Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL PRAKTEK FALAK INDIVIDU

Dosen Pembimbing : Dra. Fauziah M.Hum

Disusun Oleh :

1. Rohadi ( 10160042 )

FAKULTAS SYARIAH JURUSAN JINAYAH SIYASAH IAIN RADEN FATAH PALEMBANG TAHUN AKADEMIK 2013 / 2014

KATA PENGANTAR Diawali dengan rasa syukur dan diiringi pujian kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan-Nya dan salam kepada pembawa risalah keislaman Nabi Muhammad SAW. Yang telah menyampaikan risalah tersebut kepada umat Manusia melalui sabda-sabda yang diucapkannya yang semuanya terbebas dari hawa nafsu saat mengucapkan sabdanya tersebut. Penulis berharap, dengan pengatar dapat membantu mahasiswa dalam memahami tentang beberapa hal yang berkaitan dengan Ilmu Falak, terutama bagi kaum muslimin dalam menjalankan kewajiban shalat lima waktu. Waktu-waktu shalat itu sudah ditentukan dan kita wajib melaksanakan pada waktunya.Nampaknya dalam menentukan awal-awal waktu shalat dan arah kiblat seluruh kaum muslimin sepakat sepenuhnya mengunakan hasil hisab. Sekiranya dalam menetukan awal waktu shalat tidak menggunakan hasil hisab / Ilmu Falak, maka sudah barang tentu banyak sekali kesulitannya. Misalnya setiap akan melakukan shalat Ashar, maka setiap kali pula kita harus membawa tongkat atau sebentuknya untuk mengukur bayang-bayangnya, atau setiap kali akan melakukan shalat Dzuhur maka setiap kali juga kita harus mengukur apakah matahari sudah tergelincir kesebelah Barat dalam edaran harinya. Sehingga dalam pengadaan Mata Kuliah Praktek Falak yang merupakan mata kuliah dasar umum (MKDU) dapat tercapai, yaitu agar mahasiswa dapat mengetahui dalam menentukan arah kiblat, kapan masuknya waktu shalat lima waktu, dan bayang-bayang arah kiblat. Sebagai suatu Ilmu Pengetahuan untuk mempelajari yang berkaitan dengan Ilmu Falak. Palembang, Juni 2013

BAB I KETENTUAN UMUM

A. LATAR BELAKANG

Tenaga-tenaga yang berminat dan terampil dalam bidang Ilmu Falak praktis ditengah-tengah masyarakat sangat kurang.Adanya kecendrungan masyarakat untuk menyerahkan penentuan arah kiblat pembangunan Masjid atau Langgar dan Mushollah sepenuhnya diserahkan kepada tokoh-tokoh dalam kalangan mereka sendiri, ternyata banyak terdapat perbedaan, yang belakangan diketahui bahwa penentuan arah kiblatnya kurang tepat. Selain itu, kompas arah kiblat yang dimiliki dan dipakai pada kalangan masyarakat sekarang ini banyak sekali terdapat kelemahannya.Misalnya, dari segi pencantuman data yang dimuat dalam buku pedoman masing-masing ternyata berbeda.Disamping itu ketepatannya sangat diragukan. Kemudian dari pada itu bembinaan terhadap tenaga-tenaga yang berminat dalam bidang Ilmu Falak praktis perlu dibekali dengan metode yang lebih akurat dalam menetukan arah kiblat ini. Demikian juga halnya bagi kaum Muslimin dalam menjalankan kewajiban shalat lima waktu. Waktu-waktu shalat itu sudah ditentukan dan kita wajib melaksanakannya tepat pada waktunya.Nampaknya dalam menentukan awal-awal waktu shalat dan arah kiblat seluruh kaum muslimin sepakat sepenuhnya menggunakan hasil hisab / Ilmu Falak, maka sudah barang tentu banyak sekali kesulitannya. Misalnya setiap kali akan melakukan shalat ashar, maka setiap kali pula kita harus membawa tongkat atau sebentuknya untuk mengukur bayang-bayangnya, atau setiap kali akan melakukan shalat Dzuhur maka setiap kali juga kita harus mengukur apakah matahari telah menggelincir kesebelah Barat dalam edaran harinya.

Mata kuliah praktek Falak di Fakultas Syariah IAIN Raden Fatah Palembang masih terbatas untuk menuntut mahasiswa untuk memperhatikan ketetapan hasil awal waktu shalat dan arah kiblat secara Empiris sebagai sarana Latihan dengan mengamati langsung dan membuktikan hasil perhitungan yang selanjutnya akan menjadi pegangan dalam membuat jadwal waktu shalat dan menentukan arah kiblat. Oleh karena itu praktek Falak ini merupakan salah satu sarana yang sangat penting untuk menguji kemampuan dalam menghitung awal waktu shalat dan arah kiblat. Karena ilmu ini sudah sangat langkah untuk dipelajari.
B. TUJUAN

Mahasiswa mampu memperlihatkan ketepatan hasil perhitungan awal waktu shalat dan arah kiblat secara empiris. C. ALAT-ALAT YANG PERLU DISEDIAKAN 1. Tongkat Istiwak 2. Kompas Magnetik 3. Jam Petunjuk Waktu 4. Kalkulator Scientific 5. Water Pass 6. Busur Derajat 7. Pesawat Penerima Radio 8. Pensil, Spidol, dan Penggaris

D. PELAKSANAAN KEGIATAN

Pelaksaan perkuliahan Praktek Falak dibawah Koordinator Ibu Dra. Fauziah M.Hum, Drs. M. Teguh Shobri, dan Drs. Sunaryo. Pembagian ruang hanya merupakan sekat Tempat dan Waktu mendapatkan efektifitas pencapaian sasaran dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil, yang pada hakekatnya merupakan satu kesatuan.

Pelaksanaan dilakukan di Masjid As-Saada Desa Sakatiga Kec Indralaya Kab Ogan Ilir. Yang dimulai pada Pukul 07 : 30 selesai.

BAB II KEGIATAN PENDAHULUAN


A. KEGIATAN TATAP MUKA

1. Penjelasan pelaksanaan kegiatan praktek falak. 2. Latihan menghitung kembali awal waktu shalat, Azimuth kiblat dan bayangbayang benda tegak lurus kearah kiblat. 3. Latihan dan tugas kepada masing-masing individu. Kemudian setiap individu mengajukan rencana kerja (proposal) praktek falak terstruktur yang memuat : 1. Latar belakang 2. Tujuan 3. Alat-alat yang diperlukan 4. Waktu dan tempat 5. Pelaksanaan kegiatan 6. Rencana laporan
B. PERSIAPAN PRAKTEK TERSRTUKTUR

1. Menyiapkan peralatan dengan lingkaran luar bergaris tengah lingkaran kedua berukuran 16 cm dan lingkaran ketiga berukuran 2. Menyiapkan tongkat istiwak berukuran cm.

20 cm, 12 cm.

3. Dipelataran dibuat empat arah angin, yang masing-masing dihubungkan dengan garis lurus. 4. Melukis arah kiblat dari titik Utara kea rah Barat dengan sudut sebesar 65 28 (azimuth kiblat Palembang)

BAB III KEGIATAN DILAPANG TERSTRUKTUR

A. PEDOMAN UMUM

1. Letakkan peralatan pada tempat yang memungkinkan mendapat sinar matahari secara langsung mulai pagi hari hingga petang hari. 2. Peralatan yang dimaksud diletakkan pada posisi permukaan yang datar dengan menggunakan waterpass dan peralatan di letakkan menunjuk kearah Utara dengan menggunakan kompas magnetik. 3. Tancapkan tongkat istiwak tegak lurus dipusat pelataran dengan menggunakan waterpass atau menggunakan bandul / unting-unting. 4. Atau sebagai pengganti poin 3 di atas dengan menggunakan bandul / untingunting bertali agak kasar yang ditegakkan / atau digantung pada tripot.
B. PEDOMAN KHUSUS

Kegiatan dilapangan terstruktur ini dikandung mencapai 3 sasaran yaitu: 1. Menentukan Titik Utara Sejati, Untuk Melukiskan Arah Kiblat Dari Titik Utara Sejati (AKTUS). a. Dipermukaan pelataran tersedia lebih dari dua lingkaran dengan jari-jari yang berbeda dan semuanya berpusat pada pangkal tongkat istiwak. b. Amati dengan teliti bayang-bayang tongkat berapa jam sebelum tengah hari. Pada mulanya bayang-bayang akan menunjuk kerah Barat, apabila bayang-bayang menyentuh garis-garis lingkaran yang tersedia maka berilah titik yang jelas. Semakin lama maka bayang-bayang akan semakin pendek dan selanjutnya akan semakin panjang kearah Timur. c. Setelah kedua ujung, sentuhkan kedua ujung bayang-bayang kelingkaran itu lalu beri tanda titik. Lalu hubungkan dua titik yang berjari-jari sama.

d. Buatlah garis tegak lurus pada garis yang menunjuk arah Barat-Timur tepat melalui pusat pelataran hingga memotongnya, maka lukislah garis yang menunjukkan arah Utara-Selatan. Titik utara yang diperoleh disebut titik Utara Sejati. e. Dari titik utara sejati ini dapat dilukis arah kiblat dengan sudut sebesar 65 28 (Menurut hitungan azimuth) ketitik Barat. f. Kemudian bandingkan dengan lukisan arah Barat kiblat dari titik Utara berdasarkan kompas magnetik dengan sudut sebesar 65 28 juga dari titik Utara kearah Barat. 2. Untuk Melukiskan Arah Kiblat Berdasarkan Bayang-bayang (AKB) a. Perhatikan dengan teliti bayang-bayang tongkat istiwak saat sesuai dengan hitungan bayang-bayang menunjuk ke kiblat. b. Garis lurus yang menghubungkan titik tersebut kepangkal tongkat itu merupakan sebuah lukisan arah kiblat berdasarkan bayang-bayang. Selanjutnya bandingkan pula dengan arah kiblat dari titik Utara kompas. Dengan demikian, lukisan arah kiblat yang diperoleh ada 3 macam: 1) Hasil lukisan arah kiblat berdasarkan dari titik Utara dengan menggunakan kompas magnetik (AKK) 2) Hasil lukisan arah kiblat berdasarkan dari titik Utara sejati (AKTUS) 3) Hasil lukisan arah kiblat berdasarkan bayang-bayang (AKB) 3. Untuk Memperlihatkan / Menyaksikan Secara Empiris Posisi Matahari Pada Saat Awal Shalat Dzhur Dan Awal Waktu Shalat Ashar. Sesuai dengan kaedah syarI bahwa waktu shalat dzhur itu apabila keadaan matahari dalam posisi li duluuki al-syamsi sesaat sesaat setelah posisi matahari dalam perjalanannya kearah Barat meninggalkan lingkaran Meridian Parage (MP), sedangkan awal waktu shalat ashar apabila bayang-bayang sudah sama panjangnnya dengan benda itu sendiri.

Hal itulah yang ingin dibuktikan dan disaksikan serta dihayati secara empiris apabila hasil perhitungan sesuai dengan posisi matahari seperti yang dikehendaki oleh syari. Misalnya hasil perhitungan awal waktu shalat Dzuhur pada tanggal 3 Maret 1991 Pukul 12:06 WIB untuk kota Palembang. Apakah pada Pukul 12:06 itu posisi matahari sudah dalam keadaan tergelincir ? Kalau posisinya sudah tergelincir bayang-bayang ujung tongkat sudah melewati garis Utara-Selatan dan condong kearah Timur, maka tentu kita akan lebih menghayati dan mungkin sampai ketingkat mayakini bahwa metode perhitungan yang kita pergunakan termasuk salah perhitungan yang akurat dan dapat diyakini kebenarannya dan untuk selanjutnya dapat dipedomi. Tetapi apabila ternyata perhitungan yang kita hasilkan posisi matahari belum dalam keadaan tergelincir, maka metode perhitungan yang kita pergunakan perlu ditanyakan keakuratannya, untuk itu maka: 1. Perhatikan dengan teliti bayang-bayang ujung tongkat istiwak yang telah diberi tanda pada saat sesuai dengan hasil perhitungan awal waktu shalat dzuhur dan awal waktu shalat ashar. 2. Pada saat sesuai dengan hasil perhitungan, maka diberi tanda titik pada ujung bayang-bayang ujung tongkat baik pada saat awal waktu shalat dzuhur atau awal waktu shalat ashar. Kemudian saksikan dengan teliti, apakah tanda titik saat awal waktu shalat dzuhur itu sudah dalam keadaan posisi tergelincir atau belum. Bila tanda titik tersebut sudah berada disebelah Timur dari garis UtaraSelatan, maka keadaan yang demikian berarti posisi matahari sudah tergelincir.Tetapi apabila titik tadi belum melintasi garis-garis Utara-Selatan, maka berarti posisi matahari pada saat itu belum tergelincir. Jika kemungkinan kedua itu dapat terjadi, maka kemungkinan itu dapat disebabkan:

a) Posisi garis Utara-selatan yang dipandu oleh kompas magnetik menunjuk ke Utara maka perlu diteliti ulang. b) Posisi pelataran yang kurang mendatar. c) Posisi tongkat istiwak yang kurang tegak lurus. 3. Hal yang hampir sama dengan diatas untuk memperhatikan posisi bayangbayang tongkat ketika saat awal waktu shalat Ashar. Untuk awal waktu shalat Ashar kita bandingkan panjang bayang-bayang tongkat ketika saat awal waktu shalat Ashar dengan panjang tongkat. Jika panjang bayang-bayang minimal sudah sama dengan panjang tongkat. Berarti saat itu sudah masuk waktu shalat Ashar dan hasil perhitungannya benar, tetapi jika panjang bayang-bayang belum sama dengan panjang tongkatnya, maka belum masuk waktu shalat Ashar, dan hasil perhitungan dipertanyakan. Untuk lebih jelasnya panjang bayang-bayang pada awal waktu shalat Ashar adalah panjang bayang-bayang matahari pada awal waktu shalat Dzuhur di tambah panjang tongkat. Apabila hasil perhitungan kedua shalat ini dapat dibuktikan kebenarannya, maka waktu shalat yang lain tidak perlu dibuktikan lagi (rumusnya sama).

BAB IV LAPORAN KEGIATAN

Setelah melaksanakan kegiatan praktek falak individu, maka kegiatan selanjutnya melaporkan hasil kegiatan praktek falak individu dengan tujuan untuk lebih menghayati cara kerja dan hasil kerja pelaksanaan penentuan arah kiblat dan lebih menyakini hasil perhitungan awal waktu shalat melalui metode perhitungan yang digunakan. Laporan yang dimaksud memuat : 1. Bagian pertama: pendahuluan, berisikan pemasalahan arah kiblat dan cara menentukannya 2. Bagian kedua: berisikan pelaksanaan kegiatan praktek falak terstruktur. 3. Bagian ketiga: analisa hasil perhitungan dalam praktek lapangan: baik analisa mengenai hasil lukisan arah kiblat, maupun analisa hasil waktu shalat, misalnya mengenai arah kiblat dari titik Utara sejati dan berimpit atau berlainan dengan arah kiblat berdasarkan bayang-bayang benda tegak lurus. Apakah mungkin pelatarannya kurang datar / penempatan titik utara kompas kurang teliti / keadaan tongkat istiwak yang kurang tegak lurus baik untuk arah kiblat maupun untuk awal waktu shalat. 4. Bagian keempat: kesimpulan 5. Bagian Lima: proses / jalannya perhitungan Azimuth arah kiblat Awal waktu shalat Dzhur Awal Waktu shalat Ashar Saat bayang-bayang tegak lurus mengarah kekiblat

AZIMUTH KIBLAT KOTA PALEMBANG: Palembang : Bujur: 104 47 Lintang: -2 59 a. 90 - (-2 59) = 92 59 b. 90 - 21 25 = 68 35 c. 103 32 - 39 50 = 64 57 Cotan B = - cos a .cotan c - cos 92 59 cotan 64 57 - (-0.0520) 0.4674 + 0.0243 Makkah: Bujur: 39 50 Lintang: 21 25

Cotan B = = =

= 0.4323 + 0.0243 Cotan B = 0.4566 B = 65 27 30.82 U B B = 24 32 29.18 B U

BAYANG-BAYANG KIBLAT : Kota Palembang : Bujur: 104 47 Lintang: -2 59 Azimuth: 65 28 Jawab: Declination : 14 17 20 Equation Of Time :0 2 32

a. 90 -14 17 20= 75 42 40

b. 90 - (-2 59) = 92 59

(Rumus I) Cotan P = Cos b . Tan A = Cos 92 59 65 28 = -0.0520 = -0.1139 P = -83 30 7.25 2.1909

(Rumus II) Cos (C-P) = Cotan a . Tan b . Cos p = Cotan 75 42 40 59 = 0.2547 = -0.5532 (C-P) = 123 35 12.5 -19.1879 0.1132 Tan 92

Kemungkinan I (C-P) P C1 = 123 35 12.5 = -83 30 7.25 = 40 5 5.32 = 2 40 20.35 MP LMT SB = 11 57 28 + = 14 37 48.35 = 0 0 52 = 14 38 40.35 (Mungkin) +

Kemungkinan II (C-P) P C1 = -123 35 12.5 = -83 30 7.25 = -207 5 19.75 = -13 48 21.32 MP LMT SB = 11 57 28+ = -01 50 53.32 = 0 0 52 = -01 50 1.32 (Tidak Mungkin) +

AWAL WAKTU SHALAT DZUHUR : Bujur : 104 47 BT Lintang : -2 59 LS Deklinasi : 14 17 20 Equation Of Time : 0 2 32 Mp = 12 - (0 2 32) MP =11 57 28 SB = 105 - 104 47= 013:15 = 0 0 52

Dzuhur = MP SB + IHT = 11 57 28 + 0 0 52 + 0 1 0 = 11 59 20

AWAL WAKTU SHALAT ASHAR : Mencari Sin h Ashar : Cotan h= tan (p - d) + 1 = tan (-2 59 - 14 17 20) + 1 = tan -17 16 20 + 1 Cotan h = 0.3109 + 1 Cotan h = 1.3109 ha = 37 20 15.52 Cos t =(-tan -2 59 = 0.0521 tan 14 17 20) + (sec 2 59 sec 14 17 20 1.0319 0.6065 sin 37 20 15.52)

0.2547 + 1.0014

= 0.0133 + 0.6267 = 0.6400 = 50 12 29.45 : 15 = 3 20 49.96 = 11 57 28

= 0 0 52
= 0 1 0 +

= 15 20 9.96