BAB I PENDAHULUAN

Hutan alam dikenal sebagai suatu ekosistem yang stabil, dimana di dalamnya terjadi harmonisasi interaksi baik antar komponen biotik yang ada maupun antara komponen biotik dan abiotik. Dengan sendirinya, keberadaan komponen yang satu akan saling mempengaruhi keberadaan komponen yang lain. Keharmonisan proses ekologi yang demikian akan dengan cepat berubah ketika salah satu komponennya terganggu. Sejarah mencatat bahwa proses pengubahan hutan alam ke bentuk vegetasi lain oleh aktivitas manusia yang dimulai sejak ribuan tahun yang lalu merupakan sebuah contoh klasik tentang perubahan bentuk-bentuk ekosistem. Perubahan bentuk ekosistem ini meningkat dengan cepat sejak dekade tahun 1970an, ketika mulai diijinkannya penebangan pohon secara komersial, pelaksanaan program transmigrasi dan menjamurnya proyek-proyek hutan tanaman dan perkebunan. Sebagai akibat dari perubahan itu tidak mengherankan jika beberapa jenis sumberdaya biologinya mengalami kelangkaan, erosi genetika, karena tidak mengindahkan dan memperhatikan kaidah pelestariannya. Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budaya, pariwisata dan rekreasi. Oleh karena itu keberadaan Taman Nasional tidak bisa dipungkiri tidak saja sekadar memenuhi fungsi-fungsi tersebut di atas, akan tetapi juga sebuah kawasan yang menyimpan keanekaragaman hayati dan merupakan daerah tangkapan air. Gunung Salak merupakan kawasan yang masih menyimpan banyak misteri tentang kekayaan hayati beserta ragam pemanfaatannya. Sayangnya potensi ini telah banyak mengalami penyusutan seiring dengan laju kerusakan hutan yang diakibatkan berbagai kegiatan manusia atau bahkan berbagai kebijakan yang kurang mempertimbangkan kelestariannya. Untuk mengantisipasi kerusakan yang lebih parah, maka pada tahun 2003 kawasan Salak ditunjuk sebagai bagian dari kawasan taman nasional. Penjelajahan untuk mengungkap flora yang terdapat di kawasan Gunung Salak dianggap penting karena beberapa penelitian tentang flora fauna yang pernah dilakukan di kawasan hutan gunung Salak diantaranya, di daerah Awibengkok (Kartawinata et al.,1985), Cianten (Mirmanto, 1991) dan koridor antara G. Salak dan G. Halimun (Wiriadinata, 1997). Bahkan jauh sebelumnya, gunung Salak merupakan magnet bagi para ilmuwan botani, tercatat diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh seorang botanis berkebangsaan Swedia Claes Frederic Hornstedt (1758-1809), murid dari Thunberg, kemudian disusul Hornstedt pada tahun 1783, Reinwardt pada tahun 1817 (Steenis 2006). Sejauh ini data dan informasi yang dikumpulkan masih juga belum memadai jika dibandingkan dengan data dan informasi

1

yang terkumpul dari kawasan hutan gunung Halimun. Itulah sebabnya penelitian dirasa masih diperlukan untuk melengkapi data dan informasi flora dan fauna dari kawasan hutan gunung Salak. Penelitian mendasar dari aspek ekologi vegetasi, etnobotani, eksplorasi dan inventarisasi keanekaragaman jenis tumbuhan dan keterkaitannya dengan kondisi habitat diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya pengelolaan Taman Nasional Halimun Salak. Penelitian ekologi vegetasi dilakukan dengan menggunakan metode petak, sedangkan penelitian etnobotani dilaksanakan dengan menggali informasi dari masyarakat di sekitar lokasi penelitian. Untuk melengkapi data dan informasi keanekaragaman jenis tumbuhan dilakukan eksplorasi dan inventarisasi. Penelitian kali ini merupakan kegiatan bersama antara Pusat Penelitian Biologi LIPI dengan JICAGunung Halimun Salak National Park Management Project (GHSNPMP). Hasilnya diharapkan dapat disumbangkan dalam rangka membuat “guiden book” untuk menentukan arah dan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi Halimun – Salak yang melibatkan masyarakat.

TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan salah satu kawasan konservasi Indonesia yang berfungsi selain melindungi flora dan fauna unik yang ada di dalamnya juga mempungai fungsi lain yang tak kalah pentingnya yaitu sebagai pengatur tata air, pendidikan, penelitian, sumber plasma nutfah, pengembangan budidaya, rekreasi dan pariwisata. Dari pengertian tersebut tergambar bahwa betapa besar manfaat Taman Nasional sebagai pelayanan jasa. Awalnya kawasan ini merupakan Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) yang ditetapkan melalui SK Menhut No. SK 282/KptsII/Menhut/1992 tanggal 28 Februari 1992 dengan luas 40.000 hektar dan pada tanggal 23 Maret 1997 ditetapkan sebagai salah satu unit pelaksana teknis di Departemen Kehutanan. Seiring dengan tingginya proses degradasi hutan di Indonesia dan dengan adanya desakan parapihak yang peduli terhadap konservasi hutan, maka pada tahun 2003 kawasan hutan Gunung Salak, Gunung Endut, dan kawasan sekitarnya yang sebelumnya merupakan kawasan hutan produksi, hutan produksi terbatas dan hutan lindung yang dikelola oleh perum Perhutani selanjutnya dialih fungsikan menjadi kawasan konservasi melalui SK Menhut No. SK 175/Kpts-II/Menhut/2003 tanggal 10 Juni 2003 menjadi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dengan luas 113.357 ha. Kawasan TNGHS secara administratif

terletak di 2 (dua) propinsi yaitu Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten serta 3 kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Lebak. Kawasan TNGHS mempunyai ketinggian berkisar antara 500 – 2.211 mdpl. Topografinya

bergelombang, berbukit dan bergunung-gunung. Di sekitar kawasan TNGHS terdapat bukit memanjang mulai dari gunung Endut (di sebelah Barat) melintas gunung Kendeng (di kawasan Baduy) kemudian

2

perlahan menurun sampai ke gunung Honje dan semenanjung Ujung Kulon. Sedangkan di sebelah Timur berhubungan dengan gunung Gede Pangrango yang dipisahkan oleh sungai Citatih, sungai Cisadane dan jalan propinsi Ciawi – Sukabumi. Beberapa gunung yang ada di sebelah barat kawasan ini yaitu gunung Endut Barat (1.297 mdpl), gunung Pameungpeuk (1.455 mdpl), gunung Ciawitali (1.530 mdpl), gunung Kencana (1.831 mdpl), gunung Halimun Utara (1.929 mdpl), gunung Sanggabuana (1.920 mdpl), dan gunung Botol (1.850 mdpl). Sedangkan gunung-gunung yang terdapat di sebelah Timur Laut adalah gunung Kendeng Utara (1.377 mdpl), gunung Salak 1 (2.211 mdpl), gunung Salak 2 (2.180 mdpl), gunung Endut Timur (1.471 mdpl) dan gunung Sumbul (1.926 mdpl). Di bagian tenggara terdapat gunung kendeng Selatan (1.680 mdpl), gunung Panenjoan (1.350 mdpl), gunung Halimun Selatan (1.758 mdpl), Geologi kawasan TNGHS merupakan bagian dari deretan pegunungan Sumatra. Sebagian besar kawasan tersusun atas batuan vulkanik breksi, basaltik dan lava andesit dari periode Pleistosin dan beberapa strata dictic dari periode Prepleiosin (sekitar 10 – 20 juta tahun yang lalu). Berdasarkan peta tanah tinjau Jawa Barat, jenis tanah di daerah ini terdiri atas asosiasi andosol coklat dan regosol coklat, asosiasi latosol coklat dan latosol coklat kekuningan, latosol coklat kemerahan dan latosol coklat, asosiasi latosol coklat kemerahan dan laterit, komplek latosol coklat kemerahan dan lithosol, asosiasi latosol coklat dan regosol kelabu (LP Tanah, 1966). Bahkan Gunung Salak sampai saat ini masih berstatus gunung berapi strato type A dan tercatat terakhir meletus tahun 1938. Gunung Salak memiliki kawah yang masih aktif dan dikenal dengan nama Kawah Ratu. Menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson (1951) iklim di daerah kawasan TNGHS termasuk tipe A, dengan curah hujan tahunan sebesar 4.000 – 6.000 mm. Rata-rata curah hujan bulanan selalu > 100 mm, dengan bulan terkering (+ 200 mm) pada Juni sampai September dan terbasah (+ 550 mm) antara Oktober dan Maret, sehingga dapat digolongkan beriklim selalu basah (Kartawinata, 1975) dengan kelembaban udara rata-rata 88 %. Suhu rata-rata bulanan 31,5oC dengan suhu terendah 19,7oC dan suhu tertinggi 31,8oC. Vegetasi hutan di dalam kawasan TNGHS sangat bervariasi, baik berdasarkan ketinggian tempat maupun kondisi habitat setempat. Namun secara umum, berdasarkan permintakatan Steenis (1972) dapat dikelompokkan menjadi 3 mintakat, yaitu mintakat kaki pegunungan (collin), dengan ketinggian antara 500 dan 1000 m dpl, mintakat sub-pegunungan (1.000 - 1.500 m) dan mintakat pegunungan (1500 – 2400 mdpl). Sejauh ini data dan informasi flora dan fauna hutan gunung Halimun telah banyak diungkapkan melalui berbagai survei dan penelitian. Sayangnya hasilnya terserak dan tersebar di berbagai tempat dan besar kemungkinan belum terdokumentasi secara lengkap.

3

TNGHS merupakan salah satu Taman Nasional yang memiliki hutan pegunungan alami di Jawa yang sangat menarik. Kekayaan flora kawasan Gunung Halimun pernah dilakukan beberapa tahun lalu, diantaranya oleh Wiriadinata (1992). Ditinjau dari segi botani terutama taksonomi, kekayaan Flora Gn Salak sangat menarik karena merupakan salah satu ekotipe jenis-jenis tumbuhan yang pertama kali dipertelakan oleh Blume sekitar tahun 1825. Flora pegunungan yang masih tersisa umumnya berada pada ketinggian di atas sekitar 1500 -2000 m di atas permukaan laut, sedang bagian bawah umumnya telah berubah terbuka dan menjadi perladangan. Pengambilan kayu merupakan salah satu faktor yang cukup serius. Wilayah TNGHS terbagi ke dalam 26 kecamatan dan terdiri dari 106 desa. Jumlah penduduk di dalam dan sekitar kawasan lebih dari 250.000 jiwa. Pada umumnya masyarakat yang ada adalah

masyarakat Sunda yang terbagi menjadi masyarakat kasepuhan dan bukan kasepuhan.Masyarakat kasepuhan secara historis penyebarannya berada di kampung Urug, Citorek, Bayah, Ciptamulya, Cicarucub, Cisungsang, Sirnaresmi, Ciptagelar dan Cisitu. Masyarakat kasepuhan ini memiliki struktur kehidupan yang berbeda dengan masyarakat biasa. Bahasa yang umum digunakan adalah bahasa Sunda. Sedangkan agama pada umumnya adalah beragama Islam kecuali di beberapa wilayah kasepuhan masih menganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Kehidupan sehari-hari masyarakat di dalam dan sekitar TNGHS pada umumnya adalah di bidang pertanian seperti sawah, ladang, kebun, kebun talun dan talun. Beberapa ada juga yang berdagang baik di dalam masyarakatnya maupun keluar kampung dan desanya, bahkan ada yang keluar pulau Jawa. Pada masyarakat kasepuhan, pertanian dilakukan atas arahan pimpinannya baik tatacara tanam, jenis padi, maupun ritual ketika sebelum, saat menanam, hingga panen. Pesta panen dalam masyarakat kasepuhan terkenal dengan istilah Seren Taun yang sering dihadiri turis baik lokal maupun mancanegara karena keunikannya. Dalam hubungannya dengan hutan, masyarakat kasepuhan memiliki sistim yang bila dikaji memiliki kearifan tersendiri. Mereka memiliki konsep turun temurun untuk mengelompokkan hutan sesuai fungsinya yaitu leuweung titipan (hutan titipan), leuweung tutupan (hutan tutupan), leuweung sampalan (hutan bukaan). Interaksi mereka terhadap hutan sangat kuat. Mereka mengenal hampir 400 jenis tumbuhan dan satwa yang dipergunakan sehari-hari baik untuk bangunan, kayu bakar, makanan, obat-obatan maupun untuk keperluan ritual. Di salah satu bagian dari TNGHS, yakni sekitar Gunung Salak, telah hidup selama ratusan tahun masyarakat lokal. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya temuan arkeologis di sekitar Gunung Salak, seperti di kampung Cibalay, Bogor, terdapat situs arkeologis berupa punden berundak peninggalan masa lalu. Diantara jejak-jejak kehidupan masa lalu yang masih dapat kita saksikan adalah yang terdapat di desa Cibalai, Bogor, dan di desa Girijaya. Di desa Girijaya ini terdapat tiga buah batu megalitikum yang

4

Rute Cimalati dilakukan untuk mengetahui batas pegunungan rendah dan pegunungan atas. (3) daerah sekitar Pondok Bajuri. tipe hutan. jenis pohon menonjol disetiap titik pengamatan.). fisiognomi dan kondisi habitat.1. sehingga pengungkapan vegetasi dilakukan secara fisiognomi pada setiap perubahan ketinggian 50 . Hornstedt mengunjungi Gunung Salak pada tahun 1783. Masyarakat yang tinggal di sekitar gunung Salak masih memiliki kearifan tradisional dalam interaksinya dengan lingkungan. 5 . Di setiap sub-jalur dibuat petak-petak pencuplikan data berukuran 30 x 30 m2. Tempat ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Gusti. yaitu jalur/rute Cimalati. Hasil interaksi tersebut membangun konstruksi pemikiran masyarakat tentang Gunung Salak. Setelah itu disusul oleh Reinwardt yang mendaki dan melakukan ekplorasi botani di gunung Salak pada tahun 1817 (Steenis 2006). Sebanyak 6 petak dibuat di sepanjang sub-jalur ke arah puncak Salak-1. Penjelajahan jalur Cimalati dan Pasir Reungit dilakukan oleh short-term expert dari JICA. 2 petak disekitar pondok Bajuri.dianggap oleh masyarakat sebagai petilasan dari Eyang Santri. Dilain pihak.1). 3 petak di sepanjang subjalur menuju Kawah Ratu. Pasir Reungit dan Cangkuang (Gambar I. peta diperoleh dari image landsat 2004 dan IKONOS tahun 2004). dan (4) daerah sekitar Pos Kancil (Gambar I. Pada daerah yang sama juga telah dilakukan inventarisasi dan eksplorasi tumbuhan. tokoh penyebar Islam dan juga pejuang dari Solo pada abad ke 19 yang menetap dan tinggal di desa ini. hal ini bukan karena posisinya sebagai Taman Nasional melainkan juga karena memiliki keterkaitan yang erat dengan budaya dan tradisi setempat. Gunung Salak adalah salah satu magnet yang ada di Jawa. murid dari Thunberg. Bagi para ilmuwanpun.100 m. sedangkan jalur Cangkuang dilakukan bersama team gabungan short-term expert dari JICA dan tim dari Pusat Penelitian Biologi LIPI. jenis dominant. Tradisi tersebut didapat oleh masyarakat secara turun temurun. Pemilihan tempat pembuatan petak dengan pertimbangan perbedaan ketinggian. ilmuwan yang tercatat pernah melakukan penelitian diantaranya adalah seorang botanis berkebangsaan Swedia Claes Frederic Hornstedt (1758-1809). Dalam catatan sejarah. (2) ke arah Kawah Ratu. Lokasi Jelajah Daerah-daerah yang dijelajah meliputi 3 jalur. tim Pusat Penelitian Biologi melakukan koleksi dan inventarisasi serta studi ekologi pada jalur Cangkuang yang dibagi menjadi 4 sub-jalur. yaitu dengan mencatat ketinggian tempat (m dpl. Tim short-term expert dari JICA melakukan penjelajahan dalam waktu singkat. sehingga Gunung ini memiliki makna tersendiri bagi masyarakat. yaitu (1) ke arah puncak Salak-1. dan 1 petak di sekitar Pos Kancil.

Sedangkan desa Girijaya lebih pada pencarian dan penguatan akar tradisi Sunda. Kedua desa ini dipilih dengan pertimbangan merupakan desa yang paling dekat dengan Gunung Salak dan memiliki tipikal yang berbeda. yakni Desa Cidahu. seperti hari kamis dan jum’at. Di desa ini juga terdapat dua makam yang dianggap keramat oleh masyarakat. Kedua makam ini setiap harinya ramai dikunjungi oleh peziarah. atau bulan Robiul awwal atau maulid dan bulan Muharram dalam sistem penanggalan Islam. dan zakat.Rute Pasir Reungit 9 8 7 1 0 1 1 6 4 5 2 3 1 Rute Cangkuang 1 2 Rute Cimelati Gambar I. Di desa ini terdapat Padepokan Girijaya pimpinan Abah Ru’yat. Walaupun bernuansa tradisi. Desa Cidahu. penampilan wayang 6 . Kabupaten Sukabumi. terdapat pesantren al-Qodiriyah yang dipimpinan KH Romli dan berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat dan membentuk pemahaman yang ada di masyarakat. dan Desa Girijaya. Kecamatan Cidahu. lebih bernuansa agama. Kedua tokoh ini oleh masyarakat dianggap sebagai penyebar agama Islam. Kunjungan para peziarah makin ramai terutama pada hari-hari tertentu. Padepokan ini juga memiliki pengaruh di masyarakat. yaitu makam dari Eyang Abu Shomad (Eyang Abu) dan makam Eyang Muhammad Santri (Eyang Santri). Peta jalur penelitian beserta petak-petak pencuplikan data vegetasi (1 s/d 12). namun masyarakat yang tinggal di desa ini masih menjalankan ajaran normatif agama (Islam) seperti shalat. Tradisi dan kebudayaan klasik Sunda sering digelar di desa ini.1. Kabupaten Sukabumi. Kecamatan Cidahu. puasa. Pada bulan Maulid masyarakat ziarah bersama ke makan Eyang Abu sekaligus juga diisi dengan tradisi-tradisi Sunda. Adapun untuk penelitian etnobotani dilaksanakan di dua desa.

kegunaan dan data lingkungan lainnya dicatat di dalam buku koleksi. habitus. tanpa harus meninggalkan kaidah keilmuan di bidangnya masing-masing. jaipong. Keterpaduan penelitian dengan melibatkan berbagai bidang keilmuan ini diharapkan mampu untuk mengungkapkan keanekaragaman hayati di daerah penelitian. kegunaan. 7 . habitat. Pengumpulan data pohon meliputi diameter. pH dan kelembaban tanah. yang sekiranya menarik dan unik juga akan dikumpulkan sebagai koleksi atau spesimen acuan. KEGIATAN di LAPANGAN Penjelajahan di Gunung Salak ini melibatkan para ahli dalam bidang taksonomi dan ekologi tumbuhan serta pakar etnobotani. yang selanjutnya dikirim ke Herbarium Bogoriense untuk diproses dan kemudian diidentifikasi. ataupun fisiognomi yang berbeda. Jenis-jenis tumbuhan yang tidak dapat dikoleksi untuk sementara akan dicatat dalam buku lapangan guna melengkapi data kekayaan jenis. Jumlah dan interval antar petak ditentukan berdasarkan kondisi medan dan ketersediaan fasilitas pendukung. masyarakat menggelar upacara tradisi Seren taun. dimasukkan ke dalam kantung plastik besar dan diawetkan dalam alkohol 70%. Sedangkan di bulan Muharram. Semua contoh tumbuhan yang terkumpul disimpan dalam lipatan-lipatan kertas koran. yakni upacara selamatan dan ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan. serta pengumpulan data lingkungan diantaranya posisi geografi. Informasi lain seperti nama lokal. Adapun cara kerja untuk masing-masing kegiatan penelitian adalah sebagai berikut: Inventarisasi dan eksplorasi tumbuhan Kegiatan ini dilakukan untuk melakukan koleksi secara umum seluruh jenis tumbuhan yang sedang berbunga dan berbuah untuk kemudian diambil contohnya dan dijadikan spesimen herbarium. dan ritual ngramat yakni mendoakan hasil bumi. Analisis vegetasi Kegiatan penelitian ini meliputi pencuplikan data vegetasi dengan menggunakan metode petak. spesimen bukti. tinggi. Setiap contoh tumbuhan yang terkumpul akan dilengkapi dengan label gantung untuk mencatat nama dan nomor kolektor serta tanggal dan lokasi pengambilan. data iklim serta data lingkungan lainnya juga dikumpulkan. Meskipun ada jenis-jenis tumbuhan yang tidak lengkap memiliki bunga atau buah. Selain itu data sekunder diantaranya data lokasi.Golek. dan pengambilan contoh tanah untuk dianalisis kandungannya. Sejumlah petak dengan ukuran 30m x 30m dibuat pada lokasi-lokasi dengan gradasi perubahan lingkungan seperti kondisi habitat dan ketinggian.

Petak ini berada pada ketinggian 1700 dpl dan di HM 18 (jarak 1800 meter dari persimpangan 8 . Untuk kepentingan identifikasi. kemerataan jenis dan dominasi jenis. 1974). Greigh-Smith. Setelah kegunaan dari tumbuhan diketahui. Setelah berada dalam petak. Wawancara secara open-ended dan secara mendalam dengan informan merupakan teknik yang mendasar guna mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang kegunaan dari suatu jenis tumbuhan dan makna kulturalnya dalam kehidupan mereka. Penelitian etnoekologi dilakukan untuk mengetahui hubungan antara masyarakat dengan lingkungannya. Pengungkapan pemanfaatan keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan gunung Salak terlebih dulu menentukan informan kunci dan informan biasa. Dengan parameter tersebut dilakukan analisis ordinansi dan analisis stratifikasi hutan untuk mengetahui lapisan kanopi hutan. Penelitian etnobotani Penelitian etnobotani dengan menerapkan metode wawancara semi struktural dan "open ended" terhadap masyarakat setempat. Langkah kedua adalah dengan wawancara langsung dengan masyarakat di desa mengenai kegunaan berbagai tumbuhan. Penentuan jumlah responden dengan menggunakan metode "stratified random sampling". dominansi. nilai penting. Informan kunci adalah orang yang memiliki pengetahuan luas mengenai nama lokal tumbuhan dan manfaat atau kegunaan dari tumbuhan tersebut. nilai kegunaan dan nilai kepentingan budayanya. sumber daya hayati berguna tersebut diambil contohnya dan dibuat koleksinya guna mengetahui nama ilmiahnya. Penelitian ini dilakukan di tiga lokasi. Selain itu dilakukan pula wawancara secara mendalam terhadap ahli lokal. kekayaan jenis. kegunaannya. Setiap jenis sumber daya hayati yang berguna dicatat nama lokalnya dan diamati habitat. cara penggunaan.Data vegetasi yang terkumpul kemudian dianalisis menurut cara yang umum dilakukan dalam kajian ekologi hutan (Cox. kerapatan. sehingga diperoleh parameter-parameter frekuensi. Proses pengumpulan data lapangan dalam penelitian ini menggunakan tiga langkah. maka dilakukan wawancara secara mendalam untuk mengetahui makna kultural dari tumbuhan tersebut. bagian yang digunakan. Responden di setiap lokasi diambil 30% dari jumlah Kepala Keluarga. informan ditanyakan mengenai kegunaan berbagai tumbuhan yang ada di dalam petak secara open-ended. Langkah pertama adalah dengan mengajak informan ke petak ekologi yang dibuat. Langkah ketiga adalah mencatat nama lokal setiap jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan membuat voucer specimen untuk diidentifikasi lebih lanjut di Herbarium Bogoriense supaya dapat diketahui nama ilmiah dari tumbuhan yang dimanfaatkan. Dalam penelitian ini diamati pengetahuan lokal tentang pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan oleh masyarakat (corpus) serta pengaruh yang ditimbulkannya (praxis). pertama di dalam petak sementara yang dibuat oleh tim ekologi. 1964. indeks keanekaragaman. 1967. Muller-Dombois & Ellenberg. mengikuti sebagian aktifitas sehari-hari penduduk dan pengamatan langsung di lapangan.

Guru. serta Kuncen yang memiliki “kewajiban” menjaga suatu kawasan.atau sama dengan 4300 meter dari pos pertama pendakian dari arah Cidahu). Dukun. petuah dari leluhur. dan tempat ketiga di desa Girijaya. satu ritual yang menggabungkan norma agama dan tradisi setempat. Langkah ketiga adalah dengan melakukan pengamatan terlibat (partisipatory observasion) dalam ritual keagamaan dan ritual tradisi yang dilakukan oleh mereka. Wawancara mendalam (indepth interview) dengan informan kunci merupakan teknik yang mendasar guna mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang perspektif masyarakat. yaitu desa Cidahu kecamatan Cidahu dan desa Girijaya di kecamatan Cidahu. wawancara juga dilakukan dengan para sesepuh atau orang yang di-tua-kan yang ada di wilayah Bogor. Pada tanggal 20 Maret masyarakat di desa Giri Jaya menggelar ritual mauludan. proses pengumpulan data lapangan dengan tiga langkah. Sedangkan penelitian yang dilakukan di desa. Selain itu peneliti juga mewawancarai anggota masyarakat kebanyakan baik yang tinggal di dua desa. terlebih dulu menentukan informan kunci dan informan biasa. Langkah pertama adalah menentukan informan kunci dan informan biasa. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan memiliki kesamaan persepsi sekaligus juga untuk konfirmasi data. maka peneliti memilih mereka sebagai informan kunci. Informan kunci adalah orang yang memiliki pengetahuan luas tentang tradisi masyarakat. Petak yang dibuat berukuran 30 X 30 meter. Selain dari informan kunci yang ada di Desa Cidahu dan Desa Girijaya. 9 . Oleh karena orang yang memiliki kompetensi di masyarakat yang tinggal di kawasan gunung Salak adalah orang-orang tua dan di-tua-kan oleh masyarakat. maupun ajaran-ajaran normatif dari agama. nilai kultural dan makna kehadiran gunung Salak dalam kehidupan mereka. kabupaten Sukabumi. Informan tersebut dapat membantu peneliti untuk memilih informan lain yang juga memiliki pengetahuan luas. seperti Kyai. Kedua dilakukan di desa Cidahu. Langkah kedua adalah dengan melakukan wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan para informan. Dalam penelitian perspektif masyarakat mengenai Gunung Salak.

Di samping itu juga. menjadikan pilihan bagi orang-orang yang hendak kontemplasi. menurut masyarakat. Ada anggapan di masyarakat bahwa hutan adalah tempat bersemayamnya roh-roh jahat. karena bila pohon yang terdapat dalam hutan habis 10 . memiliki cara pandang tersendiri tentang keberadaan Gunung atau Hutan. seperti ranting yang jatuh untuk keperluan kayu bakar atau buah yang jatuh untuk konsumsi pribadi bukan untuk mengambil keuntungan ekonomi dari buah yang terdapat di hutan. adalah bagian lamping atau tebing. menggembleng ilmu. karena memiliki atmosfir yang teduh. Sedangkan hutan.BAB II MENYELAMI PEMIKIRAN MASYARAKAT Setiap masyarakat. maka Gunung kemudian disakralkan oleh masyarakat. persepsi juga terbentuk karena adanya “kepentingan”. Bagian dari hutan yang sangat dilarang keras untuk ditebang. hutan juga. Sebagai “landasan” para Batara di Bumi. dan lain-lain. bagi masyarakat Indonesia. maupun karena pelarian dari kehidupan masyarakat yang sudah tidak nyaman menurut anggapannya. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman interaksi mereka terhadap kawasan gunung atau hutan. Selain itu. Larangan penebangan hutan yang dilakukan oleh masyarakat Girijaya pada masa lalu terkait dengan keselamatan kehidupan manusia. baik untuk mendekatkan diri pada Pencipta. Makin beragam kepentingan maka makin beragam juga persepsinya. Hutan dan Masyarakat Girijaya Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat di desa Girijaya diketahui bahwa masyarakat menyebut hutan yang terdapat di Gunung Salak sebagai leuweung tutupan (hutan terlarang). namun karena kebutuhan manusia kemudian terdapat beberapa bagian dari hutan yang boleh dimanfaatkan. Pelarangan penebangan hutan merupakan wasiat dari para leluhur. tanpa kecuali. hutan dan apa yang terdapat di dalamnya adalah terlarang untuk diekploitasi. Pelarangan ini sifatnya mendasar. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa gunung atau pun hutan. gunung atau hutan adalah tempat yang strategis. dengan pertimbangan keselamatan kehidupan itulah maka para leluhur menganggap semua hutan pada dasarnya adalah leuweung tutupan. sempat diyakini sebagai daerah turunnya para Batara yang hidup di Kahyangan ketika turun ke Bumi. baik melalui penebangan maupun perburuan. tempat persembunyian para penyamun. maka hampir dapat dipastikan bahwa orang tersebut memiliki tingkat keberanian dan juga kesaktian yang tinggi di atas rata-rata orang kebanyakan. atau bahkan individu. Menurut pak Asori salah satu sesepuh. sehingga ketika seseorang telah berhasil melewati hutan dengan selamat. Bila kita merunut sejarah dan juga melacak cerita-cerita rakyat. Bagi mereka. terutama daerah Jawa dan Sunda memiliki cerita tersendiri. pada masa lalu lebih dikonotasikan sebagai tempat penempaan kesaktian dan keberanian seseorang. Gunung misalnya.

atau wakil dari Tuhan yang ada di bumi.ditebang. Selain itu asal material bangunan berupa kayu juga diambil dari hutan. apalagi yang ada di lamping-nya maka tidak saja persediaan air akan habis melainkan juga dapat menimbulkan bencana longsor. Di gunung salak tidak saja tersimpan berbagai mitos atau legenda tentang asa-usul suatu daerah. Bagi KH Romli. menurut AA Lili. menegaskan bahwa menjaga amanah berupa hutan sama nilainya dengan menjaga dan mengamalkan ajaran agama. karena itu dengan adanya hutan maka keberlangsungan kehidupan masyarakat akan terus terjamin. maka tidak saja dia melanggar amanah melainkan juga telah mengabaikan perannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. seperti shalat. Terdapat satu pendapat yang mengatakan kata Salak berasal dari 11 . Hal ini dikarenakan. Terdapatnya hutan di sekitar desanya merupakan anugerah dari Tuhan. Setelah dijelaskan maksud pembangunan resort dan asal dari kayu yang digunakan tidak dari Taman Nasional maka pembangunan dilanjutkan dan masyarakat sangat mendukung keberadaan Taman Nasional. Gunung dalam Persepsi Masyarakat Gunung Salak dengan hutan yang ada di dalamnya memiliki makna tersendiri bagi masyarakat. Bagi masyarakat. Dengan merusak hutan. mengambil apapun dari hutan hukum dasarnya adalah terlarang. bukanlah seorang muslim yang baik apabila dia menjalankan kewajiban agama namun masih melakukan kerusakan di hutan. kata “Salak” yang menjadi nama dari Gunung Salak memiliki makna sendiri. sapaan akrab KH Romli. AA Lili. Terdapat banyak teks dalam kitab suci ummat Islam yang berbicara tentang lingkungan dan tanggung jawab manusia untuk mengelolanya dengan bijak. Menurutnya. dan itupun kalau tidak sampai merusak hutan. puasa. salah satu peran manusia adalah sebagai khalifah. Komitmen dan kesadaran sebagai khalifah yang bertugas untuk menjaga hutan ditunjukkan oleh masyarakat Cidahu ketika Balai Taman Nasional berencana membangun resort di kawasan Bumi Perkemahan Cangkuang. Hutan dan Masyarakat Cidahu Bagi masyarakat desa Cidahu. melainkan juga tersimpan berbagai “tanda” bagi kehidupan. bahkan rumput sekalipun. hal ini dikarenakan hutan sudah ada yang mengelolanya. Mengambil manfaat dari hutan baru boleh dilakukan kalau sudah ada izin. dimana pembangunan saat itu terhenti karena sesepuh dan masyarakat mencegah pembangunan yang menurut mereka merusak lahan hutan. dan lain-lain. hutan yang ada di Gunung Salak dianggap sebagai “amanah” atau kepercayaan dari Tuhan untuk diolah dan dijaga kelestariannya. seperti mengambil rumput untuk ternak atau ranting-ranting pohon yang jatuh. Sehingga pada dasarnya menjaga pelestarian hutan sama pentingnya dengan menjalankan kewajiban yang lain.

Puncak Gajah ditafsirkan sebagai tempat bersemayamnya arwah raja-raja Sunda Kuno yang telah ngahyang. Sedangkan puncak Keramat 12 . Bagi orang yang percaya pada pendapat yang pertama.1. Kekeramatan gunung Salak termaktub dalam pantun Bogor yang berjudul Paku Jajar Beukah Kembang.kata “siloka” yang berarti simbol dari sesuatu yang perlu diurai dan ditemukan rahasianya. Pembacaan Doa disertai bakar Kemenyan yang dilakukan pada acara Mauludan. muludan. Pendapat ketiga percaya bahwa di puncak Salak terdapat buah salak raksasa yang terbuat dari emas. buah ini akan muncul dan memperlihatkan dirinya bagi orang-orang yang telah suci. untuk itu mereka terus mencari dan berusaha menemukannya di Gunung Salak. Sedangkan bagi masyarakat yang percaya pada pendapat yang kedua. Ketiga perbedaan penafsiran tentang salak ini memiliki implikasi persepsi yang berbeda. kedua puncak yang terdapat di gunung Salak memiliki makna yang berbeda. Gugung salak dijuluki juga Giri Dwi Munda Mandala. Diantaranya adalah masih digelarnya upacara tradisi seren taun. Pendapat yang lain mengatakan bahwa kata Salak berasal dari kata “Salaka” yang berarti asal-usul dari suatu masyarakat. Bagi masyarakat yang berpegang pada tradisi dan masih terpengaruh oleh ajaran Hindu. dan Dadap Malang Sisi Cimandiri. mereka akan yakin bahwa rahasia kehidupan yang disimpan Tuhan terdapat di Gunung Salak. mereka menganggap bahwa tidak hanya asal-usul kehidupan melainkan juga masyarakat Sunda ada di gunung Salak. Upacara tersebut sarat dengan muatan pesan untuk menjaga hubungan baik manusia dan alam. Di gunung salak terdapat dua puncak yang bergerigi yang dinamakan Puncak Gajah dan Puncak Karamat. Gambar II. Pajajaran Seren Papan.dan rabu wekasan. walaupun sudah tersentuh dengan modernisasi namun unsur-unsur tradisionalnya masih kental terlihat. Sedangkan pendapat ketiga mengatakan kata Salak memang berasal dari kata “Salak” dari buah salak. Menurut Munandar (2007a) yang melakukan penelitian pada masyarakat ada di Sindang Barang. Di Girijaya.

Ketiga pilar itu berupa gunung. di gunung Salak terdapat 12 tempat yang dihuni oleh Sang Hyang. lam. namun memiliki tujuan yang sama. Sukabumi. A. Walaupun terdapat perbedaan. Sedangkan bagi masyarakat Islam. keragaman hayati yang dimiliki. terdapat dua “model” pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat. menjadi latar belakang yang khas bagi bentangan alam di sekitarnya (Wallace 2000). Selain itu. Pelabuhan Ratu. masyarakat juga meyakini bahwa terdapat tiga pilar utama penopang kehidupan di daerah Sunda. ketiga gunung tersebut ditafsirkan sebagai simbol dari ajaran kebaikan. Oleh masyarakat. kawasan ini memang sejak dulu menyimpan misteri dan memiliki eksotisme sendiri. iklim dan cuaca yang berbeda. Munculnya anggapan yang demikian dari masyarakat menunjukkan adanya akulturasi budaya dan juga sinkretisme dalam sistem religi mereka. Ketiga gunung ini sebagai perlambang dari huruf alif. serta Raja-raja kerajaan Sunda. Diantara nilai penting yang lain dari gunung Salak adalah adanya anggapan bahwa gunung Salak tersebut sebagai Paku Jagat atau Paku Tetenger bagi Pakuan Pajajaran (Munandar 2007). Gunung Salak adalah simbol dari alif (huruf pertama dalam abjad Arab) yang berarti hubungan vertikal. ketiga kata ini yang kalau dibaca menjadi satu kata ilah yang berarti Allah atau Tuhan. Bagi mereka melestarikan hutan merupakan satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh manusia.ditafsirkan sebagai tempat persemayaman para Hyang. Sedangkan Gunung Pangrango adalah simbol dari lam dan Gunung Gede simbol dari ha. “Buitenzorg adalah tempat tinggal yang sangat menyenangkan. serta perbedaan lainnya. Pemandangan alam di sini sangat indah dan tanahnya subur. Anggapan ini juga menunjukkan proses islamisasi dan adanya “negosiasi” tradisi di masyarakat. dan Gunung Pangrango. Terlepas dari anggapan masyarakat mengenai gunung Salak. ha. Wallace. seperti apa yang disampaikan oleh seorang ilmuwan. Bahkan menurut abah Ru’yat (pemimpin Padepokan Girijaya. Gunung Gede. Gunung Salak. Dari hasil penelitian ini. Model kedua adalah dengan melalui 13 . dan Cianjur. yaitu Gunung Salak. di puncak keramat terdapat makam dari tokoh penyebar agama Islam yang berasal dari Cirebon. Pertama adalah melakukannya dengan melalui pendekatan agama.R. yakni menjaga kelestarian hutan sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia. yaitu KH Hasan Basri yang bertugas menyebarkan agama Islam ke daerah Sunda seperti di Bogor. Hal ini terjadi karena pola interaksi yang berbeda. Agama dan Pelestarian Lingkungan Persepsi masyarakat tentang hutan dan Gunung Salak memunculkan tradisi atau prilaku yang berbeda dengan daerah lainnya. dewata Sunda Kuno. ia mengatakan. sebuah gunung berapi yang puncaknya terpotong dan bergerigi. Puncak Salak juga dianggap sebagai temapt berkumpulnya ghaib-ghaib Suci. Daerah ini cukup tinggi sehingga terasa nyaman bagi orang yang tinggal di dataran rendah. seperti wali songo. yang giat menghidupkan tradisi Sunda).

Sedangkan Mangunjaya (2005) melihat persoalan Islam dan lingkungan dari aspek Tauhid. Dalam Islam. manusia diberi wewenang oleh Allah untuk mendayagunakan sumberdaya alam dalam batas-batas yang kewajaran ekologis (Abdillah 2005). hal ini dikarenakan banyak dari makhluk hidup yang hidupnya sangat tergantung pada pohon yang ditebang atau hewan yang dibunuh. ada konsep hima’ yakni 14 . Peran agama di desa ini dipengaruhi oleh kharisma yang dimiliki oleh sosok pemimpin pesantren sebagai informal leader. menurut (Abdillah 2005) manusia memiliki derajat kesamaan dengan kehidupan makhluk yang lainnya. apa yang bukan miliknya. Di samping itu. Keempat konsep ini menjadi landasan normatif peran agama dalam pelestarian lingkungan. telah meresap menjadi tuntunan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. dan kita wajib mengolah dengan bijaksana dan melindunginya. Bagi orang yang memiliki kesadaran keimanan dan ketaatan terhadap aturan agama. di samping karena dianggap memiliki derajat keilmuan agama yang lebih tinggi dari masyarakat kebanyakan juga karena beliau mengasuh santri yang menetap sebanyak kurang lebih 270 orang. al-Qur’an. Hutan dan gunung itu jelas bukan milik kita dan sudah ada yang mengaturnya (pemerintah) maka rakyat tidak berhak mengambil apa yang ada dalam hutan. Namun walaupun memiliki kesamaan. manusia terlebih dulu harus memiliki rasa keimanan yang kuat. ia bersama dengan masyarakat desa Cidahu berkali-kali melakukan sweeping terhadap orang yang mengambil pohon dari hutan. Kesadaran keagamaan yang dimilikinya menjadikan pesantren yang diasuhnya cukup berperan dalam menjaga hutan tetap lestari. banyak memiliki aturan dan anjuran untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dalam pandangannya. dalam hal ini Islam. Dalam melestarikan keberadaan keanekaragaman hayati yang terdapat di gunung Salak. sistim hukum al-Istishlah atau kemaslahatn umum. ada juga santri yang tidak menetap. Di desa ini terdapat satu pesantren dengan Kyai yang cukup berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Ketokoh-an yang dimilikinya. karena pada hakekatnya manusia dan lingkungan sama-sama berposisi sebagai karya cipta Ilahi yang tergabung dalam kesatuan ekosistem. beliau melakukannya dengan pendekatan agama. lalu kesadaran menjalankan agama dengan benar. Dalam membahas Islam dan pelestarian Lingkungan. Tanpa itu alam hanya akan di rusaknya. maka orang tersebut tidak akan berani merusak dan mengambil. alam adalah ciptaan Allah. menebang pohon atau membunuh satu hewan pada hakekatnya membunuh banyak makhluk hidup. terdapat beberapa teks yang menunjukkan tentang hubungan manusia dan alam. dan konsep halal-haram. Abdillah (2005) membahasnya melalui pembangunan teologi lingkungan (eco-theology).tradisi. karena agama ini adalah agama yang dipeluk oleh semua penduduk desa Cidahu. Dalam. Menurutnya. khilafh. Islam. mereka menggiatkan tradisi lama yang memang pada dasarnya adalah suatu ajaran “normatif” pada manusia untuk berlaku arif terhadap alam. Untuk dapat mengolah alam secara bijak. Agama. sebagai sebuah agama.

upacara muludan yang dilakukan setiap tanggal 12 bulan rabiul awwal dalam penanggalan Islam. Setiap tahunnya mereka melakukan tiga upacara adat. Selain itu juga ada ngancak (sesajen) yang diletakkan di empat manahab atau penjuru angin.upaya melindungi spesies hidupan liar dengan menyediakan lahan untuk habitat asli mereka secara utuh. yaitu masyarakat dengan corak tradisi maritim dan masyarakat dengan corak tradisi agraris. Ritual ini sebagai ungkapan rasa syukur atas pemberian Tuhan kepada manusia berupa hasil bumi. Ritual tradisi dan Pelestarian Lingkungan Masyarakat Indonesia. Ritual ngramat sebagai bagian dari tradisi muludan yang dilakukan oleh masyarakat desa Girijaya. 2007). Sistem perlindungan kawasan seperti ini tercatat dalam sejarah pernah dilakukan oleh Nabi dan pemimpin setelahnya (Mangunjaya 2005. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Padepokan Girijaya yang tinggal di desa Girijaya. Setiap corak tradisi memiliki upacara tradisi sebagai bentuk penghargaan dan upaya revitalisasi hubungan manusia dan alam. atau kawasan yang tidak produktif menjadi produktif merupakan anjuran syariah (Mangunjaya 2005). tanah. secara garis besar terbagi dalam dua corak tradisi. Terdapat berbagai macam bentuk tradisi dalam pelestarian lingkungan. adalah upacara rabu wekasan yang dilakukan pada hari rabu terakhir di bulan safar. Kedua. Peletakan sesajen dan sedekah bumi merupakan bentuk penghargaan masyarakat terhadap adanya kehidupan selain di jagat manusia ini. Gambar II. Ketiga. Setiap upacara adat yang dilakukan selalu ada sedekah bumi yang dimaksudkan supaya manusia lebih menghargai bumi yang telah memberkan kehidupan bagi manusia.2. Selain hima’ menurut Mangunjaya juga terdapat konsep ihya almawat atau menghidupkan lahan. Pertama adalah upacara seren taun yang dilakukan setiap tangal 10 muharrom setiap tahunnya. 15 . salah satunya adalah dengan ritual tradisi.

Kemudian sedekah bumi. ritual seperti itu adalah bagian dari pola budaya yang dapat menjadi penuntun prilaku manusia. Sebagai tradisi. hal ini dilakukan sebagai bentuk syukur manusia atas apa yang telah diberikan bumi. yaitu masyarakat membawa dongdang/nampan yang berisi hasil bumi ke padepokan untuk dimakan secara bersama-sama. mengandung muatan pesan simbolik tentang keakraban hubungan manusia dan alam. Sebagai bagian dari sistem religi. Kemudian ada ngramat. Dalam ngramat ini selain sebagian dari hasil bumi juga masyarakat membawa air. wali. 16 . Menurut Geertz (1966) dengan melakukan pendekatan kebudayaan dari model bagi. ruwatan bumi. sedangkan air selain campuran untuk kebutuhan hidup seperti minum dan mandi juga untuk ditaburkan pada sawah mereka. yaitu pembacaan mantera-mantera dan juga tawasulan pada para leluhur. menunjukkan bahwa ritual bisa menjadi pedoman dari perilaku budaya suatu masyarakat. Biasanya makanan yang telah di kramat dibawa pulang kembali. dalam penguburannya disertai mantra-mantra untuk keselamatan dan kesejahteraan. yaitu aneka makanan dikumpulkan dalam satu tempat kemudian di kubur. upacara yang dilakukan oleh masyarakat Girijaya.Terdapat rangkaian upacara dalam setiap pelaksanaan upacara tradisi. Rangkaian yang terdapat pada upacara seren taun yang dilakukan oleh masyarakat Padepokan Girijaya terdiri dari. dengan harapan hasil panen yang telah dan akan diperoleh mendapatkan berkah.

Jenis ini termasuk dalam daftar CITES appendiks 2. Ini terjadi karena tidak semua bagian dari kawasan ini bisa dijelajahi. flora yang tercatat atau pun yang dibuat herbariumnya adalah flora yang dilewati ketika jelajah dilakukan. 2. Sangat mungkin terjadi bahwa tingkat keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan ini jauh lebih tinggi dari apa yang telah di hasilkan. dibagian selatan gunung Salak. Hasil pengamatan dan pengumpulan specimen herbarium di kawasan ini tercatat sekitar 100 jenis (Lampiran 5). Symplocos fasciculate dan lain-lain. Untuk membuktikan bahwa di Gunung Salak terdapat keanekaragaman yang tinggi maka dilakukan jelajah terhadap kawasan ini dan mencatat flora yang terdapat di dalamnya. mahkota bunga putih dan benangsari kuning tampak sangat menyolok. 1. Castanopsis argentea. yang didominasi oleh jenis pionir Macaranga. daun tunggal berupa elips. 3. Jenis tumbuhan yang menarik untuk dikemukakan pada tepi hutan yang terbuka antara lain adalah Cyathea contaminans (paku tiang) yang banyak dijumpai dan juga dipelihara di Kebun Javana Spa. Salah satu jenis yang masuk dalam RDB yaitu Pinanga javana dijumpai disepanjang sungai. Tentunya. Flora di jalur Cangkuang dan TNGHS Resort Cidahu Hasil pengamatan yang telah dilakukan disuguhkan untuk memberikan gambaran Kekayaan flora resort Cidahu ini. Kekayaan flora alami pada tepi hutan nampak lebih banyak dihuni oleh jenis pendatang seperti Agathis dammara dan Calliandra calothyrsus. yang perawakannya berupa pohon besar dengan kanopi berupa kerucut. menyebabkan populasi alami menurun dan mengalami erosi yang sangat mengkawatirkan. Schima wallichii dijumpai dengan tinggi pohon 5-10 m.BAB III KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN Sebagai negara yang dikenal dengan julukan mega-biodiversitas country. Weinmannia blumei. dan beberapa diantaranya disajikan pada Gambar III. beberapa pohon besar 17 . maka hampir dapat dipastikan bahwa setiap wilayah atau kawasan di Indonesia memiliki keanekaragaman yang antar satu dengan lainnya berbeda. Ficus. Pohon yang umum dan banyak tumbuh di sini didominasi oleh Schima wallichii (puspa). Vegetasi pada tepian hutan nampak terbuka. Quercus lineata. Dilokasi ini dapat dilihat daerah hutan yang terganggu dari Javana Spa mulai dari ketinggian 1400 m. Mallotus. Paku ini sebenarnya telah masuk dalam status perlu dilindungi karena bagian bawah batangnya yang merupakan kumpulan akar berwarna hitam banyak diambil untuk media anggrek dan media tanaman hias lainnya serta diperdagangkan ke luar negeri. Yang dimaksud flora disini adalah jenis tumbuhan yang dijumpai mulai dari perbatasan wilayah Perum Perhutani dan Kebun Javana Spa serta hutan melalui jalur setapak. bagian bawah banyak ditumbuhi oleh Chlomolaena odoratum (kirinyu). rapat. Pohon tersebut dapat dijumpai sepanjang jalan hingga bagian tepi kawah Ratu.

Gambar III. mudah dikenal karena bentuk daunnya yang menyirip.yang sedang berbuah. Castanopsis tungurut banyak dijumpai di kanan kiri jalan. daun muda berwarna merah kecoklatan. 1. buahnya berduri dan biji berwarna coklat. tumbuh pada tempat terbuka ditepi hutan. Caryota rumphiana yang merupakan pohon palm soliter. Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di kawasan gunung Salak 18 . dengan daun majemuknya dan daun penumpu yang besar. Pada bagian kiri jalan setapak dijumpai satu pohon Fagraea blumei yang mempunyai kanopi memayung. Dijumpai juga beberapa pohon Weinmania blumei. bunga berupa terompet dan buah berupa gelendong ukuran kepalan tangan tumbuh tegak. Pohon Albizia lophanta dengan daun halusnya yang tersusun menyirip terdapat di beberapa tempat terbuka.

dengan daun berhadapan. kemudian dijumpai satu jenis Uncaria sp. Cinnamomum sintok. Psychotria. A. sedangkan jenis-jenis lainnya adalah Vernonia arborea. sedang berbuah mirip anggur dan buah tersebut dapat dimakan walaupun rasanya asam dan segar. Gambar III. Impatiens platypetala.horsfieldii dan Agalmyla parasitica. Begonia multangula. Jenis yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai tanaman hias karena mempunyai bunga berupa terompet warna merah sangat mencolok dan mudah dikembangkan melalui stek batang adalah Aeschynanthus radicans.Tumbuhan liana yang dapat dijumpai disini antara lain Smilax macrocarpa (canar). Etlingera coccinea. Dijumpai bambu merambat Dinochloa scandens dan 2 jenis rubus yaitu Rubus moluccanus dan Rubus chrysophyllus merupakan tumbuhan berduri dengan mahkota bunga putih dan buah majemuk berwarna merah. Glochidion arboretum. Argostemma montana dan Elatostema sp. Tumbuhan bawah lantai hutan cukup rapat terdiri dari berbagai jenis tumbuhan antara lain Melastoma malabatricum. muricata.. robusta dan B. 2. sangat umum dan mudah dikenal. mempunyai kait untuk memanjat. Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di kawasan gunung Salak Flora sekitar camp Bajuri Jenis pohon yang paling banyak dijumpai di daerah ini adalah Schima wallichii (puspa). B. Clidemia hirta. Castanopsis 19 .

acuminatissima. Leea indica Burm. & Mor. Ardisia crispa Lasianthus laevigatus Bl.3.f Tarena sp. Ex Bl. Datura metel Rhodamnia cinerea Ficus deltoidea Jack Gambar III. Ginotroches axilaris. Begonia multangula. Frecynetia javanica yang sedang berbunga dengan daun pelindung berwarna merah keunguan. Pada bagian bawah dapat dijumpai Melastoma malabatricum. Dysoxylum densiflorum. Pada daerah ini dapat juga dijumpai Nepenthes gymnamphora yang populasinya sudah menurun. Geophila repens. kemudian Medinilla speciosa yang juga sangat menarik dan berpotensi sebagai tanaman hias. Plectocomia elongata (bubuai). Rhododendron javanicum (Bl. M. Beberapa jenis tumbuhan di kawasan hutan gunung Salak. Eurya acuminata dan lantai dasar banyak dijumpai Etlingera coccinea.) Benn. trachyphyllum. Omalanthus populneus Zoll. Aeschynanthus radicans dan Agalmyla parasitica dengan bunga merah berupa corong yang mencolok. Lasianthus viridis. Saurauia nodiflora dan Mallotus rhizinoides. Ardisia sanginolenta DC Arthrophyllum javanicum Pavetta Montana Reinw. Symplocos fasciculata. TNGHS 20 . Jenis tumbuhan liana yang nampak menonjol diantaranya adalah Uncaria. Argostemma montanum.

paku tiang Cyathea contaminans dan Musa acuminata (pisang). dan beberapa jenis yang dijumpai 21 . Ficus deltoidea. diameter batang diatas 50 cm. dengan kulit batang berwarna gelap karena pengaruh uap belerang. buah mencapai panjang 50 cm. mempunyai daun berupa pedang memita. Dissochaeta. Mallotus paniculatus dan Ficus padana dengan ketinggian pohon sekitar 10m. Pada ketinggian 1. Vegetasi disekitar kawah ratu. 4. Jenis liana yang banyak adalah Polygonum sp. Gambar III. dijumpai jenis-jenis primer diantaranya Altingia excelsa. Schima wallichii.250m.Flora di jalur Pasir Reungit dan sekitar kawah Ratu Pada ketinggian 1. Beberapa jenis diantaranya disajikan pada Gambar III.200 m banyak dijumpai jenis-jenis pioneer seperti Macropanax dispermus. Jenis dominan di daerah ini yaitu Schima wallichii (puspa) yang berupa pohon tegak dengan tinggi sekitar 25 m. Castanopsis javanica. Smilax ceylanica. Pada bagian lantai hutan dijumpai Schefflera spp. Dan pada ketinggian 1. Aralia dasyphylla. yaitu sekitar fumarol tercium bau belerang yang kuat dan tidak ditemukan adanya tumbuhan yang tumbuh. Hornstedtia pininga dan Melastoma sp.. Strobilanthes. 4. Tumbuhan lain yang melimpah adalah Pandanus nitidus. Hedychium roxburghii. Medinilla speciosa dan beberapa tumbuhan paku. berdiameter sekitar 15 cm.360 m.

Gambar III. dijumpai juga Centela asiatica.Dibagian lebih bawah yaitu disekitar helipad vegetasi nampak terbuka (Gambar III. Castanopsis javanica. pada bagian tepi dijumpai banyak tumbuh Begonia multangula yang sangat melimpah.400 m dpl banyak dijumpai pohon jenis Schima wallichii. Plantago major dan pada bagian lereng yang masih berhutan nampak Cyathea contaminans. Lithocarpus sundaicus. dan pada ketinggian 1400 m banyak tumbuhan epifit. Helipad dan beberapa jenis rumput dan paku-pakuan di sekitarnya Flora di jalur Cimalati Pada jalur Cimalati. 5). Prunus arborea yang tumbuh sebagai jenis dominan atau pohon mencuat. pada ketinggian antara 1.100 dan 1. 22 . Jenis pohon dominan Schima wallichii dan Lithocarpus beralih ke Podocarpus pada ketinggian 1800 m. genus Vaccinium dan Rhododendron mulai terlihat sebagai vegetasi lapisan bawah. Ficus padana dan tumbuhan pendatang dari luar yang merupakan invasive species seperti Piper aduncum dan Calliandra calothyrsus. 5. Pada ketinggian 1700 m. Jenis tumbuhan yang dijumpai sekitar jalur Cimalati disajikan dalam Lampiran 1.

23 .BAB IV FISIOGNOMI KAWASAN GUNUNG SALAK DAN DAERAH KORIDOR Fisiognomi dapat diartikan sebagai kenampakan luar dari suatu vegetasi. sehingga pembagiannya perlu dibedakan untuk pengelolaan kawasan Taman Nasional. padang rumput. hutan ini antara lain adalah hutan Agatis. untuk tujuan penelitian di gunung Salak kali ini ditentukan 6 kategori (Tabel V. serta dikatagorikan juga daerah yang tidak terdapat vegetasi yaitu daerah fumarol. Kategori fisiognomi dan penutupan lahan Fisiognomi Penutupan lahan Hutan Pegunungan atas Hutan primer Pegunungan bawah Hutan tanaman Perkebunan. Hutan sekunder merupakan hutan yang ditumbuhi semak dengan struktur hutan yang komplek. Hutan primer di gunung Salak digolongkan pada hutan tropis pegunungan yang dibagi menjadi hutan pegunungan bawah dan penungan atas tergantung pada ketinggiannya. bangunan Hutan Tanaman disekitar Gunung Salak merupakan tegakan dengan struktur sederhana tetapi pepohonannya tinggi. ketinggian pohon tidak terlalu tinggi tetapi mempunyai jumlah jenis yang banyak. tetapi ketinggian tempat menjadi faktor penghambat untuk kehidupan tumbuhan dan hewan liar. Pembagian kategori disesuaikan dengan kondisi wilayah dan tujuannya. Hutan primer. dengan kriteria berdasarkan pada ketinggian pohon dan keadaan struktur hutan. Hutan tanaman Hutan sekunder Lahan garapan Daerah terbuka Struktur Tinggi (20-40 m) dan komplek Tinggi (20-40 m) tetapi sederhana Semak Rendah (5-10 m) tetapi komplek Kebun campuran.1). Selanjutnya peta fisiognomi tersebut dapat digunakan untuk mengelola komunitas lokal dengan memadukan pengetahuan di habitat alam pada setiap kategori dan lingkungannya. Tabel IV. Dalam pembagian fisiognomi pada table diatas. sehingga dikatagorikan tersendiri. Altingia excelsa dan kebun karet. dan dengan memetakannya ke dalam suatu wilayah. merupakan hutan dengan pepohonan yang tinggi. Rendah (1-5 m) dan sawah. perkebunan teh. dapat memberikan gambaran umum tentang kondisi lingkungan alami wilayah tersebut. persawahan atau ladang.1. struktur dan diversitas tumbuhannya komplek. ada daerah yang digunakan untuk aktivitas manusia seperti kebun teh. hutan pegunungan atas dan bawah tidak berbeda. Meskipun pembagian secara fisiognomi. ladang sederhana Daerah terbuka.

dengan ketinggian di atas 1. Adapun peta penutupan lahan dan peta fisiognomi kawasan gunung Salak dapat dilihat pada Gambar IV.Berdasarkan hasil penelitian di tiga jalur (Cimalati. Hutan Pegunungan atas Jalur Cimalati (1. serta peruntukan lain. Hutan pegunungan atas Hutan pegunungan atas pada umumnya merupakan hutan primer dan hanya ditemukan disekitar puncak gunung Salak.800 m dpl.1). Jenis-jenis utama pada tipe vegetasi ini antara lain Schima wallichii (Theaceae). Gambar IV. 1.825 m dpl) Hutan pegunungan bawah Hutan pegunungan bawah (Gambar IV. 2b. Berikut ini adalah tipe-tipe vegetasi dan peruntukan lain yang diperoleh dari pengamatan secara fisiognomi. dengan beberapa pohon mencuat yang mencapai ketinggian hampir 50 m. Pasir Reungit dan Cangkuang) serta di daerah kawasan koridor dan tempat lain. anggrek. 11 dan IV. 2) di gunung Salak yang terdapat dalam kawasan taman nasional merupakan hutan primer yang tersebar pada ketinggian di bawah 1. neriifolius. Adapun jenis-jenis yang terdapat pada hutan pegunungan atas terdapat pada Tabel IV. nampak mendominasi lapisan kanopi atas dengan tinggi lebih dari 20 m (Gambar IV. dapat ditentukan adanya beberapa tipe vegetasi secara fisiognomi. Rododendron dan Vaccinium yang hidup di batang pohon. 2a. 24 . Pengamatan yang dilakukan pada jalur Cimalati pada ketinggian 1825 m dpl. Di daerah ini banyak epipit seperti paku-pakuan. yang terdiri atas jenis-jenis Podocarpus imbricatus dan P.800 m dpl. dijumpai suku Podocarpaceae. 12.. Tegakan hutan umumnya berkanopi rapat dengan tinggi 30-40 m.

Altingia excelsa (Hamamelidaceae). Hutan yang meluas kearah Barat tersebar di antara gunung Berbakti dan Javana Spa. Kanopi hutan nampak sudah rapat ketika pepohonan (Altingia excelsa) mencapai tinggi di atas 5 m. Lithocarpus elegans (Fagaceae). 2a. Gambar IV. seperti yang terlihat di gunung Bunder salah satu jalan masuk ke dalam kawasan taman nasional (Gambar IV. Akan tetapi pada hutan tanaman Altingia excelsa yang sudah tua tinggi pohon dapat mencapai 40 m.Castanopsis javanica. 2b. Jenis-jenis lainnya secara lengkap disajikan dalam Tabel IV. Altingia excelsa. 25 . Polyosma ilicifolia (Saxifagraceae) dan Prunus arborea (Rosaceae). Pinus merkusii dijumpai dibagian batas tepi kawasan taman nasional. yang umumnya berumur sama dengan struktur hutan yang sederhana. Acer laurinum (Aceraceae). Hutan tanaman Hutan tanaman seperti Agatis sp. Engelhardia spicata (Juglandaceae). 2.500 m dpl) Hutan berkategori hutan pegunungan bawah meluas kearah lereng Selatan dan Timur gunung Salak. tetapi menjadi menyempit tak teratur karena adanya hutan sekunder yang berpusat di kawasan perusahaan listrik serta tidak berlanjut ke arah koridor pada bagian yang semakin kearah Barat.3).. Hutan pegunungan bawah (Jalur Cimalati (1.

Jenis-jenis lain yang tercatat dalam tipe vegetasi ini disajikan pada Tabel IV. 3. 4). terutama sekitar daerah belerang di gunung Salak. Komponen penyusun tipe hutan ini tidak saja jenis pioner tetapi juga terdapat beberapa jenis primer dalam fase suksesi seperti Castanopsis argentea and Lithocarpus elegans (Fagaceae). sehingga memungkinkan hutan sekunder akan mencapai pemulihan menjadi hutan primer jika gangguan tidak terjadi lagi. Bunder) Hutan sekunder Hutan sekunder umumnya dengan tinggi pohon rata-rata hanya mencapai 5-10 m. 26 . Dengan demikian proses pemulihan hutan sekunder menjadi hutan primer merupakan suatu hal yang perlu diwujudkan dalam rangka menyelamatkan habitat satwa liar. Symplocos fasciculata (Symplocaceae). serta secara alami yaitu letusan gunung. dan terdiri atas jenis-jenis pioner yang dijumpai di jalur Cangkuang maupun Pasir Reungit (Gambar IV. Jenis-jenis pioneer seperti Macropanax dispermus (Araliaceae). 4. tipe hutan ini termasuk dalam kriteria semak. Hal ini menunjukkan adanya proses pemulihan atau suksesi. Kerusakan hutan dapat terjadi karena dua hal yaitu karena aktivitas manusia seperti pengaruh penggunaan lahan dimasa lalu dan illegal logging. dan Ficus deltoidea (Moraceae) merupakan komponen utama hutan sekunder.Gambar IV. Hutan tanaman (Rasamala (Altingia excelsa) di Gn. dan tersebar sekitar bagian utara gunung Salak dan termasuk di dalamnya kawasan koridor. 5). 3. karena saat ini hutan sekundernya mencakup areal yang luas. Beberapa pohon jenis Weinmannia blumei (Theaseae) dengan tinggi 20-30 m nampak tersebar di beberapa tempat. Dalam peta penutupan lahan. Mallotus paniculatus (Euphorbiaceae). Hal ini perlu mendapat perhatian dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan pada masa datang.

27 .600-1. hutan campuran. Hutan sekunder (Jalur Cang Kuang 1300m dpl) Gambar IV. 4. 6. 7.Gambar IV.700 m dpl. ladang. karena itu setiap perubahan di daerah tersebut perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Kategori fisiognomi ini mencakup daerah yang cukup luas di daerah koridor. 5. perkebunan teh. sawah dan padang rumput digabungkan ke dalam 1 tipe fisiognomi yaitu dengan struktur rendah dan sederhana (Gambar IV. Kondisi semacam ini meluas sampai hutan pegunungan bawah. 8). begitu juga pada lereng utara gunung Salak pada ketinggian 1. Hutan sekunder (Daerah koridor) Lahan garapan Dalam peta penutupan lahan.

10). Lahan garapan Sisi Selatan Koridor (Ladang) Daerah terbuka Kategori fisiogomi ini ditandai dengan tidak adanya tumbuhan atau vegetasi yang dapat tumbuh. 8. Lahan garapan Daerah koridor (Sawah) Gambar IV. ini termasuk “fumarole” di lereng Barat gunung Salak dan lokasi bangunan pembangkit tenaga listrik di lereng bagian Barat gunung Salak (Gambar IV. 6. 7. Lahan garapan Sisi Utara koridor (Kebun teh) Gambar IV. 28 .Gambar IV. 9. Kedua lokasi tersebut mencakup areal yang cukup luas.

M acaranga triloba (Reinw. W einm annia blum ei Planch. Perrotteia alpestris Bl. Daerah terbuka (Pembangkit tenaga listrik) Tabel IV. Pternandra azurea (Bl.Arg.ex W all.G ap n f :Naturalforest 29 . 9. Antidesm a tetrandrum Bl. Helicia robusta (Roxb.) Korth.) Rehd. Ficus fistulosa Reinw. Lithocarpus daphnoides (Bl.) Bl. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cimalati O ut of NP NationalPark Area Species Fam ily M yrtaceae Cunoniaceae M oraceae M oraceae Lauraceae Euphorbiaceae Sym plocaceae Sym plocaceae Fagaceae Euphorbiaceae Laulaceae Loganiaceae Rubiaceae Fagaceae Lauraceae M elastom ataceae Euphorbiaceae Proteaceae Celastraceae Piperaceae Fabaceae Cyatheaceae Pandanaceae Araucariaceae J-Fam ily フトモモ科 クノニア科 クワ科 クワ科 クスノキ科 トウダイグサ科 ハイノキ科 ハイノキ科 ブナ科 トウダイグサ科 クスノキ科 マチン科 アカネ科 ブナ科 クスノキ科 ノボタン科 トウダイグサ科 ヤマモガシ科 ニシキギ科 コショ ウ科 マメ科 ヘゴ科 タコノキ科 ナンヨウスギ科 plt plt plt df nf df nf nf nd nf nf nf wp5 wp15 wp17 wp19 wp20 wp21 wp22 wp23 wp24 wp32 wp33 nf wp34 nf wp35 nf wp36 Syzygium sp.ex Bl.Gambar IV. Calliandra callothyrsus M eissn. Urophyllum arboreum (Reinw. G lochidion rubrum Bl.) A.C.C am us Beilschm iedia m adang (Bl. Sym plocos cochinchinensis (Lour.) M uell.ex Bl. Lithocarpus sundaicus (Bl.) R. Cyathea contam inans (W all.) L. 2a.) Burck. Fagraea elliptica Roxb. Pandanus furcatus Roxb. Ficus fulva Reinw. 890 1025 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1520 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 1615 1705 1825 Figure: G PS W P Num ber / Altitude [m ] p l t :Pl a n t a t i o n  a r e a d f :Forest disturbed by hum an activity nd:Forest disturbed in natural.ex Bl. Agathis dam m ara (Lam b.) M oore Sym plocos fasciculata Zoll. Daerah terbuka (“Fumarole”) Gambar IV.Rich.Arg.) Copel. M allotus paniculatus (Lam k) M uell. 10.Br. Litsea resinosa Bl.) Loes Piper aduncum L.

) K. Psychotria robusta Bl. Vaccinium bancanum M iq.) DC.& B. Polyosm a ilicifolia Bl. Saurauia bracteosa DC.f.Schum .G . 1615 ○ ○ ○ ○ 1705 ○ ○ 1825 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 30 . Rhododendron sp.) Kurz.ex Soepadm o Payena leerii (T.) Korth. Podocarpus neriifolius D. Schim a wallichii (DC. Lindera bibracteata (Bl.) Knobl. Castanopsis javanica (Bl. Castanopsis argentea (Bl. Engelhardia spicata Lesch. Acronychia laurifolia Bl. Eurya acum inata DC. Neolitsea cassia (L.) DC. Elaeocarpus sphaericus (G aertn. M astixia pentandra Bl. 2b.Tabel IV.ex Bl. Lithocarpus elegans (Bl.Don Astronia spectabilis Bl. Prunus arborea (Bl. O lea javanica (Bl. M elicope latifolia (DC. Platea excelsa Bl.) Hatus.Hartley Prunus javanica (T. Parkia interm edia Hassk. Litsea noronhae Bl. Lasianthus laevigatus Bl.) T. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cimalati. Vaccinium sp.) Kalkm an Acer laurinum Hassk.) G ilg. O ut of NP NationalPark Area Species Fam ily Podocarpaceae Podocarpaceae M elastom ataceae Ericaceae Thym elaeaceae Rhizophoraceae Rubiaceae Ericaceae Cornaceae Laulaceae O leaceae Rubiaceae Actinidiaceae Theaceae Icacinaceae Fagaceae Lauraceae Rosaceae Aceraceae M agnoliaceae Elaeocarpaceae Fagaceae Sapotaceae M yrtaceae Ericaceae Rutaceae Juglandaceae Saxifragaceae Laulaceae Fabaceae Rutaceae Rosaceae Fagaceae Loganiaceae J-Fam ily マキ科 マキ科 ノボタン科 ツツジ科 ジンチョ ウゲ科 ヒルギ科 アカネ科 ツツジ科 ミ ズキ科 クスノキ科 モクセイ科 アカネ科 マタタビ科 ツバキ科 クロタキカズラ科 ブナ科 クスノキ科 バラ科 カエデ科 モクレン科 ホルト ノキ科 ブナ科 アカテツ科 フトモモ科 ツツジ科 ミ カン科 クルミ 科 ユキノシタ科 クスノキ科 マメ科 ミ カン科 バラ科 ブナ科 マチン科 plt plt plt df nf df nf nf nd wp5 - nf nf nf nf wp34 nf wp35 nf wp36 wp15 wp17 wp19 wp20 wp21 wp22 wp23 wp24 wp32 wp33 890 1025 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1520 Podocarpus im bricatus Bl. Daphne com posita (L.) DC.) Boerl. M anglietia glauca Bl. Syzygium rostratum (Bl.) M iq.& B. G ynotroches axillaris Bl.) Kosterm .

M aratti aceae ナンヨウスギ科 A gi opteri s evecta H offm . Fagaceae ブナ科 Li thocarpus sundai cus (B l . C unoni aceae クノ ニア科 W ei nm anni a bl um ei Pl anch. ) Kosterm . El aeocarpaceae ホルト ノ キ科 El aeocarpus sti pul ari s B l. ex B l . ) Rehd. Rhi zophoraceae ヒルギ科 G ynotroches axi l l ari s Bl .& D e V ri ese 1101 1150 1200 1247 1302 1360 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ Fi gure:G PS W P Num ber / Al ti tude [m ] p l t :P l a n t a t i o n   a r e a vi ty d f :Forest di sturbed by hum an acti n f :Naturalforest fm :Near Fum arol e 31 .Tabel IV. Aral i aceae ウコギ科 M acropanax di sperm us (B l . Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 A ntidesm a tetrandrum B l . ) Pers. ) H atus. ブナ科 Li thocarpus el egans (B l . Rutaceae ミ カン科 M el i cope l ati fol i a (D C . f. )O . Pi naceae マツ科 Pi nus m erkusi i Jungh. ノ ボタン科 M el astom a syl vaticum B l . K. ) Korth. Pal m ae ヤシ科 Pl ectocom i a el ongata M art. G . M el astom ataceae M yrsi naceae ヤブコウジ科 Rapanea hassel tii (B l . C yatheaceae ヘゴ科 C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . )DC .H artl ey Sym pl ocaceae ハイノ キ科 Sym plocos fasci cul ata Zoll .ex B l . Saxi fragaceae ユキノ シタ科 Pol yosm a i li ci fol i a Bl . Lauraceae クスノ キ科 Persea ri m osa (B l . 3. Ham am el i daceae マンサク科 Al ti ngi a excel sa N orona Fagaceae ブナ科 C astanopsi sj avani ca (B l . クワ科 Fi cus del toi dea Jack ト ウダイグサ科 Gl ochidi on rubrum B l . M oraceae クワ科 Fi cus padana B urm . Acti ni di aceae マタタビ科 Saurauia bracteosa D C . ) T. ) M ez Theaceae ツバキ科 Schi m a wal l i chi i (D C . クスノ キ科 Li tsea cubeba (Lour.ex Scheff. C yatheaceae ヘゴ科 C yathea contam i nans (W al l .ex Soepadm o Fagaceae Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 M al l otus pani cul atus (Lam k) M uell . Fagaceae ブナ科 C astanopsi s argentea (B l. M el astom ataceae ノ ボタン科 M edi ni l l a speci osa Rei nw . ) C opel . Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Pasir Reungit O ut of NP Nati onalPark Area Speci es Fam i l y M el astom ataceae M oraceae Euphorbi aceae Laul aceae J-Fam i l y plt W P25 df df df nf nf fm wp26 wp27 wp28 wp29 wp30 wp31 1045 ノ ボタン科 A stronia spectabi li s B l. )DC . G esneri aceae イワタバコ科 A gal m yla parasi ti ca (Lam k) O . K.A rg.

A rdi si a ful i gi nosa B l . M acropanax di sperm us (B l . M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l .ex B l .Tabel IV.Ki ng & H . )O . Gl ochi di on arborescens M acaranga rhi zi noi des (B l . A cer l auri num H assk. C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . ) C hoi sy W ei nm anni a bl um ei P l anch. Sauraui a bracteosa D C . 4. Fi cus fi stul osa R ei nw .R i ch. M usa acum i nata C ol l a P andanus furcatus R oxb. Sym pl ocos odorati ssi m a (B l . M usaceae Pandanaceae A cti ni di aceae Sym pl ocaceae Euphorbi aceae Euphorbi aceae Euphorbi aceae Fabaceae A recaceae C om posi tae Zi ngi beraceae M oraceae A qui fol i aceae A raucari aceae A ral i aceae 1221 1250 1304 1358 1382 1403 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ Fi gure: G PS W P N um ber / A l ti tude [m ] O pn: O pen area d f : Forest di sturbed by hum an acti vi ty 32 . G ynotroches axi l l ari s O m al anthus popul neus (G ei sel ) P ax Sl oanea si gun (B l ) K. K. Fi cus padana B urm . M acaranga tri l oba (R ei nw .A rg.Schum .C . P arasari anthes fal catari a (L. Eurya acum i nata D C . A gathi s dam m ara (Lam b. ) M uel l . Sym pl ocos fasci cul ata Zol l . Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cangkuang Speci es Fam i l y M el astom ataceae Fagaceae Fagaceae M el i aceae Saxi fragaceae M yrsi naceae C yatheaceae A ral i aceae Theaceae A ceraceae Fagaceae R hi zophoraceae Euphorbi aceae El aeocarpaceae Sym pl ocaceae C unoni aceae A recaceae M oraceae Theaceae Euphorbi aceae J-Fam i l y ノ ボタ ン科 ブナ科 ブナ科 センダン科 ユキノ シタ 科 ヤブコウジ科 ヘゴ科 ウコギ科 ツバキ科 カエデ科 ブナ科 ヒ ルギ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ハイノ キ科 クノ ニア科 ヤシ科 クワ科 ツバキ科 ト ウダイグサ科 バショ ウ科 タ コノ キ科 マタ タ ビ科 ハイノ キ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 マメ 科 ヤシ科 キク科 ショ ウガ科 クワ科 モチノ キ科 ナンヨ ウスギ科 ウコギ科 N ati onalP ark A rea opn opn df df df df w p39 w p40 w p41 w p42 w p43 w p44 A stroni a spectabi l i s Bl . )DC . C hrom ol aena odorata (L. )M i q.ex B l . C aryota rum phi ana B l . ) S.ex M art.A rg. f. M . C astanopsi s tungurrut (B l . ) M uel l . Schi m a w al l i chi i (D C . ) Korth. ) L. P ol yosm a i l i ci fol i a Bl .Sakai& N agam . )DC . C astanopsi s argentea (B l . Q uercus l i neata B l .A rg. I l ex cym osa B l . )Ni el sen Pi nanga j avana B l . D ysoxyl um densi fl orum (B l . )R. A rthrophyl l um di versi fol i um B l .R obi nson Etl i ngera cocci nea (B l .

Peta fisiognomi kawasan G. Peta penutupan lahan kawasan G. IV. Salak Gb. 12. Salak 33 . IV. 11.Gb.

Namun demikian tingkat heterogenetitas secara umum tercatat cukup tinggi. D= 40-50 %. 50 40 Ju m lah jen is (% ) 30 20 10 0 A B C Kelas frekuensi (%) D E Gambar V. Persebaran kelas frekuensi jenis dalam 12 petak pencuplikan data (A= 0-20 %.1. sehingga hasil yang diperoleh belum dapat menggambarkan kondisi hutan gunung Salak secara lengkap.1). Parameter tersebut selanjutnya dilakukan analisis ordinansi dan stratifikasi hutan untuk mengetahui lapisan kanopi hutan. yang terdiri atas 44 marga dan 26 suku (Lampiran 3). dimana data vegetasi yang terkumpul kemudian dianalisis menurut cara yang umum dilakukan dalam kajian ekologi hutan. dominansi. B= 20-30 %. E= 50-60 %) 34 . indeks keanekaragaman. kerapatan. Komposisi floristik Dalam 12 petak pencuplikan data tercatat sebanyak 59 jenis pohon dengan diameter batang > 5 cm. Pencuplikan data vegetasi hanya dilakukan pada 1 dari 3 jalur pengamatan.BAB V ANALISIS VEGETASI Studi ekologi hutan dilakukan dengan menggunakan metoda baku. Namun demikian dalam sekala kecil sudah terlihat adanya pengelompokan vegetasi berdasarkan ketinggian tempat maupun kondisi medan. kekayaan jenis. Dengan demikian diharapkan hasil ini dapat dipakai sebagai data dasar untuk penelitian lebih lanjut. Ini relatif sangat rendah dibandingkan dengan dengan kekayaan jenis yang diperkirakan terdapat di kawasan gunung Salak. ditandai dengan banyaknya jenis dengan frekuensi < 25 % (Gambar V. kemerataan jenis dan dominasi jenis. C= 30-40 %. sehingga diperoleh parameter-parameter frekuensi.

28 12.1. yang merupakan salah satu ciri khas hutan pegunungan. Cyatheaceae.48 14. Dalam petak dengan luas luas total 1. Luas bidang dasar (LBD= m2/ha).86 2.33 21.22 11.53 0. kerapatan (K= individu/ha).52 K 108 192 100 78 75 48 19 25 50 47 65 22 39 128 996 JJ 4 2 4 6 2 3 7 5 3 1 2 1 3 16. Tabel V. Theaceae dan Lauraceae merupakan suku-suku tumbuhan yang paling utama di daerah penelitian (Tabel V.58 0.52 m2/ha.00 59.36 1. Struktur hutan Kerapatan pohon secara umum tercatat tidak terlalu tinggi dan dengan luas bidang dasar yang rendah pula.74 0.08 ha (12 petak) hanya tercacah sebanyak 996 individu pohon (diameter > 5 cm). Fagaceae.2).05 1.83 1. 2).58 14.82 15.90 25.28 2. jumlah jenis (JJ) dan nilai penting suku (NPS) suku-suku pohon yang tercatat di daerah penelitian.73 25.54 0.Hanya beberapa jenis diantaranya Cyathea contaminans.46 10. Suku-suku tersebut dengan jumlah jenis. yaitu terdapat di semua petak pencuplikan data. Dengan kata lain bahwa di setiap tempat dapat dijumpai adanya jenis Cyathea contaminans.68 15.20 300. jumlah individu dan luas bidang dasar yang relatif tertinggi.48 0.00 NPS 53.11 1. Dilain pihak 19 jenis lainnya dengan NPR yang rendah dan hanya terdapat pada 1 petak pencuplikan data. Ardisia javanica. 35 . dengan total luas bidang dasar 26. Jenis-jenis tersebut paling tidak tercatat sebagai jenis dominan di satu petak pencuplikan data. Dari 26 suku yang tercatat.28 10. Rendahnya luas bidang dasar menunjukkan bahwa banyak diantara pohon yang tercacah berukuran kecil (Gambar V.98 26.93 1.07 51. Tingginya nilai penting jenis Cyathea contaminans terutama karena persebarannya yang luas.00 Berdasarkan nilai penting rata-rata jenis pohon (NPR > 7. Suku Fagaceae Cyatheaceae Theaceae Lauraceae Meliaceae Rutaceae Moraceae Euphorbiaceae Myrtaceae Saxifagraceae Myrsinaceae Melastomataceae Rubiaceae Suku-Suku Lain (13) Jumlah LBD 9.5) ditentukan jenis-jenis pohon yang paling utama di daerah penelitian (Tabel V.26 1. Eurya acuminata dan Dysoxylum densiflorum yang tersebar cukup merata.1).95 17.

0 13.1 18.5 85.4 28.7 48.2 68.8 4.9 22.3 3.0 3.7 16. dan beberapa pohon lain yang berukuran cukup besar (diameter 80-100 cm) diwakili oleh jenis-jenis Lithocarpus spicatus. yang menunjukkan adanya persebaran yang khas dari masing-masing jenis.2 P8 69.2 10.1 7. 2.5 P5 51. Berdasarkan nilai luas bidang dasar relatif.1 34.8 76.3 NPR 35.9 6.4 13.7 61.1 12.0 P4 27.1 12.2 300 11.1 68.1 3.3 7.9 52.8 300 104.4 46.5 41.6 16.0 3.9 P6 37. Schima wallichii dan Dysoxylum densiflorum.3 16.8 15.6 4.0 5.0 111.8 9.6 51.1 9.8 P11 32.7 15.7 22.6 24.0 24.1 21. Tiga pohon terbesar (diameter > 100 cm) yang tercuplik hanya diwakili oleh 1 jenis yaitu Castanopsis javanica.0 43.6 22.8 P3 34.3 9.5 12.2 9.1 300 116.1 10.5 21. diikuti oleh Astronia spectabilis.6 3. Acronychia laurifolia dan Polyosma illicifolia (Tabel V.6 300 25.0 7.5 22. Namun demikian dominasi jenis-jenis tersebut nampak bervariasi di masing-masing petak.0 21.6 23. Gynotroches axillaries dan Lithocarpus sundaicus.0 17.9 42.9 22. sebagian besar (81.2 6.6 5.8 24.7 300 14.8 13.9 4.3 P12 14.0 300 103.1 22.1 P2 16.6 29.0 24.7 23.5 6.8 9.9 43.7 31.8 300 88.9 4.4 %) berukuran kecil (diameter < 20 cm) dan hanya sekitar 1. 3).9 46. Nilai penting jenis-jenis rata-rata (NPR) pohon dan di setiap petak pencuplikan data Jenis / Petak Cyathea contaminans Lithocarpus sundaicus Castanopsis javanica Dysoxylum densiflorum Polyosma illicifolia Ardisia javanica Astronia spectabilis Eurya acuminata Acronichya laurifolia Symplocos fasciculata Syzygium fascigiatum Schima wallichii Cinamomum sintoc Jenis-jenis lain (45) Jumlah P1 18.2 P9 38.1 8.9 43.8 9.5 5.6 13.5 300 6.3 24.0 29.6 31.0 20.7 58.4 62.7 132.0 300 78.7 3.9 3.9 300 80.6 P7 27.7 13.5 7.Tabel V.0 29.8 98.8 300 4.5 9.5 9. 36 .9 300 Dari seluruh individu yang tercacah.0 28.8 3.9 P10 52.5 30.8 15.4 25.9 42.4 5.4 22.9 11.5 6.8 % diantaranya yang mencapai ukuran > 60 cm.0 9.5 73.1 35.0 11.7 300 154.0 10.9 3. dapat dikatakan bahwa daerah penelitian didominasi oleh Castanopsis javanica dan Lithocarpus sundaicus.

60 50 Jumlah individu (%) 40 30 20 10 0 < 10 < 20 < 30 < 40 < 50 < 60 < 70 < 80 > 80 Kelas diameter (cm)
Gambar V. 2. Persebaran diameter pohon yang tercacah dalam 12 petak pencuplikan data.

Tabel V. 3. Jenis-jenis dominant yang tercacah di daerah penelitian. Jenis Castanopsis javanica Lithocarpus sundaicus Astronia spectabilis Schima wallichii Dysoxylum densiflorum Acronichya laurifolia Polyosma illicifolia Jenis-jenis lain Jumlah P1 42.1 P2 P3 10.9 P4 P5 33.7 P6 P7 P8 P9 7.7 9.9 20.7 P10 P11 P12 DR

0.5 61.7

20.4 14.7 8.3 10.4 13.2 14.8 30.4 4.6 1.8 4.3 0.3 2.5 5.5 7.1 5.6 5.0 4.9 4.4

0.5 27.4 14.3 18.2 13.0 23.0 12.2 4.1 12.6 13.0 28.0 15.1 5.7 1.8 8.3 26.6 0.4 21.0 10.5 9.6 3.5 17.2 2.2 0.3 7.9 13.2

3.0 5.9

13.7 18.1

0.4 12.4 0.9 2.4

32.4 33.0 41.1 45.7 37.1 41.6 100 100 100 100 100 100

9.1 72.3 86.4 34.9 51.6 57.6 45.2 100 100 100 100 100 100 100

37

Pola komunitas Hasil analisis ordinasi menunjukkan adanya pengelompokan petak menjadi 4 kelompok (Gambar V. 3), yaitu: Kelompok 1: terdiri atas petak-petak 1, 2, 3, 4 dan 5; kelompok 2: terdiri atas petak-petak 6, 7, 10 dan 11; kelompok 3: terdiri atas petak 8 dan 9; dan kelompok 4: petak 12. Nampak bahwa petak 12 terpisah dari yang lain karena terdapat pada kondisi habitat dan ketinggian yang sangat berbeda.

0.5

9 12 8

Axis-2

1
0

2 5 3

7 10 6 11
-0.5 -1 0 Axis-1

4

1

Gambar V. 3. Pengelompokan petak-petak pencuplikan data berdasarkan analisis ordinasi (PCA) dengan parameter nilai dominansi jenis.

Kelompok 1 terdapat pada jalur ke arah puncak Salak-1, dengan ketinggian antara 1400 dan 1700 m dpl. Secara keseluruhan dalam kelompok ini dapat ditentukan sebagai komunitas Castanopsis – Polyosma dengan jenis-jenis dominan Castanopsis javanica, Polyosma illicifolia, Lithocarpus sundaicus, Astronia spectabilis, Acronichya laurifolia dan Schima wallichii. Kondisi hutan dari komunitas ini disajikan dalam Gambar V. 4. Kelompok 2 terdapat pada daerah sekitar Pondok Bajuri ke arah Puncak Salak-1, Kawah Ratu dan Cangkuang; pada ketinggian antara 1300 dan 1400 m dpl. Komunitas dalam kelompok-2 ini dapat ditentukan sebagai komunitas Castanopsis – Lithocarpus, dengan Castanopsis javanica, Lithocarpus sundaicus, Dysoxylum densiflorum, Schima wallichii, Astronia spectabilis dan Lithocarpus spicatus merupakan jenis-jenis dominan. Gambar V. 5. menunjukkan kondisi hutan dari komunitas ini.

38

Gambar V. 4. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Castanopsis – Polyosma

Gambar V. 5. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Castanopsis – Lithocarpus

39

Gambar V. 6. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Eurya - Ficus

Kelompok-3 terdapat pada daerah jalur ke arah Kawah Ratu pada ketinggian antara 1.400 dan 1.450 m dpl. Kelompok-3 ini dapat ditentukan sebagai komunitas Eurya – Ficus (Gambar V. 6); dengan jenisjenis dominan diantaranya Eurya acuminate, Ficus padana, Evodia latifolia, Casearia velutina, Lithocarpus sundaicus dan Vernonia arborea. Kelompok-4 terdapat di daerah sekitar Pos Kancil pada ketinggian 1209 m dpl. Komunitas di daerah ini nampak berbeda dengan komunitas lainnya, yang kemungkinan karena perbedaan ketinggian ataupun pengaruh gangguan. Komunitas di daerah ini ditentukan sebagai komunitas Symplocos – Castanopsis, dengan Castanopsis javanica, Symplocos fasciculate, Glochidion rubrum, Ilex cymosa dan Lithocarpus sundaicus merupakan jenis-jenis dominan. Berdasarkan pengelompokan tersebut diatas dapat dikatakan ketinggian tempat merupakan faktor utama, meskipun lokasi (posisi geografi) juga ikut berperan. Struktur hutan diantara 3 komunitas tersebut nampak bervariasi, yang terlihat dari persebaran horisontal dan persebaran vertikal. Gambar V.7., menunjukkan adanya perbedaan stratifikasi hutan diantara ke 3 komunitas tersebut. Komunitas Castanopsis – Polyosma menunjukkan lapisan yang menerus dengan tinggi total pohon mencapai > 35 m. Pohon-pohon tertinggi dalam komunitas ini antara lain Schima wallichii, Castanopsis javanica dan Lithocarpus sundaicus. Begitu pula komunitas Castanopsis – Lithocarpus menunjukkan lapisan kanopi yang cukup menerus, tetapi dengan tinggi pohon kurang dari 30 m. Castanopsis javanica, Gynotroches axillaris, Astronea spectabilis dan Lithocarpus sundaicus tercatat

40

Dilain pihak komunitas Eurya – Ficus pohon-pohon tertinggi hanya mencapai 19. Persebaran diameter pohon pada setiap tipe komunitas 41 . 40 Komunitas Castanopsis-Polyosma 20 Komunitas Castanopsis-Lithocarpus 20 Komunitas Eurya-Ficus 30 Tinggi total (m) 15 20 10 10 10 5 0 0 10 20 30 0 0 10 Tinggi cabang (m) 20 0 0 5 10 15 Gambar V. Stratifikasi hutan pada setiap tipe komunitas 80 Kom-Castanopsis-Polyosma Kom-Castanopsis-Lithocarpus 60 Jumlah pohon (%) Kom-Eurya-Ficus 40 20 0 < 20 < 30 < 40 < 50 < 60 < 70 < 80 < 90 > 100 Kelas diameter (cm) Gambar V.5 m yang terdiri atas jenis-jenis Ilex cymosa. Symplocos fasciculata. 8. yang menunjukkan banyaknya rumpang (daerah terbuka). Castanopsis javanica dan Polyosma illicifolia. dengan lapisan kanopi yang tidak menerus. Stratifikasi hutan dalam komunitas ini.sebagai jenis-jenis tertinggi dalam komunitas ini. 7.

sudah menuju ke arah fase klimaks ditandai dengan persebaran vertikal dan horisontal yang nampak menerus. Namun demikian diharapkan hasil yang telah terkumpul dapat dipakai sebagai acuan penelitian lebih lanjut. 8). 42 . Di lain pihak dua komunitas lainnya. sedangkan pada komunitas Eurya-Ficus tercatat kurang dari 2 %. Akan tetapi hasil ini kemungkinan belum menunjukkan kondisi hutan kawasan gunung Salak secara menyeluruh. Pada komunitas Castanopsis-Polyosma dan komunitas Castanopsis-Lithocarpus tercatat bahwa pohon dengan diameter > 50 cm mencapai lebih dari 5 % dari pohon yang tercacah. Berdasarkan hasil tersebut di atas dapat dikatakan bahwa komunitas Eurya-Ficus masih dalam fase suksesi setelah mengalami gangguan. karena pencuplikan data yang relatif sangat terbatas. khususnya komunitas Castanopsis-Polyosma.Perbedaan fase diantara ke 3 komunitas tersebut juga terlihat dari perbedaan ukuran diameter pohon (Gambar V.

00 30. dan kayu bakar (Gambar VI. Sedangkan di desa Cidahu dan desa Girijaya. terdapat juga pohon yang dimanfaatkan untuk keperluan lainnya.00 5. saat dikonfirmasi mengenai nama tumbuhan yang terdapat dalam petak. atau pakan ternak. Berdasarkan wawancara. makanan. kerajinan (furniture). diketahui terdapat penambahan 44 jenis yang tidak terdapat dalam petak. 43 .00 20.1).00 35. hal ini dikarenakan tumbuhan yang terdapat di dalam petak didominasi oleh pohon. pakan ternak. Persentase pemanfatan jenis tumbuhan yang terdapat di dalam plot.00 Kerajinan Obat Bahan Bangunan Makanan Pakan Ternak Kayu bakar Alat tradisional Jenis kegunaan Gambar V. Seperti kulit batang dari kiteja (Neolitsea javanica) yang dimanfaatkan sebagai pengganti obat nyamuk. Namun demikian.00 15. diketahui bahwa pengetahuan masyarakat mengenai tumbuhan yang terdapat di dalam petak. pengetahuan mereka tentang tumbuhan yang dimanfaatkan tidak jauh berbeda. paling banyak digunakan sebagai bahan bangunan. Sedangkan tumbuhan bawah dan merambat dimanfaatkan sebagai obat.00 Persentase 25.1).00 0.2).00 10. Kegunaan tumbuhan dalam petak 40. Berdasarkan hasil wawancara terhadap masyarakat desa Cidahu dan desa Girijaya. makanan.1. teknologi tradisional. Jenis-jenis tersebut terbagi dalam 30 family dari tumbuhan yang diketahui kegunaannya sebagai obat tradisional (Tabel VI. diketahui bahwa mereka mengenal 36 jenis dan 28 famili dari tumbuhan yang dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat (Tabel VI.BAB VI PEMANFAATAN TUMBUHAN Berdasarkan wawancara yang dilakukan di dalam petak. Berdasarkan grafik di bawah dapat dilihat bahwa pemanfaatan yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat terhadap sumberdaya alam yang terdapat di dalam petak adalah sebagai bahan bangunan.

diketahui bahwa masyarakat mengenal dan memanfaatkan tumbuhan dengan berbagai macam cara pemanfaatannya. untuk gelang. Pengetahuan pemanfaatan tumbuhan di desa Cidahu dan Girijaya tidak terpusat pada satu tokoh. Daun harendong bulu dapat juga digunakan sebagai penghilang rasa pahit dalam makanan yang direbus. menambah tenaga dan nafsu makan. seperti Kicantung bila akar dan buahnya direbus diyakini sebagai obat kuat bagi laki-laki. (2) pemanfaatan tersendiri yang tidak memiliki manfaat lain. Dalam pemanfaatannya. melainkan menyebar pada individu-individu.). Jumlah jenis tumbuhan yang diketahui dan dimanfaatkan oleh masyarakat Cidahu dan Girijaya sebagai obat-obatan tradisional lebih banyak dari pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Kasepuhan yang hanya mengetahui 40 jenis tumbuhan (Harada 2006). daun klewih (Artocarpus comunnis). serta ada juga ada juga yang dimanfaatkan sebagai tindakan darurat. masyarakat mengenal berbagai macam kegunaan dari satu jenis tumbuhan. Namun umumnya. masyarakat mengenal berbagai macam komposisi godogan. Hal ini karena pengetahuan tersebut yang ada tidak saja berasal dari pewarisan melainkan juga dari adanya interaksi dengan masyarakat lain. daunnya dapat juga digunakan sebagai obat sakit gigi dengan cara daunnya diperes kemudian air yang keluar dari perasan diteteskan pada gigi yang sakit.).). kembang puspa (Schima 44 .Berdasarkan wawancara yang dilakukan di desa Cidahu dan Girijaya. ada yang digunakan sebagai bagian dari campuran jamu atau dimanfaatkan secara tersendiri. seperti Harendong bulu (Clidermia hirta) selain digunakan sebagai campuran dalam godogan. seperti Begonia robusta yang digunakan sebagai pertolongan pertama bagi orang yang keracunan (terasa pusing) akibat menghisap uap belerang terlalu banyak. Masyarakat memiliki beragam cara pemanfaatan. maka komposisi jenis godogan yang sering dilakukan oleh masyarakat adalah cecenet (Physalis minima L. Perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Cidahu dan Girijaya terkait dengan akses informasi yang lebih terbuka. kumis kucing (Orthosiphon aristatus (Bl) Miq). akar eurih (Imperata cylindrica Pers. atau yang hanya memiliki satu jenis pemanfaatan. meniran (Phyllanthus niruri L. Bila ingin menghilangkan pegal linu.).). Dalam pemanfaatan tumbuhan untuk jamu godogan. kulit jirak (Symplocos fasciculata Zoll. (3) satu jenis tumbuhan yang dapat digunakan dengan berbagai macam cara. daun sembung (Blumea balsamifera (L. ada satu jenis tumbuhan yang memiliki ragam pemanfaatan. masyarakat melakukannya dengan berbagai cara: (1) langsung dimakan untuk keadaan darurat. penggunaannya dengan direbus secara bersama-sama.) Dc. Berbeda dengan masyarakat Kasepuhan yang masih “terpusat” pada satu tokoh. Kirinyuh (Clibadium surinamense) yang digunakan sebagai obat cacar atau luka di telinga. harendong (Melastoma malabatrichum). tergantung pada tujuan pemanfaatan godogan tersebut. iwung koneng (Bambusa vulgaris). Areuy (Ficania cordata) yang digunakan sebagai kerajinan tangan.

Sedangkan untuk penyakit liver (koneng) ramuan yang dibuat adalah rebusan daun alpukat dan daun sukun. Untuk pohon-pohon besar. ruyung atau batangnya dapat juga digunakan sebagai tiang bangunan pondok di sawah atau kebun. merupakan jenis pohon besar yang banyak manfaatnya. maka ramuan yang dibuat adalah jukut bau (Ageratum conyzoides). Seperti pakis (Cyatea contansminan). jukut bau. 2.).wallichii (DC) Korth. dan pinang. kulit sintok (Cinnamomum sintoc Bl.). atau kusen. bahan furniture. maka ramuan jenis tumbuhan yang digunakan adalah akar bambu. batangnya berkualitas terbaik untuk dibuat bahan bangunan Selain itu jirak (Simplocos psticulata). Masyarakat tidak berani menggunakan daun dari pakis ini sebagai alas tidur ketika berada di hutan. Untuk mengobati kencing kurang lancar dan darah tinggi maka komposisi tumbuhannya adalah jumput bau (Ageratum conyzoides). daun dari pakis ini memiliki mitos tersendiri. kiurat. batang lapuk digunakan sebagai media tanaman hias. Beberapa contoh tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar taman nasional disajikan pada Gambar VI. sehingga dengan menjadikan daun pakis sebagai alas ada keyakinan manusia menyerahkan dirinya sebagai korban harimau. cecenet (Physalis minima). Diantara jenis pohon yang memiliki pemanfaatan selain jenis-jenis diatas adalah Saninten (Castanopsis argentea). masyarakat umumnya mengenal pemanfaatannya sebagai bahan bangunan. papan. namun bukan pada pemanfaatannya.) dan akar tekokak (Solanum torvum Swartz. karena menurut anggapan masyarakat pada masa lalu harimau bila menyimpan makanannya ditutupi dengan daun ini. dan sintok (Cinnamomum sintok) kulitnya dimanfaatkan sebagai bahan campuran jamu godogan. yang memiliki ragam pemanfaatan. dan daun alpukat (Persea americana). (4) satu jenis tumbuhan yang memiliki berbagai macam pemanfaatan. Bila hendak mengobati sakit disekitar lutut. Ramuan ini diyakini dapat digunakan sebagai obat kuat. 45 . seperti. Bila ingin menciptakan obat kuat. daunnya dapat juga sebagai sayuran.

2. 46 . lalapan Plantago major Sebagai obat batu ginjal dan obat kuat Harendong (Melastoma malabatrichum) sebagai obat sakit perut Gambar VI. Beberapa jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat di desa Cidahu dan desa Girijaya.Kipait (Paspalum conjugatum) sebagai obat luka Tempuyung (Sonchus arvensis) sebagai obat ginjal Kumis kucing (Orthosiphon aristatus) sebagai obat sakit kencing batu dan ginjal Cente (Lantana camara) sebagai obat bisul atau bengkak Sntrong (Erectitus valerianifolia) sebagai obat darah tinggi dan penawar racun Antanan (Centella asiatica) sebagai obat kesemutan Takokak (Solanum torvum) Sebagai obat kuat dan darah tinggi.

Argostema montanum Bl. balok. airnya diminum untuk obat kuat. Acronychia pedunculata (L. Blechnum orientale L. No.Br. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Bahan bangunan.) D. 1 2 3 Nama Lokal Kirujug Karag Kiajag Jenis Acronychia laurifolia Bl. Evodia latifolia Dc. Lithocarpus sp. kayunya buat bahan bangunan. Suku Rutaceae Rutaceae Myrsinaceae Kegunaan Bahan bangunan Furniture. Manglietia glauca Bl. Sebagai obat Daun muda dimakan buat obat diare. kusen. Tiang bangunan Buat kayu bakar. Zingiberaceae Agnifoliaceae Lauraceae Fagaceae Magnoliaceae Asteraceae Lauraceae 25 Karemi Omalanthus populneus (Geisl) pax. Gynotroches axillaris Bl. airnya diminum buat obat diare/radang lambung. Freycinetia angustifolia Bl.Tabel V. furniture. Ilex cymosa Blume Lindera bibracteata (Nees) Boerl.) Val. furniture. alat tradisional. Eurya acuminata DC. Euphorbiaceae 47 . Tumbuhan Bermanfaat yang terdapat di dalam Petak Penelitian. Getahnya diminum buat obat diare. Ficus sp. Bahan Bangunan.) Miq Ardisia crispa (Thunb) DC. kusen Bahan bangunan. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Bahan bangunan Kayu bakar. Bahan Bangunan (kusen) Kulit batang digerus lalu campur dengan minyak kelapa buat obat koreng Furniture. balok Kayu buat bahan bangunan dan furniture.) R. Mikania cordata Neolitsea javanica Bl. bahan bangunan 4 5 6 7 8 9 10 Kikeyep Ramu kuya Pakis buah Rotan lilin Kimerak Jara anak Sintok Ardisia lurida Bl. Ex DC. Buat tali. Helicia robusta (Roxb. Ex Wall Melastomataceae Athyriaceae Theaceae Rutaceae Moraceae Pandanaceae Rhizophoraceae Proteaceae 19 19 20 21 22 23 24 Pining Kisaoh Kibeusi Pasang Manglit Areuy Kiteja Horntedtia pininga (Bl. Don Diplazium esculenta Sw. 1. Cinnamomum sintoc Bl. Calliandra calothyrsus Meissn Castanopsis javanica (Bl. Calamus javanica Bl. Myrsinaceae Rubiaceae Blechnaceae Arecaceae Fabaceae Fagaceae Lauraceae 11 12 13 14 15 16 17 18 Harendong bulu Pakis benyeur Kiwates Kisampang Kigember Tandang tanah Kitiwu Tenung Clidemia hirta (L.) DC. dan kulitnya ditumbuk. Buat anyaman. Bahan kerajinan (gelang) Kulit kayu buat bahan obat nyamuk. Kayu bakar. Bahan Bangunan (kusen) Buat pakan ternak Daun muda buat lalap. Akar direbus. papan. airnya diminum obat sakit pinggang/obat kuat. kusen Kulit batang direbus.

Urang aring Eclipta alba (L. Solanaceae Kegunaan Daun muda di makan untuk obat sakit perut. Syzygium lineatum (Dc. Batangnya di potong. Prunus arborea (Bl. Psidium guajava L. kusen Buah buat bahan manisan. asam urat. Smilax zeylanica L. Balsaminaceae 4. Cecenet Physalis minima L. buah yang masak jambu merah buat obat demam berdarah. buat obat darah tinggi dan sakit pinggang.) Merr. Asteraceae 10. Daun di rebus. Bahan Bangunan Bahan bangunan. Kayu buat bahan bangunan dan furniture.) Kalkm. Daun di gerus di pakai keramas. Daun muda di gerus ditempelkan pada dahi buat obat demam / kompres.) Hassk. Obat luka. Mahoni 6. Harendong Melastoma malabatrichum 2. Buah masak di juss lalu di minum buat obat darah tinggi. airnya di minum buat obat diabet. Kayu bakar.26 27 28 29 30 Kibonteng Kihujan Kawoyang Kawoyang Ramu giling Platea latifolia Bl. No. airnya diminum. Schefflera lucida (Bl. air dalam batang buat obat. dan furniture Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Tabel V. Cangkoreh Dinochloa scandens Familia Melastomataceae Poaceae 3. Poliosma ilicifolia Bl. perasan airnya di minum buat obat diare. furniture. airnya di minum.) Frodin Icacinaceae Saxifragaceae Rosaceae Rosaceae Araliaceae 31 32 33 34 Puspa Canar Jirak Kisireum Schima Wallichii (DC) Korth. bunganya sebagai hiasan Bahan bangunan. 2. Daun di rebus. Cangkudu 8. Nama Lokal Jenis 1. daun di gerus. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. airnya di minum buat obat darah tinggi. 48 . Alpukat 5. Lauraceae Meliaceae Myrtaceae Rubiaceae Myrtaceae 9. Tumbuhan Bermanfaat yang Diketahui Masyarakat sebagai Obat.Ham Weinmannia blumei Planch Theaceae Smilacaceae Symplocaceae Myrtaceae 35 36 Hamirung Peris Asteraceae Cunnoniaceae Furniture Bahan bangunan Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Salam 7. daun digerus lalu ditempelkan pada tempat yang luka. Symplocos fasciculata Zoll. Jambu batu Persea americana Swietenia mahagoni Syzygium polyantha Morinda citrifolia L. buat menghitamkan dan menyuburkan rambut. airnya diteteskan pada mata buat obat trachum / rabun. Daun di rebus.) Kalkm. Prunus arborea (Bl. buat obat darah tinggi.& Perry Vernonia arborea Buch. Pacar Impatiens platypetala Lindl. Seluruh bagian tanaman direbus.

Tempuyung Sonchus arvensis L. airnya diminum buat obat batu ginjal. 16. Kikumat Polygala paniculata Polygalaceae 25. Rane Imperata cylindrica Pers. Eurih 27. Sintrong 18. Euphorbiaceae 49 . daun diremas digosokkan/dibalurkan keperut untuk obat masuk angin. Asteraceae Asteraceae Malvaceae Solanaceae 21. Labiatae Malvaceae 17.) Gaerth. airnya di minum buat obat nafsu makan dan obat perawatan sehabis melahirkan. akar direbus. Obat luka. Cente 23. daun dikeringkan lalu digodog airnya. Daunnya di rebus. Asteraceae 22. seluruh bagian tanaman direbus. daun digerus lalu ditempelkan kebagian yang luka. Jotang 19. Obat luka. Daun di rebus.) Dc. Randu Lantana camara L. airnya diminum buat obat memperlancar peredaran darah daun dilalap buat obat darah tinggi dan penawar racun. airnya diperas lalu diminum buat obat tajam/berak darah. airnya diminum buat obat kuat. airnya diminum buat obat pegal- 13. Selaginella plana Poaceae Selaginellaceae 28. Sembung Lopatherum gracile Blumea balsamifera (L. Harega Bidens biternata Asteraceae 15. Pungpurutan 20. Jukut bau Ageratum conyzoides L. Tangkur 12. Kipait Paspalum conjugatum Berg. diminum buat obat setelah melahirkan Seluruh bagian tanaman direbus. airnya diminum buat obat sakit kencing. Obat bisul/bengkak. jika airnya di saring lalu diminum buat obat mah. daun digerus lalu ditempelkan pada bagian yang luka. Daun digerus. Poaceae Asteraceae Umbi akar di rebus. Asteraceae 14. Poaceae 26. Sidagori Sida rhombifolia L. daun digerus ditempelkan di uluhati / dada obat sesak napas. Ceiba pentandra (L. Takokak Erechtites valerianifolia Spilanthes iabadicensis Triumfetta rhomboidea Solanum torvum Swartz. Verbenaceae Bombacaceae 24. airnya diminum obat diare Akar dan daun direbus. Daun dan batangnya direbus. daun di gerus ditempelkan pada yang luka buat obat luka. Kumis kucing Orthosiphon grandiflorus Bold. buah dilalap buat obat darah tinggi. Meniran Phyllanthus niruri L. airnya diminum untuk obat kuat. seluruh bagian tanaman direbus airnya diminum buat obat pegalpegal.11. daun digerus ditempel kebagian yang sakit. Obat luka/bisul. Daun dan batang di rebus airnya diminum buat obat darah tinggi daun direbus. daun digerus kemudian ditempelkan pada tempat yang sakit. airnya diminum untuk obat sakit pinggang.

Suji Pleomele angustifolia Liliaceae 33. airnya diminum obat pegal-pegal/sakit pinggang. umbi akar diparut/digerus lalu ditempelkan ketempat yang luka. Calincing 38. airnya diperas lalu diminum obat panas dalam/muntah darah. Momordica charantiaca L. airnya diminum untuk obat kanker dan diabet. Tapak dara Catharanthus roseus Apocynaceae 34. lalu dibiarkan sampai satu malam. Pacing Sauropus androgynus (L. Zingiberaceae 32. Euphorbiaceae Cucurbitaceae Oxalidaceae Costus speciousus (Koen. Daun digerus. Daun disayur buat memperbanyak ASI (Air Susu Ibu) Buah disayur untuk obat diabet dan darah tinggi. Acanthaceae Plantaginaceae Daun direbus. airnya diperas kemudian diminum buat obat nafsu makan. airnya diminum buat obat batu ginjal. Daun dan akar digerus. Seluruh bagian tanaman direbus. Keji beling 30. Direbus bersama adas dan pulosari. Seluruh bagian tanaman direbus. Lampuyang Zingiber aromatica Val. Reunde 40. Ki urat Sericocalyx crispus Plantago mayor L. Daun muda dan buah dimakan buat obat sariawan. Sebagai obar rematik Batangnya sebagai obat keracunan belerang Batang kayunya yang harus sebagai penolak ular Daun dikunyah. Gedang gandul Staurogyne elongata Carica papaya Acanthaceae Caritaceae 41 Begonia 42 Limo 43 Daun Saga 44 Antanam Begonia robusta Litsea cubeba (Lour) Pers Abrus precatorius L.E.pegal. diminum pada pagi hari ketika baru bangun tidur. Paria 37. Centella asiatica Begoniaceae Lauraceae Fabaceae Apiaceae 50 . Smith Zingiberaceae 39. Katuk 36. daun direbus. Umbi akar digerus. Asteraceae 35.) Merr. airnya diminum buat obat batu ginjal dan obat kuat. sarinya sebagai obat sariawan Direbus seluruh bagian sebagai obat kesemutan 31. airnya diminum obat tambah darah dan diabet. Tapak liman Elephantopus scaber L. Obat eksim. 29.) J. Oxalis corniculata L. kemudian dicampur dengan air.

Seperti di petilasan Eyang santri. Di samping pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan. dan mitos yang ada di masyarakat membaur menjadi satu. seperti tentang Dewa-dewa atau juga tokoh-tokoh dalam legenda Hindu. Gunung Salak juga menjadi saksi atas proses yang ada di masyarakat. Bagi masyarakat desa Girijaya. 51 . dan ketergantungan akan kehidupan. Gunung salak memiliki nilai penting bagi masyarakat Sunda secara umum dan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung Salak. harapan. Sedangkan bagi masyarakat Islam namun masih kuat tradisi “Sunda”nya tempat-tempat yang diasosiasikan dengan legenda Hindu diganti dengan sosok atau pun juga tokoh penyebar agama Islam di wilayah itu. ketidakterpisahkan masyarakat dengan tumbuhan yang ada di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak patut menjadi pertimbangan kebijakan pengelolaan Taman Nasional. berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan dan kearifan dalam memanfaatkan keanekaragaman yang terdapat di gunung Salak. Bagi masyarakat yang masih berpegang teguh pada tradisi. juga memiliki nilai-nilai kultural. terutama gunung Salak adalah tempat istimewa. sejarah. Gunung Salak hanya dimaknai sebagai “titipan” dari Tuhan yang harus dirawat dengan baik. Perebutan dan negosisi kelompok yang ada di masyarakat juga ditunjukkan dari tafsiran mereka tentang suatu tempat peninggalan sejarah. menghilangkan kearifan lokal dan tujuan dari keberadaan Taman Nasional tidak akan tercapai. proses islamisasi dan akulturasi budaya Islam dan Hindu-Budha. Dengan demikian. Tumbuhan. gunung Salak tidak saja sebagai daerah tangkapan air yang menyimpan dan menyediakan kebutuhan masyarakat akan air bersih melainkan juga di gunung Salak tersimpan sejarah. masyarakat desa Cidahu dan desa Girijaya yang tinggal di kaki gunung Salak mempunyai inisitif yang berbeda dalam menjaga kelestarian gunung Salak. Hal ini dilihat dari versi dan “perebutan” mitos yang ada di Gunung Salak.BAB VII PENUTUP Pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan tumbuhan menunjukkan adanya saling keterkaitan yang erat antara masyarakat dan lingkungan. Bagi masyarakat. gunung. tempat-tempat yang ada di Gunung Salak di asosiasikan dengan mitos Hindu. Sedangkan bagi kelompok yang lain. Dalam tumbuhan terkandung mitos tentang masa lalu kehidupan masyarakat. namun ada juga yang berpendapat bahwa tempat ini merupakan petilasan dari Sanghyang Guru Resi (Kakek dari Guru Minda dalam dongeng Lutung Kasarung). Tanpa mempertimbangkan hal tersebut. disamping bernilai secara ekonomis. sebagian besar masyarakat menganggap tempat ini sebagai tempat bersemedinya Eyang Santri. Di samping itu. bermanfaat bagi masyarakat untuk mengobati penyakit. Di tempat ini legenda.

Bpk. setiap kawasan memiliki peranan yang cukup berarti sehingga masing-masing perlu dipertahankan atau dilestarikan. Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Kepala Pusat dan Kepala Bidang Botani di Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Bpk Agus. memberikan dukungan dan kerjasama selama berlangsungnya survey ini.Perbedaan ini menambah keragaman tradisi masyarakat. Terimakasih juga kami ucapkan kepada Bpk. (3) Kawasan hutan pegunungan rendah berfungsi sebagai habitat hidupan liar seperti leopard dan gibbon.P. Salak di Desa Giri Jaya dan Desa Cidahu. Anhar yang mendukung terlaksananya proyek kerjasama ini.N. Bpk Hamzah dan Bpk. (4) Hutan tanaman. Bpk Tatang. Emad yang mendampingi selama dilapangan serta tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Ika S. Endang. Bpk. Kepala T. Bpk. (2) Kawasan hutan pegunungan atas (>1800 dpl) yang tidak terlalu luas di gunung Salak mempunyai vegetasi yang sangat spesifik sehingga keberadaan kawasan ini menjadi sangat penting bagi T. Ucapan Terimakasih Survey flora gunung Salak ini adalah atas dukungan dan kerjasama antara JICA. Bpk. karena waktu penjelajahan relatif singkat. Nurdin atas kerjasamanya selama survey dilapangan. Madani dan Bpk. Saran Dari hasil survey diperoleh beberapa catatan penting yang dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan TN selanjutnya. Bpk. dapat digunakan sebagai buffer zone antara habitat yang essensial dan daerah luar. Undang. TNG Halimun – Salak project dengan Pusat Penelitian Biologi – LIPI. Informasi di buku ini masih kurang dari sempurna. Pembuatan plot permanen untuk monitoring berkurang dan hilangnya keanekaragaman hayati juga diperlukan untuk mengetahui pengaruh pemanasan global. N. Ucapan terimakasih ini juga kami sampaikan kepada Bapak dan Ibu yang mendukung dan membantu kami memberikan informasi tentang pemanfaatan flora dan informasi lainnya tentang Gn. Aden Muhidin. Gunung Halimun-Salak. N. Bpk Iwan. dan Bpk.Gunung HalimunSalak. Dimana pembagian kawasan ini sangat penting. Wardi. atas diperkenankannya mengadakan penelitian di Kawasan T. Ismirza. sehingga perlu adanya studi ekologi lebih lanjut di beberapa lokasi terutama rute Cimalati dan Rute Pasir Reungit untuk melengkapi data. tanpa mereka tidak lengkaplah buku ini. Pembagian ini antara lain: (1) Kawasan hutan pegunungan bawah dan atas merupakan hutan primer dan harus dipertahankan untuk menjadi area inti sebagai preservasi hewan dan tumbuhan liar. Perlu upaya yang lebih serius untuk mendorong inisitif pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat dengan mengupayakan kesejahteraan bagi mereka. Ucapan terimakasih kepada seluruh staff JICA dan Staff TNG Halimun – Salak yang memberikan banyak informasi tentang kondisi Gn Salak. 52 . Gunung Halimun-Salak.

2007. August 1975. Komite Nasional MAB Indonesia. Anwar Ibrahim. Gunung Halimun-Salak National Park Management Project. Cox. Iskandar. F. Anonim. 1975. Struktur dan komposisi hutan DAS Cisadane hulu. 1985. Paper presented in the Symposium of Pasific Ecosystem. Anonim. 1996. Taman Nasional Gunung Halimun-Salak: Menyingkap Kabut Gunung HalimunSalak. hal. Agama Ramah Lingkungan: Perspektif Al-Qur’an. F. Jakarta: Sub Direktorat Informasi Konservasi Alam. Imron.. 1964. Laboratory Manual of General Ecology. Java (3 vols) .. Dalam Michael Banton. 2007.. 2006. London: Tavistock. Taman Nasional Gunung Halimun-Salak: Menyingkap Kabut Gunung HalimunSalak. 2005. Dede Wardiat. K. Anonim. LIPI. K. LIPI. 1966.G. Fl. 2007. 2007. Yayasan Obor Indonesia. 1963-68. Ari Wahyono.M. E. Henny Warsilah. Kartawinata. Butterworths. Komite Nasional MAB Indonesia. S.C.M. 2006. Mangunjaya.. Indonesia. 2005. 15 Mei 1991. Anthropological Approaches to the Study of Religion. Bogor: Dephut dan JICA. London. Mengenal 21 Taman Naional Model di Indonesia. P. Mangunjaya. M. Bogor. Jawa Barat.. Noord. M.. Structure and composition of montane rain forest in Awibengkok area. Religion as a Cultural System. Kodiran. E. 13th Pasific Science Congress... Second Edition. M. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Mirmanto. Puslitbang Biologi-LIPI. Vancouver. & Bakhuizen vd Brink Jr.. Bogor: JICA. Greigh-Smith. 1967. Makalah dalam Lokakarya. Unpublished report. 1991.A. Riswan. 33-41. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Crown. Quantitative Plant Ecology. Leuweung Titipan: Hutan Keramat Warga Kasepuhan di Gunung Halimun. Prawiroatmodo. Dalam: Witjaksono.W.Bibliografi Abdillah. LIPI. Konservasi Alam dalam Islam. 2007. Anonim.. C. Mulyati Rahayu. Kartawinata. K. Makalah dalam Lokakarya. The ecological zone of Indonesia. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak Periode 20072026. Salak. G. Adimiharja. K.. Komite Nasional MAB Indonesia. Keramat Alami dan Kontribusi Islam dalam Konservasi Alam. Iowa. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. 2007. Pelestarian Daerah Mandala dan Keanekaragaman Hayati oleh Orang Badui. Geertz. J. Prosiding Seminar Hasil Litbang SDH. Batavia. Departemen Kehutanan dan JICA. Tumbuhan Obat Taman Nasional Gunung Halimun. 2001. Gerakan Sosial untuk Konservasi Daerah Resapan Air di Kawasan Daerah Aliran Sungai Cisadane di JABOPUNJUR. Jakarta. Mirmanto & S. 53 . Harada.. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Makalah dalam Lokakarya.. Jakarta: LIPI Press. C. Etika Jawa.. RM Marwoto & EK Supardiyono (eds). Jakarta: Paramadina. Bogor: Backer.

Kementrian Perhubungan.. 1972. John Wiley. Bogor: Puslit-Biologi LIPI. Kepariwisataan dan Kebudayaan Kota Bogor. Yogaswara. H. Banten. Jakarta.P. 1951. A. Bandung: Remaja Rosda Karya... Aims and Methods of Vegetation Ecology. Yoneda. Sugardjito (eds. Schmidt & JHA Ferguson.. H. Hutan. H. Bogor: Padepokan Giri Sunda Pura. In: M. Jakarta: Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.R. Simbolon & J. dan Perumusan Kebijakan di Indonesia.S. Menjelajah Nusantara: Ekspedisi Alfred Russel Wallace Abad ke-19.A. Situs Sindang Barang Bukti Kegitan Keagamaan Masyarakat Kerajaan Sunda (Abad ke-13-15 M): Laporan Penelitian awal. Puslit-Biologi LIPI. Ellenberg. LIPI-PHPAJICA. van. Mohammad Fathi Royyani. 2007. 2003. The Inventory of Ntural Resources in Gunung Halimun National Park.. dan Carol J Pierce Colfer (Peny). 2000. A.Muller-Dombois. Research and Conservation of Biodiversity in Indonesia. Bogor. Dkk. Situs Keramat Alami sebagai Alternatif Pengakuan Hak-Hak Masyarakat Adat: Kasus Kasepuhan Cibedug. Djawatan Meteorologi dan Geofisic.. Floristic study of Gunung Halimun National Park. 2006. A. Komite Nasional MAB Indonesia. Makalah dalam Lokakarya. Mountain Flora of Java. Wiriadinata. I.G. Vera Budi Lestari. Dinas Informasi.A. Brill. Propinsi Jawa Barat. Laporan Perjalanan.J van.G. Penelitian ke Cagar Biosfer Cibodas.42.J. Ke mana Harus Melangkah: Masyarakat. LIPI.. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Vol. 2007. Steenis. dan Asep Sadeli. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Munandar. 2007a. Verhandelingen. Flora Pegunungan Jawa. No. New York. H. 1997.G. Pemukiman Kuna di Bogor: Tinjauan Berdasarkan Data Tertulis dan Tinggalam Arkeologis. C.). 7-13. Rainfall types based on wet and dry period ratios for Indonesia with WesternNew Guinea. Makalah dalam Seminar Kesejarahan Kota Bogor 6 September 2007. Rais. II. 54 . (Diterjemahkan oleh A. Nasution dan Mahyuddin Mendim. Resosudarmo. 2007.G. Munandar. Steenis. S. D & H. Kawasan Konservasi Indonesia. 1974. C. 2007b.A.. Hal. Wallace.

55 .

) A .R i ch. A gathi s dam m ara (Lam b. ) L.C am us S chi m a w al l i chi i (D C . P ternandra azurea (B l .ex B l . B r. Gl ochi di on rubrum B l . U rophyl l um arboreum (R ei nw . P andanus furcatus R oxb. B ei l schm i edi a m adang (B l . Land data of Gunung Salak (Cimalati route) G nung S al ak vegetati on Ci m al ati R oute D ate 2008/3/6. C yathea contam i nans (W al l . C al l i andra cal l othyrsus M ei ssn. C astanopsi sj avani ca (B l .C . ) R ehd. S ma l l Pi oneer other 890 960 1025 15 1058 5 5 5 7 10 sturbed 17 1111 N aturaldi 4 20 19 P ri m ary sturbed 20 1209 N aturaldi 20 m ary 21 1252 P ri 25-30 m ary 22 1301 P ri 25-30 A gathi s dam m ara (Lam b. Fagraea el l i pti ca R oxb.C . N eol i tsea cassi a (L. S chi m a w al l i chi i (D C . )D C .Lampiran 1. C al l i andra cal l othyrsus M ei ssn. 11 chi kaw a. ) Kal km an S chi m a w al l i chi i (D C . ) B urck. ) Korth. ) C opel . C astanopsi sj avani ca (B l . C astanopsi s argentea (B l .R i ch. )R. ) Korth. ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 56 . Li thocarpus daphnoi des (B l .ex W al l . Li thocarpus sundai cus (B l .I sm ai l . ) Korth. )Bl .I w an M em bI C om m ent WP Al t Forest type Pl antati on Pl antati on Pl antati on Pl antati on Forest H i ght S peci es Fam i l y A raucari aceae A raucari aceae Fabaceae Fabaceae Theaceae C yatheaceae P andanaceae C el astraceae Pi peraceae P roteaceae Fagaceae Theaceae Fagaceae Euphorbi aceae C unoni aceae R osaceae Theaceae M el astom ataceae Lauraceae Logani aceae Fagaceae Theaceae Lauraceae Fagaceae R ubi aceae Fagaceae J-Fam i l y ナンヨ ウスギ科 ナンヨ ウスギ科 マメ 科 マメ 科 ツバキ科 ヘゴ科 タ コ ノ キ科 ニシキギ科 コ ショ ウ科 ヤマモガシ科 ブナ科 ツバキ科 ブナ科 ト ウダイグサ科 クノ ニア科 バラ科 ツバキ科 ノ ボタ ン科 クスノ キ科 マチン科 ブナ科 ツバキ科 クスノ キ科 ブナ科 アカネ科 ブナ科 Em erg. P runus arborea (B l . H el i ci a robusta (R oxb. )D C . ) L. D om i n. W ei nm anni a bl um ei P l anch. ) Kosterm . P errottei a al pestri s Bl . S chi m a w al l i chi i (D C . ) Loes Pi per aduncum L. )D C . ) Korth. ) Korth.

S chi m a w al l i chi i (D C . 57 . ) M uel l .ex B l . S yzygi um sp. 20-25 A cronychi al auri fol i a Bl . S ym pl ocos cochi nchi nensi s (Lour. ) Korth. Li tsea resi nosa B l . D om i n. ) Kal km an S chi m a w al l i chi i (D C . ) Korth.A rg. ) R ehd. )D C . Fi cus ful va R ei nw .Lampiran 1. 35-40 S chi m a w al l i chi i (D C . W ei nm anni a bl um ei P l anch. C astanopsi sj avani ca (B l . A nti desm a tetrandrum B l . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y R osaceae Theaceae Fagaceae I caci naceae Laul aceae R utaceae Euphorbi aceae Theaceae Euphorbi aceae S ym pl ocaceae M agnol i aceae S axi fragaceae Logani aceae S ym pl ocaceae M oraceae M oraceae Lauraceae Theaceae R utaceae Fagaceae Theaceae C unoni aceae M yrtaceae Fagaceae R utaceae Theaceae Em erg. )D C . ) Korth. S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y バラ科 ツバキ科 ○ ブナ科 クロタ キカズラ科 クスノ キ科 ミ カン科 ト ウダイグサ科 ツバキ科 ○ ト ウダイグサ科 ○ ハイノ キ科 モクレン科 ユキノ シタ 科 マチン科 ハイノ キ科 ○ クワ科 ○ クワ科 ○ クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ミ カン科 ○ ブナ科 ツバキ科 クノ ニア科 フト モモ科 ブナ科 ミ カン科 ツバキ科 ○ 23 sturbed 1354 N aturaldi m ary 1404 P ri 24 32 m ary 1450 P ri   P runus arborea (B l .A rg. A cronychi al auri fol i a Bl . S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . ) M oore M angl i eti a gl auca B l . Eurya acum i nata D C . 20-25 S chi m a w al l i chi i (D C . Fi cus fi stul osa R ei nw . M acaranga tri l oba (R ei nw . Pl atea excel sa B l . A cronychi al auri fol i a Bl .ex B l . M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . ) Korth. C astanopsi s argentea (B l . Li thocarpus sundai cus (B l . Eurya acum i nata D C .

G . ) H atus. S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl .ex B l . ) Korth. ) Kosterm . ) T. S apotaceae P ayena l eeri i (T. Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . M el astom ataceae A stroni a spectabi l i s Bl . R utaceae A cronychi al auri fol i a Bl . I caci naceae Pl atea excel sa B l . R osaceae P runus arborea (B l . )D C . ) B oerl . ) Korth. Laul aceae Li ndera bi bracteata (B l .Lampiran 1. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C .& B . M yrtaceae S yzygi um rostratum (B l . Em erg. S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y R osaceae P runus j avani ca (T. )D C . Lauraceae N eol i tsea cassi a (L. )M i q. aeocarpaceae El aeocarpus sphaeri cus (G aertn.& B . ) Kurz.ex B l . A ceraceae A cer l auri num H assk. ) K. ) Kal km an R utaceae M el i cope l ati fol i a (D C . D om i n. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . ) Kosterm .S chum .H artl ey Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l .ex S oepadm oFagaceae Jugl andaceae Engel hardi a spi cata Lesch. Lauraceae N eol i tsea cassi a (L. Li thocarpus el egans (B l . S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . )D C . Jugl andaceae Engel hardi a spi cata Lesch. El P odocarpaceae P odocarpus neri i fol i us D .D on P odocarpaceae P odocarpus i m bri catus B l . Fabaceae P arki ai nterm edi a H assk. S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y バラ科 ユキノ シタ 科 ○ クロタ キカズラ科 バラ科 ミ カン科 ブナ科 ツバキ科 ○ ○ ユキノ シタ 科 ○ カエデ科 ○ クスノ キ科 マメ 科 クルミ 科 ○ ブナ科 ○ クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ○ ミ カン科 ノ ボタ ン科 ユキノ シタ 科 フト モモ科 ブナ科 ○ クルミ 科 ○ ホルト ノ キ科 マキ科 ○ マキ科 ○ クスノ キ科 ○ アカテツ科 33 m ary 1520 P ri 25-35 34 m ary 1615 P ri 25-30 58 .

) Korth.Lampiran 1. C astanopsi sj avani ca (B l . R hododendron sp. Pl atea excel sa B l . D om i n. V acci ni um sp. V acci ni um bancanum M i q. P odocarpus i m bri catus B l . P sychotri a robusta B l .D on A stroni a spectabi l i s Bl . )D C . ) Kosterm . ) Korth. )D C . P runus arborea (B l . )G i l g. P odocarpus neri i fol i us D . S chi m a w al l i chi i (D C . ) Knobl . S chi m a w al l i chi i (D C . M angl i eti a gl auca B l . A stroni a spectabi l i s Bl . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y Fagaceae Eri caceae Eri caceae I caci naceae P odocarpaceae Theaceae M el astom ataceae A ceraceae R osaceae Ol eaceae M agnol i aceae Laul aceae A cti ni di aceae R ubi aceae P odocarpaceae P odocarpaceae M el astom ataceae Theaceae Fagaceae I caci naceae C ornaceae R hi zophoraceae Eri caceae Lauraceae Thym el aeaceae R ubi aceae Eri caceae Em erg. 20-30 P l atea excel sa B l . ) Kal km an Ol ea j avani ca (B l . f. Lasi anthus l aevi gatus B l . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y ブナ科 ツツジ科 ○ ツツジ科 ○ クロタ キカズラ科 ○ マキ科 ○ ツバキ科 ○ ノ ボタ ン科 カエデ科 バラ科 モクセイ科 ○ モクレン科 ○ クスノ キ科 ○ マタ タ ビ科 ○ アカネ科 ○ マキ科 ○ マキ科 ○ ノ ボタ ン科 ツバキ科 ○ ブナ科 クロタ キカズラ科 ミ ズキ科 ヒ ルギ科 ツツジ科 ○ クスノ キ科 ○ ジンチョ ウゲ科 ○ アカネ科 ○ ツツジ科 ○ 35 m ary 1705 P ri 36 m ary 1825 P ri C astanopsi sj avani ca (B l . M asti xi a pentandra B l . Li tsea noronhae B l . N eol i tsea cassi a (L. G ynotroches axi l l ari s Bl . 59 . R hododendron sp. 20 P odocarpus i m bri catus B l . S auraui a bracteosa D C . A cer l auri num H assk. D aphne com posi ta (L.

ex B l . ) H atus. A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l . M aratti aceae A gi opteri s evecta H offm .ex B l . ) Korth. Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art. Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . M oraceae Fi cus padana B urm .I w an M em b I C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Pl antati on 5-10 P i nus m erkusi i Jungh. )O . D om i n. Euphorbi aceae A nti desm a tetrandrum B l . ) Kosterm . )D C . Fam i l y Pi naceae Fagaceae C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. C yatheaceae C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . C yatheaceae C yathea contam i nans (W al l . G esneri aceae A gal m yl a parasi ti ca (Lam k) O . )D C . Fagaceae C astanopsi s argentea (B l . A cti ni di aceae S auraui a bracteosa D C .A rg.ex B l . f.A rg. )D C . ) Korth. M el astom ataceae M edi ni l l a speci osa R ei nw . Li thocarpus el egans (B l . Em erg. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . Lauraceae P ersea ri m osa (B l . Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . ) R ehd. K.ex S oepadm o Fagaceae Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . El aeocarpaceae El aeocarpus sti pul ari s Bl . P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art. ) C opel . K.Lampiran 2. Land data of Gunung Salak (Pasir reungit route) G nung S al ak vegetati on P asi r reungi t R oute 2008/3/7 D ate chi kaw a.I sm ai l . S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art. Fagaceae C astanopsi s argentea (B l . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y マツ科 ブナ科 ○ クノ ニア科 ツバキ科 ○ ウコ ギ科 ○ ○ ト ウダイグサ科 ○ ホルト ノ キ科 ヤシ科 ヘゴ科 R D B ヘゴ科 ユキノ シタ 科 ○ ブナ科 ツバキ科 ヤシ科 ブナ科 ブナ科 ノ ボタ ン科 イワタ バコ 科 ナンヨ ウスギ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ヒ ルギ科 ブナ科 ヤシ科 クスノ キ科 マタ タ ビ科 クワ科 25 26 sturbed 27 1150 N aturaldi 15 sturbed 28 1200 N aturaldi 10-15 60 .& D e V ri ese N aturaldi sturbed 10-15 Li thocarpus sundai cus (B l . R hi zophoraceae G ynotroches axi l l ari s Bl . ex B l .

Euphorbi aceae Gl ochi di on rubrum B l . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y マンサク科 ○ ツバキ科 ○ ブナ科 ト ウダイグサ科 ウコ ギ科 クワ科 ブナ科 ブナ科 ○ ト ウダイグサ科 ミ カン科 ウコ ギ科 ハイノ キ科 ○ ツバキ科 ○ マンサク科 ヤブコ ウジ科 クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ノ ボタ ン科 クワ科 ○ ○ ボタ ン科 M el astom ataceae ノ ○ ○ 29 1250 20 m ary 30 1300 P ri 20-25 sturbed 31 1360 N atruraldi 10-15 M el astom a syl vati cum B l . ) Korth. K. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . M oraceae Fi cus del toi dea Jack Em erg. Li thocarpus el egans (B l . ) P ers. ) H atus.Lampiran 2. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . H am am el i daceae Al ti ngi a excel sa N orona M yrsi naceae R apanea hassel ti i (B l . S ym pl ocaceae S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . ) Korth. ) T. Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . M oraceae Fi cus padana B urm .H artl ey A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l . )D C . ) M ez Laul aceae Li tsea cubeba (Lour. G . 61 . K. Fagaceae C astanopsi s argentea (B l . A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l . )O . f. ) Korth.ex S oepadm o Fagaceae Euphorbi aceae A nti desm a tetrandrum B l . M el astom ataceae A stroni a spectabi l i s Bl . D om i n. (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type P ri m ary forest Forest H i ght S peci es Fam i l y H am am el i daceae Al ti ngi a excel sa N orona Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . R utaceae M el i cope l ati fol i a (D C . )D C .ex S cheff. )O .

W ei nm anni a bl um ei P l anch. M oraceae Fi cus padana B urm . M usaceae M usa acum i nata C ol l a tae C hrom ol aena odorata (L.ex B l . Theaceae Eurya acum i nata D C . M . Euphorbi aceae M acaranga tri l oba (R ei nw . ) M uel l . Eurya acum i nata D C . Euphorbi aceae A recaceae C unoni aceae S axi fragaceae Theaceae ナンヨ ウスギ科 ツバキ科 クノ ニア科 ウコ ギ科 ツバキ科 クノ ニア科 クワ科 ツバキ科 モチノ キ科 ト ウダイグサ科 ショ ウガ科 バショ ウ科 キク科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 クノ ニア科 クワ科 ツバキ科 マメ 科 ト ウダイグサ科 ヤシ科 クノ ニア科 ユキノ シタ 科 ツバキ科 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ RDB ○ ○ ○ 62 .A rg.C .R i ch. f. A qui fol i aceae Fi cus padana B urm . Zi ngi beraceae Etl i ngera cocci nea (B l .R obi nsonC om posi Euphorbi aceae M acaranga rhi zi noi des (B l .A rg.I w an C om m ent WP Al t Forest type N P G ate Javana S pa G rassl and Forest H i ght S peci es Fam i l y J-Fam i l y Em erg.S akai& N agam . A ral i aceae A rthrophyl l um di versi fol i um B l . ) S . M oraceae Fi cus fi stul osa R ei nw .Ki ng & H . Theaceae Eurya acum i nata D C . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . ) Korth. C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. D om i n. f. C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch.I sm ai l . ) Korth.A rg. )R. Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . ) L.Lampiran 3. P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch.ex B l . Fabaceae P arasari anthes fal catari a (L. ) M uel l . )Ni el sen 42 sturbed 1358 N atyraldi Gl ochi di on arborescens Pi nanga j avana B l . Land data of Gunung Salak (Cang Kaung route) G nung S al ak vegetati on C ang Kuang R oute 2008/3/12 D ate M em bI chi kaw a. S ma l l Pi oneer other 37 38 39 1127 1165 1221 40 and 1250 G rassl 41 sturbed 1304 N aturaldi A raucari aceae 15-20 A gathi s dam m ara (Lam b.

Q uercus l i neata B l . M acropanax di sperm us (B l . A stroni a spectabi l i s Bl . C astanopsi s tungurrut (B l . M acaranga tri l oba (R ei nw . S ma l l Pi oneer J-Fam i l y ハイノ キ科 ノ ボタ ン科 クワ科 ○ マタ タ ビ科 ヤシ科 ト ウダイグサ科 バショ ウ科 M usaceae P andanaceae タ コ ノ キ科 Fagaceae ブナ科 ○ Fagaceae ブナ科 Fagaceae ブナ科 ○ M el astom ataceae ノ ボタ ン科 Theaceae ツバキ科 R hi zophoraceae ヒ ルギ科 M el i aceae センダン科 ○ S ym pl ocaceae ハイノ キ科 ○ Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 A ceraceae カエデ科 El aeocarpaceae ト ウダイグサ科 Fagaceae ブナ科 ○ Fagaceae ブナ科 ○ S axi fragaceae ユキノ シタ 科 M el astom ataceae ノ ボタ ン科 M el i aceae センダン科 ○ A ral i aceae ウコ ギ科 ○ M yrsi naceae ヤブコ ウジ科 ○ C yatheaceae ヘゴ科 other 43 m ary 1382 P ri 44 sturve 1403 N aturaldi S ym pl ocos fasci cul ata Zol l .Lampiran 3. (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y S ym pl ocaceae M el astom ataceae M oraceae A cti ni di aceae A recaceae Euphorbi aceae Em erg. K. ) Korth. )M i q. C astanopsi s argentea (B l . 63 . )M i q. )D C . A stroni a spectabi l i s Bl .ex B l . M usa acum i nata C ol l a P andanus furcatus R oxb. ) C hoi sy O m al anthus popul neus (G ei sel ) P ax A cer l auri num H assk. ) M uel l . 20-25 Q uercus l i neata B l .S chum . S ym pl ocos odorati ssi m a (B l . P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . C aryota rum phi ana B l . A rdi si a ful i gi nosa B l . D om i n. A stroni a spectabi l i s Bl . D ysoxyl um densi fl orum (B l . Sl oanea si gun (B l ) K.A rg. S chi m a w al l i chi i (D C . Fi cus fi stul osa R ei nw .ex M art. )D C .ex B l . S auraui a bracteosa D C . G ynotroches axi l l ari s D ysoxyl um densi fl orum (B l . )O . 30-35 C astanopsi s argentea (B l . C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . )D C .

6 Lat D M 6 6 6 6 6 6 6 6 44 44 44 44 44 44 43 43 S 46. 9 50. 2 47. 4 35. Altitude data of WP 32-35 were measured by barometer. 1 40. 7 D 106 106 106 106 106 106 106 106 ti me 8: 27 9: 02 9: 20 9: 31 9: 45 10: 03 10: 25 11: 38 WP 37 38 39 40 41 42 43 44 1127 1165 1221 1250 1304 1358 1382 1403 Lon M S acc 42 52. 3 45 43. 7 49. 4 20. 8 42 48. Since the satellite condition. 5 39. 6 43. 1 27. 6 7. 6 47. 1 55 50. 5 The accuracy of GPS data were usually 10 15m. The location of ground survey point Ci m al ati Al t D ate 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 ti me 9: 53 10: 35 10: 46 11: 09 11: 23 11: 38 12: 00 12: 52 13: 11 9: 23 9: 53 10: 29 11: 09 12: 08 WP 5 15 17 19 20 21 22 23 24 32 33 34 35 36 890 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1519 1615 1705 1825 D 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 Lat M 44 44 44 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 S 33. 8 0. 6 39. 9 48. 9 53. 9 19. 3 D 106 106 106 106 106 106 Lon M 41 41 41 42 42 42 S acc 34. 6 57. 5 40. 1 35. 3 1 13. 1 55. 9 42 30. 7 30. 3 25. 2 20. 5 42 40. 8 42 35. 2 10. 8 45. 2 25. 8 11. 64 . 1 32. 9 1. 7 acc * * * * P asi r reungi t Al t D ate 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 C ang K uang Al t D ate 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 acc: ti me 9: 57 10: 26 10: 46 11: 34 12: 07 12: 55 WP 25 26 27 28 29 30 1045 1101 1150 1200 1247 1302 D 6 6 6 6 6 6 Lat M 41 41 42 42 42 42 S 6. 4 17.Lampiran 4. 1 24. 7 30. 5 57. 1 42 54. 8 D 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 Lon M 45 45 45 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 S 26 9 3. 2 16. 8 42 29 42 23. 6 25.

Saurauia bracteosa DC.& Thoms. 3) Plot gunung Salak. Halimun1 + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Salak2 + Plot3 Dimanfaatkan4 + + + ACERACEAE ACTINIDACEAE + + AGAVACEAE ALANGIACEAE AMARANTHACEAE ANACARDIACEAE ANNONACEAE APIACEAE APOCYNACEAE + + 65 .) Urb.) Hook. Saurauia reinwardtiana Bl. Strobilanthes repanda Bl. 2) Tim JICA dan tim Puslit Biologi.f.Br.) R.) Bremek. Goniothalamus macrophyllus (Bl. 4) SUKU ACANTHACEAE Species Agrostema boragineum Dflugossa filiformis (Bl. Ket. Gluta renghas L. Wiriadinata (19). Polyalthia lateriflora (Bl.) King Polyalthia subcordata (Bl. Straurogyne elongata (Bl.) Bl. Alstonia spectabilis Alyxia reinwardtii Bl. Semecarpus heterophylla Bl. Strobilanthes paniculata (Nees) Miq.) Bl.) Radlk.) Rehder Alangium javanicum Alangium rotundifolium (Hassk.) O. Gendarussa vulgaris Nees Hemigraohis javana Pseudoranthenum acuminatissimum (Miq. Mangifera indica L. Achyranthes aspera L.) A.Lampiran 5. Alstonia scholaris (L. E.) Bloem.: 1) Mirmanto. Buchanania arborescens (Bl. Orophea hexandra Bl. Cordyline fructicosa (L. Saurauia cauliflora DC Saurauia nudiflora DC Saurauia pendula Bl. Mangifera foetida Lour.) Bl. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat di kawasan gunung Halimun dan gunung Salak. Chev. Sericocalyx crispus (L. Cyathula prostrata (L.) Bremek. Centela asiatica (L. Acer laurinum Hassk. & H. Alangium chinense (Lour.K Strobilanthes blumei Bremek Strobilanthes cernua Bl. Straurogyne bibracteata Bl.

) L.f Homalomena pendula Pothos sp. Homalomena humilis (Jack) Hook. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 66 . Macropanax dispermum (Bl. Anthurium andreanum Linden Arisaema filiformis Bl. Caryota mitis Lour. Calamus javensis Bl. Typonium sp. Scindapsus hederaceus (Zoll.) Frodin Trevesia sundaica Miq. Arthrophyllum diversifolium Bl.) Schott. Arum sp. Rich Calamus adspersus Bl.) Miq. Calamus ciliaris Bl. Tylophora villosa Bl.) Harms. Raphidophora korthalsii Schott. Agathis dammara (Lamb. Calamus rhomboideuss Bl.APOCYNACEAE AQUIFOLIACEAE ARACEAE ARALIACEAE ARAUCARIACEAE ARECACEAE Chilocarpus suaveolens Bl. Licuala spinosa Thun. Raphidophora montana (Bl. Voacanga grandiflora Willubeia apiculata Ilex cymosa Bl. Scindapsus pictus Hassk. & Mor. & Mor. Daemonorops melanochaetes Bl. Anadenrum microstachyum (Miq. Nenga pumila (Mart. Schefflera lucida (Bl.) Zoll.) Wendl. Calamus heteroides Bl.) O. Schismatoglottis calyptrata (Roxb.) Seem. Caryota rumphiana Bl.) Miq. Homalomena cordata Schott. Calamus reinwardtii Bl. Schefflera fascigiata (Miq. Alocasia longiloba Miq.K. Caladium bicolor (W.C. Ait) Vent. Polyscias nodosa (Bl. Kopsia arborea Melodinus orientalis Bl.) Back. Macropanax concinnus Miq. Schefflera aromatica (Bl.

K. Sphaeranthus indicus L. Spilanthes acmella Spilanthes iabadicensis + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + ATHYRIACEAE BALANOPHORACEAE BALSAMINACEAE BEGONIACEAE Vernonia arborea Buch-Ham Diplazium bantamense Diplazium cordifolium Balanophora globosa Jungh. + + + + + + + + + + + + + + 67 .) Hassk. Robinson Clibadium surinamense L.C.B. Elephantopus scaber L.) S.ex Bl Aristolochia sp.M. Bidens biternata Blumea balsamifera (L. Eupatorium odoratum Eupatorium riparium Reg.) R. Eupatorium inulifolium H. Erechtites valerianifolia Erigeron sumatrensis Retz.ARECACEAE ARISTOLOCHIACEAE ASCLEPIADACEAE ASTERACEAE Pinanga coronata Bl. ex Mart) Bl. Begonia multangula Bl. Plectocomia elongata Mart.f. Begonia longifolia Bl.C. Blumea lacera (Burm.) Decne Discidia rumularifolia Discidia truncata Decne Hoya Hoya macrophylla Bl.) Steud.) D. Moore Eclipta alba (L. Impatien chonoceras Hassk. King & H. Ageratum conyzoides L. Hoya multiflora Bl. Eupatorium triplinerve Vahl Mikania micranta Sonchus arvensis L. Begonia bracteata Jack Begonia isoptera Dryand.) D. Crossocephalum crepidioides (Bth. Impatien javensis (Bl. Pinanga javana Bl. Impatien walleriana Hook. Impatien platypetala Lindl. Discidia punctata (Bl.f. Chromolaena odorata (L.

f. Trichosantes quinquangulata A.Br. Viburnum lutescens Bl.f. Mastixia pentandra Bl.) Kds. Trichosantes villosa Bl.) Swat Trichosantes ovigera Bl. Burmania lutescens Becc.) Wang. Capparis cantoniensis Lour.f. CUCURBITACEAE Sechium edule (Jacq. ex Link Sarcandra glabra Calophyllum soulattri Garcinia celebica L. Blechnum orientale L. Pollia hasskarlii Rolla Rao CONVOLVULACEAE CORNACEAE Ipomoea aquatica Forsk Merremia umbellata (L. Canarium denticulatum Lobelia angulata Forst. Zehneria indica CUNNONIACEAE Weinmania blumei Planch. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 68 .) Bl. Garcinia sp.) Loes.Begonia muricata BEGONIACEAE BLECHNACEAE BOMBACACEAE BURMANIACEAE BURSERACEAE CAMPANULACEAE CAPPARACEAE CAPRIFOLIACEAE Begonia robusta Bl. Viburnum sambucinum Bl.) Hall. Mastixia trichotoma Bl. Neesia altisima (Bl. Commelina paludosa Bl Forrestia mollissima (Bl. CELASTRACEAE CHLORANTACEAE CLUSIACEAE Euonymus javanicus Bl. COMBRETACEAE COMMELINACEAE Terminalia microcarpa Decne Commelina diffusa Burm. Garcinia diodica Bl. Chloranthus elatior R. Trichosantes tricuspidata Lour. Nyssia javana (Bl. Viburnum coriaceum Bl. Perrottetia alpestris (Bl.Gray Trichosantes sumatrana Cogn.

Dioscorea numularia Lmk.A. Scleria melanostema Scleria pubescens Scleria pubescens DAPHNIPHYLLACEAE DILLENIACEAE DIOSCOREACEAE Daphniphyllum glaucescens Bl. Aporusa frutescens Aporusa sphaeridophora Merr. Rhododendron malayanum Jack Rhododendron sp. Elaeocarpus stipularis Bl. Antidesma tetandrum Bl. + + 69 .) K. Dipterocarpus hasseltii Diospyros buxifolia Elaeagnus latifolia L. Cyathea junghuhniana (Kuntze) Copel. Elaeocarpus ascronodia Master Elaeocarpus oxypyren K. Fimbristylis sp.) Kurz. & V. Antidesma montanum Bl. Elaeocarpus sphaericus (Gaertn.) Burck.) K. Dillenia javanica Tetracera indica Dioscorea alata L. Blumeodendron tokbrai (Bl. Gahnia javanica Zoll ex Mor. Sloanea sigun (Bl.CYATHEACEAE Cyathea contaminans (Wall. Cyathea rachiborskii + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + CYPERACEAE Carex baccan Nees Cyperus kyllinga Endl.) M. Kylinga monocephala Rottb. EUPHORBIACEAE Antidesma minus Bl. Elaeocarpus petiolatus (Jack) Wall.) Copel. Hypolytrum nemorum (Vahl) Spreng.Schum DIPTEROCARPACEAE EBENACEAE ELAEAGNACEAE ELAEOCARPACEAE + ERICACEAE Rhododendron javanicum (Bl.) Benn. & B. Hypolytrum humile (Steud. Schum. Scleria laevis Retz. Breynia microphylla (T.

Mallotus paniculatus (Lamk) Muell. Glochidion sericeum (Bl. & Mor. Albizia falcataria (L. Croton laevifolius Bl.) MA Macaranga tanarius (L.) Nielsen Parkia intermedia Hassk. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + FABACEAE Abrus precatorius L.) Hook. Macaranga triloba (Reinw. Bridelia minutiflora Hook. Archidendron fagifolium Calliandra calothyrsus Meissn Calliandra tetragona Dalbergia tamarindifolia Erythrina orientalis Milletia dehiscens Milletia sericea Mimosa pigra Mimosa pudica Parasarianthes falcataria (L. Phyllanthus urinaria L. Glochidion philippicum Glochidion rubrum Glochidion rubrum Bl. Macaranga rhizinoides Macaranga rhizinoides (Bl.) M.) Merr. ex Bl. Claoxylon polot (Burm.) Merr. f.0 Roxb. Glochidion molle Bl.) Fosberg Archidendron clypearia (Jack) Niels. Omalanthus populneus Zoll. Pimeleodendron pavorioides Sapium seliferum (L. Phyllanthus niruri L. Claoxylon glabrifolium Miq.A. Ostodes panniculata Bl.f. 70 .EUPHORBIACEAE Bridelia glauca Bl.f. Sauropus androgynus (L. Pithecellobium ellipticum (Bl. Glochidion arborescens Bl. Arg.) Hassk.A.) M.

+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + FAGACEAE Castanopsis acuminatissima (Bl. Didymocarpus asperifolia (Bl. ex Hk. Cyrtandra sandei De Vr.f. Didymocarpus zollingeri (Clarke) O. GNETACEAE HAMAMELIDACEAE HYPERICACEAE Gnetum cuspidatum Altingia excelsa Noronha Cratoxylum sumatranum 71 .) A. Castanopsis tungurrut (Bl. Cyrtandra sulcata Bl.) A.) DC Castanopsis javanica (Bl. GENTIANACEAE GESNERIACEAE Gentiana quadrifaria Bl.C. Aesynanthus radicans Jack Agalmyla parasitica (Lamk) O. Lithocarpus daphnoides (Bl. FERNS FLACOURTIACEAE Oleandra pistilaris Pteridium aquilinum Casearia tuberculata Bl. Aesynanthus horsfieldii R. & Mor. Castanopsis argentea (Bl. Casearia velutina Flacourtia rukam Zoll.D. Sphatolobus littoralis Hassk.) Bakh. Cyrtandra picta Bl. Sphatolobus ferruginensis Bth. Pangium edule Reinw.K. Quercus gemelliflora Bl.K.) DC.) Rehd. Cyrtandra rostrata Bl.FABACEAE Pterocarpus indicus Willd.) Rehd. ex Soepadmo Lithocarpus spicatus Lithocarpus sundaicus (Bl. Lithocarpus teijsmanii (Bl. Cyrtandra coccinea Cyrtandra glabra Cyrtandra oblongifolia Bth. Cyrtandra pendula Bl. Quercus lineata Quercus pyriformiv Steen. Camus Lithocarpus elegans (Bl.) Hatus.Br.) DC.

Litsea diversifolia Bl. Molineria capitulata (Lour. Dianella javanica (Bl. Litsea tuberculata (Bl.) Bl. Plectranthus galeatus Scutellaria discolor + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + LAURACEAE Beilschmiedia madang (Bl. Litsea elliptica Bl. Anisomeles indica (L.) Herb. + + + + + + + + + + + IRIDACEAE JUGLANDACEAE LAMIACEAE Trimeza martinicensis (L.) Val. Orthosiphon grandiflorus Bold. Gomphandra javanica (Bl. Litsea resinosa Bl. Neolitsea trilivervia (Bl. Litsea mappacea (Bl.) Kosterm.) Boerf. Litsea tomentosa Bl. Platea excelsa Bl. Litsea ferruginea Bl. Litsea grandis Litsea javanica Bl. Engelhardia spicata Lesch. Disporum cantoniense (Lour. Leea indica Burm.) Kosterm. Neolitsea cassia (L.) O. Molineria latifolia Herb.) Bl.HYPOXIDACEAE ICACINACEAE Curculigo orchimoides Gaertn.f Leea rubra Bl. Litsea noronhae Bl.) Merr Nothaphoebe coriacea Persea rimosa (Bl.K.) Herb. ex Bl.) Boerl. Platea latifolia Bl.) Merr. LECYTHIDACEAE LEEACEAE LILIACEAE Planchonia valida (Bl.) Pers. Stemonurus secundiflorus Bl. Lindera bibracteata (Nees) Boerl. Litsea accendens Litsea cubeba (Lour.) Kth. ex Kurz Pleomele angustifolia 72 . Cinnanomum sintoc Bl.

Dissochaeta reticulata Bl. Michelia montana Bl. Don.LILIACEAE LOBELIACEAE LOGANIACEAE Pleomele elliptica Lobelia sp. Don Melastoma malabathricum L. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MAGNOLIACEAE Magnolia candolii Bl. Don Melastoma polyanthum Melastoma sylvaticum Bl. Medinella sp. Agiopteris evecta Hoffm. Pachycentria sp. Creochiton bibracteata (Bl. Clidemia hirta D. MELASTOMATACEAE Astronia spectabilis Bl. MALPHIGIACEAE MALVACEAE Hiptage benghalensis (L.) K.Schum. Medinilla speciosa Reinw.) Kurz Sida acuta Sida rhombifolia L. Fagraea elliptica Roxb.) Bl.Forst. Dissochaeta leprosula (Bl. Dissochaeta gracillis (Jack) Bakh. 73 . Omphalopus fallax (Jack) Naud. Marumia muscosa Bl.) O. Memecylon myrsinoides Bl. Melastoma normale D. Triumfetta rhomboidea Urena lobata MARANTHACEAE Donax cannaeformis (G. Melastoma affine D. Memecylon excelsum Bl. Fagraea fragrans Bl.ex Bl. Geniostoma arborescens (Reinw. Fagraea lanceolata Bl.f.K. Manglietia glauca Bl. Memecylon oleaefolium Bl.) Bl. Medinella exima Bl. Medinella laurifolia Bl. Marantha arundinacea Tuss.

Ficus ampelas Ficus aspericula Ficus deltoidea Jack Ficus elastica Nois ex Bl. ex Trec.MELASTOMATACEAE Pternandra azurea (Bl. Ficus pisocarpa Ficus ribes Reinw. Ficus globosa Bl. Ex Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 74 . Stephania capitata (Bl. discolor MONIMIACEAE MORACEAE Kibara coriacea Artocarpus elasticus Reinw. Ficus lepicarpa Bl. + + + + MENISPERMACEAE Fibraurea chloroleuca Perycampylus cauliflora (Miers) Diels Perycampylus glaucus (Lam. Sonerilla heterophylla Jack + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MELIACEAE Aglaia sp.) Spreng.) Spreng. Ficus fulva Reinw. Ficus sinuata Thunb. Ficus fulva Reinw. ex Bl. Dysoxylum excelsum Bl. Ex Bl. Stephania japonica var. Ficus montana Burm.) Merr. Ficus sagitata Vahl. ex Bl.f. Melia azedarach Sandoricum koetjapi (Burm.) Merr. Artocarpus integra Ficus alba Reinw.f. Dysoxylum alliaceum Bl. Rhodamnia sp. ex Bl. Ficus grosullarioides Ficus involucrata Bl.) Merr.f.) Burck. Stephania corymbosa (Bl.) Miq. Toona sureni (Bl. Ficus padana Burm. Ficus fistulosa Reinw. Artocarpus gemeziana Wall. Dysoxylum densiflorum (Bl.

Myristica guatteriifolia DC Ardisia crispa (Thunb) DC. Syzygium rostratum (Bl.) Merr.) Duthie Eugenia fascigiata Eugenia pycnantum Syzygium antisepticum (Bl.C. Syzygium sp. + NEPENTHACEAE Nepenthes gymnophora Reinw.C. Horsfieldia irya Knema cinerea (Poir) Warb.& G. Tristania sp. Syzygium suringarianum (K. Horsfieldia glabra (Bl.C. Poikilospermum suaveolens (Bl. Maesa latifolia (Bl.Vill.) Warb.) D.) Amsh. ex Scheff.) Mez + + + + + + + + + + + + + MYRSINACEAE + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MYRTACEAE Cleistocalyx operculata Merr.&V.MORACEAE MUSACEAE MYRISTICACEAE Ficus variegata Bl. Ardisia odotophylla Ardisia pendula Mez Ardisia sanguinolenta DC Labisia pumila (Bl. Myrsine avensis (Bl.) D. Ardisia fuliginosa Bl. Syzygium lineatum (Bl.) Merr & Perry Syzygium polyanthum Syzygium racemosum (Bl. Syzygium syzygioides (Miq.Forst Eugenia densiflora (Bl.) Amsh. ex Nees 75 .R.) Amrh.) D.) Merr & Perry Syzygium gracilis (Korth.) F. Knema laurina (Bl. Myrsine hasseltii Bl. ex Scheff Rapanea hasseltii (Bl. Musa acuminata Colla Musa salaccensis Zoll.) D.) Warb. Ardisia javanica Ardisia laevigata Bl. Maesa ramentacea Wall. & Perry Decaspermum fruticosum J.C.

Sm.J. Apostasia nuda Appendicula alba Appendicula buxifolia Appendicula congenera Appendicula cornata Appendicula cristata Appendicula pendula Appendicula ramosa Bl.f. Bulbophyllum elongatum Bulbophyllum flavescens Bulbophyllum flavidiflorum Bulbophyllum lobbii Lindl.) Knobl. Agrostophyllum bicuspidatum Agrostophyllum denbergii Agrostophyllum laxum J. Bulbophyllum macranthum Bulbophyllum obtusipetalum Bulbophyllum odoratum Bulbophyllum ovalifolium Bulbophyllum pahudii Bulbophyllum petiolatum Bulbophyllum scotifolium Bulbophyllum stelis Bulbophyllum unguiculatum Bulbophyllum violaceum Bulbophyllum xylocarpi Calanthe abbreviata 76 .) Lindl. Olea javanica (Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + ONAGRACEAE ORCHIDACEAE Ludwigia linifolia Vahl.OLEACEAE Chionanthus montanus Bl.J.) Andr. Appendicula reflexa Arundina graminifolia Bulbophyllum Bulbophyllum absonditum J.S Bulbophyllum aliifolium Bulbophyllum cernuum (Bl. Chionanthus ramiflorus Jasminum multiflorum (Burm.

) Lindl. Coelogyne miniata Coelogyne simplex Coelogyne speciosa Corybas pictus (Bl. Dendrochilum brachyotum Dendrochilum cornutum Bl. Dendrobium spathilingue Dendrobium tenellum (Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 77 . Dipodium scandens Disperis javanica Eria biflora Eria erecta (Bl.) Lindl. Ceratostylis capitata Ceratostylis subulata Chelonistele sulphurea (Bl.) O.) Lindl.S.ORCHIDACEAE Calanthe orchimoides Ceratochilus biglandulosus Bl.J.) Pfitz. Dendrobium tetraede Dendrochilum aurantiacum Bl. Cryptostylis arachnites Cymbidium ensifolium Cymbidium lancifolium Hook. Coelogyne fuliginosa Coelogyne longifolia Lindl. Dendrochilum exalatum Dendrochilum pallideflavens Dilochia wallichii Lindl. Dendrobium aloifolium Dendrobium crumenatum Dendrobium excavatum Dendrobium hymenophyllum Lindl.K. Eria flavescens (Bl. Dendrobium lobulatum Dendrobium mutabile Dendrobium pandaneti Dendrobium paniferum Dendrobium reflexitepalum J. Cymbidium pubescens Lindl.

Pholidota globosa (Bl.J.S.) Lindl. Liparis compressa Liparis gibbosa Liparis pallida (Bl.) Bl. Flickingeria fimbricata Goodyera reticulata (B. Podochilus tenuis Polystachya concreta + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 78 . Podochilus muricatus Podochilus serpyllifolius (Bl. Phaius tankervillae (W.) Lindl.ORCHIDACEAE Eria junghunii Eria lobata Eria oblitterata Eria robusta Eria tenuiflora Erythrodes brevicalcar Eulophia nuda Lindl.) Bl. Malaxis koordersii Malaxis ridleyi Micropera callosa Microsaccus affinis Nephelaphyllum pulchrum Nephelaphyllum tenuiflorum Bl.) Lindl. Pholidota imbricata Pholidota pallida Plocoglottis javanica Bl. Liparis rheedii Macodes petola (Bl. Lecanorchis javanica Lecanorchis multiflora Lepidogyne longifolia Liparis bilobulata J. Oberonia imbricata Oberonia microphylla Oberonia similis Octarrhena parvula Phaius flavus (Bl. Ait.) Lindl.) Lindl.

Freycinetia insignis Bl. Pandanus furcatus Roxb. Pandanus nitidus Pandanus tectorius Soland. Peperomia tetraphylla (Forst. PINACEAE PIPERACEAE Pinus merkusii Jungh. Oxalis corniculata L. Thrixspermum anceps Thrixspermum conigerum Thrixspermum pensile Thrixspermum purpurascens Thrixspermum squarrosum J. Freycinetia angustifolia Bl. Spiranthes sinensis Tainia elongata J.ORCHIDACEAE Pteroceras compressum Pteroceras fraternum Renanthera matutina Robiquetia spathulata Saccolobium rantii Saccolobium sigmoideum Sarcostoma javanica Schoenorchis juncifolia Bl. Trichotosia ferox Trichotosia pauciflora Vanda tricolor Lindl. & De Vriese Peperomia laevifolia (Bl. Spathoglottis aurea Spathoglottis plicata Bl. Passiflora foetida L. Piper aduncum L. Passiflora quadrangularis L.) Miq.S. Freycinetia sp.f. Piper caninum Bl. ex Arn. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + OXALIDACEAE PANDANACEAE PASSIFLORACEAE Passiflora edulis Sims. Piper nigrescens Piper retrofaractum 79 . Freycinetia javanica Bl.J. ex Park.S.) Hook.J.

) de Laub.Br. Dinochloa scandens (Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + PODOCARPACEAE Dacrycarpus imbricatus (Bl.) Stapf.k) Schizostachyum blumei Nees Schizostachyum brachycladum Kurz Schizostachyum ireten Steudel Setaria palmifolia (Willd. 80 . Axonophus compressus Bambusa vulgaris Schrad.f.) Gaertn.K.E. Dendrocalamus asper (Schult. Paspalum longifolium Roxb.) Miq. ex Wall Helicia roxbughii (R.) O. Podocarpus imbricatus Bl. Isachne alben Isachne pangerangensis Z. Pittosporum ramiflorum (Z. Polygala venenosa Juss. Helicia robusta (Roxb. ex Nees) O.f. Thysanolaena maxima (Roxb.) Widjaja Gigantochloa robusta Kurz Imperata cylindrica var major C.) de Laub Polygala paniculata L. Hubb.Don Prumnopytis amara (Bl.Br.K. Eleusine indica (L.ex Schult. ex Wendl.) R. Lopathorium gracile Oplismenus compositus Paspalum conjugatum Berg.) Kurz Gigantochloa atroviolacea Widjaja Gigantochloa hasskarliana (Kurz) Backer ex Heyne Gigantochloa pseudoarundinacea (Steud.PITTOSPORACEAE PLANTAGINACEAE POACEAE Pittosporum moluccanum (Lmk. Pogonatherum paniceum (LamHack. Plantago mayor L. Podocarpus neriifolius D. ex Miq. & M.) Bl.) Back. ex Poir Xanthophyllum excelsum POLYGALACEAE POLYGONACEAE PROTEACEAE Polygonum chinensis L. ex Heyne Digitaria sanguinalis Scov.&M.) Zoll. Gigantochloa apus (Bl.

PROTEACEAE RANUNCULACEAE RHAMNACEAE Helicia serrata (R.Br.) Brem. ex DC Argostemma uniflorum Bl. Prunus arborea (Bl. Ixora javanica Ixora salisifolia Lasianthus constrictus Wight. Lasianthus oculuscati Bl. Mycetia cauliflora Mycetia javanica (Bl.) Merr. Lasianthus rhinocerotis Bl.) Miq. Neocauclea clycina (Bartl. ex DC. Rubus elongatus Smith Rubus mollucanus L. Maesopsis enemii Ziziphus javanensis Bl. Diodia ocymifolia Bremek Geophila repens Hedyotis rigida Hypobathrum frutescens Bl. Muell.E. ex DC Argostemma montanum Bl. Thalictrum javanicum Bl. Lasianthus purpureus Bl.) Reinw.) Bl. Lasianthus laevigatus Bl. Rubus rosaefolius J.) Kalkm.) Mrr. Musaenda frondosa L. Lasianthus stercorarius Bl. Pygeum latifolium Miq. Lasianthus inodorus Bl. ex Korth. Lasianthus reticulatus Bl. Nertera granadense 81 . Gynotroches axillaris Bl. Prunus gricea (C. & B. Maschalocorymbus corymbosus (Bl. Neonauclea obtusa (Bl. Prunus javanica (T. Smith + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + RHIZOPHORACEAE ROSACEAE RUBIACEAE Argostemma borragineum Bl. ex DC Borreria laevis (Lamk) Griseb.) Kalkm. Lasianthus lucidus Bl.

) Miq Euodia glabra (Bl. Uncaria glabrata (Bl.) T.) K. Psychotria curviflora Wall. Euodia latifolia DC Melicope latifolia (DC. Lepisanthes tetraphylla Mischocarpus frutescens Bl. Planchonella nitida 82 .) DC Uncaria pedicelata Urophyllum arboreum (Reinw.G. Nephelium juglandifolium Bl. Pometia pinnata forma glabra (Bl.) Jacobs Pometia pinnata forma tomentosa SAPOTACEAE Payena leerii (T. Randia schoemannii (T. ex Bl. Tarenna fragrans (Bl. Mischocarpus sundaicus Bl. Saprosoma arboretum Bl. Sch. Pavetta montana Reinw.) Bl. Otophora alata Bl. & B. f. Wendlandia glabrata DC + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + RUTACEAE Acronychia laurifolia Bl.ex Bl.) K. Timonius timon (Spreng) Merr.) Bakh Randia wallichii Hook. Timonius seriaceus (Desf. Psychotria robusta Bl. Arytera Sp. Uncaria gambir Roxb. Psychotria montana Bl. Psychotria sarmentosa Bl.RUBIACEAE Ophiorrhiza junghunii Pavetta indica L. ) Korth Urophyllum corymbosum Urophyllum glabrum Wall. Acronychia pedunculata (L. Hartley Ruta oppositifolia SABIACEAE SAPINDACEAE Meliosma lanceolata Bl. & V.) Kurz. & B.

Gordonia excelsa (Bl. Ternstroemia japonica (Thun. Picria felterrae Lour. STAPHYLIACEAE Turpinia montana (Bl.f.) Thun.) Airy Shaw Celtis timorensis Span. Laplacea integerrima Miq. Trema orientalis (L.) Bl. Schima wallichii (DC. Elattostema sinuatum (Bl. Torenia asiatica + + + + + + + + SELAGINELLACEAE SMILACACEAE Selaginella plana Smilax leucophylla Bl. Gonystyllus macrophyllus (Miq. Stemona javanica (Kth. Turpinia sphaerocarpa Hassk. 83 . Lindernia sp. Eurya glabra (Bl. Commersonia bartramina Sterculia coccinea Jack Sterculia subpeltata STEMONACEAE STERCULIACEAE SYMPLOCACEAE Symplocos cochichinensis (Lour. Solanum verbascifolium Bl.) Korth. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + SOLANACEAE Lysianthes laevis Lysianthes lysimachioides Physalis minima L.) Korth.) Hassk. URTICACEAE Elattostema nigrescens Miq. Pyrenaria serrata Bl.) Bl. Polyosma integrifolia Bl. Ternstroemia lanceolata Thea lanceolata (Bl.) Piere THYMELAEACEAE ULMACEAE Daphne composita (L.) Kurz. Symplocos odoratissima (Bl.) S. Smilax macrocarpa Bl. Smilax zeylanica L. Gironniera subaequalis Planch.) Gilg. Moore Symplocos fasciculata Zoll.) Chaisy THEACEAE Eurya acuminata DC.) Engl.SAXIFAGRACEAE SCROPHULARIACEAE Polyosma illicifolia Bl.

Tetrastigma glabratum (Bl. Cayratia geniculata (Bl.) R. 84 . Villebrunea rubescens Bl. Procris pedunculata (Forst..) Miq. Amomum compactum Soland. f.) Miq.) J.Br.oxb. Ampelocissus thyrsiflora Cissus discolor Bl. Pterisanthes cissoides Bl. Sakai & Nagam. Vaccinium lucidum (Bl.) Swartz Alpinia javana Bl. Pilea melastomoides (Poir. Vaccinium varingiaefolium (Bl.E. Brachychilum horsfieldii (R.) S. ZINGIBERACEAE Achasma foetus Val.) Wedd. Alpinia robusta Alpinia scabra Bl.) Gaud. Vitex trifoliata L. Pilea angulata (Bl.URTICACEAE Laportea stimulans (L. ex Maton Amomum pseudopoetens Val. Etlingera punicea (RSm.f.) Gagn. Ex Wall.) Bl.G.) Planch. Tetrastigma lanceolarium (Roxb.) Planch.) O.) Miq. Callicarpa longifolia Lamk. Alpinia galanga (L. Peters. Smith Etlingera coccinea (Bl. Tetrastigma papilissum (Bl.) Bl. Vaccinium sp. Etlingera solaris Globba marantina L. Pipturus sp. Vaccinium laurifolium (Bl.M. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + VACCINIACEAE Vaccinium bancanum Miq. Procris frutescens Bl. Costus speciousus (Koen.) Planch. Ex Miq. Cayratia japonica Clerodendrum laevifolium VERBENACEAE VITACEAE Lantana camara L.

Hornstedtia pininga (Bl. + + + + + + + + + 85 .ZINGIBERACEAE Globba pendula Hedichyum conorarium Hornstedtia paludoa (Bl. Zingiber aromatica Val. Nicolaia solaris (Bl.) Val.) Val.) Horan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful