Anda di halaman 1dari 10

PRIVATISASI BUMN DI INDONESIA

Definisi Privatisasi, menurut UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN adalah penjualan saham Persero (Perusahaan Perseroan), baik sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat, serta memperluas saham oleh masyarakat. Privatisasi merupakan kebijakan yang diambil pemerintah untuk mendapatkan devisa bagi negara dengan menjual sebagian saham milik aset milik negara ke pihak lain. Kebijakan Privatisasi sendiri diatur oleh Undang-Undang No. 5 tahun 1999. Seperti fungsinya sebuah kebijakan privatisasi merupakan kebijakan yang diambil dari usulan yang di bawa atau diberikan oleh pemerintah sebagai upaya untuk menstabilkan kondisi keuangan dan untuk meningkatkan devisa atau penerimaan negara, dan harus mendapat persetujuan dari DPR RI terlebih dahulu baru kebijakan tersebut bisa diambil. Oleh karena itu kebijakan privatisasi merupakan salah satu kebijakan ekonomi politik Indonesia yang diharapkan dapat membawa manfaat yang besar bagi Indonesia. Konsep privatisasi seharusnya diarahkan terutama untuk kepentingan perusahaan dalam rangka pengembangan usahanya, tidak semata-mata untuk menutup APBN. Untuk pengembangan usaha, perusahaan memerlukan tambahan modal dan salah satunya berasal dari penerbitan saham yang dijual ke publik. Dengan tambahan modal tersebut perusahaan mempunyai kapasitas untuk meminjam sehingga dimungkinkan untuk memperoleh dana pinjaman dari kreditur. Kombinasi dari modal intern dan ekstern ini memungkinkan perusahaan mengembangkan usahanya ke peningkatan volume, penciptaan produk dan atau jenis usaha yang dinilai feasible sehingga volume pendapatannya meningkat yang pada gilirannya dapat meningkatkan laba perusahaan.

Berikut dibawah ini daftar dari beberapa BUMN di Indonesia yang melakukan privatisasi :

No.

BUMN

PEMEGANG SAHAM
PEMERINTAH RI PIHAK SWASTA

1. PT. Semen Gresik, Tbk. 2. PT. Garuda Indonesia, Tbk. 3. PT. Bank Mandiri, Tbk.

51,00 % 69,14 % 60,00 %

49,00 % 30,86 % 40,00 %

4. PT. BNI, Tbk. 5. PT. Krakatau Steel, Tbk. 6. PT. Pembangunan Perumahan, Tbk. 7. PT. BTN, Tbk. 8. PT. Wijaya Karya, Tbk. 9. PT. Jasa Marga, Tbk. 10. PT. PGN, Tbk. 11. PT. Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk. 12. PT. Adhi Karya, Tbk. 13. PT. BRI, Tbk. 14. PT. Telkom, Tbk. 15. PT. Indofarma, Tbk. 16. PT. Kimia Farma, Tbk. 17. PT. Aneka Tambang, Tbk. 18. PT. Tambang Timah, Tbk. 19. PT. Indosat, Tbk. 20. PT. Socfindo, Tbk.

60,00 % 80,00 % 51,00 % 72,92 % 68,30 % 70,00 % 55,33 % 65,02 % 51,00 % 57,57 % 51,19 % 80,20 % 90,80 % 65,00 % 65,00 % 14,39 % 10,00 %

40,00 % 20,00 % 49,00 % 27,08 % 31,70 % 30,00 % 44,67 % 34,98 % 49,00 % 42,43 % 48,81 % 19,80 % 09,20 % 35,00 % 35,00 % 85,61 % 90,00 %

Di seluruh dunia, privatisasi BUMN pada dasarnya didorong dua motivasi: 1. Keinginan menaikkan efisiensi karena buruknya kinerja sebagian BUMN. Dalam wacana teori ekonomi, hal ini secara normatif berasosiasi dengan beberapa teori klasik. 2. Privatisasi BUMN bisa dimaksudkan untuk membantu anggaran pemerintah dari tekanan defisit.

Arah Kebijakan Privatisasi Privatisasi diarahkan bukan semata-mata untuk pemenuhan APBN, tapi lebih diutamakan untuk mendukung pengembangan perusahaan dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal. Di samping juga untuk lebih mendorong penerapan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG).

Privatisasi melalui pasar modal akan terus dilakukan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan transparansi dan kontrol publik, independensi, serta kinerja BUMN, Privatisasi melalui pasar modal akan terus dilakukan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan transparansi dan kontrol publik, independensi, serta kinerja BUMN, dengan tetap mempertahankan kepemilikan mayoritas Pemerintah. Privatisasi di luar penawaran lewat pasar modal akan dilakukan sangat selektif dan hatihati, terutama untuk BUMN-BUMN yang memerlukan pendanaan yang tidak dapat diperoleh/dipenuhi dari pasar modal dan/atau pemerintah serta memerlukan peningkatan kompetensi tehnis, manajemen dan pemasaran. Dalam pelaksanaan privatisasi melalui pasar modal alokasi saham diprioritaskan dengan porsi yang lebih besar kepada investor dalam negeri (lokal). Di samping membenahi tatanan sistem melalui penerapan Good Corporate Governance & Good Clean Government, Pemerintah juga akan mengkondisikan budaya berinvestasi masyarakat, di antaranya dengan melakukan sosialisasi dan edukasi kepada calon investor untuk membangun basis investor lokal dan domestik yang knowledgable.

Prinsip Dasar dan Tahapan Privatisasi Prinsip-prinsip dasar yang harus diperhatikan di dalam melakukan privatisasi adalah: Transparansi, Kemandirian, Akuntabilitas, Pertanggungjawaban, dan Kewajaran. Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam melakukan privatisasi terhadap BUMN, yaitu : a. Seleksi BUMN (dituangkan dalam Program Tahunan Privatisasi) b. Arahan Komite Privatisasi dan Rekomendasi Menteri Keuangan c. Sosialisasi d. Konsultasi DPR RI e. Penerbitan Peraturan Pemerintah f. Pelaksanaan

Metode Privatisasi Ada beberapa metode yang digunakan oleh suatu negara untuk memprivatisasi BUMN, diantaranya adalah: 1. Penawaran saham BUMN kepada umum (public offering of shares). Penawaran ini dapat dilakukan secara parsial maupun secara penuh. Di dalam transaksi ini, pemerintah menjual sebagian atau seluruh saham kepemilikannya atas BUMN yang diasumsikan akan tetap beroperasi dan menjadi perusahaan publik. Seandainya pemerintah hanya menjual sebagian sahamnya, maka status BUMN itu berubah menjadi perusahaan patungan pemerintah dan swasta. Pendekatan semacam ini dilakukan oleh pemerintah agar mereka masih dapat mengawasi keadaan manajemen BUMN patungan tersebut sebelum kelak diserahkan sepenuhnya kepada swasta. 2. Penjualan saham BUMN kepada pihak swasta tertentu (private sale of share). Di dalam transaksi ini, pemerintah menjual seluruh ataupun sebagian saham kepemilikannya di BUMN kepada pembeli tunggal yang telah diidentifikasikan atau kepada pembeli dalam bentuk kelompok tertentu. Privatisasi dapat dilakukan penuh atau secara sebagian dengan kepemilikan campuran. Transaksinya dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti akuisisi langsung oleh perusahaan lain atau ditawarkan kepada kelompok tertentu. Cara ini juga sering disebut sebagai penjualan strategis (strategic sale) dan pembelinya disebut invenstor strategis. 3. Penjualan aktiva BUMN kepada swasta (sale of government organization state-owned enterprise assets). Pada metode ini, pada dasarnya transaksi adalah penjualan aktiva, bukan penjualan perusahaan dalam keadaan tetap beroperasi. Biasanya jika tujuannya adalah untuk memisahkan aktiva untuk kegiatan tertentu, penjualan aktiva secara terpisah hanya alat untuk penjualan perusahaan secara keseluruhan. 4. Penambahan investasi baru dari sektor swasta ke dalam BUMN ( new private investment in an state-owned enterprise assets). Pada metode ini, pemerintah dapat menambah modal pada BUMN untuk keperluan rehabilitasi atau ekspansi dengan memberikan kesempatan kepada sektor swasta untuk menambah modal. Dalam metode ini, pemerintah sama sekali tidak melepas kepemilikannya, tetapi dengan tambahan modal swasta, maka kepemilikan pemerintah mengalami dilusi (pengikisan). Dengan demikian, BUMN itu berubah menjadi perusahaan patungan swasta dengan pemerintah. Apabila pemilik saham mayoritasnya adalah swasta, maka BUMN itu telah berubah statusnya menjadi milik swasta.

5. Pembelian BUMN oleh manajemen atau karyawan (management/employee buy out). Metode ini dilakukan dengan memberikan hak kepada manajemen atau karyawan perusahaan untuk mengambil alih kekuasaan atau pengendalian perusahaan. Keadaan ini biasanya terkait dengan perusahaan yang semestinya dapat efektif dikelola oleh sebuah manajemen, namun karena campur tangan pemerintah membuat kinerja tidak optimal. Dari beberapa cara tersebut, UU Nomor 19 Tahun 2003 Tentang BUMN di dalam pasal 78 hanya membolehkan tiga cara dalam privatisasi yakni : 1. Penjualan saham berdasarkan ketentuan pasar modal. 2. Penjualan saham langsung kepada investor. 3. Penjualan saham kepada manajemen dan/atau karyawan yang bersangkutan.

Alasan dilakukannya Privatisasi Alasan dilakukannya privatisasi terhadap BUMN antara lain sebagai berikut : 1. Mengurangi beban keuangan pemerintah, sekaligus membantu sumber pendanaan pemerintah (divestasi) 2. Meningkatkan efisiensi pengelolaan perusahaan 3. Meningkatkan profesionalitas pengelolaan perusahaan 4. Meningkatkan daya saing dari perusahaan 5. Mengurangi campur tangan birokrasi/pemerintah terhadap pengelolaan perusahaan 6. Mendukung pengembangan pasar modal dalam negeri 7. Sebagai flag-carrier (pembawa bendera) dalam mengarungi pasar global.

Tujuan Privatisasi Pada dasarnya kebijakan privatisasi ditujukan untuk berbagai aspek harapan, dilihat dari aspek keuangan, pembenahan internal manajemen (jasa dan organisasi), ekonomi dan politik. Dari segi keuangan, privatisasi ditujukan untuk meningkatkan penghasilan pemerintah terutama berkaitan dengan tingkat perpajakan dan pengeluaran publik; mendorong keuangan swasta untuk ditempatkan dalam investasi publik dalam skema infrastruktur utama; menghapus jasa-jasa dari kontrol keuangan sektor publik.

Tujuan privatisasi dari sisi pembenahan internal manajemen (jasa dan organisasi), yaitu: 1. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas; 2. Mengurangi peran negara dalam pembuatan keputusan; 3. Mendorong penetapan harga komersial, organisasi yang berorientasi pada keuntungan dan perilaku bisnis yang menguntungkan; 4. Meningkatkan pilihan bagi konsumen.

Tujuan privatisasi dari sisi ekonomi, yaitu: 1. Memperluas kekuatan pasar dan meningkatkan persaingan; 2. Mengurangi ukuran sektor publik dan membuka pasar baru untuk modal swasta.

Tujuan dari sisi politik, yaitu: 1. Mengendalikan kekuatan asosiasi/perkumpulan bidang usaha bisnis tertentu dan memperbaiki pasar tenaga kerja agar lebih fleksibel; 2. Mendorong kepemilikan saham untuk individu dan karyawan serta memperluas kepemilikan kekayaan; 3. Memperoleh dukungan politik dengan memenuhi permintaan industri dan menciptakan kesempatan lebih banyak akumulasi modal spekulasi; 4. Meningkatkan kemandirian dan individualisme.

Privatisasi BUMN idealnya adalah memiliki tujuan sebagai berikut : 1. Agar BUMN tersebut lebih maju dan profesional karena jadi swasta (bukan bermental mental pegawai negeri). 2. Mengurangi campur tangan pemerintah dalam perekonomian. 3. Mengurangi subsidi pemerintah terhadap BUMN 4. Hasil privatisasi dapat digunakan untuk membangun BUMN baru atau proyek strategis lain untuk kesejahteraan rakyat.

Manfaat Privatisasi Ada beberapa manfaat Privatisasi perusahaan pelayanan publik seperti BUMN, yaitu : 1. BUMN akan menjadi lebih transparan, sehingga dapat mengurangi praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). 2. Manajemen BUMN menjadi lebih independen, termasuk bebas dari intervensi birokrasi. 3. BUMN akan memperoleh akses pemasaran ke pasar global, selain pasar domestik. 4. BUMN akan memperoleh modal ekuitas baru berupa fresh money sehingga pengembangan usaha menjadi lebih cepat. 5. BUMN akan memperoleh transfer of technology, terutama teknologi proses produksi. 6. Terjadi transformasi corporate culture dari budaya birokratis yang lamban, menjadi budaya korporasi yang lincah. 7. Mengurangi defisit APBN, karena dana yang masuk sebagian untuk menambah kas APBN. 8. BUMN akan mengalami peningkatan kinerja operasional/ keuangan, karena pengelolaan perusahaan lebih efisien. Privatisasi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemilikan saham Persero.

Sisi Positif dan Sisi Negatif dari Privatisasi Sisi Positif dari Privatisasi, yaitu : 1. Meningkatnya tingkat Profesionalitas kinerja dari sebuah perusahaan. 2. Meningkatkan Rating (peringkat/kelas) dari sebuah perusahaan. 3. Mengurangi defisit APBN 4. Meningkatkan kepercayaan dari masyarakat 5. Mengurangi beban pemerintah dalam membiayai BUMN 6. Memberikan peluang lebih besar kepada seluruh masyarakat untuk berpartisipasi meningkatkan pelayanan publik 7. Iklim persaingan menjadi semakin kompetitif 8. Gaji pegawai/karyawan dapat lebih.

Sisi Negatif dari Privatisasi, yaitu : 1. Pendapatan Negara menurun, karena sebagian sahamnya sudah dimiliki swasta. 2. Reputasi Negara dan Pemimpinnya juga menurun karena dianggap tidak mampu mengelola sebuah perusahan milik negara tanpa ada campur tangan Swasta. 3. Negara akan mengalami kemunduran.

Respon Masyarakat Terhadap Privatisasi Respon Positif : Masyarakat menganggap privatisasi terhadap BUMN sebagai hal yang positif, karena masyarakat berharap bahwa dilakukannya privatisasi dapat membantu dalam terbentuknya pasar bebas, mengembangnya kompetisi kapitalis, yang oleh para pendukungnya dianggap akan memberikan harga yang lebih kompetitif kepada publik. Privatisasi juga diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan perusahaan yang akan memberikan dampak positif bagi masyarakat, yaitu akan menciptakan menciptakan lapangan kerja yang baru dan memperbaiki kualitas jasa & produk yang dihasilkan selama ini untuk public.

Respon Negatif : Masyarakat menganggap privatisasi sebagai hal yang negatif, karena memberikan layanan penting untuk publik kepada sektor privat akan menghilangkan kontrol publik dan mengakibatkan kualitas layanan yang buruk, akibat penghematan-penghematan yang dilakukan oleh perusahaan dalam mendapatkan profit.

Kontroversi Privatisasi Perusahaan Pelayanan Publik Pihak yang setuju dengan privatisasi BUMN berargumentasi bahwa privatisasi perlu dilakukan untuk meningkatkan kinerja BUMN serta menutup devisit APBN. Dengan adanya privatisasi diharapkan BUMN akan mampu beroperasi secara lebih profesional lagi. Logikanya, dengan privatisasi di atas 50%, maka kendali dan pelaksanaan kebijakan BUMN akan bergeser dari pemerintah ke investor baru. Sebagai pemegang saham terbesar, investor baru tentu akan berupaya untuk bekerja secara efisien, sehingga mampu menciptakan laba

yang optimal, mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak, serta mampu memberikan kontribusi yang lebih baik kepada pemerintah melalui pembayaran pajak dan pembagian dividen.

Pihak yang tidak setuju dengan privatisasi berargumentasi bahwa apabila privatisasi tidak dilaksanakan, maka kepemilikan BUMN tetap di tangan pemerintah. Dengan demikian segala keuntungan maupun kerugian sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Mereka berargumentasi bahwa devisit anggaran harus ditutup dengan sumber lain, bukan dari hasil penjualan BUMN. Mereka memprediksi bahwa defisit APBN juga akan terjadi pada tahuntahun mendatang. Apabila BUMN dijual setiap tahun untuk menutup defisit APBN, suatu ketika BUMN akan habis terjual dan defisit APBN pada tahun-tahun mendatang tetap akan terjadi. Kontroversi privatisasi BUMN juga timbul dari pengertian privatisasi dalam Pasal 1 (12) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang BUMN yang menyebutkan: Privatisasi adalah penjualan saham Persero, baik sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat, serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat. Pada pasal tersebut dijelaskan bahwa privatisasi yaitu penjualan saham sebagian dan seluruhnya. Kata seluruhnya inilah yang mengandung kontroversi bagi masayarakat karena apabila dijual saham seluruhnya kepemilikan pemerintah terhadap BUMN tersebut sudah hilang beralih menjadi milik swasta dan beralih namanya bukan BUMN lagi tetapi perusahaan swasta sehingga ditakutkan pelayan publik ke masyarakat akan ditinggalkan apabila dikelola oleh pihak swasta dan apabila diprivatisasi hendaknya hanya sebagian maksimal 49% dan pemerintah harus tetap sebagai pemegang saham mayoritas agar aset BUMN tidak hilang dan beralih ke swasta dan BUMN sebagai pelayan publik tetap diperankan oleh pemerintah. Sementara itu, pemerintah sendiri terdesak untuk melakukan privatisasi guna menutup defisit anggaran. Defisit anggaran selain ditutup melalui utang luar negeri juga ditutup melalui hasil privatisasi dan setoran BPPN. Dengan demikian, seolah-olah privatisasi hanya memenuhi tujuan jangka pendek (menutup defisit anggaran) dan bukan untuk maksimalisasi nilai dalam jangka panjang. Jika pemerintah sudah mengambil langkah kebijakan melakukan privatisasi, secara teknis keterlibatan negara di bidang industri strategis juga sudah tidak ada lagi dan pemerintah hanya mengawasi melalui aturan main serta etika usaha yang dibuat. Secara kongkret pemerintah harus memisahkan fungsi-fungsi lembaga negara dan fungsi bidang usaha yang kadang-kadang memang masih tumpang tindih dan selanjutnya pengelolaannya diserahkan kepada swasta.

Fakta memang menunjukkan bahwa pengelolaan yang dilakukan oleh swasta hasilnya secara umum lebih efisien. Berdasarkan pengalaman negara lain menunjukkan bahwa negara lebih baik tidak langsung menjalankan operasi suatu industri, tetapi cukup sebagai regulator yang menciptakan iklim usaha yang kondusif dan menikmati hasil melalui penerimaan pajak. Oleh karena itu, privatisasi dinilai berhasil jika dapat melakukan efisiensi, terjadi penurunan harga atau perbaikan pelayanan. Selain itu, privatisasi memang bukan hanya menyangkut masalah ekonomi semata, melainkan juga menyangkut masalah transformasi sosial. Di dalamnya menyangkut landasan konstitusional privatisasi, sejauh mana privatisasi bisa diterima oleh masyarakat, karyawan dan elite politik (parlemen) sehingga tidak menimbulkan gejolak.