Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG
Dalam industri sering dibutuhkan bahan bahan yang relatif murni terhadap bahan
bahan lainnya,baik dalam proses industri maupun hasil industri. Cara pemisahan yang
digunakan untuk memisahkan suatu bahan dari campurannya dengan bahan lain antara lain :
filtrasi, ekstraksi, kristalisasi, distilasi dan sebagainya. Untuk bahan bahan yang terdiri dari
cairan cairan metode distilasi lebih sering digunakan yaitu dengan menggunakan menara
pemisah. Baik yang menggunakan jenis menara dengan bahan isian atau menara dengan
plate.
Konsep HETP pada dasarnya distilasi dipakai untuk mencari tinggi kolom bahan isian
yang equivalen dengan satu plate teoritis. Konsep HETP juga dipergunakan untuk
membandingkan suatu efisiensi menara isian, kecepatan dan sifat fluida. Keadaan operasi
pada umumnya oleh variasi keadaan dispersi cairan dipermukaan bahan isian.

I.2. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan perbandingan tinggi kolom bahan isian yang
eqivalen terhadap satu plate teoiritis.

I.3. TINJAUAN PUSTAKA
Untuk mengetahui tinggi bahan isian yang harus digunakan untuk menghasilkan produk
dengan komposisi sama dengan satu plate teoritis pada menara bertingkat digunakan istilah
HETP (High Equivalent of Theoritical Plate). HETP adalah tinggi bahan isian yang akan
memberikan perubahan komposisi yang sama dengan perubahan komposisi yang yang
diberikan oleh satu plate teoritis. Variable yang mempengaruhi HETP antara lain : Tipe dan
ukuran bahan isian,kecepatan aliran masing-masing fluida,konsentrasi fluida,diameter
menara,sifat fisis bahan difraksinasi. (Treybal,1981)
HETP dalam penggunaannya sering digunakan dalam perhitungan menara distilasi
dengan bahan isian. Distilasi adalah suatu cara pemisahan komponen komponen dari suatu
larutan tergantung dari distribusi bahan bahan antara fase cair dan fase gas dalam keadaan


2

seimbang. Secara umum ada dua macam menara distilasi, yaitu menara dengan bahan isian
(packed tower) dan menara plate (plate tower).
Berdasarkan konstruksi, menara distilasi digolongkan :
1. Menggunakan plate dengan bubble cup atau perforated.
Bila umpan dari komponen komponon yang berbeda jauh titik didihnya yang menguap
terlebih dahulu adalah yang titik didihnya rendah. Sedangkan umpan dengan beda titik
didih yang dekat maka hasil atas masih tercampur (belum murni). Untuk mendapatkan
alkohol murni, hasil atas sebagian distilasi kembali berulang ulang sampai didapatkan
alkohol murni. Untuk mengurangi distilasi yang berulang maka dipakai plate. Disini
terjadi kontak antara cairan keatas dengan aliran kebawah. Makin banyak zat yang
didistilasi melewati plate maka hasilnya makin murni.

2. Menggunakan packing dengan menara bahan isian seperti yang dipakai dalam percobaan
HETP.
Menara bahan isian terdiri atas sebuah silinder vertikal yang didalamnya terdapat
bahan isian tertentu. Bahan isian merupakan media untuk memperluas bidang kontak
antara fase uap dan cair sehingga transfer massa dan panas berjalan baik. Cairan mengalir
melewati permukaan bahan isian dalam bentuk lapisan film tipis sehingga luas bidang
kontak antara fase uap dan cair makin besar. Cairan masuk dari bagian atas
menara,sedangkan gas masuk dari bagian bawah menara (Brown,1950).
Jenis bahan isian antara lain :
1. Bahan isian yang tersusun secara teratur ( regular packing ),diantaranya double
spiral ring, wood grid.
2. Bahan isian yang tersusun secara acak ( random packing ), diantaranya rashing
ring, ring packing.
3. Pseudo plate column, kontak fase terjadi pada plate seperti misalnya hitted trays,
triple trays.
( Treybal, R.E., 1986)





3

Sifat sifat bahan yang harus dimiliki bahan isian adalah :
1. Perbandingan luas permukaan bidang basah (bidang kontak) bahan isian per satuan
volume bahan isian cukup besar.
2. Susunan bahan isian dalam kolom cukup memberikan rongga kosong, sehingga
memudahkan aliran fluida, sedangkan penurunan tekanan aliran tidak terlalu besar.
3. Permukaan bahan isian mudah menjadi basah.
4. Tahan terhadap suhu dan perubahannya, dan tidak mudah berkarat.
5. Cukup kuat, tidak mudah pecah.
Didalam distilasi ada beberapa cara untuk menentukan jumlah plate teoritis sebagai plate
minimum, yaitu dengan cara :
1. Metode Mc Cebe Thile
Rumus diatas didapat dari :
Xa . 1) - ab ( 1
Xa . ab
Ya
o
o
+
=

Rumus tersebut didapat dari:

Xb
Yb
Xa
Ya
ab = o

|
.
|

\
|
=
Xb
Yb
ab
Xa
Ya
o
Xa
Xb
Yb
ab Ya
|
.
|

\
|
= o
( )
Xa
Xa - 1
Ya - 1 . ab
Ya
o
=
Syarat syarat metode Mc Cabe Thile :
a. Apabila sistem campuran yang disuling menghasilkan diagram komposisi uap
jenuh dan cair jenuh adalah lurus dan sejajar atau garis operasi mendekati
garis lurus atau sejajar. Syarat ini jarang dijumpai bila besaran besarannya


4

dalam satuan massa atau jika komposisi dalam satuan fraksi massa dan
enthalpi dalam Btu/Lbm , tetapi lebih mendekati bila satuan dalam mol.
b. Jika prsyaratan a) dapat dipenuhi, maka Ln/V
n+1
pada seksi rektifikasi dan
Lm/V
m+1
pada seksi striping bernilai tetap. Keadaan semacam ini dikenal
sebagai Constant molal ever flow and Vaporation.
c. Tekanan di seluruh menara dianggap tetap.
d. Panas pencampuran ( Hs ) dapat diabaikan.
e. Panas latent penguapan ( ) rata rata tetap.
Bila ditinjau dari seksi enriching / rektifikasi :
Neraca bahan : V
n+1
= L
n
+ D
Neraca komponen :
d n n 1 n 1 n
X D X L Y V + =
+ +


d n n
Y V X D X L
n n 1 1
+ =
+ +


d
1 n
n
1 n
n
1 n
X
V
D
X
V
L
Y
+ +
+
+ =

n 1 0
L L L = =

1 n 2 1
V V V
+
= =
Xd
V
D
Xn
V
L
Y
1 n
+ =
+
..(1)
D L V
0 1
+ =

D L V + =
Xd
D L
D
Xn
D L
L
Y
1 n
+
+
+
=
+
..(2)
1
D
L
Xd
Xn
1
D
L
D
L
Y
1 n
+
+
+
=
+

1 R
Xd
Xn
1 R
R
Y
1 n
+
+
+
=
+
..(3)


5

Persamaan (1), (2) dan (3) disebut persamaan garis operasi atas (GOA) dengan
Slope :
1 R
R
D L
L
V
L
+
=
+
=
intercept :
1 R
X
D L
X
D
V
X
D
d d d
+
=
+
=


Bila dilihat dari seksi striping :
B V L
1 m m
+ =
+

B L V
m 1 m
=
+


b m m 1 m 1 m
X . B X . L Y . V =
+ +


b
1 m
m
1 m
m
1 m
X
V
B
X
V
L
Y
+ +
+
=

b m
X
V
B
X
V
L
Y = .(4)
Persamaan (4) disebut persamaan garis operasi bawah (GOB) dengan
Slope :
V
L

Intercept :
V
X . B
b


Pada refluks total dimana seluruh uap yang terembunkan dalam kondensor dikembalikan
kedalam kolom sebagai refluks maka tidak ada hasil distilat ( D=0 ).
Perbandingan refluks ( Lo/D ) adalah tak terhingga.




6

2. Metode Fenske Underwood

o
o
d
Pb
Pa
= o , pada suhu puncak (td)

o
o
Pb
Pa
w = o , pada suhu bawah (tw)
Dimana : Pa = tekanan uap murni komponen a
Pb = tekann uap murni komponen b
Untuk campuran ideal, metode ini didasarkan atas volatilitas relatif ab antar komponen,
dengan terlebih dahulu menetapkan d dan w.

( )
( ) Ya - 1 Xa
Xa 1 Ya
ab

= o
Dimana : Y = mol fraksi uap
X = mol fraksi cairan
Campuran ideal mematuhi hukum Roult dan volatilitas relatifnya ialah tekanan uap
komponennya.
Pa = Pa . Xa ; Pa = tekanan parsial a
Pb = Pb .Xb ; Pb = tekanan parsial b

Pt
Pa
Ya = ; Pt = tekanan total

Pt
Pb
Yb =
( )
( )
Xb
Xb . Pb
Xa
Xa . Pa
Xb
Pb
Xa
Pa
Xb
Yb
Xa
Ya
ab
o
o
= = = o
o
o
Pb
Pa
ab = o

Untuk system biner
Yb
Ya
dan
Xb
Xa
dapat diganti dengan :
Ya 1
Ya

dan
Xa 1
Xa




7

sehingga :
Xb
Xa
.
Yb
Ya
Xb
Yb
Xa
Ya
ab = = o

Xa - 1
Xa
.
Ya 1
Ya
ab

= o

Xa 1
Xa
ab
Ya 1
Ya

o =



untuk plate n + 1

1 n
1 n
1 n
1 n
X 1
X
ab
Y 1
Y
+
+
+
+

o =


oleh karena itu refluks total distilat (D) = 0 dan L = 1, Y
n+1
= X
n

sehingga :
1 n
1 n
n
n
X 1
X
ab
X 1
X
+
+

o =


pada puncak kolom, bila kondensor total Y
1
= Xd

1
1
d
d
X 1
X
ab
X 1
X

o =

(1)

untuk n plate berurutan menghasilkan :

2
2
1
1
X 1
X
ab
X 1
X

o =

(2)

jika persamaan (1) dan (2) dikalikan satu sama lain dan suku suku tengah saling
menghapuskan, maka :
( )
Xn 1
Xn
ab
Xd 1
Xd
n

o =



Untuk sampai ke hasil bawah yang keluar dari kolom diperlukan N min plate ditambah
satu reboiler.


8


( )
Xb 1
Xb
ab
Xd 1
Xd
1 min N

o =

+


Untuk mendapatkan N min dengan logaritma menghasilkan :
1
ab log
Xb
Xb - 1
.
Xd 1
Xd
log
min N
o
|
.
|

\
|

=
( Treybal R.E., 1986 )
Jika perubahan nilai ab dari dasar kolom tidak terlalu menyolok, maka untuk ab
digunakan rata ratanya.

aquadest P
alkohol P
d
o
o
= o , pada suhu puncak (td)
aquadest P
alkohol P
w
o
o
= o , pada asuhu bawah (tw)
3. Metode Ponchon Savorit
(Dengan menggunakan diagram entalpi komposisi)
HETP penggunaannya sering untuk perhitungan menara distilasi dengan memakai bahan
isian. Dengan menggunakan metode diatas, jumlah plate minimum dapat diketahui, maka
harga HETP dapat dihitung :
HETP = Tinggi packing kolom bahan isian
Jumlah plate minimum
Manfaat dari HETP adalah untuk menghitung tinggi kolom bahan isian dengan terlebih
dahulu menentukan jumlah plate teoritis.








9

BAB II
PELAKSANAAN PERCOBAAN

II.1. BAHAN
1. Alkohol
2. Aquadest

II.2. ALAT YANG DIGUNAKAN
1. Labu leher tiga
2. Thermometer
3. Kolom bahan isian
4. Piknometer
5. Erlenmeyer
6. Pemanas listrik
7. Pipet gondok
8. Kondensor
9. Corong
10. Gelas ukur
11. Refraktometer
12. Tabung reaksi
13. Statif












10

II.3. GAMBAR ALAT

1

8

7

6


4

3
5
2

Gambar 1 : Rangkaian alat percobaan

Keterangan Gambar :
1. Pendingin balik
2. Erlenmeyer
3. Labu leher tiga
4. Termometer
5. Pemanas listrik
6. Kolom bahan isian
7. Kran
8. Statif





11

II.4. CARA KERJA

Membuat larutan alkohol aquadest untuk membuat grafik standard dari fraksi
mol vs indeks bias

Memeriksa terlebih dahulu rangkaian alat percobaan.

Membuat larutan umpan yaitu campuran alkohol dan aquadest dengan
perbandingan volume tertentu.

Memasukkan umpan ke dalam labu leher tiga dan diusahakan jangan sampai
tumpah.

Menghidupkan pendingin balik dan pemanasnya.

Mengatur kran pada refluks total

Mencatat secara periodik perubahan suhu residu dan destilat, sehingga dapat
diketahui berapa lama dicapai suhu keduanya tetap.

Mengambil distilat dengan memutar kran refluks, kemudian mengamati
indeks biasnya. Setelah cukup, kran dikembalikan ke posisi refluks total,
Setelah suhu destilat dan residu konstan,

Mematikan pemanas, mengambil residu dan menampungnya seperti pengambilan
destilat. Mengamati indeks biasnya.







12


Mengamati indeks biasnya

Menghidupkan pemanas seperti semula

Mengamati indeks bias destilat dan indeks bias residu dengan refraktomer

Mengulangi percobaan mulai dari langkah ke

























13

II.5. ANALISIS PERHITUNGAN
1. Mencari densitas alkohol.
Menera piknometer sebagai berikut :
Berat piknometer kosong : A gram
Berat piknometer + aquadest : B gram
Berat aquadest ( B A ) : C gram
Dari tabel 3-28, p3-75, Perry, didapat harga densitas aquadest ( aquadest )
pada suhu t tersebut adalah C = V ml
aquadest

Menentukan densitas alkohol :
Berat piknometer + alkohol : D gram
Berat alkohol ( D A ) : E gram
Dengan menganggap volume piknometer = volume alkohol, pada suhu yang
sama t, maka :
Densitas alkohol : E gram = alkohol gram
V ml ml
2. Mencari kadar alkohol (sampel)
Dengan mengetahui densitas alcohol pada suhu t, maka dari Perrys Chemical
Engineers Handbook tabel 3-110, p3-89 akan didapat kadar alcohol : K %.
3. Membuat grafik standart
Untuk membuat grafik standart antara fraksi mol dengan indeks bias diperlukan
beberapa campuran dengan berbagai perbandingan untuk menghitung fraksi mol
dengan data-data :
Kadar alkohol : K %
Alkohol : L ml
Aquadest : M ml
Densitas alkohol : alcohol
Densitas aquadest : aquadest




14


Maka : Alkohol = alkohol x L x K % = S gmol.
BM alkohol
Aquadest = ( aquadest x M) + alkohol x L (100% - K%)
BM aquadest
= R gmol
Sehingga fraksi alkohol : X = S = Q mol
S + R
Sehingga dari harga fraksi mol alkohol tersebut dan indeks bias dapat dibuat
grafik standart.
4. Mencari fraksi mol destilat dan residu sampel
Dengan mengetahui indeks bias sampel dan dengan menggunakan grafik
standart didapat fraksi mol destilat dan residu.
5. Mencari sifat penguapan rata rata (ab)
Harga d dan w dicari dengan menggunakan rumus :
d = P alkohol ; P pada suhu td
P aquadest
w = P alkohol ; P pada suhu tw
P aquadest
ab = (d . w)

P alkohol dan aquadest dapat dilihat pada fig. 543, p. 583, G.G. Brown, Unit
Operation.
6. Menentukan HETP
Sebelumnya menghitung jumlah plate minimum (Np min). Jumlah Np min pada
percobaan ini diasumsikan sebagai kondisi kondensor dan reboiler total, dengan
cara :
a. Metode Mc Cabe Thiele
Metode ini menggunakan grafik antara fraksi mol uap (Y) vs
fraksi mol cairan (X). dalam penggambaran kurvanya digunakan
diagram kesetimbangan etanol aquadest yang terdapat pada
G.G. Brown, Unit Operation, p.582.


15


b. Metode Fenske Underwood
Dengan rumus :
Np min = log [Xd/(1 Xd)] . [(1 Xb)/Xb]
aLog ab
Maka harga HETP :
HETP = Tinggi kolom bahan isian
Np min



















16

BAB III
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Percobaan

Suhu Aquadest : 28
o
C
Berat Piknometer kosong : 7,7037 gram
Berat Piknometer + Aquadest : 19,719 gram
Berat Aquadest : 12,0153 gram
Berat Piknometer + Alkohol : 18,0796 gram
Berat Alkohol : 10,3759 gram
Densitas Aquadest : 0,996233 gram
Volume Piknometer : 12,0607 ml
Densitas Alkohol : 0,860300 gr/ml
Tinggi bahan isian : 64 cm

Tabel 1 Indeks Bias Larutan Standart
No
Alkohol
(ml)
Aquades
(ml)
Mol Alkohol Mol Aquadest
Fraksi Mol
Alkohol ( X )
Indeks Bias
( n )
1 1 6 0,0132 0.3461 0,0368 1.3429
2 2 6 0,0264 0.3600 0,0684 1.3455
3 3 5 0,0396 0.3187 0,1106 1.3509
4 3 4 0,0396 0.2634 0,1308 1.3530
5 4 4 0,0528 0.2774 0,1600 1.3546
6 4 3 0,0528 0.2221 0,1922 1.3573
7 5 3 0,0661 0.2361 0,2186 1.3591
8 5 2 0,0661 0.1808 0,2676 1.3609
9 6 1 0,0793 0.1395 0,3624 1.3624
10 6 1 0,0793 0.1395 0,3624 1.3629


Tabel 2 Indeks Bias distilat dan residu
No
Umpan ( ml ) Indeks Bias Suhu ( C )
Alkohol Aquadest Distilat Residu Tw Td
1 90 70 1.3629 1.3531 76 91
2 70 70 1.3629 1.3507 76,5 89
3 70 90 1.3618 1.3466 76 91







17

B. Pembahasan

1. Dari Data hubungan indeks bias vs fraksi mol alkohol menunjukkan bahwa semakin
besar fraksi mol alkohol, semakin besar pula indeks biasnya karena kerapatan
molekulnya akan semakin besar sehingga cahaya yang dipantulkan semakin banyak pula.
2. Dari data Indeks Bias distilat dan residu didapat bahwa indeks bias destilat lebih besar
daripada residu, hal ini menunjukkan bahwa fraksi mol alkohol dalam destilat lebih
banyak daripada dalam residu.
3. Dari data sifat penguapan rata-rata (
ab
) didapat bahwa semakin tinggi suhu makin kecil
sifat penguapan rata-rata (
ab
)nya.
4. Dari data Nmin dan HETP didapat bahwa semakin tinggi fraksi mol alkohol dalam
umpan diperlukan Nmin dan HETP yang semakin kecil.
5. Dari perhitungan didapat perbandingan HETP yang berbeda antara metode Fenske
Underwood dan McCabe Thiele. Hal ini disebabkan oleh :
a. Pada Fenske Underwood, pembacaan grafik untuk mencari Palkohol dan Paquades
kurang teliti sehingga mempengaruhi perhitungan pada
ab
dan Nmin.
b. Pada McCabe Thiele, dalam penentuan jumlah plate pada kurva keseimbangan
alkohol-air terdapat ketidaktelitian dalam pembacaan Nmin.



















18

BAB IV
KESIMPULAN

1. HETP adalah Height Equivalent of Theoritical Plate digunakan untuk menentukan
perbandingan tinggi kolom bahan isian yang equivalen terhadap 1 plate teoritis.
2. Dari grafik standar indeks bias vs fraksi mol semakin besar fraksi mol alkohol,
semakin besar pula indeks biasnya.
Persamaan yang didapat adalah :
n = 13,9x - 18,64
3. Dari persoalan yang diberikan didapat hasil sebagai berikut :
No
Umpan ( ml ) N min HETP ( cm )
Aquadest Alkohol
Fenske
Underwood
McCabe
Thiele
Fenske
Underwood
McCabe
Thiele
1 90 70 4,3016 1 13,1346 37,0156
2 70 70 4,2883 1,0625 13,1754 320
3 70 90 3,4374 1,061 16,4369 60,3204





















19


DAFTAR PUSTAKA

Brown, G.G, 1978, Unit Operation,14
th
, John Willey&Sons, New York.
Perry, R.H, 1999, Chemical Engineering Handbook, 7
th
ed, Mc Graw-Hill Inc, New
York.
Treyball, R.E, 1986, Mass Transfer Operation 2
nd
ed, Mc Graw-Hill Inc, New York.






















20

LAMPIRAN

1. Mencari densitas alcohol
a. Menera piknometer
Berat piknometer kosong : 7,7037 gr
Berat piknometer + aquadest : 19,719 gr
Berat aquadest : 12,0153 gr
Densitas aquadest : 0,996233 gr/ml
Volume piknometer : 12,0607 ml
b. Menentukan densitas alkohol
Berat piknometer + alkohol : 18,0796 gr
Berat alkohol : 10,3759 gr
Densitas alkohol : 0,860300 gr/ml

2. Mencari kadar alkohol
Dengan mengetahui densitas alkohol pada suhu t dari tabel 2-110 Perry
- Dengan K (%) = 70%, pada T = 28
o
C

25
28
30

0.8634 1 0.85908


30-28 = 0.85908- 1
30-25 0.85908-0.8634 1

-8.64 x 10
-3
= 2.57724 x 10
-3
1
1= 0.86196

25
28
30

0.83911 2 0.83473
30-28 = 0.83473- 2
30-25 0.83473-0.8391 2
2 = 0.83648


21

Maka pada T = 28
o
C
K = 70%, didapat 1= 0.86196gr/ml
K = 80%, didapat 2 =0.83648gr/ml

0.83648
0.8603
0.86196

80 K 70
0.83468 - 0.8603

= 80-K

0.83648-0.86196

80-70


-0.2382 =
-
2.0384+0.02548K

K

= 70.65%

3. Menentukan Fraksi Mol Alkohol
alkh
alkh alkh
alkh
BM
K V
N
* *
=

aq
alkh alkh aq aq
aq
BM
K V V
N
)) % 1 ( * * ( ) * ( +
=


) (
aq alkh
alkh
N N
N
X
+
=


Dengan rumus di atas maka akan diperoleh data seperti tabel di bawah ini :

Tabel 3 : Menentukan harga Fraksi Mol Alkohol
No.
Alkohol
( ml )
Aquadest
( ml )
Mol Alkohol
Mol
Aquadest
Fraksi Mol
Alkohol ( X )
Indeks
Bias ( n )
1 1 6 0,0132 0.3461 0,0368 1.3429
2 2 6 0,0264 0.3600 0,0684 1.3455
3 3 5 0,0396 0.3187 0,1106 1.3509
4 3 4 0,0396 0.2634 0,1308 1.3530
5 4 4 0,0528 0.2774 0,1600 1.3546
6 4 3 0,0528 0.2221 0,1922 1.3573
7 5 3 0,0661 0.2361 0,2186 1.3591
8 5 2 0,0661 0.1808 0,2676 1.3609
9 6 1 0,0793 0.1395 0,3624 1.3624
10 6 1 0,0793 0.1395 0,3624 1.3629


22


Grafik 1. Hubungan antara Indeks Bias Vs Fraksi Mol

Tabel 4 : Mencari % kesalahan
No. Indeks Bias (X) Fraksi Mol Alkohol (Y) Y hitung % Kesalahan
1 1,3429 0,0368 0,0263 28,45
2 1,3455 0,0684 0,0624 8,66
3 1,3509 0,1106 0,1375 24,33
4 1,3530 0,1308 0,1667 27,45
5 1,3546 0,1600 0,1889 18,08
6 1,3573 0,1922 0,2268 17,82
7 1,3591 0,2186 0,2515 15,04
8 1,3609 0,2676 0,2765 3,32
9 1,3624 0,3624 0,2974 17,94
10 1,3629 0,3624 0,3043 16,02
% Kesalahan rata-rata 17,71%

4. Mencari fraksi mol distilat dan residu
Tabel 5 : Menentukan Fraksi Mol Distilat dan Residu
No
Umpan ( ml ) Indeks Bias Fraksi Mol Alkohol (X)
Alkohol Aquadest Distilat Distilat Distilat Residu
1 90 70 1,3629 1,3531 0,3043 0,1681
2 70 70 1,3629 1,3507 0,3043 0,1347
3 70 90 1,3618 1,3466 0,2890 0,0777
y = 13,9x - 18,64
R = 0,897
0,0000
0,0500
0,1000
0,1500
0,2000
0,2500
0,3000
0,3500
0,4000
1,3400 1,3450 1,3500 1,3550 1,3600 1,3650
F
r
a
k
s
i

M
o
l

Indeks Bias
grafik hubungan antara indeks bias Vs
fraksi mol


23

Mencari sifat penguapan rata-rata (
ab
)
Dari Figure 543 (brown, G.G.,p.583)
Tabel 6 : Menentukan Palkohol , Paquadest
Suhu ( C ) Palkohol ( psia ) pada
Paquadest ( psia )
pada
T
R
T
D
T
R
T
D
T
R
T
D

76 91 12 24 5,7 12
76,5 89 16 22 6,8 11
76 91 12 24 5,7 12




d
=
aquadest P
alkohol P

, pada suhu T
d


w
=
aquadest P
alkohol P

, pada T
w

av
= (
d .

w
)
0,5

Tabel 7 : Menentukan Harga d , w , dan ab
Suhu ( C )
d w ab
T
R
T
D

76 91 2 2,105 2,052
76,5 89 2 2,353 2,169
76 91 2 2,105 2,052

5. Menentukan Nmin dan HETP
a. Metode Fenske Underwood

Nmin =
ab
Log
XD XW
XW XD
o
) 1 ( *
) 1 ( *
log

;
HETP =
min N
Isian Bahan Kolom Tinggi


Tabel 8 : Menentukan Harga Nmin dan HETP
No
Umpan ( ml )
Fraksi Mol Alkohol
( X )
N min HETP (cm )
Aquades Alkohol Distilat Residu
Fenske
Underwood
Fenske
Underwood
1 90 70 0.9962 0.9229 1.0744 52.5891
2 70 70 0.9962 0.9049 1.3341 42.3512
3 70 90 0.9880 0.8743 2.1854 25.8055


24

b. Metode McCabe Thiele
Data fraksi mol uap-cairan didapat dengan bantuan rumus:
Y=
X ab
X ab
* ) 1 ( 1
*
+ o
o

Umpan 1

ab
= 2.052


Grafik 2 . kurva kesetimbangan etanol air dan fraksi mol uap etanol pada umpan 1
0
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,7
0,8
0,9
1
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1
f
r
a
k
s
i

m
o
l

u
a
p

e
t
a
n
o
l

fraksi mol cair etanol
kurva kesetimbangan etanol air


25

Umpan 2

ab
= 2.169


Grafik 3 . kurva kesetimbangan fraksi mol cair etanol dan fraksi mol uap etanol
pada umpan 2
0
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,7
0,8
0,9
1
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1
f
r
a
k
s
i

m
o
l

u
a
p

e
t
a
n
o
l

fraksi mol cair etanol
kurva kesetimbangan etanol air


26

Umpan 3

ab
= 2.052


Grafik 4 . kurva kesetimbangan etanol air dan fraksi mol uap etanol pada umpan 3
0
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,7
0,8
0,9
1
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1
f
r
a
k
s
i

m
o
l

u
a
o

e
t
a
n
o
l

fraksi mol cair etanol
kurva kesetimbangan etanol air


27

Data fraksi mol uap-cair di dapat dengan bantuan grafik :
No
Umpan ( ml ) N min HETP ( cm )
Aquadest Alkohol
Fenske
Underwood
McCabe
Thiele
Fenske
Underwood
McCabe
Thiele
1 90 70 4,3016 1 13,1346
64
2 70 70 4,2883 1,0625 13,1754
60.23529412
3 70 90 3,4374 2 16,4369
32



















28

LAMPIRAN
PERTANYAAN

1. Apakah yang terdapat dalam bahan isian ?
Jawab : Kelereng
2. mengapa memakai bahan isian tersebut ?
Jawab : karena kelereng mempunyai sifat sifat :
a. Perbandingan luas permukaan bidang basah (bidang kontak) bahan isian per
satuan volume bahan isian cukup besar.
b. Susunan bahan isian dalam kolom cukupp memberikan rongga kosong, shingga
memudahkan aliran fluida, sedangkan penurunan tekanan aliran tidak terlalu
besar.
c. Permukaan bahan isian mudah menjadi basah.
d.Tahan terhadap suhu dan perubahannya, dan tidak mudah berkarat.
e.Cukup kuat, tidak mudah pecah.
3. Apa perbedaan metode fenske underwood dan metode Mc Cabe Thiele ?
Jawab : a. Mc Cabe Thiele
Metode ini menggunakan grafik antara fraksi mol uap (Y) vs fraksi mol cairan (X).
dalam penggambaran kurvanya digunakan diagram kesetimbangan etanol aquadest yg
terdapat pada G.G. Brown, Unit Operation, p.582
b. Fenske underwood
Dengan rumus :
Np min = log [Xd/(1 Xd)] . [(1 Xb)/Xb]
aLog ab
Maka harga HETP :
HETP = Tinggi kolom bahan isian
Np min




29

4. Mengapa hasil dari fenske underwood dan Mc Cabe Thiele berbeda ?
Jawab :
Dari perhitungan didapat perbandingan yang berbeda antara metode Fenske
Underwood dan McCabe Thiele. Hal ini disebabkan oleh :
- Pada Fenske Underwood, pembacaan grafik untuk mencari Palkohol dan Paquades
kurang teliti sehingga mempengaruhi perhitungan pada
ab
dan Nmin.
- Pada McCabe Thiele, dalam penentuan jumlah plate pada kurva keseimbangan
alkohol-air terdapat ketidaktelitian dalam pembacaan Nmin