Anda di halaman 1dari 45

1

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dalam situasi menghadapi krisis ekonomi yang melanda Indonesia, perlu dicari suatu terobosan untuk meloloskan diri dari situasi sulit tersebut. Dengan segala keterbatasan sumber daya yang dimiliki maka penekanan dari upaya terobosan tidak lepas dari prinsip efisiensi, efektifitas dan produktifitas. Untuk dapat menjalankan ketiga prinsip diatas dengan benar diperlukan kapasitas sumber daya manusia yang mampu menampilkan profesionalisme. Untuk mencapai tujuan dan sasaran kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 maka ditetapkan susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Dinas Kesehatan merupakan unsur pelaksana pemerintah daerah di bidang kesehatan. Dinas kesehatan mempunyai tugas menyelenggarakan kegiatan di bidang kesehatan yang meliputi pelayanan kesehatan klinis, kesehatan masyarakat, kesehatan gawat darurat dan bencana, pemasaran sosial dan sistem informasi kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, sistem manajemen mutu kesehatan, perencanaan kesehatan, pembiayaan kesehatan dan jaringan pelayanan kesehatan yang berwawasan lingkungan (1). Untuk tingkat kotamadya, Dinas kesehatan memliki dua Suku Dinas yaitu Suku Dinas Kesehatan Masyarakat dan Suku Dinas Pelayanan Kesehatan. Kedua Suku Dinas tersebut memiliki ruang lingkup kegiatan yang berbeda. Suku Dinas Kesehatan Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan perencanaan, pengendalian, dan penilaian program kesehatan masyarakat yang meliputi pencegahan, dan penanggulangan penyakit menular, penyakit tidak menular, penyehatan lingkungan dan kesehatan kerja, kesehatan jiwa masyarakat dan narkotik, psikotropika, zat adiktif lainnya (NAPZA) serta gizi dan pembinaan peran serta masyarakat di kotamadya.Sedangkan untuk Suku Dinas Pelayanan Kesehatan memiliki tugas melaksanakan pelayanan perizinan, perencanaan, pengendalian, dan penilaian efektivitas pelayanan kesehatan (2). Suku Dinas Pelayanan Kesehatan yang berada di DKI Jakarta terdapat pada 5 kotamadya, yaitu Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Jakarta Pusat.

Sebagai sumber daya manusia yang berperan dalam pelayanan kesehatan, apoteker perlu dibekali pengetahuan, pemahaman dan aplikasi tentang tata cara perizinan serta pembinaan, pengawasan dan pengendalian dari pelayanan kesehatan tersebut termasuk sarana dan tenaga kesehatannya. Menyadari pentingnya hal tersebut, Departemen Farmasi FMIPA UI mewajibkan mahasiswa Program Profesi Apoteker untuk melakukan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya Jakarta Selatan. Pelaksanaan PKPA berlangsung dari tanggal 16-28 Juli 2006. B. TUJUAN Pelaksanaan PKPA di Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya Jakarta Selatan, bertujuan agar mahasiswa calon Apoteker: 1. Mengetahui dan memahami tugas pokok dan fungsi Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya 2. Mengetahui dan memahami tugas pokok dan fungsi Seksi Farmasi, Makanan dan Minuman. 3. Mengetahui dan memahami tata cara perizinan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian terhadap sarana pelayanan farmasi, makanan dan minuman serta pelaksanaannya di lapangan. Pelayanan

BAB II TINJAUAN UMUM SUKU DINAS PELAYANAN KESEHATAN A. SUKU DINAS PELAYANAN KESEHATAN Dengan jumlah masyarakat yang mengalami pertumbuhan pesat selama 10 tahun terakhir menyebabkan meningkatnya tuntutan pembangunan di bidang kesehatan yang berkualitas. Pembangunan kesehatan ini memerlukan berbagai sarana pelayanan kesehatan dan kegiatan pelayanan kesehatan yang harus memperhatikan mutu, prinsip kelayakan dan aspek-aspek kemanusiaan serta dasar-dasar pembangunan kesehatan. Dengan demikian diperlukan pembinaan dan pengawasan yang terpadu terhadap fasilitas dan tenaga kesehatan oleh Suku Dinas Pelayanan Kesehatan. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur nomor 58 tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, di setiap kotamadya dibentuk Suku Dinas Pelayanan Kesehatan (Suku Dinas Pelayanan Kesehatan) yang dipimpin oleh seorang Kepala Suku Dinas. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Kepala Suku Dinas bertanggungjawab secara teknis administratif kepada Kepala Dinas dan secara taktis operasional kepada Walikotamadya yang bersangkutan. Dengan demikian, Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Jakarta Selatan bertangggungjawab secara teknis administratif kepada Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta dan secara taktis operasional kepada Walikotamadya Jakarta Selatan (2). Suku Dinas Pelayanan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan pelayanan perizinan, perencanaan, pengendalian dan penilaian efektifitas pelayanan kesehatan. Untuk menyelenggarakan tugasnya tersebut, Suku Dinas Pelayanan Kesehatan mempunyai fungsi (2): 1. Perencanaan program dan kegiatan operasional pengendalian pelayanan kesehatan. 2. Sosialisasi peraturan perundangan tentang pelayanan kesehatan, program dan kegiatan operasional Suku Dinas Pelayanan Kesehatan. 3. Pemberian layanan perizinan sarana pelayanan kesehatan. 4. Pengendalian kewenangan teknis/profesional yang diberikan kepada tenaga kesehatan. 5. Pengendalian mutu pelayanan yang meliputi bimbingan, saran, rekomendasi perbaikan, pada sarana pelayanan kesehatan dasar, spesialistik, tradisional,

layanan farmasi, makanan-minuman milik swasta maupun pemerintah, layanan gawat darurat dan bencana serta pelayanan kesehatan keluarga miskin. 6. Penilaian sarana pelayanan kesehatan, yang meliputi pemberian sertifikasi dan akreditasi, penghargaan dan sanksi pada sarana pelayanan kesehatan dasar, spesialistik, tradisional, layanan farmasi, makanan-minuman, gawat darurat dan bencana. 7. Pengendalian pelaksanaan operasional pelayanan kesehatan dalam keadaan gawat darurat dan bencana. 8. Pengendalian mutu pelayanan kesehatan pada keluarga miskin. 9. Pemberian izin tertentu atau rekomendasi dan evaluasi di bidang kesehatan. 10. Pemungutan retribusi di bidang kesehatan. 11. Penyelenggaraan akreditasi dan standarisasi pada sarana pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. 12. Pemberian akreditasi jabatan fungsional tenaga kesehatan. 13. Pemberian bantuan penyelenggaraan kesehatan. 14. Penyediaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan gawat darurat dan bencana termasuk persediaan cadangan. 15. Pengelolaan dukungan teknis dan administratif. 16. Pelaksanaan penyidikan perizinan sarana pelayanan kesehatan. Organisasi Suku Dinas Pelayanan Kesehatan wilayah kotamadya terdiri dari : 1. Sub Bagian Tata Usaha; 2. Seksi Pendataan dan Program; 3. Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar; 4. Seksi Pelayanan Kesehatan Spesialistik; 5. Seksi Pelayanan Kesehatan Tradisional; 6. Seksi Pelayanan Farmasi, Makanan dan Minuman; 7. Seksi Kesehatan Gawat Darurat, Bencana dan Keluarga Miskin. Sub Bagian dipimpin oleh seorang Kepala Sub Bagian dan tiap seksi dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan.

B. VISI DAN MISI Suku Dinas Pelayanan Kesehatan (Suku Dinas Pelayanan Kesehatan) mempunyai visi yaitu terwujudnya pelayanan kesehatan yang prima di Jakarta Selatan. Untuk mewujudkan visi tersebut, maka telah ditetapkan misi yaitu (1): 1. Mengendalikan mutu pelayanan pada sarana pelayanan kesehatan dasar, spesialistik, tradisional, layanan farmasi makanan dan minuman milik swasta dan pemerintah, layanan gawat darurat dan bencana serta pelayanan kesehatan keluarga miskin; 2. Mengendalikan perizinan sarana pelayanan kesehatan; 3. Pembinaan tenaga kesehatan; 4. Meningkatkan jumlah dan mutu sarana dan prasarana pelayanan kesehatan; 5. Mewujudkan sistem informasi kesehatan berbasis komputer Tujuan yang diinginkan tercapai dalam lima tahun kedepan adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Meningkatkan pelayanan kesehatan di puskesmas dan RSUD Mengoptimalkan Penanganan Gadar dan Bencana Meningkatkan mutu kebijakan dan manajemen dalam pelayanan kesehatan Meningkatkan profesionalisme pegawai. Adapun sasaran yang hendak dicapai setiap tahunnya dalam kurun waktu 5 tahun ke depan adalah: 1. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan dasar yakni berupa ketersediaan sarana kesehatan dasar yang bersertifikat; Petugas pelayanan kesehatan masyarakat yang dibina; Tingkat pemahaman terhadap peraturan perundang-undangan sarana kesehatan dasar yang makin meningkat. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan spesialis Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan tradisional Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan farmasi, makanan dan minuman Terbentuknya brigade bencana Terselenggaranya sistem perencanaan dan pembiayaan kesehatan yang baik Meningkatnya kualitas SDM yang memberikan pelayanan kesehatan Terselenggaranya sistem informasi kesehatan masyarakat pada tingkat Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya Jakarta Selatan.

9.

Meningkatnya kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pelayanan kesehatan di kantor Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya Jakarta Selatan (1).

C. STRUKTUR ORGANISASI Struktur organisasi Suku Dinas Pelayanan Kesehatan dapat dilihat pada Lampiran 1. 1. SUB BAGIAN TATA USAHA Sub Bagian Tata Usaha (Sub Bag TU) membawahi 3 bagian, yaitu kepegawaian, keuangan, dan umum (rumah tangga dan perlengkapan). Bagian kepegawaian mengatur semua hak dan kewajiban pegawai, Daftar Usulan Kenaikan (DUK) berdasarkan mulai terhitungnya masa kerja tetap, dan hal-hal lain berkaitan dengan kepegawaian di Suku Dinas Pelayanan Kesehatan. Bagian keuangan mengatur keluar masuknya uang untuk menunjang operasional dari Suku Dinas Pelayanan Kesehatan. Bagian umum mengatur urusan rumah tangga dan perlengkapan, meliputi arsip-arsip, air dan listrik, inventarisasi alat kantor maupun gudang farmasi (obat-obatan dan alat kesehatan). Untuk penghapusan barang-barang yang sudah tidak terpakai, maka Subbag TU juga harus membuat surat permohonan penghapusan ke biro perlengkapan yang berada di tingkat Propinsi. Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas sebagai berikut : a. Melaksanakan pengelolaan administrasi surat menyurat, kearsipan, kerumahtanggaan, protokol dan hubungan masyarakat bidang kesehatan, perlengkapan serta kepegawaian; b. Melaksanakan pengelolaan dan pengurusan administrasi keuangan; c. Menilai dan mengusulkan jabatan fungsional tenaga kesehatan (2). 2. SEKSI PENDATAAN DAN PROGRAM Sie Dapro bertugas mengolah semua data atas pelaksanaan program tersebut yang sebelumnya dikumpulkan dan dilaporkan oleh masing-masing seksi. Setiap tahun, Sie Dapro membuat profil pelayanan kesehatan Kotamadya tentang keadaan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit. Selain itu, Sie Dapro juga menyusun laporan tahunan mengenai ketenagakerjaan dan hal-hal yang telah dilakukan oleh Suku Dinas Pelayanan Kesehatan.

