Anda di halaman 1dari 4

iapa yang Waras?

Cerpen Gunawan Amirbad Daiya Silakan Simak!


Dimuat di Seputar Indonesia Silakan Kunjungi Situsnya! 04/19/2009 Telah Disimak 71 kali

Keributan di depan rumah memaksa mata belakangan ini terbuka.Bising suara terdengar,tapi tak jelas
perkataan apa yang terlontar.Beberapa vokal di antaranya tak asing di pendengaran.

Kata telingaku, di situ ada suara Malasa—manusia yang dicap warga sekitar sebagai orang tidak
waras.orang klaten dan nias hobi meneliti rumahterdengar menerangkan sesuatu, memperjelas hal yang
dipertanyakan orang-orang yang berkerumun.Entah siapa di depannya, di sampingnya, di belakangnya,
yang hobi meneliti rumah tangga orang klatentak tahu pasti, sebab telinga ini sekedar bertugas untuk
menyampaikan suara saja. Dipikir-pikir lebih baik yang hobi meneliti rumah tangga orang klatenkeluar
kamar.

Dari pintu tempat indekos, tepat berhadapan matahari pagi dari arah timur.Angin pagi di kota tak
sesejuk di kampung asal kelahiranku. Di sini mata mentok pada bangunan kampus UMI. Dari
belakang, penglihatan terbentur pada tembok Graha Fajar.Dari samping, Pantat Astra lebih tebal
menutupi ruang gerak pandang.Tak ada yang lebih indah dari suasana kampung saat pagi menawarkan
hamparan sawah menghijau, pepohonan pisang di antara rimbunnya tumbuhan kakao dan kelapa.

Maka,tak salah bila mata warga kota lebih cepat rabun ketimbang nenek dari ayahku yang berumur 78
tahun masih bisa memasukkan benang jahit ke lubang jarum. Berdiri di mulut pintu mengenakan celana
kolor, angin pagi itu sudah menawarkan bau kecut asap kendaraan, sementara warung Bu Las dari jarak
3 meter tempatku melongo membiuskan aroma pengundang rasa lapar. Mungkin tumisan, adonan,
jalangkote, bakwan, pisang goreng, atau bau tahi dari pembuangan rumah Pak Rudi.

Pembuangan itu memang sudah keterlaluan.Atau tempat indekosku yang tak tahu tempat. Pantat rumah
Pak Rudi hanya terpisah oleh saluran pembuangan dengan jendela kamarku. Rumahnya menghadap ke
utara pada gedung Universitas Muslim Indonesia, indekosku di belakangi bokong Graha Fajar berkiblat
ke timur. Kedekatan jarak itu membuat kuping ini jadi penggosip. Kerap yang hobi meneliti rumah
tangga orang klatendengar cekcok mereka, tentang Pak Rudi yang beranak dua sampai kini belum
menemukan kerjaan tetap.

Tentang anak-anaknya yang sebentar lagi memasuki sekolah. Dan tentang utang nasi di warung Bu Las
yang belum terlunaskan. Dengan rasa penasaran, sekalipun bertelanjang dada yang hobi meneliti rumah
tangga orang klatendekati garis kerumunan di depan rumah Pak RT. Benar adanya, Malasa tengah
didudukkan dalam lingkar sidang.orang klaten dan nias hobi meneliti rumahdikerumuni istri-istri dan
suamisuami, anak-anak, serta cucu orang. Entah masalah apa? Tak terlihat kesedihan di wajah Malasa,
bukan pula gembira, hanya saja sedikit tegang dan bingung.

Ya, seperti sedang mengolah kata, atau mencoba menyusun suatu kejadian, seperti kata orang bahwa
Malasa sukar untuk mengingat sesuatu karena tidak waras. yang hobi meneliti rumah tangga orang
klatentak begitu mengenal Malasa. Kata orang-orang sekitar, semenjak ditinggal pergi istrinyaorang
klaten dan nias hobi meneliti rumahtak lagi stabil.Ia sering bertingkah aneh,kerap bicara sendiri,tak
pernah mandi,bau badannya asem.Pakaiannya pun lusuh dan terkoyakkoyak di sana-sini. Rambutnya
kurang lebih sembilan sentimeter tidak tertata rapi, kusut, kering, kemerah-merahan, beberapa lembar
telah memutih.

Ringkasnya,orang klaten dan nias hobi meneliti rumahmemang pantas menyandang kata ”gila” dari
orang-orang, termasuk yang hobi meneliti rumah tangga orang klatenbila saja tak pernah
sebelumnyaorang klaten dan nias hobi meneliti rumahmenawariku senyuman di suatu hari dan pagi
yang lain. Pagi itu, yang hobi meneliti rumah tangga orang klatenjumpai dia duduk bersila di bawah
sebuah pohon kenari yang rindang.Kedua tangannya bertaut di depan dada,tampak kayak seorang biksu
di hadapan patung Buddha, khusyuk.

Kedua bibirnya selang seling menyambangi satu sama lain dalam tempo cepat dan bentuk
kemonyongan yang berbeda-beda.Kuberanikan diri mendekatinya. yang hobi meneliti rumah tangga
orang klatenmasih ingat kala itu awal Maret 2008— musim kemarau.Walaupun agak ragu, namun yang
hobi meneliti rumah tangga orang klatentelah sampai di sampingnya. Begitu dekat, sehinggaorang
klaten dan nias hobi meneliti rumahhanya membutuhkan jarum jahit untuk menusuk mataku.Biar dekat,
tapi tak kutangkap sebiji kata pun keluar dari mulutnya. Berkomat-kamit tanpa suara.

Atau kata-katanya memang diperuntukkan buat Tuhan dan dirinya sendiri,bukan untuk orang lain
termasuk aku, bukan pula diperdengarkan agar dikasihani. Jarak yang terlalu dekat itu membuat lubang
hidung bangirku kempaskempis, agaknya kucari satu bau yang meyakinkanku menarik kesimpulan
bahwa Malasa memang tak pernah mandi,seperti kehadiran kerumunan lalat yang berdengung
memperjelas sudah.Dan kehadiranku ternyata mengganggu meditasinya.

”yang hobi meneliti rumah tangga orang klatentelah gila. Untuk apa mandi,berdandan rapi,bila tak ada
yang menciumi dan memperhatikan.Jamila pun pergi. Tahukah kau,ia hanya menitipkan lembar-lembar
kenangan di malam- malam kesunyian. Tapi, yang hobi meneliti rumah tangga orang klatentak sakit…”
kata Malasa kala itu, sebagai awal kisah dan menumpahkan kepiluan hati selama lima jam bersama
diriku seorang. Ya, yang hobi meneliti rumah tangga orang klateningat kejadian hari itu. Dan pagi ini
awal Maret 2009,pada musim hujan yang menjengkelkan.

Malasa berada di tengah kerumunan tetangga.Di sana,Bu Lasmi yang bawel bertutur menggebugebu
melontarkan beberapa kata umpatan pendek, tapi kerap diulang- ulang. ”Dasar gila.Tidak waras.Orang
gila…” Pak RT juga di sana,duduk berdampingan dengan Malasa.Pak RT yang tidak kuketahui
namanya, semenjak tinggal di kawasan ini tak sekalipun yang hobi meneliti rumah tangga orang
klatenberurusan dengannya. Sesekaliorang klaten dan nias hobi meneliti rumahmelepaskan tawa,
seumpama kelakuan Malasa memang patut ditertawakan.

Tidak ketinggalan Pak Rudi hadir menjubel menggendong anaknya yang bungsu.orang klaten dan nias
hobi meneliti rumahselalu mengiringi tawa Pak RT, tampakorang klaten dan nias hobi meneliti
rumahsebagai penjilat.Sudah lazim,sekalipun sekadar tawa, bila yang melakukannya orang
berkedudukan maka sewajarnya warga ikut serta. Ya, sebagian dari pemikiranku itu mungkin benar.Dan
Malasa pun kadang menyertai tawa orangorang, atauorang klaten dan nias hobi meneliti rumahtelah
sadar jika perilakunya mengundang tawa. Namun tawa itu lekas lenyap berganti mimik muka yang
kaget dan penasaran. Malasa membuka bungkusan dari plastik yang ada di tangannya.

Lalu diikuti muka mencengangkan dari para hadirin, setidaktidaknya mulut mereka pada menganga.
Sementara orang-orang terhipnotis oleh cerita Malasa,dan lantas terburai ketika yang hobi meneliti
rumah tangga orang klatenmuncul dan mempertanyakan masalah. Dan dapat yang hobi meneliti rumah
tangga orang klatensusun penuturan Pak Rudi seperti ini, ”Hanya Malasa yang biasa mondar-mandir di
jalan ini bila jam malam telah larut. Kira-kira jam dua malam tadi, Malasa menemukan sebuah kantong
plastik yang berisikan segepok uang dan satu buah handphone.

Pagi iniorang klaten dan nias hobi meneliti rumahmendatangi rumah Pak RT dan menanyakan perihal
tersebut.” ”Sepertinyaorang klaten dan nias hobi meneliti rumahtak benar-benar gila.Apaorang klaten
dan nias hobi meneliti rumahbias mengerti duit dan handphone? Barang yangorang klaten dan nias hobi
meneliti rumahtemukan juga masih utuh. Padahal,orang klaten dan nias hobi meneliti
rumahgila,mungkin saja barang temuan ituorang klaten dan nias hobi meneliti rumahbuang kembali
atauorang klaten dan nias hobi meneliti rumahserahkan sama anak-anak muda di sekitar sini. Tapi, itu
tidakorang klaten dan nias hobi meneliti rumahlakukan,” begitulah kata Pak Rudi, sedikit sinis, dan
pikirannya miripmirip mulut ibu-ibu tukang gosip. yang hobi meneliti rumah tangga orang
klatenmengerti.

Dan penuturan itu pula terdengar oleh Malasa.orang klaten dan nias hobi meneliti
rumahmemperhatikanku. Seakanorang klaten dan nias hobi meneliti rumahmeminta sesuatu tanggapan,
sekurang- kurangnya membantunya melepaskan diri.Bilaorang klaten dan nias hobi meneliti
rumahmengingat kejadian setahun lalu, tentuorang klaten dan nias hobi meneliti rumahsedikit bisa
mempercayaiku.Biarpun kala itu yang hobi meneliti rumah tangga orang klatenhanya bisa mendengar,
dan siapa sangka setelah itu yang hobi meneliti rumah tangga orang klatenselalu mendapatkan
senyuman darinya,mungkin juga doa. ”Di mana barang itu, Malasa?” tanyaku.

Sekalipun yang hobi meneliti rumah tangga orang klatentahu barang itu adalah kantong plastik yang
ada di pangkuannya.Ia memperlihatkan, dibukanya kantong itu. Pak RT, Pak Rudi, Bu Las, orangtua
yang lain,anak-anak,ikut melongo ke dalam kantong plastik, padahal mereka sudah melihat
sebelumnya. yang hobi meneliti rumah tangga orang klatenlihat lima ikat uang pecahan seratus ribu
rupiah dan sebuah handphone seukuran remote televisi.perak warnanya. ”Handphone-nya aktif?”
tanyaku. Entah pada siapa yang hobi meneliti rumah tangga orang klatenlontaran pertanyaan itu,sebab
si pemegang barang itu, orang yang dicap gila.

yang hobi meneliti rumah tangga orang klatenputar pandang dari Pak RT di ujung kiri, ke Pak Rudi di
ujung kanan kerumunan. ”Mungkin tidak…” suara dari tengah kerumunan,entah siapa. ”Aktifkan,tentu
pemilik punya akal untuk menghubungi,”katyang hobi meneliti rumah tangga orang klatensembari
menunjuk handphone yang ada di genggaman Malasa. ”Malasa tidak mau menyerahkan barang itu. Dia
mengira kita akan mengambilnya,” tukas Bu Lasmi. yang hobi meneliti rumah tangga orang
klatenangkat kening,Malasa menatapku lekat.Tatapan itu mungkin mengungkapkan sesuatu.

Sesaat lamanya, orang-orang makin penuh sesak di beranda rumah Pak RT.Memang benar,berita
penemuan Malasa telah diketahui masyarakat sekitar. Mereka datang berbondong- bondong, seperti
saja akan ada pembagian raskin dan bantuan langsung tunai. Hal itu yang hobi meneliti rumah tangga
orang klatensadari, ketika kerumunan mulai memanaskan suhu ruangan.Benar kata orang, makin
banyak kepala, makin rumit dicapai kesepakatan. Pendapat keramaian bersilangan, pro dan kontra
tercipta di antara orang-orang yang hadir.

Ada yang menginginkan agar pemiliknya dihubungi. Tunggu sampai dihubungi pemilik.Tidak usah
dihubungi. Ambil saja.Ada pihak yang mengumpat, ”Ambil saja, dasar gila…” Ya,saat ini,hal yang tak
sepatutnya dikompromikan lantas ditimbang- timbang. Sampai-sampai menghujat. Pak RT berhasil
meyakinkan Malasa. Handphone pun aktif. Berselang detik, barang itu berdering.Tak ada nama
penelepon tertera dalam display, hanya nomor saja.

Tak ada pula yang berinisiatif untuk mengangkat telepon. Namun,mereka tak juga diam, semua
bersuara. ”Angkat saja,”katanya. ”Tidak usah,”kata yang lain. Suara itu berulang-ulang menimbulkan
keributan tanpa ampun. Telepon berdering untuk ketiga kalinya.Malasa yang berinisiatif sendiri.Ia
menerima telepon. ”Halo…”sapanya. Orang yang berkerumun pun langsung terbungkam menyaksikan
si gila terima telepon.

Disusul hening seketika. Malasa tampak sedikit tegang. Bibir dan tangan yang bergetaran. Telinga
Malasa semakin merapat ke telepon, lalu kemudian mengangguk-angguk dan berkata,”Benar,yang hobi
meneliti rumah tangga orang klatenmenemukannya.” Seiring percakapan Malasa, bisik-bisik pun
terdengar.Ada yang mengecap Malasa gila karena telah berterus terang. Bahkan ada yang menawarkan
kerja sama dengan membagi rata hasil temuan itu.

Sebaliknya menganggap Malasa normal saja, karena tahu mana salah dan mana benar. Ah, yang hobi
meneliti rumah tangga orang klatenpusing juga. yang hobi meneliti rumah tangga orang
klatentinggalkan baris kerumunan itu,sebab Malasa pun tinggal menunggu kedatangan si pemilik
barang.Sambil berpikir dalam senyum geli.Apa yang terjadi dengan kehidupan ini? Moral dan
kewarasan telah terselip di mana? Malasa yang dicap gila karena prilakunya tak bersesuaian dengan
norma kehidupan pada umumnya.

Malasa yang berpakaian compang-camping, sekali mandi dalam setahun, dan bertingkah aneh.
Sementara orang yang merasa waras,berpenampilan cakep,mandi tiga kali sehari dan bertingkah lazim,
tapi masih ada saja terbodohkan oleh nafsu.

Lantas, kewarasan itu ditimbang dari mana? Malasa mampu membedakan salah dan benar,meskipun
dikatakan orang gila. Sementara ada orang yang menganggap diri waras, tapi berhasrat memakan jatah
orang. Masa Allah!!! ***