Miq. Homalomena humilis (Jack) Hook. & Mor.) Schott. Schefflera fascigiata (Miq. Rich Calamus adspersus Bl. Caladium bicolor (W. Caryota mitis Lour. & Mor.K.) Miq. Daemonorops melanochaetes Bl.) Seem. Calamus javensis Bl.) Miq. Arum sp. Arthrophyllum diversifolium Bl. Voacanga grandiflora Willubeia apiculata Ilex cymosa Bl. Anadenrum microstachyum (Miq. Calamus heteroides Bl. Tylophora villosa Bl.) Back. Macropanax concinnus Miq. Homalomena cordata Schott.) Zoll. Schismatoglottis calyptrata (Roxb. Anthurium andreanum Linden Arisaema filiformis Bl. Agathis dammara (Lamb.APOCYNACEAE AQUIFOLIACEAE ARACEAE ARALIACEAE ARAUCARIACEAE ARECACEAE Chilocarpus suaveolens Bl. Calamus ciliaris Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 66 .) Harms. Macropanax dispermum (Bl.f Homalomena pendula Pothos sp. Licuala spinosa Thun. Caryota rumphiana Bl. Raphidophora korthalsii Schott.) O.) L.C. Polyscias nodosa (Bl.

King & H.M. Begonia longifolia Bl. Elephantopus scaber L.f. Robinson Clibadium surinamense L.) D.) Decne Discidia rumularifolia Discidia truncata Decne Hoya Hoya macrophylla Bl. Eupatorium triplinerve Vahl Mikania micranta Sonchus arvensis L. Sphaeranthus indicus L.B. Bidens biternata Blumea balsamifera (L.) R.) Steud.) D. Spilanthes acmella Spilanthes iabadicensis + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + ATHYRIACEAE BALANOPHORACEAE BALSAMINACEAE BEGONIACEAE Vernonia arborea Buch-Ham Diplazium bantamense Diplazium cordifolium Balanophora globosa Jungh. Impatien platypetala Lindl.C. Begonia bracteata Jack Begonia isoptera Dryand. Erechtites valerianifolia Erigeron sumatrensis Retz.) S.ARECACEAE ARISTOLOCHIACEAE ASCLEPIADACEAE ASTERACEAE Pinanga coronata Bl. Blumea lacera (Burm. + + + + + + + + + + + + + + 67 . Ageratum conyzoides L. Impatien chonoceras Hassk.C. Impatien walleriana Hook. Discidia punctata (Bl. Eupatorium inulifolium H. Begonia multangula Bl. ex Mart) Bl.) Hassk. Impatien javensis (Bl. Pinanga javana Bl. Crossocephalum crepidioides (Bth. Chromolaena odorata (L.ex Bl Aristolochia sp.f. Moore Eclipta alba (L.K. Plectocomia elongata Mart. Eupatorium odoratum Eupatorium riparium Reg. Hoya multiflora Bl.

f.Gray Trichosantes sumatrana Cogn. Canarium denticulatum Lobelia angulata Forst.) Hall. Viburnum coriaceum Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 68 . Trichosantes villosa Bl. Burmania lutescens Becc. Viburnum lutescens Bl. ex Link Sarcandra glabra Calophyllum soulattri Garcinia celebica L. Garcinia sp. Capparis cantoniensis Lour. Commelina paludosa Bl Forrestia mollissima (Bl. Perrottetia alpestris (Bl.Begonia muricata BEGONIACEAE BLECHNACEAE BOMBACACEAE BURMANIACEAE BURSERACEAE CAMPANULACEAE CAPPARACEAE CAPRIFOLIACEAE Begonia robusta Bl. Trichosantes tricuspidata Lour. Mastixia pentandra Bl. Nyssia javana (Bl. CELASTRACEAE CHLORANTACEAE CLUSIACEAE Euonymus javanicus Bl. Garcinia diodica Bl.) Bl.) Swat Trichosantes ovigera Bl.Br.f. Chloranthus elatior R. Pollia hasskarlii Rolla Rao CONVOLVULACEAE CORNACEAE Ipomoea aquatica Forsk Merremia umbellata (L. Zehneria indica CUNNONIACEAE Weinmania blumei Planch.) Kds. Viburnum sambucinum Bl. CUCURBITACEAE Sechium edule (Jacq. Blechnum orientale L.) Loes. COMBRETACEAE COMMELINACEAE Terminalia microcarpa Decne Commelina diffusa Burm. Mastixia trichotoma Bl. Neesia altisima (Bl. Trichosantes quinquangulata A.) Wang.f.

A.) K. Scleria melanostema Scleria pubescens Scleria pubescens DAPHNIPHYLLACEAE DILLENIACEAE DIOSCOREACEAE Daphniphyllum glaucescens Bl.) Kurz. Sloanea sigun (Bl. Antidesma tetandrum Bl. Kylinga monocephala Rottb. Gahnia javanica Zoll ex Mor.) M. Dipterocarpus hasseltii Diospyros buxifolia Elaeagnus latifolia L.Schum DIPTEROCARPACEAE EBENACEAE ELAEAGNACEAE ELAEOCARPACEAE + ERICACEAE Rhododendron javanicum (Bl.CYATHEACEAE Cyathea contaminans (Wall. & B. Schum. Elaeocarpus stipularis Bl. Breynia microphylla (T.) Benn. Dillenia javanica Tetracera indica Dioscorea alata L. Hypolytrum humile (Steud.) K. Scleria laevis Retz.) Burck. Cyathea rachiborskii + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + CYPERACEAE Carex baccan Nees Cyperus kyllinga Endl. Elaeocarpus ascronodia Master Elaeocarpus oxypyren K. Hypolytrum nemorum (Vahl) Spreng. Elaeocarpus petiolatus (Jack) Wall. Aporusa frutescens Aporusa sphaeridophora Merr. Elaeocarpus sphaericus (Gaertn. Dioscorea numularia Lmk. Rhododendron malayanum Jack Rhododendron sp. Fimbristylis sp. & V. EUPHORBIACEAE Antidesma minus Bl. Cyathea junghuhniana (Kuntze) Copel. + + 69 . Blumeodendron tokbrai (Bl.) Copel. Antidesma montanum Bl.

Albizia falcataria (L.EUPHORBIACEAE Bridelia glauca Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + FABACEAE Abrus precatorius L.) Merr.) Fosberg Archidendron clypearia (Jack) Niels. Claoxylon glabrifolium Miq. f. Arg. Omalanthus populneus Zoll. Phyllanthus niruri L. Bridelia minutiflora Hook.) M. Claoxylon polot (Burm. Croton laevifolius Bl.) MA Macaranga tanarius (L. Pithecellobium ellipticum (Bl.) Nielsen Parkia intermedia Hassk. Sauropus androgynus (L.f.) Hook.0 Roxb. Pimeleodendron pavorioides Sapium seliferum (L. & Mor.A. Phyllanthus urinaria L. Glochidion philippicum Glochidion rubrum Glochidion rubrum Bl.A. Glochidion molle Bl.) Hassk.) M. Glochidion arborescens Bl. ex Bl.) Merr.f. Archidendron fagifolium Calliandra calothyrsus Meissn Calliandra tetragona Dalbergia tamarindifolia Erythrina orientalis Milletia dehiscens Milletia sericea Mimosa pigra Mimosa pudica Parasarianthes falcataria (L. Mallotus paniculatus (Lamk) Muell. Macaranga rhizinoides Macaranga rhizinoides (Bl. Macaranga triloba (Reinw. Glochidion sericeum (Bl. Ostodes panniculata Bl. 70 .

Lithocarpus teijsmanii (Bl.) Rehd. Aesynanthus radicans Jack Agalmyla parasitica (Lamk) O. Pangium edule Reinw. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + FAGACEAE Castanopsis acuminatissima (Bl. Cyrtandra picta Bl.) Hatus.) A. Lithocarpus daphnoides (Bl.FABACEAE Pterocarpus indicus Willd. Aesynanthus horsfieldii R. Quercus lineata Quercus pyriformiv Steen.) A. Didymocarpus asperifolia (Bl. GNETACEAE HAMAMELIDACEAE HYPERICACEAE Gnetum cuspidatum Altingia excelsa Noronha Cratoxylum sumatranum 71 . FERNS FLACOURTIACEAE Oleandra pistilaris Pteridium aquilinum Casearia tuberculata Bl.) Bakh.Br.) DC.D. Cyrtandra rostrata Bl. Castanopsis argentea (Bl. ex Soepadmo Lithocarpus spicatus Lithocarpus sundaicus (Bl. Casearia velutina Flacourtia rukam Zoll. Quercus gemelliflora Bl. GENTIANACEAE GESNERIACEAE Gentiana quadrifaria Bl.K. Cyrtandra sandei De Vr. Cyrtandra coccinea Cyrtandra glabra Cyrtandra oblongifolia Bth. Sphatolobus ferruginensis Bth.K. Cyrtandra sulcata Bl. Cyrtandra pendula Bl. Camus Lithocarpus elegans (Bl. ex Hk.f.) DC. Castanopsis tungurrut (Bl. Sphatolobus littoralis Hassk.) Rehd. Didymocarpus zollingeri (Clarke) O.C.) DC Castanopsis javanica (Bl. & Mor.

) Kosterm.) Val. Anisomeles indica (L.) O. Litsea tuberculata (Bl. Litsea grandis Litsea javanica Bl. Litsea noronhae Bl. Gomphandra javanica (Bl.) Boerl. Platea excelsa Bl.f Leea rubra Bl. Dianella javanica (Bl. Lindera bibracteata (Nees) Boerl. Litsea resinosa Bl.) Pers. Molineria latifolia Herb. Stemonurus secundiflorus Bl.) Bl.) Herb. LECYTHIDACEAE LEEACEAE LILIACEAE Planchonia valida (Bl. Neolitsea cassia (L. Molineria capitulata (Lour. Plectranthus galeatus Scutellaria discolor + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + LAURACEAE Beilschmiedia madang (Bl.) Merr.) Bl.) Kth. Engelhardia spicata Lesch. ex Kurz Pleomele angustifolia 72 . Disporum cantoniense (Lour. Litsea tomentosa Bl. Litsea mappacea (Bl.) Merr Nothaphoebe coriacea Persea rimosa (Bl. Orthosiphon grandiflorus Bold. Neolitsea trilivervia (Bl. Litsea accendens Litsea cubeba (Lour. ex Bl. Litsea diversifolia Bl. Cinnanomum sintoc Bl.) Herb. Platea latifolia Bl.) Boerf. Leea indica Burm.K.) Kosterm. + + + + + + + + + + + IRIDACEAE JUGLANDACEAE LAMIACEAE Trimeza martinicensis (L. Litsea ferruginea Bl. Litsea elliptica Bl.HYPOXIDACEAE ICACINACEAE Curculigo orchimoides Gaertn.

Marantha arundinacea Tuss. Fagraea lanceolata Bl.K. MELASTOMATACEAE Astronia spectabilis Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MAGNOLIACEAE Magnolia candolii Bl.) O. Memecylon myrsinoides Bl.Schum. Creochiton bibracteata (Bl.ex Bl. Medinella exima Bl. Manglietia glauca Bl. 73 . Memecylon excelsum Bl. Medinella laurifolia Bl.f.) K.Forst. Geniostoma arborescens (Reinw. Memecylon oleaefolium Bl. Medinilla speciosa Reinw. Dissochaeta reticulata Bl. Fagraea elliptica Roxb. Medinella sp.) Bl. Triumfetta rhomboidea Urena lobata MARANTHACEAE Donax cannaeformis (G. Dissochaeta gracillis (Jack) Bakh. Don Melastoma polyanthum Melastoma sylvaticum Bl. Melastoma normale D. Fagraea fragrans Bl. Dissochaeta leprosula (Bl. Marumia muscosa Bl. MALPHIGIACEAE MALVACEAE Hiptage benghalensis (L. Michelia montana Bl. Pachycentria sp.) Kurz Sida acuta Sida rhombifolia L.) Bl. Omphalopus fallax (Jack) Naud. Clidemia hirta D.LILIACEAE LOBELIACEAE LOGANIACEAE Pleomele elliptica Lobelia sp. Melastoma affine D. Agiopteris evecta Hoffm. Don Melastoma malabathricum L. Don.

Ex Bl. Dysoxylum excelsum Bl. Ficus fulva Reinw.f.) Miq. Ficus pisocarpa Ficus ribes Reinw.) Spreng. Dysoxylum alliaceum Bl. ex Bl.f.) Merr. Ex Bl.) Burck. Stephania japonica var. Artocarpus integra Ficus alba Reinw. discolor MONIMIACEAE MORACEAE Kibara coriacea Artocarpus elasticus Reinw.) Merr. Ficus fistulosa Reinw. Ficus lepicarpa Bl. Ficus montana Burm.f. Stephania corymbosa (Bl. ex Bl. Toona sureni (Bl. Ficus fulva Reinw.) Spreng. Artocarpus gemeziana Wall. Dysoxylum densiflorum (Bl. Rhodamnia sp. Stephania capitata (Bl. Melia azedarach Sandoricum koetjapi (Burm. Ficus globosa Bl. Ficus grosullarioides Ficus involucrata Bl. Sonerilla heterophylla Jack + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MELIACEAE Aglaia sp. Ficus padana Burm. ex Trec. ex Bl. + + + + MENISPERMACEAE Fibraurea chloroleuca Perycampylus cauliflora (Miers) Diels Perycampylus glaucus (Lam.) Merr.MELASTOMATACEAE Pternandra azurea (Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 74 . Ficus ampelas Ficus aspericula Ficus deltoidea Jack Ficus elastica Nois ex Bl. Ficus sagitata Vahl. Ficus sinuata Thunb.

Ardisia odotophylla Ardisia pendula Mez Ardisia sanguinolenta DC Labisia pumila (Bl.) D. Syzygium lineatum (Bl.) D.&V. Poikilospermum suaveolens (Bl.) Merr & Perry Syzygium gracilis (Korth. Ardisia javanica Ardisia laevigata Bl. + NEPENTHACEAE Nepenthes gymnophora Reinw. ex Scheff Rapanea hasseltii (Bl.MORACEAE MUSACEAE MYRISTICACEAE Ficus variegata Bl. Maesa ramentacea Wall.C.) Duthie Eugenia fascigiata Eugenia pycnantum Syzygium antisepticum (Bl.) F. Myrsine hasseltii Bl. Syzygium rostratum (Bl.) D.) Merr & Perry Syzygium polyanthum Syzygium racemosum (Bl.C. ex Nees 75 .R.& G.C. Knema laurina (Bl. Syzygium suringarianum (K. Syzygium sp.) Warb.Vill. Musa acuminata Colla Musa salaccensis Zoll. Tristania sp.) Amrh. Horsfieldia glabra (Bl.) Amsh.) Warb.Forst Eugenia densiflora (Bl. Myrsine avensis (Bl.) Merr. Maesa latifolia (Bl.) Mez + + + + + + + + + + + + + MYRSINACEAE + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MYRTACEAE Cleistocalyx operculata Merr. & Perry Decaspermum fruticosum J.) Amsh. ex Scheff. Horsfieldia irya Knema cinerea (Poir) Warb. Ardisia fuliginosa Bl.) D. Syzygium syzygioides (Miq.C. Myristica guatteriifolia DC Ardisia crispa (Thunb) DC.

) Lindl.) Andr. Bulbophyllum elongatum Bulbophyllum flavescens Bulbophyllum flavidiflorum Bulbophyllum lobbii Lindl.) Knobl. Chionanthus ramiflorus Jasminum multiflorum (Burm. Appendicula reflexa Arundina graminifolia Bulbophyllum Bulbophyllum absonditum J.f.J. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + ONAGRACEAE ORCHIDACEAE Ludwigia linifolia Vahl. Bulbophyllum macranthum Bulbophyllum obtusipetalum Bulbophyllum odoratum Bulbophyllum ovalifolium Bulbophyllum pahudii Bulbophyllum petiolatum Bulbophyllum scotifolium Bulbophyllum stelis Bulbophyllum unguiculatum Bulbophyllum violaceum Bulbophyllum xylocarpi Calanthe abbreviata 76 . Apostasia nuda Appendicula alba Appendicula buxifolia Appendicula congenera Appendicula cornata Appendicula cristata Appendicula pendula Appendicula ramosa Bl. Agrostophyllum bicuspidatum Agrostophyllum denbergii Agrostophyllum laxum J.S Bulbophyllum aliifolium Bulbophyllum cernuum (Bl. Olea javanica (Bl.J.Sm.OLEACEAE Chionanthus montanus Bl.

+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 77 . Dendrochilum exalatum Dendrochilum pallideflavens Dilochia wallichii Lindl. Ceratostylis capitata Ceratostylis subulata Chelonistele sulphurea (Bl.S.J.) Lindl. Cryptostylis arachnites Cymbidium ensifolium Cymbidium lancifolium Hook.ORCHIDACEAE Calanthe orchimoides Ceratochilus biglandulosus Bl.) Pfitz.) Lindl. Dendrobium aloifolium Dendrobium crumenatum Dendrobium excavatum Dendrobium hymenophyllum Lindl. Dendrobium lobulatum Dendrobium mutabile Dendrobium pandaneti Dendrobium paniferum Dendrobium reflexitepalum J. Cymbidium pubescens Lindl. Coelogyne fuliginosa Coelogyne longifolia Lindl.) O. Eria flavescens (Bl.K. Dendrochilum brachyotum Dendrochilum cornutum Bl. Dipodium scandens Disperis javanica Eria biflora Eria erecta (Bl. Coelogyne miniata Coelogyne simplex Coelogyne speciosa Corybas pictus (Bl. Dendrobium spathilingue Dendrobium tenellum (Bl.) Lindl. Dendrobium tetraede Dendrochilum aurantiacum Bl.

Flickingeria fimbricata Goodyera reticulata (B.) Lindl.J.S. Oberonia imbricata Oberonia microphylla Oberonia similis Octarrhena parvula Phaius flavus (Bl.) Lindl.) Bl.) Lindl. Pholidota imbricata Pholidota pallida Plocoglottis javanica Bl. Malaxis koordersii Malaxis ridleyi Micropera callosa Microsaccus affinis Nephelaphyllum pulchrum Nephelaphyllum tenuiflorum Bl.) Bl. Pholidota globosa (Bl.) Lindl. Podochilus muricatus Podochilus serpyllifolius (Bl. Podochilus tenuis Polystachya concreta + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 78 . Ait. Liparis compressa Liparis gibbosa Liparis pallida (Bl.ORCHIDACEAE Eria junghunii Eria lobata Eria oblitterata Eria robusta Eria tenuiflora Erythrodes brevicalcar Eulophia nuda Lindl. Phaius tankervillae (W.) Lindl. Liparis rheedii Macodes petola (Bl. Lecanorchis javanica Lecanorchis multiflora Lepidogyne longifolia Liparis bilobulata J.

S. Thrixspermum anceps Thrixspermum conigerum Thrixspermum pensile Thrixspermum purpurascens Thrixspermum squarrosum J.S.) Hook. Pandanus nitidus Pandanus tectorius Soland.) Miq.f. Freycinetia javanica Bl. Freycinetia sp. Piper nigrescens Piper retrofaractum 79 . Passiflora foetida L. & De Vriese Peperomia laevifolia (Bl. Spathoglottis aurea Spathoglottis plicata Bl.J. ex Arn. PINACEAE PIPERACEAE Pinus merkusii Jungh. Freycinetia insignis Bl. Passiflora quadrangularis L.J. Peperomia tetraphylla (Forst. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + OXALIDACEAE PANDANACEAE PASSIFLORACEAE Passiflora edulis Sims. Trichotosia ferox Trichotosia pauciflora Vanda tricolor Lindl. ex Park. Pandanus furcatus Roxb. Freycinetia angustifolia Bl.ORCHIDACEAE Pteroceras compressum Pteroceras fraternum Renanthera matutina Robiquetia spathulata Saccolobium rantii Saccolobium sigmoideum Sarcostoma javanica Schoenorchis juncifolia Bl. Piper aduncum L. Oxalis corniculata L. Piper caninum Bl. Spiranthes sinensis Tainia elongata J.

PITTOSPORACEAE PLANTAGINACEAE POACEAE Pittosporum moluccanum (Lmk.) Widjaja Gigantochloa robusta Kurz Imperata cylindrica var major C. Axonophus compressus Bambusa vulgaris Schrad.Don Prumnopytis amara (Bl.) de Laub Polygala paniculata L.f.) Stapf. Isachne alben Isachne pangerangensis Z. Eleusine indica (L. ex Heyne Digitaria sanguinalis Scov.) Miq.) de Laub. Polygala venenosa Juss.Br.) R. Hubb.) Back. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + PODOCARPACEAE Dacrycarpus imbricatus (Bl. Pittosporum ramiflorum (Z.Br. ex Nees) O. Plantago mayor L. Helicia robusta (Roxb. Gigantochloa apus (Bl. ex Wendl. & M.K.f. Pogonatherum paniceum (LamHack. ex Wall Helicia roxbughii (R.k) Schizostachyum blumei Nees Schizostachyum brachycladum Kurz Schizostachyum ireten Steudel Setaria palmifolia (Willd.) Bl.) Kurz Gigantochloa atroviolacea Widjaja Gigantochloa hasskarliana (Kurz) Backer ex Heyne Gigantochloa pseudoarundinacea (Steud. Dinochloa scandens (Bl.ex Schult. ex Miq. Thysanolaena maxima (Roxb. Dendrocalamus asper (Schult.&M.) O.E. Podocarpus imbricatus Bl. 80 . Lopathorium gracile Oplismenus compositus Paspalum conjugatum Berg. ex Poir Xanthophyllum excelsum POLYGALACEAE POLYGONACEAE PROTEACEAE Polygonum chinensis L. Podocarpus neriifolius D.) Zoll.K.) Gaertn. Paspalum longifolium Roxb.

Lasianthus oculuscati Bl.) Kalkm.) Miq. Rubus elongatus Smith Rubus mollucanus L.) Brem. Ixora javanica Ixora salisifolia Lasianthus constrictus Wight. Maesopsis enemii Ziziphus javanensis Bl. Rubus rosaefolius J. Musaenda frondosa L. ex Korth. Lasianthus rhinocerotis Bl. Gynotroches axillaris Bl. Mycetia cauliflora Mycetia javanica (Bl. Lasianthus stercorarius Bl. ex DC Argostemma montanum Bl. ex DC Argostemma uniflorum Bl.) Reinw. Lasianthus laevigatus Bl.) Mrr.E. Nertera granadense 81 .Br.) Merr. Smith + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + RHIZOPHORACEAE ROSACEAE RUBIACEAE Argostemma borragineum Bl. Pygeum latifolium Miq. Neocauclea clycina (Bartl.PROTEACEAE RANUNCULACEAE RHAMNACEAE Helicia serrata (R. Muell. Diodia ocymifolia Bremek Geophila repens Hedyotis rigida Hypobathrum frutescens Bl. Maschalocorymbus corymbosus (Bl. Thalictrum javanicum Bl. Prunus javanica (T. Lasianthus reticulatus Bl. Neonauclea obtusa (Bl.) Kalkm. & B. Lasianthus purpureus Bl. Lasianthus lucidus Bl. Prunus gricea (C. ex DC.) Bl. Lasianthus inodorus Bl. ex DC Borreria laevis (Lamk) Griseb. Prunus arborea (Bl.

f. Psychotria montana Bl. Lepisanthes tetraphylla Mischocarpus frutescens Bl. Arytera Sp. Tarenna fragrans (Bl. Pavetta montana Reinw. Timonius timon (Spreng) Merr.) K. & B. Sch.) Bakh Randia wallichii Hook. Psychotria curviflora Wall. Hartley Ruta oppositifolia SABIACEAE SAPINDACEAE Meliosma lanceolata Bl. Euodia latifolia DC Melicope latifolia (DC.) Bl. Nephelium juglandifolium Bl. Otophora alata Bl.) K. & B. Planchonella nitida 82 . Pometia pinnata forma glabra (Bl. Timonius seriaceus (Desf. Saprosoma arboretum Bl.) Kurz. Randia schoemannii (T.) T.) Miq Euodia glabra (Bl. Uncaria glabrata (Bl.) Jacobs Pometia pinnata forma tomentosa SAPOTACEAE Payena leerii (T. ex Bl. Psychotria sarmentosa Bl. & V.) DC Uncaria pedicelata Urophyllum arboreum (Reinw. Wendlandia glabrata DC + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + RUTACEAE Acronychia laurifolia Bl.G. Uncaria gambir Roxb.RUBIACEAE Ophiorrhiza junghunii Pavetta indica L. Acronychia pedunculata (L. Psychotria robusta Bl. Mischocarpus sundaicus Bl. ) Korth Urophyllum corymbosum Urophyllum glabrum Wall.ex Bl.

Turpinia sphaerocarpa Hassk. Eurya glabra (Bl. Solanum verbascifolium Bl. STAPHYLIACEAE Turpinia montana (Bl. Gironniera subaequalis Planch.) Bl. Schima wallichii (DC.) Piere THYMELAEACEAE ULMACEAE Daphne composita (L. 83 .) Gilg. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + SOLANACEAE Lysianthes laevis Lysianthes lysimachioides Physalis minima L.) Chaisy THEACEAE Eurya acuminata DC. Trema orientalis (L. Lindernia sp.) Korth. Commersonia bartramina Sterculia coccinea Jack Sterculia subpeltata STEMONACEAE STERCULIACEAE SYMPLOCACEAE Symplocos cochichinensis (Lour. Stemona javanica (Kth.) Thun. Smilax macrocarpa Bl. Polyosma integrifolia Bl. Laplacea integerrima Miq. Picria felterrae Lour.) S.) Korth.SAXIFAGRACEAE SCROPHULARIACEAE Polyosma illicifolia Bl. Ternstroemia japonica (Thun.) Hassk.) Bl. Gonystyllus macrophyllus (Miq.) Engl.f. Pyrenaria serrata Bl. Gordonia excelsa (Bl. Torenia asiatica + + + + + + + + SELAGINELLACEAE SMILACACEAE Selaginella plana Smilax leucophylla Bl. Moore Symplocos fasciculata Zoll. Elattostema sinuatum (Bl. Ternstroemia lanceolata Thea lanceolata (Bl.) Airy Shaw Celtis timorensis Span. URTICACEAE Elattostema nigrescens Miq. Smilax zeylanica L. Symplocos odoratissima (Bl.) Kurz.

Pipturus sp. Pterisanthes cissoides Bl. Vaccinium sp. Tetrastigma papilissum (Bl.) R. Callicarpa longifolia Lamk. Pilea melastomoides (Poir.E.) Miq. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + VACCINIACEAE Vaccinium bancanum Miq. Peters.URTICACEAE Laportea stimulans (L. Tetrastigma glabratum (Bl. Vaccinium varingiaefolium (Bl. Cayratia japonica Clerodendrum laevifolium VERBENACEAE VITACEAE Lantana camara L.Br. Amomum compactum Soland.) Planch. Vaccinium laurifolium (Bl.) Miq. Ampelocissus thyrsiflora Cissus discolor Bl. Etlingera punicea (RSm. Vitex trifoliata L.M. ex Maton Amomum pseudopoetens Val.oxb. Procris pedunculata (Forst.) Bl.) Gagn. Ex Miq.) Planch.) Swartz Alpinia javana Bl.. Costus speciousus (Koen.G. Pilea angulata (Bl.) Bl. Procris frutescens Bl.f. Smith Etlingera coccinea (Bl.) J.) Gaud. ZINGIBERACEAE Achasma foetus Val. f. Alpinia robusta Alpinia scabra Bl. Villebrunea rubescens Bl.) Planch.) Miq. Sakai & Nagam. Alpinia galanga (L. Tetrastigma lanceolarium (Roxb. Etlingera solaris Globba marantina L.) Wedd.) O. Brachychilum horsfieldii (R. Cayratia geniculata (Bl. Ex Wall.) S. 84 . Vaccinium lucidum (Bl.

) Val.) Val.ZINGIBERACEAE Globba pendula Hedichyum conorarium Hornstedtia paludoa (Bl. + + + + + + + + + 85 . Nicolaia solaris (Bl. Hornstedtia pininga (Bl.) Horan. Zingiber aromatica Val.