Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Bioetanol atau etanol (C2H5OH) banyak digunakan sebagai pelarut, desinfektan, bahan baku industri minuman, kimia, dan farmasi. Di beberapa negara seperti Brasil, bioetanol digunakan sebagai bahan bakar. Cadangan minyak bumi yang terus berkurang akan menjadikan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif dengan tingkat emisi sangat rendah pada masa mendatang. Aplikasi bioetanol sebagai energi alternatif lainnya untuk memenuhi kebutuhan akan bahan bakar cair tersebut. Namun ada beberapa kelemahan bio etanol sebagai bahan bakar yaitu ketersediaan bioetanol sebagai bahan bakar masih dibatasi, nilai kalor volumetrik, dan tekanan uap Reid lebih kecil dibandingkan dengan bensin sehingga menyebabkan kesulitan dalam pengapian pada cuaca dingin dan penyalaan awalnya. Salah satu produk yang dibuat dengan bahan baku etanol adalah Dietil eter. DiEter Eter (DEE) merupakan salah satu bahan bakar alternatif juga. Proses pembuatan Dietil eter umumnya menggunakan proses dehidrasi dengan katalis asam sulfat (homogen). Katalis ini membutuhkan pemurnian dan sifat katalis yang korosif menyebabkan biaya investasi yang tinggi dalam peralatan. Dalam makalah ini akan membahas proses dehidrasi bioetanol menjadi Dietil eter dengan katalis heterogen berbahan baku zeolit alam..

1.2 Rumusan Masalah 1. Apakan pengertian dari dehidrasi ? 2. Bagaimana proses dehidrasi dengan menggunakan zeolit pada biobioetanol ? 3.Bagaimana reaksi yang terjadi didalam dehidrasi bioetanol tersebut ? 4. Apakah tujuan proses dehidrasi bioetanol ?

1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian dari dehidrasi bioetanol 2. Untuk mengetahui proses dehidrasi pada biobioetanol 3. Untuk mengetahui reaksi yang terjadi didalam dehidrasi bioetanol 4. Untuk mengetahui tujuan proses dehidrasi bioetanol

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dehidrasi. Reaksi dehidrasi didefinisikan sebagai reaksi yang melibatkan pelepasan air dari molekul yang bereaksi. Reaksi dehidrasi merupakan subset dari reaksi eliminasi. Karena gugus hidroksil (-OH) adalah gugus lepas yang buruk, pemberian katalis asam Brnsted sering kali membantu protonasi gugus hidroksil, menjadikannya gugus lepas yang baik, -OH2+. Dalam kimia organik, terdapat banyak contoh reaksi dehidrasi:

Konversi alkohol menjadi eter: 2 R-OH R-O-R + H2O

Konversi alkohol menjadi alkena R-CH2-CHOH-R R-CH=CH-R + H2O

Konversi asam karboksilat menjadi anhidrida asam: 2 RCO2H (RCO)2O + H2O

Konversi amida menjadi nitril: RCONH2 R-CN + H2O

Pada reaksi penataan ulang dienol benzena:

Beberapa reaksi dehidrasi dapatlah berjalan dengan rumit. Sebagai contoh, reaksi gula dengan asam sulfat pekat membentuk karbon melibatkan pembentukan ikatan karbonkarbon.

Gula (sukrosa) didehidrasi: C12H22O11 + 98% Sulfuric acid 12 C (graphitic foam) + 11 H2O steam + Sulfuric acid/water mixture

Reaksi ini didorong oleh reaksi eksotermik antara asam sulfat dengan air. Agen dehidrasi yang umum meliputi asam sulfat pekat, asam fosfat pekat, aluminium oksida panas, keramik panas.

2.2 Bio-bioetanol Bio-bioetanol merupakan salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair dari pengolahan tumbuhan) disamping Biodiesel. Bio-bioetanol adalah bioetanol yang dihasilkan dari fermentasi glukosa (gula) yang dilanjutkan dengan proses destilasi. Proses destilasi dapat menghasilkan bioetanol dengan kadar 95% volume, untuk digunakan sebagai bahan bakar (biofuel) perlu lebih dimurnikan lagi hingga mencapai 99% yang lazim disebut fuel grade ethanol (FGE). Proses pemurnian dengan prinsip dehidrasi umumnya dilakukan dengan metode Molecular Sieve, untuk memisahkan air dari senyawa bioetanol. Bahan baku biobioetanol yang dapat digunakan antara lain ubi kayu, tebu, sagu dll. 2.3 Zeolit a. Tentang Zeolit Kata zeolit berasal dari kata Yunani zein yang berarti membuih dan lithos yang berarti batu. Zeolit merupakan mineral hasil tambang yang bersifat lunak dan mudah kering. Warna dari zeolit adalah putih keabu-abuan, putih kehijau-hijauan, atau putih kekuning-kuningan. Ukuran kristal zeolit kebanyakan tidak lebih dari 1015 mikron Zeolit merupakan kristal alumina-silika yang mempunyai struktur berongga atau berpori dan mempunyai sisi aktif yang bermuatan negatif yang mengikat secara lemah kation penyeimbang muatan. Kerangka dasar struktur zeolit terdiri dari unit tetrahedron dimana setiap silikonnya berikatan dengan empat atom oksigen. Penggunaan zeolit sebagai katalis didasarkan pada sifatnya yang secara bebas dapat diakses (dimasuki) oleh reaktan ke pusat aktif intra kristal, serta bentuk dan ukuran molekul penetrant. Aktifitas katalitik secara spesifik dipengaruhi oleh sifat kebasaan zeolit, Zeolit terbentuk dari abu vulkanik yang telah mengendap jutaan tahun silam. Sifatsifat mineral zeolit sangat bervariasi tergantung dari jenis dan kadar mineral zeolit. Zeolit mempunyai struktur berongga biasanya rongga ini diisi oleh air serta kation yang bisa dipertukarkan dan memiliki ukuran pori tertentu. Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai penyaring molekuler, senyawa penukar ion, sebagai filter dan katalis.

b. Struktur Zeolit Kerangka dasar struktur zeolit terdiri dari unit-unit tetrahedral [AlO4] dan [SiO4] yang saling berhubungan melalui atom O. Dalam struktur tersebut Si4+ dapat diganti Al3+
c. Sifat sifat Zeolit Zeolit mempunyai struktur berongga yang biasanya diisi oleh air dan kation yang bisa dipertukarkan dan memiliki ukuran pori tertentu.

Zeolit mempunyai sifat-sifat kimia, diantaranya : 1. Dehidrasi Sifat dehidrasi zeolit berpengaruh terhadap sifat serapannya. Keunikan zeolit terletak pada struktur porinya yang spesifik. Pada zeolit alam didalam pori-porinya terdapat kation-kation atau molekul air. Bila kation-kation atau molekul air tersebut dikeluarkan dari dalam pori dengan suatu perlakuan tertentu maka zeolit akan meninggalkan pori yang kosong. 2. Penyerapan Dalam keadaan normal ruang hampa dalam kristal zeolit terisi oleh molekul air yang berada disekitar kation. Bila zeolit dipanaskan maka air tersebut akan keluar. Zeolit yang telah dipanaskan dapat berfungsi sebagai penjerap gas atau cairan 3. Penukar Ion Ion-ion pada rongga berguna untuk menjaga kenetralan zeolit. Ion-ion ini dapat bergerak bebas sehingga pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan maupun jenis zeolitnya. Sifat sebagai penukar ion dari zeolit antara lain tergantung dari sifat kation, suhu, dan jenis anion. 4. Katalis Zeolit sebagai katalis hanya mempengaruhi laju reaksi tanpa mempengaruhi kesetimbangan reaksi karena mampu menaikkan perbedaan lintasan molekular dari reaksi. Katalis berpori dengan pori-pori sangat kecil akan memuat molekul-molekul kecil tetapi mencegah molekul besar masuk. Selektivitas molekuler seperti ini disebut molecular sieve yang terdapat dalam substansi zeolit alam.

5. Penyaring / pemisah Zeolit sebagai penyaring molekul maupun pemisah didasarkan atas perbedaan bentuk, ukuran, dan polaritas molekul yang disaring. Sifat ini disebabkan zeolit mempunyai ruang hampa yang cukup besar. Molekul yang berukuran lebih kecil dari ruang hampa dapat melintas sedangkan yang berukuran lebih besar dari ruang hampa akan ditahan (Bambang P, dkk, 1995).

2.4 Dietil eter (C4H10O) Dietil eter adalah cairan bening yang mudah terbakar dan memiliki bau yang khas. Dietil eter banyak digunakan sebagai pelarut laboratorium yang umum, memiliki kelarutan terbatas dalam air dan kelarutan yang tinggi di dalam minyak, lemak, dan resin sehingga sering digunakan untuk proses ekstraksi cair-cair. Selain itu Dietil eter merupakan anestetika yang paling sering digunakan dan dianggap aman. Cairan Dietil eter bersifat volatil. Pada kondisi atmosferik, Dietil eter menguap pada suhu 38oC Proses produksi Dietil eter secara langsung yang paling banyak di dunia adalah sulfuric acid atau proses Barbet. Konversi Dietil eter yang dihasilkan sebesar 94-94% Kelemahan dari proses ini adalah pemisahan katalis masih sulit dan mahal serta katalis bersifat korosif sehingga membutuhkan investasi peralatan cukup mahal. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan untuk mengatasi kelemahan tersebut dengan cara mengembangkan katalis heterogen, Dietil eter, adalah salah satu anestesi pertama. Sifat anestesi senyawa ini, ditemukan di awal 1800-an, merevolusi praktek operasi. Karena volatilitas yang tinggi pada suhu kamar, Dietil eter menghirup dengan cepat memasuki aliran darah. Karena eter ini memiliki kelarutan yang rendah dalam air dan volatilitas tinggi, dengan cepat meninggalkan aliran darah sekali diperkenalkan. Karena sifat fisik, pasien bedah dapat dibawa masuk dan keluar dari anestesi (keadaan tidak sadarkan diri) hanya dengan mengatur gas bernafas. gas anestesi modern-hari memiliki efek samping yang lebih sedikit dari Dietil eter tetapi bekerja pada prinsip yang sama.

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Proses produksi Bio-bioetanol Produksi etanol/bio-etanol (alkohol) dengan bahan baku tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat, dilakukan melalui proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air. Glukosa dapat dibuat dari pati-patian, proses pembuatannya dapat dibedakan berdasarkan zat pembantu yang dipergunakan, yaitu Hydrolisa asam dan Hidrolisa enzim. Berdasarkan kedua jenis hydrolisa tersebut, saat ini hydrolisa enzim lebih banyak dikembangkan, sedangkan hydrolisa asam (misalnya dengan asam sulfat) kurang dapat berkembang, sehingga proses pembuatan glukosa dari pati-patian sekarang ini dipergunakan dengan hydrolisa enzim. Dalam proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air

dilakukan dengan penambahan air dan enzim; kemudian dilakukan proses peragian atau fermentasi gula menjadi ethanol dengan menambahkan yeast atau ragi. Reaksi yang terjadi pada proses produksi etanol/bio-etanol secara sederhana ditujukkan pada reaksi 1 dan 2. enzim H2O + (C6H10O5)n (pati) N C6H12O6 (1) (glukosa)

yeast (ragi) (C6H12O6)n (glukosa) 2 C2H5OH + 2 CO2. (2) (ethanol)

Selain etanol/bio-etanol dapat diproduksi dari bahan baku tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat, juga dapat diproduksi dari bahan tanaman yang mengandung selulosa, namun dengan adanya lignin mengakibatkan proses penggulaannya menjadi lebih sulit, sehingga pembuatan etanol/bio-etanol dari selulosa tidak perlu direkomendasikan. Meskipun teknik produksi etanol/bioetanol merupakan teknik yang sudah lama diketahui, namun etanol/bio-etanol untuk bahan bakar kendaraan memerlukan etanol dengan karakteristik tertentu yang memerlukan teknologi yang relatif baru di Indonesia antara lain mengenai

neraca energi (energy balance) dan efisiensi produksi, sehingga penelitian lebih lanjut mengenai teknologi proses produksi etanol masih perlu dilakukan. Secara singkat teknologi proses produksi etanol/bio-etanol tersebut dapat dibagi dalam tiga tahap, yaitu gelatinasi, sakharifikasi, fermentasi dan distilasi.

3.2 Dehidrasi bio-etanol Untuk memurnikan bioetanol menjadi berkadar lebih dari 95% agar dapat dipergunakan sebagai bahan bakar, alkohol hasil fermentasi yang mempunyai kemurnian sekitar 40% tadi harus melewati proses destilasi untuk memisahkan alkohol dengan air dengan memperhitungkan perbedaan titik didih kedua bahan tersebut yang kemudian diembunkan kembali. Namun untuk memperoleh etanol dengan konsentrasi tinggi, diperlukan proses pemisahan dengan energi yang besar. Hal ini dikarenakan sifat etanol dan air yang membentuk larutan azeotrop pada tekanan atmosferik dan temperatur 78oC dengan titik azeotrop 95%. Azeotrop merupakan campuran dari dua atau lebih komponen yang memiliki titik didih yang konstan. Azeotrop dapat menjadi gangguan yang menyebabkan hasil dari proses distilasi menjadi tidak maksimal. Etanol konsentrasi rendah dapat dimanfaatkan dengan menkonversi etanol menjadi produk yang lebih potensial melalui proses dehidrasi menjadi Dietil eter (DEE). Dietil eter adalah cairan bening yang mudah terbakar dan memiliki bau yang khas. Proses produksi Dietil eter tersebut dilakukan dengan melakukan dehidrasi terhadap etanol dengan

menggunakan katalis berupa zeolit. Dalam proses dehidrasi tersebut bioetanol akan diubah menjadi Dietil eter dengan bantuan katalis zeolit, dengan memecah ikatan etanol dengan air melalui adsorpsi terhadap air yang terdapat dalam etanol yang menghasilkan H2O dan Dietil eter, berikut merupakan reaksi yang terjadi antara bio-etanol dengan katalis zeolit: Zeolit (C2H5OH) Bio etanol (CH3-CH2-O-CH2-CH3) Dietil Eter

BAB IV PENUTUP

3.1 Kesimpulan Dari hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan, 1. Dehidrasi merupakan reaksi yang melibatkan pelepasan air dari molekul yang bereaksi. Reaksi dehidrasi merupakan subset dari reaksi eliminasi. 2. Dehidrasi yang terjadi pada proses pembuatan dietil eter dari etanol termasuk dehidrasi adsorpsi . Dalam reaksi dehidrasi tersebut zeolit berperan sebagai adsorben yang menyerap air dari etanol sehingga terbentuk dietil eter 3. Produk hasil dari dehidrasi bio etanol dengan katalis zeolit adalah dietil eter 4. Dietil eter merupakan senyawa organic yang dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti bensin. 3.2 Saran Disarankan untuk mengkaji lagi kemampuan dan pemakaian zeolit sebagai katalis dalam pembuatan Dietil eter karena itu sangat berpengaruh terhadap output yang dihasilkan dari proses dehidrasi etanol dengan menggunakan zeolit sebagai katalis

DAFTAR PUSTAKA
Darmawan, P. (-). Dehidrasi Dengan Membran Pervaporasi NaA Zeolit. Jurnal Kimia danteknologi , 7-114. Musanif, J. (-). BIO-ETANOL. - , 3. Nurdyastuti, I. (-). TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI BIO-ETHANOL. Prospek Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak , 8. Savitri, N. D., & Veronica. (-). Proses Produksi DiEtil Eter dengan Dehidrasi Etanol pada Fase Cair. - , 8. Srihapsari, D. (2006, - -). Struktur Penyyusun Zeolit. Retrieved Nopember 16, 2012, from Scribdn: http://id.scribd.com/doc/52972320/4/Gambar-2-3-Struktur-Penyusun-Zeolit Widayat, Roesyadi, A., & Rachimoellah, d. M. (2010). PENGARUH WAKTU DEALUMINASI DAN JENIS SUMBER ZEOLIT ALAM TERHADAP KINERJA H-ZEOLIT UNTUK PROSES DEHIDRASI ETANOL. Reaktor, Vol. 13 , 51-57.