Anda di halaman 1dari 23

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 RETARDASI MENTAL 2.1.1 Definisi Retardasi Mental Retardasi mental adalah suatu gangguan yang heterogen yang terdiri dari fungsi intelektual yang dibawah rata-rata dan gangguan dalam keterampilan adaptif yang ditemukan sebelum orang berusia 18 tahun.12 The American Association of Mental Deficiensy (AAMD) dan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi keempat (DSM-IV)

mendefenisikan retardasi mental sebagai fungsi intelektual keseluruhan yang secara bermakna di bawah rata-rata yang menyebabkan atau berhubungan dengan gangguan pada perilaku adaptif dan bermanifestasi selama periode perkembangan, yaitu sebelum usia 18 tahun.12 Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ III) retardasi mental adalah suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya hendaya keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua tingkat intelegensia yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial. Retardasi mental dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lainnya.6 2.1.2 Insiden dan Prevalensi Menurut data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2006, dari 222 juta penduduk Indonesia, prevalensi retardasi mental di Indonesia saat ini diperkirakan 1-3% dari penduduk Indonesia, atau sekitar 6,6 juta jiwa7. Insidensi tertinggi adalah pada anak usia sekolah, dengan puncak usia 10 sampai 14 tahun, dan 1,5 kali lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan.4,11 2.1.3 Etiologi Faktor penyebab dalam retardasi mental adalah kondisi genetik (kromosom dan bawaan), pemaparan pranatal dengan infeksi dan toksin, trauma perinatal (prematuritas), kondisi yang didapat dan faktor sosiokultural.12

2.1.3.1 Faktor genetik Kelainan kromosom autosomal menyebabkan retardasi mental, meskipun penyimpangan kromosom sex tidak selalu menyebabkan retardasi mental.12 1. Sindrom Down Sampai saat ini, penyebab sindrom Down belum diketahui secara pasti. Namun baru-baru ini telah dikenali tiga tipe penyimpangan kromosom pada sindrom Down : a. Pasien dengan trisomi 21 (tiga kromosom 21, yang seharusnya dua) menunjukkan mayoritas yang berlebihan. Pasien tersebut memiliki 47 kromosom dengan ekstra kromosom 21. b. Gagal berpisah pada pembelahan sel setelah fertilisasi menyebabkan mosaikisme, keadaan adanya sel normal dan trisomi di dalam berbagai jaringan. c. Di dalam translokasi, terdapat penyatuan dua kromosom, sebagian besar yaitu kromosom 21 dan 15, sehingga tetap menghasilkan 46 kromosom, meskipun ada tambahan kromosom 21. Gangguan ini tidak seperti trisomi 21, biasanya diwariskan. Sebagian besar orang dengan sindrom ini mengalami retardasi mental sedang atau berat, hanya sebagian kecil yang memiliki IQ di atas 50.

2. Fragile X syndrome Merupakan penyebab tunggal retardasi mental yang terbanyak kedua. Terjadi akibat mutasi kromosom X pada tempat yang dikenal sebagai fragile site (Xq27.3)12. Diyakini terjadi pada kira-kira 1:1000 pada laki-laki dan 1:2000 pada wanita. Derajat retardasi mental terentang dari ringan sampai berat. Profil perilaku penderita sindrom ini mencakup dengan tingginya angka Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), gangguan belajar, dan gangguan perkembangan pervasif, seperti autis12,13. 3. Sindrom Prade-Will Didalilkan terjadi akibat delesi kecil yang mengenai kromosom 15, biasanya terjadi secara sporadis. Prevalensi kurang dari 1:10.000. Orang dengan sindrom ini menunjukkan perilaku makan kompulsif, obesitas, retardasi

mental, hipogonadisme, perawakan kecil, hipotonia, dan kaki serta tangan yang kecil. Anak dengan sindrom ini sering memiliki perilaku menentang dan menyimpang.12,13 4. Phenilketonuria ( PKU ) PKU diturunkan sebagai ciri mendelian autosomal resesif sederhana. Sebagian besar pasien PKU mengalami retardasi mental berat, tetapi sebagian diantaranya dilaporkan memiliki intelegensi dalam batas ambang atau normal. Meskipun gejala klinisnya beragam, anak dengan PKU biasanya hiperaktif, menunjukkan perilaku yanng aneh dan tidak dapat diduga serta sulit diatur. Perilakunya kadang-kadang menyerupai anak dengan autisme atau skizofrenia.12,13 5. Gangguan Rett Gangguan Rett dihipotesiskan sebagai sindrom retardasi mental dominan terkait X, bersifat degeneratif, dan hanya mengenai perempuan. Kemunduran keterampilan, komunikasi, perilaku motorik, dan fungsi sosial dimulai pada kira-kira usia 1 tahun. Gelaja mirip autistik lazim ditemukan, demikian juga ataksia, seringai wajah, menggeretakkan gigi, dan hilangnya pembicaraan.12,13 6. Sindrom Lesch-Nyhan Merupakan gangguan langka yang disebabkan oleh defisiensi enzim yang terlibat dalam metabolisme purin. Gangguan ini terkait-X; pasien mengalami retardasi mental, mikrosefali, kejang, koreoatetosis, dan spatisitas. Sindrom ini juga disertai mutilasi diri kompulsif berat dengan menggigiti kuku atau jari. Sindrom ini merupakan contoh lain sindrom yang ditentukan secara genetik dengan pola perilaku yang spesifik dan dapat diduga.12,13 7. Sindrom tangisan kucing (cat-cry [cri-du-chat] syndrome) Anak-anak dengan sindrom ini kehilangan bagian kromosom 5. Mereka mengalami retardasi mental berat dan menunjukkan banyak stigmata yang sering kali disertai dengan penyimpangan kromosom, seperti mikrosefali, telinga yang letaknya rendah, fisura palpebra oblik, hipertelorisme, dan mikrognatia. Tangisan seperti kucing yang karakteristik (disebabkan oleh kelainan laring) yang memberikan nama sindrom bertahap berubah dan menghilang dengan bertambahnya usia.12,13

10

2.1.3.2 Faktor Perkembangan dan Faktor yang Didapat Infeksi maternal selama kehamilan, terutama infeksi virus, diketahui dapat menimbulkan kerusakan janin dan retardasi mental. Derajat kerusakan janin bergantung pada berbagai variabel seperti infeksi virus, usia gestasional janin dan keparahan penyakit.12,13 1. Rubella (campak Jerman) Rubella telah menggantikan sifilis sebagai penyebab utama malformasi kongenital dan retardasi mental yang disebabkan oleh infeksi maternal. Anak dari ibu dengan infeksi ini dapat menunjukkan beberapa kelainan, termasuk penyakit jantung kongenital, retardasi mental, katarak, tuli, mikrosefali, dan mikroftalmia. Derajat dan komplikasi penyakit berbanding terbalik dengan usia kehamilan pada waktu infeksi maternal. Rubella maternal dapat dicegah dengan imunisasi.12,13 2. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) Banyak janin dengan ibu penderita AIDS tidak pernah bertahan mencapai usia cukup bulan karena aborsi spontan atau lahir mati. Pada mereka yang dilahirkan dan terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV), hingga setengahnya mengalami ensefalopati progresif, retardasi mental, dan kejang pada tahun-tahun pertama kehidupan.12,13 3. Sindrom alkohol janin Sindrom alkohol janin mengakibatkan retardasi mental dan gambaran fenotipik yang khas berupa dismorfisme wajah yang mencakup mikrosefali, fisura palpebra yang pendek, lipatan epikantus yang dalam, serta hidung yang pesek dan terdongak ke atas. Anak dengan sindrom ini sering mengalami gangguan belajar, ADHD, dan retardasi mental tanpa dismorfisme wajah.12,13 2. Komplikasi kehamilan Toksemia mental.12,13 3. Periode perinatal Beberapa bukti menunjukkan bahwa bayi prematur dan bayi dengan berat lahir rendah memiliki resiko tinggi mengalami gangguan neurologis dan kehamilan dan diabetes maternal yang tidak terkontrol

membahayakan bagi janin dan kadang-kadang menyebabkan retardasi

11

intelektual yang nyata selama masa sekolah. Sejumlah studi baru-baru ini mendokumentasikan bahwa di antara anak-anak dengan berat lahir sangat rendah (kurang dari 1000 gr), 20% nya ditemukan mengalami cacat bermakna seperti cerebral palsy, retardasi mental, autisme, dan itelegensi rendah dengan masalah belajar yang berat.12,13 2.1.3.3 Gangguan Masa Kanak-Kanak yang Didapat 1. Infeksi Infeksi yang paling serius mempengaruhi integritas serebral adalah ensefalitis dan meningitis. Sebagian besar episode ensefalitis disebabkan oleh organisme virus. Meningitis yang terlambat didiagnosa, kendati diikuti dengan terapi antibiotika, dapat secara serius mempengaruhi perkembangan kognitif anak.12,13 2. Trauma kepala Penyebab cedera kepala yang terkenal pada anak-anak yang menyebabkan kecacatan mental, termasuk kejang, adalah kecelakaan kendaraan bermotor, terjatuh dari tangga,meja,jendela yang terbuka ataupun penyiksaan.12,13 3. Masalah lain Pemaparan jangka panjang dengan timbal dikenal sebagai penyebab gangguan kecerdasan dan keterampilan belajar.12,13 2.1.3.4 Faktor Lingkungan dan Sosiokultural Retardasi mental ringan secara bermakna menonjol di antara orang yang mengalami gangguan kultural, kelompok sosioekonomi rendah, dan banyak sanak saudara yang terkena retardasi mental dengan derajat yang mirip. Tidak ada penyebab biologis yang dikenali pada kasus tersebut.12,13 Retardasi mental ringan juga dapat terjadi sebagai akibat kekurangan gizi, pengasuhan serta stimulasi yang tidak tepat secara bermakna. Lingkungan pranatal yang diganggu oleh perawatan medis yang buruk, gizi maternal yang buruk, perawatan medis pasca lahir yang buruk, malnutrisi, pajanan zat toksik seperti timbal juga menjadi faktor penyebab timbulnya retardasi mental ringan.12,13

