Anda di halaman 1dari 232

MODUL

(SISTEM AGRIBISNIS)

Disusun oleh: Dr. Tomy Perdana 197312131997021001

Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran November, 2012


1

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat-Nya, Modul Sistem Agribisnis ini dapat diselesaikan.modul ini merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis, didalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana dan didesain untuk membantu peserta didik menguasai tujuan belajar yang spesifik. Modul ini bertujuan agar mahasiswa mampu memahami prinsip-prinsip sistem agribisnis dan mampu menganalisis faktor-faktor yang terkait dalam sistem agribisnis agar dapat memecahkan berbagai masalah sistem agribisnis dan menerapkannya dilingkungan masyarakat Ucapan terima kasih disampaikan kepada Rani Ismiarti E sebagai asisten dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian modul ini. Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam modul ini, oleh karena itu Saya menunggu masukan, kritik dan saran dari berbagai pihak dalam rangka penyempurnaan modul ini. Bandung, November 2012

Dr. Tomy Perdana, SP., MM

DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR................................... i DAFTAR ISI............................................. ii DESKRIPSI MATA KULIAH................vii TINJAUAN MATA KULIAH Pertemuan 1 MODUL 1 Materi : RUANG LINGKUP SISTEM AGRIBISNIS : Pengertian Agribisnis ............................ 1 Perkembangan Pertanian dan Agribisnis ....... 4 Karakteristik dan Ruang Lingkup Agribisnis ...... 11 Pendekatan Sistem dalam Agribisnis ..... 18 Perkembangan Teknologi Agribisnis .... 24 Latihan...................................................................................... 31 Tes Formatif.............................................................................. 32 MODUL 2 Materi : AGROINPUT AGRIBISNIS : Tipe Agroinput Agribisnis ... 33 Alat dan Mesin Pertanian ..... 36 Latihan...................................................................................... 42 Tes Formatif.............................................................................. 42 Pertemuan 2 MODUL 3 Materi : AGRIBISNIS DAN PETANI : Definisi dan Tipe Petani Agribisnis ..... 44 Lahan ........ 45 Kesejahteraan Petani .... 48 Kemitraan Kontrak Kerja ............. 51 Latihan...................................................................................... 58 3

Tes Formatif.............................................................................. 59 MODUL 4 Materi : AGROINDUSTRI : Definisi dan Ruang Lingkup Agroindustri ... 60 Peranan Agroindustri dalam Pembangunan Agribisnis ....... 62 Kerangka Analisis Agroindustri ....... 66 Latihan...................................................................................... 70 Tes Formatif.............................................................................. 71 Pertemuan 3 MODUL 5 Materi : PEMASARAN AGRIBISNIS : Peranan Pemasaran dalam Sistem Agribisnis ...... 72 Saluran Pemasaran Agribisnis ....... 76 Fungsi dan Bauran Pemasaran ...... 81 Latihan...................................................................................... 88 Tes Formatif.............................................................................. 88 MODUL 6 Materi : PERDAGANGAN BESAR AGRIBISNIS : Tipe Perdagangan Besar Agribisnis .......... 90 Integrasi dan Koordinasi Vertikal pada Perdagangan Besar ........................ 91 Latihan...................................................................................... 94 Tes Formatif............................................................................. 94 Pertemuan 4 MODUL 7 Materi : PERDAGANGAN ECERAN ( RITEL) AGRIBISNIS : Tipe Perdagangan Eceran Modern dan Tradisional ....... . 95 Dampak Pembangunan Pasar Eceran Modern dan Tradisonal Terhadap Produk Agribisnis ..... ..... 97 Latihan..................................................................................... 98 Tes Formatif............................................................................ 98 MODUL 8 Materi : KONSUMEN AGRIBISNIS : Tipe dan Profil Konsumen Agribisnis . 100 Permintaaan Konsumen Agribisnis. . 100 4

Latihan.................................................................................. 105 Tes Formatif........................................................................ Pertemuan 5 MODUL 9 Materi : PERSAINGAN PASAR AGRIBISNIS : Klasifikasi Situasi Pasar Agribisnis Aspek-aspek Persaingan Agribisnis Tes Formatif......................................................................... MODUL 10 :ORGANISASI AGRIBISNIS Materi : Agribisnis Perorangan .... Perusahaan/ Badan Usaha Persekutuan/ Partnership Korporasi .............. . 116 119 122 106 112 115 105

Latihan................................................................................. 114

Koperasi ...... 123 Waralaba ......... 125 Latihan............................................................................... 128 Tes Formatif....................................................................... 129 Pertemuan 6 MODUL 11 : PEMBIAYAAN AGRIBISNIS Materi : Tipe Pembiayaan Agribisnis Lembaga Pembiayaan Agribisnis Latihan............................................................................ Tes Formatif.................................................................... MODUL 12 : PERANAN PEMERINTAH DALAM AGRIBISNIS Materi : Kewenangan Pemerintah Lokal dan Nasional dalam Pembangunan Agribisnis 140 Kebijakan Pemerintah dalam Pembangunan Agribisnis Indonesia . Latihan.............................................................................. Tes Formatif..................................................................... Pertemuan 7 5

130 137 138 139

142 154 154

MODUL 13 : PENGEMBANGAN KASUS AGRIBISNIS Materi : Industri Gula dan Tembakau Di Jawa Timur Pembangunan Wilayah Jawa Barat yang Integratif melalui Pengembangan Agribisnis ... Pembinaan Sumberdaya Manusia Untuk Mendukung Pengembangan Agribisnis dan Ekonomi Pedesaan .. Kebijakan Pengembangan Sistem Rantai Pasokan Industri perberasan dengan pendekatan System Dynamics...... Model Manajemen Logistik dalam Meningkatkan Daya Saing Produsen Sayuran Skala Kecil Untuk Memenuhi Permintaan Pasar Terstruktur . .. Pemodelan System Dynamics Manajemen Rantai Pasokan Sayuran untuk Pasar Ekspor yang Melibatkan Petani Kecil Di Indonesia . Triple Helix Model Dalam Implementasi Sistem Manajemen Logistik Pada Rantai Pasokan Sayuran . Latihan.............................................................................. REFERENSI...................................... 210 KUNCI JAWABAN..................................... 211 197 186 177 167 163 160 156

DESKRIPSI MATA KULIAH SISTEM AGRIBISNIS


A. LATAR BELAKANG Secara sempit pertanian diartikan sebagai suatu kegiatan produktif yang menghasilkan komoditi pertanian. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumsi dan industri. Dalam memahami pertanian secara utuh, kita harus memahami pertanian sebagai suatu sistem. Sistem merupakan suatu kesatuan berbagai komponen yang mempunyai tujuan serta fungsi yang berbeda. Komponen-komponen tersebut satu sama lain saling terikat/ketergantungan dalam rangka mencapai tujuan dan fungsi yang sama

dibawah satu koordinator. Berdasarkan pemahaman sistem pertanian tersebut terungkap bahwa komoditi pertanian sangat bergantung pada alam, sehingga memiliki sifat : 1. Musim mengandung ketidakpastian 2. Beragam dalam kualitas dan kuantitas 3. Perishable (mudah rusak/busuk) dan Fragile (mudah rusak karena benturan) 4. Banyak makan tempat/ruang : Voluminous Pertanian dalam artian budididaya (pertanian dalam arti sempit) merupakan salah satu subsistem (on farm) dalam sistem agribisnis. Dalam mengantisipasi hal tersebut diperlukan suatu konsep sistem agribisnis yang utuh. Agribisnis adalah suatu kesatuan kegiatan usaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan hasil dan pemasaran yang ada hubungannya dengan pertanian dalam arti luas (Arsyad dan kawan-kawan, 1985). Konsep agribisnis yang utuh dapat dipahami apabila memandang agribinis sebagai suatu sistem. 7

Pendekatan Sistem diperlukan untuk memahami kompleksitas agribisnis sebagai : suatu sistem, praktek bisnis, paradigma pembangunan pertanian, keilmuan sehingga tujuan agribisnis dapat tercapai . B. TUJUAN
Mahasiswa mampu memahami prinsip-prinsip sistem agribisnis dan mampu menganalisis faktor-faktor yang terkait dalam sistem agribisnis agar dapat memecahkan berbagai masalah sistem agribisnis dan menerapkannya dilingkungan masyarakat. Kompetensi yang akan dicapai : Hard skills : Kemampuan melakukan penelusuran esensi dari sistem agribisnis Kemampuan memetakan unsur-unsur sistem agribisnis yang terjadi di masyarakat kedalam sebuah skema sistem agribisnis Kemampuan menyusun pemikiran dan pendapat secara akademik dan kemampuan menyajikan dalam bentuk visual maupun oral Soft skills : mahasiswa mempunyai kemampuan bekerjasama dalam kelompok, kreatif dan inovatif, disiplin, mandiri serta mempunyai kemampuan

berkomunikasi baik secara tertulis maupun oral Kompetensi mata kuliah Sistem Agribisnis yang berkaitan dengan kompetensi Program Studi Agribisnis : Mampu bekerjasama dalam tim yang multidisiplin. Mampu merancang pengoperasian dan pengembangan unit usaha agribisnis baru yang inovatif, menciptakan nilai tambah dan berwawasan lingkungan Memiliki kepekaan pada persoalan/masalah sosial budaya masyarakat terkait dengan pengembangan agribisnis Mampu berpikir analitis dan sintetis untuk mengevaluasi dan memberikan solusi pengembangan pada sistem operasi agribisnis.

KEGIATAN BELAJAR 1 Modul

RUANG LINGKUP SISTEM AGRIBISNIS

1
Pendahuluan

Sebagian besar ketika orang berpikir mengenai pertanian, mereka menggambarkan para petani yang memproduksi hewan dan tanaman. Secara sempit pertanian didefinisikan sebagai suatu kegiatan produktif yang menghasilkan komoditi pertanian. Selain itu, pertanian juga sering digambarkan sebagai cows, sows, dan plows atau weeds, seeds, dan feeds, dimana kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumsi. Saat ini, pengertian pertanian berkembang menjadi kegiatan industri yang berorientasi teknologi yang melibatkan kegiatan produksi (tumbuhan dan hewan), sumberdaya alam terbaharui (agriscience), dan agribisnis. Dengan demikian, ruang lingkup pertanian saat ini pun semakin luas, dimana orang yang bekerja di bidang pertanian tidak harus selalu bekerja di lahan (budidaya) dan peternakan, melainkan mereka dapat bekerja di bidang penyediaan pakan, benih/ bibit, mesin pertanian, pupuk, obat kimia, dan bisnis makanan jadi. Sedangkan yang dimaksud agribisnis meliputi orang yang bekerja di bidang keuangan, distribusi, dan perusahaan pemasaran yang menyediakan jasa untuk produksi para pembudidaya.

PENGERTIAN AGRIBISNIS

Banyak sekali definisi mengenai agribisnis. Secara sederhana, beberapa orang mengartikan agribisnis sebagai suatu bisnis yang besar. Namun, John Davis dan Ray Goldberg mendefinisikan agribisnis sebagai seluruh rangkaian aktivitas 9

produktif beberapa subsistem yang melibatkan manufaktur dan distribusi pasokan pertanian, pelaksanaan produksi di lahan, pengolahan, dan distribusi komoditas pertanian serta semua produk berbahan baku hasil pertanian. Definisi yang sama mengenai agribisnis menggambarkan agribisnis sebagai aktivitas memperoleh keuntungan oleh perusahaan yang melibatkan penyediaan pasokan pertanian dan/ atau pengolahan, pemasaran, pengangkutan, dan pendistribusian bahan-bahan material pertanian dan produk konsumen. Selain itu, Ewell Roy memandang agribisnis sebagai proses koordinasi berbagai subsistem (input produksi pertanian dan produksi itu sendiri, pengolahan, dan distribusi). Hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: perusahaan agribisnis menyediakan pasokan input kepada petani, kemudian petani memproduksi bahan makanan dan serat (kapas, wol, dll). Setelah itu output pertanian digunakan oleh perusahaan agribisnis lain untuk diproses menjadi suatu produk, dipasarkan, dan didistribusikan ke konsumen. Pengertian agribisnis juga dikemukakan oleh Downey dan Erickson, dimana agribisnis adalah kegiatan yang berhubungan dengan penanganan komoditi pertanian dalam arti luas, yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan masukan dan keluaran produksi (agroindustri), pemasaran masukan-keluaran pertanian dan kelembagaan penunjang kegiatan. Yang dimaksud dengan berhubungan adalah kegiatan usaha yang menunjang kegiatan pertanian dan kegiatan usaha yang ditunjang oleh kegiatan pertanian. Dari berbagai definisi yang telah dikemukakann sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa agribisnis adalah suatu sistem yang bila akan dikembangkan harus terpadu dan selaras dengan semua subsistem yang ada di dalamnya.

10

SS I (Pengadaan dan Penyaluran Sasaran Produksi)

SS II (Produksi Primer)

SS III (Pengolahan)

SS IV (Pemasaran)

Lembaga Penunjang Agribisnis

Gambar 1. Sistem Agribisnis dan Lembaga Penunjangnya (Soehardjo, 1997) Sistem agribisnis akan berfungsi baik apabila tidak ada gangguan pada salah satu subsistem (Gambar 1). Setiap sistem dalam sistem agribisnis mempunyai keterkaitan ke belakang dan ke depan. Tanda panah ke belakang (ke kiri) pada subsistem pengolahan (SS-III) menunjukkan bahwa S-III akan berfungsi dengan baik apabila ditunjang oleh ketersediaan bahan baku yang dihasilkan oleh SS-II. tanda panah ke depan (ke kanan) pada SS-III menunjukkan bahwa subsistem pengolahan (SS-III) akan berhasil dengan baik jika menemukan pasar untuk produknya Dalam kegiatan pertanian, selain petani dibutuhkan juga beberapa penyedia jasa (pendukung) seperti untuk transportasi, penyimpanan, pendinginan, lembaga kredit, keuangan, dan asuransi serta pemerintah. Sebagai contoh, agribisnis manufaktur yang menyediakan produk pertanian, beberapa pasokan dan peralatan dibutuhkan untuk pelaksanaan kegiatan produksi dan pemeliharaan tanaman. Pemerintah kemudian bertugas memeriksa dan mengawasi produk pertanian untuk memastikan kualitas dan keamanan produk. Ratusan organisasi perdagangan agribisnis, organisai komoditas, komite, dan konferensi ilmu pengetahuan mempromosikan, mengiklankan, bekerja sama, dan melakukan pendekatan untuk produk pertanian mereka. Peneliti, insinyur, dan para ahli lain membantu mengembangkan agribisnis. Ratusan orang diseluruh dunia bekerja pada bidang agribisnis, dan jutaan orang pun bergantung pada kegiatan agribisnis untuk mencukupi kebutuhan makanan, pakaian, dan perlindungan. 11

PERKEMBANGAN PERTANIAN DAN AGRIBISNIS


Banyak orang yang membayangkan bahwa pertanian adalah suatu kegiatan yang mudah dilakukan, yaitu menanam bibit/ benih, menunggu beberapa saat dan kemudian panen. Namun, hal tersebut tidak mudah dilakukan terutama pada jaman prasejarah dimana manusia pada saat itu belum mengetahui tentang budidaya dan tidak ada orang yang dapat mengajarkan mereka bagaimana menanam benih agar dapat tumbuh menjadi tanaman. Dalam usahanya memenuhi kebutuhan makanan, tahapan pertama yang dilakukan manusia adalah melakukan kegiatan berburu dan meramu, seperti kacang-kacangan dan juga makanan dari alam lainnya. Manusia berpindah-pindah menyusuri daerah yang luas demi menemukan tanaman dan berburu binatang untuk disajikan makanan. Namun, pada kenyataannya mereka tidak terlalu berhasil mendapatkan bahan makanannya walaupun telah menyusuri daerah yang luas. Mereka lebih sering mendapatkan sayuran dan serangga. Oleh karena itu nutrisi dan kesehatan manusia saat itu sangat buruk dan umur rata-rata manusia dapat hidup sampai dengan umur 25 tahun. Namun, dua hal penting yang berkembang sebelum dilaksanakannya pertanian adalah manusia sudah belajar untuk menangkap ikan dan menggunakan api untuk memasak. Seiring perkembangan pertanian, cara hidup manusia pun berubah. manusia tidak lagi harus berjalan jauh untuk mencari makanan, melainkan mereka mulai menetap di satu tempat dan mulai membangun rumah. Hal tersebut juga memberikan banyak waktu kepada manusia untuk mengembangkan sistem pertanian yang lebih baik, seperti perubahan penggunaan bajak untuk menggantikan cangkul dan penggunaan arit/ sabit untuk memudahkan panen gandum dan rumput.

12

Zaman Perunggu
Selama zaman perunggu (3000 SM), peralatan yang terbuat dari logam lebih banyak digunakan karena tahan lama dibandingkan kayu yang ditajamkan. Peralatan logam ini juga lebih mempermudah dan mempercepat kegiatan bercocok tanam untuk cakupan lahanyang luas. Pada zaman ini, pertanian menyebar keseluruh penjuru dunia dan menjadi cara hidup orang banyak. Beberapa perkembangan pertanian yang terjadi pada saat zaman perunggu diantaranya adalah sebagai berikut: Dibuatnya peralatan pertanian dari perunggu dan bajak untuk

mempermudah dan mempercepat bercocok tanam Sungai nil digunakan penduduk mesir untuk irigasi tanaman Ditemukannya roda sehingga dapat dijadikan alat transportasi pengangkutan tanaman Jumlah penduduk dunia naik dari 3 juta jiwa dari sebelum dilakukannya kegiatan pertanian

Zaman Besi
Zaman besi berlangsung pada tahun 1000 SM. Penggunaan besi memberikan manusia kemampuan untuk memproduksi lebih dari sekedar tanaman. Ketika manusia tidak dapat menggunakan semua tanaman untuk memenuhi kebutuhan sendiri, maka mereka mulai menjualanya kepada orang lain. Sejak saat itu mulailah perkembangan perdagangan produk pertanian. Secara umum perkembangan pertanian pada zaman besi adalah sebagai berikut : Jumlah peralatan tangan pertanian dan bajak yang terbuat dari besi banyak dan bahkan sampai sekarang digunakan Berkembangnya penggunaan uang untuk menjual kelebihan tanaman/ panen Memberikan lahan sehingga memberikan kesempatan pada tanah untuk memperbaiki sifat tanah dan bahan organik tanah. 13

Abad Pertengahan
Abad pertengahan berlangsung antara tahun 400 1500 M. Jatuhnya

kerajaan Romawi pada abad ini ternyata memperlambat perkembangan pertanian. Perkembangan pertanian yang terjadi hanya sedikit seperti kegiatan rotasi tanaman, pemanfaatan teknologi bajak terbaru, dan pengembangbiakan ternak secara selektif. a. Petani di jaman pertengahan ini mulai mengerti arti pentingnya konservasi tanah. Mereka melaksanakan pertanian dengan teknik pemberaan lahan untuk beberapa tahun. b. c. Pada abad ini kuda dijadikan hewan untuk membantu pekerjaan usaha tani agar lebih cepat selain sapi Perkembangbiakan selektif pada hewan di abad ini dilakukan peternak dengan memilih induk berdasarkan karakteristik yang diinginkan. Teknik pengembangbiakan ini masih dilakukan sampai sekarang..

Revolusi Pertanian dan Industri


Revolusi industri berlangsung antara tahun 1840 1850 terjadi perubahan besar pada produksi pertanian dan sangat mendorong perkembangan agribisnis. Pada waktu ini penemuan teknologi berlangsung sangat cepat, diantaranya penemuan mesin uap, kereta api, mesin jahit, alat tenun, dan mesin lainnya. Perubahan terbesar kedua akibat revolusi ini adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota untuk bekerja di pabrik karena banyaknya pabrik yang membutuhkan tenaga kerja untuk mengoperasikan mesin. Perubahan ini meningkatkan pasar untuk produk pertanian karena pekerja pabrik tidak dapat menghasilkan makanannya sendiri seperti dahulu. Sebagai hasil dari banyaknya penduduk yang pindah ke kota, maka petani melaksanakan usahanya dengan sedikit pekerja. Oleh karena itu, untuk mengefisienkan kegiatan usaha tani petani mulai menggunakan mesin dalam hal

14

menggantikan tenaga hewan

dan bahkan manusia, sehingga hal tersebut

mengubah pertanian tradisional menjadi pertanian komersil. Revolusi pertanian dan industri membawa perubahan sebagai berikut : Henry ford mengembangkan automobile Pengenalan rotasi tanaman oleh Charles Townsend Perolehan manfaat pengembangbiakan ternak oleh Robert Bakewell Pengetahuan pemisahan peternakan jauh dari lahan pertanian oleh Barbed Pembuatan traktor berbahan bakar bensin pada tahun 1892, dan lain sebagainya. Penerapan alat penabur benih yang diketemukan oleh Jethro Tull Pengembangan mesin perontok gabah Pengembangan bajak besi oleh John Deere Pengembangan rekayasa genetik benih tanaman oleh Gregor Mendell

Pertengahan abad 20
Pada tahun 1900 mesin-mesin mulai mendominasi pekerjaan pertanian dan dikembangkan pula alat transportasi. Dengan demikian membuka peluang lebar bagi petani untuk memasarkan produk pertanian ke orang yang lebih banyak lagi. Pada periode ini harga produk pertanian meningkat dan para petani pun memiliki kehidupan yang baik dan bahkan mereka menggunakan kelebihan pendapatan untuk melakukan penelitian dan pengembahan untuk kegiatan pertaniannya. Beberapa perkembangan yang terjadi pada pertengahan abad 20 ini adalah sebagai berikut : Didirikannya sekolah tinggi pertanian The Smith-Hughes Act di Amerika Serikat Pemberian kredit kepada petani oleh Federal Land Banks Terusan Panama dibuka untuk kegiatan pengangkutan, dan lain sebagainya. Dikembangkanya vaksin untuk ternak babi 15

Di

Indonesia,

strategi

perkembangan

agribisnis

dilakukan

dengan

mempertimbangkan kombinasi sumberdaya manusia, sumberdaya alan, dan sumberdaya sosial melalui pengembangan pengusaha agribisnis, yang juga dirancang untuk mempercepat pembangunan (Pambudy, 2010). Pengembangan pengusaha agribisnis dalam sistem dan usaha agribisnis yang terarah dan terkendali dapat menghasilkan sandang-pangan-papan, menciptakan lapangan kerja, mengurangi kerusakan lingkungan dan tidak menimbulkan utang baru yang kurang produktif. Pengembangan pengusaha dalam sistem dan usaha agribisnis dapat diarahkan paling tidak pada lima kelompok besar (subsistem) pengembangan yaitu (Pambudy, 2010) : 1. Mengembangkan pengusaha dan perusahaan keluarga/ kecil/ menengah dan besar dalam lingkup subsistem agribisnis hulu (up-stream agribusiness) yakni industri yang menghasilkan barang modal bagi pertanian (arti luas) yakni industri perbenihan/ pembibitan (genome-DNA) tumbuhan dan hewan, industri agrokimia (pupuk, pestisida, obat/ vaksin ternak, ikan, manusia), dan industri agro-otomatif (mesin dan peralatan pertanian) serta industri pendukung lainnya. 2. Mengembangkan pengusaha dan perusahaan keluarga/ kecil/ menengah dan besar dalam sub-sistem usahatani (on-farm agribusiness) yakni kegiatan yang menggunakan barang modal dan sumberdaya alam untuk mengasilkan komoditas pertanian primer kehutanan. tanaman pangan, pakan, serat, hortikultura, rempah, herbal, obat-obatan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan

16

Sub-Sistem Agribusnis Hulu

Sub-Sistem Usahatani Tanaman obat, pangan-rempah dan hortikultur Tanaman serat, perkebunan kehutanan Peternakanperikanan Fungi (jamur) Jasad renik

Sub-Sistem Pengolahan Industri makanan Industri minuman Industri rokok Industri serat alam: tekstil-biokomposit Industri biofarma Industri wisata, estetika-kosmetika Industri vaksin, serum

Sub-Sistem Pemasaran Distribusi Promosi Informasi pasar Intelijen pasar Perdagangan Struktur pasar Areal pasar Lelang Pasar berjangka Pasar modal

Industri benih, bibit gen ternak tanaman, ikan Industri kimia, agrochemical Industri agro otomotif,alat dan machinery Bio fertilizer, herbi- pestisida

Sub Sistem Jasa dan Penunjang Keuangan: perkreditan, pembiayaan, permodalan dan asuransi Informasi, komputerisasi dan otomatisasi Penelitian, pengembangan, pendaftaran paten dan merk Pendidikan, pelatihan, extension and community development. Pelabuhan, jalan,transportasi, pengiriman dan pergudangan Konsultasi hukum: keuangan: bisnis, akuisisi, merger, take over, perdagangan, akutansi dan investasi

Gambar 2. Pengembangan Pengusaha dalam Sistem Agribisnis (Pambudy, 2010) 3. Mengembangkan pengusaha dan perusahaan keluarga/ kecil/ menengah dan besar yang bergerak dalam sub-sistem pengolahan (down-stream agribusiness) yakni industri yang mengolah komoditas pertanian primer (agroindustri) menjadi produk olahan antara (intermediate product) dan akhir (finish product). Termasuk di dalamnya industri makanan, minuman, pakan, industri dasar bahan serat (karet, pulp, kertas, kayu, rayon, komposit, benang kapas/ sutera, barang kulit), industri biofarma, agrowisata, estetika, dan kosmetika. 4. Mengembangkan pengusaha dan perusahaan keluarga/ kecil/ menengah dan besar dalam subsistem jasa bagi subsistem agribisnis hulu, subsistem usahatani dan subsistem agribisnis hilir. Dalam subsistem ini adalah jasa keuangan, hukum, perkreditan, asuransi, transportasi (darat, laut, udara), pergudangan, pendidikan, penelitian, pelatihan, periklanan, dan sistem informasi-komputerasi. 17

5. Mengembangkan pengusaha dan perusahaan keluarga/ kecil/ menengah dan besar dalam sistem yang terintegrasi mulai dari hulu-hilir sampai pemasaran hasil komoditas pertanian, perikanan dan kehutanan (segar maupun olahan). Termasuk didalamnya adalah kegiatan distribusi, perdagangan, promosi, informasi pasar, serta intelijen pasar (market intelligence) agar bisa bertahan di pasar domestik dan bersaing di pasar global. Lebih lanjut, pengembangan sistem dan usaha agribisnis melalui pengembangan pengusaha agtibisnis dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut : 1. Peningkatan output agribisnis yang diperoleh dengan memperluas areal usahatani dan mendiversifikasi usaha tani sesuai dengan potensi wilayah. Hasil akhir didominasi oleh komoditas pertanian primer (bahan mentah), sehingga kemampuan penetrasi pasar mahal-rendah, segmen pasar yang dimasuki terbatas dan nilai tambah (pendapatan) yang dinikmati sebagian rakyat masih juga relatif rendah. Pada tahap ini maka nilai tambah secara ekonomis diambil oleh pihak lain (pedagang perantara/ eksportir, industrialist dan negara lain yang bisa memanfaatkan barang mentah atau setengah jadi menjadi barang jadi, end product). Jika terjadi pengembangan pengusaha agribisnis maka terjadi percepatan penguasaan untuk membuat produk bernilai tambah sehingga pembentukan modal dapat makin tinggi. 2. Penggunaan barang-barang modal dan SDM lebih (semi) terampil (capital and semi-skill labor based) atau capital-driven pada setiap subsistem agribisnis. Pada tahap ini antara lain ditandai oleh peningkatan produktivitas dan nilai tambah sebagai sumber pertumbuhan total output agribisnis. Pertumbuhan total output terjadi akibat peningkatan penggunaan barang modal (mesin, peralatan dan bahan pendukung) dan peningkatan mutu sumber daya manusia. Sedangkan dari segi hasil akhir agribisnis, tahap ini dicirikan oleh dominasi produk agribisnis olahan (diversivikasi produk) yang sesuai dengan permintaan pasar. Pada tahap ini penetrasi pasar meningkat, segmen pasar yang dimasuki meluas (pangsa pasar meningkat) dan nilai tambah (pendapatan) yang dinikmati masyarakat meningkat. Pada tahap ini,

18

jika jumlahnya cukup banyak pengusaha sudah mampu memberikan sumbangan besar dalam pengembangan ekonomi nasional. 3. Melalui ilmu pengetahuan dan teknologi dan SDM terampil (knowledge and skill labor based) atau innovationdriven. Pada tahap ini ditandai dengan peningkatan produktivitas dan nilai tambah yang makin besar akibat inovasiteknologi dan SDM terampil pada seluruh subsiste agribisnis. Sedangkan pada produk akhir agribisnis ditandai oleh peningkatan pangsa produk yang bernilai tambah tinggi (high value), diversifikasi produk sesuai dengan segmen-segmen pasar yang berkembang, sehingga pendapatan yang diterima juga akan semakin meningkat. Innovation driven dilakukan melalui ekayasa keuangan, sosial, ekonomi, hukum, teknologi dan sistem informasi. Melalui rekayasa keuangan dan sistem informasi canggih para pengusaha negara maju mampu memobilisasi uang dari manapun dan menciptakan pasar global dalam jumlah besar serta waktu yang bersamaan. Melalui rekayasa hukum para pengusaha negara maju sering dengan mudah menguasai kepemilikan asset yang tangible (lahan, bangunan, uang, barang) dan yang intangible (paten, lisensi, hak penguasaan, penjaminan, penjualan, penyewaan, pemakaian dan hak hak lain yang bisa menimbulkan keuntungan luar biasa). Melalui pengembangan teknologi, bioteknologi yang paling canggih para pengusaha tersebut bisa memanfaatkan teknologi pemetaan gen dan teknologi nano dari sumberdaya di luar batas negaranya.

KARAKTERISTIK DAN RUANG LINGKUP AGRIBISNIS

Karakteristik Agribisnis
Karakteristik agribisnis tidak terlepas dari proses agribisnis itu sendiri. Oleh karena itu, sebelum memahami karakteristiknya, terlebih dulu harus memahami proses agribisnis. Karena agribisnis merupakan kegiatan produksi atau operasi maka proses agribisnis juga sama dengan proses produksi. Proses produksi merupakan kegiatan yang mentransformasikan input menjadi output. Tujuan 19

kegiatan produksi ini adalah menciptakan dan menambah utilitas suatu barang atau jasa. Berdasarkan sifat alam dan jenis proses karakteristik agribisnis terdiri atas : 1. keragaman struktur, perilaku, dan kinerja agribisnis 2. keragaman produksi yang dihasilkan 3. adanya intervensi pemerintah karena produk agribisnis bersifat strategis 4. pengembangan teknologi biasanya didanai pemerintah 5. struktur pasar produk agribisnis mendekati pasar bersaing sempurna. Agribisnis merupakan kegiatan ekonomi tertua dalam bentuk intervensi manusia terhadap alam, maka karakteristik agribisnis selain dipengaruhi oleh sifat-sifat alam dan jenis proses produksi, tetapi juga dipengaruhi oleh perkembangan peradaban manusia. Saragih (1998) mengemukakan lima karakteristik penting agribisnis yang membedakannya dari bisnis lain :
1.

Keunikan dalam aspek sosial, budaya, dan politik. Keberagaman sosial-budaya manusia turut membentuk keberagaman struktur, perilaku, dan kinerja agribisnis. Keberagaman ini dapat diamati baik dari segi produsen maupun konsumen. Sebagai contoh yaitu, jenis usahatani rakyat di Jawa dan Bali didominasi oleh usahatani lahan sawah, sementara di luar Jawa dan Bali jenis usahatani yang menonjol adalah perkebunan rakyat. Petani asal etnis Bali yang terkenal ulet dan tekun relatif lebih berhasil dalam mengembangkan agribisnis di wilayah transmigrasi dari pada etnis lain untuk komoditas yang sama. Fragmentasi lahan pertanian terjadi di Indonesia, tetapi tidak di Jepang karena di negara ini hanya anak pertama yang berhak mewarisi lahan pertanian sedangkan di Indonesia semua anak berhak mewarisi. Dari segi konsumen, keberagaman sosial budaya konsumen mempengaruhi konsumsi pangan yang selanjutnya mempengaruhi agribisnis yang berkembang.

2.

Keunikan karena adanya ketidakpastian (uncertainty) dalam produksi pertanian yang berbasis biologis. 20

Ilmu genetika menunjukkan bahwa variasi produksi tanaman dipengaruhi oleh variasi genetik, lingkungan (macroclimate dan microclimate), dan interaksi genetik dengan lingkungan. Berdasarkan ketiga faktor ini dikenal berbagai macam komoditas agribisnis tropis dan subtropis; komoditas agribisnis yang memiliki toleransi lingkungan yang luas (misalnya ubi jalar), komoditas spesifik lokasi (kelapa sawit, sapi perah, dll). Bahkan untuk komoditas yang sama, misalnya jeruk, dikenal rasa yang beraneka macam dari pahit sampai yang paling manis. Dengan dasar biologis juga dikenal bahwa produk pertanian bersifat voluminous (banyak makan ruang/ tempat), bulky (volume besar tetapi bernilai rendah), dan perishable (mudah rusak/ busuk) yang membedakannya dengan produk-produk non-agribisnis.
3.

Keunikan dalam derajat atau intensitas campur tangan politik dari pemerintah. Produk-produk agribisnis khususnya bahan pangan merupakan kebutuhan dasar (basic needs) dan sering dipandang sebagai komoditas politik sehingga sering diintervensi oleh politik pemerintah.

4.

Keunikan dalam kelembagaan pengembangan teknologi. Peranan sektor agribisnis yang sangat penting dalam setiap negara menyebabkan pengembangan teknologi pada sektor ini menjadi salah satu bentuk layanan umum yang disediakan oleh pemerintah. Di Indonesia misalnya, kelembagaan pengembangan teknologi di bidang agribisnis, seperti Balai Penelitian Padi di Sukamandi, dibiayai oleh anggaran pemerintah. Hal ini berbeda dengan industri non-agribisnis yang pada umumnya dibiayai oleh perusahaan swasta itu sendiri.

5.

Perbedaan struktur persaingan. Agribisnis merupakan satu satunya sektor ekonomi yang paling banyak melibatkan pelaku ekonomi. Pelaku ekonomi pada sektor agribisnis, produsen, dan konsumen pada umumnya berukuran relatif kecil 21

dibandingkan dengan besarnya pasar. Selain itu, hampir semua komoditas agribisnis memiliki produk substitusi. Komoditi bahan pangan sumber karbihidrat misalnya memiliki ratusan jenis. Demikian juga terdapat puluhan jenis komoditas sumber protein, vitamin, dan mineral. Karakteristik seperti ini menunjukkan bahwa struktur pasar agribisnis lebih mendekati struktur pasar persaingan sempurna. Hal ini berbeda dengan struktur pasar pada industri lain yang pada umumnya berkisar antara struktur pasar monopolistik atau monopsonistik hingga oligopolistik atau oligopsonistik.

RUANG LINGKUP AGRIBISNIS


Ruang lingkup sistem agribisnis dikemukakan oleh Davis dan Golberg, Sonka dan Hudson, Farrell dan Funk yaitu: Agribusiness included all operations involved in the manufacture and distribution of farm supplies; production operation on the farm; the storage, processing and distribution of farm commodities made from them, trading (wholesaler, retailers), consumer to it, all non farm firms and institution serving them. Pendapat ini menunjukkan bahwa agribisnis adalah suatu sistem. Berdasarkan pendapat ini, Saragih mengemukakan bahwa sistem agribisnis terdiri atas empat subsistem, yaitu: a) subsistem agribisnis hulu atau downstream agribusiness Subsistem agribisnis hulu disebut juga subsistem faktor input (input factor subsystem). Dalam pengertian umum subsistem ini dikenal dengan subsistem pengadaan sarana produksi pertanian. Kegiatan subsistem ini berhubungan dengan pengadaan sarana produksi pertanian, yaitu memproduksi dan mendistribusikan bahan, alat, dan mesin yang dibutuhkan usahatani atau budidaya pertanian (on-farm agribusiness). b) subsistem agribisnis usahatani atau on-farm agribusiness, Subsistem usahatani atau budidaya pertanian disebut juga subsistem produksi pertanian (production subsystem). Kegiatan subsistem ini adalah melakukan usahatani atau budidaya pertanian dalam arti luas. Istilah 22

pertanian selama ini lebih banyak mengacu pada subsistem produksi. Kegiatan subsistem ini menghasilkan berbagai macam komoditas primer atau bahan mentah. c) subsistem agribisnis hilir atau upstream agribusiness, Subsistem agribisnis hilir terdiri atas dua macam kegiatan, yaitu pengolahan komoditas primer dan pemasaran komoditas primer atau produk olahan. Kegiatan pengolahan komoditas primer adalah memproduksi produk olahan baik produk setengah jadi maupun barang jadi yang siap dikonsumsi konsumen dengan menggunakan bahan baku komoditas primer. Kegiatan ini sering juga disebut agroindustri. Contoh kegiatan pengolahan komoditas primer yang menghasilkan produk antara adalah pabrik tepung terigu, maezena, tapioka, dan sebagainya. Contoh kegiatan komoditas primer yang menghasilkan barang jadi adalah pabrik makanan dan minuman sari buah atau sirup. Kegiatan pemasaran berlangsung mulai dari pengumpulan komoditas primer sampai pengeceran kepada konsumen. d) subsistem jasa layanan pendukung agribisnis atau supporting institution. Subsistem jasa layanan pendukung atau kelembagaan penunjang agribisnis adalah semua jenis kegiatan yang berfungsi mendukung dan melayani serta mengembangkan kegiatan ketiga subsistem agribisnis yang lain. Lembagalembaga yang terlibat dalam kegiatan ini adalah penyuluhan, konsultan, keuangan, dan penelitian. Lembaga penyuluhan dan konsultan memberikan layanan informasi dan pembinaan teknik produksi, budidaya, dan manajemen. Lembaga keuangan seperti perbankan, modal ventura, dan asuransi memberikan layanan keuangan berupa pinjaman dan penanggungan risiko usaha (khusus asuransi). Lembaga penelitian baik yang dilakukan oleh balai-balai penelitian atau perguruan tinggi memberikan layanan informasi teknologi produksi, budidaya, atau teknik manajemen mutakhir hasil penelitian dan pengembangan.

23

Berdasarkan pandangan bahwa agribisnis sebagai suatu sistem dapat terlihat dengan jelas bahwa subsistem-subsistem tersebut tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling terkait satu dengan yang lain. Subsistem agribisnis hulu membutuhkan umpan balik dari subsistem usahatani agar dapat memproduksi sarana produksi yang sesuai dengan kebutuhan budidaya pertanian. Sebaliknya, keberhasilan pelaksanaan operasi subsistem usahatani bergantung pada sarana produksi yang dihasilkan oleh subsistem agribisnis hilir. Selanjutnya, proses produksi agribisnis hilir bergantung pada pasokan komoditas primer yang dihasilkan oleh subsistem usahatani. Subsistem jasa layanan pendukung, seperti telah dikemukakan, keberadaannya tergantung pada keberhasilan ketiga subsistem lainnya. Jika subsistem usahatani atau agribisnis hilir mengalami kegagalan, sementara sebagian modalnya merupakan pinjaman maka lembaga keuangan dan asuransi juga akan mengalami kerugian. Gambaran besar mengenai ruang lingkup agribisnis dapat disajikan pada Gambar 3 berikut.

24

Industri Agribisnis

Pasokan Input Agribisnis

Output Perusahaan Agribisnis

Pakan Impor Bibit/ benih Mesin dan peralatan Petani Uang Susu Transportasi Pupuk Kesehatan Hewan Pestisida Pedagang besar Energi Bahan kimia Kontainer Asuransi Penelitian Ilmu pengetahuan Teknik Pendidikan Dan lain-lain Ternak

Produk sampingan pertanian, minyak, daging, dedak, biji

Pemasaran Transportasi Makanan olahan

Pengolahan Ekspor

Makanan non olahan Minuman Tekstil

Unggas Hewan lainnya Tanaman Hutan Benih/ bibit Buah dan Sayur Tanaman lainnya Jenis lain
Hewan ternak berukuran kecil

Kayu dan Kertas Pedagang besar dan eceran Pedagang perantara Grosir Makanan siap saji dan restoran lain

Gambar 3. Gambaran Besar Agribisnis (Ricketts and Rawlins, 2001)

25

PENDEKATAN SISTEM DALAM AGRIBISNIS


Pendekatan sistem diperlukan untuk memahami kompleksitas agribisnis sebagai : suatu sistem, praktek bisnis, paradigma pembangunan pertanian, keilmuan sehingga tujuan agribisnis dapat tercapai. Penggambaran sistem agribisnis yang bertitik pangkal pada on farm (usaha tani) sangat membantu untuk mendiagnosis, mendisain dan mengembangkan agribisnis. Pendekatan sistem akan memberikan penjelasan atau gambaran bagian terkecil (elemen) pembentuk subsistem karena pendekatan sistem akan berusaha untuk mencari pengertian agribisnis secara keseluruhan melalui pengetahuan pada bagian-bagiannya, dengan tujuan untuk memperoleh gambaran yang holistik, general dan terpadu. Definisi Sistem Sistem secara sederhana didefinisikan seperangkat hubungan dan interaksi yang bertanggungjawab memunculkan karakteristik (Bellinger, 2000). Law and Kelton (2000) mengartikan sistem sebagai sekumpulan entitas yang bertindak dan berinteraksi bersama-sama untuk memenuhi tujuan akhir yang logis. Kehadiran sebuah sistem dapat diketahui dari fenomena yang muncul dan perilaku dalam kurun waktu tertentu membentuk suatu struktur. Pendekatan sistem ini juga dapat disebut pendekatan cybernetic, dimana segala sesuatu tidak digambarkan per baikan, tetapi harus dalam satu jaringan dan satu hubungan. Sistem terdiri atas subsistemdan semua sistem memiliki karakteristik umum tertentu, tunduk pada prinsip sistem, dan harus dipahami dan dipelajari secara keseluruhan, bukan hanya salah satu bagian/ satu subsistem saja. Bellinger (2000) menunjukkan bahwa dalam konteks sistem, model adalah penyederhanaan sistem nyata agar lebih mudah dipahami mekanisme kerjanya (Wainwright and Mulligan, 2004). Sistem nyata tidak bersifat statis, tetapi segala sesuatunya selalu berubah sejalan berubahnya waktu, bersifat kompleks dengan adanya hubungan sebabakibat unsur-unsur yang menyusunnya, dan bersifat non linear dimana akibat

26

dapat mempengaruhi sebab, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, diperlukan model untuk membantu dan memahami dan menyelesaikan masalah. Dalam analisis sistem, kita perlu memahami hubungan antara entitas yang mungkin atau tidak mungkin mempengaruhi hubungan dengan entitas lain dan mengetahui juga sifat sebenarnya dari masing-masing entitas. Hubungan dalam sistem ini terbagi menjadi dua yaitu saling memperkuan dan balancing. Contoh dari sistem ini adalah sistem sosial seperti yang digambarkan sebagai berikut.

Input

Proses

Proses

Gambar 4. Model Sistem sederhana Gambar ini menjelaskan bahwa masukan (input) digunakan untuk mencapai sesuatu atau untuk mengubah sesuatu melalai suatu proses, dengan demikian menghasilkan suatu output (produk), tujuan, proposal, hal/ situasi, bahkan kinerja yang diinginkan. Menurut pendekatan ini, lima elemen yang harus dipertimbangkan dalam menentukan sistem adalah input (apa yang datang dari luar ke dalam sistem), output (apa yang meninggalkan sistem dan berjalan diluar sistem), dan proses (transformasi yang terjadi di dalam sistem), batas-batas (yang menentukan perbedaan antara sistem dan pengaturan sistem), dan lingkungan (skenario, pengaturan, lingkungan, konteks) yang merupakan bagian dari yang dapat diabaikan dalam analisis sistem (kecuali dimana hal ini berinteraksi dengan sistem). Sebagai contoh dari elemen-elemen ini adalah orang, teknologi, modal, bahan, data, peraturan, dan sebagainya. Lebih lanjut, unsur penting lainnya dari teori sistem adalah sistem hierarki, sistem negara, informasi dan orientasi terhadap tujuan global. Jika sifat proses (apa yang terjadi di dalam sistem), hubungan timbal balik, atau komponen tidak diketahui, maka diterapkan konsep black box. Contoh kasusnya adalah ketika konsumsi bahan bakar dan produksi CO2 dalam rantai pertanian diketahui, maka pola konsumsi, aliran internal, dan konsumen (komponen dan hubungan) sering tidak diketahui/ diabaikan. Contoh lain adalah berhubungan dengan pendekatan sistem untuk kualitas makanan dan 27

keamanan, adalah ketika pembuat kebijakan meminta industri untuk mengirimkan produk berkualitas (output) tanpa memperhatikan input (bahan baku, jasa, dll) dan proses di dalam bisnis itu. Hubungan antara komponen dalam sistem mungkin subsistem dari sistem yang sama dan mungkin juga berhubungan dan berinteraksi dengan cara yang berbeda. Salah satu cara sederhana untuk mengggambarkan perbedaan white box atau transparent box dengan subsistem dalam batas sistem dynamic (sistem yang lebih besar), yang bertentangan dengan konsep black box dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 5. Model Dinamik transparent box Dari Gambar diatas dapat simpulkan bahwa anak panah elips yang menghubungkan subsistem menunjukkan interaksi dan hubungan antara mereka yang bersifat dinamis, dan karena itu tidak direpresentasikan sebagai garis lurus. Garis penuh mewakili batas tertentu suatu keadaan, garis putus-putus mewakili batas keadaan lainnya, sebagai akibat dari prinsip-prinsip yang mengatur sistem. Dari semua konsep diatas menunjukkan bahwa sistem memiliki struktur hirarki dengan tingkat yang berbeda. Struktur sistem adalah seperangkat hubungan kompleks antar komponen dan subsistem yang dalam jangka waktu lama menentukan tujuan dan hasil umum dari seluruh sistem. Keuntungan dari penerapan analisis sistem yang berasal dari teori sistem adalah bahwa prinsip-prinsip berlaku untuk semua jenis sistem, yaitu untuk semua jenis organisasi. Organisasi dalam suatu sistem berfungsi mengatur prinsip untuk aspek-aspek seperti pengambilan keputusan, penentuan masalah, pemaksimalan 28

pengawasan, dan operasi sistem. Pendekatan sistem yang merupakan cara berpikir atau sikap mental yang difokuskan pada pemahaman bagaimana sesuatu itu bekerja, berperilaku dan saling berhubungan dapat dijadikan alat yang sangat penting untuk membuat strategi dalam rangka meningkatkan daya saing. Dalam dunia nyata, peternakan, agroindustri, bisnis ritel perlu memahami pendekatan sistem untuk bertahan di setiap perubahan bisnis. Pendekatan sistem ini pada dasarnya memilih input dan mengetahui efek, parameter, dan pengaruh perilaku dalam sistem yang dapat mengubah hasil output yang diinginkan. Dari sudut pandang para ahli, pendekatan ini akan mengidentifikasi variabel independen dan mentransformasikannya menjadi variabel dependen, satu set parameter, dan batasan-batasan. Dalam lingkup persoalan agribisnis, pendekatan sistem pelaku usaha memperoleh gambaran yang dapat menjelaskan apa batasan sistem agribisnis; adanya batasan berarti ada lingkungan luar, seperti apa gambaran lingkungan luas sistem agribisnis, apa elemen-elemen pembentuknya, bagaimana bentuk hubungan antara elemen, bagaimana hubungan antara elemen dengan sistem, apa saja inputnya, apa yang menjadi outputnya, bagaimana prosesnya, termasuk menjelaskan tujuan dan sasaran sistem agribisnis. Salah satu penerapan kerangka berpikir tentang pendekatan sistem agribisnis dapat dilihat pada pendekatan dinamika sistem (system dynamics) yang ditunjukkan melalui diagram sebab akibat dari persoalan keterkaitan sistem rantai pasok industri perberasan dengan ketahanan pangan dalam dimensi spasial Jawa Barat berikut ini. Hal utama yang dilakukan adalah pembuatan diagram sebab akibat yang menggambarkan struktur pembentuk sistem dan memahami kompleksitas interpedensi berbagai variabel yang terdapat dalam struktur sistem rantai pasok industri perberasan dan ketahanan pangan Jawa Barat. Diagram sebab akibat tersebut disajikan pada Gambar 6 berikut ini.

29

Harga Beras di Sentra Produksi + -

Konsumsi Beras Petani di Sentra + Konsumsi Beras Penduduk Jawa Barat + Populasi Penduduk Jawa Barat + Ketersediaan Beras di Jawa Barat +

Harga Beras di Pasar Cipinang +

+ Produksi Gabah di Sentra + Produksi Beras di Sentra Produksi

Persediaan Beras di Pasar Cipinang +

Tingkat Kelahiran di Jawa Barat

Persediaan Beras di Jawa Barat +

+ Distribusi Beras+ke Pasar Cipinang Persediaan Beras di Sentra Produksi -

+ Distribusi Beras antar Daerah Jawa Barat

Gambar 6. Sebab akibat Sistem Rantai Pasokan Industri Perberasan Dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan Jawa Barat (Perdana, dkk., 2009)

Berdasarkan Gambar 3 diatas, setiap sentra budidaya padi di Jawa Barat melakukan produksi untuk menghasilkan gabah. Pertambahan produksi gabah di sentra produksi akan menambah produksi beras di sentra produksi. Jumlah produksi beras yang dihasilkan penggilingan beras akan menentukan jumlah persediaan beras di sentra produksi. Semakin banyak produksi beras yang dihasilkan penggilingan beras di sentra produksi maka akan semakin bertambah pula persediaan beras di sentra produksi. Penggilingan beras berharap persediaan beras yang dimiliki secepatnya bisa terjual karena persediaan menimbulkan biaya dan risiko. Dalam hal ini, penggilingan beras pada setiap wilayah sentra produksi menetapkan prioritas utama tujuan pemasaran berasnya ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) karena harga pembelian paling tinggi dan waktu pembayaran relatif singkat. Berdasarkan hal tersebut, semakin banyak persediaan beras di sentra produksi maka distribusi beras ke PIBC akan meningkat. Terkait dengan hal tersebut, jumlah beras yang 30

didistribusikan ke PIBC akan mengurangi jumlah persediaan beras di sentra produksi. Keterkaitan persediaan beras di sentra produksi dengan distribusi beras ke PIBC ini membentuk umpan balik negatif yang menghasilkan perilaku ke arah kesetimbangan. Penggilingan beras di sentra produksi tidak dapat mengirimkan semua hasil produksinya ke PIBC, karena apabila keputusan tersebut dilakukan makan akan terjadi kelebihan pasokan dan persediaan beras di PIBC yang mengakibatkan harga beras PIBC turun. Penurunan harga beras di PIBC berdampak pada harga beras di sentra produksi. Dalam upaya menghindari kondisi tersebut, penggilingan beras memasarkan berasnya ke daerah lain di Jawa Barat. Semakin banyak persediaan beras di sentra produksi maka distribusi beras antar daerah Jawa Barat akan semakin banyak. Interaksi antara persediaan beras di sentra produksi dan distribusi beras antar daerah Jawa Barat akan membentuk perilaku kesetimbangan. Hal tersebut karena distribusi daerah Jawa Barat akan mengurangi persediaan beras di sentra produksi. Jumlah beras dari sentra produksi yang didistribusikan ke daerah lain Jawa Barat akan menentukan jumlah persediaan beras di Jawa Barat. Distribusi beras antara daerah Jawa Barat yang bertambah akan menyebabkan persediaan beras di Jawa Barat berjambah juga. Salah satu komponen pembentuk ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan. Dalam diagram sebab akibat sistem rantai pasok industri perberasan dalam mewujudkan ketahanan pangan Jawa Barat terlihat bahwa semakin banyak persediaan beras di Jawa Barat akan meningkatkan ketersediaan beras di Jawa Barat. Ketersediaan beras tersebut akan menentukan besaran distribusi beras antar daerah Jawa Barat. Dengan demikian, akan terbentuk umpan balik negatif dari interaksi distribusi beras antar daerah Jawa Barat dengan persediaan dan ketersediaan beras di Jawa Barat. Jumlah ketersediaan beras di Jawa Barat ditentukan oleh besaran konsumsi beras penduduk Jawa Barat. Semakin bertambah konsumsi beras penduduk Jawa Barat maka akan mengurangi ketersediaan beras di Jawa Barat. Faktor pembentuk 31

konsumsi beras penduduk di Jawa Barat adalah jumlah populasi penduduk Jawa Barat dan konsumsi beras yang dilakukan petani di sentra produksi. Semakin besar konsumsi beras petani maka akan menambah konsumsi beras penduduk Jawa Barat. Demikian juga dengan haknya dengan jumlah populasi penduduk Jawa Barat akan menambah jumlah konsumsi beras penduduk Jawa Barat. Dalam sistem rantai pasok industri perberasan terdapat keterkaitan antar pasar dengan sentra produksi. Persediaan beras di PIBC menentukan harga beras di PIBC, semakin banyak persediaan beras di PIBC maka harga beras di PIBC akan turun. Selanjutnya, penurunan harga beras di PIBC tersebut berdampak pada penurunan harga beras di sentra produksi. Harga beras di sentra produksi akan menentukan produksi gabah dan beras di sentra produksi. Dalam kurun waktu tertentu, semakin tinggi harga beras di sentra produksi maka produksi gabah dan beras di sentra produksi akan bertambah. Terkait dengan aspek ketahanan pangan, meningkatnya harga beras di sentra produksi akan menentukan jumlah konsumsi beras yang dilakukan keluarga petani di sentra produksi. Interaksi sistem rantai pasok industri perberasan dengan ketahanan pangan Jawa Barat membentuk umpan balik negatif. Kondisi tersebut akan menghasilkan perilaku yang mengarah pada kesetimbangan. Kesetimbangan tersebut terjad karena adanya tujuan dari sistem. Demikian juga halnya dengan keterkaitan spasial anatara sentra produksi dan pasar, interaksinya menghasilkan umpan balik negatif.

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI AGRIBISNIS


Pengembangan teknologi berbasis pertanian yang dapat dicirikan melalui inovasi dan introduksi alat atau mesin pertanian untuk proses produksi mulai dari prapanen hingga pascapanen merupakan masalah yang penting. Hal tersebut disebabkan karena modernisasi pertanian yang dilandasi sistem agribisnis atau 32

agroindustri sebagai salah satu pilar pembangunan ekonomi nasional demi mewujudkan kesejahteraan rakyat dan swasembada pangan, haruslah dikelola secara efektif dan efisien dalam setiap penggunaan sarana produksi ( bibit, pupuk, obat, dan peralatan ) untuk mencapai produktifitas, kualitas, dan keuntungan yang maksimal. Kondisi ini dapat terwujud apabila pengembangan teknologi pertanian beserta perangkat pendukungnya benar-benar diperhatikan secara serius. Teknologi tidak bisa dilepaskan dari gerakan revolusi hijau. Teknologi yang terus dikembangkan, terutama kegiatan riset, akan membawa pertanian menuju efisiensi dan peningkatan produktifitas. Esensi riset dan pengembangan amat identik dengan kemajuan suatu bangsa karena teknologi dapat menekan biaya produksi meingkatkan produktifitas dan mendorong tingkat efisiensi (Arifin, 2004). Sementara itu, produktivitas dimaksudkan sebagai suatu ukuran efisiensi yang berupa rasio produk dengan faktor produksi tertentu. Inovasi baru atau perubahan teknologi umumnya mampu menaikkan tingkat produksi sekaligus produktifitasnya. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pengembangan teknologi ditujukan untuk memacu peningkatan produktivitas pertanian. Secara umum dapat dikatakan bahwa teknologi pertanian digunakan untuk mengembangkan produksi pertanian dan mengembangkan metode pengolahan, pengangkutan, dan pendistribusian produk-produk pertanian. Perkembangan teknologi merupakan suatu elemen penting dalam upaya peningkatan daya saing melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi. Dan untuk mencapai hal itu, teknologi industri pertanian harus melakukan inovasi teknologi yang akan mampu bersaing di pasar internasional. Perkembangan dan pemanfaatan teknologi dalam pengembangan

agribisnis saat ini berlangsung sangat cepat, namun memiliki efek bola salju. Zaman dahulu petani Amerika melakukan kegiatan pertaniannya menggunakan kuda/ kedelai, namun saat ini kegiatan dilakukan menggunakan traktor. Penggunaan traktor ini membuat para petani melakukan pekerjaan lebih berat dalam beberapa jam dibandingkan teknologi sebelumnya yang biasa menyelesaikannya dalam seminggu. Beberapa contoh perkembangan teknologi agribisnis dapat dijelaskan sebagai berikut : 33

The Global Positioning System (GPS) GPS merupakan teknologi yang menggunakan satelit agar dapat melihat lahan dan tanaman pertanian secara spesifik. GPS pada awalnya dibuat untuk sistem pertahanan Amerika, dimana sistem ini terdiri atas 24 satelit yang mengelilingi bumi dalam 24 jam dan mengorbit 10.900 mil diatas bumi. GPS pada aktivitas pertanian bermanfaat untuk memberikan gambaran komputerisasi yang akan membantu manajemen usaha tani dan meningkatkan produktivitas lahan. GPS juga dapat membantu pelaku pertanian untuk memetakan lahan. Infrared yang ada pada GPS tersebut dapat membedakan tanaman yang sehat, menemukan titik masalah, dan mengenali gulma, dan area yang hasil berproduksi rendah. Dengan pemetaan lahan menggunakan GPS, petani mendapatkan informasi yang dapat membantu mereka membuat keputusan yang akan meningkatkan produktivitas oleh penggunaan manajemen yang baik di seluruh area lahan. Penggunaan teknologi ini tidak hanya menurunkan biaya produksi tetapi meningkatkan tingkat ketelitian yang dapat meningkatkan produktivitas, kualitas produk, dan efisiensi penggunaan bahan kimia. Ketelitian ini juga memberikan informasi spesifik mengenai tempat yang bermanfaat membantu mengurangi dampak lingkungan yang tidak diinginkan akibat aktivitas pertanian, membantu konservasi energi, serta perlindungan terhadap tanah dan air tanah.

Rekayasa Genetik Rekayasa genetik dilakukan dengan memasukan gen yang diinginkan pada kromosom mahkluk hidup. Rekayasa genetik ini memberikan beberapa keuntungan di bidang pertanian sebagai berikut : 1. Mentransformasi gen tunggal Metode ini dilakukan oleh para peneliti dengan menyilangkan beberapa gen tanaman untuk menghilangkan sifat atau karakteristik yang tidak diinginkan. Dengan rekayasa genetik ini peneliti dapat mentransfer gen tunggal yang diinginkan ke gen tanaman lain tanpa 34

mengubah gen asal tanaman tersebut. Dengan demikian pembudidaya memperoleh varietas yang lebih variatif. 2. Mentransfer gen ke tanaman yang tidak sejenis Dengan rekayasa genetik, transfer tidak hanya dilakukan kepada tanaman dengan jenis yang sama, melainkan bisa juga mentransfer gen tanaman yang diinginkan ke tanaman lain meskipun penerima gen tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan tanaman donor. Contoh rekayasa genetik ini adalah transfer gen bakteri ke tanaman, gen tanaman ke bakteri, dan gen hewan ke tanaman. 3. Menciptakan hibrida dari tanaman yang tidak dapat melakukan penyerbukan silang Contoh : tomat yang disilangkan dengan kentang 4. 5. 6. 7. Menciptakan tanaman tahan penyakit Menciptakan tanaman yang beracun bagi serangga tetapi tidak bagi manusia Menciptakan tanaman yang tolerasi terhadap herbisida Gene Splicing, dalam penerapannya, teknologi Gene Splicing menggunakan enzim tertentu untuk memindahkan suatu gen dari posisinya dalam kromosom dan menggantikannya dengan yang lain. Gene Splicing membiarkan peneliti untuk mengontrol langsung perubahan genetik dengan cara yang lebih baik dan cepat. Pengendalian Hama Terpadu Pengendalian Hama Terpadu adalah teknologi pengendalian hama yang didasarkan prinsip ekologis dengan menggunakan berbagai teknik pengendalian yang sesuai antara satu sama lain sehingga populasi hama dapat dipertahankan di bawah jumlah yang secara ekonomis tidak merugikan serta mempertahankan kesehatan lingkungan dan menguntungkan bagi pihak petani. Secara umum pengendalian hama terpadu tersebut digolongkan kepada lima cara yaitu: fisik dan mekanik, penggunaan varietas tahan, bercocok tanam, biologi, dan kimia. 35

1)

Pengendalian hama dan penyakit dengan penggunaan varietas tahan Penggunaan varietas tahan merupakan usaha pengendalian hama atau penyakit yang mudah dan murah bagi petani. Penggunaan varietas tahan telah terbukti dapat mengurangi kehilangan hasil, namun penggunaan varietas tahan yang memiliki gen ketahanan yang tunggal akan memacu timbulnya biotipe dan strain atau ras-ras baru yang akan lebih berbahaya. Untuk itu dianjurkan melakukan pergiliran varietas atau melakukan penanaman varietas tanaman yang memiliki berbagai tingkat ketahanan.

2)

Pengendalian hama dan penyakit dengan dilakukan secara fisik dan mekanik.Pengendalian hama atau penyakit dengan cara ini biasanya dilakukan pada usaha pertanian dalam skala kecil atau dalam rumah kawat atau rumah kaca. Pengendalian hama atau penyakit dengan fisik adalah penggunaan panas dan pengaliran udara. Sedangkan mekanik adalah usaha pengendalian dengan cara mencari jasad perusak tanaman, kemudian memusnahkannya. Cara ini dapat dilakukan dengan tangan atau menggunakan alat berupa perangkap.

3)

Pengendalian hama dan penyakit dengan dilakukan dengan cara bercocok tanam Berbagai usaha dalam bercocok tanam dapat menekan perkembangan jasad pengganggu tanaman, mulai dari pengolahan tanah, jarak tanam, waktu tanam, pengaturan pengairan, pengaturan pola tanam, dan pemupukkan.

4)

Pengendalian

hama

dan

penyakit

dengan

secara

biologi

Penggunaan musuh alami serangga hama berupa predator dan parasitoid (parasit serangga hama) telah lama dilakukan, tetapi keberhasilanya belum optimal, dan pada umumnya digunakan untuk pengendalian hama, sedangkan untuk pengendalian penyakit masih belum banyak dilakukan. Pengendalian secara biologi yang bisa dilakukan oleh petani adalah : - Menciptakan iklim mikro yang lebih mendukung pertumbuhan dan perkembangan dari musuh alami hama di lahan pertaniannya.

36

- Menanam tanaman dengan varietas yang tahan terhadap hama dan penyakit - Melakukan pola bercocok tanam yang menguntungkan bagi musuh alami misalnya dengan tumpang sari, atau melakukan bera terhadap tanah garapan dan cara- cara yang lain. - Melakukan pengendalian hama secara fisik terlebih dahulu sebelum memutuskan menggunakan pestisida. - Pilih Pestisida alami/ Pestisida Nabati terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menggunakan pestisida kimia, karena pestisida alami/ Pestisida nabati biasanya lebih ramah terhadap musuh alami hama, dan mematikan terhadap hamanya. - Melakukan penyemprotan dengan menggunakan pestisida yang selektif hanya membunuh serangga hamanya saja, dan dampak pestisida tersebut berdampak negatif sedikit pada musuh alami serangga hama. - Mengembangbiakkan musuh alami hama. 5) Pengendalian Hama dan Penyakit dengan cara Kimiawi Penggunaan pestisida kimia untuk pengendalian hama dan penyakit sangat jelas tingkat keberhasilannya. Penggunaan pestisida kimia merupakan usaha pengendalian yang kurang bijaksana, jika tidak dikuti dengan tepat penggunaan, tepat dosis, tepat waktu, tepat sasaran, tepat jenis dan tepat konsentrasi. Keadaan ini yang sering dinyatakan sebagai penyebabkan peledakan populasi suatu hama. Karena itu penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian hama dan patogen perlu dipertimbangkan, dengan memperhatikan tingkat serangan, ambang ekonomi, pengaruhnya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia dan hewan. Selain teknologi diatas, beberapa contoh perkembangan teknologi agribisnis lainnya adalah kloning, kultur jaringan, pertanian organik, pemanfaatan hormon, hidroponik dan aeroponik, teknologi manajemen elektronik dan komputer, teknologi mesin pada industri pertanian, dan lain sebagainya. 37

Teknologi sebagai salah satu sumberdaya produksi harus dapat digunakan secara tepat, yang meliputi jenis teknologi dan skala aplikasinya. Oleh karena itu, perlu pengelolaan teknologi yang efektif, mulai dari perencanaan teknologi, pengorganisasian teknologi, pelaksanaan aplikasi teknologi, pengawasan dan evaluasi aplikasi ternologi, dan upaya pengemdalian yang dibutuhkan. Dengan demikian aplikasi teknologi ini memerlukan penerapan fungsi-fungsi manajemen umum. 1. Perencanaan teknologi Perencanaan pengembangan dan aplikasi teknologi agribisnis terkait dengan pemilihan jenis teknologi yang akan dikembangkan dan diaplikasikan. Halhal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan teknologi antara lain 1) jenis bidang usaha dan skala usaha yang dijalankan, 2) kemampuan pembiayaan pengembangan dan aplikasi teknologi, 3) kemampuan sumberdaya manusia, 4) skala usaha dan tingkat persaingan, 5) budaya, adat, dan kebiasaan masyarakat, dan 6) kriteria produksi. 2. Pengorganisasian Teknologi Pengorganisasian teknologi terkait pengorganisasian sumberdaya yang diperlukan dan mengalokasikannya secara tepat dan efisien. Teknologi yang akan diaplikasikan ini harus diorganisasikan dengan baik sehingga tidak terjadi kesalahan-kesalahan (alokasi, penempatan) yang dapat menyebabkan ketidakefisienan. 3. Pelaksanaan Penerapan Teknologi Pelaksanaan ini dimulai dari pengembangan sampai penggunaan teknologi dalam produksi/ operasi perusahaan. 4. Pengawasan, Evaluasi, dan Pengendalian Pengawasan dan evaluasi teknologi berfungsi untuk menilai perlu/ tidaknya diadakan penyesuaian-penyesuaian untuk melihat penyimpangan dan kesalahan operasi supaya dapat segera dilakukan pengendalian. Pengawasan 38

bersifat dilakukan secara terus menerus dalam berbagai aspek, sedangkan evaluasi dilakukan secara berkala.

LATIHAN Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang Ruang Lingkup Sistem Agribisnis, coba Anda uraikan pertanyaan latihan berikut ini. 1. Jelaskan secara singkat perkembangan pertanian dan agribisnis yang ada di Indonesia 2. Gambarkan dan jelaskan mengenai ruang lingkup agribisnis 3. Sebutkan produk pertanian apa saja yang terkandung dalam sebuah pizza, identifikasi dan jelaskan industri apa saja yang terlibat dalam pembuatan sepotong pizza tersebut. 4. Sebutkan kemungkinan contoh pendekatan-pendekatan sistem lain yang dapat dipraktikan kedalam membuat strategi pengembangan agribisnis (minimal 2 pendekatan). Jelaskan alasan anda! 5. Sebutkan dan jelaskan contoh pengembangan teknologi terbaru yang berkaitan dengan input dan output agribisnis. 6. Mengapa efisiensi produksi pertanian sangat penting. Jelaskan pendapat anda. 7. Jelaskan pengaruh GDP (Gross Domestic Product) terhadap industri pertanian.

39

TES FORMATIF Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Pertanian sering juga digambarkan dengan ....., ...., ....., atau ......, ....., ..... 2. Sebutkan dua macam aktivitas yang dilakukan manusia sebelum menemukan sistem pertanian! 3. Sebutkan tiga macam perkembangan pertanian yang terjadi selama revolusi pertanian dan industri! 4. Sebutkan lima contoh perkembangan pertanian yang terjadi pada saat ini! 5. Apakah yang dimaksud dengan agribisnis? 6. Berilah contoh masing-masing tiga pelaku usaha/ industri yang terkait pada input dan output agribisnis! 7. Sebutkan 12 contoh output dalam agribisnis! 8. Apakah yang dimaksud dengan sistem dalam agribisnis? 9. Apakah peranan pendekatan sistem dalam agribisnis? 10. Sebutkan fungsi-fungsi manajemen umum apa saja yang biasa diterapkan dalam manajemen teknologi agribisnis!

40

Modul

AGROINPUT AGRIBISNIS

TIPE AGROINPUT AGRIBISNIS


Input agribisnis mencakup produk-produk yang dipasok untuk produksi pertanian (Ricketts and Rawlins, 2001). Input agribisnis terbagi menjadi dua yaitu, input utama dan input penunjang. Input agribisnis dibagi menjadi tiga tipe yaitu: 1. Input utama agribisnis, terdiri atas pupuk, obat-obatan kimia (pestisida), serta alat dan mesin pertanian. 2. Input penunjang, seperti solar, bensin, oli motor, transmisi dan oli hidrolik dibutuhkan untuk menjaga traktor, truk, dan mesin pertanian tetap berfungsi; bibit dan kapur dibutuhkan oleh produsen tanaman; dokter hewan dibutuhkan untuk menjaga kesehatan hewan ternak; keranjang, tas, karung, krat dibutuhkan dalam pengemasan dan pengangkutan; kayu dan bangunan dibutuhkan sebagai tempat berlindung manusia, ternak, dan tanaman. 3. Input yang sering terabaikan fungsinya, seperti besi dan baja yang sewaktu-waktu dibutuhkan untuk pemeliharaan bangunan pertanian; benih, tanaman, dan pohon dibutuhkan untuk tanaman dan produksi hutan; keperluan lain seperti listrik, air, gas, telepon; kredit, asuransi, dan pelayanan jasa pemerintah dan swasta.

41

Pupuk
Pupuk merupakan bahan organik atau anorganik, alami atau sintetis, yang menyuplai tanaman dengan nutrisi untuk pertumbuhan tanaman. Pupuk dikenal dengan istilah pupuk makro dan mikro. Pupuk komersil biasanya dibuat dengan menggabungkan bahan makanan tanaman tertentu untuk memperoleh perbandingan spesifik dan jumlah nutrien tanaman. Tiga nutrien utama yang dibutuhkan tanaman adalah Nitrogen, Fosfor, dan Kalium. Untuk menjadi pupuk, ketiga elemen utama ini biasanya digabungkan dengan zat lain. Berdasarkan unsur hara yang dikandungnya, kelompok pupuk terbagi menjadi tiga sebagai berikut : 1. Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu jenis unsur hara, misal urea (45%), TSP (45% P2O5), SP-36 (36% P2O5), ZK (50% K2O) dan sebagainya; 2. Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara, misal pupuk NPK, NP, PK, NK, dan sebagainya; 3. Pupuk majemuk lengkap adalah pupuk yang mengandung unsur hara secara lengkap baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro.

Pestisida
Keberadaan pestisida ini muncul di pertengahan abad 19 pada saat manusia mulai terganggu akibat persaingan dengan serangga dan hewan lain terhadap buah dan tanaman mereka. Selain itu gangguan juga muncul persaingan antara tanaman dengan tanaman lain yang tidak diinginkan. Oleh karena keberhasilan penemuan di bidang biologi dan kimia, kini alang-alang, serangga, dan penyakit dapat ditangani dengan obat-obatan kimia sintetis. Pestisida terbagi menjadi tiga tipe utama yaitu herbisida, insektisida, dan fungisida. Pestisida kemudian dibagi lagi menjadi tiga yaitu fumigants, defoliants,

42

dan desiccants. Penggunaan pestisida ini mengambil peran 4% dari biaya produksi pertanian. Pestisida terbukti sangat membantu meningkatkan produksi hasil tanaman, namun di sisi lain karena pestisida adalah bahan kimia beracun, pemakaian pestisida berlebihan dapat menjadi pencemar bagi tanaman, air, dan lingkungan hidup. Residu sejumlah bahan kimia yang ditinggalkan melalui berbagai siklus, langsung atau tidak langsung, dapat sampai ke manusia, terhirup melalui pernafasan, dan masuk ke saluran pencernaan bersama makanan. Oleh karena itu pestisida perlu ditangani dengan baik dan hati-hati. Seiring berkembangnya penggunaan pestisida, industri pemasok pestisida juga semakin dibutuhkan. Dengan demikian membuka lapangan kerja bagi masyarakat, baik sebagai pekerja, distributor, pedagang, peneliti dan lain-lain. Semua input agribisnis tersebut saat ini dapat diperoleh di toko pertanian yang banyak tersebar di seluruh daerah. Toko pertanian ini biasanya menyediakan berbagai produk dan jasa pertanian. Jasa pertanian yang dimaksud antara lain penyewaan alat penyemprot pestisida, traktor, truk, dan jasa perbaikan alat pertanian lainnya. Toko pemasok input pertanian dapat dibagi menjadi tiga kategori , yaitu koperasi petani, perusahaan gabungan, dan perusahaan kecil milik perseorangan. 1. Koperasi petani Koperasi petani adalah lembaga yang paling banyak menjual input pertanian. Produk yang biasanya tersedia di koperasi petani adalah pupuk, kapur tani, benih/ bibit, bensin, obat-obatan, dan pakan. Rata-rata petani membeli 45% pupuk dan kapur tani, 23% pakan ternak, 13% bibit/ benih, dan 32% obat-obatan dari koperasi ini. 2. Toko rantai pasok petani Toko dengan tipe ini biasanya mampu melayani konsumen full time karena produk yang ditawarkan beragam, dimulai dari peralatan pertanian (traktor, 43

pupuk, pakan, benih, truk, peralatan kebun, perangkat keras), pakaian, dan berbagai produk lain. Contoh dari toko jenis ini adalah WalMarti dan KMart 3. Toko milik perseorangan (Agen atau Pengecer) Toko dengan tipe ini biasanya dikelola oleh keluarga sendiri dan/ atau merekrut pekerja pada saat musin-musim tertentu saja. Toko ini biasanya menyediakan pakan, benih, pupuk dan berbagai input pertanian lain.

ALAT DAN MESIN PERTANIAN


Alat mesin pertanian adalah susunan dari alat-alat yang kompleks yang saling terkait dan mempunyai sistem transmisi (perubah gerak), serta mempunyai tujuan tertentu di bidang pertanian dan untuk mengoperasikannya diperlukan masukan tenaga (Soekirno, 1999). Alat mesin pertanian bertujuan untuk mengerjakan pekerjaan yang ada hubungannya dengan pertanian, seperti alat mesin pengolahan tanah, alat mesin pengairan, alat mesin pemberantas hama, dan sebagainya. Dengan penggunaan alat mesin pertanian, ketepata waktu dalam aktivitas pertanian dapat lebih ditingkatkan, dapat mengurangi kejenuhan dalam pekerjaan petani, dan tenaga kerja dapat dialokasikan untuk melakukan usaha tani lain atau kegiatan di sektor lain yang bersifat kontinu. Alat dan mesin pertanian paling besar pemanfaatannya pada saat pengolahan tanah. Pengolahan tanah tidak hanya merupakan kegiatan lapang untuk memproduksi hasil tanaman, tetapi juga berkaitan dengan kegiatan lainnya seperti penyebaran benih/ penanaman bibit, pemupukan, perlindungan tanaman dan panen. Oleh karena itu perkembangan dalam tujuan serta metode pengolahan tanah diikuti pula dengan perkembangan dalam desain peralatan baik dari segi bahan maupun bentuk alat. Banyak bukti menunjukkan bahwa bajak ringan terbuat dari kayu telah digunakan secara besar-besaran di daerah Mesir dan Sungai Nil sekitar tahun 3000 SM. bahkan digunakan sebagai 44

tenaga

penggerak/penarik peralatan pertanian, menyiapkan tanah untuk gandum, dan lain-lain tanaman yang populer pada jaman tanah dan membuat parit. Paling tidak

penanaman Barley,

itu. Bajak yang digunakan pada waktu itu tidak beroda atau bajak singkal yang digunakan untuk membalik peralatan tersebut dapat berfungsi memecahkan tanah dan untuk menutup benih. Lebih dari 2000 tahun yang lalu ditemukan bajak terbuat dari besi yang diproduksi di Honan Utara China. Pada awalnya alat ini berupa alat kecil yang ditarik dengan tangan dengan plat besi berbentuk V yang dihubungkan atau digandengkan dengan pisau kayu dan pegangan. Selama abad pertama m SM., kerbau digunakan untuk menarik peralatan pengolahan tanah. Selanjutnya secara berturut-turut dikembangkan alat yang disebut triple-shared plow, plow-and-sow dan garu. Bajak telah digunakan juga di India selama beribu-ribu tahun. Peralatan kuno tidak beroda dan moldboard terbuat dari kayu keras (wedge-shaped hardwood blocks) yang ditarik oleh sapi (bullock). Dengan alat ini tanah hanya dipecahkan kedalam bentuk gumpalan tetapi tidak dibalik; dan pengolahan pertama ini kemudian diikuti dengan penghancuran gumpalan dan perataan tanah dengan alat barupa batang kayu berbentuk empat persegi panjang yang ditarik oleh sapi. Pisau bajak besi muncul di Roma pada kira-kira 2000 tahun yang lalu sebagaimana pisau coulter. Pada waktu itu masih belum juga ditemukan bajak singkal yang berfungsi membalik tanah. Pada tanah yang berat dan keras, pisau bajak besi ini ditarik oleh sekelompok sapi jantan (oxen). Ada laporan yang menyatakan bahwa bajak yang dilengkapi dengan roda ditemukan di Italia utara pada sekitar tahun 100 M. Perkembangan terbesar untuk alat dan mesin pertanian terjadi pada saat revolusi pertanian dimana terjadi perubahan penggunaan tenaga hewan menjadi tenaga mesin pertanian. Perubahan tersebut dimulai sekitar abad 18 di Inggris dengan ditemukannya mesin uap. Melalui mekanisasi hewan seperti kuda, kedelai, lembu digantikan oleh tenaga mesin. Sebagai hasilnya penggunaan mesin tersebut 45

telah mengurangi jam kerja manusia yang dahulu 56 jam untuk memproduksi 1 hektar gandum menjadi 2 jam per hektar gandum menggunakan mesin pertanian. Perkembangan peralatan pertanian modern dimulai sebelum traktor menciptakan dampak yang baik di bidang pertanian. Mesin pertanian pertama yang memberikan dampak penting dalam pertanian adalah mesin tenun, yang ditemukan oleh Eli Whitney. Tiga tahun kemudian bajak besi dipatenkan oleh Jethro Wood. Bajak ini bekerja sangat baik di tanah wilayah Timur, tetapi tidak di tanah wilayah Barat. Pada tahun 1837, John Deere yaitu pendiri perusahaan traktor John Deere membuat bajak baja pertama dari bilah gergaji dan pada tahun 1846 John memproduksi 1000 bajak baja per tahun. Baja tidak menyusut secepat besi dan tanah tidak menempel pada bajak terlalu banyak, dengan demikian petani lebih menyukai bajak terbuat dari baja.

Era Traktor Bermesin Uap


Penemuan mesin uap memiliki pengaruh penting terhadap perkembangan pertanian antara tahun 1850 1900. Pada tahun tersebut sekitar 70.000 mesin uap diciptakan untuk keperluan pertanian. Fase pertama dengan diperkenalkannya mesin uap adalah penggunaan mesin untuk pertanian semakin banyak. Fase kedua adalah berupa traktor bermesin uap portable yang dapat dibawa ke lahan pertanian untuk mengerjakan pekerjaan tertentu, contohnya mesin perontok gandum. Fase ketiga disebut juga mesin tarik dimana mesin ini paling disukai petani sebagai sumber tenaga. Namun mesin ini juga memiliki beberapa masalah karena mesinnya terlalu berat, memakan tempat, mahal dan kegunaannya spesfik pada pekerjaan tertentu saja.

Mesin bertenaga Pembakaran Internal


Perkembangan mesin pembakaran internal ini memiliki fase pengembangan yang sama dengan mesin bertenaga uap. Fase pertama adalah mesin yang 46

diciptakan berukuran kecil dan bersilinder satu tidak dapat dipindahkan sehingga mesin ini digunakan untuk pekerjaan sederhana. Fase kedua, mesin berukuran besar, bersilinder dua yang dipasangkan pada roda. Fase ketiga adalah mesin bersilinder dua yang dipasangkan pada roda dan transmisi sehingga dapat menarik mesin itu sendiri.

Traktor
Asal usul kapan pertama kali traktor dibuat dan oleh siapa dibuat tidak pernah diketahui jelas. Namun, sejarahwan R. B Gray menuliskan bahwa perusahaan mesin gas Charter telah membuat traktor berbahan bakar bensin pada tahun 1889 dan pada tahun 1890 George Taylor mengaplikasikan suatu bajak motor. Perkembangan jenis traktor yang digunakan petani dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Traktor Pertama traktor beroda tiga dan berbahan bakar bensir Produksi traktor ini meluas cepat di awal tahun 1990-an. Pada masa ini juga perusahaan traktor berkembang sangat pesat. Namun, traktor jenis ini memiliki permasalahan yang hampir sama dengan mesin uap, yaitu mahal, sulit untuk dikendarai, besar, memakan banyak tempat, dan kegunaan masih terbatas. Pada tahun 1925, Henry Ford memperkenalkan traktor yang berukuran lebih kecil dan lebih murah. Traktor tersebut merupakan traktor yang di produksi massal untuk keperluan pasar. 2. Traktor Modern traktor beroda empat Traktor jenis ini diperkenalkan antara tahun 1960 1970 dan berbahan baku solar. Sampai saat ini hampir sekitar 80% traktor menggunakan solar sebagai bahan bakarnya. Keunggulan dari traktor jenis ini adalah penggunaan tenaga lebih efisien, traksi dan flotasi baik, dan pemadatan tanah sedikit. Saat ini, traktor empat roda ini merupakan standar traktor yang biasa digunakan petani, baik dengan jenis traktor kecil, sedang, dan besar. 47

Secara umum, macam alat dan mesin pertanian secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: 1. 2. Alat mesin pembukaan lahan Alat mesin untuk produksi pertanian - Alat mesin pengolahan tanah - Alat mesin penanam - Alat mesin pemeliharaan tanaman - Alat mesin pemanen 3. Alat mesin processing hasil pertanian (pascapanen) - Alat mesin pengering - Alat mesin pembersih atau pemisah - Alat mesin pengupas atau penyosoh atau reduksi Penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) ini memiliki manfaat antara lain : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan produktivitas; mengurangi kejerihan kerja petani dan meningkatkan kenyamanan kerja di pedesaan; meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani; menjamin kuantitas, kualitas dan peningkatan kapasitas hasil; mempercepat peralihan pertanian keluarga (subsistence farming); mempercepat transformasi ekonomi agraris ke ekonomi industri; mengurangi kehilangan hasil pasca panen.

Sedangkan dari segi tumbuhnya industri kecil di pedesaan, bengkel-bengkel kecil untuk reparasi dan pembuatan prototype alsintan dapat ditumbuh kembangkan. Bagi kelompok tani yang mampu (petani individu yang kaya) dapat menjadi pengusaha untuk menjual jasa alsintan. Sejalan dengan perkembangan teknologi dan pemikiran-pemikiran manusia dari zaman ke zaman, cara pengolahan hasil (panen) pertanian pun tahap demi tahap berkembang sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Alat dan mesin panen terdiri dari banyak macam dan jenisnya yang digunakan menurut jenis tanaman dan 48

tenaga penggerak, juga menurut cara tradisional maupun semi mekanis sampai yang modern. Sebagai contoh adalah menurut jenis tanaman, alat dan mesin panen digolongkan untuk hasil tanaman yang berupa biji-bijian, tebu, rumput-rumput, kapas dan umbi-umbian. Sedangkan untuk hasil tanaman yang berupa biji-bijian dibagi jenisnya untuk padi, jagung dan kacang-kacangan.

Industri Mesin Pertanian


Perusahaan mesin pertanian biasanya diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu full-line, long-line, dan short-line. Perusahaan full-line adalah jenis perusahaan yang mendominasi industri mesin pertanian dan memiliki jumlah yang besar. Perusahaan ini juga memiliki lingkup pasar yang luas yaitu pasar internasional dengan memiliki perusahaan tanaman dan pusat distribusi yang tersebar diseluruh dunia. Sedangkan perusahaan long-line memiliki lingkup pasar nasional dan short-line memiliki lingkup pasar secara regional dan lokal. Perusahaan alat pertanian sangat beragam dan tidak membatasi produk mereka pada alat pertanian saja. Sejak tahun 1980 telah terjadi merger manufaktur alat pertanian, pengurangan jumlah dealer, dan perubahan tipe traktor yang diproduksi. Setiap tahunnya banyak pengguna alat dari bidang non pertanian yang membeli produk dari industri alat dan mesin pertanian seperti perusahaan lanscape, kontraktor bangunan, pelatihan golf, dan rumah tangga. Setelah alat dan mesin pertanian tidak banyak lagi dijual melalui manufaktur, maka hal tersebut digantikan oleh perusahaan dagang besar, dimana mereka memiliki jaringan langsung ke dealer-dealer. Secara umum, perusahaan alat dan mesin pertanian ini telah banyak membantu petani dalam meningkatkan produktivitas dan keuntungan.

49

LATIHAN Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang Agroinput Agribisnis, coba Anda uraikan pertanyaan latihan berikut ini. 1. Jelaskan bagaimanakah cara memaksimalkan penggunaan input pertanian (pupuk dan pestisida) dengan mengurangi dampak negatif bagi lingkungan. 2. Jelaskan sejarah awal berkembangnya alat dan mesin pertanian. 3. Jelaskan perbandingan kelebihan dan kekurangan penggunaan tenaga mesin dan alat pertanian dengan tenaga manusia/ hewan bagi kegiatan pertanian. 4. Berikan contoh penggunaan inovasi teknologi terbaru pada input dan output agribisnis yang ada pada saat ini. 5. Menurut pendapat Anda sejauh mana agribisnis mempengaruhi

perekonomian Indonesia. Jelaskan!

TES FORMATIF Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Apakah yang dimaksud dengan agroinput agribisnis? 2. Sebutkan 5 contoh input agribisnis (utama dan penunjang) 3. Mengapa listrik, gas, telepon, air sering dikatakan input agribisnis yang sering diabaikan oleh petani 4. Kandungan apa saja yang dibutuhkan tanaman yang terdapat dalam pupuk? 5. Apakah hubungan timbal balik antara pupuk, pestisida, dan obat-obatan kimia lainnya dalam pertanian 50

6. Sebutkan Undang-undang yang mengatur tentang tata cara penggunaan pupuk pertanian! 7. Apakah yang dimaksud dengan mesin dan peralatan pertanian? 8. Sebutkan perkembangan jenis traktor dari pertama kali ditemukan sampai dengan sekarang! 9. Sebutkan tiga kategori mesin dan alat pertanian. 10. Berikan 5 alasan mesin uap tidak ideal dijadikan sumber tenaga bagi petani.

51

KEGIATAN BELAJAR 2 Modul

AGRIBISNIS DAN PETANI

DEFINISI DAN TIPE PETANI AGRIBISNIS


Mosher (1987) mengartikan petani sebagai manusia yang bekerja memelihara tanaman dan atau hewan untuk diambil manfaatnya guna menghasilkan pendapatan. Sedangkan menurut Departemen Pertanian Republik Indonesia (2002), petani adalah pelaku utama agribisnis, baik agribisnis monokultur maupun polikultur dari komoditas tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perikanan dan atau komoditas perkebunan. Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan secara umum pengertian petani adalah seseorang yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dari kegiatan usaha pertanian, baik berupa usaha pertanian di bidang tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Dari aspek tempat tinggal, secara umum petani tinggal di daerah pedesaan dan daerah pinggiran kota. Pekerjaan pokok yang dilakukan untuk kelangsungan hidup mereka adalah di bidang pertanian. Petani sebagai besar orang desa yang bercocok tanam dan bertenak di daerah pedesaan, tidak di dalam ruangan tertutup di tengah-tengah kota. Hal tersebut menjadi alasan pentingnya arti lahan bagi masyarakat perdesaan karena merupakan salah satu faktor produksi sehingga lahan dapat menggambarkan keadaan sosial ekonomi penduduk pedesaan. Lahan/ tanah merupakan faktor alam yang memiliki peranan sangat penting dalam pertanian, tanah memiliki fungsi dan kedudukan yang paling utama dalam usaha pertanian, tanah dapat dikatakan juga sebagai modal utama pertanian karena apabila tidak ada tanah maka para petani tidak bisa menanam tanaman 52

pertaniannya. Tanah juga dapat dinyatakan berperan sebagai factor alam dan sebagai modal utama. Berdasarkan luas lahan dimiliki petani, maka petani Indonesia dapat digolongkan sebagai peasant atau subsistence farmers dan tribal horticultural seperti halnya petani di Amerika Serikat dan Eropa Barat. Tribal hoticultural adalah masyarakat yang independen, bercocok tanam nomaden, dan tidak berada di dalam hubungan asimetris dengan kesatuan politik lebih besar, sedangkan peasant adalah masyarakat yang hidup dalam hubungan asimetris dengan kesatuan politik yang lebih besar, bercocok tanam dengan lahan yang sempit, membuat keputusan sendiri tentang proses cocok tanam, dan sebagian besar menggunakan hasil produksi pertaniannya untuk kepentingan mereka sendiri (Wolf, 1966). Salah satu ciri dari pertanian di Indonesia adalah pemilikan lahan yang sempit, sehingga pengusahaan pertanian di Indonesia dicirikan oleh banyaknya rumah tangga tani yang berusaha dalam sekala kecil. Jumlah rumah tangga pertanian di Indonesia didominasi oleh petani yang mempunyai lahan yang luasnya kurang dari 0,5 hektar sedangkan BPLPP mengemukakan bahwa karakteristik petani kecil di Indonesia ialah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Petani yang pendapatannya rendah, kurang dari 240 kg beras perkapita pertahun Petani yang memiliki lahan sempit, yaitu lebih kecil dari 0,25 ha Petani yang kekurangan modal dan memiliki tabungan terbatas Petani yang memiliki pengetahuan terbatas dan kurang dinamis.

LAHAN
Sumberdaya lahan pertanian memiliki banyak manfaat bagi manusia. Menurut Sumaryanto dan Tahlim (2005) menyebutkan bahwa manfaat lahan pertanian dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama, use values atau nilai penggunaan dapat pula disebut sebagai personal use values. Manfaat ini 53

dihasilkan dari hasil eksploitasi atau kegiatan usahatani yang dilakukan pada sumber daya lahan pertanian. Kedua, non use values dapat pula disebut sebagai intrinsic values atau manfaat bawaan. Berbagai manfaat yang tercipta dengan sendirinya walaupun bukan merupakan tujuan dari kegiatan eksploitasi dari pemilik lahan pertanian termasuk dalam kategori ini. Salah satu lahan pertanian yang banyak terdapat di Indonesia khususnya Pulau Jawa adalah lahan sawah. Lahan sawah adalah suatu tipe penggunaan lahan yang untuk pengelolaannya memerlukan genangan air. Oleh karena itu, lahan sawah selalu memiliki permukaan datar atau yang didatarkan dan dibatasi oleh pematang untuk menahan air genangan (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat 2003). Menurut Yoshida (1994) dan Kenkyu (1996) dalam Sumaryanto et al (2005) bahwa dari aspek lingkungan, keberadaan lahan pertanian memberikan lima manfaat, yaitu: pencegahan banjir, pengendali keseimbangan tata air, pencegahan erosi, pengurangan pencemaran lingkungan yang berasal dari limbah rumah tangga, dan mencegah pencemaran udara yang berasal dari gas buangan.

Petani dan Lahan


Perubahan Lahan Pertanian Lahan yang subur dan sesuai untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian semakin berkurang dari tahun ke tahun karena terjadi persaingan penggunaan lahan antara berbagai sektor, baik sektor pertanian maupun non pertanian. Dalam sektor pertanian sendiri, persaingan itu telah dan masih akan terjadi di seluruh wilayah Indonesia, terutama antara tanaman pangan dan perkebunan. Lahan pertanian yang subur tersebut banyak dikonversi menjadi perumahan, industri, dan prasaranan yang luasnya jauh lebih besar dibandingkan dengan luas pertanian. Faktor yang menyebabkan konversi lahan pertanian ke non pertanian disebabkan beberapa faktor sebagai berikut:

54

1. Faktor kependudukan: peningkatan jumlah penduduk telah meningkatkan permintaan tambah untuk perumahan, jasa industri, dan fasilitas umum lainnya. 2. Faktor ekonomi : tingginya tingkat keuntungan (land rent) yang diperoleh sektor non-pertanian dan rendahnya land rent dari sektor pertanian itu sendiri. 3. Faktor sosial budaya, antara lain keberadaan hukum waris yang dapat menyebabkan terfragmentasinya tanah pertanian sehingga tidak memenuhi skala ekonomi usaha yang menguntungkan. 4. Periaku myopic, yaitu mencari keuntungan jangka pendek namun kurang memperhatikan kepentingan jangka panjang dan kepentingan nasional secara keseluruhan. 5. Lemahnya sistem perundang-undangan dan penegakan hukum (law enforcement) dari peraturan-peraturan yang ada. Konversi lahan pertanian ini berdampak sangat besar pada bidang sosial dan ekonomi terutama petani. perubahan yang terjadi, yaitu: 1) Perubahan pola penguasaan lahan. Pola penguasaan tanah dapat diketahui dari pemilikan tanah dan bagaimana tanah tersebut diakses oleh orang lain. Perubahan yang terjadi akibat adanya konversi yaitu terjadinya perubahan jumlah penguasaan tanah. Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa petani pemilik berubah menjadi penggarap dan petani penggarap berubah menjadi buruh tani. Implikasi dari perubahan ini yaitu buruh tani sulit mendapatkan lahan dan terjadinya prose marginalisasi. 2) Perubahan pola penggunaan tanah. Pola penggunaan tanah dapat dari bagaimana masyarakat dan pihak-pihak lain memanfaatkan sumber daya agraria tersebut. Konversi lahan menyebabkan pergeseran tenaga kerja dalam pemanfaatan sumber agraria, khususnya tenaga kerja wanita. Konversi lahan mempengaruhi berkurangnya kesempatan kerja di sektor pertanian. Selain itu, konversi lahan menyebabkan perubahan pada pemanfaatan tanah dengan 55

Sihaloho (2004) menjelaskan bahwa konversi

lahan berimplikasi atau berdampak pada perubahan struktur agraria. Perubahan-

intensitas pertanian yang makin tinggi. Implikasi dari berlangsungnya perubahan ini adalah dimanfaatkannya lahan tanpa mengenal sistem bera, khususnya untuk tanah sawah. 3) Perubahan pola hubungan agraria. Tanah yang makin terbatas menyebabkan memudarnya sistem bagi hasil tanah maro menjadi mertelu. Demikian juga dengan munculnya sistem tanah baru yaitu sistem sewa dan sistem jual gadai. Perubahan terjadi karena meningkatnya nilai tanah dan makin terbatasnya tanah. 4) Perubahan pola nafkah agraria. Pola nafkah dikaji berdasarkan sistem mata pencaharian masyarakat dari hasil-hasil produksi pertanian dibandingkan dengan hasil non pertanian. Keterbatasan lahan dan keterdesakan ekonomi rumah tangga menyebabkan pergeseran sumber mata pencaharian dari sektor pertanian ke sektor non pertanian. 5) Perubahan sosial dan komunitas. Konversi lahan menyebabkan kemunduran kemampuan ekonomi (pendapatan yang makin menurun).

KESEJAHTERAAN PETANI
Tingkat kesejahteraan petani adalah salah satu faktor penting dalam pembangunan sektor pertanian. Tingkat kesejahteraan petani menjadi perhatian utama karena tingkat kesejahteraan petani diperkirakan makin menurun. Faktor yang diduga menjadi penyebab menurunnya tingkat kesejahteraan petani adalah makin menyempitnya lahan yang dimiliki petani, rendahnya harga gabah pada saat panen raya, dan naiknya beberapa faktor input produksi usaha tani. Indikator tingkat kesejahteraan petani dapat dilihat dari nilai tukar petani (NTP), tingkat pendapatan, dan pengeluaran. Nilai tukar petani adalah rasio indeks yang diterima petani dengan indeks yang dibayar petani. Secara umum pengertian NTP adalah sebagai berikut : 1. NTP > 100, menyatakan bahwa petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani tidak 56

lebih besar dari pengeluarannya. Dengan demikian tingkat kesejahteraan petani lebih baik dibanding tingkat kesejahteraan petani sebelumnya 2. NTP = 100, menyatakan petani mengalami impas/ break even. Kenaikan/ penurunan harga produksinya sama dengan persentase kenaikan / penurunan harga barang konsumsinya. Dengan demikian tingkat kesejahteraan petani tidak mengalami perubahan 3. NTP < 100, menyatakan petani mengalami defisit. Kenaikan harga barang produksinya relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Dengan demikian tingkat kesejahteraan petani pada suatu periode mengalami penurunan dibanding tingkat kesejahteraan petani pada periode sebelumnya. Kegunaan dari NTP sebagai berikut : 1. Dari indeks harga yang diterima petani (It) dapat dilihat harga barangbarang yang dihasilkan petani. Indeks ini juga digunakan sebagai data penunjang dalam perhitungan pendapatan sektor pertanian 2. Dari kelompok konsumsi rumah tangga dalam indeks harga yang dibaway petani (Ib), dapat digunakan untuk melihat fluktuasi harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani 3. NTP mempunyai kegunaan untuk mengukur kemampuan tukar produk yang dijual petani dengan produk yang dibutuhkan petani dalam memproduksi. Hal ini terlihat bila dibandingkan dengan kemampuan nilai tukarnya pada tahun dasar. Besar kecilnya kekuatan nilai tukar petani dipengaruhi oleh besar kecilnya proporsi pendapatan rumah tangga petani. Besar kecilnya NTP juga berkaitan erat dengan peran pertanian dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga petani. Perbedaan peran proporsi pertanian selain dipengaruhi dan terkait menurut kelompok masyarakat, antara petani berlahan luas dan berlahan sempit dan buruh tani, juga dipengaruhi oleh tingkat profitabilitas usaha pertanian, kekuatan/ kemampuan pasar dan kebijaksanaan pemerintah. 57

Selain NTP dan pendapatan, tingkat kesejahteraan petani secara utuh perlu dilihat juga dari perkembangan jumlah pengeluaran petani, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun untuk produksi. Dalam hal ini petani sebagai produsen dan juga konsumen dihadapkan kepada pilihan dalam mengalokasikan pendapatannya, yaitu : 1. 2. Memenuhi kebutuhan pokok (konsumsi) demi kelangsungan hidup petani serta keluarganya. Pengeluaran untuk budidaya pertanian yang merupakan ladang penghidupannya yang mencakup biaya operasional produksi dan investasi. Unsur kedua ini hanya mungkin dilakukan apabila kebutuhan pokok petani telah terpenuhi, dengan demikian investasi dan pembentukan barang modal merupakan faktor penentu bagi tingkat kesejahteraan petani. Peningkatan pendapatan petani merupakan kunci utama menuju peningkatan kesejahteraan petani. Peningkatan pendapatan antara lain dapat ditempuh melalui peningkatan produktivitas usahatani dan intensitas tanam disertai peningkatan akses petani ke pasar input dan output yang efisien. Kesejahteraan petani tidak akan terwujud tanpa adanya pembangunan pertanian. Pembangunan tersebut merupakan suatu proses multidimensional yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap mental dan kelembagaan nasional, termasuk pula percepatan pertumbuhan ekonomi, pemerataan pendapatan, pengurangan pengangguran, dan pemberantasan kemiskinan absolut dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Persoalan mendasar yang dihadapi sektor pertanian pada saat ini adalah pendapatan petani masih rendah baik secara nominal maupun secara relatif dibandingkan dengan sektor lain. Usaha pertanian yang ada didominasi oleh ciriciri (skala kecil, modal terbatas, teknologi sederhana, sangat dipengaruhi musim, wilayah pasarnya lokal, umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinya involusi pertanian (pengangguran tersembunyi), akses terhadap kredit, teknologi dan pasar sangat rendah, pasar komoditi pertanian sifatnya monopoli atau oligopsoni sehingga terjadi eksploitasi harga pada petani. 58

Agar petani terlepas dari permasalahan diatas maka harus ada industri pengolahan dan jaminan pemasaran, sehingga petani mampu menghasilkan produk produk yang bernilai dan berdaya saing tinggi. Oleh karena itu peningkatan daya saing produk pertanian menjadi suatu keharusan bagi petani agar mampu bersaing dengan produk pertanian yang lain, apalagi pada saat sekarang dalam era perdagangan bebas persaingan produk pertanian tidak hanya terjadi tingkat local saja akan tetapi pada tinggat internasional semenjak di berlakukan ACFTA (Asean-China free Trade Area). Untuk itu petani memerlukan bantuan dan perlindungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta dalam menyelesaikan masalah tersebut. Untuk memberdayakan petani dalam posisi tawar dapat dilakukan antara lain dengan membentuk kelembagaan yang merupakan organisasi kerja sama dan kemitraan. Salah satu langkah strategis untuk membantu petani dalam meningkatkan daya saing produknya dapat dilakukan melalui proses produksi dan jaminan pemasaran melalui kemitraan atau contact farming.

KEMITRAAN KONTRAK KERJA


Colin Kirk dalam White (1990) merumuskan Contract farming adalah suatu cara mengatur produksi pertanian dimana para petani kecil di beri kesempatan menyediakan produk pertanian untuk perusahaan inti sesuai dengan syarat yang telah ditentukan dalam perjanjian (contract). Perusahaan ini yang membeli hasil tersebut dapat menyediakan bimbingan teknis, kredit, input produksi, serta menangani pengolahan dan pemasaran. Di Indonesia konsep contract farming dikenal dengan istilah kemitraan. Kementerian pertanian mendefinisikan kemitraan usaha adalah jalinan kerjasama usaha yang saling menguntungkan antara pengusaha kecil dengan pengusaha menengah/besar pengembangan (Perusahaan oleh Mitra) disertai dengan pembinaan dan pengusaha besar, 59

sehingga

saling

memerlukan,

menguntungkan dan memperkuat. Selain itu, kemitraan dapat didefinisikan

sebagai upaya yang melibatkan berbagai sektor, kelompok masyarakat, lembaga pemerintah maupun bukan pemerintah, untuk bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan bersama berdasarkan kesepakatan prinsip dan peran masing-masing. Dengan demikian untuk membangun kemitraan harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu persamaan perhatian, saling percaya dan saling menghormati, saling menyadari pentingnya kemitraan, ada kesepakatan misi, visi, tujuan dan nilai yang sama, berpijak pada landasan yang sama serta kesediaan untuk berkorban. Adapun unsur-unsur kemitraan yaitu:
a. b. c.

Adanya hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih. Adanya kesetaraan antara pihak-pihak tersebut (equality). Adanya keterbukaan atau trust relationship antara pihak-pihak tersebut (transparancy).

d.

Adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan atau memberi manfaat (mutual benefit).

Tipe kemitraan yang banyak dilakukan di Indonesia terdiri dari dua tipe yaitu tipe disparsial dan tipe sinergis. Tipe disparsial merupakan pola hubungan antara pelaku usaha yang satu sama sekali tidak memiliki ikatan formal yang baik. Tipe ini dicirikan tidak ada hubungan antara organisasi fungsional diantara setiap tingkatan usaha hulu dan hilir, jaringan agribisnis hanya hanya terikat pada mekanisme pasar sedangkan antar pelakunya bersifat tidak langsung. Dalam tipe disparsial adanya ekspolitasi yang dilakukan pengusaha terhadap petani sehingga menyebabkan posisi tawar petani untuk produk yang dihasilkan menjadi rendah. Pihak pengusaha lebih kuat dari pihak produsen. Kesenjangan ini terjadi sebagi akibat dari informasi tentang mutu, harga dan tekhnologi dan akses permodalan tidak dikuasi oleh petani. Tipe sinergis merupakan kemitraan yang berbasis pada kesadaran saling membutuhkan dan saling mendukung pada masing-masing pihak yang bermitra. Sinergi yang dimaksudkan saling menguntungkan dalam bentuk petani 60

menyediakan

lahan,

tenaga

kerja,

sarana

sedangkan

pihak

pengusaha

menyediakan modal, bimbingan teknis dalam hal ini tekhnologi dan sebagai penjamin pasar. Dalam tipe ini adanya kontrak (contract) kerja yang disepakati diantara pihak yang bermitra, adanya keterkaitan ini menimbulkan adanya hak dan kewajiban dari masing-masing pihak yang harus di penuhi. Pada kenyataannya kemitraan pertanian memang bermanfaat dalam meningkatkan akses petani kecil ke pasar, modal dan tekhnologi serta mencegah terjadinya diseconomics of scala. Berdasarkan surat keputusan menteri pertanian tentang pedoman kemitraan usaha pertanian, pola kemitraan usaha petanian yang banyak diterapkan di Indonesiaadalah sebagai berikut : 1. Pola Kemitraan Inti plasma

Pola ini merupakan hubungan antara petani, kelompok tani atau kelompok mitra sebagai plasma dengan perusahaan inti yang bermitra usaha. Perusahaan inti menyediakan lahan, sarana produksi, bimbingan teknis, manajemen, menampung dan mengolah serta memasarkan hasil produksi. Kelompok mitra bertugas memenuhi kebutuhan perusahaan inti sesuai dengan persyaratan yang telah disepakati. Keunggulan dari pola kemitraan inti plasma adalah terciptanya saling ketergantungan dan saling menguntungkan, tercipta peningkatan usaha, dapat mendorong perkembangan ekonomi. Kelemahan : 1) Pihak Plasma masih kurang memahami hak dan kewajibannya sehingga kesepakatan yang telah ditetapkan berjalan kurang lancar. 2) Komitmen inti masih lemah dalam memenuhi fungsi dan kewajibannya sesuai dengan kesepakatan yang diharapkan oleh plasma. 3) Belum ada kontrak kemitraan yang menjamin hak dan kewajiban komoditas plasma sehingga terkadang perusahaan inti mempermainkan harga.

61

2.

Pola Kemitraan Subkontrak

Pola subkontrak merupakan pola kemitraan antara perusahaan mitra usaha dengan kelompok mitra usaha yang memproduksi komponen yang diperlukan perusahaan mitra sebagai bagian dari produksinya. Pola subkontak ditandai adanya kesepakatan tentang kontak bersama yang mencakup; volume, harga, mutu, dan waktu. Pola subkontrak sangat bermanfaat juga kondusif bagi terciptanya alih teknologi, modal, keterampilan dan produktivitas serta terjaminnya pemasaran produk pada kelompok mitra. Kelemahan : 1) Hubungan subkontrak yang terjalin semakin lama cendrung mengisolasi produsen kecil dan mengarah ke monopoli atau monopsoni, terutama dalm penyedian bahan baku serta dalam hal pemasaran. 2) Berkurangnya nilai-nilai kemitraan antara kedua belah pihak , perasaan saling menguntungkan, saling memperkuat, saling menghidupi berubah menjadi penekanan terhadap harga input yang tinggi atau pembelian produk dengan harga rendah. 3) Kontrol kualitas produk ketat, tetapi tetapi tidak di imbangi dengan sistem pembayaran yang tepat. 3. Pola Kemitraan dagang umum

Pola kemitraan dagang umum merupakan hubungan usaha dalam pemasaran hasil produksi, Pihak yang terlibat dalam pola ini adalah pihak pemasaran dengan kelompok usaha pemasok komoditas yang diperlukan oleh pihak pemasaran tersebut. Dalam kegiatan Agribisnis khususnya hortikultura yang tergabung dalam bentuk koperasi atau badan usaha lainya bermitra dengan toko swalayan atau mitra usaha lainnya. Kelemahan: 1) Dalam praktiknya harga dan volume produksnya sering ditentukan secara sepihak oleh pengusaha mitra sehingga merugikan kelompok mitra. 2) Sistem perdagangan seringkali ditemukan berubah menjadi bentuk konsinyasi. 62

3) Dalam sistem ini pembayaran barang barang pada kelompok mitra tertunda sehingga beban modal pemasaran produk harus ditanggung oleh kelompok mitra. Keunggulan : 1) Kelompk mitra atau koperasi tani berperan sebagai pemasok kebutuhan yang diperlukan perusahaan mitra. Sedangkan perusahaan mitra memasarkan produk kelompok mitra ke konsumen. 2) Keuntungan diperoleh dari margin harga dan jaminan harga produk yang diperjualbelikan , serta kualitas produk sesuia dengan kesepakatan pihak yang bermitra. 4. Pola Kemitraan Keagenan

Bentuk kemitraan terdiri atas pihak perusahaan mitra dan kelompok mitra atau pengusaha kecil mitra. Pihak perusahaan mitra (perusahaan besar) memberi hak khusus kepada kelompok mitra untuk memasarkan barang dan jasa perusahaan yang dipasok oleh pengusaha besar mitra. Perusahaan besar bertanggungjawab atas mutu dan volume produk, sedangkan usaha kecil mitranya berkewajiban memasarkan produk dan jasa. Diantara pihak-pihak yang bermitra terdapat kesepakatan tentang target yang harus dicapai dan besarnya fee atau komisi yang diterima oleh pihak yang memasarkan produk. Keunggulan : pola ini memungkinkan dilaksanakan oleh para pengusaha kecil yang kurang kuat modalnya karena biasanya menggunakan sistem mirip konsinyasi, Berbeda dengan pola dagang umum yang justru perusahaan besarlah yang kadang-kadang lebih banyak menangguk keuntungan dan kelompok mitra harus bermodal kuat. Kelemahan : Usaha kecil mitra menetapkan harga produk secara sepihak sehingga harganya menjadi tinggi di tingkat konsumen, usaha kecil sering memasarkan produk dari beberapa mitra usaha saja sehingga kurang mampu membaca segmen pasar dan tidak memenuhi target. 63

5.

Pola Kemitraan Kerjasama Operasional Agribisnis

Pola kemitraan KOA merupakan pola hubungan bisnis yang dijalankan oleh kelompok mitra dan perusahaan mitra. Kelompok mitra menyediakan lahan, sarana dan tenaga kerja, sedangkan perusahaan mitra menyediakan biaya, modal, manajemen dan pengadaan sarana produksi untuk mengusahakan atau membudidaya suatu komoditas pertanian. Perusahaan mitra juga sering berperan sebagai penjamin pasar produk dengan meningkatkan nilai tambah produk melalui pengolahan dan pengemasan. Pola KOA terdapat kesepakatan tentang pembagian hasil dan resiko dalam usaha komoditas pertanian yang dimitrakan. Keunggulan pola KOA ini sama dengan keunggulan sistem inti-plasma, pola KOA banyak ditemukan di desa dengan usaha rumah tangga dalam bentuk sistem bagi hasil. Kelemahan dari KAO adalah pengambilan untung oleh perusahaan mitra yang menangani pemasaran dan pengolahan produk terlalu besar sehingga dirasakan kurang adil oleh kelompok usaha kecil. Perusahaan mitra cenderung monopsoni sehingga memperkecil keuntungan kelompok usaha mitra.
6.

Dagang Umum

Pola dagang umum merupakan hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar yang di dalamnya usaha menengah atau usaha besar memasarkan produksi usaha kecil atau usaha kecil memasok kebutuhan yang diperlukan oleh usaha menengah atau usaha besar mitranya (Roy, 1967).
7.

Waralaba

Pola waralaba merupakan hubungan kemitraan yang di dalamnya usaha menengah atau usaha besar pemberi waralaba memberikan hak penggunaan lisensi merek dan saluran distribusi perusahaan kepada usaha kecil penerima waralaba dengan disertai bantuan dan bimbingan manajemen. Pengaturan yang terinci mengenai kemitraan bisnis pola waralaba ini telah diatur di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 26 Tahun 1997 tentang waralaba. Di dalam peraturan pemerintah kemitraan sendiri terdapat pengaturan khusus tentang waralaba ini, antara lain dalam pasal 7 yang menentukan sebagai berikut : 64

a.

Usaha besar dan atau usaha menengah yang bermaksud memperluas usahanya dengan memberi waralaba, memberikan kesempatan dan mendahulukan usaha kecil yang memiliki kemampuan untuk bertindak sebagai penerima waralaba untuk usaha yang bersangkutan.

b.

Perluasan usaha oleh usaha besar dan atau usaha menengah dengan cara waralaba di kabupaten atau kotamadya Daerah Tingkat II di luar ibukota propinsi hanya dapat dilakukan melalui kemitraan dengan usaha kecil.

8.

Modal Ventura

Modal Ventura dapat didefinisikan dalam berbagai versi. Pada dasarnya berbagai macam definisi tersebut mengacu pada satu pengertian mengenai modal ventura yaitu suatu pembiayaan oleh suatu perusahaan pasangan usahanya yang prinsip pembiayaannya adalah penyertaan modal (Roy, 1967). Meskipun prinsip dari modal ventura adalah penyertaan namun hal tersebut tidak berarti bahwa bentuk formal dari pembiayaannya selalu penyertaan. Bentuk pembiayaannya bisa saja obligasi atau bahkan pinjaman, namun obligasi atau pinjaman itu tidak sama dengan obligasi atau pinjaman biasa karena mempunyai sifat khusus yang pada intinya mempunyai syarat pengembalian dan balas jasa yang lebih lunak.

Tujuan Kemitraan
1) Tujuan dari aspek ekonomi - - 2) Meningkatkan pendapataan usaha kecil dan masyarakat; Meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan;

Tujuan dari aspek sosial dan sudaya Kemitraan usaha pada dasarnya dirancang sebagai bagian dari upaya pemberdayaan usaha kecil melalui peran serta pengusaha besar. Oleh karena itu, sebagai wujud tanggung jawab sosial pengusaha besar dapat memberikan pembinaan dan bimbingan kepada pengusaha kecil, dengan 65

pembinaan dan bimbingan yang terus menerus diharapkan pengusaha kecil dapt tumbuh dan berkembang sebagai komponen ekonomi yng tangguh dan mandiri. 3) Tujuan dari aspek teknologi Dengan kemitraan diharapkan pengusaha besar dapat memberikan bimbingan teknologi yang berhubungan dengan teknik berproduksi dengan tujuan peningkatan produktivitasa dan efisiensi usaha kecil 4) Tujuan dari aspek manajemen Pengusaha kecil umumnya memiliki tingkat manajemen usaha rendah. Melalui kemitraan usaha diharapkan ada pembenahan manajemen, peningkatan kualitas sumber daya manusia serta pemantapan organisasi.

LATIHAN Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang Agribisnis dan Petani, coba Anda uraikan pertanyaan latihan berikut ini. 1. Jelaskan hubungan antara NTP terhadap kesejahteraan petani. 2. Jelaskan hubungan antara petani dan sumberdaya lahan. 3. Sejauh manakah pengaruh kemitraan terhadap kegiatan pelaku agribisnis di Indonesia. 4. Strategi saja yang sudah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi meningkatnya konversi lahan pertanian ke non pertanian. 5. Buatlah satu contoh jenis agribisnis kemudian jelaskan pendapat anda mengenai pola kemitraan yang paling efektif dilaksanakan di sistem agribisnis tersebut.

66

TES FORMATIF Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Apakah yang dimaksud dengan petani? 2. Adakah perbedaan antara petani dengan petani agribisnis. Jika ada, jelaskan! 3. Mengapa lahan menjadi salah satu faktor penting dalam kegiatan usaha tani? 4. Apakah pengertian dari NTP? 5. Mengapa kesejahteraan petani menjadi salah satu tolak ukur pembangunan nasional? 6. Apakah yang dimaksud kemitraan kontrak kerja? 7. Sebutkan pola kemitraan yang ada di Indonesia! 8. Sebutkan keuntungan yang akan diperoleh masing-masing pelaku mitra apabila mereka menjalin kemitraan! 9. Sebutkan alasan petani melakukan konversi lahan pertanian ke non pertanian! 10. Apakah dampak-dampak yang akan terjadi apabila lahan pertanian dikonversi seluruhnya menjadi pemukiman dan industri?

67

Modul

AGROINDUSTRI

DEFINISI DAN RUANG LINGKUP AGROINDUSTRI Definisi Agroindustri


Agroindustri adalah suatu perusahaan yang mengolah bahan baku pertanian, termasuk tanah dan tanaman serta ternak menjadi produk olahan, baik produk antara (intermediate product) maupun produk akhir (finish product (Arifin, 2004). Kegiatan pengolahan sangat bervariasi, mulai dari membersihkan dan grading (penanganan pasca panen), industri pengolahan makanan dan minuman, industri biofarmaka, industri bioenergi, industri pengolahan hasil ikutan (by-product) serta agrowisata. Austin (1981), menyatakan agroindustri adalah suatu industri yang dalam kegiatanya memproses bahan yang berasal dari tumbuhan atau hewan melalui pengolahan, pengawetan, perubahan fisik, perubahan kimia, pengepakan, dan distribusi pemasaran. proses dapat dilakukan mulai dari level yang paling rendah seperti pencucian, sortasi, dan proses yang menyebabkan perubahan kimia, struktur, fisik, dan lain-lain. Agroindustri dapat dikategorikan berdasarkan tingkatan bahan baku yang diubah. Tujuan dari perubahan bentuk ini adalah untuk membuat menjadi bentuk yang lebih berguna, meningkatkan daya simpan, mebuat bentuk yang lebih mudah diangkut, dan meningkatkan nilai gizi. Dalam proses pengubahan bahan baku tersebut tentu memerlukan syarat utama anatara lain modal investasi, teknologi, dan manajerial. Soeharjo (1990) menyatakan bahwa agroindustri umumnya memiliki kaitan erat dengan sisi hulu (input) dan hilir (pengolahan hasil), sehingga pengertiannya mencakup dua jenis pengolahan, yaitu : 68

1. Industri pengolahan input pertanian yang pada umumnya tidak berlokasi di pedesaan, padat modal, dan berskala besar. Contoh : industri pupuk dan pestisida. 2. Industri pengolahan hasil pertanian. Contoh : pengolahan pucuk teh menjadi teh hijau atau teh hitam, pengalengan buah, pengalengan minyak kelapa, dsb. Menurut Soeharjo (1990), kegiatan agroindustri dapat berlangsung di tiga tempat, yaitu : 1. Dalam rumah tangga yang dilakukan oleh anggota rumah tangga petani penghasil bahan baku. 2. Dalam bangunan yang terpisah dari tempat tinggal tetapi masih dalam satu pekarangan, dengan menggunakan bahan baku yang dibeli di pasar, dan menggunakan tenaga kerja terutama dari keluarga. 3. Dalam perusahaan kecil, sedang atau besar yang menggunakan buruh upahan dan modal yang lebih intensif dibandingkan dengan industri rumah tangga Skala usaha ketiga macam industri pengolahan ini dapat diukur dari volume bahan baku yang diperoleh setiap hari. Teknologi yang digunakan merentang dari yang tradisional sampai dengan yang modern, sedangkan pasarnya merentang mulai dari pasar domestik sampai dengan pasar ekspor. Akan tetapi ketiga agroindustri tersebut mempunyai karakteristik yang sama yaitu menggunakan tenaga kerja dan bahan baku yang berasal dari pedesaan dan berlaku di pedesaan. Karakteristik bahan baku pada agroindustri terbagi tiga, antara lain musiman, tidak tahan lama, dan banyak jenisnya (variatif) (Austin, 1981): 1. Musiman

Bahan baku untuk agroindustri banyak terdapat pada akhir siklus produksi tanaman/ ternak. Meskipun pasokan bahan baku biasanya tersedia hanya selama satu atau dua periode singkat selama tahun, namun permintaan untuk produk relatif konstan sepanjang tahun. Hal tersebut berbeda dengan produsen non 69

agroindustri

seperti

pabrik

makanan

yang

harus

bersaing

dengan

ketidakseimbangan pasokan dan permintaan dan masalah manajemen persediaan, penjadwalan produksi, dan koordinasi antara pengolahan, produksi, dan pemasaran segmen dari rantai pertanian ke konsumen. 2. Tidak tahan lama/ mudah rusak

Berbeda dengan bahan baku yang digunakan dalam nonagroindustri, bahan baku pertanian agroindustri bersifat tidak tahan lama dan mudah rusak. Oleh karena itu, produk agroindustri membutuhkan kecepatan yang lebih besar dan perhatian dalam menangani dan menyimpan, yang mana kegiatan ini dapat mempengaruhi kualitas gizi makanan produk dengan mengurangi kerusakan atau kerusakan bahan baku. Namun, untuk pengolahan secara sederhana dapat membuat produk pertanian lebih bertahan lama seperti asinan buah-buahan, dendeng ikan dan daging, ikan asin, telur asin, saos tomat, dan lain-lain. 3. Beragam

Karakteristik terakhir dari agroindustri adalah beragamnya kuantitas dan kualitas/ nilai bahan baku. Ketidakpastian kuantitas dikarenakan perubahan cuaca atau kerusakan tanaman atau ternak dari penyakit. Kuantitas yang beragam ini menyebabkan terjadinya variasei nilai atau harga pokok sepanjang tahun. Sedangkan beragamnya kualitas dikarenakan standar baku bahan baku yang sulit dipahami, meskipun telah ada kemajuan dalan rekayasa genetik hewan dan tumbuhan. Beragamnya bahan baku ini memberikan tekanan tambahan bagi agroindustri dalam penjadwalan produksi dan pelaksanaan pengawasan kualitas.

PERANAN AGROINDUSTRI DALAM PEMBANGUNAN AGRIBISNIS


Dalam kerangka pembangunan pertanian, agroindustri merupakan penggerak utama perkembangan sektor pertanian, terlebih dalam masa yang akan datang posisi pertanian merupakan sektor andalan dalam pembangunan nasional 70

sehingga peranan agroindustri akan semakin besar. Agroindustri memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan ekonomi suatu negara dikarenakan oleh 4 faktor. Pertama, agroindustri adalah metode utama transformasi bahan mentah pertanian menjadi produk akhir yang dapat dikonsumsi. Kedua, agroindustri merupakan sektor yang banyak dilaksanakan di negara berkembang. Ketiga, produk agroindustri menjadi produk ekspor utama bagi negara berkembang. Keempat, produk agroindustri memegang peranan penting bagi pemberian nutrisi bagi masyarakat. Pengembangan agroindustri diarahkan agar dapat tercipta keterlibatan yang erat antara sektor pertanian dan sektor industri yang dapat menumbuhkan kegiatan ekonomi, khususnya di pedesaan. Pengembangan suatu usaha di pedesaan ditujukan untuk membantu petani dalam meningkatkan pendapatan melalui kegiatan pengolahan, sekaligus memperluas kesempatan kerja. Bertambahnya lapangan kerja akan menyerap angkatan kerja yang ada sehingga dapat mengurangi pengangguran. Agrondustri sebagai sektor bisnis tidak terlepas dari tujuan utama pelaku-pelaku usaha yaitu meningkatkan keuntungan dan nilai tambah. Peranan agroindustri dalam pembangunan agroindustri lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Pintu masuk pertanian Sebagian besar produk pertanian, termasuk produk subsisten, yang diproses sampai batas tertentu. Melihat hal tersebut, sebuah negara tidak dapat memanfaatkan sumber daya pertanian tanpa agroindustri. Sebuah survei dari praktek penggilingan beras di Thailand menunjukkan bahwa sekitar 95% beras diproses di penggilingan pagi daripada digiling dalam rumah. Selain itu survei di empat wilayah di Guatemala menunjukkan satu dari 1.687 rumah tangga yaitu 98% dari keluarga mengambil jagung mereka ke pabrik untuk grinding dan kemudian membuat jagung adonan menjadi tortilla dalam rumah. Pengolahan oleh mesin tersebut menghemat waktu dan tenaga dan menjadi produk yang penting bagi

71

konsumen. Dengan demikian, permintaan akan kebutuhan jasa pengolahan bahan baku pertanian semakin meningkat. Agroindustri tidak hanya reaksioner, mereka juga menghasilkan

permintaan baru/ lain

ke sektor pertanian untuk output pertanian yang lebih

banyak. Sebuah pabrik pengolahan dapat membuka peluang tanaman baru kepada petani, dengan demikian menciptakan pendapatan tambahan. Dalam beberapa kasus lain bahkan banyak petani subsisten komersial. Dalam program pembangunan daerah, agroindustri telah menjadi alat pertimbangan ekonomi untuk pengembangan infrastruktur pedesaan seperti jalan penghubung yang menyediakan akses ke bahan baku, instalasi listrik untuk pabrik operasi, atau fasilitas irigasi. Agroindustri juga dapat berfungsi sebagai poin utama penggerakan ekonomi melalui koperasi untuk petani kecil dan masyarakat yang terkai kegiatan pembangunan. Hal terpenting yang perlu menjadi catatan adalah bahwa terjadinya indusrialisasi pedesaan sangat mempengaruhi rangsangan pengembangan agroindustri di masyarakat pedesaan. Pengembangan ini juga harus didukung oleh pasrtisipasi masyarakat. PBB melalui Organisasi Pengembangan Industri (UNIDO) dan Expert Group menyatakan pedesaan bahwa harus perumusan melibatkan "kebijakan banyak program industrialisasi yang memasuki pasar

partisipasi masyarakat agar efektif ". Ketika agroindustri berkembang, masyarakat pada umumnya akan

meningkatkan usaha taninya. Dengan demikian kegiatan agroindustri dan pertanian ini menyerap banyak tenaga kerja dibandingkan industri manufaktur yang memperkerjakan kurang dari angkatan kerja. Hal ini dapat diamati di Amerika, di mana pertanian menyerap 38% dari angkatan kerja tetapi menyumbang hanya 15% dari produk nasional bruto (GNP), sedangkan manufaktur menyerap 15% dari tenaga kerja kekuatan dan menyumbang 35% dari GNP. Kekuatan agroindustridalam menggunakan sumber daya dalam negeri juga diilustrasikan pada hasil penelitian di Kosta Rika, yang menemukan bahwa untuk setiap 100 72

colones yang terjual, agroindustri menggunakan 45,6 colones bahan baku sedangkan nonagroindustries hanya menggunakan 12 colones. 2. Landasan sektor Manufaktur Pentingnya agroindustri di sektor manufaktur negara-negara berkembang sering tidak disadari sepenuhnya. Di sebagian besar Negara produk makanan dan pengolahan serat merupakan dasar dari perkembangan industri kain. Sebagai contoh, di Amerika Tengah agroindustri menyumbang 78% dari sektor output industri manufaktur Nikaragua di tahun 1971. Di Asia, agroindustri di Filipina menghasilkan lebih dari 60% dari nilai tambah industri manufaktur di tahun 1960 dan 1973. Agroindustri sangat penting bagi negara dengan pendapatan rendah dibandingkan negara industri maju. Tahap awal industrialisasi dapat terlihat dari pemberdayaan sumber daya alam suatu negara. Meskipun sektor manufaktur sedikit sekali berperan terhadap pengembangan industri, namun tidak pada agroindustri. Semakin banyak jumlah penduduk akan meningkatkan kebutuhan pertumbuhan industri makanan dan minuman olahan. Oleh karena itu, seiring dengan perkembangan permintaan konsumen, perusahaan manufaktur untuk agroindustri seperti mesin pertanian, mesin pengolahan akan ikut meningkat. Dan lebih jauh, perkembangan agroindustri dalam sektor manufaktur dapat meningkatkan kapasitas lapangan pekerjaan 3. Penggerak Ekspor Pada negara berkembang sumber daya alam merupakan hal yang paling penting dalam mempengaruhi kegiatan pertanian. Hasil pertanian tersebut terbukti memiliki permintaan internasional yang tinggi karena kapasitas produksi sering melebihi kebutuhan konsumsi lokal. Berdasarkan hal ini, hasil pertanian tersebut memiliki peluang untuk diekspor. Oleh karena itu sebuah negara harus mampu mengolah bahan baku menjadi bentuk yang sesuai untuk ekspor. Nilai tambah ekspor produk agroindustri cenderung lebih tinggi dibandingkan produk manufaktur lain karena ekspor produk lain tersebut masih bergantung pada komponen impor. Ekspor produk agroindustri dari waktu ke waktu cenderung 73

meningkatkan persentase nilai tambah domestik melalui peningkatan pengolahan bahan baku. Misalnya; Pengolahan kapas diperluas untuk tekstil tenun dan pakaian manufaktur, bangkai sapi yang diolah menjadi produk daging segar potong atau produk kalengan, biji kopi diubah menjadi produk kopi bubuk instan. Dengan demikian kegiatan industri tidak hanya untuk peningkatah nilai tambah saja, tetapi menciptakan produk yang spesifik, memiliki elastisitas pendapatan yang lebih tinggi, dan terhindar dari fluktuasi harga komoditas bahan mentah. Fungsi dominan ekspor produsen agroindustri terbukti dari beberapa data statistik ekspor negara-negara berkembang, dimana sebagian besar produk ekspornya berasal dari produk agroindustri. 4. Perbaikan nutrisi Telah diperkirakan bahwa lebih dari satu milyar orang pada negara berkembang mengalami kekurangan gizi. Dengan menyediakan pendapatan dan lapangan kerja bagi petani berpenghasilan rendah dan agroindustri dapat memperbaiki pola makan masyarakat dan merangsang peningkatan produksi pangan bagi perekonomian dalam negeri. Selain itu, industri pengolahan makanan sangat penting bagi kepastian gizi masyarakat akibat ketergantungan mereka pada saluran makanan komersil. Proyek agroindustri dapat memiliki konsekuensi nilai gizi yang buruk apabila tidak hati-hati dirancang, dan tidak diperiksa/ diawasi oleh para ahli dibidangnya untuk mencegah efek yang tidak diinginkan.

KERANGKA ANALISIS AGROINDUSTRI


Pada modul ini disajikan kerangka kerja untuk analisis proyek yang berdasarkan karakteristik unik agroindustri dan yang mampu menggabungkan analisis dari laporan keuangan dan dimensi sosial ekonomi dalan agroindustri. Kerangka ini menunjukkan agroindustri sebagai komponen dalam sistem yang besar, keterkaitan benih sampai dengan konsumen, dimana keterkaitan sistem ini menciptakan saling ketergantungan yang antara tindakan dan aktor dalam sistem. 74

Analisis harus melihat agroindustri sebagai bagian sistem yang besar dan bahwa melihat kelayakan proyek tersebut dari keberhasilan seluruh multidimensi sistem.

Analisis Proyek
Karena agroindustri merupakan pusat dari rantai petanian, maka penting untuk mnganalisis dimulai dari sumber bahan baku sampai dengan pasar untuk produk olahan. Oleh karena itu kerangka analisis agroindustri pada umumnya dilakukan dengan melihat desain proyek yang berkaitan dengan pengadaan bahan baku, pengolahan, dan pemasaran untuk menilai kelayakan finansial, biaya sosial, dan manfaar proyek. Dengan demikian, kerangka analisis untuk proyek agroindustri berisi tiga komponen penting, yang terdiri atas sistem, keuangan, dan analisis ekonomi. Namun pada modul ini akan fokus membahas komponen sistem lebih rinci memeriksa kegiatan pengadaan, pengolahan, dan pemasarannya karena pada akhirnya kegiatan ini memiliki implikasi keuangan dan ekonomi. Analisis proyek agroindustri terdiri atas empat tahapan, yaitu identifikasi, analisis dan desain, pelaksanaan, dan evaluasi. 1. Identifikasi Identifikasi potensi agribisnis dilakukan dengan mengembangkan kriteria berdasarkan pada kelemahan dan peluang yang ada. Hal ini dapat diidentifikasi dari hasil penelitian dan pengamatan langsung subsektor industri. Informasi dikumpulkan pada tahap ini dapat berupa informasi tentang volume dan struktur aliran produk, keuangan, kinerja sistem ekonomi komoditas/ produk, profik, sistem pemasaran, persaingan pasar, permintaan dan penawaran produk serta data umum lainnya. 2. Analisis Proyek dan Desain Setelah teridentifikasi data-data yang dibutuhkan, maka proyek yang ada harus dilakukan pemeriksaan awal dan lebih dekat untuk kebutuhan operasional mereka, kelayakan keuangan, ekonomi, sosial, dan keinginan. Analisis proyek ini harus mencoba untuk mendesain ulang proyek untuk mengatasi kelemahan proyek. 75

3.

Implementasi Implementasi/ pelaksanaan merupakan tindakan lanjut dari usulan di atas

kertas sebelumnya untuk kemudian dilaksanakan di lapangan. Pada tahap ini diperlukan analis untuk memperjelas faktor-faktor manajerial pemasaran, pengadaan, dan kegiatan pengolahan dari agroindustri. 4. Evaluasi Setelah proyek dimulai, seorang analis proyek bertanggung jawab untuk memantau kemajuan dan menemukan dan memperbaiki penyimpangan dari kinerja proyek. Evaluasi tersebut harus mengikuti indikator kinerja keuangan dan ekonomi. Kinerja yang buruk disebabkan oleh masalah dalam desain proyek asli, perubahan dalam lingkungan eksternal, atau kelemahan dalam manajemen operasi. Pada perkembangannya kerangka analisis agroindustri ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan menggunakan system thinking (berpikir sistem) dan system dynamics (dinamika sistem).

Systems Thinking dan System Dinamics


Perspektif sistem merupakan salah satu hal penting dalam proses berpikir analitis. Hal tersebut dikarenakan pada saat memahami bagaimana sebuah sistem bekerja, maka kita akan dapat memfungsikan secara lebih efektif sistem tersebut. Semakin kita memahami perilaku (behaviour) sistem, kita akan dapat mengantisipasi perilaku tersebut dan menggunakan sistem untuk dimanfaatkan dalam kehidupan kita. Systems thinking merupakan suatu metode yang digunakan untuk menjelaskan hubungan sebab akibat, bagaimana sebuah sistem dapat berjalan dan bagaimana sistem tersebut bereaksi terhadap perubahan (Sterman, 2000). Sistem tersebut kemudian membentuk suatu struktur umpan balik yang menyatakan 76

hubungan sebab akibat variabel-variabel yang melingkar, bukan menyatakan hubungan karena adanya korelasi-korelasi statistik. Metodologi systems thinking secara umum berkembang berdasarkan metodologi system dynamics yang diperkenalkan oleh Jay Forrester di Massachusetts Institute of Technology pada tahun 1950an. sebagai berikut : a. Membuat sistem baru b. Merancang ulang atau mengembangkan sistem yang sudah ada c. Memprediksi perilaku sistem yang kompleks dibawah situasi yang beragam d. Pengembangan strategi dan uji coba e. Skenario pemodelan dan uji coba Menurut Maani and Cavana, 2007 metode system thinking dan proses pemodelan dapat dilakukan melalui lima tahap, yaitu 1. Membuat struktur permasalahan, yang terdiri atas : atas : Mengidentifikasi variabel utama Membuat grafik perilaku dari waktu ke waktu (Behaviour Over Time) Mengembangkan diagram sebab akibat Analisis diagram BOT dan indentifikasi tipe diagram BOT Identifikasi system archetypes Identifikasi key leverage points Membangun strategi intervensi Mengidentifikasi masalah atau isu penting manajemen dan stakeholder Mengumpulkan informasi dan data pendahuluan Mengadakan diskusi untuk membuat struktur masalah Secara umum, pemodelan dengan systems thinking ini dapat diaplikasikan dengan tujuan-tujuan

2. Pemodelan diagram sebab akibat (Causal Loop Modelling), yang terdiri

77

3. Pemodelan Dinamika (Dynamic Modelling), terdiri atas: Mengembangkan gambaran sistem Mendefinisikan tipe variabel dan membangun diagram stock-flow Mengumpulkan informasi dan data detil Mengembangkan model simulasi Simulasi kondisi stabilitas Membuat perilaku model dasar (base case) Validasi model Uji analisis sensitivitas Desain dan analisis kebijakan Mengembangkan model strategi Merencanakan skenario umum Identifikasi variabel peubah dan variabel tidak pasti Membangun skenario Simulasi skenario dengan model Evalusi kekuatan kebijakan dan strategi

4. Perencanaan dan pemodelan skenario, terdiri atas tahapan sebagai berikut :

5. Pelaksanaan dan pembelajaran organisasi, erdiri atas tahapan sebagai berikut : LATIHAN Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang Agroindustri , coba Anda uraikan pertanyaan latihan berikut ini. 1. Jelaskan bagaimana peranan agroindustri terhadap pembangunan nasional 2. Jelaskan karakteristik agroindustri di Indonesia 3. Jelaskan pengaruh agroindustri bagi masing-masing pelaku subsistem agribisnis 78

Mempersiapkan laporan dan presentasi kepada tim manajemen Mengkomunikasikan hasil dan mengusulkan masukan kepada stakeholder Mengembangkkan pembelajaran berdasarkan model simulasi Memeriksa model mental dan memfasilitasi pembelajaran organisasi

4. Buatlah suatu strategi pengembangan suatu agroindustri yang berwawasan lingkungan (jenis agroindustri ditentukan sendiri, misal tempe, tahu, dsb) 5. Jelaskan karakteristik bahan baku agroindustri. TES FORMATIF Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Apakah definisi dari agroindustri? 2. Sebutkan ruang lingkup agroindustri? 3. Sebutkan syarat-syarat yang diperlukan dalam proses kegiatan agroindustri? 4. Mengapa kegiatan agroindustri perlu dikembangkan? 5. Adakah efek negatif perkembangan agroindustri terhadap kegiatan usaha tani? Jika ada, sebutkan. 6. Bagamanakah kedudukan produk-produk agroindustri Indonesia di dunia saat ini. 7. Apakah yang dimaksud dengan analisis proyek? 8. Apakah yang dimaksud dengan kerangka analisis agroindustri? 9. Bagaimana proses pembuatan suatu kerangka analisis agroindustri? 10. Bagaimanakah peranan pemerintah terhadap agroindustri yang ada di Indoensia

79

KEGIATAN BELAJAR 3 Modul

PEMASARAN AGRIBISNIS

Peranan Pemasaran Dalam Sistem Agribisnis


Sebelum mengetahui lebih dalam mengenai pemasaran dalam sistem agribisnis, akan lebih baik jika kita memahami pengertian pasar, pemasar, dan pemasaran pertanian. Pasar pertanian adalah tempat dimana terdapat interaksi anatara kekuatan penawaran dan permintaan produk pertanian dan terjadi kesepakatan yang berhubungan dengan pemindahan kepemilikan (Kotler, 1997). Kesepakatan tersebut da[at berupa kesepakatan harga, cara pembayaran, cara pengiriman, tempat pengambilan atau penerimaan produk, dll. Jika didasarkan pada konsep agribisnis, maka pasar pertanian terdiri atas pasar input dan alat-alat pertanian, pasar produk pertanian, dan pasar produk industri pengolahan hasil pertanian atau pasar produk agroindustri. Pemasar pertanian dapat diartikan sebagai seseorang yang mencari barang input dan output serta jasa pada bidang pertanian dengan menwarkan sesuatu yang bernilai sebagai imbalannya. Sedangkan yang dimaksud pemasaran pertanian adalah sejumlah kegiatan bisnis yang ditujukan untuk memberi kepuasan dari barang atau jasa yang ditujukan untuk memeberi kepuasan dari barang atau jasa yang dipertukarkan kepada konsumen atau pemakai dalam bidang pertanian, baik input maupun produk pertanian (Kotler, 1997).

Pengertian Pasar, Pemasar, dan Pemasaran Agribisnis


Pasar agribisnis adalah tempat dimana terdapat interaksi antara penawaran dan permintaan produk (barang dan/ atau jasa) di bidang agribisnis, terjadi 80

kesepakatan harga, jumlah, spesifikasi produk, cara pengiriman, penerimaan, pembayaran, dan tempat terjadi perpindahan kepemilikan barang atau jasa di bidang agribisnis, dll (Kotler, 1997). Pemasar agribisnis didefinisikan sebagai seseorang yang mencari barang atau jasa yang dipertukarkan kepada konsumen atau pemakai dalam bidang agribisnis. Sedangkan pemasaran agribisnis merupakan kegiatan yang terdiri atas pemasaran input dan alat-alat pertanian, pemasaran produk pertanian, dan pemasaran produk agroindustri serta pemasaran jasa-jasa pendukung agribisnis (Kotler, 1997).

Pemasaran Agribisnis Sebagai Ilmu dan Seni


Untuk menelaah atau menganalisa agar aliran barang atau jasa dari produsen ke tangan konsumen akhir dapat berjalan dengan baik, efisien, dan efektif, maka lahirlah ilmu pemasaran yang mencakup konsep-konsep dan teori-teori dasar pemasaran dan manajemen pemasaran. pemasaran agribisnis sebagai suatu ilmu merupakan kumpulan pengetahuan dan pengalaman praktis di bidang pemasaran agribisnis yang disusun secara sistematis dan dapat diterima sebagai kebenaran yang sifatnya universal. Sedangkan pemasaran sebagai seni mendorong aplikasi praktis dari teori-teori dan konsep-konsep pemasaran agribisnis, serta timbulnya dorongan untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian berdasarkan hasil intuisi, rasa, keyakinan, dan kreativitas dalam seluruh rangkaian kegiatan dalam pemasaran agribisnis. Kegiatan dalam pemasaran agribisnis ini merupakan suatu kegiatan yang produktif karena kegiatan ini menciptakan kegunaan barang dan jasa, meliputi kegunaan bentuk, tempat, waktu, dan pemilikan. Dalam pelaksanaanya, sistem pemasaran mencakup banyak lembaga, baik yang berorientasi laba maupun nirlaba, baik yang terlibat dan terkait langsung maupun tidak dengan operasi sistem pemasaran pertanian. Sistem pemasaran yang kompleks tersebut diharapkan dapat memainkan peranan penting dalam upaya memaksimumkan kepuasan konsumen, pilihan konsumen, dan mutu hidup masyarakat. 81

1. Memaksimumkan tingkat konsumsi Sistem pemasaran memiliki sasaran dan berusaha untuk memaksimumkan tingkat konsumsi masyarakat terhadap berbagai jenis produk yang dipasarkan. Upaya ini menjadi salah satu sasaran karena dengan tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi akan berimplikasi kepada peningkatan volume penjualan dan pada gilirannya akan merangsang peningkatan volume produksi. Memaksimumkan tingkat konsumsi akan memaksimumkan pula tingkat produksi, kesempatan kerja, kesempatan berusaha, kesejahteraan, dan mutu hidup masyarakat. Tingkat produksi yang tinggi akan berpengaruh positif kepada pertumbuhan dan perkembangan ekonomi secara makro dan selanjutnya akan memperbaiki kualitas hidup masyarakat, meningkatkan daya beli potensial, dan merangsang peningkatan investasi pada sektor-sektor produktif, baik di bidang pertanian maupun di bidang lainnya yang terkait. 2. Memaksimumkan kepuasan konsumen Kepuasan konsumen menjadi sasaran dari semua kegiatan dalam sistem pemasaran suatu produk. Kepuasan tersebut didapatkan jika seseorang mengkonsumsi atau menggunakan barang dengan tingkat kepuasan marjinal lebih tinggi atau sama dengan biaya marjinal yang dikeluarkan untuk memperoleh barang tersebut. Pengukuran kedua variabel tersebut mencakup ukuran rasio kuantitatif dan/ atau rasio kualitatif. Namun, pada kenyataannya pengukuran tingkat kepuasan secara absolut sangat sulit dilakukan dikarenakan hal hal sebagai berikut : - Belum ditemukan metode yang handal untuk mengukur tingkat kepuasan total secara absolut yang diperoleh konsumen dalam mengkonsumsi suatu jenis produk - Tingkat kepuasan konsumen tidak hanya tergantung pada keunggulan sifatsifat dan karakteristik produk yang memberikan dampak positif kepada konsumennya, tetapi juga hal-hal yang memberikan dampak negatif, baik kepada diri konsumen maupun lingkungannya - Karakteristik dan ukuran kepuasan konsumen dapat berbeda-beda, baik antarwaktu, antarlokasi, tingkat sosial, dan kebiasaan 82

3. Memaksimumkan pilihan Pilihan konsumen dapat menjadi maksimum jika tersedia banyak jenis barang dengan karakteristik yang berbeda-beda. Produsen biasanya memerlukan biaya produk dengan skala produksi yang relatif kecil-kecil. Selain itu dengan memproduksi banyak jenis akan meningkatkan biaya pengelolaan persediaan. Hal tersebut juga memberikan efek kepada lembaga pemasaran untuk mengeluarkan biaya yang relatif besar untuk menyediakan atau memasarkan lebih banyak produk dibandingkan dengan jenis produk yang lebih sedikit. Biaya yang dikeluarkan oleh produsen dan lembaga pemasaran ini akan mempengaruhi tingginya harga pokok dan harga penjualan. Hal tersebut kemudian berpengaruh pada pengurangan tingkat konsumsi dan pendapatan nyata konsumen. Dari segi konsumen, keberadaan lebih banyak jenis barang tidak akan meningkatkan pilihan nyata konsumen dan tidak semua konsumen memberikan tanggapan positif dan justru membuat konsumen semakin bingung dalam memilih. Sistem pemasaran pertanian merupakan suatu sistem yang kompleks. Proses sistem tersebut harus dapat mempertemukan antara kepentingan dan kebutuhan produsen dan konsumen, dimana seringkali kepentingan tersebut saling bertentangan. Kompleksitas sistem pemasaran pertanian dan masalah-masalah yang dihadapi dalam kegiatan pemasaran pertanian menuntun para analis yang akan atau sedang menelaah dimensi-dimensi yang ada dalam sistem pemasaran tersebut, baik secara parsial maupun seluruh dimensi yang dapat teridentifikasi. Kerangka analisis tersebut dimulai dengan menentukan suatu pendekatan yang akan menjadi acuan dalam merancang model analisis. Beberapa pendekatan dalam studi dan analisis pemasaran antara lain adalah pendekatan fungsional, pedekatan kelembagaan, pendekatan produk/ komoditas, pendekatan manajerial, dan pendekatan sistem. 1. Pendekatan Fungsional Pendekatan fungsional digunakan untuk menelaah dan menganalisis kegiata-kegiatan fungsional yang akan dilakukan oleh setiap pelaku dalam proses pemasaran suatu komoditas. Analisis fungsi-fungsi tersebut sangat

83

berguna dalam perencanaan biaya pemasaran dan nilai produk yang akan dibayar oleh konsumen akhir. 2. Pendekatan Kelembagaan Pendekatan kelembagaan berguna untuk menjawab mengenai siapa yang akan melakukan fungsi-fungsi pemasaran dalam proses pemasaran suatu produk secara efektif dan efisien. 3. Pendekatan Produk Pendekatan produk memfokuskan kepada bagaimana produk tersebut dapat menjadi mudah dan murah untuk diterima dan digunakan oleh konsumen dan/ atau diperoleh. 4. Pendekatan Manajerial Pendekatan manajerial memfokuskan pada kerangka analisis berdasarkan fungsi-fungsi manajemen yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasian, pengawasan, dan evaluasi. Tujuannya adalah membuat seluruh kegiatan pemasaran, baik secara parsial maupun keseluruhan menjadi produktif, efektif, dan efisien. 5. Pendekatan Sistem Pendekatan sistem memfokuskan untuk melihat secara mendalam dan memproyeksi tingkat keberhasilan masing-masing begian, mengevaluasi kerangka tindakan dan kebijakan umum serta menyusun rencama operasi secara detil.

SALURAN PEMASARAN AGRIBISNIS


Saluran pemasaran merupakan saluran yang digunakan oleh produsen untuk menyalurkan produk dari produsen sampai ke konsumen akhir. Menurut panjang pendeknya, saluran pemasaran dapat dibagi menjadi tiga kempok sebagai berikut : 1. Penyaluran Langsung Penyaluran Langsung merupakan saluran pemasaran yang paling pendek dimana produk diantar dari 84

produsen

langsung

ke

konsumen.

Contohnya adalah sayuran atau buah-buahan yang baru dipetik dijual di pinggir jalan. 2. Penyaluran Semi-Langsung Penyaluran Semi-Langsung yaitu saluran pemasaran yang melewati satu perantara baru ke konsumen. Contohnyaadalah asil panen sayur yang dijual oleh petani kepada pedagang pengumpul, kemudian pedagang pengumpul menjual langsung ke konsumen. 3. Penyaluran Tidak Langsung Penyaluran Tidak Langsung yaitu saluran pemasaran yang menggunakan dua atau lebih perantara baru kemudian sampai ke konsumen. Contohnya adalah buahan yang dijual ke pedagang pengumpul kemudian diolah menjadi minuman oleh pabrik baru kemudian dipasarkan oleh pengecer dan dibeli oleh konsumen.Contoh saluran pemasaran agribisnis dapat digambarkan sebagai berikut :
Retail Saluran 2 tingkat (PGRK) Produsen Grosir Retail Konsumen

Saluran 1 tingkat (PRK)

Saluran 3 tingkat (PGRAK)

Grosir

Agen

Retail

Gambar 7. Saluran Pemasaran Agribisnis (Kotler, 1997)

85

Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih saluran pemasaran adalah: 1. Sifat Barang Misalnya barang cepat rusak seperti: sayuran, susu, dan daging maka saluran yang dipilih adalah langsung. Begitu juga surat kabar, harus cepat sampai di tangan konsumen. 2. Sifat Penyebaran Barang Untuk barang harus tersedia di tempat di manapun dan mudah dicari seperti: rokok, korek api, obat-obatan produsen cenderung menggunakan saluran distribusi yang panjang. 3. Alternatif Biaya Adanya pertimbangan biaya dalam menetapkan saluran distribusi

menyebabkan saluran distribusi yang panjang akan menimbulkan biaya besar sehingga harga jual menjadi lebih tinggi dan kelancaran penjualan barang terganggu. 4. Modal Setiap usaha selalu memerlukan modal atau dana untuk beroperasi, begitu pula halnya untuk saluran pemasaran. Bila modal kita cukup besar, maka saluran distribusi juga akan semakin kompleks karena produsen akan membawa barangnya ke pelosok wilayah. 5. Tingkat Keuntungan Tergantung dari mata rantai penyaluran barang, semakin panjang mata rantainya akan menyebabkan harga di konsumen tinggi. Hal itu berarti kelancaran penjualan akan tersendat/ terganggu sehingga semakin keuntungan menjadi berkurang. Seluran pemasaran yang terbentuk dalam proses pemasaran sangat beragam, salah satunya dapat dipengaruhi oleh lembaga-lembaga pemasaran yang 86

terlibat dalam proses penyampaian produk dari konsumen ke konsumen yang membentuk jaringan pemasaran. Lembaga pemasaran merupakan badan usaha atau individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen ke konsumen akhir, serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau individu lainnya. Lembaga pemasaran muncul karena adanya keinginan konsumen untuk memperoleh komoditi yang sesuai dengan waktu (time utility), tempat (place utility), dan bentuk (form utility). Lembaga pemasaran bertugas untuk menjalankan fungsi-fungsi pemasaran serta memenuhi keinginan konsumen semaksimal mungkin. Imbalan yang diterima lembaga pemasaran dari pelaksanaan fungsi-fungsi pemasaran adalah margin pemasaran (yang terdiri dari biaya pemasaran dan keuntungan). Macam-macam lembaga pemasaran: 1. Menurut penguasaannya terhadap komoditi yang diperjual belikan, lembaga pemasaran dapat dibedakan menjadi tigayaitu:

Lembaga yang tidak memiliki komoditi, tetapi menguasai komoditi, seperti agen dan perantara, makelar (broker, selling broker, dan buying broker) Lembaga yang memiliki dan menguasai komoditi-komoditi yang dipasarkan, seperti: pedagang pengumpul, tengkulak, eksportir, dan importir. Lembaga pemasaran yang tidak memiliki dan menguasai komoditi yang dipasarkan, seperti perusahaan-perusahaan yang menyediakan fasilitas transportasi, auransi pemasaran, dan perusahaan yang menentukan kualitas produk pertanian (surveyor).

87

2.

Berdasarkan keterlibatan dalam proses pemasaran, yaitu:

Tengkulak,

yaitu

lembaga

pemasaran

yang

secara

langsung

berhubungan dengan petani. Tengkulak melakukan transaksi dengan petani baik secara tunai, ijon maupun kontrak pembelian.

Pedagang pengumpul, yaitu lembaga pemasaran yang menjual komoditi yang dibeli dari beberapa tengkulak dari petani. Peranan pedagang pengumpul adalah mengumpulkan komoditi yang dibeli tengkulak dari petani-petani, yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pemasaran seperti pengangkutan.

Pedagang besar, untuk lebih meningkatkan pelaksanaan fungsi-fungsi pemasaran maka jumlah komoditi yang ada pada pedagang pengumpul perlu dikonsentrasikan lagi oleh lembaga pemasaran yang disebut pedagang besar. Pedagang besar juga melaksanakan fungsi distribusi komoditi kepada agen dan pedagang pengecer

Agen penjual, bertugas dalam proses distribusi komoditi yang dipasarkan, dengan membeli komoditi dari pedagang besar dalam jumlah besar dengan harga yang realtif lebih murah.

Pengecer (retailers), merupakan lembaga pemasaran yang berhadapan langsung dengan konsumen. Pengecer merupakan ujung tombak dari suatu proses produksi yang bersifat komersil. Artinya kelanjutan proses produksi yang dilakukan oleh produsen dan lemabaga-lembaga pemasaran sangat tergantung dengan aktivitas pengecer dalam menjual produk ke konsumen. Oleh sebab itu tidak jarang suatu perusahaan menguasai proses produksi sampai ke pengecer.

3.

Berdasarkan lembaga-lembaga pemasarann tersebut, saluran pemasaran agribisnis yang dapat terbentuk adalah :

Produsen berhubungan langsung dengan konsumen akhir 88

Produsen

tengkulak pedagang pengumpul pedagang besar pengecer

konsumen akhir

Produsen tengkulak pedagang besar pengecer konsumen akhir pedagang pengumpul pedagang besar pengecer konsumen akhir

Produsen

Dll

Hubungan antar lembaga-lembaga tersebut akan membentuk pola-pola pemasaran yang khusus yang sering disebut sistem pemasaran.

FUNGSI DAN BAURAN PEMASARAN Fungsi Pemasaran


Proses penyaluran bantan dan/ atau jasa dari produsen ke konsumen akhir memerlukan berbagai kegiatan fungsional pemasaran yang ditujukan untuk memperlancar proses penyaluran barang dan/ atau jasa secara efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Kegiatan fungsional tersebut disebut fungsi-fungsi pemasaran dan fungsi tersebut dilakukan oleh lembaga-lembaga pemasaran suatu komoditas, yang membentuk rantai pemasaran/ sistem pemasaran. Fungsi pemasaran dapat didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan fungsional yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemasaran, baik aktivitas proes fisik maupun jasa yang ditujukan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya melalui penciptaan atau penambahan kegunaan bentuk, waktu, tempat, dan kepemilikan terhadap suatu produk. Klasifikasi fungsi-fungsi pemasaran agribisnis adalah sebagai berikut (Said, 2001) : 1. Fungsi pertukaran (owner equity), meliputi semua kegiatan yang

berhubungan dengan pemindahan hak milik suatu barang dan/ atau jasa melalui suatu proses pertukaran. Fungsi pertukaran terdiri atas dua fungsi yaitu, usaha pembelian dan usaha penjualan. 89

Fungsi pembelian (diperlukan untuk memiliki barang untuk konsumsi dan produksi sehingga kita mencari sumber-sumber penawaran agar barang tetap sedia). Usaha pembelian dilakukan oleh pedagang perantara yakni pedagang besar, pengumpul atau pengecer untuk dijual kembali dan oleh produsen dijadikan bahan baku atau masukan dalam proses produksi. Contohnya adalah input-input dan alat-alat pertanian yang dibeli oleh petani, pembelian hasil pertanian oleh industri pengolahan, dan pembelian produk setengah jadi oleh industri untuk siolah lebih lanjut menjadi produk jadi.

Fungsi penjualan (diperlukan untuk mencari tempat dan waktu yang tepat untuk memasarkan barang). Sama dengan fungsi pembelian, fungsi penjualan ini dilakukan oleh pedagang perantara yakni pedagang besar, pengumpul atau pengece. Selain menemukan kebutuhan konsumen dan memberikan pelayanan sebaik-baiknya, fungsi penjualan berperan untuk menemukan permintaan potensial bagi produknya dan berusaha mengubah permintaan potensial tersebut menjadi permintaan nyata melalui kegiatan promosi dan periklanan.

2. Fungsi fisik, merupakan semua tindakan yang dilakukan terhadap barang sehingga memperoleh kegunaan karena tempat, waktu, dan bentuk. Fungsifungsi tersebut meliputi : a. Fungsi penyimpanan yaitu, bagaimana menjaga barang dari mulai panen hingga penjualan. Fungsi penyimpanan berupaya mengatur dan mengontrol persediaan untuk kebutuhan selama periode tertentu. Fungsi ini menangani produk berupa masukan (bahan baku) untuk suatu kegiatan produksi dan menangani keluaran berupa produk hasil kegiatan produksi. b. Fungsi pengangkutan Fungsi pengangkutan mempunyai peran dalam proses pemasaran suatu komoditas, terutama dalam memperlancar perpindahan produk dari 90

lokasi peroduksi sampai ke lokasi konsumen akhir. Fungsi ini semakin penting dengan semakin jauhnya jarak antara lokasi produksi dengan lokasi konsumen akhir atau pengguna. c. Fungsi pengolahan Fungsi ini adalah usaha menambah kegunaan bentuk kepada input-input pertanian menjadi produk pertanian yang mengalir dalam sistem pemasaran pertanian. 2. Fungsi fasilitas pemasaran yaitu kegiatan yang menolong sistem pemasaran untuk mengoperasi lebih lancar. Fungsi fasilitas dalam sistem pemasara meliputi standarisasi dan penggolongan mutu, pembiayaan, penanggungan risiko, dan penyediaan informasi pasar. Bahkan ada pula yang menambahkan beberapa fungsi fasilitas yang lain seperti penelitian pasar, penelitian dan pengembangan produk, pengembangan dan perluasan permintaan, serta pengepakan dan pengemasan. a. Fungsi Standarisasi dan Penggolongan Mutu Standarisasi dan penggolongan mutu memegang peranan penting dalam sistem pemasaran dimana dengan adanya hal ini, para pembeli, penjual dan lembaga pemasaran lainnya memiliki kesamaan bahasa mengenai ukuran suatu tingkat mutu produk sehingga dapat mempermudah proses pertukaran dimanapun pelaku berada. b. Fungsi Pembiayaan Pembiayaan memegang peranan dalam perencanaan pembiayaan, pelaksanaan pembiayaan, pengawasan pembiayaan, pengevaluasian pembiayaan, dan pengendalian pembiayaan. c. Fungsi Penanggung Risiko d. Fungsi Penyediaan Informasi Pemasaran 91

Fungsi ini memegang peranan dalam melancarkan proses operasi pemasaran, memperbaiki tingkat efisiensi proses pemasaran, dan membantu dalam pengambilan keputusan. e. Fungsi Penelitian Pemasaran Fungsi ini berperan menghubungkan konsumen pelanggan, dan masyarakat kepada pemasar melalui informasi, dimana informasi tersebut digunakan untuk mengidentifikasi masalah-masalah dan kesempatan-kesempatan meningkatkan dapat pemasaran meningkatkan sehingga kegiatan pemasar dapat pemasarannya,

menyaring, memonitorm dan mengevaluasi kegiatan pemasarannya serta membangun pengertian dan menanamkan pemahaman tentang pemasaran sebagai suatu proses.

Bauran Pemasaran
Bauran pemasaran (marketing mix) menurut Marketing Management (1997) merupakan kumpulan dari variabel-variabel pemasaran yang dapat dikendalikan yang digunakan oleh suatu badan usaha untuk mencapai tujuan pemasaran dalam pasar sasaran. Menurut Kotler (1997), bauran pemasaran adalah sejumlah alat-alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk menyakinkan obyek pemasaran atau target pasar yang dituju. Selanjutnya bauran pemasaran juga didefinisikan sebagai kombinasi 4 variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran yaitu produk, harga, kegiatan promosi dan sistem distribusi (Stanton, 1978). Terdapat banyak alat pemasaran, namun McCarthy membagi unsur bauran pemasaran menjadi 4 faktor yang disebut 4P, yaitu Product, Price, Place, dan Promotion. Secara singkat bauran pemsaran tersebut dapat dijelaskan sebagai berkut : 1. Product (produk) adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada masyarakat untuk dilihat, dipegang, dibeli atau dikonsumsi. Produk dapat terdiri dari barang fisik, jasa, orang, tempat, organisasi, dan gagasan. 92

2. Price (harga), yaitu sejumlah uang yang konsumen bayar untuk membeli produk atau mengganti hak milik produk. 3. Place (tempat), yaitu berbagai kegiatan perusahaan untuk membuat produk yang dihasilkan/dijual terjangkau dan tersedia bagi pasar sasaran. 4. Promotion (promosi), yaitu berbagai kegiatan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan memperkenalkan produk pada pasar sasaran. Variabel promosi meliputi antara lain promosi penjualan, periklanan, target penjualan, hubungan masyarakat, and pemasaran langsung. Variabel promosi atau yang lazim disebut bauran komunikasi pemasaran (Koter, 1997): a) Periklanan, yaitu semua bentuk presentasi nonpersonal dan promosi ide, barang, atau jasa oleh sponsor yang ditunjuk dengan mendapat bayaran. b) Promosi penjualan, yaitu insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau pembelian produk dan jasa. c) Hubungan Masyarakat and publisitas, yaitu berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan dan/atau melindungi citra perusahaan atau produk individual yang dihasilkan. d) Personal selling, yaitu interaksi langsung antara satu atau lebih calon pembeli dengan tujuan melakukan penjualan. e) Pemasaran langsung, yaitu melakukan komunikasi pemasaran secara langsung untuk mendapatkan respon dari pelanggan dan calon tertentu, yang dapat dilakukan dengan menggunakan surat, telepon, dan alat penghubung nonpersonal lain.

93

PRODUCT - Mutu - Rancangan - Nama merek - Kemasan - pelayanan Pelanggan sasaran posisi yang diharapkan PROMOTION - Periklanan - Penjualan personal - Promosi penjualan - Hubungan masyarakat

PRICE - Harga tercantum - Potongan harga - Kelonggaran - Periode - Pembayaran - Batas kredit

PLACE - Saluran - Cakupan - Pilihan lokasi - Persediaan - Pengangkutan

Gambar 8. Bauran Pemasaran (Kotler and Amstrong (2008) Berkaitan dengan konsep bauran pemasaran 4P sebelumnya, Robert Luaterborn mengatakan bahwa faktor 4P berhubungan dengan 4C (customer need and want, cost to customer, convenience, communication) pelanggan dan tidak bisa dipisahkan untuk mencapai tujuan yang masksimal.

1. Productcustomer need and want


Produk yang dihasilkan harus melihat kebutuhan dan keinginan para penggunanya. 2. Price Cost to Customer Harga selalu berhubungan dengan biaya pelanggan yang akan ditentukan. Oleh karena itu, lembaga yang memproduksi informasi harus mempertimbangkan keseimbangan antara informasi yang diberikan dengan biaya pelanggan. 3. Place Convience Tempat berhubungan dengan kemudahan keberadaan tempat pemasaran, seperti: a. Lokasi gedung yang strategis dengan penempatan perabot yang tidak mengganggu kelancaran (lay out) tugas petugas (karyawan dan pustakawan) serta aktivitas pengguna yang datang.

94

b.

Penempatan bahan pustaka di rak-rak filling dapat dijangkau serta penyajian dan sumber-sumber informasi melalui jaringan kerja perpustakaan untuk menjangkau masyarakat yang tidak dapat datang ke perpustakaan.

Evolusi Faktor Bauran Pemasaran ( Marketing Mix)


Bauran pemasaran yang terdiri dari product, price, place, dan promotion (4P) seiring perkembangan jaman dan tuntutan pasar yang senantiasa mengalami perkembangan telah mengalami evolusi dan terus berkembang searah dengan perkembangan perilaku konsumen dan kecerdasan para ahli pemasaran. Lovelock dan Wright (2002) mengembangkan bauran pemasaran (marketing mix) menjadi integrated service management dengan menggunakan pendekatan 8Ps, yaitu: product elements, place, cyberspace and time, promotion and education, price and other user outlays, process, productivity and quality, people, and physical evidence. a) b) c) Product elements adalah semua komponen dari kinerja layanan yang menciptakan nilai bagi pelanggan. Place, cyberspace, and time adalah keputusan manajemen mengenai kapan, dimana, dan bagaimana menyajikan layanan yang baik kepada pelanggan. Promotion and education adalah semua aktivitas komunikasi dan perancangan d) insentif untuk membangun persepsi pelanggan yang dikehendaki perusahaan atas layanan spesifik yang perusahaan berikan. Price and other user outlays adalah pengeluaran uang, waktu, dan usaha yang pelanggan korbankan dalam membeli dan mengkonsumi produk dan layanan yang perusahaan tawarkan atau sajikan. e) Process adalah suatu metode pengoperasian atau serangkaian tindakan yang diperlukan untuk menyajikan produk dan layanan yang baik kepada pelanggan f) Productivity and quality, produktivitas adalah sejauhmana efisiensi masukan-masukan layanan ditransformasikan ke dalam hasil-hasil layanan yang dapat menambah nilai bagi pelanggan, sedangkan kualitas adalah 95

derajat suatu layanan yang dapat memuaskan pelanggan karena dapat memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan. g) h) People adalah pelanggan dan karyawan yang terlibat dalam kegiatan memproduksi produk dan layanan (service production). Physical evidence adalah perangkat-perangkat yang diperlukan dalam menyajikan secara nyata kualitas produk dan layanan. LATIHAN Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang Pemasaran Agribisnis, coba Anda uraikan pertanyaan latihan berikut ini. 1. Jelaskan posisi pemasaran dalam suatu sistem agribisnis 2. Jelaskan bagaimana permintaan dan penawaran dapat mempengaruhi harga suatu produk 3. Sebutkan strategi pemasaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan keuntungan komoditas pertanian 4. Jelaskan fungsi-fungsi pemasaran agribisnis 5. Jelaskan evolusi faktor bauran pemasaran agribisnis TES FORMATIF Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Apakah yang dimaksud dengan pasar, pemasar, dan pemasaran agribisnis? 2. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya efisiensi pemasaran agribisnis? 3. Apakah perbedaan antara penjualan dan pemasaran? 4. Sebutkan peranan fungsi penyimpanan, trasnportasi, dan informasi dalam pemsaran agribisnis 5. Sebutkan sifat-sifat produk pertanian. 6. Sebutkan sifat-sifat produksi pertanian 96

7. Apa yang dimaksud dengan penyataan pemasaran merupakan kegiatan produktif 8. Sebutkan beberapa pendekatan studi dan analisis pemasaran pertanian 9. Apakah yang dimaksud pendekatan sistem pemasaran 10. Bagaimanakah hubungan antara bauran pemasaran 4P dengan 4C

97

Modul

PERDAGANGAN BESAR AGRIBISNIS

Tipe Perdagangan Besar Agribisnis


Perdagangan besar adalah suatu proses untuk memfasilitasi proses pengangkutan barang ke pasar eceran (ritel) (Roy, 1967). Pedagang besar merupakan operator agribisnis dalam hal pembelian, perakitan, perpindahan, penyimpanan, dan pendistribusian bahan pangan dan produk makanan untuk dijual ke pengecer, industri, dan konsumen yang bertujuan memperoleh laba. Pedagang besar sangat berperan dalam agrimarketing food channel disebabkan mereka mampu memberikan pedagang eceran yang meliputi kredit, simpanan, dan variasi. Kredit; pedagang besar mampu memberikan pedagang ritel bermacammacam produk dan terkadang memberikan kredit jangka pendek Simpanan; dengan membeli barang yang cukup besar untuk satu produk, pedagang besar mendapatkan potongan harga (yangdisebut price saving) Variasi; pedagang besar mampu mempertahankankeanekaragaman produk dan meninventarisir suatu tingkatanyang tidak dapat dilakukan oleh pedagang ritel Tipe perdagangan besar dikelompokan sebagai berikut : 1. 2. Merchant Wholesaler, merupakan pedagang yang membawa barang yang dikuasai dan dimilikinya, membeli kemudian menjualnya. Manufactures sales brances, merupakn sebuah operasi perdaganga n yang terintegrasi dengan industri atau sebuah proses. Mereka memiliki dan mengoperasikan industri makanan dan mereka memberikan berbagai pelayanan yang luas. 98

3.

Agen dan broker, merupakan pedagang yang membawa barang yang tidak dimiliki dan dikuasainya, namun mereka hanya berperan sebagai perantara. Apabila diklasifikasikan berdasarkan penggabungan antara pedagang besar

dengan pedagang ritel, maka perdagangan besar dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok, yaitu : 1. 2. 3. Co-op wholesaling, adalah perdagangan dimana toko ritel dimiliki oleh padagang besar Voluntary Wholesaling, adalah perdagangan dimana toko ritel bekerja sama dengan pedagang besar tidak dalam satu kepemilikan Unaffiliated Wholesaling, adalah perdagangan dimana antara pedagang besar dan pedagang ritel bekerja masing-masing (tidak ada penggabungan).

INTEGRASI DAN KOORDINASI VERTIKAL PADA PERDAGANGAN BESAR


Konsep integrasi atau terpadu digunakan sebagai pendekatan dalam

membuat sistem atau program baru yang diharapkan akan memajukan sektor pertanian dengan meningkatkan efisiensi. Konsep integrasi adalah mencakup seluruh elemen sistem agribisnis, yaitu integrasi antara subsistem usaha pengadaan input pertanian, subsistem usaha produksi pertanian atau usahatani (on-farm), subsistem usaha pengolahan hasil pertanian (agroindustri), dan subsistem usaha pemasaran (Said, 2001). Dalam membangun agribisnis terbadu terdapat tiga sistem yang dapat digunakan yaitu integrasi vertikal, horisontal, dan gabungan keduanya. Integrasi vertikal adalah pengelolaan bisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir dan berada pada satu komando keputusan manajemen untuk menghindari resiko ekonomi. Melalui integrasi vertikal dapat dicapai efisiensi tertinggi, karena dapat mencapai skala ekonomi (economic of scale) dan terhindar dari masalah marjin ganda. Contoh dari integrasi vertikal adalah pada agribisnis kedelai, dimulai dari pengadaan benih, pupuk, dan pestisida. Pengadaan benih unggul yang sesuai ini mungkin dilakukan bila industri benih terintegrasi dengan kegiatan produksi 99

penangkar benih. Integrasi vertikal ditujukan untuk memberikan jaminan pasar, pasokan, harga, efisiensi, dan kelangsungan sistem komoditas. Menurut GumbiraSaid (2002) integrasi vertikal hanya bisa terselenggara bila terdapat hubungan yang saling rnenguntungkan dan saling mendukung antar para pelaku bisnis dalam suatu sistem komoditas. Misalnya, hubungan antara plasma sebagai petani dan inti sebagai pembeli, pengolah, dan pemasar. Menurut Porter (1980) intergrasi vertikal memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Tercapainya penghematan volume hasil tertentu dalam bentuk penghematan biaya aktivitas produksi, penjualan, pengendalian, dan aspek lainnya secara terpadu. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pemahaman teknologi yang lebih baik dari aktivitas hulu sampai hilir Kepastian atas pasokan dan permintaan Penghapusan kekuatan tawar menawar dan distorsi harga input Peningkatan kemampuan untuk melakukan diferensiasi produk Peningkatan daya hambat masuk dan mobilitas Posisi bisnis yang berlaba tinggi Berjaga-jaga terhadap penutupann akses kepada pemasok maupun konsumen. Integrasi horisontal adalah pengelolaan usaha agribisnis dengan membangun keterpaduan atas beberapa komoditas (Said, 2001). Integrasi horisontal terselenggara apabila terdapat keterkaitan yang erat antarlini komoditas pada tingkat usaha yang sama. Tujuan utama pembentukan integrasi horisontal adalah meningkatkan efisiensi, mengatur jadwal tanam dan jenis komoditi sesuai dengan permintaan, serta memenuhi volume dan mutu produk, memperkuat posisi tawar produsen. Selain itu dapat membantu mengurangi risiko produksi dengan pengiliran tanaman, mengurangi risiko harga dengan pengaturan jadwal tanam dan jenis komoditi, serta mengatur jumlah pasokan. Integrasi campuran merupakan kombinasi antara vertikal dan horisontal. Contoh pelaksanaan integrasi campuran adalah pada usaha minyak atsiri. Integrasi horisontal terjadi pada usaha penanaman berbagai komoditas tanaman yang mengandung minyak atsiri. Usaha-usaha tersebut juga terintegrasi secara vertikal dengan produsen 100

minyak atsiri, serta usaha pemasaran yang terlibat dalam sistem komoditas tersebut.

Jenis-jenis Integrasi Vertikal


Integrasi vertikal terbagi manjadi dua jenis yaitu integrasi ke hulu (up stream) dan integrasi ke hlir (down stream) (Said, 2001).. Integrasi ke hulu adalah jenin integrasi vertikal dimana perusahaan yang terintegrasi memproduksi sendiri input yang dibutuhkan. Sedangkan integrasi ke hilir adalah perusahaan yang memutuskan untuk menyalurkan output yang dihasilkan kepada konsumen melalui perusahaan yang terintegrasi dengannya. Integrasi vertikal dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Full Integration Perusahaan yang melalukan full integration bila perusahaan tersebut memproduksi semua bahan baku yang dibutuhkan atau menyalurkan semua output yang dihasilkan melalui anak perusahaan yang terintegrasi dengan perusahaan tersebut. 2. Tapered Integration Tapered integration merupakan perpaduan antara integrasi vertikal dengan pertukaran pasar (market exchange). Perusahaan tidak membeli input yang dibutuhkan dari perusahaan lain selain perusahaan yang terintegrasi dengannya atau menyalurkan hasil produksinya sendiri dan melalui perusahaan lain yang tidak terintegrasi. 3. Aliansi Strategis dan Joint Venture Aliansi strategis merupakan penggabungan perusahaan yang bekerja sama untuk berbagi informasi secara horisontal maupun vertikal. Aliansi horisontal meliputi kerja sama perusahaan dalam industri yang sama sedangkan aliansi vertikal meliputi kerja sama perusahaan pemasok input dengan perusahaan pembelinya. Joint Venture adalah bagian dari aliansi strategis dimana dua atau lebih perusahaan bekerja sama dan membuat sebuah perusahaan gabungan baru yang biasanya diperasikan oleh pekerja dari perusahaan induk.

101

LATIHAN Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang Perdagangan Besar Agribisnis, coba Anda uraikan pertanyaan latihan berikut ini. 1. Jelaskan metode operasi yang diterapkan oleh perdagangan besar. 2. Gambarkan dan jelaskan secara singkat mengenai model integrasi vertikal sistem agribisnis 3. Apakah yang Anda ketahui mengenai integrasi horisontal? 4. Jelaskan secara singkat perbedaan integrasi vertikal dan horisontal! 5. Mengapa perdagangan besar berperan dalam agrimarketing food channel. TES FORMATIF Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Apakah yang dimaksud dengan pedagang besar? 2. Apakah yang dimaksud dengan perdagangan besar? 3. Sebutkan macam-macam pedagang besar! 4. Sebutkan peranan dari perdagangan besar. 5. Sebutkan tipe-tipe perdagangan besar 6. Sebutkan perbedaan perdagangan besar co-op, voluntary, dan unafiliated 7. Apakah keunggulan perdagangan besar dibandingkan perdagangan eceran? 8. Berikan contoh konsumen yang memakai jasa perdagangan besar. 9. Berikan contoh produk agroindustri yang ditawarkan oleh perdagangan besar? 10. Sebutkan tiga jenis integrasi vertikal pada perdagangan besar.

102

KEGIATAN BELAJAR 4 Modul

PERDAGANGAN ECERAN (RITEL) AGRIBISNIS

TIPE PERDAGANGAN ECERAN : MODERN DAN TRADISIONAL


Kotler (2007) mendefinisikan perdagangan eceran (retailing) adalah semua kegiatan yang melibatkan penjualan barang dan jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi bukan untuk bisnis. Ritel merupakan mata rantai yang penting dari saluran distribusi yang menghubingkan keseluruhan dari bisnis dan orang-orang yang mencakup perpindahan secara fisik dan tranfer kepemilikan barang atau jasa dari produsen ke konsumen. Secara umum dapat disimpulkan bahwa fungsi pedagang eceran ini memberikan pelayanan dan kemudahan kepada konsumen. Fungsi pedagang eceran adalah sebagai berikut : 1. Perantara antara distributor dengan konsumen akhir 2. Penghimpun berbagai kategori jenis barang yang menjadi kebutuhan konsumen 3. Tempat rujukan untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan konsumen 4. Penentu eksistensi barang dari manufaktir di pasar konsumen

Tipe Perdagangan Eceran


Organisasi-organisasi pengecer memiliki berbagai macam bentuk, mulai dari yang paling tradisional sampai kepada pengecer bedar dan modern yang memanfaatkan teknologi informasi. Ritel (eceran) tradisional merupakan ritel sederhana dengan tempat yang tidak terlalu luas, barang yang dijual terbatas jenisnya. Pada sistem manajemen ritel sederhana ini memungkinkan terjadinya 103

proses tawar menawar. Contoh : pasar tradisional, pedagang kaki lima, pedagang asongan, dan warung. Ritel modern menawarkan tempat lebih luas, banyak jenis barang yang dijual, manajemen lebih terkelola, harga sudah menjadi harga tetap. Ritel modern ini menggunakan konsep melayani sendiri atau biasa disebut swalayan. Contoh dari ritel modern ini adalah sebagai berikut :
1.

Minimarket, yaitu toko yang relatif kecil yang menjual barang kebutuhan sehari-hari Convenience store, yaitu toko yang mirip minimarket dalam hal produk yang dijual, tetapi berbeda dalam harga, jam buka, dan luas ruang serta lokasi. Contoh : alfa mart, indomaret

2.

3.

Specialty store, yaitu toko yang menyediakan pilihan produk yang lengkap hingga konsumen tidak harus mencari di toko lain, keragaman produk disertai harga yang bervariasi dari yang terjangkau hingga premiun membuat lebih unggul

4.

Factory outlet, yaitu toko yang menjual produk-produk ekspor yang masih layak untuk dijual Distro atau distribution outlet, yaitu toko yang menjual produk-produk yang memiliki merek sendiri Supermarket, yaitu toko yang menjual produk-produk kebutuhan sehari-hari dengan ukuran lebih besar dari minimarket Departemen store, yaitu toko yang berukuran sangat besar dan menjual produk-produk sehari-hari, rumah tangga bahkan non pangan. Saat ini ritel tradisional mengalami penurunan konsumen karena munculnya

5.

6.

7.

ritel modern. Dilihat dari harga, kenyamanan, kepraktisan, dan ritel modern memiliki keunggulan dibandingkan ritel tradisional. Namun, ritel tradisional masih tetap berjaya di daerah perdesaan karena ritel modern belum ada di daerahdaerah perdesaan. Selain tipe ritel eceran tradisional dan modern, bentuk pengecer bisa juga diklasifikasikan berdasarkan lini produknya (Saladin, 2006) : 1. Toko khusus (specialy store), toko yang khusus menjual lini produk terbatas dengan macam barang yang cukup banyak dalam lini tersebut 104

2. 3. 4. 5.

Toko serba ada (departement store), toko yang menjual beberapa lini produk Toko swalayan, toko yang cukup besar dan menyediakan seluruh kebutuhan rumah tangga, barang-barang bahkan obat-obatan Toko kebutuhan sehari-hari (convinience store), toko yang relatif kecil yang terletak di daerah pemukiman, menyediakan barang kebutuhan sehari-hari Super store, toko yang rata-rata memiliki ruang jual yang sangat luas dan bertujuan untuk memenuhi semua kebutuhan konsumen akan produk makanan dan bukan makanan yang dibeli secara rutin

6.

Toko pemberi potongan harga (discount store), toko yang memberikan potongan harga dalam menjual barang-barang strandar dengan harga lebih murah dibandingkan pedagang biasa, dengan cara memperoleh marjim laba sedikit tetapi volume penjualan besar

7.

Toko gudang adalah suatu operasi penjualan yang penjualannya dikurangi, diberi potongan harga.

DAMPAK PEMBANGUNAN PASAR ECERAN MODERN DAN TRADISIONAL TERHADAP PRODUK AGRIBISNIS

Dalam sistem agribisnis yang melibatkan perdagangan besar dan perdagangan eceran diperlukan efisisensi dalam pemasaran dan distribusi produkproduk agribisnis. Dalam sistem ini, para pedagang besar produk primer membeli produk dari pedagang pengumpul atau langsung dari petani kemudian menjualnya kembali kepada para pedagang eceran atau kepada perusahaan agribisnis. Hasil produk olahan dari perusahaan agribisnis ini kemudian dipasarkan dengan banyak melibatkan para pedagang besar dan ribuan atau jutaan pedagang eceran dan kegiatan ini menyediakan lapangan kerja, khususnya bagi pekerja informal seperti pedagang kaki lima, asongan, dan warung. Pembangunan perdagangan eceran saat ini cenderung mengarah pada toko yang makin besar. Hal tersebut menawarkan lebih banyak ruang peragaan yang menampung lebih banyak produk. Hal ini dibuktikan poduk pangan segar dan 105

olahan saat ini banyak dijual di toko serba ada dan berbagai toko swalayan. Perusahaan pertokoan modern yang bergerak di sektor eceran ini misalnya toserba Yogya, toserba Matahari, Toserba superindo, dan Toserba Hero. Namun, di sisi lain dari perkembangan ini adalah mematikan pedagang-pedagang kecil dan pedagang di pasar tradisional. Pertokoan modern ini membentuk mata rantai pertokoan (chain store) yang diartikan sebagai pasar swalayan dengan di bawah naungan satu manajemen pusat. Toko dengan jenis ini menawarkan harga yang lebih rendah dan tanggap terhadap kebutuhan konsumen. Penggunaan alat-lat teknologi berupa komputer atau pengamat elektronik di pintu keluar masuk, cctv digunakan untuk memperlancar operasi. Penjaminan kenyamanan dan keamanan saat berbelanja juga sangan diperhatikan oleh toko jenis ini, seperti disediakannya gerobak/ keranjang belanja, satpam, ruangan AC, dan tempat yang cukup luas dan nyaman bagi konsumen. Dampak negatif perkembangan toko modern ini ditanggapi oleh pemerintah dengan menetapkan para pedagang ini hanya diperbolehkan beroperasi di kota-kota besar, setingkat kotamadya/ kabupaten dan propinsi. Secara umum, pembangunan perdagangan eceran baik tradisional maupun modern ini adalah mempermudah dan memperlancar pengembangan agribisnis dengan mempermudah subsistem pemasaran dan distribusi produk agribisnis. Dengan semakin berkembangnya sistem perdagangan eceran terutama eceran modern, produk agribisnis lebih bisa tersalurkan dan membuat konsumen lebih mudah menikmati produk agribisnis. LATIHAN Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang Perdagangan Eceran (Ritel) , coba Anda uraikan pertanyaan latihan berikut ini. 1. Jelaskan perbedaan perdagangan eceran tradisional dan modern 2. Sebutkan beberapa tren yang terdapat pada perdagangan eceran 3. Jelaskan dampak negatif akibat munculnya pedagang eceran modern terhadap pedagang eceran tradisional.

106

4. Menurut pendapat anda, strategi seperti apakah yang efektif digunakan untuk meningkatkan daya saing pedagang eceran tradisional terhadap perkembangan pedagang eceran modern. 5. Jelaskan manfaat dari perdagangan eceran. TES FORMATIF Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Apakah definisi dari perdagangan eceran (ritel)? 2. Sebutkan fungsi-fungsi perdagangan eceran (ritel)! 3. Sebutka tipe-tipe perdagangan eceran (ritel)! 4. Berikan contoh pedagang eceran tradisional yang ada di Indonesia! 5. Apakah yang Anda ketahui tentang specialty store? 6. Sebutkan perbedaan antara supermarket dengan departement store! 7. Berikan contoh pedagang eceran modern yang ada di Indonesia! 8. Sebutkan keunggulan perdagangan eceran modern? 9. Sebutkan keunggulan perdagangan eceran tradisional? 10. Adakah perbedaan produk yang dijual oleh perdagangan eceran modern dengan tradisional? Sebutkan.

107

Modul

KONSUMEN AGRIBISNIS

TIPE DAN PROFIL KONSUMEN AGRIBISNIS


Konsumen agribisnis adalah setiap orang yang ingin memenuhi keinginan dan kebutuhannya terhadap barang hasil-hasil pertanian. Konsumen agribisnis terdiri dari konsumen industri dan konsumen individu/ perorangan. 1. Konsumen industri yaitu perusahaan-perusahaan agribisnis yang membeli produk hasil usaha tani dari para petani untuk diolahnya menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi. 2. Konsumen individu/ perorangan adalah konsumen akhir yang mengkonsumsi produk agribisnis dalam bentuk yang mereka inginkan/ butuhkan untuk digunakan sendiri. Misalnya membeli pakaian, sepatu, dll Kebutuhan dari kedua kelompok konsumen tersebut sangat berbeda. Konsumen pertama atau yang disebut dengan agroindustri, membutuhkan produkproduk hasil pertanian yang bermutu (berkualitas) untuk diolahnya menjadi barang setengah jadi dan barang jadi yang berkualitas. Sedangkan konsumen yang kedua membutuhkan produk-produk hasil pertanian (agribisnis) yang sesuai dengan seleranya atau keinginannya. Memuaskan kebutuhan kedua kelompok konsumen tersebut akan produk hasil usaha tani (agribisnis) sangat penting sebab, konsumen tersebutlah yang nantinya akan mengkonsumsi produk-produk agribisnis.

PERMINTAAN KONSUMEN AGRIBISNIS


Teori konsumen biasanya digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan produk-produk yang akan dipilih oleh konsumen pada tingkat pendapatan dan 108

harga tertentu. Terdapat tiga pendekatan yang digunakan untuk penentuan permintaan dan pilihan konsumen terhadap suatu barang/jasa, yaitu : 1. Pendekatan utilitas (Utility Approach); 2. Pendekatan kurva Indiveren (Indifference Curve Approach) dan 3. Pendekatan atribut (Atribute Approach).
1.

Teori utilitas pada perilaku konsumen ini pertama kali dikemukakan oleh Berthan (1748 1833) dalam Hiesheleifer dan Glazer (1992) yang menyatakan bahwa tujuan manusia adalah mencari kesenangan dan menghindari penderitaan sehingga memandang segala sesuatu yang ditawarkan kepadanya dari segi kegunaan (ulititas). Pendekatan teori utilitas menyatakan bahwa setiap barang mempunyai dayaguna atau utilitas sebab barang tersebut pasti mempunyai kemampuan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen yang menggunakan barang tersebut. Oleh karena itu apabila orang meminta sesuatu jenis barang, pada dasarnya yang diminta adalah dayaguna barang tersebut. Contoh: ada pernyataan bahwa suatu barang A memiliki kegunaan lebih tinggi daripada barang B dan pernyataan barang A lebih disukai daripada barang B adalah sama. Keduanya mengarah pada barang A lebih diminati dibandingkan barang B. Asumsi yang digunakan untuk menjelaskan pendekatan utilitas ini antara lain: 1) Total utility merupakan fungsi dari barang yang dikonsumsi baik jumlah maupun macamnya {TU = (x, y, ..z)}. 2) Konsumen akan memaksimalkan utilitasnya, dengan tunduk kepada kendala anggaran. 3) Utilitas dapat diukur secara Kardinal. 4) Tambahan kepuasan yang diperoleh karena tambahan barang yang dikonsumsi (marginal utility ) menurun (The Law of Diminishing Marginal Utility) yang dikenal dengan hukum Gossen I.

109

Gaspers kemudian mengatakan bahwa kepuasan konsumen sangat bergantung kepada persepsi dan harapan konsumen. Adapun faktorfaktoryang mempengaruhi persepsi dan harapan konsumen antara lain : 1) Kebutuhan dan keinginan yang berkaitan dengan hal-hal yang dirasakan konsumen ketika sedang mencoba melakukan transaksi dengan produsen produk. 2) Pengalaman masa lalu ketika mengkonsumsi produk dari perusahaan maupun pesaing-pesaingnya. 3) Pengalaman dari orang lain.
2.

Pendekatan Kurva Indiferens Pendekatan kurva indiferens menggunakan pengukuran geometris untuk mengukur utilitas secara ordinal (ordinal utility) dalam menganalisis pilihan konsumen dan menurunkan fungsi permintaan. Koutsoyiannis (1982), menjelaskan tentang asumsi pada teori ini adalah : 1) Rasionalitas konsumen. 2) Konsumen diasumsikan dapat meranking preferensi atau dengan kata lain dapat menentukan komoditas mana yang lebih disukainya. 3) Marginal Rate of Subtitution (MRS) akan menurun setelah melampaui suatu tingkat tertentu. MRS adalah jumlah barang Y yang bisa diganti oleh satu unit barang X pada tingkat kepuasan yang sama. 4) Utilitas total konsumen merupakan fungsi dari jumlah komoditi yang dikonsumsi U = (q1, q2, .qx, qy, ..qn). 5) Konsistensi dan transitivitas pilihan : konsumen diasumsikan konsisten atas pilihan yang dibuatnya, bila A lebih disukai daripada B, maka B kurang disukai dibandingkan A. Jika A>B maka B<A. Karakter transitivitas dinyatakan sebagai berikut : jika A>B dan B>C, maka A>C. Seorang konsumen akan memilih sekelompok barang yang dapat

memaksimumkan kepuasan dengan pendapatannya. Sekelompok barang yang

110

memberikan kepuasan tertinggi yang bisa dicapai konsumen tersebut dengan kendala anggaran tertentu, harus dapat memenuhi dua syarat : 1) Keadaan tersebut terjadi pada kurva indiferens tertinggi yang bersinggungan dengan garis anggaran tersebut. 2) Keadaan tersebut akan terjadi pada titik singgung antara kurva indiferens tertinggi dengan garis anggaran. Kedua keadaan tersebut diatas, ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.

Y 1/Py

A Kl BL X Gambar 9. Optimum Konsumen Kepuasan konsumen tersebut akan terjadi pada titik A, yaitu titik singgung antara kurva indiferens dengan garis anggaran dan disebut penyelesaian dalam (Interior Solution). Maka slope kedua kurva tersebut harus sama pada titik A, slope kurva indiferens sama dengan slope anggaran (BL).
3. Pendekatan Atribut

Lancaster (1966) dalam Colman dan Young (1992), memperkenalkan bahwa dengan analisis atribut dapat digunakan untuk mengetahui perilaku konsumen. Ini adalah teori permintaan baru yang menyatakan bahwa konsumen mendrive utilitasnya bukan dari produk yang dikonsumsi tetapi dari karakteristik atau atribut yang yang ada pada produk tersebut. Lancaster juga mengasumsikan bahwa konsumen memperoleh manfaat dari mengkonsumsi barang dan kesenangan. Selain itu setidaknya salah satu barang yang dibeli memiliki sifat111

sifat yang dapat diamati. Karena itu kepuasan konsumen secara total tergantung pada jumlah total sifat-sifat yang berbeda dari produk yang dikonsumsi dan mengkonsumsi produk lain. Atribut (attributes) adalah karakteristik atau fitur yang mungkin dimiliki atau tidak dimiliki oleh objek. Objek dapat berupa produk; orang; perusahaan dan segala sesuatu dimana seseorang memiliki kepercayaan dan sikap. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa atribut terbagi menjadi dua kelas atribut, yakni : 1) Atribut intrinsik, yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat aktual produk. 2) Atribut ekstrinsik, yaitu segala sesuatu yang diperoleh dari aspek eksternal produk, seperti : nama merek, kemasan, dan label. Menurut Gaspersz (2001), Model atribut dari perilaku konsumen dikembangkan sekitar tahun 1960-an menggunakan dasar hipotesis bahwa karakteristik produk, performance feature, atau atribut-atribut yang menciptakan utilitas, sehingga apa yang mendorong seorang konsumen lebih suka pada suatu merek tertentu dibandingkan merek lain ada kaitannya dengan atribut yang berbeda dari produk pesaing itu. Lebih jauh Gaspersz memberi contoh, misal : seorang konsumen mobil lebih suka membeli mobil Toyota Avanza dari pada Daihatsu Xenia, karena pada Toyota Kijang ditemukan lebih banyak atribut. Atribut yang bisa dijumpai dalam produk mobil antara lain seperti : kemudahan perawatan; kenyamanan dalam mengemudi; pelayanan purna jual; ergonomis; mesin yang lebih baik; harga jual kembali yang tinggi dll.

Dengan demikian hasil dari model atribut adalah bahwa preferensi konsumen untuk produk merek A dibandingkan produk merek B bersumber pada kenyataan bahwa konsumen memperoleh lebih banyak utilitas (kepuasan) dari beberapa atribut yang dipertimbangkan. Dengan demikian hasil dari model atribut 112

adalah bahwa preferensi konsumen untuk produk merek A dibandingkan produk merek B bersumber pada kenyataan bahwa konsumen memperoleh lebih banyak kepuasan dari beberapa atribut Toyota.

LATIHAN 1. Jelaskan tiga pendekatan yang digunakan untuk penentuan permintaan dan pilihan konsumen terhadap suatu barang/jasa. 2. Jelaskan jenis kebutuhan produk antara konsumen industri dan individu. 3. Berikan contoh mengenai aktifitas perilaku konsumen dalam memutuskan pembelian suatu produk 4. Jelaskan mengenai pendekatan teori utulitas konsumen. 5. Jelaskan mengenai kurva indeferens. TES FORMATIF 1. Apakah yang dimaksud dengan konsumen agribisnis? 2. Sebutkan jenis-jenis konsumen agribisnis. 3. Apakah yang dimaksud dengan kepuasan konsumen? 4. Apakah yang dimaksud kepuasan total konsumen? 5. Sebutkan faktor-faktor yangmempengaruhi kepuasan konsumen. 6. Apa yang Anda ketahui tentang The Law of Diminishing Marginal Utility 7. Gambarkan kurva indeferens. 8. Apakah yang dimaksud dengan atribut? 9. Apakah yang dimaksud atribut intrinsik? 10. Apakah yang dimaksud atribut ekstrinsik?

113

KEGIATAN BELAJAR 5 Modul

PERSAINGAN PASAR AGRIBISNIS

KLASIFIKASI SITUASI PASAR AGRIBISNIS


Persaingan adalah usaha dua atau lebih perusahaan, secara individual untuk mengalahkan perusahaan lain dengan menawarkan produk yang lebih baik (Roy, 1967). Persaingan ini sangat tergantung pada alasan harga produk yang ditawarkan. Pesaingan dapat ditujukan kepada : 1. Perusahaan yang telah ada 2. Perusahaan berprospek yang akan memasuki peluang usaha yang memiliki keuntungan yang cukup menjanjikan 3. Produk yang dapat disubstitusi, termasuk produk yang belum dikembangkan dan ditemukan

Klasifikasi Situasi Pasar


Perusahaan agribisnis ketika menjual produk selalu menggunakan salah satu fungsi tipe situasi pasar yaitu : 1) persaingan sempurna; 2) persaingan monopolistik; 3) oligopsoni; 4) monopsoni. Gambaran dari situasi persaingan pasar tersebut disajikan pada tabel berikut.

114

Tabel 1. Situasi Pasar Berdasarkan Jumlah Pembeli dan Penjual Sisi Pembeli Sisi Penjual Sedikit Penjual Oligopoli Oligopoli bilateral Oligopoli monopolistik

Banyak Penjual Banyak Pembeli Persaingan sempurna Sedikit Pembeli Oligopsoni Satu Pembeli Monopsoni

Satu Penjual Monopoli Oligopsoni monopolistik Monopoli bilateral

Sumber : Nicholils (1941) 1. Persaingan Sempurna

Pasar persaingan sempurna dapat didefinisikan sebagai struktur pasar atau industri dimana terdapat banyak penjual dan pembeli. Dan setiap penjual ataupun pembeli tidak dapat mempengaruhi keadaan di pasar. Ciri-ciri pasar persaingan sempurna Setiap perusahaan adalah pengambil harga Artinya suatu perusahaan yang ada di dalam pasar tidak dapat menentukan atau merubah harga pasar. Adapun perusahaan di dalam pasar tidak akan menimbulkan perubahan ke atas harga pasar yang berlaku. Harga barang di pasar ditentukan oleh interaksi diantara keseluruhan produsen dan keseluruhan pembeli. Setiap perusahaan mudah keluar atau masuk Artinya sekiranya perusahaan mengalami kerugian, dan ingin meninggalkan industri tersebut, langkah ini dengan mudah dilakukan. Sebaliknya apabila ada produsen yang ingin melakukan kegiatan di industri tersebut. Produsen tersebut dapat dengan mudah melakukan kegiatan tersebut. Setiap perusahaan menghasilkan barang yang sama Artinya bahwa barang yang dihasilkan berbagai perusahaan tidak mudah untuk dibeda-bedakan. Pembeli tidak dapat membedakan yang mana dihasilkan oleh produsen A atau B. 115

Banyak perusahaan dalam pasar Artinya karena jumlah perusahan sangat banyak dan relatif kecil jika dibandingkan Menyebabkan dengan kenaikan jumlah atau produksi penurunan dalam harga, industri tersebut. tidak sedikitpun

mempengaruhi harga yang berlaku dalam pasar tersebut. Pembeli mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang keadaan di pasar Artinya bahwa pembeli mengetahui tingkat harga yang berlaku dan perubahan-perubahan ke atas harga tersebut. Sehingga produsen tidak dapat menjual barangnya dengan harga yang lain lebih tinggi dan pada yang berlaku di pasar. Beberapa kelemahan / keburukan persaingan sempurna yaitu : Persaingan sempurna tidak mendorong inovasi Persaingan sempurna adakalanya menimbulkan biaya sosial Membatasi pilihan konsumen Biaya produksi dalam persaingan sempurna mungkin lebih tinggi Distribusi pendapatan tidak selalu merata

Bentuk pasar persaingan sempurna terutama dalam bidang produksi dan perdagangan hasil-hasil pertanian seperti beras, karet, buah-buahan, dan sayuran. 2. Persaingan Monopolistik

Pasar Monopolistik adalah salah satu bentuk pasar di mana terdapat banyak produsen yang menghasilkan barang serupa tetapi memiliki perbedaan dalam beberapa aspek. Pasar ini merupakan gabungan antara pasar monopoli dan persaingan sempurna. Penjual pada pasar monopolistik tidak terbatas, namun setiap produk yang dihasilkan pasti memiliki karakter tersendiri yang membedakannya dengan produk lainnya. Contohnya adalah shampo, meskipun fungsi semua shampoo sama yakni untuk membersihkan rambut, tetapi setiap produk yang dihasilkan produsen yang berbeda memiliki ciri khusus, misalnya perbedaan aroma, perbedaan warna, kemasan, dan lain-lain.

116

Ciri-ciri pasar monopolistik : Terdapat banyak produsen dan penjual produsen memiliki kemampuan untuk mempengaruhi harga walaupun pengaruhnya tidak sebesar produsen dari monopoli atau oligopoli adanya diferensiasi produk produsen dapat keluar masuk pasar promosi penjualan harus aktif

Pasar Monopolistik memiliki kebaikan sebagai berikut : 1. Banyaknya produsen di pasar memberikan keuntungan bagi konsumen untuk dapat memilih produk yang terbaik baginya. 2. Kebebasan keluar masuk bagi produsen, mendorong produsen untuk selalu melakukan inovasi dalam menghasilkan produknya. 3. Diferensiasi produk mendorong konsumen untuk selektif dalam menentukan produk yang akan dibelinya, dan dapat membuat konsumen loyal terhadap produk yang dipilihnya. 4. Pasar ini relatif mudah dijumpai oleh konsumen, karena sebagian besar kebutuhan sehari-hari tersedia dalam pasar monopolistik. Selain memiliki kebaikan, Pasar Monopolistik juga memiliki kelemahan sebagai berikut : 1) Pasar monopolistik memiliki tingkat persaingan yang tinggi, baik dari segi harga, kualitas maupun pelayanan. Sehingga produsen yang tidak memiliki modal dan pengalaman yang cukup akan cepat keluar dari pasar. 2) Dibutuhkan modal yang cukup besar untuk masuk ke dalam pasar monopolistik, karena pemain pasar di dalamnya memiliki skala ekonomis yang cukup tinggi. 3) Pasar ini mendorong produsen untuk selalu berinovasi, sehingga akan meningkatkan biaya produksi yang akan berimbas pada harga produk yang harus dibayar oleh konsumen

117

3.

Oligopoli Oligopsoni

Pasar Oligopoli adalah suatu bentuk pasar yang terdapat beberapa penjual dimana salah satu atau beberapa penjual bertindak sebagai pemilik pasar terbesar (price leader). Umumnya jumlah perusahaan lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh. Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar, di mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari aktivitas pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga, dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka. Praktek oligopoli umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan perusahaanperusahaan potensial untuk masuk kedalam pasar, dan juga perusahaanperusahaan melakukan oligopoli sebagai salah satu usaha untuk menikmati laba normal di bawah tingkat maksimum dengan menetapkan harga jual terbatas, sehingga menyebabkan kompetisi harga diantara pelaku usaha yang melakukan praktek oligopoli menjadi tidak ada. Struktur pasar oligopoli umumnya terbentuk pada industri-industri yang memiliki capital intensive yang tinggi, seperti, industri semen, industri mobil, dan industri kertas. Pasar oligopsoni adalah pasar yang berkebalikan dari pasar oligopoli. Pasar oligopsoni hanya adalah pasar yang memiliki beberapa pembeli. Kebaikan pasar oligopoli : Memberi kebebasan memilih bagi pembeli Mampu melakukan penelitian dan pengembangan produk Lebih memperhatikan kepuasan konsumen karena adanya persaingan penjual adanya penerapan teknologi baru Menciptakan ketimpangan distribusi pendapatan Harga yang stabil dan terlalu tinggi bisa mendorong timbulnya inflasi Bisa timbul pemborosan biaya produksi apabila ada kerjasama antar oligopolis karena semangat bersaing kurang Bisa timbul eksploitasi terhadap pembeli dan pemilik faktor produksi 118

Keburukan pasar oligopoli :

4.

Sulit ditembus/dimasuki perusahaan baru dapat berkembang ke arah monopoli Penjual lebih beruntung karena bisa pindah ke pembeli lain Pembeli tidak bisa seenaknya menekan penjual Bisa berkembang menjadi pasar monopsoni bila antar pembeli bekerja sama Kualitas barang kurang terpelihara Monopoli Monopsoni Pasar monopoli adalah suatu keadaan dimana didalam pasar hanya ada

Kebaikan pasar oligopsoni :

Keburukan pasar oligopsoni :

satu penjual sehingga tidak ada pihak lain yang menyainginya. Contohnya adalah PDAM dan PT, Krakatau Steel, PLN sebagai satu-satunya penyalur air bersih dan listrik kepada masyarakat. Pasar monopsoni adalah ini pasar monopoli yang hanya memiliki seorang pembeli dalam pasar tersebut. Contonya adalah para peternak sapi yang menghasilkan susu perah hanya bisa menjual produk sususnya ke satu pembeli, misalnya koperasi susu Ciri-ciri dari pasar monopoli adalah: 1. hanya ada satu produsen yang menguasai penawaran; 2. tidak ada barang substitusi/pengganti yang mirip (close substitute); 3. produsen memiliki kekuatan menentukan harga; dan 4. tidak ada pengusaha lain yang bisa memasuki pasar tersebut karena ada hambatan berupa keunggulan perusahaan. Kebaikan Pasar Monopoli : Efisiensi Produksi Mendorong terjadinya Inovasi Mengurangi persaingan yang tidak bermanfaat

Keburukan Pasar Monopoli :


Penyalahgunaan kekuatan pasar 119

Tingkat produksi yang lebih rendah Mengurangi kesejahteraan konsumen Ketidak adilan

Kebaikan Pasar Monopsoni : Kualitas barang terjamin Harga produk tidak terlalu tinggi

Keburukan Pasar Monopsoni : Produsen berada pada pihak yang lemah Produk yang dianggap rendah mutunya tidak akan dibeli Produksi berjalan tidak efisien karena biasanya pembeli dalam monopsoni bukan merupakan konsumen pasar

ASPEK-ASPEK PERSAINGAN AGRIBISNIS


1. Pasar Lokal dengan Pasar Nasional

Pasar lokal, yaitu pasar di mana pembeli dan penjual datang dari daerah setempat dan jangkauan pemasaran produk hanya meliputi sekeliling pasar secara lokal. sedangkan pasar nasional, yaitu pasar di mana pembeli dan penjual berasal dari beberapa daerah dalam suatu negara dan jangkauan pemasaran produknya meliputi daerah-daerah dalam suatu negara. Pada kenyataannyam pasar nasional memiliki daya saing yang lebih tinggi dibandingkan pasar lokal. 2. Diferensiasi

Diferensiasi adalah tindakan merancang serangkaian perbedaan yang berarti untuk membedakan tawaran perusahaan dengan pesaing. Diferennsiasi merupakan faktor penting dalam persaingan, dimana perbedaaan ini dapat dimunculkan melalui lokasi, merek, iklan, gaya, desain, dan pengemasan. Dalam banyak kasus, diferensiasi membuat penjual memperoleh harga yang lebih tinggi.

120

3.

Segmentasi pasar

Segmentasi pasar adalah membagi pasar menjadi beberapa kelompok pembeli yang berbeda yang memerlukan produk atau marketing mix yang berbeda pula. Dengan demikian penjualan dan harga dalam segmen pasar satu tidak terganggu oleh penjualan dan harga segmen pasar yang lain. Segmentasi pasar dapat bedasrkan faktor-faktor sebagai berikut : a) Segmentasi berdasarkan geografis, terdiri dari: bangsa, provinsi, kabupaten, kecamatan, dan iklim. b) Segmentasi berdasarkan demografis, terdiri atas umur, jenis kelamin, ukuran keluarga, pendapatan, pekerjaan, pendidikan, dan agama. c) Segmentasi berdasarkan psikografis, terdiri atas kelas sosial, gaya hidup, dan karakteristik kepribadian. d) Segmentasi berdasarkan perilaku, terdiri atas pengetahuan, sikap, dan kegunaan. 4. Penentu harga

Pada pasar oligopoli dimana para pelaku usaha saling ketergantungan, penentu harga sangat penting. Pada industri pasokan input agribisnis, penentu harga merupakan perusahaan terbesar (pemimpin pasar) dalam grup dimana perusahaan lain akan mengikuti perubahan harga dari pemimpin pasar baik itu naik ataupun turun. Apabila perusahan tersebut tidak mengikuti harga maka perusahaan penetu harga akan memberikan hukuman terhadap pesaingnya tersebut 5. Market Entry

Strategi market entry adalah strategi perusahaan untuk memasuki segmen pasar yang dijadikan pasar sasaran penjualan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membeli perusahaan lain, internal development, dan kerjasama dengan perusahaan lain. Batasan bagi perusahaan baru sangat banyak, sebagian sengaja

121

didirikan oleh perusahaan yang telah ada di pasar, dan yang lain berasal dari teknologi, pemerintah, dll. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan perusahaan masuk pasar lebih mudah adalah : a. Mencegah pengeluaran hak paten untuk perusahaan yang telah menemukan teknologi b. Memperbanyak sumberdaya capital untuk bisnis yang baru c. Mencegah monopoli input bahan baku d. Mengurangi periklanan dan difrensiasi input e. Mengurangi akivitas politik terkait dengan pemberian lisensi, izin, dan franchise pemerintah 6. Biaya promosi Biaya produksi merupakan biaya penjualan yang dikeluarkan untuk merangsang penjualan dalam dua cara, yaitu menginformasikan kepada pembeli mengenai ketersediaan produk, karakteristik, dan harga. Kedua adalah untuk mengajak konsumen potensial agar membeli produk yang ditawarkan.Dana yang dikhususkan untuk tujuan memberikan informasi/ iklan sangat penting untuk mengefektifkan kerja dalam sistem pasar. 7. Evaluasi pasar Evaluasi pasar merupakan proses penilaian yang dilakukan untuk melihat bagaimana perusahaan terorganisasi, bagaimana perusahaan memimpin dan melihat kinerja perusahaan dalam kaitanya mencapai tujuan perusahaan.

LATIHAN Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang Persaingan Pasar Agribisnis, coba Anda uraikan pertanyaan latihan berikut ini. 1. Jelaskan yang dimaksud dengan pasar persaingan sempurna. 2. Jelaskan jenis-jenis pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna 122

3. Jelaskan yang dimaksud dengan price leadership. 4. Bagaimanakah kinerja pasar agribisnis saat ini. Jelaskan! 5. Jelaskan bagaimana persaingan pasar dapat terjadi?

TES FORMATIF Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Apakah definisi dari persaingan? 2. Apakah fungsi periklanan dalam persaingan oligopoli? 3. Apakah dampak negatif dari pasar monopoli? 4. Berikan contoh barang yang diperdagangkan monopoli! 5. Sebutkan karakteristik dari pasar monopolistik. 6. Apakah perbedaan dari pasar oligopoli dan oligopsoni 7. Apakah yang dimaksud dengan segmentasi pasar? 8. Apakah yang dimaksud diferensisasi? 9. Apakah yang dimaksud dengan biaya promosi? 10. Apakah yang dimaksud dengan evaluasi pasar?

123

Modul

10

ORGANISASI AGRIBISNIS

Kegiatan agribisnis merupakan aktivitas yang dimiliki oleh perusahaan yang memperkerjakan ratusan bahkan ribuan orang (Ricketts and Rawlins, 2001). Pengembangan agribisnis harus berdasarkan asas keberlanjutan yakni, mencakup aspek ekologis, sosial dan ekonomi. Dalam hal ini diperlukan suatu wadah yang sesuai untuk merealisasikan pembangunan yang berasaskan keberlanjutan yaitu suatu organisasi dalam setiap skala usaha agribisnis. Setiap agribisnis ini dimiliki oleh perseorangan dimana status kepemilikan tersebut merupakan suatu hal yang menentukan bentuk hukum yang pasti bagi organisasi agribisnis yang bersangkutan. Organisasi/ kelembagaan merupakan kesatuan yang memungkinkan orangorang (pelaku agribisnis) mencapai tujuan yang tidak dapat dicapai individu secara perorangan. Lebih lanjut, dari sudut pandang ekonomi, kelembagaan dalam arti organisasi menggambarkan aktivitas ekonomi yang dikoordinasikan oleh mekanisme pasar tetapi melalui mekanisme administrasi atau komando. Oleh karena itu, keputusan tentang produksi dan alokasi penggunaan sumberdaya ditentukan oleh organisasi.

124

Kelembagaan : - Batas wilayah produksi - Hak kepemilikan - Pengambilan keputusan

Teknologi : - Spesifikasi teknis produk - Metode operasi - Alat produksi - desain Partisipan : Karakteristik SDM

Tujuan : - Peningkatan produksi dan pendapatan - Keberlanjutan usaha

Keragaan: - Peningkatan produksi dan pendapatan - Keberlanjutan usaha - sejahtera

Faktor Lingkungan (alam, sosial, ekonomi, dan budaya)

Gambar 10. Esensi Organisasi Ekonomi Petani Adapun macam-macam organisasi utama dalam agribisnis sesuai dengan bentuk dasar usahanya sebagai berikut: perusahaan perseorangan, persekutuan, perseroan, koperasi.

AGRIBISNIS PERORANGAN
Agribisnis perorangan atau pribadi adalah bentuk organisasi yang paling awal dan paling sederhana, yaitu organisasi usaha yang dimiliki dan dikendalikan satu orang (Ricketts and Rawlins, 2001). Agribisnis perorangan cenderung merupakan usaha kecil.

125

Ciri dan sifat perusahaan perseorangan : a) b) c) d) e) f) Relatif mudah didirikan dan juga dibubarkan. Tanggung jawab tidak terbatas dan bisa melibatkan harta pribadi. Tidak ada pajak, yang ada adalah pungutan dan retribusi. Seluruh keuntungan dinikmati sendiri. Sulit mengatur roda perusahaan karena diatur sendiri. Keuntungan yang kecil yang terkadang harus mengorbankan penghasilan yang lebih besar. g) h) Jangka waktu badan usaha tidak terbatas atau seumur hidup. Sewaktu-waktu dapat dipindah tangankan

Adapun keunggulan Perusahaan Perorangan, diantaranya : a) Perusahaan perorangan memungkinkan pemilik perorangan memegang kendali penuh atas bisnisnya dan hanya tunduk pada peraturan pemerintah yang berlaku untuk semua tipe khusus bisnis ini. b) Sekiranya modal diperlukan, pemiliknya akan menyediakannya dari dana pribadi atau dipinjam entah dari bisnis lainnya atau harta pribadi. c) Perusahaan perorangan tidak membayar pajak penghasilan sebagai bisnis tersendiri. d) Perusahaan perorangan unggul dalam hal kebebasan dan keluwesan pelaksanaan usaha karena bentuk usaha ini lebih banyak berpegang pada hak milik pribadi yang dilindungi oleh undang-undang negara yang bersangkutan. Sedangkan kelemahan dari Perusahaan Perorangan : a) b) Terbatasnya jumlah modal yang biasanya dapat disumbangkan seseorang. Pemberi pinjaman enggan meminjamkan dana kepada pemilik perorangan kecuali jika kejujuran pribadi seseorang dapat menjaminnya. c) Kewajiban pribadi sebagai pemilik untuk semua hutang dan kewajiban bisnis meluas bahkan kepada warisan pribadi pemilik. 126

d)

Pembebasan dari pajak bisnis dikarenakan keuntungan bisnis pada perusahaan perorangan dianggap keuntungan pemilik, maka keuntungan bisnis yang tinggi bisa mengakibatkan pemilik dikenakan tarif pajak tinggi daripada bentuk perseroan.

e)

Pemusatan kendali dan laba pada satu individu

PERUSAHAAN / BADAN USAHA PERSEKUTUAN / PARTNERSHIP


Perusahaan persekutuan (partnership) adalah badan usaha yang dimiliki oleh dua orang atau lebih yang secara bersama-sama bekerja sama untuk mencapai tujuan bisnis (Ricketts and Rawlins, 2001). Jadi perusahaan persekutuan merupakan asosiasi atau perhimpunan dari dua orang atau lebih sebagai pemilik bisnis. Terlepas dari kenyataan bahwa persekutuan melibatkan lebih dari satu orang , persekutuan sama seperti perusahaan perorangan. Persekutuan dapat didasarkan pada perjanjian tertulis atau lisan, atau kontrak antara kelompok yang terlibat. Persekutuan merupakan bentuk organisasi bisnis yang paling sederhana di mana sejumlah orang mengumpulkan sumber daya dan bakatnya demi keuntungan bersama. Dalam perusahaan persekutuan tidak ada batasan untuk orang dari luar untuk masuk menjadi anggota. Keunggulan dari perusahaan persekutuan antara lain yaitu: a) Sangat sedikit pengeluaran yang dibutuhkan walaupun perlu diminta bantuan pengacara yang baik untuk menggambarkan perjanjian persekutuan. b) Persekutuan biasanya dapat mengumpulkan lebih banyak sumber daya daripada perusahaan perorangan sebab lebih banyak orang yang terlibat c) Sekutu-sekutu lebih termotivasi daripada karyawan perusahaan perorangan atau perseroan karena merupakan suatu tim dan setiap anggota tim berbagi tanggung jawab dan kentungan d) Sekutu-sekutu secara perorangan hanya membayar pajak atas penghasilan yang diperoleh sebagai bagian dari laba. Bisnis itu sendiri tidak dipajaki yang 127

mana dapat merupakan keuntungan besar tergantung dari penghasilan para sekutu e) Kendali atau manajemen atas keputusan dan kebijakan bisnis dipusatkan pada para sekutu Selain itu kelemahan dari perusahaan persekutuan yaitu: a) Terletak pada kewajiban yang tidak terbatas dari sekutu umum Bila seseorang bertindak sebagaimana sekutu umum bertindak, maka hukum akan menafsirkan bahwa dia pada kenyataannya, merupakan sekutu umum dengan segala kewajiban yang berlaku pada kedudukan tersebut b) Persekutuan biasanya hanya mempunyai anggota yang terbatas. Persekutuan terbatas menderita kekurangan baik dana siap pakai maupun orang-orang berbakat dibanding dengan perseroan c) Kurangnya kesinambungan dan kestabilan Kalau sekutu meninggalkan persekutuan karena pengunduran diri, kematian, atau ketidakmampuan, persekutuan baru harus dibentuk. d) Ketidaksanggupan seorang sekutu untuk bekerja karena kecelakaan, penyakit, usia lanjut, penyakit jiwa, atau karena sesuatu alasan tidak mampu melaksanakan tugas sepenuhnya. Pada dasarnya ada dua jenis persekutuan. Kedua jenis dari persekutuan tersebut yaitu : A. Persekutuan Umum (General Partnership) Pada persekutuan umum masing-masing sekutu, tanpa memperhitungkan persentase modal yang ditanamkan, mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Sekutu umum mempunyai wewenang untuk bertindak sebagai agen untuk persekutuan, dan biasanya ikut serta dalam manajemen dan operasi bisnis. Masingmasing sekutu umum menanggung semua hutang persekutuan, dan dapat berbagi 128

laba dalam perbandingan yang disepakati bersama ataupun dalam pembagian yang merata.

B.

Persekutuan Terbatas Tipe persekutuan ini individu-individu menyetor uang atau kepemilikan

modal tanpa mengharuskan kewajiban hukum penuh seperti sekutu umum. Kewajiban sekutu terbatas, biasanya hanya terbatas sebesar jumlah yang diinvestasikan secara pribadi dalam bisnis. Yang termasuk dalam badan usaha persekutuan adalah firma dan persekutuan komanditer atau CV. Untuk mendirikan badan usaha persekutuan membutuhkan izin khusus pada instansi pemerintah yang terkait. Beberapa contoh dari perusahaan atau badan usaha persekutuan (Partnership) antara lain yaitu : 1) Firma adalah suatu bentuk persekutuan bisnis yang terdiri dari dua orang atau lebih dengan nama bersama yang tanggung jawabnya terbagi rata tidak terbatas pada setiap pemiliknya. Ciri dan sifat firma : a) Apabila terdapat hutang tak terbayar, maka setiap pemilik wajib melunasi dengan harta pribadi. b) Setiap anggota firma memiliki hak untuk menjadi pemimpin anggota yang lainnya. d) Keanggotaan firma melekat dan berlaku seumur hidup e) Seorang anggota mempunyai hak untuk membubarkan firma f) Pendiriannya tidak memelukan akte pendirian g) Mudah memperoleh kredit usaha 2) Persekutuan Komanditer (Commanditaire Vennotschaap atau CV) Persekutuan Komanditer (Commanditaire Vennotschaap atau CV) adalah suatu bentuk badan usaha bisnis yang didirikan dan dimiliki oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama dengan tingkat keterlibatan yang berbeda-beda di antara anggotanya. Satu pihak dalam CV mengelola usaha 129

c) Seorang anggota tidak berhak memasukkan anggota baru tanpa seizin

secara aktif yang melibatkan harta pribadi dan pihak lainnya hanya menyertakan modal saja tanpa harus melibatkan harta pribadi ketika krisis finansial. Yang aktif mengurus perusahaan CV disebut sekutu aktif, dan yang hanya menyetor modal disebut sekutu pasif. Ciri dan sifat CV adalah sulit untuk menarik modal yang telah disetor, modal besar karena didirikan banyak pihak, mudah mendapatkan kredit pinjaman, Ada anggota aktif yang memiliki tanggung jawab tidak terbatas dan ada yang pasif tinggal menunggu keuntungan, relatif mudah untuk didirikan, kelangsungan hidup perusahaan CV tidak menentu.

KORPORASI
Ricketts and Rawlins (2001) mendefinisikan korporasi sebagai organisasi yang dimiliki sejumlah orang yang diperlakukan sebagai badan hukum. Korporasi merupakan badan hukum, terpisah dari pemilik atau orang yang bekerja didalamnya. Korporasi secara sederhana diartikan sebagai perusahaan atau badan usaha yang sangat besar atau beberapa perusahaan yang dikelola dan dijalankan sebagai satu perusahaan besar (KBBI, 2011). Korporasi berperan untuk memperoleh, tanpa henti dan tanpa kecuali keuntungan pribadi (self interest), tanpa mempedulikan apakah upayanya tersebut berdampak merugikan kepada pihak-pihak lain atau tidak (Bakan, 2004). Inilah memberikan pandangan bahwa korporasi sangat jauh dari keberpihakan kepada rakyat. Tipe-tipe korporasi terdiri dari tiga, yaitu : 1. Subchapter C (regular corporations), yang menjual stok kepada investor untuk memperoleh keuntungan 2. Subchapter S (small business or family corporation), kewajiban terbatas 130

tipe ini seperti

perusahaan perorangan dan persekutuan, korporasi ini memiliki manfaat dan

3. Subchapter T (Cooperatives) Keuntungan korporasi : 1. Mudah untuk meningkatkan modal untuk perluasan bisnis 2. Stockholder bertanggung jawab atas kehilangan investasi korporasi 3. Karena korporasi merupakan badan hukum yang terpisah dari pemilik bisnis, maka korporasi tidak dapat dibubarkan meskipun pemilik menjual perusahaannya 4. Bersifat turun menurun Kerugian korporasi : 1. Merupakan organisasi yang rumit dan sangat mahal 2. Prosedur pembuatan korporasi sulit 3. Biaya penutupan korporasi mahal 4. Pajak korporasi bersifat ganda

KOPERASI
Koperasi adalah badan usaha yang berlandaskan asas-asas kekeluargaan. Organisasi Buruh Sedunia (Intemational Labor Organization/ ILO, 1966) membuat batasan mengenai ciri-ciri utama koperasi yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) Merupakan perkumpulan orang-orang; Secara sukarela bergabung bersama; Mencapai tujuan ekonomi yang sama; Pembentukan organisasi bisnis yang diawasi secara demokratis Memberikan kontribusi modal yang sama dan menerima bagian resiko dan manfaat yang adil dari perusahaan di mana anggota aktif berpartisipasi Jenis-jenis koperasi dapat digolongkan kedalam beberapa bentuk. Terdapat beberapa penggolongan dari koperasi. Penggolongan dari koperasi dapat dilakukan antara lain yaitu menurut sifat usahanya. Menurut sifat usahanya, koperasi dibedakan menjadi empat macam sebagai berikut. 131

a)

Koperasi Konsumsi Koperasi konsumsi adalah koperasi yang mengusahakan kebutuhan sehari-

hari, misalnya barang-barang pangan (seperti beras, gula, garam, dan minyak goreng), barang-barang sandang (seperti kain batik, tekstil), barang-barang pembantu keperluan sehari-hari (seperti sabun, minyak tanah, dan lain-lain). Tujuan koperasi konsumsi adalah agar anggota-angggotanya dapat membeli barang-barang konsumsi dengan kualitas yang baik dan harga yang layak. b) Koperasi Produksi Koperasi produksi adalah koperasi yang bergerak dalam bidang kegiatan ekonomi pembuatan dan penjualan barang-barang, baik yang dilakukan oleh koperasi organisasi maupun orang-orang yang mampu menghasilkan suatu barang dan jasa-jasa. Dengan demikian, dapat meningkatakan taraf kesejahteraan anggota. Orang-orang tersebut adalah kaum buruh dan kaum pengusaha. Misalnya Peternak Sapi Perah, Koperasi Kerajinan Banbu dan Rotan, serta Koperasi Pertanian. c) Koperasi Kredit atau Simpan Pinjam Koperasi kredit didirikan guna menolong anggota denagn meminjamkan uang secara kredit dengan bunga ringan. Uang itu dimaksud untuk tujuan produksi. Oleh karena itu, disebut koperasi kredit.Untuk memberikan pinjaman, koperasi memerlukan modal. Modal utama koperasi kredit berasal dari simpanan anggota sendiri. Uang simpanan yang dikumpulkan bersama-sama itu dipinjamkan kepada anggota yang memerlukan. Oleh karena itu, koperasi kredit lebih tepat disebut koperasi simpan pinjam.Tujuan koperasi kredit adalah saling membantu, memperbaiki keadaan ekonomi, atau kesejahteraan anggota. Adapun cara koperasi kredit dalam membantu keadaan ekonomi anggota sebagai berikut.(a)membantu keperluan kredit para anggota, yang sangat membutuhkan denagn syarat-syarat yang ringan.(b)Mendidik kepada para anggota, supaya giat menympan secara teratur, sehingga membentuk modal sendiri.(c)Mendidik anggota hidup berhemat, dengan menyisihkan sebagian dari pendapatan mereka.(d)Menambah pengetahuan tentang perkoperasian.

132

d) Koperasi Jasa Koperasi jasa adalah koperasi yang berusaha di bidang penyediaan jasa tertentu bagi para anggota maupun masyarakat umum.

WARALABA/ FRANCHISE
Menurut Asosiasi Franchise Indonesia, waralaba adalah suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem prosedur, dan cara-cara yang ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu. Menurut Fuady (1997), franchise mempunyai karakteristik dasar sebagai berikut : 1. Unsur Dasar Ada 3 (tiga) unsur dasar yang harus selalu dipunyai, yaitu : a. pihak yang mempunyai bisnis franchise disebut sebagai franchisor. b. pihak yang mejalankan bisnis franchise yang disebut sebagai franchisee. c. adanya bisnis franchise itu sendiri. 2. Produk Bisnisnya Unik 3. Konsep Bisnis Total : Penekanan pada bidang pemasaran dengan konsep P4 yakni Product, Price, Place serta Promotion 4. Franchise Memakai / Menjual Produk 5. Franchisor Menerima Fee dan Royalty 6. 7. Adanya pelatihan manajemen dan skill khusus Pendaftaran Merek Dagang, Paten atau Hak Cipta

8. Bantuan Pendanaan dari Pihak Franchisor 9. Pembelian Produk Langsung dari Franchisor 10. Bantuan Promosi dan Periklanan dari Franchisor 11. Pelayanan pemilihan Lokasi oleh Franchisor 12. Daerah Pemasaran yang Ekslusif 13. Pengendalian / Penyeragaman Mutu 14. Mengandung unsur merek dan sistem dagang 133

Selanjutnya menurut Widjaja (2001) waralaba memiliki dua jenis kegiatan, yaitu : 1. Waralaba produk dan merek dagangan (product/ trade mark franchising) Waralaba ini adalah bentuk waralaba yang paling sederhana. Pemberi waralaba memberikan hak kepada penerima waralaba untuk menjual produk yang dikembangkan merek dagang pemberi waralaba. Pemberian ijin untuk menggunakan merek dagang tersebut diberikan dalam rangka penjualan produk yang diwaralabakan tersebut. Atas penggunaan pemberian ijin penggunaan merek dagang tersebut pemberi waralaba mendapatkan pembayaran franchise fee dan selanjutnya pemberi waralaba memperoleh keuntungan melalui penjualan produk yang diwaralabakan kepada penerima waralaba. 2. Waralaba format bisnis (business format franchising) Waralaba jenis ini franchisor (pemberi waralaba) memberikan sebuah lisensi kepada pihak lain (penerima waralaba). Lisensi tersebut memberikan hak penerima waralaba untuk berusaha dengan menggunakan merek dagang/ nama dagang pemberi waralaba dan menggunakan seluruh paket yang terdiri atas seluruh elemen yang diperlukan untuk membuat seseorang yang sebelumnya belum terlatih dalam bisnis dan untuk menjalankannya dengan bantuan yang terus menerus atas dasar-dasar yang telah ditentukan sebelumnya. Keuntungan dan Kerugian Waralaba Bagi pemberi waralaba/ franchisor: 1. Keuntungan bagi pemberi waralaba a) Menghasilkan keuntungan yang besar tanpa perlu terlibat dengan resiko modal yang tinggi maupun dengan masalah-masalah detil sehari-hari yang timbul dari pengelolaan manajemen outlet yang kecil b) Tidak ada kebutuhan untuk menyuntik sejumlah besar modal untuk meningkatkan percepatan pertumbuhan yang besar. Masing-masing 134

outlet yang terbuka memanfaatkan sendiri sumberdaya financial yang disediakan oleh setiap penerima waralaba c) Organisasi pemberi waralaba mempunyai kesempatan untuk memperluas jaringan secara lebih cepat pada tingkat nasional dan internasional dengan menggunakan modal dan resiko msekecil mungkin d) Pemberi waralaba akan lebih mudah untuk melakukan ekploitasi wilayah yang belum masuk dalam lingkungan organisasinya e) Konsentrasi lebih optimun f) Pemberi waralaba yang melibatkan bisnisnya dalam kegiatan manufaktur biasanya mendapatkan distribusi yang lebih luas. 2. Kerugian bagi pemberi waralaba a) Kekurangpercayaan diantara pemberi waralaba dan penerima waralaba b) Adanya kemungkinan perusahaan yang dikerjakan sendiri memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan dari keuntungan pemberi waralaba c) Penerima waralaba dapat bertindak secara tidak terbuka dalam menunjukkan penghasilan kotornya d) Terdapat kesulitan dalam pengkrekturan orang-orang yang pantas sebagai penerima waralaba 3. Keuntungan bagi penerima waralaba a) Dapat mengatasi kurangnya pengetahuan dasar dan pengetahuan khusus yang dimiliki melalui program terstruktur dari pemberi waralaba b) Mendapat keuntungan dan aktifitas iklan dan promosi dari pemberi waralaba c) Mendapatkan keuntungan dan daya beli yang besar

135

d) Mendapatkan pengetahuan khusus dan berkemampuan tinggi serta berpengalaman, organisasi dan manajemen kantor pusat pemberi waralaba 4. Kerugian penerima waralaba a) Harus membayar kepada pemberi waralaba atas jasa yang didapatkannya dan untuk penggunaan sistem waralaba b) Kemungkinan membuat kesalahan dan kebijakan-kebijakannya c) Reputasi, citra merek, dan bisnis yang diwaralabakan mungkin menjadi turun karena alasan-alasan tertentu.

LATIHAN Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang Organisasi Agribisnis, coba Anda uraikan pendapat Anda mengenai studi kasus berikut ini. 1. Tentukan jenis contoh kegiatan agribisnis di lingkungan Anda. Indentifikasi bagaimana kegiatan operasi dan oganisasi yang dilakukan perusahaan tersebut. Kemukakan jawaban Anda dalam bentuk essay minimal 5 halaman. 2. Pikirkan satu jenis usaha agribisnis yang ingin anda buat, kemudian buatlah rencana kemitraan yang ingin anda bangun dengan para pelaku penunjang aktivitas perusahaan Anda. Kemukakan pendapat Anda dalam bentuk essay minimal 5 halaman.

136

TES FORMATIF Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Sebutkan tipe-tipe organisasi agribisnis. 2. Sebutkan 5 kelebihan perusahaan perseorangan. 3. Apakah yang dimaksud dengan persekutuan terbatas? 4. Sebutkan karakteristik dari persekutuan umum 5. Apakah yang dimaksud dengan korporasi? 6. Sebutkan jenis-jenis korporasi. 7. Sebutkan ciri-ciri yang dimiliki oleh koperasi. 8. Sebutkan jenis koperasi menurut sifat usahanya. 9. Apakah yang dimaksud dengan waralaba? 10. Sebutkan pelaku-pelaku yang terlibat dalam waralaba.

137

KEGIATAN BELAJAR 6 Modul

11

PEMBIAYAAN AGRIBISNIS

TIPE PEMBIAYAAN AGRIBISNIS


Pembiayaan agribisnis mencakup semua keperluan dan pengaturan serta pengawasan keuangan untuk membiayai suatu perusahaan di sektor pertanian. Perolehan dana operasi agribisnis berasal dari tiga sumber, yaitu investasi atau penanaman modal oleh pemilik, pinjaman, dan laba atau penyusutan. Keputusan penting berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi dalam pembiayaan agribisnis meliputi keputusan mengenai investasi, jumlah dan jenis faktor produksi dalam setiap kegiatan, jumlah modal yang diperlukan, sumber modal terbaik dan jumlah modal untuk setiap sumber modal. Ada empat jenis modal yang berasal dari pinjaman :

pinjaman jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang dan modal ekuitas. Berbagai pinjaman ini berbeda dalam jangka waktu pengembalian,

persyaratan dan tujuan penggunaannya. Pinjaman akan membebani bisnis dengan biaya-biaya khusus yang harus dibayar kepada pemberi pinjaman yang disebut biaya modal. Dalam menentukan kebijakan pembiayaan agribisnis dapat digunakan tiga macam pendekatan yaitu :

hubungan antara faktor produksi dengan hasil produksi, hubungan antar faktor produksi hubungan antar hasil produksi. 138

Salah satu aspek pendukung bergeraknya usaha agribisnis tersebut adalah adanya dukungan permodalan, antara lain melalui skim-skim kredit perbankan dan non perbankan. Adanya UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia dan LoI antara Pemerintah Indonesia dengan IMF, maka: (1) pemerintah tidak lagi menyediakan KLBI, (2) pola penyaluran kredit tidak lagi channeling tetapi executing, dan (3) resiko kredit 100% ditanggung oleh perbankan. Pada masa transisi masih diperlukan skim kredit yang fleksibel, luwes dan sederhana tetapi ada rambu rambu yang dapat mencegah terjadinya penyimpangan dan atau penyelewengan, sehingga kredit tersebut dapat mencapai sasaran baik dari segi jumlah, waktu maupun penerima kredit. Skim kredit untuk sektor pertanian selama ini terfokus pada usaha budidaya (on-farm) dengan komoditas terbatas, misalnya seperti KUT dan KKP. Padahal usaha agribisnis hulu dan hilir juga memerlukan dukungan pembiayaan dan memiliki nilai ekonomis yang cukup baik. Untuk itu, Departemen Pertanian memandang perlu adanya skim kredit yang dapat digunakan untuk membiayai usaha pada aspek hulu, on-farm dan hilir serta pendukungnya dan untuk berbagai komoditas, yaitu Skim Kredit Agribisnis (SKA).

Skim Kredit Agribisnis (SKA)


Skim Kredit Agribisnis (SKA) mencakup tidak saja usaha on-farm, tetapi juga untuk usaha agribisnis hulu dan hilirnya. Komoditas yang akan dibiayai meliputi komoditas tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan yang merupakan komoditas unggulan (high value commodities). SKA disusun untuk mendukung pengembangan agribisnis sektor hulu, on-farm dan hilir. Prinsip SKA adalah (a) dapat merubah image petani untuk tidak mengandalkan sumber pembiayaan dengan bunga murah, (b) pengelolaan penggunaan kredit yang transparan, (c) sistem pengembalian kredit dengan pola reward dan punishment, (d) fleksibel baik dalam besarnya kredit, pola kredit, jangka pengembalian dan pelayanan, serta (e) prosedur dan mekanisme pengajuan, penyaluran dan pengembalian kredit yang sederhana. Saat ini SKA berlaku bunga komersial sebesar 18%. Departemen Pertanian mengusulkan agar suku bunga SKA diharapkan dapat disubsidi oleh pemerintah 139

sebesar 5%. Secara rinci disampaikan dukungan SKA untuk masing-masing sub sektor dari hulu, on-farm dan hilir. Subsektor peternakan Subsistem hulu : peralatan inseminasi buatan (IB), alat pencacah pakan ternak, alat press jerami, alat mesin tetas telur Subsistem budidaya : sapi potong, kambing/domba, ayam ras pedaging, ayam petelur dan itik Subsistem hilir : mesin pellet, mesin penggilling jagung, tangki susu, cooling unit, milk can, pencabut bulu ayam dan alat pengangkut ayam Subsektor perkebunan Subsistem hulu : pembangunan sumber benih, alat penyemprot hama bertekanan, tiang rambat lada, alat angkut perkebunan Subsistem budidaya : karet, kelapa sawit, kakao, kapas, tebu, tembakau, lada, jambu mete, rami, nilam, abaca, kelapa dan panili. Subsistem hilir : alat sangrai, penggiling kopi dan kakao Subsistem hulu : benih tanaman, pengadaan benih, peralatan (traktor roda dua, pompa air), kios saprodi Subsistem budidaya : kacang tanah, kacang hijau, padi, jagung Subsistem hilir : penggilingan padi, alat perontok, pengering serba guna, pengadaan pangan Subsektor hortikultura Subsistem hulu : peralatan pompa air irigasi, irigasi tetes, kios saprodi Subsistem budidaya : cabai merah, bawang merah, bawang putih, kentang, tomat, kubis, nenas, mangga, jeruk, salak Subsistem hilir : alat pengolah (bawang merah, kripik kentang, kripik pisang, selai nenas) Guna mendorong realisasi bussiness plan perbankan ke sektor produktif (termasuk agribisnis), maka Bank Indonesia bersama Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) akan memberdayakan adanya konsultan keuangan mitra bank (KKMB). Peran KKMB dalam merealisasikan business plan perbankan tersebut 140

Subsektor tanaman pangan

digunakan untuk pendampingan penyusunan proposal, pemantauan, identifikasi UMKM dan pendampingan UMKM dalam menjalankan usahanya. Di masyarakat cukup banyak jenis dan aneka ragam konsultan/pendamping, baik yang dibina oleh Instansi/ Departemen Teknis (PPS/PPL untuk Deptan, PSL-Depsos, BDSKantor Meneg Koperasi dll), Swasta Konsultan (Inkindo, Iwapi, Kadin dan konsultan lainnya), LPSM (Bina Swadaya, LP3ES, dll) maupun lembaga penelitian (perguruan tinggi dan swasta). KKMB ini direncanakan berasal dari konsultan/pendamping tersebut di atas dengan persyaratan tertentu yang selanjutnya akan diberdayakan kompetensinya dalam aspek keuangan/perbankan untuk dapat berfungsi sebagai intermediasi antara UMKM dan perbankan.

Sumber Pembiayaan Lain Untuk Usaha Agribisnis di Indonesia


Sumber-sumber pembiayaan lainnya untuk mendukung pengembangan agribisnis antara lain sebagai berikut: 1. Kredit ketahanan pangan (KKP) KKP adalah kredit investasi dan atau modal kerja yang diberikan oleh Bank Pelaksana kepada petani, peternak, kelompok (tani dan peternak) dalam rangka pembiayaan intensifikasi padi, jagung, kedelai, ubi kayu, ubi jalar, budi daya tebu, peternakan sapi potong, sapi perah, ayam buras, itik, usaha penangkapan ikan dan pengadaan pangan gabah, jagung dan kedelai. Dengan demikian untuk komoditas perkebunan yang lain tidak dapat dibiayai dari skim KKP. Pola penyaluran KKP melalui pola executing, dengan sumber dana 100% berasal dari dana perbankan dan resiko sepenuhnya ditanggung oleh perbankan. Namun demikian, pemerintah masih menyediakan subsidi suku bunga. 2. Kredit Taskin Agribisnis Kredit Taskin Agribisnis merupakan kredit berbunga murah yang ditujukan untuk meningkatkan investasi agribisnis skala kecil/rumah tangga sekaligus untuk mengentaskan kemiskinan di daerah. Kredit ini bersumber dari Yayasan Dakap dan Yayasan Mandiri. Beberapa ketentuan Kredit Taskin Agribisnis adalah sebagai berikut: 141

Penerima Kredit : Kelompok tani Taskin (keluarga pra sejahtera dan sejahtera I). Plafon Kredit : Untuk kelompok maksimun Rp. 50 juta dan untuk anggota kelompok sebesar Rp. 2 juta. Suku Bunga : 12% per tahun Jangka waktu : 1 sampai dengan 3 tahun. Jaminan : Kelayakan usaha Bank Pelaksana : Bank BPD

3. Modal Ventura Modal ventura merupakan salah satu sumber pembiayaan non perbankan yang dipergunakan untuk semua sektor usaha produktif melalui kerjasama antara Perusahaan Modal Ventura dengan Pengusaha Kecil/Menengah. Beberapa ketentuan tentang Modal Ventura adalah sebagai berikut : Penerima kredit : Pengusaha kecil dan menengah. Plafon kredit : - Perusahaan Modal Ventura daerah Rp. 100 juta. - PT.Bahana Artha Ventura maksimun Rp. 500 juta. Pola pembiayaan : Pola penyertaan langsung dan bagi hasil. Jangka Waktu : 3 sampai 6 tahun Pelaksana : PT. Bahana Artha Ventura dan Perusahaan Modal ventura Daerah 4. Dana Laba BUMN Dana Laba BUMN merupakan salah satu sumber pembiayaan bagi pengusaha kecil dan menengah dengan suku bunga yang sangat rendah. Beberapa ketentuan tentang Dana Laba BUM adalah sebagai berikut : Penerima kredit : Pengusaha kecil dan koperasi Plafon kredit : maksimal Rp. 25 juta Suku bunga : 6% per tahun Jangka waktu : 2 tahun 142

Sumber dana : BUMN setempat 5. Pegadaian Perum Pegadaian telah melaksanakan uji coba gadai gabah di Kabupaten Indramayu bekerjasama dengan Ditjen Bina Sarana Pertanian dengan hasil cukup baik. Perum Pegadaian merencanakan pengembangan sistem tunda jual di beberapa propinsi sentra produksi padi, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan sebagainya. Prinsipnya petani dapat memperoleh kredit dari pegadaian dengan jaminan gabah, terutama pada saat panen raya pada saat harga gabah turun. Dengan demikian Perum Pegadaian juga merupakan salah satu alternatif sumber pembiayaan untuk pengembangan alsintan. Namun suku bunga gadai cukup tinggi, yaitu 1,75% per 15 hari maksimum 4 bulan, karena sumber dana yang digunakan berasal dari kredit komersial. 6. Skim Kredit komersial Skim Kredit Komersial merupakan sumber permodalan dengan suku bunga komersial dandapat dimanfaatkan untuk mengembangkan sektor pertanian. Secara garis besar skim kredit komersial antara lain adalah: KUPEDES dari BRI, SWAMITRA dari Bank Bukopin, KUK dari BNI, KUK dan Bank Danamon, Kredit BCA, KUK dari Bank Mandiri, Kredit Pengusaha Kecil dan Mikro (KPKM) dari Bank Niaga, Kredit Modal Kerja dari Bank Agro Niaga), dan pemanfaatan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di pedesaan.

Perkembangan Skim Kredit di Indonesia


Pada perkembangannya untuk mengatasi keterbatasan permodalan dan lemahnya kelembagaan petani yang masih belum teratasi, Kementerian Pertanian mengembangkan lagi fasilitas pembiayaan bentuk program skim kredit dalam bentuk skim kredit program dengan subsidi bunga dan penjaminan serta pelaksanaan pemberdayaan petani. Skim kredit program yang telah dikembangkan seperti Kredit Ketahanan Pangan (KKP) kemudian diubah menjadi Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E), Kredit Pengembangan Energi 143

Nabati dan Revitalisasi Perkebunan (KPEN-RP), Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS), dan Kredit Usaha Rakyat (KUR). KKP-E, KPEN-RP, KUPS adalah skim kredit program dengan subsidi bunga, sementara KUR adalah skim kredit program dengan penjaminan. Dana kredit sepenuhnya berasal dari Bank Pelaksana. Berdasarkan laporan yang ada, tingkat realisasi penyerapan skim kredit program KKP-E tersebut rata-rata masih rendah, berkisar 20% per tahun dari total komitmen bank pelaksana sebesar Rp. 8,779 triliun. Komitmen bank dan realisasi serapan KPEN-RP secara kumulatif (2007 - 2011) per Oktober 2011 sebesar Rp. 1,818 triliun. Sedangkan komitmen bank dan realisasi serapan KUPS secara kumulatif (2009-2011) per Oktober 2011 sebesar Rp.391,543 miliar. Tabel 2. Komitmen Bank, Realisasi Serapan, Cakupan Komoditas Kredit Program Tahun 2011 (per Oktober 2011)
No. 1 2 3 4 Skim Kredit KKP-E KPEN-RP KUPS KUR Cakupan Komoditas Tan. Pangan, holtikultura, perkebuna, peternakan, pengadaan pangan Sawit, kakao, karet Pembibitan sapi Semua usaha produktif semua sektor Komitmen Bank (Rp.triliun) 8,779 38,603*) 3,882*) 20,000 Realisasi (Rp.triliun) 1,589 1,818 0,392 3,993**) % Terhadap Komitmen Bank 18,1 4,7 10,1 16,4

Keterangan : *) Komitmen bangk untuk KPEN th. 2007 2014 dan KUPS th. 2009 - 2014 **) Revitalisasi KUR untuk sektor pertanian. Realisasi KUR untuk semua sektor usaha Rp 24,404 triliun

Berdasarkan hasil evaluasi sampai dengan tahun 2011 masih ditemukan rendahnya tingkat serapan kredit program tersebut yang disebabkan beberapa faktor antara lain :1) usaha pertanian dianggap perbankan mempunyai risiko yang tinggi, 2) terbatasnya penyediaan agunan yang dimiliki petani seperti sertifikat lahan yang dipersyaratkan perbankan, 3) perbankan menerapkan prinsip kehatihatian mengingat risiko sepenuhnya ditanggung perbankan (kecuali KUR) dan 4) khusus calon debitur KPEN-RP masalah status lahan belum bersertifikat dan sebagain provinsi/kabupaten/kota belum memiliki RTRWP/RTRWK, 5) untuk KUR sektor pertanian sudah disediakan penjaminan sebesar 80 % namun suku bunga yang dibebankan petani cukup tinggi untuk KUR mikro (<Rp. 20 juta) maksimum 22% dan KUR ritel (>Rp.20 juta) maksimum 14 % per tahun. 144

Sebagai penanggulangan terhadap masalah tersebut dan dengan menyadari bahwa mayoritas petani memiliki skala usaha yang kecil, akses terbatas dan posisi tawar yang lemah di pasar, Kementerian Pertanian melakukan kegiatan pemberdayaan kelembagaan petani antara lain melalui Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) dan Kelompok Tani/Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Sejak pelaksanaan kegiatan LM3 tahun 2007, Kementerian Pertanian setiap tahunnya telah melakukan kegiatan pemberdayaan petani rata-rata untuk 1.300 LM3. Pada tahun 2011 kegiatan pemberdayaan dilaksanakan pada 1.033 LM3. Pengembangan Usaha Agribisnis pedesaan (PUAP) merupakan program terobosan Kementerian Pertanian untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan pengangguran di perdesaan serta meningkatkan kemampuan dan keterampilan anggota Gapoktan sebagai pelaku usaha agribisnis. Pada tahun 2011, dari target 10.000 desa, kegiatan PUAP berhasil dilaksanakan di 9.096 Desa/Gapoktan.

LEMBAGA PEMBIAYAAN AGRIBISNIS


Lembaga pembiayaan agribisnis memegang peranan sangat penting dalam mengembangkan usaha agribisnis, terutama dalam penyediaan modal investasi dan modal kerja, mulai dari sektor hulu sampai hilir. Pembiayaan bukan hanya dilakukan untuk produsen primer (usaha tani, perkebunan, peternakan, perikanan, dan perhutanan), melainkan juga usaha yang ada di hulu dan hilir. Usaha di hulu dan hilir tersebut perlu dibiayai untuk memperlancar arus distribusi dan penyediaan input-input pertanian, seperti usaha pembibitan dan penyediaan pupuk, industri peralatan pertanian, dan lembaga jasa distribusi inputinput dan peralatan pertanian. Pembiayaan di hilir, lembaga-lembaga pemasaran (pedagang perantara) harus dibiayai untuk memperlancar arus distribusi dari produsen menuju konsumen. Lembaga pembiayaan diperlukan untuk memperlancar perkembangan usaha-usaha jasa distribusi, terutama bisnis informal yang memiliki permasalahan pada terbatasnya modal operasi sementara skema kredit usaha kecil (KUK) yang 145

diintroduksi pemerintah masih sulit disentuh oleh para informal bisnis tersebut. Syarat-syarat yang diajukan masih dirasa berat sehingga hanya pelaku bisnis yang memiliki aset yang mampu menggapai lembaga pembiayaan tersebut sehingga semakin memperlebar kesenjangan antara pelaku agribisnis yang sudah memiliki aset dan yang tidak. Dengan demikian, penataan lembaga-lembaga pembiayaan agribisnis perlu segera dilakukan, terutama dalam membuka akses yang seluasluasnya bagi pelaku bisnis kecil dan menengah yang tidak memiliki aset yang cukup guna diagunkan guna memperoleh pembiayaan usaha. Berikut ini adalah beberapa contoh lembaga pembiayaan agribisnis : 1. Bank Komersial Merupakan sumber utama dari dana pinjaman hampir semua agribisnis. Bank-bank ini menyediakan 80% dari dana pinjaman, kecuali kredit perdagangan. 2. Perusahaan Asuransi Hampir semua perusahaan asuransi tertarik pada pinjaman jangka menengah dan jangka panjang untuk pembelian aktiva tetap, seperti barang tidak bergerak. 3. Lembaga Keuangan Komersial Merupakan badan keuangan yang mengkhususkan aktivitasnya pada bidang pinjaman bisnis dan komersial. Lembaga ini lebih berani mengambil resiko ketimbang bank. 4. Peminjaman oleh Koperasi Koperasi agribisnis dapat meminjam dari bank koperasi yang merupakan bagian dari sistem kredit usaha tani. LATIHAN Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang Pembiayaan Agribisnis, coba Anda uraikan pertanyaan latihan berikut ini. 1. Mengapa pembiayaan sangat penting bagi kelangsungan produksi agribisnis. Jelaskan. 146

2. Jelaskan peranan lembaga permodalan pemerintah terhadap pelaku industri kecil di Indonesia. 3. Kemukakan alasan mengapa tingkat serapan kredit program skim kredit di Indonesia masih rendah. 4. Jelaskan pendekatan dalam menentukan kebijakan pembiayaan agribisnis. 5. Berilah 5 contoh program bantuan pembiayaan bagi petani kecil di Indonesia.

TES FORMATIF Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Apakah definisi dari pembiayaan agribisnis? 2. Sebutkan sumber-sumber pembiayaan agribisnis. 3. Sebutkan 5 contoh lembaga pembiayaan agribisnis. 4. Sebutkan jenis modal agribisnis yang berasal dari pinjaman. 5. Apakah yang dimaksud dengan SKA? 6. Apakah yang dimaksud dengan modal ventura? 7. Apakah yang dimaksud kredit taskin agribisnis? 8. Apakah peran pegadaian bagi pembiayaan agribisnis?

Modul

PERANAN PEMERINTAH
147

12

DALAM AGRIBISNIS

KEWENANGAN PEMERINTAH LOKAL DAN NASIONAL DALAM PEMBANGUNAN AGRIBISNIS

Kewenangan pemerintah lokal dan nasional dalam pembangunan agribisnis secara bersama-sama adalah sebagai berikut (Roy, 1967): 1) Antitrust laws Antitrust/ antipakat/ persaingan pada dasarnya sepadan dengan istilah anti monopoli, dominasi, dan kekuatan pasar. Keempat istilah tersebut digunakan untuk menunjukan keadaan dimana seseorang menguasai pasar. Antitrust laws merupakan undang-undang yang mengatur tentang praktik bisnis yang tidak kompetitif dan tidak adil. Istilah antitrust diambil dari kata trust yang berarti penggabungan kelompok perusahaan untuk membagi-bagi pasar dan membatasi persaingan. Istilah trust juga dikenal sebagai kartel. Tujuan utama undang-undang antitrust sebagai berikut : a. Melindungi dan menjaga kelangsungan persaingan b. Melindungi konsumen dengan melarang praktik bisnis yang curang dan tidak adil c. Melindungi praktik bisnis kecil dari tekanan ekonomi oleh perusahaan-perusahaan besar d. Menjaga kelangsungan nilai-nilai dan kebiasaan kehidupan kota kecil. Tujuan-tujuan ini akan tercapai ketika terdapat kebebasan masyarakat dalam memilih produk-produk yang ingin dikonsumsinya.

2) Perlindungan Konsumen 148


Pemerintah lokal dan pusat memiliki kewajiban sebagai penengah diantara kepentingan pelaku usaha dan kepentingan konsumen agar masing-masing pihak dapat berjalan tanpa sanling merugikan satu sama lain. Dalam hal ini pemerintah harus bertanggungjawab terhadap pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan perlindungan konsumen, termasuk didalamnya adalah mengawasi skala kelayakan produk, mengawasi kesehatan pekerja, penggunaan aturan sanitasi pada proses produksi, inspeksi terhadap daging, susu, dan makanan di pedagang besar, inspeksi aturan polusi di industri dan lain-lain 3) Undang-undang Ketenagakerjaan Pemerintah pusat dmengacu juga kepada undang-undang federal memberlakukan pajak terhadap perusahaan untuk dana kompensasi pensiun, dana kesejahteraan pekerja, dan situasi kerja. 4) Undang-undang Asuransi Tenaga Kerja Kewenangan pemerintah dalam hal ini membuat undang-undang yang menjamin perawatan kesehata, keselamatan dan keamanan karyawan dalam bekerja. 5) Lisensi, Perijinan, dan Registrasi Perizinan biasanya dikeluarkan oleh pemerintah lokal bagi seseorang yang memiliki tipe bisnis menjual produk dari rumah ke rumah. terhadap pelaku usaha skala besar. 6) Informasi dan Pendampingan Pasar Kewenangan pemerintah dalam hal ini adalah memberikan informasi pasar, pendampingan modal, promosi produk pertanian, dan melakukan sosialisasi peraturan standarisari peng-grading-an produk untuk sayuran, buah, ternak, telur, dll. 7) Peraturan Input Pertanian 149

Sedangkan

pemerintah pusat mengatur mengenai pendaftaran dan pemberian lisensi

Kewenangan pemerintah dalam hal ini adalah meliputi mengevaluasi pendaftaran dan pelabelan benih, pakan, pupuk, dan beberapa input pertanian lainnya untuk melindungi produsen pertanian. Selain itu peerintah juga berwenang melakukan uji tanah, analisa pupuk, mengawasi program kesehatan ternak dan mengawasi penyakit tanaman, penanggulangan hama, dan melakukan inspeksi terhadap produk pertanian dan peternakan. 8) Peraturan Komisi Contoh dari peraturan komisi pusat terdiri atas pengaturan penggunaan sumberdaya di perusahaan, seperti air, listrik, gas alam, telepon, dll. 9) Pajak Pajak yang harus dibayar pelaku agribisnis diantaranya: pajak penghasilan, pajak bangunan, pajak penjualan, pajak bisnis frenchise, pajak penghasilan, dll. 10) Undang-undang Zonasi Kewenangan pemerintah lokal dalam hal ini adalah membuat undang-undang secara khusus,misalnya aturan penebangan pohon, pemotongan hewan, penggunaan pupuk bagi tanaman, dll

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PEMBANGUNAN AGRIBISNIS INDONESIA


Dalam rangka melaksanakan misi pembangunan sistem dan usaha agribisnis, beberapa kebijakan dasar dan utama pemerintah berikut ini perlu dilakukan.

Kebijakan Mikro
Kebijakan makro yang dimaksud disini adalah upaya menciptakan iklim ekonomi yang kondusif bagi pembangunan melalui instrumen makro ekonomi, baik moneter maupun fiskal. Instrumen moneter seperti suku bungam uang beredar, 150

dan nilai tukar dapat dijadikan alat kebijakan dalam merangsang berkembangnya sistem dan usaha agribisnis. Dengan menetapkan suku bunga yang relatif rendah serta perlakuan kredit khusus bagi investasi dan atau modal kerja unit usaha yang bergerak dalam bidang agribisnis, maka pertumbuhan unit usaha sektor agribisnis diharapkan makin cepat. Hal lain yang perlu memperoleh perhatian dalam kebijakan suku bungan dan pengkreditan adalah tercapainya keseimbangan alokasi kredit pada subsistem agribisnis hulu, subsistem on farm dan subsistem agribisnis hilir sedemikian rupa, sehingga ketiga subsitem tersebut berkembang secara seimbang. Dua instrumen penting kebijakan fiskal yang dapat dilakukan pemerintah adalah alokasi pengeluaran pemerintah untuk pembangunan dan perlakuan pajak. Kebijakan penerapan pajak dalam rangka perolehan dana pembangunan harus dilakukan secara bijak agar mampu merangsang dunia usaha yang bergerak dalam sektor agribisnis. Demikian pula pembelanjaan anggaran pembangunan (investasi pemerintah) harus memberikan bobot yang lebih besar terhadap pembangunan sektor riil yang terkait langsung dengan pembangunan sistem dan usaha agribisnis. Selain investasi pemerintah, terdapat investasi lain yang dapat berpengaruh terhadap sistem dan usaha agribisnis. Investasi tersebut mencakup investasi swasta domestik (PMDN) dan inestasi swasta asing (PMA). Investasi PMA dan PMDN tidak dapat sepenuhnya siatur oleh pemerintah karena tergantung pengusaha itu sendiri. Namun, pemerintah dapat mempengaruhi keputusan koperasi swasta melalui pengalokasian investasi pemerintah pada agribisnis dan bentuk-bentuk promosi yang lain.

Kebijakan Pengembangan Industri


Kebijakan pembangunan sektor industri sepatutnya lebih ditujukan untuk menjadikan sektor industri sebagai tulang-punggung kegiatan sistem agribisnis dan usaha-usaha agribisnis, khususnya untuk memperkuat bagian hulu dan hilir dari sistem agribisnis. Berdasarkan hal tersebut, pembangunan sektor industri harus lebih diarahkan pada pengembagan agroindustri yang menunjang 151

pengembangan komoditas pertanian andalan utama sebagian besar petani dan mampu memenuhi standar mutu permintaan pasar. Kebijakan ini membutuhkan kearifan dari para penentu kebijakan demi sinkronisasi pembangunan secara nasional. Untuk mentransformasikan keunggulan komparatif menjadi keunggulan bersaing, pembangunan sistem agribisnis ke depan perlu didorong untuk mempercepat pendalaman (deeping) struktur industri balik ke hilir (down-stream) maupun ke hulu (up-stream). Dengan melihat karakteristik bahan pertanian maka diperlukan pengembangan industri hilir maupun hulunya. Jika hanya mengandalkan komoditas pertanian primer, Indonesia akan cenderung berperan sebagai penerima harga (price taker) dalam pasar internasional. Pendalaman struktur industri agribisnis ke hilir dilakukan dengan mengembangkan industri-industri yang mengolah hasil pertanian primer menjadi produk olahan baik produk antara (intermediate product), produk semi-akhir (semi-finished product) dan terutama produk akhir (final product). Pendalaman struktur industri ke hulu dilakukan dengan mempercepat pengembangan industri pembibitan/ pembenihan seluruh komoditas agribisnis potensial Indonesia, pengembangan industri agrootomotif yang menghasilkan mesin dan peralatan yang diperlukan baik pada subsistem on-farm agribisnis, maupun pada subsistem agribisnis hilir (industri pengolahan) serta pengembangan industri agrokimia seperti industri pupuk, industri pestisida, dan industri obat-obatan/ vaksin hewan.

Kebijakan Perdagangan dan Kerjasama Internasional


Perdagangan/ pemasaran komoditas agribisnis biasanya sudah merupakan kegiatan yang terintegrasi dengan industri pengolahan (agroindustri). Tetapi ada kecendrungan pandangan yang demikian menjadikan kegiatan perdagangan/ pemasaran hanya merupakan bagian lanjutan kegiatan setelah produk dihasilkan, padahal kegiatan perdagangan/ pemasaran memiliki banyak fungsi selain fungsi menjual barang. Fungsi informasi mengenai spesifikasi dan jumlah produk yang diminta konsumen, harga dan kecendrungan perubahan jenis serta selera konsumen merupakan beberapa contoh fungsi pemasaran yang informasinya dibutuhkan dalam pengembangan system dan usaha agribisnis. Mengingat hingga 152

saat ini masih banyak dijumpai adanya berbagai kelemahan dan distorsi dalam perdagangan/ pemasaran di dalam negeri, maka diperlukan berbagai kebijakan yang dapat mengefektifkan fungsi-fungsi perdagangan/ pemasaran untuk memperlancar arus barang dan jasa. Mekanisme transparansi pembentukan harga (price discovery) merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkattkan efesiensi pemasaran. Bentuk-bentuk pasar seperti bursa komoditas dan pasar lelang merupakan bentuk pasar yang perlu dikembangkan. Sudah tentu peningkatan kemampuan nilai tukar petani harus menjadi prioritas perhatian dalam kebijakan perdaganagan ini. Posisi Indonesia dalam perdagangan global haruslah tetap ditempatkan dalam kerangka pembangunan ekonomi Indonesia. Instrumen-instrumen perdagangan seperti bea cukai dan pajak ekspor harus dirancang dalam rangka memperkuat struktur industri termasuk Agroindustri dan merangsang tumbuhnya usaha- usaha agribisnis nasional. Harus ada kebijakan arif untuk memberikan perlindungan yang wajar bagi produk-produk agribisnis lokal. Dalam konteks kerjasama seperti AFTA, APEC kepentingan ekonomi nasional harus menjadi focus yang perlu diposisikan. Untuk mendukung pengembangan agribisnis, kantor-kantor perwakilan Indonesia di Negara-negara lain (Kantor duta besar dan konsulat) perlu didayagunakan untuk mendukung pembangunan agribisnis di Indonesia selain kepentingan politik luar negeri. Kantor-kantor perwakilan tersebut harus menjadi pusat promosi produk-produk agribisnis Indonesia di Negara tersebut. Dengan demikian. Kantor-kantor perwakilan Indonesia di luar negeri dapat berfungsi sebagai entry point usaha-usaha agribisnis Indonesia untuk memeiliki pasar Negara lain. Selain itu, kantor perwakilan kita perlu secara proaktif market intelegance diantaranya melakukan kegiatan pemantauan peluang-peluang pasar produk agribisnis yang berprospek dan perusahaan-perusahaan yang dapat diajak menjadi partner pengusaha agribisnis Indonesia. Selain kebijakan domestik, kebijakan Negara lain yang mengekspor produk agribisnisnya ke Indonesia perlu diperhatikan dalam manajemen perdagangan internasional. Produk-produk agribisnis yang menerapkan dumping, sehingga 153

seakan-akan kompetitif di Indonesia perlu memperoleh perhatian. Oleh karena itu, undang-undang atau peraturan anti-dumping di Indonesia perlu dibuat sesegera mungkin.

Kebijakan Pengembangan Infrastruktur


Keberadaan Infrastruktur tidak hanya dibutuhkan untuk mendukung usaha agribisnis yang sudah ada, tapi juga merangsang tumbuhnya usaha-usaha baru yang dibutuhkan dalam pembangunan system dan usaha agribisnis. Pengembangan infrastruktur sebagai bagian dan pelayanan public akan lebih efektif apabila: (a) sesuai dengan kebutuhan/ kepentingan publik, (b) mampu menunjang pengembangan usaha yang dilakukan masyarakat banyak, dan (c) mampu merangsang tumbuhnya usaha-usaha atau investasi baru yang dapat memacu perkembangan ekonomi wilayah. Dalam kaitannya dengan pembangunan dan usaha agribisnis, maka kebijakan pembangunan infrastruktur perlu diarahkan pada insfrastruktur yang dibutuhkan oleh banayak pelaku agribisnis dan mampu merangsang para investor untuk melakukan usaha agribisnis. Infrastruktur seperti sarana pengairan dan drainase, jalan, listrik, farm road, pelabuhan (khususnya pelabuhan-pelabuhan ekspor baru di wilayah Indonesia timur Indonesia), transportasi dan telekomunikasi merupakan prasarana yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan sitem dan usaha agribisnis.

Kebijakan Pengembangan Kelembagaan


Dalam pembangunan system dan usaha agribisnis, hala yang perlu dikembangkan bukan sekedar unit unit usaha yang mampu berkembang karena memang dibutuhkan sebagai bagian dari keberlangsungan system dan usaha agribisnis. Dengan kata lan, berbagai fungsi atau usah yang bersifat melembaga perlu dupayakan melalui berbagai kebijakan. Kebijakn-kebijakan yang dimaksud antara lain : Pengembangn Lembaga Keungan, Pengembangan Fungsi Penelitian dan Pengembangan, Pengembangan SDM, dan Pengembangan Organisasi Ekonomi Petani

154

Kebijakan Pemanfaatan dan Penggunaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan


Pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang mendayagunakan keragaman sumberdaya alam (hayati) tidak akan sustainable bila keanekaragaman hayati tidak dilestarikan. Oleh karena itu upaya pelestarian sumberdaya keragaman hayati perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan sitem dan usaha agribisnis. Dalam pelestarian sumberdaya keragaman hayati, perlu dikembangkan bentuk- bentuk pelestarian keragaman hayati, baik dalam bentuk kebun koleksi plasma nuftah maupun pelestarian habitat asli ekosistem tanaman disetiap daerah. Kebun plasma nuftah dan habitat asli tanaman tersebut merupakan bank genetik yang berfungsi sebagai penyedia materi genetik untuk memperbaharui dan mendiversifikasi komoditas/ produk agribisnis. Kebun plasma nuftah ini perlu dikelola sebagai bagian dari industri pembibitan/ pembenihan atau pusat-puasat penelitian bioteknologi. Selain bentuk-bentuk pelestarian sumberdaya alam dalam bentuk kebun plasma nuftah, pelestarian hutan, tanah, air, dan perairan umum juga perlu di perhatikan. Untuk itu, menumbuh kembangkan kelembagaan local dan melegalisasikan hak ulayat masyarakat local perlu diupayakan. Dalam upaya pelestarian sumberdaya alam, masalah propery right menjadi sangat penting, karena menyangkut masalah tanggung jawab pelestarian. Selama ini banyak sumberdaya alam seperti hutan tidak jelas pemiliknya, yang ada hanyalah milik Negara. Sistem penguasaan milik Negara tidak kondusif bagi pelestarian SDA, karena terjebak pada apa yang disebut sebagai tragedy of commons (semua pihak merasa berhak memanfaatkan, namun tak seorang pun yang bersedia untuk melestarikannya). Oleh karena itu, bagi SDA yang masih demikian perlu diperjelas pemiliknya sehingga ada yang bertanggung jawab dalam pelestariannya. Selain itu perlindungan pada lahan pertanian perlu dilakukan. Hal ini mengingat sudah sekitar 1 juta hektar lahan sawah produktif di Indonesia beralih fungsi dalam kurun waktu 1983 1993. Dalam upaya pelestarian sumberdaya 155

alam, masalah property right menjadi sangat penting, karena menyangkut masalah tanggung jawab pelestarian. Selama ini banyak sumberdaya alam seperti hutan tidak jelas pemiliknya, yang ada hanyalah milik Negara. Sistem penguasaan milik Negara atau milik umum tidak kondusif bagi pelestarian SDA karena terjebak pada apa yang disebut sebagai tragedy of commons (semua pihak merasa berhak memanfaatkan namun tak seorang pun yang bersedia untuk melestarikannya). Oleh karena itu, bagi SDA yang masih demikian perlu diperjelas pemiliknya sehingga ada yang bertanggung jawab dalam pelestariannya. Perlindungan lahan pertanian ini juga berkaitan dengan kebijakan makro ekonomi yang menekan agribisnis seperti rezinm perdagangan yang pro-impor, kebijakan suku bunga yang tinggi, akan membuat lahan pertanian menjadi under valued. Sehingga mudah mengalami alih fungsi. Oleh karena itu, kebijakan ini harus dihindari. Penerapan pajak tinggi pada lahan tidur dapat dilakukan secara optimalisasi SDA. Disamping itu pemberian penghargaan pada para pelestari SDA dan sanksi bagi perusak lingkungan juga perlu dijadikan kebijakan yang dituangkan dalam suatu produk hukum yang mengikat perlindungan lahan pertanian subur seperti lahan sawah perlu mencakup ekosistemnya yaitu termasuk wilayah tangkapan air (catchmen area). Sebab tidak ada gunanya melindungi lahan sawah bila wilayah tangkapan air untuk irigasi dengan mudah beralih fungsi. Oleh karena itu prinsipprinsip pengelolaan sumberdaya alam secara integratif perlu dikembangkan.

Kebijakan Pengembangan Pusat-pusat Pertumbuhan Agribisnis Daerah


Untuk mengoperasionalisasikan pembangunan sistem dan usaha agribisnis, perlu dikembangkan atau diorganisasikan dalam bentuk pusat-pusat pertumbuhan agribisnis didaerah sesusai dengan keunggulan masing-masing daerah. Pengembangan pusat-pusat agribisnis tersebut harus dikaitkan dengan ekonomi regional sedemikian rupa sehingga secara bertahap agribisnis didaerah yang besangkutan makin terintegrasi dengan perekonomian regional dan dunia. Tentu saja disamping pertumbuhan pusat-pusat agribisnis secara fisik, pengembangan sistem informasi agribisnis juga perlu dilakukan. 156

Pada pusat-pusat pertumbuhan agribisnis perlu diperlengkapi infrastruktur yang diperlukan seperti jalan baik yang menghubungkan industri pengelolaan dengan subsistem on-farm maupun antarpusat pertumbuhan agribisnis dengan pelabuhan ekspor. Selain itu juga dikembangkan fasilitas pergudangan, terminal agribisnis, dan bursa komoditas/ produk agribisnis, beserta fasiltas lain yang diperlukan untuk berkembangnnya sistem dan usaha agribisnis. Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan agribisnis daerah haruslah inklusif dengan pembangunan daerah yang bersangkutan. Pengembanagn Kawasan Pertumbuhan Ekonomi Terpadu (KAPET) yang ekslusif seperti dimasa lalu hendaknya tidak perlu diulang lagi. KAPET yang perlu dikembangkan ke depan adalah KAPET agribisnis yang sangat terintegrasi dengan ekonomi rakyat daerah. Sehingga kehadiran KAPET agribisnis tersebut benar-benar memfasilitasi pengembangan ekonomi daerah. Kapet-kapet agribisnis juga dimaksudkan dapat terbentuk Kawasa Agroindustri Terpadu (KAT), serta pengembangan Sentra Produksi Agribisnis Kmoditas Unggulan (SPAKAU), dan kawasan Andalan (KADAL)). Pola insentif yang mampu merangsang investasi agribisnis oleh para pengusaha local di Kapet-kapet agribisnis tersebut perlu diciptakan, khususnya oleh pemerintah daerah.

Kebijakan Pembangunan Ketahanan Pangan


Sebagaimana dinyatakan dalam Undang-undang No.7 Tahun1996 tentang pangan, bahwa pengembangan pangan dan kesehjahtraan petani adalah kewajiban bersama antar pemerintah dan mesyrakat. Peran pemerintah adalah melaksanakan pengaturan dan pengendalian agar berkembang suatu sistem pengusahaan pangan yang adil dan bertanggung jawab. Ketahanan pangan adalah terpenuhnya pangan, baik dalam jumlah, mutu, keaman, maupun kesesuaian dengan sosio kultur; dapat dijangkau secara fisik maupun ekonomi; dan dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan individu setiap waktu untuk sehat, tumbuh, dan produktif. Unsur utama dari ketahan pangan adalah ketersedian pangan yang cukup, distribusi yang menjamin setiap individu dapat mengakses, serta mengonsumsi yang menjamin setiap individu memperoleh 157

asupan zat gizi dengan jumlah dan keseimbangan yang cukup. Dengan pengertian tersebut, maka agribisnis komoditas pangan yang berbasis sumberdaya pangan local, yang menghasilakn, mengolah, dan memasarkan berbagai ragam produk pangan serta memberikan pendapatan bagi masyarakat, memberikan konstribusi yang sangat besar terhadap terwujudnya ketahanan pangan. Dalam GBHN tahun 1999 2004 diamanatkan sebagai berikut : mengembangkan sistem ketahanan pangan yang berbasis pada keragaman sumberdaya bahan pangan, kelembagaan, dan budaya local dalam menjamin sumberdaya pangan yang terjangkau, dengan memperhatikan peningkatan pendapatan petani/ nelayan serta produksi yang diatur dengan undang-undang. Komponen dari sistem ketahananan pangan yaitu ketersedian, distribusi dan konsumsi, tidak lain adalah kegiatan usaha berbasis agribisnis. Berdasarkan hal tersebut, maka peningkatan dan pemantapan ketahan pangan dilaksanakan dengan pendekatan sistem agribisnis, yang merupakan rangkaian yang terintegrasi antara subsistem hulu, usahatani, hilir dan subsistem jasa. Dengan pendekatan tersebut, kebijakan ketahanan pangan diarahkan pada: (a) keragaman sumberdaya, kelembagaan dan budaya local; (b) efisensi ekonomi dan keunggulan kompetitif wilayah; (c) pengaturan distribusi pangan mengacu pada mekanisme pasar yang kompetitif; (d) sebagai bagian dari upaya peningkatan pendapatan petani. Mengingat actor dari sistem ketahanan pangan adalah para pelaku usaha yaitu produsen, pengolah dan distribusi yang sebagian besar pengusaha kecil, maka upaya peningkatan dari pemantapan ketahanan pangan dilaksanakan dalam kerangka memberdayakan kelompok masyarakat agar mampu, mandiri dalam mengembangkan usahanya secara berkelanjutan, di dalam suatu perekonomian yang mengikuti asas mekanisme pasar yang berkeadilan. Kebijakan ketahanan pangan adalah kebijakan yang bersifat menyelaraskan kegiatan-kegiatan yang menujang ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan, agar setiap individu dapat mengakses pangan dan mengelola konsumsinya untuk memenuhinya kecukupan gizi. Dalam hal subsistem ketersedian pangan, kebijakan yang perlu dilakukan adalah menyeleraskan antara produksi , ekspor, impor dan konsumsi sehingga terjadi keseimbangan sesuai dengan kebutuhannya 158

pada wilayah yang bersangakutan, dan antar wilayah dari waktu ke waktu pada tingkat harga yang proposional. Kebijakan subsistem distribusi pangan diarahkan untuk mendorong kelancaran proses distribusi dari lokasi produsen dengan konsumen sehingga masyarakat diseluruh wilayah yang dibutuhkannya. Demikian pula, kebijakan subsistem konsumsi pangan diarahkan untuk mendorong masyarakat mampu mendayagunakan sumberdayanya untuk memperoleh dan konsumsi pangan sehingga setiap individu mendapat asupan gizi yang cukup dan seimbang.

Contoh Pelaksanaan Kebijakan Pemerintah Indonesia


5. Inpres No. 14 Tahun 2011 Sesuai dengan Inpres No. 14 Tahun 2011 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Tahun 2011, Menteri Pertanian mendapatkan amanat untuk menjalankan tugas yang meliputi 10 Rencana Aksi dan 26 Sub Rencana Aksi. Kesepuluh Rencana Aksi tersebut mencakup: (1) Peningkatan integrasi PNPM penguatan; (2) Pengelolaan air untuk pertanian; (3) Peningkatan produksi ternak ruminansia; (4) Penyaluran bantuan dan subsidi benih tanaman pangan; (5) Penyaluran pupuk bersubsidi; (6) Perluasan areal pertanian; (7) Pengembangan ketersediaan dan penanganan rawan pangan; (8) Percepatan penganekaragaman konsumsi pangan; (9) Pengembangan sistem distribusi dan stabilitas harga pangan; dan (10) Konsep kebijakan penyediaan subsidi beras untuk masyarakat berpenghasilan rendah/raskin. Berdasarkan hasil penilaian UKP4 pada Laporan B12 (sampai Desember 2011), Kementerian Pertanian telah melaksanakan seluruh rencana aksi dan mencapai target sesuai yang ditetapkan (pencapaian berkisar antara 100% sampai dengan 227,55%). 6. Inpres No. 5 Tahun 2007 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Dalam rangka melaksanakan penugasan Inpres 5 Tahun 2007 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, Kementerian Pertanian telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp. 277,96 miliar untuk Provinsi Papua dan sebesar Rp. 106,92 miliar untuk Provinsi Papua Barat, serta menetapkan bahwa pembangunan pertanian di kedua Provinsi tersebut akan 159

difokuskan pada: 1). Merauke Integrated Food dan Energy Estate (MIFEE), 2) Pengembangan ternak sapi potong dan babi, dan 3) Pengembangan kedelai. 1) Merauke Integrated Food dan Energi Estate (MIFEE) Pemerintah Daerah Kabupaten Merauke telah mengalokasikan areal seluas 1,2 juta hektar yang terbagi atas 10 klaster. Untuk jangka pendek (2011-2014), prioritas pengembangan pada Klaster I dan IV seluas 464.954 hektar dengan lahan yang clear and clean seluas 228.022 hektar. Komoditas pangan yang akan dikembangkan adalah: padi, jagung, kedelai, tebu dan sapi. Kegiatan yang telah dilakukan antara lain : (1) Telah diterbitkan grand design MIFEE, (2) grand-launching MIFEE, (3) inventarisasi rencana investigasi dari 14 investor dengan ijin seluas 548.315 hektar, (4) pembangunan/rehabilitasi jalan usaha tani dan irigasi, (5) demplot System Rice of Intensification (SRI). Kendala yang dihadapi saat ini belum diterbitkannya ijin penggunaan lahan dari HPK menjadi APL serta infrastruktur yang terbatas. Hal lain yang ditunggu para pelaku usaha adalah penetapan Kawasan Ekonomi Khusus di wilayah Merauke.

2) Pengembangan Ternak Sapi Potong dan Babi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat berpeluang menjadi sentra daerah produksi sapi potong dan babi nasional terutama di Provinsi Papua Barat untuk 10 - 15 tahun mendatang. Saat ini kegiatan operasional pengembangan sapi potong dan babi yang telah dilaksanakan adalah Sarjana Membangun Desa (SMD) sebanyak 69 unit (Rp 900 juta) di Provinsi Papua dan 66 unit (Rp. 33,26 miliar) di Provinsi Papua Barat, Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) sebanyak 7 unit (Rp. 850 juta) dan 15 unit (Rp. 2,35 miliar), PUAP sebanyak 198 Gapoktan (Rp. 19,8 miliar) di Provinsi Papua dan 207 Gapoktan (Rp. 20,7 miliar) di Provinsi Papua Barat, Insentif Penyelamatan Sapi Betina Produktif Rp. 6,3 miliar di Provinsi Papua Barat dan Rp. 5,8 miliar di Provinsi Papua.

160

3)

Pengembangan Kedelai Pengembangan kedelai di NTT dilakukan secara bertahap, yaitu pada tahun

2011 seluas 2.000 hektar, tahun 2012 seluas 3.000 hektar, tahun 2013 seluas 4.000 hektar dan pada tahun 2014 seluas 5.000 hektar. Pada tahun 2011, pengembangan kedelai dilakukan melalui: 1) pemberdayaan Balai Benih setempat untuk menangkarkan benih sumber seluas 3,2 hektar, 2) pemberian bantuan saprodi (pupuk kimia, Rhizobium, kapur pertanian dan pestisida), 3) pemberian paket alat dan mesin pertanian seperti: hand traktor, power tresher, peralatan pengolahan tahu-tempe dan susu kedelai, 4) pemberian bantuan sapi kerja kepada petani, 5) pemberian pelatihan budidaya kedelai, panen dan pasca panen serta pengolahan hasil, 6) Melakukan koordinasi, pembinaan, pendampingan, monitoring dan pelaporan. 3. Arahan Presiden untuk Percepatan Pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Timur Sebagai tindak lanjut arahan Presiden untuk Percepatan Pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Timur, maka berdasarkan potensi wilayah, Kementerian Pertanian telah menetapkan untuk mengembangkan produksi jagung dan ternak sapi potong, serta pembangunan embung di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Untuk mendukung upaya pengembangan produksi jagung, pada tahun 2011 dimulai pembangunan 1 Unit Pengolah Biji (UPB) jagung komposit di Nusa Tenggara Timur dengan kapasitas 2 ribu ton setiap tahunnya. Pada tahun 2011 produksi jagung di Nusa Tenggara Timur (Angka Ramalan III) sebesar 522,97 ribu ton. Pengembangan ternak sapi potong difokuskan di Kabupaten Belu dan Kabupaten Kupang melalui: (i) peningkatan populasi, (ii) pengembangan pakan, (iii) regulasi distribusi bibit, ternak dan daging, (iv) penguatan kelembagaan, (v) peningkatan produktivitas, dan (vi) penguatan infrastruktur. Pengembangan ternak sapi potong dilakukan untuk meningkatkan populasi melalui penambahan indukan sapi, yang pada tahun 2011 sudah terealisasi sebanyak 2.058 ekor. Untuk mengatasi ketersediaan air, telah dibangun embung sebanyak 328 unit di 19 Kabupaten. 161

LATIHAN Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang Peranan Pemerintah Dalam Agribisnis, coba Anda uraikan pertanyaan latihan berikut ini. 1. Jelaskan peranan pemerintah terhadap perdagangan internasional produk pertanian. 2. Sebutkan berbagai macam peraturan lokal dan pusat yang mempengaruhi kegiatan agribisnis. 3. Jelaskan mengenai kebijakan pemanfaatan dan penggunaan sumberdaya alam dan lingkungan. 4. Sebutkan contoh bentuk tanggung jawab sosial perusahaan agribisnis terhadap keberlanjutan lingkungan. 5. Jelaskan contoh pelaksanaan kebijakan pemerintah mengenai

pembangunan agribisnis di Indonesia

TES FORMATIF Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Apakah yang dimaksud undang-undang antitrust? 2. Sebutkan istilah-istilah lain dari antitrust. 3. Undang-undang ketenagakerjaan? nomor berapakah yang mengatur tentang

4. Tindakan apa saja yang dilakukan pemerintah untuk menjamin perlindungan konsumen. 5. Sebutkan komponen dari sistem ketahanan pangan. 6. Sebutkan syarat pengembangan pusat-pusat pertumbuhan agribisnis. 7. Apakah yang dimaksud kebijakan mikro agribisnis? 8. Apakah yang dimaksud kebijakan pengembangan industri? 162

9. Apakah yang dimaksud dengan property right? 10. Apakah yang dimaksud dengan istilah tragedy of commons?

163

KEGIATAN BELAJAR 7 Modul

PENGEMBANGAN KASUS AGRIBISNIS

13

INDUSTRI STRATEGIS GULA DAN TEMBAKAU DI JAWA TIMUR


Unit Usaha Strategis (UUS) yang utama di Jawa Timur adalah gula dan tembakau, yaitu unit usaha yang mempunyai ciri padat karya dan padat model. Unit usaha ini termasuk 10 besar industri di Indonesia (2005) diantara unit usaha lainnya seperti industri primer pertambangan, pertanian, industri jasa rumah sakit dan pendidikan belum berkembang secraa optimal. UUS gula dan UUS tembakau merupakan sistem usaha agribisnis yang menjadi unggulan di wilayah Jawa Barat. Bungaran Saragih (2008) menyatakan bahwa kebijakan agribisnis mempunyai hubungan yang erat dengan politik agribisnis, dimana politik agribisnis itu sendiri terdapat campur tangan pemerintah dalam bidang agribisnis. Selanjutnya dikatakan jika berbicara tentang kebijakan agribisnis, maka konteks dari kebijakan tersebut harus memasukkan paradigma dengan modifikasi yang sesuai dengan kepentingan dan perkembangan masyarakat Indonesia. Kultur dari kedua unit usaha ini telah terbentuk semenjak jaman kolonial hingga saat ini, kultur baik yang menyangkut budaya maupun pemasaran telah mengalami perubahan. Pada jaman kolonial, kualitas produk mutlak dibawah kontrol perusahaan, demikian juga pasar berstruktur monopoli, pemerintah Belanda memberikan dukungan sepenuhnya terhadap keberadaan komoditas gula dan tembakau yang berorientasi ekspor. Pada abad 21 telah terjadi perubahan besar yaitu diberlakukannya keunggulan komperatif (comparative advantage) dan keunggulan kompotitif (competitive advantage) oleh pasar dunia. Perlindungan terhadap sebagai dampak negatif yang timbul akibat mengkonsumsi komoditas 164

tembakau dilakukan, bahkan ada larangan untuk meroko dan meminum cerutu disegala tempat, permintaan menurun akibat perang terhadap tembakau dicanangkan semenjak akhir abad 20. Selain itu cita rasa (taste) konsumen tembakau berubah dari ceritu besar (cigar) menjadi cerutu kecil (cigarrolos), akibatnya banyak pabrik cerutu melakukan penggabungan (merger). Keseluruhan ini menyebabkan struktur pasar tembakau berubah menjadi oligopsoni (buyer market). Gejala perubahan kultur dan struktur pengelolaan dan pasar tembakau ini dirasakan oleh pelaku bisnis semenjak akhir abad 20. Undang-undang yang mengatur tentang komoditas tebu dan tembakau juga berubah, peraturan perundangan yang mengatur budidaya tanaman , pengelolaan, dan kelembagaan khusus komoditas tebu dan tembakau diberlakukan untuk menata dan mengatur komoditas perdagangan termasuk kedua komoditas tersebut (UU No. 12? 1989, Inpres No. 9/75 dlsb). Pada jaman kolonial Belanda, gula masih berorientasi ekspor namun pada akhir abad 20 digunakan untuk kebutuhan dalam negeri dan itu pun tidak cukup. Kualitas tebu menurun, rendemen menurun, petani bebas menanam komoditas apa saja yang dianggap menguntungkan. Impor gula jenis raw sugar atau sejenisnya serta gula rafinasi dari luar negeri dapat menurunkan harga tebu dari petani yang memiliki kebebasan komoditas yang dianggap menguntungkan. Tarik menarik antara keinginan untuk mendorong industri gula dengan komponen kemitraan petani tebu menjadi mampu bersaing dengan gula impor memerlukan kecermatan dalam antisispasinya karena dapat menyebabkan pabrik gula dan tebu rakyat menjadi tidak efisien, akibatnya tidak memiliki keunggulan komparatif dan/ atau kompetitif. Perubahan-perubahan ini perlu dipikirkan dan diantisipasi secara cerdas, efisien, dan strategis agar kedua produk komoditas ini menjadi komoditas strategik yang menghasilkan keuntungan yang mempu memperkuat anggaran pendapatan belanja.

Unit Usaha Strategis Gula


Berdasarkan uraian persamsalahan diatas upaya mengatasi permasalah tersebut dilakukan Jawa Timur dengan menyampaikan usulan perubahan mendasar dalam pengadaan bahan baku tebu (meningkatkan produktivitas dan kualitas) dengan cara bongkar ratoon yang ditandai dari APBN yang bekerjasama dengan P3GI, 165

N10, dan N11 serta PT Rajawali dan PTKBA dalam pengadaan bibit. Kebijakan perbaikan bahan baku tebu tersebut kemudian diantisipasi oleh pabrik menuju produk yang efisien yaitu dengan memberikan penghargaan perbaikan produksi dan produktivitas tebu dengan emberikan apresiasi pada Nilai Nira Perahan pertama (NPP). Selain itu Departemen Perdagangan dan Perindustrian juga memperbaiki kebijakan tata niaga impor gula (Kepmen Perdagangan Perindustrian 527/2004). Kebijakan ini muncul untuk menjawab adanya anggapan bahwa petani dirugkan oleh pabrik dalam hal penyediaan bahan baku tebu untuk pabrik gula. Perbaikan pabrik juga harusnya dapat dilakukan dari dana internal PTPN yang diambil dari anggaran penyusutan, investasi berupa renovasi dan modernisasi pabrik dengan melalui program APBN. Namun hal tersebut belum dapat dilakukan karena kondisi keuangan negara. Secara umum, untuk menjadikan industri gula ini memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif, langkah yang dibutuhkan yaitu: 1) Meningkatkan efisiensi pabril dengan renovasi/ modernisasi mesin, power, pengolahan gula serta tatanan pabrik. Tujuannya agar menjadikan pabrik sebagai penjuala jasa giling yang dapat dipertanggungjawabkan dan menjadi sumber keuntungan 2) Meningkatkan kualitas bahan baku tebu (bongkar ratoon, perbaikan bibit, dan peningkatan produktivitas) diikuti dengan perbaikan baku teknis, kultur teknis, dan kelembagaan (tri partitie, antara petani, pabrik, dan pemerintah).

Unit Usaha Strategis Tembakau


Berdasarkan uraian permasalahan sebelumnya, makan dalam mencari solusi permasalahan tersebut, perlu diketahui bahwa Indonseia sebagai eksporti rtembakau bahan baku cerutu ke negara-negara Eropa, Amerika, dan Afrika mempunyai dua segmen penting yang didasarkan kualitas. Untuk segmen pasar kualitas dekblad dan omblad (wrapper dan binder) indonesia memiliki market share lebih dari 64 persen, kualitas dekblad kurang dari 34 persen. hal ini berarti produk kualitas ini didiominasi Indonesia. 166

Unit usaha strategis tembakau cerutu lebih berorientasi pada pasar internasional daripada lokal. tekanan usaha lebih diutamakan pada pasar, karena industriawan cerutu yang makin sedikit jumlahnya, sementara itu perang terhadap rokok dan cerutu yang berarti perang terhadap tembakau semakin gencar, maka kebutuhan tembakau untuk cerutu semakin menurun.

Sifat pasar yang buyer market menyebabkan struktur pasarnya oligopsoni, dan untuk mengatasi struktur pasar oligopsoni tersebut dilakukan dengan cara melakukan kemitraan dengan pembeli dan memperluas pasar agar tidak terjai ketergantungan.

Strategi pasar cerutu N10 yang telah dilakukan pihak Indonesia telah benar memeberikan manfaat sehingga tidak perlu diuba. Strategi tersebut yaitu 70 persen untuk melayani/ mencukupi mmitra utama Burger Sohne Burg (BSB), 10 % melalui makelar Indonesia, 10% penjualan melalui penampung (pasar lelang Bremen), dan 10% penjualan melalui makelar internasional. Kondisi ini apabila dipertahankan akan cukup bagus, terlebih dapat melakukan ekspansi dengan cara perluasan pasar.

Produksi tembakau cerutu menurut jenis dan kualitasnya harus didasarkan pada keinginan dan kebutuhan pelanggan (bukan hanya asal produksi saja). N10 diharapkan mampu memberikan pelayanan yang dapat memuaskan pelanggan.

Perluasan pasar untuk mencoba merebut kembali market share tembakau cerutu Indonesia khususnya tembakau Sumatera (saat ini di N10 dikembangkan TBN FIN dan FIK) yang rata-rata satu persen per tahun beralih ke pesaing (Nicaragua, Costarica, Brasil, dan beberapa negara Amerika Latin lainnya) sangat diperlukan usaha yang lebih keras lagi, dengan cara mendekati industriawan cerutu di Eropa dan Amerika (USA), baik melalui market intelegent maupun makelas ataupun badan penampung.

Untuk mengatasi masalah lahan usaha dan budidaya tanaman serta pasca panen (curing dan sortasi) ditekankan pada kemampuan sumberdaya manusia 167

yang memiliki skill ahli dan kondisi alam. Dalam hal ini career palnning merupakan upaya agar ada kesinambungan dan keberlanjutan usaha strategis tembakau. Standart operating procedure dan pengawasan serta keputusan pimpinan yang ahli dan tepat sangat diperlukan pada tahapan pekerjaan ini.

Dilakukannya analisis dan evaluasi mengenai efisiensi dan kinerja usaha di unit strategis.

(Sumber : Saragih, 2010)

PEMBANGUNAN WILAYAH JAWA BARAT YANG INTEGRATIF MELALUI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS


Wilayah Jawa Barat merupakan salah satu wilayah pusat kegiatan ekonomi nasional. Hal tesebut dapat dilihat dari kontribusi PDB Jawa Barat menduduki peringkat kedua dalam penyumbang PDB. Namun dalam kurun waktu tahun 1975 1993 telah terjadi perubahan struktur perekonomian Jawa Barat, pangsa pasar pertanian primer turun dari 4 % (1975) menjadi 16% (1993), sementara itu pangsa industri meningkat dari 8% (1975) menjadi 30% (1993). Wilayah Jawa Barat bagian Selatan yang masih di dominasi oleh sektor pertanian primer dan menampung sekitar 30,7 persen angkatan kerja Jawa Barat hanya menerima 17% PDRB Jawa Barat. Sementara wilayah Jawa Barat bagian Utara dan Tengah yang menampung sekitar 69,3% angkatan kerja menikmati 83%PDRB Jawa Barat. Data mengenai pangsa pasar antarsektor dan antarwilayah dalam PDRB Jawa Barat memberikan indikasi bahwa proses pembangunan antarsektor dan antarwilayah di Jawa Barat berjalan secara sendiri-sendiri. Bila perubahan struktur perekonomian yang demikian terus berlangsung, maka wilayah Jawa Barat bagian Utara dan Tengah akan menjadi sasaran arus migrasi sumberdaya manusia dan dikhawatirkan akan mengalami tekanan penduduk yang berlebihan sehingga menimbulkan masalah ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan. Sementara itu Jawa Barat bagian selatan akan menderita akibat pelarian SDM dan sumberdaya modal dan menjadikannya semakin tertinggal. Untuk menghindari dampak 168

tersebut maka diperluka strategi pembangunan wilayah Jawa Barat yang bersifat integratif. Pengembangan Agribisnis Dalam hubungannya dengan pembangunan wilayah Jawa Barat yang terintegrasi, pembangunan wilayah dengan pendekatan agribisnis mampu memanfaatkan keunggulan komparatif (comparative advantages) dari setiap wilayah yang berbeda melalui pembangunan subsistem agribisnis yang relevan. Jawa Barat bagian utara dan tengah yang unggul dari segi pasar, dapat dimanfaatkan oleh agribisnis melalui pengembangan subsistem agribisnis hilir, yang terintegrasi secara vertikal dengan subsistem usaha tani dan subsistem agribisnis hulu di Jawa Barat Bagian Selatan yang unggul dari segi agrobiofisik. Dengan demikian, peningkatan pendapatan penduduk di Jawa Barat Bagian Utara dan Tengah ( yang berarti meningkattkan daya serap pasar ), akan mendorong pertumbuhan subsistem agribisnis hilir diwilayah tersebut. Pertumbuhan agribisnis hilir ini akan menarik subsistem agribisnis usaha tani dan subsistem agribisnis hulu di Wilayah Jawa Barat Bagian Selatan, yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan penduduk di Jawa Barat Bagian selatan. Kemudian, dengan bertumbuhnya subsistem agribisnis hilir, usaha tani dan subsistem agribisnis hulu tersebut akan menarik seluruh kegiatan industri jasa yang berkaitan dengan agribisnis ( perbankan, transportasi dan lain lain ). Dengan mekanisme seperti itu, maka pembangunan dengan pendekatan agribisnis akan mampu mengintegrasikan perekonomian wilayah Jawa Barat, baik antara wilayah Utara, Tengah dan selatan; maupun antara sector pertanian dengan industri/ agroindustri, sector pertanian dengan sektor jasa dan sektor industri dengan sektor jasa. Selain itu, melalui mekanisme pasar, pembangunan wilayah dengan pendekatan agribisnis akan mampu memperkecil pelarian sumberdaya manusia dan pelarian modal dari Jawa Barat bagian Selatan ke wilayah Jawa Barat bagian Utara dan Tengah, Bahkan potensial mendorong terjadinya penarikan kembali sumberdaya manusia dan capital dari Wilayah Jawa Barat bagian Utara dan Tengah ke Wilayah Selatan.

169

Agar proses yang demikian dapat terjadi, maka komoditas yang dikembangkan di Jawa Barat bagian Selatan hendaknya merupakan komoditas/ produk yang bersifat memiliki elastisitas permintaan terhadap perubahan pendapatan yang tinggi (income elastic demand ), seperti komoditas perternakan dan hortikultura. Konsumsi komoditas peternakan ( daging, telur dan susu )dan hortikultura meningkat dengan peningkatan pendapatan masyarakat. Kemudian, konsumen hasil peternakan dan hortikultura terbesar di Jawa Barat selama ini berada pada masyarakat yang mendiami Jawa Barat bgaian Utara dan Tengah; sementara kemampuan Jawa Barat bagian Utara dan Tengah dalam menghasilkan komoditas peternakan dan hortikultura semakin menurun. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi di bagian Utara dan Tengah akan meningkatkan permintaan komoditas peternakan dan hortikultura, sehingga bila komoditas tersebut dikembangkan di Jawa Barat bagian Selatan, peningkatan permintaan tersebut akan menarik aktivitas ekonomi masyarakat Jawa Barat bagian Selatan. Kemudian, untuk menjamin peningkatan pendapatan masyarakat di Jawa Barat bagian Selatan yang umumnya adalah petani, maka petani perlu didorong dan difasilitasi untuk mengembangkan koperasi agribisnis. Di masa lalu, aktivitas ekonomi petani kita hanya terbatas pada usaha tani saja, yang justru paling kecil nilai tambahnya dibandingkan dengan nilai tambah agribisnis hulu dan hilir. Dengan mengembangkan koperasi agribisnis secara vertikal, maka petani akan dapat menangkap nilai tambah yang ada pada subsistem agribisnis tersebut, baik yang berada di Jawa Barat bagian Utara dan Tengah, maupun yang ada di Jawa Barat bagian Selatan. dengan demikian, pendapatan petani di Jawa Barat bagian Selatan akan dapat ditingkatkan dan mengejar ketinggalan dari Jawa Barat bagian Utara dan Tengah. Pengembangan wilayah dengan pendekatan agribisnis berpotensi

mengintegrasikan perekonomian Jawa Barat ke perekonomian yang lebih luas, oleh karena komoditas yang dikembangkan adalah bersifat memiliki elastisitas permintaan terhadap perubahan pendapatan yang tinggi dan merupakan komoditas yang sangat dibutuhkan di wilayah DKI Jakarta, nasional dan internasional, sehingga pengembangan agribisnis 170

yang

demikian

juga

mendorong

pengintegrasian perekonomian Jawa Barat dengan perekonomian Jakarta, kemudian ke perekonomian nasional dan bahkan ke perekonomian internasional. Dengan demikian, manfaat pengintegrasian perekonomian nasional dengan perekonomian internasional (AFTA dan APEC) akan dapat dinikmati oleh Jawa Barat, termasuk masyarakat Jawa Barat bagian Selatan yang selama ini tertinggal. (Sumber : Saragih, 2010)

PEMBINAAN SUMBERDAYA MANUSIA UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN AGRIBISNIS DAN EKONOMI PERDESAAN
Wilayah simalungun telah lama dikenal sebagai salah satu sentra produksi pertanian di Sumatera Utara. Wilayah Kecamatan Raya dan sekitarnya merupakan sentra produksi jahe, jeruk dan kopi. Sementara itu, wilayah Kecamatan Purba, Silima Kuta dan Dolok Silau terkenal sebagai sentra produksi kentang, kol, cabai, tomat dan jagung. Sedangkan wilayah pesisir danau toba terkenal dengan produksi bawang merah, bawang putih dan manga yang paling manis dan paling harum di dunia. Bahkan di Wilayah sekitar Pematang siantar telah lama dikenal dengan ikan mas Siantarnya. Disamping itu, wilayah Tanah Jawa dan sekitarnya disebut sebagai salah satu lumbung beras di Sumatra Utara. Belum lagi hasil perkebunan di simalungun yang sudah terkenal di Indonesia danj pasar internasional. Menurut data Tahun 1991 ( Simalungun Dalam Angka, 1992) produksi kentang dari wilayah simalungun mencapai 40 ribu ton, tomat 43 ribu ton, jagung 96 ribu ton, jahe 40 ribu ton, nanas 39 ribu ton,kubis/ kol 30 ribu ton, cabai 24 ribu ton, bawang merah dan putih 11 ribu ton, jeruk manis 8 ribu ton,kopi 4 ribu ton dan pisang 73 ribu ton. Di Sumatera Utara/ wilayah Simalungun adalah satu satunya sentra produk jahe. Kemudian dalam produksi pisang, wilayah Simalungun merupakan produsen terbesar di Sumatra Utara. Sebagian dari produksi pisang tersebut (khususnya dari Kecamatan Silau Kahean dan

171

sekitarnya ) merupakan jenis pisang barangan yang saat ini cukup terkenal di hotel-hotel dan restoran di Jakarta. Dengan ragam dan tingkat produksi komoditas pertanian yang demikian, sebenarnya masyarakat dan wilayah simalungun sudah harus lebih makmur dari yang dicapai saat ini. Berbagi fakta menunjukkan bahwa tampaknya para petani di wilayah Simalungun hanya menikmati sedikit dari manfaat ekonomi yang ditimbulkan oleh wilayah Simalungun sebagai sentra produksi komoditas pertanian. Bahkan beberapa desa di Simalungun masih tergolong sebagai desa tertinggal (miskin). Sebaliknya, berbagai bebagai fakta menunjukkan justru pedagang dan pengusaha yang mengolah dan memperdagangkan hasil pertanian dari wilayah Simalungun yang justru menikmati manfaat ekonomi pertanian Simalungun. Karena kegiatan pengolahan dan perdagangan hasil pertanian di Wilayah simalungun sebagian besar berada diluar wilayah simalungun, maka sebagian besar manfaat tersebut mengalami kebocoran ( leakages) dari wilayah Simalungun ke wilayah lain. Arus kebocoran manfaat ekonomi diperbesar pula oleh ketergantungan yang kuat wilayah Simalungun terhadap wilyah lain dalam penyediaan sarana produksi pertanian. Bila keadaan yang demikian berlangsung lama, maka dikhawatirkan wilayah Simalungun akan mengalami kesulitan dalam pemupukan modal, bahkan cenderung akan mengalami pelarian capital ( capital Flight), sehingga akan mengurangi kemampuan produksi wilayah Simalungun. Kondisi seperti ini sangat tidak kita inginkan terutama bila kita hubungkan bahwa wilayah kabupaten simalungun merupakan daerah percontohan ekonomi daerah tingkat II di Sumatra Utara. Keadaan yang terjadi pada pertanian wilayah Simalungun yang demikian, tidak dapat dilepaskan dari paradigma pembangunan pertanian yang kita anut dimasa lalu. Pembangunan pertanian yang hanya terfokus pada agribisnis usaha tani saja, memang dapat meningkatkan produksi, tetapi sangat sulit berhasil meningkatkan pendapatan petani secar riil dan meningkatkan serta menahan nilai tambah (added value) yang lebih besar di wilayah sentra produksi pertanian. Penyebabnya adalah karena pada agribisnis usaha tani nilai tambah yang tercipta 172

adalah sangat kecil dan jauh lebih kecil daripada nilai tambah yang tercipta pada agribisnis hulu dan hilir (industri pengolahan dan perdagangan). Oleh sebab itu, dimasa yang akan datang pembangunan pertanian di wilayah Simalungun perlu diubah dari konsep pertanian primer ke konsep agribisnis. Dalam rangka pengembangan agribisnis di wilayah Simalungun, perlu upayakan agar di wilayah Simalungun berkembang usaha-usaha pembibitan komoditas unggul yang dapat memenuhi kebutuhan bibit (tanaman, ternak dan ikan) para petani. Disamping itu, yang paling penting adalah mengembangkan industri pengolahan hasil pertanian yang bahan bakunya ada di wilayah simalungun. Kita perlu mengembangkan industri minyak dan sari jahe, industri tepung jagung dan minyak jagung, industri buah jeruk, industri minyak bawang, industri pengolahan kopi ( kopi bubuk dan permen kopi ), dan industri pengolahan hasil pertanian lainnya. Dengan pengembangan agroindustri yang demikian di wilayah simalungun maka nilai tambah agribisnis yang tertahan di wilayah Simalungun akan lebih besar. Untuk meningkatkan pendapatan para petani sekaligus memperluas jaringan bisnis petani, kita perlu mendorong berkembangnya organisasi bisnis terutama koperasi agribisnis dikalangan petani di wilayah Simalungun. Koperasi agribisnis yang dimaksudkan di sini bukanlah konsep KUD masa lalu yang menangani segala macam komoditas dan hanya bergerak pada pertanian primer saja. Koperasi agribisnis yang dimaksudkan adalah koperasi yang menangani satu jenis komoditas mulai dari hulu hingga ke hilir. Melalui koperasi agribisnis ini, petani dapat mengembangkan jaringan bisnisnya, baik pada agribisnis hulu maupun pada agribisnis hilir (industri pengolahan, dan perdagangan). Dengan demikian nilai tambah yang tercipta dalam agribisnis suatu komoditas dapat dinikmati oleh para petani sedemikian rupa sehingga pendapatan mereka dapat meningkat lebih cepat. Hal ini akan meningkatkan gairah dan kebanggaan para petani serta akan merangsang tumbuhnya generasi baru pengusaha agribisnis dan keluarga petani. Pengembangan agroindustri dan organisasi bisnis petani tersebut perlu disertai dengan subsistem jasa agribisnis terutama pengembangan prasarana jalan. 173

Pengembangan prasarana jalan perlu mendapat prioritas dari pemda Tingkat II Simalungun Karena masih banyak desa di wilayah Simalungun yang belum terjangkau kendaraan roda empat, padahal potensi pengembangan agribisnis cukup besar. Pengembangan jaringan jalan ini akan mendorong tumbuhnya sentra-sentra agribisnis baru dan meningkatkan efesiensi pengangkutan komoditas pertanian di wilayah Simalungun. Bila pengembangan agribisnis ini berhasil diwujudkan di wilayah Simalungun, maka wilayah Simalungun akan siap menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang -peluang di masa yang akan datang. Berkembangnya agribisnis di wilayah Simalungun akan menarik kegiatan petani lainnya, baik yang menyediakan bahan -bahan penolong dan jasa yang dibutuhkan oleh agribisnis, maupun sector informal. Hal ini akan menarik aliran kapital dan sumberdaya manusia ke wilayah Simalungun. Dengan demikian pengembangan agribisnis ini akan mampu meningkatkan kapasitas produksi dan integrasi antar sector di wilayah Simalungun. Selanjutnya, hal ini akan meningkatkan kemampuan wilayah Simalungun untuk membiayai sendiri ( selffinancing) pembangunan, sehingga siap melaksanakan otonomi daerah secara penuh. Kemudian, karena produk-produk yang dihasilkan agribisnis di wilayah Simalungun ada produk yang bersifat memiliki elastisitas permintaan terhadap perubahan pendapatan yang tinggi (income elstic demand ). maka meningkatnya pendapatan masyarakat di wilayah perkotaan akan menarik lebih lanjut berkembangnya agribisnis diwilayah Simalungun. Dengan demikian, pengembangan agribisnis dapat mengintegrasi perekonomian pedesaan dengan perkotaan, perekonomian wilayah Simalungun dengan perekonomian Sumatra Utara, dan ke perekonomian nasional. Selanjutnya karena komoditas yang dihasilkan agribisnis Simalungun juga dibutuhkan di kawasan internasional, maka manfaat ekonomi yang timbul dari liberalisasi dunia dan integrasi ekonomi (khususnya AFTA da APEC ) abad Ke-21, dapat dinikmati oleh masyarakat yang ada di wilayah simalungun. (Sumber : Saragih, 2010)

174

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SISTEM RANTAI PASOKAN INDUSTRI PERBERSAN DENGAN PENDEKATAN SYSTEM DYNAMICS
Beras merupakan komoditas pangan strategis dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Dinamika yang terjadi pada sisi produksi dan sisi konsumen menyebabkan berbagai persoalan klasik muncul dalam industri perberasan di Indonesia. Setiap tahun terjadi kelebihan produksi sebagai akibat panen raya yang terjadi di sentra produksi, hal tersebut menyebabkan petani selaku produsen menerima pendapatan yang berkurang karena harga gabah yang menurun. Persoalan yang sama dihadapi juga oleh pelaku lain dalam industri perberasan, seperti pedagang perantara gabah, industri penggilingan dan pedagang beras. Dalam waktu yang lain, industri perberasan mengalami persoalan kelangkaan beras yang mengakibatkan konsumen harus membayar lebih mahal. Kelangkaan beras tersebut terjadi karena terjadinya kekurangan pasokan gabah dan beras dari sentra produksi. Persoalan-persoalan tersebut selalu berulang setiap tahunnya dan seperti tidak pernah teratasi dengan berbagai kebijakan yang diimplementasikan oleh pemerintah. Kebijakan pemerintah dalam pengembangan industri perberasan terfokus pada aspek peningkatan efisiensi dan produktivitas sistem produksi/budidaya padi. Efisiensi sistem produksi padi tersebut dilakukan dengan menerapkan program peningkatan mutu intensifikasi, sistem usahatani terpadu padi dan ternak, introduksi benih/varietas baru dan program sejenis lainnya. Secara prinsip, program-program industri perberasan hanya ditujukan untuk meningkatkan produktivitas padi dan indeks pertanaman sehingga ketersediaan beras menjadi meningkat dan konsumen dapat mengkonsumsi beras dengan harga yang murah. Perumusan dan implementasi kebijakan industri perberasan harus bersifat menyeluruh atau sistemik dengan ruang lingkup terpaan kebijakan dari hulu sampai hilir. Dengan kata lain, harus meliputi seluruh jaringan rantai pasokan industri perberasan yang setidaknya terdiri atas lima level, yaitu level petani yang melakukan budidaya padi di persawahan dan ladang, pedagang perantara gabah 175

(bandar/tengkulak), penggilingan beras, pedagang beras di sentra produksi dan pedagang beras di pasar induk perkotaan. Struktur Dasar Manajemen Rantai Pasokan Beras Manajemen rantai pasokan industri perberasan di Kabupaten Bandung merupakan suatu siklus tertutup yang terdiri atas umpan balik aliran material berupa gabah, beras, uang dan aliran informasi berupa permintaan yang terjadi pada interaksi pelaku industri perberasan dari mulai petani sampai dengan pedagang beras di pasar induk di Bandung dan Jakarta. Setiap aliran material dan informasi yang terjadi merupakan hasil keputusan yang dilakukan oleh setiap pelaku industri perberasan (Gambar 11). Petani akan mengirim gabah yang dimilikinya kepada pedagang pengumpul sehingga gabah yang dimilikinya akan berkurang. Demikian pula fenomena yang sama terjadi pada rangkaian pelaku industri perberasan lainnya, seperti penggilingan beras menjual beras kepada pedagang beras yang berada di pasar induk yang terdapat di Bandung dan Jakarta. Keputusan penjualan tersebut secara langsung akan mengurangi persediaan beras yang dimiliki penggilingan beras. Pada setiap fenomena keputusan yang terjadi pada setiap level pelaku terdapat struktur umpan balik negatif (negative feedback loop) yang akan menghasilkan perilaku yang menuju keseimbangan (balanced) atau mengarah pada pencapaian tujuan (goal seeking).

Gabah di Petani +

+ Gabah di Pedagang -

+ Gabah di Penggilingan -

+ Beras di Penggilingan -

+ Beras di Pedagang -

+ Penjualan Beras +

Permintaan Beras

Produksi Padi

+ Keinginan Petani untuk Menanam Padi

Harga Beras +

Gambar 11. Diagram Umpan Balik Struktur Dasar Rantai Pasokan Beras 176

Setiap pelaku industri perberasan memiliki tujuan untuk memaksimalkan keuntungan yang ingin diperolehnya. Hal tersebut menimbulkan konflik tujuan yang secara terwujud dalam keinginan setiap pelaku yang ingin menjual sebanyak-banyak produk yang dihasilkan dengan harga yang setinggi-tingginya. Namun hal tersebut tidak terjadi karena adanya keterbatasan sumberdaya yang dimiliki, seperti modal dan permintaan pasar yang diterima. Hal tersebut, menimbulkan keputusan kompromistik berupa penyesuaian-penyesuaian material dan informasi pada saat interaksi terjadi diantara mereka. Dengan demikian timbul dinamika aliran material, dan informasi pada rantai pasokan beras atau lebih dikenal dengan oscillation atau bullwhip effect (Sterman, 2000). Selain itu, masih terdapat umpan balik negatif yang muncul dari hubungan kausal antara petani sebagai pengambil keputusan dalam produksi padi dengan pasar yang dicerminkan dengan harga beras. Peningkatan harga beras mendorong peningkatan keinginan petani untuk menanam padi. Keinginan tersebut dilaksanakan dengan menanam padi yang akan meningkatkan produksi padi. Meningkatnya produksi padi mengakibatkan ketersediaan gabah meningkat sehingga volume penjualan gabah di pedagang pengumpul dan penggilingan menjadi meningkat. Peningkatan pembelian gabah di penggilingan mengakibatkan jumlah produksi beras meningkat sehingga volume beras yang diperdagangkan di level pedangang beras menjadi meningkat. Volume perdagangan beras yang meningkat tersebut akan menekan atau menurunkan harga beras yang terjadi di pasaran. Harga beras yang turun tersebut membuat gairah petani untuk menanam padi menjadi menurun dan hal tersebut berlanjut pada menurunnya volume perdagangan gabah dan beras. Tanpa ada struktur keputusan yang baru maka fenomena tersebut akan selalu terus berulang dan bersifat menuju keseimbangan. Struktur dasar pembentuk manajemen rantai pasokan beras di kabupaten Bandung. Kedua struktur dasar tersebut adalah struktur dasar aliran beras dan struktur dasar aliran uang. Dalam struktur aliran beras, secara implisit terdapat struktur dasar aliran informasi berupa order/demand pada setiap level pelaku (Gambar 12,13 dan 14).

177

konversi padi ke GKP

Lama Penjemuran

Produksi GKP

GKP di Petani

<Dayabeli Ped Peng> Pengeringan GKP di Petani Transaksi 1 GKS di Pedagang Pengumpul Penawaran GKS di Pdg Peng

Produktivitas Padi per Musim GKS di Petani Penawaran GKS Petani Transaksi 3 waktu penggilingan di Pemilik RMU

Pertambahan GKS di Petani Luas Panen

Produk Sampingan

GKS di Bandar Transaksi 2 Transaksi 4

GKS di Pemilik RMU

Pengeringan RMU

GKG di Pemilik RMU

Penggilingan oleh Pemilik RMU

fraksi konversi GKP-GKS

<Dayabeli Bandar>

<Dayabeli Pemilik RMU> Efek Stok Beras di Bdr Waktu pengeringan Produksi Beras PK Kab Bandung

<Dayabeli Pdg Beras> Pengeringan Ped Beras GKG di Pedagang Beras Penggilingan oleh Pedangan Beras

Transaksi 5

GKS di Pedagang Beras

waktu penggilingan di Pedg Beras

Gambar 12. Struktur Dasar Aliran Beras Gambar 12 menunjukkan struktur dasar aliran beras dari level petani, bandar, RMU (penggilingan beras) dan pedagang beras. Berawal dari produksi padi di level petani yang dilanjutkan dengan proses penjemuran petani yang menghasilkan akumulasi gabah kering simpan (GKS) yang diap dijual oleh petani. Persediaan GKS petani berkurang karena adanya penjualan kepada pedagang pengumpul dan atau bandar. Petani secara rasional memilih target pembeli berdasarkan harga jual tertinggi GKS yang akan diterima serta adanya pertimbangan sosial berupa hubungan emosional dengan para pelaku pasar. Para pedagang pengumpul dan bandar akan melakukan jumlah pembelian sesuai dengan daya beli yang mereka miliki. Daya beli tersebut ditentukan oleh fakor ketersediaan uang tunai yang dimiliki setiap pelaku usaha. Para pedagang pengumpul tidak melakukan transaksi secara langsung dengan pemilik RMU, melainkan mereka melakukan transaksi dengan bandar. Selanjutnya GKS yang terakumulasi di bandar akan dijual kepada pemilik RMU untuk diolah menjadi beras atau dijual kepada pedagang beras. Pedagang beras akan melakukan makloon atau memanfaatkan jasa penggilingan beras untuk mengolah GKG yang dimiliki oleh mereka. 178

Dalam Gambar 13 terlihat bahwa produksi beras di Kabupaten Bandung merupakan akumulasi hasil proses penggilingan yang dilakukan oleh pemilik RMU dan pedagang beras. Beras tersebut selanjutnya akan dijual ke pedagang beras di kota Bandung dan Jakarta (terutama pasar induk Cipinang). Setiap transaksi yang terjadi sejak level petani sampai dengan pedagang beras di pasar induk daerah perkotaan akan membentuk umpan balik negatif sehingga menghasilkan proses menuju keseimbangan (balancing process) ketersediaan gabah atau beras. Proses tersebut akan selalu berulang karena tidak adanya struktur keputusan baru berupa inovasi produk, proses ataupun kelembagaan. Kondisi tersebut yang menyebabkan fenomena kelangkaan dan kelebihan beras selalu berulang, seolah-olah tidak terselesaikan seperti lingkaran setan (virtuous and viscious cycle). Fenomena kelangkaan atau kelebihan pasokan beras selalu direspons

(diintervensi) oleh pemerintah pusat dan daerah dengan cara merubah parameter keputusan berupa tambahan atau pengurangan aliran beras di masyarakat dengan cara melakukan operasi pasar oleh bulog/dolog setempat. Perubahan perilaku yang dihasilkan oleh intervensi tersebut hanya bersifat sesaat karena tidak adanya struktur keputusan baru yang mampu mengatasi fenomena tersebut secara permanen atau berkelanjutan.
waktu pasokan ke Bdg <Produksi Beras PK Kab Bandung> Alokasi Beras utk Bdg Beras utk Bandung Pasokan ke Bdg Beras di Pasar Bandung Permintaan Konsumen Bdg Aktual

Transaksi dg Konsumen Bdg

Efek Stok Beras di Pasar Bdg Produksi Beras Putih Kab Bandung Beras di Kab Bandung Efek Stok Beras di Pasar Jkt Alokasi Beras utk Jkt Pasokan ke Jkt Beras di Pasar Cipinang Transaksi dg Konsumen Jkt

Beras utk Jakarta

Keluaran Beras Menir

fraksi beras bagus utk Jkt

waktu pasokan ke Jkt

Permintaan Konsumen Jkt Aktual

fraksi menir

Gambar 13. Struktur Dasar Aliran Beras (Lanjutan)

179

Satu hal yang sering terabaikan dalam keputusan manajemen rantai pasokan beras adalah struktur aliran uang yang terjadi di para pelaku perberasan di Kabupaten Bandung. Aliran uang merupakan hasil umpan balik dari aliran beras yang terjadi. Uang merupakan sumberdaya yang terbatas sehingga menentukan jumlah aliran beras yang terjadi (Gambar 14). Struktur dasar aliran uang yang terjadi pada sistem rantai pasokan beras di Kabupaten Bandung merupakan interaksi dari kas (persediaan uang) pada setiap level pelaku yang terlibat, keputusan jumlah pembelian gabah atau beras serta pendapatan yang diterima dari proses transaksi yang terjadi antara satu pelaku dengan pelaku yang lain. Ketersediaan kas yang dimiliki oleh setiap pelaku dan permintaan pasar akan menentukan daya beli untuk pengadaan gabah ataupun beras. Jumlah kas yang bertambah akan meningkatkan daya beli yang akan meningkatkan jumlah pembelian gabah atau beras. Sebaliknya, semakin bertambah jumlah pembelian gabah atau beras akan mengurangi jumlah kas yang tersedia. Perilaku dari struktur keputusan dan fisik tersebut akan menuju kepada keseimbangan dan apabila tidak ada struktur baru akan mengakibatkan fenomena yang berulang. Kelancaran aliran kas pada sistem rantai pasokan beras yang ditentukan oleh ketersediaan kas akan tertekan atau terganggu apabila terjadi perubahan parameter keputusan seperti meningkatnya jumlah peredaran gabah atau beras karena musim panen raya. Fenomena panen raya tersebut mengakibatkan para pelaku pasar berhadapan dengan dua alternatif keputusan, yaitu : membeli dengan harga yang sama dalam jumlah yang lebih banyak tapi menunda pembayaran atau membeli lebih banyak dengan membayar secara tunai (seperti biasanya) tapi harganya lebih rendah. Secara rasional, para pelaku pasar akan memilih keputsan yang kedua, yaitu membeli lebih banyak secara tunai dengan harga yang lebih rendah. Kondisi tersebut akan ditransmisikan dari hulu sampai ke hilir atau dari gabah sampai ke beras. Fenomena tersebut yang selalu terjadi berulang pada sistem rantai pasokan beras di Kabupaten Bandung dan Indonesia.

180

Keuntungan Pedagang Pengumpul <Transaksi 1>

<Keluaran Beras Menir>

<Produk Sampingan>

Harga Menir

Cashflow 1

Kas di Pedagang Pengumpul

Keuntungan Pemilik RMU

Pemasukan dr Produk Sampingan

Harga Produk Sampingan

Pengeluaran Petani

Harga jual GKS di Petani Awal

<Transaksi 3> Harga jual GKS di Pedagang Pengumpul Cashflow 3 <Penggilingan oleh Pemilik RMU>

Harga Penjualan Beras Putih++ di Pemilik RMU-Awal

Kas di Petani

Harga jual GKS di Petani <Efek Stok thd Harga GKS di Petani>

Keuntungan Petani

Harga Penjualan Beras Putih++ di Pemilik RMU

<Alokasi Beras utk Bdg>

Keuntungan Pedagang Bandung <Transaksi dg Konsumen Bdg>

Kas di Bandar Cashflow 2 <Transak si 4> <Transaksi 2> Keuntungan Bandar Cashflow 4

Kas di Pemilik RMU Casflow 6 Cashflow 8

Kas di Pedagang Bandung

Revenue di Bandung Harga Penjualan Beras Putih di Pasar Bandung

Kas Penjualan Beras Baru

Harga Penjualan Beras Putih di Pasar Jakarta Cashflow 9

Cashflow 5 <Transaksi 5>

Kas di Pedagang Beras

Cashflow 7

Kas di Pedagang Jakarta

Revenue Pdg di Jakarta

Keuntungan Pedagang Beras

<Penggilingan Harga Penjualan oleh Pedangan Beras Putih di Pedagang Beras Beras>

<Alokasi Beras utk Jkt>

Keuntungan Pedagang Jakarta <Transaksi dg Konsumen Jkt>

Gambar 14. Struktur Dasar Aliran Uang Simulasi Strategi Pengembangan Sistem Rantai Pasokan Industri

Perberasan Bagian ini merupakan pengembangan dari struktur dasar aliran beras dan aliran uang pada sistem rantasi pasokan industri perberasan di Kabupaten Bandung. Kedua struktur dasar (aliran beras dan uang) di atas dikembangkan menjadi stock and flow diagram yang selanjutnya dikembangkan menjadi model simulasi dengan menggunakan perangkat lunak (software) Vensim 5.7. Model simulasi dikembangkan berdasarkan level pelaku yang terlibat, yaitu : petani, pedagang pengumpul, bandar, pedagang beras, pemilik RMU, agregat Kabupaten Bandung, pedagang beras Jakarta dan pedagang beras Bandung (Lampiran). Dalam model simulasi pada setiap level pelaku tersebut dilakukan integrasi aliran fisik berupa aliran beras dan uang serta aliran informasi berupa permintaan (order). Berdasarkan model integrasi tersebut dilakukan simulasi 181

dengan merubah parameter yang mencerminkan adanya kebijakan peningkatan produksi beras yang seringkali diterapkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Bandung selaku pemegang otoritas teknis produksi padi dan beras di Kabupaten Bandung. Strategi produksi yang biasa dilakukan pemerintah pusat dan dinas pertanian Kabupaten Bandung dalam sistem rantai pasokan inudstri perberasan di Kabuapten Bandung adalah peningkatan produktivitas dan perubahan jumlah musim tanaman (indeks pertanaman). Peningkatan produktivitas dilakukan dengan cara perubahan teknologi budidaya baik perubahan komponen teknologi maupun dan model teknologi. Komponen teknologi yang diterapkan adalah perubahan penggunaan varietas, penggunaan pupul organik, pengendalian hama dan penyakit, cara penanaman dan komponen teknologi lainnya yang diaplikasikan secara terpisah. Sedangkan model teknologi merupakan keterpaduan dari beberapa komponen teknologi yang didifusikan kepada petani secara bersamaan, seperti sistem usahatani terpadu, integrasi pasi dan ternak dan beberapa yang lainnya. Berdasarkan penerapan strategi produksi tersebut dilakukan simulasi atas struktur keputusan dan struktur fisik kondisi aktual dari sistem rantai pasokan beras di Kabupaten Bandung. Simulasi akan dilakukan dengan dengan cara melakukan perubahan produktivitas padi dan perubahan jumlah musim tanam.

Perubahan Produktivitas
1 0.95 0.9 0.85 0.8 0 1 2 3 4 5 6 Time (Year) 7 8 9 10 Dmnl Waktu Step 4 3 2 1 0 0 1 2

Perubahan Jml Musim Tanam

5 6 Time (Year)

10 Dmnl

Perubahan Produktivitas : Current Tinggi Step Perubahan Produktivitas

Perubahan Jml Musim Tanam : Current Tinggi Step1 Perubahan Jml Musim Tanam

Waktu Step1

Gambar 15. Parameter model yang disimulasikan 182


Berdasarkan hasil simulasi tersebut, diperoleh hasil bahwa persediaan (stock) gabah di petani, pedagang pengumpul dan bandar meningkat. Demikian juga peningkatan tersebut terjadi pada persediaan (stock) beras di pemilik RMU, pedagang beras di Kabupaten Bandung, pedagang beras di perkotaan Jakarta dan Bandung (Gambar 6). Meningkatnya persediaan gabah dan beras tersebut disebabkan oleh semakin rendahnya harga gabah dan harga beras. Para pelaku indsutri perberasan secara rasional menahan diri untuk menjual gabah dan beras dalam kondisi harga yang rendah dan menyimpan gabah dan beras sebagai persediaan. Mereka akan menjual gabah dan beras pada saat yang tepat, yaitu pada saat harga gabah dan beras telah meningkat.

Gambar 16. Dinamika Persediaan (stock) dan Harga Gabah dan Beras Namun demikian, kenaikan produktifitas dan jumlah musim tanaman yang menyebabkan tidak semua pelaku industri perberasan yang terlibat memperoleh keuntungan dari usahanya. Petani sebagai pelaku industri perberasan di sektor hulu mengalami kerugian di awal peningkatan produksi, selanjutnya mengalami peningkatan yang dalam tertentu, kemudian mengalami penurunan secara tajam, selanjutnya secara perlahan mengalami peningkatan kembali namun masih dibawah keuntungan yang diterma sebelum strategi dan kebijakan produksi 183

tersebut diterapkan. Kecenderungan keuntungan yang diterima oleh pedagang pengumpul, bandar, pedagang beras dan pemilik RMU di sentra produksi memiliki kecenderungan perilaku yang sama, yakni keuntungan yang diterima tidak stabil serta keuntungan yang diterima lebih rendah dibandingkan pada saat sebelum strategi dan kebijakan produksi diterapkan. Kondisi tersebut berbeda dengan yang dialami pedagang beras di pasar induk perkotaan seperti Pasar Induk Ciping Jakarta dan beras Jakarta dan pedagang di pasar beras Bandung yang mengalami keuntungan dengan kecenderungan meningkat setalah mengalami penurunan sesaat (Gambar 7 ). Berdasarkan dinamika persediaan gabah dan beras, harga gabah dan beras serta keuntungan setiap pelaku yang terlibat yang terlibat dalam rantai pasokan industri perberasan tersebut dapat disimpulkan bahwa strategi peningkatan produksi yang sering dilakukan pemerintah pusat dan pemerintah daerah tidak dapat dilakukan secara parsial tanpa memperhatikan insutrumen pengembangan rantai pasokan industri perberasan yang lain. Hal tersebut terjadi karena peningkatan produksi padi memerlukan peningkatan daya beli atau ketersediaan uang (kas) sedemikian rupa sehingga persediaan (stock) gabah dan beras dapat dibeli, dan rantai pasokan berjalan normal.

Gambar 17. Dinamika keuntungan pada setiap level pelaku

184

Strategi pengembangan rantai pasokan industri perberasan yang mampu menjamin ketersediaan beras yang cukup serta mampu menjamin kesejahteraan petani harus memadukan strategi produksi usahatani dan agroindustri beras, strategi pembiayaan yang mampu diakses oleh seluruh level pelaku usaha yang terlibat dalam rantai pasokan industri perberasan, strategi pengembangan sumberdaya manusia serta strategi pengelolan resiko usaha rantai pasokan beras secara simultan/berkesinambungan. Strategi yang terpadu tersebut perlu dilakukan karena manajemen rantai pasokan beras merupakan suatu sistem koordinasi aliran materi berupa gabah, beras, uang, fasilitas serta aliran informasi berupa order/permintaan, ide dan pengetahuan dan inovasi. Aspek utama yang perlu diperhatikan adalah suatu sistem pembelajaran pada seluruh level pelaku industri perberasan yang terlibat yang mampu menciptakan co-innovation agar menghasilkan daya saing dan kesejahteraan yang berkelanjutan. Dengan memperhatikan sistem pembelajaran tersebut, diharapkan juga dapat tercipta suatu sistem rantai pasokan industri perberasan yang berkeadilan yang dicirikan dengan tidak adan

MODEL MANAJEMEN LOGISTIK DALAM MENINGKATKAN DAYA SAING PRODUSEN SAYURAN SKALA KECIL UNTUK MEMENUHI PERMINTAAN PASAR TERSTRUKTUR
Produsen kecil merupakan pemain utama dalam agribisnis sayuran di Indonesia. Dalam menjalankan agribisnis sayuran, sebagian besar produsen kecil menghadapi resiko berupa ketidakpastian atau fluktuasi harga dari produk yang dihasilkannya. Fluktuasi harga tersebut disebabkan oleh pasokan sayuran yang tidak berkesinambungan dari sentra produksi ke pasar. Fenomena tersebut terjadi pada produsen kecil yang memasarkan sayurannya ke pasar tradisional. Kondisi tersebut berbeda dengan produsen kecil yang memasarkan hasil produksi sayurannya ke pasar terstruktur, seperti eksportir, supermarket, industri pangan dan jasa pangan. Karakteristik pasar terstruktur adalah adanya kesepakatan antara produsen dan pembelisecara formal ataupun informal berupa komitmen untuk memasok sayuran secara konsisten, baik kuantitas maupun kualitas dengan harga bersaing. Pasar terstruktur menuntut produsen kecil untuk 185

memiliki daya saing agar mampu bersaing dengan pemasok lainnya yang memiliki skala ekonomi lebih besar. Dalam upaya meningkatkan daya saing produsen kecil untuk memasok pasar terstruktur, Puslitbang Inovasi dan Kelembagaan Universitas Padjadjaran melakukan program pengembangan manajemen rantai pasok sayuran untuk memenuhi permintaan pasar terstruktur. Program tersebut diimplementasikan di beberapa sentra produksi sayuran di Jawa Barat, diantaranya adalah Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut dan Kabupaten Ciamis. Dalam menjalankan program tersebut, Puslitbang Inovasi dan Kelembagaan bekerjasama dengan berbagai pihak seperti Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat, pelaku pasar terstruktur (eksportir, supermarket, industri dan jasa pangan), kelompok tani, ACDI VOCA USAID, Syngenta Foundation, BRI dan Bank Indonesia. Pengembangan manajemen rantai pasok sayuran merupakan suatu proses kompleks yang melibatkan banyak aktor, permintaan dan pasokan sayuran yang dinamis, jumlah petani kecil yang banyak dan tersebar daya tahan produk sayuran yang terbatas, sarana dan prasarana yang terbatas, peranan kelembagaan tani yang terbatas. Dalam pengembangan manajemen rantai pasok sayuran dibutuhkan suatu sistem logistik yang mampu menghasilkan dan menyampaikan sayuran segar dengan jumlah dan kualitas yang diinginkan dari kebun sampai ke pasar. Logistik merupakan bagian dari rantai pasok yang secara spesifik terkait dengan transportasi, penyimpanan, persediaan dan manajemen transaksi. Kegagalan dalam salah satu aktivitas logistik akan menyebabkan terhambatnya distribusi dan menurunnya kualitas produk (Kanlayarat et al, 2009). Program pengembangan manajemen rantai pasok sayuran belum

memperhatikan aspek manajemen logistik. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai permasalahan yang dihadapi produsen kecil dalam program tersebut, yaitu : tingkat pengembalian produk cacat yang tinggi dari pembeli ke kelompok tani ( di atas 10 %) dan tingkat pemenuhan rasio permintaan (service level/fullfiled order ratio) di bawah 80 %. Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan, terungkap 186

bahwa penyebab kedua permasalahan tersebut adalah proses penanganan pasca

panen yang tidak tepat, tidak dilakukannya pra pendinginan dan pendinginan sayuran yang cepat di sentra produksi, belum optimalnya penjaminan kualitas produk oleh kelompok tani, manajemen penyimpanan dan persediaan yang tidak berjalan optimal di kebun dan pusat distribusi eksportir serta manajemen traksaksi yang tidak baku. Kompleksnya persoalan manajemen logistik yang dihadapi dalam program pengembangan manajemen rantai pasok sayuran untuk pasar terstruktur di Jawa Barat membutuhkan penanganan khusus. Hsiao et al (2006) menyatakan bahwa sejalan dengan semakin kompleknya kualitas, logistik dan sistem informasi dalam rantai pasok pangan telah mendorong pengembangan pelaku jasa logistik (Logistics Service Provider). Pelaku jasa logistik merupakan pelaku usaha eksternal yang melakukan aktivitas logistik pada suatu rantai pasok.

Sistem Rantai Pasok paprika


Sistem rantai pasok paprika melibatkan petani, koperasi, pedagang pengumpul sebagai para pelaku utama yang beroperasi pada sentra produksi. Selain itu, dalam rantai pasok paprika tersebut terdapat berbagai kelembagaan pasar yang beroperasi di luar sentra produksi, seperti pedagang pasar tradisional, jasa pangan, supermarket dan eksportir. Rantai pasok paprika didukung oleh produsen benih dan penjual agroinput (seperti media, nutrisi, perlengkapan greenhouse, pestisida dan lainnya). Jaringan pelaku yang terlibat dalam rantai pasok paprika di Kabupaten Barat, khususnya di Desa Pasirlangu dapat dilihat pada Gambar 18.

187

!"#"$%"&'"&$

%"#"($ )("*+#+,&"-$

./#0,(1($

2304(5"(/46$

%45"#,/$
24&6("$%(,*3/#+$

7,04("#+$

%4&'3503-$

%46"&+$

%4(3#"8""&$

9&*3#6(+$%4&*3/3&'$ 9&*3#6(+$:4&+8$ 9&*3#6(+$;'(,+&036$

Gambar 18. Rantai Pasok Paprika

Manajemen Logistik pada Sistem Rantai Pasok Paprika


Pelaku usaha yang terlibat dalam manajemen logistik paprika yang terdiri atas (1) petani yang tergabung dalam kelompok tani dengan fokus pada sektor budidaya, (2) unit layanan logistik pedesaan (logistics service provider) yang fokus pada pengelolaan logistik dari mulai logistik masuk sampai ke logistik keluar dan (3) multi pelaku pasar terstruktur dan tradisional. Dalam manajemen logistik tersebut, unit jasa layanan logistik pedesaan berperan sebagai titik pemisah pesanan dan pasokan produksi (customer order decoupling point) yang keputusan manajemennya didorong oleh pesanan konsumen (pull system) dan rencana produksinya dibuat berdasarkan peramalan permintaan konsumen atau mitra usahanya di hilir (push system), yakni pasar terstruktur (Gambar 19).

188

!$%$&(E,#"%60(
-&."&(<( /+"%*=0$%*(

7'.3%1&*(( !"'5,8$H$'(
-&."&(<( /+"%*=0$%*( !"#>$( )$&$'(

!"#>$( )$&$'(

!&,.30(

!&,.30(

@&$'%$0%*(

@&$'%$0%*(

!"')"&$H$'(

@&$'%$0%*(

!"'"&$+$'(FA!( !"&%*$+$'(4$H$'( !"#>*>*1$'( !,8$(@$'$#(.$'( 23.*.$)$(( !$'"'( G$#*'$'(93$8*1$%( /"01,&(( 23.*.$)$(

/,&1$%*(.$'(F&$.*'5( !"'5"#$%$'(

G$#*'$'(93$8*1$%( !"#$%$&$'( E*%1&*>3%*( !&,%"%(-&."&( !"'?$#*'(93$8*1$%( 4,5*%60(9"83$&(


!"#>$( )$&$'( !&,.30( -&."&(<( /+"%*=0$%*(

4,5*%60(;$%30((

!&,.30( 9"+313%$'( ;$'$?"#"'( !"#>$( )$&$'( 7#>$8(G$%$(

!'"&*#$$'(

!&"(L(J,,8*'5(( J,,8*'5(( !"')*#+$'$'( 4,5*%60(7'1"&'$8(

!$%$&(:0%+,&(

9:4-;!-9( @AB7(

!"'"&$+$'(FI!D(FE!D(IAJJ!(

MB7@(4ANABAB(4-F7/@79(!:E:/AAB(
9,'%,8*.$1,&(K$'1$*(!$%,0(

A8*&$'(7'C,&#$%*D(/*%1"#(!"'?"?$0$'(.$'(9"$#$'$'(!$'5$'((

Gambar 19. Manajemen Logistik pada Sistem Rantai Pasok Paprika Dalam upaya mengelola risiko dalam rantai pasok sayuran seperti paprika, selain melayani pasar terstruktur, unit layanan logistik pedesaan juga melayani pasar domestik, seperti supermarket dan pasar tradisional. Upaya tersebut dilakukan karena produk segar dalam suatu siklus produksi memiliki variasi kualitas (grade) yang didasarkan pada kriteria ukuran, warna dan tampilan. Berdasarkan tiga kriteria tersebut, terdapat tiga kelas kualitas (grade), yaitu (1) kualitas 1 (on grade) yang ditujukan untuk ekspor, (2) kualitas 2 (on grade) yang ditujukan untuk supermarket, industri pengolahan dan jasa pangan, serta (3) kualitas 3 (off grade) yang ditujukan untuk pasar tradisional. Dalam kondisi tertentu, permintaan pasar ekspor kurang dari kapasitas produksi dan permintan pasar domestik meningkat, maka dapat dilakukan pengalihan kualitas yang lebih baik untuk ditujukan ke pasar domestik. Terkait dengan pengelolaan risiko, khususnya bagi para petani yang memiliki keterbatasan kapasitas sumberdaya, maka unit layanan logistik menerapkan aturan main tata kelola hubungan antara petani yang merupakan anggota kelompok tani dengan sistem penyerahan. Dalam sistem penyerahan tersebut tidak terjadi transaksi antara petani dan unit layanan logistik karena unit 189

layanan logistik menjadi wakil petani untuk memasarkan dan memberikan nilai tambah pada produk sayuran seperti paprika. Unit layanan logistik menjadi penyedia jasa pemasaran dan pasca panen (post harvest and marketing service provider) yang mendapatkan penghasilan berupa imbal jasa (fee) dari petani anggota yang dilayaninya. Besaran imbal jasa tersebut sesuai dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Unit layanan logistik tersebut dapat berupa koperasi, gabungan kelompok tani (gapoktan) atau badan usaha lainnya. Dalam sistem rantai pasok yang melibatkan unit layanan logistik tersebut dilakukan pembagian tugas atau aktivitas proses bisnis. Petani dan kelompok tani melakukan aktivitas budidaya berdasarkan kaidah budidaya yang benar (good agriculture practices (GAP)), mulai dari aktivitas persiapan lahan sampai budidaya. Pengaturan pola tanam dan panen diatur dan dilaksanakan oleh kelompok tani dan mendapatkan bagian imbal jasa dari unit layanan logistik. Unit layanan logistik melakukan aktivitas sebagai penyedia jasa pasca panen dan pemasaran yang meliputi penerimaan, sortasi dan grading, pendinginan awal (pre cooling), distribusi, pemasaran dan jaminan kualitas. Unit layanan logistik memberikan dana talangan untuk harga pokok penjualan petani dan melakukan transfer keuntungan berupa bagian dari selisih penerimaan pasar dan imbal jasa setiap. Pemberian dana talangan dilakukan setiap minggu. Unit layanan logistik menjadi wakil petani anggotanya untuk bertransaksi dengan eksportir dan pelaku pasar domestik. Dalam upaya menjamin keamanan pangan, unit layanan logistik menerapkan berbagai kaidah, diantaranya adalah kaidah penanganan yang benar (good handling practices (GHP)), GDP (good distribution practices) dan HACCP (hazard analytical critical and control point).

Pengukuran Kinerja Berimbang Manajemen Logistik Pada Rantai Pasok Paprika


Pengukuran kinerja manajemen logistik pada rantai pasok paprika dilakukan mulai dari kegiatan transaksi hingga administrasi pengiriman dan pengangkutan paprika. Selain itu, kinerja manajemen logistik dapat diukur berdasarkan karakteristik hubungan yang terjalin antara unit layanan logistik dengan 190

pelanggan (petani dan pasar) yang terlihat dari tingkat kepuasan serta loyalitas yang tercipta. Tabel 3. Kinerja berimbang unit layanan jasa logistik pedesaan
Perspektif Keuangan (financial) Sasaran Strategi Ukuran Strategi Pasar Alamanda Bimandiri Kem Farm Saung Mirwan Pizza Hut Hoka Hoka Bento Pasar Tradisional Kinerja Aktual Rasio (%) Paprika Paprika Paprika hijau merah kuning 10,43 8,01 8,10 6,95 4,17 4,36 6,95 4,73 4,93 6,95 7,45 13,03 14,90 5,48 12,25 13,35

Efisiensi biaya

Rasio harga dengan biaya logistik/item produk

Paprika orange 8,66 14,71

Efisiensi biaya lembur Pelanggan (customer) Peningkatan kepuasan pelanggan Peningkatan kualitas pelayanan Proses bisnis internal (internal business process) Kepuasan pelanggan

Biaya lembur mendekati nol - SLA dengan eksportir, pasar lokal modern, dan pasar tradisional belum tercapai 100%, karena volume pengiriman barang belum sesuai dengan kesepakatan volume permintaan - Tidak ada keluhan mengenai produk, harga, mutu, dan hubungan dengan pelanggan - Tidak ada keluhan mengenai tingkat penyusutan - Tidak ada keluhan mengenai barang reject - Kecepatan waktu produksi dan waktu pengiriman cukup konsisten Pasa MCE Alamanda r 0,71 Bimandiri 0,58 Kem Farm 0,65 Saung Mirwan 0,63 Pizza Hut 0,67 Hoka Hoka Bento 0,69 Pasar Tradisional 0,63 - Produksi Paprika hijau: 12,95 kg/jam/org Paprika merah: 12,99 kg/jam/org Paprika kuning: 13,51 kg/jam/org Paprika orange: 9,61 kg/jam/org - Tidak ada waktu lembur - Tingkat kesalahan kerja dilihat pada tingkat barang reject dan tingkat penyusutan Tingkat barang reject: 5% Tingkat penyusutan: 0,5% - Harapan karyawan terpenuhi - Karyawan loyal terhadap pekerjaannya.

Tingkat keluhan

Perbaikan waktu kerja

Efektivitas siklus operasional

Program cycle effectiveness

Efektivitas dan efisiensi waktu kerja

Peningkatan kualitas produk Pembelajaran dan pertumbuhan (learning & growth) Peningkatan profesionalis me karyawan

Penurunan barang reject Penurunan penyusutan Tingkat kepuasan karyawan

Tabel 3 memperlihatkan hasil pengukuran kinerja manajemen logistik dilakukan dengan kerangka kerja balanced scorecard. Dalam pengukuran kinerja tersebut dibandingkan kinerja aktual dengan target kinerja yang telah ditetapkan. Empat perspektif yang digunakan dalam pengukuran balanced scorecard adalah perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal serta perpektif pembelajaran dan pertumbuhan.

191

Pengembangan Model Manajemen Logistik Pada Rantai Pasok Paprika


Manajemen logistik pada rantai pasok paprika memiliki struktur fisik dan keputusan yang kompleks dan bersifat dinamis. Dalam pengembangan model kualitatif (qualitative modelling) manajemen logistik pada rantai pasok paprika digunakan diagram lingkar umpan balik (causal loop diagram) untuk memahami interaksi dan hubungan sebab akibat dari berbagai variabel dalam manajemen logistik (Gambar 20).
upaya perbaikan kinerja layanan + logistik <pengiriman ke pasar tradisional> + + + + + + tingkat pemenuhan pesanan + + +

63+37%&%+'8"+%*73'
keluhan pelanggan -

#3 3:'<3 ;&1 ' + pendapatan total


layanan logistik +

keuntungan ' layanan logistik

biaya logistik -

+ + imbalan jasa logistik dan pemasaran ke pasar pengiriman ke terstruktur + pasar terstruktur imbalan jasa logistik dan pemasaran ke pasar ' + tradisional 3*"5 .' persediaan 4 ' & * + "#$% #() produk on grade

pengiriman ke pasar tradisional +

! +%&' 9":3"'' + + -!" 43&132' + produk on grade ' diproses lanjut


+ produk pesanan pasar terstruktur (on grade) +

/%*$0&1023+' persepsi pasar terhadap kinerja pemenuhan /3#3*.' pesanan


pesanan dari pasar terstruktur +

kebutuhan pengembangan basis produksi + pengembangan basis produksi baru

intensitas sortasi + tekanan waktu sortasi + + + produktivitas sortasi + + aktivitas sortasi

+ produksi

persediaan produk off grade +

produk tidak sesuai pesanan (off grade) -

!"#$%&'()*)+,' -!"#$%&'#()*.'
+ kualitas sortasi

+ jumlah yang disortasi

Gambar 20. Model Manajemen Logistik Pada Rantai Pasok Paprika Dalam merespon dinamika permintaan pasar terstruktur, pengembangan model manajemen logistik menerapkan kombinasi sistem dorong (push system) dan sistem tarik (pull system). Kombinasi tersebut mengadopsi paradigma leagility yang memadukan paradigma rantai pasok yang efisien atau ramping (lean) dengan paradigma rantai pasok yang lincah (agile). Pusat perhatian paradigma ramping dan lincah (leagility) adalah penerapan titik pemisah pesanan dan pasokan atau customer order decoupling point (van der Vorst et al, 2001). 192

Penerapan titik pemisah tersebut dalam suatu sistem rantai pasok disebut dengan sistem produksi hibrida (hybrid system). Sistem produksi hibrida tersebut bertujuan untuk merespon dinamika permintaan pasar, baik kuantitas, kualitas dan kontinuitas (Goncalves et al , 2004; Perdana et al, 2011). Van der Vorst et al (2007) menyatakan bahwa titik pemisah tersebut ditujukan untuk mengurangi persediaan dalam rantai pasok serta upaya fokus pada penetrasi konsumen dan sistem logistik. Gambar 20 memperlihatkan variabel yang termasuk dalam sistem dorong adalah kebutuhan pengembangan basis produksi, pengembangan basis produksi baru, produksi, jumlah yang disortasi, aktivitas sortasi, kualitas sortasi, produk pesanan pasar terstruktur, produk tidak sesuai pesanan, persediaa produk off grade dan pengiriman ke pasar pasar tradisional. Sedangkan variabel yang termasuk dalam sistem tarik adalah produk on grade diproses lanjut, persediaan produk on grade dan pengiriman ke pasar terstruktur. Interaksi antara berbagai variabel yang termasuk pada sistem dorong dan sistem tarik akan membentuk umpan balik negatif (negative feedback) yang berarti setiap pengembangan basis produksi akan menuju ke arah kesetimbangan untuk mengikuti setiap dinamika permintaaan pasar terstruktur. Keberhasilan penerapan sistem produksi hibrida (push-pull system) akan mendorong pertumbuhan pasar. Hal tersebut terjadi karena tingkat pemenuhan pasar yang sesuai dengan services level agreement (SLA) akan menyebabkan persepsi pasar yang baik (positive) terhadap kinerja pemenuhan pesanan sehingga pesanan dari pasar terstruktur akan meningkat. Unit layanan jasa logistik mendapatkan imbalan jasa dari setiap aktivitas nilai tambah, upaya pemasaran dan layanan logistik yang dilakukan. Semakin baik kinerja layanan unit logistik pedesaan yang dicerminkan oleh rendahnya keluhan pelanggan akan mendorong pertumbuhan basis produksi yang dimiliki petani kecil. Pertumbuhan basis produksi akan meningkatkan jumlah produksi sehingga persediaan dan pengiriman produk on grade ke pasar terstruktur dan produk off grade ke pasar tradisional akan meningkat. Semakin banyak produk on grade dan off grade yang dikirim ke pasar makan akan semakin banyak pula imbalan jasa 193

yang diterima oleh unit layanan logistik pedesaan. Kondisi tersebut menunjukkan adanya umpan balik positif (positive feedback) pada interaksi sistem produksi hibrida dengan imbal jasa, manajemen kinerja dan pertumbuhan pasar.

PEMODELAN SYSTEM DYNAMICS MANAJEMEN RANTAI PASOKAN SAYURAN UNTUK PASAR EKSPOR YANG MELIBATKAN PETANI KECIL DI INDONESIA
Dalam lima tahun terakhir, kawasan di Asia Pasifik mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, sekitar 7 % terutama Cina dan India. Pertumbuhan tersebut mendorong pertumbuhan pandapatan per kapita yang cukup tinggi dan berdampak pada permintaan sayuran dan buah segar yang meningkat. Taiwan, Korea Selatan dan Cina merupan Negara Asia Timur yang memberikan kontribusi 31,5 % bagi output kawasan Asia Pasifik. Khususnya, Taiwan dan Korea Selatan mendapatkan pasokan sayuran dan buah segar dari kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Sekalipun Cina merupakan negara produsen hortikultura yang mengekspor ke uni Eropa dan Amerika Serikat, negara tersebut untuk memenuhi kebutuhan populasinya banyak mengimpor sayuran dan buah segar dari kawasan Asia Tenggara (Kanlayanarat et al, 2009). Selain, ketiga negara di kawasan Asia Timur tersebut, Singapura, negara kecil di Asia Tenggara, banyak membutuhkan pasokan sayuran dan buah segar, sekitar 350.000 ton setiap tahunnya. Kebutuhan tersebut akan terus meningkat sejalan dengan tingginya pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Pada tahun 2009, sebagian besar pasokan sayuran dan buah segar ke Singapura berasal dari Cina dan Malaysia, Indonesia baru mendapatkan pangsa pasar sebesar 6 %. Saat ini, AVA, otoritas pangan Singapura sedang menjajaki kemungkinan pengembangan pasokan sayuran dan buah dari Indonesia untuk mengurangi ketergantungan dari Cina (Perdana, 2009). Sejak akhir tahun 2009, Pemerintah Indonesia merespon keinginan Singapura dengan mencanangkan program akselerasi pengembangan ekspor sayuran dan buah segar ke Singapura.

194

Untuk mewujudkan daya saing sayuran segar Indonesia di pasar global diperlukan suatu pengembangan sistem manajemen rantai pasokan yang mampu menciptakan dan mendistribusikan nilai tambah diantara pelaku yang terlibat dalam agribisnis sayuran. Manajemen rantai pasokan merupakan integrasi dari proses bisnis utama dari pengguna akhir melalui para pemasok yang menyampaikan produk, jasa dan informasi yang memiliki nilai tambah bagi konsumen dan stakeholders yang lain (Mentzer et al., 2001). Penciptaan nilai tambah merupakan untuk mewujudkan efisiensi usaha, sedangkan distribusi nilai tambah adalah proses untuk mewujudkan keadilan berusaha (Bunte, 2006). Efisiensi dan keadilan merupakan syarat keharusan tersebar di berbagai sentra agribisnis dan untuk mewujudkan daya saing karena karakteristik produsen komoditas sayuran Indonesia memiliki skala usaha yang kecil dan produksi. Pelibatan produsen kecil merupakan salah satu kata kunci selain daya saing dan berkeadilan dalam pengembangan rantai pasokan 2008; Da Silva and Baker, 2009). Manajemen Rantai Pasokan Sayuran Tipe manajemen rantai pasokan sayuran ekspor yang diterapkan adalah integrasi lateral yang merujuk pada pengelolaan rantai pasokan pada beberapa pelaku usaha yang independen. Alasan yang mendasari penerapan integrasi lateral (lateral integration) adalah untuk mencapai lingkup dan skala ekonomi, untuk memperbaiki fokus bisnis dan kepakaran serta memungkinkan pengelolaannya (APICS, 2008). Pengembangan manajemen rantai pasokan sayuran yang melibatkan petani kecil untuk memenuhi pasar ekspor terdiri atas dua alternatif yakni (1) manajemen rantai pasokan yang melibatkan organisasi produsen seperti kelompok tani dan koperasi; dan (2) manajemen rantai pasokan yang melibatkan pedagang. Berdasarkan kedua alternatif manajemen rantai pasokan tersebut dilakukan pemodelan dan simulasi untuk memperoleh suatu model manajemen rantai pasokan sayuran yang efisien dan berkeadilan. 195

agroindustri di negara berkembang (Chowdury et al. 2005; Vorley and Proctor,

Gambar 21 memperlihatkan bahwa pelaku usaha yang terlibat dalam manajemen rantai pasokan sayuran ekspor terdiri atas (1) petani yang tergabung dalam kelompok tani dengan fokus pada sektor budidaya, (2) koperasi yang fokus pada sektor rumah kemasan dan (3) eksportir yang fokus pada sektor pusat distribusi. Dalam model alternatif ini, koperasi berperan sebagai titik pemisah pesanan dan pasokan produksi (customer order decoupling point) yang keputusan manajemennya didorong oleh pesanan konsumen (pull system) dan rencana produksinya dibuat berdasarkan peramalan permintaan konsumen atau mitra usahanya di hilir (push system), yakni eksportir. Penerapan titik pemisah tersebut dalam suatu sistem rantai pasokan disebut dengan sistem produksi hibrida (hybrid system). Sistem produksi hibrida tersebut bertujuan untuk merespon dinamika permintaan pasar, baik kuantitas, kualitas dan kontinuitas (Goncalves et al ,2004; Perdana et al, 2008;). Van der Vorst et al (2007) menyatakan bahwa titik pemisah pesanan dan pasokan tersebut ditujukan untuk mengurangi persediaan dalam rantai pasokan serta upaya fokus pada penetrasi konsumen dan sistem logistik. Verdouw et al (2006) berpendapat bahwa penggunaan titik pemisah pesanan dan pasokan tersebut merupakan karakteristik dari jaringan rantai permintaan (demand driven chain network) yang mengkombinasikan aspek efisien untuk memenuhi permintaan dan aspek fleksibilitas dalam menghadapi perubahan permintaan. Dalam upaya mengelola risiko dalam rantai pasokan sayuran, selain melayani pasar ekspor, koperasi juga melayani pasar domestik, seperti supermarket dan pasar tradisional. Upaya tersebut dilakukan karena produk sayuran segar dalam suatu siklus produksi memiliki variasi kualitas (grade) yang didasarkan pada kriteria ukuran, warna dan tampilan. Berdasarkan tiga kriteria tersebut, terdapat tiga kelas kualitas (grade), yaitu (a) kualitas 1 yang ditujukan untuk ekspor, (b) kualitas 2 yang ditujukan untuk supermarket dan (c) kualitas 3 yang ditujukan untuk pasar tradisional.

196

Pasar Domestik
Order & Spesifikasi

Produk

Transaksi
Penyerahan

Pemba yaran

Transaksi

Transaksi

Penerapan GAP
Persiapan Lahan Pembibitan

Penerimaan Cooling

Penerimaan
Sortasi dan Grading

Produk

Produk Keputusan Manajemen Pemba yaran

Penyimpanan
Pemasaran dan Distribusi Proses Order

Pemba yaran Produk


Order & Spesifikasi

Pola Tanam dan Budidaya


Panen Jaminan Kualitas

Keputusan Manajemen
Pemba yaran Transfer Keuntungan

Pre - Cooling Distribusi Jaminan Kualitas Sektor Rumah Kemasan

Pasar Ekspor

Penjamin Kualitas
Sektor Pusat Distribusi

Sektor Budidaya

KELOMPOK TANI

Penerapan GHP, GDP, HACCP

KOPERASI
Konsolidator

EKSPORTIR

Aliran Informasi, Sistem Penjejakan dan Keamanan Pangan

Gambar 21. Model manajemen rantai pasokan sayuran ekspor yang melibatkan koperasi (alternatif 1) Terkait dengan pengelolaan risiko, khususnya bagi para petani yang memiliki keterbatasan kapasitas sumberdaya, maka koperasi menerapkan aturan main tata kelola hubungan antara petani yang merupakan anggota koperasi dan koperasi dengan sistem penyerahan. Dalam sistem penyerahan tersebut tidak terjadi transaksi antara petani dan koperasi. Koperasi menjadi wakil petani untuk memasarkan dan memberikan nilai tambah pada produk sayuran. Koperasi menjadi penyedia jasa pemasaran dan pasca panen (post harvest and marketing service provider) yang mendapatkan penghasilan berupa imbal jasa (fee) dari petani anggota yang dilayaninya. Besaran imbal jasa tersebut sesuai dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Peran koperasi dalam pemasaran dan pasca panen tersebut sejalan dengan pemikiran Erickson et al (2001) yang menyatakan bahwa koperasi merupakan suatu bentuk badan usaha yang dimiliki, dikelola dan dikontrol anggotanya serta memiliki komitmen untuk membantu anggotanya untuk memperbaiki harga 197

produk yang dihasilkan, menemukan pasar dan meningkatkan posisi tawar menawar. Upaya tersebut hanya dapat dilakukan secara kolektif dalam bentuk koperasi (Hanson, 2002). Manajemen rantai pasokan sayuran yang efisien dan berkeadilan memerlukan aliran informasi yang transparan. Dalam mewujudkan kondisi tersebut, dilakukan pendampingan teknis, manajerial dan kelembagaan oleh konsolidator yang dikelola oleh Pusat Rantai Nilai (Value Chain Center) Puslitbang Inovasi dan Kelembagaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Padjadjaran. Konsolidator tersebut menjadi jembatan antara petani, kelompok tani, koperasi dan eksportir. Konsolidator tersebut berada di sentra produksi untuk bekerja sama dengan petani, kelompok tani dan koperasi untuk memenuhi pesanan eksportir. Setiap minggu konsolidator melakukan pengajuan rencana tanam dan panen yang dibuat bersama dengan kelompok tani dan koperasi kepada eksportir. Pusat Rantai Nilai bersama dengan manajemen eksportir melakukan evaluasi mingguan untuk memperbaiki secara berkelanjutan (continous improvement) manajemen rantai pasokan yang dikembangkan. Dalam upaya memperkuat manajemen rantai pasokan yang dikembangkan dan untuk replikasi model, Pusat Rantai Nilai LPPM UNPAD bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian dan Program AMARTA (Agribusiness Market Support Acitivity) USAID mengembangkan konsorsium hortikultura Jawa Barat. Dalam konsorsium tersebut tergabung multi pemangku kepentingan agribisnis hortikultura dari tingkat sentra produksi, kabupaten, propinsi dan nasional. Pemangku kepentingan tersebut adalah petani, kelompok tani, koperasi, pelaku pasar (industri, eksportir, supermarket, pasar tradsional), pedagang/pemasok, lembaga pembiayaan (perbankan dan non perbankan), perguruan tinggi, lembaga penelitian, lembaga pendukung pembangunan luar negeri, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, peruahaan agroinput dan asosiasi.

198

Pasar Domestik
Order & Spesifikasi

Produk

Transaksi

Pemba yaran

Transaksi

Transaksi

Transaksi

Penerapan GAP Persiapan Lahan Pembibitan

Penerimaan Cooling

Penerimaan
Sortasi dan Grading

Produk

Produk Keputusan Manajemen Pemba yaran

Penyimpanan
Pemasaran dan Distribusi Proses Order Penjamin Kualitas

Pemba yaran Produk Order & Spesifikasi

Pola Tanam dan Budidaya


Panen

Pre - Cooling
Keputusan Manajemen

Pasar Ekspor

Distribusi Jaminan Kualitas

Jaminan Kualitas Sektor Budidaya

Pemba yaran

Sektor Rumah Kemasan

Sektor Pusat Distribusi

KELOMPOK TANI

Penerapan GHP, GDP, HACCP

PEDAGANG
Konsolidator

EKSPORTIR

Aliran Informasi, Sistem Penjejakan dan Keamanan Pangan

Gambar 22. Model manajemen rantai pasokan sayuran ekspor yang melibatkan pedagang (alternatif 2) Konsorsium hortikultura tersebut bertujuan untuk meningkatkan akses pelaku agribisnis hortikultura terutama petani terhadap lima aspek, yaitu : agroinput, teknologi, pasar, pembiayaan dan informasi. Dengan demikian, ketersediaan lima aspek tersebut menjadi mudah bagi para pelaku agribisnis terutama petani. Format konsorsium serupa dengan Sistem Inovasi Pertanian (Agriculture Innovation System) yang dikembangkan Chairatana (2000). Sistem inovasi pertanian merupakan jaringan para pemangku kepentingan dan rantai pasokan agribisnis yang berkonsentrasi pada kreativitas, inisiasi, interaksi, kerjasama dan komitmen untuk menghasilkan kebaharuan yang terukur (tangible) dan tidak terukur (intangible) kepada pasar dan masyarakat. Semakin tinggi tekanan meningkatkan konsistensi pasokan maka tuntutan untuk meningkatkan kualitas produk sayuran menjadi semakin bertambah. Respon untuk meningkatkan kualitas dari konsumen harus dilakukan dengan cepat karena 199

kegagalan terhadap respon kualitas mengakibatkan kepercayaan konsumen hilang dan akan menghentikan pesanan kepada eksportir. Berbeda dengan pasokan produk sayuran dari eksportir yang kurang hanya akan menurunkan jumlah pesanan ulangnya. Tuntutan untuk meningkatkan kualitas produk sayuran dilakukan dengan cara meningkatkan intensitas penerapan kaidah budidaya sayuran yang baik (good agriculture practices (GAP)). Semakin tinggi intensitas penerapan GAP akan meningkatkan produk sayuran kualitas 1 yang ditujukan untuk pasar ekspor. Dengan demikian, penjualan produk sayuran kualitas 1 ke eksportir akan semakin banyak, baik dari koperasi ataupun pedagang. Keterkaitan variabel dari mulai eksportir pesaing, tekanan untuk meningkatkan konsistensi pasokan, tuntutan untuk meningkatkan kualitas produk, penerapan GAP sampai dengan keuntungan eksportir membentuk suatu negative feedback. Umpan balik negatif (negative feedback) tersebut berarti bahwa setiap upaya untuk meningkatkan kualitas produk akan menuju arah kesetimbangan sesuai dengan biaya yang dikeluarkan eksportir. Peningkatan intensitas penerapan GAP juga akan meningkatkan

produktivitas tanaman

sehingga jumlah produksi petani meningkat. Sejalan

dengan jumlah produksi yang meningkat, maka jumlah produk yang disortasi meningkat pula dan produk kualitas 1 untuk tujuan pasar ekspor akan meningkat. Semakin banyak produk kualitas ekspor maka penjualan produk kualitas ekspor akan meningkat, baik yang berasal dari koperasi sebagai wakil petani maupun dari pedagang. Penjualan produk dari koperasi maupun eksportir yang meningkat akan meningkatkan jumlah persediaan kualitas ekspor di pusat distribusi (gudang) eksportir sehingga pengiriman ke luar negeri akan terjamin pasokannya. Keuntungan eksportir dari pengiriman produk sayuran ke luar negeri ditentukan oleh biaya yang dikeluarkan. Semakin tinggi biaya yang dikeluarkan maka keuntungan yang dapat diperoleh eksportir semakin rendah. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa umpan balik yang terjadi pada keterkaitan 200

variabel eksportir pesaing, penerapan GAP, produktivitas, jumlah yang disortasi, produk kualitas 1 sampai dengan biaya yang dikeluarkan dan keuntungan eksportir merupakan umpan balik negatif. Namun demikian, apabila sistem operasi eksportir berjalan efisien dan pengiriman sayuran kualitas 1 ke luar negeri bertambah maka pendapatan eksportir akan meningkat serta keuntungannya akan meningkat pula. Kondisi demikian terjadi karena Keterkaitan variabel dari mulai eksportir pesaing, tekanan untuk meningkatkan konsistensi pasokan, tuntutan untuk meningkatkan kualitas produk, penerapan GAP sampai dengan pendapatan eksportir dan keuntungan eksportir membentuk umpan balik positif. Umpan balik positif (positive feedback) tersebut berarti bahwa upaya meningkatkan kualitas produk akan meningkatkan pendapatan eksportir. Demikian halnya juga terjadi pada peningkatan intensitas penerapan GAP yang akan meningkatkan produksi petani dan akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan keuntungan eksportir. Jumlah pesaing eksportir bertambah akan mengurangi pangsa pasar produk eksportir. Kondisi tersebut terjadi karena pangsa pasar yang ada terbagi karena jumlah eksportir yang terlibat semakin banyak. Pangsa pasar produk sayuran eksportir meningkat akan meningkatkan jumlah pesanan produk sayuran ke eksportir. Dalam kurun waktu tertentu, jumlah pesanan produk ke eksportir akan meningkatkan produksi petani sehingga jumlah produk yang disortasi akan meningkat. Peningkatan jumlah produk yang disortasi akan menambah jumlah produk kualitas ekspor. Sub Model Budaya Sistem budidaya pada komoditas agribisnis tersebut meliputi penanaman benih untuk sayuran, fase pertumbuhan, produksi dan penuaan tanaman serta panen yang dapat dilakukan beberapa kali dalam kurun waktu tertentu pada saat tanaman berada pada fase produksi. Dalam sub model model budidaya tersebut terlihat bahwa penanaman sayuran oleh petani ditentukan jumlah benih yang ditanam secara rutin oleh petani, benih tanaman yang diinginkan serta waktu menanam. Selanjutnya, terdapat akumulasi jumlah tanaman yang sedang dalam 201

fase masa tumbuh. Pertumbuhan tanamanan ditentukan laju tanaman tumbuh dan besaran tanaman yang tumbuh. Pada fase pertumbuhan tersebut terdapat akumulasi tanaman masa produksi yang akan menghasilkan produk. Tanaman yang melewati fase produksi akan mengalami penuaan sehingga secara rutin harus diadakan penggantian agar kontinuitas produksi bisa dipertahankan sesuai dengan rencana produksi. Sub Model Manajemen Kapasitas Produksi Dalam mempertahankan konsistensi pasokan, kelompok tani bekerjasama dengan koperasi atau pedagang untuk merencanakan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar ekspor. Setiap kenaikan pesanan eksportir akan direspon dengan perencanaan kebutuhan pengembangan penanaman yang baru. Manajemen kapasitas produksi didorong oleh peramalan pesanan dari pasar yang direpresentasikan oleh jumlah pasokan setiap kelas kualitas produk yang diinginkan menuju proses lanjutan di rumah kemasan yang dikelola oleh koperasi atau pedagang. Selanjutnya direncanakan kapasitasnya berdasarkan produksi petani yang ada, produktivitas tanaman, waktu panen, bagian tanaman yang tumbuh dan waktu produksi tanaman. Perencanaan kapasitas tersebut merupakan bagian dari sistem produksi dorong pada rantai pasokan sayuran yang dikembangkan. Sub Model Rekayasa Kualitas Dalam penelitian ini dilakukan agregasi kualitas sayuran ke dalam tiga kelompok kualitas (grade), yaitu kualitas 1, kualitas 2 dan kualitas 3. Setiap kelompok kualitas tersebut ditujukan untuk segmen pasar yang berbeda, yaitu : pasar ekspor, supermarket dan pasar tradisional. Proses rekayasa kualitas berupa sortasi dan pengkelasan ini dilakukan di rumah kemasan yang dikelola oleh koperasi atau pedagang. Sub Model Proses Lanjutan Sayuran hasil rekayasa kualitas dilanjutkan ke proses pengemasan dan pra pendinginan berdasarkan spesifikasi pesanan dari eksportir. Proses lanjutan ini 202

dilakukan di rumah kemasan sebagai bagian dari proses bisnis yang dilakukan oleh koperasi atau pedagang. Sub Model Pusat Distribusi Eksportir Koperasi atau pedagang setelah melakukan proses lanjutan di rumah kemasan yang dimiliki melakukan penjualan kepada eksportir. Dalam penelitian ini, eksportir yang menjadi mitra pasar adalah PT. Alamanda Sejati Utama, salah satu eksportir hortikultura terbaik di Indonesia. PT. Alamanda Sejati Utama memiliki pusat distribusi yang terletak di daerah Banjaran, Kabupaten Bandung. Perusahaan eksportir melakukan kemitraan berupa kontrak produksi dengan koperasi atau pedagang untuk menjadi pemasok sayuran. Kontrak tersebut dilaksanakan untuk dalam jangka waktu tertentu, umumnya empat bulan. Kontrak tersebut dapat diperbaharui secara berkelanjutan. Berdasarkan kesepakatan dalam kontrak, eksportir akan mengambil produk dengan kualitas yang sesuai spesifikasi pasar ke koperasi atau pedagang. Pengambilan tersebut dilakukan karena koperasi atau pedagang belum memiliki kendaraan pendingin sebagai salah satu syarat untuk mempertahankan kualitas produk dalam pengembangan manajemen rantai pasokan sayuran. Produk yang diambil akan dikirim ke pusat distribusi eksportir di Banjaran. Pusat distribusi melakukan beberapa aktivitas, yaitu : penerimaan, pendinginan, penyimpanan, pemasaran dan distribusi, pengolahan oder (pesanan) serta penjaminan kualitas atas produk yang dikirimkan ke pembeli di luar negeri. Sayuran yang dibeli dari koperasi atau pedagang merupakan produk yang siap dipasarkan dan telah dijamin kualitasnya oleh koperasi atau pedagang sebagai mitra pemasok, tetapi agar memenuhi kapasitas kontainer untuk setiap pengiriman maka dilakukan penyimpanan di pusat distribusi. manajemen pusat distribusi menetapkan target/cakupan persediaan pengaman selama tiga hari. Penetapan waktu tersebut didasarkan pada interval pengiriman produk ke luar negeri sebanyak dua kali serta untuk tetap menjaga produk agar tetap segar pada saat tiba di luar negeri. 203

Sub Model Pasar Ekspor Secara umum pasar yang memberikan pesanan dipandang sebagai faktor eksternal, pelaku usaha tidak dapat mempengaruhinya tapi pasar yang mempengaruhi pelaku uaha. Namun, dalam penelitian ini dikembangkan sub model pasar ekspor dan pesanan sayuran yang bersifat endogen. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana struktur keputusan fisik dan keputusan yang dilakukan pelaku usaha sepanjang rantai pasokan sayuran direspon oleh pasar ekspor. Selanjutnya, pasar memberikan umpan balik terhadap pesanan kepada eksportir yang selanjutnya diteruskan kepada pelaku usaha yang lainnya, seperti koperasi, pedagang dan petani. Dengan demikian, dalam penelitian ini akan diketahui penyebab struktural terjadinya dinamika pada interaksi rantai pasokan industri sayuran dengan pasarnya. Kinerja eksportir dalam memenuhi setiap pesanan sayuran akan dipersepsikan oleh pembeli. Persepsi fraksi pesanan sayuran yang dapat terpenuhi akan menentukan daya tarik eksportir di pasar, apabila pasar/ pembeli mempersepsikan eksportir mampu memenuhi setiap pesanan maka daya tarik perusahaan di pasar akan bertahan. Namun, apabila pasar mempersepsikan eksportir dan rantai pasokan yang terlibat tidak mampu memenuhi setiap pesanan secara penuh maka daya tarik perusahaan di pasar akan turun sehingga pangsa pasar yang dikuasai eksportir akan berkurang. Secara non linier, kondisi tersebut akan berdampak pada pengurangan jumlah pesanan yang akan disampaikan kepada eksportir. Model manajemen rantai pasokan sayuran ekspor yang melibatkan koperasi merupakan suatu bentuk aksi kolektif dari petani kecil dan kemitraan antara publik dan swasta (public-private partnership) untuk memenuhi tuntutan pasar global yang dinamis. Kemitraan publik dan swasta tersebut direpresentasikan adanya peran konsolidator dari perguruan tinggi dan konsorsium yang melibatkan para pemangku kepentingan dalam agribisnis hortikultura seperti pengusaha, pemerintah, LSM dan perguruan tinggi.

204

Narrod et al (2007) menyatakan bahwa aksi kolektif serta kemitraan publik dan swasta akan menjamin partisipasi petani kecil dalam rantai pasokan sayuran. Aksi kolektif akan meningkatkan tawar menawar petani kecil dalam pemasaran hasil produksinya, sedangkan kemitraan publik dan swasta berperan dalam menciptakan akses pasar ekspor bagi

TRIPLE HELIX MODEL DALAM IMPLEMENTASI SISTEM MANAJEMEN LOGISTIK PADA RANTAI PASOK SAYURAN

Peranan Universitas Dalam Triple Helix Model Pada akhir tahun 2009, Value Chain Center (VCC) Puslitbang Inovasi dan Kelembagaan Universitas Padjadjaran bersama dengan Asosiasi Eksportir Sayuran dan Buah Indonesia (AESBI) terlibat dalam kegiatan akselerasi peningkatan ekspor sayuran dan buah Indonesia ke Singapura bersama dengan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. VCC menjadi salah satu anggota taskforce ekspor sayuran dan buah Indonesia ke Singapura bersama dengan eksportir, asosiasi petani, Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian Propinsi dan AVA (Agrifood and Veterinary Authority) Singapore. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan taskforce ekspor, pada awal tahun 2010 dilakukan kesepakatan kerjasama antara Rektor Universitas Padjadjaran dengan Direktur Utama PT. Alamanda Sejati Utama, Eksportir Hortikultura, untuk membangun manajemen rantai pasok sayuran dan buah untuk memenuhi pasar ekspor. Kesepakatan tersebut disaksikan juga oleh Direktur Sayuran Kemneterian Pertanian Indonesia, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat dan perwakilan AMARTA USAID. Dalam kerjasama tersebut, VCC menjadi pelaksana kegiatan. Dalam implementasi kerjasama tersebut, VCC menerapkan model manajemen rantai pasok sayuran yang dikembangkan oleh tim VCC dengan menggunakan pendekatan System Dynamics. Model tersebut dimplementasikan 205

pada komoditas buah-buahan juga karena memiliki karakteristik proses bisnis serupa. Model tersebut merupakan integrasi enam komponen manajemen rantai pasok yang terdiri atas restrukturisasi rantai pasokan, rekayasa kualitas, sistem produksi hibrida, inovasi kelembagaan, sistem pengukuran kinerja berimbang dan konsolidator (Gambar 23).

/*&3420324'&%&'(( /%"3%'(5%&#0%"(

!"#$%&'(( )*+*,-%.%%"(

)#"&#+'7%3#4(

/*0%1%&%( )2%+'3%&(

6'&3*,(54#720&'( 8'-4'7%(

5*".2024%"()'"*49%( :*4',-%".(

Gambar 23. Model Manajemen Rantai Pasok Sayuran Yang Melibatkan Petani Kecil

Keenam komponen tersebut berinteraksi secara sistematis untuk mencapai tujuan berupa sistem rantai pasok yang efisien, responsif, inklusif dan berkeadilan. Dengan demikian, apabila salah satu komponen tersebut tidak terdapat dalam suatu manajemen rantai pasokan sayuran maka sistem tersebut tidak akan mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Demikian juga halnya, apabila salah satu komponen tersebut mengalami penyimpangan atau kegagalan.

206

Restrukturisasi rantai pasok yang dilakukan harus mampu menyampaikan aliran material, aliran uang dan aliran informasi secara tepat kuantitas, tepat kualitas, tepat waktu, tepat harga, transparan, aman pangan dan berkesinambungan sehingga memuaskan dan melindungi konsumen. VCC Universitas Padjadjaran telah melakukan restrukturisasi rantai pasok sayuran dan buah dengan memberikan akses kepada petani kecil untuk berhubungan langsung dengan eksportir, PT. Alamanda Sejati Utama. Petani kecil didorong untuk menerapkan sistem kolektif usaha melalui pembentukan atau penguatan kelompok tani dan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) untuk berperan sebagai representasi petani dalam berhubungan dengan pasar. Sistem kolektif tersebut menggantikan peran pedagang yang mengumpulkan sayuran dan buah dari para petani, namun dalam sistem kolektif tersebut tidak terjadi transaksi antara petani kecil dengan kelompok taninya. Rekayasa kualitas harus mampu menciptakan nilai tambah yang sesuai dengan dinamika permintaaan pasar. Rekayasa kualitas dilakukan dengan menerapkan panen pilih, sortasi dan grading, penerapan sistem rantai pendingin, penerapan standar prosedur operasi GAP (Good Agriculture Practices) dan Good Handling Practices. Rekayasa kualitas dilakukan oleh kelompok tani atau gapoktan sebagai bagian dari pelayanan yang diberikan kepada anggotanya. Sistem produksi hibrida merupakan penerapan titik pemisah pesanan dan produksi pada suatu rantai pasok sehingga terjadi kesesuaian antara aspek pasokan (produksi) dengan aspek permintaan pasar. Dalam implementasinya, Gapoktan didorong untuk berperan sebagai titik pemisah pesanan dan pasokan produksi (customer order decoupling point) yang keputusan manajemennya didorong oleh pesanan konsumen (pull system) dan rencana produksinya dibuat berdasarkan peramalan permintaan konsumen atau mitra usahanya di hilir (push system), yakni eksportir. Sistem produksi hibrida tersebut bertujuan untuk merespon dinamika permintaan pasar, baik kuantitas, kualitas dan kontinuitas (Goncalves et al ,2004; Perdana et al, 2008;). Van der Vorst et al (2007) menyatakan bahwa titik pemisah pesanan dan pasokan tersebut ditujukan untuk mengurangi persediaan dalam rantai pasokan serta upaya fokus pada penetrasi konsumen dan 207

sistem logistik. Verdouw et al (2006) berpendapat bahwa penggunaan titik pemisah pesanan dan pasokan tersebut merupakan karakteristik dari jaringan rantai permintaan (demand driven chain network) yang mengkombinasikan aspek efisien untuk memenuhi permintaan dan aspek fleksibilitas dalam menghadapi perubahan permintaan. Komponen struktur jaringan rantai pasok, rekayasa kualitas dan sistem produksi hibrida akan menentukan pencapaian tujuan sistem yang efisien. Bersamaan dengan terciptanya sistem yang efisien, komponen inovasi kelembagaan akan menciptakan distribusi nilai tambah yang berkeadilan. Inovasi kelembagaan yang dikembangkan harus mampu mengatasi berbagai risiko usaha yang timbul akibat keterbatasan sumberdaya yang dimiliki pelaku usaha. Ruttan (2006) menyatakan bahwa inovasi kelembagaan merupakan aturan main dari suatu komunitas masyarakat atau organisasi yang memfasilitasi koordinasi antar pelaku sosial yang terlibat untuk membantu mewujudkan harapannya. Dengan aturan main tersebut, setiap pelaku mempunyai alasan atau motivasi untuk terlibat dalam komunitas atau organisasi. Dalam aspek hubungan ekonomi, kelembagaan memiliki peranan sangat penting dalam mewujudkan harapan mengenai hak untuk menggunakan sumberdaya dalam aktivitas ekonomi dan pembagian pendapatan yang dihasilkan dari aktivitas ekonomi. Dengan demikian, kelembagaan memberikan jaminan penghormatan atas aksi yang dilakukan setiap orang yang terlibat dalam suatu komunitas atau organisasi serta memberikan stabilitas pengharapan dalam hubungan ekonomi yang tidak pasti dan kompleks. Lebih lanjut, Shirley dan Meenard (2008) menyatakan bahwa suatu kelembagaan harus mampu mereduksi berbagai resiko dan biaya transaksi yang timbul dari keterbatasan informasi dan kapasitas mental pelaku ekonomi yang terlibat. Dalam upaya mengetahui distribusi nilai tambah dan sistem yang efisien diperlukan sistem pengukuran kinerja berimbang. Sistem pengukuran tersebut meliputi perspektif keuangan, perspektif konsumen, perspektif proses bisnis internal, perspektif pertumbuhan dan pembelajaran serta perspektif nilai tambah. Konsolidator adalah pihak yang menjembatani antara kepentingan produsen dan pelaku di sentra produksi dengan pelaku pasar yang berada di luar sentra 208

produksi Produsen dan pelaku di sentra produsen didampingi oleh konsolidator dalam aspek teknik produksi, manajerial dan kelembagaan sehingga mampu memenuhi permintaan pasar. Selain itu, konsolidator juga berperan untuk meningkatkan akses produsen, pelaku di sentra produksi dan pelaku pasar terhadap agroinput, teknologi , pasar dan pembiayaan. Dalam model tersebut, VCC berperan sebagai konsolidator rantai pasok yang memberikan pelayanan kepada eksportir dan petani kecil dalam aspek teknis, manajerial, kelembagaan serta akses pada teknologi, pembiayaan dan pasar. Lingkup kerjasama tersebut meliputi komoditas sayuran yang terdiri atas buncis, paprika, sayuran daun, zucchini, radish, jagung, bawang daun dan cabe merah. Sedangkan komoditas buah terdiri atas jambu merah (pink guava) dan mangga. Adapun lingkup daerah pelayanannya adalah Pangalengan dan Ciwidey di Kabupaten Bandung, Cisarua dan Lembang di Kabupaten Bandung Barat, Panyingkiran dan Maja di Kabupaten Majalengka serta Jonggol di Kabupaten Bogor. Dalam kerjasama tersebut, untuk mewujudkan suatu sistem manajemen layanan logistik pedesaan, Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat mendukung dengan memberikan bantuan fasilitas rumah kemasan dan sistem rantai pendingin kepada kelompok tani yang menjadi mitra VCC dan eksportir. Sampai saat ini, telah dibangun empat rumah kemasan yang dilengkapi dengan gudang berpendingin untuk komoditas sayuran, yakni buncis, sayuran daun dan paprika, yang terletak di sentra produksi Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung yang menjadi lokasi penelitian dari riset implementatif mengenai sistem layanan logsitik pedesaan pada rantai pasok sayuran. VCC menempatkan staf pada beberapa kelompok tani yang menjadi mitra. Staf VCC tersebut merupakan konsolidator lapangan yang bertugas setiap hari untuk mendampingi petani kecil dalam memenuhi permintaan eksportir. Staf VCC bersama-sama dengan kelompok tani dan eksportir membuat perencanaan produksi bersama berdasarkan permintaan pasar ekspor yang telah disepakati dalam kontrak antara kelompok petani dan eksportir. Staf VCC tersebut dibiayai 209

dari imbalan yang diperoleh VCC dari setiap volume sayuran yang terkirim dan memenuhi persyaratan untuk diekspor ke Singapura. Berdasarkan hasil evaluasi terdapat dua tipe resiko yang dihadapi pihak dalam interaksi antara petani kecil-VCC-eksportir dalam pengembangan manajemen rantai pasok sayuran, termasuk didalamnya pengembangan sistem layanan logistik pedesaannya. Pertama adalah resiko yang bisa diatasi oleh interaksi petani kecil-VCC-eksportir, seperti kurang solidnya kelompok tani, produk cacat yang tinggi karena proses bisnis eksportir yang tidak tepat dan ketidakmampuan staf lapangan. Kedua adalah resiko yang tidak bisa diatasi oleh interaksi petani kecil-VCC-eksportir seperti pembatalan pesanan, pembayaran tunda; kualitas agroinput yang tidak baik dan perubahan iklim yang tidak terduga. Dalam mengatasi resiko yang tidak bisa diatasi oleh interaksi petani kecilVCC-eksportir, VCC bekerjasama dengan pihak seperti perbankan (Bank Indonesia dan Bank Rakyat Indonesia), ACDI VOCA, Syngenta Foundation, pelaku pasar lain (supermarket dan agroindustri) serta meningkatkan peran dari pemerintah daerah. Dengan interaksi multipihak tersebut, berbagai resiko-resiko dapat dikurangi sehingga terjadi peningkatan kinerja pasokan sayuran dan buah dari petani kecil. Berdasarkan pembahasan di atas, inovasi kelembagaan yang terdapat dalam pengembangan manajemen rantai pasok sayuran untuk memenuhi pasar global terdiri atas 3 (tiga) level, yakni : a. Level Produsen berupa sistem kolektif yang meliputi aturan main tata kelola hubungan antara petani kecil dengan kelompok tani atau gapoktan yang menerapkan sistem penyerahan atau tidak melakukan transaksi karena gapoktan merupakan representasi dari petani kecil b. Level Rantai Pasok berupa aturan main tata kelola hubungan antara produsen dengan pasar. Gapoktan sebagai wakil petani melakukan kontrak tertulis dengan eksportir atau pembeli lainnya yang difasilitasi dan didampingi oleh VCC.

210

c.

Level Klaster Pertanian berupa aturan main tata kelola interaksi antara petani kecil dan eksportir dengan stakeholder yang bertujuan untuk meningkatkan akses petani kecil terhadap agroinput, teknologi, pembiayaan dan akses pasar. Dalam interaksi tersebut, VCC berperan sebagai pengelola hubungan atau hub antara petani kecil dengan berbagai pihak, seperti bank, pemerintah, lembaga donor, perusahaan agroinput dan lainnya.

Memahami Triple Helix Model dengan Pemodelan Sistem Dalam bagian ini akan dibahas peranan Triple Helix Model yang dikelola oleh VCC Universitas Padjadjaran dalam pengembangan manajemen rantai pasok sayuran dan buah yang melibatkan petani kecil untuk memenuhi pasar global dengan menggunakan pemodelan sistem. Causal Loop Diagram (CLD) digunakan sebagai alat untuk memahami interaksi yang kompleks dari berbagai variabel pada peranan triple helix model. Triple helix model sebagai inovasi kelembagaan pada level klaster pertanian berperan sebagai peredam risiko (shockbreaker) dengan memberikan layanan peningkatan kapasitas petani kecil agar mampu mengakses agroinput yang berkualitas, teknologi, pembiayaan dan pasar. Gambar 24 memperlihatkan interaksi yang kompleks dari peranan triple helix model.

211

akses thd pembiayaan rantai pasok

+ peranan fasilitasi + konsorsium (Triple Helix Model) + + +

+ pembiayaan rantai pasok

kebutuhan program pengurangan reject +

kebutuhan akses pembiayaan rantai pasok +

+ akses pasar

program pelatihan manajemen produksi dan akses thd agroinput pasca panen kebutuhan akses thd agroinput + kebutuhan akses pasar + + + -

risiko keuangan + produk reject + + pembayaran dari pembeli

risiko ketersediaan agroinput risiko produk reject + + + ketersediaan agroinput risiko pasar +

piutang pembeli + pasokan produk +

persediaan +

permintaan + pesanan + + produksi +

pendapatan + siklus kas + +

kemampuan produksi +

ketersediaan kas

Gambar 24. CLD peranan triple helix model dalam pengembangan manajemen rantai pasok dan logistik sayuran Dalam pemodelan sistem, pembahasan peranan triple helix model bisa dimulai dari bagian mana saja, tetapi dalam artikel ini pembahasan akan dimulai dari akses pasar. Hal tersebut dilakukan karena VCC memulai aktivitas pengembangan manajemen rantai pasok sayuran dan buah dengan membangun pasar bersama eksportir dan pelaku pasar lainnya. Secara khusus Gambar 25 memperlihatkan peranan fasilitasi Triple Helix Model dalam meningkatkan akses pasar petani kecil kepada pasar ekspor. Pada umumnya petani kecil Indonesia memasarkan hasil produksi sayuran dan buahnya ke pasar tradisional melalui pedagang pengumpul lokal. Selain itu, petani kecil tidak memiliki kapasitas untuk mengakses pasar ekspor secara langsung. Dengan demikian, semakin tinggi produksi yang dilakukan petani kecil maka akan semakin tinggi pula risiko pasar yang dihadapi. Risiko pasar tersebut berupa risiko fluktuasi harga karena petani memasarkan ke pasar tradisional. Semakin tinggi risiko pasar menyebabkan kebutuhan akses terhadap pasar ekspor ataupun pasar terstruktur lainnya (pasar berbasis kontrak, seperti ekspor, agroindustri, supermarket dan jasa pangan) semakin meningkat pula. Kebutuhan akses pasar yang meningkatkan menyebabkan peranan triple helix model semakin 212

meningkat untuk memberikan layanan akses pasar kepada petani kecil terhadap pasar terstruktur. Akses pasar yang semakin meningkat karena difasilitasi oleh triple helix model akan menurunkan risiko pasar yang dihadapi petani kecil. Interaksi berbagai variabel tersebut akan menghasilkan umpan balik negatif (negative feedback) yang berarti setiap akses pasar yang difasilitasi oleh triple helix model akan menuju ke arah kesetimbangan untuk mengurangi risiko pasar yang dihadapi petani kecil. Selain itu, akses pasar yang meningkat menyebabkan permintaan dan pesanan yang diterima petani kecil akan meningkat sehingga dapat dijadikan pijakan dalam jangka waktu tertentu untuk meningkatkan kapasitas produksi. Interaksi berbagai variabel seperti produksi, risiko pasar, kebutuhan akses pasar, peranan triple helix model, akses pasar, permintaan dan pesanan akan membentuk umpan balik positif (positive feedback) yang berarti peningkatan akses pasar yang difasilitasi triple helix model akan mengasilkan perilaku pertumbuhan atau penguatan terhadap pesanan yang diterima petani kecil.

peranan fasilitasi konsorsium (Triple Helix Model) +

+ akses pasar

kebutuhan akses pasar +

+ permintaan + +

risiko pasar +

pesanan

produksi

Gambar 25. CLD peranan triple helix model dalam peningkatan akses pasar

213

Sejalan dengan peningkatan kapasitas yang meningkat maka risiko produk yang ditolak oleh eksportir (product reject) akan semakin meningkat pula. Risiko produk yang ditolak akan meningkatkan produk yang ditolak. Dengan demikian, dibutuhkan suatu program pengurangan produk yang ditolak. Semakin tinggi kebutuhan akan program pengurangan produk yang ditolak tersebut maka peranan triple helix model akan semakin meningkat dalam bentuk program pelatihan manajemen produksi dan pasca panen. Dalam pelatihan tersebut disampaikan berbagai teknologi dan teknik untuk mengurangi risiko produk yang ditolak pasar. Interaksi berbagai variabel yang terkait dengan risiko produk yang ditolak akan membentuk umpan balik negatif yang berarti setiap program pelatihan manajemen produksi dan pasca panen akan mengarah kepada kesetimbangan untuk mengurangi risiko produk yang ditolak (Gambar 26).

peranan fasilitasi konsorsium (Triple Helix Model)

+ kebutuhan program pengurangan reject + program pelatihan manajemen produksi dan pasca panen +

+ risiko produk reject

produk reject

Gambar 26. CLD peranan triple helix model dalam mengurangi risiko produk yang ditolak Gambar 26 memperlihatkan peranan triple helix model dalam memberikan layanan akses terhadap agroinput yang berkualitas. Semakin meningkatnya kapasitas produksi yang dimiliki petani kecil akan meningkatkan risiko ketersediaan agroinput yang berkualitas. Risiko ketersediaan agroinput yang meningkat akan menyebabkan kebutuhan akses terhadap agroinput yang berkualitas akan semakin meningkat pula. Dengan demikian, peranan triple helix model dalam penyediaan akses terhadap agroinput yang berkualitas semakin meningkat. 214

peranan fasilitasi konsorsium (Triple Helix Model) + + akses thd agroinput kebutuhan akses thd agroinput + risiko ketersediaan agroinput + +

ketersediaan agroinput

+ produksi

Gambar 27. Peranan triple helix model dalam peningkatan akses terhadap agroinput Meningkatnya akses petani kecil terhadap agroinput yang berkualitas akan menyebabkan tingkat ketersediaan agroinput meningkat sehingga mampu meningkatkan produksi dan menurunkan risiko ketersediaan agroinput. Interaksi berbagai variabel dengan risiko ketersediaan agroinput akan menghasilkan umpan balik negatif yang berarti peranan triple helix model dalam meningkatkan akses terhadap agroinput akan mengarah pada kesetimbangan untuk mengurangi risiko ketersediaan agroinput. Meningkatnya kapasitas produksi menyebabkan meningkatnya jumlah persediaan yang dimiliki petani kecil meningkat. Petani kecil menyimpan hasil produksinya dalam jangka waktu pendek, yaitu kurang dari 3 (tiga) hari, karena daya tahan hasil produksnya yang terbatas. Jumlah persediaan yang meningkat akan meningkatkan jumlah pasokan produk ke eksportir. Pembayaran yang dilakukan eksportir cukup lama, berkisar antara 14-21 hari. Hal tersebut berarti dalam jangka waktu tertentu akan meningkatkan jumlah piutang yang dimiliki petani kecil. Jumlah piutang yang meningkat menyebabkan kebutuhan untuk akses pembiayaan rantai pasok (supply chain financing) semakin meningkat pula. Dengan demikian, peranan triple helix model untuk memberikan layanan akses terhadap pembiayaan menjadi meningkat pula. Pelayanan akses terhadap pembiayaan yang dilakukan triple helix model akan meningkatkan akses terhadap pembiayaan rantai pasok. Adanya pembiayaan rantai pasok berupa dana talangan (bridging finance) akan meningkatkan 215

pembayaran dari pembeli/eksportir sehingga siklus kas petani kecil akan meningkat pula. Siklus kas yang meningkat menyebabkan ketersediaan kas petani akan meningkat sehingga petani kecil akan mampu untuk meningkatkan produksi sayuran dan buahnya (Gambar 28). Interaksi berbagai variabel tersebut akan menghasilkan umpan balik positif (positive feedback) yang berarti peningkatan akses terhadap pembiayaan rantai pasok akan menghasilkan pertumbuhan produksi petani kecil.

akses thd pembiayaan rantai pasok +

peranan fasilitasi + konsorsium (Triple Helix Model)

pembiayaan rantai pasok

kebutuhan akses pembiayaan rantai pasok +

risiko keuangan + + pembayaran dari pembeli

+piutang pembeli pasokan produk + persediaan + +

produksi

+ ketersediaan kas + siklus kas

kemampuan produksi +

Gambar 28. CLD peranan triple helix model dalam akses pembiayaan rantai pasok

Selain itu, interaksi variabel yang terkait dengan peranan triple helix model dalam pelayanan akses terhadap pembiayaan rantai pasok dengan jumlah piutang yang dimiliki petani kecil akan menghasilkan umpan balik negatif (negative feedback). Hal tersebut berarti bahwa peningkatan akses terhadap pembiayaan rantai pasok akan mengarah pada kesetimbangan untuk mengurangi jumlah piutang yang dimiliki petani kecil. 216

Berdasarkan pembahasan di atas, terlihat bahwa triple helix model dalam pengembangan manajemen rantai pasok sayuran dan buah yang melibatkan petani kecil untuk memenuhi pasar global memiliki kompleksitas yang tinggi. Dengan demikian, model tersebut tidak dapat dipahami dengan cara berpikir yang linear dan reduksionis melainkan harus dengan cara berpikir sistem. Berdasarkan hal tersebut, Triple helix model yang dikembangkan dan dikelola oleh VCC Universitas Padjadjaran memiliki hubungan dan interaksi yang kuat antara pemerintah, akademisi dan industri. Etzkowitz (2008) menyatakannya sebagai social structure triple helix karena dalam triple helix model tersebut terdapat sharing knowledge and experience diantara berbagai aktor yang terlibat, yang dilakukan di kampus dalam bentuk kuliah atau seminar serta di luar kampus dalam bentuk konsultansi, seminar dan multistakeholder meeting. Selain itu, semua hasil sharing knowledge and experience: tersebut disintesakan dalam bentuk policy brief yang disampaikan kepada para pengambil kebijakan (government).

LATIHAN Buatlah 2 (dua) contoh pengembangan kasus agribisnis di bidang industri makanan dan non makanan. Kemukakan jawaban Anda dalam bentuk essay masing-masing minimal 5 halaman.

217

REFERENSI
1. Austin J E. 1981. Agroindustrial Project Analysis. The Economic Development Institute of The World Bank. The Johns Hopkins University Press. Baltimore. 2. Arifin, Bustanul. 2004. Analisis Ekonomi Pertanian Indonesia. Buku Kompas 3. Davis, H. H. and R. A. Goldberd. 1957. A Concept Of Agribusiness. Boston : Graduate School of Business, Havard University. 4. Downey, W. D. dan S. P. Erickson. 1992. Manajem Agribisnis. Edisi Kedua. Terjemahan R. Ganda s. Dan A. Sirait. Jakarta: Erlangga. 5. Gumbira-Said, E. A. Hariszt, I. Manajemen Agribisnis. Ghalia Indonesia. 6. Saragih, B. 2010. Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. IPB Press. 7. Saragih, B. 2010. Refleksi Agribisnis. IPB Press. 8. Cuevas R. 2004. Food Engineering, Quality and Competitiveness in Small Food Industry Systems Eith Emphasis on Latin America and The Caribbean. Food and Agriculture Organizations of The United Nations. Rome. 9. Maani, K, E., and Cavana, R, Y. 2007. Systems Thinking, System Dynamics : Managing Change and Complexity. Pretice Hall. 10. Mosher, 1987. Menggerakkan dan Membangun Pertanian, Yasguna, Jakarta 11. Pambudy. Rahmat. 2010. Membangun Indonesia Melalui Kepemimpinan Entrepreneur Agribisnis. 12. Paul Roy E. 1967. Exploring Agribusiness. The Interstate Printers and Publishers, Inc. Illinois. 13. Perdana, T., Purnomo, D., Kharisma, B. 2009. Rancangbangun Simulator Kebijakan Pengembangan Sistem Rantai Pasokan Industri Perberasan Untuk Mewujudkan Ketahanan Jawa Barat. Laporan Akhir Penelitian Strategis Nasional. 14. Ricketts C and O. Rawlins. 2001. Introduction to Agribusiness. Delmar Thomson Learning. Albany. 15. Seperich GJ, M W Whoolverton and J G Beierlein. 1994. Introduction to Agribusiness Marketing. Prentice Hall Career and Technology. New Jersey. 16. Soehardjo, A. 1997. Sistem Agribisnis dan Agroindustri. Makalah Seminar. MMA-IPB. Bogor 17. Sogo Kenkyu. 1998. An Economic Evolution in External economies from Agriculture by the Replacement Cost Method. National Research Institute of Agricultural Economics, MAFF. Japan. 18. Yoshida, K. 1994. An Economic Evoluatin of Multifunctional Roles of Agricultural and Rural areal in Japan. Ministry of Agricultural Forestry. Japan 19. Buku, Laporan, Artikel Jurnal yang Terkait dengan Agribisnis

218

KUNCI JAWABAN

KEGIATAN BELAJAR 1 Modul 1 Latihan : 1. Zaman perunggu, zaman besi, abad pertengahan, revolusi pertanian dan industri, pertengahan abad 20 2. Diagram besar agribisnis mencakup industri pasokan input agribisnis, petani, industri agribisnis, output perusahaan agribisnis 3. Terigu, keju, daging, jamur, sosis, bawang merah dan putih, paprika, cabai, tomat, mayonnaise 4. SWOT, pendekatan systems thinking (berpikir sistem) 5. Conrad Disinfection, Auto-Agronom, TerraCottem Soil Conditioner, effective microorganism procedure (EMP) 6. Peningkatan pendapatan, minimalisasi kerusakan lingkungan, meningkatkan daya saing produk 7. Peningkatan diversifikasi produk, peningkatan standar mutu produk agribisnis, perluasan skala usaha industri pertanian Tes Formatif : 1. Cows, sows, plows atau weeds, seeds, feeds 2. Berburu dan meramu 3. Irigasi, berkembangnya perdagangan produk pertanian, penggunaan bajak sederhana, konservasi lahan, penggunaan hewan terhak kuda. 4. Pendirian sekolah/ perguruan tinggi pertanian, pemberian bantuan kredit, pestisida ramah lingkungan, penemuan-penemuan berbagai bibit/ benih unggul, teknologi pendingin. 5. Definisi menurut Davis dan Ggolberd : agribisnis merupakan suatu sistem yang terdiri atas sistem pengadaan input, produksi primer, pengolahan, dan pemasaran serta dukungan lembaga penunjang. 6. Input :Produsen pupuk, penangkar benih/ bibit, industri agro otomotif Output: industri makanan, industri minuman, industri vaksin/ serum, industri kosmetika. 7. Pakaian, celana, sepatu, alat kosmetik, vaksin, serum, kertas, agrowisata, makanan, minuman, obat-obatan, serat alam, mesin pertanian, alat pertanian. 8. Subsistem pengadaan input, produksi primer, pengolahan, dan pemasaran. 219

9. Sekumpulan entitas yang bertindak dan berinteraksi bersama-sama untuk memenuhi tujuan akhir 10. Perencanaan; pengorganiasasian; pelaksanaan penerapan; pengawasan, evaluasi dan pengendalian teknologi KEGIATAN BELAJAR 1 Modul 2 Latihan : 1. Penerapan teknologi 5T 2. Penggunaan tenaga manusia/ hewan ternak, bajak ringan dari katu, bajak besi, traktor bermesin uap, traktor bebahan bakar bensin, alat dan mesin panen, dll 3. Kelebihan : efisiensi waktu, pengurangan tenaga kerja, peningkatan produktivitas hasil, peningkatan pendapatan Kekurangan: peralatan mahal, membutuhkan pengetahuan yang baik dari petani, biaya bahan bakar mahal 4. Rekayasa genetika bibit dan benih; mesin perontoh gabah 5. Sangat penting karena sebagian penduduk indonesia bekerja sebagai petani dan pelaku agroindustri. Dapat meningkatkan ekspor dan impor, peningkatan investasi, pendapatan, kesejahteraan, dll Tes Formatif : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Produk-produk yang dipasok untuk produksi pertanian. Pupuk, obat-obatan, pestisida, alat dan mesin pertanian Karena fungsinya tidak terlalu mempengaruhi hasil produk pertanian N, P, K Penyubur tanah, pengendali hama dan penyakit Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman Alat mesin pertanian ialah susunan dari alat-alat yang kompleks yang saling terkait dan mempunyain sistem transmisi (perubah gerak), serta mempunyai tujuan tertentu di bidang pertanian dan untuk mengoperasikannya diperlukan masukan tenaga. 8. Traktor beroda tiga dan menggunakan tenaga uap, Traktor beroda tiga dan menggunakan pembakaran internal, Traktor beroda tiga dan berbahan bakar bensin, traktor beroda empat berbahan bakar bensin 9. Alat mesin pembuka lahan, produksi pertanian, pascapanen 10. Mesinnya terlalu berat, memakan tempat, mahal dan kegunaannya spesfik pada pekerjaan tertentu saja. 220

KEGIATAN BELAJAR 2 Modul 3 Latihan: 1. NTP > 100, menyatakan bahwa petani mengalami surplus, NTP = 100, menyatakan petani mengalami impas/ break even, NTP < 100, menyatakan petani mengalami defisit 2. Modal usaha tani 3. Penguatan modal, kepastian pasar, pembimbingan 4. Dikeluarkan peraturan dan kebijakan lahan, sanksi-sanksi 5. Produksi bioetanol ; pola kemitraan STA Tes Formatif : 1. Petani sebagai manusia yang bekerja memelihara tanaman dan atau hewan untuk diambil manfaatnya guna menghasilkan pendapatan. 2. Petani hanya mengerjakan produksi primer untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan dijual, sedangkan petani agribisnis memproduksi produk primer untuk dijual. 3. Apabila tidak ada tanah maka para petani tidak bisa menanam tanaman pertanian. 4. Nilai tukar petani adalah rasio indeks yang diterima petani dengan indeks yang dibayar petani 5. Karena dapat menjadi tolok ukur untuk mengetahui pendapatan nasional 6. Jalinan kerjasama usaha yang saling menguntungkan antara pengusaha kecil dengan pengusaha menengah/besar (Perusahaan Mitra) disertai dengan pembinaan dan pengembangan oleh pengusaha besar, sehingga saling memerlukan, menguntungkan dan memperkuat. 7. Inti Plasma, subkontrak, dagang umum, keagenan, kerjasama operasional agribisnis, dagang umum, waralaba. 8. Kepastian pasar, bimbingan teknis, bantuan modal, bantuan teknologi 9. Produktivitas hasil tani semakin menurun, modal terbatas, kegagalan panen akibat penyakit dan haman tanaman, bantuan modal dari industri

221

non pertanian untuk mengubah lahan pertanian menjadi kegiatan lain sesuai permintaan pemberi bantuan 10. Tidak ada lahan terbuka hijau, penyerapan air tanah berkurang, kerusakan lahan, perambahan hutan, urbanisasi, dll

KEGIATAN BELAJAR 2 Modul 4 Latihan: 1. Lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, pedagangan internasional 2. Berskala kecil, modal terbatas, pengunaan teknologi tradisonal. 3. Peningkatan jumlah permintaan, peningkatan standar dan kualitas mutu produk, peningkatan pendapatan, perluasan pasar 4. 5. Musiman, tidak tahan lama, dan beragam Tes Formatif : 1. Agroindustri adalah suatu perusahaan yang mengolah bahan baku pertanian, termasuk tanah dan tanaman serta ternak menjadi produk olahan, baik produk antara (intermediate product) maupun produk akhir (finish product). 2. Industri pengolahan input pertanian, industri pengolahan hasil pertanian 3. Input pertanian, tenaga kerja, alat dan mesin pengolahan, pemasar produk 4. Diversifikasi makanan, memperluas lapangan kerja, menambah kegunaan bentuk, waktu dan tempat produk primer 5. Limbah agroindustri, konversi lahan pertanian 6. Belum ada perkembangan signifikan 7. Melihat desain proyek yang berkaitan dengan pengadaan bahan baku, pengolahan, dan pemasaran untuk menilai kelayakan finansial, biaya sosial, dan manfaar proyek. 8. Komponen sistem, keuangan, dan analisis ekonomi. 9. Identifikasi, analisis dan desain, pelaksanaan, dan evaluasi 10. Lembaga pembiayaan bagi industri skala kecil, kemitraan

222

KEGIATAN BELAJAR 3 Modul 5 Latihan: 1. Menjadi perantara dalam hal menyalurkan produk dari produsen ke konsumen 2. Permintaan banyak menyebabkan harga naik; penawaran banyak menyebabkan harga turun 3. Contoh : kemitraan 4. Fungsi pertukaran, Fungsi fisik, Fungsi fasilitas pemasaran. 5. 4P menjadi 8 P dan 4P berkolerasi dengan 4C Tes Formatif : 1. a. Pasar agribisnis adalah tempat dimana terdapat interaksi antara penawaran dan permintaan produk (barang dan/ atau jasa) di bidang agribisnis, terjadi kesepakatan harga, jumlah, spesifikasi produk, cara pengiriman, penerimaan, pembayaran, dan tempat terjadi perpindahan kepemilikan barang atau jasa di bidang agribisnis, dll. b. Pemasar agribisnis didefinisikan sebagai seseorang yang mencari barang atau jasa yang dipertukarkan kepada konsumen atau pemakai dalam bidang agribisnis. c. Pemasaran agribisnis merupakan kegiatan yang terdiri atas pemasaran input dan alat-alat pertanian, pemasaran produk pertanian, dan pemasaran produk agroindustri serta pemasaran jasa-jasa pendukung agribisnis. 2. Informasi, modal, produktivitas produk, dll 3. Pemasaran memiliki ruang lingkup lebih luas daripada penjualan. Penjualan hanya sekedar menjual barang sedangkan pemasaran tidak haya menjual barang saja tapi juga memikirkan barang apa yang laku di pasaran, lokasi mana yang strategis untuk toko, bagaimana sifat-sifat pembeli, bagaimana cara melakukan promosi agar barangnya bisa laku di pasaran serta berbagai strateginya. Aktivitas Penjualan baru dimulai setelah suatu barang diproduksi sedangkan aktivitas Pemasaran sudah dimulain sebelumnya. Setelah barang diproduksi, bagian pemasaran menentukan berapa harga yang akan dipasarkan, setelah itu mereka juga 223

bertanggung

jawab

untuk

mempromosikan

barang

tersebut,

dan

mendistribusikannya ke tangan kosumen sehingga meninggkatkan kepuasan konsumen. Dengan demikian, bagian penjualan merupakan salah satu bagian dari aktivitas pemasaran. 4. Mengatur dan mengontrol persediaan; memperlancar perpindahan produk; melancarkan proses operasi 5. Tidak tahan lama, sifat ukuran besar, mutu produk bervariasi 6. Musiman, bervariasi, wilayah produksi tersebar, biaya produksi berbeda di setiap daerah 7. Kegiatan yang menambah nilai barang atau jasa juga 8. Pendekatan fungsional, pedekatan kelembagaan, pendekatan produk/ komoditas, pendekatan manajerial, dan pendekatan sistem. 9. Pendekatan sistem memfokuskan untuk melihat secara mendalam dan memproyeksi tingkat keberhasilan masing-masing begian, mengevaluasi kerangka tindakan dan kebijakan umum serta menyusun rencama operasi secara detil. 10. Produk harus melihat kebutuhan dan keinginan; harga selalu berhubungan dengan biaya pelanggan yang akan ditentukan, tempat berhubungan dengan kemudahan keberadaan tempat pemasaran

KEGIATAN BELAJAR 3 Modul 6 Latihan : 1. Integrasi vertikal, horisontal, dan gabungan keduanya. 2. Integrasi vertikal adalah pengelolaan bisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir dan berada pada satu komando keputusan manajemen untuk menghindari resiko ekonomi. Peran integrasi vertikal: efisiensi tertinggi, dan terhindar dari masalah marjin ganda. 3. Integrasi horisontal adalah pengelolaan usaha agribisnis dengan membangun keterpaduan atas beberapa komoditas 4. Integrasi vertikal hanya bisa terselenggara bila terdapat hubungan yang saling rnenguntungkan dan saling mendukung antar para pelaku bisnis dalam suatu sistem komoditas. 224

Integrasi horisontal terselenggara apabila terdapat keterkaitan yang erat antarlini komoditas pada tingkat usaha yang sama. 5. Pedagang besar mampu memberikan pedagang eceran yang meliputi kredit, simpanan, dan variasi. Tes Formatif : 1. Pedagang besar adalah operator agribisnis dalam hal pembelian, perakitam, perpindahan, penyimpanan, dan pendistribusian bahan pangan dan produk makanan untuk dijual ke pengecer, industri, dan konsumen yang bertujuan memperoleh laba 2. Perdagangan besar adalah suatu proses untuk memfasilitasi proses pengangkutan barang ke pasar eceran (ritel). 3. Co-op wholesaling, Voluntary Wholesaling, Unaffiliated Wholesaling 4. Agrimarketing food channel 5. Merchant Wholesaler, Manufactures sales brances, Agen dan broker 6. Co-op wholesaling adalah perdagangan dimana toko ritel dimiliki oleh padagang besar; Voluntary Wholesaling adalah perdagangan dimana toko ritel bekerja sama dengan pedagang besar tidak dalam satu kepemilikan, Unaffiliated Wholesaling adalah perdagangan dimana antara pedagang besar dan pedagang ritel bekerja masing-masing (tidak ada penggabungan). 7. Produk variatif, potongan harga, kuantitas banyak 8. Ritel, rumah tangga, agroindustri 9. Buah-buahan, sayuran, pakaian, dll 10. Full Integration, Tapered integration, Aliansi strategis

KEGIATAN BELAJAR 4 Modul 7 Latihan : 1. Ritel tradisional : tempat yang tidak terlalu luas, barang yang dijual terbatas jenisnya, terjadinya proses tawar menawar. Ritel modern tempat lebih luas, banyak jenis barang yang dijual, manajemen lebih terkelola, harga sudah menjadi harga tetap, melayani sendiri. 2. Berkembangnya ritel modern, persaingan harga, kualitas produk 3. Persaingan harga, perubahan preferensi konsumen, dll 4. Meningkatkan daya saing melalui sistem rantai pasok 225

5. Pedagang eceran modern ini hanya diperbolehkan beroperasi di kota-kota besar, setingkat kotamadya/ kabupaten dan propinsi Tes Formatif : 1. Semua kegiatan yang melibatkan penjualan barang dan jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi bukan untuk bisnis 2. Perantara, penghimpun, tempat rujukan, penentu eksistensi 3. Persaingan harga, peralihan konsumen, kebangkrutan 4. Perbaikan kualitas tempat, penyesuaian harga, perbaikan kualitas pelayanan 5. Mempermudah dan memperlancar pengembangan agribisnis dengan mempermudah subsistem pemasaran dan distribusi produk agribisnis 6. Supermarket : toko yang menjual produk-produk kebutuhan sehari-hari dengan ukuran lebih besar dari minimarket; Departemen store, yaitu toko yang berukuran sangat besar dan menjual produk-produk sehari-hari, rumah tangga bahkan non pangan. 7. Alfa mart, indomaret 8. Kualitas barang terjamin, tempat nyaman dan luas, full time service 9. Adanya tawar menawar, produk lebih beragam 10. Ada. Berdasarkan kualitas dan standar mutu produk. KEGIATAN BELAJAR 4 Modul 8 Latihan : 1. Pendekatan utilitas (Utility Approach); Pendekatan kurva Indiveren (Indifference Curve Approach) dan Pendekatan atribut (Atribute Approach). 2. Membutuhkan produk-produk hasil pertanian yang bermutu (berkualitas) untuk diolahnya menjadi barang setengah jadi dan barang jadi yang berkualitas. Membutuhkan poroduk-produk hasil pertanian (agribisnis) yang sesuai dengan seleranya atau keinginannya. 3. Perbandingan preferensi konsumen terhadap produk mobil Toyota dan Daihatsu.

226

4. Setiap barang mempunyai dayaguna atau utilitas sebab barang tersebut pasti mempunyai kemampuan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen yang menggunakan barang tersebut. 5. Kurva indiferen adalah kurva yang menggambarkan berbagai kombinasi dari barang yang dikonsumsi oleh konsumen dengan manfaat atau kepuasan yang sama.

Tes Formatif : 1. Setiap orang yang ingin memenuhi keinginan dan kebutuhannya terhadap barang hasil-hasil pertanian. 2. Konsumen industri dan konsumen individu/ perorangan 3. Kepuasan konsumen merupakan tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan antara kinerja produk yang ia rasakan dengan harapannya. 4. Kebutuhan, pengalaman masa lain, pengalaman orang lain 5. Fungsi dari jumlah komoditi yang dikonsumsi 6. Hukum tambahan hasil yang semakin berkurang 7. Y 1/Py

A Kl BL X Kepuasan konsumen tersebut akan terjadi pada titik A. 8. Karakteristik atau fitur yang mungkin dimiliki atau tidak dimiliki oleh objek. 9. Segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat aktual produk. 10. Segala sesuatu yang diperoleh dari aspek eksternal produk, seperti : nama merek, kemasan, dan label.

227

KEGIATAN BELAJAR 5 Modul 9 Latihan : 1. Pasar persaingan sempurna (perfect competition) adalah sebuah jenis pasar dengan jumlah penjual dan pembeli yang sangat banyak dan produk yang dijual bersifat homogen. 2. Pasar persaingan sempurna : pasar pada bidang produksi dan perdagangan hasil-hasil pertanian seperti beras, karet, buah-buahan, dan sayuran. Pasar persaingan tidak sempurna : monopolistik, monopoli, oligopoli, oligopsoni, monopsoni 3. Penentu harga 4. Kinerja subsektor pangan, subsektor perikanan, peternakan, kehutanan dan perkebunan 5. Kuantitas penjual, keseragaman produk, perbedaan pelayanan, dll

Tes Formatif : 1. Usaha dua atau lebih perusahaan, secara individual untuk mengalahkan perusahaan lain dengan menawarkan produk yang lebih baik. 2. mereduksi biaya yang harus dikeluarkan konsumen dalam rangka memperoleh informasi suatu produk 3. penyalahgunaan kekuatan pasar, tingkat produksi rendah, mengurangi kesejahteraan konsumen, ketidakadilan 4. PDAM dan PT, Krakatau Steel, PLN 5. Banyak produsen dan penjual, produsen memiliki kemampuan untuk mempengaruhi harga, adanya diferensiasi produk, produsen dapat keluar masuk pasar, promosi penjualan harus aktif 6. Oligopoli : terdapat beberapa penjual Oligopsoni : pasar yang memiliki beberapa pembeli. 7. Membagi pasar menjadi beberapa kelompok pembeli yang berbeda yang memerlukan produk atau marketing mix yang berbeda pula. 8. Tindakan merancang serangkaian perbedaan yang berarti untuk membedakan tawaran perusahaan dengan pesaing. 9. Cara menginformasikan kepada pembeli mengenai ketersediaan produk, karakteristik, dan harga. 10. Proses penilaian yang dilakukan untuk melihat bagaimana perusahaan terorganisasi, bagaimana perusahaan memimpin dan melihat kinerja perusahaan dalam kaitanya mencapai tujuan perusahaan 228

KEGIATAN BELAJAR 5 Modul 10 Latihan : 1. Jawaban sesuai dengan pilihan kegiatan agribisnis yang diambil mahasiswa 2. Jawaban sesuai dengan pilihan kegiatan agribisnis yang diambil mahasiswa Tes Formatif : 1. Perseorangan, perusahaan/ badan usaha persekutuan 2. Pemilik memegang penuh kendali perusahaan, modal pribadi, tidak membayar pajak, bebas dan luwes 3. Tipe persekutuan ini individu-individu menyetor uang atau kepemilikan modal tanpa mengharuskan kewajiban hukum penuh seperti sekutu umum. 4. Mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Sekutu umum mempunyai wewenang untuk bertindak sebagai agen untuk persekutuan, dan biasanya ikut serta dalam manajemen dan operasi bisnis. Masing-masing sekutu umum menanggung semua hutang persekutuan, dan dapat berbagi laba dalam perbandingan yang disepakati bersama ataupun dalam pembagian yang merata. 5. korporasi sebagai organisasi yang dimiliki sejumlah orang yang diperlakukan sebagai badan hukum 6. regular corporations, small business or family corporation, Cooperatives 7. Merupakan perkumpulan orang-orang, secara sukarela bergabung

bersama, tujuan ekonomi yang sama; pembentukan organisasi bisnis diawasi secara demokratis, memberikan kontribusi modal yang sama dan menerima bagian resiko dan manfaat yang adil dari perusahaan di mana anggota aktif berpartisipasi 8. Koperasi konsumsi, produksi, kredit atau simpan pinjam, koperasi jasa 9. Suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem prosedur, dan cara-cara yang ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu. 10. Pemebri waralaba dan penerima waralaba 229

KEGIATAN BELAJAR 6 Modul 11 Latihan : 1. Sebagai modal dalam melakukan aktivitas bisnis 2. Memperlancar perkembangan usaha-usaha jasa distribusi, terutama bisnis informal yang memiliki permasalahan pada terbatasnya modal operasi sementara skema kredit usaha kecil (KUK) yang diintroduksi pemerintah masih sulit disentuh oleh para informal bisnis tersebut, penyediaan modal investasi dan modal kerja, mulai dari sektor hulu sampai hilir. Pembiayaan 3. 1) usaha pertanian dianggap perbankan mempunyai risiko yang tinggi, 2) terbatasnya penyediaan agunan yang dimiliki petani seperti sertifikat lahan yang dipersyaratkan perbankan, 3) perbankan menerapkan prinsip kehatihatian mengingat risiko sepenuhnya ditanggung perbankan (kecuali KUR) dan 4) masalah status lahan belum bersertifikat dan sebagain provinsi/kabupaten/kota belum memiliki RTRWP/RTRWK, 5) untuk KUR sektor pertanian, suku bunga yang dibebankan petani cukup tinggi 4. Hubungan antara faktor produksi dengan hasil produksi, hubungan antar faktor produksi, hubungan antar hasil produksi. 5. KKP-E, Taskin agribisnis, KPEN-RP, KUPS, KUR, dll

Tes Formatif : 1. Mencakup semua keperluan dan pengaturan serta pengawasan keuangan untuk membiayai suatu perusahaan di sektor pertanian 2. Investasi atau penanaman modal oleh pemilik, pinjaman, dan laba atau penyusutan 3. Bank komersial, perusahaan asuransi, lembaga keuangan komersial, dan peminjaman oleh koperasi 4. Pinjaman jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang, dan modal ekuitas. 5. Mencakup tidak saja usaha on-farm, tetapi juga untuk usaha agribisnis hulu dan hilirnya 6. Salah satu sumber pembiayaan non perbankan yang dipergunakan untuk semua sektor usaha produktif melalui kerjasama antara Perusahaan Modal Ventura dengan Pengusaha Kecil/Menengah 7. Kredit berbunga murah yang ditujukan untuk meningkatkan investasi agribisnis skala kecil/rumah tangga sekaligus untuk mengentaskan kemiskinan di daerah. 230

8. Perum Pegadaian merencanakan pengembangan sistem tunda jual. Contoh : petani dapat memperoleh kredit dari pegadaian dengan jaminan gabah, terutama pada saat panen raya pada saat harga gabah turun

KEGIATAN BELAJAR 6 Modul 12 Latihan : 1. Posisi Indonesia dalam perdagangan global haruslah tetap ditempatkan dalam kerangka pembangunan ekonomi Indonesia. Instrumen-instrumen perdagangan seperti bea cukai dan pajak ekspor harus dirancang dalam rangka memperkuat struktur industri termasuk Agroindustri dan merangsang tumbuhnya usaha- usaha agribisnis nasional 2. Antitrust laws, perlindungan konsumen, undang-undang ketenagakerjaan, undang-undang asuransi tenaga kerja, lisensi, perijinan, registrasi, informasi dan pendampingan pasar, peraturan input pertanian, peraturan komisi, pajak, undang-undang zonasi 3. Dikembangkan bentuk- bentuk pelestarian keragaman hayati, baik dalam bentuk kebun koleksi plasma nuftah maupun pelestarian habitat asli ekosistem tanaman disetiap daerah. 4. GPA, SOP, CSR, dll 5. Inpres No. 14 Tahun 2011, Inpres No. 5 Tahun 2007

Tes Formatif : 1. Undang-undang yang mengatur tentang praktik bisnis yang tidak kompetitif dan tidak adil. 2. Antipakat/ persaingan 3. Undang-Undang Republik Indonesia No 13 Tahun 2003 4. Mengawasi skala kelayakan produk, mengawasi kesehatan pekerja, penggunaan aturan sanitasi pada proses produksi, inspeksi terhadap daging, susu, dan makanan di pedagang besar, inspeksi aturan polusi di industri dan lain-lain 5. Ketersedian, distribusi dan konsumsi, tidak lain adalah kegiatan usaha berbasis agribisnis 6. Infrastruktur, fasilitas pergudangan, terminal agribisnis, dan bursa komoditas/ produk agribisnis

231

7. Upaya menciptakan iklim ekonomi yang kondusif bagi pembangunan melalui instrumen makro ekonomi, baik moneter maupun fiskal 8. Kebijakan yang meiliki tujuan menjadikan sektor industri sebagai tulangpunggung kegiatan sistem agribisnis dan usaha-usaha agribisnis, khususnya untuk memperkuat bagian hulu dan hilir dari sistem agribisnis. 9. Hak atas kekayaan intelektual terkait perdagangan 10. Semua pihak merasa berhak memanfaatkan namun tak seorang pun yang bersedia untuk melestarikannya

KEGIATAN BELAJAR 7 Latihan : Jawaban berupa studi kasus masing-masing mahasiswa.

232