Anda di halaman 1dari 25

METODE DAN TEKNIK RENCANA KOTA

Panduan Penentuan Struktur Ruang Kota

Disusun Oleh: KELOMPOK 3- MUNTILAN


Ardhiansyah Deliani Poetriayu Siregar Ahmad Alif Bilal Nur Fitri Indah Kumalasari Halim Nuriza Arakhman Ria Risma Ardiani Diana Patricia (37589) (38282) (38404) (37688) (38206) (37976) (38062)

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS GADJAH MADA 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas petunjuk dan RidhoNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan panduan penentuan struktur ruang kota dengan judul Metode dan Teknik Penentuan Struktur Ruang Kota. Panduan ini disusun guna memenuhi tugas perkuliahan Metode dan Teknik Rencana Kota. Panduan ini pula disusun untuk memberikan arahan atau panduan secara umum kepada calon perencana untuk mengetahui lebih lanjut how to define the citys structure. Tim penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah banyak membantu dalam terselesaikannya panduan ini. Harapan tim semoga panduan ini dapat memberikan manfaat dan wawasan kepada para pembaca. Tim penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan panduan ini yang disebabkan keterbatasan kamampuan dan pengetahuan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun kami harapkan.

Yogyakarta, 1 April 2013

Tim Penulis

DAFTAR ISI
Judul Kata Pegantar...............................................................................................................................................i Daftar Isi.........................................................................................................................................................ii PEMBUKAAN I. Definisi Struktur Ruang..................................................................................................................1 II. Fungsi Dan Syarat Struktur Ruang Yang Baik......................................................................8 III. Perbedaan Pola Dan Struktur Ruang.......................................................................................9 ISI I. Landasan Teori .................................................................................................................................10 II. Teori-Teori Yang Melandasi Struktur Ruang Kota.............................................................12 III.Urgensi Struktur Ruang .................................................................................................................18 IV. Langkah Perumusan....................................................................................................................... 19 PENUTUP I. II. Kesimpulan.................................................................................................................................. 24 Saran............................................................................................................................................... 24

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................................................... 25

PEMBUKAAN
1. DEFINISI STRUKTUR RUANG Menurut UU no 26 tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan serta melihara kelangsungan hidupnya. Kemudian Menurut UU No 15 Tahun 2010 Tentang Pedomam Penataan Ruang, Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman, sistem jaringan serta sistem prasarana maupun sarana. Semua hal itu berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial-ekonomi yang secara hirarki berhubungan fungsional. Tata ruang merupakan wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang baik yang direncanakan ataupun tidak. Wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk rona lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan buatan yang secara hirarkis dan struktural berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk tata ruang. Struktur ruang wilayah kota merupakan gambaran sistem pusat pelayanan kegiatan internal kota dan jaringan infrastruktur kota sampai akhir masa perencanaan, yang dikembangkan untuk mengintegrasikan wilayah kota dan melayani fungsi kegiatan yang ada/direncanakan dalam wilayah kota pada skala kota, yang merupakan satu kesatuan dari sistem regional, provinsi, nasional bahkan internasional. Rencana sturktur ruang kota mencakup: rencana pengembangan pusat pelayanan kegiatan kota, dan rencana sistem prasarana kota. Rencana pengembangan pusat pelayanan kegiatan kegiatan kota

menggambarkan lokasi pusat-pusat pelayanan kegiatan kota, hirarkinya, cakupan/skala layanannya, serta dominasi fungsi kegiatan yang diarahkan pada pusat pelayanan kegiatan tersebut. Sedangkan rencana sistem prasarana kota mencakup sistem prasarana yang mengintegrasikan kota dalam lingkup yang lebih luas maupun mengitegrasikan bagian wilayah kota serta memberikan layanan bagi fungsi kegiatan yang ada/direncakan dalam wilayah kota, sehingga kota dapat menjalankan peran dan fungsinya sesuai dengan tujuan penataan ruang kota yang ditetapkan. Menurut Nia K. Pontoh & Iwan Setiawan (2008), unsur pembentuk struktur tata ruang kota terdiri dari pusat kegiatan, kawasan fungsional, dan jaringan jalan. Kota atau kawasan perkotaan pada dasarnya dapat dipandang sebagai suatu sistem spasial, yang secara internal mempunyai unsur -unsur yang menjadi pembentuknya serta keterkaitannya

satu sama lain. Kota sebagai suatu sistem/tata ruang merupakan wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak, yang mencirikan kawasan dengan kegiatan utama bukan pertanian. Wujud struktural pemanfaatan ruang kota adalah unsur-unsur pembentuk kawasan perkotaan secara hierarkis dan struktural berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk tata ruang kota. Wujud struktural pemanfaatan ruang kota di antaranya meliputi hierarki pusat pelayanan kegiatan perkotaan, seperti pusat kota, pusat bagian wilayah kota, dan pusat lingkungan; yang ditunjang dengan sistem prasarana jalan seperti jalan arteri, kolektor, dan lokal. Selain pusat-pusat pelayanan kegiatan perkotaan dan kawasan fungsional perkotaan, unsur pembentuk struktur tata ruang kota adalah sistem prasarana dan sarana. Prasarana perkotaan adalah kelengkapan dasar fisik yang memungkinkan kawasan permukiman perkotaan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Jenis prasarana : Transportasi, Air bersih, Air limbah, Drainase, Persampahan, Listrik, dan Telekomunikasi. Sarana perkotaan adalah kelengkapan kawasan permukiman perkotaan, yaitu : Pendidikan, Kesehatan, Peribadatan, Pemerintahan dan Pelayanan umum, Perdagangan dan Industri, dan sarana olahraga serta ruang terbuka hijau. Istilah stuktur ruang menurut (UU No 26 Tahun 2007) biasanya digunakan untuk menganalisis penyelenggaraan proses penataan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian ruang. Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang. Sehingga struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Menurut Doxiadis (1968), permukiman atau perkotaan merupakan totalitas lingkungan yang terbentuk oleh 5 unsur : a. Alam (nature) Keadaan permukiman perkotaan berbeda dengan permukiman perdesaan. Lansekap yang ada biasanya lebih luas, dan biasanya berlokasi di dataran, dekat dengan danau, sungai atau laut, dan dekat dengan rute transportasi. Hal ini cukup penting untuk perumahan lebih dari 20.000 penduduk, dan menjadi prasyarat utama untuk

perumahan 100.000 penduduk atau lebih. Rumah- rumah kecil perkotaan, seperti yang dibuat di masa lalu dengan alasan keamanan, mungkin terdapat di lembah, puncak bukit atau gunung. Akan tetapi, perumahan yang dibangun sekarang, atau perumahan-perumahan besar di masa lalu, membutuhkan dataran yang luas dan kedekatan dengan jalur utama komunikasi untuk tetap bertahan. b. Individu manusia (Antropos) dan Masyarakat (Society) Perumahan perkotaan berbeda dengan perumahan perdesaan, dan sebagian besar dikarenakan perbedaan karakteristik dan perilaku. Semakin besar perubahan perumahan dari desa ke kota, dan semakin besar kepadatan dan ukuran dari perumahan perkotaan, semakin besar perbedaan di antara orang- orang. Dimensi dan karakteristik baru dalam pola hidup perkotaan membutuhkan suatu mekanisme adaptasi dalam usaha untuk mencapai atau melakukan penyesuaian terhadap sumberdaya baru dan kondisi tempat tinggal. Di kota besar dengan kepadatan tinggi, terdapat perbedaan komposisi umur dan jenis kelamin, dala struktur pekerjaan, dalam pembagian tenaga buruh dan struktur sosial. Hal ini memaksa manusia untuk mengembangkan karakteristik yang berbeda sebagai individual, kelompok, unt, dan komunitas. Manusia di perumahan perkotaan adalah anggota dari komunitas yang lebih besar, masyarakat luas, dan jangkauan interaksi sosialnya meningkat. Anggota keluarganya mendapat dampak dari institusi sosial yang berbeda pada akhirnya mengambil alih fungsi tertentu dari keluarga. c. Ruang Kehidupan (Shells) Ruang kehidupan dari perumahan perkotaan memiliki banyak karakteristik meskipun ukurannya bervariasi. Semakin besar ukuran perumahan, semakin internasional karakteristiknya; sementara semakin kecil ukurannya, semakin dipengaruhi oleh faktor lokal. Hal ini terjadi karena sebagian besar perumahan kecil masih dipengaruhi oleh budaya lokal di masa lalu, dan sebagian lagi karena intervensi ekonomi yang ada lebih kecil bila dibandingkan dengan perumahan skala besar dan hal ini memperkuat kekuatan lokal.

d. Jaringan (Network) Salah satu cara paling mendasar untuk menggambarkan struktur permukiman adalah berhubungan dengan jaringan dan terutama sistem sirkulasi jalur transportasi dan titik-titik pertemuan (nodal point). Tempat ini biasanya adalah suatu pusat dengan ruang terbuka yang bisa mempunyai beragam bentuk mulai dari yang alami hingga geometrik. Jika populasi telah tumbuh lebih dar beberapa ribu jiwa, sebuah titik pertemuan bisa tumbuh mengikuti sepanjang jalan utama atau terpecah menjadi dua atau lebih titik pertemuan lainnya. Pecahan titk pertemuan ini lebih kecil bila dibandingkan titik pertemuan utama. Bila titik pertemuan semacam ini terbentuk, hal ini agak mengurangi kepentingan nodal utama. Dalam perspektif yang berbeda, menurut Patrick Geddes, karakteristik permukiman sebagai suatu kawasan memiliki unsur: Place (tempat tinggal); Work (tempat kerja); Folk (tempat bermasyarakat). Di Indonesia, Kus Hadinoto (1970- an) mengadaptasinya menjadi 5 unsur pokok, yaitu : Wisma Karya Marga Suka Penyempurna : tempat tinggal (perumahan) : Tempat bekerja (kegiatan usaha) : Jaringan pergerakan, jalan : Tempat rekreasi/hiburan : Prasarana sarana

Menurut Kevin Lynch dalam The image of the city (1960) ada lima unsur dalam gambaran mengenai kota yaitu : 1. Path, Jalur yang biasa, sering atau potensial dilalui oleh pengamat, misalnya: jalan, lintasan angkutan umum, kanal, rel kereta api. Manusia mengamati kota ketika bergerak dalam path. 2. Edge, Batas antara dua kawasan yang memisahkan kesinambungan, elemen linier yang tidak dianggap/digunakan sebagai path oleh pengamat. Misalnya : pantai, lintasan rel kereta api, dinding, sungai. 3. District, Bagian kota berukuran sedang sampai besar, tersusun sampai dua dimensi yang dapat dimasuki pengamat (secara mental), dan dapat diknali dari karakter umumnya.

4. Node/core, Titik/lokasi strategis yang dapat dimasuki pengamat. Dapat berupa konsentrasi pengguanaan/cirri fisik yang penting. Misalnya : persimpangan, tempat perhentian, ruang terbuka, penggantian moda angkutan, dan lain-lain. 5. Landmark, Titik acuan bersifat eksternal yang tidak dapat dimasuki pengamat, biasanya berupa struktur fisik yang menonjol. Apabila dilihat dari jauh, dari berbagai sudut pandang dan jarak, di atas elemen lainnya, dijadikan acuan. Menurut Eko Budiharjo, Kota merupakan hasil cipta, rasa, karsa dan karya manusia yang paling rumit dan muskil sepanjang peradaban. Struktur merupakan bentuk dan wajah serta penampilan kota, merupakan hasil dari penyelesaian konflikperkotaan yang selalu terjadi, dan mencerminkan perkembangan peradaban warga kota maupun pengelolanya. Adapun elemen-elemen yang membentuk struktur ruang kota (Sinulingga,2005: 97, yaitu: Kumpulan dari pelayanan jasa termasuk di dalamnya perdagangan,

pemerintahan, keuangan yang cenderung terdistribusi secara berkelompok dalam pusat pelayanan. Kumpulan dari industri sekunder (manufaktur) pergudangan dan perdagangan grosir yang cenderung untuk berkumpul pada suatu tempat. Lingkungan permukiman sebagai tempat tinggal dari manusia dan ruang terbuka hijau. Jaringan transportasi yang menghubungkan ketiga tempat di atas. Struktur ruang wilayah kabupaten merupakan gambaran sistem perkotaan wilayah kabupaten dan jaringan prasarana wilayah kabupaten yang dikembangkan untuk mengintegrasikan wilayah kabupaten selain untuk melayani kegiatan skala kabupaten yang meliputi sistem jaringan transportasi, sistem jaringan energi dan kelistrikan, sistem jaringan telekomunikasi, dan sistem jaringan sumber daya air, termasuk seluruh daerah hulu bendungan atau waduk dari daerah aliran sungai. (UU Penataan Ruang, 2007)

Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan disebutkan bahwa Struktur dan pola pemanfaatan ruang Kawasan Perkotaan Metropolitan berisi : a. Arahan pengembangan dan distribusi penduduk; b. Arahan pengembangan sistem pusat-pusat permukiman, termasuk sistem pusat jasa koleksi dan distribusi; c. Arahan pengembangan kawasan permukiman, perindustrian, pariwisata, jasa perniagaan, dan kawasan lainnya; d. Arahan pengembangan sistem prasarana dan sarana primer yang meliputi prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, pengairan, dan prasarana pengelolaan lingkungan. 2. FUNGSI DAN SYARAT STRUKTUR RUANG YANG BAIK Rencana struktur ruang wilayah kota berfungsi :

sebagai arahan pembentuk sistem pusat-pusat pelayanan wilayah kota yang memberikan layanan bagi wilayah kota; sebagai arahan perletakan jaringan prasarana wilayah kota sesuai dengan fungsi jaringannya yang menunjang keterkaitan antar pusat-pusat pelayanan kota; dan

sebagai dasar penyusunan indikasi program utama jangka menengah lima tahunan untuk 20 (dua puluh) tahun.

