BAB I PENDAHULUAN

Hutan alam dikenal sebagai suatu ekosistem yang stabil, dimana di dalamnya terjadi harmonisasi interaksi baik antar komponen biotik yang ada maupun antara komponen biotik dan abiotik. Dengan sendirinya, keberadaan komponen yang satu akan saling mempengaruhi keberadaan komponen yang lain. Keharmonisan proses ekologi yang demikian akan dengan cepat berubah ketika salah satu komponennya terganggu. Sejarah mencatat bahwa proses pengubahan hutan alam ke bentuk vegetasi lain oleh aktivitas manusia yang dimulai sejak ribuan tahun yang lalu merupakan sebuah contoh klasik tentang perubahan bentuk-bentuk ekosistem. Perubahan bentuk ekosistem ini meningkat dengan cepat sejak dekade tahun 1970an, ketika mulai diijinkannya penebangan pohon secara komersial, pelaksanaan program transmigrasi dan menjamurnya proyek-proyek hutan tanaman dan perkebunan. Sebagai akibat dari perubahan itu tidak mengherankan jika beberapa jenis sumberdaya biologinya mengalami kelangkaan, erosi genetika, karena tidak mengindahkan dan memperhatikan kaidah pelestariannya. Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budaya, pariwisata dan rekreasi. Oleh karena itu keberadaan Taman Nasional tidak bisa dipungkiri tidak saja sekadar memenuhi fungsi-fungsi tersebut di atas, akan tetapi juga sebuah kawasan yang menyimpan keanekaragaman hayati dan merupakan daerah tangkapan air. Gunung Salak merupakan kawasan yang masih menyimpan banyak misteri tentang kekayaan hayati beserta ragam pemanfaatannya. Sayangnya potensi ini telah banyak mengalami penyusutan seiring dengan laju kerusakan hutan yang diakibatkan berbagai kegiatan manusia atau bahkan berbagai kebijakan yang kurang mempertimbangkan kelestariannya. Untuk mengantisipasi kerusakan yang lebih parah, maka pada tahun 2003 kawasan Salak ditunjuk sebagai bagian dari kawasan taman nasional. Penjelajahan untuk mengungkap flora yang terdapat di kawasan Gunung Salak dianggap penting karena beberapa penelitian tentang flora fauna yang pernah dilakukan di kawasan hutan gunung Salak diantaranya, di daerah Awibengkok (Kartawinata et al.,1985), Cianten (Mirmanto, 1991) dan koridor antara G. Salak dan G. Halimun (Wiriadinata, 1997). Bahkan jauh sebelumnya, gunung Salak merupakan magnet bagi para ilmuwan botani, tercatat diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh seorang botanis berkebangsaan Swedia Claes Frederic Hornstedt (1758-1809), murid dari Thunberg, kemudian disusul Hornstedt pada tahun 1783, Reinwardt pada tahun 1817 (Steenis 2006). Sejauh ini data dan informasi yang dikumpulkan masih juga belum memadai jika dibandingkan dengan data dan informasi

1

yang terkumpul dari kawasan hutan gunung Halimun. Itulah sebabnya penelitian dirasa masih diperlukan untuk melengkapi data dan informasi flora dan fauna dari kawasan hutan gunung Salak. Penelitian mendasar dari aspek ekologi vegetasi, etnobotani, eksplorasi dan inventarisasi keanekaragaman jenis tumbuhan dan keterkaitannya dengan kondisi habitat diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya pengelolaan Taman Nasional Halimun Salak. Penelitian ekologi vegetasi dilakukan dengan menggunakan metode petak, sedangkan penelitian etnobotani dilaksanakan dengan menggali informasi dari masyarakat di sekitar lokasi penelitian. Untuk melengkapi data dan informasi keanekaragaman jenis tumbuhan dilakukan eksplorasi dan inventarisasi. Penelitian kali ini merupakan kegiatan bersama antara Pusat Penelitian Biologi LIPI dengan JICAGunung Halimun Salak National Park Management Project (GHSNPMP). Hasilnya diharapkan dapat disumbangkan dalam rangka membuat “guiden book” untuk menentukan arah dan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi Halimun – Salak yang melibatkan masyarakat.

TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan salah satu kawasan konservasi Indonesia yang berfungsi selain melindungi flora dan fauna unik yang ada di dalamnya juga mempungai fungsi lain yang tak kalah pentingnya yaitu sebagai pengatur tata air, pendidikan, penelitian, sumber plasma nutfah, pengembangan budidaya, rekreasi dan pariwisata. Dari pengertian tersebut tergambar bahwa betapa besar manfaat Taman Nasional sebagai pelayanan jasa. Awalnya kawasan ini merupakan Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) yang ditetapkan melalui SK Menhut No. SK 282/KptsII/Menhut/1992 tanggal 28 Februari 1992 dengan luas 40.000 hektar dan pada tanggal 23 Maret 1997 ditetapkan sebagai salah satu unit pelaksana teknis di Departemen Kehutanan. Seiring dengan tingginya proses degradasi hutan di Indonesia dan dengan adanya desakan parapihak yang peduli terhadap konservasi hutan, maka pada tahun 2003 kawasan hutan Gunung Salak, Gunung Endut, dan kawasan sekitarnya yang sebelumnya merupakan kawasan hutan produksi, hutan produksi terbatas dan hutan lindung yang dikelola oleh perum Perhutani selanjutnya dialih fungsikan menjadi kawasan konservasi melalui SK Menhut No. SK 175/Kpts-II/Menhut/2003 tanggal 10 Juni 2003 menjadi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dengan luas 113.357 ha. Kawasan TNGHS secara administratif

terletak di 2 (dua) propinsi yaitu Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten serta 3 kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Lebak. Kawasan TNGHS mempunyai ketinggian berkisar antara 500 – 2.211 mdpl. Topografinya

bergelombang, berbukit dan bergunung-gunung. Di sekitar kawasan TNGHS terdapat bukit memanjang mulai dari gunung Endut (di sebelah Barat) melintas gunung Kendeng (di kawasan Baduy) kemudian

2

perlahan menurun sampai ke gunung Honje dan semenanjung Ujung Kulon. Sedangkan di sebelah Timur berhubungan dengan gunung Gede Pangrango yang dipisahkan oleh sungai Citatih, sungai Cisadane dan jalan propinsi Ciawi – Sukabumi. Beberapa gunung yang ada di sebelah barat kawasan ini yaitu gunung Endut Barat (1.297 mdpl), gunung Pameungpeuk (1.455 mdpl), gunung Ciawitali (1.530 mdpl), gunung Kencana (1.831 mdpl), gunung Halimun Utara (1.929 mdpl), gunung Sanggabuana (1.920 mdpl), dan gunung Botol (1.850 mdpl). Sedangkan gunung-gunung yang terdapat di sebelah Timur Laut adalah gunung Kendeng Utara (1.377 mdpl), gunung Salak 1 (2.211 mdpl), gunung Salak 2 (2.180 mdpl), gunung Endut Timur (1.471 mdpl) dan gunung Sumbul (1.926 mdpl). Di bagian tenggara terdapat gunung kendeng Selatan (1.680 mdpl), gunung Panenjoan (1.350 mdpl), gunung Halimun Selatan (1.758 mdpl), Geologi kawasan TNGHS merupakan bagian dari deretan pegunungan Sumatra. Sebagian besar kawasan tersusun atas batuan vulkanik breksi, basaltik dan lava andesit dari periode Pleistosin dan beberapa strata dictic dari periode Prepleiosin (sekitar 10 – 20 juta tahun yang lalu). Berdasarkan peta tanah tinjau Jawa Barat, jenis tanah di daerah ini terdiri atas asosiasi andosol coklat dan regosol coklat, asosiasi latosol coklat dan latosol coklat kekuningan, latosol coklat kemerahan dan latosol coklat, asosiasi latosol coklat kemerahan dan laterit, komplek latosol coklat kemerahan dan lithosol, asosiasi latosol coklat dan regosol kelabu (LP Tanah, 1966). Bahkan Gunung Salak sampai saat ini masih berstatus gunung berapi strato type A dan tercatat terakhir meletus tahun 1938. Gunung Salak memiliki kawah yang masih aktif dan dikenal dengan nama Kawah Ratu. Menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson (1951) iklim di daerah kawasan TNGHS termasuk tipe A, dengan curah hujan tahunan sebesar 4.000 – 6.000 mm. Rata-rata curah hujan bulanan selalu > 100 mm, dengan bulan terkering (+ 200 mm) pada Juni sampai September dan terbasah (+ 550 mm) antara Oktober dan Maret, sehingga dapat digolongkan beriklim selalu basah (Kartawinata, 1975) dengan kelembaban udara rata-rata 88 %. Suhu rata-rata bulanan 31,5oC dengan suhu terendah 19,7oC dan suhu tertinggi 31,8oC. Vegetasi hutan di dalam kawasan TNGHS sangat bervariasi, baik berdasarkan ketinggian tempat maupun kondisi habitat setempat. Namun secara umum, berdasarkan permintakatan Steenis (1972) dapat dikelompokkan menjadi 3 mintakat, yaitu mintakat kaki pegunungan (collin), dengan ketinggian antara 500 dan 1000 m dpl, mintakat sub-pegunungan (1.000 - 1.500 m) dan mintakat pegunungan (1500 – 2400 mdpl). Sejauh ini data dan informasi flora dan fauna hutan gunung Halimun telah banyak diungkapkan melalui berbagai survei dan penelitian. Sayangnya hasilnya terserak dan tersebar di berbagai tempat dan besar kemungkinan belum terdokumentasi secara lengkap.

3

TNGHS merupakan salah satu Taman Nasional yang memiliki hutan pegunungan alami di Jawa yang sangat menarik. Kekayaan flora kawasan Gunung Halimun pernah dilakukan beberapa tahun lalu, diantaranya oleh Wiriadinata (1992). Ditinjau dari segi botani terutama taksonomi, kekayaan Flora Gn Salak sangat menarik karena merupakan salah satu ekotipe jenis-jenis tumbuhan yang pertama kali dipertelakan oleh Blume sekitar tahun 1825. Flora pegunungan yang masih tersisa umumnya berada pada ketinggian di atas sekitar 1500 -2000 m di atas permukaan laut, sedang bagian bawah umumnya telah berubah terbuka dan menjadi perladangan. Pengambilan kayu merupakan salah satu faktor yang cukup serius. Wilayah TNGHS terbagi ke dalam 26 kecamatan dan terdiri dari 106 desa. Jumlah penduduk di dalam dan sekitar kawasan lebih dari 250.000 jiwa. Pada umumnya masyarakat yang ada adalah

masyarakat Sunda yang terbagi menjadi masyarakat kasepuhan dan bukan kasepuhan.Masyarakat kasepuhan secara historis penyebarannya berada di kampung Urug, Citorek, Bayah, Ciptamulya, Cicarucub, Cisungsang, Sirnaresmi, Ciptagelar dan Cisitu. Masyarakat kasepuhan ini memiliki struktur kehidupan yang berbeda dengan masyarakat biasa. Bahasa yang umum digunakan adalah bahasa Sunda. Sedangkan agama pada umumnya adalah beragama Islam kecuali di beberapa wilayah kasepuhan masih menganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Kehidupan sehari-hari masyarakat di dalam dan sekitar TNGHS pada umumnya adalah di bidang pertanian seperti sawah, ladang, kebun, kebun talun dan talun. Beberapa ada juga yang berdagang baik di dalam masyarakatnya maupun keluar kampung dan desanya, bahkan ada yang keluar pulau Jawa. Pada masyarakat kasepuhan, pertanian dilakukan atas arahan pimpinannya baik tatacara tanam, jenis padi, maupun ritual ketika sebelum, saat menanam, hingga panen. Pesta panen dalam masyarakat kasepuhan terkenal dengan istilah Seren Taun yang sering dihadiri turis baik lokal maupun mancanegara karena keunikannya. Dalam hubungannya dengan hutan, masyarakat kasepuhan memiliki sistim yang bila dikaji memiliki kearifan tersendiri. Mereka memiliki konsep turun temurun untuk mengelompokkan hutan sesuai fungsinya yaitu leuweung titipan (hutan titipan), leuweung tutupan (hutan tutupan), leuweung sampalan (hutan bukaan). Interaksi mereka terhadap hutan sangat kuat. Mereka mengenal hampir 400 jenis tumbuhan dan satwa yang dipergunakan sehari-hari baik untuk bangunan, kayu bakar, makanan, obat-obatan maupun untuk keperluan ritual. Di salah satu bagian dari TNGHS, yakni sekitar Gunung Salak, telah hidup selama ratusan tahun masyarakat lokal. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya temuan arkeologis di sekitar Gunung Salak, seperti di kampung Cibalay, Bogor, terdapat situs arkeologis berupa punden berundak peninggalan masa lalu. Diantara jejak-jejak kehidupan masa lalu yang masih dapat kita saksikan adalah yang terdapat di desa Cibalai, Bogor, dan di desa Girijaya. Di desa Girijaya ini terdapat tiga buah batu megalitikum yang

4

Penjelajahan jalur Cimalati dan Pasir Reungit dilakukan oleh short-term expert dari JICA. Pada daerah yang sama juga telah dilakukan inventarisasi dan eksplorasi tumbuhan. murid dari Thunberg. fisiognomi dan kondisi habitat. Pasir Reungit dan Cangkuang (Gambar I. 3 petak di sepanjang subjalur menuju Kawah Ratu. jenis dominant. dan (4) daerah sekitar Pos Kancil (Gambar I. Rute Cimalati dilakukan untuk mengetahui batas pegunungan rendah dan pegunungan atas. jenis pohon menonjol disetiap titik pengamatan.1. 5 . Dalam catatan sejarah. 2 petak disekitar pondok Bajuri. sehingga pengungkapan vegetasi dilakukan secara fisiognomi pada setiap perubahan ketinggian 50 . tokoh penyebar Islam dan juga pejuang dari Solo pada abad ke 19 yang menetap dan tinggal di desa ini. Gunung Salak adalah salah satu magnet yang ada di Jawa. (3) daerah sekitar Pondok Bajuri. hal ini bukan karena posisinya sebagai Taman Nasional melainkan juga karena memiliki keterkaitan yang erat dengan budaya dan tradisi setempat. yaitu jalur/rute Cimalati. ilmuwan yang tercatat pernah melakukan penelitian diantaranya adalah seorang botanis berkebangsaan Swedia Claes Frederic Hornstedt (1758-1809). Bagi para ilmuwanpun. yaitu dengan mencatat ketinggian tempat (m dpl. Lokasi Jelajah Daerah-daerah yang dijelajah meliputi 3 jalur. Hasil interaksi tersebut membangun konstruksi pemikiran masyarakat tentang Gunung Salak. Tradisi tersebut didapat oleh masyarakat secara turun temurun. peta diperoleh dari image landsat 2004 dan IKONOS tahun 2004). Pemilihan tempat pembuatan petak dengan pertimbangan perbedaan ketinggian. Tempat ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Gusti. sedangkan jalur Cangkuang dilakukan bersama team gabungan short-term expert dari JICA dan tim dari Pusat Penelitian Biologi LIPI. sehingga Gunung ini memiliki makna tersendiri bagi masyarakat. Masyarakat yang tinggal di sekitar gunung Salak masih memiliki kearifan tradisional dalam interaksinya dengan lingkungan. Di setiap sub-jalur dibuat petak-petak pencuplikan data berukuran 30 x 30 m2. tim Pusat Penelitian Biologi melakukan koleksi dan inventarisasi serta studi ekologi pada jalur Cangkuang yang dibagi menjadi 4 sub-jalur. Hornstedt mengunjungi Gunung Salak pada tahun 1783. tipe hutan. Dilain pihak.100 m. (2) ke arah Kawah Ratu.). dan 1 petak di sekitar Pos Kancil. Sebanyak 6 petak dibuat di sepanjang sub-jalur ke arah puncak Salak-1.1). yaitu (1) ke arah puncak Salak-1. Setelah itu disusul oleh Reinwardt yang mendaki dan melakukan ekplorasi botani di gunung Salak pada tahun 1817 (Steenis 2006). Tim short-term expert dari JICA melakukan penjelajahan dalam waktu singkat.dianggap oleh masyarakat sebagai petilasan dari Eyang Santri.

lebih bernuansa agama. Kecamatan Cidahu. Kabupaten Sukabumi. Pada bulan Maulid masyarakat ziarah bersama ke makan Eyang Abu sekaligus juga diisi dengan tradisi-tradisi Sunda. Kedua tokoh ini oleh masyarakat dianggap sebagai penyebar agama Islam. dan Desa Girijaya. Tradisi dan kebudayaan klasik Sunda sering digelar di desa ini. Desa Cidahu. Padepokan ini juga memiliki pengaruh di masyarakat. Di desa ini terdapat Padepokan Girijaya pimpinan Abah Ru’yat. Di desa ini juga terdapat dua makam yang dianggap keramat oleh masyarakat. Kedua makam ini setiap harinya ramai dikunjungi oleh peziarah. yaitu makam dari Eyang Abu Shomad (Eyang Abu) dan makam Eyang Muhammad Santri (Eyang Santri). atau bulan Robiul awwal atau maulid dan bulan Muharram dalam sistem penanggalan Islam. yakni Desa Cidahu. puasa. seperti hari kamis dan jum’at. Kunjungan para peziarah makin ramai terutama pada hari-hari tertentu. Kabupaten Sukabumi. terdapat pesantren al-Qodiriyah yang dipimpinan KH Romli dan berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat dan membentuk pemahaman yang ada di masyarakat. dan zakat. Walaupun bernuansa tradisi.1. Kedua desa ini dipilih dengan pertimbangan merupakan desa yang paling dekat dengan Gunung Salak dan memiliki tipikal yang berbeda. namun masyarakat yang tinggal di desa ini masih menjalankan ajaran normatif agama (Islam) seperti shalat. Peta jalur penelitian beserta petak-petak pencuplikan data vegetasi (1 s/d 12).Rute Pasir Reungit 9 8 7 1 0 1 1 6 4 5 2 3 1 Rute Cangkuang 1 2 Rute Cimelati Gambar I. Adapun untuk penelitian etnobotani dilaksanakan di dua desa. penampilan wayang 6 . Kecamatan Cidahu. Sedangkan desa Girijaya lebih pada pencarian dan penguatan akar tradisi Sunda.

Sedangkan di bulan Muharram.Golek. Analisis vegetasi Kegiatan penelitian ini meliputi pencuplikan data vegetasi dengan menggunakan metode petak. yang selanjutnya dikirim ke Herbarium Bogoriense untuk diproses dan kemudian diidentifikasi. habitus. Pengumpulan data pohon meliputi diameter. habitat. Sejumlah petak dengan ukuran 30m x 30m dibuat pada lokasi-lokasi dengan gradasi perubahan lingkungan seperti kondisi habitat dan ketinggian. data iklim serta data lingkungan lainnya juga dikumpulkan. spesimen bukti. Jenis-jenis tumbuhan yang tidak dapat dikoleksi untuk sementara akan dicatat dalam buku lapangan guna melengkapi data kekayaan jenis. serta pengumpulan data lingkungan diantaranya posisi geografi. dan ritual ngramat yakni mendoakan hasil bumi. dan pengambilan contoh tanah untuk dianalisis kandungannya. jaipong. yang sekiranya menarik dan unik juga akan dikumpulkan sebagai koleksi atau spesimen acuan. KEGIATAN di LAPANGAN Penjelajahan di Gunung Salak ini melibatkan para ahli dalam bidang taksonomi dan ekologi tumbuhan serta pakar etnobotani. kegunaan. kegunaan dan data lingkungan lainnya dicatat di dalam buku koleksi. Semua contoh tumbuhan yang terkumpul disimpan dalam lipatan-lipatan kertas koran. Setiap contoh tumbuhan yang terkumpul akan dilengkapi dengan label gantung untuk mencatat nama dan nomor kolektor serta tanggal dan lokasi pengambilan. tanpa harus meninggalkan kaidah keilmuan di bidangnya masing-masing. Selain itu data sekunder diantaranya data lokasi. Informasi lain seperti nama lokal. Adapun cara kerja untuk masing-masing kegiatan penelitian adalah sebagai berikut: Inventarisasi dan eksplorasi tumbuhan Kegiatan ini dilakukan untuk melakukan koleksi secara umum seluruh jenis tumbuhan yang sedang berbunga dan berbuah untuk kemudian diambil contohnya dan dijadikan spesimen herbarium. 7 . masyarakat menggelar upacara tradisi Seren taun. Jumlah dan interval antar petak ditentukan berdasarkan kondisi medan dan ketersediaan fasilitas pendukung. pH dan kelembaban tanah. dimasukkan ke dalam kantung plastik besar dan diawetkan dalam alkohol 70%. Keterpaduan penelitian dengan melibatkan berbagai bidang keilmuan ini diharapkan mampu untuk mengungkapkan keanekaragaman hayati di daerah penelitian. yakni upacara selamatan dan ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan. tinggi. ataupun fisiognomi yang berbeda. Meskipun ada jenis-jenis tumbuhan yang tidak lengkap memiliki bunga atau buah.

1974). Penelitian ini dilakukan di tiga lokasi. Setiap jenis sumber daya hayati yang berguna dicatat nama lokalnya dan diamati habitat. nilai penting. Pengungkapan pemanfaatan keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan gunung Salak terlebih dulu menentukan informan kunci dan informan biasa. Setelah berada dalam petak. Selain itu dilakukan pula wawancara secara mendalam terhadap ahli lokal. kerapatan. sehingga diperoleh parameter-parameter frekuensi. Penelitian etnobotani Penelitian etnobotani dengan menerapkan metode wawancara semi struktural dan "open ended" terhadap masyarakat setempat. Penelitian etnoekologi dilakukan untuk mengetahui hubungan antara masyarakat dengan lingkungannya. Dengan parameter tersebut dilakukan analisis ordinansi dan analisis stratifikasi hutan untuk mengetahui lapisan kanopi hutan. pertama di dalam petak sementara yang dibuat oleh tim ekologi. Responden di setiap lokasi diambil 30% dari jumlah Kepala Keluarga. dominansi. Langkah kedua adalah dengan wawancara langsung dengan masyarakat di desa mengenai kegunaan berbagai tumbuhan. indeks keanekaragaman. cara penggunaan. kegunaannya. mengikuti sebagian aktifitas sehari-hari penduduk dan pengamatan langsung di lapangan. 1964. Langkah pertama adalah dengan mengajak informan ke petak ekologi yang dibuat. Proses pengumpulan data lapangan dalam penelitian ini menggunakan tiga langkah. kekayaan jenis.Data vegetasi yang terkumpul kemudian dianalisis menurut cara yang umum dilakukan dalam kajian ekologi hutan (Cox. Wawancara secara open-ended dan secara mendalam dengan informan merupakan teknik yang mendasar guna mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang kegunaan dari suatu jenis tumbuhan dan makna kulturalnya dalam kehidupan mereka. 1967. Greigh-Smith. Untuk kepentingan identifikasi. Setelah kegunaan dari tumbuhan diketahui. sumber daya hayati berguna tersebut diambil contohnya dan dibuat koleksinya guna mengetahui nama ilmiahnya. kemerataan jenis dan dominasi jenis. Muller-Dombois & Ellenberg. bagian yang digunakan. informan ditanyakan mengenai kegunaan berbagai tumbuhan yang ada di dalam petak secara open-ended. Langkah ketiga adalah mencatat nama lokal setiap jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan membuat voucer specimen untuk diidentifikasi lebih lanjut di Herbarium Bogoriense supaya dapat diketahui nama ilmiah dari tumbuhan yang dimanfaatkan. maka dilakukan wawancara secara mendalam untuk mengetahui makna kultural dari tumbuhan tersebut. Penentuan jumlah responden dengan menggunakan metode "stratified random sampling". nilai kegunaan dan nilai kepentingan budayanya. Dalam penelitian ini diamati pengetahuan lokal tentang pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan oleh masyarakat (corpus) serta pengaruh yang ditimbulkannya (praxis). Informan kunci adalah orang yang memiliki pengetahuan luas mengenai nama lokal tumbuhan dan manfaat atau kegunaan dari tumbuhan tersebut. Petak ini berada pada ketinggian 1700 dpl dan di HM 18 (jarak 1800 meter dari persimpangan 8 .

proses pengumpulan data lapangan dengan tiga langkah. Sedangkan penelitian yang dilakukan di desa. dan tempat ketiga di desa Girijaya. Wawancara mendalam (indepth interview) dengan informan kunci merupakan teknik yang mendasar guna mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang perspektif masyarakat. Kedua dilakukan di desa Cidahu. nilai kultural dan makna kehadiran gunung Salak dalam kehidupan mereka. Oleh karena orang yang memiliki kompetensi di masyarakat yang tinggal di kawasan gunung Salak adalah orang-orang tua dan di-tua-kan oleh masyarakat. Selain dari informan kunci yang ada di Desa Cidahu dan Desa Girijaya. Langkah kedua adalah dengan melakukan wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan para informan. Langkah ketiga adalah dengan melakukan pengamatan terlibat (partisipatory observasion) dalam ritual keagamaan dan ritual tradisi yang dilakukan oleh mereka. kabupaten Sukabumi. Petak yang dibuat berukuran 30 X 30 meter. serta Kuncen yang memiliki “kewajiban” menjaga suatu kawasan. Pada tanggal 20 Maret masyarakat di desa Giri Jaya menggelar ritual mauludan. Dukun. Langkah pertama adalah menentukan informan kunci dan informan biasa. Informan kunci adalah orang yang memiliki pengetahuan luas tentang tradisi masyarakat. Guru. Selain itu peneliti juga mewawancarai anggota masyarakat kebanyakan baik yang tinggal di dua desa. maka peneliti memilih mereka sebagai informan kunci. Dalam penelitian perspektif masyarakat mengenai Gunung Salak. Informan tersebut dapat membantu peneliti untuk memilih informan lain yang juga memiliki pengetahuan luas. wawancara juga dilakukan dengan para sesepuh atau orang yang di-tua-kan yang ada di wilayah Bogor. yaitu desa Cidahu kecamatan Cidahu dan desa Girijaya di kecamatan Cidahu. maupun ajaran-ajaran normatif dari agama. petuah dari leluhur. satu ritual yang menggabungkan norma agama dan tradisi setempat.atau sama dengan 4300 meter dari pos pertama pendakian dari arah Cidahu). 9 . terlebih dulu menentukan informan kunci dan informan biasa. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan memiliki kesamaan persepsi sekaligus juga untuk konfirmasi data. seperti Kyai.

Sebagai “landasan” para Batara di Bumi. maka Gunung kemudian disakralkan oleh masyarakat. terutama daerah Jawa dan Sunda memiliki cerita tersendiri. Selain itu. Menurut pak Asori salah satu sesepuh. Di samping itu juga. menurut masyarakat. persepsi juga terbentuk karena adanya “kepentingan”. maka hampir dapat dipastikan bahwa orang tersebut memiliki tingkat keberanian dan juga kesaktian yang tinggi di atas rata-rata orang kebanyakan. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa gunung atau pun hutan. dengan pertimbangan keselamatan kehidupan itulah maka para leluhur menganggap semua hutan pada dasarnya adalah leuweung tutupan. namun karena kebutuhan manusia kemudian terdapat beberapa bagian dari hutan yang boleh dimanfaatkan. hutan juga. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman interaksi mereka terhadap kawasan gunung atau hutan. sempat diyakini sebagai daerah turunnya para Batara yang hidup di Kahyangan ketika turun ke Bumi. seperti ranting yang jatuh untuk keperluan kayu bakar atau buah yang jatuh untuk konsumsi pribadi bukan untuk mengambil keuntungan ekonomi dari buah yang terdapat di hutan. tanpa kecuali. hutan dan apa yang terdapat di dalamnya adalah terlarang untuk diekploitasi. pada masa lalu lebih dikonotasikan sebagai tempat penempaan kesaktian dan keberanian seseorang. Pelarangan ini sifatnya mendasar. Hutan dan Masyarakat Girijaya Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat di desa Girijaya diketahui bahwa masyarakat menyebut hutan yang terdapat di Gunung Salak sebagai leuweung tutupan (hutan terlarang). Ada anggapan di masyarakat bahwa hutan adalah tempat bersemayamnya roh-roh jahat. Sedangkan hutan. Bila kita merunut sejarah dan juga melacak cerita-cerita rakyat. Bagi mereka. sehingga ketika seseorang telah berhasil melewati hutan dengan selamat. atau bahkan individu. Pelarangan penebangan hutan merupakan wasiat dari para leluhur. tempat persembunyian para penyamun. menggembleng ilmu. gunung atau hutan adalah tempat yang strategis. karena memiliki atmosfir yang teduh.BAB II MENYELAMI PEMIKIRAN MASYARAKAT Setiap masyarakat. Gunung misalnya. adalah bagian lamping atau tebing. memiliki cara pandang tersendiri tentang keberadaan Gunung atau Hutan. baik untuk mendekatkan diri pada Pencipta. bagi masyarakat Indonesia. baik melalui penebangan maupun perburuan. Bagian dari hutan yang sangat dilarang keras untuk ditebang. maupun karena pelarian dari kehidupan masyarakat yang sudah tidak nyaman menurut anggapannya. karena bila pohon yang terdapat dalam hutan habis 10 . Makin beragam kepentingan maka makin beragam juga persepsinya. dan lain-lain. Larangan penebangan hutan yang dilakukan oleh masyarakat Girijaya pada masa lalu terkait dengan keselamatan kehidupan manusia. menjadikan pilihan bagi orang-orang yang hendak kontemplasi.

kata “Salak” yang menjadi nama dari Gunung Salak memiliki makna sendiri. seperti mengambil rumput untuk ternak atau ranting-ranting pohon yang jatuh. Sehingga pada dasarnya menjaga pelestarian hutan sama pentingnya dengan menjalankan kewajiban yang lain. seperti shalat. dimana pembangunan saat itu terhenti karena sesepuh dan masyarakat mencegah pembangunan yang menurut mereka merusak lahan hutan. sapaan akrab KH Romli. Terdapat satu pendapat yang mengatakan kata Salak berasal dari 11 . Komitmen dan kesadaran sebagai khalifah yang bertugas untuk menjaga hutan ditunjukkan oleh masyarakat Cidahu ketika Balai Taman Nasional berencana membangun resort di kawasan Bumi Perkemahan Cangkuang. maka tidak saja dia melanggar amanah melainkan juga telah mengabaikan perannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Di gunung salak tidak saja tersimpan berbagai mitos atau legenda tentang asa-usul suatu daerah. melainkan juga tersimpan berbagai “tanda” bagi kehidupan. Mengambil manfaat dari hutan baru boleh dilakukan kalau sudah ada izin. mengambil apapun dari hutan hukum dasarnya adalah terlarang.ditebang. Terdapat banyak teks dalam kitab suci ummat Islam yang berbicara tentang lingkungan dan tanggung jawab manusia untuk mengelolanya dengan bijak. Selain itu asal material bangunan berupa kayu juga diambil dari hutan. Setelah dijelaskan maksud pembangunan resort dan asal dari kayu yang digunakan tidak dari Taman Nasional maka pembangunan dilanjutkan dan masyarakat sangat mendukung keberadaan Taman Nasional. AA Lili. puasa. menurut AA Lili. bahkan rumput sekalipun. salah satu peran manusia adalah sebagai khalifah. bukanlah seorang muslim yang baik apabila dia menjalankan kewajiban agama namun masih melakukan kerusakan di hutan. Gunung dalam Persepsi Masyarakat Gunung Salak dengan hutan yang ada di dalamnya memiliki makna tersendiri bagi masyarakat. hutan yang ada di Gunung Salak dianggap sebagai “amanah” atau kepercayaan dari Tuhan untuk diolah dan dijaga kelestariannya. Bagi masyarakat. Bagi KH Romli. dan lain-lain. Menurutnya. Terdapatnya hutan di sekitar desanya merupakan anugerah dari Tuhan. Hutan dan Masyarakat Cidahu Bagi masyarakat desa Cidahu. karena itu dengan adanya hutan maka keberlangsungan kehidupan masyarakat akan terus terjamin. dan itupun kalau tidak sampai merusak hutan. apalagi yang ada di lamping-nya maka tidak saja persediaan air akan habis melainkan juga dapat menimbulkan bencana longsor. menegaskan bahwa menjaga amanah berupa hutan sama nilainya dengan menjaga dan mengamalkan ajaran agama. Dengan merusak hutan. hal ini dikarenakan hutan sudah ada yang mengelolanya. Hal ini dikarenakan. atau wakil dari Tuhan yang ada di bumi.

1. Diantaranya adalah masih digelarnya upacara tradisi seren taun. Ketiga perbedaan penafsiran tentang salak ini memiliki implikasi persepsi yang berbeda. Puncak Gajah ditafsirkan sebagai tempat bersemayamnya arwah raja-raja Sunda Kuno yang telah ngahyang.kata “siloka” yang berarti simbol dari sesuatu yang perlu diurai dan ditemukan rahasianya. Upacara tersebut sarat dengan muatan pesan untuk menjaga hubungan baik manusia dan alam. Pendapat yang lain mengatakan bahwa kata Salak berasal dari kata “Salaka” yang berarti asal-usul dari suatu masyarakat. mereka akan yakin bahwa rahasia kehidupan yang disimpan Tuhan terdapat di Gunung Salak. Menurut Munandar (2007a) yang melakukan penelitian pada masyarakat ada di Sindang Barang. Pendapat ketiga percaya bahwa di puncak Salak terdapat buah salak raksasa yang terbuat dari emas. mereka menganggap bahwa tidak hanya asal-usul kehidupan melainkan juga masyarakat Sunda ada di gunung Salak. Gambar II. Pembacaan Doa disertai bakar Kemenyan yang dilakukan pada acara Mauludan. dan Dadap Malang Sisi Cimandiri. Gugung salak dijuluki juga Giri Dwi Munda Mandala. Sedangkan pendapat ketiga mengatakan kata Salak memang berasal dari kata “Salak” dari buah salak. buah ini akan muncul dan memperlihatkan dirinya bagi orang-orang yang telah suci. Sedangkan bagi masyarakat yang percaya pada pendapat yang kedua. Sedangkan puncak Keramat 12 . Di Girijaya.dan rabu wekasan. Kekeramatan gunung Salak termaktub dalam pantun Bogor yang berjudul Paku Jajar Beukah Kembang. untuk itu mereka terus mencari dan berusaha menemukannya di Gunung Salak. Bagi masyarakat yang berpegang pada tradisi dan masih terpengaruh oleh ajaran Hindu. Bagi orang yang percaya pada pendapat yang pertama. muludan. Di gunung salak terdapat dua puncak yang bergerigi yang dinamakan Puncak Gajah dan Puncak Karamat. kedua puncak yang terdapat di gunung Salak memiliki makna yang berbeda. Pajajaran Seren Papan. walaupun sudah tersentuh dengan modernisasi namun unsur-unsur tradisionalnya masih kental terlihat.

Ketiga gunung ini sebagai perlambang dari huruf alif. kawasan ini memang sejak dulu menyimpan misteri dan memiliki eksotisme sendiri. Pelabuhan Ratu. lam. sebuah gunung berapi yang puncaknya terpotong dan bergerigi. ia mengatakan. Sedangkan bagi masyarakat Islam. masyarakat juga meyakini bahwa terdapat tiga pilar utama penopang kehidupan di daerah Sunda. Ketiga pilar itu berupa gunung. dan Cianjur. Munculnya anggapan yang demikian dari masyarakat menunjukkan adanya akulturasi budaya dan juga sinkretisme dalam sistem religi mereka. Gunung Gede. yaitu Gunung Salak. Bahkan menurut abah Ru’yat (pemimpin Padepokan Girijaya. ha. Bagi mereka melestarikan hutan merupakan satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh manusia.ditafsirkan sebagai tempat persemayaman para Hyang. “Buitenzorg adalah tempat tinggal yang sangat menyenangkan. Wallace. Agama dan Pelestarian Lingkungan Persepsi masyarakat tentang hutan dan Gunung Salak memunculkan tradisi atau prilaku yang berbeda dengan daerah lainnya. dan Gunung Pangrango. ketiga gunung tersebut ditafsirkan sebagai simbol dari ajaran kebaikan. Terlepas dari anggapan masyarakat mengenai gunung Salak. Walaupun terdapat perbedaan. Pemandangan alam di sini sangat indah dan tanahnya subur. di puncak keramat terdapat makam dari tokoh penyebar agama Islam yang berasal dari Cirebon. Sukabumi. A. yaitu KH Hasan Basri yang bertugas menyebarkan agama Islam ke daerah Sunda seperti di Bogor. Anggapan ini juga menunjukkan proses islamisasi dan adanya “negosiasi” tradisi di masyarakat. Gunung Salak. keragaman hayati yang dimiliki. ketiga kata ini yang kalau dibaca menjadi satu kata ilah yang berarti Allah atau Tuhan. Dari hasil penelitian ini. serta Raja-raja kerajaan Sunda. Puncak Salak juga dianggap sebagai temapt berkumpulnya ghaib-ghaib Suci. Sedangkan Gunung Pangrango adalah simbol dari lam dan Gunung Gede simbol dari ha. Daerah ini cukup tinggi sehingga terasa nyaman bagi orang yang tinggal di dataran rendah. seperti apa yang disampaikan oleh seorang ilmuwan. Pertama adalah melakukannya dengan melalui pendekatan agama. Selain itu. yakni menjaga kelestarian hutan sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia. Gunung Salak adalah simbol dari alif (huruf pertama dalam abjad Arab) yang berarti hubungan vertikal. Diantara nilai penting yang lain dari gunung Salak adalah adanya anggapan bahwa gunung Salak tersebut sebagai Paku Jagat atau Paku Tetenger bagi Pakuan Pajajaran (Munandar 2007). Model kedua adalah dengan melalui 13 . Hal ini terjadi karena pola interaksi yang berbeda. di gunung Salak terdapat 12 tempat yang dihuni oleh Sang Hyang. menjadi latar belakang yang khas bagi bentangan alam di sekitarnya (Wallace 2000). terdapat dua “model” pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat. dewata Sunda Kuno.R. seperti wali songo. Oleh masyarakat. yang giat menghidupkan tradisi Sunda). serta perbedaan lainnya. iklim dan cuaca yang berbeda. namun memiliki tujuan yang sama.

terdapat beberapa teks yang menunjukkan tentang hubungan manusia dan alam. maka orang tersebut tidak akan berani merusak dan mengambil. Dalam. al-Qur’an. dan konsep halal-haram. Islam. Dalam Islam. karena pada hakekatnya manusia dan lingkungan sama-sama berposisi sebagai karya cipta Ilahi yang tergabung dalam kesatuan ekosistem. Abdillah (2005) membahasnya melalui pembangunan teologi lingkungan (eco-theology). Kesadaran keagamaan yang dimilikinya menjadikan pesantren yang diasuhnya cukup berperan dalam menjaga hutan tetap lestari. Untuk dapat mengolah alam secara bijak. Sedangkan Mangunjaya (2005) melihat persoalan Islam dan lingkungan dari aspek Tauhid. karena agama ini adalah agama yang dipeluk oleh semua penduduk desa Cidahu. Dalam melestarikan keberadaan keanekaragaman hayati yang terdapat di gunung Salak. alam adalah ciptaan Allah. Namun walaupun memiliki kesamaan. menurut (Abdillah 2005) manusia memiliki derajat kesamaan dengan kehidupan makhluk yang lainnya. Tanpa itu alam hanya akan di rusaknya. di samping karena dianggap memiliki derajat keilmuan agama yang lebih tinggi dari masyarakat kebanyakan juga karena beliau mengasuh santri yang menetap sebanyak kurang lebih 270 orang. Dalam membahas Islam dan pelestarian Lingkungan. Keempat konsep ini menjadi landasan normatif peran agama dalam pelestarian lingkungan. sistim hukum al-Istishlah atau kemaslahatn umum. ia bersama dengan masyarakat desa Cidahu berkali-kali melakukan sweeping terhadap orang yang mengambil pohon dari hutan. sebagai sebuah agama. manusia diberi wewenang oleh Allah untuk mendayagunakan sumberdaya alam dalam batas-batas yang kewajaran ekologis (Abdillah 2005). Agama. Di samping itu. telah meresap menjadi tuntunan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. ada juga santri yang tidak menetap. Hutan dan gunung itu jelas bukan milik kita dan sudah ada yang mengaturnya (pemerintah) maka rakyat tidak berhak mengambil apa yang ada dalam hutan. Bagi orang yang memiliki kesadaran keimanan dan ketaatan terhadap aturan agama. hal ini dikarenakan banyak dari makhluk hidup yang hidupnya sangat tergantung pada pohon yang ditebang atau hewan yang dibunuh. Menurutnya. Di desa ini terdapat satu pesantren dengan Kyai yang cukup berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Ketokoh-an yang dimilikinya. menebang pohon atau membunuh satu hewan pada hakekatnya membunuh banyak makhluk hidup. ada konsep hima’ yakni 14 . Dalam pandangannya. lalu kesadaran menjalankan agama dengan benar. khilafh. mereka menggiatkan tradisi lama yang memang pada dasarnya adalah suatu ajaran “normatif” pada manusia untuk berlaku arif terhadap alam. apa yang bukan miliknya. beliau melakukannya dengan pendekatan agama. Peran agama di desa ini dipengaruhi oleh kharisma yang dimiliki oleh sosok pemimpin pesantren sebagai informal leader. dalam hal ini Islam. manusia terlebih dulu harus memiliki rasa keimanan yang kuat. dan kita wajib mengolah dengan bijaksana dan melindunginya. banyak memiliki aturan dan anjuran untuk menjaga kelestarian lingkungan.tradisi.

Ritual ngramat sebagai bagian dari tradisi muludan yang dilakukan oleh masyarakat desa Girijaya. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Padepokan Girijaya yang tinggal di desa Girijaya. salah satunya adalah dengan ritual tradisi. adalah upacara rabu wekasan yang dilakukan pada hari rabu terakhir di bulan safar. Kedua. upacara muludan yang dilakukan setiap tanggal 12 bulan rabiul awwal dalam penanggalan Islam.upaya melindungi spesies hidupan liar dengan menyediakan lahan untuk habitat asli mereka secara utuh. Ritual tradisi dan Pelestarian Lingkungan Masyarakat Indonesia. 15 . Peletakan sesajen dan sedekah bumi merupakan bentuk penghargaan masyarakat terhadap adanya kehidupan selain di jagat manusia ini. Terdapat berbagai macam bentuk tradisi dalam pelestarian lingkungan. Ritual ini sebagai ungkapan rasa syukur atas pemberian Tuhan kepada manusia berupa hasil bumi.2. 2007). tanah. Ketiga. yaitu masyarakat dengan corak tradisi maritim dan masyarakat dengan corak tradisi agraris. Gambar II. atau kawasan yang tidak produktif menjadi produktif merupakan anjuran syariah (Mangunjaya 2005). secara garis besar terbagi dalam dua corak tradisi. Selain hima’ menurut Mangunjaya juga terdapat konsep ihya almawat atau menghidupkan lahan. Pertama adalah upacara seren taun yang dilakukan setiap tangal 10 muharrom setiap tahunnya. Selain itu juga ada ngancak (sesajen) yang diletakkan di empat manahab atau penjuru angin. Setiap corak tradisi memiliki upacara tradisi sebagai bentuk penghargaan dan upaya revitalisasi hubungan manusia dan alam. Sistem perlindungan kawasan seperti ini tercatat dalam sejarah pernah dilakukan oleh Nabi dan pemimpin setelahnya (Mangunjaya 2005. Setiap upacara adat yang dilakukan selalu ada sedekah bumi yang dimaksudkan supaya manusia lebih menghargai bumi yang telah memberkan kehidupan bagi manusia. Setiap tahunnya mereka melakukan tiga upacara adat.

Biasanya makanan yang telah di kramat dibawa pulang kembali. wali.Terdapat rangkaian upacara dalam setiap pelaksanaan upacara tradisi. 16 . Sebagai bagian dari sistem religi. yaitu aneka makanan dikumpulkan dalam satu tempat kemudian di kubur. Rangkaian yang terdapat pada upacara seren taun yang dilakukan oleh masyarakat Padepokan Girijaya terdiri dari. hal ini dilakukan sebagai bentuk syukur manusia atas apa yang telah diberikan bumi. menunjukkan bahwa ritual bisa menjadi pedoman dari perilaku budaya suatu masyarakat. dengan harapan hasil panen yang telah dan akan diperoleh mendapatkan berkah. Menurut Geertz (1966) dengan melakukan pendekatan kebudayaan dari model bagi. Dalam ngramat ini selain sebagian dari hasil bumi juga masyarakat membawa air. Sebagai tradisi. ruwatan bumi. yaitu masyarakat membawa dongdang/nampan yang berisi hasil bumi ke padepokan untuk dimakan secara bersama-sama. ritual seperti itu adalah bagian dari pola budaya yang dapat menjadi penuntun prilaku manusia. Kemudian ada ngramat. dalam penguburannya disertai mantra-mantra untuk keselamatan dan kesejahteraan. Kemudian sedekah bumi. upacara yang dilakukan oleh masyarakat Girijaya. yaitu pembacaan mantera-mantera dan juga tawasulan pada para leluhur. sedangkan air selain campuran untuk kebutuhan hidup seperti minum dan mandi juga untuk ditaburkan pada sawah mereka. mengandung muatan pesan simbolik tentang keakraban hubungan manusia dan alam.

Mallotus. bagian bawah banyak ditumbuhi oleh Chlomolaena odoratum (kirinyu). beberapa pohon besar 17 . Dilokasi ini dapat dilihat daerah hutan yang terganggu dari Javana Spa mulai dari ketinggian 1400 m. Ini terjadi karena tidak semua bagian dari kawasan ini bisa dijelajahi. Salah satu jenis yang masuk dalam RDB yaitu Pinanga javana dijumpai disepanjang sungai. 2. Pohon yang umum dan banyak tumbuh di sini didominasi oleh Schima wallichii (puspa). Ficus. dibagian selatan gunung Salak. Pohon tersebut dapat dijumpai sepanjang jalan hingga bagian tepi kawah Ratu. Jenis tumbuhan yang menarik untuk dikemukakan pada tepi hutan yang terbuka antara lain adalah Cyathea contaminans (paku tiang) yang banyak dijumpai dan juga dipelihara di Kebun Javana Spa. daun tunggal berupa elips. Kekayaan flora alami pada tepi hutan nampak lebih banyak dihuni oleh jenis pendatang seperti Agathis dammara dan Calliandra calothyrsus. Untuk membuktikan bahwa di Gunung Salak terdapat keanekaragaman yang tinggi maka dilakukan jelajah terhadap kawasan ini dan mencatat flora yang terdapat di dalamnya. Schima wallichii dijumpai dengan tinggi pohon 5-10 m. Flora di jalur Cangkuang dan TNGHS Resort Cidahu Hasil pengamatan yang telah dilakukan disuguhkan untuk memberikan gambaran Kekayaan flora resort Cidahu ini. Tentunya. Hasil pengamatan dan pengumpulan specimen herbarium di kawasan ini tercatat sekitar 100 jenis (Lampiran 5). rapat. 1. Vegetasi pada tepian hutan nampak terbuka. flora yang tercatat atau pun yang dibuat herbariumnya adalah flora yang dilewati ketika jelajah dilakukan. Yang dimaksud flora disini adalah jenis tumbuhan yang dijumpai mulai dari perbatasan wilayah Perum Perhutani dan Kebun Javana Spa serta hutan melalui jalur setapak. Weinmannia blumei. 3. Sangat mungkin terjadi bahwa tingkat keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan ini jauh lebih tinggi dari apa yang telah di hasilkan. menyebabkan populasi alami menurun dan mengalami erosi yang sangat mengkawatirkan. Symplocos fasciculate dan lain-lain. yang perawakannya berupa pohon besar dengan kanopi berupa kerucut. Paku ini sebenarnya telah masuk dalam status perlu dilindungi karena bagian bawah batangnya yang merupakan kumpulan akar berwarna hitam banyak diambil untuk media anggrek dan media tanaman hias lainnya serta diperdagangkan ke luar negeri. Quercus lineata. dan beberapa diantaranya disajikan pada Gambar III. yang didominasi oleh jenis pionir Macaranga. Jenis ini termasuk dalam daftar CITES appendiks 2. mahkota bunga putih dan benangsari kuning tampak sangat menyolok. maka hampir dapat dipastikan bahwa setiap wilayah atau kawasan di Indonesia memiliki keanekaragaman yang antar satu dengan lainnya berbeda.BAB III KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN Sebagai negara yang dikenal dengan julukan mega-biodiversitas country. Castanopsis argentea.

daun muda berwarna merah kecoklatan. 1. Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di kawasan gunung Salak 18 . Pada bagian kiri jalan setapak dijumpai satu pohon Fagraea blumei yang mempunyai kanopi memayung. mudah dikenal karena bentuk daunnya yang menyirip. Pohon Albizia lophanta dengan daun halusnya yang tersusun menyirip terdapat di beberapa tempat terbuka. tumbuh pada tempat terbuka ditepi hutan. Gambar III. buahnya berduri dan biji berwarna coklat.yang sedang berbuah. bunga berupa terompet dan buah berupa gelendong ukuran kepalan tangan tumbuh tegak. Caryota rumphiana yang merupakan pohon palm soliter. Castanopsis tungurut banyak dijumpai di kanan kiri jalan. dengan daun majemuknya dan daun penumpu yang besar. Dijumpai juga beberapa pohon Weinmania blumei.

A. Argostemma montana dan Elatostema sp. Jenis yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai tanaman hias karena mempunyai bunga berupa terompet warna merah sangat mencolok dan mudah dikembangkan melalui stek batang adalah Aeschynanthus radicans. dengan daun berhadapan. Etlingera coccinea. kemudian dijumpai satu jenis Uncaria sp. Psychotria. robusta dan B. mempunyai kait untuk memanjat. Dijumpai bambu merambat Dinochloa scandens dan 2 jenis rubus yaitu Rubus moluccanus dan Rubus chrysophyllus merupakan tumbuhan berduri dengan mahkota bunga putih dan buah majemuk berwarna merah. Castanopsis 19 .horsfieldii dan Agalmyla parasitica. Gambar III. Tumbuhan bawah lantai hutan cukup rapat terdiri dari berbagai jenis tumbuhan antara lain Melastoma malabatricum. sangat umum dan mudah dikenal. Begonia multangula. muricata.Tumbuhan liana yang dapat dijumpai disini antara lain Smilax macrocarpa (canar). Glochidion arboretum. Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di kawasan gunung Salak Flora sekitar camp Bajuri Jenis pohon yang paling banyak dijumpai di daerah ini adalah Schima wallichii (puspa). Impatiens platypetala. sedangkan jenis-jenis lainnya adalah Vernonia arborea. sedang berbuah mirip anggur dan buah tersebut dapat dimakan walaupun rasanya asam dan segar. Clidemia hirta.. B. Cinnamomum sintok. 2.

Lasianthus viridis. Ex Bl. Ardisia sanginolenta DC Arthrophyllum javanicum Pavetta Montana Reinw. & Mor. Plectocomia elongata (bubuai). Datura metel Rhodamnia cinerea Ficus deltoidea Jack Gambar III. Jenis tumbuhan liana yang nampak menonjol diantaranya adalah Uncaria. kemudian Medinilla speciosa yang juga sangat menarik dan berpotensi sebagai tanaman hias. Pada daerah ini dapat juga dijumpai Nepenthes gymnamphora yang populasinya sudah menurun.f Tarena sp. Frecynetia javanica yang sedang berbunga dengan daun pelindung berwarna merah keunguan. Ardisia crispa Lasianthus laevigatus Bl. Aeschynanthus radicans dan Agalmyla parasitica dengan bunga merah berupa corong yang mencolok. Ginotroches axilaris. Argostemma montanum. trachyphyllum. Rhododendron javanicum (Bl. Symplocos fasciculata.3. Eurya acuminata dan lantai dasar banyak dijumpai Etlingera coccinea. Begonia multangula. Pada bagian bawah dapat dijumpai Melastoma malabatricum. M.) Benn. Omalanthus populneus Zoll. Saurauia nodiflora dan Mallotus rhizinoides. Geophila repens.acuminatissima. TNGHS 20 . Dysoxylum densiflorum. Beberapa jenis tumbuhan di kawasan hutan gunung Salak. Leea indica Burm.

dengan kulit batang berwarna gelap karena pengaruh uap belerang. Dan pada ketinggian 1. diameter batang diatas 50 cm. Castanopsis javanica. Pada ketinggian 1. 4.. Mallotus paniculatus dan Ficus padana dengan ketinggian pohon sekitar 10m. Gambar III.200 m banyak dijumpai jenis-jenis pioneer seperti Macropanax dispermus. buah mencapai panjang 50 cm. 4. paku tiang Cyathea contaminans dan Musa acuminata (pisang). Dissochaeta.360 m.250m. Tumbuhan lain yang melimpah adalah Pandanus nitidus. Beberapa jenis diantaranya disajikan pada Gambar III. dan beberapa jenis yang dijumpai 21 . mempunyai daun berupa pedang memita. Vegetasi disekitar kawah ratu. Jenis liana yang banyak adalah Polygonum sp. Strobilanthes. Smilax ceylanica. Hedychium roxburghii. Schima wallichii. Hornstedtia pininga dan Melastoma sp. berdiameter sekitar 15 cm. Ficus deltoidea. Medinilla speciosa dan beberapa tumbuhan paku. yaitu sekitar fumarol tercium bau belerang yang kuat dan tidak ditemukan adanya tumbuhan yang tumbuh.Flora di jalur Pasir Reungit dan sekitar kawah Ratu Pada ketinggian 1. Pada bagian lantai hutan dijumpai Schefflera spp. Jenis dominan di daerah ini yaitu Schima wallichii (puspa) yang berupa pohon tegak dengan tinggi sekitar 25 m. Aralia dasyphylla. dijumpai jenis-jenis primer diantaranya Altingia excelsa.

Pada ketinggian 1700 m. dan pada ketinggian 1400 m banyak tumbuhan epifit. Ficus padana dan tumbuhan pendatang dari luar yang merupakan invasive species seperti Piper aduncum dan Calliandra calothyrsus. genus Vaccinium dan Rhododendron mulai terlihat sebagai vegetasi lapisan bawah. 5. pada ketinggian antara 1. Lithocarpus sundaicus. dijumpai juga Centela asiatica.Dibagian lebih bawah yaitu disekitar helipad vegetasi nampak terbuka (Gambar III.400 m dpl banyak dijumpai pohon jenis Schima wallichii. 22 . Plantago major dan pada bagian lereng yang masih berhutan nampak Cyathea contaminans. Jenis pohon dominan Schima wallichii dan Lithocarpus beralih ke Podocarpus pada ketinggian 1800 m. Gambar III. Jenis tumbuhan yang dijumpai sekitar jalur Cimalati disajikan dalam Lampiran 1. Prunus arborea yang tumbuh sebagai jenis dominan atau pohon mencuat. Helipad dan beberapa jenis rumput dan paku-pakuan di sekitarnya Flora di jalur Cimalati Pada jalur Cimalati. 5). Castanopsis javanica.100 dan 1. pada bagian tepi dijumpai banyak tumbuh Begonia multangula yang sangat melimpah.

1. dengan kriteria berdasarkan pada ketinggian pohon dan keadaan struktur hutan. ada daerah yang digunakan untuk aktivitas manusia seperti kebun teh. Meskipun pembagian secara fisiognomi. Tabel IV. Kategori fisiognomi dan penutupan lahan Fisiognomi Penutupan lahan Hutan Pegunungan atas Hutan primer Pegunungan bawah Hutan tanaman Perkebunan. sehingga pembagiannya perlu dibedakan untuk pengelolaan kawasan Taman Nasional. padang rumput.BAB IV FISIOGNOMI KAWASAN GUNUNG SALAK DAN DAERAH KORIDOR Fisiognomi dapat diartikan sebagai kenampakan luar dari suatu vegetasi. Hutan tanaman Hutan sekunder Lahan garapan Daerah terbuka Struktur Tinggi (20-40 m) dan komplek Tinggi (20-40 m) tetapi sederhana Semak Rendah (5-10 m) tetapi komplek Kebun campuran. hutan ini antara lain adalah hutan Agatis. dan dengan memetakannya ke dalam suatu wilayah. sehingga dikatagorikan tersendiri. Hutan primer di gunung Salak digolongkan pada hutan tropis pegunungan yang dibagi menjadi hutan pegunungan bawah dan penungan atas tergantung pada ketinggiannya.1). 23 . Selanjutnya peta fisiognomi tersebut dapat digunakan untuk mengelola komunitas lokal dengan memadukan pengetahuan di habitat alam pada setiap kategori dan lingkungannya. bangunan Hutan Tanaman disekitar Gunung Salak merupakan tegakan dengan struktur sederhana tetapi pepohonannya tinggi. ketinggian pohon tidak terlalu tinggi tetapi mempunyai jumlah jenis yang banyak. merupakan hutan dengan pepohonan yang tinggi. Hutan primer. Rendah (1-5 m) dan sawah. perkebunan teh. struktur dan diversitas tumbuhannya komplek. dapat memberikan gambaran umum tentang kondisi lingkungan alami wilayah tersebut. tetapi ketinggian tempat menjadi faktor penghambat untuk kehidupan tumbuhan dan hewan liar. untuk tujuan penelitian di gunung Salak kali ini ditentukan 6 kategori (Tabel V. Hutan sekunder merupakan hutan yang ditumbuhi semak dengan struktur hutan yang komplek. serta dikatagorikan juga daerah yang tidak terdapat vegetasi yaitu daerah fumarol. hutan pegunungan atas dan bawah tidak berbeda. Dalam pembagian fisiognomi pada table diatas. Altingia excelsa dan kebun karet. ladang sederhana Daerah terbuka. persawahan atau ladang. Pembagian kategori disesuaikan dengan kondisi wilayah dan tujuannya.

800 m dpl. 2b.800 m dpl. dapat ditentukan adanya beberapa tipe vegetasi secara fisiognomi. Rododendron dan Vaccinium yang hidup di batang pohon. Adapun peta penutupan lahan dan peta fisiognomi kawasan gunung Salak dapat dilihat pada Gambar IV.Berdasarkan hasil penelitian di tiga jalur (Cimalati. Adapun jenis-jenis yang terdapat pada hutan pegunungan atas terdapat pada Tabel IV. Di daerah ini banyak epipit seperti paku-pakuan. nampak mendominasi lapisan kanopi atas dengan tinggi lebih dari 20 m (Gambar IV. Jenis-jenis utama pada tipe vegetasi ini antara lain Schima wallichii (Theaceae). serta peruntukan lain. 1. neriifolius. 11 dan IV. Hutan Pegunungan atas Jalur Cimalati (1. dengan ketinggian di atas 1. anggrek. Tegakan hutan umumnya berkanopi rapat dengan tinggi 30-40 m. Hutan pegunungan atas Hutan pegunungan atas pada umumnya merupakan hutan primer dan hanya ditemukan disekitar puncak gunung Salak. 24 . Gambar IV. yang terdiri atas jenis-jenis Podocarpus imbricatus dan P. 2) di gunung Salak yang terdapat dalam kawasan taman nasional merupakan hutan primer yang tersebar pada ketinggian di bawah 1. Pasir Reungit dan Cangkuang) serta di daerah kawasan koridor dan tempat lain. dijumpai suku Podocarpaceae. 2a.1). Pengamatan yang dilakukan pada jalur Cimalati pada ketinggian 1825 m dpl. Berikut ini adalah tipe-tipe vegetasi dan peruntukan lain yang diperoleh dari pengamatan secara fisiognomi. dengan beberapa pohon mencuat yang mencapai ketinggian hampir 50 m. 12.825 m dpl) Hutan pegunungan bawah Hutan pegunungan bawah (Gambar IV..

. Pinus merkusii dijumpai dibagian batas tepi kawasan taman nasional. tetapi menjadi menyempit tak teratur karena adanya hutan sekunder yang berpusat di kawasan perusahaan listrik serta tidak berlanjut ke arah koridor pada bagian yang semakin kearah Barat. Gambar IV. Hutan tanaman Hutan tanaman seperti Agatis sp. 25 . Lithocarpus elegans (Fagaceae). Acer laurinum (Aceraceae). Altingia excelsa (Hamamelidaceae).3). Hutan yang meluas kearah Barat tersebar di antara gunung Berbakti dan Javana Spa. Engelhardia spicata (Juglandaceae).500 m dpl) Hutan berkategori hutan pegunungan bawah meluas kearah lereng Selatan dan Timur gunung Salak. seperti yang terlihat di gunung Bunder salah satu jalan masuk ke dalam kawasan taman nasional (Gambar IV. Kanopi hutan nampak sudah rapat ketika pepohonan (Altingia excelsa) mencapai tinggi di atas 5 m. Hutan pegunungan bawah (Jalur Cimalati (1. Altingia excelsa. Polyosma ilicifolia (Saxifagraceae) dan Prunus arborea (Rosaceae). 2b. Jenis-jenis lainnya secara lengkap disajikan dalam Tabel IV. 2.Castanopsis javanica. 2a. yang umumnya berumur sama dengan struktur hutan yang sederhana. Akan tetapi pada hutan tanaman Altingia excelsa yang sudah tua tinggi pohon dapat mencapai 40 m.

26 . Komponen penyusun tipe hutan ini tidak saja jenis pioner tetapi juga terdapat beberapa jenis primer dalam fase suksesi seperti Castanopsis argentea and Lithocarpus elegans (Fagaceae). Beberapa pohon jenis Weinmannia blumei (Theaseae) dengan tinggi 20-30 m nampak tersebar di beberapa tempat. tipe hutan ini termasuk dalam kriteria semak. 4). Jenis-jenis lain yang tercatat dalam tipe vegetasi ini disajikan pada Tabel IV. dan Ficus deltoidea (Moraceae) merupakan komponen utama hutan sekunder. Jenis-jenis pioneer seperti Macropanax dispermus (Araliaceae). sehingga memungkinkan hutan sekunder akan mencapai pemulihan menjadi hutan primer jika gangguan tidak terjadi lagi. terutama sekitar daerah belerang di gunung Salak.Gambar IV. karena saat ini hutan sekundernya mencakup areal yang luas. dan tersebar sekitar bagian utara gunung Salak dan termasuk di dalamnya kawasan koridor. dan terdiri atas jenis-jenis pioner yang dijumpai di jalur Cangkuang maupun Pasir Reungit (Gambar IV. Dengan demikian proses pemulihan hutan sekunder menjadi hutan primer merupakan suatu hal yang perlu diwujudkan dalam rangka menyelamatkan habitat satwa liar. Dalam peta penutupan lahan. serta secara alami yaitu letusan gunung. Hal ini menunjukkan adanya proses pemulihan atau suksesi. Kerusakan hutan dapat terjadi karena dua hal yaitu karena aktivitas manusia seperti pengaruh penggunaan lahan dimasa lalu dan illegal logging. 3. Symplocos fasciculata (Symplocaceae). 4. Hal ini perlu mendapat perhatian dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan pada masa datang. 3. Bunder) Hutan sekunder Hutan sekunder umumnya dengan tinggi pohon rata-rata hanya mencapai 5-10 m. Mallotus paniculatus (Euphorbiaceae). 5). Hutan tanaman (Rasamala (Altingia excelsa) di Gn.

5.600-1. Hutan sekunder (Jalur Cang Kuang 1300m dpl) Gambar IV. 6.700 m dpl. 27 . Kategori fisiognomi ini mencakup daerah yang cukup luas di daerah koridor. 8). hutan campuran. ladang. 7.Gambar IV. Hutan sekunder (Daerah koridor) Lahan garapan Dalam peta penutupan lahan. sawah dan padang rumput digabungkan ke dalam 1 tipe fisiognomi yaitu dengan struktur rendah dan sederhana (Gambar IV. Kondisi semacam ini meluas sampai hutan pegunungan bawah. begitu juga pada lereng utara gunung Salak pada ketinggian 1. perkebunan teh. 4. karena itu setiap perubahan di daerah tersebut perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh.

Lahan garapan Sisi Utara koridor (Kebun teh) Gambar IV. Lahan garapan Daerah koridor (Sawah) Gambar IV. 8.Gambar IV. Kedua lokasi tersebut mencakup areal yang cukup luas. 10). 6. 9. ini termasuk “fumarole” di lereng Barat gunung Salak dan lokasi bangunan pembangkit tenaga listrik di lereng bagian Barat gunung Salak (Gambar IV. Lahan garapan Sisi Selatan Koridor (Ladang) Daerah terbuka Kategori fisiogomi ini ditandai dengan tidak adanya tumbuhan atau vegetasi yang dapat tumbuh. 7. 28 .

Lithocarpus daphnoides (Bl.G ap n f :Naturalforest 29 .) Korth.) Bl. Ficus fulva Reinw.) R. Cyathea contam inans (W all.Arg.) Loes Piper aduncum L.Arg.Rich. Helicia robusta (Roxb.ex Bl. 2a.) M uell. Calliandra callothyrsus M eissn. Fagraea elliptica Roxb.C.ex W all. Pternandra azurea (Bl. Daerah terbuka (Pembangkit tenaga listrik) Tabel IV.Gambar IV. Urophyllum arboreum (Reinw. M allotus paniculatus (Lam k) M uell. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cimalati O ut of NP NationalPark Area Species Fam ily M yrtaceae Cunoniaceae M oraceae M oraceae Lauraceae Euphorbiaceae Sym plocaceae Sym plocaceae Fagaceae Euphorbiaceae Laulaceae Loganiaceae Rubiaceae Fagaceae Lauraceae M elastom ataceae Euphorbiaceae Proteaceae Celastraceae Piperaceae Fabaceae Cyatheaceae Pandanaceae Araucariaceae J-Fam ily フトモモ科 クノニア科 クワ科 クワ科 クスノキ科 トウダイグサ科 ハイノキ科 ハイノキ科 ブナ科 トウダイグサ科 クスノキ科 マチン科 アカネ科 ブナ科 クスノキ科 ノボタン科 トウダイグサ科 ヤマモガシ科 ニシキギ科 コショ ウ科 マメ科 ヘゴ科 タコノキ科 ナンヨウスギ科 plt plt plt df nf df nf nf nd nf nf nf wp5 wp15 wp17 wp19 wp20 wp21 wp22 wp23 wp24 wp32 wp33 nf wp34 nf wp35 nf wp36 Syzygium sp. Sym plocos cochinchinensis (Lour. 890 1025 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1520 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 1615 1705 1825 Figure: G PS W P Num ber / Altitude [m ] p l t :Pl a n t a t i o n  a r e a d f :Forest disturbed by hum an activity nd:Forest disturbed in natural.ex Bl. Daerah terbuka (“Fumarole”) Gambar IV.) Copel. Litsea resinosa Bl.) L.) Rehd. W einm annia blum ei Planch. Lithocarpus sundaicus (Bl. Antidesm a tetrandrum Bl. Pandanus furcatus Roxb. G lochidion rubrum Bl.) A.ex Bl. Perrotteia alpestris Bl. 9. Agathis dam m ara (Lam b.C am us Beilschm iedia m adang (Bl. Ficus fistulosa Reinw. 10.) Burck.) M oore Sym plocos fasciculata Zoll. M acaranga triloba (Reinw.Br.

ex Bl. Elaeocarpus sphaericus (G aertn. Acronychia laurifolia Bl. Litsea noronhae Bl.Schum .) Hatus. Daphne com posita (L. Platea excelsa Bl. Lasianthus laevigatus Bl.& B. Schim a wallichii (DC.) M iq.ex Soepadm o Payena leerii (T.) G ilg. Castanopsis argentea (Bl. G ynotroches axillaris Bl.) DC. Parkia interm edia Hassk.) Kalkm an Acer laurinum Hassk. O ut of NP NationalPark Area Species Fam ily Podocarpaceae Podocarpaceae M elastom ataceae Ericaceae Thym elaeaceae Rhizophoraceae Rubiaceae Ericaceae Cornaceae Laulaceae O leaceae Rubiaceae Actinidiaceae Theaceae Icacinaceae Fagaceae Lauraceae Rosaceae Aceraceae M agnoliaceae Elaeocarpaceae Fagaceae Sapotaceae M yrtaceae Ericaceae Rutaceae Juglandaceae Saxifragaceae Laulaceae Fabaceae Rutaceae Rosaceae Fagaceae Loganiaceae J-Fam ily マキ科 マキ科 ノボタン科 ツツジ科 ジンチョ ウゲ科 ヒルギ科 アカネ科 ツツジ科 ミ ズキ科 クスノキ科 モクセイ科 アカネ科 マタタビ科 ツバキ科 クロタキカズラ科 ブナ科 クスノキ科 バラ科 カエデ科 モクレン科 ホルト ノキ科 ブナ科 アカテツ科 フトモモ科 ツツジ科 ミ カン科 クルミ 科 ユキノシタ科 クスノキ科 マメ科 ミ カン科 バラ科 ブナ科 マチン科 plt plt plt df nf df nf nf nd wp5 - nf nf nf nf wp34 nf wp35 nf wp36 wp15 wp17 wp19 wp20 wp21 wp22 wp23 wp24 wp32 wp33 890 1025 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1520 Podocarpus im bricatus Bl. Podocarpus neriifolius D. Engelhardia spicata Lesch. 2b. Castanopsis javanica (Bl. Neolitsea cassia (L. 1615 ○ ○ ○ ○ 1705 ○ ○ 1825 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 30 .) Korth.) DC.) Boerl.Don Astronia spectabilis Bl.) Knobl. Lithocarpus elegans (Bl. Saurauia bracteosa DC. Polyosm a ilicifolia Bl. Vaccinium bancanum M iq. Rhododendron sp.& B. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cimalati. Syzygium rostratum (Bl. O lea javanica (Bl.) T.f.) Kosterm . Eurya acum inata DC. M elicope latifolia (DC.) Kurz.G . M astixia pentandra Bl. Vaccinium sp. Prunus arborea (Bl.Tabel IV.) DC. M anglietia glauca Bl. Lindera bibracteata (Bl.Hartley Prunus javanica (T. Psychotria robusta Bl.) K.

) T. Pi naceae マツ科 Pi nus m erkusi i Jungh. Lauraceae クスノ キ科 Persea ri m osa (B l . クワ科 Fi cus del toi dea Jack ト ウダイグサ科 Gl ochidi on rubrum B l . ) Kosterm . Aral i aceae ウコギ科 M acropanax di sperm us (B l . Ham am el i daceae マンサク科 Al ti ngi a excel sa N orona Fagaceae ブナ科 C astanopsi sj avani ca (B l . ) C opel . f. C yatheaceae ヘゴ科 C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . C yatheaceae ヘゴ科 C yathea contam i nans (W al l . )DC . Rutaceae ミ カン科 M el i cope l ati fol i a (D C .H artl ey Sym pl ocaceae ハイノ キ科 Sym plocos fasci cul ata Zoll . ノ ボタン科 M el astom a syl vaticum B l . Pal m ae ヤシ科 Pl ectocom i a el ongata M art. 3. C unoni aceae クノ ニア科 W ei nm anni a bl um ei Pl anch. Acti ni di aceae マタタビ科 Saurauia bracteosa D C . )DC . M el astom ataceae M yrsi naceae ヤブコウジ科 Rapanea hassel tii (B l . Fagaceae ブナ科 Li thocarpus sundai cus (B l . Rhi zophoraceae ヒルギ科 G ynotroches axi l l ari s Bl . )O . Fagaceae ブナ科 C astanopsi s argentea (B l.& D e V ri ese 1101 1150 1200 1247 1302 1360 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ Fi gure:G PS W P Num ber / Al ti tude [m ] p l t :P l a n t a t i o n   a r e a vi ty d f :Forest di sturbed by hum an acti n f :Naturalforest fm :Near Fum arol e 31 . Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Pasir Reungit O ut of NP Nati onalPark Area Speci es Fam i l y M el astom ataceae M oraceae Euphorbi aceae Laul aceae J-Fam i l y plt W P25 df df df nf nf fm wp26 wp27 wp28 wp29 wp30 wp31 1045 ノ ボタン科 A stronia spectabi li s B l. ) Rehd. クスノ キ科 Li tsea cubeba (Lour. M aratti aceae ナンヨウスギ科 A gi opteri s evecta H offm . K. Saxi fragaceae ユキノ シタ科 Pol yosm a i li ci fol i a Bl . El aeocarpaceae ホルト ノ キ科 El aeocarpus sti pul ari s B l.Tabel IV. ex B l . G esneri aceae イワタバコ科 A gal m yla parasi ti ca (Lam k) O . ) Pers.A rg. M oraceae クワ科 Fi cus padana B urm .ex B l . ) M ez Theaceae ツバキ科 Schi m a wal l i chi i (D C .ex Soepadm o Fagaceae Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 M al l otus pani cul atus (Lam k) M uell . M el astom ataceae ノ ボタン科 M edi ni l l a speci osa Rei nw . ) Korth. K. Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 A ntidesm a tetrandrum B l . ) H atus.ex Scheff. G . ブナ科 Li thocarpus el egans (B l .

Schum . )Ni el sen Pi nanga j avana B l . ) M uel l . C astanopsi s tungurrut (B l . C hrom ol aena odorata (L. ) L. Sym pl ocos odorati ssi m a (B l . P ol yosm a i l i ci fol i a Bl .A rg.A rg. Sauraui a bracteosa D C .A rg.R i ch. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat pada titik-titik pengamatan di jalur Cangkuang Speci es Fam i l y M el astom ataceae Fagaceae Fagaceae M el i aceae Saxi fragaceae M yrsi naceae C yatheaceae A ral i aceae Theaceae A ceraceae Fagaceae R hi zophoraceae Euphorbi aceae El aeocarpaceae Sym pl ocaceae C unoni aceae A recaceae M oraceae Theaceae Euphorbi aceae J-Fam i l y ノ ボタ ン科 ブナ科 ブナ科 センダン科 ユキノ シタ 科 ヤブコウジ科 ヘゴ科 ウコギ科 ツバキ科 カエデ科 ブナ科 ヒ ルギ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ハイノ キ科 クノ ニア科 ヤシ科 クワ科 ツバキ科 ト ウダイグサ科 バショ ウ科 タ コノ キ科 マタ タ ビ科 ハイノ キ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 マメ 科 ヤシ科 キク科 ショ ウガ科 クワ科 モチノ キ科 ナンヨ ウスギ科 ウコギ科 N ati onalP ark A rea opn opn df df df df w p39 w p40 w p41 w p42 w p43 w p44 A stroni a spectabi l i s Bl . C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel .C .Tabel IV. ) S. ) M uel l . M usa acum i nata C ol l a P andanus furcatus R oxb.ex B l . f. G ynotroches axi l l ari s O m al anthus popul neus (G ei sel ) P ax Sl oanea si gun (B l ) K. I l ex cym osa B l . M usaceae Pandanaceae A cti ni di aceae Sym pl ocaceae Euphorbi aceae Euphorbi aceae Euphorbi aceae Fabaceae A recaceae C om posi tae Zi ngi beraceae M oraceae A qui fol i aceae A raucari aceae A ral i aceae 1221 1250 1304 1358 1382 1403 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ Fi gure: G PS W P N um ber / A l ti tude [m ] O pn: O pen area d f : Forest di sturbed by hum an acti vi ty 32 . M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . P arasari anthes fal catari a (L. )DC .Ki ng & H . Eurya acum i nata D C . D ysoxyl um densi fl orum (B l . Sym pl ocos fasci cul ata Zol l . M acropanax di sperm us (B l . C astanopsi s argentea (B l .R obi nson Etl i ngera cocci nea (B l . )DC .ex B l . Fi cus fi stul osa R ei nw . )O . A rdi si a ful i gi nosa B l . Fi cus padana B urm . C aryota rum phi ana B l . ) Korth. )R. Gl ochi di on arborescens M acaranga rhi zi noi des (B l . A gathi s dam m ara (Lam b. K. M acaranga tri l oba (R ei nw . M . ) C hoi sy W ei nm anni a bl um ei P l anch.ex M art. Schi m a w al l i chi i (D C .Sakai& N agam . Q uercus l i neata B l . 4. A cer l auri num H assk. A rthrophyl l um di versi fol i um B l . )M i q.

Peta fisiognomi kawasan G. 11. Salak 33 . IV.Gb. Peta penutupan lahan kawasan G. Salak Gb. IV. 12.

1). Dengan demikian diharapkan hasil ini dapat dipakai sebagai data dasar untuk penelitian lebih lanjut. kekayaan jenis. Komposisi floristik Dalam 12 petak pencuplikan data tercatat sebanyak 59 jenis pohon dengan diameter batang > 5 cm. Persebaran kelas frekuensi jenis dalam 12 petak pencuplikan data (A= 0-20 %. dominansi. B= 20-30 %. sehingga diperoleh parameter-parameter frekuensi. sehingga hasil yang diperoleh belum dapat menggambarkan kondisi hutan gunung Salak secara lengkap. ditandai dengan banyaknya jenis dengan frekuensi < 25 % (Gambar V. Parameter tersebut selanjutnya dilakukan analisis ordinansi dan stratifikasi hutan untuk mengetahui lapisan kanopi hutan.1. D= 40-50 %. dimana data vegetasi yang terkumpul kemudian dianalisis menurut cara yang umum dilakukan dalam kajian ekologi hutan.BAB V ANALISIS VEGETASI Studi ekologi hutan dilakukan dengan menggunakan metoda baku. kemerataan jenis dan dominasi jenis. C= 30-40 %. indeks keanekaragaman. E= 50-60 %) 34 . 50 40 Ju m lah jen is (% ) 30 20 10 0 A B C Kelas frekuensi (%) D E Gambar V. Ini relatif sangat rendah dibandingkan dengan dengan kekayaan jenis yang diperkirakan terdapat di kawasan gunung Salak. Namun demikian tingkat heterogenetitas secara umum tercatat cukup tinggi. Pencuplikan data vegetasi hanya dilakukan pada 1 dari 3 jalur pengamatan. Namun demikian dalam sekala kecil sudah terlihat adanya pengelompokan vegetasi berdasarkan ketinggian tempat maupun kondisi medan. kerapatan. yang terdiri atas 44 marga dan 26 suku (Lampiran 3).

28 12. 35 . 2).26 1. Fagaceae.98 26. Suku Fagaceae Cyatheaceae Theaceae Lauraceae Meliaceae Rutaceae Moraceae Euphorbiaceae Myrtaceae Saxifagraceae Myrsinaceae Melastomataceae Rubiaceae Suku-Suku Lain (13) Jumlah LBD 9.48 14. Dalam petak dengan luas luas total 1.53 0.08 ha (12 petak) hanya tercacah sebanyak 996 individu pohon (diameter > 5 cm). Dari 26 suku yang tercatat.00 Berdasarkan nilai penting rata-rata jenis pohon (NPR > 7.73 25. Luas bidang dasar (LBD= m2/ha). Theaceae dan Lauraceae merupakan suku-suku tumbuhan yang paling utama di daerah penelitian (Tabel V.58 0.5) ditentukan jenis-jenis pohon yang paling utama di daerah penelitian (Tabel V. jumlah jenis (JJ) dan nilai penting suku (NPS) suku-suku pohon yang tercatat di daerah penelitian.93 1.68 15.2). kerapatan (K= individu/ha). Cyatheaceae.22 11. dengan total luas bidang dasar 26.28 10.33 21.48 0. yang merupakan salah satu ciri khas hutan pegunungan. Suku-suku tersebut dengan jumlah jenis. Dengan kata lain bahwa di setiap tempat dapat dijumpai adanya jenis Cyathea contaminans.52 m2/ha.74 0. Dilain pihak 19 jenis lainnya dengan NPR yang rendah dan hanya terdapat pada 1 petak pencuplikan data.20 300.36 1. Tingginya nilai penting jenis Cyathea contaminans terutama karena persebarannya yang luas.95 17.00 59. Ardisia javanica. Tabel V.1).28 2.05 1. Struktur hutan Kerapatan pohon secara umum tercatat tidak terlalu tinggi dan dengan luas bidang dasar yang rendah pula.83 1. Eurya acuminata dan Dysoxylum densiflorum yang tersebar cukup merata.07 51.90 25. jumlah individu dan luas bidang dasar yang relatif tertinggi. Rendahnya luas bidang dasar menunjukkan bahwa banyak diantara pohon yang tercacah berukuran kecil (Gambar V.Hanya beberapa jenis diantaranya Cyathea contaminans.86 2.1. Jenis-jenis tersebut paling tidak tercatat sebagai jenis dominan di satu petak pencuplikan data.82 15.52 K 108 192 100 78 75 48 19 25 50 47 65 22 39 128 996 JJ 4 2 4 6 2 3 7 5 3 1 2 1 3 16.58 14.11 1.54 0. yaitu terdapat di semua petak pencuplikan data.46 10.00 NPS 53.

Schima wallichii dan Dysoxylum densiflorum.1 68.7 13.0 9.5 7.9 22.8 P11 32.8 % diantaranya yang mencapai ukuran > 60 cm.7 132.0 300 78.9 4.3 24.5 P5 51.9 42.2 68.6 3.9 46.5 5. sebagian besar (81.5 41. 36 .0 5.8 9.9 P6 37.5 9. 3).6 51.9 6.4 46.8 4.8 13. diikuti oleh Astronia spectabilis.1 12.0 28.5 9. dan beberapa pohon lain yang berukuran cukup besar (diameter 80-100 cm) diwakili oleh jenis-jenis Lithocarpus spicatus. 2.9 P10 52.9 3.6 31.0 24.3 7.2 9. dapat dikatakan bahwa daerah penelitian didominasi oleh Castanopsis javanica dan Lithocarpus sundaicus.8 300 88.9 22.1 3.5 22.9 3.8 15.7 300 14.6 29. Tiga pohon terbesar (diameter > 100 cm) yang tercuplik hanya diwakili oleh 1 jenis yaitu Castanopsis javanica.6 4.0 P4 27.8 98.4 13.7 23.5 21.1 10.3 P12 14.8 300 104.8 3.7 3.0 11.8 P3 34.4 62.9 11.0 24.5 6.7 300 154.8 24.8 9.6 5.6 24. Namun demikian dominasi jenis-jenis tersebut nampak bervariasi di masing-masing petak.5 73.0 3.8 300 4.0 13.0 21.2 6.5 85.9 300 Dari seluruh individu yang tercacah.2 10.8 15.8 76.1 34.7 31.2 P8 69.4 25. Berdasarkan nilai luas bidang dasar relatif.4 22. yang menunjukkan adanya persebaran yang khas dari masing-masing jenis.0 7.0 3.1 7.7 61.5 6.6 P7 27.7 48.2 300 11.7 16.9 52. Gynotroches axillaries dan Lithocarpus sundaicus.9 43.2 P9 38.1 9.6 16.6 22.0 17.6 23.4 %) berukuran kecil (diameter < 20 cm) dan hanya sekitar 1. Acronychia laurifolia dan Polyosma illicifolia (Tabel V.3 NPR 35.4 5.8 9.1 8.9 42.9 4.0 20.7 15.1 12.0 29.1 22.1 18.9 300 80.5 300 6.6 300 25.3 3.7 58.6 13.7 22.5 30.0 43.1 21.4 28.1 300 116.Tabel V.1 35.5 12.0 10.0 300 103.3 9. Nilai penting jenis-jenis rata-rata (NPR) pohon dan di setiap petak pencuplikan data Jenis / Petak Cyathea contaminans Lithocarpus sundaicus Castanopsis javanica Dysoxylum densiflorum Polyosma illicifolia Ardisia javanica Astronia spectabilis Eurya acuminata Acronichya laurifolia Symplocos fasciculata Syzygium fascigiatum Schima wallichii Cinamomum sintoc Jenis-jenis lain (45) Jumlah P1 18.0 111.1 P2 16.9 43.3 16.0 29.

60 50 Jumlah individu (%) 40 30 20 10 0 < 10 < 20 < 30 < 40 < 50 < 60 < 70 < 80 > 80 Kelas diameter (cm)
Gambar V. 2. Persebaran diameter pohon yang tercacah dalam 12 petak pencuplikan data.

Tabel V. 3. Jenis-jenis dominant yang tercacah di daerah penelitian. Jenis Castanopsis javanica Lithocarpus sundaicus Astronia spectabilis Schima wallichii Dysoxylum densiflorum Acronichya laurifolia Polyosma illicifolia Jenis-jenis lain Jumlah P1 42.1 P2 P3 10.9 P4 P5 33.7 P6 P7 P8 P9 7.7 9.9 20.7 P10 P11 P12 DR

0.5 61.7

20.4 14.7 8.3 10.4 13.2 14.8 30.4 4.6 1.8 4.3 0.3 2.5 5.5 7.1 5.6 5.0 4.9 4.4

0.5 27.4 14.3 18.2 13.0 23.0 12.2 4.1 12.6 13.0 28.0 15.1 5.7 1.8 8.3 26.6 0.4 21.0 10.5 9.6 3.5 17.2 2.2 0.3 7.9 13.2

3.0 5.9

13.7 18.1

0.4 12.4 0.9 2.4

32.4 33.0 41.1 45.7 37.1 41.6 100 100 100 100 100 100

9.1 72.3 86.4 34.9 51.6 57.6 45.2 100 100 100 100 100 100 100

37

Pola komunitas Hasil analisis ordinasi menunjukkan adanya pengelompokan petak menjadi 4 kelompok (Gambar V. 3), yaitu: Kelompok 1: terdiri atas petak-petak 1, 2, 3, 4 dan 5; kelompok 2: terdiri atas petak-petak 6, 7, 10 dan 11; kelompok 3: terdiri atas petak 8 dan 9; dan kelompok 4: petak 12. Nampak bahwa petak 12 terpisah dari yang lain karena terdapat pada kondisi habitat dan ketinggian yang sangat berbeda.

0.5

9 12 8

Axis-2

1
0

2 5 3

7 10 6 11
-0.5 -1 0 Axis-1

4

1

Gambar V. 3. Pengelompokan petak-petak pencuplikan data berdasarkan analisis ordinasi (PCA) dengan parameter nilai dominansi jenis.

Kelompok 1 terdapat pada jalur ke arah puncak Salak-1, dengan ketinggian antara 1400 dan 1700 m dpl. Secara keseluruhan dalam kelompok ini dapat ditentukan sebagai komunitas Castanopsis – Polyosma dengan jenis-jenis dominan Castanopsis javanica, Polyosma illicifolia, Lithocarpus sundaicus, Astronia spectabilis, Acronichya laurifolia dan Schima wallichii. Kondisi hutan dari komunitas ini disajikan dalam Gambar V. 4. Kelompok 2 terdapat pada daerah sekitar Pondok Bajuri ke arah Puncak Salak-1, Kawah Ratu dan Cangkuang; pada ketinggian antara 1300 dan 1400 m dpl. Komunitas dalam kelompok-2 ini dapat ditentukan sebagai komunitas Castanopsis – Lithocarpus, dengan Castanopsis javanica, Lithocarpus sundaicus, Dysoxylum densiflorum, Schima wallichii, Astronia spectabilis dan Lithocarpus spicatus merupakan jenis-jenis dominan. Gambar V. 5. menunjukkan kondisi hutan dari komunitas ini.

38

Gambar V. 4. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Castanopsis – Polyosma

Gambar V. 5. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Castanopsis – Lithocarpus

39

Gambar V. 6. Contoh hutan yang termasuk tipe komunitas Eurya - Ficus

Kelompok-3 terdapat pada daerah jalur ke arah Kawah Ratu pada ketinggian antara 1.400 dan 1.450 m dpl. Kelompok-3 ini dapat ditentukan sebagai komunitas Eurya – Ficus (Gambar V. 6); dengan jenisjenis dominan diantaranya Eurya acuminate, Ficus padana, Evodia latifolia, Casearia velutina, Lithocarpus sundaicus dan Vernonia arborea. Kelompok-4 terdapat di daerah sekitar Pos Kancil pada ketinggian 1209 m dpl. Komunitas di daerah ini nampak berbeda dengan komunitas lainnya, yang kemungkinan karena perbedaan ketinggian ataupun pengaruh gangguan. Komunitas di daerah ini ditentukan sebagai komunitas Symplocos – Castanopsis, dengan Castanopsis javanica, Symplocos fasciculate, Glochidion rubrum, Ilex cymosa dan Lithocarpus sundaicus merupakan jenis-jenis dominan. Berdasarkan pengelompokan tersebut diatas dapat dikatakan ketinggian tempat merupakan faktor utama, meskipun lokasi (posisi geografi) juga ikut berperan. Struktur hutan diantara 3 komunitas tersebut nampak bervariasi, yang terlihat dari persebaran horisontal dan persebaran vertikal. Gambar V.7., menunjukkan adanya perbedaan stratifikasi hutan diantara ke 3 komunitas tersebut. Komunitas Castanopsis – Polyosma menunjukkan lapisan yang menerus dengan tinggi total pohon mencapai > 35 m. Pohon-pohon tertinggi dalam komunitas ini antara lain Schima wallichii, Castanopsis javanica dan Lithocarpus sundaicus. Begitu pula komunitas Castanopsis – Lithocarpus menunjukkan lapisan kanopi yang cukup menerus, tetapi dengan tinggi pohon kurang dari 30 m. Castanopsis javanica, Gynotroches axillaris, Astronea spectabilis dan Lithocarpus sundaicus tercatat

40

dengan lapisan kanopi yang tidak menerus. 40 Komunitas Castanopsis-Polyosma 20 Komunitas Castanopsis-Lithocarpus 20 Komunitas Eurya-Ficus 30 Tinggi total (m) 15 20 10 10 10 5 0 0 10 20 30 0 0 10 Tinggi cabang (m) 20 0 0 5 10 15 Gambar V.5 m yang terdiri atas jenis-jenis Ilex cymosa. Stratifikasi hutan dalam komunitas ini. Persebaran diameter pohon pada setiap tipe komunitas 41 . Dilain pihak komunitas Eurya – Ficus pohon-pohon tertinggi hanya mencapai 19. 8. Stratifikasi hutan pada setiap tipe komunitas 80 Kom-Castanopsis-Polyosma Kom-Castanopsis-Lithocarpus 60 Jumlah pohon (%) Kom-Eurya-Ficus 40 20 0 < 20 < 30 < 40 < 50 < 60 < 70 < 80 < 90 > 100 Kelas diameter (cm) Gambar V. Symplocos fasciculata. 7. Castanopsis javanica dan Polyosma illicifolia. yang menunjukkan banyaknya rumpang (daerah terbuka).sebagai jenis-jenis tertinggi dalam komunitas ini.

sudah menuju ke arah fase klimaks ditandai dengan persebaran vertikal dan horisontal yang nampak menerus. Di lain pihak dua komunitas lainnya. Berdasarkan hasil tersebut di atas dapat dikatakan bahwa komunitas Eurya-Ficus masih dalam fase suksesi setelah mengalami gangguan. 42 . sedangkan pada komunitas Eurya-Ficus tercatat kurang dari 2 %. Pada komunitas Castanopsis-Polyosma dan komunitas Castanopsis-Lithocarpus tercatat bahwa pohon dengan diameter > 50 cm mencapai lebih dari 5 % dari pohon yang tercacah. 8). khususnya komunitas Castanopsis-Polyosma. karena pencuplikan data yang relatif sangat terbatas.Perbedaan fase diantara ke 3 komunitas tersebut juga terlihat dari perbedaan ukuran diameter pohon (Gambar V. Akan tetapi hasil ini kemungkinan belum menunjukkan kondisi hutan kawasan gunung Salak secara menyeluruh. Namun demikian diharapkan hasil yang telah terkumpul dapat dipakai sebagai acuan penelitian lebih lanjut.

dan kayu bakar (Gambar VI.00 Kerajinan Obat Bahan Bangunan Makanan Pakan Ternak Kayu bakar Alat tradisional Jenis kegunaan Gambar V.2). makanan. teknologi tradisional. Berdasarkan wawancara. saat dikonfirmasi mengenai nama tumbuhan yang terdapat dalam petak.00 35.00 10. makanan.1. Namun demikian. Berdasarkan hasil wawancara terhadap masyarakat desa Cidahu dan desa Girijaya. diketahui bahwa pengetahuan masyarakat mengenai tumbuhan yang terdapat di dalam petak. diketahui bahwa mereka mengenal 36 jenis dan 28 famili dari tumbuhan yang dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat (Tabel VI. Kegunaan tumbuhan dalam petak 40.00 0. Sedangkan tumbuhan bawah dan merambat dimanfaatkan sebagai obat. paling banyak digunakan sebagai bahan bangunan. pakan ternak. Berdasarkan grafik di bawah dapat dilihat bahwa pemanfaatan yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat terhadap sumberdaya alam yang terdapat di dalam petak adalah sebagai bahan bangunan. Persentase pemanfatan jenis tumbuhan yang terdapat di dalam plot.1). atau pakan ternak. 43 . diketahui terdapat penambahan 44 jenis yang tidak terdapat dalam petak.00 5. pengetahuan mereka tentang tumbuhan yang dimanfaatkan tidak jauh berbeda.1). kerajinan (furniture). Sedangkan di desa Cidahu dan desa Girijaya.00 15. hal ini dikarenakan tumbuhan yang terdapat di dalam petak didominasi oleh pohon. terdapat juga pohon yang dimanfaatkan untuk keperluan lainnya.BAB VI PEMANFAATAN TUMBUHAN Berdasarkan wawancara yang dilakukan di dalam petak. Seperti kulit batang dari kiteja (Neolitsea javanica) yang dimanfaatkan sebagai pengganti obat nyamuk.00 30.00 Persentase 25. Jenis-jenis tersebut terbagi dalam 30 family dari tumbuhan yang diketahui kegunaannya sebagai obat tradisional (Tabel VI.00 20.

melainkan menyebar pada individu-individu. kembang puspa (Schima 44 . daun klewih (Artocarpus comunnis). kumis kucing (Orthosiphon aristatus (Bl) Miq). meniran (Phyllanthus niruri L.). Dalam pemanfaatannya. seperti Harendong bulu (Clidermia hirta) selain digunakan sebagai campuran dalam godogan. Daun harendong bulu dapat juga digunakan sebagai penghilang rasa pahit dalam makanan yang direbus.). masyarakat melakukannya dengan berbagai cara: (1) langsung dimakan untuk keadaan darurat.). Pengetahuan pemanfaatan tumbuhan di desa Cidahu dan Girijaya tidak terpusat pada satu tokoh. diketahui bahwa masyarakat mengenal dan memanfaatkan tumbuhan dengan berbagai macam cara pemanfaatannya. serta ada juga ada juga yang dimanfaatkan sebagai tindakan darurat. seperti Begonia robusta yang digunakan sebagai pertolongan pertama bagi orang yang keracunan (terasa pusing) akibat menghisap uap belerang terlalu banyak. ada yang digunakan sebagai bagian dari campuran jamu atau dimanfaatkan secara tersendiri. penggunaannya dengan direbus secara bersama-sama. Areuy (Ficania cordata) yang digunakan sebagai kerajinan tangan. Bila ingin menghilangkan pegal linu.). masyarakat mengenal berbagai macam kegunaan dari satu jenis tumbuhan. seperti Kicantung bila akar dan buahnya direbus diyakini sebagai obat kuat bagi laki-laki. atau yang hanya memiliki satu jenis pemanfaatan. Berbeda dengan masyarakat Kasepuhan yang masih “terpusat” pada satu tokoh. Hal ini karena pengetahuan tersebut yang ada tidak saja berasal dari pewarisan melainkan juga dari adanya interaksi dengan masyarakat lain. Masyarakat memiliki beragam cara pemanfaatan. iwung koneng (Bambusa vulgaris). Perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Cidahu dan Girijaya terkait dengan akses informasi yang lebih terbuka. masyarakat mengenal berbagai macam komposisi godogan. tergantung pada tujuan pemanfaatan godogan tersebut. kulit jirak (Symplocos fasciculata Zoll. untuk gelang. menambah tenaga dan nafsu makan. Kirinyuh (Clibadium surinamense) yang digunakan sebagai obat cacar atau luka di telinga. maka komposisi jenis godogan yang sering dilakukan oleh masyarakat adalah cecenet (Physalis minima L.Berdasarkan wawancara yang dilakukan di desa Cidahu dan Girijaya. daun sembung (Blumea balsamifera (L. akar eurih (Imperata cylindrica Pers. (3) satu jenis tumbuhan yang dapat digunakan dengan berbagai macam cara. Namun umumnya. harendong (Melastoma malabatrichum).) Dc. Dalam pemanfaatan tumbuhan untuk jamu godogan. (2) pemanfaatan tersendiri yang tidak memiliki manfaat lain. daunnya dapat juga digunakan sebagai obat sakit gigi dengan cara daunnya diperes kemudian air yang keluar dari perasan diteteskan pada gigi yang sakit.). ada satu jenis tumbuhan yang memiliki ragam pemanfaatan. Jumlah jenis tumbuhan yang diketahui dan dimanfaatkan oleh masyarakat Cidahu dan Girijaya sebagai obat-obatan tradisional lebih banyak dari pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Kasepuhan yang hanya mengetahui 40 jenis tumbuhan (Harada 2006).

karena menurut anggapan masyarakat pada masa lalu harimau bila menyimpan makanannya ditutupi dengan daun ini. Bila hendak mengobati sakit disekitar lutut. masyarakat umumnya mengenal pemanfaatannya sebagai bahan bangunan. Ramuan ini diyakini dapat digunakan sebagai obat kuat.) dan akar tekokak (Solanum torvum Swartz. seperti. dan sintok (Cinnamomum sintok) kulitnya dimanfaatkan sebagai bahan campuran jamu godogan. Bila ingin menciptakan obat kuat. namun bukan pada pemanfaatannya. dan daun alpukat (Persea americana). batang lapuk digunakan sebagai media tanaman hias. daunnya dapat juga sebagai sayuran. batangnya berkualitas terbaik untuk dibuat bahan bangunan Selain itu jirak (Simplocos psticulata). atau kusen.). Beberapa contoh tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar taman nasional disajikan pada Gambar VI. 2. 45 .wallichii (DC) Korth. merupakan jenis pohon besar yang banyak manfaatnya. (4) satu jenis tumbuhan yang memiliki berbagai macam pemanfaatan. sehingga dengan menjadikan daun pakis sebagai alas ada keyakinan manusia menyerahkan dirinya sebagai korban harimau. Untuk mengobati kencing kurang lancar dan darah tinggi maka komposisi tumbuhannya adalah jumput bau (Ageratum conyzoides). Masyarakat tidak berani menggunakan daun dari pakis ini sebagai alas tidur ketika berada di hutan. papan.). Untuk pohon-pohon besar. daun dari pakis ini memiliki mitos tersendiri. ruyung atau batangnya dapat juga digunakan sebagai tiang bangunan pondok di sawah atau kebun. maka ramuan jenis tumbuhan yang digunakan adalah akar bambu. Sedangkan untuk penyakit liver (koneng) ramuan yang dibuat adalah rebusan daun alpukat dan daun sukun. bahan furniture. yang memiliki ragam pemanfaatan. maka ramuan yang dibuat adalah jukut bau (Ageratum conyzoides). Seperti pakis (Cyatea contansminan). dan pinang. Diantara jenis pohon yang memiliki pemanfaatan selain jenis-jenis diatas adalah Saninten (Castanopsis argentea). jukut bau. cecenet (Physalis minima). kiurat. kulit sintok (Cinnamomum sintoc Bl.

2. 46 . lalapan Plantago major Sebagai obat batu ginjal dan obat kuat Harendong (Melastoma malabatrichum) sebagai obat sakit perut Gambar VI. Beberapa jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat di desa Cidahu dan desa Girijaya.Kipait (Paspalum conjugatum) sebagai obat luka Tempuyung (Sonchus arvensis) sebagai obat ginjal Kumis kucing (Orthosiphon aristatus) sebagai obat sakit kencing batu dan ginjal Cente (Lantana camara) sebagai obat bisul atau bengkak Sntrong (Erectitus valerianifolia) sebagai obat darah tinggi dan penawar racun Antanan (Centella asiatica) sebagai obat kesemutan Takokak (Solanum torvum) Sebagai obat kuat dan darah tinggi.

Sebagai obat Daun muda dimakan buat obat diare. Acronychia pedunculata (L. furniture. 1 2 3 Nama Lokal Kirujug Karag Kiajag Jenis Acronychia laurifolia Bl. airnya diminum untuk obat kuat. Buat anyaman. Ficus sp. Euphorbiaceae 47 . Freycinetia angustifolia Bl.Br.Tabel V. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Ex Wall Melastomataceae Athyriaceae Theaceae Rutaceae Moraceae Pandanaceae Rhizophoraceae Proteaceae 19 19 20 21 22 23 24 Pining Kisaoh Kibeusi Pasang Manglit Areuy Kiteja Horntedtia pininga (Bl. Eurya acuminata DC. Evodia latifolia Dc. Argostema montanum Bl. balok Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Calliandra calothyrsus Meissn Castanopsis javanica (Bl. bahan bangunan 4 5 6 7 8 9 10 Kikeyep Ramu kuya Pakis buah Rotan lilin Kimerak Jara anak Sintok Ardisia lurida Bl. kusen Bahan bangunan. Helicia robusta (Roxb. Bahan kerajinan (gelang) Kulit kayu buat bahan obat nyamuk. Ex DC. papan. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Lithocarpus sp. Calamus javanica Bl. Cinnamomum sintoc Bl. Blechnum orientale L. Bahan bangunan Kayu bakar. airnya diminum buat obat diare/radang lambung. Tiang bangunan Buat kayu bakar. furniture. airnya diminum obat sakit pinggang/obat kuat. dan kulitnya ditumbuk. Myrsinaceae Rubiaceae Blechnaceae Arecaceae Fabaceae Fagaceae Lauraceae 11 12 13 14 15 16 17 18 Harendong bulu Pakis benyeur Kiwates Kisampang Kigember Tandang tanah Kitiwu Tenung Clidemia hirta (L.) Val. Getahnya diminum buat obat diare.) DC. Bahan Bangunan (kusen) Buat pakan ternak Daun muda buat lalap. 1.) D. Akar direbus. kusen. kayunya buat bahan bangunan. Bahan Bangunan. Ilex cymosa Blume Lindera bibracteata (Nees) Boerl. Manglietia glauca Bl. Suku Rutaceae Rutaceae Myrsinaceae Kegunaan Bahan bangunan Furniture.) R. alat tradisional. kusen Kulit batang direbus. balok. Kayu bakar. Zingiberaceae Agnifoliaceae Lauraceae Fagaceae Magnoliaceae Asteraceae Lauraceae 25 Karemi Omalanthus populneus (Geisl) pax. No. Bahan Bangunan (kusen) Kulit batang digerus lalu campur dengan minyak kelapa buat obat koreng Furniture. Gynotroches axillaris Bl.) Miq Ardisia crispa (Thunb) DC. Buat tali. Mikania cordata Neolitsea javanica Bl. Bahan bangunan. Don Diplazium esculenta Sw. Tumbuhan Bermanfaat yang terdapat di dalam Petak Penelitian.

No. Batangnya di potong. airnya di minum buat obat darah tinggi.) Frodin Icacinaceae Saxifragaceae Rosaceae Rosaceae Araliaceae 31 32 33 34 Puspa Canar Jirak Kisireum Schima Wallichii (DC) Korth. Syzygium lineatum (Dc.) Hassk. Cangkudu 8. Buah masak di juss lalu di minum buat obat darah tinggi.) Kalkm. Asteraceae 10. Tumbuhan Bermanfaat yang Diketahui Masyarakat sebagai Obat. airnya diminum. airnya di minum. Harendong Melastoma malabatrichum 2. Tabel V. furniture. Kayu bakar. Salam 7. Seluruh bagian tanaman direbus. Urang aring Eclipta alba (L. Poliosma ilicifolia Bl. Psidium guajava L. 48 . buat obat darah tinggi. Nama Lokal Jenis 1. airnya diteteskan pada mata buat obat trachum / rabun. perasan airnya di minum buat obat diare. kusen Buah buat bahan manisan. Jambu batu Persea americana Swietenia mahagoni Syzygium polyantha Morinda citrifolia L. Daun di rebus.& Perry Vernonia arborea Buch. Pacar Impatiens platypetala Lindl. daun di gerus. bunganya sebagai hiasan Bahan bangunan. Obat luka. Lauraceae Meliaceae Myrtaceae Rubiaceae Myrtaceae 9. airnya di minum buat obat diabet. Mahoni 6. air dalam batang buat obat. Bahan Bangunan Bahan bangunan. Daun di rebus. Cangkoreh Dinochloa scandens Familia Melastomataceae Poaceae 3. dan furniture Kayu buat bahan bangunan dan furniture.26 27 28 29 30 Kibonteng Kihujan Kawoyang Kawoyang Ramu giling Platea latifolia Bl. Balsaminaceae 4. daun digerus lalu ditempelkan pada tempat yang luka. Daun di rebus. buah yang masak jambu merah buat obat demam berdarah. buat obat darah tinggi dan sakit pinggang. 2.Ham Weinmannia blumei Planch Theaceae Smilacaceae Symplocaceae Myrtaceae 35 36 Hamirung Peris Asteraceae Cunnoniaceae Furniture Bahan bangunan Kayu buat bahan bangunan dan furniture. buat menghitamkan dan menyuburkan rambut. Daun muda di gerus ditempelkan pada dahi buat obat demam / kompres. Daun di gerus di pakai keramas. Cecenet Physalis minima L.) Kalkm.) Merr. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Smilax zeylanica L. asam urat. Kayu buat bahan bangunan dan furniture. Alpukat 5. Prunus arborea (Bl. Schefflera lucida (Bl. Symplocos fasciculata Zoll. Prunus arborea (Bl. Solanaceae Kegunaan Daun muda di makan untuk obat sakit perut.

