P. 1
Merajut Pesona Gunung Salak

Merajut Pesona Gunung Salak

|Views: 337|Likes:
Dipublikasikan oleh Arrum Chyntia Yuliyanti
JURNAL
JURNAL

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Arrum Chyntia Yuliyanti on May 30, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2014

pdf

text

original

Sections

  • BAB I
  • PENDAHULUAN
  • BAB II
  • MENYELAMI PEMIKIRAN MASYARAKAT
  • BAB IV
  • FISIOGNOMI KAWASAN GUNUNG SALAK DAN DAERAH KORIDOR
  • Gambar IV. 9. Daerah terbuka
  • BAB V
  • ANALISIS VEGETASI
  • BAB VII
  • PENUTUP
  • Bibliografi
  • Lampiran 1. Land data of Gunung Salak (Cimalati route)
  • Lampiran 2. Land data of Gunung Salak (Pasir reungit route)
  • Lampiran 2. (lanjutan)
  • Lampiran 4. The location of ground survey point

BAB I PENDAHULUAN

Hutan alam dikenal sebagai suatu ekosistem yang stabil, dimana di dalamnya terjadi harmonisasi interaksi baik antar komponen biotik yang ada maupun antara komponen biotik dan abiotik. Dengan sendirinya, keberadaan komponen yang satu akan saling mempengaruhi keberadaan komponen yang lain. Keharmonisan proses ekologi yang demikian akan dengan cepat berubah ketika salah satu komponennya terganggu. Sejarah mencatat bahwa proses pengubahan hutan alam ke bentuk vegetasi lain oleh aktivitas manusia yang dimulai sejak ribuan tahun yang lalu merupakan sebuah contoh klasik tentang perubahan bentuk-bentuk ekosistem. Perubahan bentuk ekosistem ini meningkat dengan cepat sejak dekade tahun 1970an, ketika mulai diijinkannya penebangan pohon secara komersial, pelaksanaan program transmigrasi dan menjamurnya proyek-proyek hutan tanaman dan perkebunan. Sebagai akibat dari perubahan itu tidak mengherankan jika beberapa jenis sumberdaya biologinya mengalami kelangkaan, erosi genetika, karena tidak mengindahkan dan memperhatikan kaidah pelestariannya. Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budaya, pariwisata dan rekreasi. Oleh karena itu keberadaan Taman Nasional tidak bisa dipungkiri tidak saja sekadar memenuhi fungsi-fungsi tersebut di atas, akan tetapi juga sebuah kawasan yang menyimpan keanekaragaman hayati dan merupakan daerah tangkapan air. Gunung Salak merupakan kawasan yang masih menyimpan banyak misteri tentang kekayaan hayati beserta ragam pemanfaatannya. Sayangnya potensi ini telah banyak mengalami penyusutan seiring dengan laju kerusakan hutan yang diakibatkan berbagai kegiatan manusia atau bahkan berbagai kebijakan yang kurang mempertimbangkan kelestariannya. Untuk mengantisipasi kerusakan yang lebih parah, maka pada tahun 2003 kawasan Salak ditunjuk sebagai bagian dari kawasan taman nasional. Penjelajahan untuk mengungkap flora yang terdapat di kawasan Gunung Salak dianggap penting karena beberapa penelitian tentang flora fauna yang pernah dilakukan di kawasan hutan gunung Salak diantaranya, di daerah Awibengkok (Kartawinata et al.,1985), Cianten (Mirmanto, 1991) dan koridor antara G. Salak dan G. Halimun (Wiriadinata, 1997). Bahkan jauh sebelumnya, gunung Salak merupakan magnet bagi para ilmuwan botani, tercatat diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh seorang botanis berkebangsaan Swedia Claes Frederic Hornstedt (1758-1809), murid dari Thunberg, kemudian disusul Hornstedt pada tahun 1783, Reinwardt pada tahun 1817 (Steenis 2006). Sejauh ini data dan informasi yang dikumpulkan masih juga belum memadai jika dibandingkan dengan data dan informasi

1

yang terkumpul dari kawasan hutan gunung Halimun. Itulah sebabnya penelitian dirasa masih diperlukan untuk melengkapi data dan informasi flora dan fauna dari kawasan hutan gunung Salak. Penelitian mendasar dari aspek ekologi vegetasi, etnobotani, eksplorasi dan inventarisasi keanekaragaman jenis tumbuhan dan keterkaitannya dengan kondisi habitat diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya pengelolaan Taman Nasional Halimun Salak. Penelitian ekologi vegetasi dilakukan dengan menggunakan metode petak, sedangkan penelitian etnobotani dilaksanakan dengan menggali informasi dari masyarakat di sekitar lokasi penelitian. Untuk melengkapi data dan informasi keanekaragaman jenis tumbuhan dilakukan eksplorasi dan inventarisasi. Penelitian kali ini merupakan kegiatan bersama antara Pusat Penelitian Biologi LIPI dengan JICAGunung Halimun Salak National Park Management Project (GHSNPMP). Hasilnya diharapkan dapat disumbangkan dalam rangka membuat “guiden book” untuk menentukan arah dan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi Halimun – Salak yang melibatkan masyarakat.

TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan salah satu kawasan konservasi Indonesia yang berfungsi selain melindungi flora dan fauna unik yang ada di dalamnya juga mempungai fungsi lain yang tak kalah pentingnya yaitu sebagai pengatur tata air, pendidikan, penelitian, sumber plasma nutfah, pengembangan budidaya, rekreasi dan pariwisata. Dari pengertian tersebut tergambar bahwa betapa besar manfaat Taman Nasional sebagai pelayanan jasa. Awalnya kawasan ini merupakan Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) yang ditetapkan melalui SK Menhut No. SK 282/KptsII/Menhut/1992 tanggal 28 Februari 1992 dengan luas 40.000 hektar dan pada tanggal 23 Maret 1997 ditetapkan sebagai salah satu unit pelaksana teknis di Departemen Kehutanan. Seiring dengan tingginya proses degradasi hutan di Indonesia dan dengan adanya desakan parapihak yang peduli terhadap konservasi hutan, maka pada tahun 2003 kawasan hutan Gunung Salak, Gunung Endut, dan kawasan sekitarnya yang sebelumnya merupakan kawasan hutan produksi, hutan produksi terbatas dan hutan lindung yang dikelola oleh perum Perhutani selanjutnya dialih fungsikan menjadi kawasan konservasi melalui SK Menhut No. SK 175/Kpts-II/Menhut/2003 tanggal 10 Juni 2003 menjadi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dengan luas 113.357 ha. Kawasan TNGHS secara administratif

terletak di 2 (dua) propinsi yaitu Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten serta 3 kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Lebak. Kawasan TNGHS mempunyai ketinggian berkisar antara 500 – 2.211 mdpl. Topografinya

bergelombang, berbukit dan bergunung-gunung. Di sekitar kawasan TNGHS terdapat bukit memanjang mulai dari gunung Endut (di sebelah Barat) melintas gunung Kendeng (di kawasan Baduy) kemudian

2

perlahan menurun sampai ke gunung Honje dan semenanjung Ujung Kulon. Sedangkan di sebelah Timur berhubungan dengan gunung Gede Pangrango yang dipisahkan oleh sungai Citatih, sungai Cisadane dan jalan propinsi Ciawi – Sukabumi. Beberapa gunung yang ada di sebelah barat kawasan ini yaitu gunung Endut Barat (1.297 mdpl), gunung Pameungpeuk (1.455 mdpl), gunung Ciawitali (1.530 mdpl), gunung Kencana (1.831 mdpl), gunung Halimun Utara (1.929 mdpl), gunung Sanggabuana (1.920 mdpl), dan gunung Botol (1.850 mdpl). Sedangkan gunung-gunung yang terdapat di sebelah Timur Laut adalah gunung Kendeng Utara (1.377 mdpl), gunung Salak 1 (2.211 mdpl), gunung Salak 2 (2.180 mdpl), gunung Endut Timur (1.471 mdpl) dan gunung Sumbul (1.926 mdpl). Di bagian tenggara terdapat gunung kendeng Selatan (1.680 mdpl), gunung Panenjoan (1.350 mdpl), gunung Halimun Selatan (1.758 mdpl), Geologi kawasan TNGHS merupakan bagian dari deretan pegunungan Sumatra. Sebagian besar kawasan tersusun atas batuan vulkanik breksi, basaltik dan lava andesit dari periode Pleistosin dan beberapa strata dictic dari periode Prepleiosin (sekitar 10 – 20 juta tahun yang lalu). Berdasarkan peta tanah tinjau Jawa Barat, jenis tanah di daerah ini terdiri atas asosiasi andosol coklat dan regosol coklat, asosiasi latosol coklat dan latosol coklat kekuningan, latosol coklat kemerahan dan latosol coklat, asosiasi latosol coklat kemerahan dan laterit, komplek latosol coklat kemerahan dan lithosol, asosiasi latosol coklat dan regosol kelabu (LP Tanah, 1966). Bahkan Gunung Salak sampai saat ini masih berstatus gunung berapi strato type A dan tercatat terakhir meletus tahun 1938. Gunung Salak memiliki kawah yang masih aktif dan dikenal dengan nama Kawah Ratu. Menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson (1951) iklim di daerah kawasan TNGHS termasuk tipe A, dengan curah hujan tahunan sebesar 4.000 – 6.000 mm. Rata-rata curah hujan bulanan selalu > 100 mm, dengan bulan terkering (+ 200 mm) pada Juni sampai September dan terbasah (+ 550 mm) antara Oktober dan Maret, sehingga dapat digolongkan beriklim selalu basah (Kartawinata, 1975) dengan kelembaban udara rata-rata 88 %. Suhu rata-rata bulanan 31,5oC dengan suhu terendah 19,7oC dan suhu tertinggi 31,8oC. Vegetasi hutan di dalam kawasan TNGHS sangat bervariasi, baik berdasarkan ketinggian tempat maupun kondisi habitat setempat. Namun secara umum, berdasarkan permintakatan Steenis (1972) dapat dikelompokkan menjadi 3 mintakat, yaitu mintakat kaki pegunungan (collin), dengan ketinggian antara 500 dan 1000 m dpl, mintakat sub-pegunungan (1.000 - 1.500 m) dan mintakat pegunungan (1500 – 2400 mdpl). Sejauh ini data dan informasi flora dan fauna hutan gunung Halimun telah banyak diungkapkan melalui berbagai survei dan penelitian. Sayangnya hasilnya terserak dan tersebar di berbagai tempat dan besar kemungkinan belum terdokumentasi secara lengkap.

3

TNGHS merupakan salah satu Taman Nasional yang memiliki hutan pegunungan alami di Jawa yang sangat menarik. Kekayaan flora kawasan Gunung Halimun pernah dilakukan beberapa tahun lalu, diantaranya oleh Wiriadinata (1992). Ditinjau dari segi botani terutama taksonomi, kekayaan Flora Gn Salak sangat menarik karena merupakan salah satu ekotipe jenis-jenis tumbuhan yang pertama kali dipertelakan oleh Blume sekitar tahun 1825. Flora pegunungan yang masih tersisa umumnya berada pada ketinggian di atas sekitar 1500 -2000 m di atas permukaan laut, sedang bagian bawah umumnya telah berubah terbuka dan menjadi perladangan. Pengambilan kayu merupakan salah satu faktor yang cukup serius. Wilayah TNGHS terbagi ke dalam 26 kecamatan dan terdiri dari 106 desa. Jumlah penduduk di dalam dan sekitar kawasan lebih dari 250.000 jiwa. Pada umumnya masyarakat yang ada adalah

masyarakat Sunda yang terbagi menjadi masyarakat kasepuhan dan bukan kasepuhan.Masyarakat kasepuhan secara historis penyebarannya berada di kampung Urug, Citorek, Bayah, Ciptamulya, Cicarucub, Cisungsang, Sirnaresmi, Ciptagelar dan Cisitu. Masyarakat kasepuhan ini memiliki struktur kehidupan yang berbeda dengan masyarakat biasa. Bahasa yang umum digunakan adalah bahasa Sunda. Sedangkan agama pada umumnya adalah beragama Islam kecuali di beberapa wilayah kasepuhan masih menganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Kehidupan sehari-hari masyarakat di dalam dan sekitar TNGHS pada umumnya adalah di bidang pertanian seperti sawah, ladang, kebun, kebun talun dan talun. Beberapa ada juga yang berdagang baik di dalam masyarakatnya maupun keluar kampung dan desanya, bahkan ada yang keluar pulau Jawa. Pada masyarakat kasepuhan, pertanian dilakukan atas arahan pimpinannya baik tatacara tanam, jenis padi, maupun ritual ketika sebelum, saat menanam, hingga panen. Pesta panen dalam masyarakat kasepuhan terkenal dengan istilah Seren Taun yang sering dihadiri turis baik lokal maupun mancanegara karena keunikannya. Dalam hubungannya dengan hutan, masyarakat kasepuhan memiliki sistim yang bila dikaji memiliki kearifan tersendiri. Mereka memiliki konsep turun temurun untuk mengelompokkan hutan sesuai fungsinya yaitu leuweung titipan (hutan titipan), leuweung tutupan (hutan tutupan), leuweung sampalan (hutan bukaan). Interaksi mereka terhadap hutan sangat kuat. Mereka mengenal hampir 400 jenis tumbuhan dan satwa yang dipergunakan sehari-hari baik untuk bangunan, kayu bakar, makanan, obat-obatan maupun untuk keperluan ritual. Di salah satu bagian dari TNGHS, yakni sekitar Gunung Salak, telah hidup selama ratusan tahun masyarakat lokal. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya temuan arkeologis di sekitar Gunung Salak, seperti di kampung Cibalay, Bogor, terdapat situs arkeologis berupa punden berundak peninggalan masa lalu. Diantara jejak-jejak kehidupan masa lalu yang masih dapat kita saksikan adalah yang terdapat di desa Cibalai, Bogor, dan di desa Girijaya. Di desa Girijaya ini terdapat tiga buah batu megalitikum yang

4

ilmuwan yang tercatat pernah melakukan penelitian diantaranya adalah seorang botanis berkebangsaan Swedia Claes Frederic Hornstedt (1758-1809). tim Pusat Penelitian Biologi melakukan koleksi dan inventarisasi serta studi ekologi pada jalur Cangkuang yang dibagi menjadi 4 sub-jalur. Dilain pihak. Tempat ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Gusti. 2 petak disekitar pondok Bajuri. hal ini bukan karena posisinya sebagai Taman Nasional melainkan juga karena memiliki keterkaitan yang erat dengan budaya dan tradisi setempat.1).100 m. Setelah itu disusul oleh Reinwardt yang mendaki dan melakukan ekplorasi botani di gunung Salak pada tahun 1817 (Steenis 2006). jenis dominant. Bagi para ilmuwanpun. sedangkan jalur Cangkuang dilakukan bersama team gabungan short-term expert dari JICA dan tim dari Pusat Penelitian Biologi LIPI. Tim short-term expert dari JICA melakukan penjelajahan dalam waktu singkat. peta diperoleh dari image landsat 2004 dan IKONOS tahun 2004). yaitu dengan mencatat ketinggian tempat (m dpl. sehingga Gunung ini memiliki makna tersendiri bagi masyarakat. jenis pohon menonjol disetiap titik pengamatan. Di setiap sub-jalur dibuat petak-petak pencuplikan data berukuran 30 x 30 m2. sehingga pengungkapan vegetasi dilakukan secara fisiognomi pada setiap perubahan ketinggian 50 . Tradisi tersebut didapat oleh masyarakat secara turun temurun.). Gunung Salak adalah salah satu magnet yang ada di Jawa. (2) ke arah Kawah Ratu. (3) daerah sekitar Pondok Bajuri. Pasir Reungit dan Cangkuang (Gambar I. Lokasi Jelajah Daerah-daerah yang dijelajah meliputi 3 jalur. 3 petak di sepanjang subjalur menuju Kawah Ratu. Rute Cimalati dilakukan untuk mengetahui batas pegunungan rendah dan pegunungan atas. Penjelajahan jalur Cimalati dan Pasir Reungit dilakukan oleh short-term expert dari JICA. yaitu jalur/rute Cimalati. Pemilihan tempat pembuatan petak dengan pertimbangan perbedaan ketinggian. Hasil interaksi tersebut membangun konstruksi pemikiran masyarakat tentang Gunung Salak. 5 .dianggap oleh masyarakat sebagai petilasan dari Eyang Santri.1. Pada daerah yang sama juga telah dilakukan inventarisasi dan eksplorasi tumbuhan. dan 1 petak di sekitar Pos Kancil. Dalam catatan sejarah. yaitu (1) ke arah puncak Salak-1. Masyarakat yang tinggal di sekitar gunung Salak masih memiliki kearifan tradisional dalam interaksinya dengan lingkungan. dan (4) daerah sekitar Pos Kancil (Gambar I. fisiognomi dan kondisi habitat. murid dari Thunberg. tokoh penyebar Islam dan juga pejuang dari Solo pada abad ke 19 yang menetap dan tinggal di desa ini. tipe hutan. Sebanyak 6 petak dibuat di sepanjang sub-jalur ke arah puncak Salak-1. Hornstedt mengunjungi Gunung Salak pada tahun 1783.

Kedua desa ini dipilih dengan pertimbangan merupakan desa yang paling dekat dengan Gunung Salak dan memiliki tipikal yang berbeda. Peta jalur penelitian beserta petak-petak pencuplikan data vegetasi (1 s/d 12). atau bulan Robiul awwal atau maulid dan bulan Muharram dalam sistem penanggalan Islam. yakni Desa Cidahu. Padepokan ini juga memiliki pengaruh di masyarakat. Tradisi dan kebudayaan klasik Sunda sering digelar di desa ini. Pada bulan Maulid masyarakat ziarah bersama ke makan Eyang Abu sekaligus juga diisi dengan tradisi-tradisi Sunda. Sedangkan desa Girijaya lebih pada pencarian dan penguatan akar tradisi Sunda. Di desa ini juga terdapat dua makam yang dianggap keramat oleh masyarakat. Di desa ini terdapat Padepokan Girijaya pimpinan Abah Ru’yat. Kedua makam ini setiap harinya ramai dikunjungi oleh peziarah. seperti hari kamis dan jum’at. Adapun untuk penelitian etnobotani dilaksanakan di dua desa.1. lebih bernuansa agama. puasa. Kecamatan Cidahu. dan Desa Girijaya.Rute Pasir Reungit 9 8 7 1 0 1 1 6 4 5 2 3 1 Rute Cangkuang 1 2 Rute Cimelati Gambar I. dan zakat. yaitu makam dari Eyang Abu Shomad (Eyang Abu) dan makam Eyang Muhammad Santri (Eyang Santri). Kecamatan Cidahu. penampilan wayang 6 . terdapat pesantren al-Qodiriyah yang dipimpinan KH Romli dan berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat dan membentuk pemahaman yang ada di masyarakat. Kabupaten Sukabumi. Kabupaten Sukabumi. namun masyarakat yang tinggal di desa ini masih menjalankan ajaran normatif agama (Islam) seperti shalat. Kedua tokoh ini oleh masyarakat dianggap sebagai penyebar agama Islam. Walaupun bernuansa tradisi. Desa Cidahu. Kunjungan para peziarah makin ramai terutama pada hari-hari tertentu.

habitus. masyarakat menggelar upacara tradisi Seren taun. kegunaan. pH dan kelembaban tanah. Analisis vegetasi Kegiatan penelitian ini meliputi pencuplikan data vegetasi dengan menggunakan metode petak. kegunaan dan data lingkungan lainnya dicatat di dalam buku koleksi. Selain itu data sekunder diantaranya data lokasi. dan ritual ngramat yakni mendoakan hasil bumi. habitat. Jumlah dan interval antar petak ditentukan berdasarkan kondisi medan dan ketersediaan fasilitas pendukung. Semua contoh tumbuhan yang terkumpul disimpan dalam lipatan-lipatan kertas koran. Sejumlah petak dengan ukuran 30m x 30m dibuat pada lokasi-lokasi dengan gradasi perubahan lingkungan seperti kondisi habitat dan ketinggian. yakni upacara selamatan dan ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan. Setiap contoh tumbuhan yang terkumpul akan dilengkapi dengan label gantung untuk mencatat nama dan nomor kolektor serta tanggal dan lokasi pengambilan. yang selanjutnya dikirim ke Herbarium Bogoriense untuk diproses dan kemudian diidentifikasi. Meskipun ada jenis-jenis tumbuhan yang tidak lengkap memiliki bunga atau buah. Keterpaduan penelitian dengan melibatkan berbagai bidang keilmuan ini diharapkan mampu untuk mengungkapkan keanekaragaman hayati di daerah penelitian. Pengumpulan data pohon meliputi diameter. tinggi. dan pengambilan contoh tanah untuk dianalisis kandungannya. serta pengumpulan data lingkungan diantaranya posisi geografi. ataupun fisiognomi yang berbeda. data iklim serta data lingkungan lainnya juga dikumpulkan. KEGIATAN di LAPANGAN Penjelajahan di Gunung Salak ini melibatkan para ahli dalam bidang taksonomi dan ekologi tumbuhan serta pakar etnobotani. Jenis-jenis tumbuhan yang tidak dapat dikoleksi untuk sementara akan dicatat dalam buku lapangan guna melengkapi data kekayaan jenis. tanpa harus meninggalkan kaidah keilmuan di bidangnya masing-masing. dimasukkan ke dalam kantung plastik besar dan diawetkan dalam alkohol 70%. yang sekiranya menarik dan unik juga akan dikumpulkan sebagai koleksi atau spesimen acuan. spesimen bukti. Sedangkan di bulan Muharram. Adapun cara kerja untuk masing-masing kegiatan penelitian adalah sebagai berikut: Inventarisasi dan eksplorasi tumbuhan Kegiatan ini dilakukan untuk melakukan koleksi secara umum seluruh jenis tumbuhan yang sedang berbunga dan berbuah untuk kemudian diambil contohnya dan dijadikan spesimen herbarium. jaipong. 7 . Informasi lain seperti nama lokal.Golek.

Penelitian ini dilakukan di tiga lokasi. 1967. dominansi. Penentuan jumlah responden dengan menggunakan metode "stratified random sampling". indeks keanekaragaman. mengikuti sebagian aktifitas sehari-hari penduduk dan pengamatan langsung di lapangan. Setelah kegunaan dari tumbuhan diketahui. kerapatan. Setelah berada dalam petak. bagian yang digunakan. Petak ini berada pada ketinggian 1700 dpl dan di HM 18 (jarak 1800 meter dari persimpangan 8 . cara penggunaan. 1974). nilai penting. Langkah ketiga adalah mencatat nama lokal setiap jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan membuat voucer specimen untuk diidentifikasi lebih lanjut di Herbarium Bogoriense supaya dapat diketahui nama ilmiah dari tumbuhan yang dimanfaatkan. Setiap jenis sumber daya hayati yang berguna dicatat nama lokalnya dan diamati habitat. Responden di setiap lokasi diambil 30% dari jumlah Kepala Keluarga. kekayaan jenis. Penelitian etnobotani Penelitian etnobotani dengan menerapkan metode wawancara semi struktural dan "open ended" terhadap masyarakat setempat. Langkah kedua adalah dengan wawancara langsung dengan masyarakat di desa mengenai kegunaan berbagai tumbuhan. kemerataan jenis dan dominasi jenis. Informan kunci adalah orang yang memiliki pengetahuan luas mengenai nama lokal tumbuhan dan manfaat atau kegunaan dari tumbuhan tersebut. sehingga diperoleh parameter-parameter frekuensi. pertama di dalam petak sementara yang dibuat oleh tim ekologi. maka dilakukan wawancara secara mendalam untuk mengetahui makna kultural dari tumbuhan tersebut. Penelitian etnoekologi dilakukan untuk mengetahui hubungan antara masyarakat dengan lingkungannya. Dalam penelitian ini diamati pengetahuan lokal tentang pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan oleh masyarakat (corpus) serta pengaruh yang ditimbulkannya (praxis). Wawancara secara open-ended dan secara mendalam dengan informan merupakan teknik yang mendasar guna mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang kegunaan dari suatu jenis tumbuhan dan makna kulturalnya dalam kehidupan mereka. sumber daya hayati berguna tersebut diambil contohnya dan dibuat koleksinya guna mengetahui nama ilmiahnya. nilai kegunaan dan nilai kepentingan budayanya. Langkah pertama adalah dengan mengajak informan ke petak ekologi yang dibuat. kegunaannya. Proses pengumpulan data lapangan dalam penelitian ini menggunakan tiga langkah.Data vegetasi yang terkumpul kemudian dianalisis menurut cara yang umum dilakukan dalam kajian ekologi hutan (Cox. 1964. informan ditanyakan mengenai kegunaan berbagai tumbuhan yang ada di dalam petak secara open-ended. Pengungkapan pemanfaatan keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan gunung Salak terlebih dulu menentukan informan kunci dan informan biasa. Greigh-Smith. Muller-Dombois & Ellenberg. Dengan parameter tersebut dilakukan analisis ordinansi dan analisis stratifikasi hutan untuk mengetahui lapisan kanopi hutan. Selain itu dilakukan pula wawancara secara mendalam terhadap ahli lokal. Untuk kepentingan identifikasi.

proses pengumpulan data lapangan dengan tiga langkah. satu ritual yang menggabungkan norma agama dan tradisi setempat. serta Kuncen yang memiliki “kewajiban” menjaga suatu kawasan.atau sama dengan 4300 meter dari pos pertama pendakian dari arah Cidahu). yaitu desa Cidahu kecamatan Cidahu dan desa Girijaya di kecamatan Cidahu. terlebih dulu menentukan informan kunci dan informan biasa. Langkah ketiga adalah dengan melakukan pengamatan terlibat (partisipatory observasion) dalam ritual keagamaan dan ritual tradisi yang dilakukan oleh mereka. Selain dari informan kunci yang ada di Desa Cidahu dan Desa Girijaya. Informan tersebut dapat membantu peneliti untuk memilih informan lain yang juga memiliki pengetahuan luas. seperti Kyai. Sedangkan penelitian yang dilakukan di desa. 9 . kabupaten Sukabumi. Informan kunci adalah orang yang memiliki pengetahuan luas tentang tradisi masyarakat. Langkah kedua adalah dengan melakukan wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan para informan. Wawancara mendalam (indepth interview) dengan informan kunci merupakan teknik yang mendasar guna mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang perspektif masyarakat. wawancara juga dilakukan dengan para sesepuh atau orang yang di-tua-kan yang ada di wilayah Bogor. Pada tanggal 20 Maret masyarakat di desa Giri Jaya menggelar ritual mauludan. Dukun. Dalam penelitian perspektif masyarakat mengenai Gunung Salak. petuah dari leluhur. Selain itu peneliti juga mewawancarai anggota masyarakat kebanyakan baik yang tinggal di dua desa. Langkah pertama adalah menentukan informan kunci dan informan biasa. Petak yang dibuat berukuran 30 X 30 meter. Kedua dilakukan di desa Cidahu. maupun ajaran-ajaran normatif dari agama. Guru. Oleh karena orang yang memiliki kompetensi di masyarakat yang tinggal di kawasan gunung Salak adalah orang-orang tua dan di-tua-kan oleh masyarakat. dan tempat ketiga di desa Girijaya. maka peneliti memilih mereka sebagai informan kunci. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan memiliki kesamaan persepsi sekaligus juga untuk konfirmasi data. nilai kultural dan makna kehadiran gunung Salak dalam kehidupan mereka.

Selain itu. karena memiliki atmosfir yang teduh. Pelarangan ini sifatnya mendasar. seperti ranting yang jatuh untuk keperluan kayu bakar atau buah yang jatuh untuk konsumsi pribadi bukan untuk mengambil keuntungan ekonomi dari buah yang terdapat di hutan. tanpa kecuali. Sedangkan hutan. persepsi juga terbentuk karena adanya “kepentingan”. Menurut pak Asori salah satu sesepuh. pada masa lalu lebih dikonotasikan sebagai tempat penempaan kesaktian dan keberanian seseorang. karena bila pohon yang terdapat dalam hutan habis 10 . sehingga ketika seseorang telah berhasil melewati hutan dengan selamat. baik melalui penebangan maupun perburuan.BAB II MENYELAMI PEMIKIRAN MASYARAKAT Setiap masyarakat. terutama daerah Jawa dan Sunda memiliki cerita tersendiri. Larangan penebangan hutan yang dilakukan oleh masyarakat Girijaya pada masa lalu terkait dengan keselamatan kehidupan manusia. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa gunung atau pun hutan. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman interaksi mereka terhadap kawasan gunung atau hutan. Ada anggapan di masyarakat bahwa hutan adalah tempat bersemayamnya roh-roh jahat. maka hampir dapat dipastikan bahwa orang tersebut memiliki tingkat keberanian dan juga kesaktian yang tinggi di atas rata-rata orang kebanyakan. Hutan dan Masyarakat Girijaya Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat di desa Girijaya diketahui bahwa masyarakat menyebut hutan yang terdapat di Gunung Salak sebagai leuweung tutupan (hutan terlarang). bagi masyarakat Indonesia. Pelarangan penebangan hutan merupakan wasiat dari para leluhur. tempat persembunyian para penyamun. maupun karena pelarian dari kehidupan masyarakat yang sudah tidak nyaman menurut anggapannya. gunung atau hutan adalah tempat yang strategis. Bila kita merunut sejarah dan juga melacak cerita-cerita rakyat. Makin beragam kepentingan maka makin beragam juga persepsinya. menggembleng ilmu. dan lain-lain. Bagian dari hutan yang sangat dilarang keras untuk ditebang. sempat diyakini sebagai daerah turunnya para Batara yang hidup di Kahyangan ketika turun ke Bumi. hutan juga. atau bahkan individu. adalah bagian lamping atau tebing. menjadikan pilihan bagi orang-orang yang hendak kontemplasi. Di samping itu juga. baik untuk mendekatkan diri pada Pencipta. Sebagai “landasan” para Batara di Bumi. hutan dan apa yang terdapat di dalamnya adalah terlarang untuk diekploitasi. Bagi mereka. Gunung misalnya. namun karena kebutuhan manusia kemudian terdapat beberapa bagian dari hutan yang boleh dimanfaatkan. menurut masyarakat. dengan pertimbangan keselamatan kehidupan itulah maka para leluhur menganggap semua hutan pada dasarnya adalah leuweung tutupan. memiliki cara pandang tersendiri tentang keberadaan Gunung atau Hutan. maka Gunung kemudian disakralkan oleh masyarakat.

Terdapat banyak teks dalam kitab suci ummat Islam yang berbicara tentang lingkungan dan tanggung jawab manusia untuk mengelolanya dengan bijak. apalagi yang ada di lamping-nya maka tidak saja persediaan air akan habis melainkan juga dapat menimbulkan bencana longsor. hutan yang ada di Gunung Salak dianggap sebagai “amanah” atau kepercayaan dari Tuhan untuk diolah dan dijaga kelestariannya. Terdapat satu pendapat yang mengatakan kata Salak berasal dari 11 . Hal ini dikarenakan. atau wakil dari Tuhan yang ada di bumi. Bagi masyarakat. Mengambil manfaat dari hutan baru boleh dilakukan kalau sudah ada izin. hal ini dikarenakan hutan sudah ada yang mengelolanya. menegaskan bahwa menjaga amanah berupa hutan sama nilainya dengan menjaga dan mengamalkan ajaran agama. salah satu peran manusia adalah sebagai khalifah. karena itu dengan adanya hutan maka keberlangsungan kehidupan masyarakat akan terus terjamin. Bagi KH Romli. melainkan juga tersimpan berbagai “tanda” bagi kehidupan. dan lain-lain. puasa. Komitmen dan kesadaran sebagai khalifah yang bertugas untuk menjaga hutan ditunjukkan oleh masyarakat Cidahu ketika Balai Taman Nasional berencana membangun resort di kawasan Bumi Perkemahan Cangkuang. sapaan akrab KH Romli. Di gunung salak tidak saja tersimpan berbagai mitos atau legenda tentang asa-usul suatu daerah. dan itupun kalau tidak sampai merusak hutan. bukanlah seorang muslim yang baik apabila dia menjalankan kewajiban agama namun masih melakukan kerusakan di hutan. seperti shalat. kata “Salak” yang menjadi nama dari Gunung Salak memiliki makna sendiri. AA Lili. Menurutnya. mengambil apapun dari hutan hukum dasarnya adalah terlarang. Hutan dan Masyarakat Cidahu Bagi masyarakat desa Cidahu. Terdapatnya hutan di sekitar desanya merupakan anugerah dari Tuhan. dimana pembangunan saat itu terhenti karena sesepuh dan masyarakat mencegah pembangunan yang menurut mereka merusak lahan hutan. menurut AA Lili.ditebang. Sehingga pada dasarnya menjaga pelestarian hutan sama pentingnya dengan menjalankan kewajiban yang lain. bahkan rumput sekalipun. Dengan merusak hutan. Selain itu asal material bangunan berupa kayu juga diambil dari hutan. Gunung dalam Persepsi Masyarakat Gunung Salak dengan hutan yang ada di dalamnya memiliki makna tersendiri bagi masyarakat. Setelah dijelaskan maksud pembangunan resort dan asal dari kayu yang digunakan tidak dari Taman Nasional maka pembangunan dilanjutkan dan masyarakat sangat mendukung keberadaan Taman Nasional. maka tidak saja dia melanggar amanah melainkan juga telah mengabaikan perannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. seperti mengambil rumput untuk ternak atau ranting-ranting pohon yang jatuh.

Kekeramatan gunung Salak termaktub dalam pantun Bogor yang berjudul Paku Jajar Beukah Kembang. Ketiga perbedaan penafsiran tentang salak ini memiliki implikasi persepsi yang berbeda. untuk itu mereka terus mencari dan berusaha menemukannya di Gunung Salak. muludan. buah ini akan muncul dan memperlihatkan dirinya bagi orang-orang yang telah suci.1. walaupun sudah tersentuh dengan modernisasi namun unsur-unsur tradisionalnya masih kental terlihat. Di Girijaya. Gambar II. dan Dadap Malang Sisi Cimandiri. Pembacaan Doa disertai bakar Kemenyan yang dilakukan pada acara Mauludan. Pendapat yang lain mengatakan bahwa kata Salak berasal dari kata “Salaka” yang berarti asal-usul dari suatu masyarakat. Sedangkan pendapat ketiga mengatakan kata Salak memang berasal dari kata “Salak” dari buah salak. Di gunung salak terdapat dua puncak yang bergerigi yang dinamakan Puncak Gajah dan Puncak Karamat. Bagi orang yang percaya pada pendapat yang pertama.dan rabu wekasan. Sedangkan bagi masyarakat yang percaya pada pendapat yang kedua. Gugung salak dijuluki juga Giri Dwi Munda Mandala. Bagi masyarakat yang berpegang pada tradisi dan masih terpengaruh oleh ajaran Hindu.kata “siloka” yang berarti simbol dari sesuatu yang perlu diurai dan ditemukan rahasianya. Menurut Munandar (2007a) yang melakukan penelitian pada masyarakat ada di Sindang Barang. Upacara tersebut sarat dengan muatan pesan untuk menjaga hubungan baik manusia dan alam. Diantaranya adalah masih digelarnya upacara tradisi seren taun. Pajajaran Seren Papan. mereka akan yakin bahwa rahasia kehidupan yang disimpan Tuhan terdapat di Gunung Salak. Pendapat ketiga percaya bahwa di puncak Salak terdapat buah salak raksasa yang terbuat dari emas. kedua puncak yang terdapat di gunung Salak memiliki makna yang berbeda. Sedangkan puncak Keramat 12 . mereka menganggap bahwa tidak hanya asal-usul kehidupan melainkan juga masyarakat Sunda ada di gunung Salak. Puncak Gajah ditafsirkan sebagai tempat bersemayamnya arwah raja-raja Sunda Kuno yang telah ngahyang.

Model kedua adalah dengan melalui 13 . seperti apa yang disampaikan oleh seorang ilmuwan. masyarakat juga meyakini bahwa terdapat tiga pilar utama penopang kehidupan di daerah Sunda.ditafsirkan sebagai tempat persemayaman para Hyang. Munculnya anggapan yang demikian dari masyarakat menunjukkan adanya akulturasi budaya dan juga sinkretisme dalam sistem religi mereka. di gunung Salak terdapat 12 tempat yang dihuni oleh Sang Hyang. Ketiga pilar itu berupa gunung. dewata Sunda Kuno. yakni menjaga kelestarian hutan sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia. serta Raja-raja kerajaan Sunda. iklim dan cuaca yang berbeda. Hal ini terjadi karena pola interaksi yang berbeda. Pelabuhan Ratu. terdapat dua “model” pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat. Agama dan Pelestarian Lingkungan Persepsi masyarakat tentang hutan dan Gunung Salak memunculkan tradisi atau prilaku yang berbeda dengan daerah lainnya. kawasan ini memang sejak dulu menyimpan misteri dan memiliki eksotisme sendiri. lam. serta perbedaan lainnya. yang giat menghidupkan tradisi Sunda). ha. A. Sukabumi. Bahkan menurut abah Ru’yat (pemimpin Padepokan Girijaya. seperti wali songo. Pemandangan alam di sini sangat indah dan tanahnya subur. namun memiliki tujuan yang sama. di puncak keramat terdapat makam dari tokoh penyebar agama Islam yang berasal dari Cirebon. Selain itu. Terlepas dari anggapan masyarakat mengenai gunung Salak. Sedangkan bagi masyarakat Islam. Gunung Salak. ia mengatakan. Walaupun terdapat perbedaan. dan Cianjur. ketiga kata ini yang kalau dibaca menjadi satu kata ilah yang berarti Allah atau Tuhan. Gunung Gede. Pertama adalah melakukannya dengan melalui pendekatan agama. dan Gunung Pangrango. “Buitenzorg adalah tempat tinggal yang sangat menyenangkan. Sedangkan Gunung Pangrango adalah simbol dari lam dan Gunung Gede simbol dari ha. Daerah ini cukup tinggi sehingga terasa nyaman bagi orang yang tinggal di dataran rendah. Dari hasil penelitian ini.R. Gunung Salak adalah simbol dari alif (huruf pertama dalam abjad Arab) yang berarti hubungan vertikal. yaitu KH Hasan Basri yang bertugas menyebarkan agama Islam ke daerah Sunda seperti di Bogor. Wallace. keragaman hayati yang dimiliki. Diantara nilai penting yang lain dari gunung Salak adalah adanya anggapan bahwa gunung Salak tersebut sebagai Paku Jagat atau Paku Tetenger bagi Pakuan Pajajaran (Munandar 2007). Oleh masyarakat. Ketiga gunung ini sebagai perlambang dari huruf alif. yaitu Gunung Salak. Puncak Salak juga dianggap sebagai temapt berkumpulnya ghaib-ghaib Suci. Anggapan ini juga menunjukkan proses islamisasi dan adanya “negosiasi” tradisi di masyarakat. ketiga gunung tersebut ditafsirkan sebagai simbol dari ajaran kebaikan. Bagi mereka melestarikan hutan merupakan satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh manusia. menjadi latar belakang yang khas bagi bentangan alam di sekitarnya (Wallace 2000). sebuah gunung berapi yang puncaknya terpotong dan bergerigi.

Agama. dan konsep halal-haram. banyak memiliki aturan dan anjuran untuk menjaga kelestarian lingkungan. Tanpa itu alam hanya akan di rusaknya. Di samping itu. apa yang bukan miliknya. Peran agama di desa ini dipengaruhi oleh kharisma yang dimiliki oleh sosok pemimpin pesantren sebagai informal leader. al-Qur’an. ada konsep hima’ yakni 14 . Namun walaupun memiliki kesamaan. dan kita wajib mengolah dengan bijaksana dan melindunginya. mereka menggiatkan tradisi lama yang memang pada dasarnya adalah suatu ajaran “normatif” pada manusia untuk berlaku arif terhadap alam. karena agama ini adalah agama yang dipeluk oleh semua penduduk desa Cidahu. Hutan dan gunung itu jelas bukan milik kita dan sudah ada yang mengaturnya (pemerintah) maka rakyat tidak berhak mengambil apa yang ada dalam hutan. manusia terlebih dulu harus memiliki rasa keimanan yang kuat. manusia diberi wewenang oleh Allah untuk mendayagunakan sumberdaya alam dalam batas-batas yang kewajaran ekologis (Abdillah 2005). ia bersama dengan masyarakat desa Cidahu berkali-kali melakukan sweeping terhadap orang yang mengambil pohon dari hutan. lalu kesadaran menjalankan agama dengan benar. Menurutnya. Kesadaran keagamaan yang dimilikinya menjadikan pesantren yang diasuhnya cukup berperan dalam menjaga hutan tetap lestari. terdapat beberapa teks yang menunjukkan tentang hubungan manusia dan alam. Abdillah (2005) membahasnya melalui pembangunan teologi lingkungan (eco-theology). Dalam. hal ini dikarenakan banyak dari makhluk hidup yang hidupnya sangat tergantung pada pohon yang ditebang atau hewan yang dibunuh. maka orang tersebut tidak akan berani merusak dan mengambil. khilafh. Bagi orang yang memiliki kesadaran keimanan dan ketaatan terhadap aturan agama. Dalam melestarikan keberadaan keanekaragaman hayati yang terdapat di gunung Salak. Dalam pandangannya. beliau melakukannya dengan pendekatan agama. dalam hal ini Islam. sebagai sebuah agama. Sedangkan Mangunjaya (2005) melihat persoalan Islam dan lingkungan dari aspek Tauhid. Dalam membahas Islam dan pelestarian Lingkungan. sistim hukum al-Istishlah atau kemaslahatn umum. Keempat konsep ini menjadi landasan normatif peran agama dalam pelestarian lingkungan. Dalam Islam. Di desa ini terdapat satu pesantren dengan Kyai yang cukup berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Ketokoh-an yang dimilikinya. karena pada hakekatnya manusia dan lingkungan sama-sama berposisi sebagai karya cipta Ilahi yang tergabung dalam kesatuan ekosistem. di samping karena dianggap memiliki derajat keilmuan agama yang lebih tinggi dari masyarakat kebanyakan juga karena beliau mengasuh santri yang menetap sebanyak kurang lebih 270 orang. alam adalah ciptaan Allah. menebang pohon atau membunuh satu hewan pada hakekatnya membunuh banyak makhluk hidup. menurut (Abdillah 2005) manusia memiliki derajat kesamaan dengan kehidupan makhluk yang lainnya. Untuk dapat mengolah alam secara bijak. Islam. ada juga santri yang tidak menetap.tradisi. telah meresap menjadi tuntunan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Gambar II. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Padepokan Girijaya yang tinggal di desa Girijaya. secara garis besar terbagi dalam dua corak tradisi. Peletakan sesajen dan sedekah bumi merupakan bentuk penghargaan masyarakat terhadap adanya kehidupan selain di jagat manusia ini. Pertama adalah upacara seren taun yang dilakukan setiap tangal 10 muharrom setiap tahunnya. salah satunya adalah dengan ritual tradisi.upaya melindungi spesies hidupan liar dengan menyediakan lahan untuk habitat asli mereka secara utuh. Kedua. Selain hima’ menurut Mangunjaya juga terdapat konsep ihya almawat atau menghidupkan lahan. Setiap tahunnya mereka melakukan tiga upacara adat. Selain itu juga ada ngancak (sesajen) yang diletakkan di empat manahab atau penjuru angin. Ritual ini sebagai ungkapan rasa syukur atas pemberian Tuhan kepada manusia berupa hasil bumi. 2007). atau kawasan yang tidak produktif menjadi produktif merupakan anjuran syariah (Mangunjaya 2005).2. Ritual tradisi dan Pelestarian Lingkungan Masyarakat Indonesia. 15 . tanah. Terdapat berbagai macam bentuk tradisi dalam pelestarian lingkungan. adalah upacara rabu wekasan yang dilakukan pada hari rabu terakhir di bulan safar. Setiap corak tradisi memiliki upacara tradisi sebagai bentuk penghargaan dan upaya revitalisasi hubungan manusia dan alam. upacara muludan yang dilakukan setiap tanggal 12 bulan rabiul awwal dalam penanggalan Islam. Sistem perlindungan kawasan seperti ini tercatat dalam sejarah pernah dilakukan oleh Nabi dan pemimpin setelahnya (Mangunjaya 2005. Setiap upacara adat yang dilakukan selalu ada sedekah bumi yang dimaksudkan supaya manusia lebih menghargai bumi yang telah memberkan kehidupan bagi manusia. yaitu masyarakat dengan corak tradisi maritim dan masyarakat dengan corak tradisi agraris. Ritual ngramat sebagai bagian dari tradisi muludan yang dilakukan oleh masyarakat desa Girijaya. Ketiga.

wali. Menurut Geertz (1966) dengan melakukan pendekatan kebudayaan dari model bagi. ritual seperti itu adalah bagian dari pola budaya yang dapat menjadi penuntun prilaku manusia. Sebagai tradisi. menunjukkan bahwa ritual bisa menjadi pedoman dari perilaku budaya suatu masyarakat. Kemudian sedekah bumi. hal ini dilakukan sebagai bentuk syukur manusia atas apa yang telah diberikan bumi. 16 . mengandung muatan pesan simbolik tentang keakraban hubungan manusia dan alam. Kemudian ada ngramat.Terdapat rangkaian upacara dalam setiap pelaksanaan upacara tradisi. sedangkan air selain campuran untuk kebutuhan hidup seperti minum dan mandi juga untuk ditaburkan pada sawah mereka. yaitu masyarakat membawa dongdang/nampan yang berisi hasil bumi ke padepokan untuk dimakan secara bersama-sama. ruwatan bumi. dalam penguburannya disertai mantra-mantra untuk keselamatan dan kesejahteraan. Biasanya makanan yang telah di kramat dibawa pulang kembali. yaitu pembacaan mantera-mantera dan juga tawasulan pada para leluhur. Rangkaian yang terdapat pada upacara seren taun yang dilakukan oleh masyarakat Padepokan Girijaya terdiri dari. Dalam ngramat ini selain sebagian dari hasil bumi juga masyarakat membawa air. Sebagai bagian dari sistem religi. dengan harapan hasil panen yang telah dan akan diperoleh mendapatkan berkah. upacara yang dilakukan oleh masyarakat Girijaya. yaitu aneka makanan dikumpulkan dalam satu tempat kemudian di kubur.

