Anda di halaman 1dari 39

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sistem reproduksi dipersyarafi oleh syaraf yang merupakan cabang dari saraf yang keluar dari tulang belakang dengan koordinasi pada otak. Jika terjadi kelainan ada syarat tersebut maka akan mengakibatkan gangguan pada sistem reporduksi, misalnya disfungsi ereksi, dan gangguan ejakulasi. Sistem saraf sangat berperan dalam iritabilitas tubuh. Iritabilitas memungkinkan makhluk hidup dapat menyesuaikan diri dan menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Jadi, iritabilitas adalah kemampuan menanggapi rangsangan. Sistem saraf mempunyai tiga fungsi utama, yaitu menerima informasi dalam bentuk rangsangan atau stimulus; memproses informasi yang diterima; serta memberi tanggapan (respon) terhadap rangsangan. Mahasiswi hendaknya mengetahui apa yang dimaksud dengan sistem reproduksi dan juga dengan sistem saraf. Dan mahasiswi hendaknya mengetahui saraf-saraf apa saja yang berhubungan dengan sistem reproduksi wanita. Maka dengan itu perlunya para mahasiswi untuk mengetahui apa itu hubungan sistem saraf dengan sistem reproduksi wanita.

B. Tujuan Penulisan a. Tujuan Umum Untuk menambah pengetahuan pada mahasiswi tentang hubungan sistem saraf dengan sistem reproduksi wanita. Dan semoga bisa bermanfaat untuk mahasiswi dan Dosen yang membaca makalah ini. b. Tujuan Khusus Untuk mengetahui apa itu : Sistem reproduksi wanita

Sistem saraf manusia Hubungan antara sistem saraf dengan sistem reproduksi wanita

C. Manfaat Penulisan a. Manfaat Teoritis 1. Sebagai pengembangan bahan masukan dan pengkajian baru khususnya tentang hubungan sistem saraf dengan sistem reproduksi wanita. 2. Dapat menjadi acuan bagi pengkajian selanjutnya. b. Manfaat Praktis 1. Manfaat bagi institusi Kepada institusi, makalah ini diharapkan dapat dijadikan bahan literature atau referensi pembuatan makalah selanjutnya. 2. Manfaat bagi mahasiswi Kepada mahasiswi diharapkan sebagai sumber informasi dalam upaya penanganan pencegahan infeksi.

BAB II PEMBAHASAN

A. Sistem Saraf Manusia Tubuh manusia terdiri atas organ-organ tubuh yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu. Agar organ-organ tubuh dapat bekerja sama dengan baik, diperlukan adanya koordinasi (pengaturan). Pada manusia dan sebagian besar hewan, koordinasi dilakukan oleh salah satunya adalah sistem saraf dan Sistem saraf sangat berperan dalam iritabilitas tubuh. Iritabilitas adalah kemampuan menanggapi rangsangan. Untuk menanggapi rangsangan, ada tiga komponen yang harus dimiliki oleh sistem saraf, yaitu: Reseptor, adalah alat penerima rangsangan atau impuls. Pada tubuh kita yang bertindak sebagai reseptor adalah organ indera. Konduktor (Penghantar impuls), dilakukan oleh sistem saraf itu sendiri. Sistem saraf terdiri dari sel-sel saraf yang disebut neuron. Efektor, adalah bagian tubuh yang menanggapi rangsangan. Efektor yang paling penting pada manusia adalah otot dan kelenjar (hormon). Otot menanggapi rangsang yang berupa gerakan tubuh, sedangkan hormon menaggapi rangsang dengan meningkatkan/menurunkan aktivitas organ tubuh tertentu. Misalnya : mempercepat/memperlambat denyut jantung, melebarkan/menyempitkan pembuluh darah dan lain sebagainya. a. Sel Saraf (Neuron) Sistem saraf tersusun oleh sel-sel saraf atau neuron. Neuron inilah yang berperan dalam menghantarkan impuls (rangsangan). Sebuah sel saraf terdiri tiga bagian utama yaitu badan sel, dendrit dan neurit (akson).

1.

Badan sel Badan sel saraf merupakan bagian yang paling besar dari sel saraf. Badan sel berfungsi untuk menerima rangsangan dari dendrit dan meneruskannya ke akson. Badan sel saraf mengandung inti sel dan sitoplasma. Inti sel berfungsi sebagai pengatur kegiatan sel saraf (neuron). Di dalam sitoplasma terdapat mitokondria yang berfungsi sebagai penyedia energi untuk membawa rangsangan.

2.

Dendrit Dendrit adalah serabut sel saraf pendek dan bercabang-cabang. Dendrit merupakan perluasan dari badan sel. Dendrit berfungsi untuk menerima dan mengantarkan rangsangan ke badan sel.

3.

Neurit (akson) Neurit berfungsi untuk membawa rangsangan dari badan sel ke sel saraf lain. Neurit dibungkus oleh selubung lemak yang disebut selubung myelin yang terdiri atas perluasan membran sel Schwann. Selubung ini berfungsi untuk isolator dan pemberi makan sel saraf. Bagian neurit ada yang tidak dibungkus oleh selubung mielin. Bagian ini disebut dengan nodus ranvier dan berfungsi mempercepat jalannya rangsangan. Antara neuron satu dengan neuron satu dengan neuron berikutnya

tidak bersambungan secara langsung tetapi membentuk celah yang sangat sempit. Celah antara ujung neurit suatu neuron dengan dendrit neuron lain tersebut dinamakan sinapsis. Pada bagian sinapsis inilah suatu zat kimia yang

disebut neurotransmiter (misalnya asetilkolin) menyeberang untuk membawa impuls dari ujung neurit suatu neuron ke dendrit neuron berikutnya. b. Macam-macam Neuron (Sel Saraf) Sistem saraf tersusun dari berjuta-juta sel saraf. Berdasarkan struktur dan fungsinya, sel saraf dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu sel saraf sensori, sel saraf motor, dan sel saraf intermediet (asosiasi). 1. Sel Saraf sensorik Fungsi sel saraf sensorik adalah menghantar impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis). Ujung akson dari saraf sensori berhubungan dengan saraf asosiasi (intermediet). 2. Sel Saraf motor Fungsi sel saraf motor adalah mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar yang hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan. Badan sel saraf motor berada di sistem saraf pusat. Dendritnya sangat pendek berhubungan dengan akson saraf asosiasi, sedangkan aksonnya dapat sangat panjang. 3. Sel saraf intermediet Sel saraf intermediet disebut juga sel saraf asosiasi. Sel ini dapat ditemukan di dalam sistem saraf pusat dan berfungsi menghubungkan sel saraf motor dengan sel saraf sensori atau berhubungan dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat. Sel saraf intermediet menerima impuls dari reseptor sensori atau sel saraf asosiasi lainnya. Kelompok-kelompok serabut saraf, akson dan dendrit bergabung dalam satu selubung dan membentuk urat saraf. Sedangkan badan sel saraf berkumpul membentuk ganglion atau simpul saraf.

c.

Macam-macam Gerak Gerakan merupakan salah satu cara tubuh dalam mengagapi rangsangan. Berdasarkan jalannya rangsangan (impuls) gerakan dibedakan menjadi dua yaitu : 1. Gerak sadar Gerak sadar atau gerak biasa adalah gerak yang terjadi karena disengaja atau disadari. Pada gerak sadar ini, gerakan tubuh dikoordinasi oleh otak. Rangsangan yang diterima oleh reseptor (indra) disampaikan ke otak melalui neuron sensorik. Di otak rangsangan tadi diartikan dan diputuskan apa yang akan dilakukan. Kemudian otak mengirimkan perintah ke efektor melalui neuron motorik. Otot (efektor) bergerak melaksanakan perintah otak. Contoh gerak sadar misalnya : menulis, membuka payung, mengambil makanan atau berjalan. Skema gerak sadar : Rangsangan(Impuls) > Reseptor(Indra) > Saraf sensorik > Otak > Saraf motorik > Efektor (Otot)

2.

