Anda di halaman 1dari 14

1.

Aspek Ideologi Ideologi suatu negara diartikan sebagai guiding of principles atau prinsip yang dijadikan dasar suatu bangsa. Ideologi adalah pengetahuan dasar atau cita-cita. Ideologi merupakan konsep yang mendalam mengenai kehidupan yang dicita-citakan serta yang ingin diiperjuangkan dalam kehidupan nyata. Ideologi dapat dijabarkan kedalam sistem nilai kehidupan, yaitu serangkaian nilai yang tersusun secara sistematis dan merupakan kebulatan ajaran dan doktrin. Dalam strategi pembinaan ideologi ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan yaitu : Ideologi harus diaktualisasikan dalam bidang kenegaraan oleh WNI Ideologi sebagai perekat pemersatu harus ditanamkan pada seluruh WNI Ideologi harus dijadikan panglima, bukan sebaliknya Aktualisasi ideologi dikembangkan kearah keterbukaan dan kedinamisan Ideologi pancasila mengakui keaneragaman dalam hidup berbangsa dan dijadikan alat untuk menyejahterakan dan mempersatukan masyarakat Kalangan elit eksekutif, legislatif, dan yudikatif harus harus mewujudkan cita-cita bangsa dengan melaksanakan GBHN dengan mengedepankan kepentingan bangsa Mensosialisasikan pancasila sebagai ideologi humanis, religius, demokratis, nasionalis, dan berkeadilan Tumbuhkan sikap positif terhadap warga negara dengan meningkatkan motivasi untuk mewujudkan cita-cita bangsa 2. Politik Dalam hal ini politik diartikan sebagai asas, haluan, atau kebijaksanaan yang digunakan untuk mencapai tujuan dan kekuasaan. Kehidupan politik dapat dibagi kedalam dua sektor yaitu sektor masyarakat yang memberikan input dan sektor pemerintah yang berfungsi sebagai output. Sistem politik yang diterapkan dalam suatu negara sangat menentukan kehidupan politik di negara yang bersangkutan. Upaya bangsa Indonesia untuk meningkatkan ketahanan di bidang politik adalah upaya mencari keseimbangan dan keserasian antara keluaran dan masukan berdasarkan pancasila dan merupakan pencerminan dari demokrasi pancasila. Ketahanan politik dalam negeri menyangkut halhal berikut : Sistem pemerintahan berdasarkan hukum Dimungkinkan terjadi perbedaan pendapat, tetapi bukan menyangkut nilai dasar Kepemimpinan nasional diharapkan mampu mengakomodasikan aspirasi yang hidup dalam masyarakat dengan tetap memegang teguh nilai-nilai pancasila Terjalin komunikasi timbal balik antara masyarakat dan pemerintah untuk mewujudkan tujuan nasional Ketahanan aspek politik luar negeri menyangkut hal-hal : Meningkatkan kerjasama di berbagai bidang atas dasar saling menguntungkan dan meningkatakan citra politik di Indonesia dan memantapkan persatuan dan kesatuan Meningkatkan persahabatan dan kerja sama antarnegara berkembang dan negara maju sesuai dengan kepentingan nasional Citra positif bangsa Indonesia perlu ditingkatkan melalui promosi, diplomasi, lobi internasional, pertukaran pemuda, dan kegiatan olahraga 3. Aspek Ekonomi Kegiatan ekonomi adalah seluruh kegiatan pemerintah dan masyarakat dalam mengelola faktor

produksi dan distribusi barang dan jasa untuk kesejahteraan rakyat. Upaya meningkatkan ketahanan ekonomi adalah upaya meningkatkan kapasitas produksi dan kelancaran barang dan jasa secara merata ke seluruh wilayah negara. Upaya untuk menciptakan ketahan ekonomi adalah Sistem ekonomi diarahkan untuk kemakmuran rakyat Ekonomi kerakyatan harus menghindari free fight liberalism, etatisme, dan tidak dibenarkan adanya monopoli Struktur ekonomi dimantapkan secara seimbang dan selaras antarsektor Pembangunan ekonomi dilaksanakan bersama atas dasar kekeluargaan. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya harus dilaksanankan secara selaras dan seimbang antarwilayah dan antarsektor Kemampuan bersaing harus ditumbuhkan dalam meningkatkan kemandirian ekonomi Ketahanan dibidang ekonomi dapat ditingkatkan melalui pembangunan nasional yang berhasil, namun tidak dapat dilupakan faktor-faktor non-teknis dapat mempengaruhi karena saling terkait dan berhubungan. 4. Aspek Sosial Budaya Ketahanan sosial budaya dapat diartikan sebagai kondisi dinamik budaya bangsa yang berisai keuletan untuk mengembangkankekuatan nasional dalm menghadapi dan mengatasi ATHG, baik dari dalam maupun luar, baik yang langsung maupun yang tidak langsung, yang membahayakan kelangsungan hidup sosial NKRI berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Sedangkan esensi ketahanan budaya adalah pengaturan dan penyelenggaraan kehidupan sosial budaya. Dengan demikian, ketahanan budaya merupakan pengembangan sosial budaya dimana setiap warga masyarakat dapat mengembangkan kemampuan pribadi dengan segenap potensinya berdasarkan nilai-nilai pancasila 5. Aspek Pertahanan dan Keamanan Ketahanan pertahanan dan keamanan diartikan sebagai kondisi dinamik kehidupan pertahanan dan keamanan bangsa Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi ATHG yang membahayakan identitas, integritas, dan kelangsungan hidup bangsa berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Ketahanan dibidang keamanan adalah ketangguhan suatu bangsa dalam upaya bela negara, dimana seluruh IPOLEKSOSBUD-HANKAM disusun, dikerahkan secara terpimpin, terintegrasi, terorganisasi untuk menjamin terselenggaranya Sistem Ketahan Nasional Prinsip prinsip Sistem Ketahanan Nasional antara lain : Bangsa Indonesia cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan Pertahanan keamanan dilandasi dengan landasan ideal pancasila, landasan konstitusional UUD 1945, dan landasan visional wawasan nusantara Pertahanan keamanan negara merupakan upaya terpadu yang melibatkan segenap potensi dan kekuatan nasional Pertahanan dan keamanan diselenggarakan dengan Sishankamnas (Sishankamrata)
http://shandy07.wordpress.com/2010/12/18/aspek-pancagatra-2/, Shandy E.Putra, 4 mei 2012 TRI GATRA & PANCA GATRA

POKOK-POKOK KONSEPSI KETAHANAN NASIONAL


Posted on September 21, 2008 | Tinggalkan Komentar

Oleh Tatang JM.


1.1 Konsepsi Dasar Ketahanan Nasional Manusia sebagai salah satu jenis makhluk Tuhan pertama-tama berusaha mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidupnya (survival). Dalam rangka tersebut ia memenuhi keperluan hidupnya dari yang paling pokok sampai yang paling mutakhir, baik bersifat materi maupun kejiwaan. Untuk keperluan tersebut manusia hidup berkelompok (Home Socius) dan memperkaya diri dengan alat peralatan penolong (home sapiens) serta menghuni suatu wilayah tertentu yang dibinanya dengan kemampuan dan kekuasaan (zoon politicon). Secara Antropologi-Budaya, manusia merupakan makhluk Tuhan tersempurna karena pada manusia selain kehidupan ia mempunyai kemampuan berfikir (akal) serta keterampilan dan karenanya lahirlah manusia budaya atau manusia berbudaya. Sebagai manusia budaya ia mengadakan hubungan dengan alam sekitarnya di dalam usaha mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidupnya. Kita mengenal hubungan tersebut sebagai berikut : - Manusia Tuhan Agama / Kepercayaan - Manusia Cita-cita Ideologi - Manusia Kekuasaan/Kekuatan Politik - Manusia Pemenuhan Keperluan Ekonomi - Manusia Penguasaan/Pemanfaatan Alam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

- Manusia Manusia Sosial - Manusia Rasa Keindahan Kesenian (kebudayaan sempit) - Manusia Rasa Aman Hankam - Dan sebagainya. Perangkat hubungan tadi merupakan bidang kehidulpan manusia budaya atau kebudayaan manusia yang berlangsung di atas bumi dengan memanfaatkan segala kekayaan alam yang dapat dicapai dan dijangkaunya dengan menggunakan kemampuannya. Manusia bermasyarakat untuk dapat memenuhi keperluannya yaitu kesejahteraan dan keselamatan serta keamanannya. Oleh karena itu, ketahanan nasional hakekatnya merupakan suatu konsepsi di dalam pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan serta serta keamanan di dalam kehidupan nasional. Kehidupan nasional tersebut dapat dibagi di dalam beberapa aspek sebagai berikut : * Aspek Alamiah (TRIGATRA) yang meliputi : - Posisi dan lokasi geografi negara - Keadaan dan kekayaan alam - Keadaan dan kemampuan penduduk * Aspek Sosial / Kemasyarakatan (PANCA GATRA) yang meliputi : - Ideologi - Politik - Ekonomi - Sosial Budaya

- Militer Hankam Antara TRIGATRA dan PANCA GATRA itu terdapat hubungan timbal balik yang erat dinamakan hubungan (korelasi) dan ketergantungan (interdependensi). Oleh karena itu, TRI GATRA dan PANCA GATRA merupakan suatu kesatuan yang bulat dan utuh yang dinamakan ASTA GATRA. 1.2 Tujuan Ketahanan Nasional Tujuan Ketahanan Nasional adalah untuk meningkatkan kesejahteraan bersama seluruh manusia dan membina daya kekuatan serta kemampuan sendiri untuk menjamin hari depan negara dan bangsa. Jadi, tujuan Ketahanan Nasional bukanlah untuk menanamkan rasa permusuhan terhadap suatu negara atau kelompok negara tertentu. Selain itu, Ketahanan Nasional bertujuan mementingkan konsultasi dan saling menghargai di dalam pergaulan hidup serta menjauhi antagonisme dan konfrontasi. Intinya, Ketahanan Nasional diharapkan dapat dipakai di samping konsepsi power politics. 1.3 Ketahanan Astra Gatra a. Posisi dan Lokasi Geografi Negara Posisi dan lokasi geografi suatu negara dapat memberikan petunjuk mengenai tempatnya di atas bumi yang memberikan gambaran tentang bentuk ke dalam dan bentuk ke luar. Ada dua jenis negara yang mempunyai ciri khusus berkenaan dengan lokasinya, yaitu : 1) Negara dikelilingi daratan (Land locked country) Lingkungan negara demikian bersifat serba daratan atau sarwa benua. Ciri sarwa benua itu mempengaruhi dan menentukan cara pandang negara yang bersangkutan di segala bidang kehidupan nasionalnya. Contoh : Laos, Swiss, dan Afghanistan. 2) Negara dikelilingi lautan - Negara Kepulauan (Archipelago State)

- Negara Pulau (Island State) b. Keadaan dan Kekayaan Alam Kekayaan alam suatu negara adalah segala sumber dan potensi alam yang didapatkan di bumi, di laut, dan di udara yang berada di wilayah kekuasaan suatu negara. Hidup berkembang biak dan mempertahankan diri dengan cara memanfaatkan alam dan kekayaan yang didapat di tanah airnya merupakan naluri dan fungsi utama semua makhluk Tuhan. Setiap bangsa wajib mempersiapkan potensi alamnya sederajat dengan kemampuan bangsa lain, agar bentrokan ekonomi dan budaya di dunia modern ini sejauh mungkin dapat dihindari. Karena itu, di dalam pemanfaatannya tidak dapat dielakkan adanya ketergantungan antar negara di bidang sumber daya alam (International Interdependency of Natural Resources) yang dapat menimbulkan problem hubungan internasional. c. Keadaan dan Kemampuan Penduduk Penduduk adalah sekelompok manusia yang mendiami suatu tempat atau wilayah. Adapun faktor penduduk yang mempengaruhi ketahanan Nasional adalah sebagai berikut : 1) Faktor yang mempengaruhi jumlah penduduk Jumlah penduduk berubah karena kematian, kelahiran, pendatang baru, dan orang yang meninggalkan wilayahnya. Segi positif dari pertambahan penduduk ialah pertambahan angkatan kerja (man power) dan pertambahan tenaga kerja (labour force). Dan dari segi negatifnya ialah apabila pertumbuhan penduduk tidak seimbang dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan tidak diikuti dengan usaha peningkatan kualitas penduduk. 2) Faktor yang mempengaruhi komposisi penduduk Komposisi adalah susunan penduduk menurut umur, kelamin, agama, suku bangsa, tingkat pendidikan, dan sebagainya. Susunan penduduk itu dipengaruhi oleh mortalitas, fertilitas, dan migrasi. Fertilitas sangat berpengaruh besar terhadap umur dan jenis penduduk golongan muda yang dapat menimbulkan persoalan penyediaan fasilitas pendidikan, perluasan lapangan kerja, dan sebagainya.

3) Faktor yang mempengaruhi distribusi penduduk Distribusi penduduk yang ideal adalah distribusi yang dapat memenuhi persyaratan kesejahteraan dan keamanan yaitu penyebaran merata. Oleh karena itu diperlukan kebijakan pemerintah yang mengatur penyebaran penduduk, misalnya dengan cara transmigrasi, pusat-pusat pengembangan (growth centers), pusat-pusat industri, dan sebagainya. d. Ketahanan di Bidang Ideologi Ideologi adalah perangkat prinsip pengarahan (guiding principles) yang dijadikan dasar serta memberikan arah dan tujuan untuk dicapai dalam melangsungkan hidup dan kehidupan nasional suatu bangsa dan negara. Ketahanan Nasional di bidang ideologi dapat diartikan sebagai kondisi dinamik suatu bangsa, berisi keuletan dan keteguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, di dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan ideologi suatu bangsa dan negara. e. Ketahanan di Bidang Politik Politik dalam ilmu pengetahuan senantiasa dihubungkan dengan kekuatan atau kekuatan yang menjadi pusat perhatiannya. Masalah politik berada di dalam konteks negara, karena kekuasaan di dalam suatu negara berpusat pada pemerintahan negara. Oleh karena itu, perjuangan memperoleh kekuatan dalam pemerintahan terkadang berubah menjadi perjuangan menguasai pemerintah. Pengertian Ketahanan Nasional di bidang Politik diartikan sebagai kondisi dinamik suatu bangsa, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan pengembangan kekuatan nasional, di dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan politik suatu bangsa dan negara.

Kehidupan politik dapat dibagi menjadi dua sektor, yaitu sektor pemerintah dan sektor masyarakat. Masyarakat berfungsi sebagai in-put yaitu berwujud pertanyaan keinginan dan tuntutan masyarakat (social demand) sedangkan pemerintah berfungsi sebagai out-put yaitu menentukan kebijaksanaan umum yang bersifat keputusan politik (political decision). Lima fungsi utama suatu sistem politik yaitu : - Mempertahankan pola - Mengatur dan menyelesaikan ketegangan atau konflik - Penyesuaian - Pencapaian tujuan - Penyatuan (Integrasi) f. Ketahanan di Bidang Ekonomi Ekonomi adalah segala kegiatan pemerintah dan masyarakat di dalam pengelolaan faktor produksi yaitu bumi, sumber alam, tenaga kerja, modal, teknologi dan management di dalam produksi serta distribusi barang dan jasa demi kesejahteraan rakyat, baik fisik material maupun mental spiritual. Faktor yang mempengaruhi Ketahanan Nasional di bidang ekonomi berupa tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan terhadap kelangsungan ekonomi suatu bangsa pada hakikatnya ditujukan kepada faktor produksi dan pengolahannya. Oleh karena itu, pembinaan ekonomi pada dasarnya merupakan penentuan kebijakan ekonomi dan pembinaan faktor produksi serta pengolahannya di dalam produksi dan distribusi barang dan jasa baik di dalam negeri maupun dengan luar negeri. g. Ketahanan di Bidang Sosial-Budaya Istilah Sosial-budaya di dalam Ilmu Pengetahuan menunjuk kepada dua segi utama dari kehidupan bersama manusia, yaitu segi kemasyarakatan dan segi kebudayaan.

Setiap masyarakat memiliki 4 unsur penting bagi eksistensinya, yaitu: Struktur Sosial, Pengawasan Sosial, Media Sosial, dan Standar Sosial. Faktor yang mempengaruhi ketahanan nasional di bidang sosial-budaya : 1. Tradisi 2. Kepemimpinan Nasional 3. Tujuan Nasional 4. Kepribadian Nasional h. Ketahanan di Bidang Pertahanan-Keamanan Pertahanan keamanan adalah daya upaya rakyat semesta dengan angkatan bersenjata sebagai inti dan merupakan salah satu fungsi utama pemerintah dalam menegakkan ketahanan nasional dengan tujuan mencapai keamanan bangsa dan negara serta keamanan perjuangannya. Hal itu dilaksanakan dengan menyusun, mengerahkan dan menggerakkan seluruh potensi dan kekuatan masyarakat dalam seluruh bidang kehidupan nasional secara terintegrasi dan terkoordinasi. Faktor yang mempengaruhi ketahanan nasional di bidang pertahanan keamanan ialah : 1. Doktrin 2. Wawasan Nasional 3. Sistem Hankam 4. Geografi 5. Manusia 6. Integrasi Angkatan Bersenjata dan Rakyat 7. Pendidikan Kewiraan

8. Materiil 9. Iptek 10. Manajemen 11. Pengaruh luar negeri 12. Kepimpinan 1.4 Bentuk dan Hakikat Ketahanan Nasional Pada hakikatnya ketahanan nasional adalah kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan hidupnya menuju kejayaan bangsa dan negara. Untuk dapat memungkinkan berjalannya Pembangunan Nasional yang selalu harus menuju ke tujuan yang ingin dicapai dan agar dapat secara efektif dielakkan hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan yang timbul, maka perlu dipupuk terus menerus Ketahanan Nasional yang meliputi segala aspek kehidupan. Penyelenggaraan Ketahanan Nasional menggunakan pendekatan kesejahteraan nasional dan keamanan nasional. Kesejahteraan yang hendak dicapai untuk mewujudkan Ketahanan Nasional adalah kemampuan bangsa menumbuhkan dan menyumbangkan nilai-nilai nasionalnya menjadi kemakmuran sebesar-besarnya yang adil dan merata, rohaniah dan jasmaniah. Sedangkan keamanan yang mewujudkan ketahanan nasional adalah kemampuan bangsa melindungi eksistensinya dan nilai-nilai nasionalnya terhadap ancaman dari dalam maupun dari luar. Pengaturan dan penyelenggaraan Kesejahteraan Nasional menggunakan tiap-tiap gatra Asta Gatra, demikian pula untuk keamanan nasional. Bergantung kepada sifat-sifat gatranya, maka gatra yang satu mempunyai peranan : Yang sama besar untuk kesejahteraan maupun keamanan Yang lebih besar kepada kesejahteraan daripada keamanan Yang lebih besar kepada keamanan daripada kesejahteraan

Untuk mendapatkan hasil Ketahanan Nasional yang diinginkan, maka harus diusahakan penilaian kualitatif dan kuantitatif atas perwujudan kesejahteraan dan keamanan oleh tiap-tipa gatra. 1.5 Sifat-sifat Ketahanan Nasional 1) Manunggal Antara Trigatra dan Panca Gatra harus bersatu (integratif). Sifat integratif ini tidak dapat diartikan mencampuradukkan, tetapi integrasi dilaksanakan secara serasi dan selaras. 2) Mawas ke Dalam Ketahanan Nasional diarahkan kepada diri bangsa dan negara itu sendiri, karena bertujuan mewujudkan hakikat dan sifat nasionalnya sendiri. 3) Berkewibawaan Ketahanan Nasional sebagai hasil pandangan yang bersifat Manunggal tersebut mewujudkan kewibawaan nasional yang harus diperhitungkan oleh pihak lain dan mempunyai daya pencegah (deterent). Makin tinggi tingkat kewibawaan, makin besar daya pencegahnya. 4) Berubah menurut Waktu Ketahanan Nasional suatu bangsa tidaklah tetap adanya. Ia dapat meningkat atau menurun dan bergantung pada situasi dan kondisi bangsa itu sendiri. 5) Tidak membenarkan Sikap dan Kekuasaan dan Adu Kekuatan Kalau konsep adu kekuasaan dan adu kekuatan bertumpu pada kekatan fisik, maka ketahanan nasional tidak mengutamakan kekuatan fisik saja, tetapi memanfaatkan daya dan kekuatan lain, seperti kekuatan moral suatu bangsa. 6) Percaya pada Diri Sendiri (Self Confidence) Ketahanan Nasional dikembangkan dan ditingkatkan berdasar sikap mental percaya pada diri sendiri.

7) Tidak Bergantung pada Pihak Lain (Self Relience) Kebanyakan negara berkembang merupakan bekas daerah jajahan yang masih dipengaruhi mental kolonial dan rasa ketergantungan kepada bekas penjajahnya. Sikap mental demikian harus dikikis habis dan sebagai gantinya ditumbuhkan sikap mental yang berkepercayaan pada diri sendiri yang patriotik dan nasionalistik tanpa menjerumuskan diri ke dalam fanatisme dan chauvinisme (nasionalisme yang sempit). http://tatangjm.wordpress.com/2008/09/21/pokok-pokok-konsepsi-ketahanan-nasional/ Tatang JM. PANCA GATRA Ancaman paling utama bagi bangsa kita yang harus dihadapi dewasa ini adalah kerusakan moral, dengan turunannya berupa KKN. Masalah ini telah mewabah demikian luas, sehingga usaha untuk mengatasinya harus dilaksanakan dengan berencana, matang, dan berdasarkan tekad bulat dari seluruh pemimpin bangsa. Para pemimpin harus sepakat memberikan teladan bagi seluruh bangsa, sekaligus memiliki kesanggupan membayar mahal untuk penegakan hukum yang tegas, adil dan tidak pandang bulu. Bila masalah KKN dapat diatasi, atau minimal dikurangi, maka roda pembangunan akan dapat diharapkan lebih berhasil, dan itu berarti dapat meningkatkan ketahanan nasional dengan mengatasi berbagai permasalahan sebagai berikut. Pertama, ketahanan ideologi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa akibat penyebaran informasi dan gagasan makin mudah dan menjangkau seluruh penjuru dunia. Kini makin gencar dirasakan pengaruh negatif kehidupan asing yang menyebabkan bangsa Indonesia kehilangan jatidiri. Orang mulai melupakan bahwa pembangunan jatidiri dan rasa kebangsaan masih harus tetap dipupuk sepanjang perjalanan bangsa. Seluruh bangsa harus dapat diajak kembali meresapi hakekat pembukaan UUD 1945 yang merupakan makna dari kemerdekaan. Dalam hal ini, menurut saya, perumusan amandemen tahun 2003 mengenai hak-hak asasi hanya merupakan terjemahan murni Declaration of Human Rights PBB yang tidak sesuai dengan pengertian hak-hak asasi manusia yang sejalan dengan kepribadian Indonesia seperti yang diinginkan naskah asli UUD 1945. Kedua, Ketahanan Politik. Berbagai gejolak politik selama perjalanan bangsa, sesungguhnya dikarenakan kurangnya kewaspadaan dalam meniti kehidupan kenegaraan, yang berpangkal pada belum dilaksanakannya UUD 1945 dengan sebenar-benarnya. Kesibukan melawan Belanda pada masa awal kemerdekaan menyebabkan kealpaan membuat perundang-undangan pelaksanaannya, sehingga mempermudah penyimpangan. Dari dalam negeri sendiri muncul berbagai gejolak seperti peristiwa 3 Juli 1946, pergolakan dalam sidang KNIP 1946, ketidaktegasan sistem pemerintah (presidensiil atau parlementer), disusul pemberontakan PKI Madiun 1948. Setelah Pemilu 1955 dalam sistem parlementer, persidangan Dewan Konstituante berlarut-larut tanpa berhasil menyusun UUD baru karena tidak terdapatnya kesepakatan menetapkan dasar negara, sehingga pada tahun 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit untuk kembali ke UUD 1945 (naskah asli).

Sayangnya Presiden Soekarno sendiri melakukan penyimpangan dengan menerima pengangkatan dirinya sebagai presiden seumur hidup oleh MPRS, padahal siapa pun tidak akan mampu memimpin negara dengan baik setelah uzur. Presiden Soeharto pun cenderung ingin mempertahankan kekuasaan selama hidup, sehingga dijatuhkan secara paksa, lalu memberi peluang bagi Prof. Habibie untuk menggantikannya. Setelah Pemilu 1999, tampil Abdurrahman Wahid menjadi presiden, padahal dengan cacat fisik yang disandang, tidak selayaknya diberi kepercayaan memegang jabatan tertinggi negara. Celakanya, dalam konflik dengan DPR, dia berkehendak membubarkannya, sesuatu yang tegas-tegas dilarang konstitusi, sehingga menjadi pemicu kejatuhannya. Anggota DPR sendiri, karena merasa kedudukannya di hadapan eksekutif lebih kuat dibanding semasa Orde Baru, dalam banyak hal menyulitkan jalannya pemerintahan. Lebih dari itu, dalam kedudukannya sebagai anggota MPR, mereka melakukan amandemen UUD 1945 dengan mencampur-adukkan antara hal-hal yang merupakan bagian dari isi UUD dengan yang seharusnya merupakan undang-undang pelaksanaan, sehingga merusak jiwa dan semangat aslinya. Tindakan ini, menurut saya, tidak mencerminkan sifat kenegarawanan dan kedalaman pengetahuan dalam masalah kenegaraan. Berbagai contoh di atas, saya kira, menunjukkan kebanyakan orang Indonesia cenderung lupa daratan kalau sudah memegang kekuasaan, hingga konstitusi pun kerap dimanipulasi demi mempertahankan kedudukan. Timbul pertanyaan: jangan-jangan bangsa ini memang belum layak untuk merdeka? Ketiga, ketahanan ekonomi. Sistem globalisasi dengan ciri pasar bebas, dalam kenyataannya cenderung menyulitkan negara-negara berkembang. Wajar jika ada kalangan yang menganggap globalisasi hanya kedok bagi kembalinya neo-kapitalisme. Tindakan pemerintah melakukan privatisasi, hingga BUMN yang strategis pun jatuh ke tangan investor asing, menurut hemat saya merupakan pengkhianatan terhadap negara. Amandemen UUD 1945 yang terkesan mengikuti arus globalisasi, akan membawa dampak lebih negatif terhadap kehidupan sosialekonomi bangsa. Hal ini mestinya dapat dihindari, kalau saja naskah asli UUD 1945 dapat diterjemahkan dengan lebih baik dan obyektif. Keempat, ketahanan sosial-budaya. Makin gencarnya kemajuan ilmu dan teknologi, mendukung penyebaran pola kehidupan asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa yang mendambakan harmoni dan kebersamaan. Merajalelanya pemakaian narkoba, misalnya, sangat meresahkan kehidupan bangsa di masa depan. Kelima, ketahanan pertahanan-keamanan. Meskipun perang terbuka diperkirakan tidak akan terjadi, namun usaha peningkatan kemampuan pertahanan sebagai daya tangkal masih tetap merupakan keniscayaan. Hal ini mengingat wilayah kita dengan perairan yang demikian luas, dengan garis pantai begitu panjang, sangat rawan terhadap penyelundupan barang dan manusia secara ilegal.

Kemampuan negara untuk menyediakan peralatan yang diperlukan TNI dan POLRI masih sangat terbatas, sehingga sistem pertahanan rakyat semesta masih relevan untuk mengimbangi kurang canggihnya peralatan militer yang dimiliki. Penyertaan rakyat perlu terus digalakkan, terutama untuk mengatasi keamanan dalam negeri dalam rangka menghadapi ancaman terorisme. Ketahanan nasional merupakan resultante dari gatra-gatra tersebut. Dengan meningkatnya ketahanan nasional secara bertahap, berarti makin mendekatkan negara dan bangsa pada tujuan pembentukan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Rabu, 07 September 2011 - 11:08:47 WIB APA YANG KURANG PADA BANGSA INDONESIA? Ditulis oleh : www.PesonaGetar.com Oleh: Brigjen TNI (Purn) Sunarso Djayusman, http://pesonagetar.com/kategori/berita-290-apa-yangkurang-pada-bangsa-indonesia.html