Ini terjadi karena tidak semua bagian dari kawasan ini bisa dijelajahi. Flora di jalur Cangkuang dan TNGHS Resort Cidahu Hasil pengamatan yang telah dilakukan disuguhkan untuk memberikan gambaran Kekayaan flora resort Cidahu ini. dan beberapa diantaranya disajikan pada Gambar III. Pohon yang umum dan banyak tumbuh di sini didominasi oleh Schima wallichii (puspa). 1.BAB III KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN Sebagai negara yang dikenal dengan julukan mega-biodiversitas country. flora yang tercatat atau pun yang dibuat herbariumnya adalah flora yang dilewati ketika jelajah dilakukan. Tentunya. 3. Mallotus. Yang dimaksud flora disini adalah jenis tumbuhan yang dijumpai mulai dari perbatasan wilayah Perum Perhutani dan Kebun Javana Spa serta hutan melalui jalur setapak. Kekayaan flora alami pada tepi hutan nampak lebih banyak dihuni oleh jenis pendatang seperti Agathis dammara dan Calliandra calothyrsus. Sangat mungkin terjadi bahwa tingkat keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan ini jauh lebih tinggi dari apa yang telah di hasilkan. Untuk membuktikan bahwa di Gunung Salak terdapat keanekaragaman yang tinggi maka dilakukan jelajah terhadap kawasan ini dan mencatat flora yang terdapat di dalamnya. Salah satu jenis yang masuk dalam RDB yaitu Pinanga javana dijumpai disepanjang sungai. Castanopsis argentea. Schima wallichii dijumpai dengan tinggi pohon 5-10 m. 2. Pohon tersebut dapat dijumpai sepanjang jalan hingga bagian tepi kawah Ratu. menyebabkan populasi alami menurun dan mengalami erosi yang sangat mengkawatirkan. Dilokasi ini dapat dilihat daerah hutan yang terganggu dari Javana Spa mulai dari ketinggian 1400 m. maka hampir dapat dipastikan bahwa setiap wilayah atau kawasan di Indonesia memiliki keanekaragaman yang antar satu dengan lainnya berbeda. yang didominasi oleh jenis pionir Macaranga. rapat. Hasil pengamatan dan pengumpulan specimen herbarium di kawasan ini tercatat sekitar 100 jenis (Lampiran 5). Jenis tumbuhan yang menarik untuk dikemukakan pada tepi hutan yang terbuka antara lain adalah Cyathea contaminans (paku tiang) yang banyak dijumpai dan juga dipelihara di Kebun Javana Spa. yang perawakannya berupa pohon besar dengan kanopi berupa kerucut. dibagian selatan gunung Salak. Ficus. Weinmannia blumei. daun tunggal berupa elips. Quercus lineata. bagian bawah banyak ditumbuhi oleh Chlomolaena odoratum (kirinyu). Vegetasi pada tepian hutan nampak terbuka. Symplocos fasciculate dan lain-lain. Paku ini sebenarnya telah masuk dalam status perlu dilindungi karena bagian bawah batangnya yang merupakan kumpulan akar berwarna hitam banyak diambil untuk media anggrek dan media tanaman hias lainnya serta diperdagangkan ke luar negeri. Jenis ini termasuk dalam daftar CITES appendiks 2. beberapa pohon besar 17 . mahkota bunga putih dan benangsari kuning tampak sangat menyolok.

Pohon Albizia lophanta dengan daun halusnya yang tersusun menyirip terdapat di beberapa tempat terbuka. Castanopsis tungurut banyak dijumpai di kanan kiri jalan. Caryota rumphiana yang merupakan pohon palm soliter. Pada bagian kiri jalan setapak dijumpai satu pohon Fagraea blumei yang mempunyai kanopi memayung. bunga berupa terompet dan buah berupa gelendong ukuran kepalan tangan tumbuh tegak. daun muda berwarna merah kecoklatan. Gambar III. mudah dikenal karena bentuk daunnya yang menyirip. Dijumpai juga beberapa pohon Weinmania blumei. buahnya berduri dan biji berwarna coklat. dengan daun majemuknya dan daun penumpu yang besar. tumbuh pada tempat terbuka ditepi hutan. Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di kawasan gunung Salak 18 . 1.yang sedang berbuah.

sedangkan jenis-jenis lainnya adalah Vernonia arborea. Psychotria. sedang berbuah mirip anggur dan buah tersebut dapat dimakan walaupun rasanya asam dan segar. Castanopsis 19 . sangat umum dan mudah dikenal. Impatiens platypetala. B. Jenis yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai tanaman hias karena mempunyai bunga berupa terompet warna merah sangat mencolok dan mudah dikembangkan melalui stek batang adalah Aeschynanthus radicans. 2. Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di kawasan gunung Salak Flora sekitar camp Bajuri Jenis pohon yang paling banyak dijumpai di daerah ini adalah Schima wallichii (puspa). Glochidion arboretum. robusta dan B. Cinnamomum sintok.Tumbuhan liana yang dapat dijumpai disini antara lain Smilax macrocarpa (canar).. A. Begonia multangula. Gambar III. Tumbuhan bawah lantai hutan cukup rapat terdiri dari berbagai jenis tumbuhan antara lain Melastoma malabatricum. Argostemma montana dan Elatostema sp. muricata.horsfieldii dan Agalmyla parasitica. kemudian dijumpai satu jenis Uncaria sp. mempunyai kait untuk memanjat. Dijumpai bambu merambat Dinochloa scandens dan 2 jenis rubus yaitu Rubus moluccanus dan Rubus chrysophyllus merupakan tumbuhan berduri dengan mahkota bunga putih dan buah majemuk berwarna merah. Etlingera coccinea. Clidemia hirta. dengan daun berhadapan.

Ardisia crispa Lasianthus laevigatus Bl. Eurya acuminata dan lantai dasar banyak dijumpai Etlingera coccinea. Leea indica Burm. Ginotroches axilaris. Saurauia nodiflora dan Mallotus rhizinoides. Beberapa jenis tumbuhan di kawasan hutan gunung Salak. Lasianthus viridis. Omalanthus populneus Zoll. Aeschynanthus radicans dan Agalmyla parasitica dengan bunga merah berupa corong yang mencolok. Geophila repens. Ardisia sanginolenta DC Arthrophyllum javanicum Pavetta Montana Reinw. Rhododendron javanicum (Bl. Jenis tumbuhan liana yang nampak menonjol diantaranya adalah Uncaria. Frecynetia javanica yang sedang berbunga dengan daun pelindung berwarna merah keunguan. Begonia multangula.3. Datura metel Rhodamnia cinerea Ficus deltoidea Jack Gambar III. kemudian Medinilla speciosa yang juga sangat menarik dan berpotensi sebagai tanaman hias.acuminatissima. Ex Bl. M. Pada bagian bawah dapat dijumpai Melastoma malabatricum. TNGHS 20 . Plectocomia elongata (bubuai). Pada daerah ini dapat juga dijumpai Nepenthes gymnamphora yang populasinya sudah menurun. Symplocos fasciculata. & Mor. trachyphyllum.) Benn. Dysoxylum densiflorum. Argostemma montanum.f Tarena sp.

Strobilanthes. buah mencapai panjang 50 cm. Jenis liana yang banyak adalah Polygonum sp. Smilax ceylanica. Castanopsis javanica.360 m. Dan pada ketinggian 1. dengan kulit batang berwarna gelap karena pengaruh uap belerang. Ficus deltoidea. Gambar III. Jenis dominan di daerah ini yaitu Schima wallichii (puspa) yang berupa pohon tegak dengan tinggi sekitar 25 m. dijumpai jenis-jenis primer diantaranya Altingia excelsa. paku tiang Cyathea contaminans dan Musa acuminata (pisang). Vegetasi disekitar kawah ratu. Hornstedtia pininga dan Melastoma sp. yaitu sekitar fumarol tercium bau belerang yang kuat dan tidak ditemukan adanya tumbuhan yang tumbuh.Flora di jalur Pasir Reungit dan sekitar kawah Ratu Pada ketinggian 1.. Mallotus paniculatus dan Ficus padana dengan ketinggian pohon sekitar 10m. 4. Beberapa jenis diantaranya disajikan pada Gambar III.200 m banyak dijumpai jenis-jenis pioneer seperti Macropanax dispermus. Tumbuhan lain yang melimpah adalah Pandanus nitidus. Dissochaeta. Pada bagian lantai hutan dijumpai Schefflera spp. Pada ketinggian 1. Medinilla speciosa dan beberapa tumbuhan paku. Aralia dasyphylla. diameter batang diatas 50 cm. mempunyai daun berupa pedang memita. Schima wallichii. dan beberapa jenis yang dijumpai 21 . berdiameter sekitar 15 cm. Hedychium roxburghii.250m. 4.

Castanopsis javanica. Helipad dan beberapa jenis rumput dan paku-pakuan di sekitarnya Flora di jalur Cimalati Pada jalur Cimalati.Dibagian lebih bawah yaitu disekitar helipad vegetasi nampak terbuka (Gambar III. pada ketinggian antara 1. 5. Prunus arborea yang tumbuh sebagai jenis dominan atau pohon mencuat. 22 . Jenis pohon dominan Schima wallichii dan Lithocarpus beralih ke Podocarpus pada ketinggian 1800 m.100 dan 1. Pada ketinggian 1700 m. pada bagian tepi dijumpai banyak tumbuh Begonia multangula yang sangat melimpah. 5). Jenis tumbuhan yang dijumpai sekitar jalur Cimalati disajikan dalam Lampiran 1. Plantago major dan pada bagian lereng yang masih berhutan nampak Cyathea contaminans. dan pada ketinggian 1400 m banyak tumbuhan epifit. Gambar III. Lithocarpus sundaicus. Ficus padana dan tumbuhan pendatang dari luar yang merupakan invasive species seperti Piper aduncum dan Calliandra calothyrsus.400 m dpl banyak dijumpai pohon jenis Schima wallichii. dijumpai juga Centela asiatica. genus Vaccinium dan Rhododendron mulai terlihat sebagai vegetasi lapisan bawah.

dengan kriteria berdasarkan pada ketinggian pohon dan keadaan struktur hutan. 23 . bangunan Hutan Tanaman disekitar Gunung Salak merupakan tegakan dengan struktur sederhana tetapi pepohonannya tinggi. Hutan tanaman Hutan sekunder Lahan garapan Daerah terbuka Struktur Tinggi (20-40 m) dan komplek Tinggi (20-40 m) tetapi sederhana Semak Rendah (5-10 m) tetapi komplek Kebun campuran. Hutan sekunder merupakan hutan yang ditumbuhi semak dengan struktur hutan yang komplek. persawahan atau ladang.BAB IV FISIOGNOMI KAWASAN GUNUNG SALAK DAN DAERAH KORIDOR Fisiognomi dapat diartikan sebagai kenampakan luar dari suatu vegetasi.1. Selanjutnya peta fisiognomi tersebut dapat digunakan untuk mengelola komunitas lokal dengan memadukan pengetahuan di habitat alam pada setiap kategori dan lingkungannya. Dalam pembagian fisiognomi pada table diatas. Rendah (1-5 m) dan sawah. Hutan primer di gunung Salak digolongkan pada hutan tropis pegunungan yang dibagi menjadi hutan pegunungan bawah dan penungan atas tergantung pada ketinggiannya. untuk tujuan penelitian di gunung Salak kali ini ditentukan 6 kategori (Tabel V. Tabel IV. dapat memberikan gambaran umum tentang kondisi lingkungan alami wilayah tersebut. padang rumput. Hutan primer. dan dengan memetakannya ke dalam suatu wilayah. Altingia excelsa dan kebun karet. ketinggian pohon tidak terlalu tinggi tetapi mempunyai jumlah jenis yang banyak. ladang sederhana Daerah terbuka. Kategori fisiognomi dan penutupan lahan Fisiognomi Penutupan lahan Hutan Pegunungan atas Hutan primer Pegunungan bawah Hutan tanaman Perkebunan.1). perkebunan teh. serta dikatagorikan juga daerah yang tidak terdapat vegetasi yaitu daerah fumarol. hutan pegunungan atas dan bawah tidak berbeda. sehingga pembagiannya perlu dibedakan untuk pengelolaan kawasan Taman Nasional. Meskipun pembagian secara fisiognomi. Pembagian kategori disesuaikan dengan kondisi wilayah dan tujuannya. struktur dan diversitas tumbuhannya komplek. sehingga dikatagorikan tersendiri. hutan ini antara lain adalah hutan Agatis. tetapi ketinggian tempat menjadi faktor penghambat untuk kehidupan tumbuhan dan hewan liar. merupakan hutan dengan pepohonan yang tinggi. ada daerah yang digunakan untuk aktivitas manusia seperti kebun teh.

. Adapun jenis-jenis yang terdapat pada hutan pegunungan atas terdapat pada Tabel IV. Hutan pegunungan atas Hutan pegunungan atas pada umumnya merupakan hutan primer dan hanya ditemukan disekitar puncak gunung Salak. Pasir Reungit dan Cangkuang) serta di daerah kawasan koridor dan tempat lain. yang terdiri atas jenis-jenis Podocarpus imbricatus dan P. dengan ketinggian di atas 1. 2b. 2a. Jenis-jenis utama pada tipe vegetasi ini antara lain Schima wallichii (Theaceae). neriifolius. 1. 2) di gunung Salak yang terdapat dalam kawasan taman nasional merupakan hutan primer yang tersebar pada ketinggian di bawah 1. anggrek. 12. serta peruntukan lain. 24 . Pengamatan yang dilakukan pada jalur Cimalati pada ketinggian 1825 m dpl. Hutan Pegunungan atas Jalur Cimalati (1.800 m dpl. Di daerah ini banyak epipit seperti paku-pakuan.Berdasarkan hasil penelitian di tiga jalur (Cimalati. Adapun peta penutupan lahan dan peta fisiognomi kawasan gunung Salak dapat dilihat pada Gambar IV. 11 dan IV. Gambar IV.800 m dpl. Rododendron dan Vaccinium yang hidup di batang pohon.825 m dpl) Hutan pegunungan bawah Hutan pegunungan bawah (Gambar IV. dapat ditentukan adanya beberapa tipe vegetasi secara fisiognomi. dengan beberapa pohon mencuat yang mencapai ketinggian hampir 50 m. nampak mendominasi lapisan kanopi atas dengan tinggi lebih dari 20 m (Gambar IV. Tegakan hutan umumnya berkanopi rapat dengan tinggi 30-40 m.1). dijumpai suku Podocarpaceae. Berikut ini adalah tipe-tipe vegetasi dan peruntukan lain yang diperoleh dari pengamatan secara fisiognomi.

500 m dpl) Hutan berkategori hutan pegunungan bawah meluas kearah lereng Selatan dan Timur gunung Salak. Akan tetapi pada hutan tanaman Altingia excelsa yang sudah tua tinggi pohon dapat mencapai 40 m. Pinus merkusii dijumpai dibagian batas tepi kawasan taman nasional. Polyosma ilicifolia (Saxifagraceae) dan Prunus arborea (Rosaceae). 2.. seperti yang terlihat di gunung Bunder salah satu jalan masuk ke dalam kawasan taman nasional (Gambar IV. Acer laurinum (Aceraceae). Engelhardia spicata (Juglandaceae). Lithocarpus elegans (Fagaceae). 25 .Castanopsis javanica. 2b. Hutan tanaman Hutan tanaman seperti Agatis sp. tetapi menjadi menyempit tak teratur karena adanya hutan sekunder yang berpusat di kawasan perusahaan listrik serta tidak berlanjut ke arah koridor pada bagian yang semakin kearah Barat. Altingia excelsa (Hamamelidaceae). yang umumnya berumur sama dengan struktur hutan yang sederhana. 2a. Hutan yang meluas kearah Barat tersebar di antara gunung Berbakti dan Javana Spa. Altingia excelsa. Hutan pegunungan bawah (Jalur Cimalati (1.3). Jenis-jenis lainnya secara lengkap disajikan dalam Tabel IV. Gambar IV. Kanopi hutan nampak sudah rapat ketika pepohonan (Altingia excelsa) mencapai tinggi di atas 5 m.

4). Hal ini menunjukkan adanya proses pemulihan atau suksesi. Jenis-jenis lain yang tercatat dalam tipe vegetasi ini disajikan pada Tabel IV. 26 . karena saat ini hutan sekundernya mencakup areal yang luas. Mallotus paniculatus (Euphorbiaceae). Jenis-jenis pioneer seperti Macropanax dispermus (Araliaceae). Komponen penyusun tipe hutan ini tidak saja jenis pioner tetapi juga terdapat beberapa jenis primer dalam fase suksesi seperti Castanopsis argentea and Lithocarpus elegans (Fagaceae). Symplocos fasciculata (Symplocaceae). Hal ini perlu mendapat perhatian dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan pada masa datang. Bunder) Hutan sekunder Hutan sekunder umumnya dengan tinggi pohon rata-rata hanya mencapai 5-10 m.Gambar IV. 3. Hutan tanaman (Rasamala (Altingia excelsa) di Gn. dan Ficus deltoidea (Moraceae) merupakan komponen utama hutan sekunder. Beberapa pohon jenis Weinmannia blumei (Theaseae) dengan tinggi 20-30 m nampak tersebar di beberapa tempat. dan tersebar sekitar bagian utara gunung Salak dan termasuk di dalamnya kawasan koridor. terutama sekitar daerah belerang di gunung Salak. Dalam peta penutupan lahan. serta secara alami yaitu letusan gunung. dan terdiri atas jenis-jenis pioner yang dijumpai di jalur Cangkuang maupun Pasir Reungit (Gambar IV. 5). 3. tipe hutan ini termasuk dalam kriteria semak. 4. sehingga memungkinkan hutan sekunder akan mencapai pemulihan menjadi hutan primer jika gangguan tidak terjadi lagi. Kerusakan hutan dapat terjadi karena dua hal yaitu karena aktivitas manusia seperti pengaruh penggunaan lahan dimasa lalu dan illegal logging. Dengan demikian proses pemulihan hutan sekunder menjadi hutan primer merupakan suatu hal yang perlu diwujudkan dalam rangka menyelamatkan habitat satwa liar.

Kondisi semacam ini meluas sampai hutan pegunungan bawah. Kategori fisiognomi ini mencakup daerah yang cukup luas di daerah koridor. Hutan sekunder (Daerah koridor) Lahan garapan Dalam peta penutupan lahan.700 m dpl. sawah dan padang rumput digabungkan ke dalam 1 tipe fisiognomi yaitu dengan struktur rendah dan sederhana (Gambar IV. ladang.Gambar IV. hutan campuran. Hutan sekunder (Jalur Cang Kuang 1300m dpl) Gambar IV.600-1. 27 . 5. karena itu setiap perubahan di daerah tersebut perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. 7. perkebunan teh. 8). 4. 6. begitu juga pada lereng utara gunung Salak pada ketinggian 1.

ini termasuk “fumarole” di lereng Barat gunung Salak dan lokasi bangunan pembangkit tenaga listrik di lereng bagian Barat gunung Salak (Gambar IV. Kedua lokasi tersebut mencakup areal yang cukup luas.Gambar IV. 9. 10). 6. Lahan garapan Sisi Utara koridor (Kebun teh) Gambar IV. Lahan garapan Sisi Selatan Koridor (Ladang) Daerah terbuka Kategori fisiogomi ini ditandai dengan tidak adanya tumbuhan atau vegetasi yang dapat tumbuh. 28 . 8. 7. Lahan garapan Daerah koridor (Sawah) Gambar IV.

W einm annia blum ei Planch. G lochidion rubrum Bl. Calliandra callothyrsus M eissn.) Loes Piper aduncum L.) M oore Sym plocos fasciculata Zoll.Gambar IV. Lithocarpus daphnoides (Bl. Fagraea elliptica Roxb. Pternandra azurea (Bl. Daerah terbuka (Pembangkit tenaga listrik) Tabel IV.) Rehd.) Copel.) M uell.) A. Ficus fulva Reinw.Arg. 2a. Daerah terbuka (“Fumarole”) Gambar IV.ex Bl. Urophyllum arboreum (Reinw. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cimalati O ut of NP NationalPark Area Species Fam ily M yrtaceae Cunoniaceae M oraceae M oraceae Lauraceae Euphorbiaceae Sym plocaceae Sym plocaceae Fagaceae Euphorbiaceae Laulaceae Loganiaceae Rubiaceae Fagaceae Lauraceae M elastom ataceae Euphorbiaceae Proteaceae Celastraceae Piperaceae Fabaceae Cyatheaceae Pandanaceae Araucariaceae J-Fam ily フトモモ科 クノニア科 クワ科 クワ科 クスノキ科 トウダイグサ科 ハイノキ科 ハイノキ科 ブナ科 トウダイグサ科 クスノキ科 マチン科 アカネ科 ブナ科 クスノキ科 ノボタン科 トウダイグサ科 ヤマモガシ科 ニシキギ科 コショ ウ科 マメ科 ヘゴ科 タコノキ科 ナンヨウスギ科 plt plt plt df nf df nf nf nd nf nf nf wp5 wp15 wp17 wp19 wp20 wp21 wp22 wp23 wp24 wp32 wp33 nf wp34 nf wp35 nf wp36 Syzygium sp.) Burck.G ap n f :Naturalforest 29 . Sym plocos cochinchinensis (Lour.ex W all.ex Bl.) L.Arg. Pandanus furcatus Roxb. Perrotteia alpestris Bl.ex Bl. Litsea resinosa Bl. Cyathea contam inans (W all. Lithocarpus sundaicus (Bl. 10.) Korth. 890 1025 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1520 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 1615 1705 1825 Figure: G PS W P Num ber / Altitude [m ] p l t :Pl a n t a t i o n  a r e a d f :Forest disturbed by hum an activity nd:Forest disturbed in natural. 9.) R.C. Agathis dam m ara (Lam b.Rich.C am us Beilschm iedia m adang (Bl.Br. Antidesm a tetrandrum Bl. M allotus paniculatus (Lam k) M uell. M acaranga triloba (Reinw. Helicia robusta (Roxb.) Bl. Ficus fistulosa Reinw.

ex Soepadm o Payena leerii (T.) K.) DC.) G ilg. O lea javanica (Bl. G ynotroches axillaris Bl.) Hatus. Rhododendron sp. 2b.) M iq. Psychotria robusta Bl. Lithocarpus elegans (Bl. Engelhardia spicata Lesch. Podocarpus neriifolius D.) Korth.) Boerl.f. Polyosm a ilicifolia Bl. Prunus arborea (Bl. Eurya acum inata DC.) Kurz.) Knobl. Lasianthus laevigatus Bl. Daphne com posita (L. Lindera bibracteata (Bl. Parkia interm edia Hassk.) Kalkm an Acer laurinum Hassk.Tabel IV. Syzygium rostratum (Bl.ex Bl. Saurauia bracteosa DC. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cimalati. M elicope latifolia (DC.) DC. M anglietia glauca Bl.) DC. Schim a wallichii (DC. Neolitsea cassia (L. 1615 ○ ○ ○ ○ 1705 ○ ○ 1825 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 30 . Litsea noronhae Bl.Schum . Elaeocarpus sphaericus (G aertn.) T.Don Astronia spectabilis Bl. Vaccinium bancanum M iq. Vaccinium sp.) Kosterm . Castanopsis argentea (Bl. Castanopsis javanica (Bl. Platea excelsa Bl. O ut of NP NationalPark Area Species Fam ily Podocarpaceae Podocarpaceae M elastom ataceae Ericaceae Thym elaeaceae Rhizophoraceae Rubiaceae Ericaceae Cornaceae Laulaceae O leaceae Rubiaceae Actinidiaceae Theaceae Icacinaceae Fagaceae Lauraceae Rosaceae Aceraceae M agnoliaceae Elaeocarpaceae Fagaceae Sapotaceae M yrtaceae Ericaceae Rutaceae Juglandaceae Saxifragaceae Laulaceae Fabaceae Rutaceae Rosaceae Fagaceae Loganiaceae J-Fam ily マキ科 マキ科 ノボタン科 ツツジ科 ジンチョ ウゲ科 ヒルギ科 アカネ科 ツツジ科 ミ ズキ科 クスノキ科 モクセイ科 アカネ科 マタタビ科 ツバキ科 クロタキカズラ科 ブナ科 クスノキ科 バラ科 カエデ科 モクレン科 ホルト ノキ科 ブナ科 アカテツ科 フトモモ科 ツツジ科 ミ カン科 クルミ 科 ユキノシタ科 クスノキ科 マメ科 ミ カン科 バラ科 ブナ科 マチン科 plt plt plt df nf df nf nf nd wp5 - nf nf nf nf wp34 nf wp35 nf wp36 wp15 wp17 wp19 wp20 wp21 wp22 wp23 wp24 wp32 wp33 890 1025 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1520 Podocarpus im bricatus Bl.G .& B.Hartley Prunus javanica (T. M astixia pentandra Bl. Acronychia laurifolia Bl.& B.

) C opel . C yatheaceae ヘゴ科 C yathea contam i nans (W al l . K. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Pasir Reungit O ut of NP Nati onalPark Area Speci es Fam i l y M el astom ataceae M oraceae Euphorbi aceae Laul aceae J-Fam i l y plt W P25 df df df nf nf fm wp26 wp27 wp28 wp29 wp30 wp31 1045 ノ ボタン科 A stronia spectabi li s B l. ) Pers. 3. Lauraceae クスノ キ科 Persea ri m osa (B l . f. ) Kosterm . C unoni aceae クノ ニア科 W ei nm anni a bl um ei Pl anch.A rg. ) Rehd. ) Korth. Rhi zophoraceae ヒルギ科 G ynotroches axi l l ari s Bl .Tabel IV. Ham am el i daceae マンサク科 Al ti ngi a excel sa N orona Fagaceae ブナ科 C astanopsi sj avani ca (B l . )DC . )DC . G . G esneri aceae イワタバコ科 A gal m yla parasi ti ca (Lam k) O . ex B l . クスノ キ科 Li tsea cubeba (Lour. ブナ科 Li thocarpus el egans (B l . Aral i aceae ウコギ科 M acropanax di sperm us (B l .ex Scheff. ) T. Saxi fragaceae ユキノ シタ科 Pol yosm a i li ci fol i a Bl . Pal m ae ヤシ科 Pl ectocom i a el ongata M art. El aeocarpaceae ホルト ノ キ科 El aeocarpus sti pul ari s B l. Rutaceae ミ カン科 M el i cope l ati fol i a (D C .H artl ey Sym pl ocaceae ハイノ キ科 Sym plocos fasci cul ata Zoll . Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 A ntidesm a tetrandrum B l . ) H atus. ノ ボタン科 M el astom a syl vaticum B l . M el astom ataceae ノ ボタン科 M edi ni l l a speci osa Rei nw . Fagaceae ブナ科 Li thocarpus sundai cus (B l . Fagaceae ブナ科 C astanopsi s argentea (B l. Acti ni di aceae マタタビ科 Saurauia bracteosa D C . C yatheaceae ヘゴ科 C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . K. クワ科 Fi cus del toi dea Jack ト ウダイグサ科 Gl ochidi on rubrum B l . ) M ez Theaceae ツバキ科 Schi m a wal l i chi i (D C .& D e V ri ese 1101 1150 1200 1247 1302 1360 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ Fi gure:G PS W P Num ber / Al ti tude [m ] p l t :P l a n t a t i o n   a r e a vi ty d f :Forest di sturbed by hum an acti n f :Naturalforest fm :Near Fum arol e 31 . )O . M oraceae クワ科 Fi cus padana B urm .ex Soepadm o Fagaceae Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 M al l otus pani cul atus (Lam k) M uell . M aratti aceae ナンヨウスギ科 A gi opteri s evecta H offm .ex B l . M el astom ataceae M yrsi naceae ヤブコウジ科 Rapanea hassel tii (B l . Pi naceae マツ科 Pi nus m erkusi i Jungh.

)Ni el sen Pi nanga j avana B l .Tabel IV. )DC . Sauraui a bracteosa D C .Ki ng & H .ex M art. 4. A cer l auri num H assk. C hrom ol aena odorata (L. C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . D ysoxyl um densi fl orum (B l . M acropanax di sperm us (B l .A rg. ) C hoi sy W ei nm anni a bl um ei P l anch.A rg. )O . A gathi s dam m ara (Lam b. Sym pl ocos fasci cul ata Zol l . ) M uel l . Schi m a w al l i chi i (D C . ) S. )DC . M . I l ex cym osa B l . C astanopsi s argentea (B l . ) M uel l . Fi cus fi stul osa R ei nw . Eurya acum i nata D C . )R. C aryota rum phi ana B l . K. ) L. ) Korth. C astanopsi s tungurrut (B l . M usaceae Pandanaceae A cti ni di aceae Sym pl ocaceae Euphorbi aceae Euphorbi aceae Euphorbi aceae Fabaceae A recaceae C om posi tae Zi ngi beraceae M oraceae A qui fol i aceae A raucari aceae A ral i aceae 1221 1250 1304 1358 1382 1403 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ Fi gure: G PS W P N um ber / A l ti tude [m ] O pn: O pen area d f : Forest di sturbed by hum an acti vi ty 32 .R obi nson Etl i ngera cocci nea (B l .R i ch. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cangkuang Speci es Fam i l y M el astom ataceae Fagaceae Fagaceae M el i aceae Saxi fragaceae M yrsi naceae C yatheaceae A ral i aceae Theaceae A ceraceae Fagaceae R hi zophoraceae Euphorbi aceae El aeocarpaceae Sym pl ocaceae C unoni aceae A recaceae M oraceae Theaceae Euphorbi aceae J-Fam i l y ノ ボタ ン科 ブナ科 ブナ科 センダン科 ユキノ シタ 科 ヤブコウジ科 ヘゴ科 ウコギ科 ツバキ科 カエデ科 ブナ科 ヒ ルギ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ハイノ キ科 クノ ニア科 ヤシ科 クワ科 ツバキ科 ト ウダイグサ科 バショ ウ科 タ コノ キ科 マタ タ ビ科 ハイノ キ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 マメ 科 ヤシ科 キク科 ショ ウガ科 クワ科 モチノ キ科 ナンヨ ウスギ科 ウコギ科 N ati onalP ark A rea opn opn df df df df w p39 w p40 w p41 w p42 w p43 w p44 A stroni a spectabi l i s Bl . P arasari anthes fal catari a (L.Sakai& N agam . M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l .ex B l .C . Q uercus l i neata B l . A rthrophyl l um di versi fol i um B l . G ynotroches axi l l ari s O m al anthus popul neus (G ei sel ) P ax Sl oanea si gun (B l ) K. P ol yosm a i l i ci fol i a Bl .A rg. Fi cus padana B urm .ex B l . M acaranga tri l oba (R ei nw . M usa acum i nata C ol l a P andanus furcatus R oxb. )M i q.Schum . Gl ochi di on arborescens M acaranga rhi zi noi des (B l . Sym pl ocos odorati ssi m a (B l . A rdi si a ful i gi nosa B l . f.

Salak Gb. 12. Peta penutupan lahan kawasan G. Salak 33 . IV. Peta fisiognomi kawasan G. IV. 11.Gb.

D= 40-50 %. B= 20-30 %. Parameter tersebut selanjutnya dilakukan analisis ordinansi dan stratifikasi hutan untuk mengetahui lapisan kanopi hutan.1. E= 50-60 %) 34 . Namun demikian tingkat heterogenetitas secara umum tercatat cukup tinggi. kekayaan jenis. kerapatan.BAB V ANALISIS VEGETASI Studi ekologi hutan dilakukan dengan menggunakan metoda baku. Persebaran kelas frekuensi jenis dalam 12 petak pencuplikan data (A= 0-20 %. sehingga diperoleh parameter-parameter frekuensi. C= 30-40 %. dominansi. indeks keanekaragaman. kemerataan jenis dan dominasi jenis. sehingga hasil yang diperoleh belum dapat menggambarkan kondisi hutan gunung Salak secara lengkap. yang terdiri atas 44 marga dan 26 suku (Lampiran 3). dimana data vegetasi yang terkumpul kemudian dianalisis menurut cara yang umum dilakukan dalam kajian ekologi hutan. ditandai dengan banyaknya jenis dengan frekuensi < 25 % (Gambar V. Ini relatif sangat rendah dibandingkan dengan dengan kekayaan jenis yang diperkirakan terdapat di kawasan gunung Salak. Namun demikian dalam sekala kecil sudah terlihat adanya pengelompokan vegetasi berdasarkan ketinggian tempat maupun kondisi medan. Pencuplikan data vegetasi hanya dilakukan pada 1 dari 3 jalur pengamatan. Komposisi floristik Dalam 12 petak pencuplikan data tercatat sebanyak 59 jenis pohon dengan diameter batang > 5 cm.1). Dengan demikian diharapkan hasil ini dapat dipakai sebagai data dasar untuk penelitian lebih lanjut. 50 40 Ju m lah jen is (% ) 30 20 10 0 A B C Kelas frekuensi (%) D E Gambar V.

Cyatheaceae.20 300.26 1.90 25. Suku Fagaceae Cyatheaceae Theaceae Lauraceae Meliaceae Rutaceae Moraceae Euphorbiaceae Myrtaceae Saxifagraceae Myrsinaceae Melastomataceae Rubiaceae Suku-Suku Lain (13) Jumlah LBD 9. 2). Theaceae dan Lauraceae merupakan suku-suku tumbuhan yang paling utama di daerah penelitian (Tabel V. Eurya acuminata dan Dysoxylum densiflorum yang tersebar cukup merata.1).28 10.1.5) ditentukan jenis-jenis pohon yang paling utama di daerah penelitian (Tabel V.52 m2/ha. Rendahnya luas bidang dasar menunjukkan bahwa banyak diantara pohon yang tercacah berukuran kecil (Gambar V. Jenis-jenis tersebut paling tidak tercatat sebagai jenis dominan di satu petak pencuplikan data. 35 . yang merupakan salah satu ciri khas hutan pegunungan. Tingginya nilai penting jenis Cyathea contaminans terutama karena persebarannya yang luas. Struktur hutan Kerapatan pohon secara umum tercatat tidak terlalu tinggi dan dengan luas bidang dasar yang rendah pula. jumlah jenis (JJ) dan nilai penting suku (NPS) suku-suku pohon yang tercatat di daerah penelitian.53 0.28 2.68 15. Suku-suku tersebut dengan jumlah jenis.73 25. kerapatan (K= individu/ha).82 15.86 2.95 17. jumlah individu dan luas bidang dasar yang relatif tertinggi.00 NPS 53.2).74 0.83 1. Fagaceae.48 0. Dengan kata lain bahwa di setiap tempat dapat dijumpai adanya jenis Cyathea contaminans.46 10. Luas bidang dasar (LBD= m2/ha).58 14.11 1. Dilain pihak 19 jenis lainnya dengan NPR yang rendah dan hanya terdapat pada 1 petak pencuplikan data.22 11.93 1.Hanya beberapa jenis diantaranya Cyathea contaminans. dengan total luas bidang dasar 26.33 21.54 0.07 51.36 1. Tabel V.52 K 108 192 100 78 75 48 19 25 50 47 65 22 39 128 996 JJ 4 2 4 6 2 3 7 5 3 1 2 1 3 16. Dari 26 suku yang tercatat. Dalam petak dengan luas luas total 1.05 1.00 59.28 12.58 0.08 ha (12 petak) hanya tercacah sebanyak 996 individu pohon (diameter > 5 cm).48 14.98 26. yaitu terdapat di semua petak pencuplikan data. Ardisia javanica.00 Berdasarkan nilai penting rata-rata jenis pohon (NPR > 7.

yang menunjukkan adanya persebaran yang khas dari masing-masing jenis.1 9.6 29.4 %) berukuran kecil (diameter < 20 cm) dan hanya sekitar 1.8 300 104.0 300 103.0 5. Acronychia laurifolia dan Polyosma illicifolia (Tabel V.6 22.5 85.0 111.9 11.6 4.3 16.5 6.0 29.8 300 4.8 P3 34.1 12.0 P4 27.4 46.8 9.8 9.0 10. 2.3 P12 14.8 % diantaranya yang mencapai ukuran > 60 cm.2 6.7 58.9 300 Dari seluruh individu yang tercacah.7 300 14. 3).1 300 116.9 22.0 24. Berdasarkan nilai luas bidang dasar relatif.1 8.7 15.9 43. Schima wallichii dan Dysoxylum densiflorum.2 300 11.8 15.0 21.5 30.9 43.8 15.9 46.1 10.7 48.0 20.5 7.9 6.5 73.9 300 80.7 31.1 68.1 P2 16. 36 . sebagian besar (81.Tabel V.0 3. Namun demikian dominasi jenis-jenis tersebut nampak bervariasi di masing-masing petak.4 22.4 25.5 9.1 34.6 3.9 42.7 16.8 4.0 300 78.6 23.2 9.9 22.5 41.3 9.2 68.6 51.3 24.4 28.0 11.7 23.9 P10 52.9 42.1 18.7 3.9 3.2 10.7 13.1 3.8 76.5 5.7 300 154.7 132.6 300 25.1 35.3 NPR 35.8 24.4 62.6 24.7 61. Tiga pohon terbesar (diameter > 100 cm) yang tercuplik hanya diwakili oleh 1 jenis yaitu Castanopsis javanica.8 9.3 3.6 16.5 6.5 300 6.1 22.5 12.5 22.2 P9 38.0 29.0 13.4 5. dapat dikatakan bahwa daerah penelitian didominasi oleh Castanopsis javanica dan Lithocarpus sundaicus.9 4.4 13.1 12.6 5.8 3.5 9.1 21.6 31.9 4. Gynotroches axillaries dan Lithocarpus sundaicus.2 P8 69.9 52.8 98. diikuti oleh Astronia spectabilis.6 P7 27.9 P6 37.0 28. dan beberapa pohon lain yang berukuran cukup besar (diameter 80-100 cm) diwakili oleh jenis-jenis Lithocarpus spicatus.0 43.0 9.5 21.5 P5 51.7 22. Nilai penting jenis-jenis rata-rata (NPR) pohon dan di setiap petak pencuplikan data Jenis / Petak Cyathea contaminans Lithocarpus sundaicus Castanopsis javanica Dysoxylum densiflorum Polyosma illicifolia Ardisia javanica Astronia spectabilis Eurya acuminata Acronichya laurifolia Symplocos fasciculata Syzygium fascigiatum Schima wallichii Cinamomum sintoc Jenis-jenis lain (45) Jumlah P1 18.0 24.8 300 88.0 7.9 3.1 7.8 P11 32.3 7.0 17.8 13.6 13.0 3.

60 50 Jumlah individu (%) 40 30 20 10 0 < 10 < 20 < 30 < 40 < 50 < 60 < 70 < 80 > 80 Kelas diameter (cm)
Gambar V. 2. Persebaran diameter pohon yang tercacah dalam 12 petak pencuplikan data.

Tabel V. 3. Jenis-jenis dominant yang tercacah di daerah penelitian. Jenis Castanopsis javanica Lithocarpus sundaicus Astronia spectabilis Schima wallichii Dysoxylum densiflorum Acronichya laurifolia Polyosma illicifolia Jenis-jenis lain Jumlah P1 42.1 P2 P3 10.9 P4 P5 33.7 P6 P7 P8 P9 7.7 9.9 20.7 P10 P11 P12 DR

0.5 61.7

20.4 14.7 8.3 10.4 13.2 14.8 30.4 4.6 1.8 4.3 0.3 2.5 5.5 7.1 5.6 5.0 4.9 4.4

0.5 27.4 14.3 18.2 13.0 23.0 12.2 4.1 12.6 13.0 28.0 15.1 5.7 1.8 8.3 26.6 0.4 21.0 10.5 9.6 3.5 17.2 2.2 0.3 7.9 13.2

3.0 5.9

13.7 18.1

0.4 12.4 0.9 2.4

32.4 33.0 41.1 45.7 37.1 41.6 100 100 100 100 100 100

9.1 72.3 86.4 34.9 51.6 57.6 45.2 100 100 100 100 100 100 100

37

Pola komunitas Hasil analisis ordinasi menunjukkan adanya pengelompokan petak menjadi 4 kelompok (Gambar V. 3), yaitu: Kelompok 1: terdiri atas petak-petak 1, 2, 3, 4 dan 5; kelompok 2: terdiri atas petak-petak 6, 7, 10 dan 11; kelompok 3: terdiri atas petak 8 dan 9; dan kelompok 4: petak 12. Nampak bahwa petak 12 terpisah dari yang lain karena terdapat pada kondisi habitat dan ketinggian yang sangat berbeda.

