Anda di halaman 1dari 37

1

BAB 1 KIMIA ATMOSFER

Kimia Atmosfer merupakan semua reaksi-reaksi kimia yang terjadi pada atmosfer bumi. Atmosfer sendiri terdiri dari lapisan tipis atas campuran gas-gas yang mengelilingi permukaan bumi. Gas-gas tersebut diantaranya 78,1% Nitrogen, 21% Oksigen, 0,9% Argon, dan 0,03% Karbondioksida. Umumnya udara mengandung 1-3% uap air dan beberapa lainnya merupakan gas buangan di bawah 0,002% seperti Ne, He, CH3, Cr, NO, Xe, SO2, O3, NO2, NH3, dan CO2.

Melalui gambar di atas, dapat diketahui tingkat lapisan-lapisan atmosfer bumi pada ketinggian tertentu berdasarkan perbedaan temperaturnya. Selain itu, dapat ditemukan pula

beberapa reaksi yang terjadi pada setiap tingkatan atmosfer beserta spesies yang dipengaruhi oleh fotoreaksi. Menurut prinsip Lee Chateleur, stratifikasi pada masing-masing tingkatan mampu menjelaskan perbedaan sifat fisik dan kimia pada tiap lapisan atmosfer. Troposfer: bila h, P, dan T, maka reaksi cenderung eksotermis dan katabolisme. Stratosfer: bila h, P, dan T, maka reaksi endotermis dan katabolisme. Mesosfer: bila h, P, dan T, maka reaksi menjadi lebih sulit dengan makin jarangnya terdapat tumbukan antar molekul. Termosfer: bila h, P, dan T, maka reaksi semakin sulit terjadi. Proses kimia atmosfer melibatkan partikel padat dan cair dalam fase aerosol (awan) sebagai sumber dan buangan untuk spesies fase gas, tempat terjadinya reaksi padatan pada permukaan, serta sebagai kumpulan dari reaksi fase cair. Reaksi Fotokimia merupakan reaksi kimia sebagai akibat dari penyerapan foton cahaya oleh spesies kimia, khususnya radiasi ultraviolet dari matahari untuk mengoksidasi komponen-komponen yang tak segera dioksidasi oleh oksigen. Reaksi ini dapat terjadi pada suhu/energi yang lebih rendah bila ditambahkan katalis di dalamnya. Nitrogen dioksida (NO2) merupakan salah satu spesies aktif secara fotokimia yang ditemukan pada atmosfer tercema dan berperan penting dalam proses terbentuknya smog (kabut). NO2 dapat menyerap cahaya energi hv yang menghasilkan molekul elektronik tereksitasi yang bersifat sangat radikal (NO2*). Reaksinya dapat dilihat sebagai berikut:

Beberapa reaksi fotokimia yang terjadi di atmosfer ditunjukkan sebagai berikut: 1. Pelepasan energi ke molekul atau atom lain melalui proses physical-quenching yang diikuti oleh pemancaran energi sebagai panas O2* + M O2 + M 2. Disosiasi molekul yang tereksitasi O2* O+O

3. Transfer energi inter-molekuler O2* + Na O2 + Na* 4. Transfer energi intra-molekuler XY* XY^ (kondisi tereksitasi yang lain dari molekul yang sama)

5. Isomerisasi spontan; nitrobenzaldehid menjadi asam nitroso-benzoat

6. Fotoionisasi dengan hilangnya elektron N2* N2+ + eEnergi inframerah yang diserap oleh molekul-molekul di udara pada akhirnya dilepaskan sebagai panas yang mengakibatkan meningkatnya suhu udara. 7. Reaksi langsung dengan molekul lainnya O2* + O3 2 O2 + O 8. Luminescence ialah hilangnya energi karena adanya emisi radiasi elektromagnetik NO2* NO2 + hv (berperan dalam proses pembentukan smog)

Di atmosfer terdapat ion dan radikal dalam jumlah yang banyak. Pada lapisan atmosfer bagian atas, baik ion positif maupun ion negatifnya bersifat stabil karena seperti yang disebutkan pada prinsip Lee Chateleur bahwa semakin tinggi suatu lapisan tersebut, maka tekanan yang ada menjadi semakin rendah sehingga tumbukan antar molekul ion ataupun radikal menjadi jarang dan bahkan sulit terjadi. Salah satu penyebab suatu molekul ataupun atom menjadi sangat radikal diakibatkan oleh reaksi terhadap cahaya ultraviolet dengan intensitas tinggi. Pada lapisan troposfer, terbentuk pula ion-ion dari fenomena gesekan titik-titik air dan kompresi selama presipitasi akibat fenomena turunnya massa udara dingin maupun adanya angin panas yang kuat (Fenomena Foehn/Sharav/Santa Ana).

BAB 2 EMISI GAS KARBONMONOKSIDA 2.1 Pendahuluan Keracunan gas karbon monoksida (Carbon Monoxide)/gas CO [kode penyakit T. 58 ICD-10 tahun 1992] menyebabkan hipoksia jaringan tubuh sehingga membahayakan kesehatan manusia. Kejadian ini pertama kali dilaporkan oleh Claude Bernard. Di Amerika Serikat, gas CO merupakan penyebab tersering keracunan di dunia industri. Diperkirakan terjadi 3500-3800 kematian dan 10.000 kematian akibat keracunan gas CO setiap tahunnya. Gas CO dihasilkan dari proses pembakaran tidak sem purna bahan organik, baik dalam alur pengolahan hasil jadi industri/occupational, ataupun proses di alam lingkungan/ environment. Industri menyumbang kira-kira 20% dari total gas CO yang ada, antara lain dari gas emisi mesin pembakar dalam (internal engine) yang menggunakan bahan bakar berkarbon, dari peleburan baja dan besi, generator disel. Sedangkan dari lingkungan berasal dari asap rokok (kira-kira 4% dari total gas CO di udara), asap knalpot mobil di jalan raya yang sibuk dan peristiwa kebakaran. Gejala klinis awal keracunan gas CO tidak khas, menyerupai banyak gejala penyakit lain, seperti sakit kepala, mual dan pening, gejala seperti flu kadang pula didiagnosis sebagai sindrom viral. Karena itu lebih banyak kasus tidak dilaporkan akibat tidak dikenali/tidak terdiagnosis dibandingkan yang berhasil ditangani. Dengan kejadian seperti di atas maka adalah kewajiban dokter ahli okupasi di Indonesia untuk mampu mengenali dan menangani keracunan gas CO, mengingat dampak buruknya bagi kesehatan pekerja yang dapat menurunkan produktivitas produksi.

2.2 Karakteristik gas CO Gas tidak berwarna, tidak berbau; merupakan salah satu gas pencemar udara penting di lapisan bawah atmosfer. Keberadaannya dilingkungan bekerja tidak segera diketahui karena sifat tersebut. Bila terdapat dalam jumlah konsentrasi cukup besar, gas ini akan bersifat racun (Chemical asphy-xiant). Selain dihasilkan oleh pembakaran tidak sempurna di luar tubuh, gas CO juga dihasilkan dalam jumlah kecil (kurang dari 0,5%)(4,5) dari katabolisme normal cincin protoporfirin hemoglobin di dalam tubuh dan tidak toksik bagi tubuh.

Gambar 1. Proses pembakaran yang menghasilkan gas CO(1). Dikutip dari : School of Medicine. Carbon Monoxide Head Quarter, 1999.

Molekul CO memiliki panjang ikat 0,1128 nm. Perbedaan muatan formal dan elektronegativitas saling meniadakan, sehingga terdapat momen dipol yang kecil dengan kutub negatif di atom karbon walaupun oksigen memiliki elektronegativitas yang lebih besar. Alasannya adalah orbital molekul yang terpenuhi paling tinggi memiliki energi yang lebih

dekat dengan orbital p karbon, yang berarti bahwa terdapat rapatan elektron yang lebih besar dekat karbon. Selain itu, elektronegativitas karbon yang lebih rendah menghasilkan awan elektron yang lebih baur, sehingga menambah momen dipol. Ini juga merupakan alasan mengapa kebanyakan reaksi kimia yang melibatkan karbon monoksida terjadi pada atom karbon, dan bukannya pada atom oksigen.

Panjang ikatan molekul karbon monoksida sesuai dengan ikatan rangkap tiga parsialnya. Molekul ini memiliki momen dipol ikatan yang kecil dan dapat diwakili dengan tiga struktur resonansi:

Resonans paling kiri adalah bentuk yang paling penting. Hal ini diilustrasikan dengan reaktivitas karbon monoksida yang bereaksi dengan karbokation.

Dinitrogen bersifat isoelektronik terhadap karbon monoksida. Hal ini berarti bahwa molekul-molekul ini memiliki jumlah elektron dan ikatan yang mirip satu sama lainnya. Sifat-sifat fisika antara N2 dan CO sangat mirip, walaupun CO lebih reaktif.

2.3. Sumber Karbonmonoksida Karbon monoksida dapat terjadi di berbagai lingkungan, baik secara alamiah dan buatan (artifisial). Konsentrasi gas karbon monoksida berikut dalam ppm dapat ditemui dari:

Gambar 2 : Karbon monoksida global dari MOPITT tahun 2000

Karbon monoksida, walaupun dianggap sebagai polutan, telah lama ada di atmosfer sebagai hasil produk dari aktivitas gunung berapi. Ia larut dalam lahar gunung berapi pada tekanan yang tinggi di dalam mantel bumi. Kandungan karbon monoksida dalam gas gunung berapi bervariasi dari kurang dari 0,01% sampai sebanyak 2% bergantung pada gunung berapi tersebut. Oleh karena sumber alami karbon monoksida bervariasi dari tahun ke tahun, sangatlah sulit untuk secara akurat menghitung emisi alami gas tersebut.

Karbon monoksida memiliki efek radiative forcing secara tidak langsung dengan menaikkan konsentrasi metana dan ozon troposfer melalui reaksi kimia dengan konstituen atmosfer lainnya (misalnya radikal hidroksil OH-) yang sebenarnya akan melenyapkan metana dan ozon. Dengan proses alami di atmosfer, karbon monoksida pada akhirnya akan teroksidasi menjadi karbon dioksida. Konsentrasi karbon monoksida memiliki jangka waktu pendek di atmosfer.

CO antropogenik dari emisi automobil dan industri memberikan kontribusi pada efek rumah kaca dan pemanasan global. Di daerah perkotaan, karbon monoksida, bersama dengan aldehida, bereaksi secara fotokimia, meghasilkan radikal peroksi. Radikal peroksi bereaksi dengan nitrogen oksida dan meningkatkan rasio NO2 terhadap NO, sehingga mengurangi jumlah NO yang tersedia untuk bereaksi dengan ozon. Karbon monoksida juga merupakan konstituen dari asap rokok.

2.4. Patofisiologi keracunan gas CO Gas CO masuk ke paru-paru inhalasi, mengalir ke alveoli, terus masuk ke aliran darah. Gas CO dengan segera mengikat hemoglobin di tempat yang sama dengan tempat oksigen mengikat hemoglobin, untuk membentuk karboksihemoglobin (COHb). Ikatan COHb bersifat dapat pulih/reversible. Mekanisme kerja gas CO di dalam darah: 1. Segera bersaing dengan oksigen untuk mengikat hemoglobin. Kekuatan ikatannya 200-300 kali lebih kuat dibandingkan oksigen. Akibatnya, oksigen terdesak dan lepas dari hemoglobin sehingga pasokan oksigen oleh darah ke jaringan tubuh berkurang, timbul hipoksia jaringan.

10

2. COHb mencampuri interaksi protein heme, menyebabkan kurva penguraian HbO2 bergeser kekiri (Haldane effect). Akibatnya terjadi pengurangan pelepasan oksigen dari darah ke jaringan tubuh. Proses terpenting dari keracunan gas CO terhadap sel adalah rusaknya metabolisme rantai pernafasan mitokondria, menghambat komplek enzim sitokrom oksidase a3 sehingga oksidasi mitokondria untuk menghasilkan Adenosine Tri Posfat (ATP) berkurang. Ekskresi gas CO terutama melalui respirasi, dimetabolisme menjadi karbon dioksida (CO2), tidak lebih dari 1%. Ada tiga mekanisme yang menyebabkan cedera pada trauma inhalasi, yaitu kerusakan jaringan karena suhu yang sangat tinggi, iritasi paru-paru dan asfiksia. Hipoksia jaringan terjadi karena sebab sekunder dari beberapa mekanisme. Proses pembakaran menyerap banyak oksigen, dimana di dalam ruangan sempit seseorang akan menghirup udara dengan konsentrasi oksigen yang rendah sekitar 10-13%. Penurunan fraksi oksigen yang diinspirasi (FIO2) akan menyebabkan hipoksia. Keracunan karbonmonoksida dapat menyebabkan turunnya kapasitas transportasi oksigen dalam darah oleh hemoglobin dan penggunaan oksigen di tingkat seluler. Karbonmonoksida mempengaruhi berbagai organ di dalam tubuh, organ yang paling terganggu adalah yang mengkonsumsi oksigen dalam jumlah besar, seperti otak dan jantung. Beberapa literatur menyatakan bahwa hipoksia ensefalopati yang terjadi akibat dari keracunan CO adalah karena injuri reperfusi dimana peroksidasi lipid dan pembentukan radikal bebas yang menyebabkan mortalitas dan morbiditas. Efek toksisitas utama adalah hasil dari hipoksia seluler yang disebabkan oleh gangguan transportasi oksigen. CO mengikat hemoglobin secara reversible, yang menyebabkan anemia relatif karena CO mengikat hemoglobn 230-270 kali lebih kuat

