Anda di halaman 1dari 6

REPRODUKSI PADA IKAN CUPANG DAN GUPPY DENGAN PENGAMATAN HISTOLOGI MENGGUNAKAN METODE ASETOKARMIN Oleh Melinda Oktafiani

1114111034

ABSTRAK Salah satu teknik dalam pemeriksaan gonad ikan-ikan kecil yaitu dengan pewarnaan gonad dengan menggunakan larutan asetokarmin. Asetokarmin adalah larutan pewarna yang digunakan untuk mewarnai gonad untuk pemeriksaan dengan mikroskop. Praktikum reproduksi ikan cupang dn guppy dengan menggunakan metode asetokarmin ini dilakukan pada hari Senin, tanggal 29 April 2013 di Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui bentuk gonad ikan baik jantan maupun betina secara primer. Ikan uji yang digunakan pada praktikum ini adalah ikan cupang (Betta sp) dan ikan guppy (Poecilia reticulate). Tahapan penggunaan larutan asetokarmin ini diawali dengan mengambil gonad ikan, lalu mencacahnya diatas gelas objek, kemudian ditetesi dengan larutan asetokarmin dan dibiarkan hingga kering, selesai tahapan gelas objek diamati dibawah mikroskop. Hasil didapat bahwa sel bakal sperma hanya tampak berupa titik titik kecil berjumlah banyak, sedangkan sel bakal telur berbentuk bulatan besar dengan bagian inti berada di tengah. Kata kunci : gonad, histologi, asetokarmin, ikan cupang, ikan guppy

I. PENDAHULUAN Perbedaan morfologi atau ciri-ciri kelamin sekunder ikan jantan dan betina pada umumnya baru bisa dilihat setelah ikan dewasa. Dalam kegiatan budidaya, pembedaan jenis kelamin sangat penting karena terkait langsung dengan proses-proses selanjutnya, selain itu juga faktor efisiensi (waktu, biaya, dan tenaga). Oleh karena itu identifikasi jenis kelamin ikan perlu dilakukan sedini mungkin. Pembedaan jenis kelamin ini biasa dilakukan dengan teknik pemeriksaan ciri-ciri kelamin sekunder pada ikan dewasa dan pengidentifikasian gonad pada ikan kecil. Identifikasi gonad untuk ikan dewasa relatif mudah dilakukan karena ukuran gonad yang cukup besar. Namun pada ikan muda yang ukuran gonadnya kecil biasanya harus melalui metoda khusus. Salah satu teknik dalam pemeriksaan gonad ikan-ikan kecil yaitu dengan pewarnaan gonad dengan menggunakan larutan asetokarmin. Asetokarmin adalah larutan pewarna yang digunakan untuk mewarnai gonad untuk pemeriksaan dengan mikroskop. Metode ini memiliki beberapa kelebihan antara lain, praktis, mudah, dan cepat pengerjaannya, tidak perlu peralatan khusus, dan relatif mudah. Oleh karena itu pemahaman dan penguasaan dalam keterampilan pemeriksaan gonad metoda asetokarmin sangat diperlukan. Adapun tujuan praktikum Pengenalan Morfologi dan Anatomi Reproduksi Ikan ini yaitu untuk mengetahui bentuk dari gonad ikan baik jantan maupun betina secara primer. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Asetokarmin dan Fungsinya Asetokarmin merupakan salah satu modifikasi teknik pewarnaan yang peling populer terutama dalam bidang sitogenetika untuk penelaahan kromosom (Gunarso, 1989). Pewarnaan gonad dengan asetokarmin merupakan salah satu teknik dalam pemeriksaan

sel kelamin pada ikan. Khususnya pada ikan-ikan kecil yang memiliki ukuran gonad yang kecil. Asetokarmin adalah larutan pewarna yang digunakan untuk mewarnai jaringan gonad untuk pemeriksaan dengan mikroskop. Teknik asetokarmin berfungsi untuk menbedakan bakal testis dan bakal ovari yang nantinya akan menjadi testis dan ovarium pada ikan dewasa. Asetokarmin digunakan sebagai pewarna karena memiliki warna yang terang sehingga mudah diamati. Dalam kegiatan praktikum digunakan metode ini karena banyak memilki beberapa keuntungan yaitu alat-alat yang praktis, mudah, dan cepat (Zairin, 2002). B. Histologi Ikan Cupang dan Guppy Ikan Cupang (Betta sp.) adalah ikan air tawar yang habitat asalnya adalah beberapa negara di Asia Tenggara, antara lain Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Sedangkan ikan guppy (Poecilia reticulata) berasal dari daerah utara Amazon yaitu Trinidad, Barbados, Venezzuela, Gunaya, dan Brazil. Bakal testis dan bakal ovari dapat dibedakan dengan jelas. Gonad jantan memiliki ukuran kecil, berwarna putih susu, dan berpasangan. Gonad betina agak mirip gonad jantan, tetapi berwarna agak kekuningan dan diselubungi lemak. Bentuknya relatif hampir sama uintuk semua jenis ikan. Kadang-kadang di dalam gonad yang sama dapat dijumpai sekaligus bakal testis dan bakal ovari. Dengan pewarnaan asetokarmin, sel bakal sperma tampak berupa titik-titik kecil berjunlah banyak. Sel bakal telur tampak berbentuk bulatan besar dan bagian inti berada ditengah dengan warna lebih pucat dikelilingi sitoplasma yang berwarna merah (Zairin, 2002). Hasil pengamatan histologi gonad ikan cupang

Gonad Jantan

Gonad betina

Keterangan : (S : Spermatozoa; N : Nukleus; K : Sitoplasma) (Zairin Jr., 2002). Hasil pengamatan histologi gonad ikan guppy

(Ukhroy, 2008).

Beberapa jenis ikan yang berukuran kecil, seperti guppy dan cupang, jaringan ovari ditandai dengan adanya sel telur (oosit), dengan pewarnaan asetokarmin, inti oosit akan berwarna merah muda dan dilingkari sitoplasma berwarna gelap. Jaringan testis berukuran lebih kecil daripada oosit, biasanya spermatosit bentuknya agak memanjang (Zairin, 2002). III. METODOLOGI A. Waktu dan Tempat Praktikum reproduksi pada ikan guppy dan cupang dengan pengamatan histologi menggunakan metode asetokarmin dilakukan pada tanggal, 29 April 2013 jam 15.00 17.00 WIB, di Laboratorium PBudidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. B. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, alat bedah, albumin, tissu, masker, gelas obyek, gelas penutup (cover glass), dan pipet tetes. Sedangkan bahan yang digunakan adalah ikan guppy, ikan cupang, dan larutan asetokarmin. C. Prosedur Kerja Adapun cara kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah: 1. Pembuatan larutan asetokarmin. 0,6 bubuk karmin dilarutkan dalam 100 ml asam asetat glasial 45% Didihkan selama 2-4 menit kemudian didinginkan. Setelah dingin larutan itu disaring menggunakan kertas saring untuk memisahkan partikel kasarnya. Simpan larutan dalam botol yang ditutup rapat dan simpan pada suhu ruang. 2. Pemeriksaan gonad Ambil ikan kemudian bedah. Isi perut diangkat sehingga gonad yang terletak dibawahnya terlihat. Gonad terletak di antara gelembung renang dan ginjal sejajar dengan tulang belakang, berpasangan, dan berwarna putih transparan. Letakan gonad diatas gelas obyek yang telah di olesi albumin. Beri larutan asetokarmin 2-3 tetes. Cincang gonad denga pisau skapel sampai halus kemudian tutup dengan gelas penutup ( cover glass ). Gonad diamati dibawah miskroskop. IV. PEMBAHASAN Karakteristik gonad jantan dan betina sangat berbeda. Gonad jantan memiliki ukuran kecil, berwarna putih susu, dan berpasangan. Spermatosit bentuknya agak memanjang. Gonad betina agak mirip gonad jantan, tetapi berwarna agak kekuningan dan diselubungi lemak. Bentuknya relatif hampir sama uintuk semua jenis ikan. Kadang-kadang di dalam gonad yang sama dapat dijumpai sekaligus bakal testis dan bakal ovari. Dengan pewarnaan asetokarmin, sel bakal sperma tampak berupa titik-titik kecil berjunlah banyak. Sel bakal telur tampak berbentuk bulatan besar dan bagian inti berada ditengah dengan warna lebih pucat dikelilingi sitoplasma yang berwarna merah (Zairin, 2002). Pada hasil pengamatan praktikum diketahui bahwa gonad betina berbentuk bulatan besar dengan inti di tengahnya, sedangkan gonad jantan berukuran kecil, berjumlah banyak dan tersebar tidak beraturan. Pada praktikum ini kelompok 5 tidak menemukan gonad ikan guppy jantan, sehingga digunakan hasil pengamatan berdasarkan literatur yang didapat. Dalam kegiatan praktikum digunakan metode asetokarmin karena memilki beberapa keuntungan seperti alat-alat yang praktis dan mudah didapat, metodenya mudah

dilaksanakan, dan cepat, serta hasil preparat histologi dapat langsung diamati. Asetokarmin digunakan sebagai pewarna karena memiliki warna yang terang sehingga mudah diamati. Bi;a dibandingkan dengan metode identifikasi morfologi, metode ini lebih akurat sebab dilakukan pengamatan langsung terhadap ciri kelamin primer. Meskipun menurut Zairin (2002) identifikasi kelamin berdasarkan morfologi adalah cara yang hemat karena tidak perlu membunuh ikan uji. Cara ini ideal untuk ikan-ikan yang memiliki dimorfisme seksual yang jelas antara jantan dengan betinanya. Untuk ikan yang tidak memiliki dimorfisme seksual, identifikasi kelamin dapat juga dilakukan dengan melihat ciri-ciri khusus yang ada pada tubuh ikan. Namun cara ini tidak bisa dilakukan pada ikan yang berukuran relatif kecil. Dalam praktikum ini kendala yang dialami adalah tingkat kesulitan dalam menemukan gonad ikan muda, karena ganad ikan muda relatif kecil sehingga sulit untuk diambil. Kelemahan metode asetokarmin ini yaitu ikan yang diambil gonadnya harus dimatikan (Zairin Jr., 2002). Kendala yang dialami ialah ukuran gonad yang sangat kecil karena menggunakan ikan cupang dan guppy yang juga berukuran kecil, serta kurangnya alat praktikum seperti mikroskop, sehingga praktikkan tidak sempat mengamati preparat gonad tersebut. Berikut gambar jaringan yang didapat berdasarkan praktikum yang telah dilakukan beserta keterangannya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN Adapun kesimpulan yang didapat dari praktikum ini antara lain: Identifikasi kelamin ikan cupang dan guppy dapat dilakukan dengan pengamatan histologi dengan menggunakan metode asetokarmin. Gonad ikan jantan ditandai dengan adanya spermatosit berukuran kecil seperti titik titik kecil dan bentuknya agak memanjang. Gonad ikan betina ditandai dengan adanya oosit berbentuk bulatan besar. Dengan pewarnaan asetokarmin, inti oosit berwarna agak muda dan dilingkari sitoplasma yang berwarna gelap Saran yang dapat diberikan dari praktikum ini anara lain: Praktikan harus lebih teliti dalam proses pembedahan dan pengamatan gonad. Ikan yang digunakan harusnya yang telah matang gonad sehingga tidak menyulitkan ketika pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA Gunarso, Wisnu. 1989. Mikroteknik. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat Institut Pertanian. Bogor. Ukhroy, Nafisah Ummatul. 2008. Efektivitas Propolis Terhadap Nisbah Kelamin Ikan Guppy (Poecilia reticulate). Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Zairin Jr., M. 2002. Sex Reversal Memproduksi Benih Ikan Jantan atau Betina. Penebar Swadaya. Jakarta:.

LAMPIRAN