Daun dan batangnya direbus. Kikumat Polygala paniculata Polygalaceae 25. daun digerus ditempelkan di uluhati / dada obat sesak napas. Ceiba pentandra (L. Randu Lantana camara L. daun digerus kemudian ditempelkan pada tempat yang sakit. Pungpurutan 20. Kumis kucing Orthosiphon grandiflorus Bold. Kipait Paspalum conjugatum Berg. diminum buat obat setelah melahirkan Seluruh bagian tanaman direbus. Eurih 27. airnya diperas lalu diminum buat obat tajam/berak darah. Obat luka.11. buah dilalap buat obat darah tinggi. airnya diminum buat obat sakit kencing. daun di gerus ditempelkan pada yang luka buat obat luka. jika airnya di saring lalu diminum buat obat mah. airnya diminum buat obat memperlancar peredaran darah daun dilalap buat obat darah tinggi dan penawar racun. daun digerus ditempel kebagian yang sakit. airnya di minum buat obat nafsu makan dan obat perawatan sehabis melahirkan. Daun digerus. seluruh bagian tanaman direbus airnya diminum buat obat pegalpegal. airnya diminum untuk obat kuat. Rane Imperata cylindrica Pers. Cente 23. Daun di rebus. Daunnya di rebus. daun digerus lalu ditempelkan pada bagian yang luka.) Gaerth. seluruh bagian tanaman direbus. daun diremas digosokkan/dibalurkan keperut untuk obat masuk angin. Poaceae Asteraceae Umbi akar di rebus. Meniran Phyllanthus niruri L. Harega Bidens biternata Asteraceae 15. Tempuyung Sonchus arvensis L. airnya diminum untuk obat sakit pinggang. daun dikeringkan lalu digodog airnya. Obat bisul/bengkak. Jotang 19. Sembung Lopatherum gracile Blumea balsamifera (L. Takokak Erechtites valerianifolia Spilanthes iabadicensis Triumfetta rhomboidea Solanum torvum Swartz. airnya diminum buat obat pegal- 13. Asteraceae Asteraceae Malvaceae Solanaceae 21. Sintrong 18. Labiatae Malvaceae 17. Jukut bau Ageratum conyzoides L. Verbenaceae Bombacaceae 24. Sidagori Sida rhombifolia L.) Dc. Euphorbiaceae 49 . Asteraceae 22. daun digerus lalu ditempelkan kebagian yang luka. Obat luka. Selaginella plana Poaceae Selaginellaceae 28. Obat luka/bisul. Asteraceae 14. Tangkur 12. 16. Daun dan batang di rebus airnya diminum buat obat darah tinggi daun direbus. airnya diminum buat obat kuat. akar direbus. Poaceae 26. airnya diminum obat diare Akar dan daun direbus. airnya diminum buat obat batu ginjal.

daun direbus. Daun digerus. Lampuyang Zingiber aromatica Val. Tapak dara Catharanthus roseus Apocynaceae 34. Paria 37. Smith Zingiberaceae 39. Momordica charantiaca L. Pacing Sauropus androgynus (L. Obat eksim. diminum pada pagi hari ketika baru bangun tidur. Calincing 38. Tapak liman Elephantopus scaber L. kemudian dicampur dengan air. airnya diminum buat obat batu ginjal dan obat kuat. Oxalis corniculata L. Suji Pleomele angustifolia Liliaceae 33. Centella asiatica Begoniaceae Lauraceae Fabaceae Apiaceae 50 .) J.pegal. 29. Ki urat Sericocalyx crispus Plantago mayor L. airnya diminum untuk obat kanker dan diabet. Asteraceae 35. umbi akar diparut/digerus lalu ditempelkan ketempat yang luka. Katuk 36.E. airnya diperas lalu diminum obat panas dalam/muntah darah. airnya diminum obat pegal-pegal/sakit pinggang. Keji beling 30. airnya diperas kemudian diminum buat obat nafsu makan. Reunde 40. Daun muda dan buah dimakan buat obat sariawan. Zingiberaceae 32. Seluruh bagian tanaman direbus. Gedang gandul Staurogyne elongata Carica papaya Acanthaceae Caritaceae 41 Begonia 42 Limo 43 Daun Saga 44 Antanam Begonia robusta Litsea cubeba (Lour) Pers Abrus precatorius L. Sebagai obar rematik Batangnya sebagai obat keracunan belerang Batang kayunya yang harus sebagai penolak ular Daun dikunyah. airnya diminum obat tambah darah dan diabet. airnya diminum buat obat batu ginjal. sarinya sebagai obat sariawan Direbus seluruh bagian sebagai obat kesemutan 31. Euphorbiaceae Cucurbitaceae Oxalidaceae Costus speciousus (Koen. Acanthaceae Plantaginaceae Daun direbus.) Merr. lalu dibiarkan sampai satu malam. Seluruh bagian tanaman direbus. Daun dan akar digerus. Direbus bersama adas dan pulosari. Umbi akar digerus. Daun disayur buat memperbanyak ASI (Air Susu Ibu) Buah disayur untuk obat diabet dan darah tinggi.

Di samping pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan. dan ketergantungan akan kehidupan. 51 . seperti tentang Dewa-dewa atau juga tokoh-tokoh dalam legenda Hindu. Gunung salak memiliki nilai penting bagi masyarakat Sunda secara umum dan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung Salak. dan mitos yang ada di masyarakat membaur menjadi satu. gunung. Sedangkan bagi masyarakat Islam namun masih kuat tradisi “Sunda”nya tempat-tempat yang diasosiasikan dengan legenda Hindu diganti dengan sosok atau pun juga tokoh penyebar agama Islam di wilayah itu. Gunung Salak hanya dimaknai sebagai “titipan” dari Tuhan yang harus dirawat dengan baik. Di tempat ini legenda. Hal ini dilihat dari versi dan “perebutan” mitos yang ada di Gunung Salak. sebagian besar masyarakat menganggap tempat ini sebagai tempat bersemedinya Eyang Santri. Seperti di petilasan Eyang santri. berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan dan kearifan dalam memanfaatkan keanekaragaman yang terdapat di gunung Salak. Bagi masyarakat desa Girijaya. Dalam tumbuhan terkandung mitos tentang masa lalu kehidupan masyarakat. terutama gunung Salak adalah tempat istimewa. tempat-tempat yang ada di Gunung Salak di asosiasikan dengan mitos Hindu. harapan. namun ada juga yang berpendapat bahwa tempat ini merupakan petilasan dari Sanghyang Guru Resi (Kakek dari Guru Minda dalam dongeng Lutung Kasarung). Gunung Salak juga menjadi saksi atas proses yang ada di masyarakat. sejarah. ketidakterpisahkan masyarakat dengan tumbuhan yang ada di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak patut menjadi pertimbangan kebijakan pengelolaan Taman Nasional. juga memiliki nilai-nilai kultural. Bagi masyarakat yang masih berpegang teguh pada tradisi. Di samping itu. gunung Salak tidak saja sebagai daerah tangkapan air yang menyimpan dan menyediakan kebutuhan masyarakat akan air bersih melainkan juga di gunung Salak tersimpan sejarah. Tanpa mempertimbangkan hal tersebut. bermanfaat bagi masyarakat untuk mengobati penyakit. masyarakat desa Cidahu dan desa Girijaya yang tinggal di kaki gunung Salak mempunyai inisitif yang berbeda dalam menjaga kelestarian gunung Salak. Perebutan dan negosisi kelompok yang ada di masyarakat juga ditunjukkan dari tafsiran mereka tentang suatu tempat peninggalan sejarah. Bagi masyarakat. menghilangkan kearifan lokal dan tujuan dari keberadaan Taman Nasional tidak akan tercapai. Sedangkan bagi kelompok yang lain.BAB VII PENUTUP Pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan tumbuhan menunjukkan adanya saling keterkaitan yang erat antara masyarakat dan lingkungan. Tumbuhan. proses islamisasi dan akulturasi budaya Islam dan Hindu-Budha. Dengan demikian. disamping bernilai secara ekonomis.

Bpk Iwan. Ismirza. Pembagian ini antara lain: (1) Kawasan hutan pegunungan bawah dan atas merupakan hutan primer dan harus dipertahankan untuk menjadi area inti sebagai preservasi hewan dan tumbuhan liar. Nurdin atas kerjasamanya selama survey dilapangan. Gunung Halimun-Salak. dapat digunakan sebagai buffer zone antara habitat yang essensial dan daerah luar. Bpk. (4) Hutan tanaman. sehingga perlu adanya studi ekologi lebih lanjut di beberapa lokasi terutama rute Cimalati dan Rute Pasir Reungit untuk melengkapi data. Emad yang mendampingi selama dilapangan serta tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Ika S. Madani dan Bpk. Ucapan terimakasih ini juga kami sampaikan kepada Bapak dan Ibu yang mendukung dan membantu kami memberikan informasi tentang pemanfaatan flora dan informasi lainnya tentang Gn. Aden Muhidin. Undang. Perlu upaya yang lebih serius untuk mendorong inisitif pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat dengan mengupayakan kesejahteraan bagi mereka.P. Terimakasih juga kami ucapkan kepada Bpk. Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Kepala Pusat dan Kepala Bidang Botani di Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Bpk. Salak di Desa Giri Jaya dan Desa Cidahu. 52 . TNG Halimun – Salak project dengan Pusat Penelitian Biologi – LIPI. Bpk Tatang.Gunung HalimunSalak. karena waktu penjelajahan relatif singkat. Bpk. Pembuatan plot permanen untuk monitoring berkurang dan hilangnya keanekaragaman hayati juga diperlukan untuk mengetahui pengaruh pemanasan global. Bpk. Informasi di buku ini masih kurang dari sempurna. Anhar yang mendukung terlaksananya proyek kerjasama ini. Bpk. Ucapan Terimakasih Survey flora gunung Salak ini adalah atas dukungan dan kerjasama antara JICA. Wardi. tanpa mereka tidak lengkaplah buku ini.N. Bpk Hamzah dan Bpk. N. dan Bpk. setiap kawasan memiliki peranan yang cukup berarti sehingga masing-masing perlu dipertahankan atau dilestarikan. Ucapan terimakasih kepada seluruh staff JICA dan Staff TNG Halimun – Salak yang memberikan banyak informasi tentang kondisi Gn Salak. Saran Dari hasil survey diperoleh beberapa catatan penting yang dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan TN selanjutnya. N. Gunung Halimun-Salak. atas diperkenankannya mengadakan penelitian di Kawasan T. memberikan dukungan dan kerjasama selama berlangsungnya survey ini.Perbedaan ini menambah keragaman tradisi masyarakat. Endang. Bpk Agus. Dimana pembagian kawasan ini sangat penting. (3) Kawasan hutan pegunungan rendah berfungsi sebagai habitat hidupan liar seperti leopard dan gibbon. Kepala T. (2) Kawasan hutan pegunungan atas (>1800 dpl) yang tidak terlalu luas di gunung Salak mempunyai vegetasi yang sangat spesifik sehingga keberadaan kawasan ini menjadi sangat penting bagi T.

LIPI. 2007. K. 33-41. RM Marwoto & EK Supardiyono (eds). K. 2007. London. Gerakan Sosial untuk Konservasi Daerah Resapan Air di Kawasan Daerah Aliran Sungai Cisadane di JABOPUNJUR.. August 1975. Greigh-Smith. C. hal. 2006. 1985. LIPI. Prosiding Seminar Hasil Litbang SDH. Mulyati Rahayu. Mangunjaya. Keramat Alami dan Kontribusi Islam dalam Konservasi Alam. The ecological zone of Indonesia. G. Taman Nasional Gunung Halimun-Salak: Menyingkap Kabut Gunung HalimunSalak. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Mengenal 21 Taman Naional Model di Indonesia. Jawa Barat.. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak Periode 20072026. M. Konservasi Alam dalam Islam.A.C. Salak. E. Bogor: Backer. Anthropological Approaches to the Study of Religion. Kartawinata. Geertz. Dede Wardiat. Komite Nasional MAB Indonesia. M..W..M. 2007. Vancouver.M. Cox. 1996. S. Jakarta: Paramadina...G. Noord. 13th Pasific Science Congress.. 2007. Mangunjaya. Jakarta: Sub Direktorat Informasi Konservasi Alam. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2005. Kodiran. Henny Warsilah.. Paper presented in the Symposium of Pasific Ecosystem. Butterworths. Jakarta.. Puslitbang Biologi-LIPI. Bogor: JICA. Imron. Tumbuhan Obat Taman Nasional Gunung Halimun. Gunung Halimun-Salak National Park Management Project. Java (3 vols) . F. Dalam: Witjaksono. Makalah dalam Lokakarya. 53 . Agama Ramah Lingkungan: Perspektif Al-Qur’an. Unpublished report. Second Edition. Fl.. 2006. 1991. Crown. Laboratory Manual of General Ecology. 2001. 15 Mei 1991. Anonim. Taman Nasional Gunung Halimun-Salak: Menyingkap Kabut Gunung HalimunSalak. 1963-68. Ari Wahyono.. 1964. Makalah dalam Lokakarya. E. LIPI. M. Komite Nasional MAB Indonesia. Yayasan Obor Indonesia.. Komite Nasional MAB Indonesia. 1966. Anonim. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. K. K. Anwar Ibrahim. 2005. 2007.. 1975. Etika Jawa. 2007. London: Tavistock. Leuweung Titipan: Hutan Keramat Warga Kasepuhan di Gunung Halimun. Anonim. P. Dalam Michael Banton. Mirmanto. Religion as a Cultural System. Bogor. 1967.Bibliografi Abdillah. C. Iskandar. Indonesia. Kartawinata. Struktur dan komposisi hutan DAS Cisadane hulu. Iowa. Anonim. Jakarta: LIPI Press. Makalah dalam Lokakarya. & Bakhuizen vd Brink Jr. Prawiroatmodo. Departemen Kehutanan dan JICA. Bogor: Dephut dan JICA. J.. Structure and composition of montane rain forest in Awibengkok area. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Pelestarian Daerah Mandala dan Keanekaragaman Hayati oleh Orang Badui. F. Adimiharja. Quantitative Plant Ecology. Batavia. Riswan. Mirmanto & S. Harada.

S. dan Perumusan Kebijakan di Indonesia. Rainfall types based on wet and dry period ratios for Indonesia with WesternNew Guinea. Makalah dalam Seminar Kesejarahan Kota Bogor 6 September 2007. Jakarta: Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.. A. Research and Conservation of Biodiversity in Indonesia. 2007b.A. Bandung: Remaja Rosda Karya. Situs Keramat Alami sebagai Alternatif Pengakuan Hak-Hak Masyarakat Adat: Kasus Kasepuhan Cibedug. Kepariwisataan dan Kebudayaan Kota Bogor. 2003. 54 . Kementrian Perhubungan. van. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Munandar. In: M. dan Carol J Pierce Colfer (Peny). 2007. The Inventory of Ntural Resources in Gunung Halimun National Park. Brill. C. Hal. Wiriadinata.). Bogor: Padepokan Giri Sunda Pura..J van. Propinsi Jawa Barat. Nasution dan Mahyuddin Mendim. Steenis. LIPI. Vol. dan Asep Sadeli. 2007a. D & H. John Wiley.G. Komite Nasional MAB Indonesia. New York. Mountain Flora of Java.. Laporan Perjalanan. Ke mana Harus Melangkah: Masyarakat. Floristic study of Gunung Halimun National Park. H. Vera Budi Lestari. H.A.G. 1951. I. 2006. H.P.A. Dinas Informasi. Aims and Methods of Vegetation Ecology. Flora Pegunungan Jawa. Yogaswara. Situs Sindang Barang Bukti Kegitan Keagamaan Masyarakat Kerajaan Sunda (Abad ke-13-15 M): Laporan Penelitian awal.G. 2007. Makalah dalam Lokakarya. Mohammad Fathi Royyani. Bogor: Puslit-Biologi LIPI. Rais. Yoneda.. 7-13. Kawasan Konservasi Indonesia. Penelitian ke Cagar Biosfer Cibodas. No. H. II.R. C.. Djawatan Meteorologi dan Geofisic.. 2007. 1997.42. Verhandelingen.Muller-Dombois. A. 2000.. Ellenberg. Dkk.G. Munandar. Pemukiman Kuna di Bogor: Tinjauan Berdasarkan Data Tertulis dan Tinggalam Arkeologis. Hutan. Bogor. 1974. Schmidt & JHA Ferguson. Simbolon & J. Sugardjito (eds. (Diterjemahkan oleh A. 1972. Resosudarmo.S. A.. LIPI-PHPAJICA. Steenis. Wallace.J. Puslit-Biologi LIPI. Menjelajah Nusantara: Ekspedisi Alfred Russel Wallace Abad ke-19. Banten. Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Jakarta.

55 .

I sm ai l . Fagraea el l i pti ca R oxb. B ei l schm i edi a m adang (B l . ) L. P errottei a al pestri s Bl . ) A . ) B urck. ) Korth.C . ) L. )Bl . ) Loes Pi per aduncum L. ) Kosterm . S chi m a w al l i chi i (D C . C al l i andra cal l othyrsus M ei ssn. D om i n. W ei nm anni a bl um ei P l anch. C yathea contam i nans (W al l . 11 chi kaw a. ) Korth.ex B l . ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ 56 . B r.R i ch. )D C .C am us S chi m a w al l i chi i (D C . N eol i tsea cassi a (L. P runus arborea (B l . )D C . Gl ochi di on rubrum B l . C astanopsi s argentea (B l . Li thocarpus sundai cus (B l . U rophyl l um arboreum (R ei nw . P ternandra azurea (B l . Land data of Gunung Salak (Cimalati route) G nung S al ak vegetati on Ci m al ati R oute D ate 2008/3/6. C al l i andra cal l othyrsus M ei ssn. Li thocarpus daphnoi des (B l .R i ch. ) Kal km an S chi m a w al l i chi i (D C .ex W al l . ) C opel . ) Korth. ) Korth. C astanopsi sj avani ca (B l . A gathi s dam m ara (Lam b. )D C . S ma l l Pi oneer other 890 960 1025 15 1058 5 5 5 7 10 sturbed 17 1111 N aturaldi 4 20 19 P ri m ary sturbed 20 1209 N aturaldi 20 m ary 21 1252 P ri 25-30 m ary 22 1301 P ri 25-30 A gathi s dam m ara (Lam b. P andanus furcatus R oxb. S chi m a w al l i chi i (D C . H el i ci a robusta (R oxb. )R. ) Korth.I w an M em bI C om m ent WP Al t Forest type Pl antati on Pl antati on Pl antati on Pl antati on Forest H i ght S peci es Fam i l y A raucari aceae A raucari aceae Fabaceae Fabaceae Theaceae C yatheaceae P andanaceae C el astraceae Pi peraceae P roteaceae Fagaceae Theaceae Fagaceae Euphorbi aceae C unoni aceae R osaceae Theaceae M el astom ataceae Lauraceae Logani aceae Fagaceae Theaceae Lauraceae Fagaceae R ubi aceae Fagaceae J-Fam i l y ナンヨ ウスギ科 ナンヨ ウスギ科 マメ 科 マメ 科 ツバキ科 ヘゴ科 タ コ ノ キ科 ニシキギ科 コ ショ ウ科 ヤマモガシ科 ブナ科 ツバキ科 ブナ科 ト ウダイグサ科 クノ ニア科 バラ科 ツバキ科 ノ ボタ ン科 クスノ キ科 マチン科 ブナ科 ツバキ科 クスノ キ科 ブナ科 アカネ科 ブナ科 Em erg. C astanopsi sj avani ca (B l .Lampiran 1.C . ) R ehd.

Li tsea resi nosa B l . ) M uel l . Eurya acum i nata D C . 20-25 S chi m a w al l i chi i (D C . 57 . M acaranga tri l oba (R ei nw . ) M oore M angl i eti a gl auca B l . C astanopsi sj avani ca (B l . ) Korth. 20-25 A cronychi al auri fol i a Bl . ) Korth. A nti desm a tetrandrum B l . Eurya acum i nata D C . Fi cus fi stul osa R ei nw . )D C . Pl atea excel sa B l . S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . S chi m a w al l i chi i (D C . 35-40 S chi m a w al l i chi i (D C . A cronychi al auri fol i a Bl .Lampiran 1.A rg. S yzygi um sp. (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y R osaceae Theaceae Fagaceae I caci naceae Laul aceae R utaceae Euphorbi aceae Theaceae Euphorbi aceae S ym pl ocaceae M agnol i aceae S axi fragaceae Logani aceae S ym pl ocaceae M oraceae M oraceae Lauraceae Theaceae R utaceae Fagaceae Theaceae C unoni aceae M yrtaceae Fagaceae R utaceae Theaceae Em erg. D om i n. P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . ) R ehd. S ym pl ocos cochi nchi nensi s (Lour.ex B l . ) Korth. W ei nm anni a bl um ei P l anch. Li thocarpus sundai cus (B l .A rg. ) Korth. S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y バラ科 ツバキ科 ○ ブナ科 クロタ キカズラ科 クスノ キ科 ミ カン科 ト ウダイグサ科 ツバキ科 ○ ト ウダイグサ科 ○ ハイノ キ科 モクレン科 ユキノ シタ 科 マチン科 ハイノ キ科 ○ クワ科 ○ クワ科 ○ クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ミ カン科 ○ ブナ科 ツバキ科 クノ ニア科 フト モモ科 ブナ科 ミ カン科 ツバキ科 ○ 23 sturbed 1354 N aturaldi m ary 1404 P ri 24 32 m ary 1450 P ri   P runus arborea (B l . )D C .ex B l . A cronychi al auri fol i a Bl . C astanopsi s argentea (B l . ) Kal km an S chi m a w al l i chi i (D C . M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . Fi cus ful va R ei nw .

Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . S apotaceae P ayena l eeri i (T.& B . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . M el astom ataceae A stroni a spectabi l i s Bl . Fabaceae P arki ai nterm edi a H assk. El P odocarpaceae P odocarpus neri i fol i us D . Lauraceae N eol i tsea cassi a (L. S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . A ceraceae A cer l auri num H assk. Li thocarpus el egans (B l . Jugl andaceae Engel hardi a spi cata Lesch. )D C . S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . G .D on P odocarpaceae P odocarpus i m bri catus B l . ) Korth. R utaceae A cronychi al auri fol i a Bl . ) H atus. D om i n. ) B oerl . ) Kal km an R utaceae M el i cope l ati fol i a (D C . ) Korth. Em erg. S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . R osaceae P runus arborea (B l . )D C . ) K. ) Kosterm . )M i q. I caci naceae Pl atea excel sa B l . )D C . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . ) Kurz.ex S oepadm oFagaceae Jugl andaceae Engel hardi a spi cata Lesch. M yrtaceae S yzygi um rostratum (B l .H artl ey Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . aeocarpaceae El aeocarpus sphaeri cus (G aertn. ) T.& B . Lauraceae N eol i tsea cassi a (L.S chum .ex B l .Lampiran 1. ) Kosterm . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y バラ科 ユキノ シタ 科 ○ クロタ キカズラ科 バラ科 ミ カン科 ブナ科 ツバキ科 ○ ○ ユキノ シタ 科 ○ カエデ科 ○ クスノ キ科 マメ 科 クルミ 科 ○ ブナ科 ○ クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ○ ミ カン科 ノ ボタ ン科 ユキノ シタ 科 フト モモ科 ブナ科 ○ クルミ 科 ○ ホルト ノ キ科 マキ科 ○ マキ科 ○ クスノ キ科 ○ アカテツ科 33 m ary 1520 P ri 25-35 34 m ary 1615 P ri 25-30 58 . Laul aceae Li ndera bi bracteata (B l .ex B l . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y R osaceae P runus j avani ca (T.

) Kal km an Ol ea j avani ca (B l . M angl i eti a gl auca B l . Lasi anthus l aevi gatus B l . V acci ni um sp. )G i l g. ) Korth. A cer l auri num H assk. f. Li tsea noronhae B l . R hododendron sp. )D C . V acci ni um bancanum M i q. A stroni a spectabi l i s Bl . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y Fagaceae Eri caceae Eri caceae I caci naceae P odocarpaceae Theaceae M el astom ataceae A ceraceae R osaceae Ol eaceae M agnol i aceae Laul aceae A cti ni di aceae R ubi aceae P odocarpaceae P odocarpaceae M el astom ataceae Theaceae Fagaceae I caci naceae C ornaceae R hi zophoraceae Eri caceae Lauraceae Thym el aeaceae R ubi aceae Eri caceae Em erg. Pl atea excel sa B l . S auraui a bracteosa D C . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y ブナ科 ツツジ科 ○ ツツジ科 ○ クロタ キカズラ科 ○ マキ科 ○ ツバキ科 ○ ノ ボタ ン科 カエデ科 バラ科 モクセイ科 ○ モクレン科 ○ クスノ キ科 ○ マタ タ ビ科 ○ アカネ科 ○ マキ科 ○ マキ科 ○ ノ ボタ ン科 ツバキ科 ○ ブナ科 クロタ キカズラ科 ミ ズキ科 ヒ ルギ科 ツツジ科 ○ クスノ キ科 ○ ジンチョ ウゲ科 ○ アカネ科 ○ ツツジ科 ○ 35 m ary 1705 P ri 36 m ary 1825 P ri C astanopsi sj avani ca (B l . G ynotroches axi l l ari s Bl . S chi m a w al l i chi i (D C . R hododendron sp. ) Kosterm . ) Knobl . N eol i tsea cassi a (L. 20 P odocarpus i m bri catus B l . ) Korth. S chi m a w al l i chi i (D C . M asti xi a pentandra B l . 20-30 P l atea excel sa B l . 59 . D om i n. P odocarpus neri i fol i us D . )D C .D on A stroni a spectabi l i s Bl .Lampiran 1. D aphne com posi ta (L. P sychotri a robusta B l . P runus arborea (B l . P odocarpus i m bri catus B l . C astanopsi sj avani ca (B l .

Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y マツ科 ブナ科 ○ クノ ニア科 ツバキ科 ○ ウコ ギ科 ○ ○ ト ウダイグサ科 ○ ホルト ノ キ科 ヤシ科 ヘゴ科 R D B ヘゴ科 ユキノ シタ 科 ○ ブナ科 ツバキ科 ヤシ科 ブナ科 ブナ科 ノ ボタ ン科 イワタ バコ 科 ナンヨ ウスギ科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 ヒ ルギ科 ブナ科 ヤシ科 クスノ キ科 マタ タ ビ科 クワ科 25 26 sturbed 27 1150 N aturaldi 15 sturbed 28 1200 N aturaldi 10-15 60 . M aratti aceae A gi opteri s evecta H offm . )D C .ex S oepadm o Fagaceae Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . )D C . ) R ehd. R hi zophoraceae G ynotroches axi l l ari s Bl . P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art. C yatheaceae C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . El aeocarpaceae El aeocarpus sti pul ari s Bl . ) H atus. A cti ni di aceae S auraui a bracteosa D C . Lauraceae P ersea ri m osa (B l .ex B l . P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art. C yatheaceae C yathea contam i nans (W al l . Li thocarpus el egans (B l . Em erg.Lampiran 2.ex B l . Euphorbi aceae A nti desm a tetrandrum B l . ) Korth. )O . )D C . Fagaceae C astanopsi s argentea (B l . D om i n. S axi fragaceae P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . ex B l .I w an M em b I C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Pl antati on 5-10 P i nus m erkusi i Jungh.A rg. f. G esneri aceae A gal m yl a parasi ti ca (Lam k) O . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . M el astom ataceae M edi ni l l a speci osa R ei nw . P al m ae Pl ectocom i a el ongata M art.I sm ai l . M oraceae Fi cus padana B urm . ) C opel . Land data of Gunung Salak (Pasir reungit route) G nung S al ak vegetati on P asi r reungi t R oute 2008/3/7 D ate chi kaw a.A rg. Fam i l y Pi naceae Fagaceae C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. ) Kosterm . K.& D e V ri ese N aturaldi sturbed 10-15 Li thocarpus sundai cus (B l . A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l . Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l . Fagaceae C astanopsi s argentea (B l .ex B l . ) Korth. K.

H am am el i daceae Al ti ngi a excel sa N orona M yrsi naceae R apanea hassel ti i (B l . M el astom ataceae A stroni a spectabi l i s Bl . Fagaceae C astanopsi s argentea (B l . M oraceae Fi cus del toi dea Jack Em erg. )D C . Euphorbi aceae Gl ochi di on rubrum B l . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . M oraceae Fi cus padana B urm . )D C . ) T. K. ) M ez Laul aceae Li tsea cubeba (Lour.H artl ey A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l .ex S oepadm o Fagaceae Euphorbi aceae A nti desm a tetrandrum B l . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type P ri m ary forest Forest H i ght S peci es Fam i l y H am am el i daceae Al ti ngi a excel sa N orona Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . R utaceae M el i cope l ati fol i a (D C . A ral i aceae M acropanax di sperm us (B l . ) H atus. )O . S ma l l Pi oneer other J-Fam i l y マンサク科 ○ ツバキ科 ○ ブナ科 ト ウダイグサ科 ウコ ギ科 クワ科 ブナ科 ブナ科 ○ ト ウダイグサ科 ミ カン科 ウコ ギ科 ハイノ キ科 ○ ツバキ科 ○ マンサク科 ヤブコ ウジ科 クスノ キ科 ○ ツバキ科 ○ ノ ボタ ン科 クワ科 ○ ○ ボタ ン科 M el astom ataceae ノ ○ ○ 29 1250 20 m ary 30 1300 P ri 20-25 sturbed 31 1360 N atruraldi 10-15 M el astom a syl vati cum B l . ) Korth.ex S cheff. Li thocarpus el egans (B l . Fagaceae C astanopsi sj avani ca (B l . f. D om i n. S ym pl ocaceae S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . ) Korth. )O . ) Korth. G . ) P ers.Lampiran 2. K. 61 .

) L. M oraceae Fi cus fi stul osa R ei nw . ) M uel l . A qui fol i aceae Fi cus padana B urm . P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C . M . )R. ) M uel l . ) S . M usaceae M usa acum i nata C ol l a tae C hrom ol aena odorata (L. Fabaceae P arasari anthes fal catari a (L. D om i n. Euphorbi aceae M al l otus pani cul atus (Lam k) M uel l .ex B l . Theaceae S chi m a w al l i chi i (D C .A rg. Euphorbi aceae M acaranga tri l oba (R ei nw .A rg. Theaceae Eurya acum i nata D C . M oraceae Fi cus padana B urm . Euphorbi aceae A recaceae C unoni aceae S axi fragaceae Theaceae ナンヨ ウスギ科 ツバキ科 クノ ニア科 ウコ ギ科 ツバキ科 クノ ニア科 クワ科 ツバキ科 モチノ キ科 ト ウダイグサ科 ショ ウガ科 バショ ウ科 キク科 ト ウダイグサ科 ト ウダイグサ科 クノ ニア科 クワ科 ツバキ科 マメ 科 ト ウダイグサ科 ヤシ科 クノ ニア科 ユキノ シタ 科 ツバキ科 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ RDB ○ ○ ○ 62 .Lampiran 3.R i ch. Theaceae Eurya acum i nata D C .A rg. Zi ngi beraceae Etl i ngera cocci nea (B l .C . f.S akai& N agam .I w an C om m ent WP Al t Forest type N P G ate Javana S pa G rassl and Forest H i ght S peci es Fam i l y J-Fam i l y Em erg. C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch.Ki ng & H .ex B l .R obi nsonC om posi Euphorbi aceae M acaranga rhi zi noi des (B l . f. Eurya acum i nata D C . C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. C unoni aceae W ei nm anni a bl um ei P l anch. Land data of Gunung Salak (Cang Kaung route) G nung S al ak vegetati on C ang Kuang R oute 2008/3/12 D ate M em bI chi kaw a. ) Korth. )Ni el sen 42 sturbed 1358 N atyraldi Gl ochi di on arborescens Pi nanga j avana B l . ) Korth. A ral i aceae A rthrophyl l um di versi fol i um B l . S ma l l Pi oneer other 37 38 39 1127 1165 1221 40 and 1250 G rassl 41 sturbed 1304 N aturaldi A raucari aceae 15-20 A gathi s dam m ara (Lam b. W ei nm anni a bl um ei P l anch.I sm ai l .

A stroni a spectabi l i s Bl .ex B l . S chi m a w al l i chi i (D C . Sl oanea si gun (B l ) K. ) Korth. )O . A stroni a spectabi l i s Bl . ) M uel l . D om i n. S auraui a bracteosa D C . )D C . S ym pl ocos odorati ssi m a (B l . A rdi si a ful i gi nosa B l . D ysoxyl um densi fl orum (B l . Q uercus l i neata B l . M usa acum i nata C ol l a P andanus furcatus R oxb.S chum .Lampiran 3. P ol yosm a i l i ci fol i a Bl . K. C astanopsi s tungurrut (B l . )M i q. G ynotroches axi l l ari s D ysoxyl um densi fl orum (B l .ex B l . )M i q. C yathea j unghuhni ana (Kuntze) C opel . 20-25 Q uercus l i neata B l . )D C . ) C hoi sy O m al anthus popul neus (G ei sel ) P ax A cer l auri num H assk. C astanopsi s argentea (B l . )D C . A stroni a spectabi l i s Bl . S ma l l Pi oneer J-Fam i l y ハイノ キ科 ノ ボタ ン科 クワ科 ○ マタ タ ビ科 ヤシ科 ト ウダイグサ科 バショ ウ科 M usaceae P andanaceae タ コ ノ キ科 Fagaceae ブナ科 ○ Fagaceae ブナ科 Fagaceae ブナ科 ○ M el astom ataceae ノ ボタ ン科 Theaceae ツバキ科 R hi zophoraceae ヒ ルギ科 M el i aceae センダン科 ○ S ym pl ocaceae ハイノ キ科 ○ Euphorbi aceae ト ウダイグサ科 A ceraceae カエデ科 El aeocarpaceae ト ウダイグサ科 Fagaceae ブナ科 ○ Fagaceae ブナ科 ○ S axi fragaceae ユキノ シタ 科 M el astom ataceae ノ ボタ ン科 M el i aceae センダン科 ○ A ral i aceae ウコ ギ科 ○ M yrsi naceae ヤブコ ウジ科 ○ C yatheaceae ヘゴ科 other 43 m ary 1382 P ri 44 sturve 1403 N aturaldi S ym pl ocos fasci cul ata Zol l . (lanjutan) C om m ent WP Al t Forest type Forest H i ght S peci es Fam i l y S ym pl ocaceae M el astom ataceae M oraceae A cti ni di aceae A recaceae Euphorbi aceae Em erg. 63 . M acropanax di sperm us (B l . M acaranga tri l oba (R ei nw . Fi cus fi stul osa R ei nw . 30-35 C astanopsi s argentea (B l .A rg. C aryota rum phi ana B l .ex M art.

8 42 29 42 23. 5 57. 2 47. 2 25. 6 Lat D M 6 6 6 6 6 6 6 6 44 44 44 44 44 44 43 43 S 46. 6 57. 2 10. 5 The accuracy of GPS data were usually 10 15m. 1 55. 5 40. 7 49. 6 47. 8 11. 1 35. 7 acc * * * * P asi r reungi t Al t D ate 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 2008/3/7 C ang K uang Al t D ate 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 2008/3/12 acc: ti me 9: 57 10: 26 10: 46 11: 34 12: 07 12: 55 WP 25 26 27 28 29 30 1045 1101 1150 1200 1247 1302 D 6 6 6 6 6 6 Lat M 41 41 42 42 42 42 S 6. 9 50. 6 7. 2 20. 9 42 30. 3 45 43. 1 40.Lampiran 4. 6 25. 8 42 35. 5 42 40. 5 39. 7 30. 1 55 50. 6 43. 4 20. 3 1 13. 1 42 54. 1 32. The location of ground survey point Ci m al ati Al t D ate 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/6 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 2008/3/11 ti me 9: 53 10: 35 10: 46 11: 09 11: 23 11: 38 12: 00 12: 52 13: 11 9: 23 9: 53 10: 29 11: 09 12: 08 WP 5 15 17 19 20 21 22 23 24 32 33 34 35 36 890 1058 1111 1171 1209 1252 1301 1354 1404 1450 1519 1615 1705 1825 D 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 Lat M 44 44 44 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 S 33. 8 0. 6 39. 1 24. Since the satellite condition. 9 48. 8 42 48. 1 27. 7 30. 8 45. 9 19. 4 35. 3 D 106 106 106 106 106 106 Lon M 41 41 41 42 42 42 S acc 34. 4 17. 9 1. Altitude data of WP 32-35 were measured by barometer. 64 . 7 D 106 106 106 106 106 106 106 106 ti me 8: 27 9: 02 9: 20 9: 31 9: 45 10: 03 10: 25 11: 38 WP 37 38 39 40 41 42 43 44 1127 1165 1221 1250 1304 1358 1382 1403 Lon M S acc 42 52. 2 16. 8 D 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 106 Lon M 45 45 45 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 S 26 9 3. 9 53. 3 25.

Cyathula prostrata (L.K Strobilanthes blumei Bremek Strobilanthes cernua Bl.) R. Polyalthia lateriflora (Bl.) Bremek. Buchanania arborescens (Bl. Saurauia reinwardtiana Bl. Chev.) Rehder Alangium javanicum Alangium rotundifolium (Hassk.) Bl. Goniothalamus macrophyllus (Bl.) O. Straurogyne bibracteata Bl. Gluta renghas L. Semecarpus heterophylla Bl. Achyranthes aspera L.Br.) King Polyalthia subcordata (Bl. Saurauia bracteosa DC. Strobilanthes paniculata (Nees) Miq.) Bl.Lampiran 5. Alstonia spectabilis Alyxia reinwardtii Bl. Cordyline fructicosa (L.) Urb. Alangium chinense (Lour.) Bremek. Saurauia cauliflora DC Saurauia nudiflora DC Saurauia pendula Bl. & H. Alstonia scholaris (L. Gendarussa vulgaris Nees Hemigraohis javana Pseudoranthenum acuminatissimum (Miq.f. 3) Plot gunung Salak.) Hook.) Radlk. Halimun1 + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Salak2 + Plot3 Dimanfaatkan4 + + + ACERACEAE ACTINIDACEAE + + AGAVACEAE ALANGIACEAE AMARANTHACEAE ANACARDIACEAE ANNONACEAE APIACEAE APOCYNACEAE + + 65 . 4) SUKU ACANTHACEAE Species Agrostema boragineum Dflugossa filiformis (Bl. Strobilanthes repanda Bl.) Bloem. Mangifera foetida Lour. Ket. Orophea hexandra Bl.: 1) Mirmanto. E. Mangifera indica L.) Bl. Sericocalyx crispus (L. Straurogyne elongata (Bl. Daftar jenis tumbuhan yang tercatat di kawasan gunung Halimun dan gunung Salak.& Thoms. Acer laurinum Hassk. Wiriadinata (19).) A. 2) Tim JICA dan tim Puslit Biologi. Centela asiatica (L.

Raphidophora montana (Bl.) Schott. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 66 .) O. Polyscias nodosa (Bl. Homalomena humilis (Jack) Hook. Calamus javensis Bl. Caryota mitis Lour.) Wendl. Alocasia longiloba Miq. Macropanax dispermum (Bl.) Miq. Calamus ciliaris Bl.APOCYNACEAE AQUIFOLIACEAE ARACEAE ARALIACEAE ARAUCARIACEAE ARECACEAE Chilocarpus suaveolens Bl. Kopsia arborea Melodinus orientalis Bl. Ait) Vent.C. Scindapsus pictus Hassk. Macropanax concinnus Miq. Homalomena cordata Schott. Daemonorops melanochaetes Bl. Raphidophora korthalsii Schott. Anadenrum microstachyum (Miq. Calamus rhomboideuss Bl. Arthrophyllum diversifolium Bl.) Harms.f Homalomena pendula Pothos sp. Licuala spinosa Thun. Voacanga grandiflora Willubeia apiculata Ilex cymosa Bl. Schismatoglottis calyptrata (Roxb. Caladium bicolor (W.) Back. Schefflera aromatica (Bl. Calamus reinwardtii Bl.) Zoll. Schefflera lucida (Bl.) Frodin Trevesia sundaica Miq. Nenga pumila (Mart.) Seem.K. Anthurium andreanum Linden Arisaema filiformis Bl.) Miq. Caryota rumphiana Bl. Tylophora villosa Bl. Calamus heteroides Bl. & Mor. Agathis dammara (Lamb. Schefflera fascigiata (Miq. Scindapsus hederaceus (Zoll. Typonium sp.) L. Rich Calamus adspersus Bl. & Mor. Arum sp.

Begonia multangula Bl.) Hassk. Impatien platypetala Lindl.M.ARECACEAE ARISTOLOCHIACEAE ASCLEPIADACEAE ASTERACEAE Pinanga coronata Bl.f.f.ex Bl Aristolochia sp.) D. Eupatorium triplinerve Vahl Mikania micranta Sonchus arvensis L. Bidens biternata Blumea balsamifera (L. Impatien javensis (Bl.K. + + + + + + + + + + + + + + 67 . Impatien walleriana Hook. Plectocomia elongata Mart.) Decne Discidia rumularifolia Discidia truncata Decne Hoya Hoya macrophylla Bl. Ageratum conyzoides L.C.C. Pinanga javana Bl. Discidia punctata (Bl. Erechtites valerianifolia Erigeron sumatrensis Retz. Sphaeranthus indicus L.) S. Hoya multiflora Bl. Elephantopus scaber L. Begonia longifolia Bl. Eupatorium inulifolium H. Blumea lacera (Burm. Eupatorium odoratum Eupatorium riparium Reg. Impatien chonoceras Hassk. Chromolaena odorata (L.) D.B. Crossocephalum crepidioides (Bth. King & H. Moore Eclipta alba (L. ex Mart) Bl.) R. Begonia bracteata Jack Begonia isoptera Dryand. Spilanthes acmella Spilanthes iabadicensis + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + ATHYRIACEAE BALANOPHORACEAE BALSAMINACEAE BEGONIACEAE Vernonia arborea Buch-Ham Diplazium bantamense Diplazium cordifolium Balanophora globosa Jungh. Robinson Clibadium surinamense L.) Steud.

CELASTRACEAE CHLORANTACEAE CLUSIACEAE Euonymus javanicus Bl. Nyssia javana (Bl. Trichosantes tricuspidata Lour. Mastixia trichotoma Bl.Gray Trichosantes sumatrana Cogn. Garcinia diodica Bl. Zehneria indica CUNNONIACEAE Weinmania blumei Planch. Pollia hasskarlii Rolla Rao CONVOLVULACEAE CORNACEAE Ipomoea aquatica Forsk Merremia umbellata (L. Commelina paludosa Bl Forrestia mollissima (Bl.) Hall. Neesia altisima (Bl.f.f. Mastixia pentandra Bl. Viburnum coriaceum Bl.) Loes.) Swat Trichosantes ovigera Bl. Trichosantes quinquangulata A.) Wang. Chloranthus elatior R. Capparis cantoniensis Lour. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 68 . COMBRETACEAE COMMELINACEAE Terminalia microcarpa Decne Commelina diffusa Burm. ex Link Sarcandra glabra Calophyllum soulattri Garcinia celebica L. Perrottetia alpestris (Bl.f. CUCURBITACEAE Sechium edule (Jacq.) Bl. Canarium denticulatum Lobelia angulata Forst. Burmania lutescens Becc.Begonia muricata BEGONIACEAE BLECHNACEAE BOMBACACEAE BURMANIACEAE BURSERACEAE CAMPANULACEAE CAPPARACEAE CAPRIFOLIACEAE Begonia robusta Bl. Viburnum sambucinum Bl. Blechnum orientale L. Trichosantes villosa Bl.Br. Viburnum lutescens Bl. Garcinia sp.) Kds.

Cyathea junghuhniana (Kuntze) Copel. Scleria melanostema Scleria pubescens Scleria pubescens DAPHNIPHYLLACEAE DILLENIACEAE DIOSCOREACEAE Daphniphyllum glaucescens Bl. Elaeocarpus stipularis Bl. Blumeodendron tokbrai (Bl.) K. Scleria laevis Retz. & B.) Benn. Gahnia javanica Zoll ex Mor. Elaeocarpus petiolatus (Jack) Wall. Elaeocarpus ascronodia Master Elaeocarpus oxypyren K. EUPHORBIACEAE Antidesma minus Bl. Breynia microphylla (T.) K. Antidesma montanum Bl. Dillenia javanica Tetracera indica Dioscorea alata L.CYATHEACEAE Cyathea contaminans (Wall. Cyathea rachiborskii + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + CYPERACEAE Carex baccan Nees Cyperus kyllinga Endl. Dioscorea numularia Lmk.) M. Aporusa frutescens Aporusa sphaeridophora Merr. Elaeocarpus sphaericus (Gaertn.A. Hypolytrum nemorum (Vahl) Spreng.) Copel. & V.) Burck. Rhododendron malayanum Jack Rhododendron sp. Hypolytrum humile (Steud. Dipterocarpus hasseltii Diospyros buxifolia Elaeagnus latifolia L. Fimbristylis sp. Antidesma tetandrum Bl.) Kurz. Sloanea sigun (Bl. + + 69 . Kylinga monocephala Rottb.Schum DIPTEROCARPACEAE EBENACEAE ELAEAGNACEAE ELAEOCARPACEAE + ERICACEAE Rhododendron javanicum (Bl. Schum.

