Anda di halaman 1dari 32

Osteoartritis

Defenisi Osteoartritis adalah suatu penyakit sendi yang menahun yang ditandai oleh adanya kelainan pada tulang rawan (kartilago) sendi dan tulang di dekatnya. Kelainan pada kartilago menyebabakan tulang bergesekan satu sama lain yang menyebabkan kekakuan, nyeri, dan pembatasan gerakan pada sendi.

Diferential Diagnosis Artritis septik Kami mengambil artrtitis septik sebagai DD pada penyakit ibu udin karena pada artrtis septik juga ditemukan nyeri pada sendi lutut yang mirip pada penyakit ibu udin.

Faktor Resiko - umur - Berat Badan - Trauma pada sendi / gangguan sendi secara berlebihan - kelemahan pada otot - penyakit yang dapat mengganggu fungsi dan struktur normal pada tulang rawan seperti AR, Gout.

Patogenesis Bermula dari sel-sel yang membentuk komponen tulang rawan, seperti kolagen dan proteoglikan yang dibentuk oleh kondrosit dengan alasan-alasan yang masih belum diketahui, sintesi kolagen dan proteoglikan meningkat tajam pada osteoartritis, tetapi substansi ini juga dihancurkan denbgan kecepatan yang lebih tinggi, sehingga pembentukan tidak mengimbangi kebutuhan. Sejumlah kecil kartilago tipe I menggantikan kartilago tipe II sehingga terjadi perubahan pada diameter dan orientasi serat kolagen yang mengubah biomekanika kartilago.

Penegakkan Diagnosis Langkah-langkah penetapan diagnosis Untuk kepentingan penyeragaman diagnosis maka seyogyanya dipergunakan acuan

berupa kriteria diagnosis yang antara lain seperti berikut ini. Kriteria diagnosis OA lutut Klinis: 1. nyeri sendi lutut dan 3 dari kriteria di bawah ini: 2. krepitus saat gerakan aktif 3. kaku sendi < 30 menit 4. umur > 50 tahun 5. pembesaran tulang sendi lutut 6. nyeri tekan tepi tulang 7. tidak teraba hangat pada sendi lutut. Diagnosis OA jika : Bila ditemukan nyeri sendi serta osteofit dari gambaran radiologik dan 3 dari kriteria 2-7. Sensitivitas 95% dan spesifisitas 69%. Klinis, dan radiologis: 1. nyeri sendi dan paling sedikit 1 dari 3 kriteria di bawah ini: 2. kaku sendi <30 menit 3. umur > 50 tahun 4. krepitus pada gerakan sendi aktif Diagnosis OA jika didapatkan butir 1 disertai osteofit pada gambaran radiologik disertai kriteria 2, 3 atau 4. Paling sedikit satu kriteria 2-4 harus ditemukan. Sensitivitas 91% dan spesifisitas 86%. Klinis dan laboratoris: 1. Nyeri sendi ditambah adanya 5 dari kriteria di bawah ini: 2. usia >50 tahun 3. kaku sendi <30 menit 4. Krepitus 5. nyeri tekan tepi tulang 6. pembesaran tulang 7. tidak teraba hangat pada sendi terkena 8. LED<40 mm/jam 9. RF <1:40 10. analisis cairan sinovium sesuai OA 1

Diagnosis OA ditegakkan bila ditemukan nyeris sendi lutut disertai 5 dari kriteria 210. Sensitivitas 92% dan spesifisitas 75%. Catatan: LED=laju endap darah; RF=rheumatoid factor.

Penatalaksanaan Non farmakologis eduksi, rehabilitasi, penurunan berat badan

Farmakologis A. Sistemik: i. Analgetik; a. Non narkotik: parasetamol b. Opioid: - kodein - tramadol ii. Antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs) - Oral - injeksi - suppositoria iii. DMOADs (disease modifying OA drugs) B. Topikal: i. Krim rubefacients dan capsaicin. Beberapa sediaan telah tersedia di Indonesia dengan carakerja pada umumnya bersifat counter irritant . ii. Krim NSAIDs Selain zat berkhasiat yang terkandung didalamnya, perlu diperhatikan campuran yang dipergunakan untuk penetrasi kulit.3,4,5 Salah satu yang dapat digunakan adalah gel piroxicam, dan sodium diclofenac (Voltaren emulgel ) Pembedahan Sebelum diputuskan untuk terapi pembedahan, harus dipertimbangkan terlebih dahulu risiko dan keuntungannya. 2

Pertimbangan dilakukan tindakan operatif bila : 1. deformitas menimbulkan gangguan mobilisasi 2. nyeri yang tidak dapat teratasi dengan penganan medikamentosa dan rehabilitatif

Prognosis Pada kasus ini, quo ad vitam : ad bonam quo ad fungsiona : dubia ad malam

7. Pencegahan Jawab : OA dapat dicegah dengan cara :

Makan makanan sehat seperti buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan Minum obat yang direkomendasikan oleh dokter. Mempertimbangkan menggunakan peralatan bantuan saat beraktivitas yang diperkirakan membahayakan Jaga gerakan yang dapat menyebabkan cidera tulang Jika mengangkat benda, usahakan beban terbagi merata pada seluruh sambungan tulang Pilih sepatu yang tepat Ketahui batas kemampuan gerakan dan kemampuan mengangkat beban anda Teknik relaksasi juga dapat membantu seperti mengambil napas dalam dan hipnotis. Struktur anatomi osteoarthritis

Osteoartritis (OA)

Perkapuran pada lutut merupakan salah satu tanda terjadinya osteoarthritis . Osteoartritis (OA) dikenali sebagai arthritis degenerative, gangguan yang terjadi seiring bertambahnya umur, terutama mengenai sendi yang menopang berat badan, seperti lutut, dan panggul, meski tak jarang juga terjadi pada tangan dan kaki. DEFINISI Osteoartritis (Artritis Degeneratif, Penyakit Sendi Degeneratif) adalah suatu penyakit sendi menahun yang ditandai dengan adanya kemunduran pada 4

tulang rawan (kartilago) sendi dan tulang di dekatnya, yang bisa menyebabkan nyeri sendi dan kekakuan. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun. Bisa terjadi pada pria dan wanita, tetapi pria bisa terkena pada usia yang lebih muda.

Usia dan genetik dikatakan merupakan faktor resiko terjadinya OA.Rawan sendi menipis bersama pertambahan usia. Rawan sendi yang menipis menyebabkan gesekan antar tulang , menimbulkan nyeri dan terbatasnya gerak lutut. Gerakan berulang sendi lutut bertahun- tahun mengiritasi dan menyebabkan peradangan . Tulang rawan yang radang memicu terjadinya pertumbuhan tulang tidak pada tempatnya (spur/ perkapuran.) di sekitar sendi. OA juga sering ditemukan pada beberapa orang dalam suatu keluarga, sehingga faktor keturunan tak bisa dihindarkan. Hal lain yang merupakan faktor resiko, mencakup kegemukan, jenis kelamin (perempuan cenderung lebih banyak terjadi ), trauma, kelemahan otot, sendi yang tidak stabil, meningkatnya pembebanan dinamik. Individu dengan obesitas cenderung mengalami OA lutut 300-400% . Sepatu yang terlalu tinggi, sempit, berat, alas sepatu (sol) yang keras dan kurang lentur , bisa menjadi penyebab.

Gejala
Nyeri dan kekakuan merupakan hal yang sering dikeluhkan . Nyeri sendi biasanya bersifat tumpul, bedakan dengan nyeri yang tajam menusuk, sampaikan dengan jelas pada dokter. Sifat nyeri yang berbeda , akan memberikan diagnosa berbeda. Nyeri dirasakan setelah aktivitas berulang . Nyeri saat istirahat dapat terjadi , pada OA yang berat. Rawan sendi bisa hilang sama sekali, sehingga terjadi pergeseran antar tulang, yang berakibat keterbatasan gerakan persendian. Kaku sendi, merupakan rasa seperti diikat yang biasanya singkat, tidak lebih dari setengah jam. Nyeri dan kekakuan sendi dapat juga timbul setelah bangun tidur, atau setelah duduk yang lama ( naik kereta api, nonton film). 5

Gejala lain pada OA lutut berupa bengkak , teraba hangat dan bunyi (creaking); bowleg , bila degenerasi tulang rawan sangat progresif; sedangkan bony enlargement sering menyertai terbentuknya perkapuran. Gejala OA dirasakan bervariasi diantara individu yang terkena. Beberapa orang menjadi cacat karena gejalanya. Namun ada juga gejala yang dirasakan tidak sedramatis tampilan degenerasi sendi yang citra dari foto rotgen. Bahkan nyeri tidak selalu dirasakan, seringkali hilang timbul. Tak jarang ada masa bebas nyeri yang lama , hingga dalam hitungan tahun. Pemeriksaan penunjang Tidak ada pemeriksaan laboratorium darah spesifik untuk menegakkan diagnose OA, tes darah dilakukan untuk menyingkirkan penyakit lain. Pemeriksaan radiologis sendi yang terkena memberikan penampilan penipisan hingga hilangnya rawan sendi , penyempitan ruang sendi, dan terbentuknya spur / perkapuran. Artrosintesis dan artroskopi merupakan tindakan lanjut yang dilakukan seorang dokter, bilamana perlu. Artrosintesis , dokter akan menusukkan jarum yang steril untuk mengambil cairan dalam sendi, untuk dianalisa. Artroskopi, merupakan tehnik bedah menggunakan tabung kecil, untuk melihat dalam sendi . OA? Apa saja yang bisa dilakukan Terapi OA lutut menghilangkan nyeri sendi dan menjaga fungsi sendi. Pada lutut, sesuai dengan fungsi penunjang saat berjalan, diharapkan tidak ada rasa nyeri , serta gangguan akibat kekakuan ataupun keterbatasan. Pada wikimuers yang beruntung tanpa gejala yang dirasakan, pengobatan tidaklah peseharlu , meskipun proteksi agar OA tidak memberat sehingga menimbulkan keluhan , tetap harus dipertimbangkan. Ingat PRITE. P(rotection) ; P(revention): Bertujuan mengurangi beban pada lutut (saat berdiri maupun berjalan). Pengurangan beban selain pastinya mengurangi berat badan , bila memang berlebih, bisa disiasati dengan mnggunakan tongkat. Tongkat bersama ke dua kaki akan memperluas dasar tumpuan badan, dengan demikian beban lutut berkurang. Dapat juga diberikan alat bantu, dengan tujuan mengalihkan beban tumpuan lutut. (http://rehab-med.blogspot.com/2007/03/osteoarthrosis-genurehabilitation.html) Relative R(est): Istirahat yang cukup untuk lutut, hindari berdiri lama, naik tangga, berlutut, menekuk lutut yang dalam. Mengistirahatkan lutut yang sakit, akan berdampak turunnya tekanan pada sendi, pada gilirannya akan mengurangi nyeri, dan menghilangkan bengkak. Istirahat dapat berupa pengurangan intensitas dan frekuensi aktivitas yang secara konsisten membebani lutut. I(ce) Es diberikan bila lutut teraba hangat, alasi es dengan handuk. Wikimuers mungkin akan dipilihkan terapi fisik yang lain misalnya TENS; ES suatu 6

bentuk terapi listrik untuk mengurangi rasa sakit. Pemilihan terapi fisik yang lain seperti diatermi (bersifat pemanasan), atau laser tenaga rendah , pastinya harus melewati pertimbangan dokter . Taping Secara teoritis lutut dibagai menjadi tiga, luar , tengah dan dalam. Lutut sisi dalam yang sering mengalami kerusakan . Taping menggunakan tape yang spesifik, biasanya dipasang pada sisi dalam. Saat ini dokter spesialis rehabilitasi medik, ortopedi dan rematologi- penyakit dalam yang berkompetensi untuk pemakaian taping Exercise/ latihan Bentuk latihan bisa isometrik atau isotonik, Konsultasi dulu dengan dokter, jenis olahraga yang sesuai untuk Wikimuers. Latihan atau olahraga (pada OA) yang terarah akan meningkatkan kelenturan sendi , dengan demikian diharapkan tidak terjadi keterbatasan gerakan sendi dan menurunkan derajat kekakuan lutut. Pada pembahasan kali ini, saya sampaikan satu bentuk latihan penguatan otot paha depan (quadriceps), dengan metoda isometrik. Latihan dilakukan saat tidak terjadi radang pada lutut, (tidak sakit, tidak teraba hangat, tidak bengkak). Sebaiknya sudah dilakukan sebelum memasuk usia resiko terjadinya OA . Tahanan selama 5 detik cukup aman. Obat Obat yang di berikan pada umumnya golongan NSAID, namun untuk OA biasanya disertai pemberian golongan glucosamine chondroitin . Keduanya ada dalam bentuk minum ataupun olesan . Yang sebaiknya diperhatikan , takaran dan cara pemakaian. Obat lain berupa injeksi serta tindakan operasi, pastinya harus dengan indikasi yang tepat.

Osteoartritis
OA adalah penyakit kronis yang menyerang tulang rawan sendi & jaringan di sekitarnya dengan gejala nyeri, kaku, & hilangnya fungsi dari sendi. OA sering juga disebut radang sendi degeneratif, yang disebabkan oleh penuaan. OA juga dapat dialami oleh mereka yang berusia lebih muda, terutama diakibatkan oleh cedera, infeksi, atau beban terlalu berat pada sendi akibat kerja atau kegemukan. Sendi secara normal memiliki tingkat gesekan yang rendah karena selain memiliki bantalan, juga terdapat cairan sendi yang berfungsi sebagai pelumas. OA terjadi ketika munculnya ketidaknormalan dari sel-sel yang membentuk dari tulang rawan sendi, lalu terjadi kerusakan akibat retakan di permukaannya. Dari retakan-retakan tersebut, tulang muncul & bertumbuh di ujung sendi, sehingga permukaan sendi yang tadinya halus & licin menjadi kasar & bergelombang. Akibat hal ini, persendian tidak dapat bergerak dengan mulus & menimbulkan nyeri. Biasanya, gejala-gejala OA muncul secara perlahan & hanya terjadi di beberapa sendi, seperti sendi jari, leher, pinggang, pinggul, atau lutut. Gejala yang paling sering terjadi adalah rasa nyeri di sendi akibat aktivitas, lalu

disertai rasa kaku yang biasanya menghilang setelah digerakan selama beberapa saat. Pada OA yang lebih berat, akan muncul keterbatasan gerak pada sendi yang terkena. Tubuh akan mencoba memperbaiki hal itu, namun perbaikan yang terjadi justru menimbulkan bengkak & pertumbuhan sendi yang tidak merata, yang menimbulkan sendi berbunyi ketika digerakkan. Dari gejala-gejala di atas, dokter akan menyimpulkan bahwa seseorang terkena OA, jika diperlukan, dokter akan meminta pemeriksaan tambahan, dapat berupa foto rontgen di sendi yang terkena, atau pemeriksaan yang lebih canggih seperti MRI. Untuk membedakannya dengan radang sendi yang lain, dokter juga mungkin akan meminta pemeriksaan darah. Pengobatan yang dilakukan untuk OA lebih banyak ke arah mengurangi gejala & mempertahankan fungsi sendi sehingga penderita dapat memiliki kualitas hidup yang baik & beraktivitas dengan normal. Dokter akan menyarankan berbagai macam gerakan senam sehingga gerak sendi tidak terbatas oleh nyeri atau kekakuan, mencegah kerusakan tulang rawan sendi, & memperkuat otot-otot di sekitar sendi. Selain itu, dapat dilakukan terapi fisik dengan suhu panas untuk memperbaiki fungsi otot & mengurangi kekakuan otot. Sedangkan terapi fisik dengan suhu dingin digunakan untuk mengurangi nyeri. Untuk melindungi sendi dari gerakan yang menyebabkan nyeri, dapat digunakan berbagai alat bantu saat melakukan aktivitas. Sedangkan obat-obatan yang diberikan pada penderita OA lebih berfungsi untuk pelengkap dari pengobatan-pengobatan di atas. Obat-obatan yang digunakan bermanfaat untuk mengurangi rasa nyeri sendi juga sedikit mengurangi peradangan yang terjadi di sendi, misalnya obat-obat dari golongan anti radang non steroid (NSAID). Namun, harus berhati-hati terhadap penggunaan obat-obatan tersebut, karena dapat menimbulkan banyak efek samping yang serius, dari mulai perdarahan lambung sampai risiko terkena serangan jantung & stroke yang sangat meningkat. Baiknya, obatobatan untuk OA hanya digunakan berdasarkan resep dokter & hanya digunakan jika betul-betul perlu dalam waktu yang singkat. Obat-obatan yang langsung dioleskan di kulit daerah sendi juga dapat digunakan untuk mengurangi nyeri & peradangan yang timbul. Obat oles relatif lebih aman dari obat yang diminum namun tetap penggunaannya harus dalam pengawasan dokter. Kadangkala, jika terjadi pembengkakan sendi yang disertai warna kemerahan & nyeri yang hebat, dapat dilakukan penyedotan cairan ataupun penyuntikan di daerah sendi oleh dokter dengan menggunakan berbagai macam obat. Namun, pengobatan ini hanya bekerja dalam waktu yang singkat & hanya untuk mengurangi gejala-gejala yang timbul, juga tidak boleh sering digunakan karena dapat merusak sendi lebih jauh. Pada OA yang sangat parah atau gagal dengan semua pengobatan di atas, dokter dapat merujuk penderita ke dokter spesialis bedah ortopedi untuk dilakukan operasi penggantian sendi dengan sendi buatan. Operasi penggantian sendi adalah operasi yang sangat mahal. Sendi buatan juga tidak sekuat sendi yang asli, sehingga mungkin setelah beberapa tahun harus diganti kembali oleh sendi buatan yang lain. Selain itu, untuk mencegah perburukan kerusakan sendi, sebaiknya harus dilakukan penurunan berat badan pada penderita yang memiliki berat badan berlebih. 8

Nyeri pada lutut


OA Lutut paling sering ditemukan pada penderita berusia lanjut karena merupakan suatu penyakit degenerasi. Sejalan dengan bertambahnya usia seseorang maka struktur dan jaringan tubuh juga akan semakin berkurang fungsi, elastisitas dan daya tahan dari jaringan tersebut. Yang pada akhirnya jaringan tersebut akan menjadi aus dan rusak, demikian juga yang terjadi pada sendi lutut ini. OA Lutut sering terjadi karena lutut merupakan sendi yang paling banyak dipakai saat kita bergerak. Faktor yang yang turut berpengaruh adalah kegemukkan, karena dengan semakin gemuk seseorang maka beban tumpuan pada kedua lutut juga semakin besar. Disamping itu juga faktor nutrisi, pola makan dan pola hidup juga sangat berpengaruh terhadap terjadinya kasus OA Lutut.

Gejala-gejala:
Keluhan yang sering menyertai adalah: - Nyeri lutut. - Kaku sendi. - Bengkak sendi. - Sendi berbunyi saat digerakkan. - Sendi terasa goyah atau tidak stabil. - Bentuk lutut yang melengkung keluar. Hal ini lebih banyak terjadi bagi mereka yang gemuk. - Jika kasusnya berlanjut menahun dapat terjadi pengecilan daripada otot-otot tungkai bawah sehingga timbul kelemahan tungkai bawah.

Penatalaksanaan:
1. Obat-obatan: obat yang diminum, dioleskan ataupun disuntikkan langsung ke lutut. 2. Rehabilitasi Medik: Tujuan terapi Rehabilitasi Medik adalah: - Mengurangi/ menghilangkan rasa sakit. - Memperbaiki fungsi lutut. - Mengembangkan strategi menghadapi nyeri. - Mencegah terulangnya kembali rasa nyeri dengan mengubah gaya hidup. - Mencegah agar penyakit tidak bertambah parah. Program Rehabilitasi Medik: 1. Terapi fisik: terapi panas, terapi dingin, elektroterapi, exercise seperti latihan aerobic endurance, latihan relaksasi, dll. 2. Okupasi terapi: memberikan petunjuk dan latihan-latihan yang disesuaikan dengan kondisi sakit pasien, sehingga dapat tetap melakukan aktifitas kegiatan sehari-hari. 9

3. Ortotik prostetik: memberikan dynamic-splint sebagai alat protektif lutut juga sebagai alat Bantu jalan. 4. Edukasi: - Mengubah gaya hidup yang menyebabkan kerusakkan lebih parah pada sendi lutut, seperti: hindari sering naik turun tangga, jongkok, melompat, dsb. - Hindari kegemukkan dengan dengan diet yang sehat dan berimbang. - Istirahat cukup dan olahraga teratur. Olahraga yang disarankan bersepeda atau berenang. - Biasakan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci atau memasak dengan duduk. - Pergunakan selalu kloset duduk, hindari kloset jongkok. - Hindari berjalan atau berdiri dalam jangka waktu yang lama. Demikian yang dapat kami sampaikan tentang nyeri lutut akibat Osteoartritis Lutut (OA Lutut) dan program Rehabilitasi Medik yang dapat dilakukan. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca sekali. Untuk konsultasi lebih lanjut dapat menghubungi kami.

OSTEOARTHRITIS
1. Definisi Osteoartritis (OA, Penyakit Sendi Degeneratif) adalah suatu penyakit sendi menahun yang ditandai dengan adanya kemunduran pada tulang rawan (kartilago) sendi dan tulang di dekatnya, yang bisa menyebabkan nyeri sendi dan kekakuan.

2. Etiologi Penyebab osteoartritis bermacam-macam. Beberapa penelitian

menunjukkan adanya hubungan antara osteoarthritis dengan reaksi alergi, infeksi dan invasi fungi (mikosis).Riset lain juga menunjukkan factor keturunan atau genetik yang terlibat dalam penurunan penyakit ini. Faktor terjadinya semua perubahan ini masih belum dikenal pasti. Tetapi ada beberapa faktor resiko yang memungkinkan seseorang untuk mengalami osteoartritis, yaitu: Umur Semakin meningkat usia seseorang,semakin tinggi risiko seseorang itu menghidap osteoartrtis.Osteoartritis biasanya terjadi pada orang yang berusia 45 tahun ke atas. kaum lelaki yang berumur 55 tahun ke bawah lebih cenderung untuk menghidapi

10

penyakit ini jika dibandingkan dengan kaum wanita pada lingkungan usia yang sama. Pada lingkungan umur 55 tahun ke atas,kaum wanita lebih cenderung untuk menghidap osteoartritis jika dibandingkan dengan kaum lelaki.
Berat badan Makin tinggi berat badan seseorang, makin tinggi risiko seseorang itu untuk menghidap osteoartritis. Hal ini kerana seiring dengan

bertambahnya berat badan seseorang, bebanan pada sendi tersebut semakin besar. Trauma pada sendi atau penggunaan sendi secara berlebihan Orang-orang yang pekerjaanya berkaitan dengan aktivitas yang memerlukan pergerakan berulang kali secara terus menerus, seperti atlet, berisiko tinggi untuk menghidap osteoartritis.

Kelemahan pada otot Kelemahan pada otot-otot di sekeliling sendi juga akan menyebabkan terjadinya osteoartritis.

Faktor Genetik Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis missal, pada ibu dari seorang wanita dengan osteoartritis pada sendi-sendi inter falang distal terdapat dua kali lebih sering osteoartritis pada sendi-sendi tersebut, dan anak-anaknya

perempuan cenderung mempunyai tiga kali lebih sering dari pada ibu dananak perempuan dari wanita tanpa osteoarthritis. Penyakit lain yang dapat mengganggu fungsi dan struktur normal pada tulang rawan seperti rheumatoid artritis, hemokromatosis, gout, akromegali, dan sebagainya. 3. Epidemiologi 11

Prevalensi OA lutut radiologis di indonesia cukup tinggi, yaitu mencapai 15.5 % pada pria, dan 12,7% pada wanita. Osteoarthritis merupakan penyakit rematik sendi yang paling banyak mengenai terutama pada orang-orang diatas 50 tahun. Diatas 85% orang berusia 65 tahun menggambarkan osteoarthritis pada gambaran xRay,meskipun hanya 35%-50% hanya mengalami gejala. Umur dibawah 45 tahun prevalensi terjadinya osteoarthritis lebih banyak terjadi pada pria sedangkan pada pada umur 55 tahun lebih banyak terjadi pada wanita. Pada beberapa penelitian menunjukan bahwa terjadinya osteoarthritis pada obesitas,pada sendi penahan beban tubuh.

4. Patofisiologi Osteoartritis dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : 1. Osteoartritis primer : disebut juga osteoartritis idiopatik karena

kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi. 2. Osteoartritis sekunder : didasari oleh adanya kelainan endokrin, inflamasi, metabolik, pertumbuhan, herediter, jejas makro dan mikro serta imobilisasi yang terlalu lama. Osteoartritis primer lebih sering ditemukan daripada osteoartritis sekunder. Tulang rawan sendi merupakan sasaran utama perubahan degeneratif osteoartritis. Tulang rawan sendi memiliki letak strategis, yaitu diujung ujung tulang untuk melaksanakan dua fungsi, antara lain : (1) menjamin gerakan yang hampir tanpa gesekan didalam sendi, berkat adanya cairan sinovium, dan (2) disendi sebagai penerima beban, menebarkan beban keseluruh permukaan sendi sehingga tulang dibawahnya dapat menerima benturan dan berat tanpa mengalami kerusakan. Kedua fungsi ini mengharuskan tulang rawan elastis (yaitu memperoleh kembali arsitektur normalnya setelah tertekan) dan memiliki daya regang (tensil strength) yang tinggi.

12

Kedua ciri ini dihasilkan oleh dua komponen utama tulang rawan yaitu suatu tipe khusus kolagen (tipe II) dan proteoglikan, dan keduanya dikeluarkan oleh kondrosit. Seperti pada tulang orang dewasa, tulang rawan sendi tidak statis, tulang ini mengalami pertukaran, komponen matriks tulang tersebut yang aus diuraikan dan diganti. Keseimbangan ini dipertahankan oleh kondrosit dan kemampuan sel ini memelihara sifat esensial matriks tulang rawan menentukan integritas sendi. Pada osteoartritis, proses ini terganggu oleh beragam sebab. Mungkin pengaruh yang terpenting adalah efek penuaan dan efek mekanis. Meskipun osteoartritis bukan suatu proses wear-and-tear (aus karena sering digunakan), tidak diragukan lagi bahwa stres mekanis pada sendi berperan penting dalam pembentukannya. Bukti yang mendukung antara lain meningkatnya frekuensi

osteoartritis seiring dengan pertambahan usia, timbulnya disendi penahan beban, dan meningkatnya frekuensi penyakit pada kondisi yang menimbulkan stres mekanis abnormal, seperti obesitas dan riwayat deformitas sendi. 13

Faktor genetik juga berperan dalam kerentanan terhadap osteoartritis, terutama pada kasus yang mengenai tangan dan panggul. Gen atau gen-gen spesifik yang bertanggung jawab untuk ini belun teridentifikasi meskipun pada sebagian kasus diperkirakan terdapat keterkaitan dengan kromosom 2 dan 11. Osteoartritis ditandai dengan perubahan signifikan baik dalam komposisi maupun sifat mekanis tulang rawan. Pada awal perjalanan penyakit, tulang rawan yang mengalami degenerasi memperlihatkan peningkatan kandungan air dan penurunan konsentrasi proteoglikan dibandingkan dengan tulang rawan sehat. Selain itu, terjadi perlemahan jaringan kolagen yang mungkin karena penurunan sintesis lokal kolagentipe II dan peningkatan pemecahan kolagen yang sudah ada. Kadar molekul perantara tertentu termasuk IL-1, TNF, dan nitrat oksida, meningkat pada tulang rawan osteoartritis dan ikut berperan menyebabkan perubahan komposisi tulang rawan. Apoptosis jug meningkat yang mungkin menyebabkan penurunan jumlah kondrosit fungsional. Secara keseluruhan, perubahan ini cenderung menurunkan daya regang dan kelenturan tulang rawan sendi. Sebagi respon terhadap perubahan regresif ini, kondrosit pada lapisan yang lebih dalam berproliferasi dan berupaya memperbaiki kerusakan dengan menghasilkan kerusakan dengan menghasilkan kolagen dan proteoglikan baru. Meskipun perbaikan ini pada mulanya mampu mengimbani kemerosotan tulang rawan, sinyal molekular yang menyebabkan kondrosit lenyap dan matriks ekstrasel berubah akhirnya menjadi predominan. Faktor yang menyebabkan pergeseran dari gambaran reparatif menjadi degeneratif ini masih belum diketahui. 5. Manifestasi Klinis Gejala dan tanda osteoarthritis muncul sangat perlahan dan biasanya hanya mengenai satu atau beberapa sendi. Sendi yang sering terkena adalah panggul, lutut, vertebra lumbal bawah dan servikalis, sendi antarfalang distal jari tangan, sendi carpometacarpal I, dan sendi tarsometatarsal I. Nyeri sendi pada saat bergerak dan akan berkurang bila istirahat

14

Kaku Sendi setelah istirahat lama, / bangun tidur terutama pada pagi hari Krepitasi, disertai sinovitis, efusi cairan sendi Atrofi otot Deformitas Sendi Keluhan Ringan Berat, tidak dapat berjalan

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan gejala : Hambatan gerak : konsentris ( seluruh gerak ) atau eksentris ( salah satu arah gerak saja) Krepitasi Pembengkakan sendi, sering asimetris oleh adanya efusi atau osteofit Tanda- tanda peradangan : sinovitis, tidak terlalu menonjol Deformitas sendi yang permanen : kontraktur, perubahan permukaan sendi Perubahan gaya berjalan

Pada pemeriksaan penunjang dapat ditemukan : Pemeriksaan radiologis a. Penyempitan celah sendi b. Peningkatan densitas tulang subchondral c. Kista tulang d. Osteofit pada pinggir sendi e. Perubahan struktur anatomi sendi Pemeriksaan laboratorium Tidak dapat banyak membantu karena dipakai hanya untuk menyingkirkan bentuk-bentuk arthritis lainnya.

5. Diagnosa Diagnosis OA biasanya didasarkan pada gambaran klinis dan radiogarafis. Dari gejala klinis, penegakkan diagnosa untuk osteoarthritis setidaknya tidak memiliki 3 kriteria dari 6 gejala antara lain : Nyeri Lutut Umur lebih 50 tahun 15

Kaku Sendi kurang dari 30 menit Nyeri Tekan Krepitasi Sendi Lutut tidak panas

Gambaran radiografi sendi yang menyokong diagnosis OA adalah : Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat pada bagian yang menanggung beban). Peningkatan densitas (sclerosis) tulang subkondral. Kista tulang Osteofit pada pinggir sendi Perubahan struktur anatomi sendi.

Pemeriksaa laboratorium pada OA biasanya tidak banyak berguna. Darah tepi (Hb, leukosit, Laju Endap Darah) dalam batas-batas yang normal dan digunakan hanya untuk menyingkirkaan arthritis lainnya.

1. Diagnosa banding : Diagnosa banding untuk osteoartritis adalah : a) Artritis rheumatoid b) Gout atau asam urat

2. Tata Laksana Pada umumnya penatalaksanaan osteoarthritis haruslah bersifat multifokal dan individual dengan tujuan untuk mencegah atau menahan kerusakan lebih lanjut pada sendi tersebut dan untuk mengatasi nyeri dan kaku sendi guna mempertahankan mobilitas. Terapi OA berdasarkan distribusinya (sendi mana yang terkena) dan berat ringannya sendi yang terkenacterdiiri dari 3 hal yaitu : A) Terapi non farmakologis : Edukasi atau penerangan agar pasien tahu tentang penyakitnya dan bagaimana menjaga agar penyakitnya tidak bertambah parah dan persendiannya dapat dipakai. Terapi fisik dan rehabilitasi 16

terapi ini untuk melatih pasien agar persendiannya tetap dapat dipakai danmelatih pasien untuk melindungi sendi yang sakit. Penurunan berat badan berat badan yang berlebihan ternyata merupakan faktor yang memperberat OA, oleh karena itu berat badan harus selalu dijaga agar tidak berlebihan. B) Terapi farmakologis Analgesik oral non-opiat umumnya pasien telah mencoba mengobati penyakitnya sendiri, terutama dalam hal menghilangkan atau

mengurangi rasa sakit. Banyak sekali obat-obat yang dijual bebas yang mampu mengurangi rasa sakit.

Analgesik topikal analgesik topikal dengan mudah didapatkan dipasaran dan dijual bebas,umumnya pasien telah mencobacara ini sebelom memakai obat-obatan peroral lainnya.

OAINS (Obat Anti Inflamasi Non Steroid) obat ini hanya bekerja sebagai analgesik dan mengurangi peradangan namun tidak mampu menghentikan proses patologis : Analgesik yang dapat dipakai adalah asetaminofen dosis 2,6-4 gr/hari atau propoksifen HCl.Asam salisilat juga cukup efektif namun perhatikan efek sampining pada saluran cerna dan ginjal. Jika tidak berpengaruh atau terdapat tanda peradangan, maka OAINS seperti fenoprofin, piroksikam, ibuprofen, dll dapat digunakan. Dosis untuk OA biasanya 1/2-1/3 dosis penuh untuk arthritis rheumatoid. Karena

pemakaian biasanya jangka panjang,efek samping utama adalah gangguan mukosa lambung dan gangguan faal ginjal.

17

Chondroprotective Agent adalah obat-obatan yang dapat menjaga atau merangsang perbaikan (repair) tulang rawan sendi. Yang termasuk golongan obat ini adalah: Tetrasiklin : beserta derivatnya menghambat kerja enzim MMP. Asam hialuronat : dapat memperbaiki viskositas cairan sinovial dan diberikan secara intra artikuler. Glikosaminoglikan : menghambat sejumlah enzim yang berperan dalam degradasi tulang rawan.

C) Terapi bedah -> Terapi ini diberikan apabila terapi farmakologis tidak berhasil mengurangi rasa sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi defpormitas sendi yang menganggu aktivitas sehari-hari.

Perkembangan Terbaru Dalam Terapi Osteoartritis Standar nasional baru tahun 2008 untuk penanganan Osteoartritis

menganjurkan perubahan gaya hidup untuk membantu meringankan gejala-gejala dan rasa nyeri yang dialami oleh pasien osteoartritis. Panduan yang dikeluarkan oleh National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE) dan National Collaborating Centre for Acute Care tahun 2008 tersebut juga berisi tentang terapi farmakologis yang efektif untuk pasien Osteoartritis. Panduan NICE (National Institute for Health and Clinical Excellence) untuk penanganan Osteoartritis adalah sebagai berikut : 1. Penanganan yang utama bagi pasien Osteoartritis adalah latihan untuk meningkatkan kekuatan otot-otot yang terkena Osteoartritis dengan melakukan aerobik, tanpa memandang usia, penyakit lain yang menyertai, rasa nyeri, atau kecacatan.

18

2. Pasien Osteoartritis dengan obesitas harus didukung untuk melakukan penurunan berat badan. 3. Para tenaga kesehatan harus mempertimbangkan pemberian NSAID topikal untuk mengurangi nyeri sebagai tambahan terhadap terapi utama pada pasien OA lutut dan tangan. Pemberian NSAID topikal dan/atau paracetamol harus lebih dahulu dipertimbangkan sebelum memberikan NSAID oral, inhibitor COX-2, atau golongan opioid. 4. Para tenaga kesehatan harus mempertimbangkan pemberian parasetamol untuk mengurangi rasa nyeri sebagai tambahan terhadap terapi utama. 5. Ketika akan memberikan terapi NSAID oral/inhibitor COX-2, pilihan pertama haruslah NSAID standar yang biasa digunakan dalam penanganan OA atau inhibitor COX-2. Perlu juga dipertimbangkan pemberian inhibitor pompa proton (PPI) untuk menurunkan timbulnya efek samping saluran cerna yang tidak diinginkan. 6. Penanganan menggunakan pembedahan dengan menggantikan sendi yang rusak harus dipertimbangkan pada pasien-pasien Osteoartritis yang mengalami gejala-gejala pada persendian (nyeri, kaku dan penurunan fungsi) yang mengganggu kualitas hidup mereka dan tidak berespon terhadap terapi non bedah. Keputusan untuk melakukan pembedahan harus diambil secepatnya sebelum terjadi keterbatasan fungsi persendian yang permanen dan timbulnya nyeri yang hebat.

Panduan penanganan Osteoartritis menurut Osteoarthitis Research Society International (OARSI) sebagai berikut :

Rekomendasi mengenai penanganan nonfarmakologis(terapi rehabilitatif) : 1. Edukasi dan penanganan oleh pasien sendiri. 2. Kontak telepon dengan tenaga kesehatan secara teratur. 3. Terapi fisik pada penderita Osteoartritis yang menggunakan tongkat. 4. Latihan kekuatan otot dengan aerobik dan berenang. 5. Penurunan berat badan pada pasien yang obesitas. 6. Penggunaan alat-alat seperti tongkat, penahan lutut, dan alas kaki. 7. Terapi menggunakan panas.

19

8. Transcutaneous electrical nerve stimulation untuk penanganan sementara nyeri. 9. Akupuntur.

Rekomendasi penanganan farmakologis : 1. Penggunaan asetaminofen (hingga 4 g/hari). 2. NSAID oral selektif dan non-selektif COX-2 yang digunakan dengan dosis terendah yang efektif untuk penanganan OA, dan hindari penggunaannya dalam jangka panjang. 3. Preparat topikal NSAID dan capsaicin. 4. Injeksi intraartikular kortikosteroid dan hialuronat. 5. Suplementasi menggunakan glucosamine dan chondroitin sulfat untuk meringankan gejala-gejala simtomatik. 6. Structure-modifying effects dengan penggunaan glucosamine sulfat,

chondroitin sulfat dan diacerein. 7. Indikasi penggunaan golongan opioid dan analgesik narkotik lemah untuk penanganan nyeri yang refrakter. Rekomendasi penanganan bedah : 1. Total joint replacements. 2. Unicompartmental knee replacement. 3. Osteotomi dan joint-preserving surgical procedures. 4. Joint lavage and arthroscopic debridement untuk OA lutut. 5. Joint fusion yang digunakan ketika joint replacement gagal.

Pasien Osteoartritis lutut atau pinggul yang tidak mendapatkan perbaikan rasa nyeri dan perbaikan fungsi yang adekuat dengan menggunakan kombinasi terapi non-farmakologis dan farmakologis harus mempertimbangkan terapi bedah joint replacement. Replacement arthroplasties efektif dan cost-effective bagi pasien dengan gejala-gejala yang signifikan dan/atau dengan keterbatasan fungsi yang berhubungan dengan penurunan kualitas hidup sehat. 9.Prognosis Ad bonam. Umumya baik, sebagian besar nyeri dapat diatasi dengan obatobatan konseervatif, hanya kasus-kasus berat yang memerlukan operasi. 10.Kesimpulan 20

Ibu Udin menderita penyakit osteomyelitis kronik dan osteoartritis.

OSTEOARTHRITIS
Pengertian Osteoartritis
Osteoartritis adalah destruksi tulang rawan sendi / articular cartilage (chondrolysis) sebagian akibat kegagalan khondrosit untuk mempertahankan keseimbangan normal dan akhirnya reaksi peradangan pada sinovial. antara sintesis dan degradasi matriks sehingga terjadi edema di subchondral dan timbul hipertrofi tulang rawan/osteofit

Etiologi Osteoartritis Faktor Umur Prevalensi dan beratnya orteoartritis semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Faktor Jenis kelamin Jenis kelamin mempengaruhi timbulnya osteoartritis. Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi, dan lelaki lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Faktor Genetik Faktor Ras atau Suku Faktor ras diduga mempengaruhi timbulnya osteoartritis. Osteoartritis paha lebih jarang diantara orang-orang kulit hitam dan usia dari pada kaukasia. Osteoartritis lutut lebih sering ditemukan pada orang Asia, sedangkan osteoartritis panggul lebih sering pada orang Kaukasia. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan. Faktor Kegemukan atau Obesitas Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnya osteoartritis baik pada wanita maupun pada pria.

Patogenesis Osteoartritis
Proses Patogenesis Osteoartritis dapat dijelaskan dalam 4 stadium Stadium Pertama

21

Gambar di atas menunjukkan Tulang rawan sendi yang normal. Khondrosit normalnya dikelilingi oleh ruangan yang kaya akan protein adhesion dan adhesines (fibronectine, collagene mineur seperti typeIX, collagen VI, tenascine) Ruangan periseluler membatasi khondrosit dengan matriks extraselular.

Stadium Kedua

Gambar di atas melukiskan adanya imbalans/ketidakseimbangan antara sintesis dan katabolisme pada proses terjadinya Osteoartritis. Proses anabolik dimotori oleh stimulasi pembentukan collagen type II, proteoglygan dan enzim inhibitor terhadap TGFB sedangkan di sisi lainnya proses katabolisme terjadi dengan pelepasan sitokin proinflamasi seperti IL-1 dan TNF alpha yang dihasilkan oleh autokrin dari khondrosit.. Sitokin tersebut memproduksi enzim-enzim untuk memecah komponen matriks collagen type II dan agrecane serta fibronectine menjadi fragmen-fragmen dari fibronectine.

22

Stadium Ketiga

Pada stadium ketiga, Khondrosit juga mensekresi plasmin, plasminogen aktivator (UPA), terutama MMP (metalloproteases) yang selanjutnya mensekresi stromelysine, agrecanase, collagenase dan gelatinase. yang berfungsi

memecah/degradasi matriks makromolekul. Enzim MMP pada keadaan normal dikontrol oleh inhibitor spesifik TIMP. Proses katabolisme ini mestimulasi sintesis matriks seperti proteoglycans yang pada mulanya berhasil meningkat/anabolik, tetapi akhirnya mengalami kemunduran/insufisien untuk mengimbangi katabolisme tersebut.(circle vitiosus).

Stadium Keempat

Stadium ini merupakan Fase kongestif pada tulang subchondral yang akhirnya dapat menimbulkan jaringan sikatrik yang ireversibel. Merupakan akibat dari 23

berlanjutnya proses tersebut di atas sehingga kerusakan jaringan rawan sendi berlanjut, edema subkhondral dan reaksi pembentukan osteofit sebagai respon tulang subkhondral atas inflamasi melalui osteoblast

Gejala Osteoartritis Osteoartritis dapat ditandai oleh gejala klinik sebagai berikut Nyeri sendi pada pergerakan yang hilang bila istirahat Kaku sendi terutama setelah istirahat lana atau bangun tidur Krepitasi dan dapat disertai sinovitis dengan atau tanpa efusi cairan sendi. Atrofi Otot. Bila pasien hanya bersifat pasif, tidak mau melakukan latihanlatihan, dapat terjadi atrofi otot yang akan memperburuk stabilitas dan fungsi sendi. Deformitas sendi. Akibat lain ialah terjadi genu varum atau genu valgus dan subluksasi, terutama bila telah terjadi kekenduran ligamen.

Nyeri Sendi Gejala klinik yang paling menonjol adalah nyeri. Ada tiga tempat yang dapat menjadi sumber nyeri, yaitu sinovium, jaringan lunak sendi dan tulang. Nyeri sinovium dapat terjadi akibat reaksi radang yang timbul akibat adanya debris dan kristal dalam cairan sendi. Selain itu juga dapat terjadi akibat kontak dengan rawan sendi pada waktu sendi bergerak. Kerusakan pada jaringan lunak sendi dapat menimbulkan nyeri, misalnya robekan ligamen dan kapsul sendi, peradangan pada bursa atau kerusakan meniskus. Nyeri yang berasal dari tulang biasanya akibat rangsangan pada periosteum karena periosteum kaya akan serabut-serabut penerima nyeri. Selain itu rasa nyeri dipengaruhi oleh keadaan psikologik pasien, sehingga dianjurkan untuk melakukan evaluasi psikologik dalam penatalaksanaan penderita osteoartrsis

24

Kaku Sendi Kaku sendi merupakan gejala yang sering ditemukan, tetapi biasanya tidak lebih dari 30 menit. Kaku sendi biasanya muncul pada pagi hari atau setelah dalam keadaan inaktif.

Diagnosis Osteoartritis Bila pada seorang penderita hanya ditemukan nyeri lutut, maka untuk diagnosis osteoartritis sendi lutut paling tidak memenuhi 3 kriteria dari 6 kriteria berikut, yaitu Nyeri lutut Umur lebih dari 50 tahun Kaku sendi kurang dari 30 menit Nyeri tekan pada tulang, Pembesaran tulang dan Pada perabaan sendi lutut tidak panas. Pemeriksaan Radiologis berperan penting dalam diagnosis Osteoartritis. Ciri khas yang sering terlihat pada gambaran radiogram penderita osteoartritis adalah penyempitan ruang sendi. Keadaan ini terjadi karena tulang rawan sendi yang menyusut. Pada sendi lutut penyempitan ruang sendi dapat terjadi pada salah satu kompartemen saja. Selain ditemukannya penyempitan sendi juga bisa terjadi peningkatan densitas tulang di sekitar sendi.

Terapi Osteoartritis Terapi Farmakologik Sampai sekarang belum ada obat spesifik yang khas untuk osteoartritis. Obat yang diberikan biasanya bertujuan untuk mengurangi rasa sakit yaitu Obat antiinflamasi steroid atau nonsteroid. Obat-obat anti inflamasi non steroid bekerja sebagai analgetik dan sekaligus mengurangi sinovitis, meskipun tak dapat memperbaiki atau menghentikan proses patologis osteoartritis. Pada tahap awal dapat dicoba analgetik sederhana, seperti asetaminofen atau salisilat. Bila tidak ada perbaikan, dapat diberikan obat anti inflamasi non steroid. Obat anti inflamasi non steroid bersifat menghambat sintesis prostaglandin sehingga tidak boleh diberikan pada penderita ulkus peptikum yang aktif atau dengan riwayat 25

perdarahan. Pemberian pada orang tua juga harus hati-hati karena hambatan terhadap sintesis prostaglandin akan menurunkan aliran darah ke ginjal. Pemberian steroid secara sistemik tidak dianjurkan karena efek sampingnya jauh lebih besar daripada efek terapinya. Oleh karena itu bila tidak benar-benar diperlukan sebaiknya dihindari penggunaan steroid atau diberikan steroid dengan pengawasan dan edukasi yang tepat.

Terapi Rehabilitatif Gangguan utama fungsi pada penderita Osteoartritis terjadi akibat keterlibatan sendi penumpu berat seperti lutut yang menyebabkan nyeri dan menghambat gerak. Penatalaksanaan sebaiknya dilakukan pada stadium dini, terutama sebelum deformitas sendi dan instabilitas sendi terjadi. Hal ini akan memberikan prognosis yang baik dalam penatalaksanaan Osteoartritis. Intervensi rehabilitasi meliputi sebagai berikut 1) Pengurangan rasa nyeri. 2) Pemeliharaan serta pemulihan rentang sendi (ROM) dan kekuatan otot. 3) Pengurangan beban sendi. 4) Pencegahan atau pengurangan kontraktur. 5) Pemeliharaan susunan/kesegarisan sendi

Rehabilitasi Nyeri Ada banyak cara untuk mengurangi nyeri dari yang paling sederhana hingga yang paling mahal. Berikut adalah terapi yang digunakan untuk mengurangi nyeri Istirahat Terapi Panas Terapi Dingin Terapi Listrik TENS Terapi Air Terapi Laser

Istirahat Istirahat merupakan tindakan awal dalam mengatasi nyeri terutama pada radang yang akut. Istirahat dapat berupa 26

Istirahat sistemik/total (tempat tidur) Istirahat lokal dengan bantuan bidai Istirahat selingan (waktu tertentu selama pagi dan siang hari)

Terapi Panas . Pemanasan selama 15-20 menit cukup efektif untuk mengurangi nyeri dan kekakuan sendi. terapi Panas akan mengurangi nyeri dengan cara Mengurangi spasme otot Mengurangi kekakuan sendi Menambah ekstensibilitas tendon.

Terapi Dingin Kompres dingin pada sendi akan menghambat aktivitas kolagenase di dalam sinovium sehingga menghambat proses inflamasi. Selain itu terapi dingin juga mengurangi spasme pada otot. Terapi Listrik TENS Terapi listrik TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation) digunakan untuk mengurangi nyeri melalui kerjanya menaikkan ambang rangsang nyeri. Rehabilitasi Sendi dan Otot Pemeliharaan serta pemulihan rentang sendi (ROM) dan kekuatan otot dapat dilakukan dengan fisioterapi atau terapi latihan tertentu. Terapi latihan memiliki banyak keuntungan sebagai berikut Meningkatkan dan mempertahankan rentang sendi (ROM = Range of Motion) Mengajar kembali (reedukasi) dan menguatkan otot Meningkatkan ketahanan statik dan dinamik Memungkinkan sendi berfungsi secara biomekanik lebih baik Meningkatkan fungsi menyeluruh dan rasa nyaman penderita.

27

Pengurangan Beban Sendi Pengurangan beban sendi sangat penting dalam penatalaksanaan osteoartritis karena hal ini akan memperlambat proses inflamasi dan mencegah agar perkembangan osteoartritis tidak semakin berat.

Pemeliharaan Sendi Untuk proteksi atau pemeliharaan sendi (Joint Protection) dikenal 12 prinsip sebagai berikut: 1. Memakai sendi yang terkuat atau terbesar untuk melakukan tugas. 2. Membagi beban pada beberapa sendi. 3. Gunakan setiap sendi pada posisi yang paling stabil dan fungsional. 4. Gunakan mekanisme tubuh yang baik. 5. Kurangi tenaga yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan. 6. Hindari terlalu lama mempertahankan posisi sendi yang sama. 7. Usahakan gerakan sendi penuh dan lengkap dalam aktivitas sehari-hari. 8. Hindari posisi dan aktivitas sendi. 9. Organisasikan pekerjaan. 10. Seimbangkan pekerjaan dan istirahat. 11. Gunakan penyimpanan yang efisien. 12. Hilangkan tugas yang tidak penting

Terapi Bedah Operasi perlu dipertimbangkan pada pasien osteoartritis dengan kerusakan sendi yang nyata dengan nyeri yang menetap, gangguan fungsi yang berat, kelemahan fungsi dan deformitas sendi lutut.. Osteotomy merupakan tindakan bedah untuk memodifikasi dan memperbaiki bentuk tulang pada daerah lutut yang rusak akibat osteoartritis. Caranya dengan memotong atau membuang tulang, sehingga bentuk dan arah beban terhadap sendi lutut menjadi normal atau mendekati normal. Tindakan ini dapat mengembalikan gerakan lutut dan menghilangkan nyeri. Seseorang yang sudah menjalani terapi ini, di masa depan bisa saja perlu dilakukan terapi penggantian sendi.

28

Artroskopi dilakukan dengan menggunakan kamera kecil yang dimasukkan ke dalam sendi. Alat ini dapat mengetahui tingkat kerusakan pada sendi lutut. Kotoran di sendi lutut dapat dibersihkan, sehingga diharapkan nyeri berkurang.

Artroplasti, dikenal juga dengan operasi untuk mengganti sendi lutut (total knee replacement). Ahli bedah mengganti bagian tulang paha dan tulang tungkai bawah dengan komponen tertentu, sehingga sendi lutut dapat bergerak kembali. Bagian tertentu atau seluruh bagian sendi lutut diganti. Tindakan ini dapat memberikan hasil yang memuaskan bagi penderita.

Panduan penanganan Osteoartritis menurut Osteoarthitis Research Society International (OARSI) sebagai berikut : Rekomendasi mengenai penanganan nonfarmakologis(terapi rehabilitatif) : 10. Edukasi dan penanganan oleh pasien sendiri. 11. Kontak telepon dengan tenaga kesehatan secara teratur. 12. Terapi fisik pada penderita Osteoartritis yang menggunakan tongkat. 13. Latihan kekuatan otot dengan aerobik dan berenang. 14. Penurunan berat badan pada pasien yang obesitas. 15. Penggunaan alat-alat seperti tongkat, penahan lutut, dan alas kaki. 16. Terapi menggunakan panas. 17. Transcutaneous electrical nerve stimulation untuk penanganan sementara nyeri. 18. Akupuntur.

Rekomendasi penanganan farmakologis : 8. Penggunaan asetaminofen (hingga 4 g/hari). 9. NSAID oral selektif dan non-selektif COX-2 yang digunakan dengan dosis terendah yang efektif untuk penanganan OA, dan hindari penggunaannya dalam jangka panjang. 10. Preparat topikal NSAID dan capsaicin. 11. Injeksi intraartikular kortikosteroid dan hialuronat. 12. Suplementasi menggunakan glucosamine dan chondroitin sulfat untuk meringankan gejala-gejala simtomatik.

29

13. Structure-modifying

effects

dengan

penggunaan

glucosamine

sulfat,

chondroitin sulfat dan diacerein. 14. Indikasi penggunaan golongan opioid dan analgesik narkotik lemah untuk penanganan nyeri yang refrakter

Rekomendasi penanganan bedah : 6. Total joint replacements. 7. Unicompartmental knee replacement. 8. Osteotomi dan joint-preserving surgical procedures. 9. Joint lavage and arthroscopic debridement untuk OA lutut. 10. Joint fusion yang digunakan ketika joint replacement gagal.

Prognosis Dubia ad bonam jika ditangani secara tepat ANALGESIK Sebagian besar efek terapi dan efek sampingnya berdasarkan atas penghambatan biosintesis prostagalandin a. Inflamasi Respon inflamasi terbagi dalam 3 bentuk - Fase akut, (dengan ciri vasodilatasi lokal dan peningkatan permeabilitas kapiler) - Reaksi lambat,tahap sub akut, (dengan ciri infiltrasi sel leukosit dan fagosit) - Fase proliferatif kronik,degenerasi dan fibrosis Gejala inflamasi berupa Kalor,Tumor,Dolor,Rubor dan fungsio lesia b. Nyeri Prostragalandin sensitisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanikdan kimiawi hiperalgesia,kemudian pelepasan mediator kimiawi,seperti bradikinin serta histamin nyeri Obat mirip aspirin tidak mempengaruhi hiperalgesia/nyeri yang ditimbuilkan oleh efek langsung prostaglandin c. Demam Keadaan patologis : Pelepasan suatu zat pirogen endogen atau sitokin (misalnya IL-1) yang memacu pelepasan PG yang berlebihan didaerah preoptik hipotalamus Obat mirip aspirin menekan efek zat pirogen endogen dengan menghambat sintesa prostaglandin - Efek farmakodinamik 30

Obat nyeri.

mirip

aspirin

(antalgin)

hanya

efektif

terhadap

31