Tugas dan wewenang Seksi Pendataan dan Program (Sie Dapro) antara lain (2): a. Mengumpulkan data dasar pelayanan kesehatan di tingkat Kotamadya; b. Menetapkan masalah prioritas; c. Menyusun program, rencana kegiatan, dan mengalokasikan anggaran; d. Mensosialisasikan program dan rencana kegiatan; e. Mengendalikan pelaksanaan kegiatan program; f. Menyajikan dan mempublikasikan profil pelayanan kesehatan Kotamadya setiap tahun. Terdapat 8 program prioritas bidang kesehatan Tahun 2007 Dinas Kesehatan: a. Pembiayaan pelayanan kesehatan keluarga miskin dan kurang mampu b. Pemberantasan penyakit menular: memerangi DBD, TBC, HIV-AIDS, dan Narkoba c. Peningkatan gizi masyarakat d. Peningkatan kesehatan ibu dan anak e. Peningkatan pelayanan gadar dan bencana f. Peningkatan mutu pelayanan dan penertiban pelayanan kesehatan g. Peningkatan mutu SDM dan penertiban SDM kesehatan. h. Peningkatan sistem informasi, promosi, dan sosialisasi program-program kesehatan. Dari 8 program prioritas bidang kesehatan tersebut, 4 diantaranya merupakan tugas pokok Suku Dinas Pelayanan Kesehatan yaitu: a. b. c. d. Peningkatan pelayanan gadar dan bencana Peningkatan mutu pelayanan dan penertiban pelayanan kesehatan Peningkatan mutu SDM dan penertiban SDM Kesehatan Peningkatan sistem informasi, promosi, dan sosialisasi program-program kesehatan. Sie Dapro ini mempunyai tugas pokok yang paling utama adalah mengumpulkan data pelayanan kesehatan di tingkat Kotamadya. Pengumpulan data ini diambil dari berbagai seksi yang ada di Suku Dinas Pelayanan Kesehatan. Sie Dapro hanya mengumpulkan datanya saja tanpa terlibat secara langsung dalam pengambilan datanya. Artinya teknis pengambilan data diatur dan dilaksanakan oleh masing-masing seksi di Suku Dinas Pelayanan Kesehatan. Data-data tersebut dikumpulkan untuk nantinya akan diberikan

penilaian hasil kinerja dari masing-masing seksi serta digunakan untuk dijadikan profil pelayanan kesehatan kotamadya setempat. Sie Dapro juga mempunyai tugas untuk menetapkan skala prioritas, menyusun tingkat prioritas dari masalah yang dihadapi berkaitan dengan pelayanan kesehatan di tingkat kotamadya. Masing-masing masalah diidentifikasikasi, dinilai lalu disusun untuk kemudian diselesaikan sesuai dengan skala prioritas dari yang paling penting hingga kurang penting. Namun pada kenyataannya sulit untuk menetapkan skala prioritas ini, karena biasanya masalah yang dihadapi Suku Dinas Pelayanan Kesehatan hampir semuanya penting. Setiap seksi yang ada di Suku Dinas Pelayanan Kesehatan mengevaluasi program yang telah dilaksanakan pada tahun lalu, melaksanakan program saat ini yang telah disusun pada tahun lalu serta menyusun program yang akan dilaksanakan pada tahun berikutnya. Program yang disusun untuk tahun depan diserahkan kepada Sie Dapro, begitu juga dengan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. Kemudian seksi ini mengirimkan usulan permohonan anggaran ke BAPEKO(Badan Perencanaan Pembangunan Kotamadya). Besarnya alokasi dana anggaran diusulkan oleh setiap seksi yang akan menyelenggarakan kegiatan tersebut. Penetapan besar anggaran yang diusulkan nantinya akan disesuaikan dengan plafon anggaran yang ditetapakan oleh Jakarta. Program dan rencana kegiatan yang telah disusun dan diserahkan ke Sie Dapro kemudian dikomunikasikan kembali agar transparansinya dapat terlihat jelas, apa saja yang akan dilaksanakan sehingga nantinya seksi ini dapat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program dari tiap seksi. Pengendalian pelaksanaan kegiatan program dilakukan untuk menjamin kelangsungan program yang telah dilaksanakan sehingga dapat mencegah halhal yang tidak diinginkan seperti tidak teraturnya pelaksanaan program, kinerja yang kurang memuaskan sampai dengan kegagalan pelaksanaan program. Hal ini dilakukan dengan pengawasan dan pengontrolan kegiatan program. Namun pada kenyataanya ada pula program yang tidak dapat berjalan berkaitan dengan terlambatnya dana yang turun untuk pelaksanaan program. Sie Dapro menyajikan dan mempublikasikan profil pelayanan kesehatan Kotamadya. Data-data tentang pelayanan kesehatan dari masing-masing seksi dan program yang telah dilaksanakan serta hasilnya dikumpulkan menjadi suatu BAPEDA DKI

buku yang berisi beragam informasi dan dijadikan profil pelayanan kesehatan pada tahun yang telah berjalan tersebut. 3. SEKSI PELAYANAN KESEHATAN DASAR Pelayanan medik dasar adalah pelayanan medik terhadap individu atau keluarga dalam masyarakat yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan maksimal dokter umum atau dokter gigi. Pelayanan kesehatan merupakan bagian integral dari jaringan pelayanan medik yang diselenggarakan oleh perorangan, kelompok, PT/CV maupun yayasan yang meliputi terutama untuk upaya penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatitif) (3). Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar (Sie Yankesar) mempunyai tugas (2): a. Memberikan layanan perizinan meliputi rencana lokasi sarana pelayanan kesehatan dasar, persyaratan pengajuan izin, penilaian lapangan, dan pengambilan keputusan; b. Mengendalikan mutu pelayanan meliputi bimbingan teknis dan self assesment mutu pelayanan pada sarana pelayanan kesehatan dasar, audit mutu sarana pelayanan kesehatan dasar, rekomendasi perbaikan dan penyeliaan, sertifikasi tenaga dan akreditasi sarana pelayanan kesehatan dasar, memberikan sanksi dan penghargaan, membuat daftar data mutu pelayanan kesehatan secara periodik, rehabilitasi bagi yang telah selesai menjalankan sanksi, memfasilitasi penyelesaian perselisihan/pengaduan/ keluhan dari organisasi profesi dan masyarakat serta mensosialisasikan peraturan perundangan tentang mutu pelayanan kesehatan. Bentuk pelayanan kesehatan medik dasar yang diselenggarkan dalam jenis kelompok (3): a. b. c. d. e. f. g. Balai Pengobatan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) Praktek Berkelompok Dokter Umum(PBDU) Praktek Berkelompok Dokter Gigi (PBDG) Praktek Perorangan Dokter Umum(PBDU) Praktek Perorangan Dokter Gigi (PBDG) Rumah Bersalin (RB) Sie Yankesar berwenang untuk memberikan layanan perizinan sarana kesehatan dasar dan profesinya. Sarana kesehatan dasar dan profesinya ini ditinjau minimal 6 bulan sekali yang bertujuan untuk menjalankan fungsi

10

pengawasan bagi sarana kesehatan dasar dan profesinya tersebut. Profesi setelah menerbitkan rekomendasi, kemudian mengajukan izin kerja dan izin praktik ke Suku Dinas Pelayanan Kesehatan melalui Sie Yankesar. Praktek perorangan adalah penyelenggaraan pelayanan medik oleh seorang dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis atau dokter gigi spesialis dengan atau tanpa menggunakan penunjang medik. Praktek perorangan dokter umum / dokter gigi dilaksanakan oleh seorang dokter umum / dokter gigi dengan persyaratan sebagai berikut (4): a. Mempunyai surat izin dokter dan surat izin praktek sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. Mempunyai satu tempat praktek yang menetap dan terdiri dari ruang periksa, ruang tunggu, ruang kamar mandi / WC. c. Mempunyai peralalatan diagnostik dan terapi dokter umum serta peralatan gawat darurat sederhana. Dalam melaksanakan tugasnya dokter umum / dokter gigi dapat dibantu tenaga paramedik perawatan dan atau tenaga administrasi. Praktek Berkelompok adalah penyelenggaraan pelayanan medik secara bersama oleh dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis, atau dokter gigi spesialis dengan atau tanpa menggunakan penunjang medik. Praktek Berkelompok Dokter Umum (PBDU) dan Praktek Berkelompok Dokter Gigi (PBDG) diselenggarakan oleh yayasan, PT/CV atau perorangan dengan persyaratan sebagai berikut (4): a. Dipimpin oleh seorang dokter umum/dokter gigi sebagai penanggung jawab b. Dilaksanakan oleh beberapa orang dokter umum/dokter gigi c. Masing-masing mempunyai Surat Izin Praktek (SIP) sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku d. Mempunyai satu tempat praktek yang menetap yang terdiri dari beberapa ruang periksa, ruang tunggu, dan ruang kamar mandi/WC e. Mempunyai peralatan diagnostik dan terapi standar dokter umum/dokter gigi, peralatan gawat darurat sederhana. Balai Pengobatan adalah tempat untuk memberikan pelayanan medik dasar secara rawat jalan. Balai pengobatan diselenggarakan oleh yayasan / perorangan dengan persyaratan sebagai berikut:

11

a.

Dipimpin minimal oleh seorang paramedis perawat yang berpengalaman di bidang pengawasan, bimbingan dan pembinaan seorang dokter yang mempunyai surat izin praktek (SIP) sebagai penanggung jawab.

b. c.

Mempunyai satu tempat praktek yang menetap dan terdiri dari satu ruang periksa, ruang tunggu, ruang kamar mandi / WC. Mempunyai fasilitas peralatan diagnostik dan terapi sederhana sesuai kewenangan perawat dan peralatan gawat darurat sederhana serta menyediakan obat-obat untuk keperluan medik dasar. Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) diselenggarakan oleh yayasan

atau perorangan yang dipimpin minimal oleh seorang bidan yang berpengalaman di bawah pengawasan seorang dokter yang mempunyai Surat Izin Praktek Tenaga Medis (SIPTM) dan SPTP sebagai penanggung jawab, mempunyai satu tempat praktek yang menetap dan terdiri dari ruang periksa, ruang tunggu, dan ruang kamar mandi/WC, serta mempunyai fasilitas peralatan standar praktek bidan. Dalam pelaksanaannya dapat dibantu oleh beberapa tenaga bidan dan pembantu bidan dalam memberikan pelayanan ANC(Ante Natal Care), imunisasi, penyuluhan kesehatan dan selain pengobatan(bersifat kuratif) (4). Rumah Bersalin (RB) diselenggarakan oleh yayasan atau perorangan yang dipimpin minimal oleh seorang bidan yang berpengalaman di bawah pengawasan seorang dokter yang mempunyai Surat Izin Persetujuan Tempat Praktik (SIPTM) di sarana tersebut sebagai penanggung jawab, mempunyai satu tempat praktek yang menetap dan terdiri dari ruang periksa, ruang persalinan, dan ruang rawat inap minimal 10 tempat tidur dan maksimal 25 tempat tidur, serta mempunyai fasilitas peralatan diagnostik kebidanan sederhana dan peralatan gawat darurat sederhana serta menyediakan obat-obat untuk keperluan pelayanan medik dasar. Dalam pelaksanaannya dapat dibantu oleh minimal dua orang bidan pembantu dan minimal dua orang tenaga perawat, tenaga administrasi, dan tenaga lainnya sesuai kebutuhan (4). Untuk sarana kesehatan dasar, Sie Yankesar memiliki kesulitan untuk melakukan sertifikasi karena belum adanya standar yang baku, kecuali untuk rumah bersalin. Khusus untuk propinsi DKI Jakarta, rumah bersalin (RB) diklasifikasikan berdasarkan tenaga kesehatan pelaksana yaitu RB Pratama, yang hanya memiliki bidan; RB Madya, yang selain bidan juga terdapat dokter umum; dan RB Utama, yang mempunyai bidan dan dokter umum serta dokter spesialis anak dan kandungan.

12

Selain perizinan, Sie Yankesar juga melakukan pembinaan, pengawasan, dan pengendalian. Pembinaan yang dilakukan berupa penyuluhan untuk meningkatkan mutu/ilmu, baik dari sarananya maupun personelnya. Pengawasan juga dilakukan agar tidak terjadi penyimpangan dalam prakteknya di lapangan. Apabila terjadi penyimpangan maka segera dicarikan solusinya, diberi pengarahan agar tidak menyimpang lagi. Pengendalian yang dilakukan berfungsi agar penyimpangan yang terjadi tidak berlanjut terus-menerus, hal ini dapat berupa teguran baik langsung maupun tidak langsung (tertulis). Akan tetapi, masih terdapat kendala dalam hal pengawasan dan pengendalian karena kurangnya tenaga dan kekuatan yang dimiliki oleh Sie Yankesar serta luasnya lokasi yang memerlukan pengawasan dan pengendalian sehingga kedua fungsi ini, yaitu pengawasan dan pengendalian, belum berjalan dengan optimal. 4. SEKSI PELAYANAN KESEHATAN KEAHLIAN/SPESIALISTIK Pelayanan Medik Spesialistik adalah pelayanan medik terhadap individu atau keluarga dalam masyarakat yang dilaksanakan oleh dokter spesialis atau dokter gigi spesialis atau kelompok dokter spesialis. Penyelenggaraan pelayanan medik oleh seorang dokter spesialis atau dokter gigi spesialis merupakan praktek perorangan sedangkan penyelenggaraan pelayanan medik secara bersama oleh dokter spesialis atau dokter gigi spesialis merupakan praktek berkelompok. Seksi a. rencana lokasi sarana Pelayanan Kesehatan Keahlian/Spesialistik layanan (Sie Yankesli) meliputi mempunyai tugas (2): Memberikan pelayanan perizinan kesehatan keahlian/spesialistik, self

persyaratan pengajuan izin, penilaian lapangan dan pengambilan keputusan. b. Mengendalikan mutu pelayanan meliputi bimbingan teknis dan assesment mutu pelayanan pada sarana pelayanan kesehatan

keahlian/spesialistik, audit mutu sarana pelayanan kesehatan spesialistik, rekomendasi perbaikan dan penyeliaan, sertifikasi tenaga dan akreditasi sarana pelayanan kesehatan keahlian/spesialistik, memberikan sanksi dan penghargaan, membuat daftar data mutu pelayanan kesehatan secara periodik, rehabilitasi bagi yang telah selesai menjalankan sanksi, memfasilitasi penyelesaian perselisihan/pengaduan/ keluhan dari organisasi profesi dan masyarakat serta memsosialisaikan peraturan perundangan tentang mutu pelayanan kesehatan.

13

Seksi ini melayani perizinan, pembinaan, pengawasan, dan pengendalian di bidang kesehatan yang bersifat spesialistik. Sarana pelayanan kesehatan keahlian/spesialistik dilaksanakan oleh perorangan, kelompok, perusahaan(PT) atau yayasan berbadan hukum dengan bentuk pelayanan sebagai berikut (4): a. Praktek Perorangan Dokter Spesialis b. Praktek Perorangan Dokter Gigi Spesialis c. Praktek Berkelompok Dokter Spesialis (PBDS) d. Praktek Berkelompok Dokter Gigi Spesialis (PBDGS) e. Rumah Sakit Umum (RSU) f. Rumah Sakit Khusus seperti laboratorium klinik dan fisioterapi. Untuk Rumah Sakit Umum(RSU) dan Rumah Sakit Khusus perizinannya belum ditangani oleh Suku Dinas Pelayanan Kesehatan. Praktek Perorangan Dokter Spesialis dilaksanakan oleh dokter spesialis dilaksanakan oleh seorang dokter spesialis / dokter gigi spesialis dengan persyaratan sebagai berikut: a. b. c. Memiliki Surat Izin Praktek Spesialis / dokter gigi spesialis sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku Mempunyai satu tempat praktek yang menetap, terdiri dari ruang periksa, ruang tunggu, dan ruang kamar mandi/WC Mempunyai fasilitas peralatan kedokteran spesialistik dan peralatan gawat darurat sederhana. Praktek Berkelompok Dokter Spesialis (PBDS) diselenggarakan oleh yayasan, perusahaan(PT) atau perorangan dengan persyaratan sebagai berikut: a. b. c. d. Dipimpin oleh seorang dokter spesialis/umum yang memiliki Surat Izin Praktek Dokter sebagai penanggung jawab Dilaksanakan oleh beberapa dokter spesialis yang memiliki Surat Izin Praktek Spesialis sesuai ketentuan hukum yang berlaku Mempunyai satu tempat praktek yang menetap, terdiri dari ruang periksa, ruang tunggu, dan ruang kamar mandi/WC Mempunyai fasilitas peralatan kedokteran spesialistik dan peralatan gawat darurat sederhana sesuai dengan bidang spesialisasinya. g. Pelayanan medik spesialistik lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI

14

Praktek Berkelompok Dokter Gigi Spesialis (PBDGS) diselenggarakan oleh yayasan, perusahaan(PT) atau perorangan dengan persyaratan sebagai berikut (4): a. b. Dipimpin oleh seorang dokter gigi/dokter gigi spesialis yang memiliki Surat Izin Dokter sebagai penanggung jawab Dilaksanakan dilakukan oleh beberapa dokter gigi spesialis yang memiliki Surat Izin Praktek Spesialis sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku c. d. Mempunyai satu tempat praktek yang menetap, terdiri dari ruang periksa, ruang tunggu, dan ruang kamar mandi/WC Mempunyai fasilitas peralatan kedokteran gigi spesialistik sesuai dengan standar dan peralatan gawat darurat sederhana. Rumah Sakit Umum (RSU) medik adalah dasar tempat dan pelayanan yang menyelenggarakan pelayanan spesialistik, pelayanan

penunjang medik, pelayanan instalasi, dan pelayanan perawatan secara rawat jalan serta rawat inap. Rumah Sakit Khusus adalah tempat pelayanan yang menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik, tertentu, pelayanan penunjang medik, pelayanan instalasi, dan pelayanan perawatan secara rawat jalan serta rawat inap. Untuk meningkatkan mutu pelayanan, efisiensi, dan efektifitas pelayanan rumah sakit di Indonesia, maka akreditasi rumah sakit perlu ditingkatkan. Kegiatan akreditasi meliputi penilaian sendiri yang dilkukan oleh rumah sakit dan proses penilaian dari luar oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) untuk menilai mutu layanan berkaitan dengan standar dan cara penerapannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan perkembangan akreditasi internasional (4). Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus diselenggarakan oleh yayasan yang dipimpin oleh seorang dokter yang bekerja penuh (tidak merangkap unit kerja lain) yang memiliki Surat Izin Dokter sebagai penanggung jawab dan dilaksanakan oleh semua tenaga medis yang mempunyai Surat Izin Praktek Tenaga Medis (SIPTM) spesialis dan SPTP. Akan tetapi, Suku Dinas Pelayanan Kesehatan hanya mengeluarkan izin praktek untuk profesi yang bekerja di rumah sakit sedangkan izin untuk rumah sakit itu sendiri tidak dikeluarkan oleh Suku Dinas Pelayanan Kesehatan tetapi oleh Dinas Kesehatan Propinsi setempat dan Depkes RI. Dinas Kesehatan Propinsi mengeluarkan izin prinsip dan izin sementara untuk pendirian dan penyelenggaraan kegiatan rumah

15

sakit sedangkan untuk memperoleh izin tetap, rumah sakit harus mengajukannya kepada Depkes RI dengan rekomendasi dari Dinas Kesehatan (4). Laboratorium Klinik adalah laboratorium kesehatan yang tidak terintegrasi dengan sarana kesehatan lain dalam menyelenggarakan pelayanan laboratorium klinik guna menunjang upaya penegakan diagnosa penyakit, penyembuhan penyakit, dan pemulihan kesehatan perorangan. Laboratorium klinik terdiri dari Laboratorium Klinik Umum dan Laboratorium Klinik Khusus. Laboratorium Klinik Umum menyelenggarakan pelayanan laboratorium klinik di bidang hematologi, kimia klinik, mikrobiologi klinik, parasitologi klinik, dan imunologi klinik serta bidang lainnya. Laboratorium Klinik Khusus menyelenggarakan pelayanan laboratorium klinik untuk satu bidang pemeriksaan khusus dengan kemampuan pemeriksaan sesuai bidangnya misalnya khusus mikrobiologi, khusus patologi anatomi, khusus parasitologi, dan khusus lainnya (5). Untuk dapat menyelenggarakan pelayanan, laboratorium klinik harus mempunyai izin dari Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan setempat yang dikeluarkan oleh Sie Yankesli. Selain itu, hanya diperbolehkan melakukan pelayanan laboratorium klinik atas permintaan tertulis dari tenaga kesehatan yang memiliki izin praktek seperti dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, dokter gigi spesialis, dan bidan (5). 5. SEKSI PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL Bentuk pelayanan kesehatan tradisional yang terdapat di seksi pelayanan kesehatan salon tradisional pada Suku Dinas Pelayanan adalah Kesehatan adalah dan/atau pengobatan tradisional yang dilakukan oleh pengobat tradisional (Battra) dan kecantikan. Pengobatan tradisional pengobatan perawatan dengan cara lain di luar ilmu kedokteran dan/atau ilmu keperawatan, obat dan pengobatnya yang mengacu kepada pengalaman, keterampilan turun temurun, dan/atau pendidikan/pelatihan, dan diterapkan sesuai norma yang berlaku di masyarakat. Pengobat tradisional adalah orang yang melakukan pengobatan tradisional (alternatif). Pengobatan ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan, terutama yang sulit disembuhkan dengan pengobatan modern (6). Seksi pelayanan kesehatan tradisional ini mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut (2) :

16

a.

Memberikan layanan perizinan meliputi rencana lokasi sarana pelayanan kesehatan tradisional, persyaratan pengajuan izin, penilaian lapangan, dan pengambilan keputusan;

b.

Mengendalikan mutu pelayanan meliputi bimbingan teknis dan self assessment mutu pelayanan pada sarana pelayanan kesehatan tradisional, audit mutu sarana pelayanan kesehatan tradisional, rekomendasi perbaikan, sertifikasi tenaga dan akreditasi sarana pelayanan kesehatan tradisional, memberikan sanksi dan penghargaan, membuat daftar data mutu pelayanan kesehatan secara periodik, rehabilitasi bagi yang telah selesai menjalankan sanksi, memfasilitasi penyelesaian perselisihan/pengaduan/keluhan dari organisasi profesi dan masyarakat serta mensosialisasikan kesehatan. Klasifikasi dan jenis pengobat tradisional (Battra) antara lain sebagai peraturan perundangan tentang mutu pelayanan

berikut (6): a. Pengobat tradisional Ketrampilan Yaitu seseorang yang melakukan pengobatan dan atau perawatan tradisional berdasarkan ketrampilan fisik dengan menggunakan anggota gerak dan atau alat bantu lain, seperti pengobat tradisional pijat urut, patah tulang, sunat, dukun bayi, pijat refleksi, akupresure, akunpunturis, dan pengobat tradisional yang metodenya sejenis. b. Pengobat tradisional Ramuan Yaitu seseorang yang melakukan pengobatan dan atau perawatan tradisional dengan cara menggunakan obat/ramuan tradisional yang berasal dari tanaman, hewan, bahan mineral, air, dan bahan alam lainnya, seperti pengobat c. tradisional ramuan Indonesia (jamu), shinshe, tabib, aromatherapist, dan pengobat tradisional yang metodenya sejenis. Pengobat tradisional Pendekatan Agama Yaitu pengobat tradisional dengan pendekatan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, atau Budha. d. Pengobat tradisional Supranatural Yaitu seseorang yang melakukan pengobatan dan atau perawatan tradisional dengan cara menggunakan tenaga dalam/prana sepeti Reiky Master (Tibet, Jepang) dan Qigong (China), meditasi, pernafasan, indera keenam/pewaskita seperti paranormal, dan kebatinan.

17

Perizinan yang diberikan oleh seksi ini berupa izin perorangan dan izin sarana pelayanan kesehatan tradisional. Untuk mendapatkan izin perorangan, semua pengobat tradisional yang menjalankan pekerjaan Battra wajib mendaftarkan diri kepada Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan setempat untuk memperoleh Surat Terdaftar Pengobat Tradisional (STPT). Namun, pengobat tradisional dengan cara supranatural harus mendapat rekomendasi terlebih dahulu dari Kejaksaan Kabupaten/Kota setempat sedangkan pengobat tradisional dengan cara pendekatan agama mendapat rekomendasi terlebih dahulu dari Kantor Departemen Agama Kabupaten/kota setempat. Untuk mendapatkan izin lokasi, pengobat tradisional harus memiliki Surat Izin Pengobat Tradisional (SIPT) dari Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan setempat atas terpenuhinya persyaratan metode yang terbukti aman dan bermanfaat bagi kesehatan Pengaturan penyelenggaran pengobatan tradisional bertujuan: a. membina upaya pengobatan tradisional b. masyarakat c. menginventarisasi jumlah pengobat tradisional, jenis dan cara pengobatannya. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan pembinaan dan pengawasan demi peningkatan mutu, manfaat dan keamanan pengobatan tradisional. Pembinaan dan pengawasan Battra dilakukan oleh Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan setempat, Kepala Puskesmas atau unit pelaksana teknis yang ditugasi dan mengikutsertakan organisasi profesi di bidang kesehatan, di bidang Battra serta Lembaga Swadaya Masyarakat. Salon kecantikan merupakan sarana pelayanan umum untuk pemeliharaan kecantikan khususnya memelihara dan merawat kesehatan kulit, rambut dengan menggunakan kosmetik secara manual, preparatif, aparatif, dan dekoratif tanpa operasi. Salon kecantikan melakukan pelayanan kesehatan baik secara promotif, preventif dan rehabilitatif (7). Untuk mencegah kemungkinan penyalahgunaan dalam penyelenggaraan dan kemungkinan kesalahan pemakaian kosmetika dan alat kesehatan yang dapat merugikan kesehatan, maka setiap salon kecantikan perlu mendapat pembinaan, pengawasn dan pengendalian dalam penyelenggaraannya. Bimbingan dan pengendalian terhadap penyelenggaraan salon kecantikan memberikan perlindungan kepada

18

dilakukan oleh Suku Dinas Pelayanan Kesehatan dengan mengikut sertakan Kepala Puskesmas setempat, organisasi profesi ahli kecantikan, Departemen Tenaga Kerja, Departemen Perdagangan dan Pemerintah Daerah. Yang sangat diperlukan dalam melakukan bimbingan atau pembinaan terhadap salon kecantikan ini adalah melibat aktifkan penyelenggara salon dalam program kesehatan. Cara yang dapat dilakukan dalam bimbingan dan pengendalian antara lain penyuluhan (komunikasi, informasi, dan motivasi), petunjuk-petunjuk, penataran/pelatihan (7). 6. SEKSI PELAYANAN FARMASI, MAKANAN DAN MINUMAN Seksi Pelayanan Farmasi, Makanan dan Minuman (Sie Farmakmin) mempunyai tugas (2): a. Mengendalikan mutu pelayanan kefarmasian komunitas, saran, rekomendasi perbaikan, menilai sarana pelayanan kesehatan farmasi, makanan dan minuman, penghargaan dan sanksi pada sarana pelayanan kesehatan farmasi, makanan dan minuman di Kotamadya; b. Merencanakan lokasi, mengendalikan mutu pelayanan dari saranan pelayanan kefarmasian, memberikan izin (industri obat/obat tradisonal/kosmetik/alat kesehatan, perbekalan kesehatan rumah tangga, Pedagang Besar Farmasi, Pedagang Besar Bahan Baku, usaha penyalur/cabang/subpenyalur alat kesehatan, apotik, toko obat, depo obat/kosmetik. Gudang obat, makan dan minuman), memberikan sertifikat penyuluhan kepada industri rumah tangga makanan dan minuman; c. d. e. f. Memantau dampak lingkungan, memberikan sanksi, memberikan penghargaan serta merehabilitasi; Memantau harga obat, mengadakan persediaan cadangan obat dan alat kesehatan; Melakukan pengamanan obat, obat tradisional, alat kesehatan,kosmetika, makanan dan minuman; Membina produsen/distributor dan penggunaan obat termasuk Narkotik, Psikotropika, Zat Adiktif lainnya (NAPZA), bahan obat dan obat tradisional, alat kesehatan, kosmetika; g. Membina produsen/distributor dan penggunaan makanan/minuman serta zat aditif (bahan tambahan makanan);

19

h. i. j. Sie

Melakukan akreditasi dan pengawasan mutu pelayanan farmasi makanan dan minuman; Memfasilitasi penyelesaian perselisihan/pengaduan/keluhan yang dilaporkan profesi dan masyarakat; Mensosialisasikan rencana kegiatan. Farmakmin memberikan layanan perizinan dan pembinaan, peraturan perundangan,program dan

pengawasan dan pengendalian sarana apotek, toko obat, Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT), Cabang/Sub Penyalur Alat Kesehatan (C/SUPAK) dan juga memberikan layanan perizinan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) serta memberikan Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP). 7. SEKSI KESEHATAN GAWAT DARURAT, BENCANA DAN KELUARGA MISKIN Seksi Kesehatan Gawat Darurat, Bencana dan Keluarga Miskin (Sie Gadar dan Gakin) mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut (2) : a. pengawasan, b. c. Kesehatan Bencana; d. e. f. darurat di Kotamadya g. h. i. j. Mengendalikan pendataan keluarga miskin Mengendalikan pemberian dan pemanfaatan kartu Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) di Kotamadya Menindaklanjuti setiap pengaduan masyarakat Membayarkan subsidi Pemerintah kepada Rumah Sakit untuk pelayanan kesehatan orang miskin. Melakukan geladi dan koordinasi unit gawat darurat Rumah Sakit, ambulans, Puskesmas Keliling Menentukan lokasi evakuasi pasien Mengoperasikan sistem komunikasi kesehatan gawat Mengkoordinasikan pengendalian dan kesehatan gawat darurat di Kotamadya Mensosialisasikan dan menyiapkan penduduk dalam menghadapi gawat darurat Menyiapkan dan menggerakkan Satuan Tugas dengan sektor terkait untuk pembinaan, mekanisme pelayanan

20

Sie Gadar dan Gakin melakukan koordinasi dengan sektor-sektor terkait, seperti kelurahan dan puskesmas, untuk melakukan pembinaan, pengawasan dan pengendalian tentang mekanisme pelayanan kesehatan gawat darurat di tingkat Kotamadya serta mensosialisasikan dan menyiapkan penduduk dalam menghadapi keadaan tersebut. Sosialisasi dilakukan dangan mengadakan penyuluhan dan pelatihan terhadap masyarakat setempat tentang bagaimana dan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan untuk menghadapi keadaan gawat darurat seperti kebakaran atau bencana alam.

21

BAB III TINJAUAN KHUSUS SEKSI FARMASI, MAKANAN DAN MINUMAN

Pembangunan bidang kesehatan mempunyai visi Indonesia sehat 2010, visi ini telah dijabarkan lebih operasional di tingkat Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta denga tujuan Jakarta sehat 2010 dapat terealisasi. Visi dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta adalah Masyarakat di Propinsi DKI Jakarta mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan (klinis dan kesehatan masyarakat) yang manusiawi, adil dan bermutu sejajar dengan pelayanan kesehatan kota-kota besar maju di dunia. Untuk mendukung tercapai visi tersebut, disusun sebanyak 10 misi yang salah satu misinya adalah menyelenggarakan pelayanan internal manajemen yang bermutu dalam mendukung pelaksanaan tugas (8). Untuk merealisasikan Visi dan Misi Dinas kesehatan DKI Jakarta tersebut maka seksi Farmasi, Makanan dan Minuman Suku Dinas Pelayanan Kesehatan memiliki visi Masyarakat DKI Jakarta mempunyai akses dalam membangun sarana kesehatan Farmasi, Makanan dan Minuman yang bermutu. Untuk mendukung tercapainya visi tersebut, maka misi yang dikembangkan oleh Seksi Farmasi, Makanan, dan Minuman (Sie Farmakmin) adalah (8) : a. Menciptakan serta meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap pelayanan Farmasi, Makanan, dan Minuman b. Meningkatkan dan mempercepat proses pelayanan perizinan sarana kesehatan Farmasi, Makanan, dan Minuman kepada seluruh masyarakat DKI Jakarta tanpa mengurangi akurasi persyaratan c. Memberdayakan organisasi profesi yang terkait dalam rangka pelayanan perizinan yang bermutu. Seksi pelayanan Farmasi, Makanan dan Minuman merupakan satu seksi di Suku Dinas Pelayanan Kesehatan yang mempunyai tugas pokok untuk melaksanakan perizinan, pengendalian dan penilaian efektifitas pelayanan

22

kesehatan dalam bidang farmasi, makanan dan minuman. Sesuai dengan surat keputusan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta no. 7687 tahun 2002 tentang pemberlakuan pedoman perizinan saranan keshatan farmasi, makanan dan minuman, jenis perizinan yang telah didelegasikan adalah sebagai berikut (8): 1. Izin Apotek 2. Izin Pedagang Eceran Obat 3. Izin Cabang/Sub Penyalur Alkes 4. Izin Industri Kecil Obat Tradisional 5. Sertifikat penyuluhan/PIRT bagi Industri Kecil Makanan dan Minuman. Semua jenis sarana kesehatan farmasi makanan dan minuman di Propinsi DKI Jakarta harus mempunyai izin, hal ini dapat dilihat berdasarkan beberapa peraturan yang diterbitkan oleh Menteri Kesehatan RI dan dalam hal ini diperkuat/dikukuhkan kembali oleh undang-undang no.23 tahun 1992 tentang kesehatan. Bertolak dari Undang-undang Kesehatan tersebut maka untuk penyelenggaraan sarana kesehatan farmasi makanan dan minuman di wilayah Propinsi DKI Jakarta harus mempunyai izin, yang terdiri dari izin prinsip dan izin tetap. Izin prinsip dimaksudkan agar pihak penyelenggara mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkan sarana, prasarana, dan sumber daya manusia di mana izin prinsip ini hanya diberikan untuk produksi IKOT. Izin tetap diberikan bila pihak penyelenggara sudah dapat beroperasi penuh karena seluruh persyaratan sarana/prasarana sudah lengkap. Kepemilikan Sarana Kesehatan Farmasi, Makanan dan Minuman berdasarkan peraturan yang berlaku yaitu peraturan Menteri Kesehatan RI ada yang diperbolehkan per orangan dan berbadan hukum tergantung jenis dari sarana kesehatan Farmasi Makanan dan Minuman. Untuk alur perizinan sarana kesehatan di Suku Dinas Pelayanan Kesehatan dapat dilihat pada lampiran 2. A. APOTEK Dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002, yang dimaksud dengan apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran Sediaan Farmasi, Perbekalan Kesehatan lainnya kepada masyarakat. Perbekalan farmasi mencakup obat, bahan obat,

23

obat asli Indonesia (Obat Tradisional), alat kesehatan dan kosmetika. Pengelolaan apotek merupakan tugas dan tanggung jawab seorang apoteker. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesi dan telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker. Sebelum suatu apotek melaksanakan kegiatannya, maka apotek tersebut wajib memiliki Surat Izin Apotek (SIA). SIA berlaku seterusnya selama Apotek yang bersangkutan masih aktif melakukan kegiatan dan APA dapat melaksanakan tugasnya dan masih memenuhi persyaratan. Untuk mendapatkan SIA, APA yang sudah menyelesaikan masa bakti dan memiliki surat izin kerja (SIK) harus menyiapkan persyaratan perizinan. Berubahnya kondisi sosial politik di Indonesia, turut mewarnai berubahnya tata cara untuk mengurus dan memperoleh surat izin apotek (SIA). Dengan adanya perubahan pada sistem pemerintahan pada tahun 1999 dari sistem sentralisasi menjadi otonomi daerah maka sebagian wewenang pemerintah pusat dilimpahkan kepada pemerintah daerah. Dalam pengurusan perizinan apotek maka persyaratan yang harus disiapkan meliputi tempat (lokasi dan bangunan) dan perlengkapannya termasuk obat dan perbekalan farmasi lain yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.278/MENKES/SK/V/1981, persyaratan bangunan Apotek adalah: 1. Bangunan apotek harus mempunyai luas secukupnya dan memenuhi persyaratan teknis, sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi apotek serta memelihara mutu perbekalan kesehatan dibidang farmasi. 2. Luas bangunan apotek dimaksud ayat (1) pasal ini, sekurang-kurangnya 50m2 terdiri dari ruang tunggu, ruang racikan dan penyerahan obat, tempat pencucian alat dan jamban (WC) 3. Bangunan apotek harus memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut: Dinding harus kuat dan tahan air, permukaan sebelah dalam harus rata, tidak mudah mengelupas dan mudah dibersihkan Langit-langit harus terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak dan permukaan sebelah dalam berwarna terang. Atap tidak boleh bocor, terbuat dari genteng, sirap atau bahan lain yang memadai

24

Lantai tidak boleh lembab, terbuat dari ubin, semen atau bahan lain yang memadai.

Selain itu juga bangunan apotek harus mempunyai ventilasi dan sistem sanitasi yang baik serta memenuhi persyaratan hygiene lainnya. Apotek harus mempunyai sumber air yang memenuhi persyaratan kesehatan, sesuai ketentuan yang berlaku serta ruang apotek harus mempunyai penerangan yang cukup sehingga dapat menjalani pelaksanaan tugas dan fungsi apotek dengan baik. Apotek harus mempunyai papan nama yang memuat nama apotek, nama Apoteker Pengelola Apotek (APA), nomor Surat Izin Apotek (SIA), dan alamat apotek. Bangunan apotek sekurang-kurangnya terdiri dari ruang tunggu, ruang peracikan dan penyerahan obat, ruang administrasi dan kamar kerja Apoteker dan tempat pencucian alat. Selain itu, apotek juga harus memiliki perlengkapan yang memadai seperti timbangan, mortir, wadah dan etiket, tempat penyimpanan khusus narkotika dan psikotropika, kartu stok, dan sebagainya. Khusus untuk pemakaian narkotika, apotek harus melaporkan pemakaiannya setiap bulan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kotamadya setempat sedangkan untuk pemakaian psikotropika harus dilaporkan setahun sekali. Seorang Apoteker sebagai APA harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : Ijasahnya telah terdaftar pada Departemen Kesehatan Telah mengucapkan sumpah atau janji sebagai Apoteker Memiliki Surat Penugasan (SP) dari Menteri Kesehatan RI Memenuhi syarat-syarat kesehatan fisik dan mental untuk melaksanakan tugasnya sebagai Apoteker Tidak bekerja di suatu perusahaan farmasi dan tidak menjadi APA di apotek lain. Asisten Apoteker (AA) yang bekerja di apotek juga harus memiliki Surat Izin AA (SIAA) dan Surat Izin Kerja AA (SIKAA) di apotek tempat AA tersebut bekerja. SIAA dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Propinsi sedangkan SIKAA dikeluarkan oleh Suku Dinas Pelayanan Kesehatan. SIAA berlaku selama 5 tahun dan bila masa berlakunya habis maka AA harus memperbaharui surat izinnya. SIKAA berlaku berdasarkan pada tempat bekerja AA. Apabila APA berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka apotek, maka APA dapat menunjuk Apoteker Pendamping, dan apabila APA dan

25

Apoteker Pendamping berhalangan melakukan tugasnya, APA dapat menunjuk Apoteker Pengganti. Penunjukan tersebut harus dilaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota dalam hal ini kepada Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya setempat untuk daerah DKI Jakarta dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat dan Menteri Kesehatan RI di Jakarta. Apabila APA berhalangan melakukan tugasnya lebih dari dua tahun secara terus-menerus, SIA atas nama Apoteker yang bersangkutan dapat dicabut. APA bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh Apoteker Pendamping maupun Apoteker Pengganti, dalam pengelolaan apotek. Pada setiap pengalihan tanggung jawab kefarmasian yang disebabkan karena penggantian APA oleh Apoteker Pengganti, harus diikuti dengan serah terima resep, narkotika dan perbekalan farmasi lainnya serta kunci-kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika. Serah terima ini harus diikuti dengan pembuatan berita acara. Apabila APA meninggal dunia, dalam waktu 2x24 jam, ahli waris APA wajib melaporkan kejadian tersebut secara tertulis kepada Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya setempat, disertai dengan pembuatan berita acara serah terima kepada Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Kepala Balai POM setempat. Apabila izin apotek dicabut maka APA wajib mengamankan perbekalan farmasi yaitu menginventarisasi persediaan narkotika, psikotropika dan obat lainnya serta seluruh resep yang tersedia di apotek, kemudian menyimpannya dalam tempat tertutup dan terkunci serta melaporkannya secara tertulis kepada Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya setempat. SIA dapat dicabut apabila terjadi pelanggaran dari peraturan perundangundangan yang berlaku, SIK APA dicabut, atau apotek tidak lagi memenuhi persyaratan yang ada. Apabila apotek melakukan pelanggaran, maka pertamatama diberikan teguran secara lisan untuk segera dilakukan perbaikan. Apabila tidak ada perbaikan dari apotek tersebut maka diberikan peringatan tertulis kepada APA. Pelaksanaan pencabutan SIA dapat dilakukan setelah dikeluarkan peringatan secara tertulis kepada APA sebanyak 3 kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 2 bulan atau pembekuan izin Apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6 bulan. Pembekuan izin ini dapat dicairkan kembali apabila Apotek telah membuktikan memenuhi seluruh persyaratan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ada 3 jenis apotek yang izinnya dapat

26

diurus di Suku Dinas Pelayanan Kesehatan yaitu Apotek biasa, apotek profesi dan apotek dari toko obat (apotek sederhana). Dalam pengurusan ketiga macam apotek tersebut, ada perbedaan persyaratan yang harus dilengkapi yaitu (8): a. Izin apotek yang bekerja sama dengan pihak lain Surat permohonan izin apotek (Lampiran 3). Fotocopy KTP Apoteker Pengelola Apotek (APA) Fotocopy KTP Pemilik Sarana Apotek (PSA) Pas foto berwarna 4x6 APA (1 lembar) Pas foto berwarna 4x6 PSA (1 lembar) Fotocopy surat izin kerja/surat penugasan APA Surat pernyataan dari APA tidak bekerja pada perusahaan farmasi lain diatas materai Rp. 6000,Surat izin dari atasan bagi PNS/ABRI bagi APA dari PNS/ABRI Fotocopy lolos butuh bagi APA dari luar propinsi DKI Jakarta Salinan akte perjanjian kerjasama antara APA dan PSA yang telah dilegalisir notaris Surat pernyataan APA tunduk dan patuh pada peraturan perundangundanganyang berlaku diatas materai Rp. 6000,Surat pernyataan PSA tidak pernah terlibat dan tidak akan terlibat dalam pelanggaran peraturan di bidang Farmasi/Obat-obatan dan tidak ikut campur dalam pengelolaan obat diatas materai Rp.6000, Denah bangunan beserta ukuran dan fungsinya Peta lokasi Fotocopy bukti kepemilikan bangunan, IMB dan surat sewa menyewa minimal 2 tahun Fotocopy akte perusahaan bila berbentuk badan hukum yang telah terdaftar di Depkeh dan HAM Ri Fotocopy undang-undang gangguan dari dinas Trantib Fotocopy NPWP dari PSA Daftar AA ( Nama, KTP, ijazah, SIK, surat pernyataan bersedia bekerja dan surat berhenti bekerja dari apotek terdahulu) Daftar pustaka Daftar alat perlengkapan apotek

27

Perlengkapan Administrasi (Etiket, Kartu stock, Copy resep, Blanko SP dan Blanko faktur).

b. Izin Apotek (apotek profesi) Surat permohonan Apoteker Praktek Profesi ditujukan kepada Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan setempat sebanyak 2 rangkap. Surat rekomendasi dari Ikatan Sarjana Farmasi DKI Jakarta yang menyatakan bahwa yang bersangkutan layak untuk melakukan Apotek Profesi yang diterbitkan setiap tahun sekali Fotocopy KTP DKI Apoteker Apotek Praktek Profesi Status kepemilikan bangunan, IMB dan surat sewa menyewa minimal 2 tahun Denah bangunan beserta ukuran dan fungsinya Peta lokasi Fotocopy NPWP dari Apoteker Surat izin kerja/surat penugasan Apoeker (SIK/SP) dan PasPhoto 2x3 2 lembar Surat pernyataan dari apotek bahwa selama buka apotek harus ada apotekernya (bila tidak ada Apotekernya maka harus tutup). Jadwal buka Apotek bersama dengan petugas/apoteker yang lain yang ikut melakukan praktek profesi. c. Izin apotek yang berasal dari toko obat (apotek sederhana) Surat permohonan izin apotek sederhana (lampiran 5). Fotocopy KTP DKI Apoteker Pengelola Apotek (APA) Fotocopy KTP Pemilik Sarana Apotek (PSA) Fotocopy NPWP dari PSA Fotocopy surat izin kerja/surat penugasan APA Fotocopy lolos butuh bagi APA dari luar propinsi DKI Jakarta Fotocopy sertifikat kepemilikan bangunan, IMB dan surat sewa menyewa minimal 2 tahun

28

Fotocopy akte perusahaan bila berbentuk badan hukum yang telah terdaftar di Depkeh dan HAM RI Fotocopy Surat keterangan domisili dari lurah atau kepala pasar Pas foto berwarna 4x6 APA (1 lembar) Pas foto berwarna 4x6 PSA (1 lembar) Surat rekomendasi dari Ikatan Sarjana Farmasi DKI Jakarta Selatan Surat pernyataan dari pemilik sarana bahwa lokasi apotek hanya pada sentra pasar dan tidak akan pindah ke luar pasar di atas materai Rp. 6000.-

Surat pernyataan dari kepala pasar bahwa pihaknya akan ikut mengawasi kegiatan apotek terhadap ketentuan perundang-undanganfarmasi yang berlaku diatas materai Rp.6000

Surat pernyataan dari apoteker dan pemilik bahwa yang bersangkutan bersedia bila apotek diperiksa oleh petugas kesehatan yang berwenang di atas materai Rp.6000

Surat pernyataan dari APA tidak bekerja pada perusahaan farmasi lain diatas materai Rp. 6000,Surat pernyataan APA tunduk dan patuh pada peraturan perundangundanganyang berlaku diatas materai Rp. 6000,Surat pernyataan PSA tidak pernah terlibat dan tidak akan terlibat dalam pelanggaran peraturan di bidang Farmasi/Obat-obatan dan tidak ikut campur dalam pengelolaan obat diatas materai Rp.6000,-

Surat pernyataan dari APA tidak bekerja pada perusahaan farmasi lain diatas materai Rp. 6000,Surat pernyataan dari APA dan PSA bahwa yang bersangkutan tidak akan melakukan peracikan dan penjualan narkotik dan OKT baik dengan atau tanpa resep dokter di atas materai Rp.6000,-

Surat izin dari atasan bagi PNS/ABRI bagi APA dari PNS/ABRI Daftar ketenagaan berdasarkan pendidikan Denah bangunan beserta ukuran dan fungsinya Peta lokasi Daftar AA ( Nama, KTP, ijazah, SIK, surat pernyataan bersedia bekerja dan surat berhenti bekerja dari apotek terdahulu)

29

Struktur organisasi apotek dan tata kerja Rencana Jadwal buka apotek Daftar pustaka Daftar alat perlengkapan apotek Perlengkapan Administrasi (Etiket, Kartu stock, Copy resep, Blanko SP dan Blanko faktur).

B. PEDAGANG ECERAN OBAT Pedagang Eceran Obat didefinisikan sebagai orang atau badan hukum di Indonesia yang mempunyai izin untuk menyimpan obat-obat bebas dan obatobat terbatas (daftar W) serta untuk dijual secara eceran di tempat tertentu sebagai tercantum dalam surat izin. Pedagang Eceran Obat menjual obat-obat bebas dan obat-obat bebas terbatas (daftar W) dalam bungkusan pabrik yang membuatnya secara eceran. Pedagang eceran obat harus menjaga agar obatobat yang dijual bermutu baik dan berasal dari pabrik-pabrik farmasi atau pedagang besar farmasi yang mendapat izin dari Menteri Kesehatan RI. Pedagang eceran obat dapat diusahakan oleh Perusahaan Negara, Perusahaan Swasta, atau perorangan. Penanggung jawab teknis farmasi terletak pada seorang Asisten Apoteker. Untuk mendirikan toko obat, pedagang eceran obat harus membuat surat permohonan Izin Usaha Pedagang Eceran Obat yang ditujukan kepada Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya setempat. Izin Usaha Pedagang Eceran Obat ini berlaku selama 2 tahun terhitung mulai tanggal ditetapkan. Pencabutan Izin Usaha Pedagang Eceran Obat akan dilaksanakan oleh Suku Dinas Pelayanan Kesehatan melalui Sie Farmakmin bila pada penyelenggaraanya terdapat kegiatan-kegiatan yang menyimpang dan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bila izin batal atau dicabut, maka pemilik izin harus segera menyerahkan surat izinnya kepada Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya setempat. Tata cara perizinan mendirikan toko obat antara lain (8) : 1. Pemilik toko obat membuat surat permohonan izin toko obat kepada Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya setempat 2 (dua) rangkap di atas materai Rp. 6000,- (lampiran 6).

30

2. Membuat surat pernyataan kesediaan bekerja Asisten Apoteker Penanggung Jawab Teknis pada toko obat di atas materai Rp. 6000,3. Menyertakan lampiran berikut : a. b. c. Apoteker (SIKAA) d. e. f. Fotokopi yang menyatakan status bangunan dalam bentuk akte hak milik/sewa/kontrak Pas foto Pemohon dan Asisten Penanggung Jawab Teknis sebanyak 2 (dua) lembar ukuran 2x3 Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) Perubahan fisik maupun non fisik dari toko obat dapat terjadi setiap saat dan hal ini sangat mempengaruhi terhadap kondisi toko obat tersebut. Setiap perubahan fisik maupun non fisik yang terjadi, pihak dari toko obat harus mengajukan permohonan tertulis kepada Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya setempat Sie Farmakmin. Pada perubahan fisik, dilakukan pemeriksaan lapangan misalnya bila terjadi pemindahan lokasi atau perpanjangan izin sarana kesehatan toko obat. Namun, pada perubahan non fisik tidak dilakukan pemeriksaan lapangan seperti bila terjadi pergantian Asisten Apoteker Penanggung Jawab Teknis toko obat (meninggal dunia atau hal lainnya), pergantian nama sarana kesehatan toko obat, pergantian pemilik sarana kesehatan toko obat (meninggal dunia atau hal lainnya), perubahan alamat tanpa pindah lokasi, serta hilang atau rusaknya surat izin toko obat. Untuk menghindari toko obat menjual obat keras maka disarankan untuk membuat apotek sederhana. Ketentuan sebagai pedagang eceran obat harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Oleh karena itu, apabila pengelola/pemilik toko obat tidak menjalankan seperti yang telah ditentukan dalam peraturan perundangan akan diberikan sanksi sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Sanksi yang akan diberikan dapat berupa sanksi administratif dan sanksi pidana. Sanksi administratif yang diberikan antara lain peringatan, penghentian sementara kegiatan, dan pencabutan izin sedangkan sanksi pidana diajukan ke pengadilan. g. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Fotokopi KTP DKI Jakarta dari pemilik obat Peta lokasi tempat usaha dan denah ruangan Fotokopi ijazah, KTP, dan Surat Izin Kerja Asisten

31

C. INDUSTRI KECIL OBAT TRADISIONAL (IKOT) Salah satu tugas pokok dan fungsi dari Sie Farmakmin ini adalah memberikan izin industri kecil obat tradisional. Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) adalah industri obat tradisional kecil yang mempunyai asset tidak lebih dari dua ratus lima puluh juta rupiah, tidak termasuk tanah dan bangunan. Industri kecil obat tradisional ini biasanya dilakukan di lingkungan perumahan. Oleh karena itu, dapat dikategorikan ke dalam industri rumah tangga. Sebelum menjalankan usahanya, pemilik industri obat tradisional ini harus memiliki izin dalam hal sarana dan prasarana industri tersebut. Adapun persyaratan izin Industri Kecil Obat Tradisional ini, antara lain adalah (8): 1. Permohonan izin prinsip/izin tetap dari direktur/Pimpinan/perorangan ditujukan kepada Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kodya Jakarta Utara sebanyak 3 (tiga) rangkap dan 1 (satu) rangkap diatas materai Rp. 6000,- (lampiran 7). 2. Akte pendirian perusahaan bila dalam bentuk PT disahkan oleh Menteri Kehakiman HAM 3. Ijasah Apoteker 4. KTP DKI dari Apoteker penanggung jawab Teknis 5. Surat perjanjian kerjasama antara Apoteker dengan pihak perusahaan diatas materai Rp. 6000,6. U.U.G 7. Peta lokasi 8. Denah ruang produksi, kantor gudang bahan baku, gudang produk jadi 9. Bentuk obat tradisional yang akan diproduksi 10. Peralatan, pengolahan dan pengemasan 11. Peralatan laboratorium 12. Sumberdaya energi yang dipakai 13. Jumlah tenaga kerja 14. Nilai investasi 15. Rencana pemasaran 16. Buku peraturan per U.U dibidang farmasi 17. Status gedung bila milik sendiri lampirkan sertifikat, bila sewa minimal 5 (lima) tahun dengan melampirkan surat sewa serta fotokopi pemilik 18. Analisa dampak lingkungan

32

19. Peralatan pengendalian pencemaran Jika terjadi perubahan fisik atau non fisik, maka dilakukan kembali administrasi perizinan. 1. Perubahan Non fisik (tidak dilakukan pemeriksaan lapangan) a. Terjadi pergantian direktur/Pimpinan sarana Kesehatan Industri Kecil Obat Tradisional (baik karena meninggal dunia maupun lainnya). b. Terjadi pergantian nama Sarana Kesehatan IKOT. c. Terjadi perubahan alamat Sarana Kesehatan IKOT tanpa pemindahan lokasi. d. Terjadi pergantian penanggung jawab teknis Sarana Kesehatan IKOT (baik karena meninggal dunia maupun hal lainnya). e. Terjadi karena surat izin hilang atau rusak. 2. Perubahan Fisik a. Terjadi pemindahan lokasi b. Terjadi perluasan lokasi c. Terjadi perluasan/penambahan jenis produksi D. CABANG/SUB PENYALUR ALAT KESEHATAN (C/SUPAK) Cabang/sub penyalur alat kesehatan adalah perwakilan usaha dari penyalur alat kesehatan yang telah mendapatkan izin. Dalam mengajukan izin usaha penyalur alat kesehatan (UPAK) ini harus dipenuhi beberapa persyaratan antara lain (8): 1. Surat permohonan dari Direktur/Pimpinan UPAK bukan dari C/SPAK ditujukan kepada Suku Dinas Pelayanan Kesehatan setempat sebanyak 3 (tiga) rangkap dan 1 (satu) rangkap diatas materai Rp. 6000,- (lampiran 8). 2. Surat penunjukan dari UPAK sebagai C/SPAK diatas materai Rp.6000,3. FotoKopi izin UPAK 4. Akte perusahaan Cab/Sub penyalur alkes bila bentuk PT terdaftar pada MenKeh HAM 5. Denah bangunan/ruangan dari Cab/Sub penyalur alkes 6. SIUP Cab/Sub UPAK 7. NPWP Sub/Cabang PAK 8. UUG 9. Peta lokasi Cab/Sub penyalur alkes 10. Domisili perusahaan

33

11. Status bangunan bila milik sendiri lampirkan sertifikat, bila sewa minimal 2 (dua) tahun dengan melampirkan surat sewa serta fotokopi pemilik. Jika terjadi perubahan fisik dan non fisik, maka seperti halnya sarana kesehatan yang lainnya, harus melaksanakan kembali administrasi perizinan. 1. Perubahan non fisik a. Terjadi pergantian pemilik b. Terjadi pergantian nama sarana UPAK c. Terjadi perubahan alamat d. Terjadi kehilangan atau kerusakan surat izin 2. Perubahan fisik a. Terjadi pemindahan lokasi sarana UPAK b. Terjadi perluasan lokasi sarana UPAK Kebanyakan usaha penyalur alat kesehatan yang ada saat ini dilakukan oleh perorangan tanpa keberadaan badan usaha yang jelas. Artinya usaha ini dilakukan oleh perorangan tersebut jika ia mendapatkan suatu tender proyek peralatan kesehatan. Oleh karena itu tampaknya pembinaan terhadap UPAK ini harus dilakukan dengan ketat. E. INDUSTRI RUMAH TANGGA PANGAN (IRTP) Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) adalah perusahaan pangan yang memiliki tempat usaha di lokasi pemukiman dengan peralatan pengolahan pangan manual hingga semi otomatis. Dalam menjalankan IRTP ini, harus mempunyai Sertifikasi Produksi Pangan untuk Perusahaan Pangan Industri Rumah Tangga ataui SPP-IRT. Sesuai surat Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat Makanan RI Nomor HK.00.05.5.1640 tanggal 30 April 2003 antara lain tentang Sertifikasi Produksi Pangan untuk Perusahaan Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT), maka SPP-IRT bertujuan untuk (9) : 1. Meningkatkan pengetahuan produsen dan karyawan tentang pengolahan pangan dan peraturan perudang-undangan dibidang keamanan pangan. 2. Menumbuhkan kesadaran dan motivasi produsen dan karyawan tentang pentingnya pengolahan pangan yang higienis dan tanggung jawab terhadap keselamatan konsumen. 3. Meningkatkan daya saing dan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan PP-IRT.

34

Adapun tata cara penyelenggaraan SPP-IRT yaitu: a. Pengajuan permohonan Permohonan untuk mendapatkan SPP-IRT ditujukan kepada Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya setempat. Permohonan tidak dapat dipenuhi apabila pangan yang diproduksi berupa : Susu dan hasil olahannya Daging, ikan, unggas dan hasil olahannya yang memerlukan proses dan atau penyimpanan beku. Pangan kaleng Pangan bayi Minuman beralkohol Air minum dalam kemasan Pangan lain yang wajib memenuhi persyaratan SNI Pangan lain yang ditetapkan oleh badan POM Selain itu, pemohon diwajibkan mengikuti Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP) dan telah melewati tahap pemeriksaan saran produksinya oleh Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya setempat. b. Penyelenggaraan dan pelaksanaan Penyuluhan Keamanan Pangan Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya setempat berperan sebagai penyelenggara Penyuluhan Keamanan Pangan dalam rangka SPPIRT. Materi Penyuluhan Keamanan Pangan adalah : Berbagai jenis bahaya biologis, kimia, fisik cara menghindari dan memusnahkannya, pengawetan pangan. Higiene dan sanitasi sarana PPIRT Cara produksi pangan yang baik (CPPB) Peraturan perundangan tentang keamanan pangan, penggunaan bahan tambahan pangan label dan iklan pangan. c. Pemeriksaan sarana produksi Pemeriksaan dilakukan oleh petugas Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya setempat yang mempunyai sertifikat inspektur pangan. Laporan pemeriksaan sarana produksi PP-IRT dengan hasil minimal cukup merupakan salah satu persyaratan utama untuk mendapatkan SPPIRT. d. Sertifikasi Produksi Pangan IRT

35

Sertifikasi yang diterbitkan dari kegiatan ini terdiri 2 (dua ) jenis yaitu Sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan (untuk pengelola) danSertifikat produksi pangan IRT/SPP-IRT (untuk sarana produksi). e. Sistem pendataan dan pelaporan Sistem pendataan dan pelaporan SPP-IRT dilakukan oleh Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya setempat dan bekerja sama dengan Balai Besar POM. Balai besar POM melaporkan rekapitulasi penerbitan SPP-IRT kepada Badan POM.

36

BAB IV PEMBAHASAN
Suku Dinas Pelayanan Kesehatan merupakan perpanjangan tangan dari Dinas Kesehatan Propinsi yang bertanggung jawab kepada Pemerintah DKI Jakarta. Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya Jakarta Selatan dikepalai oleh seorang Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan dan secara taktis operasional bertanggung jawab kepada Walikotamadya Jakarta Selatan. Maksud dari tanggung jawab secara teknik administratif yaitu segala bentuk kegiatan Suku Dinas Pelayanan Kesehatan baik berupa pelayanan kepada masyarakatmaupun pembinaan kepada sarana kesehatan harus diketahui oleh Dinas Kesehatan. Sedangkan maksud dari tanggung jawab dari taktis operasional yaitu bahwa segala bentuk pembiayaan atau anggaran yang dikeluarkan dalam melakukan kegiatan harus dilaporkan kepada Walikota. Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan membawahi 1 sub bagian Tata Usaha, dan 6 seksi. Masing-masing seksi mengkaji hasil pelaksanaan program tahun lalu, melaksanakan program yang telah direncanakan untuk tahun ini dan membuat rencana program untuk tahun berikutnya. Perizinan yang diberikan Suku Dinas Pelayanan Kesehatan meliputi sarana dan tenaga pelayanan kesehatan di bidang kesehatan dasar, spesialistik, tradisional, serta farmasi makanan dan minuman. Untuk sarana pelayanan kesehatan, sebelum diberikan izin maka terlebih dahulu harus memenuhi syaratsyarat administrasi. Jika persyaratan tersebut telah terpenuhi maka akan dilakukan pemeriksaan lapangan. Setelah itu Suku Dinas Pelayanan Kesehatan setempat akan memberikan izin untuk sarana pelayanan kesehatan tersebut. Untuk tenaga kesehatan, terdapat dua jenis izin yang harus dimiliki oleh tenaga kesehatan yaitu izin kewenangan dan izin praktek. Pada awalnya izin kewenangan dan izin praktek diberikan oleh Departemen Kesehatan atau Dinas Kesehatan Propinsi, namun dengan adanya otonomi daerah, maka beberapa izin

37

kerja dan praktek dilimpahkan kepada Suku Dinas Pelayanan Kesehatan seperti surat izin kerja praktek tenaga medis / SIPTN. Tata usaha Suku Dinas Pelayanan Kesehatan bertanggung jawab pada empat ruang lingkup yaitu umum, keuangan, kepegawaian, perlengkapan. Semua perihal surat menyurat dan dokumentasi harus melalui tata usaha sebelum diteruskan ke bagian yang bersangkutan. Kinerja dari setiap di data dan dirangkum oleh Seksi Pendataan dan Program. Seksi pendataan dan program merupakan seksi yang mengkoordinasikan setiap informasi program kegiatan dari setiap seksi. Seksi Dapro bertugas mengolah setiap data atas pelaksanaan program tersebut yang sebelumnya dikumpulkan dan dilaporkan oleh masing-masing seksi. Setiap tahun seksi Dapro membuat profil pelayanan kesehatan kotamadya tentang keadaan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Selain itu, seksi Dapro juga mempunyai tugas untuk menetapkan skala prioritas, menyusun tingkat prioritas dari masalah yang dihadapi berkaitan dengan pelayanan kesehatan di kotamadya. Skala prioritas ini ditetapkan dari Dinas Kesehatan kemudian dijabarkan kepada masing-masing seksi untuk nantinya akan digunakan untuk menyusun anggaran. Adapun kegiatan rutin yang dilakukan oleh seksi pendataan dan program antara lain adalah program rapat teknis (Ratek) untuk menyusun rencana anggaran tahun berikutnya dengan mengundang masing-masing bidang dalam penyusunannya, dan rapat koordinator bidang (Rakorbid) untuk mengkoordinasi kegiatan dari setiap seksi dalam memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat. Seksi Yankesar berwenang untuk memberikan layanan perizinan sarana kesehatan dasar dan tenaga kerja seperti perawat, dokter, bidan. Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Jakarta Selatan Seksi Yankesar melakukan kegiatan pembinaan setiap satu bulan sekali untuk melihat mutu pelayanan kesehatan dari suatu sarana kesehatan. Selain perizinan Seksi Yankesar juga melakukan pembinaan pengawasan dan pengendalian. Kegiatan pembinaan ini masih mengalami hambatan berupa keterbatasan sumber daya manusia. Pembinaan yang dilakukan oleh Yankesar berupa penyuluhan untuk meningkatkan mutu, baik dari sarana maupun SDM. Dalam pelaksanaannya, mutu pelayanan yang diinginkan adalah pelayanan yang sesuai dengan SOP yang berlaku dan pelayanan yang baik. Selain itu Seksi Yankesar Suku Dinas Pelayanan Kesehatan juga melakukan kegiatan pelatihan berupa asuhan persalinan normal yang pesertanya adalah para bidan. Dari kegiatan ini diharapkan bahwa

38

pertolongan persalinan dilakukan dengan normal sesuai dengan SOP yang berlaku. Pengawasan dilakukan agar tidak terjadi penyimpangan di lapangan. Pengendalian yang dilakukan berfungsi agar penyimpangan yang terjadi tidak berlanjut terus menerus, dan hal ini dapat berupa teguran baik langsung maupun tidak langsung sampai penutupan sarana oleh petugas trantib yang berkoordinasi antar lintas sektor. Kendala yang dialami dalam pengawasan, dan pengendalian adalah kurangnya tenaga dan kekuatan yang dimiliki Yankesar, serta banyaknya sarana yang memerlukan pengawasan, sehingga kedua fungsi tersebut belum berjalan dengan baik. Program yang pernah dilakukan oleh Seksi Kesehatan Spesialistik Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Jakarta Selatan berupa pendataan (2002), akurasi data (2003), sosialisasi mutu pelayanan (2004), akreditasi sarana kesehatan (2005), dan sosialisasi peraturan baru (2006). Seksi kesehatan spesialistik selain pemberian izin, seksi ini juga memberikan pembinaan setiap satu tahun sekali dalam bentuk pertemuan dan atau kunjungan lapangan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan. Kegiatan akreditasi sampai saat ini belum terealisasi, baru dilakukan sosialisasi saja. Apabila terjadi pelanggaran, sanksi dapat diberikan dalam bentuk surat pemberitahuan dan kunjungan lapangan. Sanksi dapat diberikan kepada: 1. 2. Sarana tidak berizin: berupa surat pemberitahuan penghentian pemberian pelayanan terhadap pada sarana tersebut, Sarana berizin tetapi kegiatannya melebihi kegiatan yang diperbolehkan: surat teguran diberikan menurut ketentuan yang berlaku, bila surat tidak diindahkan maka dilakukan kunjungan lapangan dengan melibatkan instansi terkait dan organisasi profesi. Seksi pelayanan kesehatan tradisional memiliki dua ruang lingkup kegiatan yaitu Binwasdal (Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian) dan pemberian izin sarana kesehatan tradisional. Bentuk pembinaan yang dilakukan antara lain yaitu sosialisasi peraturan (Juklaknis Petunjuk Pelaksanaan Teknis), pengumpulan, dan pelatihan. Setelah izin diberikan pada pemilik sarana kesehatan tradisional, bentuk pengawasan yang dilakukan oleh Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Jakarta Selatan yaitu melakukan kunjungan lapangan untuk mengetahui apakan peraturan / persyaratan yang ditentukan telah dilaksanakan dan dipenuhi. Suku Dinas Pelayanan Kesehatan melakukan pengendalian sarana kesehatan

39

tradisional dengan memberikan peringatan dan sanksi hingga pencabutan izin sarana. Perizinan yang diberikan oleh Suku Dinas Pelayanan Kesehatan untuk bidang kesehatan tradisional berupa perizinan sarana dan perizinan tenaga. Perizinan tenaga berupa sertifikasi, diperoleh setelah mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Suku Dinas Pelayanan Kesehatan satu tahun sekali. Surat izin sarana yang diberikan berlaku selama dua tahun. Adapun permasalahan yang timbul adalah masih banyaknya sarana kesehatan tradisional yang belum berizin, pada sarana kesehatan tradisional yang telah berizin tidak membuat dan menyerahkan laporan secara rutin kepada Suku Dinas Pelayanan Kesehatan, dan juga peraturan perundang-undangan yang mengatur secara tegas sarana-sarana kesehatan tradisional ini belum jelas. Pada seksi pelayanan gawat darurat, bencana dan gakin menyiapkan Kader Siaga Bencana (KSB) untuk menghadapi keadaan gawat darurat dan bencana. Kader ini dapat terdiri dari masyarakat sekitar, seperti ibu-ibu ataupun karang taruna yang telah diberi penyuluhan dan pelatihan. Kader ini berperan untuk membina masyarakat sekitar dan mengkoordinasikan hal-hal yang perlu segera dilakukan apabila terjadi keadaan gawat darurat atau bencana, termasuk memberikan informasi kepada Suku Dinas Pelayanan Kesehatan setempat. Seksi Gadar dan Gakin memiliki suatu program untuk keluarga miskin yang dikenal dengan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin (JPK GAKIN). JPK GAKIN adalah suatu jaminan pemeliharaan kesehatan yang diberikan kepada keluarga miskin melalui pendekatan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat / JPKM / Asuransi yang preminya dibayar oleh pemerintah propinsi DKI Jakarta dan dari anggaran kompensasi pengurangan subsidi BBM. Bermula dari terjadinya krisis moneter pada tahun 1998, yang menyebabkan melambungnya biaya pengobatan sehingga banyak masyarakat yang karena sakit kemudian menjadi miskin. Melihat hal ini pemerintah pusat membentuk JPSBK (Jaringan Pengaman Sosial Bidang Kesehatan) untuk membantu biaya pengobatan bagi keluarga miskin. Sejak berlakunya otonomi daerah pada tahun 2002, program JPSBK yang telah dianggap berhasil membantu banyak keluarga, kemudian diadopsi oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai program JPK GAKIN.

40

Oleh karena rentannya penyalahgunaan program ini oleh pihak-pihak yang mampu, maka dari itu pemerintah daerah menetapkan kriteria keluarga yang digolongkan sebagai keluarga miskin. Persyaratannya adalah sebagai berikut: 1. Luas lantai < 8 m2 per jiwa 2. Lantai rumah sebagian terbuat dari tanah / semen 3. Dinding rumah terbuat dari bahan triplek 4. Tidak punya fasilitas air minum bersih 5. Tidak punya fasilitas MCK bersih / sendiri 6. Tidak mampu membeli lauk pauk 7. Tidak mampu membeli satu pasang baju per tahun. Peserta dari JPK GAKIN terdiri atas: 1. Semua keluarga miskin penduduk DKI Jakarta (KTP DKI) sesuai dengan data badan pusat statistik (BPS) DKI Jakarta yang telah diteliti ulang oleh tim desa (Lurah, Kepala Puskesmas Kelurahan, beserta kader kesehatan) 2. Penghuni panti sosial, rumah singgah yang direkomendasikan oleh kepala dinas mental dan spiritual Propinsi DKI Jakarta. Dalam pelaksanaan pengurusan JPK GAKIN, beberapa permasalahan yang dihadapi oleh Suku Dinas Pelayanan Kesehatan yaitu pada pemenuhan persyaratan GAKIN seringkali masyarakat datang tanpa KTP DKI, padahal hal ini merupakan persyaratan utama GAKIN; masyarakat yang mampu seringkali memaksa tim verifikasi untuk menyatakan dirinya sebagai keluarga miskin; sampai pada saat ini kartu gakin belum dapat dicetak, oleh karena akan dilakukan pengalihan program dimana pembiayaan kesehatan akan menjadi tanggung jawab asuransi kesehatan (ASKES). Untuk mengatasi hal tersebut, Suku Dinas Pelayanan Kesehatan mengeluarkan surat keterangan tidak mampu yang dapat terus diperpanjang setiap bulannya. Dengan adanya surat keterangan tidak mampu ini maka biaya pengobatan keluarga miskin dapat diringankan hingga 100%. Dalam pelaksanaan tugas di bidang perizinan dilakukan dengan sistem satu atap dimana seluruh proses perizinan dilakukan di unit pelayanan terpadu. Di sini seluruh berkas untuk perizinan diserahkan dan diperiksa dan jika memenuhi syarat maka akan dibawa ke bagian Tata Usaha untuk mendapatkan nomor surat dan nomor registrasi perizinan. Seluruh berkas tersebut diserahkan ke seksi yang berwenang untuk selanjutnya di proses. Sebelum izin dikeluarkan.

41

Akan terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan lapangan. Tujuan dari pemeriksaan lapangan ini untuk melihat kesesuaian sarana dan prasarana dengan persyaratan yang ditetapkan. Jika pemeriksaan memenuhi syarat maka izin dapat dikeluarkan. Salah satu seksi yang berada di Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Jakarta Selatan adalah Seksi Farmasi Makanan Minuman. Seksi ini membawahi hal-hal yang menyangkut tentang apotek, toko obat, industri kecil obat tradisional, penyalur alat kesehatan, sertifikasi industri rumah tangga pangan, serta pemberian surat izin asisten apoteker. Ruang lingkup kegiatan dari Seksi Farmakmin meliputi kegiatan perizinan dan Binwasdal. Untuk perizinan IRTP, setelah pengajuan permohonan izin maka Seksi Farmakmin akan melakukan kegiatan penyuluhan keamanan pangan dan produksi pangan yang baik. Setelah seluruh persyaratan terpenuhi maka surat izin akan dikeluarkan dalam bentuk sertifikat yang berisikan nomor registrasi dengan kode produksi P-IRT. Surat izin (SPP-IRT) yang dikeluarkan oleh Suku Dinas Pelayanan Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kualitas dari produk yang dihasilkan dan juga untuk melindungi produsen dari kerugian yang besar akibat kesalahan produksi. Selain diperuntukkan untuk pengelola, SPP-IRT juga untuk produk yang dihasilkan. Surat izin untuk pengelola ini bertujuan agar proses produksi dan juga keamanan pangan terjamin. Surat izin bagi pengelola ini diperoleh setelah mengikuti penyuluhan selama 2 hari dan lulus dalam tes yang diberikan. Pada penyuluhan ini diberikan berbagai materi yang nantinya akan mendukung proses produksi. Perbedaan yang mendasar dari toko obat dan apotek yaitu penanggung jawab toko obat adalah minimal seorang asisten apoteker sedangkan penanggung jawab untuk apotek adalah seorang apoteker yang telah menyelesaikan masa baktinya dan memiliki surat izin kerja (SIK). Perbedaan lainnya yaitu toko obat hanya boleh menjual obat bebas dan bebas terbatas, sedangkan apotek diperbolehkan menjual obat bebas, bebas terbatas, obat keras, narkotika dan psikotropika. Penyuluhan juga dilakukan terhadap apotek dan toko obat baik yang telah memiliki izin maupun yang belum berizin. Penyuluhan terhadap toko obat berisi tentang obat apa saja yang boleh dijual di toko obat, dan juga yang bertanggung jawab terhadap toko obat tersebut. Penyuluhan ini juga memberitahukan tentang

42

sanksi toko obat yang menjual obat diluar yang diperbolehkan dan juga tentang toko obat yang tidak memiliki izin. Pada kenyataannya toko obat masih menjual obat diluar yang diperbolehkan seperti obat keras. Untuk mengurangi penjualan obat keras oleh toko obat maka pada penyuluhan ini pun diberitahukan tentang pembentukan apotek sederhana. Apotek ini merupakan gabungan dari toko obat yang letaknya sejajar satu sama lain. Apotek sederhana ini dipimpin oleh seorang apoteker. Dalam kegiatannya apotek sederhana ini tidak boleh melakukan peracikan dan menjual obat golongan narkotik dan OKT dengan atau tanpa resep dokter. Untuk wilayah Jakarta Selatan sudah beberapa toko obat yang mengajukan pembentukan apotek sederhana. Pada penyuluhan tentang apotek materi yang diberikan adalah pentingnya pelaporan narkotika, kelengkapan sarana apotek seperti kartu stok, penaraan timbangan, dan pentingnya kehadiran apoteker di apotek, serta keharusan apotek untuk membeli obat pada tempat yang resmi. Penyuluhan ini dilakukan untuk memberikan kesadaran akan pentingnya pelaporan narkotika karena diketahui penyalahgunaan apotek dapat membahayakan masyarakat. Pelaporan narkotika harus dilakukan setiap satu bulan sekali ke Suku Dinas Pelayanan Kesehatan dengan tembusan BPOM. Setiap bulannya laporan narkotika yang diterima oleh Suku Dinas Pelayanan Kesehatan direkapitulasi kemudian dilaporkan ke Dinas Kesehatan. Perizinan IKOT terdiri atas dua macam yaitu izin prinsip dan izin tetap. Izin prinsip dimaksudkan agar pihak penyelenggara mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkan sarana, prasarana, dan sumber daya manusia. Sedangkan izin tetap dimaksudkan bahwa pihak penyelenggara sudah dapat operasional penuh karena seluruh persyaratan sarana/prasarana sudah lengkap. IKOT harus memiliki penanggung jawab seorang apoteker dan dapat digunakan sebagai tempat untuk melakukan masa bakti apoteker. Suku Dinas Pelayanan Kesehatan hanya berwenang untuk memberikan izin sarana untuk produksi, namun untuk izin produknya pemilik IKOT harus mengajukan pendaftaran produk kepada BPOM. Pemberian izin bagi subpenyalur alat kesehatan (SUPAK) juga hampir sama dengan pemberian perizinan bagi sarana lain. SUPAK harus memiliki gudang penyimpanan, tempat penjualan alat kesehatan, serta memiliki surat

43

penunjukkan dari usaha penyalur alat keselatan (UPAK) sebagai sub penyalur alat kesehatan. Selain itu Seksi Farmakmin juga melakukan kegiatan pemantauan harga obat. Dalam pelaksanaannya, Suku Dinas Pelayanan Kesehatan akan memberikan tugas kepada petugas puskesmas untuk mendata harga obat generik yang dijual di apotek setiap kecamatan. Kegiatan pemantauan ini dilakukan selama 3 bulan. Untuk bulan kedua dan ketiga, kegiatan pemantauan dilakukan oleh apotek itu sendiri dimana setiap bulannya apotek mengirimkan daftar harga obat apotek ke Suku Dinas Pelayanan Kesehatan. Dengan adanya layanan perizinan dan binwasdarl dari Suku Dinas Pelayanan Kesehatan setempat terhadap sarana kesehatan beserta SDMnya diharapkan mutu pelayanan semakin baik. Selain itu juga diharapkan agar obat, obat tradisional dan produk makanan dan minuman yang dihasilkan dan diedarkan aman, bermanfaat dan kualitasnya terjamin sehingga masyarakat akan merasa aman untuk menkonsumsinya dan juga pemilik sarana dapat mengembangkan usahanya dengan lancar dan selalu mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku.

44

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan 1. Suku Jakarta Dinas Pelayanan Kesehatan Jakarta Selatan merupakan perencanaan, perpanjangan tangan Dinas Kesehatan Propinsi Daerah Khusus Ibukota dalam memberikan pelayanan perizinan, pengendalian dan penilaian efektifitas pelayanan kesehatan. 2. Tata perizinan yang ada Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Jakarta Selatan sudah berjalan dengan baik dan teratur. B. Saran 1. Perlu adanya tindak lanjut yang lebih tegas terhadap sarana pelayanan kesehatan yang belum memiliki izin dan berizin namun melakukan pelanggaran perundang-undangan. 2. Perlu selalu ditingkatkannya kualitas dan kecepatan layanan perizinan yang dilengkapi dengan informasi yang lengkap dan jelas. 3. Perlu dipertahankan dan ditingkatkannya kegiatan-kegiatan pembinaan yang telah dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tenaga kesehatan maupun pemilik sarana pelayanan kesehatan yang ada.

45