11

daripada oksigen. Kadar HbCO 16% sudah dapat menimbulkan gejala klinis. CO yang terikat hemoglobin menyebabkan ketersediaan oksigen untuk jaringan menurun. CO mengikat myoglobin jantung lebih kuat daripada mengikat hemoglobin yang menyebabkan depresi miokard dan hipotensi yang menyebabkan hipoksia jaringan.Keadaan klinis sering tidak sesuai dengan kadar HbCO yang menyebabkan kegagalan respirasi di tingkat seluler. CO mengikat cytochromes c dan P450 yang mempunyai daya ikat lebih lemah dari oksigen yang diduga menyebabkan defisit neuropsikiatris. Beberapa penelitian mengindikasikan bila CO dapat menyebabkan peroksidasi lipid otak dan perubahan inflamasi di otak yang dimediasi oleh lekosit. Proses tersebut dapat dihambat dengan terapi hiperbarik oksigen. Pada intoksikasi berat, pasien menunjukkan gangguan sistem saraf pusat termasuk demyelisasi substansia alba. Hal ini menyebabkan edema dan dan nekrosis fokal. Penelitian terakhir menunjukkan adanya pelepasan radikal bebas nitric oxide dari platelet dan lapisan endothelium vaskuler pada keadaan keracunan CO pada konsentrasi 100 ppm yang dapat menyebabkan vasodilatasi dan edema serebri. CO dieliminasi di paru-paru. Waktu paruh dari CO pada temperatur ruangan adalah 3 - 4 jam. Seratus persen oksigen dapat menurunkan waktu paruh menjadi 30 90 menit, sedangkan dengan hiperbarik oksigen pada tekanan 2,5 atm dengan oksigen 100% dapat menurunkan waktu paruh samapai 15-23 menit. a) Batas pajanan gas CO dalam 8 jam kerja/hari atau 48 jam/minggu. Permissive Exposure Limit (PEL) OSHA : 35 ppm TWA Recommended Exposure Limit (REL) NIOSH : 50 ppm TWA Treshold Limit Value (TLV) ACGIH : 25 ppm TWA Menurut OSHA di Amerika Serikat, pekerja dapat mentoleransi pajanan hingga 100 ppm/8 jam/hari. Protokol HOME, menyebutkan bila terpajan > 36 ppm/8 jam/hari sudah

12

harus dilakukan pemeriksaan kesehatan pekerja. Semua pintu dan tempat bekerja harus dibuka. Pembentukan COHb menyebabkan Hb mengikat oksigen lebih ketat. Kurva penguraian oksigen bergeser kekiri, berarti tekanan oksigen jaringan berada pada tingkat terendah. Tekanan oksigen menggambarkan jumlah oksigen di dalam jaringan. Tabel 1. Efek pajanan gas CO(7)

13

Dikutip dari: Cardiovascular Disorders. Occupational Disorders by System. Theriault GP. In: Occupational Health Recognizing Preventing Work-related Disease. 1995. p.565.

b) Pekerjaan risiko tinggi terpajan gas CO. 1. Operator peleburan/tungku api. 2. Pekerja bengkel. 3. Anggota Pemadam Kebakaran yang telah selesai memadamkan kebakaran. 4. Pekerja yang menggunakan bahan pelarut Metil Klorida, di pengolahan kayu furniture, pabrik fiber sintetis, plastik,pembuatan film foto, bahan cat. Bila terpajan secara inhalasi akan dimetabolisme di hepar menjadi gas CO. 5. Polisi lalu lintas di jalan raya yang padat akibat gas buangan knalpot motor dan mobil. 2.5. Dampak bagi Manusia Darah normal mengandung 20 vol % oksigen, sebesar 18 vol % mengikat hemoglobin dan 2 vol % larut di dalam plasma. Dari 18 vol % oksigen tersebut, otak/sistim neurologi menerima bagian 6,1 vol % dan jantung/sistim kardiovaskular mendapat 11,0 vol % oksigen. Sehingga pada keracunan gas CO yang menyebabkan hipoksia jaringan, kedua sistim organ ini terganggu lebih awal dan menerima dampak buruk yang berat. Gejala klinik yang timbul, tergantung derajat pajanan gas CO, aktivitas fisik saat menerima pajanan dan kondisi kesehatan pekerja sebelumnya. 1) Gangguan Kardio-Vaskuler. Patogenesis Gas CO yang berada di jaringan ekstravaskuler (10-15%) mengikat mioglobin, sitokrom P 450 dan enzim sitokrom oksidase a3 mitokondria miokardium menyebabkan hasil oksidasi mitokondria berupa ATP (Adenosin Tri Posfat) berkurang. ATP merupakan bahan sangat penting bagi aktivitas neuron dan miokardium, sehingga daya kontraktil miokardium

14

menurun, terjadi hipotensi, aritmia ventrikuler dan dapat terjadi mati mendadak (sudden death). Pada keadaan normal, miokardium menghasilkan asam piruvat dan asam laktat sebagai hasil oksidasi sirkulasi koroner. Bila kadar COHb mencapai 10%, miokardium gagal melepas kedua asam ini karena daya kontraktil menurun, sebagai akibat gangguan produksi ATP, terjadi asidosis laktat. Pada saat hipoksia jaringan tubuh, jantung harus lebih banyak memasok darah dengan meningkatkan denyut dan curah jantung (cardiac output). Arteri koroner harus lebih banyak mengirim oksigen ke jantung, mengurangi kebutuhan otak sehingga otak dapat mengalami iskemi serebelum. Pekerja penderita penyakit koroner (CAD) akan lebih cepat mengalami hipoksia, lebih mudah mengalami serangan angina, terjadi peningkatan depresi gelombang ST walau dengan pajanan dosis rendah gas CO. Efek hemodinamik beragam, tersering adalah takikardi dan hipotensi. Infarkmiokard dapat terjadi bila saat terpajan gas CO sedang bekerja berat. Kardiomiopati dengan pembesaran jantung dan Congestive Heart Failure (CHF) sering dialami pekerja yang menerima pajanan kronis gas CO berkonsentrasi lebih dari 30%.

15

Gambar 3. Akibat pajanan gas CO pada sistim Kardio-vaskuler

Dikutip dari: Cardiovascular Toxicology. In: Occupational & Environmental Medicine. J. LaDou (editor), 1997. P. 331. 2) Komplikasi Neurologi. Otak sangat peka dengan keracunan gas CO, karena menyebabkan hipoksia serebral. Kerusakan otak terlokalisir, yaitu pada daerah gray matter, globus pallidus basal ganglia, hippocampus, white matter,substansia nigra dan cortex. Lesi white matter berupa demielinisasi, akibatnya pengiriman besi nonheme dari aksonal terganggu, terjadilah penumpukan besi di talamus, putamen dan kauda. Patogenesis

16

Keracunan gas CO pada susunan saraf pusat dapat menyebabkan Parkinsonisme, yaitu gejala mirip penyakit Parkinson, yaitu terjadi tremor, kekakuan, bradikinesia dan cara berjalan yang tidak stabil. Teori terjadinya adalah akibat terganggunya sel output, sejenis sel di dalam globus pallidus basal ganglia, terjadi hiper intensitas simetri bilateral pada globus pallidus akibat hipoksia atau kekurangan energi pada basal ganglia dan terjadi hispotensi sistemik. Gas CO juga mengganggu metabolisme neurotransmitter dopamin, yang berperan penting pada sistim transmiter katekolamin (chatecolaminergic system), sehingga kerjanya terlambat, terjadilah gerakan kaku dan bradikinesia. Selain dopamin terdapat epinefrin, yang bekerja sama di dalam sistem trans-miter katekolamin, suatu sistem terpenting bagi komunikasi antar bagian otak. Keracunan gas CO juga mengganggu neurotransmitter lain, seperti serotonin, asam amino gaba butirat (GABA), yang pada percobaan binatang berkorelasi dengan penyimpangan perangai. Gejala Klinik. Keracunan ringan Sakit kepala berdenyut di pelipis yang khas, akibat refleks vasodilatasi jaringan SSP yang hipoksia. Keracunan berat Tremor tidak menetap, korea, spastik, distonia, kekakuan dan bradikinesia (gerakan pelan yang tidak normal). Gagal fungsi pengertian (cognitive impairment), gangguan keseimbangan, gangguan fungsi penglihatan dan pendengaran,koma dan kematian. Keracunan akut Kematian segera, karena edema menyeluruh jaringan otak. Long term-sequele

17

Gangguan neuropsikiatri, berupa dementia, psikosis dan manik depresi. Efek lambat ini berhubungan dengan lesi white matter hipotesanya adalah berubahnya fungsi membran akibat pajanan terus-menerus. Dapat timbul pada awal keracunan atau beberapa hari/minggu setelah masa penyembuhan. Kerusakan ini merupakan hasil kombinasi keadaan hipoksia, hipoperfusi, vasodilatasi dan edema serebral yang menyebabkan penurunan pasokan dan penggunaan glukosa, sehingga timbul asidosis setempat. Tabel 2. Gejala Neurologi akibat keracunan gas CO

3) Komplikasi Paru. Pada keracunan berat gas CO, akan terjadi edema paru dan perdarahan; edema dapat sebagai akibat targanggunya fungsi ventrikel kiri atau langsung sebagai akibat hipoksia parenkhim paru-paru; dapat terjadi gagal napas. Gejala yang lebih ringan berupa dispneu, takhipneu dan nafas pendek. 2.6. MONITORING BIOLOGIS Saturasi COHb tergantung faktor yang mempengaruhi penggabungan, penguraian dan ekskresi gas CO. Pada suhu tubuh dan pH normal, daya ikat COHb 200-300 kali lebih kuat daripada ikatan oksigen dengan hemoglobin. Pada tekanan parsial gas CO 1/220 (rata-

18

rata) tekanan partial O2, atau 1% gas CO di udara, maka keseimbangan darah akan 50% Hb diikat gas CO dan 50% diikat O2; ikatan Hb dengan gas CO terutama tergantung pada tekanan parsial gas CO di dalam udara inspirasi dan ventilasi udara permenit. Penguraian tergantung pada aliran darah paru, ventilasi alveolar dan tekanan partial O2 di dalam alveoli. Untuk pajanan gas CO konsentrasi tinggi > 100 ppm, pembentukan COHb di dalam darah berhubungan dengan konsentrasi CO inhalasi, lama pajanan dan ventilasi permenit. Dengan rumus Coburn and Foster: % COHb = CO udara x KT CO udara = Konsentrasi udara gas CO dalam ppm. K = Konstanta, tergantung aktivitas fisik (ventilasi/menit) 0,018 pada saat istirahat (ventilasi 6 liter/menit) 0,048 pada kerja ringan (ventilasi 18 liter/menit) T = Waktu dalam jam. Untuk mengukur COHb di dalam darah setelah pajanan singkat gas CO konsentrasi tinggi, dapat diperkirakan dengan hubungan linier model Coburn-Foster-Kane equation: % COHb = {3.317 x 10-5} {ppm CO}1.03 {RMV} {t} ppm CO = Konsentrasi udara CO di dalam paru-paru RMV = Respiratory Minute Volume, volume udara nafas dalam Liter/menit. T = Waktu pajanan dalam menit. a.Laboratorium 1) Mengukur kadar COHb di dalam darah sesegera mungkin, untuk menetapkan diagnosis keracunan gas CO. Contoh darah dapat diambil dari darah arteri atau vena, diukur dengan spektrometer [CO-Oximeter]. 2) Mengukur kadar COHb udara ekspirasi. Walau kurang akurat, sangat menolong di lapangan, misalnya memeriksa kadar COHb petugas pemadam kebakaran setelah

19

memadamkan api. Diukur dengan cara khromatografi, udara pernapasan ditampung di dalam kantong, dan kadar CO ditentukan dengan detektor, perubahan ionisasi sesudah hidralasi katalik dengan Tomethane. b. Pencegahan 1) Menyempurnakan proses pembakaran dengan selalu memelihara fungsi mesin pembakar. 2) Ventilasi yang baik pada tempat bekerja. 3) Mengukur keberadaan gas CO secara teratur di lingkungan bekerja.

20

BAB 3 EMISI GAS KARBONDIOKSIDA 3.1. Pendahuluan Masalah lingkungan hidup dewasa ini makin memerlukan perhatian. Manusia memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada di lingkungannya untuk hidup. Kita mengambil makanan dari apa yang tumbuh dan hidup di darat dan di air. Kita menghirup oksigen dari udara. Kita menggunakan batu bara, minyak dan bahan alam lainnya untuk menghasilkan energi ataupun untuk menjalankan pabrik-pabrik. Pabrik-pabrik itu menghasilkan barang-barang yang berguna untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan manusia. Namun dibalik itu ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian serius dari kita, yakni hasil buangan dari pabrik tersebut yang berupa gas kabondioksida. Lalu apa yang dapat dilakukan? Pertama perlu kita pahami bahwa proses kehidupan, industri dan kegiatan manusia berkaitan dengan perubahan kimia yang dapat dikendalikan. Demikian pula proses pengolahan limbah oleh alam merupakan proses kimia yang berlangsung sesuai dengan hukum-hukum kimia. Jadi, dengan ilmu kimia kita dapat membantu alam dalam mengolah limbah itu dalam mendukung kegiatan kita. Pada makalah ini akan dibahas mengenai salah satu pencemar yang ada di udara, yakni gas karbondioksida, proses terbentuknya dan akibat-akibat yang ditimbulkan gas tersebut. Senyawa CO2 adalah gas atmosfer yang terdiri dari satu atom karbon dan dua atom oksigen. Karbondioksida adalah hasil dari pembakaran senyawa organic jika cukup jumlah oksigen yang ada. Juga dihasilkan oleh berbagai mikroorganisme dalam fermentasi dan dihembuskan oleh hewan. Tumbuhan menyerap karbondioksida selama fotosintesis, memakai baik karbon maupun oksigen untuk membuat karbohidrat. Hadir di atmosfer bumi

21

dengan konsentrasi rendah dan bertindak sebagai gas rumah kaca. Adalah bagian utama dari siklus karbon. Gambar 5 : Siklus Karbon

3.2. Karakteristik gas CO2 Karbondioksida adalah gas yang terdiri dari satu atom karbon dan dua atom oksigen. Struktur karbondioksida (CO2 ) dapat digambarkan sebagai berikut :

O C O
Molekul karbondioksida terdiri dari dua ikatan rangkap dan mempunya bentuk linear. Ia tidak mempunyai dipolar elektrik. Apabila teroksida sepenuhnya, ia tidak aktif dan tidak mudah terbakar. karbondioksida dapat dibuat dari pembakaran bahan organic apabila cukup oksigen. Kabondioksida juga dihasilkan oleh mikroorganisme hasil dari proses peragian dan respirasi. Karbondioksida dan oksigen dapat digunakan untuk menghasilkan

22

karbohidrat. Tumbuhan membebaskan O2 ke atmosfer dan akhirnya digunakan untuk pernafasan oleh organisme heterotrofik. Karbondioksida merupakan gas tak berwarna, apabila dihirup pada dosis yang tinggi (aktivitas berbahaya disebabkan resiko sesak nafas), menghasikan rasa asam dalam mulut dan rasa menyengat di hidung dan tenggorokan. Kesan ini disebabkan oleh gas yang larut dalam selaput mucus dan air liur, membentuk larutan cair asam karbonik. Kepadatannya pada suhu 250C adalah 1,98 kg/m3, sekitar 1,5 kali kepadatan udara. Karbondioksida cair hanya terbentuk pada tekanan melebihi 5,1 atm; pada tekanan biasa ia bertukar antara bentuk gas dan padat secara langsung melalui proses yang dikenal sebagai sublimasi. Air akan meresap karbondioksida sama banyak dengan isinya. Sekitar 1 % dari karbondioksida terlarut bertukar menjadi asam karbonik. Asam karbonik selanjutnya berpisah sebagiannya untuk membentuk bikarbonat dan ion karbonat.

Bagian terbesar dari karbon yang berada di atmosfer Bumi adalah gas karbon dioksida(CO2). Meskipun jumlah gas ini merupakan bagian yang sangat kecil dari seluruh gas yang ada di atmosfer (hanya sekitar 0,04% dalam basis molar, meskipun sedang mengalami kenaikan), namun ia memiliki peran yang penting dalam menyokong kehidupan. Gas-gas lain yang mengandung karbon di atmosfer adalah metan dan kloroflorokarbon atau CFC (CFC ini merupakan gas artifisial atau buatan). Gas-gas tersebut adalah gas rumah kaca yang konsentrasinya di atmosfer telah bertambah dalam dekade terakhir ini, dan berperan dalam pemanasan global.

Karbon diambil dari atmosfer dengan berbagai cara:

23

1. Ketika matahari bersinar, tumbuhan melakukan fotosintesa untuk mengubah karbon dioksida menjadi karbohidrat, dan melepaskan oksigen ke atmosfer. Proses ini akan lebih banyak menyerap karbon pada hutan dengan tumbuhan yang baru saja tumbuh atau hutan yang sedang mengalami pertumbuhan yang cepat. 2. Pada permukaan laut ke arah kutub, air laut menjadi lebih dingin dan CO2 akan lebih mudah larut. Selanjutnya CO2 yang larut tersebut akan terbawa oleh sirkulasi termohalin yang membawa massa air di permukaan yang lebih berat ke kedalaman laut atau interior laut (lihat bagian solubility pump). 3. Di laut bagian atas (upper ocean), pada daerah dengan produktivitas yang tinggi, organisme membentuk jaringan yang mengandung karbon, beberapa organisme juga membentuk cangkang karbonat dan bagian-bagian tubuh lainnya yang keras. Proses ini akan menyebabkan aliran karbon ke bawah (lihat bagian biological pump). 4. Pelapukan batuan silikat. Tidak seperti dua proses sebelumnya, proses ini tidak memindahkan karbon ke dalam reservoir yang siap untuk kembali ke atmosfer. Pelapukan batuan karbonat tidak memiliki efek netto terhadap CO2 atmosferik karena ion bikarbonat yang terbentuk terbawa ke laut dimana selanjutnya dipakai untuk membuat karbonat laut dengan reaksi yang sebaliknya (reverse reaction).

Karbon dapat kembali ke atmosfer dengan berbagai cara pula, yaitu:

1. Melalui pernafasan (respirasi) oleh tumbuhan dan binatang. Hal ini merupakan reaksi eksotermik dan termasuk juga di dalamnya penguraian glukosa (atau molekul organik lainnya) menjadi karbon dioksida dan air. 2. Melalui pembusukan binatang dan tumbuhan. Fungi atau jamur dan bakteri mengurai senyawa karbon pada binatang dan tumbuhan yang mati dan mengubah karbon

24

menjadi karbon dioksida jika tersedia oksigen, atau menjadi metana jika tidak tersedia oksigen. 3. Melalui pembakaran material organik yang mengoksidasi karbon yang terkandung menghasilkan karbon dioksida (juga yang lainnya seperti asap). Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, produk dari industri perminyakan (petroleum), dan gas alam akan melepaskan karbon yang sudah tersimpan selama jutaan tahun di dalam geosfer. Hal inilah yang merupakan penyebab utama naiknya jumlah karbon dioksida di atmosfer. 4. Produksi semen. Salah satu komponennya, yaitu kapur atau gamping atau kalsium oksida, dihasilkan dengan cara memanaskan batu kapur atau batu gamping yang akan menghasilkan juga karbon dioksida dalam jumlah yang banyak. 5. Di permukaan laut dimana air menjadi lebih hangat, karbon dioksida terlarut dilepas kembali ke atmosfer. 6. Erupsi vulkanik atau ledakan gunung berapi akan melepaskan gas ke atmosfer. Gasgas tersebut termasuk uap air, karbon dioksida, dan belerang. Jumlah karbon dioksida yang dilepas ke atmosfer secara kasar hampir sama dengan jumlah karbon dioksida yang hilang dari atmosfer akibat pelapukan silikat; Kedua proses kimia ini yang saling berkebalikan ini akan memberikan hasil penjumlahan yang sama dengan nol dan tidak berpengaruh terhadap jumlah karbon dioksida di atmosfer dalam skala waktu yang kurang dari 100.000 tahun.

3.3. Karbondioksida dalam kajian anorganik Karbondioksida terdapat di atmosfer (300 ppm), dalam gas-gas vulkanik dan dalam larutan super jenuh dari mata air tertentu. Gas CO2 dapat dihasilkan karena :

25

a. Pembakaran karbon sempurna C + O2 CO2 b. Sisa pernapasan makhluk hidup c. Letusan gunung berapi d. Pembakaran senyawa karbonat atau karena pengaruh asam Cara memproduksi: Hasil fermentasi C6H12O6 2C2H3OH + 2CO2 Pembakaran batu kapur
CaCO3 CaO + CO2

Di laboratorium dapat dibuat dengan :

H2CO3 CO2 + H2O

k = 600

CaCO3 + 2HCl CaCl2 + H2O + CO2 Tidak semua CO2 yang larut dan tidak terdisosiasi berada sebagai H2CO3. bagian terbesar dari CO2 yang larut hanyalah terhidrasi secara longgar laju pada saat CO2 masuk dalam kesetimbangan dengan H2CO3 dan hasil disosiasinya ketika melewati air adalah lambat. Ini menyebabkan dapat dibedakan antara H2CO3 dan CO2 (aq) yang terhidrasi longgar. 3.4. Kegunaan gas CO2 Karbondioksida cair dan padat (es kering) merupakan bahan pendingin penting, terutama dalam industri makanan, di mana ia digunakan saat pengangkutan dan penyimpanan es krim dan makanan beku yang lain.

26

Karbondioksida digunakan untuk membuat minuman ringan berkarbonat dan air soda. Secara tradisi, karbonat dalam bir dan wine berkilau dihasilkan dari fermentasi alami, tetapi sebagian pembuat menambah karbonat ke dalam minuman ini secara buatan. Pengembang yang digunakan untuk memasak menghasilkan karbondioksida menyebabkan adonan naik. Pengembang roti menghasilkan karbon dioksida melalui penapaian adonan, sementara pengembang kimia seperti baking powder dan baking soda membebaskan karbondioksida apabila dipanaskan atau tercampur dalam asam.

Karbondioksida sering digunakan sebagai gas tekanan yang murah dan tidak mudah terbakar. Karbondioksida dapat digunakan untuk memadamkan api, dan sebagian alat pemadam kebakaran (fire extinguisher), terutama dibuat bagi api listrik, mengandung cairan karbondioksida bawah tekanan. Kegunaan dalam industri mobil juga biasa walaupun terdapat banyak bukti bahwa kimpalan menggunakan karbondioksida adalah rapuh berbanding yang dilakukan dalam atmosfer-inert, dan kimpalan semakin lama semakin merosot akibat

pembentukan asam karbonik. Ia digunakan sebagai gas pengimpalan karena ia lebih murah berbanding gas lain seperti argon atau helium. Cairan karbondioksida adalah pelarut yang baik bagi kebanyakan zat organic. Ia mulai mendapat perhatian dalam pharmaceutical dan industri pemprosesan kimia yang lain sebagai pilihan kurang beracun berbanding pelarut tradisi lain seperti organokhloride. Tumbuhan memerlukan karbondioksida untuk melakukan fotosintesis dan gas rumah hijau mungkin mengkayakan atmosfera mereka dengan karbondioksida tambahan merangsang penghasilan tenaga di pam ke dalam kolam untuk membiakkan alga yang kemudiannya boleh ditukar menjadi bahan api biodiesel. permukaan tinggi karbondioksida dalam atmosfer menghilangkan kebanyakan serangga pengrusak dengan berkesan. Efek rumah kaca dapat meningkatkan kadar karbondioksida sampai 10.000 ppm (1 %) selama

27

beberapa jam untuk menghilangkan serangga pengrusak seperti whitefly, labah-labah mites, dan yang lain. 3.5. Karbon dioksida kaitan dengan biologi Karbondioksida adalah hasil penimbunan dalam organisme yang mendapat tenaga dari penguraian gula atau lemak dengan oksigen sebagai bagian dari metabolisme mereka, dalam proses yang dikenal sebagai pernapasan selular. Ini termasuk semua tumbuhan, hewan, kebanyakan fungi dan sebagian bakteri. Dalam hewan tingkat tnggi, karbondioksida diangkut melalui darah (di mana kebanyakan dalam hewan berada dalam larutan) dari sel tubuh ke paru-paru di mana ia disingkirkan. Kandungan karbondioksida dalam udara segar adalah kurang dari 1 % atau sekitar 350 ppm, dalam udara dihembus keluar sekitar 4,5 %. Apabila dihirup dalam konsentrasi tinggi sekitar 5 %, akan beracun bagi manusia dan hewan. Hemoglobin molekul utama dalam sel darah merah, dapat mengikat oksigen dan karbondioksida. Jika konsentrasi CO2 terlalu tinggi, semua hemoglobin dipenuhi karbondioksida dan tidak mengangkut oksigen (walaupun terdapat banyak oksigen di udara). Akibatnya orang yang berada di ruangan tertutup akan mengalami sesak nafas akibat pengumpulan karbondioksida, walaupun kekurangan oksigen menimbulkan masalah. Karbondioksida baik dalam bentuk gas atau padat, perlu dikendalikan dalam kawasan yang mempunyai pengudaraan yang baik. CO2 yang dibawa darah boleh didapati dalam berbagai bentuk. 8 % dari CO2 terdapat dalam plasma sebagai gas. 20 % dari CO2 terikat oleh hemoglobin. CO2 yang terikat pada hemoglobin tidak bersaing dengan ikatan oksigen karena ia terikat oleh asam amino bukannya molekul heme. Sisa 72 % dari padanya dibawa sebagai HCO3- bikarbonat yang merupakan ion penting dalam pengawalan pH organisme. Kadar bikarbonat dikawal apabila

28

ia meningkat, kita bernafas semakin cepat untuk menyingkirkan karbondioksida yang berlebihan. Kadar karbondioksida/bikarbonat dalam darah memberi efek pada ketebalan kapiler darah. apabila ia tinggi, kapiler mengembang dan lebih banyak darah masuk dan membawa bikarbonat berlebih ke paru-paru. a) FOTOSINTESIS Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri untuk menghasilkan makanan dengan memanfaatkan energi cahaya. Fotosintesis pada Tumbuhan Dalam berfotosintesis tumbuhan menggunakan karbon dioksida dan air untuk menghasilkan gula dan oksigen yang diperlukan sebagai makanannya. Persamaan reaksinya adalah 12H2O + 6CO2 + cahaya C6H12O6 (glukosa) +6O2 + 6H2O Glukosa dapat digunakan untuk membentuk senyawa organic lain seperti selulosa dan dapat pula digunakan sebagai bahan bakar. Pada respirasi glukosa dan senyawa lain akan bereaksi dengan oksigen untuk menghasilkan karbondioksida , air dan energi kimia. Tumbuhan menangkap cahaya menggunakan pigmen yang disebut klorofil. Pigmen inilah yang memberi warna hijau pada tumbuhan. Klorofil mengandung organel yang disebut kloroplas yang menyerap cahaya yang akan digunakan dalam fotosintesis. Meskipun seluruh bagian tubuh tumbuhan yang berwarna hijau mengandung kloroplas, namun sebagian besar energi dihasilkan di daun. Di dalam daun terdapat lapisan sel yang disebut mesofil yang mengandung setengah juta kloroplas setiap millimeter perseginya. Caranya akan melewati lapisan epidermis tanpa warna dan transparan, menuju mesofil tempat terjadinya sebagian besar proses fotosintesis. Permukaan daun biasanya dilapisi oleh katikula dari lilin yang

29

bersifat anti air untuk mencegah terjadinya penyerapan sinar matahari ataupun penguapan air yang berlebihan. 3.6.Permasalahan GAS CO2 Mendengar nama CO2 (karbondioksida), biasanya kita langsung teringat zat beracun yang bias membunuh makhluk hidup. Namun apakah benar CO2 yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di bumi ini ? Sebenarnya gas CO2 memang tak bersalah, tetapi kitalah yang membuat kesalahan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering kali tidak sejalan dengan kehendak alam sejak dimulainya revolusi industri di Inggris hingga telekomunikasi zaman sekarang. Telah terjadi peningkatan persentase CO2 di muka bumi akibat aktivitas produksi dan kosumsi. Mulailah dikenal istilah green house effect, yaitu meningkatnya kadar CO2 di atmosfer hingga membuat bumi makin panas. Ataupun disalahkan karena memberikan efek pemanasan global warming, dan selanjutnya global climate change. Lalu, apa hubunannya CO2 dengan peristiwa-peristiwa itu ? Karena kebetulan sifat CO2 yang menyerap energi panas dari radiasi inframerah yang dipancarkan matahari, akibatnya makin terakumulasilah energi panas tersebut di muka bumi. Bahkan, bisa mencairkan es di kutub. Ditambah lagi penggunaan senyawa CFC (Chloro Fluro carbon) sebagai pelarut, bahkan pendingin dalam refrigerator, dan foaming radiasi sinar ultraviolet matahari yang berenergi tinggi. Namun bumi sudah panas, ditambah lagi bumi semakin terbuka terhadap pancaran energi tinggi ultraviolet yang mematikan. Pepohonan serta hutan semakin jarang. Sebagai salah satu bagian yang bisa memproses CO2 menjadi O2. ini membuat banyak kalangan, terutama para ilmuan, kalang kabut mmencari solusi agar bumi ini tetap menjadi tempat nyaman dan aman untuk dihuni.

30

Untung saja masih ada beberapa ilmuan yang mengabdikan hidupnya bagi penyelamatan bumi ini. Akhirnya ditemukan fakta-fakta lain dari CO2 yang kemungkinan bisa dimanfaatkan demi kebaikan. Kenyataan bahwa gas CO, O2, dan H2 benar-benar dapat bercampur dan larut dalam CO2, sebenarnya memberikan kemungkinan untuk melakukan reaksi karbonilasi, oksidasi, maupun hidrogenasi dalam pelarut CO2. namun kendala dalam aplikasi teknologi-teknologi tersebut secara massal membuat kaum industri masih enggan untuk benar-benar beralih menggunakan CO2. Lagi-lagi terbukti bahwa sesungguhnya yang berdosa atas segala kekacauan lingkungan di bumi ini bukanlah CO2 dan zat-zat lain. Mudah-mudahan dengan menaikkan pamor zat seperti CO2 dari kambing hitam menjadi pahlawan lingkungan, keserakahan manusia bisa diatasi dan menjadi lebih positif. 3.7.Manfaat gas CO2 Seiring dengan semakin ditekannya penggunaan CFC sebagai pelarut, dicarilah alternative pengganti yang memiliki sifa-sifat serupa , tetapi lebih ramah terhadap lingkungan. Mulailah ilmuan melirik manfaat lain dari CO2, dari sekedar gas yang selalu jadi kambing htam menjadi gas yang tak berdosa dan bisa bermanfaat, yatu sebagai pelarut superkritis. CO2 sebagai fluida superkritis ? CO2 sebagai fluida superkritis sebenarnya adalah gas yang dinaiikan temperaturnya , hingga mencapai temperature kritis (temperature tertinggi yang dapat mengubah fase gas menjadi fase cair dengan cara menaikkan tekanan), dan memiliki tekanan kritis (tekanan tertinggi yang dapat mengubah fase cair menjadi fase gas dengan cara menaikkan temperature). Dengan demikian sifat-sifatnya berada diantara sifat gas dan cairan.

31

Sebaai pelarut superkritis, CO2 telah cukup banyak dimanfaatkan dalam bidang penelitian dan industri. Keuntungan lain adalah kita tidak perlu membuat CO2, melainkan cukup menyaringnya dari udara sekitar kita. Di bidang isolasi dan pengolahan bahan alam, CO2 superkritis dimanfaatkan sebagai pelarut dalam proses ekstraksi maupun de-ekstrasi senyawa-senyawa aktif dari tumbuhan untuk pengobatan, atau senyawa-senyawa penting untuk industri makanan, misalnya estraksi minyak atsiri lemon, jahe, beta-carotene dari tumbuh-tumbuhan atau de-ekstraksi kafein pada kopi. Adapun di bidang pertambangan minyak bumi, manfaat dalam penggunaan CO2 yang dicairkan justru sangat besar. Fluida ini dialirkan kedalam sumber-sumber minyak yang mulai menipis cadangannya untuk mengangkat cadangan minyak tersisa. Masalah utama adalah fluida ini kekentalannya rendah sehingga tidak mampu mengangkat minyak secara maksimum. Suatu perkembangan lebih menggembirakan justru di dalam proses polimer, kembali mengangkat pamor CO2. Dupont, sebuah perusahaan terkemuka dalam inovasi industri kimia telah mampu memproduksi semacam busa atau dikenal foamed thermoplastic yang popular disebut fluoropolimer. Ini berkat dtemukannya polimer perfluoroalkil akrilat oleh Desimone dan rekannya pada tahun 1992. fluoropolimer ini benar-benar larut dalam CO2, setelah sebelumnya digunakan pelarut dan surfaktan bebasis fluor. Aplikasi CO2 yang lebih menjanjikan adalah sintesis senyawa karbonat siklis melalui reaksi penggabungan senyawa epoksida dengan gas CO2. Senyawa karbonat siklik tersebut merupakan material utama dalam industri poliuretan, cat, resin, pembuatan etilen glikol, pelarut organic, polikarbonat, dan lain-lain.

32

Secara prinsip kimiawi, reaksi bias berlangsung dengan mudah asalkan ada katalis yang bisa meningkatkan reaktivitas CO2. Sesungguhnya masih banyak kegunaan yang bisa digali dari gas CO2 sebagai material ramah lingkungan. Misalnya dalam industri pelapisan material menggunakan polimer yang dapat larut dalam CO2. atau pembentukan partikel koloid dalam industri farmasi, yang menggunakan pelarut CO2 juga. 3.8. CO2 kaitannya dengan lingkungan dan penanggulangan Gas CO2 merupakan salah satu partikel pencemar udara. Jika CO2 berada di udara melebihi batas normal yang menurunkan kualitas udara sampai pada batas yang mengganggu kehidupan. Gas CO2 berasal dari pembakaran minyak, gas buang kendaraan, gunung meletus dan hasil pembakaran yang tidak sempurna dari mesin mobil dan mesin knalpot. Akibat dari gas CO2 yang melebihi batas dapat menyebabkan : a. Gangguan pernapasan b. Meningkatnya suhu bumi karena efek rumah kaca Polutan yang berupa gas CO2 akan mengembang di udara dan mempunyai sifat seperti kaca. Sinar matahari yang jatuh ke bumi tidak akan dipantulkan oleh CO2 yang mengembang tetapi diteruskan. Sebagai akibatnya suhu bumi makin meningkat. Hal tersebut merupakan dampak jangka pendek, sedangkan dampak jangka panjangnya dapat mencairkan es di kutub sehingga permukaan air laut di seluruh permukaan bumi meningkat. Peningkatan air laut akan mampu menenggelamkan pulau. Adapaun cara-cara untuk penanggulangan gas CO2 ini adalah : a) Memperbanyak penanaman tumbuhan pelindung (reboisasi)

33

b) Melengkapi cerobong asap pabrik dengan alat penyaring udara serta menambah tinggi cerobong c) Menggunakan bahan bakar murni untuk mengurangi sisa pembakaran gas CO2 yang berlebihan d) Mengolah sampah organic menjadi pupuk secara biologis.

34

BAB 4 KESIMPULAN

1. Gas karbonmonoksida dan karbondioksida dapat bersifat toksik jika konsentrasinya melebihi nilai ambang batas. 2. Sumber-sumber Gas karbonmonoksida dan karbondioksida di alam berlimpah baik bersumber dari faktor alamiah maupun dari aktivitas manusia. 3. Gas karbonmonoksida dan karbondioksida dapat menimbulkan gejala klinik yang khas sesuai dengan mekanisme toksisitasnya. 4. Perlunya ada upaya untuk menangani permasalahan emisi gas Gas karbonmonoksida dan karbondioksida.

35

DAFTAR PUSTAKA

1. School of Medicine. Carbon Monoxide Headquarter. Wayne State University; 1999. 2. Jones AL, Volans G. Carbon Monoxide Poisoning. Recent Advances Management of self poisoning. Br Med J. 1999; 319: 1414-17. 3. Bleecker ML. Clinical Presentation of Selected Neurotoxic Com-pounds. In: Bleecker ML, Harsen JA, editors. Occupational Neurology and Clinical. Neurotoxicology. Baltimore: Williams & Wilkins. 1994; 211: 207-08. 4. Kales SN. Carbon Monoxide Intoxciation. Am. Fam Phlysisician 1993; 48: 1100-04. 5. Chale SN. Carbon Monoxide Poisoning. Environmental Toxins. In: Viccelio P. editor. Handbook of Medical Toxicology. 1st ed. Boston: Little, Brown and Co. 1993: 639-46. 6. Kindwall EP. Carbon Monoxide. The Chemical Occupational Environment. In: Zenz Carl, Dickerson OB, Hovart EP. Editors. Occupational Medicine. 3rd ed. St. Louis: Mosby Year Book Inc; 1994: 447-52. 7. Theriault GP. Cardiovascular Disorders. Occupational Disorders by System. In: Levy BS, Wegman DH. Editors. Occupational Recognizing Preventing Work-related Disease. 3rd ed. Boston: Little, Brown and Co. 1995: 563-66. 8. Fine LJ, Rosenstock L. Cardiovascular Disorders. Evaluation and Treatment. In: Rosenstock L, Cullen MR. Editors. Textbook of Clinical And Environmental Medicine. Philadelphia: WB Saunders Co. 1994: 389-93. 9. Benowitz NL. Cardiovascular Toxicology. Occupational Illness. In: La Dou J. editor. Occupational and Environmental Medicine. International 2nd ed. Stamford: a Lange Medical Book. 1997: 328-32. 10. Agency for Toxic Substances and Disease Registry. Methylene Chloride Toxicity. Enviromental Medicine. Am. Fam Physician. 1993; 47: 1159-66. 11. Di Maio DJ, Di Maio VJ. Editors. Carbon Monoxide Poisoning. In: Forensic Pathology. Boca Raton: CRC Press. 1993: 347-54. 11. Beckett SW. Carbon Monoxide. Hazards in The Work place and Environment. In: Rosenstock L, Cullen MR, editors. Textbook of Clinical Occupational and Environmental Medicine. Philadelphia: WB Saun-ders Co. 1994: 838-41. 12. Lu FC. editor. Efek Toksik. Prinsip Umum Toksikologi. Dalam: Toksikologi dasar, Asas, Organ Sasaran dan Penilaian Risiko. edisi kedua. Jakarta. UI-Press. 1995: 48-51.

36

13. Hung OL, Shih D. Firefighter. Occupational Toxicology. In: Greeberg MI, Hamilton RJ, Phillip SD. editors Occupational, Industrial and Environmental Toxicology. St. Louis: Mosby-Year Book Inc. 1997: 113- 18. 14. Glantz SA, Parmley WW. Passive Smoking and Heart Disease: Mechanism and Heart Disease. JAMA. 1995; 273: 1047-53. 15. Soden KJ. Marras G, Amsel J. Carboxyhemoglobin Levels in Methyle-ne Chloride Exposed Employees. JOEM. 1996; 38: 367-71. 16. Bos N, Fair T, Grassick P, Vanderkuck R. editors Occupational Health. In: Workplace Health and Safety HANDBOOK. 3rd ed. South Brisbane: Safework College of Work place Health and Safety. 1995: 47-52. 17. Mancall EL. General editor. Continuum Lifelong learningin Neurology. Neurotoxicology Part A. 1999; 5; 2: 91-3. 18. O. R. Gilliam, C. M. Johnson and W. Gordy (1950). "Microwave Spectroscopy in the Region from Two to Three Millimeters". Physical Review 78 (2): 140. doi:10.1103/PhysRev.78.140. 19. W. Kutzelnigg. Einfhrung in die Theoretische Chemie. Wiley-VCH. ISBN 3-52730609-9. 20. Peter MC DeBlieux, VanDeVoort, John G Benitez, Halamka, Asim Tarabar.Toxicity, Carbon Monoxide. 2006 [cited 2013 Apr 21]. Availabel from :URL :HYPERLINK http:/lwww.emedicine.com 21. Eugene N.Bruce, Margaret C- A multicompanement model of cartoxyhemoglobin and carboxymyoglobin responses to inhalation of carbon monoxide. J Appl Physiol95 (2003): 1235-1247. 22. Stephen R Thom, Donald Fisher, Y Anne Xu, Sarah Garner, and Harry lschiropoulosRole of nitric oxide-derived oxidants in vascular injury from carbon monoxide in the rat. Am J of Physiol.0363-6135 (1999),984-90. 23. Jurling DN, Buckley NA, Stanbrook MB, Isbister M, McGuigan MA. Hyperbaric oxygen for carton monoxide poisoning. Cochrane Database of Systematic Reviews 2005, Issue l, Art. No.: CD00204l.DOI:10.1002/146518. 24. IA JELLIARKO P Mahasiswa Pasca Sarjana Internasional R & D Academy, Korea Institute of Science & Technology 25. Keenan, Kleinifeter. Wood. A Hadyana Pudjaatmaka Ph.D. 1992 Kimia Untuk Universitas Edisi Ke Enam Jilid 2. Jakarta : Erlangga

37

26. Ralph, H Petrucci. Suminar. 1985. Kimia Dasar Prinsip Dan Terapan Modern Edisi Ke Empat Jilid 2. Jakarta : Erlangga