Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang

Pengaruh suhu pada lingkungan pada hewan dibagi menjadi dua golongan, yaitu poikiloterm dan homoiterm. Poikiloterm adalah golongan hewan yang suhu tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungan atau berubah sesuai suhu lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar. Hewan seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin sedangkan hewan homoiterm sering disebut hewan berdarah panas karena dapat menjaga suhu tubuhnya atau tidak dipengaruhi oleh lingkungan (Anto, 2012). Istilah berdarah dingin dan berdarah panas sebenarnya tidak terlalu tepat karena istilah berdarah dingin bukan berarti hewan tersebut secara harfiah memiliki darah yang dingin, melainkan istilah ini mengacu pada temperatur tubuh yang bervariasi menyesuaikan dengan faktor lingkungan dan sebaliknya dengan hewan berdarah panas (Bumbata, 2013). Hewan yang berdarah dingin adalah hewan yang suhu tubuhnya kira-kira sama dengan suhu lingkungan sekitarnya (Maulana, 2011). Hewan berdarah dingin merupakan jenis mayoritas yang mencakup semua invertebrata, reptil, serta amfibi (Bumbata, 2013). Hanya mamalia dan burung, kelompok hewan yang berdarah panas.
Jangkring sering dijadikan sebagai thermometer suhu udara alami karena hewan berdarah dingin menjalankan fungsi tubuh mereka lebih cepat pada temperatur lebih tinggi (Anonim, 2012). Jangkrik bergerak lambat ketika lingkungan dingin karena hewan ini memerlukan panas dari lingkungan untuk meningkatkan suhu dalamnya dan metabolisme. Pada saat suhu tubuh bagian dalamnya telah menghangat, hewan ini dengan cepat dapat melakukan metabolisme makanan untuk menghasilkan energi yang mereka butuhkan lebih banyak. Oleh karena itu kami mencoba membahas mengenai jangkrik.

B.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya ini sebagai berikut: 1. Bagaimanan pengaruh suhu dengan tingkat konsumsi oksigen pada jangkrik? 2. Bagaimanakah pengaruh suhu pada metabolisme jangkrik? 3. Bagaimanakan pengaruh tingkat konsumsi oksigen jangkrik terhadap metabolisme jangkrik? C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari makalah ini sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui pengaruh suhu dengan tingkat konsumsi oksigen pada jangkrik. 2. Untuk mengetahui pengaruh suhu pada metabolisme jangkrik.

3. Untuk mengetahui pengaruh tingkat konsumsi oksigen jangkrik terhadap metabolisme jangkrik. BAB II PEMBAHASAN Termoregulasi Pada Hewan - Walaupun sejenis bakteri tertentu mampu bertahan hidup pada sumber air panas yang temperaturnya mencapai 70oC, kebanyakan organisme dan sudah pasti semua jenis mamalia (binatang menyusui) hidupnya terbatas pada lingkungan yang memungkinkan temperatur tubuhnya tetap berada di bawah 40oC. Demikian pula, binatang harus mampu mempertahankan temperatur tubuhnya agar tidak menurun sampai jauh di bawah titik beku air. Hal tersebut terkait dengan adanya fakta bahwa laju reaksi kimia dipengaruh oleh temperatur. Dengan demikian, proses biokimia yang berlangsung dalam tubuh binatang juga akan dipengaruhi oleh temperatur dan karena itu berlangsung secara terbatas. Laju kecepatan sebagian besar reaksi kimia akan berlipat ganda dengan setiap peningkatan temperatur 10oC. Sejumlah besar senyawa biokimia, dan utamanya protein, menjadi labil karena panas. Senyawa tersebut secara kimiawi berubah karena terdedah (terpapar) dengan temperatur 4041oC atau lebih. Perubahan tersebut pada giliran berikutnya akan mempengaruhi peran senyawa tersebut dalam proses fisiologi yang berlangsung dalam tubuh. Misalnya, peningkatan temperatur akan menyebabkan perubahan kimiawi (denaturasi) protein yang merupakan enzim sehingga enzim tersebut menjadi tidak aktif. Selanjutnya, reaksi kimia yang dikatalisis oleh enzim tersebut tidak bisa berlangsung dengan sepatutnya. Sebaliknya, karena terdedah dengan temperatur lingkungan yang sangat dingin, pembentukan kristal es dalam jaringan secara umum dapat merusak membrana sel dan hal ini pada giliran berikutnya dapat menyebabkan kematian. Dengan demikian, walaupun binatang mampu tetap hidup pada kisaran temperatur tubuh sampai 40oC, mereka akan memperoleh keuntungan kimiawi bila dapat mempertahankan temperatur tubuhnya dekat dengan batas tertinggi dari kisaran temperatur yang dapat ditolerirnya karena proses biokimianya berlangsung dengan sempurna pada temperatur tersebut. Temperatur dari sebagian besar badan air berada dalam kisaran yang dapat diterima oleh makhluk hidup. Akan tetapi, temperatur udara sangat berfluktuasi atau berada dalam kisaran yang sangat lebar. Karena itu, upaya mempertahankan temperatur tubuh agar berada dalam kisaran normal (termoregulasi) jauh lebih penting artinya pada organisme yang hidup di darat ketimbang organisme air. Binatang memperoleh panas melalui: Aktivitas metabolisme (produksi energi) yang berlangsung dalam tubuhnya.

Dengan menyerap panas dari lingkungan. Bahkan, bila lingkungan sekitarnya (misalnya udara sekitar) lebih dingin daripada jaringan atau tubuh binatang, makhluk tersebut masih juga dapat menyerap energi radiasi matahari.

Binatang dapat kehilangan panas tubuhnya melalui: Konduksi, KonveksiI, Radiasi, atau Evaporasi (penguapan air), Uraian secara rinci dari masing-masing cara hilangnya panas tubuh tersebut akan diberikan pada kesempatan berikut: Konduksi yaitu perubahan panas tubuh hewan karena kontak dengan suhu benda. Konveksi yaitu transfer panas akibat adanya gerakan udara atau cairan melalui permukaan tubuh.

Radiasi yaitu emisi dari energi elegtromagnet, radiasi dapat mentransfer panas antar obyek yang tidak kontak langsung, sebagai contoh radiasi dari sinar matahari. Evaporasi yaitu proses kehilngan ditransformasikan dalam bentuk gas. panas dari permukaan cairan yang

Kehilangan panas yang terpenting pada lingkungan air adalah melalui konduksi. Akan tetapi, pada lingkungan udara, konduksi tidak penting artinya karena udara merupakan konduktor atau penghantar panas yang jelek. Bahkan, udara sebenarnya merupakan insulator atau pelindung panas yang baik. Kehilangan panas melalui konveksi, radiasi, dan evaporasi penting artinya pada lingkungan udara. Penggolongan Binatang Ditinjau dari segi kemampuannya untuk mengatur temperatur tubuh (termoregulasi), binatang dapat digolongkan ke dalam: Binatang berdarah dingin (cool-blooded animals) atau Binatang berdarah hangat (warm-blooded animals).

Penggolongan tersebut didasarkan kepada kenyataan apakah binatang tersebut terasa dingin atau hangat badannya bila disentuh. Walaupun istilah tersebut tidak sepenuhnya memadai, kriteria itu masih sering digunakan orang dalam menggolongkan binatang. Jadi, vertebrata (binatang bertulang belakang) berdarah dingin meliputi ikan, amfibia, dan reptilia, sedangkan vertebrata berdarah hangat meliputi unggas dan mamalia (binatang menyusui). Secara lebih tepat, berdasarkan kemampuan binatang untuk mempertahankan temperatur tubuhnya agar relatif konstan dan tidak berubah karena dipengaruhi oleh temperatur sekitarnya, kita dapat menggolongkan binatang ke dalam: binatang ektotherm dan binatang endotherm. Binatang ektotherm temperatur tubuhnya sangat ditentukan atau tergantung kepada

temperatur lingkungan tempat mereka saat itu berada. Temperatur tubuhnya berubah sesuai dengan temperatur lingkungannya. Semua binatang memang menghasilkan panas metabolisme untuk mempertahankan temperatur tubuhnya. Namun, binatang ektotherm tidak mampu menyesuaikan produksi panas metabolismenya dan/atau mengendalikan kehilangan panas tubuhnya melalui mekanisme fisiologi. Karena itu, temperatur tubuhnya tidak bisa konstan dan akan berubah mengikuti perubahan temperatur luar tubuhnya. Jenis binatang yang demikian itu hanya mampu mempertahankan temperatur tubuhnya melalui penyesuaian perilaku, misalnya, dengan berpindah tempat mencari bagian habitat yang lebih dingin atau lebih hangat sesuai dengan yang diinginkannya. Contohnya, pada siang hari yang panas terik di gurun pasir, ular atau kadal akan bersembunyi di bawah bebatuan atau di dalam lubang. Sebaliknya, binatang endotherm mampu melangsungkan termoregulasi melalui mekanisme penyesuaian perilaku dan yang lebih penting pengaturan fisiologi. Melalui mekanisme pengaturan fisiologi, binatang tersebut mampu meningkatkan produksi panas metabolismenya dan sekaligus menekan kehilangan panas tubuhnya bila mereka terdedah dengan lingkungan dingin. Sebaliknya, produksi panasnya akan ditekan dan kehilangan panas tubuhnya akan ditingkatkan bila mereka berada dalam lingkungan yang panas. Semuanya itu merupakan upaya untuk mempertahankan temperatur tubuh agar selalu berada dalam kisaran normal. Mereka juga mampu melakukan penyesuaian perilaku dengan berbagai macam cara. Secara umum, binatang endotherm mempunyai temperatur tubuh yang lebih tinggi ketimbang binatang ektotherm. Pada kedua jenis binatang tersebut, kegagalan untuk mempertahankan temperatur tubuh agar berada dalam kisaran yang dapat diterima oleh tubuhnya berakhir dengan kematian. Istilah lain yang digunakan untuk menjelaskan hubungan temperatur lingkungan dengan temperatur tubuh vertebrata. Istilah yang digunakan adalah: Binatang poikilotherm, Binatang poikilotherm adalah binatang yang temperatur tubuhnya selalu mendekati temperatur lingkungan tempat binatang tersebut saat itu berada. Dengan demikian, istilah poikilotherm itu pada hakikatnya merupakan sinonim dari ektotherm.

Binatang homeotherm, Binatang poikilotherm adalah binatang yang temperatur tubuhnya selalu mendekati temperatur lingkungan tempat binatang tersebut saat itu berada. Dengan demikian, istilah poikilotherm itu pada hakikatnya merupakan sinonim dari ektotherm. Binatang heterotherm. Namun, tidak semua binatang endotherm merupakan binatang homeotherm. Beberapa binatang endotherm temperatur tubuhnya bisa berfluktuasi cukup lebar dan temperatur tubuhnya itu tidak lagi berubah ketika telah mendekati batas kritis temperatur yang dapat ditolerirnya. Binatang yang memiliki kemampuan termoregulasi yang demikian itu disebut binatang heterotherm. Salah satu contoh binatang heterotherm adalah unta. Unta mampu bertahan hidup pada lingkungan gurun yang sangat panas di siang hari dan sangat dingin di malam hari karena memiliki kemampuan termoregulasi yang demikian itu.

Aklimasi dan Aklimatisasi Pada kondisi percobaan, sejumlah besar vertebrata mampu mengatur kesensitifan tubuhnya sampai mendekati tercapainya temperatur ekstrim. Dalam hal ini, binatang yang terdedah selama beberapa waktu dengan temperatur yang mendekati batas temperatur yang kritis bagi kehidupannya menjadi lebih toleran temperatur. Selain itu, batas temperatur kritisnya menjadi makin lebar. Sebagai contoh, bila suatu spesies ikan yang biasanya mati pada temperatur air 38oC dibiarkan selama beberapa hari terus menerus terdedah dengan temperatur 37oC, ikan tersebut selanjutnya mungkin bisa bertahan hidup lingkungan temperatur 38oC. Kematiannya mungkin terjadi bila mereka terdedah dengan temperatur 39oC atau lebih. Penyesuaian toleransi terhadap panas (hanya melibatkan temperatur saja) seperti itu disebut dengan aklimasi (acclimation). Kondisi alami tidak sama dengan kondisi percobaan. Pada kondisi alami, makhluk hidup terdedah dengan berbagai variabel lingkungan, tidak hanya dengan temperatur saja. Dalam artinya yang paling luas, lingkungan dapat digolongkan ke dalam 2 komponen utama yaitu: 1. Faktor lingkungan abiotik, yaitu semua faktor fisik dan kimiawi dari lingkungan. Faktor abiotik atau fisik lingkungan yang penting artinya bagi kehidupan dan produktivitas hewan meliputi temperatur udara, kelembaban, radiasi matahari, dan angina. 2. Faktor lingkungan biotik, yaitu semua interaksi antarentitas biologi seperti makanan, air, pemangsaan, penyakit, dan interaksi social serta seksual.

Perubahan faktor lingkungan abiotik utamanya seperti perubahan musiman dalam periode penyinaran (menentukan lama waktu siang hari dan malam hari), ketersediaan pakan, dll. yang berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama dapat mempengaruhi toleransi binatang. Pada kondisi yang demikian itu, berlangsung pengaturan fisiologi secara lebih mendalam sehingga memungkinkan binatang tersebut mampu bertahan hidup pada lingkungan yang berubah tersebut. Bentuk penyesuaian diri terhadap kondisi lingkungan yang berubah atau baru tersebut dan berlangsung dalam jangka waktu lama itu dikenal sebagai aklimatisasi (acclimatization). Secara umum, bentuk penyesuaian diri terhadap berbagai faktor lingkungan itu dikenal sebagai adaptasi (adaptation). Hewan berdarah dingin (ektoterm) berarti suhu tubuhnya menyesuaikan dengan kondisi lingkungan, sementara hewan berdarah panas (endotermik) memiliki suhu tubuh internal yang relatif tetap oleh mekanisme homeostatis. Istilah berdarah dingin dan berdarah panas sebenarnya tidak terlalu tepat karena istilah berdarah dingin bukan berarti hewan tersebut secara harfiah memiliki darah yang dingin, melainkan istilah ini mengacu pada temperatur tubuh yang bervariasi menyesuaikan dengan faktor lingkungan. Nama lain untuk ektoterm adalah poikiloterm, yang berarti hewan dengan suhu tubuh bervariasi. Hewan berdarah dingin merupakan jenis mayoritas yang mencakup semua invertebrata, reptil, serta amfibi. Hanya