Phyllanthus urinaria L.) Merr. Ostodes panniculata Bl.) Hook.A. Pimeleodendron pavorioides Sapium seliferum (L. Glochidion sericeum (Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + FABACEAE Abrus precatorius L. Croton laevifolius Bl. Macaranga triloba (Reinw.f.) Hassk. Glochidion molle Bl. Arg.) M.) Fosberg Archidendron clypearia (Jack) Niels. Claoxylon polot (Burm. Pithecellobium ellipticum (Bl. Omalanthus populneus Zoll. f. Mallotus paniculatus (Lamk) Muell. & Mor. Bridelia minutiflora Hook.) MA Macaranga tanarius (L. Archidendron fagifolium Calliandra calothyrsus Meissn Calliandra tetragona Dalbergia tamarindifolia Erythrina orientalis Milletia dehiscens Milletia sericea Mimosa pigra Mimosa pudica Parasarianthes falcataria (L. Phyllanthus niruri L. 70 .) Merr.f. Glochidion arborescens Bl.EUPHORBIACEAE Bridelia glauca Bl. Sauropus androgynus (L. ex Bl. Macaranga rhizinoides Macaranga rhizinoides (Bl.0 Roxb. Glochidion philippicum Glochidion rubrum Glochidion rubrum Bl. Claoxylon glabrifolium Miq.) M.A.) Nielsen Parkia intermedia Hassk. Albizia falcataria (L.

& Mor. Cyrtandra rostrata Bl. Camus Lithocarpus elegans (Bl. Cyrtandra picta Bl. Didymocarpus asperifolia (Bl. Didymocarpus zollingeri (Clarke) O. Casearia velutina Flacourtia rukam Zoll.C.K.D.) A. Sphatolobus ferruginensis Bth. Sphatolobus littoralis Hassk. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + FAGACEAE Castanopsis acuminatissima (Bl. Castanopsis tungurrut (Bl. Cyrtandra pendula Bl.) Rehd.) DC Castanopsis javanica (Bl. FERNS FLACOURTIACEAE Oleandra pistilaris Pteridium aquilinum Casearia tuberculata Bl. Aesynanthus horsfieldii R. GENTIANACEAE GESNERIACEAE Gentiana quadrifaria Bl. Pangium edule Reinw. ex Soepadmo Lithocarpus spicatus Lithocarpus sundaicus (Bl. Aesynanthus radicans Jack Agalmyla parasitica (Lamk) O.) DC. ex Hk. Cyrtandra sulcata Bl. Cyrtandra coccinea Cyrtandra glabra Cyrtandra oblongifolia Bth. Lithocarpus daphnoides (Bl.) Rehd. Lithocarpus teijsmanii (Bl.Br.K. Castanopsis argentea (Bl.FABACEAE Pterocarpus indicus Willd. Quercus gemelliflora Bl. Quercus lineata Quercus pyriformiv Steen. Cyrtandra sandei De Vr.) Bakh.) A.) DC.f.) Hatus. GNETACEAE HAMAMELIDACEAE HYPERICACEAE Gnetum cuspidatum Altingia excelsa Noronha Cratoxylum sumatranum 71 .

Litsea accendens Litsea cubeba (Lour.) Kosterm.) Kosterm.) Kth.) O. Dianella javanica (Bl. Disporum cantoniense (Lour.) Boerl.) Merr Nothaphoebe coriacea Persea rimosa (Bl. Anisomeles indica (L.) Merr.) Pers. Litsea grandis Litsea javanica Bl. Platea latifolia Bl. Litsea diversifolia Bl. Molineria capitulata (Lour. Litsea resinosa Bl. Molineria latifolia Herb.) Boerf.HYPOXIDACEAE ICACINACEAE Curculigo orchimoides Gaertn. ex Kurz Pleomele angustifolia 72 .) Val.) Herb. + + + + + + + + + + + IRIDACEAE JUGLANDACEAE LAMIACEAE Trimeza martinicensis (L. Neolitsea trilivervia (Bl. Stemonurus secundiflorus Bl. LECYTHIDACEAE LEEACEAE LILIACEAE Planchonia valida (Bl. Cinnanomum sintoc Bl.K. Plectranthus galeatus Scutellaria discolor + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + LAURACEAE Beilschmiedia madang (Bl. Litsea noronhae Bl. Litsea tuberculata (Bl. Gomphandra javanica (Bl. Litsea ferruginea Bl. Litsea tomentosa Bl.) Bl. Platea excelsa Bl.f Leea rubra Bl. ex Bl. Orthosiphon grandiflorus Bold.) Bl. Lindera bibracteata (Nees) Boerl. Litsea mappacea (Bl. Leea indica Burm.) Herb. Neolitsea cassia (L. Engelhardia spicata Lesch. Litsea elliptica Bl.

) Kurz Sida acuta Sida rhombifolia L. Memecylon excelsum Bl. Fagraea elliptica Roxb. Dissochaeta reticulata Bl. Fagraea fragrans Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MAGNOLIACEAE Magnolia candolii Bl. Don Melastoma malabathricum L. 73 .Forst. Pachycentria sp. Omphalopus fallax (Jack) Naud. Medinilla speciosa Reinw. Medinella laurifolia Bl. Fagraea lanceolata Bl. Melastoma normale D. MELASTOMATACEAE Astronia spectabilis Bl.LILIACEAE LOBELIACEAE LOGANIACEAE Pleomele elliptica Lobelia sp. Michelia montana Bl.K.) O. MALPHIGIACEAE MALVACEAE Hiptage benghalensis (L. Marantha arundinacea Tuss. Dissochaeta leprosula (Bl. Don. Memecylon myrsinoides Bl. Marumia muscosa Bl. Geniostoma arborescens (Reinw. Triumfetta rhomboidea Urena lobata MARANTHACEAE Donax cannaeformis (G.Schum.ex Bl. Dissochaeta gracillis (Jack) Bakh. Melastoma affine D. Don Melastoma polyanthum Melastoma sylvaticum Bl. Medinella exima Bl.f.) K.) Bl. Medinella sp. Manglietia glauca Bl. Agiopteris evecta Hoffm.) Bl. Memecylon oleaefolium Bl. Clidemia hirta D. Creochiton bibracteata (Bl.

Ficus sagitata Vahl. Melia azedarach Sandoricum koetjapi (Burm. Stephania japonica var. Ficus fulva Reinw. + + + + MENISPERMACEAE Fibraurea chloroleuca Perycampylus cauliflora (Miers) Diels Perycampylus glaucus (Lam. Ex Bl.) Merr.f. Dysoxylum excelsum Bl.) Spreng. Ficus padana Burm. Artocarpus integra Ficus alba Reinw. Ficus globosa Bl.f. Ex Bl. Rhodamnia sp. Stephania capitata (Bl. Ficus sinuata Thunb.MELASTOMATACEAE Pternandra azurea (Bl. Ficus grosullarioides Ficus involucrata Bl.) Miq. Dysoxylum densiflorum (Bl.) Burck. ex Bl. discolor MONIMIACEAE MORACEAE Kibara coriacea Artocarpus elasticus Reinw.) Spreng. Ficus lepicarpa Bl. Ficus montana Burm.) Merr. Ficus ampelas Ficus aspericula Ficus deltoidea Jack Ficus elastica Nois ex Bl. ex Bl. Ficus fistulosa Reinw.) Merr. Ficus pisocarpa Ficus ribes Reinw. ex Trec. Artocarpus gemeziana Wall. ex Bl.f. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 74 . Toona sureni (Bl. Ficus fulva Reinw. Dysoxylum alliaceum Bl. Sonerilla heterophylla Jack + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MELIACEAE Aglaia sp. Stephania corymbosa (Bl.

) D. Ardisia javanica Ardisia laevigata Bl. Syzygium sp.) Amsh.& G. Ardisia odotophylla Ardisia pendula Mez Ardisia sanguinolenta DC Labisia pumila (Bl. Ardisia fuliginosa Bl.) Warb. Poikilospermum suaveolens (Bl.Vill. Myrsine hasseltii Bl.) Mez + + + + + + + + + + + + + MYRSINACEAE + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + MYRTACEAE Cleistocalyx operculata Merr.C. Syzygium lineatum (Bl.) Amrh.C.) F.) D. Musa acuminata Colla Musa salaccensis Zoll.MORACEAE MUSACEAE MYRISTICACEAE Ficus variegata Bl.) D. Knema laurina (Bl. Myristica guatteriifolia DC Ardisia crispa (Thunb) DC.Forst Eugenia densiflora (Bl.) Merr & Perry Syzygium gracilis (Korth. ex Nees 75 .) Merr & Perry Syzygium polyanthum Syzygium racemosum (Bl.&V. Maesa latifolia (Bl.R. Syzygium rostratum (Bl.C.) Amsh. + NEPENTHACEAE Nepenthes gymnophora Reinw. Myrsine avensis (Bl.C. Horsfieldia glabra (Bl. Syzygium suringarianum (K. ex Scheff. ex Scheff Rapanea hasseltii (Bl.) D.) Warb. Horsfieldia irya Knema cinerea (Poir) Warb. Maesa ramentacea Wall. Syzygium syzygioides (Miq.) Merr.) Duthie Eugenia fascigiata Eugenia pycnantum Syzygium antisepticum (Bl. & Perry Decaspermum fruticosum J. Tristania sp.

) Lindl. Bulbophyllum macranthum Bulbophyllum obtusipetalum Bulbophyllum odoratum Bulbophyllum ovalifolium Bulbophyllum pahudii Bulbophyllum petiolatum Bulbophyllum scotifolium Bulbophyllum stelis Bulbophyllum unguiculatum Bulbophyllum violaceum Bulbophyllum xylocarpi Calanthe abbreviata 76 . + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + ONAGRACEAE ORCHIDACEAE Ludwigia linifolia Vahl. Bulbophyllum elongatum Bulbophyllum flavescens Bulbophyllum flavidiflorum Bulbophyllum lobbii Lindl. Apostasia nuda Appendicula alba Appendicula buxifolia Appendicula congenera Appendicula cornata Appendicula cristata Appendicula pendula Appendicula ramosa Bl. Chionanthus ramiflorus Jasminum multiflorum (Burm.OLEACEAE Chionanthus montanus Bl. Olea javanica (Bl. Agrostophyllum bicuspidatum Agrostophyllum denbergii Agrostophyllum laxum J.Sm.) Andr.f.) Knobl.J.J.S Bulbophyllum aliifolium Bulbophyllum cernuum (Bl. Appendicula reflexa Arundina graminifolia Bulbophyllum Bulbophyllum absonditum J.

) Lindl. Coelogyne fuliginosa Coelogyne longifolia Lindl.) Lindl. Dendrobium aloifolium Dendrobium crumenatum Dendrobium excavatum Dendrobium hymenophyllum Lindl. Cymbidium pubescens Lindl.ORCHIDACEAE Calanthe orchimoides Ceratochilus biglandulosus Bl. Dendrochilum brachyotum Dendrochilum cornutum Bl. Dendrobium tetraede Dendrochilum aurantiacum Bl.) O.K. Dendrochilum exalatum Dendrochilum pallideflavens Dilochia wallichii Lindl.S.) Pfitz. Cryptostylis arachnites Cymbidium ensifolium Cymbidium lancifolium Hook. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 77 .J. Dendrobium spathilingue Dendrobium tenellum (Bl. Dipodium scandens Disperis javanica Eria biflora Eria erecta (Bl.) Lindl. Dendrobium lobulatum Dendrobium mutabile Dendrobium pandaneti Dendrobium paniferum Dendrobium reflexitepalum J. Eria flavescens (Bl. Coelogyne miniata Coelogyne simplex Coelogyne speciosa Corybas pictus (Bl. Ceratostylis capitata Ceratostylis subulata Chelonistele sulphurea (Bl.

) Bl. Flickingeria fimbricata Goodyera reticulata (B. Lecanorchis javanica Lecanorchis multiflora Lepidogyne longifolia Liparis bilobulata J.ORCHIDACEAE Eria junghunii Eria lobata Eria oblitterata Eria robusta Eria tenuiflora Erythrodes brevicalcar Eulophia nuda Lindl. Ait.) Lindl. Liparis rheedii Macodes petola (Bl.) Lindl. Pholidota imbricata Pholidota pallida Plocoglottis javanica Bl. Phaius tankervillae (W. Podochilus tenuis Polystachya concreta + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 78 . Malaxis koordersii Malaxis ridleyi Micropera callosa Microsaccus affinis Nephelaphyllum pulchrum Nephelaphyllum tenuiflorum Bl.) Lindl. Liparis compressa Liparis gibbosa Liparis pallida (Bl.) Bl. Pholidota globosa (Bl.S. Oberonia imbricata Oberonia microphylla Oberonia similis Octarrhena parvula Phaius flavus (Bl.) Lindl. Podochilus muricatus Podochilus serpyllifolius (Bl.) Lindl.J.

Thrixspermum anceps Thrixspermum conigerum Thrixspermum pensile Thrixspermum purpurascens Thrixspermum squarrosum J. Piper aduncum L. Pandanus nitidus Pandanus tectorius Soland. Peperomia tetraphylla (Forst. Freycinetia sp. PINACEAE PIPERACEAE Pinus merkusii Jungh. Pandanus furcatus Roxb. Freycinetia insignis Bl.S. Freycinetia javanica Bl. Trichotosia ferox Trichotosia pauciflora Vanda tricolor Lindl.f. Piper caninum Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + OXALIDACEAE PANDANACEAE PASSIFLORACEAE Passiflora edulis Sims.J.ORCHIDACEAE Pteroceras compressum Pteroceras fraternum Renanthera matutina Robiquetia spathulata Saccolobium rantii Saccolobium sigmoideum Sarcostoma javanica Schoenorchis juncifolia Bl. Spiranthes sinensis Tainia elongata J. Oxalis corniculata L. ex Park.) Miq. Passiflora foetida L. Passiflora quadrangularis L. & De Vriese Peperomia laevifolia (Bl. Freycinetia angustifolia Bl.S. ex Arn.) Hook. Spathoglottis aurea Spathoglottis plicata Bl. Piper nigrescens Piper retrofaractum 79 .J.

Paspalum longifolium Roxb.) Gaertn.) Back.f.K. Helicia robusta (Roxb.K. Lopathorium gracile Oplismenus compositus Paspalum conjugatum Berg.Br. Podocarpus imbricatus Bl.) Zoll.) R.ex Schult.&M. 80 .) Miq. & M.Br. Hubb. Dinochloa scandens (Bl. Eleusine indica (L. ex Nees) O. Axonophus compressus Bambusa vulgaris Schrad. ex Heyne Digitaria sanguinalis Scov. Gigantochloa apus (Bl. Isachne alben Isachne pangerangensis Z. Plantago mayor L.) de Laub Polygala paniculata L.) Bl.) Kurz Gigantochloa atroviolacea Widjaja Gigantochloa hasskarliana (Kurz) Backer ex Heyne Gigantochloa pseudoarundinacea (Steud.) Stapf. Podocarpus neriifolius D.) de Laub. Pogonatherum paniceum (LamHack.) O. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + PODOCARPACEAE Dacrycarpus imbricatus (Bl.E.) Widjaja Gigantochloa robusta Kurz Imperata cylindrica var major C. ex Wall Helicia roxbughii (R. Dendrocalamus asper (Schult. ex Poir Xanthophyllum excelsum POLYGALACEAE POLYGONACEAE PROTEACEAE Polygonum chinensis L. ex Wendl. ex Miq.PITTOSPORACEAE PLANTAGINACEAE POACEAE Pittosporum moluccanum (Lmk. Pittosporum ramiflorum (Z.f.Don Prumnopytis amara (Bl. Polygala venenosa Juss. Thysanolaena maxima (Roxb.k) Schizostachyum blumei Nees Schizostachyum brachycladum Kurz Schizostachyum ireten Steudel Setaria palmifolia (Willd.

Smith + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + RHIZOPHORACEAE ROSACEAE RUBIACEAE Argostemma borragineum Bl.) Miq.) Mrr.) Reinw. Lasianthus laevigatus Bl.) Kalkm. ex Korth. Lasianthus lucidus Bl.E. ex DC Argostemma uniflorum Bl. Nertera granadense 81 . Neocauclea clycina (Bartl. Prunus gricea (C. Lasianthus stercorarius Bl. Neonauclea obtusa (Bl. Rubus rosaefolius J. Gynotroches axillaris Bl. Prunus javanica (T. Prunus arborea (Bl.) Kalkm. Diodia ocymifolia Bremek Geophila repens Hedyotis rigida Hypobathrum frutescens Bl.) Bl. Muell. & B.) Merr. Lasianthus reticulatus Bl. Lasianthus purpureus Bl. Ixora javanica Ixora salisifolia Lasianthus constrictus Wight. Pygeum latifolium Miq. ex DC Borreria laevis (Lamk) Griseb. ex DC Argostemma montanum Bl. Maschalocorymbus corymbosus (Bl. Musaenda frondosa L.) Brem. Lasianthus oculuscati Bl. Lasianthus inodorus Bl. Mycetia cauliflora Mycetia javanica (Bl. Lasianthus rhinocerotis Bl.Br. Thalictrum javanicum Bl. Maesopsis enemii Ziziphus javanensis Bl.PROTEACEAE RANUNCULACEAE RHAMNACEAE Helicia serrata (R. Rubus elongatus Smith Rubus mollucanus L. ex DC.

) K. ) Korth Urophyllum corymbosum Urophyllum glabrum Wall. Sch.) Kurz. Euodia latifolia DC Melicope latifolia (DC.) DC Uncaria pedicelata Urophyllum arboreum (Reinw. Nephelium juglandifolium Bl. Timonius seriaceus (Desf. & B.) T. Pometia pinnata forma glabra (Bl.) Bl. Acronychia pedunculata (L. Psychotria sarmentosa Bl. Planchonella nitida 82 . Otophora alata Bl.RUBIACEAE Ophiorrhiza junghunii Pavetta indica L. & B. Lepisanthes tetraphylla Mischocarpus frutescens Bl. Tarenna fragrans (Bl. Wendlandia glabrata DC + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + RUTACEAE Acronychia laurifolia Bl.) K. Uncaria glabrata (Bl. Psychotria curviflora Wall. Randia schoemannii (T. Uncaria gambir Roxb. Psychotria robusta Bl. Saprosoma arboretum Bl. Psychotria montana Bl.) Miq Euodia glabra (Bl. Mischocarpus sundaicus Bl. Timonius timon (Spreng) Merr.ex Bl. Hartley Ruta oppositifolia SABIACEAE SAPINDACEAE Meliosma lanceolata Bl.G.) Bakh Randia wallichii Hook. & V. Arytera Sp. Pavetta montana Reinw.) Jacobs Pometia pinnata forma tomentosa SAPOTACEAE Payena leerii (T. ex Bl. f.

Laplacea integerrima Miq. Commersonia bartramina Sterculia coccinea Jack Sterculia subpeltata STEMONACEAE STERCULIACEAE SYMPLOCACEAE Symplocos cochichinensis (Lour. Eurya glabra (Bl.) S. Gonystyllus macrophyllus (Miq.) Kurz.) Airy Shaw Celtis timorensis Span. Turpinia sphaerocarpa Hassk. Picria felterrae Lour.) Chaisy THEACEAE Eurya acuminata DC. URTICACEAE Elattostema nigrescens Miq.) Gilg.) Engl. Smilax zeylanica L.f. Polyosma integrifolia Bl. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + SOLANACEAE Lysianthes laevis Lysianthes lysimachioides Physalis minima L.) Korth. Torenia asiatica + + + + + + + + SELAGINELLACEAE SMILACACEAE Selaginella plana Smilax leucophylla Bl. Lindernia sp. Ternstroemia japonica (Thun.) Hassk.) Thun. Ternstroemia lanceolata Thea lanceolata (Bl. Symplocos odoratissima (Bl. Pyrenaria serrata Bl. Schima wallichii (DC. Gordonia excelsa (Bl. 83 .SAXIFAGRACEAE SCROPHULARIACEAE Polyosma illicifolia Bl. STAPHYLIACEAE Turpinia montana (Bl. Solanum verbascifolium Bl.) Bl.) Piere THYMELAEACEAE ULMACEAE Daphne composita (L.) Bl.) Korth. Gironniera subaequalis Planch. Elattostema sinuatum (Bl. Moore Symplocos fasciculata Zoll. Trema orientalis (L. Stemona javanica (Kth. Smilax macrocarpa Bl.

) Miq.) R. Brachychilum horsfieldii (R. Vaccinium laurifolium (Bl. 84 .G. f. Pilea melastomoides (Poir. Vaccinium sp.f.) Gaud. Etlingera punicea (RSm. Smith Etlingera coccinea (Bl. ZINGIBERACEAE Achasma foetus Val. Vaccinium varingiaefolium (Bl.) Gagn. Pterisanthes cissoides Bl.) Bl.) Bl.oxb. Costus speciousus (Koen.. Etlingera solaris Globba marantina L. Vaccinium lucidum (Bl.) O. Tetrastigma glabratum (Bl.M. Villebrunea rubescens Bl. Procris frutescens Bl.) Wedd.E.) J.) Planch. Alpinia robusta Alpinia scabra Bl. Tetrastigma papilissum (Bl. ex Maton Amomum pseudopoetens Val.) Planch.) Planch. Amomum compactum Soland.) Miq. Procris pedunculata (Forst. Vitex trifoliata L.) Swartz Alpinia javana Bl. Alpinia galanga (L.URTICACEAE Laportea stimulans (L.Br.) Miq. + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + VACCINIACEAE Vaccinium bancanum Miq. Ex Miq.) S. Ex Wall. Cayratia japonica Clerodendrum laevifolium VERBENACEAE VITACEAE Lantana camara L. Tetrastigma lanceolarium (Roxb. Ampelocissus thyrsiflora Cissus discolor Bl. Cayratia geniculata (Bl. Peters. Pipturus sp. Pilea angulata (Bl. Sakai & Nagam. Callicarpa longifolia Lamk.

Nicolaia solaris (Bl.) Horan.) Val. Hornstedtia pininga (Bl.ZINGIBERACEAE Globba pendula Hedichyum conorarium Hornstedtia paludoa (Bl. Zingiber aromatica Val. + + + + + + + + + 85 .) Val.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful