BAB I PENDAHULUAN

Hutan alam dikenal sebagai suatu ekosistem yang stabil, dimana di dalamnya terjadi harmonisasi interaksi baik antar komponen biotik yang ada maupun antara komponen biotik dan abiotik. Dengan sendirinya, keberadaan komponen yang satu akan saling mempengaruhi keberadaan komponen yang lain. Keharmonisan proses ekologi yang demikian akan dengan cepat berubah ketika salah satu komponennya terganggu. Sejarah mencatat bahwa proses pengubahan hutan alam ke bentuk vegetasi lain oleh aktivitas manusia yang dimulai sejak ribuan tahun yang lalu merupakan sebuah contoh klasik tentang perubahan bentuk-bentuk ekosistem. Perubahan bentuk ekosistem ini meningkat dengan cepat sejak dekade tahun 1970an, ketika mulai diijinkannya penebangan pohon secara komersial, pelaksanaan program transmigrasi dan menjamurnya proyek-proyek hutan tanaman dan perkebunan. Sebagai akibat dari perubahan itu tidak mengherankan jika beberapa jenis sumberdaya biologinya mengalami kelangkaan, erosi genetika, karena tidak mengindahkan dan memperhatikan kaidah pelestariannya. Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budaya, pariwisata dan rekreasi. Oleh karena itu keberadaan Taman Nasional tidak bisa dipungkiri tidak saja sekadar memenuhi fungsi-fungsi tersebut di atas, akan tetapi juga sebuah kawasan yang menyimpan keanekaragaman hayati dan merupakan daerah tangkapan air. Gunung Salak merupakan kawasan yang masih menyimpan banyak misteri tentang kekayaan hayati beserta ragam pemanfaatannya. Sayangnya potensi ini telah banyak mengalami penyusutan seiring dengan laju kerusakan hutan yang diakibatkan berbagai kegiatan manusia atau bahkan berbagai kebijakan yang kurang mempertimbangkan kelestariannya. Untuk mengantisipasi kerusakan yang lebih parah, maka pada tahun 2003 kawasan Salak ditunjuk sebagai bagian dari kawasan taman nasional. Penjelajahan untuk mengungkap flora yang terdapat di kawasan Gunung Salak dianggap penting karena beberapa penelitian tentang flora fauna yang pernah dilakukan di kawasan hutan gunung Salak diantaranya, di daerah Awibengkok (Kartawinata et al.,1985), Cianten (Mirmanto, 1991) dan koridor antara G. Salak dan G. Halimun (Wiriadinata, 1997). Bahkan jauh sebelumnya, gunung Salak merupakan magnet bagi para ilmuwan botani, tercatat diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh seorang botanis berkebangsaan Swedia Claes Frederic Hornstedt (1758-1809), murid dari Thunberg, kemudian disusul Hornstedt pada tahun 1783, Reinwardt pada tahun 1817 (Steenis 2006). Sejauh ini data dan informasi yang dikumpulkan masih juga belum memadai jika dibandingkan dengan data dan informasi

1

yang terkumpul dari kawasan hutan gunung Halimun. Itulah sebabnya penelitian dirasa masih diperlukan untuk melengkapi data dan informasi flora dan fauna dari kawasan hutan gunung Salak. Penelitian mendasar dari aspek ekologi vegetasi, etnobotani, eksplorasi dan inventarisasi keanekaragaman jenis tumbuhan dan keterkaitannya dengan kondisi habitat diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya pengelolaan Taman Nasional Halimun Salak. Penelitian ekologi vegetasi dilakukan dengan menggunakan metode petak, sedangkan penelitian etnobotani dilaksanakan dengan menggali informasi dari masyarakat di sekitar lokasi penelitian. Untuk melengkapi data dan informasi keanekaragaman jenis tumbuhan dilakukan eksplorasi dan inventarisasi. Penelitian kali ini merupakan kegiatan bersama antara Pusat Penelitian Biologi LIPI dengan JICAGunung Halimun Salak National Park Management Project (GHSNPMP). Hasilnya diharapkan dapat disumbangkan dalam rangka membuat “guiden book” untuk menentukan arah dan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi Halimun – Salak yang melibatkan masyarakat.

TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan salah satu kawasan konservasi Indonesia yang berfungsi selain melindungi flora dan fauna unik yang ada di dalamnya juga mempungai fungsi lain yang tak kalah pentingnya yaitu sebagai pengatur tata air, pendidikan, penelitian, sumber plasma nutfah, pengembangan budidaya, rekreasi dan pariwisata. Dari pengertian tersebut tergambar bahwa betapa besar manfaat Taman Nasional sebagai pelayanan jasa. Awalnya kawasan ini merupakan Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) yang ditetapkan melalui SK Menhut No. SK 282/KptsII/Menhut/1992 tanggal 28 Februari 1992 dengan luas 40.000 hektar dan pada tanggal 23 Maret 1997 ditetapkan sebagai salah satu unit pelaksana teknis di Departemen Kehutanan. Seiring dengan tingginya proses degradasi hutan di Indonesia dan dengan adanya desakan parapihak yang peduli terhadap konservasi hutan, maka pada tahun 2003 kawasan hutan Gunung Salak, Gunung Endut, dan kawasan sekitarnya yang sebelumnya merupakan kawasan hutan produksi, hutan produksi terbatas dan hutan lindung yang dikelola oleh perum Perhutani selanjutnya dialih fungsikan menjadi kawasan konservasi melalui SK Menhut No. SK 175/Kpts-II/Menhut/2003 tanggal 10 Juni 2003 menjadi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dengan luas 113.357 ha. Kawasan TNGHS secara administratif

terletak di 2 (dua) propinsi yaitu Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten serta 3 kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Lebak. Kawasan TNGHS mempunyai ketinggian berkisar antara 500 – 2.211 mdpl. Topografinya

bergelombang, berbukit dan bergunung-gunung. Di sekitar kawasan TNGHS terdapat bukit memanjang mulai dari gunung Endut (di sebelah Barat) melintas gunung Kendeng (di kawasan Baduy) kemudian

2

perlahan menurun sampai ke gunung Honje dan semenanjung Ujung Kulon. Sedangkan di sebelah Timur berhubungan dengan gunung Gede Pangrango yang dipisahkan oleh sungai Citatih, sungai Cisadane dan jalan propinsi Ciawi – Sukabumi. Beberapa gunung yang ada di sebelah barat kawasan ini yaitu gunung Endut Barat (1.297 mdpl), gunung Pameungpeuk (1.455 mdpl), gunung Ciawitali (1.530 mdpl), gunung Kencana (1.831 mdpl), gunung Halimun Utara (1.929 mdpl), gunung Sanggabuana (1.920 mdpl), dan gunung Botol (1.850 mdpl). Sedangkan gunung-gunung yang terdapat di sebelah Timur Laut adalah gunung Kendeng Utara (1.377 mdpl), gunung Salak 1 (2.211 mdpl), gunung Salak 2 (2.180 mdpl), gunung Endut Timur (1.471 mdpl) dan gunung Sumbul (1.926 mdpl). Di bagian tenggara terdapat gunung kendeng Selatan (1.680 mdpl), gunung Panenjoan (1.350 mdpl), gunung Halimun Selatan (1.758 mdpl), Geologi kawasan TNGHS merupakan bagian dari deretan pegunungan Sumatra. Sebagian besar kawasan tersusun atas batuan vulkanik breksi, basaltik dan lava andesit dari periode Pleistosin dan beberapa strata dictic dari periode Prepleiosin (sekitar 10 – 20 juta tahun yang lalu). Berdasarkan peta tanah tinjau Jawa Barat, jenis tanah di daerah ini terdiri atas asosiasi andosol coklat dan regosol coklat, asosiasi latosol coklat dan latosol coklat kekuningan, latosol coklat kemerahan dan latosol coklat, asosiasi latosol coklat kemerahan dan laterit, komplek latosol coklat kemerahan dan lithosol, asosiasi latosol coklat dan regosol kelabu (LP Tanah, 1966). Bahkan Gunung Salak sampai saat ini masih berstatus gunung berapi strato type A dan tercatat terakhir meletus tahun 1938. Gunung Salak memiliki kawah yang masih aktif dan dikenal dengan nama Kawah Ratu. Menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson (1951) iklim di daerah kawasan TNGHS termasuk tipe A, dengan curah hujan tahunan sebesar 4.000 – 6.000 mm. Rata-rata curah hujan bulanan selalu > 100 mm, dengan bulan terkering (+ 200 mm) pada Juni sampai September dan terbasah (+ 550 mm) antara Oktober dan Maret, sehingga dapat digolongkan beriklim selalu basah (Kartawinata, 1975) dengan kelembaban udara rata-rata 88 %. Suhu rata-rata bulanan 31,5oC dengan suhu terendah 19,7oC dan suhu tertinggi 31,8oC. Vegetasi hutan di dalam kawasan TNGHS sangat bervariasi, baik berdasarkan ketinggian tempat maupun kondisi habitat setempat. Namun secara umum, berdasarkan permintakatan Steenis (1972) dapat dikelompokkan menjadi 3 mintakat, yaitu mintakat kaki pegunungan (collin), dengan ketinggian antara 500 dan 1000 m dpl, mintakat sub-pegunungan (1.000 - 1.500 m) dan mintakat pegunungan (1500 – 2400 mdpl). Sejauh ini data dan informasi flora dan fauna hutan gunung Halimun telah banyak diungkapkan melalui berbagai survei dan penelitian. Sayangnya hasilnya terserak dan tersebar di berbagai tempat dan besar kemungkinan belum terdokumentasi secara lengkap.

3

TNGHS merupakan salah satu Taman Nasional yang memiliki hutan pegunungan alami di Jawa yang sangat menarik. Kekayaan flora kawasan Gunung Halimun pernah dilakukan beberapa tahun lalu, diantaranya oleh Wiriadinata (1992). Ditinjau dari segi botani terutama taksonomi, kekayaan Flora Gn Salak sangat menarik karena merupakan salah satu ekotipe jenis-jenis tumbuhan yang pertama kali dipertelakan oleh Blume sekitar tahun 1825. Flora pegunungan yang masih tersisa umumnya berada pada ketinggian di atas sekitar 1500 -2000 m di atas permukaan laut, sedang bagian bawah umumnya telah berubah terbuka dan menjadi perladangan. Pengambilan kayu merupakan salah satu faktor yang cukup serius. Wilayah TNGHS terbagi ke dalam 26 kecamatan dan terdiri dari 106 desa. Jumlah penduduk di dalam dan sekitar kawasan lebih dari 250.000 jiwa. Pada umumnya masyarakat yang ada adalah

masyarakat Sunda yang terbagi menjadi masyarakat kasepuhan dan bukan kasepuhan.Masyarakat kasepuhan secara historis penyebarannya berada di kampung Urug, Citorek, Bayah, Ciptamulya, Cicarucub, Cisungsang, Sirnaresmi, Ciptagelar dan Cisitu. Masyarakat kasepuhan ini memiliki struktur kehidupan yang berbeda dengan masyarakat biasa. Bahasa yang umum digunakan adalah bahasa Sunda. Sedangkan agama pada umumnya adalah beragama Islam kecuali di beberapa wilayah kasepuhan masih menganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Kehidupan sehari-hari masyarakat di dalam dan sekitar TNGHS pada umumnya adalah di bidang pertanian seperti sawah, ladang, kebun, kebun talun dan talun. Beberapa ada juga yang berdagang baik di dalam masyarakatnya maupun keluar kampung dan desanya, bahkan ada yang keluar pulau Jawa. Pada masyarakat kasepuhan, pertanian dilakukan atas arahan pimpinannya baik tatacara tanam, jenis padi, maupun ritual ketika sebelum, saat menanam, hingga panen. Pesta panen dalam masyarakat kasepuhan terkenal dengan istilah Seren Taun yang sering dihadiri turis baik lokal maupun mancanegara karena keunikannya. Dalam hubungannya dengan hutan, masyarakat kasepuhan memiliki sistim yang bila dikaji memiliki kearifan tersendiri. Mereka memiliki konsep turun temurun untuk mengelompokkan hutan sesuai fungsinya yaitu leuweung titipan (hutan titipan), leuweung tutupan (hutan tutupan), leuweung sampalan (hutan bukaan). Interaksi mereka terhadap hutan sangat kuat. Mereka mengenal hampir 400 jenis tumbuhan dan satwa yang dipergunakan sehari-hari baik untuk bangunan, kayu bakar, makanan, obat-obatan maupun untuk keperluan ritual. Di salah satu bagian dari TNGHS, yakni sekitar Gunung Salak, telah hidup selama ratusan tahun masyarakat lokal. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya temuan arkeologis di sekitar Gunung Salak, seperti di kampung Cibalay, Bogor, terdapat situs arkeologis berupa punden berundak peninggalan masa lalu. Diantara jejak-jejak kehidupan masa lalu yang masih dapat kita saksikan adalah yang terdapat di desa Cibalai, Bogor, dan di desa Girijaya. Di desa Girijaya ini terdapat tiga buah batu megalitikum yang

4

sehingga Gunung ini memiliki makna tersendiri bagi masyarakat.100 m. yaitu jalur/rute Cimalati. dan 1 petak di sekitar Pos Kancil. 2 petak disekitar pondok Bajuri. Rute Cimalati dilakukan untuk mengetahui batas pegunungan rendah dan pegunungan atas. tokoh penyebar Islam dan juga pejuang dari Solo pada abad ke 19 yang menetap dan tinggal di desa ini. tim Pusat Penelitian Biologi melakukan koleksi dan inventarisasi serta studi ekologi pada jalur Cangkuang yang dibagi menjadi 4 sub-jalur. Tim short-term expert dari JICA melakukan penjelajahan dalam waktu singkat. Pada daerah yang sama juga telah dilakukan inventarisasi dan eksplorasi tumbuhan. Hasil interaksi tersebut membangun konstruksi pemikiran masyarakat tentang Gunung Salak. Lokasi Jelajah Daerah-daerah yang dijelajah meliputi 3 jalur. (2) ke arah Kawah Ratu. (3) daerah sekitar Pondok Bajuri.1. Sebanyak 6 petak dibuat di sepanjang sub-jalur ke arah puncak Salak-1. Bagi para ilmuwanpun. jenis dominant. dan (4) daerah sekitar Pos Kancil (Gambar I. Pemilihan tempat pembuatan petak dengan pertimbangan perbedaan ketinggian. sehingga pengungkapan vegetasi dilakukan secara fisiognomi pada setiap perubahan ketinggian 50 . 3 petak di sepanjang subjalur menuju Kawah Ratu. Gunung Salak adalah salah satu magnet yang ada di Jawa. Masyarakat yang tinggal di sekitar gunung Salak masih memiliki kearifan tradisional dalam interaksinya dengan lingkungan. Dalam catatan sejarah. Hornstedt mengunjungi Gunung Salak pada tahun 1783. Setelah itu disusul oleh Reinwardt yang mendaki dan melakukan ekplorasi botani di gunung Salak pada tahun 1817 (Steenis 2006). tipe hutan. 5 . fisiognomi dan kondisi habitat. yaitu (1) ke arah puncak Salak-1. yaitu dengan mencatat ketinggian tempat (m dpl. Tradisi tersebut didapat oleh masyarakat secara turun temurun. peta diperoleh dari image landsat 2004 dan IKONOS tahun 2004). jenis pohon menonjol disetiap titik pengamatan. Penjelajahan jalur Cimalati dan Pasir Reungit dilakukan oleh short-term expert dari JICA.). Dilain pihak.1). Tempat ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Gusti. Pasir Reungit dan Cangkuang (Gambar I. ilmuwan yang tercatat pernah melakukan penelitian diantaranya adalah seorang botanis berkebangsaan Swedia Claes Frederic Hornstedt (1758-1809). murid dari Thunberg.dianggap oleh masyarakat sebagai petilasan dari Eyang Santri. hal ini bukan karena posisinya sebagai Taman Nasional melainkan juga karena memiliki keterkaitan yang erat dengan budaya dan tradisi setempat. sedangkan jalur Cangkuang dilakukan bersama team gabungan short-term expert dari JICA dan tim dari Pusat Penelitian Biologi LIPI. Di setiap sub-jalur dibuat petak-petak pencuplikan data berukuran 30 x 30 m2.

penampilan wayang 6 . yakni Desa Cidahu. Kedua makam ini setiap harinya ramai dikunjungi oleh peziarah. Kecamatan Cidahu. Peta jalur penelitian beserta petak-petak pencuplikan data vegetasi (1 s/d 12). Kecamatan Cidahu. Di desa ini juga terdapat dua makam yang dianggap keramat oleh masyarakat. atau bulan Robiul awwal atau maulid dan bulan Muharram dalam sistem penanggalan Islam. Walaupun bernuansa tradisi. dan Desa Girijaya.1. Tradisi dan kebudayaan klasik Sunda sering digelar di desa ini. yaitu makam dari Eyang Abu Shomad (Eyang Abu) dan makam Eyang Muhammad Santri (Eyang Santri). Kedua tokoh ini oleh masyarakat dianggap sebagai penyebar agama Islam. Adapun untuk penelitian etnobotani dilaksanakan di dua desa. Di desa ini terdapat Padepokan Girijaya pimpinan Abah Ru’yat. namun masyarakat yang tinggal di desa ini masih menjalankan ajaran normatif agama (Islam) seperti shalat. Pada bulan Maulid masyarakat ziarah bersama ke makan Eyang Abu sekaligus juga diisi dengan tradisi-tradisi Sunda.Rute Pasir Reungit 9 8 7 1 0 1 1 6 4 5 2 3 1 Rute Cangkuang 1 2 Rute Cimelati Gambar I. Kedua desa ini dipilih dengan pertimbangan merupakan desa yang paling dekat dengan Gunung Salak dan memiliki tipikal yang berbeda. Kabupaten Sukabumi. lebih bernuansa agama. terdapat pesantren al-Qodiriyah yang dipimpinan KH Romli dan berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat dan membentuk pemahaman yang ada di masyarakat. puasa. Desa Cidahu. seperti hari kamis dan jum’at. Padepokan ini juga memiliki pengaruh di masyarakat. dan zakat. Sedangkan desa Girijaya lebih pada pencarian dan penguatan akar tradisi Sunda. Kabupaten Sukabumi. Kunjungan para peziarah makin ramai terutama pada hari-hari tertentu.

masyarakat menggelar upacara tradisi Seren taun. Meskipun ada jenis-jenis tumbuhan yang tidak lengkap memiliki bunga atau buah. Jumlah dan interval antar petak ditentukan berdasarkan kondisi medan dan ketersediaan fasilitas pendukung. KEGIATAN di LAPANGAN Penjelajahan di Gunung Salak ini melibatkan para ahli dalam bidang taksonomi dan ekologi tumbuhan serta pakar etnobotani. spesimen bukti. dan ritual ngramat yakni mendoakan hasil bumi. Analisis vegetasi Kegiatan penelitian ini meliputi pencuplikan data vegetasi dengan menggunakan metode petak. dimasukkan ke dalam kantung plastik besar dan diawetkan dalam alkohol 70%. Keterpaduan penelitian dengan melibatkan berbagai bidang keilmuan ini diharapkan mampu untuk mengungkapkan keanekaragaman hayati di daerah penelitian. 7 . jaipong. ataupun fisiognomi yang berbeda. habitat. yang selanjutnya dikirim ke Herbarium Bogoriense untuk diproses dan kemudian diidentifikasi. yang sekiranya menarik dan unik juga akan dikumpulkan sebagai koleksi atau spesimen acuan. Pengumpulan data pohon meliputi diameter. Semua contoh tumbuhan yang terkumpul disimpan dalam lipatan-lipatan kertas koran. tinggi. Jenis-jenis tumbuhan yang tidak dapat dikoleksi untuk sementara akan dicatat dalam buku lapangan guna melengkapi data kekayaan jenis. yakni upacara selamatan dan ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan. dan pengambilan contoh tanah untuk dianalisis kandungannya. Selain itu data sekunder diantaranya data lokasi. Sejumlah petak dengan ukuran 30m x 30m dibuat pada lokasi-lokasi dengan gradasi perubahan lingkungan seperti kondisi habitat dan ketinggian. Setiap contoh tumbuhan yang terkumpul akan dilengkapi dengan label gantung untuk mencatat nama dan nomor kolektor serta tanggal dan lokasi pengambilan. data iklim serta data lingkungan lainnya juga dikumpulkan. kegunaan dan data lingkungan lainnya dicatat di dalam buku koleksi.Golek. pH dan kelembaban tanah. Sedangkan di bulan Muharram. Informasi lain seperti nama lokal. Adapun cara kerja untuk masing-masing kegiatan penelitian adalah sebagai berikut: Inventarisasi dan eksplorasi tumbuhan Kegiatan ini dilakukan untuk melakukan koleksi secara umum seluruh jenis tumbuhan yang sedang berbunga dan berbuah untuk kemudian diambil contohnya dan dijadikan spesimen herbarium. habitus. tanpa harus meninggalkan kaidah keilmuan di bidangnya masing-masing. kegunaan. serta pengumpulan data lingkungan diantaranya posisi geografi.

Setelah berada dalam petak. sumber daya hayati berguna tersebut diambil contohnya dan dibuat koleksinya guna mengetahui nama ilmiahnya. Proses pengumpulan data lapangan dalam penelitian ini menggunakan tiga langkah. Muller-Dombois & Ellenberg. Petak ini berada pada ketinggian 1700 dpl dan di HM 18 (jarak 1800 meter dari persimpangan 8 . informan ditanyakan mengenai kegunaan berbagai tumbuhan yang ada di dalam petak secara open-ended. Dengan parameter tersebut dilakukan analisis ordinansi dan analisis stratifikasi hutan untuk mengetahui lapisan kanopi hutan. kemerataan jenis dan dominasi jenis. kegunaannya. Responden di setiap lokasi diambil 30% dari jumlah Kepala Keluarga. Penelitian etnobotani Penelitian etnobotani dengan menerapkan metode wawancara semi struktural dan "open ended" terhadap masyarakat setempat. dominansi. Penelitian etnoekologi dilakukan untuk mengetahui hubungan antara masyarakat dengan lingkungannya. Pengungkapan pemanfaatan keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan gunung Salak terlebih dulu menentukan informan kunci dan informan biasa. 1974). Penentuan jumlah responden dengan menggunakan metode "stratified random sampling". maka dilakukan wawancara secara mendalam untuk mengetahui makna kultural dari tumbuhan tersebut. kekayaan jenis. Penelitian ini dilakukan di tiga lokasi. Setelah kegunaan dari tumbuhan diketahui. Selain itu dilakukan pula wawancara secara mendalam terhadap ahli lokal. Langkah ketiga adalah mencatat nama lokal setiap jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan membuat voucer specimen untuk diidentifikasi lebih lanjut di Herbarium Bogoriense supaya dapat diketahui nama ilmiah dari tumbuhan yang dimanfaatkan. kerapatan. Langkah kedua adalah dengan wawancara langsung dengan masyarakat di desa mengenai kegunaan berbagai tumbuhan. Setiap jenis sumber daya hayati yang berguna dicatat nama lokalnya dan diamati habitat. Langkah pertama adalah dengan mengajak informan ke petak ekologi yang dibuat. 1967. bagian yang digunakan. nilai kegunaan dan nilai kepentingan budayanya. Dalam penelitian ini diamati pengetahuan lokal tentang pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan oleh masyarakat (corpus) serta pengaruh yang ditimbulkannya (praxis). mengikuti sebagian aktifitas sehari-hari penduduk dan pengamatan langsung di lapangan. pertama di dalam petak sementara yang dibuat oleh tim ekologi. cara penggunaan. Untuk kepentingan identifikasi. Informan kunci adalah orang yang memiliki pengetahuan luas mengenai nama lokal tumbuhan dan manfaat atau kegunaan dari tumbuhan tersebut. nilai penting.Data vegetasi yang terkumpul kemudian dianalisis menurut cara yang umum dilakukan dalam kajian ekologi hutan (Cox. Greigh-Smith. indeks keanekaragaman. Wawancara secara open-ended dan secara mendalam dengan informan merupakan teknik yang mendasar guna mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang kegunaan dari suatu jenis tumbuhan dan makna kulturalnya dalam kehidupan mereka. sehingga diperoleh parameter-parameter frekuensi. 1964.

Oleh karena orang yang memiliki kompetensi di masyarakat yang tinggal di kawasan gunung Salak adalah orang-orang tua dan di-tua-kan oleh masyarakat. petuah dari leluhur. wawancara juga dilakukan dengan para sesepuh atau orang yang di-tua-kan yang ada di wilayah Bogor. Selain dari informan kunci yang ada di Desa Cidahu dan Desa Girijaya. seperti Kyai. Kedua dilakukan di desa Cidahu. Dalam penelitian perspektif masyarakat mengenai Gunung Salak. proses pengumpulan data lapangan dengan tiga langkah. serta Kuncen yang memiliki “kewajiban” menjaga suatu kawasan. maupun ajaran-ajaran normatif dari agama. Dukun.atau sama dengan 4300 meter dari pos pertama pendakian dari arah Cidahu). satu ritual yang menggabungkan norma agama dan tradisi setempat. kabupaten Sukabumi. Selain itu peneliti juga mewawancarai anggota masyarakat kebanyakan baik yang tinggal di dua desa. Informan tersebut dapat membantu peneliti untuk memilih informan lain yang juga memiliki pengetahuan luas. 9 . Petak yang dibuat berukuran 30 X 30 meter. Langkah kedua adalah dengan melakukan wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan para informan. dan tempat ketiga di desa Girijaya. Guru. maka peneliti memilih mereka sebagai informan kunci. Sedangkan penelitian yang dilakukan di desa. terlebih dulu menentukan informan kunci dan informan biasa. yaitu desa Cidahu kecamatan Cidahu dan desa Girijaya di kecamatan Cidahu. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan memiliki kesamaan persepsi sekaligus juga untuk konfirmasi data. Pada tanggal 20 Maret masyarakat di desa Giri Jaya menggelar ritual mauludan. Informan kunci adalah orang yang memiliki pengetahuan luas tentang tradisi masyarakat. nilai kultural dan makna kehadiran gunung Salak dalam kehidupan mereka. Langkah ketiga adalah dengan melakukan pengamatan terlibat (partisipatory observasion) dalam ritual keagamaan dan ritual tradisi yang dilakukan oleh mereka. Wawancara mendalam (indepth interview) dengan informan kunci merupakan teknik yang mendasar guna mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang perspektif masyarakat. Langkah pertama adalah menentukan informan kunci dan informan biasa.

BAB II MENYELAMI PEMIKIRAN MASYARAKAT Setiap masyarakat. maka hampir dapat dipastikan bahwa orang tersebut memiliki tingkat keberanian dan juga kesaktian yang tinggi di atas rata-rata orang kebanyakan. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman interaksi mereka terhadap kawasan gunung atau hutan. karena bila pohon yang terdapat dalam hutan habis 10 . sehingga ketika seseorang telah berhasil melewati hutan dengan selamat. Bagi mereka. adalah bagian lamping atau tebing. sempat diyakini sebagai daerah turunnya para Batara yang hidup di Kahyangan ketika turun ke Bumi. dengan pertimbangan keselamatan kehidupan itulah maka para leluhur menganggap semua hutan pada dasarnya adalah leuweung tutupan. terutama daerah Jawa dan Sunda memiliki cerita tersendiri. Ada anggapan di masyarakat bahwa hutan adalah tempat bersemayamnya roh-roh jahat. seperti ranting yang jatuh untuk keperluan kayu bakar atau buah yang jatuh untuk konsumsi pribadi bukan untuk mengambil keuntungan ekonomi dari buah yang terdapat di hutan. Menurut pak Asori salah satu sesepuh. namun karena kebutuhan manusia kemudian terdapat beberapa bagian dari hutan yang boleh dimanfaatkan. Pelarangan ini sifatnya mendasar. Larangan penebangan hutan yang dilakukan oleh masyarakat Girijaya pada masa lalu terkait dengan keselamatan kehidupan manusia. Gunung misalnya. Sebagai “landasan” para Batara di Bumi. menggembleng ilmu. dan lain-lain. persepsi juga terbentuk karena adanya “kepentingan”. tempat persembunyian para penyamun. hutan juga. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa gunung atau pun hutan. Pelarangan penebangan hutan merupakan wasiat dari para leluhur. Bila kita merunut sejarah dan juga melacak cerita-cerita rakyat. gunung atau hutan adalah tempat yang strategis. Bagian dari hutan yang sangat dilarang keras untuk ditebang. bagi masyarakat Indonesia. memiliki cara pandang tersendiri tentang keberadaan Gunung atau Hutan. maka Gunung kemudian disakralkan oleh masyarakat. Di samping itu juga. tanpa kecuali. karena memiliki atmosfir yang teduh. menjadikan pilihan bagi orang-orang yang hendak kontemplasi. Hutan dan Masyarakat Girijaya Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat di desa Girijaya diketahui bahwa masyarakat menyebut hutan yang terdapat di Gunung Salak sebagai leuweung tutupan (hutan terlarang). Sedangkan hutan. pada masa lalu lebih dikonotasikan sebagai tempat penempaan kesaktian dan keberanian seseorang. baik melalui penebangan maupun perburuan. Makin beragam kepentingan maka makin beragam juga persepsinya. atau bahkan individu. hutan dan apa yang terdapat di dalamnya adalah terlarang untuk diekploitasi. menurut masyarakat. maupun karena pelarian dari kehidupan masyarakat yang sudah tidak nyaman menurut anggapannya. Selain itu. baik untuk mendekatkan diri pada Pencipta.

Terdapatnya hutan di sekitar desanya merupakan anugerah dari Tuhan. Gunung dalam Persepsi Masyarakat Gunung Salak dengan hutan yang ada di dalamnya memiliki makna tersendiri bagi masyarakat. seperti shalat. Di gunung salak tidak saja tersimpan berbagai mitos atau legenda tentang asa-usul suatu daerah. dan lain-lain. melainkan juga tersimpan berbagai “tanda” bagi kehidupan. dan itupun kalau tidak sampai merusak hutan. salah satu peran manusia adalah sebagai khalifah. maka tidak saja dia melanggar amanah melainkan juga telah mengabaikan perannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. menurut AA Lili. Hal ini dikarenakan. AA Lili. menegaskan bahwa menjaga amanah berupa hutan sama nilainya dengan menjaga dan mengamalkan ajaran agama. Komitmen dan kesadaran sebagai khalifah yang bertugas untuk menjaga hutan ditunjukkan oleh masyarakat Cidahu ketika Balai Taman Nasional berencana membangun resort di kawasan Bumi Perkemahan Cangkuang. dimana pembangunan saat itu terhenti karena sesepuh dan masyarakat mencegah pembangunan yang menurut mereka merusak lahan hutan. apalagi yang ada di lamping-nya maka tidak saja persediaan air akan habis melainkan juga dapat menimbulkan bencana longsor. Mengambil manfaat dari hutan baru boleh dilakukan kalau sudah ada izin. Terdapat satu pendapat yang mengatakan kata Salak berasal dari 11 . bukanlah seorang muslim yang baik apabila dia menjalankan kewajiban agama namun masih melakukan kerusakan di hutan. bahkan rumput sekalipun.ditebang. hal ini dikarenakan hutan sudah ada yang mengelolanya. Sehingga pada dasarnya menjaga pelestarian hutan sama pentingnya dengan menjalankan kewajiban yang lain. karena itu dengan adanya hutan maka keberlangsungan kehidupan masyarakat akan terus terjamin. atau wakil dari Tuhan yang ada di bumi. kata “Salak” yang menjadi nama dari Gunung Salak memiliki makna sendiri. hutan yang ada di Gunung Salak dianggap sebagai “amanah” atau kepercayaan dari Tuhan untuk diolah dan dijaga kelestariannya. Bagi masyarakat. Setelah dijelaskan maksud pembangunan resort dan asal dari kayu yang digunakan tidak dari Taman Nasional maka pembangunan dilanjutkan dan masyarakat sangat mendukung keberadaan Taman Nasional. Terdapat banyak teks dalam kitab suci ummat Islam yang berbicara tentang lingkungan dan tanggung jawab manusia untuk mengelolanya dengan bijak. sapaan akrab KH Romli. seperti mengambil rumput untuk ternak atau ranting-ranting pohon yang jatuh. Bagi KH Romli. puasa. Hutan dan Masyarakat Cidahu Bagi masyarakat desa Cidahu. Selain itu asal material bangunan berupa kayu juga diambil dari hutan. Dengan merusak hutan. mengambil apapun dari hutan hukum dasarnya adalah terlarang. Menurutnya.

Upacara tersebut sarat dengan muatan pesan untuk menjaga hubungan baik manusia dan alam. mereka menganggap bahwa tidak hanya asal-usul kehidupan melainkan juga masyarakat Sunda ada di gunung Salak. Pajajaran Seren Papan.1.kata “siloka” yang berarti simbol dari sesuatu yang perlu diurai dan ditemukan rahasianya. Pendapat ketiga percaya bahwa di puncak Salak terdapat buah salak raksasa yang terbuat dari emas. muludan. Puncak Gajah ditafsirkan sebagai tempat bersemayamnya arwah raja-raja Sunda Kuno yang telah ngahyang. Gambar II. Di Girijaya. Sedangkan puncak Keramat 12 .dan rabu wekasan. Ketiga perbedaan penafsiran tentang salak ini memiliki implikasi persepsi yang berbeda. untuk itu mereka terus mencari dan berusaha menemukannya di Gunung Salak. dan Dadap Malang Sisi Cimandiri. Diantaranya adalah masih digelarnya upacara tradisi seren taun. Menurut Munandar (2007a) yang melakukan penelitian pada masyarakat ada di Sindang Barang. Di gunung salak terdapat dua puncak yang bergerigi yang dinamakan Puncak Gajah dan Puncak Karamat. Pembacaan Doa disertai bakar Kemenyan yang dilakukan pada acara Mauludan. Kekeramatan gunung Salak termaktub dalam pantun Bogor yang berjudul Paku Jajar Beukah Kembang. walaupun sudah tersentuh dengan modernisasi namun unsur-unsur tradisionalnya masih kental terlihat. buah ini akan muncul dan memperlihatkan dirinya bagi orang-orang yang telah suci. Pendapat yang lain mengatakan bahwa kata Salak berasal dari kata “Salaka” yang berarti asal-usul dari suatu masyarakat. kedua puncak yang terdapat di gunung Salak memiliki makna yang berbeda. Sedangkan bagi masyarakat yang percaya pada pendapat yang kedua. Bagi masyarakat yang berpegang pada tradisi dan masih terpengaruh oleh ajaran Hindu. mereka akan yakin bahwa rahasia kehidupan yang disimpan Tuhan terdapat di Gunung Salak. Gugung salak dijuluki juga Giri Dwi Munda Mandala. Bagi orang yang percaya pada pendapat yang pertama. Sedangkan pendapat ketiga mengatakan kata Salak memang berasal dari kata “Salak” dari buah salak.

ketiga kata ini yang kalau dibaca menjadi satu kata ilah yang berarti Allah atau Tuhan. A. terdapat dua “model” pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat. Sedangkan bagi masyarakat Islam. Agama dan Pelestarian Lingkungan Persepsi masyarakat tentang hutan dan Gunung Salak memunculkan tradisi atau prilaku yang berbeda dengan daerah lainnya. Bagi mereka melestarikan hutan merupakan satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh manusia. iklim dan cuaca yang berbeda. lam. menjadi latar belakang yang khas bagi bentangan alam di sekitarnya (Wallace 2000). Sedangkan Gunung Pangrango adalah simbol dari lam dan Gunung Gede simbol dari ha. Puncak Salak juga dianggap sebagai temapt berkumpulnya ghaib-ghaib Suci. Walaupun terdapat perbedaan. Ketiga gunung ini sebagai perlambang dari huruf alif. di gunung Salak terdapat 12 tempat yang dihuni oleh Sang Hyang. Diantara nilai penting yang lain dari gunung Salak adalah adanya anggapan bahwa gunung Salak tersebut sebagai Paku Jagat atau Paku Tetenger bagi Pakuan Pajajaran (Munandar 2007). seperti apa yang disampaikan oleh seorang ilmuwan. dan Cianjur. Bahkan menurut abah Ru’yat (pemimpin Padepokan Girijaya. Model kedua adalah dengan melalui 13 . yakni menjaga kelestarian hutan sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia. Wallace. seperti wali songo. yaitu Gunung Salak. di puncak keramat terdapat makam dari tokoh penyebar agama Islam yang berasal dari Cirebon. Pelabuhan Ratu. masyarakat juga meyakini bahwa terdapat tiga pilar utama penopang kehidupan di daerah Sunda. kawasan ini memang sejak dulu menyimpan misteri dan memiliki eksotisme sendiri. yang giat menghidupkan tradisi Sunda). Pemandangan alam di sini sangat indah dan tanahnya subur. Daerah ini cukup tinggi sehingga terasa nyaman bagi orang yang tinggal di dataran rendah. Munculnya anggapan yang demikian dari masyarakat menunjukkan adanya akulturasi budaya dan juga sinkretisme dalam sistem religi mereka. Oleh masyarakat. Dari hasil penelitian ini. Gunung Gede. Pertama adalah melakukannya dengan melalui pendekatan agama. Terlepas dari anggapan masyarakat mengenai gunung Salak. namun memiliki tujuan yang sama. keragaman hayati yang dimiliki. Gunung Salak adalah simbol dari alif (huruf pertama dalam abjad Arab) yang berarti hubungan vertikal. yaitu KH Hasan Basri yang bertugas menyebarkan agama Islam ke daerah Sunda seperti di Bogor. serta perbedaan lainnya.ditafsirkan sebagai tempat persemayaman para Hyang. “Buitenzorg adalah tempat tinggal yang sangat menyenangkan. ia mengatakan. serta Raja-raja kerajaan Sunda. Hal ini terjadi karena pola interaksi yang berbeda. ha. dewata Sunda Kuno. Selain itu. ketiga gunung tersebut ditafsirkan sebagai simbol dari ajaran kebaikan. dan Gunung Pangrango. Anggapan ini juga menunjukkan proses islamisasi dan adanya “negosiasi” tradisi di masyarakat. Ketiga pilar itu berupa gunung. Gunung Salak. Sukabumi.R. sebuah gunung berapi yang puncaknya terpotong dan bergerigi.

Dalam melestarikan keberadaan keanekaragaman hayati yang terdapat di gunung Salak. Di samping itu. Namun walaupun memiliki kesamaan. mereka menggiatkan tradisi lama yang memang pada dasarnya adalah suatu ajaran “normatif” pada manusia untuk berlaku arif terhadap alam. karena pada hakekatnya manusia dan lingkungan sama-sama berposisi sebagai karya cipta Ilahi yang tergabung dalam kesatuan ekosistem. Tanpa itu alam hanya akan di rusaknya. banyak memiliki aturan dan anjuran untuk menjaga kelestarian lingkungan. maka orang tersebut tidak akan berani merusak dan mengambil. Islam. Agama.tradisi. lalu kesadaran menjalankan agama dengan benar. telah meresap menjadi tuntunan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Untuk dapat mengolah alam secara bijak. ia bersama dengan masyarakat desa Cidahu berkali-kali melakukan sweeping terhadap orang yang mengambil pohon dari hutan. khilafh. al-Qur’an. terdapat beberapa teks yang menunjukkan tentang hubungan manusia dan alam. Dalam pandangannya. menebang pohon atau membunuh satu hewan pada hakekatnya membunuh banyak makhluk hidup. Keempat konsep ini menjadi landasan normatif peran agama dalam pelestarian lingkungan. manusia terlebih dulu harus memiliki rasa keimanan yang kuat. Dalam Islam. di samping karena dianggap memiliki derajat keilmuan agama yang lebih tinggi dari masyarakat kebanyakan juga karena beliau mengasuh santri yang menetap sebanyak kurang lebih 270 orang. menurut (Abdillah 2005) manusia memiliki derajat kesamaan dengan kehidupan makhluk yang lainnya. Menurutnya. Kesadaran keagamaan yang dimilikinya menjadikan pesantren yang diasuhnya cukup berperan dalam menjaga hutan tetap lestari. manusia diberi wewenang oleh Allah untuk mendayagunakan sumberdaya alam dalam batas-batas yang kewajaran ekologis (Abdillah 2005). Peran agama di desa ini dipengaruhi oleh kharisma yang dimiliki oleh sosok pemimpin pesantren sebagai informal leader. dan kita wajib mengolah dengan bijaksana dan melindunginya. Di desa ini terdapat satu pesantren dengan Kyai yang cukup berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Ketokoh-an yang dimilikinya. Abdillah (2005) membahasnya melalui pembangunan teologi lingkungan (eco-theology). sebagai sebuah agama. Bagi orang yang memiliki kesadaran keimanan dan ketaatan terhadap aturan agama. apa yang bukan miliknya. Hutan dan gunung itu jelas bukan milik kita dan sudah ada yang mengaturnya (pemerintah) maka rakyat tidak berhak mengambil apa yang ada dalam hutan. dalam hal ini Islam. ada juga santri yang tidak menetap. Dalam membahas Islam dan pelestarian Lingkungan. karena agama ini adalah agama yang dipeluk oleh semua penduduk desa Cidahu. Dalam. hal ini dikarenakan banyak dari makhluk hidup yang hidupnya sangat tergantung pada pohon yang ditebang atau hewan yang dibunuh. alam adalah ciptaan Allah. sistim hukum al-Istishlah atau kemaslahatn umum. Sedangkan Mangunjaya (2005) melihat persoalan Islam dan lingkungan dari aspek Tauhid. ada konsep hima’ yakni 14 . dan konsep halal-haram. beliau melakukannya dengan pendekatan agama.

2. salah satunya adalah dengan ritual tradisi. Ketiga. Setiap corak tradisi memiliki upacara tradisi sebagai bentuk penghargaan dan upaya revitalisasi hubungan manusia dan alam. upacara muludan yang dilakukan setiap tanggal 12 bulan rabiul awwal dalam penanggalan Islam. Selain itu juga ada ngancak (sesajen) yang diletakkan di empat manahab atau penjuru angin. Pertama adalah upacara seren taun yang dilakukan setiap tangal 10 muharrom setiap tahunnya.upaya melindungi spesies hidupan liar dengan menyediakan lahan untuk habitat asli mereka secara utuh. Peletakan sesajen dan sedekah bumi merupakan bentuk penghargaan masyarakat terhadap adanya kehidupan selain di jagat manusia ini. Setiap upacara adat yang dilakukan selalu ada sedekah bumi yang dimaksudkan supaya manusia lebih menghargai bumi yang telah memberkan kehidupan bagi manusia. 2007). Ritual ini sebagai ungkapan rasa syukur atas pemberian Tuhan kepada manusia berupa hasil bumi. tanah. Setiap tahunnya mereka melakukan tiga upacara adat. Selain hima’ menurut Mangunjaya juga terdapat konsep ihya almawat atau menghidupkan lahan. yaitu masyarakat dengan corak tradisi maritim dan masyarakat dengan corak tradisi agraris. Terdapat berbagai macam bentuk tradisi dalam pelestarian lingkungan. atau kawasan yang tidak produktif menjadi produktif merupakan anjuran syariah (Mangunjaya 2005). Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Padepokan Girijaya yang tinggal di desa Girijaya. Ritual tradisi dan Pelestarian Lingkungan Masyarakat Indonesia. Kedua. Ritual ngramat sebagai bagian dari tradisi muludan yang dilakukan oleh masyarakat desa Girijaya. 15 . adalah upacara rabu wekasan yang dilakukan pada hari rabu terakhir di bulan safar. secara garis besar terbagi dalam dua corak tradisi. Gambar II. Sistem perlindungan kawasan seperti ini tercatat dalam sejarah pernah dilakukan oleh Nabi dan pemimpin setelahnya (Mangunjaya 2005.

Kemudian sedekah bumi. 16 . upacara yang dilakukan oleh masyarakat Girijaya. ruwatan bumi. Sebagai tradisi. sedangkan air selain campuran untuk kebutuhan hidup seperti minum dan mandi juga untuk ditaburkan pada sawah mereka. yaitu pembacaan mantera-mantera dan juga tawasulan pada para leluhur. mengandung muatan pesan simbolik tentang keakraban hubungan manusia dan alam. dengan harapan hasil panen yang telah dan akan diperoleh mendapatkan berkah. Biasanya makanan yang telah di kramat dibawa pulang kembali. hal ini dilakukan sebagai bentuk syukur manusia atas apa yang telah diberikan bumi. Menurut Geertz (1966) dengan melakukan pendekatan kebudayaan dari model bagi. dalam penguburannya disertai mantra-mantra untuk keselamatan dan kesejahteraan. yaitu aneka makanan dikumpulkan dalam satu tempat kemudian di kubur. wali. yaitu masyarakat membawa dongdang/nampan yang berisi hasil bumi ke padepokan untuk dimakan secara bersama-sama. Sebagai bagian dari sistem religi. ritual seperti itu adalah bagian dari pola budaya yang dapat menjadi penuntun prilaku manusia. Kemudian ada ngramat.Terdapat rangkaian upacara dalam setiap pelaksanaan upacara tradisi. Dalam ngramat ini selain sebagian dari hasil bumi juga masyarakat membawa air. menunjukkan bahwa ritual bisa menjadi pedoman dari perilaku budaya suatu masyarakat. Rangkaian yang terdapat pada upacara seren taun yang dilakukan oleh masyarakat Padepokan Girijaya terdiri dari.

BAB III KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN Sebagai negara yang dikenal dengan julukan mega-biodiversitas country. Yang dimaksud flora disini adalah jenis tumbuhan yang dijumpai mulai dari perbatasan wilayah Perum Perhutani dan Kebun Javana Spa serta hutan melalui jalur setapak. flora yang tercatat atau pun yang dibuat herbariumnya adalah flora yang dilewati ketika jelajah dilakukan. Hasil pengamatan dan pengumpulan specimen herbarium di kawasan ini tercatat sekitar 100 jenis (Lampiran 5). Sangat mungkin terjadi bahwa tingkat keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan ini jauh lebih tinggi dari apa yang telah di hasilkan. Castanopsis argentea. Ficus. bagian bawah banyak ditumbuhi oleh Chlomolaena odoratum (kirinyu). Dilokasi ini dapat dilihat daerah hutan yang terganggu dari Javana Spa mulai dari ketinggian 1400 m. 1. yang didominasi oleh jenis pionir Macaranga. Mallotus. dibagian selatan gunung Salak. dan beberapa diantaranya disajikan pada Gambar III. Pohon tersebut dapat dijumpai sepanjang jalan hingga bagian tepi kawah Ratu. Kekayaan flora alami pada tepi hutan nampak lebih banyak dihuni oleh jenis pendatang seperti Agathis dammara dan Calliandra calothyrsus. Pohon yang umum dan banyak tumbuh di sini didominasi oleh Schima wallichii (puspa). Paku ini sebenarnya telah masuk dalam status perlu dilindungi karena bagian bawah batangnya yang merupakan kumpulan akar berwarna hitam banyak diambil untuk media anggrek dan media tanaman hias lainnya serta diperdagangkan ke luar negeri. Tentunya. menyebabkan populasi alami menurun dan mengalami erosi yang sangat mengkawatirkan. Jenis tumbuhan yang menarik untuk dikemukakan pada tepi hutan yang terbuka antara lain adalah Cyathea contaminans (paku tiang) yang banyak dijumpai dan juga dipelihara di Kebun Javana Spa. Vegetasi pada tepian hutan nampak terbuka. maka hampir dapat dipastikan bahwa setiap wilayah atau kawasan di Indonesia memiliki keanekaragaman yang antar satu dengan lainnya berbeda. Ini terjadi karena tidak semua bagian dari kawasan ini bisa dijelajahi. Salah satu jenis yang masuk dalam RDB yaitu Pinanga javana dijumpai disepanjang sungai. 2. daun tunggal berupa elips. Untuk membuktikan bahwa di Gunung Salak terdapat keanekaragaman yang tinggi maka dilakukan jelajah terhadap kawasan ini dan mencatat flora yang terdapat di dalamnya. rapat. Flora di jalur Cangkuang dan TNGHS Resort Cidahu Hasil pengamatan yang telah dilakukan disuguhkan untuk memberikan gambaran Kekayaan flora resort Cidahu ini. Quercus lineata. beberapa pohon besar 17 . Schima wallichii dijumpai dengan tinggi pohon 5-10 m. mahkota bunga putih dan benangsari kuning tampak sangat menyolok. yang perawakannya berupa pohon besar dengan kanopi berupa kerucut. Symplocos fasciculate dan lain-lain. Weinmannia blumei. 3. Jenis ini termasuk dalam daftar CITES appendiks 2.

Dijumpai juga beberapa pohon Weinmania blumei. Caryota rumphiana yang merupakan pohon palm soliter. buahnya berduri dan biji berwarna coklat. Castanopsis tungurut banyak dijumpai di kanan kiri jalan. daun muda berwarna merah kecoklatan. Pohon Albizia lophanta dengan daun halusnya yang tersusun menyirip terdapat di beberapa tempat terbuka. Pada bagian kiri jalan setapak dijumpai satu pohon Fagraea blumei yang mempunyai kanopi memayung. dengan daun majemuknya dan daun penumpu yang besar. 1. mudah dikenal karena bentuk daunnya yang menyirip. bunga berupa terompet dan buah berupa gelendong ukuran kepalan tangan tumbuh tegak.yang sedang berbuah. Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di kawasan gunung Salak 18 . tumbuh pada tempat terbuka ditepi hutan. Gambar III.

sedang berbuah mirip anggur dan buah tersebut dapat dimakan walaupun rasanya asam dan segar. robusta dan B. A. Glochidion arboretum. Tumbuhan bawah lantai hutan cukup rapat terdiri dari berbagai jenis tumbuhan antara lain Melastoma malabatricum. kemudian dijumpai satu jenis Uncaria sp.. 2. dengan daun berhadapan. Argostemma montana dan Elatostema sp. Castanopsis 19 . Psychotria. Clidemia hirta. Impatiens platypetala. Cinnamomum sintok. Begonia multangula. sedangkan jenis-jenis lainnya adalah Vernonia arborea. Etlingera coccinea. Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di kawasan gunung Salak Flora sekitar camp Bajuri Jenis pohon yang paling banyak dijumpai di daerah ini adalah Schima wallichii (puspa). B. Dijumpai bambu merambat Dinochloa scandens dan 2 jenis rubus yaitu Rubus moluccanus dan Rubus chrysophyllus merupakan tumbuhan berduri dengan mahkota bunga putih dan buah majemuk berwarna merah. mempunyai kait untuk memanjat.Tumbuhan liana yang dapat dijumpai disini antara lain Smilax macrocarpa (canar). Jenis yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai tanaman hias karena mempunyai bunga berupa terompet warna merah sangat mencolok dan mudah dikembangkan melalui stek batang adalah Aeschynanthus radicans. muricata.horsfieldii dan Agalmyla parasitica. sangat umum dan mudah dikenal. Gambar III.

kemudian Medinilla speciosa yang juga sangat menarik dan berpotensi sebagai tanaman hias. Frecynetia javanica yang sedang berbunga dengan daun pelindung berwarna merah keunguan. TNGHS 20 .acuminatissima. Ex Bl.) Benn. Argostemma montanum. Saurauia nodiflora dan Mallotus rhizinoides. Aeschynanthus radicans dan Agalmyla parasitica dengan bunga merah berupa corong yang mencolok. Eurya acuminata dan lantai dasar banyak dijumpai Etlingera coccinea. Lasianthus viridis. Pada bagian bawah dapat dijumpai Melastoma malabatricum. & Mor. Pada daerah ini dapat juga dijumpai Nepenthes gymnamphora yang populasinya sudah menurun. Omalanthus populneus Zoll.3. Ardisia sanginolenta DC Arthrophyllum javanicum Pavetta Montana Reinw. Beberapa jenis tumbuhan di kawasan hutan gunung Salak. Begonia multangula. trachyphyllum. M. Geophila repens. Rhododendron javanicum (Bl.f Tarena sp. Jenis tumbuhan liana yang nampak menonjol diantaranya adalah Uncaria. Datura metel Rhodamnia cinerea Ficus deltoidea Jack Gambar III. Symplocos fasciculata. Ginotroches axilaris. Dysoxylum densiflorum. Plectocomia elongata (bubuai). Ardisia crispa Lasianthus laevigatus Bl. Leea indica Burm.

Aralia dasyphylla. Dissochaeta. Schima wallichii. dan beberapa jenis yang dijumpai 21 . Dan pada ketinggian 1. dengan kulit batang berwarna gelap karena pengaruh uap belerang. Medinilla speciosa dan beberapa tumbuhan paku.360 m.200 m banyak dijumpai jenis-jenis pioneer seperti Macropanax dispermus. Strobilanthes. Jenis dominan di daerah ini yaitu Schima wallichii (puspa) yang berupa pohon tegak dengan tinggi sekitar 25 m. Hornstedtia pininga dan Melastoma sp. Pada bagian lantai hutan dijumpai Schefflera spp.Flora di jalur Pasir Reungit dan sekitar kawah Ratu Pada ketinggian 1. Castanopsis javanica. Pada ketinggian 1. Hedychium roxburghii. berdiameter sekitar 15 cm. Mallotus paniculatus dan Ficus padana dengan ketinggian pohon sekitar 10m.250m. paku tiang Cyathea contaminans dan Musa acuminata (pisang). Ficus deltoidea. Smilax ceylanica. buah mencapai panjang 50 cm. mempunyai daun berupa pedang memita. Gambar III. 4. diameter batang diatas 50 cm. dijumpai jenis-jenis primer diantaranya Altingia excelsa.. Vegetasi disekitar kawah ratu. Tumbuhan lain yang melimpah adalah Pandanus nitidus. Jenis liana yang banyak adalah Polygonum sp. Beberapa jenis diantaranya disajikan pada Gambar III. 4. yaitu sekitar fumarol tercium bau belerang yang kuat dan tidak ditemukan adanya tumbuhan yang tumbuh.

dan pada ketinggian 1400 m banyak tumbuhan epifit. Jenis pohon dominan Schima wallichii dan Lithocarpus beralih ke Podocarpus pada ketinggian 1800 m. 22 . Pada ketinggian 1700 m. Castanopsis javanica. Plantago major dan pada bagian lereng yang masih berhutan nampak Cyathea contaminans. Helipad dan beberapa jenis rumput dan paku-pakuan di sekitarnya Flora di jalur Cimalati Pada jalur Cimalati. dijumpai juga Centela asiatica. 5. Gambar III.400 m dpl banyak dijumpai pohon jenis Schima wallichii. genus Vaccinium dan Rhododendron mulai terlihat sebagai vegetasi lapisan bawah. pada bagian tepi dijumpai banyak tumbuh Begonia multangula yang sangat melimpah. Lithocarpus sundaicus.Dibagian lebih bawah yaitu disekitar helipad vegetasi nampak terbuka (Gambar III. Ficus padana dan tumbuhan pendatang dari luar yang merupakan invasive species seperti Piper aduncum dan Calliandra calothyrsus. pada ketinggian antara 1.100 dan 1. Prunus arborea yang tumbuh sebagai jenis dominan atau pohon mencuat. 5). Jenis tumbuhan yang dijumpai sekitar jalur Cimalati disajikan dalam Lampiran 1.

Dalam pembagian fisiognomi pada table diatas. sehingga pembagiannya perlu dibedakan untuk pengelolaan kawasan Taman Nasional. Selanjutnya peta fisiognomi tersebut dapat digunakan untuk mengelola komunitas lokal dengan memadukan pengetahuan di habitat alam pada setiap kategori dan lingkungannya. hutan ini antara lain adalah hutan Agatis. hutan pegunungan atas dan bawah tidak berbeda. padang rumput. Hutan primer di gunung Salak digolongkan pada hutan tropis pegunungan yang dibagi menjadi hutan pegunungan bawah dan penungan atas tergantung pada ketinggiannya. ada daerah yang digunakan untuk aktivitas manusia seperti kebun teh. ladang sederhana Daerah terbuka. Rendah (1-5 m) dan sawah. dapat memberikan gambaran umum tentang kondisi lingkungan alami wilayah tersebut. merupakan hutan dengan pepohonan yang tinggi. tetapi ketinggian tempat menjadi faktor penghambat untuk kehidupan tumbuhan dan hewan liar.1). Hutan sekunder merupakan hutan yang ditumbuhi semak dengan struktur hutan yang komplek. 23 . untuk tujuan penelitian di gunung Salak kali ini ditentukan 6 kategori (Tabel V. dengan kriteria berdasarkan pada ketinggian pohon dan keadaan struktur hutan.1. persawahan atau ladang. perkebunan teh. sehingga dikatagorikan tersendiri. Hutan tanaman Hutan sekunder Lahan garapan Daerah terbuka Struktur Tinggi (20-40 m) dan komplek Tinggi (20-40 m) tetapi sederhana Semak Rendah (5-10 m) tetapi komplek Kebun campuran. Tabel IV. bangunan Hutan Tanaman disekitar Gunung Salak merupakan tegakan dengan struktur sederhana tetapi pepohonannya tinggi. Hutan primer. struktur dan diversitas tumbuhannya komplek. Meskipun pembagian secara fisiognomi. serta dikatagorikan juga daerah yang tidak terdapat vegetasi yaitu daerah fumarol. Kategori fisiognomi dan penutupan lahan Fisiognomi Penutupan lahan Hutan Pegunungan atas Hutan primer Pegunungan bawah Hutan tanaman Perkebunan. Altingia excelsa dan kebun karet. dan dengan memetakannya ke dalam suatu wilayah.BAB IV FISIOGNOMI KAWASAN GUNUNG SALAK DAN DAERAH KORIDOR Fisiognomi dapat diartikan sebagai kenampakan luar dari suatu vegetasi. ketinggian pohon tidak terlalu tinggi tetapi mempunyai jumlah jenis yang banyak. Pembagian kategori disesuaikan dengan kondisi wilayah dan tujuannya.

nampak mendominasi lapisan kanopi atas dengan tinggi lebih dari 20 m (Gambar IV. Adapun peta penutupan lahan dan peta fisiognomi kawasan gunung Salak dapat dilihat pada Gambar IV. Gambar IV. yang terdiri atas jenis-jenis Podocarpus imbricatus dan P.825 m dpl) Hutan pegunungan bawah Hutan pegunungan bawah (Gambar IV. Adapun jenis-jenis yang terdapat pada hutan pegunungan atas terdapat pada Tabel IV. serta peruntukan lain. neriifolius. dengan ketinggian di atas 1. anggrek. Tegakan hutan umumnya berkanopi rapat dengan tinggi 30-40 m. dijumpai suku Podocarpaceae.. Jenis-jenis utama pada tipe vegetasi ini antara lain Schima wallichii (Theaceae). 1.800 m dpl. 12. Pengamatan yang dilakukan pada jalur Cimalati pada ketinggian 1825 m dpl.800 m dpl. Di daerah ini banyak epipit seperti paku-pakuan. Hutan pegunungan atas Hutan pegunungan atas pada umumnya merupakan hutan primer dan hanya ditemukan disekitar puncak gunung Salak.1). dengan beberapa pohon mencuat yang mencapai ketinggian hampir 50 m. 2a. dapat ditentukan adanya beberapa tipe vegetasi secara fisiognomi. Hutan Pegunungan atas Jalur Cimalati (1. 11 dan IV. Berikut ini adalah tipe-tipe vegetasi dan peruntukan lain yang diperoleh dari pengamatan secara fisiognomi. 24 .Berdasarkan hasil penelitian di tiga jalur (Cimalati. 2b. Pasir Reungit dan Cangkuang) serta di daerah kawasan koridor dan tempat lain. Rododendron dan Vaccinium yang hidup di batang pohon. 2) di gunung Salak yang terdapat dalam kawasan taman nasional merupakan hutan primer yang tersebar pada ketinggian di bawah 1.

Hutan yang meluas kearah Barat tersebar di antara gunung Berbakti dan Javana Spa. Altingia excelsa. Akan tetapi pada hutan tanaman Altingia excelsa yang sudah tua tinggi pohon dapat mencapai 40 m.3). yang umumnya berumur sama dengan struktur hutan yang sederhana. Pinus merkusii dijumpai dibagian batas tepi kawasan taman nasional. 2b. 25 . Lithocarpus elegans (Fagaceae). Gambar IV.500 m dpl) Hutan berkategori hutan pegunungan bawah meluas kearah lereng Selatan dan Timur gunung Salak.. tetapi menjadi menyempit tak teratur karena adanya hutan sekunder yang berpusat di kawasan perusahaan listrik serta tidak berlanjut ke arah koridor pada bagian yang semakin kearah Barat. Hutan pegunungan bawah (Jalur Cimalati (1. Engelhardia spicata (Juglandaceae). 2a. Jenis-jenis lainnya secara lengkap disajikan dalam Tabel IV. Polyosma ilicifolia (Saxifagraceae) dan Prunus arborea (Rosaceae). Acer laurinum (Aceraceae). Kanopi hutan nampak sudah rapat ketika pepohonan (Altingia excelsa) mencapai tinggi di atas 5 m. Hutan tanaman Hutan tanaman seperti Agatis sp. seperti yang terlihat di gunung Bunder salah satu jalan masuk ke dalam kawasan taman nasional (Gambar IV. 2. Altingia excelsa (Hamamelidaceae).Castanopsis javanica.

Dalam peta penutupan lahan. Mallotus paniculatus (Euphorbiaceae). sehingga memungkinkan hutan sekunder akan mencapai pemulihan menjadi hutan primer jika gangguan tidak terjadi lagi. serta secara alami yaitu letusan gunung. Dengan demikian proses pemulihan hutan sekunder menjadi hutan primer merupakan suatu hal yang perlu diwujudkan dalam rangka menyelamatkan habitat satwa liar. Symplocos fasciculata (Symplocaceae). Bunder) Hutan sekunder Hutan sekunder umumnya dengan tinggi pohon rata-rata hanya mencapai 5-10 m. tipe hutan ini termasuk dalam kriteria semak. dan terdiri atas jenis-jenis pioner yang dijumpai di jalur Cangkuang maupun Pasir Reungit (Gambar IV. Komponen penyusun tipe hutan ini tidak saja jenis pioner tetapi juga terdapat beberapa jenis primer dalam fase suksesi seperti Castanopsis argentea and Lithocarpus elegans (Fagaceae). Hal ini perlu mendapat perhatian dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan pada masa datang. 3. 4). 5). dan tersebar sekitar bagian utara gunung Salak dan termasuk di dalamnya kawasan koridor. 4. Hutan tanaman (Rasamala (Altingia excelsa) di Gn. Kerusakan hutan dapat terjadi karena dua hal yaitu karena aktivitas manusia seperti pengaruh penggunaan lahan dimasa lalu dan illegal logging. 3. karena saat ini hutan sekundernya mencakup areal yang luas. Jenis-jenis lain yang tercatat dalam tipe vegetasi ini disajikan pada Tabel IV. dan Ficus deltoidea (Moraceae) merupakan komponen utama hutan sekunder. terutama sekitar daerah belerang di gunung Salak. 26 . Beberapa pohon jenis Weinmannia blumei (Theaseae) dengan tinggi 20-30 m nampak tersebar di beberapa tempat. Hal ini menunjukkan adanya proses pemulihan atau suksesi. Jenis-jenis pioneer seperti Macropanax dispermus (Araliaceae).Gambar IV.

karena itu setiap perubahan di daerah tersebut perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh.700 m dpl. begitu juga pada lereng utara gunung Salak pada ketinggian 1. Kondisi semacam ini meluas sampai hutan pegunungan bawah. Hutan sekunder (Jalur Cang Kuang 1300m dpl) Gambar IV. 8). Hutan sekunder (Daerah koridor) Lahan garapan Dalam peta penutupan lahan. 7. ladang.600-1. sawah dan padang rumput digabungkan ke dalam 1 tipe fisiognomi yaitu dengan struktur rendah dan sederhana (Gambar IV. 5.Gambar IV. 27 . perkebunan teh. 4. Kategori fisiognomi ini mencakup daerah yang cukup luas di daerah koridor. 6. hutan campuran.

Lahan garapan Sisi Selatan Koridor (Ladang) Daerah terbuka Kategori fisiogomi ini ditandai dengan tidak adanya tumbuhan atau vegetasi yang dapat tumbuh. 9. 28 . 8. 7.Gambar IV. 10). Kedua lokasi tersebut mencakup areal yang cukup luas. Lahan garapan Daerah koridor (Sawah) Gambar IV. ini termasuk “fumarole” di lereng Barat gunung Salak dan lokasi bangunan pembangkit tenaga listrik di lereng bagian Barat gunung Salak (Gambar IV. Lahan garapan Sisi Utara koridor (Kebun teh) Gambar IV. 6.

Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cimalati O ut of NP NationalPark Area Species Fam ily M yrtaceae Cunoniaceae M oraceae M oraceae Lauraceae Euphorbiaceae Sym plocaceae Sym plocaceae Fagaceae Euphorbiaceae Laulaceae Loganiaceae Rubiaceae Fagaceae Lauraceae M elastom ataceae Euphorbiaceae Proteaceae Celastraceae Piperaceae Fabaceae Cyatheaceae Pandanaceae Araucariaceae J-Fam ily フトモモ科 クノニア科 クワ科 クワ科 クスノキ科 トウダイグサ科 ハイノキ科 ハイノキ科 ブナ科 トウダイグサ科 クスノキ科 マチン科 アカネ科 ブナ科 クスノキ科 ノボタン科 トウダイグサ科 ヤマモガシ科 ニシキギ科 コショ ウ科 マメ科 ヘゴ科 タコノキ科 ナンヨウスギ科 plt plt plt df nf df nf nf nd nf nf nf wp5 wp15 wp17 wp19 wp20 wp21 wp22 wp23 wp24 wp32 wp33 nf wp34 nf wp35 nf wp36 Syzygium sp. Sym plocos cochinchinensis (Lour. Daerah terbuka (Pembangkit tenaga listrik) Tabel IV.Br. 890 1025 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1520 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 1615 1705 1825 Figure: G PS W P Num ber / Altitude [m ] p l t :Pl a n t a t i o n  a r e a d f :Forest disturbed by hum an activity nd:Forest disturbed in natural. 9. M acaranga triloba (Reinw.Arg.Gambar IV.G ap n f :Naturalforest 29 .) Rehd. M allotus paniculatus (Lam k) M uell. Calliandra callothyrsus M eissn.ex W all. Ficus fistulosa Reinw. W einm annia blum ei Planch.) Loes Piper aduncum L. 2a.) Korth.Rich. Urophyllum arboreum (Reinw.C.ex Bl.Arg. G lochidion rubrum Bl. Fagraea elliptica Roxb.) A.) M uell. Cyathea contam inans (W all. 10.ex Bl. Lithocarpus daphnoides (Bl. Perrotteia alpestris Bl. Lithocarpus sundaicus (Bl.) Burck. Pternandra azurea (Bl.) M oore Sym plocos fasciculata Zoll. Ficus fulva Reinw.) R.) Bl. Pandanus furcatus Roxb.) Copel. Daerah terbuka (“Fumarole”) Gambar IV.C am us Beilschm iedia m adang (Bl. Antidesm a tetrandrum Bl. Litsea resinosa Bl. Helicia robusta (Roxb. Agathis dam m ara (Lam b.) L.ex Bl.

) Korth.G . Platea excelsa Bl.ex Soepadm o Payena leerii (T. Schim a wallichii (DC. Castanopsis argentea (Bl.) Knobl.) Kosterm . Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cimalati.ex Bl. Lithocarpus elegans (Bl. M astixia pentandra Bl. Elaeocarpus sphaericus (G aertn. Rhododendron sp. Litsea noronhae Bl.) Hatus.) DC.) DC. Prunus arborea (Bl.Don Astronia spectabilis Bl. 2b. Acronychia laurifolia Bl.) Kurz. 1615 ○ ○ ○ ○ 1705 ○ ○ 1825 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 30 . O ut of NP NationalPark Area Species Fam ily Podocarpaceae Podocarpaceae M elastom ataceae Ericaceae Thym elaeaceae Rhizophoraceae Rubiaceae Ericaceae Cornaceae Laulaceae O leaceae Rubiaceae Actinidiaceae Theaceae Icacinaceae Fagaceae Lauraceae Rosaceae Aceraceae M agnoliaceae Elaeocarpaceae Fagaceae Sapotaceae M yrtaceae Ericaceae Rutaceae Juglandaceae Saxifragaceae Laulaceae Fabaceae Rutaceae Rosaceae Fagaceae Loganiaceae J-Fam ily マキ科 マキ科 ノボタン科 ツツジ科 ジンチョ ウゲ科 ヒルギ科 アカネ科 ツツジ科 ミ ズキ科 クスノキ科 モクセイ科 アカネ科 マタタビ科 ツバキ科 クロタキカズラ科 ブナ科 クスノキ科 バラ科 カエデ科 モクレン科 ホルト ノキ科 ブナ科 アカテツ科 フトモモ科 ツツジ科 ミ カン科 クルミ 科 ユキノシタ科 クスノキ科 マメ科 ミ カン科 バラ科 ブナ科 マチン科 plt plt plt df nf df nf nf nd wp5 - nf nf nf nf wp34 nf wp35 nf wp36 wp15 wp17 wp19 wp20 wp21 wp22 wp23 wp24 wp32 wp33 890 1025 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1520 Podocarpus im bricatus Bl. Vaccinium sp. Neolitsea cassia (L.Hartley Prunus javanica (T. Podocarpus neriifolius D.) K. Lasianthus laevigatus Bl.f.Tabel IV. Saurauia bracteosa DC. Polyosm a ilicifolia Bl. Psychotria robusta Bl. Syzygium rostratum (Bl. M elicope latifolia (DC. G ynotroches axillaris Bl.& B.& B. Engelhardia spicata Lesch. Vaccinium bancanum M iq. Eurya acum inata DC. Parkia interm edia Hassk. M anglietia glauca Bl. Castanopsis javanica (Bl.) Kalkm an Acer laurinum Hassk.) Boerl. O lea javanica (Bl. Lindera bibracteata (Bl.) G ilg.) DC.) M iq.Schum .) T. Daphne com posita (L.

ブナ科 Li thocarpus el egans (B l . ) M ez Theaceae ツバキ科 Schi m a wal l i chi i (D C . Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Pasir Reungit O ut of NP Nati onalPark Area Speci es Fam i l y M el astom ataceae M oraceae Euphorbi aceae Laul aceae J-Fam i l y plt W P25 df df df nf nf fm wp26 wp27 wp28 wp29 wp30 wp31 1045 ノ ボタン科 A stronia spectabi li s B l. C yatheaceae ヘゴ科 C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . K. Acti ni di aceae マタタビ科 Saurauia bracteosa D C .ex Soepadm o Fagaceae Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 M al l otus pani cul atus (Lam k) M uell . Saxi fragaceae ユキノ シタ科 Pol yosm a i li ci fol i a Bl . M aratti aceae ナンヨウスギ科 A gi opteri s evecta H offm . K.Tabel IV. M oraceae クワ科 Fi cus padana B urm .ex B l .& D e V ri ese 1101 1150 1200 1247 1302 1360 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ Fi gure:G PS W P Num ber / Al ti tude [m ] p l t :P l a n t a t i o n   a r e a vi ty d f :Forest di sturbed by hum an acti n f :Naturalforest fm :Near Fum arol e 31 . f. Pal m ae ヤシ科 Pl ectocom i a el ongata M art. M el astom ataceae M yrsi naceae ヤブコウジ科 Rapanea hassel tii (B l . Lauraceae クスノ キ科 Persea ri m osa (B l . )DC . Fagaceae ブナ科 C astanopsi s argentea (B l. Ham am el i daceae マンサク科 Al ti ngi a excel sa N orona Fagaceae ブナ科 C astanopsi sj avani ca (B l . ) T. Rutaceae ミ カン科 M el i cope l ati fol i a (D C . クスノ キ科 Li tsea cubeba (Lour.H artl ey Sym pl ocaceae ハイノ キ科 Sym plocos fasci cul ata Zoll . ) Rehd. )DC . El aeocarpaceae ホルト ノ キ科 El aeocarpus sti pul ari s B l. クワ科 Fi cus del toi dea Jack ト ウダイグサ科 Gl ochidi on rubrum B l . ) Pers. G esneri aceae イワタバコ科 A gal m yla parasi ti ca (Lam k) O .ex Scheff. ノ ボタン科 M el astom a syl vaticum B l . C yatheaceae ヘゴ科 C yathea contam i nans (W al l . )O . Rhi zophoraceae ヒルギ科 G ynotroches axi l l ari s Bl . Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 A ntidesm a tetrandrum B l .A rg. 3. C unoni aceae クノ ニア科 W ei nm anni a bl um ei Pl anch. ex B l . ) C opel . Pi naceae マツ科 Pi nus m erkusi i Jungh. Fagaceae ブナ科 Li thocarpus sundai cus (B l . Aral i aceae ウコギ科 M acropanax di sperm us (B l . ) Korth. ) H atus. G . M el astom ataceae ノ ボタン科 M edi ni l l a speci osa Rei nw . ) Kosterm .

Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cangkuang Speci es Fam i l y M el astom ataceae Fagaceae Fagaceae M el i aceae Saxi fragaceae M yrsi naceae C yatheaceae A ral i aceae Theaceae A ceraceae Fagaceae R hi zophoraceae Euphorbi aceae El aeocarpaceae Sym pl ocaceae C unoni aceae A recaceae M oraceae Theaceae Euphorbi aceae J-Fam i l y ノ ボタ ン科 ブナ科 ブナ科 センダン科 ユキノ シタ 科 ヤブコウジ科 ヘゴ科 ウコギ科 ツバキ科 カエデ科 ブナ科 ヒ ルギ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ハイノ キ科 クノ ニア科 ヤシ科 クワ科 ツバキ科 ト ウダイグサ科 バショ ウ科 タ コノ キ科 マタ タ ビ科 ハイノ キ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 マメ 科 ヤシ科 キク科 ショ ウガ科 クワ科 モチノ キ科 ナンヨ ウスギ科 ウコギ科 N ati onalP ark A rea opn opn df df df df w p39 w p40 w p41 w p42 w p43 w p44 A stroni a spectabi l i s Bl . Sauraui a bracteosa D C .Tabel IV. ) S. )DC .A rg. Gl ochi di on arborescens M acaranga rhi zi noi des (B l . G ynotroches axi l l ari s O m al anthus popul neus (G ei sel ) P ax Sl oanea si gun (B l ) K. C astanopsi s argentea (B l .R obi nson Etl i ngera cocci nea (B l . ) L. Fi cus fi stul osa R ei nw . f. ) M uel l . M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . A gathi s dam m ara (Lam b.ex M art. A rdi si a ful i gi nosa B l .R i ch. Eurya acum i nata D C .Schum . Fi cus padana B urm .ex B l .Ki ng & H .A rg. C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . M acropanax di sperm us (B l . K. Sym pl ocos fasci cul ata Zol l . P arasari anthes fal catari a (L. )Ni el sen Pi nanga j avana B l . C astanopsi s tungurrut (B l . D ysoxyl um densi fl orum (B l . 4. M usaceae Pandanaceae A cti ni di aceae Sym pl ocaceae Euphorbi aceae Euphorbi aceae Euphorbi aceae Fabaceae A recaceae C om posi tae Zi ngi beraceae M oraceae A qui fol i aceae A raucari aceae A ral i aceae 1221 1250 1304 1358 1382 1403 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ Fi gure: G PS W P N um ber / A l ti tude [m ] O pn: O pen area d f : Forest di sturbed by hum an acti vi ty 32 . ) Korth.ex B l . Sym pl ocos odorati ssi m a (B l . ) C hoi sy W ei nm anni a bl um ei P l anch. )R. A cer l auri num H assk. C aryota rum phi ana B l . M . I l ex cym osa B l . P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . )DC . C hrom ol aena odorata (L.Sakai& N agam . ) M uel l . A rthrophyl l um di versi fol i um B l . M acaranga tri l oba (R ei nw . )M i q.C . Schi m a w al l i chi i (D C .A rg. M usa acum i nata C ol l a P andanus furcatus R oxb. )O . Q uercus l i neata B l .

Peta penutupan lahan kawasan G. IV. Salak Gb. IV. Salak 33 . 11.Gb. 12. Peta fisiognomi kawasan G.

kekayaan jenis. Namun demikian dalam sekala kecil sudah terlihat adanya pengelompokan vegetasi berdasarkan ketinggian tempat maupun kondisi medan. D= 40-50 %.BAB V ANALISIS VEGETASI Studi ekologi hutan dilakukan dengan menggunakan metoda baku. sehingga diperoleh parameter-parameter frekuensi. Dengan demikian diharapkan hasil ini dapat dipakai sebagai data dasar untuk penelitian lebih lanjut.1). yang terdiri atas 44 marga dan 26 suku (Lampiran 3). indeks keanekaragaman. kemerataan jenis dan dominasi jenis. ditandai dengan banyaknya jenis dengan frekuensi < 25 % (Gambar V. kerapatan. Parameter tersebut selanjutnya dilakukan analisis ordinansi dan stratifikasi hutan untuk mengetahui lapisan kanopi hutan. dimana data vegetasi yang terkumpul kemudian dianalisis menurut cara yang umum dilakukan dalam kajian ekologi hutan. B= 20-30 %. C= 30-40 %.1. sehingga hasil yang diperoleh belum dapat menggambarkan kondisi hutan gunung Salak secara lengkap. Pencuplikan data vegetasi hanya dilakukan pada 1 dari 3 jalur pengamatan. 50 40 Ju m lah jen is (% ) 30 20 10 0 A B C Kelas frekuensi (%) D E Gambar V. E= 50-60 %) 34 . dominansi. Komposisi floristik Dalam 12 petak pencuplikan data tercatat sebanyak 59 jenis pohon dengan diameter batang > 5 cm. Namun demikian tingkat heterogenetitas secara umum tercatat cukup tinggi. Persebaran kelas frekuensi jenis dalam 12 petak pencuplikan data (A= 0-20 %. Ini relatif sangat rendah dibandingkan dengan dengan kekayaan jenis yang diperkirakan terdapat di kawasan gunung Salak.

Dalam petak dengan luas luas total 1.28 10. Suku Fagaceae Cyatheaceae Theaceae Lauraceae Meliaceae Rutaceae Moraceae Euphorbiaceae Myrtaceae Saxifagraceae Myrsinaceae Melastomataceae Rubiaceae Suku-Suku Lain (13) Jumlah LBD 9.53 0. Theaceae dan Lauraceae merupakan suku-suku tumbuhan yang paling utama di daerah penelitian (Tabel V.54 0.48 0.08 ha (12 petak) hanya tercacah sebanyak 996 individu pohon (diameter > 5 cm).33 21. Dengan kata lain bahwa di setiap tempat dapat dijumpai adanya jenis Cyathea contaminans. Cyatheaceae. jumlah jenis (JJ) dan nilai penting suku (NPS) suku-suku pohon yang tercatat di daerah penelitian.26 1.73 25.58 14. 2). Dari 26 suku yang tercatat. jumlah individu dan luas bidang dasar yang relatif tertinggi. Jenis-jenis tersebut paling tidak tercatat sebagai jenis dominan di satu petak pencuplikan data.82 15. Rendahnya luas bidang dasar menunjukkan bahwa banyak diantara pohon yang tercacah berukuran kecil (Gambar V.90 25.52 K 108 192 100 78 75 48 19 25 50 47 65 22 39 128 996 JJ 4 2 4 6 2 3 7 5 3 1 2 1 3 16.22 11. yang merupakan salah satu ciri khas hutan pegunungan.74 0. Luas bidang dasar (LBD= m2/ha).28 2.05 1.1.95 17.00 NPS 53.28 12.68 15.00 Berdasarkan nilai penting rata-rata jenis pohon (NPR > 7.52 m2/ha. kerapatan (K= individu/ha).11 1.Hanya beberapa jenis diantaranya Cyathea contaminans. 35 . yaitu terdapat di semua petak pencuplikan data. dengan total luas bidang dasar 26. Suku-suku tersebut dengan jumlah jenis. Dilain pihak 19 jenis lainnya dengan NPR yang rendah dan hanya terdapat pada 1 petak pencuplikan data.00 59.07 51.20 300.5) ditentukan jenis-jenis pohon yang paling utama di daerah penelitian (Tabel V.1).83 1. Tingginya nilai penting jenis Cyathea contaminans terutama karena persebarannya yang luas.2). Fagaceae. Tabel V.93 1.36 1.48 14. Eurya acuminata dan Dysoxylum densiflorum yang tersebar cukup merata.86 2.58 0. Struktur hutan Kerapatan pohon secara umum tercatat tidak terlalu tinggi dan dengan luas bidang dasar yang rendah pula.46 10.98 26. Ardisia javanica.

0 29.4 22.6 P7 27.0 21.9 300 Dari seluruh individu yang tercacah.1 12.4 5.6 23.0 3.1 34.0 10.1 P2 16.5 P5 51.7 13.0 7.8 13.1 10. Berdasarkan nilai luas bidang dasar relatif.0 3.6 300 25.5 41.9 P10 52.8 P11 32.8 300 104.7 22.1 8.6 13. Schima wallichii dan Dysoxylum densiflorum.0 111.3 3.0 24.9 42.1 35.2 10.6 22.1 22.3 NPR 35.3 24.4 28.9 43. 3).6 24.0 300 78. dapat dikatakan bahwa daerah penelitian didominasi oleh Castanopsis javanica dan Lithocarpus sundaicus.Tabel V.3 9.2 300 11.9 P6 37.8 3.7 48.8 300 88.9 22.1 9.0 17.0 5. dan beberapa pohon lain yang berukuran cukup besar (diameter 80-100 cm) diwakili oleh jenis-jenis Lithocarpus spicatus.2 P9 38.4 13.8 % diantaranya yang mencapai ukuran > 60 cm.8 76.8 15.9 300 80.7 3.5 300 6.8 9.0 20.7 300 154.8 9. Nilai penting jenis-jenis rata-rata (NPR) pohon dan di setiap petak pencuplikan data Jenis / Petak Cyathea contaminans Lithocarpus sundaicus Castanopsis javanica Dysoxylum densiflorum Polyosma illicifolia Ardisia javanica Astronia spectabilis Eurya acuminata Acronichya laurifolia Symplocos fasciculata Syzygium fascigiatum Schima wallichii Cinamomum sintoc Jenis-jenis lain (45) Jumlah P1 18.3 7.8 P3 34.9 6.7 15.9 22.1 3.8 98.0 29.7 23.7 58.0 28.6 29.5 85.8 24.9 3.9 3.0 43.9 11.5 21.5 9.8 300 4. 2.8 15. Namun demikian dominasi jenis-jenis tersebut nampak bervariasi di masing-masing petak.7 300 14.8 4.2 68.4 62.9 4.5 12. sebagian besar (81.6 4.1 21.9 52.0 9.0 13.3 16. Acronychia laurifolia dan Polyosma illicifolia (Tabel V.1 12.2 9.2 P8 69.0 300 103.0 24.5 22. diikuti oleh Astronia spectabilis.4 %) berukuran kecil (diameter < 20 cm) dan hanya sekitar 1.7 61.0 P4 27.2 6.5 73.5 7. Gynotroches axillaries dan Lithocarpus sundaicus.5 6.5 6.6 31.7 31.9 42.6 16.1 300 116.4 25.4 46.1 18. yang menunjukkan adanya persebaran yang khas dari masing-masing jenis.3 P12 14.1 68.0 11.5 5.5 9. Tiga pohon terbesar (diameter > 100 cm) yang tercuplik hanya diwakili oleh 1 jenis yaitu Castanopsis javanica. 36 .9 46.7 132.5 30.6 51.1 7.9 43.7 16.6 3.8 9.9 4.6 5.

60 50 Jumlah individu (%) 40 30 20 10 0 < 10 < 20 < 30 < 40 < 50 < 60 < 70 < 80 > 80 Kelas diameter (cm)
Gambar V. 2. Persebaran diameter pohon yang tercacah dalam 12 petak pencuplikan data.

Tabel V. 3. Jenis-jenis dominant yang tercacah di daerah penelitian. Jenis Castanopsis javanica Lithocarpus sundaicus Astronia spectabilis Schima wallichii Dysoxylum densiflorum Acronichya laurifolia Polyosma illicifolia Jenis-jenis lain Jumlah P1 42.1 P2 P3 10.9 P4 P5 33.7 P6 P7 P8 P9 7.7 9.9 20.7 P10 P11 P12 DR

0.5 61.7

20.4 14.7 8.3 10.4 13.2 14.8 30.4 4.6 1.8 4.3 0.3 2.5 5.5 7.1 5.6 5.0 4.9 4.4

0.5 27.4 14.3 18.2 13.0 23.0 12.2 4.1 12.6 13.0 28.0 15.1 5.7 1.8 8.3 26.6 0.4 21.0 10.5 9.6 3.5 17.2 2.2 0.3 7.9 13.2

3.0 5.9

13.7 18.1

0.4 12.4 0.9 2.4

32.4 33.0 41.1 45.7 37.1 41.6 100 100 100 100 100 100

9.1 72.3 86.4 34.9 51.6 57.6 45.2 100 100 100 100 100 100 100

37

Pola komunitas Hasil analisis ordinasi menunjukkan adanya pengelompokan petak menjadi 4 kelompok (Gambar V. 3), yaitu: Kelompok 1: terdiri atas petak-petak 1, 2, 3, 4 dan 5; kelompok 2: terdiri atas petak-petak 6, 7, 10 dan 11; kelompok 3: terdiri atas petak 8 dan 9; dan kelompok 4: petak 12. Nampak bahwa petak 12 terpisah dari yang lain karena terdapat pada kondisi habitat dan ketinggian yang sangat berbeda.

0.5

9 12 8

Axis-2

1
0

2 5 3

7 10 6 11
-0.5 -1 0 Axis-1

4

1

Gambar V. 3. Pengelompokan petak-petak pencuplikan data berdasarkan analisis ordinasi (PCA) dengan parameter nilai dominansi jenis.

Kelompok 1 terdapat pada jalur ke arah puncak Salak-1, dengan ketinggian antara 1400 dan 1700 m dpl. Secara keseluruhan dalam kelompok ini dapat ditentukan sebagai komunitas Castanopsis – Polyosma dengan jenis-jenis dominan Castanopsis javanica, Polyosma illicifolia, Lithocarpus sundaicus, Astronia spectabilis, Acronichya laurifolia dan Schima wallichii. Kondisi hutan dari komunitas ini disajikan dalam Gambar V. 4. Kelompok 2 terdapat pada daerah sekitar Pondok Bajuri ke arah Puncak Salak-1, Kawah Ratu dan Cangkuang; pada ketinggian antara 1300 dan 1400 m dpl. Komunitas dalam kelompok-2 ini dapat ditentukan sebagai komunitas Castanopsis – Lithocarpus, dengan Castanopsis javanica, Lithocarpus sundaicus, Dysoxylum densiflorum, Schima wallichii, Astronia spectabilis dan Lithocarpus spicatus merupakan jenis-jenis dominan. Gambar V. 5. menunjukkan kondisi hutan dari komunitas ini.

38

Gambar V. 4. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Castanopsis – Polyosma

Gambar V. 5. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Castanopsis – Lithocarpus

39

Gambar V. 6. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Eurya - Ficus

Kelompok-3 terdapat pada daerah jalur ke arah Kawah Ratu pada ketinggian antara 1.400 dan 1.450 m dpl. Kelompok-3 ini dapat ditentukan sebagai komunitas Eurya – Ficus (Gambar V. 6); dengan jenisjenis dominan diantaranya Eurya acuminate, Ficus padana, Evodia latifolia, Casearia velutina, Lithocarpus sundaicus dan Vernonia arborea. Kelompok-4 terdapat di daerah sekitar Pos Kancil pada ketinggian 1209 m dpl. Komunitas di daerah ini nampak berbeda dengan komunitas lainnya, yang kemungkinan karena perbedaan ketinggian ataupun pengaruh gangguan. Komunitas di daerah ini ditentukan sebagai komunitas Symplocos – Castanopsis, dengan Castanopsis javanica, Symplocos fasciculate, Glochidion rubrum, Ilex cymosa dan Lithocarpus sundaicus merupakan jenis-jenis dominan. Berdasarkan pengelompokan tersebut diatas dapat dikatakan ketinggian tempat merupakan faktor utama, meskipun lokasi (posisi geografi) juga ikut berperan. Struktur hutan diantara 3 komunitas tersebut nampak bervariasi, yang terlihat dari persebaran horisontal dan persebaran vertikal. Gambar V.7., menunjukkan adanya perbedaan stratifikasi hutan diantara ke 3 komunitas tersebut. Komunitas Castanopsis – Polyosma menunjukkan lapisan yang menerus dengan tinggi total pohon mencapai > 35 m. Pohon-pohon tertinggi dalam komunitas ini antara lain Schima wallichii, Castanopsis javanica dan Lithocarpus sundaicus. Begitu pula komunitas Castanopsis – Lithocarpus menunjukkan lapisan kanopi yang cukup menerus, tetapi dengan tinggi pohon kurang dari 30 m. Castanopsis javanica, Gynotroches axillaris, Astronea spectabilis dan Lithocarpus sundaicus tercatat

40

Persebaran diameter pohon pada setiap tipe komunitas 41 . 7. yang menunjukkan banyaknya rumpang (daerah terbuka). Castanopsis javanica dan Polyosma illicifolia. Symplocos fasciculata.sebagai jenis-jenis tertinggi dalam komunitas ini. Dilain pihak komunitas Eurya – Ficus pohon-pohon tertinggi hanya mencapai 19. 8. Stratifikasi hutan pada setiap tipe komunitas 80 Kom-Castanopsis-Polyosma Kom-Castanopsis-Lithocarpus 60 Jumlah pohon (%) Kom-Eurya-Ficus 40 20 0 < 20 < 30 < 40 < 50 < 60 < 70 < 80 < 90 > 100 Kelas diameter (cm) Gambar V. dengan lapisan kanopi yang tidak menerus.5 m yang terdiri atas jenis-jenis Ilex cymosa. 40 Komunitas Castanopsis-Polyosma 20 Komunitas Castanopsis-Lithocarpus 20 Komunitas Eurya-Ficus 30 Tinggi total (m) 15 20 10 10 10 5 0 0 10 20 30 0 0 10 Tinggi cabang (m) 20 0 0 5 10 15 Gambar V. Stratifikasi hutan dalam komunitas ini.

sudah menuju ke arah fase klimaks ditandai dengan persebaran vertikal dan horisontal yang nampak menerus. Di lain pihak dua komunitas lainnya. Pada komunitas Castanopsis-Polyosma dan komunitas Castanopsis-Lithocarpus tercatat bahwa pohon dengan diameter > 50 cm mencapai lebih dari 5 % dari pohon yang tercacah. 42 .Perbedaan fase diantara ke 3 komunitas tersebut juga terlihat dari perbedaan ukuran diameter pohon (Gambar V. karena pencuplikan data yang relatif sangat terbatas. sedangkan pada komunitas Eurya-Ficus tercatat kurang dari 2 %. khususnya komunitas Castanopsis-Polyosma. 8). Berdasarkan hasil tersebut di atas dapat dikatakan bahwa komunitas Eurya-Ficus masih dalam fase suksesi setelah mengalami gangguan. Akan tetapi hasil ini kemungkinan belum menunjukkan kondisi hutan kawasan gunung Salak secara menyeluruh. Namun demikian diharapkan hasil yang telah terkumpul dapat dipakai sebagai acuan penelitian lebih lanjut.

2).00 20. pakan ternak.1). kerajinan (furniture). makanan.00 10. Berdasarkan wawancara.00 Persentase 25.BAB VI PEMANFAATAN TUMBUHAN Berdasarkan wawancara yang dilakukan di dalam petak. terdapat juga pohon yang dimanfaatkan untuk keperluan lainnya.00 15. hal ini dikarenakan tumbuhan yang terdapat di dalam petak didominasi oleh pohon.00 Kerajinan Obat Bahan Bangunan Makanan Pakan Ternak Kayu bakar Alat tradisional Jenis kegunaan Gambar V. pengetahuan mereka tentang tumbuhan yang dimanfaatkan tidak jauh berbeda.1. Berdasarkan grafik di bawah dapat dilihat bahwa pemanfaatan yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat terhadap sumberdaya alam yang terdapat di dalam petak adalah sebagai bahan bangunan. Kegunaan tumbuhan dalam petak 40. Sedangkan di desa Cidahu dan desa Girijaya. makanan. Namun demikian.1).00 30. diketahui terdapat penambahan 44 jenis yang tidak terdapat dalam petak. Persentase pemanfatan jenis tumbuhan yang terdapat di dalam plot. Jenis-jenis tersebut terbagi dalam 30 family dari tumbuhan yang diketahui kegunaannya sebagai obat tradisional (Tabel VI. Berdasarkan hasil wawancara terhadap masyarakat desa Cidahu dan desa Girijaya. Seperti kulit batang dari kiteja (Neolitsea javanica) yang dimanfaatkan sebagai pengganti obat nyamuk. saat dikonfirmasi mengenai nama tumbuhan yang terdapat dalam petak. teknologi tradisional. atau pakan ternak. 43 . diketahui bahwa pengetahuan masyarakat mengenai tumbuhan yang terdapat di dalam petak.00 5. dan kayu bakar (Gambar VI. diketahui bahwa mereka mengenal 36 jenis dan 28 famili dari tumbuhan yang dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat (Tabel VI. paling banyak digunakan sebagai bahan bangunan. Sedangkan tumbuhan bawah dan merambat dimanfaatkan sebagai obat.00 0.00 35.

seperti Kicantung bila akar dan buahnya direbus diyakini sebagai obat kuat bagi laki-laki. meniran (Phyllanthus niruri L. atau yang hanya memiliki satu jenis pemanfaatan. Masyarakat memiliki beragam cara pemanfaatan. (3) satu jenis tumbuhan yang dapat digunakan dengan berbagai macam cara. Dalam pemanfaatannya. Pengetahuan pemanfaatan tumbuhan di desa Cidahu dan Girijaya tidak terpusat pada satu tokoh. daun sembung (Blumea balsamifera (L. masyarakat mengenal berbagai macam kegunaan dari satu jenis tumbuhan. ada yang digunakan sebagai bagian dari campuran jamu atau dimanfaatkan secara tersendiri. kulit jirak (Symplocos fasciculata Zoll. Areuy (Ficania cordata) yang digunakan sebagai kerajinan tangan. Hal ini karena pengetahuan tersebut yang ada tidak saja berasal dari pewarisan melainkan juga dari adanya interaksi dengan masyarakat lain. melainkan menyebar pada individu-individu. ada satu jenis tumbuhan yang memiliki ragam pemanfaatan.). Dalam pemanfaatan tumbuhan untuk jamu godogan. iwung koneng (Bambusa vulgaris). Namun umumnya. diketahui bahwa masyarakat mengenal dan memanfaatkan tumbuhan dengan berbagai macam cara pemanfaatannya. kembang puspa (Schima 44 . akar eurih (Imperata cylindrica Pers.). seperti Harendong bulu (Clidermia hirta) selain digunakan sebagai campuran dalam godogan. penggunaannya dengan direbus secara bersama-sama. kumis kucing (Orthosiphon aristatus (Bl) Miq). untuk gelang. Bila ingin menghilangkan pegal linu. daun klewih (Artocarpus comunnis). Berbeda dengan masyarakat Kasepuhan yang masih “terpusat” pada satu tokoh. Jumlah jenis tumbuhan yang diketahui dan dimanfaatkan oleh masyarakat Cidahu dan Girijaya sebagai obat-obatan tradisional lebih banyak dari pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Kasepuhan yang hanya mengetahui 40 jenis tumbuhan (Harada 2006). masyarakat mengenal berbagai macam komposisi godogan. Daun harendong bulu dapat juga digunakan sebagai penghilang rasa pahit dalam makanan yang direbus. masyarakat melakukannya dengan berbagai cara: (1) langsung dimakan untuk keadaan darurat. maka komposisi jenis godogan yang sering dilakukan oleh masyarakat adalah cecenet (Physalis minima L. serta ada juga ada juga yang dimanfaatkan sebagai tindakan darurat.) Dc. Perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Cidahu dan Girijaya terkait dengan akses informasi yang lebih terbuka. menambah tenaga dan nafsu makan. tergantung pada tujuan pemanfaatan godogan tersebut.).). Kirinyuh (Clibadium surinamense) yang digunakan sebagai obat cacar atau luka di telinga. harendong (Melastoma malabatrichum).Berdasarkan wawancara yang dilakukan di desa Cidahu dan Girijaya. daunnya dapat juga digunakan sebagai obat sakit gigi dengan cara daunnya diperes kemudian air yang keluar dari perasan diteteskan pada gigi yang sakit. seperti Begonia robusta yang digunakan sebagai pertolongan pertama bagi orang yang keracunan (terasa pusing) akibat menghisap uap belerang terlalu banyak. (2) pemanfaatan tersendiri yang tidak memiliki manfaat lain.).

Untuk pohon-pohon besar. Bila ingin menciptakan obat kuat. cecenet (Physalis minima). jukut bau. maka ramuan yang dibuat adalah jukut bau (Ageratum conyzoides). sehingga dengan menjadikan daun pakis sebagai alas ada keyakinan manusia menyerahkan dirinya sebagai korban harimau. Untuk mengobati kencing kurang lancar dan darah tinggi maka komposisi tumbuhannya adalah jumput bau (Ageratum conyzoides). kulit sintok (Cinnamomum sintoc Bl. bahan furniture. kiurat. Bila hendak mengobati sakit disekitar lutut. batang lapuk digunakan sebagai media tanaman hias. 2. (4) satu jenis tumbuhan yang memiliki berbagai macam pemanfaatan. batangnya berkualitas terbaik untuk dibuat bahan bangunan Selain itu jirak (Simplocos psticulata).wallichii (DC) Korth. 45 . dan daun alpukat (Persea americana). dan pinang. merupakan jenis pohon besar yang banyak manfaatnya. yang memiliki ragam pemanfaatan. Seperti pakis (Cyatea contansminan). maka ramuan jenis tumbuhan yang digunakan adalah akar bambu. papan. masyarakat umumnya mengenal pemanfaatannya sebagai bahan bangunan. seperti. atau kusen. Diantara jenis pohon yang memiliki pemanfaatan selain jenis-jenis diatas adalah Saninten (Castanopsis argentea). Masyarakat tidak berani menggunakan daun dari pakis ini sebagai alas tidur ketika berada di hutan. ruyung atau batangnya dapat juga digunakan sebagai tiang bangunan pondok di sawah atau kebun. dan sintok (Cinnamomum sintok) kulitnya dimanfaatkan sebagai bahan campuran jamu godogan. namun bukan pada pemanfaatannya. daunnya dapat juga sebagai sayuran. Sedangkan untuk penyakit liver (koneng) ramuan yang dibuat adalah rebusan daun alpukat dan daun sukun.) dan akar tekokak (Solanum torvum Swartz. Ramuan ini diyakini dapat digunakan sebagai obat kuat. karena menurut anggapan masyarakat pada masa lalu harimau bila menyimpan makanannya ditutupi dengan daun ini.). daun dari pakis ini memiliki mitos tersendiri. Beberapa contoh tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar taman nasional disajikan pada Gambar VI.).

Kipait (Paspalum conjugatum) sebagai obat luka Tempuyung (Sonchus arvensis) sebagai obat ginjal Kumis kucing (Orthosiphon aristatus) sebagai obat sakit kencing batu dan ginjal Cente (Lantana camara) sebagai obat bisul atau bengkak Sntrong (Erectitus valerianifolia) sebagai obat darah tinggi dan penawar racun Antanan (Centella asiatica) sebagai obat kesemutan Takokak (Solanum torvum) Sebagai obat kuat dan darah tinggi. Beberapa jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat di desa Cidahu dan desa Girijaya. 2. 46 . lalapan Plantago major Sebagai obat batu ginjal dan obat kuat Harendong (Melastoma malabatrichum) sebagai obat sakit perut Gambar VI.

Kayu bakar. dan kulitnya ditumbuk. kusen. balok. furniture. Tumbuhan Bermanfaat yang terdapat di dalam Petak Penelitian. Cinnamomum sintoc Bl. Acronychia pedunculata (L. Lithocarpus sp. Euphorbiaceae 47 .) Val. Bahan Bangunan. Blechnum orientale L. Zingiberaceae Agnifoliaceae Lauraceae Fagaceae Magnoliaceae Asteraceae Lauraceae 25 Karemi Omalanthus populneus (Geisl) pax.Tabel V. kusen Bahan bangunan. No. Buat anyaman. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. papan. Mikania cordata Neolitsea javanica Bl. 1. Kayu buat bahan bangunan dan furniture.Br. Ilex cymosa Blume Lindera bibracteata (Nees) Boerl. Calamus javanica Bl. Don Diplazium esculenta Sw. airnya diminum obat sakit pinggang/obat kuat. balok Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Bahan bangunan Kayu bakar.) R. bahan bangunan 4 5 6 7 8 9 10 Kikeyep Ramu kuya Pakis buah Rotan lilin Kimerak Jara anak Sintok Ardisia lurida Bl. Myrsinaceae Rubiaceae Blechnaceae Arecaceae Fabaceae Fagaceae Lauraceae 11 12 13 14 15 16 17 18 Harendong bulu Pakis benyeur Kiwates Kisampang Kigember Tandang tanah Kitiwu Tenung Clidemia hirta (L. Freycinetia angustifolia Bl. Argostema montanum Bl. Calliandra calothyrsus Meissn Castanopsis javanica (Bl. airnya diminum buat obat diare/radang lambung. Ex DC. Bahan kerajinan (gelang) Kulit kayu buat bahan obat nyamuk. Ex Wall Melastomataceae Athyriaceae Theaceae Rutaceae Moraceae Pandanaceae Rhizophoraceae Proteaceae 19 19 20 21 22 23 24 Pining Kisaoh Kibeusi Pasang Manglit Areuy Kiteja Horntedtia pininga (Bl. Sebagai obat Daun muda dimakan buat obat diare. 1 2 3 Nama Lokal Kirujug Karag Kiajag Jenis Acronychia laurifolia Bl.) DC. Tiang bangunan Buat kayu bakar. Gynotroches axillaris Bl. Eurya acuminata DC. kayunya buat bahan bangunan. airnya diminum untuk obat kuat. Akar direbus. Buat tali. Getahnya diminum buat obat diare. kusen Kulit batang direbus. Ficus sp. alat tradisional.) D. Manglietia glauca Bl. Suku Rutaceae Rutaceae Myrsinaceae Kegunaan Bahan bangunan Furniture.) Miq Ardisia crispa (Thunb) DC. Helicia robusta (Roxb. furniture. Bahan Bangunan (kusen) Kulit batang digerus lalu campur dengan minyak kelapa buat obat koreng Furniture. Bahan bangunan. Bahan Bangunan (kusen) Buat pakan ternak Daun muda buat lalap. Evodia latifolia Dc.

Syzygium lineatum (Dc.) Hassk. Cangkoreh Dinochloa scandens Familia Melastomataceae Poaceae 3. Obat luka. Balsaminaceae 4. Daun di rebus. 48 . Asteraceae 10. Urang aring Eclipta alba (L. airnya di minum. Pacar Impatiens platypetala Lindl. Tumbuhan Bermanfaat yang Diketahui Masyarakat sebagai Obat. Prunus arborea (Bl. Cangkudu 8. Daun di rebus. Poliosma ilicifolia Bl. No. buat obat darah tinggi. Cecenet Physalis minima L.) Kalkm.) Merr.& Perry Vernonia arborea Buch. perasan airnya di minum buat obat diare. asam urat. Nama Lokal Jenis 1. kusen Buah buat bahan manisan. bunganya sebagai hiasan Bahan bangunan. Buah masak di juss lalu di minum buat obat darah tinggi. Bahan Bangunan Bahan bangunan. air dalam batang buat obat. Jambu batu Persea americana Swietenia mahagoni Syzygium polyantha Morinda citrifolia L. buah yang masak jambu merah buat obat demam berdarah. daun digerus lalu ditempelkan pada tempat yang luka. buat menghitamkan dan menyuburkan rambut. Mahoni 6. 2. airnya di minum buat obat darah tinggi. airnya diminum.) Kalkm. Psidium guajava L.) Frodin Icacinaceae Saxifragaceae Rosaceae Rosaceae Araliaceae 31 32 33 34 Puspa Canar Jirak Kisireum Schima Wallichii (DC) Korth. Daun di rebus. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Kayu bakar. Solanaceae Kegunaan Daun muda di makan untuk obat sakit perut.Ham Weinmannia blumei Planch Theaceae Smilacaceae Symplocaceae Myrtaceae 35 36 Hamirung Peris Asteraceae Cunnoniaceae Furniture Bahan bangunan Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Daun muda di gerus ditempelkan pada dahi buat obat demam / kompres. Symplocos fasciculata Zoll. Alpukat 5. dan furniture Kayu buat bahan bangunan dan furniture. airnya di minum buat obat diabet. Lauraceae Meliaceae Myrtaceae Rubiaceae Myrtaceae 9. buat obat darah tinggi dan sakit pinggang. Prunus arborea (Bl.26 27 28 29 30 Kibonteng Kihujan Kawoyang Kawoyang Ramu giling Platea latifolia Bl. Smilax zeylanica L. Batangnya di potong. airnya diteteskan pada mata buat obat trachum / rabun. Schefflera lucida (Bl. daun di gerus. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Salam 7. Seluruh bagian tanaman direbus. furniture. Tabel V. Harendong Melastoma malabatrichum 2. Daun di gerus di pakai keramas.

Asteraceae Asteraceae Malvaceae Solanaceae 21. Pungpurutan 20. jika airnya di saring lalu diminum buat obat mah. Cente 23. Euphorbiaceae 49 . airnya diminum untuk obat sakit pinggang. Rane Imperata cylindrica Pers.) Gaerth. daun digerus kemudian ditempelkan pada tempat yang sakit. Obat luka/bisul. daun digerus ditempelkan di uluhati / dada obat sesak napas. Eurih 27. Kipait Paspalum conjugatum Berg. daun diremas digosokkan/dibalurkan keperut untuk obat masuk angin. Jotang 19. Obat luka. airnya di minum buat obat nafsu makan dan obat perawatan sehabis melahirkan. Obat luka. Verbenaceae Bombacaceae 24. Sintrong 18. Harega Bidens biternata Asteraceae 15. daun digerus lalu ditempelkan pada bagian yang luka. airnya diminum untuk obat kuat. Meniran Phyllanthus niruri L.11. Daun dan batangnya direbus. airnya diminum buat obat sakit kencing. airnya diperas lalu diminum buat obat tajam/berak darah. airnya diminum obat diare Akar dan daun direbus. buah dilalap buat obat darah tinggi. 16. Jukut bau Ageratum conyzoides L. seluruh bagian tanaman direbus. Poaceae 26. Tangkur 12. Tempuyung Sonchus arvensis L. airnya diminum buat obat batu ginjal. daun dikeringkan lalu digodog airnya. Kumis kucing Orthosiphon grandiflorus Bold. Selaginella plana Poaceae Selaginellaceae 28. Poaceae Asteraceae Umbi akar di rebus. daun di gerus ditempelkan pada yang luka buat obat luka. Sembung Lopatherum gracile Blumea balsamifera (L. Asteraceae 14. Sidagori Sida rhombifolia L. daun digerus ditempel kebagian yang sakit. Kikumat Polygala paniculata Polygalaceae 25. airnya diminum buat obat pegal- 13. daun digerus lalu ditempelkan kebagian yang luka. Daun dan batang di rebus airnya diminum buat obat darah tinggi daun direbus.) Dc. Asteraceae 22. Daun di rebus. Randu Lantana camara L. airnya diminum buat obat kuat. akar direbus. Obat bisul/bengkak. airnya diminum buat obat memperlancar peredaran darah daun dilalap buat obat darah tinggi dan penawar racun. Labiatae Malvaceae 17. seluruh bagian tanaman direbus airnya diminum buat obat pegalpegal. Daunnya di rebus. Takokak Erechtites valerianifolia Spilanthes iabadicensis Triumfetta rhomboidea Solanum torvum Swartz. Ceiba pentandra (L. diminum buat obat setelah melahirkan Seluruh bagian tanaman direbus. Daun digerus.

Umbi akar digerus. Daun dan akar digerus. Tapak liman Elephantopus scaber L. Centella asiatica Begoniaceae Lauraceae Fabaceae Apiaceae 50 . daun direbus. sarinya sebagai obat sariawan Direbus seluruh bagian sebagai obat kesemutan 31. airnya diminum untuk obat kanker dan diabet. Momordica charantiaca L. Euphorbiaceae Cucurbitaceae Oxalidaceae Costus speciousus (Koen. Smith Zingiberaceae 39. Daun muda dan buah dimakan buat obat sariawan. airnya diperas kemudian diminum buat obat nafsu makan. umbi akar diparut/digerus lalu ditempelkan ketempat yang luka. diminum pada pagi hari ketika baru bangun tidur. lalu dibiarkan sampai satu malam.E. Sebagai obar rematik Batangnya sebagai obat keracunan belerang Batang kayunya yang harus sebagai penolak ular Daun dikunyah. Keji beling 30. Oxalis corniculata L. Daun digerus. kemudian dicampur dengan air. Lampuyang Zingiber aromatica Val. Zingiberaceae 32. Paria 37. Tapak dara Catharanthus roseus Apocynaceae 34. Obat eksim. Seluruh bagian tanaman direbus. Katuk 36. airnya diminum obat tambah darah dan diabet. Ki urat Sericocalyx crispus Plantago mayor L. Gedang gandul Staurogyne elongata Carica papaya Acanthaceae Caritaceae 41 Begonia 42 Limo 43 Daun Saga 44 Antanam Begonia robusta Litsea cubeba (Lour) Pers Abrus precatorius L. airnya diminum buat obat batu ginjal dan obat kuat.pegal. Direbus bersama adas dan pulosari. Suji Pleomele angustifolia Liliaceae 33. Seluruh bagian tanaman direbus. Daun disayur buat memperbanyak ASI (Air Susu Ibu) Buah disayur untuk obat diabet dan darah tinggi. 29. airnya diminum buat obat batu ginjal. airnya diperas lalu diminum obat panas dalam/muntah darah. Asteraceae 35. airnya diminum obat pegal-pegal/sakit pinggang. Reunde 40. Pacing Sauropus androgynus (L.) J.) Merr. Calincing 38. Acanthaceae Plantaginaceae Daun direbus.

berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan dan kearifan dalam memanfaatkan keanekaragaman yang terdapat di gunung Salak. menghilangkan kearifan lokal dan tujuan dari keberadaan Taman Nasional tidak akan tercapai. tempat-tempat yang ada di Gunung Salak di asosiasikan dengan mitos Hindu. Dengan demikian. dan mitos yang ada di masyarakat membaur menjadi satu. ketidakterpisahkan masyarakat dengan tumbuhan yang ada di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak patut menjadi pertimbangan kebijakan pengelolaan Taman Nasional. namun ada juga yang berpendapat bahwa tempat ini merupakan petilasan dari Sanghyang Guru Resi (Kakek dari Guru Minda dalam dongeng Lutung Kasarung). dan ketergantungan akan kehidupan.BAB VII PENUTUP Pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan tumbuhan menunjukkan adanya saling keterkaitan yang erat antara masyarakat dan lingkungan. proses islamisasi dan akulturasi budaya Islam dan Hindu-Budha. Gunung Salak hanya dimaknai sebagai “titipan” dari Tuhan yang harus dirawat dengan baik. disamping bernilai secara ekonomis. Gunung Salak juga menjadi saksi atas proses yang ada di masyarakat. 51 . Perebutan dan negosisi kelompok yang ada di masyarakat juga ditunjukkan dari tafsiran mereka tentang suatu tempat peninggalan sejarah. terutama gunung Salak adalah tempat istimewa. harapan. Tumbuhan. Sedangkan bagi masyarakat Islam namun masih kuat tradisi “Sunda”nya tempat-tempat yang diasosiasikan dengan legenda Hindu diganti dengan sosok atau pun juga tokoh penyebar agama Islam di wilayah itu. Di tempat ini legenda. Dalam tumbuhan terkandung mitos tentang masa lalu kehidupan masyarakat. Bagi masyarakat desa Girijaya. Hal ini dilihat dari versi dan “perebutan” mitos yang ada di Gunung Salak. Di samping pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan. sebagian besar masyarakat menganggap tempat ini sebagai tempat bersemedinya Eyang Santri. Seperti di petilasan Eyang santri. bermanfaat bagi masyarakat untuk mengobati penyakit. gunung Salak tidak saja sebagai daerah tangkapan air yang menyimpan dan menyediakan kebutuhan masyarakat akan air bersih melainkan juga di gunung Salak tersimpan sejarah. Bagi masyarakat yang masih berpegang teguh pada tradisi. masyarakat desa Cidahu dan desa Girijaya yang tinggal di kaki gunung Salak mempunyai inisitif yang berbeda dalam menjaga kelestarian gunung Salak. seperti tentang Dewa-dewa atau juga tokoh-tokoh dalam legenda Hindu. gunung. sejarah. Bagi masyarakat. Sedangkan bagi kelompok yang lain. Di samping itu. Tanpa mempertimbangkan hal tersebut. Gunung salak memiliki nilai penting bagi masyarakat Sunda secara umum dan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung Salak. juga memiliki nilai-nilai kultural.

Bpk Iwan. atas diperkenankannya mengadakan penelitian di Kawasan T. Nurdin atas kerjasamanya selama survey dilapangan. Bpk Tatang. Bpk. dan Bpk. Endang. Anhar yang mendukung terlaksananya proyek kerjasama ini. Ismirza.N. Bpk. Bpk Agus. Salak di Desa Giri Jaya dan Desa Cidahu. Gunung Halimun-Salak. (2) Kawasan hutan pegunungan atas (>1800 dpl) yang tidak terlalu luas di gunung Salak mempunyai vegetasi yang sangat spesifik sehingga keberadaan kawasan ini menjadi sangat penting bagi T. Pembagian ini antara lain: (1) Kawasan hutan pegunungan bawah dan atas merupakan hutan primer dan harus dipertahankan untuk menjadi area inti sebagai preservasi hewan dan tumbuhan liar. Terimakasih juga kami ucapkan kepada Bpk. Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Kepala Pusat dan Kepala Bidang Botani di Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Perlu upaya yang lebih serius untuk mendorong inisitif pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat dengan mengupayakan kesejahteraan bagi mereka. memberikan dukungan dan kerjasama selama berlangsungnya survey ini. N. Ucapan Terimakasih Survey flora gunung Salak ini adalah atas dukungan dan kerjasama antara JICA. Aden Muhidin.Perbedaan ini menambah keragaman tradisi masyarakat. Informasi di buku ini masih kurang dari sempurna. Bpk Hamzah dan Bpk. Gunung Halimun-Salak. Wardi. TNG Halimun – Salak project dengan Pusat Penelitian Biologi – LIPI. Ucapan terimakasih ini juga kami sampaikan kepada Bapak dan Ibu yang mendukung dan membantu kami memberikan informasi tentang pemanfaatan flora dan informasi lainnya tentang Gn. (4) Hutan tanaman.Gunung HalimunSalak. dapat digunakan sebagai buffer zone antara habitat yang essensial dan daerah luar. Emad yang mendampingi selama dilapangan serta tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Ika S. N. setiap kawasan memiliki peranan yang cukup berarti sehingga masing-masing perlu dipertahankan atau dilestarikan. karena waktu penjelajahan relatif singkat. Saran Dari hasil survey diperoleh beberapa catatan penting yang dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan TN selanjutnya. Bpk. Pembuatan plot permanen untuk monitoring berkurang dan hilangnya keanekaragaman hayati juga diperlukan untuk mengetahui pengaruh pemanasan global. sehingga perlu adanya studi ekologi lebih lanjut di beberapa lokasi terutama rute Cimalati dan Rute Pasir Reungit untuk melengkapi data. Madani dan Bpk. tanpa mereka tidak lengkaplah buku ini. Dimana pembagian kawasan ini sangat penting. Bpk. (3) Kawasan hutan pegunungan rendah berfungsi sebagai habitat hidupan liar seperti leopard dan gibbon. 52 . Undang. Bpk.P. Kepala T. Ucapan terimakasih kepada seluruh staff JICA dan Staff TNG Halimun – Salak yang memberikan banyak informasi tentang kondisi Gn Salak.

Salak. Prosiding Seminar Hasil Litbang SDH. 2007. Kodiran. K. Pelestarian Daerah Mandala dan Keanekaragaman Hayati oleh Orang Badui.. K. Java (3 vols) .. E. Jakarta: LIPI Press.W. Structure and composition of montane rain forest in Awibengkok area. 2007. London: Tavistock. Anthropological Approaches to the Study of Religion.G. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Kartawinata. Kartawinata. Mangunjaya. Jakarta: Sub Direktorat Informasi Konservasi Alam. Paper presented in the Symposium of Pasific Ecosystem. Religion as a Cultural System. Taman Nasional Gunung Halimun-Salak: Menyingkap Kabut Gunung HalimunSalak. F. Leuweung Titipan: Hutan Keramat Warga Kasepuhan di Gunung Halimun.Bibliografi Abdillah.. Unpublished report. London. Jawa Barat. Gunung Halimun-Salak National Park Management Project. 2006. 1996. Agama Ramah Lingkungan: Perspektif Al-Qur’an. Makalah dalam Lokakarya. Mirmanto & S. Jakarta. Struktur dan komposisi hutan DAS Cisadane hulu.. 1966. K. 2005. Imron.M. K. Indonesia. Mengenal 21 Taman Naional Model di Indonesia. 1967. Taman Nasional Gunung Halimun-Salak: Menyingkap Kabut Gunung HalimunSalak. P. Dalam: Witjaksono. 1963-68. Makalah dalam Lokakarya. 1985. Gerakan Sosial untuk Konservasi Daerah Resapan Air di Kawasan Daerah Aliran Sungai Cisadane di JABOPUNJUR. 15 Mei 1991.. & Bakhuizen vd Brink Jr.A. Konservasi Alam dalam Islam. Harada. Departemen Kehutanan dan JICA. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Komite Nasional MAB Indonesia. LIPI. hal.C. Anonim. 2007. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. 1975. August 1975.M. Bogor: Backer. Adimiharja. Riswan. 2007. E. The ecological zone of Indonesia. F. Butterworths. Mangunjaya. Fl. Mulyati Rahayu. 2001. C. J. Dede Wardiat. 2007. Batavia. Cox. Iskandar. Laboratory Manual of General Ecology. Second Edition.. Komite Nasional MAB Indonesia. Anwar Ibrahim.. Mirmanto. Etika Jawa. Puslitbang Biologi-LIPI. Makalah dalam Lokakarya. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati.. Prawiroatmodo.. M. 33-41. 1964. M. Ari Wahyono.. Jakarta: Paramadina. Keramat Alami dan Kontribusi Islam dalam Konservasi Alam. G. 2007. Iowa. Bogor: Dephut dan JICA. 13th Pasific Science Congress. Anonim. Henny Warsilah. M. Quantitative Plant Ecology. LIPI. S. 2005. Bogor: JICA. LIPI. Bogor. Vancouver. Komite Nasional MAB Indonesia.. Yayasan Obor Indonesia. RM Marwoto & EK Supardiyono (eds).. Noord. Crown. C. 2006. Tumbuhan Obat Taman Nasional Gunung Halimun. 53 . 1991. Dalam Michael Banton. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak Periode 20072026.. Anonim.. Anonim. Geertz. Greigh-Smith.

Steenis. S. In: M. Makalah dalam Lokakarya.G. Resosudarmo. Jakarta: Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.. Schmidt & JHA Ferguson. Pemukiman Kuna di Bogor: Tinjauan Berdasarkan Data Tertulis dan Tinggalam Arkeologis. H. Kementrian Perhubungan. Kawasan Konservasi Indonesia. Hal.. Banten. Vol. II. C. Ellenberg. Simbolon & J. Djawatan Meteorologi dan Geofisic. Brill. Munandar. dan Perumusan Kebijakan di Indonesia. Ke mana Harus Melangkah: Masyarakat. 1951.S. Wallace. Floristic study of Gunung Halimun National Park. (Diterjemahkan oleh A. Wiriadinata. 2006. Sugardjito (eds. Penelitian ke Cagar Biosfer Cibodas. No. Dkk. Yoneda. The Inventory of Ntural Resources in Gunung Halimun National Park. Vera Budi Lestari. A. Dinas Informasi. John Wiley. Mountain Flora of Java. 1974. 2007..J van. Komite Nasional MAB Indonesia. 2007. 2000. Situs Keramat Alami sebagai Alternatif Pengakuan Hak-Hak Masyarakat Adat: Kasus Kasepuhan Cibedug. 2007a.. Aims and Methods of Vegetation Ecology.. Jakarta. New York. Nasution dan Mahyuddin Mendim. LIPI-PHPAJICA. H. Laporan Perjalanan. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Verhandelingen. Menjelajah Nusantara: Ekspedisi Alfred Russel Wallace Abad ke-19. Research and Conservation of Biodiversity in Indonesia. Bogor: Puslit-Biologi LIPI. Rais.. Situs Sindang Barang Bukti Kegitan Keagamaan Masyarakat Kerajaan Sunda (Abad ke-13-15 M): Laporan Penelitian awal.A. Rainfall types based on wet and dry period ratios for Indonesia with WesternNew Guinea. 2007. Mohammad Fathi Royyani. Propinsi Jawa Barat. 54 .G. H.P. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hutan. Bogor..R. Kepariwisataan dan Kebudayaan Kota Bogor. dan Carol J Pierce Colfer (Peny).42. C. D & H. van. Munandar.G. Flora Pegunungan Jawa.). 7-13. I. 1972. A. Yogaswara.Muller-Dombois. Steenis. H. LIPI. Puslit-Biologi LIPI. Bandung: Remaja Rosda Karya.J.G.A. Bogor: Padepokan Giri Sunda Pura. 2003.. A. dan Asep Sadeli. Makalah dalam Seminar Kesejarahan Kota Bogor 6 September 2007.A. 1997. 2007b.

55 .

B r. ) C opel . A gathi s dam m ara (Lam b. U rophyl l um arboreum (R ei nw . H el i ci a robusta (R oxb. )R. Li thocarpus daphnoi des (B l . P errottei a al pestri s Bl . 11 chi kaw a. ) L. ) Korth. ) L. B ei l schm i edi a m adang (B l . Land data of Gunung Salak (Cimalati route) G nung S al ak vegetati on Ci m al ati R oute D ate 2008/3/6. P ternandra azurea (B l . P runus arborea (B l . P andanus furcatus R oxb. ) B urck. S chi m a w al l i chi i (D C . C astanopsi sj avani ca (B l .Lampiran 1. ) Korth. ) Loes Pi per aduncum L. W ei nm anni a bl um ei P l anch. ) Korth. ) R ehd. Gl ochi di on rubrum B l .I w an M em bI C om m ent WP Al t Forest type Pl antati on Pl antati on Pl antati on Pl antati on Forest H i ght S peci es Fam i l y A raucari aceae A raucari aceae Fabaceae Fabaceae Theaceae C yatheaceae P andanaceae C el astraceae Pi peraceae P roteaceae Fagaceae Theaceae Fagaceae Euphorbi aceae C unoni aceae R osaceae Theaceae M el astom ataceae Lauraceae Logani aceae Fagaceae Theaceae Lauraceae Fagaceae R ubi aceae Fagaceae J-Fam i l y ナンヨ ウスギ科 ナンヨ ウスギ科 マメ 科 マメ 科 ツバキ科 ヘゴ科 タ コ ノ キ科 ニシキギ科 コ ショ ウ科 ヤマモガシ科 ブナ科 ツバキ科 ブナ科 ト ウダイグサ科 クノ ニア科 バラ科 ツバキ科 ノ ボタ ン科 クスノ キ科 マチン科 ブナ科 ツバキ科 クスノ キ科 ブナ科 アカネ科 ブナ科 Em erg. ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 56 . )D C . ) A .R i ch. Li thocarpus sundai cus (B l . C astanopsi sj avani ca (B l .I sm ai l .C am us S chi m a w al l i chi i (D C . C al l i andra cal l othyrsus M ei ssn. )Bl . S ma l l Pi oneer other 890 960 1025 15 1058 5 5 5 7 10 sturbed 17 1111 N aturaldi 4 20 19 P ri m ary sturbed 20 1209 N aturaldi 20 m ary 21 1252 P ri 25-30 m ary 22 1301 P ri 25-30 A gathi s dam m ara (Lam b. C astanopsi s argentea (B l .ex B l . )D C . ) Korth. C yathea contam i nans (W al l .C . ) Kal km an S chi m a w al l i chi i (D C .C .ex W al l . C al l i andra cal l othyrsus M ei ssn. )D C .R i ch. ) Kosterm . N eol i tsea cassi a (L. D om i n. ) Korth. S chi m a w al l i chi i (D C . Fagraea el l i pti ca R oxb.

)D C . M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . 20-25 S chi m a w al l i chi i (D C . ) Korth. (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y R osaceae Theaceae Fagaceae I caci naceae Laul aceae R utaceae Euphorbi aceae Theaceae Euphorbi aceae S ym pl ocaceae M agnol i aceae S axi fragaceae Logani aceae S ym pl ocaceae M oraceae M oraceae Lauraceae Theaceae R utaceae Fagaceae Theaceae C unoni aceae M yrtaceae Fagaceae R utaceae Theaceae Em erg. A cronychi al auri fol i a Bl . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y バラ科 ツバキ科 ○ ブナ科 クロタ キカズラ科 クスノ キ科 ミ カン科 ト ウダイグサ科 ツバキ科 ○ ト ウダイグサ科 ○ ハイノ キ科 モクレン科 ユキノ シタ 科 マチン科 ハイノ キ科 ○ クワ科 ○ クワ科 ○ クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ミ カン科 ○ ブナ科 ツバキ科 クノ ニア科 フト モモ科 ブナ科 ミ カン科 ツバキ科 ○ 23 sturbed 1354 N aturaldi m ary 1404 P ri 24 32 m ary 1450 P ri   P runus arborea (B l . S ym pl ocos cochi nchi nensi s (Lour. ) Korth.ex B l . 35-40 S chi m a w al l i chi i (D C . S chi m a w al l i chi i (D C . Fi cus fi stul osa R ei nw . Li tsea resi nosa B l .Lampiran 1. ) Korth.A rg. Li thocarpus sundai cus (B l . D om i n. P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . 20-25 A cronychi al auri fol i a Bl . )D C . A nti desm a tetrandrum B l . C astanopsi sj avani ca (B l . Pl atea excel sa B l . ) M oore M angl i eti a gl auca B l .A rg. ) Korth. A cronychi al auri fol i a Bl . ) M uel l . Eurya acum i nata D C . C astanopsi s argentea (B l . ) R ehd. W ei nm anni a bl um ei P l anch. 57 . M acaranga tri l oba (R ei nw . Fi cus ful va R ei nw . Eurya acum i nata D C .ex B l . ) Kal km an S chi m a w al l i chi i (D C . S yzygi um sp.

aeocarpaceae El aeocarpus sphaeri cus (G aertn. ) Kosterm . S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . G . M el astom ataceae A stroni a spectabi l i s Bl .S chum . )D C . ) Korth. Lauraceae N eol i tsea cassi a (L.ex S oepadm oFagaceae Jugl andaceae Engel hardi a spi cata Lesch. A ceraceae A cer l auri num H assk.& B . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y R osaceae P runus j avani ca (T. )M i q. ) Kurz. ) H atus. Fabaceae P arki ai nterm edi a H assk. ) Kosterm . Em erg. Li thocarpus el egans (B l . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . )D C . ) Kal km an R utaceae M el i cope l ati fol i a (D C . D om i n.H artl ey Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l .ex B l . S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . ) Korth. R utaceae A cronychi al auri fol i a Bl . S apotaceae P ayena l eeri i (T. )D C .D on P odocarpaceae P odocarpus i m bri catus B l . Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . M yrtaceae S yzygi um rostratum (B l . Lauraceae N eol i tsea cassi a (L. R osaceae P runus arborea (B l .& B . ) T.ex B l . El P odocarpaceae P odocarpus neri i fol i us D . ) B oerl .Lampiran 1. I caci naceae Pl atea excel sa B l . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . Jugl andaceae Engel hardi a spi cata Lesch. ) K. Laul aceae Li ndera bi bracteata (B l . S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y バラ科 ユキノ シタ 科 ○ クロタ キカズラ科 バラ科 ミ カン科 ブナ科 ツバキ科 ○ ○ ユキノ シタ 科 ○ カエデ科 ○ クスノ キ科 マメ 科 クルミ 科 ○ ブナ科 ○ クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ○ ミ カン科 ノ ボタ ン科 ユキノ シタ 科 フト モモ科 ブナ科 ○ クルミ 科 ○ ホルト ノ キ科 マキ科 ○ マキ科 ○ クスノ キ科 ○ アカテツ科 33 m ary 1520 P ri 25-35 34 m ary 1615 P ri 25-30 58 .

(lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y Fagaceae Eri caceae Eri caceae I caci naceae P odocarpaceae Theaceae M el astom ataceae A ceraceae R osaceae Ol eaceae M agnol i aceae Laul aceae A cti ni di aceae R ubi aceae P odocarpaceae P odocarpaceae M el astom ataceae Theaceae Fagaceae I caci naceae C ornaceae R hi zophoraceae Eri caceae Lauraceae Thym el aeaceae R ubi aceae Eri caceae Em erg. f. Pl atea excel sa B l . P runus arborea (B l . Li tsea noronhae B l . P odocarpus neri i fol i us D . ) Kosterm . 20 P odocarpus i m bri catus B l . ) Korth. R hododendron sp. Lasi anthus l aevi gatus B l . D om i n. V acci ni um sp. N eol i tsea cassi a (L. S chi m a w al l i chi i (D C . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y ブナ科 ツツジ科 ○ ツツジ科 ○ クロタ キカズラ科 ○ マキ科 ○ ツバキ科 ○ ノ ボタ ン科 カエデ科 バラ科 モクセイ科 ○ モクレン科 ○ クスノ キ科 ○ マタ タ ビ科 ○ アカネ科 ○ マキ科 ○ マキ科 ○ ノ ボタ ン科 ツバキ科 ○ ブナ科 クロタ キカズラ科 ミ ズキ科 ヒ ルギ科 ツツジ科 ○ クスノ キ科 ○ ジンチョ ウゲ科 ○ アカネ科 ○ ツツジ科 ○ 35 m ary 1705 P ri 36 m ary 1825 P ri C astanopsi sj avani ca (B l . G ynotroches axi l l ari s Bl . D aphne com posi ta (L. 20-30 P l atea excel sa B l .Lampiran 1. )G i l g. C astanopsi sj avani ca (B l . A cer l auri num H assk. 59 . P odocarpus i m bri catus B l . R hododendron sp. ) Korth. )D C .D on A stroni a spectabi l i s Bl . M asti xi a pentandra B l . M angl i eti a gl auca B l . A stroni a spectabi l i s Bl . S auraui a bracteosa D C . ) Knobl . )D C . S chi m a w al l i chi i (D C . P sychotri a robusta B l . V acci ni um bancanum M i q. ) Kal km an Ol ea j avani ca (B l .

ex B l .ex B l .I w an M em b I C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Pl antati on 5-10 P i nus m erkusi i Jungh. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . ) Korth. )O . ) C opel .A rg. P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art.ex S oepadm o Fagaceae Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . D om i n. K. A cti ni di aceae S auraui a bracteosa D C . Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . Euphorbi aceae A nti desm a tetrandrum B l . M aratti aceae A gi opteri s evecta H offm . M el astom ataceae M edi ni l l a speci osa R ei nw . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y マツ科 ブナ科 ○ クノ ニア科 ツバキ科 ○ ウコ ギ科 ○ ○ ト ウダイグサ科 ○ ホルト ノ キ科 ヤシ科 ヘゴ科 R D B ヘゴ科 ユキノ シタ 科 ○ ブナ科 ツバキ科 ヤシ科 ブナ科 ブナ科 ノ ボタ ン科 イワタ バコ 科 ナンヨ ウスギ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ヒ ルギ科 ブナ科 ヤシ科 クスノ キ科 マタ タ ビ科 クワ科 25 26 sturbed 27 1150 N aturaldi 15 sturbed 28 1200 N aturaldi 10-15 60 . K. M oraceae Fi cus padana B urm . f. Fagaceae C astanopsi s argentea (B l . Fam i l y Pi naceae Fagaceae C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. R hi zophoraceae G ynotroches axi l l ari s Bl .Lampiran 2. Fagaceae C astanopsi s argentea (B l . G esneri aceae A gal m yl a parasi ti ca (Lam k) O . ) R ehd.ex B l . S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl .ex B l . )D C . C yatheaceae C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l . P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art. )D C . Lauraceae P ersea ri m osa (B l . ) Korth. C yatheaceae C yathea contam i nans (W al l . Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . El aeocarpaceae El aeocarpus sti pul ari s Bl .& D e V ri ese N aturaldi sturbed 10-15 Li thocarpus sundai cus (B l . Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . Land data of Gunung Salak (Pasir reungit route) G nung S al ak vegetati on P asi r reungi t R oute 2008/3/7 D ate chi kaw a.A rg. ) Kosterm . Li thocarpus el egans (B l . Em erg.I sm ai l . )D C . P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art. ) H atus.

S ym pl ocaceae S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . Li thocarpus el egans (B l . )D C . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type P ri m ary forest Forest H i ght S peci es Fam i l y H am am el i daceae Al ti ngi a excel sa N orona Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . ) Korth. ) M ez Laul aceae Li tsea cubeba (Lour.H artl ey A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l . D om i n. Fagaceae C astanopsi s argentea (B l . Euphorbi aceae Gl ochi di on rubrum B l . )D C . H am am el i daceae Al ti ngi a excel sa N orona M yrsi naceae R apanea hassel ti i (B l . R utaceae M el i cope l ati fol i a (D C . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y マンサク科 ○ ツバキ科 ○ ブナ科 ト ウダイグサ科 ウコ ギ科 クワ科 ブナ科 ブナ科 ○ ト ウダイグサ科 ミ カン科 ウコ ギ科 ハイノ キ科 ○ ツバキ科 ○ マンサク科 ヤブコ ウジ科 クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ノ ボタ ン科 クワ科 ○ ○ ボタ ン科 M el astom ataceae ノ ○ ○ 29 1250 20 m ary 30 1300 P ri 20-25 sturbed 31 1360 N atruraldi 10-15 M el astom a syl vati cum B l .ex S cheff. ) T. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . G . ) Korth. M oraceae Fi cus del toi dea Jack Em erg. ) H atus.Lampiran 2. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . )O . ) P ers. A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l .ex S oepadm o Fagaceae Euphorbi aceae A nti desm a tetrandrum B l . f. M el astom ataceae A stroni a spectabi l i s Bl . )O . K. Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . M oraceae Fi cus padana B urm . 61 . ) Korth. K.

S akai& N agam .A rg.I w an C om m ent WP Al t Forest type N P G ate Javana S pa G rassl and Forest H i ght S peci es Fam i l y J-Fam i l y Em erg. )R.R i ch. C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch.ex B l . ) M uel l .I sm ai l . Zi ngi beraceae Etl i ngera cocci nea (B l . ) Korth. A qui fol i aceae Fi cus padana B urm . ) Korth. Land data of Gunung Salak (Cang Kaung route) G nung S al ak vegetati on C ang Kuang R oute 2008/3/12 D ate M em bI chi kaw a.R obi nsonC om posi Euphorbi aceae M acaranga rhi zi noi des (B l . f.C . Eurya acum i nata D C . M usaceae M usa acum i nata C ol l a tae C hrom ol aena odorata (L.A rg. ) L. W ei nm anni a bl um ei P l anch. S ma l l Pi oneer other 37 38 39 1127 1165 1221 40 and 1250 G rassl 41 sturbed 1304 N aturaldi A raucari aceae 15-20 A gathi s dam m ara (Lam b. Theaceae Eurya acum i nata D C . Euphorbi aceae A recaceae C unoni aceae S axi fragaceae Theaceae ナンヨ ウスギ科 ツバキ科 クノ ニア科 ウコ ギ科 ツバキ科 クノ ニア科 クワ科 ツバキ科 モチノ キ科 ト ウダイグサ科 ショ ウガ科 バショ ウ科 キク科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 クノ ニア科 クワ科 ツバキ科 マメ 科 ト ウダイグサ科 ヤシ科 クノ ニア科 ユキノ シタ 科 ツバキ科 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ RDB ○ ○ ○ 62 . M oraceae Fi cus fi stul osa R ei nw .ex B l . ) M uel l . Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . A ral i aceae A rthrophyl l um di versi fol i um B l . )Ni el sen 42 sturbed 1358 N atyraldi Gl ochi di on arborescens Pi nanga j avana B l . Euphorbi aceae M acaranga tri l oba (R ei nw .Ki ng & H . M oraceae Fi cus padana B urm .A rg. Theaceae Eurya acum i nata D C . P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. Fabaceae P arasari anthes fal catari a (L.Lampiran 3. M . D om i n. ) S . f.

Fi cus fi stul osa R ei nw . )D C . D ysoxyl um densi fl orum (B l . )O . ) C hoi sy O m al anthus popul neus (G ei sel ) P ax A cer l auri num H assk.A rg. 63 . G ynotroches axi l l ari s D ysoxyl um densi fl orum (B l .Lampiran 3. )D C . M usa acum i nata C ol l a P andanus furcatus R oxb.ex B l . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y S ym pl ocaceae M el astom ataceae M oraceae A cti ni di aceae A recaceae Euphorbi aceae Em erg. C astanopsi s tungurrut (B l . 20-25 Q uercus l i neata B l . A stroni a spectabi l i s Bl . ) M uel l . A stroni a spectabi l i s Bl . 30-35 C astanopsi s argentea (B l .S chum .ex B l . M acaranga tri l oba (R ei nw . S ym pl ocos odorati ssi m a (B l . A stroni a spectabi l i s Bl . K.ex M art. M acropanax di sperm us (B l . )M i q. Q uercus l i neata B l . Sl oanea si gun (B l ) K. S chi m a w al l i chi i (D C . )D C . A rdi si a ful i gi nosa B l . C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . C astanopsi s argentea (B l . )M i q. S ma l l Pi oneer J-Fam i l y ハイノ キ科 ノ ボタ ン科 クワ科 ○ マタ タ ビ科 ヤシ科 ト ウダイグサ科 バショ ウ科 M usaceae P andanaceae タ コ ノ キ科 Fagaceae ブナ科 ○ Fagaceae ブナ科 Fagaceae ブナ科 ○ M el astom ataceae ノ ボタ ン科 Theaceae ツバキ科 R hi zophoraceae ヒ ルギ科 M el i aceae センダン科 ○ S ym pl ocaceae ハイノ キ科 ○ Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 A ceraceae カエデ科 El aeocarpaceae ト ウダイグサ科 Fagaceae ブナ科 ○ Fagaceae ブナ科 ○ S axi fragaceae ユキノ シタ 科 M el astom ataceae ノ ボタ ン科 M el i aceae センダン科 ○ A ral i aceae ウコ ギ科 ○ M yrsi naceae ヤブコ ウジ科 ○ C yatheaceae ヘゴ科 other 43 m ary 1382 P ri 44 sturve 1403 N aturaldi S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . C aryota rum phi ana B l . S auraui a bracteosa D C . D om i n. ) Korth.

7 30. 8 0. 8 42 29 42 23. 6 47. Altitude data of WP 32-35 were measured by barometer. 4 20. 2 25. 6 39. 7 acc * * * * P asi r reungi t Al t D ate 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 C ang K uang Al t D ate 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 acc: ti me 9: 57 10: 26 10: 46 11: 34 12: 07 12: 55 WP 25 26 27 28 29 30 1045 1101 1150 1200 1247 1302 D 6 6 6 6 6 6 Lat M 41 41 42 42 42 42 S 6. 5 The accuracy of GPS data were usually 10 15m. 9 53. 4 17. 1 27. 2 10. 9 1. Since the satellite condition. 6 25. 2 16. 9 50. 7 49. 1 55. 8 42 35. 6 Lat D M 6 6 6 6 6 6 6 6 44 44 44 44 44 44 43 43 S 46. 5 57. 1 42 54. 2 20. 4 35. 64 . 1 55 50. 1 24. 8 D 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 Lon M 45 45 45 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 S 26 9 3. 1 35. 9 42 30. 1 32. 6 7. 3 45 43. 8 45. 8 11. 3 1 13. 7 D 106 106 106 106 106 106 106 106 ti me 8: 27 9: 02 9: 20 9: 31 9: 45 10: 03 10: 25 11: 38 WP 37 38 39 40 41 42 43 44 1127 1165 1221 1250 1304 1358 1382 1403 Lon M S acc 42 52. 6 43. 9 48. 6 57. The location of ground survey point Ci m al ati Al t D ate 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 ti me 9: 53 10: 35 10: 46 11: 09 11: 23 11: 38 12: 00 12: 52 13: 11 9: 23 9: 53 10: 29 11: 09 12: 08 WP 5 15 17 19 20 21 22 23 24 32 33 34 35 36 890 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1519 1615 1705 1825 D 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 Lat M 44 44 44 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 S 33. 5 39.Lampiran 4. 3 25. 3 D 106 106 106 106 106 106 Lon M 41 41 41 42 42 42 S acc 34. 5 40. 2 47. 1 40. 7 30. 5 42 40. 8 42 48. 9 19.

Halimun1 + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Salak2 + Plot3 Dimanfaatkan4 + + + ACERACEAE ACTINIDACEAE + + AGAVACEAE ALANGIACEAE AMARANTHACEAE ANACARDIACEAE ANNONACEAE APIACEAE APOCYNACEAE + + 65 . Mangifera indica L. Wiriadinata (19). Goniothalamus macrophyllus (Bl.) Bl. Cordyline fructicosa (L. Orophea hexandra Bl. Chev. Acer laurinum Hassk. Semecarpus heterophylla Bl. 2) Tim JICA dan tim Puslit Biologi.f. & H. 3) Plot gunung Salak. Mangifera foetida Lour.) Bl. Strobilanthes repanda Bl. Gendarussa vulgaris Nees Hemigraohis javana Pseudoranthenum acuminatissimum (Miq. Strobilanthes paniculata (Nees) Miq.) A. Cyathula prostrata (L. Saurauia cauliflora DC Saurauia nudiflora DC Saurauia pendula Bl. Alstonia scholaris (L.) Hook.) Urb.) Rehder Alangium javanicum Alangium rotundifolium (Hassk. 4) SUKU ACANTHACEAE Species Agrostema boragineum Dflugossa filiformis (Bl. Straurogyne bibracteata Bl.) O.) Bremek.) Radlk. Saurauia reinwardtiana Bl. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat di kawasan gunung Halimun dan gunung Salak.Lampiran 5.) King Polyalthia subcordata (Bl.& Thoms.) R.Br.) Bloem. Saurauia bracteosa DC. Alstonia spectabilis Alyxia reinwardtii Bl. Straurogyne elongata (Bl. E. Centela asiatica (L. Alangium chinense (Lour.: 1) Mirmanto.K Strobilanthes blumei Bremek Strobilanthes cernua Bl. Ket.) Bremek. Sericocalyx crispus (L. Gluta renghas L.) Bl. Buchanania arborescens (Bl. Achyranthes aspera L. Polyalthia lateriflora (Bl.

Caladium bicolor (W. Alocasia longiloba Miq. Typonium sp. Scindapsus pictus Hassk. Anadenrum microstachyum (Miq.) Miq.) O.f Homalomena pendula Pothos sp.C. Macropanax concinnus Miq. Scindapsus hederaceus (Zoll. Macropanax dispermum (Bl.) Harms.) Zoll. Calamus reinwardtii Bl. Schefflera lucida (Bl. Schismatoglottis calyptrata (Roxb. Homalomena cordata Schott. Tylophora villosa Bl. Homalomena humilis (Jack) Hook. Nenga pumila (Mart. & Mor. Licuala spinosa Thun.) Schott. Schefflera fascigiata (Miq. Caryota rumphiana Bl. Calamus rhomboideuss Bl.) Frodin Trevesia sundaica Miq.K. Raphidophora montana (Bl. Ait) Vent. Calamus heteroides Bl. Polyscias nodosa (Bl. Arum sp. Rich Calamus adspersus Bl.) Back.) Miq. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 66 . Anthurium andreanum Linden Arisaema filiformis Bl. Voacanga grandiflora Willubeia apiculata Ilex cymosa Bl. Caryota mitis Lour. Agathis dammara (Lamb. & Mor.APOCYNACEAE AQUIFOLIACEAE ARACEAE ARALIACEAE ARAUCARIACEAE ARECACEAE Chilocarpus suaveolens Bl.) L. Kopsia arborea Melodinus orientalis Bl. Calamus javensis Bl. Schefflera aromatica (Bl. Daemonorops melanochaetes Bl. Raphidophora korthalsii Schott.) Wendl. Arthrophyllum diversifolium Bl. Calamus ciliaris Bl.) Seem.

Impatien chonoceras Hassk. Ageratum conyzoides L. Pinanga javana Bl. Robinson Clibadium surinamense L. Hoya multiflora Bl. Impatien platypetala Lindl.B. ex Mart) Bl. Elephantopus scaber L.f. Erechtites valerianifolia Erigeron sumatrensis Retz.) S.) Hassk. Begonia multangula Bl. Begonia bracteata Jack Begonia isoptera Dryand.ARECACEAE ARISTOLOCHIACEAE ASCLEPIADACEAE ASTERACEAE Pinanga coronata Bl.) D. Impatien javensis (Bl.) R. + + + + + + + + + + + + + + 67 . Moore Eclipta alba (L.M.) Steud.ex Bl Aristolochia sp. Eupatorium inulifolium H. Begonia longifolia Bl.C. Discidia punctata (Bl. Sphaeranthus indicus L. Eupatorium odoratum Eupatorium riparium Reg.f.) D. Impatien walleriana Hook. King & H. Bidens biternata Blumea balsamifera (L. Blumea lacera (Burm.) Decne Discidia rumularifolia Discidia truncata Decne Hoya Hoya macrophylla Bl.K. Plectocomia elongata Mart.C. Crossocephalum crepidioides (Bth. Eupatorium triplinerve Vahl Mikania micranta Sonchus arvensis L. Spilanthes acmella Spilanthes iabadicensis + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + ATHYRIACEAE BALANOPHORACEAE BALSAMINACEAE BEGONIACEAE Vernonia arborea Buch-Ham Diplazium bantamense Diplazium cordifolium Balanophora globosa Jungh. Chromolaena odorata (L.

Viburnum lutescens Bl. Burmania lutescens Becc.) Hall.) Loes. COMBRETACEAE COMMELINACEAE Terminalia microcarpa Decne Commelina diffusa Burm. CELASTRACEAE CHLORANTACEAE CLUSIACEAE Euonymus javanicus Bl. Neesia altisima (Bl.Begonia muricata BEGONIACEAE BLECHNACEAE BOMBACACEAE BURMANIACEAE BURSERACEAE CAMPANULACEAE CAPPARACEAE CAPRIFOLIACEAE Begonia robusta Bl. Trichosantes villosa Bl.f. Mastixia pentandra Bl. Blechnum orientale L. Zehneria indica CUNNONIACEAE Weinmania blumei Planch. Canarium denticulatum Lobelia angulata Forst. Viburnum coriaceum Bl. Nyssia javana (Bl.Gray Trichosantes sumatrana Cogn. Mastixia trichotoma Bl. Commelina paludosa Bl Forrestia mollissima (Bl. Trichosantes quinquangulata A. CUCURBITACEAE Sechium edule (Jacq. Capparis cantoniensis Lour. Trichosantes tricuspidata Lour. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 68 .) Bl.) Kds. Viburnum sambucinum Bl. ex Link Sarcandra glabra Calophyllum soulattri Garcinia celebica L.) Swat Trichosantes ovigera Bl. Chloranthus elatior R. Perrottetia alpestris (Bl. Garcinia sp. Pollia hasskarlii Rolla Rao CONVOLVULACEAE CORNACEAE Ipomoea aquatica Forsk Merremia umbellata (L. Garcinia diodica Bl.Br.f.) Wang.f.

Blumeodendron tokbrai (Bl. Elaeocarpus sphaericus (Gaertn. & B. Fimbristylis sp. Cyathea rachiborskii + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + CYPERACEAE Carex baccan Nees Cyperus kyllinga Endl. Scleria melanostema Scleria pubescens Scleria pubescens DAPHNIPHYLLACEAE DILLENIACEAE DIOSCOREACEAE Daphniphyllum glaucescens Bl. Hypolytrum humile (Steud. Sloanea sigun (Bl. Dioscorea numularia Lmk. Kylinga monocephala Rottb. & V. Aporusa frutescens Aporusa sphaeridophora Merr. Scleria laevis Retz.) Copel.) K. Antidesma tetandrum Bl. Hypolytrum nemorum (Vahl) Spreng.Schum DIPTEROCARPACEAE EBENACEAE ELAEAGNACEAE ELAEOCARPACEAE + ERICACEAE Rhododendron javanicum (Bl.CYATHEACEAE Cyathea contaminans (Wall. Elaeocarpus stipularis Bl. + + 69 . Rhododendron malayanum Jack Rhododendron sp. Gahnia javanica Zoll ex Mor.) Kurz.) K. Breynia microphylla (T. Elaeocarpus ascronodia Master Elaeocarpus oxypyren K. Cyathea junghuhniana (Kuntze) Copel. Schum.) Burck. Antidesma montanum Bl. Elaeocarpus petiolatus (Jack) Wall. Dipterocarpus hasseltii Diospyros buxifolia Elaeagnus latifolia L. Dillenia javanica Tetracera indica Dioscorea alata L.A. EUPHORBIACEAE Antidesma minus Bl.) M.) Benn.

) Hook. Glochidion molle Bl. 70 .f.A. Croton laevifolius Bl. Macaranga triloba (Reinw. Glochidion philippicum Glochidion rubrum Glochidion rubrum Bl.0 Roxb.) MA Macaranga tanarius (L. Claoxylon glabrifolium Miq.EUPHORBIACEAE Bridelia glauca Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + FABACEAE Abrus precatorius L.A. Albizia falcataria (L. Archidendron fagifolium Calliandra calothyrsus Meissn Calliandra tetragona Dalbergia tamarindifolia Erythrina orientalis Milletia dehiscens Milletia sericea Mimosa pigra Mimosa pudica Parasarianthes falcataria (L.f. ex Bl. Sauropus androgynus (L. f. Arg. Pithecellobium ellipticum (Bl. Macaranga rhizinoides Macaranga rhizinoides (Bl. Bridelia minutiflora Hook. Phyllanthus niruri L. Omalanthus populneus Zoll. Ostodes panniculata Bl.) Fosberg Archidendron clypearia (Jack) Niels. & Mor. Mallotus paniculatus (Lamk) Muell.) M. Phyllanthus urinaria L.) M. Glochidion arborescens Bl.) Hassk. Glochidion sericeum (Bl. Pimeleodendron pavorioides Sapium seliferum (L. Claoxylon polot (Burm.) Nielsen Parkia intermedia Hassk.) Merr.) Merr.

) DC. GNETACEAE HAMAMELIDACEAE HYPERICACEAE Gnetum cuspidatum Altingia excelsa Noronha Cratoxylum sumatranum 71 .) Rehd.f. Sphatolobus littoralis Hassk.) Hatus.Br. Didymocarpus zollingeri (Clarke) O. Pangium edule Reinw. Camus Lithocarpus elegans (Bl.D. Casearia velutina Flacourtia rukam Zoll. Aesynanthus radicans Jack Agalmyla parasitica (Lamk) O.) DC.) Bakh. Castanopsis argentea (Bl. GENTIANACEAE GESNERIACEAE Gentiana quadrifaria Bl. Cyrtandra pendula Bl. Cyrtandra sandei De Vr.) A.C. Cyrtandra sulcata Bl. Quercus lineata Quercus pyriformiv Steen. Quercus gemelliflora Bl. ex Soepadmo Lithocarpus spicatus Lithocarpus sundaicus (Bl.FABACEAE Pterocarpus indicus Willd.) A.) DC Castanopsis javanica (Bl.) Rehd. Cyrtandra coccinea Cyrtandra glabra Cyrtandra oblongifolia Bth. Sphatolobus ferruginensis Bth.K. FERNS FLACOURTIACEAE Oleandra pistilaris Pteridium aquilinum Casearia tuberculata Bl. Castanopsis tungurrut (Bl. & Mor. Didymocarpus asperifolia (Bl. Cyrtandra rostrata Bl.K. Aesynanthus horsfieldii R. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + FAGACEAE Castanopsis acuminatissima (Bl. Lithocarpus teijsmanii (Bl. Lithocarpus daphnoides (Bl. ex Hk. Cyrtandra picta Bl.

Litsea noronhae Bl. Litsea tomentosa Bl.) Merr. Litsea mappacea (Bl. Litsea resinosa Bl. Neolitsea trilivervia (Bl. Litsea grandis Litsea javanica Bl.) Bl.) Boerl. Leea indica Burm.) Merr Nothaphoebe coriacea Persea rimosa (Bl. Lindera bibracteata (Nees) Boerl. Engelhardia spicata Lesch. Litsea elliptica Bl. Gomphandra javanica (Bl.) Kosterm. Anisomeles indica (L.) O. Litsea accendens Litsea cubeba (Lour. Orthosiphon grandiflorus Bold.) Val. Stemonurus secundiflorus Bl. + + + + + + + + + + + IRIDACEAE JUGLANDACEAE LAMIACEAE Trimeza martinicensis (L. Disporum cantoniense (Lour.HYPOXIDACEAE ICACINACEAE Curculigo orchimoides Gaertn. Cinnanomum sintoc Bl.) Pers. ex Kurz Pleomele angustifolia 72 . Platea excelsa Bl.) Kosterm. Platea latifolia Bl. Molineria capitulata (Lour.) Boerf. LECYTHIDACEAE LEEACEAE LILIACEAE Planchonia valida (Bl. Litsea diversifolia Bl. Dianella javanica (Bl. Litsea ferruginea Bl. Molineria latifolia Herb.) Bl.) Herb.K. Neolitsea cassia (L. ex Bl. Plectranthus galeatus Scutellaria discolor + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + LAURACEAE Beilschmiedia madang (Bl.f Leea rubra Bl.) Herb.) Kth. Litsea tuberculata (Bl.

Memecylon excelsum Bl. Melastoma affine D. Memecylon myrsinoides Bl. Memecylon oleaefolium Bl. Marumia muscosa Bl.Forst. Fagraea lanceolata Bl. Manglietia glauca Bl. Pachycentria sp. Fagraea elliptica Roxb.) K. Don. Medinilla speciosa Reinw.LILIACEAE LOBELIACEAE LOGANIACEAE Pleomele elliptica Lobelia sp.K. Geniostoma arborescens (Reinw. Medinella exima Bl. 73 . MELASTOMATACEAE Astronia spectabilis Bl. Agiopteris evecta Hoffm. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MAGNOLIACEAE Magnolia candolii Bl. Dissochaeta reticulata Bl.ex Bl. Fagraea fragrans Bl. Don Melastoma malabathricum L. Michelia montana Bl. Marantha arundinacea Tuss. Omphalopus fallax (Jack) Naud. Dissochaeta gracillis (Jack) Bakh.f. Creochiton bibracteata (Bl. Clidemia hirta D. Medinella sp. Triumfetta rhomboidea Urena lobata MARANTHACEAE Donax cannaeformis (G.) Kurz Sida acuta Sida rhombifolia L.) Bl. Don Melastoma polyanthum Melastoma sylvaticum Bl.) O. MALPHIGIACEAE MALVACEAE Hiptage benghalensis (L. Medinella laurifolia Bl.Schum.) Bl. Dissochaeta leprosula (Bl. Melastoma normale D.

Ficus padana Burm. Stephania capitata (Bl.) Spreng.) Merr. ex Bl. Artocarpus integra Ficus alba Reinw.f. Ficus grosullarioides Ficus involucrata Bl. Dysoxylum densiflorum (Bl. Stephania corymbosa (Bl.f. Ficus pisocarpa Ficus ribes Reinw. + + + + MENISPERMACEAE Fibraurea chloroleuca Perycampylus cauliflora (Miers) Diels Perycampylus glaucus (Lam. Dysoxylum excelsum Bl.f. Artocarpus gemeziana Wall. discolor MONIMIACEAE MORACEAE Kibara coriacea Artocarpus elasticus Reinw. Ficus ampelas Ficus aspericula Ficus deltoidea Jack Ficus elastica Nois ex Bl. Toona sureni (Bl. ex Bl. Ficus fulva Reinw. Stephania japonica var. Ficus fistulosa Reinw. Dysoxylum alliaceum Bl. Ficus sagitata Vahl. Ficus sinuata Thunb.) Merr. Melia azedarach Sandoricum koetjapi (Burm. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 74 . ex Bl. ex Trec.) Spreng. Rhodamnia sp. Sonerilla heterophylla Jack + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MELIACEAE Aglaia sp.) Burck. Ficus globosa Bl.MELASTOMATACEAE Pternandra azurea (Bl. Ex Bl. Ficus fulva Reinw.) Miq. Ex Bl. Ficus montana Burm.) Merr. Ficus lepicarpa Bl.

Horsfieldia irya Knema cinerea (Poir) Warb. Syzygium rostratum (Bl. Ardisia javanica Ardisia laevigata Bl.&V. ex Nees 75 . Syzygium suringarianum (K. Syzygium sp.) D.C.) Merr.) Merr & Perry Syzygium gracilis (Korth. Tristania sp. Knema laurina (Bl.) D. & Perry Decaspermum fruticosum J. Myrsine hasseltii Bl.& G.C.) Duthie Eugenia fascigiata Eugenia pycnantum Syzygium antisepticum (Bl.) Warb.) Warb.R.) Amrh.) D. Maesa latifolia (Bl. Myristica guatteriifolia DC Ardisia crispa (Thunb) DC.Vill. + NEPENTHACEAE Nepenthes gymnophora Reinw. ex Scheff Rapanea hasseltii (Bl.) Amsh. Musa acuminata Colla Musa salaccensis Zoll.C. ex Scheff.) D. Maesa ramentacea Wall.) Amsh.Forst Eugenia densiflora (Bl. Horsfieldia glabra (Bl. Ardisia odotophylla Ardisia pendula Mez Ardisia sanguinolenta DC Labisia pumila (Bl.MORACEAE MUSACEAE MYRISTICACEAE Ficus variegata Bl.) Mez + + + + + + + + + + + + + MYRSINACEAE + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MYRTACEAE Cleistocalyx operculata Merr.) F. Syzygium syzygioides (Miq. Myrsine avensis (Bl. Ardisia fuliginosa Bl.C. Poikilospermum suaveolens (Bl. Syzygium lineatum (Bl.) Merr & Perry Syzygium polyanthum Syzygium racemosum (Bl.

Olea javanica (Bl.) Knobl. Apostasia nuda Appendicula alba Appendicula buxifolia Appendicula congenera Appendicula cornata Appendicula cristata Appendicula pendula Appendicula ramosa Bl.S Bulbophyllum aliifolium Bulbophyllum cernuum (Bl.Sm.J.) Lindl. Bulbophyllum macranthum Bulbophyllum obtusipetalum Bulbophyllum odoratum Bulbophyllum ovalifolium Bulbophyllum pahudii Bulbophyllum petiolatum Bulbophyllum scotifolium Bulbophyllum stelis Bulbophyllum unguiculatum Bulbophyllum violaceum Bulbophyllum xylocarpi Calanthe abbreviata 76 . + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + ONAGRACEAE ORCHIDACEAE Ludwigia linifolia Vahl.OLEACEAE Chionanthus montanus Bl. Appendicula reflexa Arundina graminifolia Bulbophyllum Bulbophyllum absonditum J.) Andr. Bulbophyllum elongatum Bulbophyllum flavescens Bulbophyllum flavidiflorum Bulbophyllum lobbii Lindl.f. Agrostophyllum bicuspidatum Agrostophyllum denbergii Agrostophyllum laxum J. Chionanthus ramiflorus Jasminum multiflorum (Burm.J.

J. Dendrochilum brachyotum Dendrochilum cornutum Bl.) O.) Pfitz.K. Coelogyne fuliginosa Coelogyne longifolia Lindl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 77 .) Lindl. Eria flavescens (Bl. Dendrobium lobulatum Dendrobium mutabile Dendrobium pandaneti Dendrobium paniferum Dendrobium reflexitepalum J.S. Dendrochilum exalatum Dendrochilum pallideflavens Dilochia wallichii Lindl. Coelogyne miniata Coelogyne simplex Coelogyne speciosa Corybas pictus (Bl. Dipodium scandens Disperis javanica Eria biflora Eria erecta (Bl. Ceratostylis capitata Ceratostylis subulata Chelonistele sulphurea (Bl. Dendrobium spathilingue Dendrobium tenellum (Bl. Cymbidium pubescens Lindl.) Lindl. Cryptostylis arachnites Cymbidium ensifolium Cymbidium lancifolium Hook.ORCHIDACEAE Calanthe orchimoides Ceratochilus biglandulosus Bl. Dendrobium tetraede Dendrochilum aurantiacum Bl. Dendrobium aloifolium Dendrobium crumenatum Dendrobium excavatum Dendrobium hymenophyllum Lindl.) Lindl.

Liparis compressa Liparis gibbosa Liparis pallida (Bl.J. Malaxis koordersii Malaxis ridleyi Micropera callosa Microsaccus affinis Nephelaphyllum pulchrum Nephelaphyllum tenuiflorum Bl. Ait.ORCHIDACEAE Eria junghunii Eria lobata Eria oblitterata Eria robusta Eria tenuiflora Erythrodes brevicalcar Eulophia nuda Lindl.) Lindl. Pholidota imbricata Pholidota pallida Plocoglottis javanica Bl. Podochilus muricatus Podochilus serpyllifolius (Bl.) Lindl. Podochilus tenuis Polystachya concreta + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 78 . Pholidota globosa (Bl.) Lindl.) Lindl. Oberonia imbricata Oberonia microphylla Oberonia similis Octarrhena parvula Phaius flavus (Bl. Liparis rheedii Macodes petola (Bl. Phaius tankervillae (W. Lecanorchis javanica Lecanorchis multiflora Lepidogyne longifolia Liparis bilobulata J.) Bl.) Bl.S.) Lindl. Flickingeria fimbricata Goodyera reticulata (B.

PINACEAE PIPERACEAE Pinus merkusii Jungh. Piper caninum Bl. Pandanus nitidus Pandanus tectorius Soland. & De Vriese Peperomia laevifolia (Bl. Peperomia tetraphylla (Forst.J. ex Arn.S.f. Trichotosia ferox Trichotosia pauciflora Vanda tricolor Lindl. Passiflora quadrangularis L. Piper aduncum L. ex Park. Freycinetia javanica Bl. Spathoglottis aurea Spathoglottis plicata Bl. Oxalis corniculata L. Spiranthes sinensis Tainia elongata J. Freycinetia angustifolia Bl. Thrixspermum anceps Thrixspermum conigerum Thrixspermum pensile Thrixspermum purpurascens Thrixspermum squarrosum J. Piper nigrescens Piper retrofaractum 79 . + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + OXALIDACEAE PANDANACEAE PASSIFLORACEAE Passiflora edulis Sims.) Hook. Freycinetia sp.) Miq.S. Passiflora foetida L. Freycinetia insignis Bl. Pandanus furcatus Roxb.J.ORCHIDACEAE Pteroceras compressum Pteroceras fraternum Renanthera matutina Robiquetia spathulata Saccolobium rantii Saccolobium sigmoideum Sarcostoma javanica Schoenorchis juncifolia Bl.

f. ex Wendl.E.Br.ex Schult. Polygala venenosa Juss. Pittosporum ramiflorum (Z. Podocarpus neriifolius D.K. Dinochloa scandens (Bl.) Gaertn.) Miq. Dendrocalamus asper (Schult. Pogonatherum paniceum (LamHack. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + PODOCARPACEAE Dacrycarpus imbricatus (Bl.) Bl.) Widjaja Gigantochloa robusta Kurz Imperata cylindrica var major C.&M.) O.) de Laub Polygala paniculata L.K. Helicia robusta (Roxb. Plantago mayor L. ex Nees) O.) Kurz Gigantochloa atroviolacea Widjaja Gigantochloa hasskarliana (Kurz) Backer ex Heyne Gigantochloa pseudoarundinacea (Steud. Hubb. 80 . Paspalum longifolium Roxb. ex Miq. ex Heyne Digitaria sanguinalis Scov.f.) Back. Isachne alben Isachne pangerangensis Z.) Stapf. Axonophus compressus Bambusa vulgaris Schrad. ex Wall Helicia roxbughii (R. ex Poir Xanthophyllum excelsum POLYGALACEAE POLYGONACEAE PROTEACEAE Polygonum chinensis L.Don Prumnopytis amara (Bl. Lopathorium gracile Oplismenus compositus Paspalum conjugatum Berg.PITTOSPORACEAE PLANTAGINACEAE POACEAE Pittosporum moluccanum (Lmk.) R. Thysanolaena maxima (Roxb. Eleusine indica (L. Podocarpus imbricatus Bl.k) Schizostachyum blumei Nees Schizostachyum brachycladum Kurz Schizostachyum ireten Steudel Setaria palmifolia (Willd.) Zoll.) de Laub. Gigantochloa apus (Bl. & M.Br.

) Bl.) Brem. Lasianthus oculuscati Bl. Ixora javanica Ixora salisifolia Lasianthus constrictus Wight. ex DC Argostemma uniflorum Bl. Smith + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + RHIZOPHORACEAE ROSACEAE RUBIACEAE Argostemma borragineum Bl. Neocauclea clycina (Bartl.) Merr.) Mrr.PROTEACEAE RANUNCULACEAE RHAMNACEAE Helicia serrata (R. Nertera granadense 81 . Rubus elongatus Smith Rubus mollucanus L. Lasianthus inodorus Bl. Lasianthus stercorarius Bl.Br. Lasianthus reticulatus Bl. ex Korth. Maschalocorymbus corymbosus (Bl. ex DC Argostemma montanum Bl. Lasianthus purpureus Bl.) Reinw. Maesopsis enemii Ziziphus javanensis Bl. Muell. Thalictrum javanicum Bl.) Kalkm. Rubus rosaefolius J. Gynotroches axillaris Bl. Lasianthus rhinocerotis Bl. Prunus arborea (Bl.) Miq. Prunus gricea (C. Prunus javanica (T. Neonauclea obtusa (Bl. Lasianthus laevigatus Bl.E. Mycetia cauliflora Mycetia javanica (Bl. ex DC Borreria laevis (Lamk) Griseb. Diodia ocymifolia Bremek Geophila repens Hedyotis rigida Hypobathrum frutescens Bl. Pygeum latifolium Miq. Musaenda frondosa L. & B. ex DC. Lasianthus lucidus Bl.) Kalkm.

Uncaria gambir Roxb. Wendlandia glabrata DC + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + RUTACEAE Acronychia laurifolia Bl. Saprosoma arboretum Bl. Arytera Sp. Acronychia pedunculata (L.) Kurz. Planchonella nitida 82 . Psychotria montana Bl. Psychotria sarmentosa Bl. & V. Uncaria glabrata (Bl.) DC Uncaria pedicelata Urophyllum arboreum (Reinw. & B.) K.ex Bl. Randia schoemannii (T.) Bl.G. Otophora alata Bl.) Miq Euodia glabra (Bl. Pometia pinnata forma glabra (Bl. Psychotria robusta Bl. & B. Lepisanthes tetraphylla Mischocarpus frutescens Bl.) Bakh Randia wallichii Hook. Timonius seriaceus (Desf. Mischocarpus sundaicus Bl. Sch.RUBIACEAE Ophiorrhiza junghunii Pavetta indica L. Nephelium juglandifolium Bl. Hartley Ruta oppositifolia SABIACEAE SAPINDACEAE Meliosma lanceolata Bl. ex Bl. Timonius timon (Spreng) Merr. Euodia latifolia DC Melicope latifolia (DC. ) Korth Urophyllum corymbosum Urophyllum glabrum Wall. Tarenna fragrans (Bl.) T. f. Pavetta montana Reinw.) K.) Jacobs Pometia pinnata forma tomentosa SAPOTACEAE Payena leerii (T. Psychotria curviflora Wall.

) Hassk. Pyrenaria serrata Bl. URTICACEAE Elattostema nigrescens Miq. Solanum verbascifolium Bl. Gironniera subaequalis Planch.f. Turpinia sphaerocarpa Hassk. Schima wallichii (DC.) Korth. Polyosma integrifolia Bl. Gordonia excelsa (Bl. STAPHYLIACEAE Turpinia montana (Bl.SAXIFAGRACEAE SCROPHULARIACEAE Polyosma illicifolia Bl. Lindernia sp. Trema orientalis (L. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + SOLANACEAE Lysianthes laevis Lysianthes lysimachioides Physalis minima L.) Bl. Smilax macrocarpa Bl. Eurya glabra (Bl. Smilax zeylanica L. Torenia asiatica + + + + + + + + SELAGINELLACEAE SMILACACEAE Selaginella plana Smilax leucophylla Bl. 83 . Elattostema sinuatum (Bl.) S. Gonystyllus macrophyllus (Miq.) Bl.) Airy Shaw Celtis timorensis Span. Commersonia bartramina Sterculia coccinea Jack Sterculia subpeltata STEMONACEAE STERCULIACEAE SYMPLOCACEAE Symplocos cochichinensis (Lour.) Kurz. Moore Symplocos fasciculata Zoll.) Thun. Ternstroemia japonica (Thun. Laplacea integerrima Miq.) Gilg. Stemona javanica (Kth. Picria felterrae Lour. Symplocos odoratissima (Bl.) Piere THYMELAEACEAE ULMACEAE Daphne composita (L.) Chaisy THEACEAE Eurya acuminata DC.) Engl.) Korth. Ternstroemia lanceolata Thea lanceolata (Bl.

Tetrastigma glabratum (Bl. Ampelocissus thyrsiflora Cissus discolor Bl. Cayratia japonica Clerodendrum laevifolium VERBENACEAE VITACEAE Lantana camara L.G.URTICACEAE Laportea stimulans (L.) Wedd. Procris pedunculata (Forst.) Miq. Etlingera punicea (RSm.Br. Brachychilum horsfieldii (R.) Miq. Costus speciousus (Koen. Alpinia galanga (L.) O.) Planch. Villebrunea rubescens Bl.) J. Alpinia robusta Alpinia scabra Bl. Ex Wall..) Miq. Pilea angulata (Bl.) Planch. Tetrastigma lanceolarium (Roxb. Ex Miq.E. Pterisanthes cissoides Bl. Callicarpa longifolia Lamk.) Gagn. Cayratia geniculata (Bl. Smith Etlingera coccinea (Bl.) Bl. Tetrastigma papilissum (Bl. Pilea melastomoides (Poir. Vitex trifoliata L.) Swartz Alpinia javana Bl.) S.oxb. Etlingera solaris Globba marantina L. ZINGIBERACEAE Achasma foetus Val.) Bl. Sakai & Nagam. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + VACCINIACEAE Vaccinium bancanum Miq.) Planch.M.) R. Peters.) Gaud. Amomum compactum Soland. Vaccinium varingiaefolium (Bl. f. Vaccinium lucidum (Bl.f. ex Maton Amomum pseudopoetens Val. Pipturus sp. Procris frutescens Bl. Vaccinium sp. Vaccinium laurifolium (Bl. 84 .

+ + + + + + + + + 85 .) Horan.) Val. Nicolaia solaris (Bl. Hornstedtia pininga (Bl. Zingiber aromatica Val.) Val.ZINGIBERACEAE Globba pendula Hedichyum conorarium Hornstedtia paludoa (Bl.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful