Anda di halaman 1dari 10

P

Kata Pengantar

uji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah bioanalisis ini dengan judul Uji Sterilitas Sediaan Ampul dan Kassa Steril. Makalah ini di susun dalam rangka memenuhi nilai tugas mata kuliah prkatek bioanalisis Fakultas Farmasi Universitas Pancasila.

Dalam menyusun makalah ini, penulis akan membahas tentang Uji Sterilitas pada sediaan ampul dan kassa steril. Seperti yang kita ketahui beberapa sediaan farmasetik dan alat-alat kesehatan juga dipersyaratkan steril agar tidak terjadi secondary disease akibat dari penggunaan sediaan atau alat yang tidak steril.

Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna sempurnanya makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Jakarta, Mei 2013

Penulis

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengujian sediaan farmasi steril dan alat kesehatan merupakan suatu cara pengujian untuk mengetahui suatu sediaan/bahan farmasi atau alat-alat kesehatan yang dipersyaratkan harus dalam keadaan steril. Uji ini dilakukan terhadap sampel yang dipilih untuk mewakili keseluruhan lot bahan tersebut. Sampel bisa diambil dari kemasan atau wadah akhir suatu produk. Keadaan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup. Selain itu, steril dapat didefenisikan sebagai sesuatu suatu pengertian yang absolut dan itu berarti bahwa 100 % bebas dari mikroorganisme. Namun penertian ini kadang-kadang membawa dilema,mengingat ketidaksempurnaan teknik yang dimiliki dalam proses pembuatan. Jumlah contoh yang diamati, untuk dianalisis serta metode analisa yang tidak sempurna. Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril. Tujuan proses sterilisasi adalah untuk menghancurkan semua mikroorganisme di dalam atau di atas permukaan suatu benda atau sediaan dan menandakan bahwa alat untuk sediaan tersebut bebas dari resiko untuk menyebabkan infeksi. Uji sterilisasi sebenarnya dilakukan untuk menentukan seluruh kemasan yang telah disterilkan. Penggunaan teori diinginkan untuk menunjukkan sterilisasi telah berkembang sejak 50 atau 60 tahun. Masalah bahwa produk steril diinginkan steril bebas dari semua bentuk mikroorganisme secara definisi dan secara status. Metode valid telah berkembang untuk uji produk steril. Namun demikian, produk yang diuji tidak dapat dipasarkan. Kenyataannya. Tidak realistis untuk menguji semua unit lot. Uji sampel lot menjadi dibutuhkan. Menganggap metode sterilisasi sempurna (yang mana tidak), sampling menjadi latihan statistik yang meninggalkan keraguan. Contohnya, jika ukuran lot 5000 wadah dan setelah proses sterilisasi, 450 wadah (1% ukuran lot), terkontaminasi, ini akan menjadi perlu untuk menguji sampel random 32 wadah dengan 95% kemungkinan terdeteksi. Farmakope mengisyaratkan sampel 20 wadah yang diuji untuk tiap lot, oleh karena itu, jumlah bagian yang ditemukan terkontaminasi adalah sedikit pada batch. Kenyataannya, tujuan uji sterilisasi hanya menentukan ada atau tidak batch yang telah terkontaminasi setelah proses sterilisasi.

1.2. Tujuan Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas praktikum bioanalisa Fakultas Farmasi Universitas Pancasila dengan materi uji sterilitas sediaan dan alat kesehatan berdasarkan metode yang tertera pada Farmakope Indonesia Edisi IV sehingga mahasiswa mampu melakukan uji sterilitas terhadap suatu sediaan atau alat kesehatan yang dipersyaratkan harus steril dengan metode inokulasi langsung dan menginterpretasi hasilnya. 1.3. Manfaat Manfaat dalam pembuataan makalah ini adalah mengetahui sterilitas sediaan dan alat kesehatan yang dipersyaratkan harus steril dalam Farmakope Indonesia edisi IV.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Landasan Teori Dalam praktek, istilah sterilisasi kita pakai untuk proses pembunuhan semua orgaisme dalam suatu sediaan, dalam hal ini adalah mikroorganisme ( protozoa, fungi, bakteri, mycoplasma,virus ) .Proses ini melibatkan aplikasi biocidal agent atau proses fisik dengn tujuan untuk membunuh atau menghilangkan mikroorgnisme. Sterilisasi didesain untuk membunuh atau menghilangkan mikroorganisme. Target suatu metode suatu inaktivasi tergantung dari metode dan tipe mikroorganismenya, yaitu tergatung dari asam nukleat, protein atau membran mikroorganisme tersebut. Agen kimia untuk sterilisasi disebut sterilant. Sediaan-sediaan farmasi berdasarkan sterilitasnya dibedakan menjadi sediaan steril dan nonsteril. Sediaan steril diantaranya adalah sediaan parenteral ( Injeksi/ sediaan parenteral volume kecil dan infus / sediaan parenteral volume besar ), obat tetes mata dan dan obat untuk luka bakar dan luka terbuka. Beberapa alat kesehatan juga dipersyaratkan untuk steril , misalnya berbagai alat kesehatan yang digunakan untuk bedah ( kain, kassa, kapas, dan benang bedah , selang infus, jarum suntik, dll. Uji sterilitas ditujukan untuk menganalisis senyawa-senyawa, sediaan-sediaan, atau alat-alat kesehatan yang berdasarkan farmakope dipersyaratkan steril. Hasil uji dikatakan memenuhi syarat jika tidak ditemukan adanya kontaminasi mikroorgnisme di dalam suatu sedian uji. Media yang digunakan untuk pengujian sterilitas adalah media tioglikolat cair ( Fluid Thioglycolate medium / FTM ) dan Soya Bean Casein Digest Medium (SCBD) atau Tryptic Soy Broth ( TSB ). Media FTM lebih ditujukan untuk menumbuhkan bakteri anaerob, meskipun media ini dapat juga menumbuhkan bakteri aerob. Media TSB digunakan untuk menumbuhkan bakteri aerob dan fungi. Media media yang digunakan dalam pengujian harus diuji terlebih dahulu sterilitas ( bebas dari kontaminasi mikroorganisme ) dan fertilitasnya ( kemampuan untuk menumbuhkan mikroorganisme ) . Uji sterilitas dan fertilitas media dapat dilakukan bersamaan dengan uji sterilitas sampel. Media dikatakan steril dan sesuai untuk pengujian jika tidak terdapat kontaminasi mikroorganisme di dalam media tersebut setelh masa inkubasi 14 hari. Untuk pengujian fertilitas media FTM, media diinokulasikan dengan Clostridium sporogenes, Pseudomonas aeruginosa , dan Staphylococcus aureus. Untuk pengujian fertilitas media TSB, media diinokulasikan dengan Aspergillus brasiliensis, Bacilus subtilis, dan Candida albicans. Media diinkubasi selama lebih dari 3 hari untuk bakteri dan 5

hari untuk fungi. Media dikatakan mampu menumbuhkan mikroorganisme dan sesuai untuk pengujian jika terjadi pertumbuhan mikroorganisme yang teramati secara nyata / visibel. Terdapat dua cara pengujian sterilitas : Filtrasi membran Sampel yang berupa cairan dilewatkan ke suatu membran steri yang memiliki ukuran tertentu yang dapat menahan lewatnya bakteri. Membran tersebut kemudian diinokulasikan ke edia pengujian. Inokulasi Langsung Sampel berupa sediaan obat atau alat kesehatan langsung diinokulasikan ke media pengujian. Sampel yang diuji sterilitasnya harus dibebaskan dari adanya aktivitas antimikroba. Adanya aktivitas antimikroba dalam sampel dapat dilihat ketika sampel diinokulasi ke dalam media pengujian bersama dengan suatu mikroba ( yang digunakan dalam uji fertilitas ), dan setelah periode inkubasi, pada media tidak terjadi pertumbuhan mikroorganisme. Beberapa cara untuk menghilangkan aktivitas bakteriostatik / fungistatik dalam sampel adalah : Pemberian zat penetral steril Misalnya penambahan enzim beta laktamase pada sediaan yang mengandung yang mengandung antibiotika golongan penisiln dan sefalosporin. Pengenceran Dengan pengenceran sampel dengan larutan pengencer yang steril sehingga konsentrasi yang dihasilkan tidak lagi memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan mikroba uji. Filtrasi Membran Dengan filtrasi menggunakan membran diharapkan larutan yang mengandung zat bakteriostatik / fungistatik dapat lolos melewati membran sementara mikroba dapa tertahan pada membran. Sediaan dikatakan memenuhi syarat jika tidak terdapat pertumbuhan mikroorganisme pada kedua media baik TSB dan FTM pada waktu inkubasi selama 14 hari. Jika ditemukan pertumbuhan mikroba tetapi evaluasi dari evaluasi fasilitas pengujian, bahan yang digunakan, prosedur pengujian, dan control negatif menunjukkan tidak memadai atau teknik aseptik yang salah digunakan dalam pengujian, maka pengujian dinyatakan tidak sah dan dapat diulang kembali dengan jumlah spesimen uji dua kali dari pengujian pertama.

2.2. Alat dan Bahan Alat: Tabung -tabung steril Pinset Gunting Jarum subtik/sppuit 1 ml Lampu spirtus Inkubator Ruang LAF 2.3. Prosedur Kerja Sampel injeksi ampul Thiamin HCl 1 ml 1) Bagian tutup dibersihkan dengan kapas beralkohol, dibuka secara aseptik. 2) Diinokulasi 1 ml dengan jarum suntik pada media TSB dan FTM. 3) Pada media FTM diinkubasi pada suhu 30-35 C selama 24 sampai 48 jam, dan pada media TSB diinkubasi pada suhu 20-25 selama 4 sampai 7 hari. 4) Amati pertumbuhan mikroba. Jika tidak ada pertumbuhan maka sampel dinyatakan memenuhi uji sterilitas. Sampel kassa steril 1) Sampel diinokulasikan secara aseptik pada media TSB dan FTM. 2) Pada media FTM diinkubasi pada suhu 30-35 C selama 24 sampai 48 jam, dan pada media TSB diinkubasi pada suhu 20-25 selama 4 sampai 7 hari. 3) Amati pertumbuhan mikroba. Jika tidak ada pertumbuhan maka sampel dinyatakan memenuhi uji sterilitas. Bahan: Fluid Thioglycolate Medium (FTM) Tryptic Soy Broth (TSB) Sampel sediaan injeksi dalam ampul (Thiamin HCl) Sampel kain kassa steril

2.4. Hasil Pengamatan Media FTM KelomHari kepok 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 + + + + + LAB Kassa 1,2 Ampul + + + Kassa + + + + + + LAF Ampul + + + + + + LAB Kassa + + + + + + Ampul + + Kassa + + + + + + + Media TSB LAF Ampul + +

3,4

5,6

7,8

9,10

2.5. Pembahasan 1) Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, uji sterilitas dilakukan selama 14 hari pada suhu 30-35C untuk media tioglikolat cair dan pada suhu 20-25C untuk media triptic soy broth. Namun, pada praktiknya inkubasi hanya dilakukan selama 2 hari saja karena untuk mempersingkat waktu pengamatan. Hal ini dikhawatirkan mikroorganisme yang masih dalam bentuk spora belum berubah menjadi bentuk vegetatif. 2) Hasil positif ditandai dengan keruhnya media karena adanya pertumuhan mikroorganisme sehingga sampel dikatakan tidak steril, baik media FTM yang menandakan adanya pertumbuhan bakteri anaerob maupun media TSB yang menandakan adanya pertumbuhan bakteri aerob dan fungi. 3) Media uji yang digunakan harus memenuhi persyaratan steril, fertil dan tidak memiliki aktivitas bakteriostatik dan fungistatik. 4) Hasil pengamatan yang positif tidak selalu menunjukan bahwa sampel yang diuji tidak steril karena dapat juga terjadi kemungkinan seperti kontaminasi selama proses inokulasi baik yang berasal dari parktikan ataupun alat-alat yang digunakan. 5) Pada percobaan ini dilakukan teknik inokulasi langsung dimana sampel ampul dan kassa steril di inokulasikan ke dalam media TSB dan FTM.

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Sampel injeksi Thiamin HCl 1 ml dalam ampul kelompok 1,2,3,4 memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia edisi IV dimana sediaan tersebut harus steril. Sedangkan pada sampel kassa dinyatakan tidak memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia edisi IV dimana sediaan tersebut tidak steril. 3.2. Saran Dilakukan pengujian ulang dengan spesimen uji dua kali dari pengujian yang pertama. Dilakukan pengujian sterilitas sesuai dengan yang ditetapkan Farmakope Indonesia Edisi IV. 3.3. Daftar Pustaka Dirjen Pom Departemen Kesehatan Republik Indonesia edisi IV. 1995. Jakarta : Dirjen POM Depkes RI (hal 855-863). The stationery Office. British Pharmacopeia. 2011. London : The Stationery Office.

MAKALAH PRAKTIKUM BIOANALISIS UJI STERILITAS SEDIAAN AMPUL DAN KASSA STERIL

Disusun oleh :

1. Albert 2. Arsilia Rochimatus PAP 3. Atika Dania Putri 4. Galuh Kurniarani 5. Theresia Sherlina

(2010210013) (2010210031) (2010210) (2010210117) (2010210260)

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PANCASILA JAKARTA 2013