12

2.1.4

Jenis-Jenis Retardasi Mental

Menurut PPDGJ-III retardasi mental dibagi menjadi6: F70 Retardasi Mental Ringan 1. IQ berkisar antara 50 sampai 69. 2. Pemahaman dan penggunaan bahasa cenderung terlambat pada beberapa tingkat, dan masalah kemampuan berbicara yang mempengaruhi

perkembangan, kemandarian dapat menetap sampai dewasa. Walau terjadi keterlambatan dalam kemampuan bahasa, tetapi sebagian besar dapat mencapai kemampuan berbicara untuk keperluan sehari-hari. Kebanyakan juga dapat mandiri penuh dalam merawat diri sendiri dan mencapai keterampilan praktis dan keterampilan rumah tangga, walaupun tingkat perkembangannya agak lambat daripada normal. Kesulitan utama biasanya tampak dalam pekerjaan sekolah yang bersifat akademik, dan banyak masalah khusus dalam menulis dan membaca. 3. Etiologi organik hanya dapat diidentifikasi pada sebagian kecil penderita. 4. Keadaan lain yang menyertai seperti autisme, gangguan perkembangan lain, epilepsi, gangguan tingkah laku, atau disabilitas fisik dapat ditemukan dalam berbagai proporsi. F71 Retardasi Mental Sedang 1. IQ biasanya berada dalam rentang 35 sampai 49. 2. Umumnya ada profil kesenjangan (discrepancy) dari kemampuan, beberapa dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam keterampilan visuo-spasial dari pada tugas-tugas yang tergantung pada bahasa, sedangkan yang lainnya sangat tergantung canggung namun dapat mengadakan interaksi sosial dan percakapan sederhana. 3. Suatu etiologi organik dapat diidentifikasi pada kebanyakan penderita retardasi mental sedang. 4. Autisme masa kanak atau dan gangguan pervasif lainnya terdapat pada sebagian kecil kasus, dan mempunyai pengaruh besar dalam gambaran klinis, dan tipe penatalaksanaan yang dibutuhkan. Epilepsi, disabilitas neurologik dan fisik juga lazim ditemukan meskipun kebanyakan penyandang retardasi mental sdang mampu berjalan tanpa bantuan. Kadang-kadang didapatkan gangguan

13

jiwa lain, tetapi karena tingkat perkembangan bahasanya yang terbatas, sehingga sulit untuk menegakkan diagnosanya. F72 Retardasi Mental Berat 1. IQ biasanya berada dalam rentang 20 sampai 34. 2. Umumnya mirip dengan retardasi mental sedang dalam segala hal : a. Gambaran klinis. b. Terdapatnya etiologi organik c. Kondisi yang menyertainya d. Tingkat prestasi yang rendah. 3. Kebanyakan penyandangan retardasi mental berat menderita gangguan motorik yang mencolok atau defisit lain yang menyertainya, menunjukkan adanya kerusakan atau penyimpangan perkembangan yang bermakna secara klinis dari susunan syaraf pusat. F73 Retardasi Mental Sangat Berat 1. IQ biasanya dibawah 20. 2. Pemahaman dan penggunaan bahasa terbatas, paling hanya mengerti perintah dasar dan mengajukan permohonan sederhana. 3. Keterampilan visuo-spasial yang paling dasar dan sederhana tentang memilih dan mencocokkan mungkin dapat dicapainya, dan dengan pengawasan dan petunjuk yang tepat penderita mungkin dapat sedikit ikut melakukan tugas praktis dan rumah tangga. 4. Suatu etiologi organik dapat diidentifikasi pada sebagian besar kasus. 5. Biasanya ada disabilitas neurologik dan fisik lain yang berat yang memperngaruhi mobilitas, seperti epilepsi, dan hendaya lihat dan daya dengar. Sering ada gangguan perkembangan pervasif dalam bentuk sangat berat khususnya autisme yang tidak khas, terutama pada penderita yang dapat bergerak.

F78 Retardasi Mental Lainnya Kategori ini hanya digunakan bila penilaian dari tingkat retardasi mental dengan menggunakan prosedur biasa sangat sulit atau tidak mungkin dilakukan karena

14

adanya gangguan sensorik atau fisik, misalnya buta, bisu tuli, dan penderita yang perilakunya terganggu berat atau fisiknya tidak mampu.

F79 Retardasi Mental YTT (Yang Tak Tergolong) Merupakan retardasi mental tidak terdapat informasi yang cukup untuk menggolongkannya dalam salah satu kategori di atas.

2.2 Depresi 2.2.1 Definisi Menurut PPDGJ-III depresi adalah suatu gangguan yang memiliki karakteristik6 : a. Gejala utama (pada derajat ringan, sedang, berat) 1. Afek depresif. 2. Kehilangan minat dan kesenangan. 3. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktivitas. (timbul rasa lelah yang nyata sesudah bekerja sedikit saja). b. Gejala lainnya 1. Konsentrasi dan perhatian berkurang. 2. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang. 3. Gagasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna (bahkan dalam episode tipe ringan sekalipun). 4. Pandangan masa depan yang suram dan pesimis. 5. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri. 6. Tidur terganggu. 7. Nafsu makan berkurang. Untuk menegakkan diagnosis pada ketiga episode (ringan, sedang, berat) diperlukan waktu sekurang-kurangnya 2 minggu.6 2.2.2 Insiden dan Prevalensi Gangguan depresi berat adalah gangguan yang lazim ditemukan dengan prevalensi seumur hidup sekitar 15%, pada perempuan mungkin 25%. Insiden

15

gangguan depresif berat 10% pada pasien yang berobat di fasilitas kesehatan primer dan 15% di tempat rawat inap. 4,13 Insidensi episode depresi pada perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki yaitu antara 250 sampai 7800 kasus baru per 100.000 populasi setiap tahun.3 2.2.3 Etiologi Faktor penyebab dapat dibagi menjadi 3 faktor yaitu faktor biologis, faktor genetika, dan faktor psikososial. a. Faktor biologis4,13 Terjadinya berbagai kelainan didalam metabolit amin biogenik seperti 5hydroxindoleacetic acid (5-HIAA), homovanillic acid (HVA), dan 3-methoxy4hydroxyphenylglycol (MHPG) di dalam darah, urine dan cairan serebrospinalis. Data yang dilaporkan paling konsisten dengan hipotesis bahwa gangguan mood adalah berhubungan dengan disregulasi heterogen pada amin biogenik. Amin biogenik,norepinefrin dan serotonin merupakan dua neurotransmiter yang paling berperan dalam patofisiologi gangguan mood. Disamping ketiga hal itu, bukti-bukti mengarahkan pada disregulasi asetil-kolin dalam gangguan mood. Korelasi yang dinyatakan oleh penelitian ilmiah dasar antara regulasi turun (down-regulation) reseptor adrenergik-beta dan respon anti depresan klinik kemungkinan merupakan bagian data yang paling memaksakan yang menyatakan adanya peranan langsung sistem noradrenergik dalam depresi. Bukti lain juga melibatkan reseptor adrenergik-alfa2 dalam depresi, karena aktivasi respetor tersebut menyebabkan penurunan jumlah norepinefrin yang dilepaskan. Reseptor adrenergik-alfa2 juga berlokasi pada neuron seretonergik dan mengatur jumlah serotonergik dan mengatur jumlah serotonin yang dilepaskan. Serotonin-spesific reuptake inhibitors (SSRIs)-sebagai contoh, fluoxetine (Prozac)- memberi efek besar dalam pengobatan depresi, sehingga serotonin menjadi neurotransmiter amin biogenik yang paling sering dihubungkan dengan depresi. Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi, dan pada beberapa pasien bunuh diri memiliki konsentrasi metabolit serotonin di dalam cairan serebrospinalis yang rendah dan konsentrasi tempat ambilan serotonin yang rendah di trombosit. Beberapa pasien depresi juga memiliki respon neuroendokrin

16

yang abnormal- sebagai contoh, hormon pertumbuhan, prolaktin, hormon adrenokortikotropik (ACTH)- terhadap provokasi dengan agen serotonik. Dopamin juga diperkirakan memiliki peranan dalam depresi. Suatu data menyatakan bahwa aktivitas dopamin mungkin menurun pada depresi dan meningkat pada mania. b. Faktor genetika4,13 Data genetik dengan kuat menunjukkan bahwa faktor genetik yang signifikan terlibat dalam timbulnya gangguan mood tetapi pola pewarisan genetik terjadi melalui mekanisme yang kompleks. 1. Penelitian Keluarga Penelitian keluarga menemukan bahwa sanak saudara derajat pertama dari penderita gangguan bipolar I berkemungkinan 8 sampai 18 kali lebih besar daripada sanak saudara pertama derajat subjek kontrol untuk menderita gangguan bipolar 1 dan 2 sampai 10 kali lebih mungkin menderita gangguan depresif berat. Penelitian keluarga juga menemukan bahwa sanak saudara derajat pertama dari penderita gangguan depresif berat berkemungkinan 1,5 sampai 2,5 kali lebih besar daripada sanak saudara derajat pertama subjek kontrol untuk menderita gangguan bipolar I dan dua sampai tiga kali lebih mungkin menderita gangguan depresif berat. 2. Penelitian Adopsi Dua dari tiga penelitian adopsi telah menemukan suatu komponen genetika yang kuat untuk penurunan gangguan depresif berat. Penelitian adopsi tersebut telah menemukan bahwa anak biologis dari orang tua yang menderita tetap berada dalam resiko menderita suatu gangguan mood, bahkan jika mereka dibesarkan oleh keluarga angkat yang tidak menderita gangguan. 3. Penelitian Kembar Penelitian terhadap anak kembar menunjukkan bahwa angka kesesuaian untuk gangguan depresif berat pada kembar monozigotik adalah kira-kira 50% dan angka kesesuaian pada kembar dizigotik adalah kira-kira 10 sampai 25%.

17

c. Faktor Psikososial13 1. Peristiwa kehidupan dan stres keluarga Satu pengamatan klinis yang telah lama direplikasikan adalah bahwa peristiwa kehidupan yang menyebabkan stres lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood daripada episode selanjutnya. Hubungan tersebut telah dilaporkan untuk pasien gangguan depresif berat dan gangguan bipolar I. 2. Faktor kepribadian Tidak ada sifat atau tipe kepribadian tunggal yang secara unik menpredisposisikan seseorang kepada depresi. Semua manusia, apapun pola kepribadiannya, dapat dan memang menjadi depresi dalam keadaan yang tepat. Namun individu dengan tipe kepribadian tertentu (dependenoral, obsesif-konpulsif,histeris) mungkin berada dalam resiko yang lebih besar untuk mengalami depresi.13 3. Faktor psikoanalitis dan psikodinamika4,13 Pemahaman psikodinamik depresi yang dijelaskan Sigmund Freud dan dikembangkan Karl Abraham dikenal sebagai pandangan klasik mengenai depresi. Teori ini meliputi 4 poin penting yaitu : (a) Gangguan hubungan ibu-bayi selama fase oral (10 sampai 18 bulan pertama kehidupan) menjadi predisposisi terhadap depresi (b) Depresi dapat terkait dengan kehilangan objek yang nyata atau khayalan (c) Introyeksi objek yang meninggal adalah mekanisme pertahanan yang dilakukan untuk menghadapi penderitaan akibat kehilangan objek (d) Kehilangan objek dianggap sebagai campuran cinta dan benci sehingga rasa marah diarahkan ke dalam diri sendiri 2.2.4 Jenis-Jenis Episode Depresi Menurut PPDGJ-III episode depresif dibagi menjadi6 : F32.0 Episode Depresi Ringan 1. Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi dan 2 dari gejala lainnya. kerentanan selanjutnya

18

2. Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya. 3. Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu. 4. Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukan.

F32.1 Episode Depresi Sedang 1. Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi dan 3 (sebaiknya empat) dari gejala lainnya. 2. Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu. 3. Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga.

F32.2 Episode Depresi Berat tanpa Gejala Psikotik 1. Ketiga gejala utama harus ada 2. Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat. 3. Harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, diagnosis dalam waktu kurang dari 2 minggu. 4. Sangat tidak mungkin penderita akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas. dapat ditegakkan

F32.3 Episode Depresi Berat dengan Gejala Psikotik 1. Ketiga gejala utama harus ada 2. Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat. 3. Harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, diagnosis dalam waktu kurang dari 2 minggu. dapat ditegakkan

19

4. Sangat tidak mungkin penderita akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas. 5. Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif.

2.2.5 Faktor Resiko Depresi a. Genetik Depresi tidak diwariskan begitu saja. Tidak ada bukti bahwa sebuah gen tunggal yang diturunkan orang tua kepada anak akan membuat anak menderita depresi. Namun jika anggota keluarga terdekat memiliki riwayat depresi atau kelainan jiwa, maka anggota keluarga yang lain akan mewarisi kerentanan menderita depresi.1 b. Jenis kelamin Dari suatu observasi yang hampir universal, tanpa melihat negara atau kebudayaan, prevalensi gangguan depresif berat dua kali lebih besar terjadi pada perempuan daripada laki-laki. Alasan perbedaan ini antara lain disebabkan oleh perbedaan hormonal, pengaruh kelahiran anak, stresor psikososial yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, serta model perilaku ketergantungan yang dipelajari.12 Depresi pada pria lebih sulit ditemukan karena mereka cenderung menyembunyikannya dengan alkohol, bekerja lebih lama, dan dengan pembawaan yang lebih sensitif, marah dan kecil hati. Depresi juga menyebabkan tingkat bunuh diri yang lebih tinggi pada pria karena cenderung membiarkan depresi berlanjut ke tingkat yang lebih serius sebelum mencari pertolongan.1 c. Usia Usia rerata awitan gangguan depresi berat sekitar 40 tahun, dengan 50% pasien memiliki awitan antara usia 20 sampai 50 tahun. Gangguan depresif berat juga dapat dimulai pada masa kanak-kanak atau usia tua. Data epidemiologis terkini mengesankan bahwa insiden gangguan depresif mayor mungkin meningkat di antara orang berusia

20

di bawah 20 tahun. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya penyalahgunaan alkohol dan obat pada kelompok usia ini.12,13 d. Status pernikahan Gangguan depresif berat paling sering terjadi pada orang tanpa hubungan antarpersonal yang dekat atau pada orang yang mengalami perceraian atau perpisahan.12,13 e. Faktor sosioekonomi dan kebudayaan Hidup dalam kemiskinan atau tidak memiliki rumah adalah pengalaman hidup yang berperan meningkatkan resiko depresi, maka dari itu depresi kebih sering ditemukan pada orang dengan status sosial yang rendah.1 Tidak tampak adanya hubungan yang jelas antara ras dan depresi. Ras cenderung tidak berperan menimbulkan depresi, kecuali jika ras membuat individu menjadi objek rasisme yang memungkinkan memberi efek sosial.1 f. Pengalaman hidup Akumulasi berbagai kejadian yang dialami suatu individu selama hidup berperan sangat penting dalam menentukan kecenderungan terjadinya depresi. Hal-hal tersebut meliputi1 : (a) Hidup dalam rumah tangga yang penuh kekerasan (b) Kehilangan atau trauma pada usia dini (misalnya trauma melahirkan, pelecehan, disia-siakan, kehilangan salah satu orang tua baik meninggal ataupun bercerai) (c) Stres yang sangat tinggi (d) Keadaan sosial yang buruk (kemiskinan) (e) Kegagalan (di dunia kerja atau sosial) yang menurunkan rasa percaya diri (f) Perubahan hormon (menopause, kelahiran anak) (g) Gaya hidup (kurang olah raga, obesitas)

21

2.2.6 Stres, stresor dan faktor-faktor yang berhubungan Stres adalah respon tubuh yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Contoh stresor pemicu yang paling jelas adalah peristiwa penting yang menyebabkan kesedihan emosional yang signifikan bagi seseorang. Salah satu stresor psikososial yang paling banyak terjadi saat ini adalah problem menjadi orang tua. Problem orang tua zaman sekarang adalah bahwa yang penting bukan berapa banyak anak (kuantitas), melainkan yang utama adalah kualitas anak yang diasuhnya.2 Maka dari itu jika pada masa perkembangannya anak mengalami gangguan maka akan menimbulkan beberapa macam reaksi orang tua yang membutuhkan penyesuaian diri.5 Salah satu bentuk gangguan yang sering dijumpai yang menimbulkan beberapa macam reaksi orang tua adalah retardasi mental.5 Respon dan reaksi setiap orang dalam menghadapi stresor psikososial yang dialaminya berbeda pada setiap individu, ada yang menunjukkan gejala stres, kecemasan atau depresi, bahkan tidak jarang ketiga gejala tersebut saling tumpang tindih, sebab dalam pengalaman klinis jarang ditemukan ketiga gejala tersebut berdiri sendiri. 2

2.2.7 Ibu Penyandang Retardasi Mental Peran wanita sebagai ibu merupakan stres tersendiri, dan stres akan semakin besar bila ibu memiliki anak penyandang cacat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang memiliki anak cacat cenderung mengalami stres yang lebih besar daripada ibu yang memiliki anak normal. Stress pada ibu yang memiliki anak penyandang cacat, khususnya retardasi mental berhubungan dengan permasalahan perilaku anak tersebut. Hal ini diperkuat Walker bahwa permasalahan perilaku anak penyandang retardasi mental dapat menyebabkan ibu mengalami stres.7 Stres yang dialami ibu tidak hanya disebabkan oleh masalah perilaku anak saja, tapi juga disebabkan oleh adanya rasa pesimis ibu akan masa depan anak. Seseorang yang memiliki anak penyandang retardasi mental menganggap bahwa anak cacat memiliki masa depan yang tidak pasti. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa ibu yang memiliki anak penyandang cacat cenderung menilai dirinya negatif, lemah, tidak mampu, sehingga mudah mengalami frustasi dan sulit

22

menyesuaikan

diri

dengan

lingkungan

sekitarnya.

Kesulitan

individu

menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan menyebabkan individu mengalami stress.7 Situasi stres ini akan menghasilkan reaksi emosional tertentu, dapat meliputi reaksi positif (jika stres tertangani) dan reaksi negatif seperti kecemasan, kemarahan dan depresi9.

2.3 Cara Pencegahan dan Mengatasi Depresi Langkah paling sulit dalam menangani depresi dengan baik adalah mendapatkan diagnosis. Maka dari itu apabila seseorang sudah mengalami gejala utama depresi berupa afek depresif, kehilangan minat dan kesenangan beraktivitas, berkurangnya energi, mudah lelah, konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, timbul perasaan bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimis, adanya gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu, nafsu makan berkurang, disarankan untuk segera menemui tenaga medis profesional agar bisa membantu mengatasinya dan mencari solusi jangka panjang untuk mencegah depresi datang kembali.1,6 Ada beberapa cara untuk membantu diri sendiri dalam menangani depresi antara lain1 : 1. Tetap berhubungan dekat dengan keluarga dan teman anda. Teman dan keluarga dapat menjadi salah satu sumber pendukung penting yang mungkin dapat menawarkan pendekatan baru dalam menangani depresi. 2. Olahraga teratur Olahraga yang teratur hampir sama efektifnya dengan obat antidepresan atau terapi berbicara untuk meredakan gejala depresi ringan, karena olah raga dapat memperbaiki suasana hati, memperbaiki penampilan dan harga diri serta menjadi wadah sosial untuk bertemu dengan orang-orang baru. Namun untuk pemilihan jenis olahraga harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga medis untuk menyesuaikan dengan kondisi tubuh seseorang. 3. Pola makan sehat dan seimbang. Hilangnya nafsu makan adalah salah satu gejala terjadinya depresi, karena itu menjaga pola makan sangat penting untuk penderita depresi, sebab

23

berkurangnya komponen tertentu dari pola makan dapat memperburuk depresi. Maka dari itu direkomendasikan menu tambahan yang mengandung asam lemak omega 3 (ikan laut/berminyak seperti ikan sarden atau kembung), vitamin B (kentang, asparagus, daging, produksi susu) dan triptofan (pisang, gandung, keju, ayam) untuk mengatasi kondisi itu. 4. Mengendalikan hidup Menemukan suatu tujuan kecil yang realistis dalam hidup dapat membantu mengurangi gejala depresi. 5. Berkonsultasi dengan dokter Tenaga medis profesional agar bisa membantu mengatasinya dan mencari solusi jangka panjang untuk mencegah depresi datang kembali

2.4 Skala Penilaian Objektif untuk Depresi Untuk mengetahui sejauh mana derajat seseorang apakah ringan, sedang, berat, atau berat sekali, digunakan alat ukur (instrumen) yang dikenal dengan nama Hamilton Rating Scale for Depression (HRS-D).4,14 Alat ukur ini terdiri dari 17 kelompok gejala yang masing-masing kelompok dirinci lagi dengan gejala yang lebih spesifik. Namun versi yang paling banyak digunakan memiliki 17 soal (item).4 Masing-masing kelompok gejala diberi penilaian angka (score) antara 04, yang artinya adalah : Nilai 0 = tidak ada gejala (keluhan), 1 = gejala ringan, 2 = gejala sedang, 3 = gejala berat. 4 = gejala sangat berat. Nilai keseluruhan untuk versi 17 soal adalah 0 50. Nilai 7 atau kurang = normal ; nilai 8-13 = ringan; nilai 14-18 = sedang; nilai 19-22 = berat dan nilai 23 atau lebih = sangat berat. Penilaian atau pemakaian alat ukur ini dilakukan oleh seorang dokter (psikiater) atau orang yang telah dilatih untuk menggunakannya melalui tekhnik wawancara langsung. Adapun hal-hal yang dinilai dalam alat ukur HRS-D ini adalah sebagai berikut4,14: 1. Keadaan perasaan sedih (sedih, putus asa, tak berdaya, tak berguna) Nilai 0 jika tidak ada.

24

Nilai 1 jika perasaan ini hanya terlihat bila ditanya. Nilai 2 jika perasaan ini dinyatakan secara verbal spontan. Nilai 3 jika perasaan ini nyata tanpa komunikasi verbal, misalnya ekspresi muka, bentuk, suara, dan kecenderungan menangis. Nilai 4 jika pasien menyatakan perasaan yang sesungguhnya dalam komunikasi baik secara verbal maupun non-verbal secara spontan.

2. Perasaan bersalah Nilai 0 jika tidak ada. Nilai 1 jika responden menyalahkan diri sendiri, merasa sebagai penyebab penderitaan orang lain. Nilai 2 jika ada ide-ide bersalah atau renungan tentang kesalahankesalahan masa lalu. Nilai 3 jika responden merasa sakit ini sebagai hukuman, waham bersalah dan berdosa. Nilai 4 jika responden merasa ada suara-suara kejaran atau tuduhan dan halusinasi penglihatan tentang hal-hal yang mengancamnya. 3. Bunuh diri Nilai 0 jika tidak ada. Nilai 1 jika responden merasa hidup tidak berguna. Nilai 2 jika responden mengharapkan kematian atau pikiran-pikiran lain ke arah situ. Nilai 3 jika ada ide-ide bunuh diri atau langkah-langkah ke arah itu. Nilai 4 jika ada percobaan bunuh diri. 4. Gangguan pola tidur (initial insomnia) Nilai 0 jika tidak ada. Nilai 1 jika ada keluhan kadang-kadang sukar masuk tidur, misalnya lebih dari setengah jam baru masuk tidur. Nilai 2 jika ada keluhan sukar masuk tidur tiap malam. 5. Gangguan pola tidur (middle insomnia) Nilai 0 jika tidak ada kesulitan. Nilai 1 jika responden mengeluh gelisah dan terganggu sepanjang malam.

25

Nilai 2 jika terjadi sepanjang malam (bangun dari tempat tidur kecuali buang air kecil). 6. Gangguan pola tidur (late insomnia) Nilai 0 jika tidak ada kesulitan. Nilai 1 jika bangun di waktu dini hari tetapi dapat tidur lagi. Nilai 2 jika bangun di waktu dini hari tetapi tidak dapat tidur lagi. 7. Kerja dan kegiatan-kegiatannya Nilai 0 jika tidak ada kesulitan. Nilai 1 jika ada pikiran atau perasaan ketidakmampuan, keletihan atau kelemahan yang berhubungan dengan kegiatan kerja atau hobi. Nilai 2 jika terjadi kehilangan minat terhadap pekerjaan atau hobi atau kegiatan lainnya, baik dinyatakan secara langsung atau tidak dalam bentuk keragu-raguan dan bimbang. Nilai 3 jika terjadi penurunan produktivitas atau waktu untuk aktivitas sehari-hari (responden tidak sanggup beraktivitas sekurang-kurangnya 3 jam sehari). Nilai 4 jika reponden tidak mampu bekerja karena sakitnya. Berikan nilai 4 untuk pasien di rumah sakit bila pasien tidak mampu bekerja sama sekali, kecuali tugas-tugas dibangsal atau jika pasien gagal melaksanakan kegiatan di bangsal tanpa bantuan. 8. Kelambatan (lambat dalam berpikir, berbicara, gagal berkonsentrasi, aktivitas motorik menurun) Nilai 0 jika normal dalam berbicara dan berpikir. Nilai 1 jika responden sedikit lamban dalam wawancara. Nilai 2 jika responden jelas lamban dalam wawancara. Nilai 3 jika responden sukar diwawancara. Nilai 4 jika responden stupor (diam sama sekali). 9. Kegelisahan (agitasi) Nilai 0 jika tidak ada kegelisahan. Nilai 1 jika ada kegelisahan ringan. Nilai 2 jika responden memainkan jari-jari, tangan, rambut dan lain-lain. Nilai 3 jika responden bergerak-gerak terus dan tidak dapat duduk tenang.

26

Nilai 4 jika responden meremas-remas tangan, menggigit-gigit kuku, bibir atau menarik-narik rambut. 10. Kecemasan (ansietas somatik) Gangguan-gangguan yang menyertai kecemasan antara lain : rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran berdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan buang air kecil, sakit kepala, dan lain sebagainya. Nilai 0 jika tidak ada. Nilai 1 (ringan) jika tidak mengganggu. Nilai 2 (sedang) jika mengganggu aktivitas. Nilai 3 (berat) jika sudah menyebabkan sakit dan dirawat. Nilai 4 (sangat berat) jika menyebabkan ketidakmampuan bekerja lagi. 11. Kecemasan (ansietas psikis) Nilai 0 jika tidak ada kesulitan. Nilai 1 jika terjadi ketegangan yang bersifat subjektif serta mudah tersinggung. Nilai 2 jika responden mengkhawatirkan hal-hal kecil. Nilai 3 jika sikap kekhawatiran tercermin diwajah atau pembicaraan responden. Nilai 4 jika responden mengutarakan ketakutan tanpa ditanya.

12. Gejala somatik (pencernaan) Nilai 0 jika tidak ada. Nilai 1 jika terjadi penurunan nafsu makan tetapi dapat makan tanpa dorongan teman atau staf perawatan. Nilai 2 jika sukar makan tanpa dorongan teman atau staf perawatan, membutuhkan pencahar untuk buang air besar atau obat-obatan saluran pencernaan. 13. Gejala somatik (umum) Nilai 0 jika tidak ada keluhan. Nilai 1 jika anggota gerak, punggung atau kepala terasa berat. Nilai 2 jika sakit punggung, kepal dan otot dirasakan lebih jelas dan terjadi kehilangan kekuatan dan kemampuan.

27

14. Kelamin (genital) Gejala-gejalanya meliputi gangguan menstruasi, gangguan libido/kehilangan libido Nilai 0 jika tidak ada. Nilai 1 jika ada keluhan namun tidak mengganggu. Nilai 2 jika terdapat keluhan dan sudah mengganggu.

15. Hipokondriasis (perasaan dirinya sakit) Nilai 0 jika tidak ada. Nilai 1 jika mementingkan diri sendiri (secara fisik). Nilai 2 jika terjadi preokupasi (keterpakuan) mengenai kesehatan sendiri. Nilai 3 jika sering mengeluh membutuhkan orang lain. Nilai 4 jika terjadi delusi hipokondriasis.

16. Kehilangan berat badan Nilai 0 jika tidak ada. Nilai 1 jika terjadi penurunan berat badan yang mungkin berkaitan dengan sakit yang dialami sekarang. Nilai 2 jika terjadi penurunan berat badan yang nyata (menurut responden). 17. Pemahaman diri Nilai 0 jika reponden mengetaui dirinya sedang sakit atau mengalami depresi. Nilai 1 jika responden mengetahui dan mengakui dirinya sakit namun menghubungkan penyebabnya terhadap iklim, makanan, kerja yang berlebihan, virus, perlu istirahat dan lain-lain. Nilai 2 jika responden menyangkal sepenuhnya bahwa dirinya sedang sakit.

28

2.4 Kerangka Teori Kerangka teori dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Ibu dari anak penyandang retardasi mental

ss Stres

Gejala Depresi Pada Ibu

Gambar 2.1 Skema kerangka teori penelitian15,17

29

2.5 Kerangka Konsep Dalam penelitian ini peneliti telah menyusun kerangka konsep sebagai pedoman melakukan penelitian.

Tingkat Retardasi Mental Retardasi Mental Ringan Retardasi Mental Sedang Retardasi Mental Berat Retardasi Mental Sangat Berat Gejala depresi pada ibu

Gambar 2.2 Skema kerangka konsep penelitian 15,17