mamalia dan burung, kelompok hewan yang berdarah panas. Perbedaan utama antara hewan berdarah panas dan hewan berdarah dingin adalah hewan berdarah panas membutuhkan sekitar 3-10 kali lebih banyak makanan dari hewan berdarah dingin untuk bertahan hidup (Bumbata, 2013). Hewan berdarah panas lebih unggul karena cenderung memiliki stamina yang jauh lebih besar. Namun, hewan berdarah panas tidak bisa bergerak lebih cepat dari hewan berdarah dingin, dan cenderung lebih mudah kelaparan daripada makhluk berdarah dingin. Dalam hal biomassa, makhluk berdarah dingin, seperti semua invertebrata, lebih sukses dalam proses evolusi dibanding makhluk berdarah panas. Beberapa keuntungan menjadi endotermik diantaranya memiliki stamina lebih besar, hanya memiliki satu set enzim tubuh yang bekerja lebih optimal, dan kemampuan untuk meningkatkan suhu tubuh saat cuaca dingin (Bumbata, 2013). Jangkring sering dijadikan sebagai thermometer suhu udara alami karena hewan berdarah dingin menjalankan fungsi tubuh mereka lebih cepat pada temperatur lebih tinggi. Derik jangkrik dirancang untuk menyesuaikan diri secara langsung dengan suhu pada lingkungannya (Anonim, 2012). Suara jangkrik tercipta dari gesekan antar sayap dengan beberapa bagian tubuh lainnya. Tidak semua jangkrik yang dapat mengeluarkan bunyi mengerik, hanya jangkrik jantan saja yang dapat melakukannya untuk menarik perhatian jangkrik betina. Semakin sering suara jangkrik terdengar, semakin panas suhu lingkungan saat itu (Pramudiarja, 2010). Hal tersebut terjadi sebaliknya, samakin jarang suara jangkrik terdengar, semakin dingin suhu lingkungan saat itu. Jangkrik merupakan spesies poikilotermal yang suhu tubuhnya bergantung pada suhu udara lingkungan sekitar. Hal ini mengakibatkan suhu udara lingkungan akan memengaruhi proses metabolisme jangkrik. Menurut Mavi dan Tupper (2004), aktivitas jangkrik akan lebih cepat dan efisien pada suhu yang tinggi, tapi akan mengurangi lama hidup jangkrik. Pada beberapa jangkrik, suhu tinggi akan menghambat metabolisme atau mengakibatkan kematian, tetapi jangkrik yang hidup di gurun dapat menurunkan laju metabolisme sehingga dapat bertahan pada daerah dengan jumlah makanan dan air terbatas. Pengaruh suhu udara terhadap hama dan penyakit tumbuhan antara lain mengendalikan perkembangan, kelangsungan hidup dan penyebaran jangkrik. Suhu dinyatakan dalam derajat panas, sumber pada permukaan tanah berasal dari radiasi matahari. Tinggi rendahnya intensitas cahaya matahari berbanding lurus dengan tinggi rendahnya suhu udara.Semua spesies jangkrik mempunyai kisaran suhu udara tertentu dalam mempertahankan hidupnya. Kisaran ini akan berbeda pada setiap spesies jangkrik. Bila suhu udara berada di bawah atau di atas keadaan optimal, maka akan menimbulkan kematian jangkrik dalam waktu dekat. Beberapa jangkrik dapat beradaptasi menghadapi lingkungan ekstrim dengan diapause. Suhu udara minimum yang memungkinkan jangkrik masih dapat bertahan hidup adalah pada suhu -30 0C. Perkembangan dan aktivitas jangkrik akan normal kembali jika suhu udara berada pada kisaran yang cocok. Keadaan suhu selama fase nimfa dan dewasa dapat mempengaruhi umur jangkrik. Metabolisme adalah semua reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup, meliputi metabolisme untukmensitesis senyawa-senyawa baru dan katabolisme yaitu penguraian senyawa-senyawa

dalam sel hidup. Pada hewan., sumber energi adalah makanan etapi energi dalam makanan tidak dapat digunakan sampai makanan itu dicerna dan diserap oleh sistem pencernaan (Fujaya,2002). Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknyaoksigen yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini memungkinkankarena oksidasi dari bahan makanan memerlukan oksigen ( dalam jumlah yang diketahui ) untuk menghasilkan energi yang dapat diketahui jumlahnya juga. Akan tetapi, laju metabolisme biasanya cukup diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen antara lain temperatur, spesies hewan, ukuran badan, dan aktivitas. Jangkrik merupakan hewan terestial yang tidak memiliki paru -paru tetap imenggunakan system trakea untuk pertukaran gas. Kulit pada jangkrik terletak dikedua sisi bagian toraks dan abdomen, memiliki sederatan paru-paru atau disebut juga spirakel, yang tersusun pada setiap segmen dan behubungan dengan systemsaluran trakea spirakel dilindungi katub atau rambut-rambut untuk mencegahevaporasi yang berlebihan lewat pori-pori ini. Trakea tersusun deng an teratur,sebagian berjalan longitudinal dan sebagian lagi tranpersal. Diameter trakea yang besar berkisar sekitar 1 mm dan selalu terbuka dengan penebalan berbentuk spiral dan melingkar, terbentuk dari khitin yang keras, merupakan suatu bahan yang juga terdapat pada kutikula. Laju konsumsi oksigen yaitu bahwa suhu mempengaruhi besarnya l a j u konsumsi oksigen. Hal ini berkaitan dengan hukum Vant Hoff yang menunjukan bahwa kenaikan suhu, kecepatan reaksi akan bertambah besar sampai batas tertentu. Hal ini berkaitan dengan kinetika reaksi, dimana panas akan menyebabkan energi kinetik molekul menjadi bertambah besar sehingga reaksi dapat berlangsung dengan lebih cepat

BAB III KESIMPULAN

Kesimpulan pengaruh suhu terhadap jangkrik berikut: 1. Suhu mempengaruhi tingkat konsumsi oksigen pada jangkrik, jika suhu naik, maka konsumsi oksigen jangkrik meningkat dan jika suhu turun, maka konsumsi oksigen jangkrik menurun. 2. Suhu mempengaruhi metabolisme jangkrik, jika suhu naik, maka metabolisme jangkrik berlangsung cepat dan jika suhu turun, maka metabolisme jangkrik berlangsung lambat. 3. Tingkat konsumsi oksigen jangkrik mempengaruhi metabolisme jangkrik, jika tingkat konsumsi oksigen jangkrik naik, maka metabolisme jangkrik berlangsung cepat dan jika tingkat konsumsi oksigen jangkrik turun, maka metabolisme jangkrik berlangsung lambat.

DAFTAR PUSTAKA

Anto. 2012. Termoregulasi . http://anto3.blogspot.com/termoregulasi.htm. Diakses pada Minggu, 31 Maret 2013. Maulana. 2011. Fisiologi Hewan. http://gesamaulana.blogspot.com/fisiologi-hewan.htm. Diakses pada Minggu, 31 Maret 2013. Bumbata. 2013. Perbedaan Hewan Berdarah Panas dan Berdarah Dingin. http://bumbata.co/15076/perbedaan-hewan-berdarah-panas-dengan-berdarah-dingin/. Diakses pada Minggu, 31 Maret 2013. Anonim. 2012. Benarkah Jangkrik Dapat Mengetahui Temperatur Disekitar Kita?. http://1001fakta.com/benarkah-jangkrik-dapat-mengetahui-temperatur-disekitar-kita/. Diakses pada Minggu, 31 Maret 2013. Pramudiarja, Uyung. 2010. Krik-Krik Ukur Suhu Udara dari Suara Jangkrik. http://health.detik.com/read/2010/07/21/183159/1404122/766/krik-krik-ukur-suhu-udaradari-suara-jangkrik. Diakses Minggu, 31 Maret 2013.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul Pengaruh Suhu Terhadap Pertumbuhan Jangkrik Makalah ini berisikan tentang informasi Termoregulasi atau yang lebih khususnya membahas pengaruh termoregulasi terhadap pertumbuhan jangkrik. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang termoregulasi pada jangrik. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Makassar, 1 April 2013

Penyusun

TUGAS

FISIOLOGI VETERINER 2

Pengaruh Suhu Terhadap Pertumbuhan Jangkrik

OLEH KELOMPOK 1 (SATU)


MUH. ASYRAF AMELIA RAMADHANI ANSHAR AMINUL RAHMAN NURFAIZAH ANI WULANDARI MUH. REZA BASRI NURUL SULFI ANDINI AGUS HARIANDA WAHYUNI YAUMIL NIMAh

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN TAHUN AJARAN 2013/2014