0.5

9 12 8

Axis-2

1
0

2 5 3

7 10 6 11
-0.5 -1 0 Axis-1

4

1

Gambar V. 3. Pengelompokan petak-petak pencuplikan data berdasarkan analisis ordinasi (PCA) dengan parameter nilai dominansi jenis.

Kelompok 1 terdapat pada jalur ke arah puncak Salak-1, dengan ketinggian antara 1400 dan 1700 m dpl. Secara keseluruhan dalam kelompok ini dapat ditentukan sebagai komunitas Castanopsis – Polyosma dengan jenis-jenis dominan Castanopsis javanica, Polyosma illicifolia, Lithocarpus sundaicus, Astronia spectabilis, Acronichya laurifolia dan Schima wallichii. Kondisi hutan dari komunitas ini disajikan dalam Gambar V. 4. Kelompok 2 terdapat pada daerah sekitar Pondok Bajuri ke arah Puncak Salak-1, Kawah Ratu dan Cangkuang; pada ketinggian antara 1300 dan 1400 m dpl. Komunitas dalam kelompok-2 ini dapat ditentukan sebagai komunitas Castanopsis – Lithocarpus, dengan Castanopsis javanica, Lithocarpus sundaicus, Dysoxylum densiflorum, Schima wallichii, Astronia spectabilis dan Lithocarpus spicatus merupakan jenis-jenis dominan. Gambar V. 5. menunjukkan kondisi hutan dari komunitas ini.

38

Gambar V. 4. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Castanopsis – Polyosma

Gambar V. 5. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Castanopsis – Lithocarpus

39

Gambar V. 6. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Eurya - Ficus

Kelompok-3 terdapat pada daerah jalur ke arah Kawah Ratu pada ketinggian antara 1.400 dan 1.450 m dpl. Kelompok-3 ini dapat ditentukan sebagai komunitas Eurya – Ficus (Gambar V. 6); dengan jenisjenis dominan diantaranya Eurya acuminate, Ficus padana, Evodia latifolia, Casearia velutina, Lithocarpus sundaicus dan Vernonia arborea. Kelompok-4 terdapat di daerah sekitar Pos Kancil pada ketinggian 1209 m dpl. Komunitas di daerah ini nampak berbeda dengan komunitas lainnya, yang kemungkinan karena perbedaan ketinggian ataupun pengaruh gangguan. Komunitas di daerah ini ditentukan sebagai komunitas Symplocos – Castanopsis, dengan Castanopsis javanica, Symplocos fasciculate, Glochidion rubrum, Ilex cymosa dan Lithocarpus sundaicus merupakan jenis-jenis dominan. Berdasarkan pengelompokan tersebut diatas dapat dikatakan ketinggian tempat merupakan faktor utama, meskipun lokasi (posisi geografi) juga ikut berperan. Struktur hutan diantara 3 komunitas tersebut nampak bervariasi, yang terlihat dari persebaran horisontal dan persebaran vertikal. Gambar V.7., menunjukkan adanya perbedaan stratifikasi hutan diantara ke 3 komunitas tersebut. Komunitas Castanopsis – Polyosma menunjukkan lapisan yang menerus dengan tinggi total pohon mencapai > 35 m. Pohon-pohon tertinggi dalam komunitas ini antara lain Schima wallichii, Castanopsis javanica dan Lithocarpus sundaicus. Begitu pula komunitas Castanopsis – Lithocarpus menunjukkan lapisan kanopi yang cukup menerus, tetapi dengan tinggi pohon kurang dari 30 m. Castanopsis javanica, Gynotroches axillaris, Astronea spectabilis dan Lithocarpus sundaicus tercatat

40

5 m yang terdiri atas jenis-jenis Ilex cymosa. Dilain pihak komunitas Eurya – Ficus pohon-pohon tertinggi hanya mencapai 19. 40 Komunitas Castanopsis-Polyosma 20 Komunitas Castanopsis-Lithocarpus 20 Komunitas Eurya-Ficus 30 Tinggi total (m) 15 20 10 10 10 5 0 0 10 20 30 0 0 10 Tinggi cabang (m) 20 0 0 5 10 15 Gambar V. 8. Symplocos fasciculata. yang menunjukkan banyaknya rumpang (daerah terbuka). Castanopsis javanica dan Polyosma illicifolia. Stratifikasi hutan pada setiap tipe komunitas 80 Kom-Castanopsis-Polyosma Kom-Castanopsis-Lithocarpus 60 Jumlah pohon (%) Kom-Eurya-Ficus 40 20 0 < 20 < 30 < 40 < 50 < 60 < 70 < 80 < 90 > 100 Kelas diameter (cm) Gambar V.sebagai jenis-jenis tertinggi dalam komunitas ini. dengan lapisan kanopi yang tidak menerus. 7. Persebaran diameter pohon pada setiap tipe komunitas 41 . Stratifikasi hutan dalam komunitas ini.

khususnya komunitas Castanopsis-Polyosma. karena pencuplikan data yang relatif sangat terbatas. Berdasarkan hasil tersebut di atas dapat dikatakan bahwa komunitas Eurya-Ficus masih dalam fase suksesi setelah mengalami gangguan. 42 . Namun demikian diharapkan hasil yang telah terkumpul dapat dipakai sebagai acuan penelitian lebih lanjut. sedangkan pada komunitas Eurya-Ficus tercatat kurang dari 2 %. Akan tetapi hasil ini kemungkinan belum menunjukkan kondisi hutan kawasan gunung Salak secara menyeluruh. Di lain pihak dua komunitas lainnya. 8). sudah menuju ke arah fase klimaks ditandai dengan persebaran vertikal dan horisontal yang nampak menerus.Perbedaan fase diantara ke 3 komunitas tersebut juga terlihat dari perbedaan ukuran diameter pohon (Gambar V. Pada komunitas Castanopsis-Polyosma dan komunitas Castanopsis-Lithocarpus tercatat bahwa pohon dengan diameter > 50 cm mencapai lebih dari 5 % dari pohon yang tercacah.

terdapat juga pohon yang dimanfaatkan untuk keperluan lainnya.00 5.00 10. makanan. Kegunaan tumbuhan dalam petak 40. Sedangkan tumbuhan bawah dan merambat dimanfaatkan sebagai obat.2).00 Persentase 25. saat dikonfirmasi mengenai nama tumbuhan yang terdapat dalam petak. Seperti kulit batang dari kiteja (Neolitsea javanica) yang dimanfaatkan sebagai pengganti obat nyamuk. kerajinan (furniture). makanan. Persentase pemanfatan jenis tumbuhan yang terdapat di dalam plot. 43 . Berdasarkan grafik di bawah dapat dilihat bahwa pemanfaatan yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat terhadap sumberdaya alam yang terdapat di dalam petak adalah sebagai bahan bangunan. pengetahuan mereka tentang tumbuhan yang dimanfaatkan tidak jauh berbeda. hal ini dikarenakan tumbuhan yang terdapat di dalam petak didominasi oleh pohon.1. atau pakan ternak.00 30. Berdasarkan hasil wawancara terhadap masyarakat desa Cidahu dan desa Girijaya.1).00 20.BAB VI PEMANFAATAN TUMBUHAN Berdasarkan wawancara yang dilakukan di dalam petak. Berdasarkan wawancara.1). diketahui terdapat penambahan 44 jenis yang tidak terdapat dalam petak. dan kayu bakar (Gambar VI. Sedangkan di desa Cidahu dan desa Girijaya. Jenis-jenis tersebut terbagi dalam 30 family dari tumbuhan yang diketahui kegunaannya sebagai obat tradisional (Tabel VI.00 0.00 Kerajinan Obat Bahan Bangunan Makanan Pakan Ternak Kayu bakar Alat tradisional Jenis kegunaan Gambar V. diketahui bahwa pengetahuan masyarakat mengenai tumbuhan yang terdapat di dalam petak. pakan ternak. Namun demikian. diketahui bahwa mereka mengenal 36 jenis dan 28 famili dari tumbuhan yang dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat (Tabel VI. teknologi tradisional.00 35.00 15. paling banyak digunakan sebagai bahan bangunan.

kulit jirak (Symplocos fasciculata Zoll. akar eurih (Imperata cylindrica Pers. masyarakat mengenal berbagai macam kegunaan dari satu jenis tumbuhan.).). Daun harendong bulu dapat juga digunakan sebagai penghilang rasa pahit dalam makanan yang direbus. ada satu jenis tumbuhan yang memiliki ragam pemanfaatan. penggunaannya dengan direbus secara bersama-sama. Hal ini karena pengetahuan tersebut yang ada tidak saja berasal dari pewarisan melainkan juga dari adanya interaksi dengan masyarakat lain. iwung koneng (Bambusa vulgaris). Berbeda dengan masyarakat Kasepuhan yang masih “terpusat” pada satu tokoh. untuk gelang. serta ada juga ada juga yang dimanfaatkan sebagai tindakan darurat.). menambah tenaga dan nafsu makan. kumis kucing (Orthosiphon aristatus (Bl) Miq). seperti Kicantung bila akar dan buahnya direbus diyakini sebagai obat kuat bagi laki-laki. Jumlah jenis tumbuhan yang diketahui dan dimanfaatkan oleh masyarakat Cidahu dan Girijaya sebagai obat-obatan tradisional lebih banyak dari pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Kasepuhan yang hanya mengetahui 40 jenis tumbuhan (Harada 2006). seperti Begonia robusta yang digunakan sebagai pertolongan pertama bagi orang yang keracunan (terasa pusing) akibat menghisap uap belerang terlalu banyak. masyarakat melakukannya dengan berbagai cara: (1) langsung dimakan untuk keadaan darurat.). maka komposisi jenis godogan yang sering dilakukan oleh masyarakat adalah cecenet (Physalis minima L. daunnya dapat juga digunakan sebagai obat sakit gigi dengan cara daunnya diperes kemudian air yang keluar dari perasan diteteskan pada gigi yang sakit. kembang puspa (Schima 44 .) Dc. Pengetahuan pemanfaatan tumbuhan di desa Cidahu dan Girijaya tidak terpusat pada satu tokoh. tergantung pada tujuan pemanfaatan godogan tersebut. Dalam pemanfaatannya. seperti Harendong bulu (Clidermia hirta) selain digunakan sebagai campuran dalam godogan. Areuy (Ficania cordata) yang digunakan sebagai kerajinan tangan. diketahui bahwa masyarakat mengenal dan memanfaatkan tumbuhan dengan berbagai macam cara pemanfaatannya. (2) pemanfaatan tersendiri yang tidak memiliki manfaat lain. daun sembung (Blumea balsamifera (L. Namun umumnya. melainkan menyebar pada individu-individu. Masyarakat memiliki beragam cara pemanfaatan. Bila ingin menghilangkan pegal linu. ada yang digunakan sebagai bagian dari campuran jamu atau dimanfaatkan secara tersendiri. Dalam pemanfaatan tumbuhan untuk jamu godogan. harendong (Melastoma malabatrichum). meniran (Phyllanthus niruri L.Berdasarkan wawancara yang dilakukan di desa Cidahu dan Girijaya. daun klewih (Artocarpus comunnis). Kirinyuh (Clibadium surinamense) yang digunakan sebagai obat cacar atau luka di telinga. masyarakat mengenal berbagai macam komposisi godogan.). atau yang hanya memiliki satu jenis pemanfaatan. Perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Cidahu dan Girijaya terkait dengan akses informasi yang lebih terbuka. (3) satu jenis tumbuhan yang dapat digunakan dengan berbagai macam cara.

jukut bau. cecenet (Physalis minima). Beberapa contoh tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar taman nasional disajikan pada Gambar VI. papan. Diantara jenis pohon yang memiliki pemanfaatan selain jenis-jenis diatas adalah Saninten (Castanopsis argentea). dan daun alpukat (Persea americana). maka ramuan yang dibuat adalah jukut bau (Ageratum conyzoides). merupakan jenis pohon besar yang banyak manfaatnya.).wallichii (DC) Korth. atau kusen.) dan akar tekokak (Solanum torvum Swartz. seperti.). yang memiliki ragam pemanfaatan. 45 . dan pinang. kulit sintok (Cinnamomum sintoc Bl. daunnya dapat juga sebagai sayuran. (4) satu jenis tumbuhan yang memiliki berbagai macam pemanfaatan. kiurat. sehingga dengan menjadikan daun pakis sebagai alas ada keyakinan manusia menyerahkan dirinya sebagai korban harimau. maka ramuan jenis tumbuhan yang digunakan adalah akar bambu. Seperti pakis (Cyatea contansminan). ruyung atau batangnya dapat juga digunakan sebagai tiang bangunan pondok di sawah atau kebun. Masyarakat tidak berani menggunakan daun dari pakis ini sebagai alas tidur ketika berada di hutan. karena menurut anggapan masyarakat pada masa lalu harimau bila menyimpan makanannya ditutupi dengan daun ini. batang lapuk digunakan sebagai media tanaman hias. Bila hendak mengobati sakit disekitar lutut. Bila ingin menciptakan obat kuat. daun dari pakis ini memiliki mitos tersendiri. namun bukan pada pemanfaatannya. Untuk pohon-pohon besar. batangnya berkualitas terbaik untuk dibuat bahan bangunan Selain itu jirak (Simplocos psticulata). dan sintok (Cinnamomum sintok) kulitnya dimanfaatkan sebagai bahan campuran jamu godogan. Untuk mengobati kencing kurang lancar dan darah tinggi maka komposisi tumbuhannya adalah jumput bau (Ageratum conyzoides). Ramuan ini diyakini dapat digunakan sebagai obat kuat. bahan furniture. masyarakat umumnya mengenal pemanfaatannya sebagai bahan bangunan. Sedangkan untuk penyakit liver (koneng) ramuan yang dibuat adalah rebusan daun alpukat dan daun sukun. 2.

46 . lalapan Plantago major Sebagai obat batu ginjal dan obat kuat Harendong (Melastoma malabatrichum) sebagai obat sakit perut Gambar VI. Beberapa jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat di desa Cidahu dan desa Girijaya.Kipait (Paspalum conjugatum) sebagai obat luka Tempuyung (Sonchus arvensis) sebagai obat ginjal Kumis kucing (Orthosiphon aristatus) sebagai obat sakit kencing batu dan ginjal Cente (Lantana camara) sebagai obat bisul atau bengkak Sntrong (Erectitus valerianifolia) sebagai obat darah tinggi dan penawar racun Antanan (Centella asiatica) sebagai obat kesemutan Takokak (Solanum torvum) Sebagai obat kuat dan darah tinggi. 2.

Bahan Bangunan. Bahan kerajinan (gelang) Kulit kayu buat bahan obat nyamuk. alat tradisional. Argostema montanum Bl. Tiang bangunan Buat kayu bakar. Bahan bangunan. kayunya buat bahan bangunan. Don Diplazium esculenta Sw. Buat anyaman.) Val. Kayu bakar. Kayu buat bahan bangunan dan furniture.) R. Tumbuhan Bermanfaat yang terdapat di dalam Petak Penelitian. Sebagai obat Daun muda dimakan buat obat diare. Myrsinaceae Rubiaceae Blechnaceae Arecaceae Fabaceae Fagaceae Lauraceae 11 12 13 14 15 16 17 18 Harendong bulu Pakis benyeur Kiwates Kisampang Kigember Tandang tanah Kitiwu Tenung Clidemia hirta (L. Ex Wall Melastomataceae Athyriaceae Theaceae Rutaceae Moraceae Pandanaceae Rhizophoraceae Proteaceae 19 19 20 21 22 23 24 Pining Kisaoh Kibeusi Pasang Manglit Areuy Kiteja Horntedtia pininga (Bl. Zingiberaceae Agnifoliaceae Lauraceae Fagaceae Magnoliaceae Asteraceae Lauraceae 25 Karemi Omalanthus populneus (Geisl) pax. balok Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Ficus sp. Calamus javanica Bl. Freycinetia angustifolia Bl. kusen Kulit batang direbus. airnya diminum obat sakit pinggang/obat kuat. Getahnya diminum buat obat diare. Suku Rutaceae Rutaceae Myrsinaceae Kegunaan Bahan bangunan Furniture. kusen Bahan bangunan. airnya diminum untuk obat kuat. Euphorbiaceae 47 . Ex DC. Eurya acuminata DC.Br. Evodia latifolia Dc. Bahan Bangunan (kusen) Buat pakan ternak Daun muda buat lalap.) D. papan. dan kulitnya ditumbuk. 1. Cinnamomum sintoc Bl. furniture. Calliandra calothyrsus Meissn Castanopsis javanica (Bl. Gynotroches axillaris Bl. 1 2 3 Nama Lokal Kirujug Karag Kiajag Jenis Acronychia laurifolia Bl. Ilex cymosa Blume Lindera bibracteata (Nees) Boerl. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Mikania cordata Neolitsea javanica Bl. Bahan Bangunan (kusen) Kulit batang digerus lalu campur dengan minyak kelapa buat obat koreng Furniture. kusen. No. bahan bangunan 4 5 6 7 8 9 10 Kikeyep Ramu kuya Pakis buah Rotan lilin Kimerak Jara anak Sintok Ardisia lurida Bl. Bahan bangunan Kayu bakar.Tabel V. Buat tali.) Miq Ardisia crispa (Thunb) DC. balok.) DC. Helicia robusta (Roxb. Acronychia pedunculata (L. airnya diminum buat obat diare/radang lambung. furniture. Akar direbus. Lithocarpus sp. Manglietia glauca Bl. Blechnum orientale L.

Cangkudu 8. Balsaminaceae 4. Daun di rebus. Pacar Impatiens platypetala Lindl. Smilax zeylanica L.& Perry Vernonia arborea Buch. Tabel V. Salam 7. Syzygium lineatum (Dc. buat obat darah tinggi dan sakit pinggang. Daun di rebus. Mahoni 6. buah yang masak jambu merah buat obat demam berdarah. Cangkoreh Dinochloa scandens Familia Melastomataceae Poaceae 3. Cecenet Physalis minima L. Kayu buat bahan bangunan dan furniture.) Hassk. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Batangnya di potong. Bahan Bangunan Bahan bangunan. furniture. buat menghitamkan dan menyuburkan rambut. Asteraceae 10.) Merr. No. Harendong Melastoma malabatrichum 2.) Kalkm. Prunus arborea (Bl.) Frodin Icacinaceae Saxifragaceae Rosaceae Rosaceae Araliaceae 31 32 33 34 Puspa Canar Jirak Kisireum Schima Wallichii (DC) Korth. airnya di minum buat obat diabet. Solanaceae Kegunaan Daun muda di makan untuk obat sakit perut. Alpukat 5. Urang aring Eclipta alba (L. daun di gerus. buat obat darah tinggi. Daun di rebus. Symplocos fasciculata Zoll. airnya di minum buat obat darah tinggi. Lauraceae Meliaceae Myrtaceae Rubiaceae Myrtaceae 9. Buah masak di juss lalu di minum buat obat darah tinggi. daun digerus lalu ditempelkan pada tempat yang luka. Jambu batu Persea americana Swietenia mahagoni Syzygium polyantha Morinda citrifolia L. airnya diteteskan pada mata buat obat trachum / rabun. kusen Buah buat bahan manisan. Psidium guajava L. Prunus arborea (Bl. Daun muda di gerus ditempelkan pada dahi buat obat demam / kompres.Ham Weinmannia blumei Planch Theaceae Smilacaceae Symplocaceae Myrtaceae 35 36 Hamirung Peris Asteraceae Cunnoniaceae Furniture Bahan bangunan Kayu buat bahan bangunan dan furniture. 48 . Schefflera lucida (Bl.) Kalkm. airnya diminum. Seluruh bagian tanaman direbus. bunganya sebagai hiasan Bahan bangunan. Daun di gerus di pakai keramas.26 27 28 29 30 Kibonteng Kihujan Kawoyang Kawoyang Ramu giling Platea latifolia Bl. asam urat. air dalam batang buat obat. Nama Lokal Jenis 1. perasan airnya di minum buat obat diare. Poliosma ilicifolia Bl. Obat luka. 2. Tumbuhan Bermanfaat yang Diketahui Masyarakat sebagai Obat. airnya di minum. Kayu bakar. dan furniture Kayu buat bahan bangunan dan furniture.

Jotang 19. Labiatae Malvaceae 17. daun di gerus ditempelkan pada yang luka buat obat luka. 16. Daun dan batang di rebus airnya diminum buat obat darah tinggi daun direbus. Randu Lantana camara L. Harega Bidens biternata Asteraceae 15. Tempuyung Sonchus arvensis L. Cente 23.) Dc. Ceiba pentandra (L. airnya diminum obat diare Akar dan daun direbus. airnya diminum untuk obat sakit pinggang. Obat luka/bisul. airnya diminum buat obat memperlancar peredaran darah daun dilalap buat obat darah tinggi dan penawar racun. Tangkur 12. airnya diminum buat obat batu ginjal. Kipait Paspalum conjugatum Berg. seluruh bagian tanaman direbus. Takokak Erechtites valerianifolia Spilanthes iabadicensis Triumfetta rhomboidea Solanum torvum Swartz. airnya diperas lalu diminum buat obat tajam/berak darah. Sembung Lopatherum gracile Blumea balsamifera (L. Pungpurutan 20. airnya diminum buat obat kuat. akar direbus. Selaginella plana Poaceae Selaginellaceae 28. daun diremas digosokkan/dibalurkan keperut untuk obat masuk angin. Asteraceae 14. Eurih 27. Obat luka. airnya diminum buat obat pegal- 13. daun digerus lalu ditempelkan pada bagian yang luka. Jukut bau Ageratum conyzoides L.11. Daun digerus. buah dilalap buat obat darah tinggi. Rane Imperata cylindrica Pers. daun digerus ditempelkan di uluhati / dada obat sesak napas. diminum buat obat setelah melahirkan Seluruh bagian tanaman direbus. Kumis kucing Orthosiphon grandiflorus Bold. Sintrong 18.) Gaerth. Obat bisul/bengkak. Meniran Phyllanthus niruri L. daun digerus lalu ditempelkan kebagian yang luka. Daun di rebus. Kikumat Polygala paniculata Polygalaceae 25. Euphorbiaceae 49 . Asteraceae Asteraceae Malvaceae Solanaceae 21. airnya diminum untuk obat kuat. Asteraceae 22. daun digerus ditempel kebagian yang sakit. Sidagori Sida rhombifolia L. Daunnya di rebus. Poaceae Asteraceae Umbi akar di rebus. Verbenaceae Bombacaceae 24. daun digerus kemudian ditempelkan pada tempat yang sakit. daun dikeringkan lalu digodog airnya. jika airnya di saring lalu diminum buat obat mah. airnya diminum buat obat sakit kencing. seluruh bagian tanaman direbus airnya diminum buat obat pegalpegal. Obat luka. airnya di minum buat obat nafsu makan dan obat perawatan sehabis melahirkan. Poaceae 26. Daun dan batangnya direbus.

Daun digerus.E. Seluruh bagian tanaman direbus. Reunde 40. Paria 37. airnya diminum buat obat batu ginjal dan obat kuat. Calincing 38. Lampuyang Zingiber aromatica Val.) J. Obat eksim. daun direbus. Momordica charantiaca L. Acanthaceae Plantaginaceae Daun direbus. kemudian dicampur dengan air. Seluruh bagian tanaman direbus. Smith Zingiberaceae 39. Ki urat Sericocalyx crispus Plantago mayor L. Euphorbiaceae Cucurbitaceae Oxalidaceae Costus speciousus (Koen. Tapak liman Elephantopus scaber L. Katuk 36. airnya diminum untuk obat kanker dan diabet. Zingiberaceae 32. Pacing Sauropus androgynus (L. diminum pada pagi hari ketika baru bangun tidur. lalu dibiarkan sampai satu malam. Tapak dara Catharanthus roseus Apocynaceae 34. umbi akar diparut/digerus lalu ditempelkan ketempat yang luka. airnya diperas lalu diminum obat panas dalam/muntah darah. Keji beling 30. Daun disayur buat memperbanyak ASI (Air Susu Ibu) Buah disayur untuk obat diabet dan darah tinggi. 29. Daun dan akar digerus. Oxalis corniculata L. Suji Pleomele angustifolia Liliaceae 33. airnya diminum buat obat batu ginjal. Asteraceae 35. sarinya sebagai obat sariawan Direbus seluruh bagian sebagai obat kesemutan 31. Centella asiatica Begoniaceae Lauraceae Fabaceae Apiaceae 50 .pegal. Daun muda dan buah dimakan buat obat sariawan. Direbus bersama adas dan pulosari. Umbi akar digerus. airnya diminum obat pegal-pegal/sakit pinggang. airnya diminum obat tambah darah dan diabet. airnya diperas kemudian diminum buat obat nafsu makan.) Merr. Gedang gandul Staurogyne elongata Carica papaya Acanthaceae Caritaceae 41 Begonia 42 Limo 43 Daun Saga 44 Antanam Begonia robusta Litsea cubeba (Lour) Pers Abrus precatorius L. Sebagai obar rematik Batangnya sebagai obat keracunan belerang Batang kayunya yang harus sebagai penolak ular Daun dikunyah.

Tumbuhan. disamping bernilai secara ekonomis. Gunung Salak juga menjadi saksi atas proses yang ada di masyarakat. Bagi masyarakat. Bagi masyarakat yang masih berpegang teguh pada tradisi. dan ketergantungan akan kehidupan. seperti tentang Dewa-dewa atau juga tokoh-tokoh dalam legenda Hindu. Dalam tumbuhan terkandung mitos tentang masa lalu kehidupan masyarakat. Gunung salak memiliki nilai penting bagi masyarakat Sunda secara umum dan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung Salak. Tanpa mempertimbangkan hal tersebut. Sedangkan bagi masyarakat Islam namun masih kuat tradisi “Sunda”nya tempat-tempat yang diasosiasikan dengan legenda Hindu diganti dengan sosok atau pun juga tokoh penyebar agama Islam di wilayah itu. Dengan demikian. proses islamisasi dan akulturasi budaya Islam dan Hindu-Budha. Bagi masyarakat desa Girijaya. juga memiliki nilai-nilai kultural. namun ada juga yang berpendapat bahwa tempat ini merupakan petilasan dari Sanghyang Guru Resi (Kakek dari Guru Minda dalam dongeng Lutung Kasarung).BAB VII PENUTUP Pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan tumbuhan menunjukkan adanya saling keterkaitan yang erat antara masyarakat dan lingkungan. terutama gunung Salak adalah tempat istimewa. menghilangkan kearifan lokal dan tujuan dari keberadaan Taman Nasional tidak akan tercapai. 51 . ketidakterpisahkan masyarakat dengan tumbuhan yang ada di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak patut menjadi pertimbangan kebijakan pengelolaan Taman Nasional. gunung Salak tidak saja sebagai daerah tangkapan air yang menyimpan dan menyediakan kebutuhan masyarakat akan air bersih melainkan juga di gunung Salak tersimpan sejarah. Sedangkan bagi kelompok yang lain. Di tempat ini legenda. Di samping itu. sejarah. Gunung Salak hanya dimaknai sebagai “titipan” dari Tuhan yang harus dirawat dengan baik. tempat-tempat yang ada di Gunung Salak di asosiasikan dengan mitos Hindu. Di samping pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan. dan mitos yang ada di masyarakat membaur menjadi satu. Perebutan dan negosisi kelompok yang ada di masyarakat juga ditunjukkan dari tafsiran mereka tentang suatu tempat peninggalan sejarah. Hal ini dilihat dari versi dan “perebutan” mitos yang ada di Gunung Salak. masyarakat desa Cidahu dan desa Girijaya yang tinggal di kaki gunung Salak mempunyai inisitif yang berbeda dalam menjaga kelestarian gunung Salak. harapan. bermanfaat bagi masyarakat untuk mengobati penyakit. berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan dan kearifan dalam memanfaatkan keanekaragaman yang terdapat di gunung Salak. Seperti di petilasan Eyang santri. sebagian besar masyarakat menganggap tempat ini sebagai tempat bersemedinya Eyang Santri. gunung.

dapat digunakan sebagai buffer zone antara habitat yang essensial dan daerah luar.Perbedaan ini menambah keragaman tradisi masyarakat. Saran Dari hasil survey diperoleh beberapa catatan penting yang dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan TN selanjutnya. Ucapan Terimakasih Survey flora gunung Salak ini adalah atas dukungan dan kerjasama antara JICA. Bpk Iwan. Kepala T. setiap kawasan memiliki peranan yang cukup berarti sehingga masing-masing perlu dipertahankan atau dilestarikan. karena waktu penjelajahan relatif singkat. Bpk. Pembagian ini antara lain: (1) Kawasan hutan pegunungan bawah dan atas merupakan hutan primer dan harus dipertahankan untuk menjadi area inti sebagai preservasi hewan dan tumbuhan liar.N. Gunung Halimun-Salak. TNG Halimun – Salak project dengan Pusat Penelitian Biologi – LIPI. memberikan dukungan dan kerjasama selama berlangsungnya survey ini. Salak di Desa Giri Jaya dan Desa Cidahu. (3) Kawasan hutan pegunungan rendah berfungsi sebagai habitat hidupan liar seperti leopard dan gibbon. atas diperkenankannya mengadakan penelitian di Kawasan T. Bpk. Bpk Hamzah dan Bpk. Bpk. Perlu upaya yang lebih serius untuk mendorong inisitif pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat dengan mengupayakan kesejahteraan bagi mereka. Bpk. Ucapan terimakasih kepada seluruh staff JICA dan Staff TNG Halimun – Salak yang memberikan banyak informasi tentang kondisi Gn Salak.P. Madani dan Bpk. Ismirza. Terimakasih juga kami ucapkan kepada Bpk. (2) Kawasan hutan pegunungan atas (>1800 dpl) yang tidak terlalu luas di gunung Salak mempunyai vegetasi yang sangat spesifik sehingga keberadaan kawasan ini menjadi sangat penting bagi T. Endang. (4) Hutan tanaman. dan Bpk. tanpa mereka tidak lengkaplah buku ini. Dimana pembagian kawasan ini sangat penting. Aden Muhidin. Undang. Ucapan terimakasih ini juga kami sampaikan kepada Bapak dan Ibu yang mendukung dan membantu kami memberikan informasi tentang pemanfaatan flora dan informasi lainnya tentang Gn. Emad yang mendampingi selama dilapangan serta tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Ika S. Bpk Tatang. Bpk Agus. Bpk. N. Gunung Halimun-Salak.Gunung HalimunSalak. N. Wardi. sehingga perlu adanya studi ekologi lebih lanjut di beberapa lokasi terutama rute Cimalati dan Rute Pasir Reungit untuk melengkapi data. Informasi di buku ini masih kurang dari sempurna. Anhar yang mendukung terlaksananya proyek kerjasama ini. Pembuatan plot permanen untuk monitoring berkurang dan hilangnya keanekaragaman hayati juga diperlukan untuk mengetahui pengaruh pemanasan global. 52 . Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Kepala Pusat dan Kepala Bidang Botani di Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Nurdin atas kerjasamanya selama survey dilapangan.

. Bogor: Backer. LIPI. LIPI. 1967. Jakarta: Paramadina. Makalah dalam Lokakarya. Mirmanto & S. 1966. Taman Nasional Gunung Halimun-Salak: Menyingkap Kabut Gunung HalimunSalak. Dalam: Witjaksono. RM Marwoto & EK Supardiyono (eds). Imron. Religion as a Cultural System. 1975. Taman Nasional Gunung Halimun-Salak: Menyingkap Kabut Gunung HalimunSalak. 2001. Jakarta: LIPI Press. Keramat Alami dan Kontribusi Islam dalam Konservasi Alam.. & Bakhuizen vd Brink Jr. Harada. Riswan. Unpublished report.M. 2005. 33-41. Anwar Ibrahim. C. 2006. Anthropological Approaches to the Study of Religion.. Batavia. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. 2007. M. Mirmanto. Jakarta: Sub Direktorat Informasi Konservasi Alam.. Prawiroatmodo. Greigh-Smith. Mangunjaya. Ari Wahyono.. Departemen Kehutanan dan JICA.. Iskandar. Geertz. 1963-68. K. London: Tavistock. J. Mengenal 21 Taman Naional Model di Indonesia. Mangunjaya.. Jawa Barat. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Kodiran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Mulyati Rahayu. Java (3 vols) .A.Bibliografi Abdillah. 2007. 13th Pasific Science Congress. Makalah dalam Lokakarya. Gerakan Sosial untuk Konservasi Daerah Resapan Air di Kawasan Daerah Aliran Sungai Cisadane di JABOPUNJUR. Anonim. S. G. Butterworths. Komite Nasional MAB Indonesia. Prosiding Seminar Hasil Litbang SDH. Anonim. 1991. Iowa. Komite Nasional MAB Indonesia. Laboratory Manual of General Ecology. 2007. Dalam Michael Banton. Bogor: JICA. Second Edition..W. 1964. Gunung Halimun-Salak National Park Management Project. M.M. 1985. Puslitbang Biologi-LIPI. Paper presented in the Symposium of Pasific Ecosystem. LIPI. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak Periode 20072026. Makalah dalam Lokakarya... F. Henny Warsilah. 1996. E. K. Komite Nasional MAB Indonesia. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Bogor. 2007. Anonim. Crown. Fl. 2007. F. Indonesia. 2005. London. Agama Ramah Lingkungan: Perspektif Al-Qur’an. 2007. Quantitative Plant Ecology. Kartawinata. Yayasan Obor Indonesia. Leuweung Titipan: Hutan Keramat Warga Kasepuhan di Gunung Halimun.. 53 . August 1975. Tumbuhan Obat Taman Nasional Gunung Halimun. M.C. Bogor: Dephut dan JICA.. Cox. 2006. Pelestarian Daerah Mandala dan Keanekaragaman Hayati oleh Orang Badui. Struktur dan komposisi hutan DAS Cisadane hulu.G.. 15 Mei 1991. Kartawinata. Dede Wardiat. Salak. Adimiharja.. K. Noord. The ecological zone of Indonesia. Konservasi Alam dalam Islam. Vancouver. P. Anonim. Structure and composition of montane rain forest in Awibengkok area. Jakarta. C. hal. E. K. Etika Jawa.

Wallace. Pemukiman Kuna di Bogor: Tinjauan Berdasarkan Data Tertulis dan Tinggalam Arkeologis. 2007. 1997..Muller-Dombois. Kawasan Konservasi Indonesia. Kementrian Perhubungan. 54 . Yogaswara.). Djawatan Meteorologi dan Geofisic. I. Aims and Methods of Vegetation Ecology.. Bogor: Padepokan Giri Sunda Pura. Rais. 2003.P. Ellenberg. Hutan. Situs Sindang Barang Bukti Kegitan Keagamaan Masyarakat Kerajaan Sunda (Abad ke-13-15 M): Laporan Penelitian awal. Vera Budi Lestari. Laporan Perjalanan. dan Asep Sadeli.. LIPI-PHPAJICA. dan Carol J Pierce Colfer (Peny). Penelitian ke Cagar Biosfer Cibodas. dan Perumusan Kebijakan di Indonesia.. Munandar. Steenis. van. Puslit-Biologi LIPI. John Wiley. C. 1951. No. Bogor: Puslit-Biologi LIPI. (Diterjemahkan oleh A.. H.G. Jakarta: Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. II. Vol. 1972. Bandung: Remaja Rosda Karya. Banten. Schmidt & JHA Ferguson.G. Situs Keramat Alami sebagai Alternatif Pengakuan Hak-Hak Masyarakat Adat: Kasus Kasepuhan Cibedug. Makalah dalam Seminar Kesejarahan Kota Bogor 6 September 2007.. Nasution dan Mahyuddin Mendim. 2007. New York. Steenis. 2000. Sugardjito (eds. Brill. Verhandelingen.. Mohammad Fathi Royyani. A. 1974.A. The Inventory of Ntural Resources in Gunung Halimun National Park.G. 2006. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Hal. Makalah dalam Lokakarya..42. Jakarta. Research and Conservation of Biodiversity in Indonesia.A. Menjelajah Nusantara: Ekspedisi Alfred Russel Wallace Abad ke-19. H.J van. Komite Nasional MAB Indonesia. Rainfall types based on wet and dry period ratios for Indonesia with WesternNew Guinea. A. Floristic study of Gunung Halimun National Park. Wiriadinata. Kepariwisataan dan Kebudayaan Kota Bogor.J. Simbolon & J. 2007a. Dinas Informasi. C. In: M. 7-13. 2007. Bogor. H. 2007b. Flora Pegunungan Jawa. Munandar.G. A. Yoneda.A. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Dkk. Mountain Flora of Java.R. S. Propinsi Jawa Barat. LIPI.S. D & H. Ke mana Harus Melangkah: Masyarakat. H. Resosudarmo.

55 .

I w an M em bI C om m ent WP Al t Forest type Pl antati on Pl antati on Pl antati on Pl antati on Forest H i ght S peci es Fam i l y A raucari aceae A raucari aceae Fabaceae Fabaceae Theaceae C yatheaceae P andanaceae C el astraceae Pi peraceae P roteaceae Fagaceae Theaceae Fagaceae Euphorbi aceae C unoni aceae R osaceae Theaceae M el astom ataceae Lauraceae Logani aceae Fagaceae Theaceae Lauraceae Fagaceae R ubi aceae Fagaceae J-Fam i l y ナンヨ ウスギ科 ナンヨ ウスギ科 マメ 科 マメ 科 ツバキ科 ヘゴ科 タ コ ノ キ科 ニシキギ科 コ ショ ウ科 ヤマモガシ科 ブナ科 ツバキ科 ブナ科 ト ウダイグサ科 クノ ニア科 バラ科 ツバキ科 ノ ボタ ン科 クスノ キ科 マチン科 ブナ科 ツバキ科 クスノ キ科 ブナ科 アカネ科 ブナ科 Em erg. ) Korth. U rophyl l um arboreum (R ei nw . ) Korth.C . )D C . A gathi s dam m ara (Lam b.ex W al l .R i ch. ) Korth. Fagraea el l i pti ca R oxb. B ei l schm i edi a m adang (B l . Land data of Gunung Salak (Cimalati route) G nung S al ak vegetati on Ci m al ati R oute D ate 2008/3/6. Li thocarpus sundai cus (B l . ) Loes Pi per aduncum L. C yathea contam i nans (W al l . )D C . ) Korth.R i ch. W ei nm anni a bl um ei P l anch. P andanus furcatus R oxb. Gl ochi di on rubrum B l . )Bl . C astanopsi sj avani ca (B l . ) Korth. ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 56 . 11 chi kaw a. ) A . ) L. H el i ci a robusta (R oxb. ) C opel . S chi m a w al l i chi i (D C .C . C astanopsi s argentea (B l . P errottei a al pestri s Bl .Lampiran 1. D om i n. ) Kosterm . ) B urck. ) Kal km an S chi m a w al l i chi i (D C . S chi m a w al l i chi i (D C . P ternandra azurea (B l .I sm ai l . C astanopsi sj avani ca (B l . N eol i tsea cassi a (L. C al l i andra cal l othyrsus M ei ssn.ex B l . C al l i andra cal l othyrsus M ei ssn. S ma l l Pi oneer other 890 960 1025 15 1058 5 5 5 7 10 sturbed 17 1111 N aturaldi 4 20 19 P ri m ary sturbed 20 1209 N aturaldi 20 m ary 21 1252 P ri 25-30 m ary 22 1301 P ri 25-30 A gathi s dam m ara (Lam b. B r.C am us S chi m a w al l i chi i (D C . P runus arborea (B l . Li thocarpus daphnoi des (B l . )R. ) R ehd. )D C . ) L.

ex B l . Eurya acum i nata D C . Li tsea resi nosa B l . Li thocarpus sundai cus (B l . )D C .A rg. C astanopsi sj avani ca (B l .ex B l .Lampiran 1. P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . Eurya acum i nata D C . D om i n. (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y R osaceae Theaceae Fagaceae I caci naceae Laul aceae R utaceae Euphorbi aceae Theaceae Euphorbi aceae S ym pl ocaceae M agnol i aceae S axi fragaceae Logani aceae S ym pl ocaceae M oraceae M oraceae Lauraceae Theaceae R utaceae Fagaceae Theaceae C unoni aceae M yrtaceae Fagaceae R utaceae Theaceae Em erg. W ei nm anni a bl um ei P l anch. S chi m a w al l i chi i (D C . 20-25 A cronychi al auri fol i a Bl . 20-25 S chi m a w al l i chi i (D C . Pl atea excel sa B l . ) Korth. )D C . S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . ) M oore M angl i eti a gl auca B l . A cronychi al auri fol i a Bl . C astanopsi s argentea (B l . 57 . A cronychi al auri fol i a Bl . ) M uel l . S yzygi um sp. S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y バラ科 ツバキ科 ○ ブナ科 クロタ キカズラ科 クスノ キ科 ミ カン科 ト ウダイグサ科 ツバキ科 ○ ト ウダイグサ科 ○ ハイノ キ科 モクレン科 ユキノ シタ 科 マチン科 ハイノ キ科 ○ クワ科 ○ クワ科 ○ クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ミ カン科 ○ ブナ科 ツバキ科 クノ ニア科 フト モモ科 ブナ科 ミ カン科 ツバキ科 ○ 23 sturbed 1354 N aturaldi m ary 1404 P ri 24 32 m ary 1450 P ri   P runus arborea (B l . A nti desm a tetrandrum B l . ) Korth. 35-40 S chi m a w al l i chi i (D C .A rg. ) Korth. ) Kal km an S chi m a w al l i chi i (D C . S ym pl ocos cochi nchi nensi s (Lour. ) Korth. Fi cus ful va R ei nw . M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . ) R ehd. Fi cus fi stul osa R ei nw . M acaranga tri l oba (R ei nw .

M el astom ataceae A stroni a spectabi l i s Bl . S apotaceae P ayena l eeri i (T. ) Kosterm .ex S oepadm oFagaceae Jugl andaceae Engel hardi a spi cata Lesch. )D C . ) H atus. (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y R osaceae P runus j avani ca (T. ) Korth. Lauraceae N eol i tsea cassi a (L. S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . G . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . )D C .D on P odocarpaceae P odocarpus i m bri catus B l .Lampiran 1.& B . I caci naceae Pl atea excel sa B l . Jugl andaceae Engel hardi a spi cata Lesch. S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . )D C . ) T. Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . Fabaceae P arki ai nterm edi a H assk. R utaceae A cronychi al auri fol i a Bl . ) B oerl . ) Kosterm . Li thocarpus el egans (B l . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . El P odocarpaceae P odocarpus neri i fol i us D . Lauraceae N eol i tsea cassi a (L.& B . Em erg. ) K. R osaceae P runus arborea (B l . ) Kal km an R utaceae M el i cope l ati fol i a (D C .ex B l . aeocarpaceae El aeocarpus sphaeri cus (G aertn. S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y バラ科 ユキノ シタ 科 ○ クロタ キカズラ科 バラ科 ミ カン科 ブナ科 ツバキ科 ○ ○ ユキノ シタ 科 ○ カエデ科 ○ クスノ キ科 マメ 科 クルミ 科 ○ ブナ科 ○ クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ○ ミ カン科 ノ ボタ ン科 ユキノ シタ 科 フト モモ科 ブナ科 ○ クルミ 科 ○ ホルト ノ キ科 マキ科 ○ マキ科 ○ クスノ キ科 ○ アカテツ科 33 m ary 1520 P ri 25-35 34 m ary 1615 P ri 25-30 58 . D om i n. ) Korth. )M i q. A ceraceae A cer l auri num H assk.S chum .ex B l .H artl ey Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . M yrtaceae S yzygi um rostratum (B l . S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . Laul aceae Li ndera bi bracteata (B l . ) Kurz.

59 . S chi m a w al l i chi i (D C . D om i n. ) Kosterm . 20 P odocarpus i m bri catus B l . V acci ni um bancanum M i q. ) Korth. G ynotroches axi l l ari s Bl . R hododendron sp. C astanopsi sj avani ca (B l . R hododendron sp. P odocarpus neri i fol i us D . D aphne com posi ta (L. 20-30 P l atea excel sa B l . f. Li tsea noronhae B l . )D C . P odocarpus i m bri catus B l . ) Knobl . P sychotri a robusta B l . P runus arborea (B l . N eol i tsea cassi a (L. S auraui a bracteosa D C . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y ブナ科 ツツジ科 ○ ツツジ科 ○ クロタ キカズラ科 ○ マキ科 ○ ツバキ科 ○ ノ ボタ ン科 カエデ科 バラ科 モクセイ科 ○ モクレン科 ○ クスノ キ科 ○ マタ タ ビ科 ○ アカネ科 ○ マキ科 ○ マキ科 ○ ノ ボタ ン科 ツバキ科 ○ ブナ科 クロタ キカズラ科 ミ ズキ科 ヒ ルギ科 ツツジ科 ○ クスノ キ科 ○ ジンチョ ウゲ科 ○ アカネ科 ○ ツツジ科 ○ 35 m ary 1705 P ri 36 m ary 1825 P ri C astanopsi sj avani ca (B l . A stroni a spectabi l i s Bl . S chi m a w al l i chi i (D C . )D C . ) Korth. ) Kal km an Ol ea j avani ca (B l .Lampiran 1. (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y Fagaceae Eri caceae Eri caceae I caci naceae P odocarpaceae Theaceae M el astom ataceae A ceraceae R osaceae Ol eaceae M agnol i aceae Laul aceae A cti ni di aceae R ubi aceae P odocarpaceae P odocarpaceae M el astom ataceae Theaceae Fagaceae I caci naceae C ornaceae R hi zophoraceae Eri caceae Lauraceae Thym el aeaceae R ubi aceae Eri caceae Em erg. A cer l auri num H assk. )G i l g. M asti xi a pentandra B l . Pl atea excel sa B l . Lasi anthus l aevi gatus B l . M angl i eti a gl auca B l .D on A stroni a spectabi l i s Bl . V acci ni um sp.

K. Fagaceae C astanopsi s argentea (B l .ex B l .I w an M em b I C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Pl antati on 5-10 P i nus m erkusi i Jungh. )O .ex B l .Lampiran 2. A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l .ex B l . ) Korth. Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . ) Korth. D om i n. A cti ni di aceae S auraui a bracteosa D C . M oraceae Fi cus padana B urm . Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . R hi zophoraceae G ynotroches axi l l ari s Bl . ) R ehd. Lauraceae P ersea ri m osa (B l . ex B l .ex S oepadm o Fagaceae Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . M aratti aceae A gi opteri s evecta H offm . C yatheaceae C yathea contam i nans (W al l . Land data of Gunung Salak (Pasir reungit route) G nung S al ak vegetati on P asi r reungi t R oute 2008/3/7 D ate chi kaw a.A rg. S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . El aeocarpaceae El aeocarpus sti pul ari s Bl . P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art. P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art. G esneri aceae A gal m yl a parasi ti ca (Lam k) O . )D C . )D C . Fam i l y Pi naceae Fagaceae C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. Fagaceae C astanopsi s argentea (B l . Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . Li thocarpus el egans (B l . f. Euphorbi aceae A nti desm a tetrandrum B l . )D C . K. C yatheaceae C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . M el astom ataceae M edi ni l l a speci osa R ei nw . Em erg. S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y マツ科 ブナ科 ○ クノ ニア科 ツバキ科 ○ ウコ ギ科 ○ ○ ト ウダイグサ科 ○ ホルト ノ キ科 ヤシ科 ヘゴ科 R D B ヘゴ科 ユキノ シタ 科 ○ ブナ科 ツバキ科 ヤシ科 ブナ科 ブナ科 ノ ボタ ン科 イワタ バコ 科 ナンヨ ウスギ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ヒ ルギ科 ブナ科 ヤシ科 クスノ キ科 マタ タ ビ科 クワ科 25 26 sturbed 27 1150 N aturaldi 15 sturbed 28 1200 N aturaldi 10-15 60 .A rg. P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art. ) C opel . ) Kosterm .I sm ai l .& D e V ri ese N aturaldi sturbed 10-15 Li thocarpus sundai cus (B l . ) H atus.

Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . H am am el i daceae Al ti ngi a excel sa N orona M yrsi naceae R apanea hassel ti i (B l . 61 . f. G . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y マンサク科 ○ ツバキ科 ○ ブナ科 ト ウダイグサ科 ウコ ギ科 クワ科 ブナ科 ブナ科 ○ ト ウダイグサ科 ミ カン科 ウコ ギ科 ハイノ キ科 ○ ツバキ科 ○ マンサク科 ヤブコ ウジ科 クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ノ ボタ ン科 クワ科 ○ ○ ボタ ン科 M el astom ataceae ノ ○ ○ 29 1250 20 m ary 30 1300 P ri 20-25 sturbed 31 1360 N atruraldi 10-15 M el astom a syl vati cum B l . M el astom ataceae A stroni a spectabi l i s Bl . )D C . A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l . D om i n. Fagaceae C astanopsi s argentea (B l . Euphorbi aceae Gl ochi di on rubrum B l . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type P ri m ary forest Forest H i ght S peci es Fam i l y H am am el i daceae Al ti ngi a excel sa N orona Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . ) Korth.ex S cheff. M oraceae Fi cus padana B urm . Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . ) P ers. ) Korth.H artl ey A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l . S ym pl ocaceae S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . Li thocarpus el egans (B l . ) M ez Laul aceae Li tsea cubeba (Lour. )O . )D C . M oraceae Fi cus del toi dea Jack Em erg. K. )O . ) T.Lampiran 2. K. ) H atus. R utaceae M el i cope l ati fol i a (D C .ex S oepadm o Fagaceae Euphorbi aceae A nti desm a tetrandrum B l . ) Korth. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C .

M oraceae Fi cus fi stul osa R ei nw .Lampiran 3. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . )R.C .A rg. f. D om i n. Land data of Gunung Salak (Cang Kaung route) G nung S al ak vegetati on C ang Kuang R oute 2008/3/12 D ate M em bI chi kaw a. ) Korth.A rg. ) M uel l . Theaceae Eurya acum i nata D C . P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . A ral i aceae A rthrophyl l um di versi fol i um B l . Euphorbi aceae A recaceae C unoni aceae S axi fragaceae Theaceae ナンヨ ウスギ科 ツバキ科 クノ ニア科 ウコ ギ科 ツバキ科 クノ ニア科 クワ科 ツバキ科 モチノ キ科 ト ウダイグサ科 ショ ウガ科 バショ ウ科 キク科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 クノ ニア科 クワ科 ツバキ科 マメ 科 ト ウダイグサ科 ヤシ科 クノ ニア科 ユキノ シタ 科 ツバキ科 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ RDB ○ ○ ○ 62 . Eurya acum i nata D C . ) Korth. ) M uel l .S akai& N agam .R obi nsonC om posi Euphorbi aceae M acaranga rhi zi noi des (B l . W ei nm anni a bl um ei P l anch. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . Theaceae Eurya acum i nata D C . M oraceae Fi cus padana B urm . Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . f. M . Fabaceae P arasari anthes fal catari a (L. A qui fol i aceae Fi cus padana B urm . C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. S ma l l Pi oneer other 37 38 39 1127 1165 1221 40 and 1250 G rassl 41 sturbed 1304 N aturaldi A raucari aceae 15-20 A gathi s dam m ara (Lam b. ) S .ex B l .Ki ng & H . Euphorbi aceae M acaranga tri l oba (R ei nw . )Ni el sen 42 sturbed 1358 N atyraldi Gl ochi di on arborescens Pi nanga j avana B l .I w an C om m ent WP Al t Forest type N P G ate Javana S pa G rassl and Forest H i ght S peci es Fam i l y J-Fam i l y Em erg. ) L.ex B l .A rg. Zi ngi beraceae Etl i ngera cocci nea (B l . M usaceae M usa acum i nata C ol l a tae C hrom ol aena odorata (L. C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch.I sm ai l .R i ch.

K. S auraui a bracteosa D C . C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel .ex B l . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y S ym pl ocaceae M el astom ataceae M oraceae A cti ni di aceae A recaceae Euphorbi aceae Em erg. S ym pl ocos odorati ssi m a (B l . C astanopsi s tungurrut (B l . 20-25 Q uercus l i neata B l . G ynotroches axi l l ari s D ysoxyl um densi fl orum (B l . A rdi si a ful i gi nosa B l . ) M uel l .A rg. )M i q. Q uercus l i neata B l . )M i q. A stroni a spectabi l i s Bl . )D C . D ysoxyl um densi fl orum (B l . A stroni a spectabi l i s Bl . S chi m a w al l i chi i (D C . M acaranga tri l oba (R ei nw . )D C . )O . )D C . C astanopsi s argentea (B l . 30-35 C astanopsi s argentea (B l . Fi cus fi stul osa R ei nw . 63 .S chum . M acropanax di sperm us (B l . Sl oanea si gun (B l ) K. C aryota rum phi ana B l .ex B l . S ma l l Pi oneer J-Fam i l y ハイノ キ科 ノ ボタ ン科 クワ科 ○ マタ タ ビ科 ヤシ科 ト ウダイグサ科 バショ ウ科 M usaceae P andanaceae タ コ ノ キ科 Fagaceae ブナ科 ○ Fagaceae ブナ科 Fagaceae ブナ科 ○ M el astom ataceae ノ ボタ ン科 Theaceae ツバキ科 R hi zophoraceae ヒ ルギ科 M el i aceae センダン科 ○ S ym pl ocaceae ハイノ キ科 ○ Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 A ceraceae カエデ科 El aeocarpaceae ト ウダイグサ科 Fagaceae ブナ科 ○ Fagaceae ブナ科 ○ S axi fragaceae ユキノ シタ 科 M el astom ataceae ノ ボタ ン科 M el i aceae センダン科 ○ A ral i aceae ウコ ギ科 ○ M yrsi naceae ヤブコ ウジ科 ○ C yatheaceae ヘゴ科 other 43 m ary 1382 P ri 44 sturve 1403 N aturaldi S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . A stroni a spectabi l i s Bl . P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . D om i n.ex M art. ) C hoi sy O m al anthus popul neus (G ei sel ) P ax A cer l auri num H assk. M usa acum i nata C ol l a P andanus furcatus R oxb. ) Korth.Lampiran 3.

5 42 40. 9 48. 5 57. 6 43. 6 Lat D M 6 6 6 6 6 6 6 6 44 44 44 44 44 44 43 43 S 46. The location of ground survey point Ci m al ati Al t D ate 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 ti me 9: 53 10: 35 10: 46 11: 09 11: 23 11: 38 12: 00 12: 52 13: 11 9: 23 9: 53 10: 29 11: 09 12: 08 WP 5 15 17 19 20 21 22 23 24 32 33 34 35 36 890 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1519 1615 1705 1825 D 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 Lat M 44 44 44 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 S 33. 64 . 9 1. 1 32. 8 11. 5 The accuracy of GPS data were usually 10 15m. 2 47. 8 42 29 42 23. Since the satellite condition. 9 53. 3 1 13. 9 42 30. 2 16.Lampiran 4. 6 47. 1 40. 8 D 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 Lon M 45 45 45 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 S 26 9 3. 3 D 106 106 106 106 106 106 Lon M 41 41 41 42 42 42 S acc 34. 2 10. 9 19. 1 24. 6 39. 8 42 48. 6 57. 1 42 54. 2 20. 1 55 50. 4 17. 6 25. 1 55. 8 45. 9 50. 1 35. 7 D 106 106 106 106 106 106 106 106 ti me 8: 27 9: 02 9: 20 9: 31 9: 45 10: 03 10: 25 11: 38 WP 37 38 39 40 41 42 43 44 1127 1165 1221 1250 1304 1358 1382 1403 Lon M S acc 42 52. 7 acc * * * * P asi r reungi t Al t D ate 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 C ang K uang Al t D ate 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 acc: ti me 9: 57 10: 26 10: 46 11: 34 12: 07 12: 55 WP 25 26 27 28 29 30 1045 1101 1150 1200 1247 1302 D 6 6 6 6 6 6 Lat M 41 41 42 42 42 42 S 6. 6 7. 2 25. 4 20. 3 25. 1 27. 7 30. 8 42 35. 8 0. Altitude data of WP 32-35 were measured by barometer. 7 30. 5 39. 7 49. 4 35. 5 40. 3 45 43.

) Bremek.) R. Chev.) Radlk. Buchanania arborescens (Bl. Strobilanthes paniculata (Nees) Miq.) Urb.K Strobilanthes blumei Bremek Strobilanthes cernua Bl. Halimun1 + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Salak2 + Plot3 Dimanfaatkan4 + + + ACERACEAE ACTINIDACEAE + + AGAVACEAE ALANGIACEAE AMARANTHACEAE ANACARDIACEAE ANNONACEAE APIACEAE APOCYNACEAE + + 65 .) Bl. Mangifera foetida Lour. Goniothalamus macrophyllus (Bl. Gendarussa vulgaris Nees Hemigraohis javana Pseudoranthenum acuminatissimum (Miq.) Bl.Br. Cyathula prostrata (L. Mangifera indica L. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat di kawasan gunung Halimun dan gunung Salak. Cordyline fructicosa (L.Lampiran 5.) Bremek. Straurogyne elongata (Bl. 3) Plot gunung Salak. Achyranthes aspera L. Straurogyne bibracteata Bl.) Rehder Alangium javanicum Alangium rotundifolium (Hassk. Saurauia cauliflora DC Saurauia nudiflora DC Saurauia pendula Bl.) Hook. E. & H. Acer laurinum Hassk. Ket.) O.f. Gluta renghas L. 2) Tim JICA dan tim Puslit Biologi.) King Polyalthia subcordata (Bl. Alstonia spectabilis Alyxia reinwardtii Bl. Semecarpus heterophylla Bl. Alstonia scholaris (L. Orophea hexandra Bl. Saurauia reinwardtiana Bl.) Bloem. Sericocalyx crispus (L.: 1) Mirmanto.& Thoms. Saurauia bracteosa DC. Centela asiatica (L.) A. 4) SUKU ACANTHACEAE Species Agrostema boragineum Dflugossa filiformis (Bl. Wiriadinata (19).) Bl. Alangium chinense (Lour. Polyalthia lateriflora (Bl. Strobilanthes repanda Bl.

) O.) Miq. Rich Calamus adspersus Bl. Calamus reinwardtii Bl. Scindapsus pictus Hassk. Tylophora villosa Bl. & Mor. Typonium sp. Schismatoglottis calyptrata (Roxb. & Mor. Schefflera fascigiata (Miq. Homalomena cordata Schott.) Back. Kopsia arborea Melodinus orientalis Bl.) Seem. Voacanga grandiflora Willubeia apiculata Ilex cymosa Bl.) Schott. Calamus javensis Bl. Raphidophora montana (Bl. Polyscias nodosa (Bl.K. Calamus heteroides Bl.) L. Agathis dammara (Lamb. Ait) Vent. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 66 .) Wendl. Caladium bicolor (W. Macropanax dispermum (Bl. Arthrophyllum diversifolium Bl.) Harms.) Miq.) Zoll. Schefflera lucida (Bl. Macropanax concinnus Miq.) Frodin Trevesia sundaica Miq. Anadenrum microstachyum (Miq. Raphidophora korthalsii Schott. Arum sp. Scindapsus hederaceus (Zoll. Homalomena humilis (Jack) Hook. Caryota mitis Lour. Daemonorops melanochaetes Bl. Anthurium andreanum Linden Arisaema filiformis Bl.f Homalomena pendula Pothos sp. Nenga pumila (Mart.APOCYNACEAE AQUIFOLIACEAE ARACEAE ARALIACEAE ARAUCARIACEAE ARECACEAE Chilocarpus suaveolens Bl. Calamus rhomboideuss Bl. Schefflera aromatica (Bl. Calamus ciliaris Bl.C. Caryota rumphiana Bl. Alocasia longiloba Miq. Licuala spinosa Thun.

Blumea lacera (Burm.C. Chromolaena odorata (L. Crossocephalum crepidioides (Bth. Spilanthes acmella Spilanthes iabadicensis + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + ATHYRIACEAE BALANOPHORACEAE BALSAMINACEAE BEGONIACEAE Vernonia arborea Buch-Ham Diplazium bantamense Diplazium cordifolium Balanophora globosa Jungh. Hoya multiflora Bl. Impatien platypetala Lindl. Discidia punctata (Bl.) D.) Decne Discidia rumularifolia Discidia truncata Decne Hoya Hoya macrophylla Bl. Erechtites valerianifolia Erigeron sumatrensis Retz. Moore Eclipta alba (L.B. ex Mart) Bl. Bidens biternata Blumea balsamifera (L. Sphaeranthus indicus L. Eupatorium odoratum Eupatorium riparium Reg. Begonia multangula Bl.K.) Hassk.M. Impatien chonoceras Hassk. Ageratum conyzoides L. Begonia bracteata Jack Begonia isoptera Dryand. Robinson Clibadium surinamense L.f. King & H. Eupatorium inulifolium H.) Steud. + + + + + + + + + + + + + + 67 . Pinanga javana Bl. Impatien javensis (Bl.f. Elephantopus scaber L.ARECACEAE ARISTOLOCHIACEAE ASCLEPIADACEAE ASTERACEAE Pinanga coronata Bl. Plectocomia elongata Mart.C. Impatien walleriana Hook.) R.) D. Begonia longifolia Bl.) S. Eupatorium triplinerve Vahl Mikania micranta Sonchus arvensis L.ex Bl Aristolochia sp.

Mastixia pentandra Bl. Perrottetia alpestris (Bl.) Loes.) Kds. Nyssia javana (Bl.f. Canarium denticulatum Lobelia angulata Forst. Commelina paludosa Bl Forrestia mollissima (Bl. Zehneria indica CUNNONIACEAE Weinmania blumei Planch. Burmania lutescens Becc. Trichosantes quinquangulata A. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 68 .Gray Trichosantes sumatrana Cogn. ex Link Sarcandra glabra Calophyllum soulattri Garcinia celebica L.f. Garcinia diodica Bl.Begonia muricata BEGONIACEAE BLECHNACEAE BOMBACACEAE BURMANIACEAE BURSERACEAE CAMPANULACEAE CAPPARACEAE CAPRIFOLIACEAE Begonia robusta Bl. Chloranthus elatior R. Blechnum orientale L.) Hall. Viburnum lutescens Bl. Neesia altisima (Bl. Capparis cantoniensis Lour.) Wang.f.) Swat Trichosantes ovigera Bl. Trichosantes tricuspidata Lour. Garcinia sp. CELASTRACEAE CHLORANTACEAE CLUSIACEAE Euonymus javanicus Bl.Br. Trichosantes villosa Bl. Viburnum coriaceum Bl. Mastixia trichotoma Bl. CUCURBITACEAE Sechium edule (Jacq.) Bl. Pollia hasskarlii Rolla Rao CONVOLVULACEAE CORNACEAE Ipomoea aquatica Forsk Merremia umbellata (L. Viburnum sambucinum Bl. COMBRETACEAE COMMELINACEAE Terminalia microcarpa Decne Commelina diffusa Burm.

) Burck. Cyathea junghuhniana (Kuntze) Copel.) K. & B. Hypolytrum humile (Steud. Sloanea sigun (Bl. Fimbristylis sp. Hypolytrum nemorum (Vahl) Spreng. Aporusa frutescens Aporusa sphaeridophora Merr.) Copel. Scleria melanostema Scleria pubescens Scleria pubescens DAPHNIPHYLLACEAE DILLENIACEAE DIOSCOREACEAE Daphniphyllum glaucescens Bl. Schum.) K. Blumeodendron tokbrai (Bl.Schum DIPTEROCARPACEAE EBENACEAE ELAEAGNACEAE ELAEOCARPACEAE + ERICACEAE Rhododendron javanicum (Bl. Dillenia javanica Tetracera indica Dioscorea alata L. Dioscorea numularia Lmk. Antidesma tetandrum Bl. Dipterocarpus hasseltii Diospyros buxifolia Elaeagnus latifolia L. Kylinga monocephala Rottb. Breynia microphylla (T. Elaeocarpus petiolatus (Jack) Wall.A. EUPHORBIACEAE Antidesma minus Bl. Elaeocarpus stipularis Bl.) M.) Benn. Elaeocarpus sphaericus (Gaertn. Cyathea rachiborskii + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + CYPERACEAE Carex baccan Nees Cyperus kyllinga Endl.CYATHEACEAE Cyathea contaminans (Wall. & V. Scleria laevis Retz. + + 69 . Gahnia javanica Zoll ex Mor. Rhododendron malayanum Jack Rhododendron sp. Elaeocarpus ascronodia Master Elaeocarpus oxypyren K. Antidesma montanum Bl.) Kurz.

) MA Macaranga tanarius (L.) Merr. Claoxylon glabrifolium Miq.0 Roxb. Mallotus paniculatus (Lamk) Muell. f.) Hassk.) Hook. Claoxylon polot (Burm. Glochidion arborescens Bl.A. Pimeleodendron pavorioides Sapium seliferum (L. Sauropus androgynus (L.A.) M. Glochidion sericeum (Bl. & Mor. Phyllanthus niruri L. Glochidion philippicum Glochidion rubrum Glochidion rubrum Bl. Arg.) Nielsen Parkia intermedia Hassk. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + FABACEAE Abrus precatorius L. Ostodes panniculata Bl. Phyllanthus urinaria L. Albizia falcataria (L. Omalanthus populneus Zoll. Croton laevifolius Bl.) Fosberg Archidendron clypearia (Jack) Niels. ex Bl.f.) M.) Merr. Macaranga triloba (Reinw. Macaranga rhizinoides Macaranga rhizinoides (Bl. Pithecellobium ellipticum (Bl. Archidendron fagifolium Calliandra calothyrsus Meissn Calliandra tetragona Dalbergia tamarindifolia Erythrina orientalis Milletia dehiscens Milletia sericea Mimosa pigra Mimosa pudica Parasarianthes falcataria (L.EUPHORBIACEAE Bridelia glauca Bl. Bridelia minutiflora Hook.f. Glochidion molle Bl. 70 .

Castanopsis tungurrut (Bl.C. Cyrtandra sandei De Vr. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + FAGACEAE Castanopsis acuminatissima (Bl. Pangium edule Reinw. FERNS FLACOURTIACEAE Oleandra pistilaris Pteridium aquilinum Casearia tuberculata Bl.) Rehd.FABACEAE Pterocarpus indicus Willd. Cyrtandra pendula Bl. Lithocarpus daphnoides (Bl. Quercus gemelliflora Bl. Casearia velutina Flacourtia rukam Zoll. Sphatolobus littoralis Hassk.Br. Aesynanthus horsfieldii R. Sphatolobus ferruginensis Bth. Cyrtandra picta Bl.) Hatus. Cyrtandra sulcata Bl. ex Hk. Lithocarpus teijsmanii (Bl.D. & Mor. GENTIANACEAE GESNERIACEAE Gentiana quadrifaria Bl. GNETACEAE HAMAMELIDACEAE HYPERICACEAE Gnetum cuspidatum Altingia excelsa Noronha Cratoxylum sumatranum 71 .) DC.K.) Bakh.K. Didymocarpus asperifolia (Bl. ex Soepadmo Lithocarpus spicatus Lithocarpus sundaicus (Bl.f. Quercus lineata Quercus pyriformiv Steen.) A.) DC Castanopsis javanica (Bl. Cyrtandra rostrata Bl. Camus Lithocarpus elegans (Bl. Castanopsis argentea (Bl. Aesynanthus radicans Jack Agalmyla parasitica (Lamk) O.) Rehd. Cyrtandra coccinea Cyrtandra glabra Cyrtandra oblongifolia Bth.) DC.) A. Didymocarpus zollingeri (Clarke) O.

ex Bl.) Herb. Litsea resinosa Bl. Litsea mappacea (Bl.) Kosterm. Molineria latifolia Herb.) Pers. Lindera bibracteata (Nees) Boerl. Gomphandra javanica (Bl.) Kth. LECYTHIDACEAE LEEACEAE LILIACEAE Planchonia valida (Bl.K. Litsea tomentosa Bl.) Boerl. Litsea ferruginea Bl. Neolitsea cassia (L. Litsea elliptica Bl.HYPOXIDACEAE ICACINACEAE Curculigo orchimoides Gaertn.) Merr. Neolitsea trilivervia (Bl. Anisomeles indica (L.f Leea rubra Bl.) Bl. Molineria capitulata (Lour.) Val. Litsea grandis Litsea javanica Bl.) Boerf. Orthosiphon grandiflorus Bold.) Kosterm. Platea latifolia Bl. Dianella javanica (Bl. Litsea diversifolia Bl. Plectranthus galeatus Scutellaria discolor + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + LAURACEAE Beilschmiedia madang (Bl. ex Kurz Pleomele angustifolia 72 . Stemonurus secundiflorus Bl.) Herb.) O. Engelhardia spicata Lesch. Litsea accendens Litsea cubeba (Lour.) Merr Nothaphoebe coriacea Persea rimosa (Bl.) Bl. Litsea noronhae Bl. Leea indica Burm. Platea excelsa Bl. Disporum cantoniense (Lour. Cinnanomum sintoc Bl. Litsea tuberculata (Bl. + + + + + + + + + + + IRIDACEAE JUGLANDACEAE LAMIACEAE Trimeza martinicensis (L.

Melastoma affine D. Medinella exima Bl. Geniostoma arborescens (Reinw.) K. Don. Omphalopus fallax (Jack) Naud.) Bl. Pachycentria sp. Fagraea elliptica Roxb.Forst. Dissochaeta gracillis (Jack) Bakh.f.) O. 73 . Medinella laurifolia Bl. Don Melastoma malabathricum L.) Bl. Marantha arundinacea Tuss. Agiopteris evecta Hoffm.Schum. Manglietia glauca Bl.LILIACEAE LOBELIACEAE LOGANIACEAE Pleomele elliptica Lobelia sp. Medinella sp. MELASTOMATACEAE Astronia spectabilis Bl. Michelia montana Bl. Memecylon excelsum Bl. Don Melastoma polyanthum Melastoma sylvaticum Bl. Dissochaeta reticulata Bl.) Kurz Sida acuta Sida rhombifolia L. Melastoma normale D.ex Bl. Clidemia hirta D. Triumfetta rhomboidea Urena lobata MARANTHACEAE Donax cannaeformis (G. Medinilla speciosa Reinw. Creochiton bibracteata (Bl.K. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MAGNOLIACEAE Magnolia candolii Bl. Dissochaeta leprosula (Bl. Memecylon myrsinoides Bl. Memecylon oleaefolium Bl. Fagraea lanceolata Bl. Fagraea fragrans Bl. Marumia muscosa Bl. MALPHIGIACEAE MALVACEAE Hiptage benghalensis (L.

Melia azedarach Sandoricum koetjapi (Burm. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 74 . Ex Bl.MELASTOMATACEAE Pternandra azurea (Bl. ex Bl. Dysoxylum densiflorum (Bl. Ficus montana Burm. ex Bl. Ficus fistulosa Reinw.f.) Merr. Ficus pisocarpa Ficus ribes Reinw. Stephania japonica var. Ex Bl. Ficus sinuata Thunb.) Burck.) Miq.) Merr. discolor MONIMIACEAE MORACEAE Kibara coriacea Artocarpus elasticus Reinw. Rhodamnia sp. Ficus sagitata Vahl. Ficus lepicarpa Bl. + + + + MENISPERMACEAE Fibraurea chloroleuca Perycampylus cauliflora (Miers) Diels Perycampylus glaucus (Lam.) Spreng. Dysoxylum excelsum Bl. Stephania corymbosa (Bl.) Merr.f. Ficus grosullarioides Ficus involucrata Bl.) Spreng. ex Trec. Dysoxylum alliaceum Bl. Ficus fulva Reinw. Ficus globosa Bl. Stephania capitata (Bl. Sonerilla heterophylla Jack + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MELIACEAE Aglaia sp. Artocarpus integra Ficus alba Reinw. ex Bl.f. Toona sureni (Bl. Ficus ampelas Ficus aspericula Ficus deltoidea Jack Ficus elastica Nois ex Bl. Ficus fulva Reinw. Artocarpus gemeziana Wall. Ficus padana Burm.

) Duthie Eugenia fascigiata Eugenia pycnantum Syzygium antisepticum (Bl.) D.) F. Myrsine avensis (Bl.&V. Poikilospermum suaveolens (Bl. Myrsine hasseltii Bl.) Merr & Perry Syzygium gracilis (Korth. + NEPENTHACEAE Nepenthes gymnophora Reinw. Syzygium rostratum (Bl. Tristania sp.) Warb. Maesa ramentacea Wall.Vill.Forst Eugenia densiflora (Bl.) Merr. Myristica guatteriifolia DC Ardisia crispa (Thunb) DC.) Merr & Perry Syzygium polyanthum Syzygium racemosum (Bl.) Mez + + + + + + + + + + + + + MYRSINACEAE + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MYRTACEAE Cleistocalyx operculata Merr. Ardisia fuliginosa Bl.) Warb.C. Syzygium sp. Horsfieldia glabra (Bl. Syzygium suringarianum (K. Knema laurina (Bl.R.) D.C.) Amsh.) D.) Amrh.) Amsh. Musa acuminata Colla Musa salaccensis Zoll. Ardisia odotophylla Ardisia pendula Mez Ardisia sanguinolenta DC Labisia pumila (Bl. ex Scheff Rapanea hasseltii (Bl. ex Scheff. & Perry Decaspermum fruticosum J. Syzygium syzygioides (Miq. Ardisia javanica Ardisia laevigata Bl. ex Nees 75 .C. Syzygium lineatum (Bl.MORACEAE MUSACEAE MYRISTICACEAE Ficus variegata Bl.C. Horsfieldia irya Knema cinerea (Poir) Warb.) D. Maesa latifolia (Bl.& G.

f.OLEACEAE Chionanthus montanus Bl. Appendicula reflexa Arundina graminifolia Bulbophyllum Bulbophyllum absonditum J. Apostasia nuda Appendicula alba Appendicula buxifolia Appendicula congenera Appendicula cornata Appendicula cristata Appendicula pendula Appendicula ramosa Bl.) Lindl. Chionanthus ramiflorus Jasminum multiflorum (Burm.S Bulbophyllum aliifolium Bulbophyllum cernuum (Bl.J. Bulbophyllum macranthum Bulbophyllum obtusipetalum Bulbophyllum odoratum Bulbophyllum ovalifolium Bulbophyllum pahudii Bulbophyllum petiolatum Bulbophyllum scotifolium Bulbophyllum stelis Bulbophyllum unguiculatum Bulbophyllum violaceum Bulbophyllum xylocarpi Calanthe abbreviata 76 . Agrostophyllum bicuspidatum Agrostophyllum denbergii Agrostophyllum laxum J.Sm. Bulbophyllum elongatum Bulbophyllum flavescens Bulbophyllum flavidiflorum Bulbophyllum lobbii Lindl. Olea javanica (Bl.J.) Knobl.) Andr. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + ONAGRACEAE ORCHIDACEAE Ludwigia linifolia Vahl.

Eria flavescens (Bl.) Lindl.K.) O.) Lindl.S.) Lindl. Coelogyne fuliginosa Coelogyne longifolia Lindl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 77 . Dendrobium lobulatum Dendrobium mutabile Dendrobium pandaneti Dendrobium paniferum Dendrobium reflexitepalum J. Cryptostylis arachnites Cymbidium ensifolium Cymbidium lancifolium Hook.J. Cymbidium pubescens Lindl. Dipodium scandens Disperis javanica Eria biflora Eria erecta (Bl. Dendrochilum brachyotum Dendrochilum cornutum Bl.) Pfitz.ORCHIDACEAE Calanthe orchimoides Ceratochilus biglandulosus Bl. Dendrobium aloifolium Dendrobium crumenatum Dendrobium excavatum Dendrobium hymenophyllum Lindl. Dendrochilum exalatum Dendrochilum pallideflavens Dilochia wallichii Lindl. Dendrobium tetraede Dendrochilum aurantiacum Bl. Dendrobium spathilingue Dendrobium tenellum (Bl. Coelogyne miniata Coelogyne simplex Coelogyne speciosa Corybas pictus (Bl. Ceratostylis capitata Ceratostylis subulata Chelonistele sulphurea (Bl.

Lecanorchis javanica Lecanorchis multiflora Lepidogyne longifolia Liparis bilobulata J.) Bl. Oberonia imbricata Oberonia microphylla Oberonia similis Octarrhena parvula Phaius flavus (Bl.ORCHIDACEAE Eria junghunii Eria lobata Eria oblitterata Eria robusta Eria tenuiflora Erythrodes brevicalcar Eulophia nuda Lindl.) Lindl.S.J.) Lindl. Flickingeria fimbricata Goodyera reticulata (B.) Lindl. Ait. Phaius tankervillae (W. Liparis compressa Liparis gibbosa Liparis pallida (Bl. Podochilus tenuis Polystachya concreta + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 78 . Pholidota imbricata Pholidota pallida Plocoglottis javanica Bl. Liparis rheedii Macodes petola (Bl. Pholidota globosa (Bl.) Lindl. Malaxis koordersii Malaxis ridleyi Micropera callosa Microsaccus affinis Nephelaphyllum pulchrum Nephelaphyllum tenuiflorum Bl.) Lindl.) Bl. Podochilus muricatus Podochilus serpyllifolius (Bl.

Spiranthes sinensis Tainia elongata J. Pandanus furcatus Roxb.S. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + OXALIDACEAE PANDANACEAE PASSIFLORACEAE Passiflora edulis Sims. Freycinetia javanica Bl.f. ex Arn. ex Park. Passiflora foetida L.) Hook. Freycinetia sp. PINACEAE PIPERACEAE Pinus merkusii Jungh.) Miq.S.ORCHIDACEAE Pteroceras compressum Pteroceras fraternum Renanthera matutina Robiquetia spathulata Saccolobium rantii Saccolobium sigmoideum Sarcostoma javanica Schoenorchis juncifolia Bl. Freycinetia angustifolia Bl. Spathoglottis aurea Spathoglottis plicata Bl. Oxalis corniculata L. Piper caninum Bl. Peperomia tetraphylla (Forst. & De Vriese Peperomia laevifolia (Bl. Piper nigrescens Piper retrofaractum 79 .J.J. Passiflora quadrangularis L. Piper aduncum L. Pandanus nitidus Pandanus tectorius Soland. Thrixspermum anceps Thrixspermum conigerum Thrixspermum pensile Thrixspermum purpurascens Thrixspermum squarrosum J. Trichotosia ferox Trichotosia pauciflora Vanda tricolor Lindl. Freycinetia insignis Bl.

Thysanolaena maxima (Roxb. ex Heyne Digitaria sanguinalis Scov.ex Schult.) Zoll. & M.K.) Bl.PITTOSPORACEAE PLANTAGINACEAE POACEAE Pittosporum moluccanum (Lmk. 80 . ex Wendl.) O. Dendrocalamus asper (Schult. Pogonatherum paniceum (LamHack. Axonophus compressus Bambusa vulgaris Schrad.E. ex Wall Helicia roxbughii (R.k) Schizostachyum blumei Nees Schizostachyum brachycladum Kurz Schizostachyum ireten Steudel Setaria palmifolia (Willd. Polygala venenosa Juss. Lopathorium gracile Oplismenus compositus Paspalum conjugatum Berg. Dinochloa scandens (Bl. Isachne alben Isachne pangerangensis Z. Podocarpus imbricatus Bl.) Kurz Gigantochloa atroviolacea Widjaja Gigantochloa hasskarliana (Kurz) Backer ex Heyne Gigantochloa pseudoarundinacea (Steud.Br.&M. ex Poir Xanthophyllum excelsum POLYGALACEAE POLYGONACEAE PROTEACEAE Polygonum chinensis L. Gigantochloa apus (Bl. Helicia robusta (Roxb.Br.) de Laub Polygala paniculata L.Don Prumnopytis amara (Bl. Pittosporum ramiflorum (Z. Podocarpus neriifolius D. Eleusine indica (L.) Miq. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + PODOCARPACEAE Dacrycarpus imbricatus (Bl.f.) Back.K.f. Plantago mayor L.) de Laub.) Widjaja Gigantochloa robusta Kurz Imperata cylindrica var major C.) Stapf.) Gaertn. ex Miq. ex Nees) O. Hubb.) R. Paspalum longifolium Roxb.

Lasianthus reticulatus Bl. Prunus javanica (T. Mycetia cauliflora Mycetia javanica (Bl. Lasianthus purpureus Bl.Br. Neocauclea clycina (Bartl. Prunus gricea (C.) Merr. Thalictrum javanicum Bl.) Kalkm. & B. Prunus arborea (Bl. Lasianthus oculuscati Bl. Pygeum latifolium Miq. ex DC Argostemma montanum Bl. Musaenda frondosa L. Lasianthus laevigatus Bl. Lasianthus stercorarius Bl. Nertera granadense 81 . Rubus rosaefolius J. ex DC.) Mrr.) Reinw. ex DC Argostemma uniflorum Bl. Rubus elongatus Smith Rubus mollucanus L.) Kalkm. Gynotroches axillaris Bl. ex DC Borreria laevis (Lamk) Griseb. ex Korth. Lasianthus inodorus Bl.) Bl.PROTEACEAE RANUNCULACEAE RHAMNACEAE Helicia serrata (R.) Brem. Lasianthus lucidus Bl. Maschalocorymbus corymbosus (Bl.E. Ixora javanica Ixora salisifolia Lasianthus constrictus Wight. Smith + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + RHIZOPHORACEAE ROSACEAE RUBIACEAE Argostemma borragineum Bl. Neonauclea obtusa (Bl. Lasianthus rhinocerotis Bl. Muell.) Miq. Maesopsis enemii Ziziphus javanensis Bl. Diodia ocymifolia Bremek Geophila repens Hedyotis rigida Hypobathrum frutescens Bl.

Nephelium juglandifolium Bl.) T.) K. Uncaria glabrata (Bl. Wendlandia glabrata DC + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + RUTACEAE Acronychia laurifolia Bl. Lepisanthes tetraphylla Mischocarpus frutescens Bl. Psychotria sarmentosa Bl. Timonius seriaceus (Desf. Uncaria gambir Roxb. & B. Randia schoemannii (T. Acronychia pedunculata (L. Timonius timon (Spreng) Merr. Arytera Sp. Mischocarpus sundaicus Bl. Psychotria robusta Bl.) DC Uncaria pedicelata Urophyllum arboreum (Reinw. Hartley Ruta oppositifolia SABIACEAE SAPINDACEAE Meliosma lanceolata Bl. Euodia latifolia DC Melicope latifolia (DC.) Bakh Randia wallichii Hook. Saprosoma arboretum Bl. ) Korth Urophyllum corymbosum Urophyllum glabrum Wall.) Miq Euodia glabra (Bl.) Bl. Otophora alata Bl. & V.) Jacobs Pometia pinnata forma tomentosa SAPOTACEAE Payena leerii (T. Planchonella nitida 82 . & B.ex Bl. Pavetta montana Reinw. Pometia pinnata forma glabra (Bl. Psychotria curviflora Wall. Psychotria montana Bl. ex Bl. Tarenna fragrans (Bl.) K.RUBIACEAE Ophiorrhiza junghunii Pavetta indica L. Sch.) Kurz. f.G.

) Kurz. Picria felterrae Lour.) Korth. URTICACEAE Elattostema nigrescens Miq.) Chaisy THEACEAE Eurya acuminata DC.) Bl.) Korth. STAPHYLIACEAE Turpinia montana (Bl. Gordonia excelsa (Bl. Elattostema sinuatum (Bl. Smilax zeylanica L.) S. Ternstroemia japonica (Thun.) Piere THYMELAEACEAE ULMACEAE Daphne composita (L. Commersonia bartramina Sterculia coccinea Jack Sterculia subpeltata STEMONACEAE STERCULIACEAE SYMPLOCACEAE Symplocos cochichinensis (Lour. 83 . Gonystyllus macrophyllus (Miq. Turpinia sphaerocarpa Hassk. Schima wallichii (DC. Pyrenaria serrata Bl. Stemona javanica (Kth.) Bl. Ternstroemia lanceolata Thea lanceolata (Bl. Torenia asiatica + + + + + + + + SELAGINELLACEAE SMILACACEAE Selaginella plana Smilax leucophylla Bl. Eurya glabra (Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + SOLANACEAE Lysianthes laevis Lysianthes lysimachioides Physalis minima L. Solanum verbascifolium Bl. Lindernia sp. Smilax macrocarpa Bl.) Engl. Moore Symplocos fasciculata Zoll.f. Gironniera subaequalis Planch. Polyosma integrifolia Bl. Symplocos odoratissima (Bl.) Airy Shaw Celtis timorensis Span.SAXIFAGRACEAE SCROPHULARIACEAE Polyosma illicifolia Bl. Trema orientalis (L. Laplacea integerrima Miq.) Thun.) Hassk.) Gilg.

) Miq. Vaccinium lucidum (Bl.) Miq.) Gaud.) Planch. Etlingera punicea (RSm. Amomum compactum Soland.) Bl. Tetrastigma glabratum (Bl. Alpinia galanga (L.oxb.f.) Planch. Ex Wall. Alpinia robusta Alpinia scabra Bl. Costus speciousus (Koen. Vaccinium sp. Procris frutescens Bl. Smith Etlingera coccinea (Bl.) S.) Miq. Brachychilum horsfieldii (R. Procris pedunculata (Forst.) Gagn. Callicarpa longifolia Lamk.) R.) J. 84 . Tetrastigma lanceolarium (Roxb. Vitex trifoliata L.G. Cayratia japonica Clerodendrum laevifolium VERBENACEAE VITACEAE Lantana camara L..) Swartz Alpinia javana Bl. Vaccinium laurifolium (Bl. Pterisanthes cissoides Bl.Br.M. Vaccinium varingiaefolium (Bl.) Wedd.URTICACEAE Laportea stimulans (L. Pilea melastomoides (Poir. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + VACCINIACEAE Vaccinium bancanum Miq.) O. Cayratia geniculata (Bl.E.) Planch. f.) Bl. Etlingera solaris Globba marantina L. Ampelocissus thyrsiflora Cissus discolor Bl. ex Maton Amomum pseudopoetens Val. Tetrastigma papilissum (Bl. Ex Miq. Sakai & Nagam. Peters. Villebrunea rubescens Bl. Pipturus sp. Pilea angulata (Bl. ZINGIBERACEAE Achasma foetus Val.

ZINGIBERACEAE Globba pendula Hedichyum conorarium Hornstedtia paludoa (Bl. Zingiber aromatica Val. Nicolaia solaris (Bl. + + + + + + + + + 85 . Hornstedtia pininga (Bl.) Horan.) Val.) Val.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->