Rencana struktur ruang wilayah kota dirumuskan dengan kriteria:

memperhatikan rencana struktur ruang wilayah kabupaten/kota yang berbatasan; jelas, realistis, dan dapat diimplementasikan dalam jangka perencanaan pada wilayah kota bersangkutan; waktu

penentuan pusat-pusat pelayanan di dalam struktur ruang kota harus berhirarki dan tersebar secara proporsional di dalam ruang kota serta saling terkait menjadi satu kesatuan sistem;

sistem jaringan prasarana kota dibentuk oleh sistem jaringan transportasi sebagai sistem jaringan prasarana utama dan dilengkapi dengan sistem jaringan prasarana lainnya.

3.

PERBEDAAN POLA DAN STRUKTUR RUANG Menurut UU N0 15 Tahun 2010 Struktur Ruang Kota adalah kerangka sistem pusat-pusat pelayanan kegiatan kota yang berhierarki dan satu sama lain dihubungkan oleh sistem jaringan prasarana wilayah kota. Rencana struktur ruang wilayah kota berfungsi :

sebagai arahan pembentuk sistem pusat-pusat pelayanan wilayah kota yang memberikan layanan bagi wilayah kota; sebagai arahan perletakan jaringan prasarana wilayah kota sesuai dengan fungsi jaringannya yang menunjang keterkaitan antar pusat-pusat pelayanan kota; dan

sebagai dasar penyusunan indikasi program utama jangka menengah lima tahunan untuk 20 (dua puluh) tahun. Pusat pelayanan di wilayah kota merupakan pusat pelayanan sosial, budaya, ekonomi, dan/atau administrasi masyarakat yang melayani wilayah kota dan regional, yang meliputi:

pusat pelayanan kota, melayani seluruh wilayah kota dan/atau regional subpusat pelayanan kota, melayani sub-wilayah kota pusat lingkungan, melayani skala lingkungan wilayah kota

Rencana struktur ruang wilayah kota dirumuskan berdasarkan:


kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah kota; kebutuhan pengembangan dan pelayanan wilayah kota dalam rangka mendukung kegiatan sosial ekonomi; daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup wilayah kota; dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Rencana pola ruang wilayah kota merupakan rencana distribusi peruntukan ruang dalam wilayah kota yang meliputi rencana peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan rencana peruntukan ruang untuk fungsi budi daya. Rencana pola ruang wilayah kota berfungsi: sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial ekonomi masyarakat dan kegiatan pelestarian lingkungan dalam wilayah kota; mengatur keseimbangan dan keserasian peruntukan ruang; sebagai dasar penyusunan indikasi program utama jangka menengah lima tahunan untuk 20 (dua puluh) tahun; dan sebagai dasar pemberian izin pemanfaatan ruang pada wilayah kota. Rencana pola ruang wilayah kota dirumuskan berdasarkan: kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah kota; daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup wilayah kota; kebutuhan ruang untuk pengembangan kegiatan sosial ekonomi dan lingkungan; dan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait. Rencana pola ruang wilayah kota dirumuskan dengan kriteria: merujuk rencana pola ruang yang ditetapkan dalam RTRWN beserta rencana rincinya; merujuk rencana pola ruang yang ditetapkan dalam RTRW provinsi beserta rencana rincinya; memperhatikan rencana pola ruang wilayah kabupaten/kota yang berbatasan; memperhatikan mitigasi bencana pada wilayah kota; memperhatikan kepentingan pertahanan dan keamanan dalam wilayah kota; menyediakan ruang terbuka hijau minimal 30 % dari luas wilayah kota; menyediakan ruang untuk kegiatan sektor informal; menyediakan ruang terbuka non hijau untuk menampung kegiatan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat kota; dan

jelas, realistis, dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu perencanaan pada wilayah kota bersangkutan; mengacu pada klasifikasi pola ruang wilayah kota yang terdiri atas kawasan lindung dan kawasan budi daya. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa struktur ruang berbeda dengan pola ruang. Dalam hal ini terdapat faktor pembeda yaitu perwujudan sistemnya pada struktur ruang, sedangkan pola ruang tidak membahas perwujudan sistemnya akan tetapi hanya membahas mengenai letaknya. Jika yang terjadi adalah struktur ruang tidak dibatasi dan boleh untuk menaikkan target tidak demikian dengan pola ruang. Sehingga struktur ruang dan pola ruang mempunyai keterkaitan dalam penyusunan rencana tata ruang.

ISI
1. LANDASAN TEORI Stuktur ruang secara umum adalah suatu rencana struktur yang mencakup rencana sistem perkotaan wilayah kota dalam wilayah pelayanannya dan jaringan prasarana wilayah kota yang dikembangkan untuk mengintregasikan wilayah kota selain untuk melayani kegiatan skala kota, meliputi sistem jaringan transportasi, sistem jaringan energi dan kelistrikan., sistem jaringan telekomunikasi, sistem jaringan sumber daya air, dan sistem jaringan lainnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mendukung perencanaan kota yang dapat disesuaikan dengan aturan terkait. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) struktur adalah suatu cara yang dibangun atau disusun dengan pola tertentu sedangkan ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya (UU No 26 Tahun 2007) Istilah stuktur ruang menurut (UU No 26 Tahun 2007) biasanya

digunakan untuk menganalisis penyelenggaraan proses penataan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian ruang. Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang. Sehingga struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Struktur ruang merupakan salah satu komponen alternatif utama dan keterkaitannya dari hubungan yang fungsional bekerja atau sebuah kinerja tertentu. Sebagai komponen alternatif sudah seharusnya struktur ruang memiliki fungsi utama sebagai pelayanan baik pelayanan dalam bentuk primer maupun sekunder, misalnya bentuk pelayanan kota muncul karena hinterlandnya (Teori Christaller). Hal ini berfungsi sebagai arahan pembentuk

sistem pusat-pusat pelayanan wilayah kota yang memberikan layanan bagi kota sekaligus sebagai dasar untuk menentukan kebijakan terkait. Keterkaitan tersebut menjadikan keterhubungan dari struktur dan pola ruang. Pola ruang menurut (UU No 26 Tahun 2007) adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. Dalam hal ini terdapat faktor pembeda yaitu perwujudan sistemnya pada struktur ruang, sedangkan pola ruang tidak membahas perwujudan sistemnya akan tetapi hanya membahas mengenai letaknya. Jika yang terjadi adalah struktur ruang tidak dibatasi dan boleh untuk menaikkan target tidak demikian dengan pola ruang. Sehingga struktur ruang dan pola ruang mempunyai keterkaitan dalam penyusunan rencana tata ruang. II. TEORI-TEORI YANG MELANDASI STRUKTUR RUANG KOTA Teori yang paling dikenal antara lain : 1) Teori Konsentris (Concentric Theory) Teori konsentris dikemukan oleh Ernest W. Burgess, yang merupakan seorang sosiolog teori ini di dapat dari hasil penelitiannya Kota Chicago pada tahun 1923. Menurut dan pengamatan Burgess, Kota Chicago telah berkembang sedemikian rupa menunjukkan pola penggunaan lahan yang konsentris yang mencerminkan penggunaan lahan yang berbeda-beda. atau Burgess pemekaran berpendapat bahwa kota-kota mengalami
Sumber : http://lewishistoricalsociety.com

perkembangan

dimulai dari pusatnya, kemudian seiring pertambahan penduduk kota meluas ke daerah pinggiran atau menjauhi pusat. Zonazona baru yang timbul berbentuk konsentris dengan struktur bergelang atau melingkar.

Teori Burgess sesuai dengan keadaan negaranegara Barat (Eropa) yang telah maju penduduknya. Teori ini mensyaratkan kondisi topografi 2. Teori Sektoral (Sector Theory) Teori sektoral dikemukakan oleh Hommer Hoyt. Teori ini muncul berdasarkan penelitiannya pada tahun 1930-an. kesimpulan dari penelitian tersebut ialah bahwa bahwa proses pertumbuhan kota lebih berdasarkan sektor- sektor daripada sistem gelang atau melingkar sebagaimana yang dikemukakan dalam teori Burgess. Hoyt juga meneliti Kota Chicago untuk mendalami Daerah Pusat Kegiatan (Central Business District) yang terletak di pusat kota. Hoyt berpendapat bahwa pengelompokan penggunaan lahan kota menjulur seperti irisan kue tart. Mengapa struktur kota menurut teori
Sumber : http://lewishistoricalsociety.com

lokal

yang

memudahkan

rute

transportasi dan komunikasi.

sektoral dapat terbentuk? Para geograf menghubungkannya dengan kondisi geografis kota dan rute transportasinya. Pada daerah datar memungkinkan pembuatan jalan, rel kereta api, dan kanal yang murah, sehingga penggunaan lahan tertentu, misalnya perindustrian meluas secara memanjang. Kota yang berlereng menyebabkan pembangunan perumahan cenderung meluas sesuai bujuran lereng.

3) Teori Inti Ganda (Multiple Nucleus Theory) Teori ini dikemukakan oleh Harris dan Ullman pada tahun 1945 yang keduanya merupakan geograf, kemudian kedua geograf ini berpendapat, meskipun pola konsentris dan sektoral terdapat dalam wilayah kota, kenyataannya lebih

kompleks dari apa yang dikemukakan dalam teori Burgess dan Hoyt. Pertumbuhan kota yang berawal dari suatu pusat menjadi bentuk yang kompleks. Bentuk yang kompleks ini disebabkan oleh munculnya nukleus-nukleus baru yang berfungsi sesuai sebagai kutub pertumbuhan. Nukleus-nukleus baru akan berkembang struktur dengan penggunaan sel-sel lahannnya yang fungsional dan membentuk kota yang memiliki pertumbuhan.Inti kota dapat berupa kampus perguruan tinggi, Bandar udara, kompleks industri, pelabuhan laut, dan terminal bus. Keuntungan ekonomi menjadi dasar
Sumber : http://lewishistoricalsociety.com

pertimbangan dalam penggunaan lahan secara yang berdekatan sehingga berbentuk

mengelompok industry mencari lokasi

nukleus. Misalnya, kompleks dengan sarana transportasi. Perumahan baru mencari lokasi yang berdekatan dengan pusat perbelanjaan dan tempat pendidikan. Harris dan Ullman berpendapat bahwa karakteristik persebaran penggunaan lahan ditentukan oleh faktor-faktor yang unik seperti situs kota dan sejarahnya yang khas, sehingga tidak ada urut-urutan yang teratur dari zonazona kota seperti pada teori konsentris dan sektoral. Teori dari Burgess dan Hoyt dianggap hanya menunjukkan contoh-contoh dari kenampakan nyata suatu kota. 4) Teori Konsektoral (Tipe Eropa) Teori konsektoral tipe Eropa dikemukakan oleh Peter Mann pada tahun 1965 dengan mengambil lokasi penelitian di Inggris. Teori ini mencoba menggabungkan teori konsentris dan sektoral, namun penekanan konsentris lebih ditonjolkan. 5) Teori Konsektoral (Tipe Amerika Latin)

Teori

konsektoral tipe

Amerika Latin

dikemukakan

oleh Ernest

Griffin dan Larry Ford pada tahun 1980 berdasarkan penelitian di Amerika Latin. Teori ini dapat digambarkan sebagai berikut. 6) Teori Poros Teori poros dikemukakan oleh Babcock (Yunus,2000) , yang menekankan pada peranan transportasi dalam memengaruhi struktur keruangan kota. 7) Teori Historis Dalam teori historis, Alonso mendasarkan analisisnya pada kenyataan historis yang berkaitan dengan perubahan tempat tinggal penduduk di dalam kota. Dari model gambar di depan menunjukkan bahwa dengan meningkatnya standar hidup masyarakat yang semula tinggal di dekat CBD disertai penurunan kualitas lingkungan, mendorong penduduk untuk pindah ke daerah pinggiran (a). Perbaikan daerah CBD menjadi menarik karena dekat dengan pusat segala fasilitas kota (b). Program perbaikan yang semula hanya difokuskan di zona 1 dan 2, melebar ke zona 3 yang menarik para pendatang baru khususnya dari zona 2 (c). Selain itu ,struktur tata ruang kota juga dapat dijelaskan berdasarkan pendekatan morfologikal, Beberapa sumber mengernukakan bahwa tinjauan terhadap morfologi kota. ditekankan pada bentuk-bentuk- fisikal dari lingkungan kekotaan dan hal ini dapat diamati dari kenampakan kota secara fisikal yang antara lain tercermin pada sistern jalan - jalan yang ada, blok-blok bangunan baik daerah hunian ataupun bukan (perdagangan/ industri) dan juga bangunan bangunan individual (Herbert, 1973 dalam Yunus,1999 J07). Ada tujuh pola struktur tata ruang kota. yang didasarkan pada pendekatan morfologikal ini (Hudson dalam Yunus, 2003) yaltu: 1. Bentuk satelit dan pusat-pusat baru. 2. Bentuk stelar atau radial 3. Bentuk cincin 4. Bentuk linier bermanik 5. Bentuk inti/kompak 6. Bentuk memencar

7. Bentuk kota. bawah tanah Apabila pola jalan sebagai indikator morfologi kota, maka ada tiga sistem pola jalan yang dikenal. (yunus, 2000: 142), yaitu: 1. Sistem pola jalan tidak teratur 2. Sistem pola jalan radial koilswitris 3. Sistem pola jalan bersudut siku/grid

3.

URGENSI STRUKTUR RUANG Struktur merupakan salah satu elemen penting pembentuk tata ruang kota dan wilayah. Struktur ruang menjadi satu hal yang penting mengingat pengertiannya sebagai susunan antara pusat-pusat pelayanan, permukiman, dengan jaringan dan sistem sarana dan prasarana yang berhierarki dan berhubungan fungsional untuk mendukung kegiatan sosial-ekonomi. Artinya dengan keberadaan struktur ruang, memudahkan seseorang untuk memahami arah pembangunan suatu kota ataupun wilayah. Urgensi dari keberadaan struktur ruang kota adalah memberikan arahan yang jelas mengenai peran serta perilaku bagian kota dalam rangka memberikan pelayanan bagi penduduk kota secara keseluruhan. Struktur ruang kota juga akan menjelaskan bagaimana hubungan satu kota dengan kota yang lain atau bahkan satu bagian kota dengan bagian kota yang lain. Menjelaskan sistem dalam skala kota dan wilayah yang jelas serta memberikan gambaran akan keterhubungan setiap bagian kota atau bahkan sulit tidaknya penduduk kota untuk menjangkau pelayanan kota tersebut. Bagaimana urgensi perencanaan struktur ruang? Urgensi perencanaan struktur ruang adalah memberikan penilaian dan rencana terhadap struktur ruang eksisting yang dianggap kurang baik. Artian kurang baik atau tidak baik dalam urusan keberadaan struktur ruang adalah melihat kembali keterjangkauan pusat-pusat layanan dengan masyarakatnya dan juga bagaimana keterhubungan antara kota-hinterlandnya dan/atau bagian kota terhadap bagian kota lainnya serta sistem pembentuk dalam skala wilayah. Perencanaan struktur ruang menjadi sangat penting setelah evaluasi dan struktur ruang eksisting yang dinilai buruk. Urgensi perencanaan struktur ruang

juga menjadi sangat penting melihat struktur ruang diposisikan sebagai acuan atau memberi fungsi untuk menetapkan prioritas pembangunan, indikasi program jangka 20 tahunan, serta menjadi arahan pembentuk sistem kota dan wilayah, dan arahan bagi peletakan jaringan prasarana wilayah sesuai dengan fungsi jaringannya. 4. LANGKAH PERUMUSAN

Input Metode Proses Output

Peta Jenis dan Skala Pelayanan Peta Jaringan Jalan

Overlay

Menghitung Jumlah Kebutuhan Fasiltas Menentukan Jenis Fasilitas

Peta Struktur Ruang

FLOWCHART Terlampir (yang akan di tempel di studio)

Langkah langkah membuat struktur ruang A. Menentukan lokasi pusat pelayanan dan skala pelayanan Menandai letak eksisting pelayanan apa saja yang ada di kota, termasuk jenis pelayanannya. Kemudian tentukan besarnya skala pelayanan. Jenis jenis pusat pelayanan dapat berupa : a. fasilitas pendidikan, b. fasilitas kesehatan c. fasilitas niaga

d. ruang terbuka hijau Skala pelayanan : a. Skala Regional : mencakup di dalam dan di luar kota b. Skala Kota : mencakup di dalam kota c. Skala lokal : mencakup lingkungan di dalam kota B. Menentukan sistem jaringan prasarana Sistem jaringan prasarana kota dibentuk oleh sistem jaringan transportasi sebagai sistem jaringan prasarana utama dan dilengkapi dengan sistem jaringan prasarana lainnya. Salah satu jaringan prasarana adalah jaringan jalan. Jenis jalan : a. Jalan Arteri b. Jalan Kolektor c. Jalan Lokal d. Jalan Lingkungan C. Menyesuaikan syarat lokasi pusat pelayanan dan prasarana sesuai dengan kriteria. Lokasi pusat pelayanan tidak boleh sembarang, harus sesuai dengan kriteria. Begitu juga prasarananya. D. Mengintegrasikan pusat pelayanan dengan prasarana Setelah pusat pelayanan dan prasarana sesuai dengan kriteria, perhatikan keterkaitan antara pusat pelayanan dan prasarana. Apakah pusat pelayanan dengan prasarana saling terkait? Apakah pusat pelayanan aksesibel?

Contoh struktur ruang pada Kota Muntilan :

5.

PENILAIAN DALAM CONTOH KASUS KOTA MUNTILAN


Sesuai fungsi dari struktur kota, semakin baik struktur ruang kota maka semakin mudah konektifitas antar wilayah, mendukung pendistribusian barang dan untuk mempermudah aksesibilitas menuju pusat pelayanan. Dan kemudian kami menganalisis elemen elemen struktur ruang yang ada di kasus kota Muntilan untuk menuju fungsi struktur kota diatas.

Menurut kelompok kami, untuk penilaian struktur ruang yang sebelumnya telah dianalisis dengan contoh kasus dari kota Muntilan, kami menilai dari skala 1 sampai 10, kami menilai kota muntilan ini bernilai 7 poin dari 10 poin. Karena, ada kekurangan yaitu seharusnya pelayanan skala regional di kota Muntilan ini terletak pada jalan arteri primer, contoh yang sudah sangat baik yaitu pasar Muntilan yang skalanya regional, memang pasar Muntilan ini sebagai pusat perdagangan di kota Muntilan sendiri maupun di wilayah luar sekitarnya, seperti Kota Magelang, Jogja, bahkan Semarang, banyak mendistribusikan barang dagangannya ke pasar Muntilan ini dan atau membeli barang di pasar berskala regional ini. Akan tetapi untuk sarana kesehatan dan sarana pendidikan berskala regional yang ada di kota Muntilan masih jelek dalam penilaian struktur ruang, contoh sarana kesehatannya adalah RSUD Muntilan, RSUD ini terdapat pada jalan kolektor. Dan menurut analisis hal ini mengurangi penilaian dari struktur ruang kota Muntilan, apabila sudah seperti ini rencana yang terbaik dilakukan adalah membuat fungsi jalan arteri hingga ke depan RSUD ini, atau bisa dibuat seperti boulevard Contoh lain yang mengurangi nilai dari struktur ruang kota Muntilan adalah sarana pendidikan SMK Pangudi Luhur, contoh ini juga sama seperti RSUD Muntilan diatas, sarana pendidikan berskala regional ini berada pada jalan kolektor. Nilai positif struktur ruang yang ada di Muntilan yaitu perumahan yang ada di muntilan semuanya sudah berada pada jalan lingkungan, dan fasilitas fasilitas skala lokalnya pun banyak berada untuk mendukung fungsi permukiman yang ada di kota Muntilan. Contoh lainnya yaitu pabrik pabrik skala lokalpun juga sudah berada pada jalan lingkungan. Kesimpulannya adalah struktur kota Muntilan sebenarnya sudah baik tetapi ada beberapa hal yang belum di perhatikan lagi, dan kasus diatas sebagai pelajaran untuk merencanakan struktur ruang kota yang lebih baik lagi.

PENUTUP
I. KESIMPULAN Dalam perencanaan tata ruang wilayah, Struktur ruang merupakan salah satu komponen alternatif utama dan keterkaitannya dari hubungan yang fungsional bekerja atau sebuah kinerja tertentu. Sehingga dalam paper ini kesimpulan yang dapat diambil adalah: 1. Sebagai komponen alternatif sudah seharusnya struktur ruang memiliki fungsi utama sebagai pelayanan baik pelayanan dalam bentuk primer maupun sekunder, 2. Urgensi dari keberadaan struktur ruang kota adalah memberikan arahan yang jelas mengenai peran serta perilaku bagian kota dalam rangka memberikan pelayanan bagi penduduk kota secara keseluruhan, 3. Struktur ruang kota juga akan menjelaskan bagaimana hubungan satu kota dengan kota yang lain atau bahkan satu bagian kota dengan bagian kota yang lain, 4. Menjelaskan sistem dalam skala kota dan wilayah yang jelas serta memberikan gambaran akan keterhubungan setiap bagian kota atau bahkan sulit tidaknya penduduk kota untuk menjangkau pelayanan kota tersebut, II. SARAN

1.

Dalam penetapan struktur ruang tersebut kita perlu memperhatikan berbagai macam aspek analisis sehingga di dapatkan sebuah struktur ruang yang baik dan dapat meningkatkan kinerja dari sebuah kota.

2.

Peletakan pusat pelayanan harus berada di tempat yang memiliki akses yang mudah sehingga masyarakat dapat dengan mudah dan cepat terlayani

3.

Pemerintah

harus

selalu

melakukan

evaluasi

terhadap

pengimplementasian dari struktur ruang agar tercipta sebuah kota yang aman dan nyaman untuk berkehidupan

DAFTAR PUSTAKA UU NO 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG UU NO 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN UU NO 15 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PERENCANAAN TATA RUANG Lynch,Kevin. (1960). The Image of The city. Amerika : MIT Press
Yunus, Hadi Sabari. 2000. Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

www.penataanruang.net/taru/sejarah/BAB%2010.2%20footer.pdf www.doxiadis.org/files/pdf/ecistics_the_science_of_human_settlements.pdf
Nia K. Pontoh & Iwan Setiawan. 2008. Pengantar Perencanaan Kota. Bandung. Penerbit ITB Budi D. Sinulingga, 2005. Pembangunan Kota: Tinjauan Regional dan Lokal. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.