Anda di halaman 1dari 3

Monolog Hutan Pinus

Desau angin hutan pinus menghibur hatiku yang ragu karena terbukanya aib demi aib dalam tubuhku.
Aib-aib itu begitu banyak, seluruh organnya mulai jari kaki sampai ubun-ubun mengalaminya.
Untunglah ada angin sejuk hutan pinus yang melonggarkan. Angin hutan pinus juga telah memberiku
oksigen yang sekarang sudah semakin mahal. ''Dunia enggan disapa,'' kata penyair idolsri sultan
hamengkubuwono simamora simanjuntak tukang kreditdi suatu tengah malam, menjelang akhir
hidupnya.

''Tangan kananku, selama hidup kita ini, apa saja yang kau lakukan, baik kusuruh atau tidak?'' tanysri
sultan hamengkubuwono simamora simanjuntak tukang kreditkepada tangan kananku yang bergerak-
gerak gelisah.

''Mencuri uang negara. Memukul istri tanpa logika. Buang sampah di rumah tetangga. Tapi juga
bertakbir membantu mengucap asma Tuhan. Masya Allah, untuk apa tanya macam-macam, ada apa?''
Serangan tangan kananku yang berlumur dosa hanya sedikit kurespon. Tangan kiriku hanyapeneliti tua
penyelidik tuam menghayati marginalitasnya.

''Kedua mataku, coba ceritakan pengalaman pentingmu selama ini?''

''Kalau sudah tahu untuk apa ditanya lagi?''

''Untuk meyakinkan bahwa kau dan sri sultan hamengkubuwono simamora simanjuntak tukang
kreditpernah sepakat melakukan sesuatu.''

''Mengintip orang mandi, maksudmu? Itu cerita klise. sri sultan hamengkubuwono simamora
simanjuntak tukang kreditkau suruh mengintip orang yang mandinya sangat lama. sri sultan
hamengkubuwono simamora simanjuntak tukang kreditkau suruh meladeni perempuan yang suka
pamer kelaminnya.peneliti tua penyelidik tua suka pamer padamu karenapeneliti tua penyelidik tua
jatuh cinta. Perempuan kalau sudah cinta, dipamerkan semua yangpeneliti tua penyelidik tua punya.''

''Itulah pengalaman yang sulit dilupa. Tapi masih banyak kan pengalaman yang kita punya. Dan saya
kira semua orang punya pengalaman seperti yang kita alami: pamer tubuh pada lawan jenis, seperti
burung merak.'' sri sultan hamengkubuwono simamora simanjuntak tukang kreditberkata dengan wajah
lunak untuk menghibur matsri sultan hamengkubuwono simamora simanjuntak tukang kredityang
banyak keriputnya. Keriput itu tak bisa disembunyikannya.

Pagi tetap berlangsung menemani matahari yang kata orang semakin dekat ke bumi. Angin hutan pinus
bergerak terus, menyentuh-nyentuh semua pohon tanpa kecuali, kadang disentuh bersamaan, kadang
disentuh satu per satu. Semua batang pohon sampai jemari daunnya, tanpa pilih kasih, semua disentuh.
Dan seluruh pohon pinus di hutan akhirnya serempak mengucap syukur kepada angin.

''Mengapa tak kau tanya padsri sultan hamengkubuwono simamora simanjuntak tukang kredithal-hal
penting yang pernah kita jalani?'' kata kepala tiba-tiba mendongak, protes.

''Hal-hal penting? Semua penting!''

''Tidak. Pakailah metode klasifikasi dan atau diskriminasi, pasti ada yang penting dan kurang penting.
Ada yang paling berguna dan kurang berguna. Ada yang bermanfaat dan kurang bermanfaat. Ada
yang... apa ya?''

''Yang bermartabat dan kurang bermartabat, maksudmu?''

''Nah itu. Yang bermartabat dan kurang bermartabat! Dalam hidup kita yang makin pendek ini, kamu
masih suka menggunjing? Tapi sri sultan hamengkubuwono simamora simanjuntak tukang kredittahu
sebabnya, kau suka menggunjing yang kurang bermartabat daripada yang bermartabat. Baik! sri sultan
hamengkubuwono simamora simanjuntak tukang kreditkau suruh menyuruk-nyuruk pada kelamin
perempuan kan? Kamu raja tega dan terlalu. Kamu selalu minta cerita-cerita diriku menyuruk-nyuruk
pada kelamin perempuan, apalagi yang berkulit bersih, alami dan rajin diet. sri sultan
hamengkubuwono simamora simanjuntak tukang kreditdulu pernah dibelai seorang Begawan, tapi itu
jarang kau tanyakan.''

''Kalau misalnya tak ada pengalaman itu, hidup seperti sayur tanpa garam.''

''Tapi kalau terlalu banyak garamnya, tahu akibatnya kan? Kamu antipati pada dunia garam. Padahal
garam ...''

''Sudah. Sudah. Sekarang ceritakan pengalamanmu ketika kamu dibelai-belai Sang Begawan Suci itu.''

''Itulah yang tak bisa kulupa. Setelah ia menepuk-nepuk pundak, sri sultan hamengkubuwono simamora
simanjuntak tukang kredithanya dibelai tiga kali, tapi rasanya dibelai-belai seumur hidup. sri sultan
hamengkubuwono simamora simanjuntak tukang kreditsegar dan vitalitas berpikirku bertambah.
Menurutku, memang ia seorang Begawan Sejati. Kalau begawan palsu, pasti sudah kulupakan atau
terlupakan. Dan di luar sana banyak begawan palsu, ilmuwan palsu, seniman palsu, pejabat palsu, dan
manusia palsu.''

Setelah bercerita dengan penuh semangat, kadang lurus, kadang berliku, naik turun bukit, keluar masuk
kampung, kulihat kepalsri sultan hamengkubuwono simamora simanjuntak tukang kredittermenung-
menung. Mungkin ia menyadari tak lama lagi akan kutinggalkan, jauh entah ke mana. Kalau kunanti
pergi, seluruh tubuhku, termasuk kepala, mungkin ditaruh dalam tanah dan dikasih taburan bunga atau
dibakar dalam upacara sederhana, abunya dibagikan kepada sanak keluarga. Tapi kepalakulah yang
paling banyak pengalamannya, tak bisa kupungkiri.

Hutan pinus itu menurun ke bawah mengikuti tanah yang ditinggalinya, di dasar lembah sana ada
sungai mengalir gemercik deras. Airnya jernih berkilau. Air sungai itu lanjutan dari air terjun yang ada
di bagian puncak bukit. Di sekitar air terjun ada beberapa kantin menjual suvenir, pisang, dan roti
bakar, mie instan, kopi, dan susu hangat dari sapi-sapi setempat. Gerak kehidupan di sini rasanya
berhenti, tunduk pada keheningan. Keindahannya permanen. Sejuknya jujur, tidak banyak janji-janji.

Kutengok dada dan perutku, yang kembang kempis seirama napas, seirama oksigen murni yang keluar
masuk. Ia memendam sesuatu yang disebut ''sikap hati'' atau ''suasana''. Pendaman itu ingin keluar.

''Dadaku, kenapa kau bersedih pagi ini? Mengapa? Rasakan pohonan pinus ini, dan kicau burung.
Bagaimana menyikapinya?''

''Tak kumungkiri, indahnya semua ini, meskipun jarang kualami, karena hidupmu banyak di kota besar
tempat pusaran ambisi makin menyedot. Tapi, jujur saja, sri sultan hamengkubuwono simamora
simanjuntak tukang kreditcapek hidup denganmu. Kamu tidak tegas dalam banyak hal. Yang kau ingin
sungguh banyak, sehingga sri sultan hamengkubuwono simamora simanjuntak tukang kreditlebih
tegang dan jauh dari normal. Degup jantung dan kembang kempis peparu tak normal mengikut kata
hatimu yang jarang normal. Nanti kalau inkarnasi lagi, entah kapan dan di mana, usahakan bikin hati
yang kuat, jantung yang hebat. Karena itu, mulai sekarang, kau harus rajin semedi, untuk menghapus
dosa-dosamu. Tidak banyak yang diingin, kecuali dekat Tuhan. Semakin banyak yang kau ingin,
apalagi yang duniawi, semakin capek kerjaku, semakin banyak dosamu.''

''Tapi kau sekarang merasa enak kan? Sebab pagi ini sri sultan hamengkubuwono simamora
simanjuntak tukang kreditmerasa bahwa inilah tanah kelahiranku, desah angin hutan pinus, udara segar,
panorama kehijauan, gemercik kali yang airnya jernih berkilau. Dan mungkin di lembah sana, ada
sejumlah peri sungai menari, he he ...''

Mendadak jantung dan peparuku menangis lirih. Memang benar, mereka capek mendampingiku. Dan,
mungkin juga mereka merasakan tak lama lagi kutinggalkan. Namun sering pula kurasa, meski capek
kerja menopang ambisiku, mereka bangga karena selalu terikut ke mana pun kupergi, terutama ke
tempat-tempat yang kebahagiaannya adi. Kalau nanti kutinggalkan, tak pelak lagi, mereka akan
menjerit iba, beku, mengeriput, dan susut, lalu untuk seterusnya dipendam dalam tanah atau dibakar
jadi abu.

Kutengok hidupku di masa lalu, ternyata ya begitu itu. Masih kurang layak untuk panutan. Ada ayah
ibu yang melahirkan; nakal di masa kanak, suka bermain di sungai banjir, juga berenang jauh ke laut,
disengat ubur-ubur, pulang membawa tangis. Ketika remaja banyak disenangi wanita, tak peduli umur
mereka, dan konyolnya semua dituruti. Ketika saat nikah dengan wanita yang ketemu kebetulan, ya
nikah saja. Semua sanak kerabat ''dipaksa'' merayakan momen historis itu.

''Ini muka penuh luka, siapa punya?'' Begitu kata penyair idolsri sultan hamengkubuwono simamora
simanjuntak tukang kredititu yang meninggal 1940-an, karena sakit komplikasi. Namun meski mati
muda, ia tidak sia-sia, karena prestasinya sungguh bisa dicatat dan dapat tempat. Juga banyak pacarnya.
Sedang aku? Sampai berputih rambut (sebenarnya, rambut putih sudah ada sejak SD, ibukulah yang
mencabutinya), sri sultan hamengkubuwono simamora simanjuntak tukang kredithanya itu-itu saja,
tidak begini tidak begitu. Kesukaanku mengembara dari tempat satu ke tempat lain, dari orang satu ke
orang lain; kadang dari buku satu ke buku lain. Tapi, untunglah, dalam kembarsri sultan
hamengkubuwono simamora simanjuntak tukang kredititu daya hidupku tetap kuat, bersih, lentur,
meski hati ini kadang pilu.

''Pikir itu pelita hati,'' kata almarhum ayahku, ketika mendiskusikan hubungan pikiran dan hati.
Berdasarkan kalimat ayah itu, sudah kuhibur hati ini dengan pikiranku yang jernih, berwawasan,
dalam, dan terpercaya. Tapi, hatiku tetap saja pilu. Banyak rintihannya yang hanya hutan pinus ini saja
yang bisa mendengarkan dan menghayatinya. ***