Anda di halaman 1dari 7

TUGAS REFERAT

OBAT YANG MENINGKATKAN NAFSU MAKAN PADA GERIATRI

Disusun oleh : Maulia Prismadani (G9911112093) Niawati Rokhaniah (G9911112104) Dwi Prasetyo Nugroho () Wildan Syamsuddin Fahmy Pembimbing : dr. Fatichati

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN

Warga usia lanjut yang tercantum dalam Undang-Undang no. 13/1998 tentang Kesejahteraan Usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun atau lebih. Pada usia 60 tahun ke atas terjadi proses penuaan yang bersifat universal berupa kemunduran dari fungsi biosel, jaringan, organ, bersifat progesif, perubahan secara bertahap, akumulatif, dan intrinsik. Proses di penuaan tubuh

mengakibatkan terjadinya perubahan pada berbagai organ

dalam

seperti sistem gastrointestinal, sistem genitourinaria, sistem endokrin, sistem immunologis, sistem serebrovaskular, sistem saraf pusat dan sebagainya. Dengan bertambahnya usia maka tidak dapat dihindari terjadinya perubahan kondisi fisik baik berupa berkurangnya kekuatan fisik yang menyebabkan individu menjadi cepat lelah maupun menurunnya kecepatan reaksi yang mengakibatkan gerak-geriknya menjadi lamban. Selain itu timbulnya penyakit yang biasanya juga tidak hanya satu macam tetapi multipel, menyebabkan usia lanjut memerlukan bantuan, perawatan dan obat-obatan untuk proses penyembuhan atau sekadar mempertahankan agar penyakitnya tidak bertambah parah. Penyebab kematian utama pada pasien usia lanjut di seluruh dunia adalah penyakit vaskuler dan penyakit kronik yang menyertainya. Upaya-upaya pencegahan penyakit ini dilakukan melalui pola hidup sehat yang mencakup aktivitas fisik, diet bergizi, dan tidak merokok atau salah guna obat. Bersamaan dengan pesatnya peningkatan populasi usia lanjut terdapat bukti perubahan perilaku dan pola aktivitas fisik yang meningkatkan resiko timbulnya penyakit kronis. Hal ini disebut transisi nutrisi yang terjadi demikian cepat di seluruh dunia. Prevalensi malnutrisi meningkat seiring dengan timbulnya kelemahan dan ketergantungan fisik. Selain malnutrisi, defisiensi micronutrient juga kerap terjadi pada pasien lanjut yang kemudian akan mencetuskan berbagai penyakit kronik. Salah satu penyebab dari malnutrisi pada geriatri adalah penurunan nafsu makan.
2

Penurunan nafsu makan dapat disebabkan oleh karena sakit, penurunan indra perasa, pembau, maupun karena depresi. Dengan melihat kondisi itu, maka malnutrisi pada geriatric salah satunya dapat diatasi dengan pemberian obatobatan yang dapat meningkatkan nafsu makan. Terapi pengobatan pada pasien usia lanjut secara signifikan berbeda dari pasien pada usia muda, karena adanya perubahan kondisi tubuh yang disebabkan oleh usia, dan dampak yang timbul dari penggunaan obat-obatan yang digunakan sebelumnya.Keputusan terapi untuk pasien usia lanjut harus didasarkan pada hasil uji klinik yang secara khusus didesain untuk pasien usia lanjut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Fisiologi Geriatri Membicarakan fisiologi proses penuaan tidak dapat dilepaskan dari konsep homeostenosis yang diperkenalkan oleh Wallter Cannon pada tahun 1940. Homeostenosis merupakan keadaan penyempitan (berkurangnya) cadangan homeostatis yang terjadi seiring meningkatnya usia pada setiap sistem organ. Dengan makin berkurangnya cadangan fisiologis, maka seorang usia lanjut lebih mudah untuk mencapai suatu ambang yang dapat berupa keadaan sakit atau kematian. Setiap individu tidak menua secara seragam, baik cara maupun laju kecepatannya. Banyak perubahan yang dikaitkan dengan proses menua merupakan akibat dari kehilangan yang bersifat bertahap (gradual loss). Berdasarkan perbandingan yang diamati secara potong lintang antar kelompok usia yang berbeda, sebagian orang mengalami kehilangan fungsi sekitar 1% per tahun. Proses menua merupakan sebuah waktu untuk berbagai kehilangan, antara lain kehilangan peran sosial akibat pensiun, kehilangan mata pencaharian, kehilangan teman atau keluarga. Pada proses ini, individu merasakan adanya ketakutan dan kecemasan. (Setiati et al., 2006) Pada geriatri, seringkali pasien merasakan depresi. Freud dan Karl Abraham menyatakan bahwa kejadian depresi pada geriatric dapat disebabkan oleh karena kehilangan objek dicinta. Selain itu ada juga obat-obatan yang dapat menyebabkan depresi misalnya pada golongan anegetik (kodein dan morfin), OAINS (ibuprofen, naproksen, dan indometasin), antihipertensi (klonidin, proponolol, kaptopril), dan sebagainya. Keadaan depresi dapat menimbulkan penurunan nafsu makan dan libido pada pasien. B. Malnutrisi pada geriatri Kelemahan nutrisi merujuk pada ketidakmampuan yang terjadi pada usia lanjut karena kehilangan berat badan fisiologis dan patologis yang tidak sengaja
4

dan sarkopenia. Sarkopenia merupakan penurunan massa dan keuatan otot yang mungkin terjadi pada usia lanjut. Pada geriatric dapat terjadi malnutrisi energy protein karena energy dan atau protein yang ada tidak mencukupi kebutuhan. Malnutrisi energy dan protein dapat terjadi karena intake asupan protein atau kalori yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic bila terdapat penyakit atau trauma atau meningkatnya kehilangan zat gizi. Geriatri adalah kelompok yang sangat rentan dengan kejadian malnutrisi. Banyaknya penyakit serta meningkatnya hendaya berkaitan dengan resiko-resiko terjadinya malnutrisi. Status nutrisi pasien geriatri yang dirawat atau baru keluar dari perawatan biasanya masih membutuhkan perhatian khusus. Penilaian status nutrisi sangat menentukan karena seringnya angka kejadian kurang gizi yang progresif dan sering tidak terdiagnosis. Kakeksia dapat terjadi karena tingginya respon fase akut yang ditandai dengan adanya peningkatan mediator inflamasi seperti TNF- dan interleukin-1 serta meningkatnya degradasi protein dan otot yang dapat pulih kembali dengan membaiknya asupan. Kakeksia juga dapat terjadi bersamaan dengan penyakit kronis spesifik misalnya kanker, infeksi, arthritis, dan inflamasi. Akan tetapi pada kondisi geriatri kakeksia dapat muncul tanpa penyakit yang spesifik. Perubahan berat badan dapat digunakan untuk menilai adanya malnutrisi. Perubahan berat badan dapat dinyatakan dalam persentase untuk menilai malnutrisi. Kehilangan berat badan 5% dari berat badan berkaitan dengan meningkatnya morbiditas dan mortalitas. Bila kehilangan berat badan 10 % berkaitan dengan status fungsional dan hasil pengobatan. Bila penurunan berat badan 15-20% atau lebih dapat menunjukkan adanya malnutrisi berat. Lanjutkan dari buku papdi jilid 3 halaman 1358 C. Pedoman Pemberian Obat Pada Geriatri D. Obat-obatan untuk meningkatkan nafsu makan pada Geriatri

BAB III SIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Anda mungkin juga menyukai