Gerak Refleks (Tak Sadar) Gerak refleks adalah gerak yang tidak disengaja atau tidak disadari. Impuls yang menyebabkan gerakan ini tidak melewati otak namun hanya sampai sumsum tulang belakang. Gerak refleks misalnya terjadi saat kita mengangkat kaki karena menginjak benda runcing, gerakan tangan saat tidak sengaja menjatuhkan buku, gerakan saat menghindari tabrakan dan lain sebagainya. Skema gerak refleks : Rangsangan(Impuls) > Reseptor(Indra) > Saraf sensorik > Sumsum Tulang Belakang > Saraf motorik > Efektor (Otot)

d.

Susunan Sistem Saraf Manusia Di dalam tubuh kita terdapat miliaran sel saraf yang membentuk sistem saraf. Sistem saraf manusia tersusun dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang. Sedangkan sistem saraf tepi terdiri atas sistem saraf somatis dan sistem saraf otonom.

1.

Sistem Saraf Pusat Sistem saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang (Medula spinalis). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat penting maka perlu perlindungan. otak dilindungi 3 lapisan selaput meninges. Bila membran ini terkena infeksi maka akan terjadi radang yang disebut meningitis. Ketiga lapisan membran meninges dari luar ke dalam adalah sebagai berikut. a) Durameter; merupakan selaput yang kuat dan bersatu dengan tengkorak.

b) Araknoid; disebut demikian karena bentuknya seperti sarang labahlabah. Di dalamnya terdapat cairan serebrospinalis; semacam cairan limfa yang mengisi sela sela membran araknoid. Fungsi selaput araknoid adalah sebagai bantalan untuk melindungi otak dari bahaya kerusakan mekanik. c) Piameter. Lapisan ini penuh dengan pembuluh darah dan sangat dekat dengan permukaan otak. Agaknya lapisan ini berfungsi untuk memberi oksigen dan nutrisi serta mengangkut bahan sisa metabolisme. Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai 3 materi esensial yaitu: a) badan sel yang membentuk bagian materi kelabu (substansi grissea) b) serabut saraf yang membentuk bagian materi putih (substansi alba) c) sel-sel neuroglia, yaitu jaringan ikat yang terletak di antara sel-sel saraf di dalam sistem saraf pusat Walaupun otak dan sumsum tulang belakang mempunyai materi sama tetapi susunannya berbeda. Pada otak, materi kelabu terletak di bagian luar atau kulitnya (korteks) dan bagian putih terletak di tengah. Pada sumsum tulang belakang bagian tengah berupa materi kelabu berbentuk kupu-kupu, sedangkan bagian korteks berupa materi putih. Sistem saraf pusat terdiri dari : a) Otak Otak mempunyai lima bagian utama, yaitu: otak besar (serebrum), otak tengah (mesensefalon), otak kecil (serebelum), sumsum sambung (medulla oblongata), dan jembatan varol. 1) Otak besar (serebrum) Otak besar mempunyai fungsi dalam pengaturan semua aktifitas mental, yaitu yang berkaitan dengan kepandaian (intelegensi), ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan.

Otak besar merupakan sumber dari semua kegiatan/gerakan sadar atau sesuai dengan kehendak, walaupun ada juga beberapa gerakan refleks otak. Pada bagian korteks serebrum yang berwarna kelabu terdapat bagian penerima rangsang (area sensor) yang terletak di sebelah belakang area motor yang berfungsi mengatur gerakan sadar atau merespon rangsangan. Selain itu terdapat area asosiasi yang menghubungkan area motor dan sensorik. Area ini berperan dalam proses belajar, menyimpan ingatan, membuat kesimpulan, dan belajar berbagai bahasa. Di sekitar kedua area tersebut dalah bagian yang mengatur kegiatan psikologi yang lebih tinggi. Misalnya bagian depan merupakan pusat proses berfikir (yaitu mengingat, analisis, berbicara, kreativitas) dan emosi. Pusat penglihatan terdapat di bagian belakang.

2) Otak tengah (mesensefalon) Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. Di depan otak tengah terdapat talamus dan kelenjar hipofisis yang mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin. Bagian atas (dorsal) otak tengah merupakan lobus optikus yang mengatur

refleks mata seperti penyempitan pupil mata, dan juga merupakan pusat pendengaran.

Gbr. Otak dan kegiatan-kegiatan yang dikontrolnya 3) Otak kecil (serebelum) Serebelum mempunyai fungsi utama dalam koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya maka gerakan sadar yang normal tidak mungkin dilaksanakan. 4) Jembatan varol (pons varoli) Jembatan varol berisi serabut saraf yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar dan sumsum tulang belakang. 5) Sumsum sambung (medulla oblongata) Sumsum sambung berfungsi menghantar impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke otak. Sumsum sambung juga mempengaruhi jembatan, refleks fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah, volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar pencernaan. Selain itu, sumsum sambung juga mengatur gerak refleks yang lain seperti bersin, batuk, dan berkedip.

10

b) Sumsum tulang belakang (medulla spinalis) Pada penampang melintang sumsum tulang belakang tampak bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berbentuk kupukupu dan berwarna kelabu. Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor. Pada bagian putih terdapat serabut saraf asosiasi. Kumpulan serabut saraf membentuk saraf (urat saraf). Urat saraf yang membawa impuls ke otak merupakan saluran asenden dan yang membawa impuls yang berupa perintah dari otak merupakan saluran desenden. Gbr. Penampang melintang sumsum tulang belakang Sumsum tulang belakang berfungsi untuk : 1) Menghantarkan impuls dari dan ke otak; 2) Memberi kemungkinan jalan terpendek gerak refleks. 2. Sistem saraf Tepi Sistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadai dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas

11

yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi keringat. a) Sistem Saraf Somatis Sistem saraf somatis disebut juga dengan sistem saraf sadar. Proses yang dipengaruhi saraf sadar, berarti kamu dapat memutuskan untuk menggerakkan atau tidak menggerakkan bagian-bagian tubuh di bawah pengaruh sistem ini. Misalnya ketika kita mendengar bel rumah berbunyi, isyarat dari telinga akan sampai ke otak. Otak menterjemahkan pesan tersebut dan mengirimkan isyarat ke kaki untuk berjalan mendekati pintu dan mengisyaratkan ke tangan untuk membukakan pintu. Sistem saraf somatis terdiri atas : 1) Saraf otak (saraf cranial), saraf otak terdapat pada bagian kepala yang keluar dari otak dan melewati lubang yang terdapat pada tulang tengkorak. Saraf cranial berjumlah 10 pasang, yaitu : Tiga pasang saraf sensori, yaitu saraf nomor 1, 2, dan 8. Lima pasang saraf motor, yaitu saraf nomor 3, 4, 6, 11 dan 12. Empat pasang saraf gabungan sensori dan motor, yaitu saraf nomor 5, 7, 9, dan 10. Saraf otak dikhususkan untuk daerah kepala dan leher, kecuali nervus vagus yang melewati leher ke bawah sampai daerah toraks dan rongga perut. Nervus vagus membentuk bagian saraf otonom. Oleh karena daerah jangkauannya sangat luas maka nervus vagus disebut saraf pengembara dan sekaligus merupakan saraf otak yang paling penting.

12

2) Saraf sumsum tulang belakang (saraf spinal), saraf sumsum tulang belakang berfungsi untuk meneruskan impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat juga meneruskan impuls dari sistem saraf pusat ke semua otot rangka tubuh. Saraf sumsum tulang belakang berjumlah 31 pasang saraf gabungan. Berdasarkan asalnya, saraf sumsum tulang belakang dibedakan atas 8 pasang saraf leher, 12 pasang saraf punggung, 5 pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf pinggul, dan satu pasang saraf ekor. Beberapa urat saraf bersatu membentuk jaringan urat saraf yang disebut pleksus. Ada 3 buah pleksus yaitu sebagai berikut.

Pleksus cervicalis merupakan gabungan urat saraf leher yang mempengaruhi bagian leher, bahu, dan diafragma. Pleksus brachialis mempengaruhi bagian tangan. Pleksus Jumbo sakralis yang mempengaruhi bagian pinggul dan kaki.

b) Sistem Saraf Otonom


Sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari otak maupun dari sumsum tulang belakang menuju organ yang bersangkutan. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan masing-masing jalur membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk ganglion. Urat saraf yang terdapat pada pangkal ganglion disebut urat saraf pra ganglion dan yang berada pada ujung ganglion disebut urat saraf post ganglion. Menurut fungsinya, saraf autonom terdiri atas dua macam yaitu:

1) sistem saraf simpatik dan 2) sistem saraf parasimpatik. Perbedaan struktur antara saraf simpatik dan parasimpatik terletak pada posisi ganglion. Saraf simpatik mempunyai ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang menempel pada sumsum

13

tulang belakang sehingga mempunyai urat pra ganglion pendek, sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat pra ganglion yang panjang karena ganglion menempel pada organ yang dibantu. Fungsi sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu berlawanan (antagonis). Sistem saraf parasimpatik terdiri dari keseluruhan nervus vagus bersama cabang-cabangnya ditambah dengan beberapa saraf otak lain dan saraf sumsum sambung. Fungsi Saraf Otonom 1) Parasimpatik mengecilkan pupil menstimulasi aliran ludah memperlambat denyut jantung membesarkan bronkus menstimulasi sekresi kelenjar pencernaan mengerutkan kantung kemih

2) Simpatik memperbesar pupil menghambat aliran ludah mempercepat denyut jantung mengecilkan bronkus menghambat sekresi kelenjar pencernaan menghambat kontraksi kandung kemih

e. Mekanisme Penghantar Impuls Impuls dapat dihantarkan melalui beberapa cara, di antaranya melalui sel saraf dan sinapsis. Berikut ini akan dibahas secara rinci kedua cara tersebut.

14

1. Penghantaran Impuls Melalui Sel Saraf Penghantaran impuls baik yang berupa rangsangan ataupun tanggapan melalui serabut saraf (akson) dapat terjadi karena adanya perbedaan potensial listrik antara bagian luar dan bagian dalam sel. Pada waktu sel saraf beristirahat, kutub positif terdapat di bagian luar dan kutub negatif terdapat di bagian dalam sel saraf. Diperkirakan bahwa rangsangan (stimulus) pada indra menyebabkan terjadinya pembalikan perbedaan potensial listrik sesaat. Perubahan potensial ini (depolarisasi) terjadi berurutan sepanjang serabut saraf. Kecepatan perjalanan gelombang perbedaan potensial bervariasi antara 1 sampai dengart 120 m per detik, tergantung pada diameter akson dan ada atau tidaknya selubung mielin. Bila impuls telah lewat maka untuk sementara serabut saraf tidak dapat dilalui oleh impuls, karena terjadi perubahan potensial kembali seperti semula (potensial istirahat). Untuk dapat berfungsi kembali diperlukan waktu 1/500 sampai 1/1000 detik. Energi yang digunakan berasal dari hasil pemapasan sel yang dilakukan oleh mitokondria dalam sel saraf. Stimulasi yang kurang kuat atau di bawah ambang (threshold) tidak akan menghasilkan impuls yang dapat merubah potensial listrik. Tetapi bila kekuatannya di atas ambang maka impuls akan dihantarkan sampai ke ujung akson. Stimulasi yang kuat dapat menimbulkan jumlah impuls yang lebih besar pada periode waktu tertentu daripada impuls yang lemah. 2. Penghantaran Impuls Melalui Sinapsis Titik temu antara terminal akson salah satu neuron dengan neuron lain dinamakan sinapsis. Setiap terminal akson membengkak membentuk tonjolan sinapsis. Di dalam sitoplasma tonjolan sinapsis terdapat struktur kumpulan membran kecil berisi neurotransmitter; yang disebut vesikula sinapsis. Neuron yang berakhir pada tonjolan sinapsis disebut neuron prasinapsis. Membran ujung dendrit dari sel berikutnya yang membentuk

15

sinapsis disebut post-sinapsis. Bila impuls sampai pada ujung neuron, maka vesikula bergerak dan melebur dengan membran pra-sinapsis. Kemudian vesikula akan melepaskan neurotransmitter berupa asetilkolin. Neurontransmitter adalah suatu zat kimia yang dapat menyeberangkan impuls dari neuron pra-sinapsis ke post-sinapsis. Neurontransmitter ada bermacam-macam misalnya asetilkolin yang terdapat di seluruh tubuh, noradrenalin terdapat di sistem saraf simpatik, dan dopamin serta serotonin yang terdapat di otak. Asetilkolin kemudian berdifusi melewati celah sinapsis dan menempel pada reseptor yang terdapat pada membran post-sinapsis. Penempelan asetilkolin pada reseptor menimbulkan impuls pada sel saraf berikutnya. Bila asetilkolin sudah melaksanakan tugasnya maka akan diuraikan oleh enzim asetilkolinesterase yang dihasilkan oleh membran post-sinapsis. Antara saraf motor dan otot terdapat sinapsis berbentuk cawan dengan membran pra-sinapsis dan membran post-sinapsis yang terbentuk dari sarkolema yang mengelilingi sel otot. Prinsip kerjanya sama dengan sinapsis saraf-saraf lainnya. Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan penghantaran impuls oleh saraf. Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun, ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari reseptor, ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak, kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor. Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa

16

disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk. Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh set saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas ini disebut lengkung refleks. Gerak refleks dapat dibedakan atas refleks otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di dalam otak, misalnya, gerak mengedip atau mempersempit pupil bila ada sinar dan refleks sumsum tulang belakang bila set saraf penghubung berada di dalam sumsum tulang belakang misalnya refleks pada lutut.

B. Sistem Reproduksi Wanita a. Pengertian Organ reproduksi yang membentuk apa yang dikenal sebagai traktus genetalis yang berkembang, setelah traktus urinarius. Sel produksi berkembang disebelah depan ginjal yang tumbuh sebagai koloni-koloni sel kemudian membentuk kelenjar reproduksi. Perkembangan sifat terjadi pada umur 10-14 tahun. Pada wanita ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), uterus dan vagina membesar, buah dada membesar serta jaringan ikat dan saluran darah bertambah, sifat kelamin sekunder tampil, lengkung tubuh

berkembang, adanya bulu ketiak dan pubis pelvis melebar. Perubahan penting terjadi pada usia remaja dimana jiwa dan raganya menjadi matang. b. Organ Reproduksi Wanita Genetalia pada waniat terpisah dari uretra yang mempunyai saluran tersendiri. Alat reproduksi wanita dibagi menjadi 2 bagian :

17

1.

Vulva dan Otot Dasar Panggul Vulva merupakan genetalia eksterna wanita yang dapat dilihat dan dibatasi oleh mons pubis di anterior, anus di posterior, dan lipatanlipatan genitokrural di lateral. Perineum terletak di antara meatus uretra dan anus, termasuk kulit dan otot yang berada di bawahnya. Mons pubis terdiri dari kulit yang ditumbuhi rambut di atas bantalan jaringan adiposa yang terletak di atas simfisis pubis. Labia majora adalah dua lipatan kulit berukuran besar dan ditumbuhi rambut yang terdiri dari jaringan adiposa dan fibrosa yang melebar dari mons pubis sampai badan perineum. Klitoris adalah organ pendek yang dapat bereaksi dengan glans yang terlihat jelas. Organ ini merupakan homolog dari penis pria. Labia minora adalah dua lipatan kulit tipis dan tidak berambut, terletak medial terhadap labia minora dan berawal dari klitoris Vestibulum adalah celah jaringan antara labia minora yang terlihat ketika labia minora berada dalam posisi terbuka. Kelenjar Bartholin terletak di setiap sisi lubang vagina dengan muara duktus pada posisi jam 5 dan jam 7. Kompartemen perineum superfisial terletak di antara fasia colles dan diafragma urogenital. Di dalam kompartemen ini terdapat otot iskiokavernosus, superfisial. Diafragma urogenital (membran perineum) adalah jaringan bulbokavernosus, dan perineum transversal

fibromuskular padat berbentuk segitiga yang teregang antara simfisis pubis dan tuberositas iskial di setengah bagian anterior pintu panggul. Fungsi utamanya adalah untuk menunjang vagina dan badan perineum.

18

Diafragma pelvis ditemukan di atas diafragma urogenital dan membentuk batas inferior dari rongga abdominopelvik. Diafragma ini terdiri dari fasia dan otot (levator ani, koksigeus) yang berbentuk seperti corong.

2.

Anatomi Genitalia interna dan pelvis lateral Uterus merupakan organ fibromuskular yang bentuk, berat, dan dimensinya sangat bervariasi. Bagian atas yang berbentuk seperti kubah disebut fundus. Kolon sigmoid masuk ke pelvis dari kiri, membentuk rektum pada ketinggian tulang sakrum kedua dan ketiga lalu berakhir di saluran anus. Uterus terdiri dari : a) Fundus uteri (dasar rahim). Bagian uterus yang terletak antara kedua pangkal saluran telur. b) Korpus uteri. Bagian uterus yang terbesar pada kehamilan, bagian ini berfungsi sebagai tempat janin berkembang. Rongga yang terdapat pada korpus uteri disebut kavum uteri atau rongga rahim. c) Servik uteri. Ujung servik yang menuju puncak vagina disebut porsio, hubungan antara kavum uteri dan kanalis servikalis disebut ostium uteri internum. Dinding uterus terdiri dari : 1) Endometrium (epital, kelenjar, jaringan dan pembuluh darah). Merupakan lapisan dalam uterus yang mempunyai arti penting dalam siklus haid. Seorang wanita pada masa reproduksi, pada kehamilan endometrium akan menebal, pembuluh darah bertambah banyak hal ini diperlukan untuk memberi makanan pada janin.

19

2) Miometrium (lapisan otot polos). Tersusun sedemikian rupa sehingga dapat mendorong isinya keluar pada waktu

persalinan. Sesudah plasenta lahir akan mengalami pengecilan sampai keukuran normal sebelumnya. 3) Lapisan Serosa (peritoneum viseral). Terdiri atas ligamentum yang menguatkan uterus yaitu : Ligamentum kardinale kiri dan kanan, mencegah supaay uterus tidak turun. Ligamentum sakro uterinum kiri dan kanan, menahan uterus supaya tidak banyak bergerak. Ligamentum rotundum kiri dan kanan, menahan uterus agar tetap dalam keadaan antofleksi. Ligamentum latum kiri dan kanan, ligamentum yang meliputi tuba. Ligamentum infudibulo pelvikum, ligamentum menahan tuba falopi. Serviks terhubung dengan uterus pada os interna. Serviks terutama terdiri dari jaringan ikat fibrosa padat. Saluran serviks membuka ke arah vagina pada os eksterna. Vagina adalah saluran fibromuskular berdinding tipis dan memiliki kemampuan untuk meregang. Vagina terbentang dari vestibulum vulva sampai serviks uterus. Tuba fallopi (oviduk) merupakan struktur tubular yang berpasangan dan berawal dari bagian lateral atas uterus lalu melebar di sepertiga distalnya (ampula). Ovarium adalah organ berukuran sebesar kacang almond berwarna putih keabuan dan melekat pada uterus di medial melalui ligamentum yang

20

utero-ovarian serta dinding samping pelvis di lateral melalui pedikel vaskular, ligamentum infundibulopelvik. Ureter adalah saluran berotot dan berwarna keputihan yang berperan sebagai saluran urin dari ginjal ke trigonum kandung kemih. Saluran ini berjalan di atas pembuluh iliaka komunis dari lateral ke medial setinggi pinggiran pelvis sebelum lewat di bawah pembuluh uterus tepat di lateral serviks (sungai di bawah jembatan). Kandung kemih merupakan organ berotot dan berongga yang berada di antara simfisis pubis dan uterus. Ukuran dan bentuknya bervariasi sesuai dengan volume urin. c. Oogenesis Oogenesis merupakan proses pembentukan ovum di dalam ovarium. Di dalam ovarium terdapat oogonium (oogonia = jamak) atau sel indung telur. Oogonium bersifat diploid dengan 46 kromosom atau 23 pasang kromosom. Oogonium akan memperbanyak diri dengan cara mitosis membentuk oosit primer. Oogenesis telah dimulai saat bayi perempuan masih di dalam kandungan, yaitu pada saat bayi berusia sekitar 5 bulan dalam kandungan. Pada saat bayi perempuan berumur 6 bulan, oosit primer akan membelah secara meiosis. Namun, meiosis tahap pertama pada oosit primer ini tidak dilanjutkan sampai bayi perempuan tumbuh menjadi anak perempuan yang mengalami pubertas. Oosit primer tersebut berada dalam keadaan istirahat (dorman). Pada saat bayi perempuan lahir, di dalam setiap ovariumnya mengandung sekitar 1 juta oosit primer. Ketika mencapai pubertas, anak perempuan hanya memiliki sekitar 200 ribu oosit primer saja. Sedangkan oosit lainnya mengalami degenerasi selama pertumbuhannya. Saat memasuki masa pubertas, anak perempuan akan mengalami perubahan hormon yang menyebabkan oosit primer melanjutkan meiosis

21

tahap pertamanya. Oosit yang mengalami meiosis I akan menghasilkan dua sel yang tidak sama ukurannya. Sel oosit pertama merupaakn oosit yang berukuran normal (besar) yang disebut oosit sekunder, sedangkan sel yang berukuran lebih kecil disebut badan polar pertama (polosit primer). Selanjutnya , oosit sekunder meneruskan tahap meiosis II (meiosis kedua). Namun pada meiosis II, oosit sekunder tidak langsung diselesaikan sampai tahap akhir, melainkan berhenti sampai terjadi ovulasi. Jika tidak terjadi fertilisasi, oosit sekunder akan mengalami degenerasi. Namun jika ada sperma masuk ke oviduk, meiosis II pada oosit sekunder akan dilanjutkan kembali. Akhirnya, meiosis II pada oosit sekunder akan menghasilkan satu sel besar yang disebut ootid dan satu sel kecil yang disebut badan polar kedua (polosit sekunder). Badan polar pertama juga membelah menjadi dua badan polar kedua. Akhirnya, ada tiga badan polar dan satu ootid yang akan tumbuh menjadi ovum dari oogenesis setiap satu oogonium. Oosit dalam oogonium berada di dalam suatu folikel telur. Folikel telur (folikel) merupakan sel pembungkus penuh cairan yang menglilingi ovum. Folikel berfungsi untuk menyediakan sumber makanan bagi oosit. Folikel juga mengalami perubahan seiring dengan perubahan oosit primer menjadi oosit sekunder hingga terjadi ovulasi. Folikel primer muncul pertama kali untuk menyelubungi oosit primer. Selama tahap meiosis I pada oosit primer, folikel primer berkembang menjadi folikel sekunder. Pada saat terbentuk oosit sekunder, folikel sekunder berkembang menjadi folikel tersier. Pada masa ovulasi, folikel tersier berkembang menjadi folikel de Graaf (folikel matang). Setelah oosit sekunder lepas dari folikel, folikel akan berubah menjadi korpus luteum. Jika tidak terjaid fertilisasi, korpus luteum akan mengkerut menjadi korpus albikan.

22

d. Hormon pada Wanita Pada wanita, peran hormon dalam perkembangan oogenesis dan perkembangan reproduksi jauh lebih kompleks dibandingkan pada pria. Salah satu peran hormon pada wanita dalam proses reproduksi adalah dalam siklus menstruasi. 1. Siklus menstruasi Menstruasi (haid) adalah pendarahan secara periodik dan siklik dari uterus yang disertai pelepasan endometrium. Menstruasi terjadi jika ovum tidak dibuahi oleh sperma. Siklus menstruasi sekitar 28 hari. Pelepasan ovum yang berupa oosit sekunder dari ovarium disebut ovulasi, yang berkaitan dengan adanya kerjasama antara hipotalamus dan ovarium. Hasil kerjasama tersebut akan memacu pengeluaran hormon-hormon yang mempengaruhi mekanisme siklus menstruasi. Untuk mempermudah penjelasan mengenai siklus menstruasi, patokannya adalah adanya peristiwa yang sangat penting, yaitu ovulasi. Ovulasi terjadi pada pertengahan siklus ( n) menstruasi. Untuk periode atau siklus hari pertama menstruasi, ovulasi terjadi pada hari ke-14 terhitung sejak hari pertama menstruasi. Siklus menstruasi dikelompokkan menjadi empat fase, yaitu fase menstruasi, fase pra-ovulasi, fase ovulasi, fase pasca-ovulasi. 2. Fase menstruasi Fase menstruasi terjadi bila ovum tidak dibuahi oleh sperma, sehingga korpus luteum akan menghentikan produksi hormon estrogen dan progesteron. Turunnya kadar estrogen dan progesteron menyebabkan lepasnya ovum dari dinding uterus yang menebal (endometrium). Lepasnya ovum tersebut menyebabkan endometrium sobek atau meluruh, sehingga dindingnya menjadi tipis. Peluruhan pada endometrium yang mengandung pembuluh darah menyebabkan terjadinya pendarahan pada

23

fase menstruasi. Pendarahan ini biasanya berlangsung selama lima hari. Volume darah yang dikeluarkan rata-rata sekitar 50mL. 3. Fase pra-ovulasi Pada fase pra-ovulasi atau akhir siklus menstruasi, hipotalamus mengeluarkan hormon gonadotropin. Gonadotropin merangsang hipofisis untuk mengeluarkan FSH. Adanya FSH merangsang pembentukan folikel primer di dalam ovarium yang mengelilingi satu oosit primer. Folikel primer dan oosit primer akan tumbuh sampai hari ke-14 hingga folikel menjadi matang atau disebut folikel de Graaf dengan ovum di dalamnya. Selama pertumbuhannya, folikel juga melepaskan hormon estrogen. Adanya estrogen menyebabkan pembentukan kembali (proliferasi) sel-sel penyusun dinding dalam uterus dan endometrium. Peningkatan

konsentrasi estrogen selama pertumbuhan folikel juga mempengaruhi serviks untuk mengeluarkan lendir yang bersifta basa. Lendir yang bersifat basa berguna untuk menetralkan sifat asam pada serviks agar lebih mendukung lingkungan hidup sperma. 4. Fase ovulasi Pada saat mendekati fase ovulasi atau mendekati hari ke-14 terjadi perubahan produksi hormon. Peningkatan kadar estrogen selama fase praovulasi menyebabkan reaksi umpan balik negatif atau penghambatan terhadap pelepasan FSH lebih lanjut dari hipofisis. Penurunan konsentrasi FSH menyebabkan hipofisis melepaskan LH. LH merangsang pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf. Pada saat inilah disebut ovulasi, yaitu saat terjadi pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf dan siap dibuahi oleh sperma. Umunya ovulasi terjadi pada hari ke-14 5. Fase pasca-ovulasi Pada fase pasca-ovulasi, folikel de Graaf yang ditinggalkan oleh oosit sekunder karena pengaruh LH dan FSH akan berkerut dan berubah menjadi korpus luteum. Korpus luteum tetap memproduksi estrogen

24

(namun tidak sebanyak folikel de Graaf memproduksi estrogen) dan hormon lainnya, yaitu progesteron. Progesteron mendukung kerja estrogen dengan menebalkan dinding dalam uterus atau endometrium dan menumbuhkan pembuluh-pembuluh darah pada endometrium. Progesteron juga merangsang sekresi lendir pada vagina dan pertumbuhan kelenjar susu pada payudara. Keseluruhan fungsi progesteron (juga estrogen) tersebut berguna untuk menyiapkan penanaman (implantasi) zigot pada uterus bila terjadi pembuahan atau kehamilan. Proses pasca-ovulasi ini berlangsung dari hari ke-15 sampai hari ke-28. Namun, bila sekitar hari ke-26 tidak terjadi pembuahan, korpus luteum akan berubah menjadi korpus albikan. Korpus albikan memiliki kemampuan produksi estrogen dan progesteron yang rendah, sehingga konsentrasi estrogen dan progesteron akan menurun. Pada kondisi ini, hipofisis menjadi aktif untuk melepaskan FSH dan selanjutnya LH, sehingga fase pasca-ovulasi akan tersambung kembali dengan fase menstruasi berikutnya. e. Fertilisasi Fertilisasi atau pembuahan terjadi saat oosit sekunder yang mengandung ovum dibuahi oleh sperma. Fertilisasi umumnya terjadi segera setelah oosit sekunder memasuki oviduk. Namun, sebelum sperma dapat memasuki oosit sekunder, pertama-tama sperma harus menembus berlapislapis sel granulosa yang melekat di sisi luar oosit sekunder yang disebut korona radiata. Kemudian, sperma juga harus menembus lapisan sesudah korona radiata, yaitu zona pelusida. Zona pelusida merupakan lapisan di sebelah dalam korona radiata, berupa glikoprotein yang membungkus oosit sekunder. Sperma dapat menembus oosit sekunder karena baik sperma maupun oosit sekunder saling mengeluarkan enzim dan atau senyawa tertentu, sehingga terjadi aktivitas yang saling mendukung. Pada sperma, bagian

25

kromosom mengeluarkan hialuronidase Enzim yang dapat melarutkan senyawa hialuronid pada korona radiata. 1. Akrosin Protease yang dapat menghancurkan glikoprotein pada zona pelusida. 2. Antifertilizin Antigen terhadap oosit sekunder sehingga sperma dapat melekat pada oosit sekunder. Oosit sekunder juga mengeluarkan senyawa tertentu, yaitu fertilizin yang tersusun dari glikoprotein dengan fungsi :

Mengaktifkan sperma agar bergerak lebih cepat. Menarik sperma secara kemotaksis positif. Mengumpulkan sperma di sekeliling oosit sekunder. Pada saat satu sperma menembus oosit sekunder, sel-sel granulosit

di bagian korteks oosit sekunder mengeluarkan senyawa tertentu yang menyebabkan zona pelusida tidak dapat ditembus oleh sperma lainnya. Adanya penetrasi sperma juga merangsang penyelesaian meiosis II pada inti oosit sekunder , sehingga dari seluruh proses meiosis I sampai penyelesaian meiosis II dihasilkan tiga badan polar dan satu ovum yang disebut inti oosit sekunder. Segera setelah sperma memasuki oosit sekunder, inti (nukleus) pada kepala sperma akan membesar. Sebaliknya, ekor sperma akan berdegenerasi. Kemudian, inti sperma yang mengandung 23 kromosom (haploid) dengan ovum yang mengandung 23 kromosom (haploid) akan bersatu menghasilkan zigot dengan 23 pasang kromosom (2n) atau 46 kromosom. f. Gestasi (Kehamilan) Zigot akan ditanam (diimplantasikan) pada endometrium uterus. Dalam perjalannya ke uterus, zigot membelah secara mitosis berkali-kali. Hasil pembelahan tersebut berupa sekelompok sel yang sama besarnya, dengan bentuk seperti buah arbei yang disebut tahap morula.

26

Morula akan terus membelah sampai terbentuk blastosit. Tahap ini disebut blastula, dengan rongga di dalamnya yang disebut blastocoel (blastosol). Blastosit terdiri dari sel-sel bagian luar dan sel-sel bagian dalam. 1. Sel-sel bagian luar blastosit Sel-sel bagian luar blastosit merupakan sel-sel trofoblas yang akan membantu implantasi blastosit pada uterus. Sel-sel trofoblas membentuk tonjolan-tonjolan ke arah endometrium yang berfungsi sebagai kait. Selsel trofoblas juga mensekresikan enzim proteolitik yang berfungsi untuk mencerna serta mencairkan sel-sel endometrium. Cairan dan nutrien tersebut kemudian dilepaskan dan ditranspor secara aktif oleh sel-sel trofoblas agar zigot berkembang lebih lanjut. Kemudian, trofoblas beserta sel-sel lain di bawahnya akan membelah (berproliferasi) dengan cepat membentuk plasenta dan berbagai membran kehamilan. Berbagai macam membran kehamilan berfungsi untuk membantu proses transportasi, respirasi, ekskresi dan fungsi-fungsi penting lainnya selama embrio hidup dalam uterus. Selain itu, adanya lapisan-lapisan membran melindungi embrio terhadap tekanan mekanis dari luar, termasuk kekeringan. Sakus vitelinus Sakus vitelinus (kantung telur) adalah membran berbentuk kantung yang pertama kali dibentuk dari perluasan lapisan endoderm (lapisan terdalam pada blastosit). Sakus vitelinus merupakan tempat pembentukan sel-sel darah dan pembuluh-pembuluh darah pertama embrio. Sakus vitelinus berinteraksi dengan trofoblas membentuk korion. Korion Korion merupakan membran terluar yang tumbuh melingkupi embrio. Korion membentuk vili korion (jonjot-jonjot) di dalam endometrium.

27

Vili korion berisi pembuluh darah emrbrio yang berhubungan dengan pembuluh darah ibu yang banyak terdapat di dalam endometrium uterus. Korion dengan jaringan endometrium uterus membentuk plasenta, yang merupakan organ pemberi nutrisi bagi embrio. Amnion Amnion merupakan membran yang langsung melingkupi embrio dalam satu ruang yang berisi cairan amnion (ketuban). Cairan amnion dihasilkan oleh membran amnion. Cairan amnion berfungsi untuk menjaga embrio agar dapat bergerak dengan bebas, juga melindungi embrio dari perubahan suhu yang drastis serta guncangan dari luar. Alantois Alantois merupakan membran pembentuk tali pusar (ari-ari). Tali pusar menghubungkan embrio dengan plasenta pada endometrium uterus ibu. Di dalam alantois terdapat pembuluh darah yang menyalurkan zat-zat makanan dan oksigen dari ibu dan mengeluarkan sisa metabolisme, seperti karbon dioksida dan urea untuk dibuang oleh ibu. 2. Sel-sel bagian dalam blastosit Sel-sel bagian dalam blastosit akan berkembang menjadi bakal embrio (embrioblas). Pada embrioblas terdapat lapisan jaringan dasar yang terdiri dari lapisan luar (ektoderm) dan lapisan dalam (endoderm). Permukaan ektoderm melekuk ke dalam sehingga membentuk lapisan tengah (mesoderm). Selanjutnya, ketiga lapisan tersebut akan berkembang menjadi berbagai organ (organogenesis) pada minggu ke-4 sampai minggu ke-8. Ektoderm akan membentuk saraf, mata, kulit dan hidung. Mesoderm akan membentuk tulang, otot, jantung, pembuluh darah, ginjal,

28

limpa dan kelenjar kelamin. Endoderm akan membentuk organ-organ yang berhubungan langsung dengan sistem pencernaan dan pernapasan. Selanjutnya, mulai minggu ke-9 sampai beberapa saat sebelum kelahiran, terjadi penyempurnaan berbagai organ dan pertumbuhan tubuh yang pesat. Masa ini disebut masa janin atau masa fetus. g. Persalinan Persalinan merupakan proses kelahiran bayi. Pada persalinan, uterus secara perlahan menjadi lebih peka sampai akhirnya berkontraksi secara berkala hingga bayi dilahirkan. Penyebab peningkatan kepekaan dan aktifitas uterus sehingga terjadi kontraksi yang dipengaruhi faktor-faktor hormonal dan faktor-faktor mekanis. Hormon-hormon yang berpengaruh terhadap kontraksi uterus, yaitu estrogen, oksitosin, prostaglandin dan relaksin. Estrogen Estrogen dihasilkan oleh plasenta yang konsentrasinya meningkat pada saat persalinan. Estrogen berfungsi untuk kontraksi uterus. Oksitosin Oksitosin dihasilkan oleh hipofisis ibu dan janin. Oksitosin berfungsi untuk kontraksi uterus. Prostaglandin Prostaglandin dihasilkan oleh membran pada janin. Prostaglandin berfungsi untuk meningkatkan intensitas kontraksi uterus. Relaksin Relaksin dihasilkan oleh korpus luteum pada ovarium dan plasenta. Relaksin berfungsi untuk relaksasi atau melunakkan serviks dan melonggarkan tulang panggul sehingga mempermudah persalinan.

29

h.

Laktasi Kelangsungan bayi yang baru lahir bergantung pada persediaan susu dari ibu. Produksi air susu (laktasi) berasal dari sepasang kelenjar susu (payudara) ibu. Sebelum kehamilan, payudara hanya terdiri dari jaringan adiposa (jaringan lemak) serta suatu sistem berupa kelenjar susu dan saluransaluran kelenjar (duktus kelenjar) yang belum berkembang. Pada masa kehamilan, pertumbuhan awal kelenjar susu dirancang oleh mammotropin. Mammotropin merupakan hormon yang dihasilkan dari hipofisis ibu dan plasenta janin. Selain mammotropin, ada juga sejumlah besar estrogen dan progesteron yang dikeluarkan oleh plasenta, sehingga sistem saluran-saluran kelenjar payudara tumbuh dan bercabang. Secara bersamaan kelenjar payudara dan jaringan lemak disekitarnya juga bertambah besar. Walaupun estrogen dan progesteron penting untuk perkembangan fisik kelenjar payudara selama kehamilan, pengaruh khusus dari kedua hormon ini adalah untuk mencegah sekresi dari air susu. Sebaliknya, hormon prolaktin memiliki efek yang berlawanan, yaitu meningkatkan sekresi air susu. Hormon ini disekresikan oleh kelenjar hipofisis ibu dan konsentrasinya dalam darah ibu meningkat dari minggu ke-5 kehamilan sampai kelahiran bayi. Selain itu, plasenta mensekresi sejumlah besar somatomamotropin korion manusia, yang juga memiliki sifat laktogenik ringan, sehingga menyokong prolaktin dari hipofisis ibu.

C. Hubungan Sistem Saraf Dengan Sistem Reproduksi Wanita Tubuh manusia terdiri atas organ-organ tubuh yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu. Agar organ-organ tubuh dapat bekerja sama dengan baik, diperlukan adanya koordinasi (pengaturan), koordinasi tersebut dilakukan oleh salah satu sistemnya adalah sistem saraf. Salah satu sistem yang dikoordinasikan oleh saraf adalah sistem reproduksi wanita.

30

Sistem reproduksi wanita dipersarafi oleh saraf yang merupakan cabang dari saraf yang keluar dari tulang belakang dengan koordinasi pada otak. Jika kelainan ada syarat tersebut maka akan mengakibatkan gangguan pada sistem reproduksi, misalnya disfungsi ereksi, dan gangguan ejakulasi. 1. Contoh hormon-hormon yang sebagian besarnya dikoordinasi oleh saraf a. Pineal Pineal merupakan suatu kelenjar kecil yang terletak di psoterior hipotalamus. Secara embriologis organ ini berasal dari diensefalon posterior dan sampai sekarang dianggap sebagai organ sisa. Susunan ini terbentuk sebagai suatu penonjolan keluar dari ventrikel ketiga. Hubungan sarafnya dengan otak samasekali lenyap dan digantikan oleh suatu berkas saraf yang kompleks yang berjalan dari retina melintasi hipotalamus ke ganglion servikal superior dan kemudian ke pineal. Pada manusia terbukti bahwa pineal merupakan organ dengan sekresi internal atau organ endokrin. Cahaya dan sirkuit foto-neuroendokrin Keterlibatan retina dalam penghantaran impuls cahaya ke sistem endokrin melalui susunan saraf menunjukkan adanya suatu jalinan yang dikenal sebagai sirkuit fotoneuro-endokrin. Sirkuit ini ternyata ikut mengatur reproduksi dan dapat digambarkan sebagai suatu lengkung yang berpunca pada kelenjar pineal, tersusun dari berkas saraf aferen. Impuls saraf yang dibangkitkan cahaya dibawanya melalui aliran darah dan zalir serebrospinal ke susunan otak yang terlibat dalam pengaturan aktivitas reproduksi. Berkas saraf yang berasal dari sel-sel fotoreseptor, melalui saluran retinohipotalamik, bertaut atau bersinaps (synapse) dalam intiinti suprakiasma hipotalamus, dan kemudian bertaut dalam inti-inti paraventrikuler. Inti-inti suprakiasma hipotalamus berfungsi sebagai oskilator autonom sentral dan sirkadian, yang mengatur irama 24 jam

31

bagi produksi melatonin. Dari inti-inti paraventrikuler, berkas saraf tadi mencaapi ganglia servikal superior melalui jalur desendens yang melibatkan berkas otak-depan medial, formasio retikularis, inti intermedio-lateral dan medula spinalis. Pineal memperoleh persarafan simpatis dari neuron

pascaganglion yang badan-badan selnya terletak di ganglia servikal superior. Tanpa neuron ini pineal tidak dapat membangkitkan khasiat progonadotropiknya. Paad pihak lain, kemampuan antigonadotropik dan aktivitas sintesis dari sel-sel parenkim pineal diperbesar oleh gelap atau pembatasan cahaya. Makna kelenjar pineal pada manusia terlihat dari peran siklus terang-gelap (fotoperiod) pada kehidupan fisiologi manusia
Impuls cahaya Sinaps pada inti Sel-sel fotoreseptor Retina *Berkas otak depan medial Saluran retinohipotalamik Berkas saraf *Formasio retikulasi *Inti intermediolateral *Medulla spinalis hipotalamus : Suprakiasma Paraventrikuler jalur desendens

Aliran darah Zalir serebrospinal

PINEAL (pinealosit) Reseptor Adrenergik -

saraf simpatis (aferen) Ganglion servikal superior

PUSAT PENGATUR Sintesis melatonin REPRODUKSI Gambar Sirkuit foto-neuroendokrin dan jalur saraf dalam sintesis melatonin

32

b. Hipofisis Kelenjar hipofisis memiliki tiga lobus. Lobus anterior (adenohipofisis) secara embriologis berasal dari ektoderm di sepanjang faring dorsal dan membentuk kantung yang dikenal sebagai kantung Rathke. Lobus posterior (neurohipofisis) berukuran lebih kecil dan secara embriologis berasal dari neuroektoderm. Pars intermedia, yang merupakan suatu struktur kecil di bagian tengah antara lobus anterior dan posterior, sebenarnya merupakan bagian dari lobus anterior. Secara embriologis kelenjar hipofisis berasal dari sel-sel krista neural.

Gambar Hubungan persarafan dan vaskular pada kelenjar hipofisis Hipofisis berhubungan dengan otak melalui tangkai jaringan berukuran kecil yang dikenal sebagai tangkai hipofisis atau infundibulum. Hipofisis posterior memiliki fungsi utama sebagai tempat penyimpanan. Terdapat dua hormon yang tersimpan di sini, yaitu oksitosin dan arginin

33

vasopresin (juga dikenal sebagai hormon antidiuretik [antidiuretic hormone, ADH]). Kedua hormon tersebut diproduksi oleh hipotalamus. Akson yang berasal dari neuron sel besar (magnoseluler) pada hipotalamus anterior berjalan ke hipotalamus posterior melalui bagian poterior infundibulum. Oksitosin dan ADH yang disintesis oleh badan sel neuron pada sel-sel hipotalamus ini berjalan sepanjang akson tersebut, dan kemudian kedua hormon tersebut disimpan di hipofisis posterior. Sebaliknya, hipofisis anterior memproduksi sendiri hormon tropik di bawah kendali regulasi hipotalamus. Regulasi ini diperantai oleh sinyal neuroendokrin dari hipotalamus yang berjalan melalui suatu hubungan yang kaya pembuluh darah di sekitar tangkai hipofisis. Akson dari neuron sel kecil (parvoselular) di hipotalamus berakhir di ruang prekapiler pada sistem portal primer yang berasal dari dasar hipotalamus. Darah yang mengalir melalui pleksus yang kaya pembuluh darah ini menyalurkan sinyal ke kelenjar hipofisis anterior, mengatur produksi hormon dan kemudian melepaskan produk-produk proteinnya. Pengontrolan aktivitas kelenjar hipofisis sebagian besar dilakukan oleh hipotalamus dengan suatu modulasi langsung yang sangat penting melalui mekanisme umpan balik. Nukleus di hipotalamus yang berhubungan dengan proses reproduksi antara lain nukleus supraoptik, paraventrikular, arkuata, yentromedial, dan suprakiasma. Sel-sel pada nukleus hipotalamus yang mengendalikan hipofisis memiliki beberapa fungsi. Sel-sel tersebut menerima sinyal dari pusat yang lebih tinggi di otak, membangkitkan sinyal saraf sendiri, dan memiliki kemampuan neuroendokrin. Area otak yang lebih tinggi yang berhubungan dengan neukleus di hipotalamus dan terlibat dalam reproduksi antara lain lokus seruleus, medula dan pons, rafe otak tengah, bulbus olfaktorius, sistem limbik (amigdala dan hipokampus), korteks priformis, da retina. Beberapa sinyal saraf intrinsik yang berhubungan dengan sistem reproduksi dibentuk di dalam hipotalamus. Sinyal ini berasal dari suatu

34

generator denyut (pulse generator) untuk GnRH (gonadotropin-releasing hormone) dan dari neuron dopaminergik yang proyeksinya menuju eminensia mediana hipotalamus. Rekaman listrik dari hipotalamus mediobasal menunjukkan peningkatan yang sesuai pada aktivitas saraf yang berhubungan dengan setiap denyut pelepasan LH dari hipofisis anterior. Pada keadaan basal. GnRH disekresi oleh hipotalamus dalam bentuk pulsasi dengan frekuensi 1 denyut per jam. Frekuensi ini berubah selama siklus menstruasi manusia. Sinyal dopaminergik berjalan melalui neuron dopaminergik dari hipotalamus kembali ke sistem limbik. Sinyal neuroendokrin yang dibentuk dalam hipotalamus diperantarai oleh faktor pelepas-peptida yang berjalan sepanjang sistem portal

hipotalamus-hipofisis ke tempat kerja mereka di kelenjar hipofisis. GnRH merupakan hormon tropik kunci untuk regulasi fungsi sel gonadotropin sehingga juga mengatur reproduksi. THR (throtropin-releasing hormone) dan PIF (prolactin inhibitory factor) juga berperan dalam pengaturan reproduksi. Peptida neuroendokrin hipotalamus yang mengontrol sekresi GH dan ACTH tersebut kurang berhubungan secara langsung dalam proses reproduksi. Sekresi prolaktin justru dikendalikan oleh faktor autokrin dan parakrin lokal, neurotransmitor, dan hormon steroid yang diproduksi di daerah perifer. Kelainan tiroidsering dijumpai pada masa reproduksi, terutama pada wanita. Walaupun beberapa kelainan ini berasal dari hipotalamus atau hipofisis, aktivitas yang kurang atau berlebih dari kelenjar tiroid dapat mempengaruhi fungsi reproduksi. Jumlah yang abnormal dari hormon tiroid yang bersikulasi dapat mempengaruhi fungsi reproduksi melalui dua mekanisme, yaitu efek langsung hormon tiroid pada sel-sel perifer yang gennya memiliki elemen respons terhadap tiroid, atau secara tidak langsung melalui kerja TRH atau sekresi prolaktin. Produk-produk dari organ target perifer, seperti tiroksin, mengatur sekresi TRH dan TSH melalui mekanisme umpan balik negatif pada

35

hipotalamus dan hipofisis. Wanita dengan aktivitas kelenjar tiroid rendah memiliki kadar TRH dan TSH yang meningkat, sedankan wanita dengan aktivitas kelenjar tiroid tinggi sebenarnya memiliki kadar TSH dan TRH yang tidak dapat terdeteksi. Seperti yang telah disebutkan di atas, TRH merupakan stimulus yang sangat poten untuk belepasan prolaktin oleh hipofisis sehingga hipotiroidisme sering menyebabkan hiperprolaktinemia. Peningkatan kadar prolaktin yang bersirkulasi berhubungan dengan ketidakteraturan menstruasi. Hormon hipofisis posterior, oksitosin dan vasopresin-ADH merupakan nona-peptida siklik yang disekresi oleh neuron-neuron di nukleus supraoptik dan paraventrikuler. Oksitosin memiliki efek pada otot polos uterus dan selsel mioepitel khusus pada payudara, yang menimbulkan kontraksi otot dan kemudian pengeluaran susu.

36

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Pada manusia dan sebagian besar hewan, koordinasi dilakukan oleh salah satunya adalah sistem saraf dan Sistem saraf sangat berperan dalam iritabilitas tubuh. Iritabilitas adalah kemampuan menanggapi rangsangan. Untuk

menanggapi rangsangan, ada tiga komponen yang harus dimiliki oleh sistem saraf, yaitu: Reseptor, Konduktor (Penghantar impuls), dan Efektor. Sistem reproduksi wanita dipersarafi oleh saraf yang merupakan cabang dari saraf yang keluar dari tulang belakang dengan koordinasi pada otak. Jika kelainan ada syarat tersebut maka akan mengakibatkan gangguan pada sistem reproduksi, misalnya disfungsi ereksi, dan gangguan ejakulasi. Hubungan sistem saraf dengan sistem reproduksi wanita yaitu Organ kelamin luar wanita memiliki 2 fungsi, yaitu sebagai jalan masuk sperma ke dalam tubuh wanita dan sebagai pelindung organ kelamin dalam dari organisme penyebab infeksi. Saluran kelamin wanita memiliki lubang yang berhubungan dengan dunia luar, sehingga mikroorganisme penyebab penyakit bisa masuk dan menyebabkan infeksi kandungan. Mikroorganisme ini biasanya ditularkan melalui hubungan seksual. Organ kelamin dalam membentuk sebuah jalur (saluran kelamin), yang terdiri dari: Ovarium (indung telur), menghasilkan sel telur Tuba falopii (ovidak), tempat berlangsungnya pembuahan Rahim (uterus), tempat berkembangnya embrio menjadi janin Vagina, merupakan jalan lahir

37

B. Saran Kami yakin dalam penyusunan makalah ini belum begitu sempurna karena kami dalam tahap belajar, maka dari itu kami berharap bagi kawan-kawan semua bisa memberi saran dan usul serta kritikan yang baik dan membangun sehingga makalah ini menjadi sederhana dan bermanfaat dan apabila ada kesalahan dan kejanggalan kami mohon maaf karena kami hanyalah hamba yang memiliki ilmu dan kemampuan yang terbatas.

38

DAFTAR PUSTAKA

http://iqbalali.com/2007/04/29/sistem-syaraf/ http://wong168.wordpress.com/2011/04/12/sistem-saraf-manusia/ http://bebas.ui.ac.id/v12/sponsor/sponsorpendamping/praweda/Biologi/0085%20bio%202-gd.htm http://ifawife.wordpress.com/2007/11/27/hubungan -sistem-reproduksi-manusiadengan-sistem-yang-lain-dalam tubuh/ Prawirohardjo, S, 2009. Ilmu Pendidikan, Jakarta. R, Norwitz, E, dkk, 2005. At a glance Obstetri dan Ginekologi, Cicaras Jakarta. J. Heffner, L, Dkk, 2005. At a Glance Sistem Reproduksi, Boston. http://gurungeblog.wordpress.com/2008/10/31/sistem-reproduksi-pada-manusiawanita/

39